Anda di halaman 1dari 16

MANAJEMEN ANESTESI PADA PASIEN APPENDISITIS KRONIK

DAN VENTRIKEL EKSTRA SISTOLE (VES)

Roy A H L

030.10.241

Tarash Burhanuddin 030.10.265

Pembimbing :
dr. Bambang H, Sp.An

KEPANITERAAN KLINIK ANESTESi RSUP FATMAWATI


JAKARTA
2014

PEMBAHASAN KASUS
I.

IDENTITAS PASIEN
Nama
: Nn PM
No RM
: 1318656
Tanggal Lahir
: 31 Agustus 1989
Jenis kelamin
: Perempuan
Pekerjaan
: Pegawai Swasta
Pendidikan Terakhir : S1
Status perkawinan : Belum Menikah
Tanggal masuk RS : 3 September 2014

II. ANAMNESIS
Anamnesis dilakukan secara autoanamnesis
II.1 Keluhan Utama

: Nyeri perut kanan bawah sejak 5 hari SMRS.

II.2 Keluhan Tambahan

: Mual, muntah, tidak bisa BAB.

II.3 Riwayat Penyakit Sekarang


Pasien mengeluh nyeri perut kanan bawah sejak 5 hari yang lalu, muncul tiba-tiba, hilang
timbul kalau duduk, nyeri tidak menyebar. Selain itu pasien merasakan mual dan mengalami
muntah >10 yang berisi makanan. Pasien tidak bisa buang air besar dari lima hari yang lalu.
Pasien memiliki riwayat penyakit jantung yang diketahui sejak tujuh tahun yang lalu. Gejala
yang dirasakan pasien nyeri di dada saat beraktivitas. Nyeri dada tidak menyebar.

II.4 Riwayat Penyakit Dahulu


Pasien belum pernah mengalami penyakit ini sebelumnya. Asma (-), alergi (-),
hipertensi (-), DM (-). Riwayat kejang pada waktu kecil.

II.5 Riwayat Penyakit Keluarga

Keluarga pasien tidak memiliki riwayat keganasan maupun penyakit seperti yang
dialami pasien.
II.6 Riwayat Pengobatan
Pasien sudah berobat ke klinik dan sudah direncanakan operasi tetapi batal karena
pada saat dibius, denyut jantung pasien tidak normal. Operasi tidak dilanjutkan. Pasien
datang ke IGD fatmawati 1 hari sebelumnya dan diberi obat penghilang rasa sakit.
III.

PEMERIKSAAN FISIK

Dilakukan pada saat pra induksi


III.1 Keadaan Umum
Kesadaran

: compos mentis

Tanda vital

: Nadi: 68x / menit, irreguler, kuat, eqalitas simetris


Suhu: 36.5oC
Pernapasan: 20x / menit, tipe torakoabdominal
Tekanan darah: 110/70 mmHg

Berat Badan

: 57 kg

Tinggi Badan

: 156 cm

Gizi

: kesan cukup

Sianosis

: (-)

Oedem umum

: (-)

Sesak napas

: (-)

Cara berjalan

: Tidak ada kelainan cara berjalan

Mobilitas

: aktif

Umur menurut taksiran : sesuai

III.2 Status Generalis


Kepala

: normocephali

Rambut

: hitam, tersebar merata, tidak mudah dicabut

Wajah

: simetris, pucat (-), sianosis (-)

Mata

: konjungtiva anemis (-/-), sclera ikterik (-/-)


: refleks pupil (+/+), refleks cahaya tidak langsung (+/+), isokor, bentuk
pupil bulat

Mulut

: mukosa mulut baik, mukosa pipi tenang, palatum baik, tidak ada kelainan
pada gigi geligi

Hidung

: deviasi septum (-), epistaksis (-/-), sekret (-/-), pernapasan cuping hidung
(-)

Telinga

: normotia (+/+), nyeri tekan tragus (-/-), nyeri tekan mastoid (-/-), sekret
(-/-)

