Anda di halaman 1dari 21

Pemijahan Ikan Nila dan Ikan Mas

Makalah
Untuk Memenuhi Tugas Mata Kuliah
Genetika I
Yang dibina oleh Ibu Siti Zubaidah

Oleh:
Offering C/ Kelompok 4
1. Dina Yuli Pertiwi
2. Muhammad Mustofa Yusuf

(130341614823)
(130341614800)

UNIVERSITAS NEGERI MALANG


FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
JURUSAN BIOLOGI
Januari 2015

1. Ikan Nila
Ikan nila (Oreochromis niloticus) merupakan genus ikan yang dapat hidup
dalam kondisi lingkungan yang memiliki toleransi tinggi terhadap kualitas air
yang rendah, sering kali ditemukan hidup normal pada habitat-habitat yang ikan
dari jenis lain tidak dapat hidup. Bentuk dari ikan nila panjang dan ramping
berwarna kemerahan atau kuning keputih-putihan. Perbandingan antara panjang
total dan tinggi badan 3 : 1. Ikan nila merah memiliki rupa yang mirip dengan
ikan mujair, tetapi ikan ini berpunggung lebih tinggi dan lebih tebal, ciri khas lain
adalah garis-garis kearah vertikal disepanjang tubuh yang lebih jelas dibanding
badan sirip ekor dan sirip punggung. Mata kelihatan menonjol dan relatif besar
dengan tepi bagian mata berwarna putih (Sumantadinata, 1999).
Ikan nila merupakan ikan yang dikenal sebagai ikan Euryhalin kerena ikan
nila sejak dahulu hanya mendiami perbatasan atau pertemuan antara air laut
dengan air tawar sehingga dapat bertahan dipelihara dalam tambak air payau yang
dapat menyesuaikan dirinya dengan kadar garam 0-15 promile (Soeseno, 1977).
1.1 Reproduksi Ikan Nila (Oreochromis niloticus, L.)
Reproduksi adalah kemampuan individu untuk menghasilkan keturunanya sebagai
upaya untuk melestarikan jenisnya atau kelompoknya. Tidak setiap individu
mampu menghasilkan keturunan, tetapi setidaknya reproduksi akan berlangsung
pada sebagian besar individu yang hidup dipermukaan bumi ini. Kegiatan
reproduksi pada setiap jenis hewan air berbeda-beda, tergantung kondisi
lingkungan. Ada yang berlangsung setiap musim atau kondisi tertentu setiap tahun
(Yushinta Fujaya, 2004).
Gonad adalah bagian dari organ reproduksi pada ikan yang
menghasilkan telur pada ikan betina dan sperma pada ikan jantan. Ikan pada
umumnya mempunyai sepasang gonad dan jenis kelamin umumnya terpisah
(Sukiya, 2005).
Ikan memiliki ukuran dan jumlah telur yang berbeda, tergantung tingkah
laku dan habitatnya. Sebagian ikan memiliki jumlah telur banyak, namun

berukuran kecil sebagai konsekuensi dari kelangsungan hidup yang rendah.


Sebaliknya, ikan yang memiliki jumlah telur sedikit, ukuran butirnya besar, dan
kadang-kadang memerlukan perawatan dari induknya, misal ikan Tilapia
(Yushinta Fujaya, 2004).
Tiap-tiap spesies ikan pada waktu pertama kali gonadnya masak menjadi
masak tidak sama ukuranya. Demikian dengan ikan yang sama spesiesnya. Lebihlebih bila ikan yang sama spesiesnya itu tersebar pada lintang yang perbedaanya
lebih dari lima derajat, maka akan terdapat perbedaanya ukuran dan umur ketika
mencapai kematangan gonad untuk pertamakalinya. Sebagai contoh ikan large
mouth bass yang terdapat di Amerika Serikat. Ikan tersebut yang terdapat dibagian
Selatan pada waktu berumur satu tahun dengan berat 180 gram, gonadnya sudah
masak dan dapat bereproduksi. Ikan yang sama spesiesnya yang terdapat di bagian
Utara pada umur satu tahun., ukuranya lebih besar yaitu panjangnya 25 cm dan
beratnya 230 gram tetapi di dalam gonadnya tidak didapatkan telur yang masak,
demikian juga spermanya. Ikan blue gill yang beratnya 42 gram, gonadnya masak
dan dapat berpijah pada umur satu tahun. Tetapi ikan yang sama spesiesnya dalam
keadaan banyak makan, dalam waktu 5 bulan beratnya dapat mencapai 56 gram
dan gonadnya masak dan dapat berpijah. Jadi faktor utama yang mempengaruhi
kematangan gonad ikan di daerah bermusim empat antara lain ialah suhu dan
makanan. Tetapi untuk

ikan di daerah tropik faktor suhu secara relatif

perubahannya tidak besar dan umumnya gonad dapat masak lebih cepat (Moch.
Ichsan Effendie, 1997).
Garis besar perkembangan ovarium ikan terbagi dua tahap, pertama
tahap perkembangan struktural yaitu pertumbuhan ovarium hingga hewan
mencapai dewasa kelamin dan kedua tahap perkembangan fungsional yaitu tahap
pematangan telur. Sehubungan dengan tahap perkembangan telur, perubahanperubahan morfologi dapat dipakai sebagai tolak ukur tahap perkembangan
oogenesis. Menurut Babiker dan Ibrahim, (1979) perubahan morfologi yang
terjadi dapat meliputi warna, bentuk, keadaan permukaan, penampakan oosit dan
pembuluh darah.

