Anda di halaman 1dari 15

Argumentasi Teologis Menderita sebagai Orang Kristen

BAB II
PANDANGAN-PANDANGAN TENTANG PENDERITAAN
Kehausan manusia akan firman Tuhan pada akihr-akhir ini dibingungkan dengan
berbagai tafsiran-tafsiran yang tidak tepat, yang mana hal ini menimbulkan
suatu probelematika yang tidak pernah kunjung selesai, salah satu faktor
utamanya adalah dengan munculnya berbagai interpretasi teologi yang hanya
menjanjikan berkat, hidup berkelimpahan, kaya raya dan sebagainya, bahwa
hidup di dalam Tuhan tidak pernah kekurangan suatu apapun dan menderita
sebab kita adalah anak Raja.
hal ini dengan dibuktikan semakin banyaknya membangun gereja serta fasilitas
yang sangat memadai tanpa memperhatikan aspek kondisi sosial jemaat yang
ada. Ajaran yang demikian memang manarik tetapi, tidak serta merta
menjadikan suatu patokan yang sangat paten bahwa hidup berkelimpahan, kaya,
raya, menjadi satu kriteria yang lebih utama sebagai preferensi melihat realita
hidup menjadi aman yang dianggap sebagai tanda hidup yang diberkati. [1]
Tawaran ini cukup menggiurkan di mana mengajak orang untuk
menyembah Tuhan dan tetap mencintai Mamon (harta, kekayaan) yang lebih
kepada kebutuhan jasmani yang bersifat sementara yang tidak berdampak pada
kekekalan. [2] Inilah yang merupakan suatu bentuk pandangan hidup yang
mendua dalam arti motifasi menyembah Allah supaya menjadi melimpah dalam
hidup bahkan dalam sekte tertentu ini sudah terpopuler pada masa kini dan
memang ajaran ini sangat menjanjikan sebagai tanda hidup yang diberkati
sehingga kemiskinan dan penderitaan bila terjadi dalam hidup orang percaya
akan sulit untuk diterima suatu apapun dianggap imannya terlalu kecil dan tidak
diberkati.
Fenomena dan kejadian ini mengambil sebagian refensi dalam
perjanjian Lama sebagai contoh Abraham sebagai bapak orang percaya di
samping juga melimpah akan tetapi juga taat terhadap Allahnya sehingga hal ini
diadopsi sebagai suatu kebenaran yang holistik utuh untuk melakukan suatu
perbandingan bagi hidup didunia saat ini sehingga terpaan hidup dianggap sama
sekali tidak cocok dengan konsep kekristenan khususnya bagi orang yang ada di
dalam Kristus Yesus sebagai anak Raja.[3]
Oleh sebab itu melihat berbagai interpretasi dari konsep di atas
penulis mengajak orang percaya untuk berbalik memahami apa sesungguhnya
kata Firman Tuhan, apakah Tuhan sudah menjanjikan berkat tanpa menerima
suatu penderitaan.

Ayub, Amos dengan penyakit sampar yang menimpanya, Daud, Musa


dan Paulus merupakan tokoh yang paling sentral dalam Alkitab yang menjadi
musafir yang luar biasa dipakai Allah dalam Alkitab mereka ini di dapati tetap
setia dan saleh akan tetapi hidup mereka sangat tragis, dikhianati, ditolak oleh
bangsanya, hidup dalam penderitaan dan tertindas [4] tetapi mereka tetap setia
mengalami itu dalam pelayanan mereka karena kasih dan keadilan Allah bahwa
hal mengikut Kristus harus rela membayar harga baik secara jasmani dan
maupun secara rohani, dan rela meninggalkan apa yang menjadi kesenangan
dunia tanpa mempermasalah di mana kasih dan keadilan Tuhan dalam hidupnya
bandingkan Amsal 16:9 hati manusia memikir-mikirkan jalannya, tetapi
Tuhanlah yang menentukan arah langkahnya.
Jadi segala kejadian yang terjadi terpaan hidup ini menunjukkan bahwa
Allah mempunyai hubungan dengan penciptanya dengan kata lain Allah berhak
atas ciptaanNya.
Pandangan Tentang Penderitaan
Pandangan yang menyoroti tentang penderitaan yang dimaksud penulis
adalah ajaran yang tidak menerima dan menganggap bahwa penderitaan sama
sekali tidak cocok dalam konsep kekristenan sebab penderitaan bukan bagian
ciri kekristenan yang memiliki kasih Allah bagi umatnya jadi orang Kristen
melimpah baik secara jasmani dan rohani hal inilah probelem yang paling sangat
krusial dari konsep kekristenan, jadi untuk melihat lebih jelas pandangan
tersebut akan dipaparkan penulis sebagai berikut:

