Anda di halaman 1dari 18

PROSES BERPIKIR & PEMECAHAN MASALAH

SECARA KREATIF
Nama Anggota Kelompok II:
Akhmad Mulyadi
Dewi Hasdianti Putri
Ernawati
Helwatin Aulia
Layang Seto Sastera Pujangga
Mia Amalia
Muhammad Arie Tanujaya
Nana Martini
Norhikmah
Nursyifa Aliya Rosyada
Rizka Amalia Saadah
Rummanah
Tia Aulia Rahmah

KEMENTRIAN KESEHATAN RI
POLITEKNIK KESEHATAN BANJARMASIN
JURUSAN KEPERAWATAN
BANJARBARU
September, 2014

BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Setiap hari, setiap orang, kelompok,dan organisasi selalu dihadapkan pada masalahmasalah baik untuk perbaikan, peningkatan kinerja atau mencari peluang baru. Masalah
yang sama sering kali diselesaikan dengan solusi yang berbeda karena situasi yang
semakin dinamis.
Hal ini membutuhkan kreativitas dalam menemukan solusi pemecahan masalah yang
tepat. Kunci utama dari kreativitas adalah kemampuan dalam menggali ide-ide, metode
lain dan pendekatan alternatif untuk mencapai pemecahan masalah yang efektif dan
efisien.
Berpikir kreatif merupakan salah satu cara yang dianjurkan. Dengan cara itu
seseorang akan mampu melihat persoalan dari banyak perspektif. Pasalnya, seorang
pemikir kreatif akan menghasilkan lebih banyak alternatif untuk memecahkan suatu
masalah. Untuk dapat memecahkan masalah, seseorang harus betul-betul tahu
masalahnya sehinga dapat nencari keputusan yang tepat, efektif dan efisien.
B. Rumusan Masalah
Dari latar belakang yang dikemukakan di atas maka kami mengangkat rumusan masalah
sebagai berikut :
1. Apakah yang dimaksud dengan proses berpikir?
2. Apakah yang dimaksud dengan pemecahan masalah?
3. Bagaimanakah proses berpikir dan pemecahan masalah secara kreatif?
C. Tujuan Penulisan
Tujuan penulisan tugas makalah ini antara lain :
1. Untuk mengetahui pengertian proses berpikir itu
2. Untuk mengetahui pengertian proses pemecahan masalah
3. Untuk mengetahui proses berpikir dan pemecahan masalah secara kreatif.

D. Manfaat Penulisan
Adapun manfaat penulisan makalah ini yaitu agar pembaca dapat mengetahui dan
memahami proses berpikir dan pemecahan masalah yang baik didalam kehidupan seharihari khususnya dalam konteks proses berpikir dan pemecahan masalah secara kreatif.

BAB II
PEMBAHASAN
A. Proses Berpikir
1. Pengertian Berpikir
Secara sederhana, berpikir adalah memproses informasi secara mental
atau secarakognitif. Secara lebih formal, berpikir adalah penyusunan ulang atau
manipulasi kognitif baik informasi dari lingkungan maupun simbol-simbol yang
disimpan dalam long term memory.
Jadi, berpikir adalah sebuah representasi simbol dari beberapa peristiwa atau item
(Khodijah, 2006:117). Sedangkan menurut Drever (Walgito, 1997) berpikir
adalah melatih ide-ide dengan cara yang tepat dan seksama yang dimulai
dengan adanya masalah. Solso (1998) dalam Khodijah, (2006:117)
berpikir adalah sebuah proses dimana representasi mental baru dibentuk
melalui

transformasi

atribut-atribut

informasi

mental

dengan

seperti

interaksi

penilaian,

yang

abstraksi,

kompleks
logika,

imajinasi, dan pemecahan masalah. Dari pengertian tersebut


t a m p a k b a h w a a d a t i g a p a n d a n g a n d a s a r tentang berpikir, yaitu :
berpikir adalah kognitif, yaitu timbul secara internal dalam pikirantetapi dapat
diperkirakan dari perilaku.
berpikir merupakan sebuah proses yangmelibatkan beberapa manipulasi

pengetahuan dalam sistem kognitif.


berpikir diarahkan dan menghasilkan perilaku yang memecahkan masalah atau
diarahkan pada solusi.
Definisi

yang

paling

umum

dari

berfikir

adalah

b e r k e m b a n g n y a i d e d a n k o n s e p di dalam diri seseorang. Perkembangan


ide dan konsep ini berlangsung melalui proses penjalinan h u b u n g a n
antara bagian-bagian informasi yang tersimpan di dalam diri
s e s e o r a n g y a n g berupa pengertian-pengertian. Dari gambaran ini dapat dilihat
bahwa berfikir pada dasarnya adalah proses psikologi. Pentingnya proses berpikir
dalam pemecahan masalah adalah untuk merangsang proses belajar dan mengingat
dan merespon dalam bentuk pengambilan keputusan, merupakan proses manajemen
kepemimpinan serta menanamkan pola pikir dan teknik pemahaman dan rangkaian
proses belajar, berpikir dan mengingat.
2. Macam macam Berpikir

