Anda di halaman 1dari 12

1

Prosthodontics Jurnal Reading


Hari
Waktu
Seminaris
Pembimbing
Judul Asli
Penulis
Sumber

: Selasa, 17 Juni 2014


: 07.30 selesai
: Putik Ayuamajida (0916030)
: Dahlia Sutanto, drg., Sp.Prost
: The Effect of Crown Restorations on The Types and Counts of
Cariogenic Bacteria
: Rabeah Y. Rawashdeh a, Hanan I.Malkawi, Ahmad S. Al-Hiyasat
and Mohammad M. Hammad
: Jordan Journal of Biological Science, Volume 1, No 3, September
2008

PENGARUH RESTORASI DENGAN MAHKOTA TERHADAP


JENIS DAN JUMLAH BAKTERI KARIOGENIK
Abstrak
Penelitian ini meneliti tentang pengaruh restorasi dengan mahkota terhadap
jumlah dan jenis bakteri kariogenik. Sampel plak dikumpulkan dari 38 orang yang
memiliki restorasi dengan mahkota (mahkota atau gigi tiruan cekat sebagian) dan
gigi yang normal yang berdekatan menggunakan kuret steril. Jumlah bakteri
(Colony Forming Unit/ml) dihasilkan dari penanaman sampel plak pada beberapa
media selektif yang digunakan untuk penanaman Streptococcus mutans,
Lactobacillus sp., dan Actinomyces sp. Jumlah bakteri Lactobacillus sp. memiliki
jumlah terbesar yang dihasilkan dari restorasi dengan mahkota dibandingkan
sampel yang dihasilkan dari gigi asli (P=0,02). Ditemukan juga bahwa restorasi
dengan mahkota logam-akrilik memiliki jumlah bakteri Lactobacillus sp. terbesar
dibandingkan logam-keramik (P=0,003) dan mahkota dengan margin subgingiva
memiliki

jumlah

bakteri

Streptococcus

dan

Actinomyces

sp.

terbesar.

Bagaimanapun, jumlah bakteri kariogenik yang ditemukan berhubungan dengan


keadaan periodontal pada seseorang dan usia restorasi mahkota. Dapat
disimpulkan bahwa jumlah terbesar dari bakteri kariogenik yang ditemukan
berhubungan dengan mahkota, mahkota logam-akrilik, penempatan mahkota pada
margin subgingiva, serta usia restorasi mahkota.

Pendahuluan
Penempatan restorasi dengan mahkota dapat mempertahankan morfologi dan
fungsi gigi dalam jangka waktu yang lama. Mahkota dan gigi tiruan cekat
sebagian dapat dibuat dari beberapa kombinasi material; all-ceramic, full cast
metal, logam-keramik, dan logam-akrilik. Bagaimanapun, beberapa penelitian
melaporkan margin restorasi gigi menstimulasi rekolonisasi bakteri dan produksi
asam dari bakteri kariogenik yang dapat menyerang permukaan margin restorasi
gigi. (Savarino et al., 2002; Mjor, 1985).
Komunitas bakteri pada plak gigi merupakan subjek dari perubahan psikologis
dan komposisional sebagai hasil dari stress lingkungan disekitarnya yang dibentuk
oleh penempatan restorasi gigi dan dapat mengarah pada komplikasi serius yang
menghasilkan kegagalan restorasi (Mjor, 1997). Banyak penelitian yang
menemukan bahwa terdapat variasi pada pengaruh beberapa jenis restorasi pada
pertumbuhan bakteri tertentu pada plak gigi berdasarkan kombinasi materialnya.
(Beyth et al., 2007; Satou et al., 1988)
Meskipun penggunaan yang luas dari restorasi dengan mahkota dan gigi tiruan
cekat sebagian dibuat dari jenis material yang berbeda-beda, tidak ada penelitian
mengenai evaluasi efek mereka terhadap jaringan host. Efek tidak langsung dari
jenis restorasi mahkota dan gigi tiruan cekat sebagian yang berbeda pada jaringan
host dapat ditentukan dari penemuan perubahan jumlah bakteri pada plak gigi.
Perbandingan jumlah bakteri diantara kelompok kontrol (gigi asli) dan kelompok
penelitian (mahkota atau retainer), dalam menentukan perbedaan jenis material
dari restorasi dengan mahkota dan gigi tiruan cekat sebagian memiliki pengaruh
pada komposisi bakteri pada plak ataupun tidak. Penelitian ini bertujuan untuk
mengetahui pengaruh pada beberapa jenis restorasi dengan mahkota dan gigi
tiruan cekat sebagian terhadap jumlah Streptococcus mutans, Lactobacillus sp.,
dan Actinomyces sp. pada plak gigi.
Bahan dan Metode
2.1 Subjek dan Sampel Penelitian