1.2 Asal Mula dan Klasifikasi Ikan Nila (Oreochromis niloticus, L.)
Ikan Nila merupakan jenis ikan air tawar. Pada mulanya, ikan Nila
berasal dari perairan tawar di Afrika. Di Asia penyebaran ikan Nila pada mulanya
berpusat di beberapa negara seperti Filipina dan Cina. Dalam perkembangan
selanjutnya, ikan Nila meluas dibudidayakan di berbagai negara, antara lain
Taiwan, Thailand, Vietnam, Bangladesh, dan Indonesia. Pengembangan ikan Nila
di perairan tawar di Indonesia dimulai tahun 1969. Jenis atau strain ikan Nila yang
pertama kali didatangkan ke Indonesia adalah Nila hitam asal Taiwan. Tahun 1981
didatangkan lagi jenis atau strain ikan Nila merah hibrida. Kedua jenis ikan Nila
ini telah meluas dibudidayakan di seluruh wilayah perairan nusantara (Rukmana,
1997).
Menurut Suyanto (1993) Ikan Nila dalam klasifikasi biologi termasuk dalam:
Filum

: Chordata

Anak filum

: Vertebrata

Kelas

: Osteichthyes

Anak kelas

:Acanthoptherigi

Bangsa

:Percomorphi

Suku

:Cichlidae

Marga

:Oreochromis

Jenis

: Oreochromis niloticus, L

1.3 Morfologi Ikan Nila (Oreochromis niloticus, L.)


Berdasarkan morfologinya, ikan Nila umumnya memiliki bentuk tubuh
panjang dan ramping, dengan sisik berukuran besar. Matanya besar, menonjol, dan
bagian tepinya berwarna putih. Gurat sisi (linea literalis) terputus dibagian tengah
badan kemudian berlanjut, tetapi letaknya lebih ke bawah dari pada letak garis
yang memanjang di atas sirip dada. Sirip punggung, sirip perut, dan sirip dubur

mempunyai jari-jari keras dan tajam seperti duri. Sirip punggungnya berwarna
hitam dan sirip dadanya juga tampak hitam. Bagian pinggir sirip punggung
berwarna abu-abu atau hitam. Ikan Nila memiliki lima sirip, yaitu sirip punggung
(dorsal fin), sirip dada (pectoral fin), sirip perut (venteral fin), sirip anus (anal fin),
dan sirip ekor (caudal fin). Sirip punggung memanjang, dari bagian atas tutup
insang hingga bagian atas sirip ekor. Ada sepasang sirip dada dan sirip perut yang
berukuran kecil. Sirip anus hanya satu buah dan berbentuk agak panjang.
Sementara itu, sirip ekornya berbentuk berbentuk bulat dan hanya berjumlah satu
buah (Amri & Khairuman, 2002).
Ikan Nila memiliki sirip punggung dengan rumus D XV, 10, sirip ekor C
II, 15, dan sirip perut C I, 6. rumus tersebut menunjukkan perincian sebagai
berikut : D XV, 10 artinya D = Dorsalis (sirip punggung), XV = 15 duri, dan 10 =
10 jari-jari lemah. C II, 15 artinya C = Caudalis (sirip ekor) terdiri dari 2 duri, dan
15 jari-jari lemah.. V I, 6 artinya V = Ventralis (sirip perut) terdiri dari 1 duri, dan
6 jari-jari lemah (Rukmana, 1997).
Berdasarkan alat kelaminnya, ikan Nila jantan memiliki ukuran sisik
yang lebih besar daripada ikan Nila betina. Alat kelamin ikan Nila jantan berupa
tonjolan agak runcing yang berfungsi sebagai muara urin dan saluran sperma yang
terletak di depan anus. Jika diurut, perut ikan Nila jantan akan mengeluarkan
cairan bening (cairan sperma) terutama pada saat musim pemijahan. Sementara
itu, ikan Nila betina mempunyai lubang genital terpisah dengan lubang saluran
urin yang terletak di depan anus. Bentuk hidung dan rahang belakang ikan Nila
jantan melebar dan berwarna biru muda. Pada ikan betina, bentuk hidung dan
rahang belakang agak lancip dan berwarna kuning terang. Sirip punggung dan
sirip ekor ikan Nila jantan berupa garis putus-putus. Sementara itu, pada ikan Nila
betina, garisnya berlanjut (tidak putus) dan melingkar (Amri & Khairuman, 2002).
1.4 Syarat Hidup Ikan Nila
Ikan Nila memiliki toleransi yang tinggi terhadap lingkungan hidupnya
sehingga dapat dipelihara di dataran rendah yang berair payau hingga dataran
tinggi yang berair tawar. Habitat hidup ikan Nila cukup beragam, dari sungai,