Tenggorokan

: dinding faring hiperemis (-/-)

Leher

: KGB dan tiroid dalam batas normal

Thorax
Paru-paru
Inspeksi

: bentuk dada nomal, bentuk tulang dada datar, sela iga normal, retraksi
sela iga (-/-), gerakan dinding dada saat statis dan dinamis simetris

Palpasi

: pergerakan dinding dada saat bernapas simetris

Perkusi

: sonor di kedua lapang paru

Auskultasi

: suara napas vesikuler, wheezing (-/-), ronchi (-/-)

Jantung

Inspeksi

: ictus cordis tidak terlihat

Palpasi

: ictus cordis teraba di ICS V 1 cm medial linea midclavicularis sinistra

Perkusi

:-

Auskultasi

: bunyi jantung I dan II, irreguler, murmur (-), gallop (-)

Abdomen
Inspeksi

: perut tampak datar, tidak tampak pergerakan usus, gerakan abdomen saat
pernapasan (+), simetris

Auskultasi

: bising usus (+) normal

Palpasi

: supel, nyeri tekan (-) seluruh kuadran, defense muscular (-), massa (-),
hepar tidak teraba, lien tidak teraba, nyeri tekan Murphy sign (-),
Ballotement (-/-)

Perkusi

: timpani pada seluruh kuadran

Ekstremitas
Lengan

dan Tangan

Kanan

Kiri

Otot
Tonus

Normotoni

Normotoni

Massa

Tidak ada

Tidak ada

Sendi

Bebas

Bebas

Gerakan

Aktif

Aktif

Kekuatan

+5

+5

Oedem

Tidak ada

Tidak ada

Tungkai dan Kaki

Kanan

Kiri

Varises

Tidak ada

Tidak ada

Otot

Normal

Normal

Tonus

Normotoni

Normotoni

Massa

Tidak ada

Tidak ada

Sendi

Bebas

Bebas

Gerakan

Aktif

Aktif

Kekuatan

+5

+5

Oedem

Tidak ada

Tidak ada

IV. PEMERIKSAAN PENUNJANG


Pemeriksaan penunjang yang dilakukan pada pasien ini antara lain:
1. Pemeriksaan Laboratorium darah
Pemeriksaan dilakukan ketika pasien datang ke IGD tanggal 16 Juni 2014. Hasil yang
didapatkan pada pemeriksaan sebagai berikut.
Pemeriksaan

Hasil

Satuan

Normal

Interpretasi

Leukosit

7600

/mm3

4000-10000

Normal

Hemoglobin

13,4

g/dl

11,7-15,5

Normal

Hematrokit

38

33-45

Normal

Trombosit

3666000

/mm3

150000-400000

Normal

APTT

29,8

detik

27,4-39.3

Normal

PT

13

detik

11,3-14,7

Normal

SGOT

29

U/I

<42

Normal

SGPT

13

U/I

<47

Normal

CK

59

U/I

<140

Normal

CK-MB

25

U/I

7-25

Normal

Glukosa sewaktu

77

mg/dl

<140

Normal

Na

135

Mmol/l

135-147

Normal

4,47

Mmol/l

3,1-5,1

Normal

Cl

108

Mmol/l

95-108

Normal

2. Pemeriksaan EKG

Pemeriksaan EKG setelah terapi oksigen

V. KONSULTASI
Obsgyn
Bedah
Interna
Kardiologi

: Status ginekologis tenang, tidak ada tatalaksana khusus


: Appendisitis akut dengan VES, pro appendiktomi
:Acc operasi
:observasi chest pain, dengan VES bigemini. Setelah terapi O2

VES(-) acc operasi


Anestesi
:Pasien dengan ASA II E, Acc operasi, teknik spinal, puasa 6 jam
sebelum operasi

VI.

DIAGNOSIS KERJA
Apendicitis kronik dengan ventrikel ekstra sistol (VES). Ventrikel ekstra sistol pada
pasien terjadi karena beberapa faktor resiko. Faktro resiko pada pasien ini adalah stress,

VII.