Pandangan Teologi Sukses

Teologi sukses/Gospel of Success muncul sejak pada abad ke-20 yang salah satu
pelopor berdirinya ajaran ini adalah seperti Norman Vincent Peale, Robert
Schuller, Paul Yonggi Cho dan Kenneth Hagin yang banyak memberi inspirasi
dalam mendorong berkembangnya ajaran baru ini, baik itu dalam bentuk karya
tulis mereka maupun juga dalam bentuk pelayanan yang mereka berikan kepada
para penggemarnya.
Teologi sukses sering juga dikenal dengan sebutan Injil-injil Kemakmuran
(Prosperity), kelimpahan berkat/Gospel of Blessing atau Teologi anak Raja.
Gejala-gejala yang kelihatan secara praktis dari ajaran ini dapat dilihat dari
bentuk kehidupan para penginjil yang mempopulerkan diri dengan segala
bentuk kemewahan duniawi yang ada seperti, bermobil mewah, punya
perumahan yang mewah dan sebagainya dan tidak tanggung-tanggung
memasang tarif dan fasilitas yang cukup tinggi apabila menerima undangan
dalam pelayanan.

Seterusnya buah lain yang kelihatan dalam gerakan ini kecenderungan untuk
berlomba-lomba menonjolkan kesaksian menerima berkat , sukses dagang, atau
kesembuhan setelah memberi persembahan perpuluhan di depan jemaat.
Hampir tidak ada orang Kristen yang tidak dipengaruhi oleh Teologi ini, bahkan
yang menolak teologi ini sebenarnya seringkali tanpa sadar atau secara sadar
sebenarnya mempraktekkan dan mengakui teologi ini. Tapi teologi ini harus
menolaknya, karena merasa teologi ini bertentangan dengan doktrin dan
pengajaran di Gereja alirannya.
Salah satu pendukung yang digunakan oleh teologi sukses melawan penderitaan
dan mengaharuskan jemaat Tuhan hidup kaya dan berkelimpahan dan ini boleh
dikatakan bahwa semboyan utama background atau warna dari teologi ini yang
mengharuskan manuisa bebas dari segala penderitaan dalam berbagai dimensi
kehidupan, beberapa ayat-ayat favorit digunakan dengan tafsiran harafiahnya
antara lain:
Pertama, Yoh.10:10b, ayat ini diartikan sebagai petunjuk bahwa umat Kristen
berhak menjadi kaya, hidup dalam segala kelimpahan materi dan duniawi yang
berarti banyak uang, hidup berkelebihan dan hidup dengan segala kenikmatan.
Jadi jelas ayat ini sudah didiskriminasikan terhadap makna yang sebenarnya
sebab melihat konteks tersebut tidak ada petunjuk yang membuktikan bahwa
domba-domba memiliki emas, dan juga mutiara yang berharga. [5]
Tapi dengan jelas Firman Tuhan menyebut ayat itu berbicara kelimpahan artinya
pemeliharaan hidup oleh Gembala yang digambarkan dengan masuk pintu
( Tuhan) dan memperoleh rumput sebagai karunia keselamatan menuju hidup
yang kekal.[6]
Kedua, 2 Korintus 8:9 di sini juga ada kesalahan penafsiran, yang dimaksud
Paulus disini sebagai kelimpahan adalah kaya materi, tapi kaya dalam berbuah
( pelayanan kasih). Ia mencontohkan jemaat Makedonia, yang sekalipun
menderita, dan miskin harta namun mereka kaya dalam kemurahan.
Untuk itu melihat dari pernyataan di atas jelas bahwa teologi sukses tidak
diterima karena mereka hanya berorientasi pada materi yang tidak memiki nilai
pada kekekalan. Dan menunjukkan bahwa teologi ini adalah bukan teologi yang
di gali secara eksegese, melainkan ajaran lain yang secara sinkretis dimasukkan
kedalam kekristenan dengan memanipulasi ayat-ayat Alkitab yang ditafsir
secara keliru.
Kata Makmur/sukses sebenarnya dalam bahasa Inggris mempunyai suatu arti
umum semakin kaya. Tetapi bila dilihat dari pengertian itu sangat berbeda
dengan pengertian dalam perjanjian baru (bahasa Yunani) artinya, kata makmur
yang diterjemahkan dari King James Version berasal dari bahasa Yunani, Euodoo,
yang terdiri dari dua akar kata, eu, artinya baik, dan hodos, artinya jalan,
atau arah, kemajuan, atau perjalanan, bisa diartikan dituntut di jalan yang baik.
[7]