danau, waduk, rawa, sawah, kolam, hingga tambak. Ikan Nila dapat tumbuh
secara normal pada kisaran suhu 14-38oC dan dapat memijah secara alami pada
suhu 22-37oC. Untuk pertumbuhan dan perkembangbiakan, suhu optimum bagi
ikan Nila adalah 25-30oC. Pertumbuhan ikan Nila biasanya terganggu jika suhu
habitatnya lebih rendah dari 14oC atau pada suhu tinggi 38oC. Ikan Nila akan
mengalami kematian pada suhu 6oC atau 42oC (Amri & Khairuman, 2002).
Ikan Nila memiliki toleransi tinggi terhadap perubahan lingkungan
hidup. Keadaan pH air antara 5 11 dapat ditoleransi oleh ikan Nila, tetapi pH
optimal untuk perkembangan dan pertumbuhan ikan ini adalah 7 8. ikan Nila
masih dapat tumbuh dalam keadaan air asin pada kadar salinitas 0 35 permil.
Oleh karena itu, ikan Nila dapat dibudidayakan di perairan payau, tambak, dan
perairan laut, terutama untuk tujuan usaha pembesaran (Rukmana, 1997).

1.5 Kebutuhan Nutrisi Ikan Nila


Kebutuhan nutrisi yang dibutuhkan oleh ikan nila yaitu protein,
karbohidrat, dan lemak. Kandungan nutrisi yang tidak tepat dapat mempengaruhi
pertumbuhan seperti kurangnya protein yang menyebabkan ikan hanya
menggunakan sumber protein untuk kebutuhan dasar dan kekurangan untuk
pertumbuhan. Kandungan protein yang berlebih, menyebabkan protein akan
terbuang dan menyebabkan bertambahnya kandungan amoniak dalam perairan.
Kebutuhan nutrisi ikan akan terpenuhi dengan adannya protein dalam pakan.
Protein merupakan kompleks yang terdiri dari asam amino esensial yang
merupakan senyawa molekul mengandung gugus fungsional amino (-NH2)
maupun karboksil (-CO2H) dan non esensial (NRC, 1993).
Kandungan karbohidrat merupakan kelompok organik terbesar yang
terdapat pada tumbuhan, terdiri dari unsur Cn (H2O)n dan karbohidrat salah satu
komponen yang berperan sebagai sumber energi bagi ikan serta bersifat sparing
effect bagi protein. Karbohidrat lebih mudah larut dalam air dan dapat digunakan
sebagai perekat untuk memperbaiki stabilitas pakan. Kekurangan karbohidrat dan

lemak dapat menyebabkan pertumbuhan terhambat karena ikan menggunakan


protein sebagai sumber energi lemak dan karbohidrat yang seharusnya sebagai
sumber energi. Kebutuhan karbohidrat yang memiliki kecernaan tinggi dan aktitas
enzim amilase pada ikan nila akan mempengaruhi daya cerna karbohidrat yang
meningkat (Pascual, 2009).
Kandungan lemak merupakan senyawa organik yang mengandung
unsure karbon (C), hidrogen (H), dan oksigen (O) sebagai unsur utama. Beberapa
di antaranya ada yang mengandung nitrogen dan fosfor. Lemak berguna sebagai 9
sumber energi dalam beraktifitas dan membantu penyerapan mineral tertentu.
Lemak juga berperan dalam menjaga keseimbangan dan daya apung pakan dalam
air. Kandungan lemak pakan yang dibutuhkan ikan nila antara 3 - 6% dengan
energi dapat dicerna 85 - 95% (Mahyuddin, 2008).

2. Ikan Mas (Cyprinus carpio)

Spesies ikan mas (Cyprinus carpio) termasuk dalam genus Cyprinus dari
family Cyprinidae. Di berbagai tempat ikan mas ini disebut sebagai ikan tombro,
raya, atau ameh. Ikan ini menurut sejarahnya berasal dari China dan Rusia yang
kemudian disebarkan di daerah Eropa dan negara-negara Asia Timur dan selatan
pada abad pertengahan. Sekarang telah merata diseluruh dunia, baik sebagai ikan
liar maupun sebagai ikan kultur.
Adapun klasifikasi ikan mas (Cyprinus carpio) menurut (Khairul dan
Khairuman, 2008) adalah sebagai berikut:
Phyllum

: Chordata

Class

: Osteichthyes

Subclass

: Actinopterygii

Ordo

: Cypriniformes

Subordo

: Cyprinoidea

Family

: Cyprinidae

Genus

: Cyprinus

Species

: Cyprinus carpio

2.1 Morfologi
Secara morfologis, ikan mas (Gambar.1) mempunyai bentuk tubuh agak
memanjang dan memipih tegak. Mulut terletak di ujung tengah dan dapat
disembulkan. Bagian anterior mulut terdapat dua pasang sungut berukuran
pendek. Bentuk tubuh ikan mas agak memanjang dan memipih tegak
(comprossed). Mulutnya terletak di bagian tengah ujung kepala (terminal) dan
dapat disembulkan (protaktil). Di bagian anterior mulut terdapat dua pasang
sungut. Di ujung dalam mulut terdapat gigi kerongkongan (pharyngeal teeth) yang
terbentuk atas tiga baris gigi geraham. Secara umum, hampir seluruh tubuh ikan
mas ditutupi sisik dan hanya sebagian kecil saja yang tubuhnya tidak ditutupi
sisik. Sisik ikan mas berukuran relatif besar dan digolongkan dalam tipe sisik
sikloid berwarna hijau, biru, merah, kuning keemasan atau kombinasi dari warnawarna tersebut sesuai dengan rasnya.
Sirip punggungnya (dorsal) memanjang dengan bagian belakang
berjarikeras dan di bagian akhir (sirip ketiga dan keempat) bergerigi. Letak sirip
punggung berseberangan dengan permukaan sisip perut (ventral). Sirip duburnya
(anal) mempunyai ciri seperti sirip punggung, yaitu berjari keras dan bagian
akhirnya bergerigi. garis rusuknya (linea lateralis atau gurat sisi) tergolong
lengkap, berada di pertengahan tubuh dengan bentuk melintang dari tutup insang
sampai ke ujung belakang pangkal ekor (Khairul dan Khairuman, 2008).