Penelitian ini melibatkan 38 subjek (9 pria (23,7%) dan 29 wanita (76,3%))


dengan rentang usia 19-76 tahun (rata-rata usia: 42,26 tahun). Setiap subjek
memiliki 1 restorasi dengan mahkota atau 1 gigi tiruan cekat sebagian dan sebuah
gigi asli pada daerah yang berdekatan dengan mahkota. 4 sampel di periksa dari
setiap subjek pada dua bagian, kelompok kontrol dan kelompok penelitian:
supragingival dan subgingival untuk setiap kontrol. Sampel diambil dari 14
mahkota jaket dan 24 gigi tiruan cekat sebagian, dengan bahan dari logamkeramik (26 kasus), logam-akrilik (9 kasus), hanya logam (1 kasus) dan allceramic (2 kasus). Sampel termasuk 3 kasus dengan diabetes, 6 orang dengan
hipertensi, dan 1 kasus dengan diabetes dan hipertensi. Penelitian protokol
diterima dari Committeee of the Search on Human, Jordan University of
Science and Technology. Subjek merupakan pasien Dental Teaching Center di
Jordan University of Science and Technology., dan semua telah diberikan
informed consent. Kasus kehamilan merupakan pengecualian (4 kasus dari 64
kasus), individu yang sudah skeling dan atau mengkonsumsi antibiotik 1 bulan
sebelum penelitian merupakan pengecualian (16 kasus dari 64 kasus), dan 6 kasus
dari 64 kasus merupakan pengecualian karena kesalahan data. Seluruh 38 subjek
penelitian tidak merokok kecuali 4 orang.
Subjek sampel terdapat pada 2 bagian yaitu gigi asli dan gigi dengan restorasi
mahkota. Sampel plak gigi dikumpulkan dari bagian bukal gigi menggunakan
kuret steril (Gracey Curettes). Untuk kedua gigi restorasi dengan mahkota dan
gigi tanpa restorasi (kontrol), sampel plak diambil pertama dari bagian
supragingiva kemudian dilanjutkan pada bagian subgingival. Sampel plak
disuspensikan dalam 1 ml phosphate buffer saline (PBS) steril (0,12 M NaCl,
0,01 M Na2HPO4, 5mm KH2PO4 [pH 7,5]). Sampel dibawa pada kotak es ke
laboratorium sampai diproses dalam waktu 24 jam. Ada 76 sampel plak diperoleh
dari gigi dengan restorasi mahkota (kelompok penelitian), dan 76 sampel dari gigi
asli (kelompok kontrol). Jumlah bakteri kariogenik diperoleh per ml plak
(CFU/ml) di tanam pada media selektif yang tepat untuk masing-masing bakteri
kariogenik.