Ada berbagai macam proses berpikir yang dimiliki manusia antara lain :
a. Berpikir alamiah adalah pola penalaran yang berdasarkan kebiasaan sehari-hari
dari pengaruh alam sekelilingnya, misalnya penalaran tentang panasnya api yang
dapat membakar jika dikenakan kayu pasti kayu tersebut akan terbakar.
b. Berpikir ilmiah adalah pola penalaran berdasarkan sarana tertentu secara teratur
dan cermat, misalnya Ada dua hal yang bertentangan penuh tentunya tidak dapat
bersatu pada saat sama dalam satu kesatuan, seperti air dan minyak.
c. Berpikir autistik: contoh berpikir autistik antara lain adalah mengkhayal, fantasi
atau wishful thinking. Dengan berpikir autistik seseorang melarikan diri dari
kenyataan, dan melihat hidup sebagai gambar-gambar fantastis.
d. Berpikir realistik: berpikir dalam rangka menyesuaikan diri dengan dunia nyata,
biasanya disebut dengan nalar (reasoning).
3. Cara Berpikir
Dalam berpikir orang mengolah, mengorganisasikan bagian-bagian dari
pengetahuannya, sehingga pengalaman-pengalaman dan pengetahuan yang tidak
teratur menjadi tersusun merupakan kebulatan-kebulatan yang dapat dikuasai dan
dipahami. Dalam hal ini cara berpikir dibagi menjadi beberapa cara :
a. Berpikir Induktif
Berpikir induktif ialah suatu proses dalam berpiir yang berlangsung dari
khusus menuju kepada yang umum. Orang mencari ciri-ciri atau sifat-sifat yang
tertentu dari berbagai fenomena, kemudian menarik kesimpula-kesimpulan bahwa
ciri-ciri/sifat-sifat itu trrdapat pada semua jenis fenomena tadi. Tepat atau tidaknya
kesimpulan ( cara berpikir ) yang diambil secara induktif ini terutama bergantung
kepada representatif atau tidaknya sampel yang diambil yang mewakili fenomena
keseluruhan. Makin besar jumlah sampel yang diambil berarti makin
representative dan makin besar pula taraf dapat dipercaya. Taraf validitas
kesimpulan itu masih ditentukan pula oleh obyektivitas dari pengamat.
b. Berpikir Deduktif
Sebaliknya dari berpikir induktif, maka berpikir deduktif prosesnya
berlangsung dari yang umum menuju kepada yang khusus. Dalam cara berpikir
ini, orang bertolak dari suatu teori ataupun prinsip ataupun kesimpulan yang
dianggapnya benar dan sudah bersifat umum. Dari situ ia menerapknnya kepada
penomena-penomena yang khusus,dan mengambil keimulan khusus yang berlaku
bagi penomena tersebut.
c. Berpikir Analogis
Analogi berarti persaman atau perbandingan. Berpikir analogis adalah berpikir
dengan jalan menyamakan atau memperbandingkan penomena-penomena yang

biasa/pernah dilami. Didalam cara berpikir ini,orang beranggapan bahwa


kebenaran dari phenomena-penomena yang pernah dialaminya berlaku pula bagi
phenomena yang sekarang. Kesimpulan yang diambil dari berpikir analogis ini
kebenarannya lebih kurang dapat dipercaya. Kebenarannya ditentukan oleh
faktorkebetulan dan bukan berdasarkan perhitungan yang tepat dengan kata lain
validitasnya kebenarannya sangat rendah.
4. Proses Berpikir
Proses atau jalannya berpikir itu pada pokoknya ada empat langkah, yaitu :
a. Pembentukan Pengertian
Pengertian atau lebih tepatnya disebut pengertian logis di bentuk melalui tiga
tingkatan sebagai berikut :
1) Menganalisis ciri-ciri dari sejumlah obyek yang sejenis. Obyek tersebut kita
perhatikan unsur - unsurnya satu demi satu. Misalnya kita ambil manusia dari
berbagai bangsa lalu kita analisa ciri-cirinya, contohnya manusia Indonesia,
ciri cirinya adalah makhluk hidup, berbudi, berkulit sawo matang, berambut
hitam, dan untuk manusia Eropa, ciri-cirinya: mahluk hidup, berbudi, berkulit
putih, berambut pirang atau putih, bermata biru terbuka.
2) Membanding-bandingkan ciri tersebut untuk diketemukan ciri ciri mana
yang sama, mana yang tidak sama, mana yang selalu ada dan mana yang tidak
selalu ada mana yang hakiki dan mana yang tidak hakiki.
3) Mengabstraksikan, yaitu menyisihkan, membuang, ciri-ciri yang tidak hakiki,
menangkap ciri-ciri yang hakiki. Pada contoh di atas ciri - ciri yang hakiki itu
ialah: Makhluk hidup yang berbudi.
b. Pembentukan Pendapat
Yaitu menggabungkan atau memisah beberapa pengertian menjadi suatu tanda
yang khas dari masalah itu. Pendapat dibedakan menjadi tiga macam :
1) Pendapat Afirmatif (positif), yaitu pendapat yang secara tegas menyatakan
sesuatu, misalnya si Fani itu rajin, si Tari itu pandai, dsb.
2) Pendapat Negatif, yaitu pendapat yang secara tegas menerangkan tidak adanya
3)