Gambar 1. Ikan Mas (Cyprinus carpio)


2.2 Fisiologi Ikan Mas (Cyprinus carpio).
Ikan mas menyukai tempat hidup (habitat) di perairan tawar yang airnya
tidak terlalu dalam dan alirannya tidak terlalu deras, seperti di pinggiran sungai
atau danau. Ikan mas dapat hidup baik di daerah dengan ketinggian 150-600 meter
diatas permukaan air laut dan pada suhu 25-30C. Meskipun tergolong ikan air
tawar, ikan mas kadang-kadang ditemukan di perairan payau atau muara sungai
yang bersalinitas 25-30%.

3. Pemijahan Ikan Nila


3.1 Pembenihan
Pada lokasi calon pembenihan terdapat sumber air yamg memadai secara
teknis, tersedia sepanjang tahun. Setidaknya, pada pemeliharaan benih, debit air
yang dibutuhkan berkisar 0.5 liter/detik. Nila dapat hidup pada suhu 25-30 derajat
Celcius; pH air 6.5-8-5; oksigen terlarut > 4 mg/I dan kedar ammoniak (NH3)<
0.01 mg/I; kecerahan kolam hingga 50 cm. selain itu ikan Nila juga hidup dalam
perairan agaktenang dan kedalaman yang cukup.

Pembenihan ikan Nila dilakukan dukolam (outdoor hatchery) kontruksi


kolam terbuat dari bahan beton/semen atau tanah. Bentuk kolam empat persegi
panjang sebanyak 4 unit.asitas untuk masing-masing wadah/bak sebesar 500
m2.produksi benih terdiri dari:
a)

Induk
Bobot induk betina sebesar 0.4 kg, sedangkan jantan sebesar 0.4 kg.

perbandingan induk jantan dan betina dikawinkan adalah 1 : 2. Padat penebaran


induk, untuk tiap pasang induk atau 3 ekor ikan, setidaknya disediakan lahan
minimal 4 m2. Perawatan induk dilakukan dengan memberikan makanan
tambahan seperti pellet, dedak, dan ampas tahu. Penambahan pakan alami
dikolam dapat dilakukan dengan cara menggantungkan karung pupuk di bagian
kolam tertentu, dengan terlebih dahulu melubaginya. Cara ini dimaksudkan agar
pembusukan yang berlangsung di dalam karung teidak mengganggu kaulitas air
kolam. Selanh beberapa hari biasanya disekitar karung akan tumbuh plankton.
b)

Pakan
Pakan induk Nila adalah pakan buatan dapat berupa pellet dengan kadar

protein 28-35% dengan kendungan lemeak tidak lebih dan 3%. Pada pemeliharaan
induk, pembentukan telur pada ikan memerlukan bahan protein yang cukup di
dalam pakannya sehinga perlu pula ditambahkan vitamin E dan C yang berasal
dan taoge dan daun-daunan/sayuran yang diris-iris.
Banyaknya pelat sebagai pakan induk kira-kira 3% berat biomassa par
hari. Agar diketahui berat bio massa, maka diambil sempel 10 ekor ikan,
ditimbang, dan dirata-ratakan beratnya. Berat rata-rata yang diperoleh dikalikan
dengan jumlah seluruh ikan di kolam. Sebagai contoh, berat rata-rata ikan 220
gram, jumlah ikan 90 ekor maka barat biomassa 220 x 90 = 19.800 garam. Jumlah
ransum per han 3% x 19.800 gram = 594 gram. Rensum ini diberikan 2-3 kali
sehari. Bahan pakan yang banyak mengandung lemak separti bungkil kacang dan
bungkil kelapa tidak baik untuk induk ikan, terlebih jika barang tersebut sudah
barbau tengik. Dedak halus dan bekatul boleh diberikan sebagai pakan. Bahan
pakan seperti itu juga berfungsi untuk menambah kesuburan kolam.

c)