Jadi kata eudoo hanya digunakan dua kali dalam perjanjian Baru, dan sama
sekali tidak berhubungan dengan banyaknya uang, kekayaan atau keuntungan
materi. Memang secara akurat kata ini dapat diterjemahkan menjadi makmur
dalam 1 Korintus 16:2, di mana Rasul Paulus mendorong Jemaat dalam
mempersiapkan persembahan bagi orang-oarang kudus yang menderita di
Yerusalem. Menyarankan mereka menyisihkan sebagian penghasilan mereka tiap
minggu supaya mereka tidak mengumpulkan uang ketika ia datang ke Korintus.
Pemujaan mamon yang merupakan inti ajaran teologi sukses, sudah jelas
bertentangan dengan berita Injil, yang justru menasihatkan agar tidak mencintai
mamon melainkan setialah kepada-Nya. Jadi sebagai murid Kristus harus
menentukan sikapnya terhadap kecenderungan duniawi yang materialis dan
konsumerisme ini yang di masukkan kedalam ibadat Kristen.
Pandangan Teologi Pembebasan
Dalam dekade terakhir ini banyak orang membicarakan tentang iman Kristen
yang seringkali ada hubungannya dengan teologi kebebasan yang sebenarnya
Teologi kebebasan muncul pertama kali di dunia barat seperti Amerika serikat,
Amerika selatan dan Amerika Latin tetapi juga dikenal di Asia dan Afrika. [8]
Teologi pembebasan muncul di mana-mana yang dipelopori juga oleh Gustavo
Gutierrez, yang lahir di Peru pada tahun 1928 seorang keturunan Indian Amerika
Latin yang merupakan pelopor dan pencentus dasar pemikiran teologi ini dan
beliau lahir dari keluarga yang relatif miskin sekali dan berkat kegigihannya pada
1959 menyelesaikan gelar Ph.Dnya dalam bidang teologi dari Universitas Lyon,
Perancis dan kemudian ditahbiskan jadi Imam dan Pendeta National Uniaon Of
Catolic Student di Peru yang mengawali hidupnya dalam melayani jemaat-jemaat
yang miskin di peru dan juga di berbagai Universitas Katolik di daerah
tersebut[9]
Latar belakang Teologi Pembebasan
Teologi ini, muncul setelah ketika Gutierrez berhadapan kembali dengan realita
kemiskinan dan penderitaan yang dialaminya sehingga ia merasa teologi yang ia
pelajari kurang cocok untuk kondisi dimasyarakat yang ia layani. Karena itu ia
berusaha mencari teologi yang relevan di tengah-tengah situasi yang
sedemikian.
Dengan alasan bahwa Sikap dan tindakan sosial politik dalam tindakan Gereja
Katolik sebagai gereja yang memiliki kekuasaan yang sangat besar di banyak
negara tidak bersifat netral dalam ketelibatannya dalam kancah politik yang ada.
Karena sangat mengecewakan, lebih kepada sisi penindasan sehingga berawal
dari sinilah teologi yang ditemukan Gutierrez dianggap paling dapat menjawab
sebagai solusi dari tantangan yang dihadapi masyrakat pada waktu itu.
Pengertian Teologi Pembebasan
Teologi Pembebasan adalah suatu pemikiran teologis yang merupakan suatu
pendekatan baru yang radikal terhadap tugas teologi yang bertitik tolak

mengacu pada pengalaman kaum miskin dan perjuangan mereka untuk


kebebasan, di mana Allah juga hadir di dalamnya.[10]
Jadi Teologi menurut Guttireazz bukanlah suatu teori yang trasenden yang tanpa
praktis tetapi adalah suatu refleksi kritikal di mana teologi dapat [11] menjawab
tantangan zaman dengan segala permasalahan sosialnya. Teologi Kristen bukan
hanya mencari otensitas dasar iman Kristiani, tetapi haruslah memiliki praktis
sebagai wujud konkret penghayatan iman.[12]
Dari penjelasan diatas teologi pembebasan dapat dirumuskan secara singkat
sebagai upaya-upaya untuk merealisasikan pengajaran Alkitab mengenai
pembebasan ke dalam praktis yang tentunya hal ini berlaku ditengah-tengah
kondisi dan situasi kemiskinan dan penderitaan rakyat.
Konsep teologi pembebasan sebenarnya tidak langsung muncul dalam waktu
seketika dan pergerakannya tidak juga terjadi begitu saja tetapi penyebab yang
menjadi akarnya pertama munculya pada abad -16 seorang uskup berdarah
Spayol, Bartolomerus de Las Casas mengadakan perjuangan untuk membela
rakyat yang menjadi korban penindasan orang Spayol.
Pembelaannya yang begitu gigih memperjuangkan hak-hak orang miskin
sehingga pelopor Teologi pembebasan ini, belakangan memandang dia sebagai
Musa yang memiliki pengaruh yang sangat dalam sekali sehingga, bagi Gutierezz
perjuangan itu sangat mewarnai pandangan-pandangan teologisnya.[13]
Kedua, munculnya peristiwa-peristiwa dan gerakan religius secra sekular pada
pertengahan abad ke-20 seperti teologi politik di Eropa dan sangat radikal sekali
sehingga Gutierezz mengharapkan peran politik praksis sebagai refleksi teologis.
Atas peristiwa itu Gutireazz mengartikan Praksis sebagai sebagai segi-segi
eksistensial dan aktif dari kehidupan Kristen.[14]
Pandangan ini juga diadopsi Marxisme yang tidak hanya merupakan suatu
label yang memiliki signifikansi tetapi lebih merupakan suatu alat hermeneutik
praksis bahwa kebenaran ada didalam tindakan.[15]
Guttireazz dan Marxisme memiliki pandangan yang sama bahwa perlunya
refleksi kritikal (menganalisa suatu daerah seperti dalam peristiwa yang terjadi
di daerah Amerika berdasarkan pendekatan, rasio, dan ilmu pengetahuan
manusia) inilah yang disebut dengan penafsiran yang sosiologis yang
memasyarakatkan yang dikenal dengan teologi kontekstual jadi pendekatan
pengetahuan yang lebih diandalakan untuk memahami sesuatu yang terajdi.
jadi yang perlu dianalisis terhadap salah satu doktrin teologi ini adalah
Pertama sebagai refleksi kritis dalam komunitas mengarapkan teologi haruslah
keluar dari kehidupan iman, yang berusaha menjadi otentik dan sempurna,
ketika ia memihak kepada orang miskin dan melibatkan diri kepada perjuangan
untuk membebasakan orang dalam penderitaan atas kondisi-kondisi ekonomi,
sosial, dan budaya yang ada itulah peran utama dari teologi tersebut. [16]

