Anda di halaman 1dari 4

Test Pandy

Reagen Pandy, yaitu larutan jenuh fenol dalam air (phenolum liquefactum 10 ml:
aqua dest 90 ml; simpan beberapa hari dalam lemari pengeram 37C dengan sering dikocokkocok) bereaksi dengan globulin dan dengan albumin.
Cara
1. Sediakanlah 1 ml reagens Pandy dalam tabung serologi yang kecil bergaris tengah 7
mm
2. Tambahkan 1 tetes cairan otak tanpa sediment
3. Segeralah baca hasil test itu dengan melihat kepada derajat kekeruhan yang terjadi
Catatan
Dalam keadaan normal tidak akan terjadi kekeruhan atau kekeruhan yang sangat
ringan berupa kabut halus. Semakin tinggi kadar protein, semakin keruh hasil reaksi ini.
Kekruhan yang lebih berat berarti test Pandy itu menjadi positif.
Test None
Percobaan ini juga dikenal seperti test Nonne-Apelt atau test Ross-Jones,
menggunakan larutan jenuh amoniumsulfat sebagai reagens (amoniumsulfat 80 g: aqua dest
100 ml; saring sebelum memakainya). Test seperti dilakukan di bawah ini terutama menguji
kadar globulin dalam cairan otak.
Cara
1. Taruhlah - 1 ml reagens Nonne dalam tabung kecil yang bergaris tengah kira-kira 7
mm
2. Dengan berhati-hati dimasukkan sama banyak cairan otak ke dalam tabung itu,
sehingga kedua macam cairan tinggi terpisah menyusun dua lapisan
3. Tenangkanlah selama 3 menit, kemudian selidikilah perbatasan kedua cairan itu.
Catatan
Dalam keadaan normal hasil test ini negatif, artinya: tidak terjadi kekeruhan pada
perbatasan. Semakin tinggi kadar globulin semakin tebal cincin keruh yang terjadi.
Sumber : Penuntun Laboratorium Klinik
Meningitis Virus

Meningitis viral adalah meningitis yang disebabkan oleh virus, dan ini merupakan jenis
terbanyak dari meningitis. Meningitis viral disebut juga meningitis aseptik karena tidak
ditemukan adanya bakteri dalam darah pasien. Meningitis jenis ini umumnya ringan dan
dapat sembuh dengan sendirinya dalam waktu 7-10 hari, dengan memperkuat daya tahan
tubuh. Ada beberapa jenis virus yang dapat menyebabkan meningitis viral, antara lain
enterovirus (meliputi enteroviruses, coxsackieviruses, dan echoviruses), virus cacar, herpes
virus (spt Epstein-Barr virus, herpes simplex viruses, dan varicella-zoster virus) virus
campak, dan juga virus influenza. Namun untuk mengetahui apakah meningitis disebabkan
oleh virus atau bakteri, tetap harus dilakukan uji kultur yang berasal daricairan spinal pasien.
Pasien dengan meningitis viral umumnya tidak perlu pengobatan khusus, dan disarankan
untuk istirahat total (bed rest), minum banyak cairan, dan pengobatan untuk mengatasi gejala
saja, seperti analgesik antipiretik untuk mengilangkan rasa sakit (sakit kepala), dan
menurunkan demam.
Obat-obat pilihan
a. Golongan Tiazid
1. Hidroklorotiazid
Indikasi : edema, hipertensi
Peringatan, kontra indikasi, dan efek samping : lihat pada Bendrofluazid
Dosis : edema, dosis awal 12,5-25 mg, kurangi untuk pemeliharaan jika mungkin;
untuk pasien dengan edema yang berat dosis awalnya 75 mg sehari; hipertensi,
dosis awal 12,5 mg sehari, jika perlu ditingkatkan sampai 25 mg pada pagi hari
Bentuk sediaan obat: tablet
2. Chlortalidone (Hygroton, Tenoret 50, Tenoritic)
Indikasi: edema, hipertensi, diabetes insipidus
Peringatan, kontra indikasi, dan efek samping: lihat pada Bendrofluazid
Dosis: edema, dosis awal 50 mg pada pagi hari atau 100-200 mg selang sehari,
kurangi untuk pemeliharaan jika mungkin. Hipertensi, 25 mg, jika perlu
ditingkatkan sampai 50 mg pada pagi hari
Bentuk sediaan obat: tablet
3. Bendrofluazid/bendroflumetazid (Corzide)
Indikasi: edema, hipertensi
Kontra indikasi: hipoklaemia yang refraktur, hiponatremia, hiperkalsemia,
gangguan ginjal dan hati yang berat.
Bentuk sediaan obat: tablet
Dosis : edema dosis awal 5-10 mg sehari atau berselang sehari pada pagi hari,
dosis pemeliharaan 5-10 mg 1-3 kali seminggu. Hipertensi 2,5 mg pada pagi hari