Peralatan

1.Peralatan pemijahan, penetasan dan pemeliharaan larva: pengukuran kualitas


air: thermometer. Peralatan lapangan: ember, baskom, gayung, selang plastik,
saringan, plankton net, serok, timbangan, aerasi dan instalasinya.
2. Peralatan pendederan: peralatan lapangan: thermometer, ember, baskom,
saringan, serok, lambit, waring, cangkul, hapa penampung benih, timbangan dll.
Persiapan produksi larva dilakukan dengan mengeringkan dasar kolam
selama kurang lebih 3 hari. Lubang-lubang pada pematang kolam ditimbun
dengan tanah. Pengapuran diperlukan untuk memperbaiki dan pH tanah dan
mematikan bibit penyakit maupun hama ikan. Pemupukan dilakukan untuk
menyediakan makanan alami ikan bagi benih yang baru menetas. Selanjutnya,
kolam diairi hingga air mencapai ketinggian 50-70 cm.
Proses produksi larva dilakukan dengan pemeliharaan induk. Proses
pemijahan alami pada suhu air berkisar 25-30 derajat celcius , keaseman (pH) 6.57.5, dan ketinggian air 0.6-1m. pemasukan induk ikan ke dalam kolam dilakukan
pada padi dan sore hari karena suhu tidak tinggi, dan untuk menjaga agar induk
tidak stress, induk dimasukkan satu persatu.
Induk jantan akan mulai menggali sarang induk jantan segera memburu
induk betina pelepas telur oleh induk betina, yang dengan cepat dibuahi oleh
induk jantan dengan cara menyemprotkan spermanya. Selesai pemijahan, induk
betina menghisap telur-telur yang telah dibuahi untuk dierami di dalam mulutnya.
Induk jantan akan meninggalkan induk betina, membuat sarang dan kawin lagi.
Anakan yang telah keluar dari mulut induk segera dipanen dan dipisahkan
tersendiri pada bak pemeliharaan larva. Panen benih sudak boleh dilakukan
dengan menggunakan serokan/waring dan ditampung dalam ember/baskom untuk
dipindahkan ke kolam pendederan. Penangkapan sebaiknya dilakukan pada pagi
hari di saat benih biasanya berkumpul di permukaan air. Bila matahari makin
tinggi dan suhu air meningkat biasanya benih akan berada di bagian dasar kolam
mencari tempat yang sejuk. Penangkapan biasanya beberapa kali dan

membutuhkan waktu 2 jam. Masa-masa kritis berkisar 10 hari, karena benih


sangat rentan mengalami kematian, sehingga pemeliharaan harus dilakukan secara
hati-hati.
Kualitas air media pemeliharaan anakan diatur pada suhu 25 30 0C,
keasaman (pH) 6,5 7,5 ketinggian air media 0,6 1 m dalam kolam
pemeliharaan dengan kapasitas luasan berkisar 500 m2. Padat tebar larva berkisar
150 ekor per m2 dengan waktu pemeliharaan 10 hari. Ukuran panen 1 3 cm
dengan bobot 1 gram.
Pemeliharaan benih dilakukan pada suhu 30 32 0C, keasaman (pH) 6,5
7,5 ketinggian air media 20 30 cm dalam wadah pemeliharaan dengan kapasitas
500 m2. Ukuran benih tebar 1 3 cm, bobot 1 gram dengan padat tebar larva 50
75 ekor per m2. Waktu pemeliharaan 20 hari dengan ukuran panen 3 5 cm dan
bobot 2,5 gram.
Pendederan dilakukan pada suhu 30 32 0C, keasaman (pH) 6,5 7,5
ketinggian air media 20 50 cm dalam wadah pemeliharaan dengan kapasitas 500
m2. Ukuran benih tebar 3 5 cm dengan bobot 2,5 gram. Padat tebar larva 50
ekor per m2. Waktu pemeliharaan 30 hari, dengan ukuran panen 5 8 cm dan
bobot 5 gr. Kedalaman perairan kolam untuk pendederan nila di kolam tanah
adalah 50 70 cm. Pakan benih berupa pakan buatan dengan kadar protein
berkisar 30% .
Persiapan kolam pendederan dilakukan dengan jalan mengeringkan kolam,
pengapuran dan pemupukan dengan pupuk kandang ataupun pupuk buatan. Pupuk
kandang diberikan sebagai pupuk dasar dengan dosis 1 kg/m2. Nila sangat
menyukai pakan alami berupa plankton, sehingga tujuan pemupukan susulan agar
plankton dapat bertahan hidup dengan baik. Pupuk yang digunakan harus
mengandung unsur fosfor dan nitrogen maka dianjurkan untuk menggunakan
pupuk DSP (Double Superphosphat) atau TSP (Triple Superphospat) dan urea.
Untuk kolam seluas 200 m2 dosis pupuk yang diperlukan 2 kg DSP atau TSP dan
2 kg urea. Pupuk diberikan setelah kolam terisi air.