sesuatu hal, misalnya si Ihsan tidak marah, si Roni tidak bodoh, dsb.
Pendapat Modalitas (kebarangkalian), yaitu pendapat yang menerangkan
kemungkinan-kemungkinan sesuatu sifat pada suatu hal, misalnya hari ini

mungkin hujan, si Lisna mungkin tidak datang, dsb.


c. Pembentukan Keputusan

Yaitu menggabung-gabungkan pendapat tersebut. Keputusan adalah hasil


perbuatan akal untuk membentuk pendapat baru berdasarkan pendapat-pendapat
yang telah ada. Ada tiga macam keputusan, yaitu:
1) Keputusan dari pengalaman-pengalaman, misalnya: kemarin Roni duduk
dikursi yang panjang dimuka ruangan kelas dsb.
2) Keputusan dari tanggapan-tanggapan, misalnya: Kucing kami menggigit
seorang Paman pentol, dsb.
3) Keputusan dari pengertian-pengertian, misalnya: berdusta adalah tidak baik,
bunga itu indah, dsb.
d. Pembentukan kesimpulan, yaitu menarik keputusan dari keputusan-keputusan
yang lain.
B. Pemecahan Masalah
1. Pengertian Pemecahan Masalah
Santrock (2005) mengemukakan bahwa pemecahan masalah merupakan upaya
untuk menemukan cara yang tepat dalam mencapai tujuan ketika tujuan dimaksud
belum tercapai (belum tersedia). Sementara itu, Davidoff (1988) mengemukakan
bahwa pemecahan masalah adalah suatu usaha yang cukup keras yang melibatkan
suatu tujuan dan hambatan-hambatannya. Seseorang yang menghadapi satu tujuan
akan menghadapi persoalan dan dengan demikian dia akan terpacu untuk mencapai
tujuan itu dengan berbagai cara.
Sedangkan Hunsacker menurut (Lasmahadi, 2005) bahwa pemecahan masalah
merupakan suatu proses penghilangan perbedaan atau ketidaksesuaian yang terjadi
antara hasil yang diperoleh dan hasil yang diinginkan. Salah satu bagian dari proses
pemecahan masalah adalah pengambilan keputusan (decision making), yang
didefinisikan sebagai mengambil solusi terbaik dari sejumlah alternatif yang tersedia.
Pengambilan keputusan yang tidak tepat akan mempengaruhi kualitas hasil dari
pemecahan masalah yang dilakukan. Jadi secara singkat pemecahan masalah adalah
formulasi jawaban baru, keluar dari aplikasi peraturan yang dipelajari sebelumnya
untuk menciptakan solusi/jalan keluar dari sebuah masalah (problem).
2. Proses Pemecahan Masalah
Wessels (Woolfolk & Nicolich, 2004:321) mengemukakan bahwa dalam memecahkan
masalah, ada empat langkah yang ditempuh, yaitu:
a. Memahami masalah
Langkah pertama yang dilakukan adalah dengan memahami secara tepat
masalah yang sedang dihadapi. Untuk memahami masalah, diperlukan
representasi situasi akurat tentang masalah yang sedang dihadapi. Pada tahap ini,
individu perlu melakukan diagnosis terhadap sebuah situasi, peristiwa atau

kejadian, untuk memfokuskan perhatian pada masalah sebenarnya, bukan pada


gejala-gejala yang muncul (Lasmahadi, 2005). Pada beberapa masalah, perlu
digunakan diagram atau notasi tertentu (misalnya x, y, dan z) untuk
mempermudah identifikasi dan pemahaman masalahnya (Kangguru, 2007).
b. Menyeleksi solusi
Setelah menentukan akar masalah yang sedang dihadapi, maka langkah
selanjutnya adalah merencanakan strategi pemecahan yang akan dan mungkin
dapat ditempuh. Copi (Woolfolk & Nicolich, 2004: 324) mengemukakan bahwa
salah satu metode yang cukup tepat untuk diaplikasikan adalah pemikiran analitik
(membuat alasan dengan analogi). Metode ini memberi batas pencarian solusi
pada situasi yang memiliki beberapa kesamaan dengan dengan situasi yang sedang
dihadapi.
c. Memutuskan rencana
Tahap ini ditandai dengan pemilihan dan pengaplikasian suatu rencana yang
telah diseleksi dan dianalisis secara matang untuk memecahkan suatu masalah.
Memutuskan