2.2 Isolasi dan Enumerasi Bakteri dari Sampel Plak


Sampel plak diaduk dengan pusaran (vortexing) selama 30 detik dengan glass
beads (diameter 4 mm), dan diencerkan ke dalam pengenceran serial desimal yang
berbeda pada phosphate buffer saline (pH 7,5). Colony forming unit per ml
(CFU/ml) ditentukan untuk setiap sampel plak dengan pelapisan pengenceran
yang tepat pada media selektif (semua media yang dibeli dari HIMEDIA
Laboratories Pvt. Limited, Bombay, India): Mitis salivarius agar (MSA) ditambah
dengan 0,2 U/ml bacitracin (Fluka, BioChemika, Buchs, Swiss) dan 5% sukrosa
(MSBs), agar ROGOSA SL, dan Cadmium Fluorida Acriflavine Tellurite (CFAT)
dilengkapi dengan darah manusia 5% yang digunakan untuk penanaman
Streptococcus mutans, Lactobacillus sp., dan Actinomyces sp. Pelat agar
diinkubasi pada suhu 37 C selama tiga hari dalam jar anaerob dengan
menghasilkan gas CO2 (Oxoid Ltd, Cambridge, UK). Sebanyak 152 sampel plak
yang diperoleh dari 38 orang ditanam pada media (MSBs), ROGOSA, dan
(CFAT). Koloni yang dihasilkan berulang kali disubkultur untuk analisa dan
deteksi lebih lanjut.
2.3 Karakteristik Bakteri Kariogenik pada Sampel Plak
Karakteristik morfologi bakteri isolasi pada 3 media selektif sesuai dengan
warna, ukuran, karakter koloni (margin, bentuk, elevasi) dan pewarnaan gram
dilakukan sebagai uji mikrobiologi dasar untuk identifikasi. Streptococcus isolasi
lebih lanjut di tandai dengan menggunakan tes biokimia (berdasarkan Bergeys
Manual of Systematic Bacteriology) (Sneath et al., 1986); aktivitas katalase,
fermentasi gula: manitol, sorbitol, rafinosa, dan tes Voges Proskauer-(VP). Untuk
identifikasi bakteri isolasi yang tumbuh pada ROGOSA dan media (CFAT), kit
biokimia RAPID ANA II (Remel, Overland Park, KS) digunakan sesuai dengan
instruksi pabrik.

2.4 Analisa Statistik

Data analisa statistik diolah menggunakan software SPSS (Statistical Package


for the Social Science, versi 11.5; SPSS Inc., Chicago IL). Semua distribusi hitung
bakteri secara positif berada pada garis tidak simetris nyata, oleh karena itu tes
non parametik digunakan untuk analisis ini. Tes Mann Whitney U dan tes Kruskal
Wallis digunakan untuk analisis data dalam penghitungan jumlah bakteri. Tes Chi
2 square digunakan untuk mempelajari hubungan antara jumlah bakteri dengan
usia mahkota dan inflamasi periodontal di sekitar gigi. Tingkat signifikansi
dianggap di = 0,05.
Hasil
Karakteristik morfologi dan biokemikal diperlihatkan dengan adanya spesies
bakteri kariogenik berikut: Streptococcus mutans, Streptococcus salivarius,
Streptococcus sanguis, Lactobacillus acidhophilus, Actinomyces odontolyticus,
Actinomyces meyeri, Actinomyces israelii. Rata-rata jumlah CFU per ml plak pada
masing-masing bakteri kariogenik menunjukkan variabilitas yang cukup besar
antara bagian gigi (gigi asli terhadap restorasi mahkota) dan hubungannya dengan
posisi plak (plak supragingiva terhadap subgingiva). (Tabel 1)

Tabel 1. Nilai rata-rata jumlah bakteri (CFU / ml) untuk setiap jenis bakteri dalam
hubungannya dengan posisi plak dan bagian gigi.
Genus bakteri
Bagian gigi asli
Bagian restorasi dengan mahkota
supraa
subb
supraa
subb
Streptococcus (5.534)101 (7.037)10 (5.333)10 (1.59.1)10
2

12

12

(2.58.5)1
04

(2.313)103

Lactobacillus

(5.913)103 (1.14.2)1
04

Actinomyces

(2.79.3)10 (5.515)10 (7.318)10

(1.65.9)10

10

10

a
b

: plak supragingiva
: plak subgingiva

Tabel 2. Distribusi frekuensi sampel plak dengan jumlah CFU/ml Lactobacillus


sp. dalam hal posisi plak dan bagian gigi
Kelas CFU n (%)a
b
Bagian
Plak
0.0
>0.0-103
>103-106
Total
d
Gigi asli
Supra
34 (89.5)
3 (7.9)
1 (2.6)
38 (100)
Sube
33 (86.8)
3 (7.9)
2 (5.3)
38 (100)
d
Restorasi
Supra
26 (68.4)
7 (18.4)
5 (13.2)
38 (100)
mahkota
Sube
32 (84.2)
3 (7.9)
3 (7.9)
38 (100)
a
: jumlah sampel
b
: bagian gigi
c
: Total: diperkirakan dari semua kelas CFU masing-masing kelompok.
d
: plak supragingiva
e
: plak subgingiva