Pupuk buatan dimasukkan ke dalam kantong-kantong kecil yang diberi


lubang kecil, kemudian diikatkan pada sebatang bilah bambu dan ditancapkan
pada dasar kolam. Dengan demikian, pupuk tersebut akan menggantung, terendam
air dan akan larut sedikit demi sedikit. Cara pemupukan seperti ini dilakukan
untuk menghindari terikatnya unsur-unsur kimia dari pupuk terutama fosfat oleh
kompleks humus dalam lumpur.
3.2. Pembesaran
3.2.1 Pembesaran Pada kolam Tanah
Usaha pembesaran Nila dapat dilakukan pada dataran rendah sampai agak
tinggi sampai dengan 500 m dari permukaan laut (dpl). Sumber air tersedia
sepanjang tahun dengan kualitas air tidak terlalu keruh dan tidak tercemar bahanbahan kimia beracun, dan minyak/limbah pabrik. Kedalaman air minimal 5 meter
dari dasar jaring pada saat surut terendah, kekuatan arus 20 40 cm/detik.
Persyaratan kualitas air untuk pembesaran ikan nila adalah pH air antara 6,5 8,6,
suhu air berkisar antara 25 30 0C. Oksigen terlarut lebih dari 5 mg/l,kadar garam
air 0 28 ppt, dan Ammoniak (NH3) kurang dari 0,02 ppm.
Persyaratan lokasi pemeliharaan pada kolam atau tambak sebagai berikut :
1. Tanah yang baik untuk kolam pemeliharaan adalah jenis tanah
liat/lembung, tidak berporos. Jenis tanah tersebut dapat menahan massa air
yang besar dan tidak bocor sehingga dapat dibuat pematang/dinding
kolam;
2. Kemiringan tanah yang baik untuk pembuatan kolam berkisar antara 3
5% untuk memudahkan pengairan kolam secara gravitasi;
3. Kualitas air untuk pemeliharaan Ikan Nila harus bersih, tidak terlalu keruh
dan tidak tercemar bahan-bahan kimia beracun, dan minyak/limbah pabrik.
Air yang kaya plankton dapat berwarna hijau kekuningan dan hijau
kecokelatan karena banyak mengandung Diatomae. Tingkat kecerahan air
dapat diukur dengan alat yang disebut piring secchi (secchi disc). Pada
kolam dan tambak, angka kecerahan yang baik antara 20 30 cm;

4. Debit air untuk kolam air tenang 8 15 liter/detik;


Setidaknya, dua minggu sebelum dipergunakan kolam harus dipersiapkan dengan
baik. Dasar kolam dikeringkan, dijemur beberapa hari, dibersihkan dari
rerumputan, dicangkul dan diratakan. Tanggul dan pintu air diperbaiki jangan
sampai terjadi kebocoran, saluran air diperbaiki agar pasokan air menjadi lancar.
Saringan dipasang pada pintu pemasukan maupun pengeluaran air. Tanah dasar
dikapur untuk memperbaiki pH tanah dan memberantas hama. Untuk itu, dapat
digunakan kapur tohor sebanyak 100 300 kg/ha atau kapur pertanian dengan
dosis 500 1.000 kg/ha. Setelah itu, pupuk kandang ditabur dan diaduk dengan
tanah dasar kolam, dengan dosis 1 2 ton/ha. Dapat juga pupuk kandang
dionggokkan di depan pintu air pemasukan, agar bila air dimasukkan, maka dapat
tersebar secara merata. Setelah semuanya siap, kolam diairi. Mula-mula sedalam 5
10 cm dan dibiarkan 2 3 hari agar terjadi mineralisasi tanah dasar kolam. Lalu
tambahkan air lagi sampai kedalaman 75 100 cm. Kolam siap untuk ditebari
bibit ikan hasil pendederan jika fitoplankton telah terlihat tumbuh dengan baik.
Fitoplankton yang tumbuh dengan baik ditandai dengan perubahan warna
air kolam menjadi kuning kehijauan. Jika diperhatikan, pada dasar kolam juga
mulai banyak terdapat organisme renik yang berupa kutu air, jentik-jentik
serangga, cacing, anak-anak siput dan sebagainya. Selama pemeliharaan ikan,
ketinggian air kolam diatur sedalam 75 100 cm. Pemupukan susulan harus
dilakukan 2 minggu sekali, yaitu pada saat makanan alami sudah mulai habis.
Pupuk susulan menggunakan pupuk organik sebanyak 500 kg/ha. Pupuk
itu dibagi menjadi empat dan masing-masing dimasukkan ke dalam karung, dua
buah di kiri dan dua buah di sisi kanan aliran air masuk. Dapat pula ditambahkan
bebrapa karung kecil yang diletakkan di sudut-sudut kolam. Urea dan TSP
masing-masing sebanyak 30 kg/ha diletakkan di dalam kantong plastik yang
diberi lubang-lubang kecil agar pupuk dapat larut sedikit demi sedikit. Kantong
pupuk tersebut digantungkan sebatang bambu yang dipancangkan di dasar kolam,
posisi terendam tetapi tidak sampai ke dasar kolam.

Pada sistem pemeliharaan intensif atau teknologi maju, pemeliharaan


dapat dilakukan di kolam atau tambak air payau dan pengairan yang baik.
Pergantian air dapat dilakukan sesring mungkin sesuai dengan tingkat kepadatan
ikan. Volume air yang diganti setiap hari sebanyak 20% atau bahkan lebih. Pada
usaha intensif, benih Nila yang dipelihara harus tunggal kelamin, dan jantan saja.
Pakan yang diberikan juga harus bermutu, dengan ransum hariannya 30% dan
berat biomassa ikan per hari. Makanan sebaiknya berrupa pelet yang berkadar
protein berkisar 30%, dengan kadar lemak 6 8%. Pemberian pakan sebaiknya
dilakukan oleh teknisnya sendiri dapat diamati nafsu makan ikan-ikan itu. Pakan
yang diberikan kiranya dapat habis dalam waktu 5 menit. Jika pakan tidak habis
dalam waktu 5 menit berarti ikan mendapat gangguan, seperti serangan penyakit,
perubahan kualitas air, udara panas, terlalu sering diberikan pakan.
3.2.2 Pembesaran Pada Karamba Jaring Apung (KJA)
Wadah untuk pembesaran di Karamba Jaring Apung (KJA) umumnya
berukuran 4x4x3 m3. Spesifikasi KJA sebagai berikut :
1. Pelampung: bahan styrofoam atau drum, bentuk silindris, jumlah
pelampung minimal 8 buah/jaring;
2. Tali jangkar: bahan polyetiline (PE), panjang 1,5 kali kedalaman perairan,
jumlah 5 utas/jaring, diameter 0.75 inci;
3. Jangkar: bahan besi/blok beton/batu, bentuk segi empat, berat minimal 40
kg/buah, jumlah 5 buah/jaring;
4. Jaring: bahan polyetiline (PE 210 D/12), ukuran mata jaring 1 inci, warna
hijau, ukuran jaring (7x7x2,5 m3).
5. Luas peruntukan areal pemasangan jaring maksimal 10% dari luas potensi
perairan atau 1% dari luas perairan waktu surut terendah dan jumlah luas
jaring maksimal 10% dari luas areal peruntukan pemasangan jaring.