rencana

berarti

individu

telah

mempertimbangkan

semua

kemungkinan dari masing-masing solusi yang ada dan memilih solusi yang
dianggap terbaik dari sekian solusi yang ada.
d. Mengevaluasi hasil
Tahapan selanjutnya adalah mengevaluasi hasil yang telah dicapai. Tahap ini
meliputi verifikasi fakta, baik yang menguatkan maupun yang melemahkan
pilihan-pilihan yang ada.
3. Strategi Pemecahan Masalah
Sebuah persoalan tidak termasuk ke dalam masalah jika persoalan itu dapat
diselesaikan dengan prosedur algoritme tertentu. Untuk pemecahan masalah
sesungguhnya, peserta didik harus menarik sejumlah kecakapan dan pengetahuan
mereka sebelumnya, kemudian memadukan itu semua dalam suatu cara baru untuk
tiba pada suatu penyelesaian.
Untuk itu, diperlukan berbagai strategi yang dapat membantu mereka dalam
memecahkan masalah. Dari banyak deskripsi mengenai strategi-strategi pemecahan
masalah, beberapa yang terkenal adalah seperti yang dikemukakan oleh Polya dan
Pasmep (dalam Shadiq, 2004). Strategi-strategi tersebut diantaranya adalah: Mencoba
nilai-nilai atau kasus-kasus yang khusus; Menggunakan diagram; Mencobakan pada
soal yang lebih sederhana; Membuat tabel; Memecah tujuan; Memperhitungkan setiap
kemungkinan; Berfikir logis; Menemukan pola; Bergerak dari belakang.

Selain strategi di atas, Stepelman dan Posamentier (1981) mengemukakan


beberapa strategi lagi sebagai tambahan, yaitu; menggunakan komputer, melakukan
aproksimasi, menentukan syarat cukup dan syarat perlu, menentukan karakteristik
dari objek, membuat gambar, dan mengumpulkan data. Dalam memecahkan suatu
masalah, tentunya tidak menggunakan semua strategi di atas sekaligus, akan tetapi
dipilih sesuai dengan kondisi masalah.
C. Proses Berpikir dan Pemecahan Masalah Secara Kreatif
Ciri suatu perilaku kreatif adalah adanya sesuatu hasil yang baru, akibat perilaku
tersebut. Kreativitas seseorang berhubungan dengan motivasi dan pengalaman serta
dipengaruhi oleh intelegensi, cara berpikir, ingatan, minat dan emosinya, bakat, sikap,
persepsi, perasaan dan kepribadian. (Sunaryo, 2004)
Unsur kreatif diperlukan dalam proses berpikir untuk menyelesaikan masalah.
Semakin kreatif seseorang, semakin banyak alternatif penyelesaiannya. Berpikir
merupakan instrumen psikis yang paling penting. Dengan berpikir, kita dapat lebih mudah
mengatasi berbagai masalah hidup. Dalam proses mengatasi suatu masalah, kita sering
berpikir dengan cara berbeda-beda.
Para psikolog dan ahli logika mengenal beberapa cara berpikir. Namun, tidak semua
efektif bagi setiap masalah. Berpikir kreatif merupakan suatu cara yang dianjurkan.
Dengan cara itu seseorang akan mampu melihat persoalan dari banyak perspektif.
Pasalnya, seorang pemikir kreatif akan menghasilkan lebih banyak alternatif penyelesaian
masalah. Aplikasi metode pemecahan masalah secara kreatif lahir dari satu bentuk
pemikiran (mindset) yang menerobos kelaziman paradigma tertentu.
1. Teknik Berpikir dan Pemecahan Masalah secara Kreatif
Dalam proses berpikir kreatif untuk memecahkan suatu masalah, ada beberapa
tahapan yang dilalui, yaitu (Admin, 2007) :
a. Tahap persiapan
Dalam masa persiapan, seorang pemikir atau kreator memformulasikan
masalahnya dan fakta dan data yang dibutuhkan untuk memecahan masalah.
Kadang-kadang meski telah lama berkonsentrasi, pemecahan masalah belum
muncul juga ke dalam bunaknya.
b. Tahap inkubasi
Jika pemikir kemudian mengalihkan perhatian dari persoalan yang sedang
dihadapinya tersebut berarti ia telah memasuki tahap inkubasi. Pada tahap ini, ide-