Kedua Teologi tidak terpisah dari konteks sosial dan kultur atau budaya, dimana
teologi itu berlangsung, atau situasi hidup dari masyarakat yang menjadi objek
teologi itu sendiri. Dengan kata lain teologi harus kontekstual yaitu terjadi dan
berlaku pada tempat dan waktu yang khusus dan tertentu dan tidak secara
universal yang dijadikan sebagai patokan secara umum. [17]
Ketiga, adalah teologi pembebasan adalah menekankan belas kasihan sebagai
pusat dari kekristenan,
Keempat ,perlunya spritualitas kekristenan yang semakin membaik yang
mensistenkan antara perenungan dan tindakan.
Kelima, manusia sebagai pendukung di dalam perubahan sejarah dan penemuan
ulang dimensi eskatologis didalam teologi, yang memberikan peran utama
kepada praksis historis, Keenam mengutuk kekayaan harta pribadi, dan
mendukung pemberontakan pada kaum miskin.
Ketujuh Manusia baru menjadi juruselamat bagi dirinya sendiri, dan menebus
dirinya sendiri, mengubah arti pertobatan dimana pertobatan ada dalam bentuk
pembebasan terhadap orang miskin dan yang tertindas, menjadikan Yesus
sebagai subversi, dan teologi ini juga tidak mengakui adanya kejatuhan dan
menyangkal kematian akibat kejatuhan.
Kedelapan menyimpangkan makna kasih dimana, kasih baru berarti apabila ikut
dalam perlawanan terhadap penindas, dan teologi adalah hasil dari reflesi atas
praksis yang diwujudkan dalam pengajaran.
Kesembilan yang paling menarik adalah mereka menekankan Keselamatan yang
universal( Yoh. 3:16;14:6)[18], bahwa seluruh dunia ada dalam kasih karunia
Allah baik yang menolaknya maupun yang menerimanya dan tanpa terkecuali
diberikan kepada orang miskin karena, manusia semua bait Allah yang akhirnya
manusia bisa bertemu dengan Allah melalui perjuangan pembebasan orang
miskin dan yang tertindas jadi semuanya dipanggil untuk bersekutu dengan
Tuhan.[19]
Kesepuluh, dalam perspektif teologi pembebasan gereja tidak menyelamatkan
dalam pengertian menjanjikan sorga karya keselamatan adalah realita yang
terjadi dalam sejarah karena itu keselamatan itu dapat terwujud ketika terjadi
solidaritas dengan orang miskin didalam perjuangan mereka, mengerti
penyebabnya dan berusaha melepasakan mereka dari penindasan tersebut.
Dengan melihat berbagai pernyataan diatas yang didasarkan atas hermeneutik
teologi pembebasan dapat disimpulkan bahwa teologi pembebasan sangat
bertentangan dengan Firman Tuhan yang berpura-pura menolong manusia
karena lebih mengutamakan kepentingan manusia melalui saran rasio dan ilmu
pengetahuan dalam keadan tertentu dan secara tidak langsung mendorong
Gereja ikut dalam kancah politik.
Dengan pemikiran Teologi ini tidak bisa diterima karena dalam hermeneutiknya
tidak mengakui Tuhan sebagai Pengaharapan sejati yang satu-satunya, dan

sepakat dengan konsep Arminian bahwa keselamatan berlaku bagi semua orang
tanpa terkecuali dan juga tidak menempatkan Yesus Kristus menurut kebenaran
sebagai penebus dan Juruselamat.
Hal itu melainkan memalsukan Dia sebagai Revoluisoner, akibatnya rakyat
miskin tidak diberi pengharapan yang sejati melalui injil atau kabar baik yang
menjadi inti utama dari Iman Kristen karena, dalam teologi pembebasan titik
tolaknya adalah rakyat miskin sedangkan dalam teologi Alkitab, titik tolaknya
adalah selalu Allah dan ini berlaku juga dalam memahami Firman Allah yang
sebenarnya.
Dan yang terpenting adalah tujuan teologi pembebasan adalah mereka
mewujudakan kerajaan di bumi sebagai firdausnya sebagaimana konsep Israel
termasuk para murid Yesus untuk mengalahkan musuh-musuhnya dan
menganggap kebenaran yang sejati hanya ada melalui tindakan.[20]