Sebagai upaya sterilisasi, sebelum ditebar, benih direndam dalam larutan


Kalium Pemanganat konsentrasi 4 5 ppm selama kurang lebih 15 30 menit.
Adaptasi suhu dilakukan agar suhu dilakukan agar suhu pada kemasan ikan sama
suhu di KJA dengan cara merendam wadah kemasan benih ke KJA selama 1 (satu)
jam. Penebaran benih sebaiknya dilakukan pada pagi hari agar ikan tidak
mengalami stres atau kematian akibat perbedaan suhu tersebut. Benih yang ditebar
berukuran 5 8 cm, berat 30 50 gram dengan padat tebar 50 70 ekor/m3.
Pakan digunakan untuk pembesaran ikan nila adalah lambit, pembersih jaring,
pengukur kualitas air (termometer, sechsi disk, kertas lakmus), peralatan lapangan
(timbangan, hapa, waring, ember, alat panen, dll), dan sampan.
Lama

pemeliharaan

adalah

bulan

dengan

tingkat

kelangsungan

hidup/Survival Rate 9SR0 80%. Pakan yang diberikan berupa pelet apung dengan
dosis 3 4% dari bobot total ikan. Frekuensi pemberiannya, 3 kali sehari pada
pagi, siang dan sore dengan rasio konversi pakan (FCR) 1,3. Panen dapat
dilakukan berdasarkan permintaan pasar, namun umumnya ukuran panen pada
kisaran 500 gram/ekor.
Panen dilakukan pada pagi atau sore hari untuk mengurangi resiko kematian
ikan. Penanganan panen dilakukan dengan cara penanganan ikan hidup maupun
ikan segar. Hal yang perlu diperhatikan agar ikan tersebut sampai ke konsumen
dalam keadaan hidup dan segar antara lain: (1) pengangkutan menggunakan air
yang bersuhu rendah sekitar 20 0C; (2) waktu pengangkutan hendaknya pada pagi
hari atau sore hari: (3) jumlah kepadatan ikan dalam alat pengangkutan tidak
terlalu padat.
4. Pemijahan Ikan Mas
Dalam tahapan budidaya ikan Mas terdapat tahapan pemijahan ikan, di
berbagai daerah teknik pemijahan ikan Mas berbeda-beda, baik bentuk, ukuran
kolam maupun caranya.
MEMIJAHKAN IKAN MAS

Memilih induk yang baik merupakan salah satu cara meningkatkan


produksi benih, oleh karena itu pemeliharaan calon induk atau induk yang
dijodohkan harus dilakukan dengan baik dan benar. Kesalahan dalam pemilihan
induk dapat menghasilkan keturunan yang jelek dan anak yang diperolehpun
jumlahnya sedikit. Oleh karena itu itu setiap kali akan mengawinkan, ikan Mas
induk harus diseleksi. Seleksi terhadap calon induk ikan mas meliputi 5 (lima )
hal, yaitu: (Budi.S. 1992)
Umur, sebagai patokan umur induk yang pantas untuk dikawinkan berkisar
antara1,5 -2 tahun yang betina, sedangkan untuk yang jantan berumur matang
kelaminnya relatif lebih muda yaitu sekitar 8 bulan, dengan 0,5 kg/ekor, untuk
yang betina beratnya mencapai 2kg/ekor.
Bentuk badan, dari ujung mulut sampai ujung sirip ekor harus mulus,
sehat, badan dan siip-siripnya tidak cacat,jika salah satu bagian badan cacat
sebaiknya dihindarkan karena dapat menurun pada anak-anaknya. Selain itu garis
sisik kedua sisi tubuh posisinya sama tidak ada lekukan atau patahan.
Kepala, bagran kepala induk ikan mas relatif lebih kecil dari pada bagian
badannya. Tutup insang normal, tidak terlalu tebal hingga berkesan mengembang.
Panjang kepala minimal sepertiga dari panjang badan, jika bagian tutup insang
dibuka tidak terdapat bercak putih,
Sisik, sisik induk yang baik tersusun secara teratur dan ukurannya relatif
besar, sisik yang terlihat kusam atau tidak cerah menandakan ia kurang baik atau
terlalu tua. '
Pangkal ekor, yang baik harus normal dan kuat, tidak memendek atau
melengkung. Perbandingan panjang pangkal ekor dengan lebar atau tingginya
harus lebih panjang.
PERSIAPAN KOLAM PEMIJAFIAN
Kolam untuk induk ikan Mas yang akan dipijahkan perlu dipersiapkan
dengan baik sesuai dengan sifat-sifat ikan mas itu sendiri. Agar kolam sesuai dan