Analisis proporsi sampel plak dalam hubungannya dengan kelas CFU


menunjukkan bahwa Lactobacillus sp. memiliki frekuensi terbesar dari jumlah nol
yang berkaitan dengan jenis plak dan bagian gigi (Tabel 2). Tabel 3 menunjukkan
bahwa Actinomyces sp. adalah spesies yang ditanam dengan proporsi terbesar
pada media selektif. Prevalensi total Lactobacillus dan Actinomyces pada plak
supragingiva lebih tinggi di bagian mahkota dari pada bagian gigi asli (Tabel 2, 3)

Tabel 3. Distribusi frekuensi sampel plak dengan jumlah CFU/ml Actinomyces sp.
dalam hal posisi plak dan bagian gigi.
Kelas CFU n (%)
Bagian
Plak
0.0
>103-106 >106-109 >109-1012 Total
Gigi asli
Supra
19 (50.0) 14 (36.8) 0 (0.0)
5 (13.2)
38 (100)
Sub
25 (65.7) 5 (13.2)
3 (7.9)
5 (13.2)
38 (100)
Restorasi
Supra
11 (29.0) 14 (36.8) 5 (13.2)
8 (21.0)
38 (100)
mahkota
Sub
19 (50.0) 3 (7.9)
3 (7.9)
3 (7.9)
38 (100)
Semua simbol dan singkatan dalam Tabel 2.

Walaupun tidak ada perbedaan besar dalam prevalensi total Streptococcus sp.
dalam sampel plak di antara gigi asli dan gigi yang direstorasi dengan mahkota
(Tabel 4).
Bagian restorasi dengan mahkota ditampilkan meningkat secara signifikan
dalam jumlah Lactobacillus pada plak supragingiva (P = 0,02). Sementara itu
tidak ada perbedaan statistik yang signifikan antara gigi asli dan gigi yang di
restorasi dengan mahkota gigi dalam jumlah spesies Streptococcus dan
Actinomyces sp. (P> 0,05). Selain itu, berbagai jenis kombinasi bahan mahkota
menunjukkan perbedaan yang signifikan dalam jumlah Lactobacillus (Gambar 1),
di mana mahkota logam-keramik memiliki jumlah lebih rendah dari logam-akrilik
(P = 0,003). Juga posisi margin mahkota ditampilkan terdapat perbedaan jumlah
bakteri (gambar 2), di mana margin subgingiva memiliki jumlah Streptococcus (P
= 0,001) dan Actinomyces sp. (P = 0,032) tertinggi. Perbedaan yang signifikan
dalam jumlah Lactobacillus dicatat sesuai dengan lokasi gigi di rongga mulut, di
mana gigi anterior memiliki jumlah lebih rendah daripada gigi posterior (P =
0,01). Jumlah bakteri kariogenik ditemukan secara signifikan berhubungan
dengan kondisi periodontal (uji 2, P = 0,002) dan usia restorasi mahkota (uji 2,
P = 0,006).

Tabel 4. Distribusi frekuensi sampel plak dengan jumlah CFU/ml spesies


Streptococcus dalam hal posisi plak dan bagian gigi.
Kelas CFU n (%)
Bagian
Plak
0.0
>0-103
>103-106 >106-109 >1012
Gigi asli
Supra
25 (65.9) 6 (15.8)
6 (15.8)
0 (0.0)
1 (2.6)
Sub
27 (71.1) 6 (15.8)
5 (13.2)
0 (0.0)
0 (0.0)
Restorasi
Supra
22 (57.9) 8 (21.1)
6 (15.8)
1 (2.6)
1 (2.6)
mahkota
Sub
25 (65.8) 8 (21.1)
4 (10.5)
0 (0.0)
1 (2.6)
Semua simbol dan singkatan dalam Tabel 2.

Total
38 (100)
38 (100)
38 (100)
38 (100)

Gambar 1. Tingkat nilai rata-rata dari spesies Lactobacillus di 4 jenis kombinasi


bahan mahkota. Berdasarkan uji Mann Whitney U, perbedaan yang signifikan
terletak hanya antara mahkota logam-keramik dan mahkota logam-akrilik (P =
0,003).