Pandangan Teologi Kenikmatan


Berbicara tentang teologi ini dari seluruh pandangan sumbang yang ada, teologi
kenikmatan sedikit dipandang agak lebih rohani karena aplikasinya bagi orang
percaya serta dasar-dasar hermeneutiknya sangat jelas. Sebelum masuk kepada
teologi ini ada beberapa pertanyaan penting yang perlu dianalisa misalnya
berdosakah manusia ketika mengejar kenikmatan dan kebahagiaan,? di manakah
letak keberdosaanya sebenarnya apakah dengan motifasi yang berbeda untuk
menikmati sehingga manusia merasa berdosa? dan apakah kenikmatan
berakibat buruk bagi kehidupan orang percaya?.
Untuk menjawab berbagai pertanyaan di atas perlu ketelitian sehingga tidak
menciptakan dan mengaburkan apa sesungguhnya yang diharapakan Alkitab
pada konteks itu jadi melalui ini, dijelasakan apa defenisi kenikmatan dan
bagaimana makna kenikmatan dari sudut pandang Alkitab.
Salah satu dasar Alkitab dari hermeneutik teologi kenikmatan adalah kitab (Kej.
tentang Adam dan Hawa Jatuh ke dalam dosa di taman Eden) dan terus menjadi
pola bagi manusia untuk terus berdosa dalam kenikmatannya, jadi di sinilah
letak kesalahan manusia ketika memandang kenikmatan yang diberikan oleh
Allah bukan kenikmatan yang suci dan kudus, karena manusia lebih puas untuk
menetukan kenikmatan bagi dirinya sendiri.
Kata kenikmatan adalah(enjoyment) lebih dekat dengan satu kata di dalam
bahasa Yunani, eudaimon, yang artinya bahagia.
Webster sendiri menjelaskan kenikmatan adalah pikiran yang puas; sensasi
atau emosi yang serasi; perasaan yang dihasilkan oleh sukacita atau
pengaharapan akan kebaikan. Jadi, kenikmatan adalah kondisi ideal yang
diharapkan manusia, yang kondisi itu manusia berbahagia dan bisa menikmati
hidupnya.[21]

Jadi kenikmatan dalam teologi ini, di bagi dalam dua pertama kenikmatan yang
berdosa dan kenikmatan yang suci kenikmatan yang berdosa adalah kenikmatan
yang bertentangan dengan penyangkalan diri, kenikmatan ini adalah kenikmatan
yang dimiliki oleh orang-orang yang tidak percaya dimana iblis yang menjadi
sumber kenikmatan itu.
Sementara kenikmatan yang sejati adalah kenikmatan yang dimiliki
tanpa membuang penyangkalan diri melainkan di dalam penyangkalan diri,
Kenikmatan ini adalah bersumber dari Allah dan tujuan paling akhirnya adalah
Allah.
Oleh sebab itu menanggapi pernyataan di atas bahwa pemahaman akan
kenikmatan adalah merupakan berkat dan anugerah Tuhan, tetapi orang yang
menerima kenikmatan tentunya kalau menerima kesulitan dalam hidupnya itu
juga bagian dari hidupnya karena penyangkalan dirilah yang terpenting dalam
keimanan Kristen.
Sebab bukan penderitaan yang membuat seseorang puas, bersukacita, dan
menikmati tetapi melainkan ketika orang percaya mengakui dan menganggap,
mereka layak menderita bagi Kristus, di beri kesempatan dan anugerah
melakukan kehendak Tuhan, karena kepuasan adalah melakukan kehendak
Tuhan itulah yang membuat manusia bersukacita dan berpengharapan.[22]
Oleh sebab itu teologi kenikmatan dihubungakan dengan penderitaan tidak
bertentangan dengan alasan bahwa orang yang berada di dalam Tuhan juga
harus menikmati. Teologi ini sungguh realistis sekali karena sejak penciptaan
Tuhan sudah menciptakan kenikmatan, selain kebebasan dari dosa dan
penderitaan Tuhan sediakan semua kenikmatan bagi manusia.
Teologi kenikmatan tidak membuang teologi penderitaan dalam kesementaraan,
menyadari bahwa penderitaan memiliki nilai keabadian karena Tuhan tidak
menciptakan manusia menderita selama-lamanya, justru Tuhan sedang
mempersiapkan manuisa untuk kenikmatan itu sampai selama-lamanya
walaupun manusia tidak pernah menyadari bahwa penderitaan itu di ijinkan
sebagai suatu alat proses dari Tuhan.
Menikmati dalam Tuhan bisa menuju kepada pengalaman pribadi kepada Tuhan
lewat penderitaan, kesulitan dan terpaaan hidup karena ada saatnya menderita
dan ada juga saatnya menikmati jadi, keduanya tidak bertentangan sepanjang
itu dalam kemuliaan Tuhan karena yang lebih membedakannya adalah
bagaimana motifasi seseorang dalam meraihnya sepanjang itu bertentangan
maka hal itu akan mendatangkan kebedosaan manusia dihadapan Tuhan.
Jadi Teologi Kenikmatan justru berbeda dengan teologi sukses dalam memaknai
penderitaan yang ada karena Teologi kenikmatan menerima adanya penderitaan
sebagai suatu proses sedangkan teologi sukses justru menentang penderitaan
itu terjadi dalam kehidupan orang yang ada dalam Kristus.