Efek samping: hipotensi postural dan gangguan saluran cerna yang ringan,
impotensi(reversibel bila obat dihentikan), hipokalemia, hipomagnesemia,
hiponatremia, hiperkalsemia, alkalosis hipokloremanik, hiperurisemia, pirai,
hiperglikemia, dan peningkatan kadar kolesterol plasma; jarang terjadi ruam kulit,
fotosensitivitas, gangguan darah (termasuk neutropenia dan trombositopenia, bila
diberikan pada masa kehamilan akhir); pankreatitis, dan reaksi hipersensitivitas.
Peringatan: hipokalemia, memperburuk diabetes dan pirai; mungkin
memperburuk SLE (eritema lupus sistemik); usia lanjut; kehamilan dan menyusui;
gangguan hati dan ginjal yang berat; porfiria.
b. Diuretik hemat kalium
1. Amilorid HCL (Amiloride, puritrid, lorinid)
Indikasi: edema, hipertensi, konservasi kalium dengan kalium tiazid
Kontra indikasi: gangguan ginjal, hiperkalemia
Bentuk sediaan obat: tablet
Dosis: dosis tunggal, dosis awal 10 mg sehari atau 5 mg dua kali sehari maksimal
20 mg sehari. Kombinasi dengan diuretik lain 5-10 mg sehari
Efek samping: gangguan saluran cerna dan kadang-kadang reaksi alergi seperti
ruam kulit, bingung, hiponatremia
Peringata: dapat menyebabkan hipokalemia dan hiponatremia; kehamilan dan
menyusui; gangguan hati dan ginjal; memperburuk diabetes mellitus; usia lanjut
2. Spironolakton (spironolactone, Carpiaton, Sotacor, Letonal)
Indikasi: edema, hipertensi
Kontra indikasi: gangguan ginjal, hiperkalemia, hipernatremia, kehamilan dan
menyusui, penyakit adison
Bentuk sediaan obat: tablet
Dosis: 100-200 mg sehari, jika perlu tngkatkan sampai 400 mg; anak, dosis awal
3mg/kg dalam dosis terbagi
Efek samping: gangguan saluran cerna dan kadang-kadang reaksi alergi seperti
ruam kulit, sakit kepala, hiponatremia, hiperkalemia, hepatoksisitas, impotensi
Peringatan: menyebabkan hipokalemia dan hiponatremia, kehamilan dan
menyusui, gangguan hati dan ginjal; usia lanjut
c. Diuretk kuat
1. Furosemid (lasix, impugan)
Indikasi: edema jantung, hipertensi
Kontra indikasi: gangguan ginjal dan hati berat
Bentuk sediaan obat: tablet, injeksi dan infus
Dosis: oral, dewasa 20-40 mg pada pagi hari, anak 1-3 mg/kg bb; injeksi, dewasa
dosis awal 20-50 mg im, anak 0,5-1,5 mg/kg sampai dosis maksimal sehari 20 mg;
infus IV disesuaikan dengan keadaan pasien

Efek samping: gangguan saluran cerna dan kadang-kadang reaksi alergi seperti
ruam kulit
Peringatan: menyebakan hipokalemia dan hiponatremia, kehamilan dan
menyusui, gangguan hati dan ginjal
Sumber:
Dipiro, Josep T, 1997. Pharmacotherapy Pathophysiologic Approach, Appleton
and Lange, 185-214
Anonim. 200. Informatorium Obat Nasional Indonesia 2000, hal 47-74, 83-90,
Departemen Kesehatan RI, Jakarta
Tierney, L.M., and Stephen, J. 2004. Current Medical Diagnosis Treatment, Lange
Medical Book 200$ (page 459-483)