G
ambar 2. Perbedaan yang signifikan dalam jumlah bakteri (CFU/ml)
Streptococcus dan Actinomyces sp. di 3 posisi di margin restorasi mahkota.
Margin subgingiva memiliki jumlah Streptococcus (P = 0,001) dan Actinomyces
sp. (P = 0,032) tertinggi dibandingkan dengan margin supragingiva dan margin
gingiva.

Diskusi
Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi pengaruh restorasi dengan
mahkota yang terbuat dari kombinasi material yang berbeda pada tingkatan
bakteri kariogenik yang paling banyak dibandingkan dengan tingkatan bakteri di
bagian gigi asli. Telah diperkirakan jumlah CFU/ml plak dihitung pada setiap
media selektif untuk setiap pasien dan proporsi setiap bakteri kariogenik. Jumlah
yang rendah dari Lactobacillus sp. di plak gigi ditemukan dalam penelitian ini dan
ini karena Lactobacillus sp. ditemukan dalam jumlah yang tinggi dalam sampel
yang diambil dari lesi karies (Ahumada et al., 2003), yang tidak terjadi di
penelitian ini.
Hasil yang menarik dan signifikan yang diperoleh adalah perbedaan dalam
jumlah Lactobacillus dalam plak supragingiva pada gigi asli dibandingkan dengan
mahkota. Tidak ada perbedaan yang signifikan dalam jumlah baik Streptococcus
dan Actinomyces sp. antara bagian gigi. Sudah diketahui dari banyak penelitian
ini mengenai pengaruh restorasi gigi pada bakteri oral dari kekasaran permukaan
restorasi yang meningkatkan akumulasi bakteri (Hannig, 1999; Weiman dan
Eames, 1975). Selain itu, beberapa elemen yang mungkin dilepaskan dari restorasi
memiliki pengaruh pada pertumbuhan dan adhesi bakteri (Khalichi et al., 2004).
Dalam penelitian ini karena ada berbagai jenis restorasi mahkota yang terlibat,
semua peningkatan jumlah Lactobacillus dapat dijelaskan berdasarkan kekasaran
permukaan dan sifat fisiko-kimia restorasi.
Ditemukan juga bahwa bahan restorasi dengan mahkota memiliki dampak
yang signifikan pada jumlah bakteri, dimana letak perbedaannya terdapat di antara
restorasi logam-keramik dan logam-akrilik (P = 0,003). Logam-keramik memiliki
jumlah bakteri yang lebih rendah dari logam-akrilik. Walaupun terdapat fakta
bahwa restorasi resin yang banyak digunakan dalam praktek dokter gigi karena
biaya rendah, dilaporkan dalam banyak penelitian restorasi resin meningkatkan
akumulasi bakteri yang lebih banyak daripada restorasi lainnya, karena
permukaannya sangat kasar (Weiman dan Eames, 1975), dan biodegradasi mereka
di picu oleh produk yang dapat merangsang pertumbuhan bakteri. (Khalichi et al,
2004.)

Penelitian saat ini menunjukkan bahwa margin subgingival memiliki jumlah


Streptococcus dan Actinomyces tertinggi. Enamel yang dekat dengan restorasi
margin dapat dengan cepat mempengaruhi pembentukan karies sekunder
(Savarino, 2002; mjor, 1985). Pengisian yang tidak lengkap antara permukaan
enamel dan margin bisa menyebabkan kebocoran marginal yang memungkinkan
penetrasi dan kolonisasi bakteri sepanjang margin restorasi dan karena
membersihkan dan menghilangkan akumulasi bakteri ini menjadi sulit ketika
margin restorasi di bawah gingiva.
Penelitian ini juga menunjukkan bahwa jumlah Lactobacillus sp. dari gigi
posterior secara signifikan lebih tinggi dibandingkan dari gigi anterior.
Aksesibilitas dalam membersihkan gigi anterior dapat mempengaruhi akumulasi
plak dan mengakibatkan pengurangan jumlah bakteri dibandingkan dengan gigi
posterior. Perbedaan jumlah bakteri kariogenik di antara gigi rahang atas dan
rahang bawah tidak diamati (P> 0,05).
Penelitian ini menunjukkan bahwa orang-orang dengan periodontitis kronis
memiliki jumlah bakteri tertinggi. Bakteri kariogenik memiliki peran langsung
dalam periodontitis, dengan interaksi dengan spesies bakteri yang menyebabkan
periodontitis,