ide yang mencampuri dan mengganggu cenderung menghilang. Sementara itu,


pemikir mendapat pengalaman baru. Pengalaman tersebut dapat menambah kunci
bagi pemecahan masalah.
c. Tahap iluminasi
Pada periode ini, pemikir mengalami insight atau misalnya Aha!. Seketika cara
pemecahan masalah muncul dengan sendirinya.
d. Tahap evaluasi
Evaluasi terjadi setelah muncul pemecahan masalah, tujuannya adalah untuk
menilai apakah pemecahan masalah tersebut sudah tepat. Seringkali pemecahan
masalah yang muncul tidak tepat, sehingga pemikir harus mulai lagi dari awal
pentahapan.
e. Tahap revisi
Tahap ini ditempuh bila cara pemecahan masalah tersebut belum tepat atau
mungkin masih memerlukan penyesuaian dan perbaikan-perbaikan pada beberapa
aspek agar pemecahan masalah menjadi lebih tepat dan efektif.
Namun disisi lain Treffinger (Munandar, 1995:213) mengemukakan bahwa teknik
kreatif dalam pemecahan masalah dikelompokkan dalam tiga tingkatan model belajar
kreatif. Teknik pertama dimulai dengan memberikan pemanasan (warming up),
kemudian dilanjutkan dengan teknik sumbang saran (brainstorming). Teknik kedua
yaitu teknik synecitics dan futuristics. Sedangkan teknik ketiga adalah teknik
pemecahan masalah (solve the problem) secara kreatif dengan metode Parnes dan
metode Shallcross.
1) Teknik kreatif tingkat pertama
a. Pemanasan (warming up session)
Upaya pemecahan masalah secara kreatif membutuhkan langkah
pendahuluan (pre-session) sebagai persiapan pada penetrasi lanjutan. Untuk
menumbuhkan iklim atau suasana kreatif dalam kelas yang memungkinkan
siswa untuk lebih tenang, merasakan kebebasan, serta adanya perasaan aman
dalam mengungkap pikiran dan perasaannya, guru atau pendidik dianjurkan
melakukan pemanasan, misalnya siswa yang sebelumnya dituntut untuk
mengerjakan berbagai tugas yang terstruktur, maka siswa memerlukan switch
(pengalihan) mental dari proses pemikiran reproduktif dan konvergen ke
proses pemikiran divergen dan imajinatif (Munandar, 1995).
Gagasan untuk mengajak siswa untuk sejenak beralih ke masalah yang
lebih imajinatif dan eksploratif merupakan suatu bentuk upaya eksklusif untuk
menstimulasi kreatifitas siswa dalam menjawab suatu pertanyaan yang
memberi kemungkinan banyak jawaban. Sasaran akhirnya adalah mencoba

membuka cakrawala siswa dalam melihat suatu masalah; mengajak siswa


melihat suatu hal atau masalah dari berbagai perspektif.
Pemanasan dapat dilakukan dengan mengajukan beberapa pertanyaan
terbuka (opened questions) yang dapat membangkitkan minat dan rasa ingin
tahu (curiosity) siswa. Cara lain yang dapat ditempuh adalah mengajukan
pertanyaan terhadap suatu masalah, misalnya pertanyaan mengenai penyebab
seringnya terjadi perkelahian antar siswa di sekolah (Munandar, 1995).
b. Sumbang saran (brainstorming)
Teknik sumbang saran merupakan teknik yang dikembangkan oleh Alex F.
Osborn, yaitu suatu teknik yang untuk meningkatkan gagasan jika diajarkan
dan diterapkan dengan tepat (Shallcross, dalam Munandar, 1995:214; Admin,
2007).

Brainstorming

merupakan

teknik

pemecahan

masalah

yang

menghasilkan gagasan yang mencoba mengatasi segala hambatan dan kritik.


Kegiatan tersebut mendorong timbulnya banyak gagasan, termasuk gagasan
yang menyimpang, liar, dan berani, dengan harapan bahwa gagasan tersebut
dapat menghasilkan gagasan yang baik dan kreatif. Teknik ini cenderung
menghasilkan gagasan baru yang orisinal untuk menambah jumlah gagasan
konvensional yang ada (Sulistiati, 2007). Osborn (Munandar, 1995:214)
menentukan empat aturan dasar dalam teknik sumbang sarang, yaitu:
1. Kritik tidak dibenarkan atau ditangguhkan
Asas pertama dari konsep berpikir divergen adalah meniadakan sensor
untuk kurun waktu tertentu, karena hal tersebut dampak menghambat
kelancaran proses asosiasi (Admin, 2007). Hal ini dimaksudkan pula untuk
mencegah terhambatnya sintesis gagasan atau pemikiran yang muncul dari
benak setiap individu yang melakukan sumbang saran. Selain itu, kritik
yang diberikan terlalu cepat kepada setiap gagasan yang muncul dapat
menghambat kreatifitas karena kesempatan bagi munculnya gagasan lain
menjadi berkurang. Individu pun akan lebih selektif dalam mensintesis
suatu gagasan, sehingga jumlah gagasan yang muncul menjadi berkurang.
2. Kebebasan dalam memberikan gagasan
Diperlukan iklim tertentu agar seseorang merasa bebas dan nyaman
dalam mensintesis suatu gagasan. Apresiasi terhadap individu lain
merupakan hal yang sangat penting, terutama ketika individu yang
bersangkutan mengungkapkan suatu gagasan.