disukai untuk kehidupan ikan Mas perlu dilakukan langkah-langkah sebagai


berikut:
Persiapan kolam, pematang yang rusak atau bocor perlu diperbaiki, sarana
pengairan seperti saluran pemasukan dan pengeluaran air, saringan, papan
penyekat, pipa pralon diperbaiki supaya berfungsi secara normal sehingga air
dapat terkendali sesuai dengan kebutuhan.
Pengeringan dasar kolan, pengeringan harus dilakukan karena selain
bertujuan menguapkan gas-gas beracun hasil pembusukan yang mungkin terdapat
di kolam, juga untuk memberantas hama penyakit maupun telur-telur ikan buas
yang nantinya bias mengganggu pemijahan ikan Mas. Selama pengeringan perlu
diberi kapur secara merata, pemberian kapur ini bermanfaat menaikkan pH tanah
juga baik untuk memberantas bibit- bibit penyakit yang mungkin masih ada di
kolam dengan dosis 60 gram/ meter persegi.
MEMASANG KAKABAN
Setelah kolam siap, langkah selanjutnya adalah memasang kakaban
(terbuat dari ijuk sebagai penempel telur), pemasangan kakaban dilakukan pada
bagian tengah kolam, semua kakaban diletakkan pada sebatang bambu bulat
dengan diikat pada patok atautiang bambu yang ditancapkan kuat-kuat sampai
menembus dasar kolam. Jumlah kakaban yang dipasang harus sesuai kebutuhan,
apa bila kakaban kurang berakibat banyak telur yang mengumpul/menggerombol
WAKTU PELEPASAN INDUK
Waktu yang tepat untuk memasukkan induk-induk hasil seleksi ke kolam
pemijahan adalah antarajam 09.00 atau 10.00. Pelepasan induk pada pagi hari
akan lebih cepat terangsang sehingga lebih cepat melakukan pemijahan.
Perbandingan antara induk jantan dan betina adalah dengan perbandingan berat I :
1, artinya jika indukjantan seberat 4 kg, maka yang betinajuga 4 kg.
Jika lancar, pemijahan biasanya tedadi antara jam n.A0 sampai menjelang
subuh. Saat mengadakan pemijahan biasanya dengan kejar-kejaran dianta induk,
ikan mas biasanya melakukan pada malam hari, ada kalanya ikan mas betina

meloncat-loncat karena dipepet terus oleh yang jantan. Induk betina yang sudah
waktunya memijah akan mengeluarkan telur-telurnya dan selang beberapa saat
langsung dibuahi oleh cairan sperma yang keluar dari alat kelamin induk jantan,
selama proses pemijahan air harus tetap mengalir agar kandungan oksigen terlarut
cukup tersedia.

PENUTUP
Penyediaan benih yang bermutu baik dalam jumlah yang cukup dan
kontinu merupakan faktor penting dalam upaya pengembangan budidaya ikan
mas, untuk menghasilkan benih yang bermutu dan kontinu maka perlu dipahami
dan dikuasai mengenai teknikpemijahan ikan mas dengan baik.

Daftar Pustaka
Amri dan Khairuman. 2002. Budi Daya Ikan Nila Secara Intensif. Jakarta:
Agromedia Pustaka.
Ardiwinata, R.O. 1981. Pemeliharaan Ikan Mas. Bandung: Sumur Bandung
Budi. S. 1992. Budidaya lkan Mas . Kanisisus: Yogyakarta
Dinas Kelautan dan Perikanan Daerah. 1998. Petunjuk Teknis Pembenihan dan
Pembesaran Ikan Nila. Sulawesi Tengah: Dinas Provinsi
Mahyuddin, K. 2008. Panduan Lengkap Agribisnis Lele.. Jakarta: Penebar
Swadaya
Moch. Ichsan Effendie. 1997. Biologi Perikanan. Yogyakarta: Yayasan Pustaka
Nusatama
NRC. 1993. Aquaculture Tilapia Management. Proceedings word congress of food
science and technology. 25-28. Oreochromis sp. World Aquaculture Society,
1:hal 61-70
Pinus. L. 1985. Ikan mas kolam Air Deras. Penebar Swadaya Anggota IKAPI
Depok
Rukmana. 1997. Ikan Nila Budi daya dan Prospek Agribisnis. Yogyakarta:
Kanisius.
Soeseno, Slamet. 1977. Dasar-Dasar Perikanan Umum.Jakarta: CV.Yasaguna
Sukiya. 2005. Biologi Vertebrata. Malang: Universitas Negeri Malang.
Sumantadinata, K. 1999. Program Penelitian Genetika Ikan. Jakarta: INFIGRAD.
Suyanto. 1993. Nila. Jakarta: Penebar Swadaya.
Yushinta Fujaya. 2004. Fisiologi Ikan Dasar Pengembangan Teknologi
Perikanan. Jakarta: Rineka Cipta.