Porphyromonas

gingivalis

(spesies

yang

menyebabkan

periodontitis) dapat ko-agregasi dengan spesies Streptococcus (Masak et al.,


1998). Penelitian ini menunjukkan bahwa usia restorasi mahkota memiliki
dampak yang signifikan terhadap jumlah bakteri, semakin tua usia mahkota
semakin tinggi jumlah bakteri kariogenik ditemukan. Penelitian sebelumnya
menunjukkan bahwa material gigi merangsang akumulasi bakteri (Satou et al,
1988;. Weiman dan Eames, 1975;. Khalichi et al, 2004), sehingga dapat
disimpulkan bahwa semakin tua restorasi, semakin besar akumulasi bakteri yang
dapat ditemukan. Hal ini juga bisa disebabkan oleh kerusakan pengisian marginal
antara restorasi dan margin gigi, yang kemudian meningkatkan kondisi bagi
bakteri untuk menumpuk dan berkembang biak.
Akhirnya, ini harus dinyatakan bahwa dalam penelitian ini sulit untuk
mendapat ukuran sampel standar dari plak saat pengambilan sampel secara klinis;
maka perbandingan kuantitatif harus

10

diinterpretasikan

dengan hati-hati.

Rekomendasi untuk penelitian selanjutnya adalah untuk menstandarisasi beberapa


parameter termasuk: ukuran sampel plak, kondisi jaringan periodontal, dan tingkat
kebersihan rongga mulut pasien.
Kesimpulan
Di bawah kondisi penelitian ini jumlah yang tinggi dari bakteri kariogenik
yang ditemukan berhubungan dengan restorasi mahkota terhadap gigi asli, margin
subgingival terhadap supragingival dan margin gingiva, restorasi mahkota logam
akrilik terhadap mahkota logam keramik, begitu pula usia mahkota dan inflamasi
periodontal.
Aknowledgement
Penelitian ini didukung oleh studi Deanship dan penelitian pascasarjana di
Universitas Yarmouk-Jordan, hibah Nomor 2/2006.

11

Daftar Pustaka
1. Ahumada MDC, Bru E, Colloca ME, Lopez ME, Macias MEN (2003)
Evaluation and comparison of lactobacilli characteristics in the mouths of
patients with or without cavities. J Oral Sci 45:1-9.
2. Beyth N, Domb AJ, Weiss EI (2007) An in vitro quantitative antibacterial
analysis of amalgam and composite resins. J Dent 35:201-206.
3. Cook GS, Costerton JW, Lamont RJ (1998) Biofilm formation by
Porphyromonas gingivalis and Streptococcus gordonii. J Periodontal Res
33:323-327.
4. Hannig M (1999) Transmission electron microscopy of early plaque
formation on dental materials in vivo. Eur J Oral Sci 107:55-64.
5. Khalichi P, Cvitkovitch DG, Santerre JP (2004) Effects of composite resin
biodegradation products on oral streptococcal growth. Biomaterials 25:54675472.
6. Mjor IA (1985) The frequency of secondary caries at various anatomical
locations. Oper Dent 10:88-92.
7. Mjor IA (1997) The reasons for replacement and the age of failed
restorations in general dental practice. Acta Odontol Scand 55:58-63.
8. Savarino L, Teutonico AS, Tarabusi C, Breschi L, Prati C (2002) Enamel
microhardness after in vitro demineralization and role of different
restorative materials. J Biomater Sci Polym ED 13:349-357.
9. Satou J, Fukunaga A, Satou N, Shintani H, Okuda K (1988)
Streptococcal adherence on various restorative materials. J
Dent Res 67:588-591.
10. Sneath PHA, Mair NS, Sharpe ME, Holt JG (1986) Bergey's
manual of systematic bacteriology. Vol 2. Baltimore: Williams
and Wilkins, pp 1054-1060.
11. Weiman RT, Eames WB (1975) Plaque accumulation on
composite surfaces after various finishing procedures. J AM
Dent Assoc 91:101-106.

12