3. Gagasan sebanyak mungkin


Dalam konteks ini, dikenal asas (quantity breeds quality), yaitu
semakin banyak gagasan yang dimunculkan, maka semakin besar
kemungkinan adanya gagasan yang berkualitas dan efektif dalam
menyelesaikan masalah yang sedang dihadapi. Munandar (Admin, 2007)
mengemukakan bahwa gagasan yang baik biasanya muncul bukan pada
saat-saat awal dalam tahap pemberian gagasan. Dengan demikian, ada
kesempatan bagi pikiran kita untuk mengembara, mencari kemungkinan
gagasan lebih jauh untuk memunculkan gagasan orisinal dan kreatif.
4. Kombinasi dan peningkatan gagasan
Dalam teknik sumbang saran gagasan yang muncul dari satu individu
tidak jarang merupakan penjabaran atau pengembangan dari gagasan
individu lainnya. Dengan demikian, teknik sumbang saran memberikan
peluang yang lebih besar bagi munculnya gagasan-gagasan terbaik.
Teknik sumbang saran dilaksanakan dalam beberapa tahap, yaitu:
1. Pertama-tama, salah seorang dari anggota kelompok dipilih menjadi ketua
kelompok yang bertugas mengemukakan atau memaparkan masalah,
memimpin sidang, dan mengawasi bahwa semua anggota akan mendapat
giliran untuk memberikan pendapatnya serta memastikan tidak adanya
kritik.
2. Tahap selanjutnya adalah membagikan kepada anggota daftar sumbang
saran yang telah diberikan oleh para anggota. Anggota diminta untuk
menambahkan ide-ide baru jika masih ada atau saran-saran untuk
implementasi solusi.
3. Daftar ide-ide yang telah dihasilkan kemudian dievaluasi (appraisal for
ideas). Tahap evaluasi ini dapat dilakukan bersama-sama atau diserahkan
pada beberapa anggota saja (Admin, 2007).
c. Pertanyaan yang memacu gagasan
Teknik ini dikenal dengan istilah daftar periksa (checklist) yang
dikembangkan oleh Alex Osborn untuk meningkatkan kuantitas dan kualitas
gagasan. Pertanyaan-pertanyaan yang berupa kata kerja manipulatif akan
membantu individu dalam mengembangkan gagasan kreatif melalui proses
asosiasi dan memanipulasi informasi dan gagasan untuk menghasilkan ide
yang orisinil (Munandar, 1995:217).
2) Teknik kreatif tingkat kedua
a. Synectics (sinektik)

Teknik sinektik dikembangkan oleh Willian J. J. Gordon dan merupakan


teknik yang menggunakan analogi dan metafora (kiasan) untuk membantu
individu menganalisis masalah dan melihat suatu masalah dari berbagai
perspektif (Feldhusen & Treffinger, dalam Munandar, 1995:219; Sulistiyati,
2007). Sinektik dimaksudkan untuk menghentikan kebiasaan lama serta
gagasan usang dan untuk memperkenalkan suasana rileks ke dalam proses
penggalian ide. Proses sinektik mencoba membuat sesuatu yang asing
menjadi akrab, begitupun sebaliknya (Sulistiyati, 2007).
Ada tiga jenis analogi yang diaplikasikan dalam sinektik, yaitu analogi
fantasi, analogi langsung, dan analogi pribadi. Analogi yaitu analogi yang
memungkinkan individu mencari pemecahan (solusi) yang ideal terhadap
suatu masalah meskipun sepintas solusi tersebut terlihat aneh dan melanggar
kelaziman. Analogi langsung merupakan bentuk analogi antara satu masalah
dengan masalah lain yang linier dalam kehidupan nyata. Analogi pribadi
merupakan bentuk analogi yang menuntut individu untuk menempatkan
dirinya (memainkan peran) dalam masalah yang sedang dihadapi (Munandar,
1995). Teknik sinektik merupakan cara yang menyenangkan dan efektif untuk
melibatkan siswa dalam diskusi yang elaboratif dan imajinatif yang
menghasilkan pemecahan masalah yang tidak lazim namun aplikatif. Setiap
topik dari permasalahan dapat dibahas dalam diskusi kelompok kecil maupun
kelompok besar. Melalui sinektik, siswa dapat belajar strategi yang bermakna
untuk memecahkan masalah (Munandar, 1995).
b. Futuristics
Futuristics (futuristik) merupakan teknik kreatif yang membantu individu
(siswa)

meningkatkan

dan

mengaplikasikan

segenap

potensi

dan

kemampuannya untuk mencipta masa depan (Munandar, 1995:221). Toffler


(Munandar, 1995:221) mengemukakan bahwa siswa perlu dibantu dalam
mengasosiasikan perubahan yang akan terjadi di dunia dengan perubahan
dalam kehidupan mereka sendiri. Toffler menemukan bahwa siswa sekolah
menengah dengan segera dapat menemukenali berbagai perubahan yang akan
terjadi di masa depan (forecast). Akan tetapi, bila siswa-siswa tersebut diminta
mendaftar tujuh peristiwa yang mungkin terjadi pada mereka di masa depan,
jawaban yang diberikan tidak menunjukkan indikasi kehidupan yang berubah.
Lebih lanjut, Toffler melaporkan adanya kesenjangan antara pengamatan siswa
tentang perubahan cepat di dalam lingkungan dan pemahaman bahwa

perubahan tersebut berdampak secara signifikan terhadap kehidupan pribadi


mereka.
Pendekatan dalam menggunakan futuristik dengan siswa berbakat agak
berbeda dari yang digunakan kebanyakan guru di dalam kelas biasa. Dalam
mengajar futuristik, dipandang suatu falsafah mengajar yang futuristik, yaitu
pengajaran yang tidak hanya berorientasi kekinian, tetapi juga beorientasi
masa

depan.