Pandangan Teologi Salib

Teologi salib sering kali disebut dengan teologi penderitaan dimana teologi ini
muncul sebenarnya di dunia barat ketika terjadi berbagai penindasan dan
penganiayaan terhadap golongan lemah oleh pemimpin bangsa pada saat itu
termasuk Kaisar Nero(54-68) dalam memprovokasi orang-orang Kristen dalam
menghacurkan kota Roma pada saat itu.
Teologi salib muncul sebagai satu-satunya ciri universalitas Yesus Kristus sebagai
sebuah deklarasi sebagai ajaran kekhasan iman satu-satunya pengantara bagi
keselamatan manusia serta kekhasan gereja sebagai satu-satunya komunitas
yang menghadirkan Kristus sang penyelamat. Ajaran iman yang dimaksud
muncul dengan tantangan relativisme (kebenaran tunggal tidak lagi mendapat
maknanya) yang mulai merasuki gereja di tengah konteks masa kini atau post
modern saat ini.
Dan salah satu periode sejarah gereja yang penting dan sangat relevan dengan
teologi penderitaan adalah kemunculan gaya hidup asketisme(menjauhi semua
kenikmatan dunia) yang tercermin dalam sikap kebiaraan dengan menjual
seluruh harta demi untuk memperjuangkan hidup rakyat miskin.[23]
Adapun konsep penganut teologi salib tentang makna penderitaan
yang sudah dipengaruhi oleh ajaran gnostik pada abad ke-2 ini, dalam
memberantas kemiskinan dengan berbagai cara sebagai berikut: Pertama,
dengan cara bertapa, dan menguburkan tubuhnya di tanah sampai dileher
dengan berbulan-bulan.
Kedua, membiarkan diri disengat oleh serangga, inilah praktik-praktik kebiaran
yang dianggap benar dan membebaskan mereka dari penderitaan dengan sikap
inilah meraka bisa menyesali perbuatan mereka, Ketiga adalah konsep dualisme
yang menganggap bahwa tubuh adalah materi dan non materi adalah spritual
baik karena tubuh ini adalah jahat.
Keempat beberapa teks Alkitab dianggap mengajarkan penderitaan, misalnya
(1 Kor. 7:8, ) penjualan kekayaan, (Mat. 19:21; Mrk. 10:2 dan Luk.18:22, ) jalan
keselamatan yang sempit semua ini dilakukan orang-orang Kristen sebagai
bentuk baru dari hidup menderita bagi Kristus, setelah sebelumnya mereka
menderita dalam bentuk penganiayaan.
Tindakan ini didorong oleh motifasi yang menurut mereka baik yaitu hidup kudus
dan kehidupan rohani jadi sempurna, karena mereka menyadari kesenangan
duniawi sangat berbahaya, (1 Yoh. 2:16) sebagai protes dari tekanan yang
dihadapi oleh orang Kristen, mereka mengikuti Allah tanpa memusingkan dengan
keuntungan jasmani yang diperoleh mereka berani menderita demi Kristus
dengan berbagai cara. [24]

Untuk itu menanggapi praktek yang mereka lakukan untuk memahami konsep
penderitaan bagi Kristus terlepas dari semuanya itu jelas sangat menyimpang
dari prinsip Firman Allah, konsep dualisme yang merupakan konsep tentang Allah
adalah jelas salah.
Berkaitan dengan pengertian jalan yang sempit dari pemahaman di atas di sini
tidak mengajarkan asketisme, sesuai dengan konteks yang ada artinya di
harapkan suatu karakter pemuridan yang tangguh dalam pelayanan terhadap
Tuhan, berarti menjadi murid harus rela membayar harga seperti apa yang
diteladankan guru-Nya dalam aspek peristiwa apapun bukan mencari-cari
penderitaan dan memaknai penderitaan itu dengan cara menyiksa hidup dengan
cara apapun.
Seterusnya tentang makna Lukas 18:22 dengan kata lain bukan jual semua
tetapi yang terpenting bagaimana mengikut Kristus karena melihat bahwa harta
yang menjadi pengahalang satu-satunya untuk melayani. Jadi ini tidak bisa
diaplikasi bagi kehidupan orang Kristen untuk menjadi sempurna kelemahan lain
juga yang terlihat dari teologi salib ini adalah tidak bisa memahami tujuan Allah
secara rohani bahwa dalam penderitaan harapan dan masa depan ada ditangan
Tuhan karena semua yang terjadi tentu ada dan berada dengan sepengetahuan
Tuhan.
Dengan melihat praktek yang mereka lakukan jelas melanggar ketetapan dalam
Alkitab dan ini merupakan dosa terbesar di hadapan Tuhan karena merusak
hidup sebagai bait Roh Kudus untuk dijaga dan untuk kemuliaan-Nya
bandingkan(Rm. 12:1-2).
Berbeda juga dengan konsep Mormonisme memahami makna penderitaan
sebagai sesuatu cerminan dari apa yang dialami oleh Kritus. Sejarah Mormon
atau yang sering dikenal dengan Gereja Yesus Kristus orang-orang suci zaman
akhir yang dipimpin oleh hambanya Joseph Smith yang sekaligus menamakan
diri sebagai nabi atau pelihat Tuhan yang sudah mendapat wahyu dari Allah
untuk membuat dan mengemukakan ajaran-ajaran barunya di luar kekristenan
yang ada di bumi ini yaitu, menegakkan masa kelegaan terbesar di atas bumi
yang di kenal dengan lahirnya Gereja sejati Tuhan di atas bumi ini. [25]
Joseph Smith lahir 23 Desember 1805 di Sharon Amerika anak kelima dari
sebelas bersaudara, dan mengakhiri masa kejayaannya di penjara di Carthage
pada usia 38 tahun pada 1844, Joseph Smith tergolong muda ketika dia meniti
karir dalam pelayanan hampir sama dengan umur hambanya Timotius kurang
lebih di atas umur16 tahun dan disini pekerjaan Joseph Smith cukup pesat
dikenal keseluruh dunia.
Pandangan Presiden Gereja tentang penderitaan baik itu penganiayaan yang
terjadi oleh karena nama Yesus dari orang-orang yang tidak berlandaskan
kebenaran di bagi dalam dua dimensi yaitu:
Pertama penderitaan yang terjadi akibat tuduhan palsu dari orang-orang yang
tidak mengenal kebenaran, dan Kedua adalah penderitaan yang terjadi oleh