LAPORAN ANESTESI

VIII. PENATALAKSANAAN
Pada pasien ini direncanakan tindakan pembedahan dengan anestesi spinal. Faktor
resiko ventrikel ekstra sistol pada pasien ini adalah hipoksia dan strees. Untuk mengatasi
ventrikel ekstra sistol tersebut diberikan terapi oksigen dan midazolam.
IX. PROGNOSIS
Ad vitam

: bonam

Ad fungsionam : bonam
Ad sanationam : bonam

TINJAUAN PUSTAKA
Aritmia
Definisi :
Suatu keadaan abnormalitas dari kecepatan denyut jantung ( rate ), Irama ( rhythm ) atau
konduksi ( conduction ) yang dapat berakibat letal ( sudden cardiac death ) atau simptomatik
( sinkope,near sinkope, pusing,berdebar ).
Gambaran klinis
Pasien dengan aritmia, gejala awal yang sering ditemukan adalah:

Palpitasi, yaitu orang tersebut merasakan denyut jantungnya sendiri bertambah cepat
atau melambat

Tanda-tanda penurunan curah jantung, seperti:


pasien mengeluh pusing yang disertai sinkop ( pingsan )
pulsasi lemah, hemodinamik menurun, akral dingin
Pasien kejang dan kesadaran menurun

Diagnosis
Gelombang P dan komplek QRS harus dianalisis berdasarkan 5 parameter dasar :
1.
2.
3.
4.
5.

Kecepatan gelombang P dan kecepatan QRS, keduanya harus sesuai.


Keteraturan gelombang P dan komplek QRS
Interval : PR dan QRS
Hubungan antara gelombang P dan komplek QRS setiap P diikuti oleh QRS
Adanya aktifitas ektopik

Peyebab dasar suatu aritmia sering sulit dikenali, tetapi beberapa faktor aritmogenik berikut
ini dapat menjadi perhatian :
1. Hipoksia : miokardium yang kekurangan oksigen menjadi iritabel
2. Iskemia: infark miokardium dan angina menjadi pencetus

3. Stimulasi simpatis : menguatnya tonus otot karena penyebab apapun ( hypertiroid,


gagal jantung kongestif, latihan fisik dll ) dapat menimbulkan aritmia
4. Obat obatan : efek pemberian obat-obatan digitalis atau bahkan obat-obat anti
aritmia sendiri
5. Gangguan elektrolit : ketidak seimbangan kalium, kalsium dan magnesium
6. Bradikardi : frekuensi jantung yang sangat lambat dapat menjadi pre-disposisi aritmia
7. Regangan ( stretch ): hipertrofi ventrikel

Dua jenis komplikasi infark miokardium yang harus ditanggulangi adalah:


Ketidak stabilan elektris atau aritmia
Disfungsi mekanik atau kegagalan pompa jantung

Klasifikasi:

Atrial

Junctional

Atrioventrikular AV reentrant takikardia

AV Blok

Ventrikular:
1. Premature Ventricular Contraction ( PVC )
2. Ventricular Bigeminy Trigeminy
3. Salvo / Kuplet
4. Ventricular Tachycardia
5. Monomorphik Ventricular Tachycardia
6. Polymorphic Ventricular Tachycardia
7. Ventricular Fibrillation