Falsafah

demikian

dimaksudkan

untuk

meningkatkan

pembelajaran pada semua mata pelajaran maupun segala bidang dalam


kehidupan sehari-hari (Munandar, 1995:221). Sisk (Munandar, 1995:221)
mengemukakan bahwa salah satu cara untuk menggambarkan proses
penyerapan unsur pembelajaran futuristik secara menyeluruh adalah dengan
membayangkan garis waktu. Garis waktu berfungsi untuk menemukenali
asosiasi antara informasi masa lalu, masa kini, dan masa akan datang.
Munandar (2000:222) mengemukakan bahwa tujuan khusus pengajaran
dengan filosofi futuristik adalah:
1. Memberikan siswa paradigma (cara pikir dan cara pandang) tentang masa
depan yang lebih komprehensif.
2. Membekali siswa dengan keterampilan dan konsep yang perlu untuk
memahami kompleksitas berbagai sistem.
3. Membantu siswa dalam menemukenali dan memahami secara massif
masalah-masalah utama yang muncul di masa yang akan datang.
4. Membantu siswa memahami perubahan dan bagaimana menghadapinya.
Lebih lanjut, Munandar (2000:223) mengemukakan bahwa ada beberapa
keterampilan yang dapat digunakan pada teknik futuristik, yaitu:
1. Menulis senario
Menulis senario merupakan salah satu cara merangsang potensi dan
kemampuan siswa berbakat dalam berpikir dan menganalisis melalui suatu
pengantar senario.
2. Roda masa depan (future wheels)
Future wheels dikembangkan oleh Jerry Glenn, yaitu mengidentifikasi
suatu kecenderungan yang ada dan/atau yang akan timbul dan
menempatkan kecenderungan tersebut di pusat kemudian mengidentifikasi
hubungan sebab akibat dari kecenderung-kecenderungan tersebut.
3. Trending (prediksi)
Trending merupakan upaya melihat kecenderungan-kecenderungan
yang mungkin terjadi; sebagai kelanjutan atau pengembangan dari teknik
roda masa depan (future wheels). Trending menggunakan pertanyaanpertanyaan berikut:

Bilamana kecenderungan itu mulai nampak?


Terhadap siapa kecenderungan ini mempunyai dampak positif?
Terhadap siapa kecenderungan ini mempunyai dampak negatif?
Apakah kecenderungan ini berinteraksi dengan kecenderungan

lainnya? Jika ya, kecenderungan mana?


Jika kita ingin meningkatkan kecenderungan tersebut, bagaimana
melakukannya?
Jika kita ingin memperlambat atau menghentikan kecenderungan
tersebut, bagaimana melakukannya?
3) Teknik kreatif tingkat ketiga
a. Pemecahan masalah secara kreatif
Pemecahan masalah secara kreatif (Creative Problem Solving Processes)
dikembangkan oleh Parnes, Presiden dari Creative Problem Solving
Foundation (CPS). Proses ini mencakup lima tahapan, yaitu menemukan fakta,
menemukan masalah, menemukan gagasan, menemukan solusi, dan
menemukan penerimaan (Munandar, 1995:225).
1) Tahap menemukan fakta
Tahap menemukan fakta merupakan tahap mendaftar semua fakta yang
diketahui mengenai masalah yang ingin dipecahkan dan menemukan data
baru yang diperlukan.
2) Tahap menemukan masalah
Tahapan ini merupakan tahap dimana individu merumuskan masalah
melalui pertanyaan-pertanyaan simplistik tertentu, misalnya Dengan cara
apa saya harus mengatasinya?. Dengan demikian, individu dapat
mengembangkan masalahnya dengan mengidentifikasi sub-sub masalah,
sehingga masalah dapat dirumuskan kembali.
3) Tahap menemukan gagasan
Tahap dimana individu berupaya mengembangkan gagasan pemecah
masalah sebanyak mungkin.
4) Tahap menemukan solusi
Gagasan yang dihasilkan pada tahap sebelumnya diseleksi berdasar kriteria
evaluasi yang berpautan dengan masalah yang dihadapi. Masing-masing
gagasan dinilai berdasar kriteria yang telah ditentunkan.
5) Tahap menemukan penerimaan
Menyusun rencana tindakan agar pihak yang mengambil keputusan dapat
menerima gagasan tersebut dan melaksanakannya (Munandar, 1995:225).
Dalam upaya menerapkan berbagai solusi terhadap suatu masalah,