karena memberitakan kebenaran dan kesalehan. Presiden Gereja mengambil


satu kesimpulan bahwa keduanya itu terjadi dan dilalui oleh orang-orang suci
zaman akhir yang merupakan perkataan para nabi yang telah diucapkan sejak
dunia dijadikan.
Di samping itu juga presiden gereja mendasari argumentasi teologinya dengan
Injil Yohanes 15:20 janganlah heran, karenanya, jika anda dianiaya; tetapi
ingatlah firman juruselamat: Seorang hamba tidaklah lebih tinggi dari pada
tuannya. Jikalau mereka telah menganiaya Aku, mereka juga akan menganiaya
kamu dan semua ini akan dipalingkan dari kita sejauh kita tetap setia dan, di
sana akan melihat anugerah Tuhan dan kerajaannya semakin meningkat.
Dengan melihat dasar argumentasi yang telah dinyatakan di atas sangat
berbeda dengan konsep pandangan teologi sukses dan kemakmuran, serta
teologi pembebasan yang mana konsep teologi Presiden Gereja penderitaan
mengartikannya sebagai cerminan dari apa yang dialami Tuhan Yesus dua ribu
tahun yang lalu seperti Yesus Kristus juga teraniaya oleh orang-orang tidak
mengakuinya jadi, dalam hal pelayanan untuk menyatakan kebenaran akan
terjadi dalam kehidupan zaman akhir justru inilah kriteria dalam
memperjuangkan nilai-nilai kristiani yang sejati dalam mewujudkan agama yang
sejati.
Sebab itu, sebenarnya apa yang sudah dikemukakan oleh ajaran di atas sejauh
ini, tidak menyimpang tetapi dari aspek doktin yang lain apa yang di kemukakan
oleh presiden gereja sangat bertentangan hal ini dapat dilihat dari testimoninya
(kesaksian) bahwa dia adalah nabi pelihat yang sudah mendapat mandat dari
Tuhan dan bisa melakukan hal-hal yang sangat spektakuler lainnya sehingga
berawal dari sinilah ajaran ini tergolong sesat dan tidak diterima oleh gereja
pada umumnya.
Jadi pengertian penderitaan menurut presiden gereja hampir sama dengan
pandangan-pandangan gereja pada umumnya dan hal ini menjadi kesimpulan
yang di yakini penulis dari apa yang telah di konsepkan oleh bidat ini.

Pandangan Teologi Eksistesialisme

Eksistensialisme merupakan suatu aliran dalam ilmu filsafat tentang manusia,


dimana manusia harus bereksistensi/keberadaan, serta mengkaji cara manusia
hidup di dunia ini. Jadi dalam hal ini manusialah yang menentukan keberadaan
dirinya sendiri dan bagaimana menempatkan dirinya sendiri tanpa pengaruh
siapapun.
Antroplogi eksistesialisme ini dikembangkan melalui pemahaman dan konsep
Kierkegaard (18131855), seorang pemikir Denmark yang sangat saleh. Gaar
menuduh gereja negara Lutheran mengaburkan kekristena yang sejati, karena
sama sekali tidak menitikberatkan keadaan manusia sebagai seorang berdosa di