8. Accelerated Idioventricular Rhythm

Patofisiologi
Aritmia ventrikel umumnya disebabkan oleh iskemia atau infark myokard.Lokasi terjadinya
infark turut mempengaruhi proses terjadinya aritmia. Sebagai contoh, jika terjadi infark di
anterior, maka stenosis biasanya barada di right coronary artery yang juga berperan dalam
memperdarahi SA node sehingga impuls alami jantung mengalami gangguan. Akibat dari
kematian sel otot jantung ini, dapat menimbulkan gangguan pada depolarisasi dan
repolarisasi jantung, sehingga mempengaruhi irama jantung. Dengan dilepaskannya berbagai
enzim intrasel dan ion kalium serta penimbunan asam laktat , maka jalur-jalur hantaran listrik
jantung terganggu. Hal ini dapat menyebabkan hambatan depolarisasi atrium atau ventrikel
serta timbulnya aritmia. Penurunan kontraktilitas myokard akibat kematian sel juga dapat
menstimulus pangaktifan katekolamin yang meningkatkan rangsang system saraf simpatis,
akibatnya akan terjadi peningkatan frekuensi jantung, peningkatan kebutuhan oksigen dan
vasokonstriksi. Selain itu iritabilitas myokard ventrikel juga menjadi penyebab munculnya
aritmia ventrikel, baik VES< VT maupun VF.
Trias Risiko Aritmia
1. Penyakit Jantung Struktural
Penyakit arteri koronaria
Penyakit Jantung Katup
Penyakit jantung Kongenital
Kardiomiopati
Sick Sinus Syndrome
Sindroma pemanjangan interval QT
Sindroma Wolff-Parkinson-White
2. Altered millieu
Gangguan Metabolik
Abnormalitas elektrolit
Hiperkalemia
Hipokalemia
Hipomagnesia

Hipokalsemia
Ketidakseibangan asam basa
Asidemia atau alkalemia berat
Iskemia miokard, CAD, hipertensi, hipoksia
Respon stres neurohormonal, hipoksia, hipokarbia, nyeri laringoskopi dan intubasi, Respon
inflamasi sistemik, hipovolemia, dan overload cairan
3. Obat-obatan
Katekolamin
Anestetik inhalasi
Obat prolongasi interval QT
Penghentian beta bloker
Tatalaksana Perioperatif Aritmia

Treat the patient and not the ECG

Terapi sesuai kegawatan : ABCD

Stabilisasi hemodinamik

Terapi antiaritmia yang spesifik

Target irama sinus

Pencegahan komplikasi

Klasifikasi obat anti - aritmia


Vaughan Williams Classification
Kelas I

Mencegah masuknya Na kedalam sel. Menghambat konduksi, memperlambat masa


pemulihan ( recovery ) dan mengurangi kecepatan otot jantung untuk discharge secara
spontan.

Kelas Ia memperpanjang Aksi Potensial

Kelas II

Anti simpatetik, mencegah efek katekolamin pada aksi potensial. Termasuk gol adrenergik antagonis

Class III

Memperpanjang waktu aksi potensial

Class IV

Mencegah masuknya Calcium kedalam sel otot jantung

Mengurangi waktu plateau aksi potensial, effektif

memperlambat konduksi di jaringan nodal.

Daftar Pustaka
1. Kennedy HL, Whitlock JA, Sprague MK, Kennedy LJ, Buckingham TA, Goldberg
RJ. Long-term follow-up of asymptomatic healthy subjects with frequent and
complex ventricular ectopy. N Engl J Med 1985;312:193-7.
2. Goldman L, Caldera DL, Nussbaum SR, Southwick FS, Krogstad D, Murray B, et
al. Multifactorial index of cardiac risk in noncardiac surgical procedures. N Engl J
Med 1977;297:845-51.
3. Chugh, Sumeet S.; Reinier, Kyndaron; Teodorescu, Carmen; Evanado, Audrey; Kehr,
Elizabeth; Al Samara, Mershed; Mariani, Ronald; Gunson, Karen; Jui, Jonathan
(2008). "Epidemiology of Sudden Cardiac Death: Clinical and Research
Implications". Progress in Cardiovascular Diseases 51 (3): 213
28. doi:10.1016/j.pcad.2008.06.003. PMC 2621010. PMID 19026856.
4. Wiener, Norbert; Rosenblueth, Arturo (1946). "The mathematical formulation of the
problem of conduction of impulses in a network of connected excitable elements,
specifically in cardiac muscle". Archivos del Instituto de Cardiologa de
Mxico 16 (3): 20565. PMID 20245817.

Anda mungkin juga menyukai