seseorang perlu lebih sensitif terhadap kemungkinan terjadinya resistensi


dari orang-orang yang mungkin terkena dampak dari penerapan tersebut.
Hampir pada semua perubahan, terjadi resistensi, karena itulah seorang
yang piawai dalam melakukan pemecahan masalah akan secara hati-hati
memilih strategi yang akan meningkatkan kemungkinan penerimaan
terhadap solusi pemecahan masalah oleh orang-orang yang terkena
dampak dan kemungkinan penerapan sepenuhnya dari solusi yang
bersangkutan (Whetten & Cameron, dalam Lasmahadi, 2005)
b. Proses lima tahap (Shallcross)
Shallcross (Munandar, 1995:228) membedakan antara primary creativity
dan secondary process of creativity. Kreatifitas primer adalah proses
pemecahan masalah secara alamiah oleh pikiran individu karena individu
tersebut tidak menyadari terjadinya suatu proses dalam dirinya, sedangkan
pada kreatifitas sekunder ada peningkatan kesadaran dalam pemecahan
masalah yang berlangsung dengan tahapan-tahapan tertentu secara gradual.
Tahapan pemecahan masalah yang dikemukakan oleh Shallcross meliputi
(Munandar, 1995:228):
1) Tahap orientasi
Pada tahap orientasi, masalah dirumuskan ke dalam proposisi tertentu yang
lebih komprehensif. Masalah dijabarkan dengan menulis suatu paragraf
yang melukiskan bagaimana pikiran dan perasaan seseorang mengenai
permasalahan tersebut.
2) Tahap persiapan
Pada tahap ini, individu menghimpun semua fakta yang sudah diketahui
mengenai masalahnya dan menanyakan semua fakta yang belum diketahui.
Fakta yang dihimpun berupa semua informasi faktual yang sudah
diperoleh dan masih perlu untuk diperoleh. Fakta tersebut dihimpun
berdasar pertanyaan yang runut mengenai masalah yang sedang dihadapi.
3) Tahap penggagasan
Pada tahap ini, individu menerapkan konsep berpikir divergen untuk
menghasilkan gagasan-gagasan sementara dalam rangka pemecahan
masalah.
4) Tahap penilaian
Pada tahap ini digunakan konsep berpikir konvergen, yaitu memverifikasi
dan menyeleksi gagasan-gagasan terbaik untuk diaplikasikan. Dalam tahap

ini, setiap gagasan harus dipertimbangkan secara objektif mengenai


kelebihan dan kekurangan serta kelayakannya masing-masing.
5) Tahap pelaksanaan
Solusi yang telah ditetapkan dilaksanakan sesuai dengan perencanaan
sebelumnya. Pelaksanaan disini dapat lebih fleksibel, tergantung pada
resistensi dan akseptabilitasnya terhadap masalah yang dihadapi.
2. Cara-cara pemecahan masalah

Mengurangi beratnya masalah

Mengubah perilaku negatif menjadi positif

Mengubah cara pandang terhadap masalah

Mempermudah memberikan tanggapan berbeda

Mengurangi dampak atau seriusnya masalah

BAB III
KESIMPULAN
Dalam proses mengatasi suatu masalah, kita sering berpikir dengan cara berbeda-beda.
Para psikolog dan ahli logika mengenal beberapa cara berpikir. Namun, tidak semua efektif
bagi proses pemecahan masalah. Berpikir kreatif merupakan salah satu cara yang dianjurkan.
Dengan cara itu seseorang akan mampu melihat persoalan dari banyak perspektif. Pasalnya,
seorang pemikir kreatif akan menghasilkan lebih banyak alternatif untuk memecahkan suatu
masalah. Untuk dapat memecahkan masalah, seseorang harus betul-betul tahu masalahnya
sehinga dapat nencari keputusan yang tepat, efektif dan efisien.
Jadi berpikir adalah proses dinamis melalui proses mendeskripsikan, mengklasifikasikan,
mengabstraksi, dan menyisihkan atau membuang suatu objek sehingga akhirnya dapat
merumuskan secara verbal, dan mengungkapkan kemungkinan suatu sifat pada suatu hal.
Secara garis besar berpikir secara kreatif adalah kemampuan menemukan kemungkinan
jawaban-jawaban terhadap suatu masalah dimana penekanannya adalah pada kuantitas,
ketepat gunaan, dan keragaman jawaban. Banyak faktor yang mempengaruhi dalam proses
pemecahan masalah antara lain motifasi, kepercayaan dan sikap, kebiasaan, dan emosi.

DAFTAR PUSTAKA
Hamalik, Oemar. 1980. Psikologi Sosial. Jakarta: Penerbit Rineka Cipta.

http://www.psb-psma.org/content/blog/proses-berpikir
http://www.tugaskuliah.info/2009/06/makalah-psikologi-umum-berpikirdan.html
http://www.psikologizone.com/pengertian-ilmu-psikologi/0651110
Sunaryo. 2004. Psikologi Untuk Keperawatan. Jakarta: EGC.

Anda mungkin juga menyukai