hadapan Allah, rasa bersalah penderitaan batin, dan putus asa menurut Gaar
sangat penting untuk dialami oleh seseorang sebelum dapat menjadi Kristen,
yang oleh Kierkegaard dilihat sebagai realita manusia yang fundamental. [26]
Menurut Eksistensialisme dengan manusia melibatkan diri dalam dunia dengan
menderita, dan bergumul, manusia mendapat arti hidup sedikit demi sedikit
artinya menurut pandangan ini, manusia hanya berada sebagaimana ia
menciptakan dirinya dengan memutuskan untuk bertanggung jawab atas
keberadaanya dan menegaskan diri menghadapi tantangan tantangan hidup
dan panggilan menuju kebebasan.
Melihat dari pernyataan di atas dapat disimpulkan bahwa Teologi Eksistesialisme
tidak memiliki dasar teologi yang tepat dan cenderung kearah ateis yang tidak
mengandalkan Tuhan dalam setiap hidup manusia sehingga kebenaran semakin
dikaburkan dan membawa manusia terpisah dengan Tuhan dan tidak bergantung
kepada pencipta karena lebih mengandalkan pribadi atau kesadaran secara
individual, bisa lepas dari semua derita serta tidak mengenal sang penebus yang
dapat mengangkat manusia dari keadaan yang tanpa arti menjadi berarti
sehingga manusia bisa mengisi kehidupan dengan Tujuan akhir dalam pelayanan
kerajaan Allah yang kekal.
Alkitab mengajarkan bahwa manusia makhluk ciptaan Allah yang diciptakan
menurut gambar-Nya dan rupa-Nya, bukan suatu kejadian kosmis yang
kebetulan saja dan hidupnya memiliki akhir dan tidak bisa menyelamatkan
dirinya sendiri kecuali bergantung sepenuhnya kepada pencipta-Nya.

[1]Herlianto, Teologi sukses: antara Allah dan Mamon, (Jakarta: BPK


Gunung Mulia, 2009), 1-2.

[2]Ibid, 3
[3] HerliantoAnak Raja dalam Gospel of Success, peny., Tri Atmo Yuwono dan
Rika Uli, (Jakarta: BPK Gunung Mulia, 2009 ), 6: 3.

[4]Erastus Sabdono, Membangun Umat Kerajaan Sorga dalam


Kebenaran: Sekolah Kehidupan, Penerbit (Jakarta: Solagracia, 2009), 2.
[5]Herlianto, Antara, 3
[6]Herlianto, Antara, 44

[7] Jim Bakker, Teologi Kemakmuran dan kedatangan Tuhan:Bahaya di


balik Kekristenan yang materialistis, (Jakarta: Metanoia, 2005), 38-39.
[8]John Campbell Nelson, Implikasi Teologi Pembebasan Terhadap
Misiologi dalam mengupayakan misi Gereja yang Kontekstual(Jakarta:
Perhimpunan Sekolah Teologi Di Indonesia, 1995), 69.
[9] Nelson, implikasi, 71

[10]R.M Brown, Spritualitas Pembebasan : Refleksi atas Iman Kristiani


dan Prasktis Pastoral

(Yogyakarta: Kanisius, 1995), 105

11Wardana, Spritualitas Pembabasan, 106.

12Gustavo Gutierrez, The World in a Trasnlation Age ( Century


Theology : 1920 ), 216-217.

[14]David Pan Purnomo, Menjawab pertanyaan Kontemporer, peny., Hasan


Sutanto. (Malang: SAAT, 2001), 8

[15]Alan F. Johnson , Tensionn in Contemporary Theologi (Chicago: Moody, 1976),


402

[16]Yewangoe , Implikasi Teologi Pembebasan Terhadap Misiologi


dalam mengupayakan misi Gereja yang Kontekstual (Jakarta: Perhimpunan
Sekolah Teologi Di Indonesia, 1995),72.

17Gren, The World in a Translation Age ( Century Theology : 1920 ),


214-217.

[18]D. Hesselgrave, Kontektualisasi makna, metode dan model (Jakarta:BPK


Gunung Mulia, 1994), 116.
[19] Werdana, Spritrualitas Pembebasan, 70
[20]Eta Linnemann,Teologi Kontemporer: Ilmu atau Praduga, ( Batu : Yayasan
Literatur PPII, 2006), 192-193.
[21]Webster, Pencarian Kenikmatan (Jakarta: Solideo Ministry, 2007), 2.

[22]Baron Athur, Artikel pandangan teologi Kenimakmatan:Mari Menikmati,


(Jakarta: Solideo Ministry, 2007), 80.
[23]Meril C. Tenney, Survey Perjanjian Baru, (Malang: Gandum Mas, 2000), 81
[24]C.T. Marshall, Artikel Pandangan Teologi Salib: monasticisme, (Evangelical
Dictionary of Theologi. t. t), 728
[25]Josepth Smith, Ajaran-Ajaran Presiden Gereja, Peny., Inteletual Reserve, (USA:
Gereja Yesus Kristus dari orang-orang suci zaman Akhir, Lake City: 2007), 1.
[26]Bruce Milne, Mengenali Kebenaran, (BPK: Gunung Mulia, 2002 ), 157-158.
Diposkan oleh Sadarwan halawa di 20.17