Anda di halaman 1dari 6

PEMBAHASAN

Capung termasuk dalam kingdom Animalia, filum Arthropoda, klas


Insecta, dan ordo Odonata. Habitat capung menyebar luas, di hutan-hutan, kebun,
sawah, sungai dan danau. Capung ditemukan mulai dari tepi pantai hingga
ketinggian lebih dari 3.00 m dpl. Beberapa jenis capung, umumnya merupakan
penerbang yang kuat dan luas wilayah jelajahnya. Beberapa jenis yang lain
memilki habitat yang spesifik dan wilayah hidup yang sempit. Capung dapat
berfungsi sebagai serangga predator, baik dalam bentuk nimfa maupun dewasa,
dan memangsa berbagai jenis serangga serta organisme lain, termasuk serangga
hama tanaman padi, seperti: pengerek batang padi (Chilo sp), wereng coklat
(Nilaparvata lugens), dan walang sangit (Laptocorisa acuta). Capung dewasa
merupakan predator udara dan bisa menangkap insekta seperti nyamuk, serangga
kecil, kupu-kupu, ngengat, lebah dan Odonata dalam keadaan terbang. Mayoritas
capung terbang pada saat siang, tapi beberapa aktif berburu pada saat senja
(Andrew et. al., 2008). Selain itu, capung dapat dijadikan sebagai indikator
kualitas ekosistem. Hal ini dikarenakan capung memilki 2 habitat : air dan udara.
Capung mampu berbiak di hampir segala macam air tawar yang tidak terlampau
panas, asam, atau asin. Mulai dari perairan di dataran tinggi sampai sungai-sungai
yang tenang di dataran rendah. Ada juga diantaranya yang telah menyesuaikan diri
untuk berkembang biak di kolam batu-batuan dan air terjun (Patty, 2006).
Klasifikasi Capung (Odonata) menurut Wessfall dalam Boror adalah
sebagai berikut:
Kingdom

: Animalia

Filum

: Arthropoda

Kelas

: Insecta

Ordo

: Odonata

Subordo

: Anisoptera-capung-capung

Superfamili

: Aeschonoidea

Petaluridae-capung punggung kelabu


Gomphidae-capung ekor ganda
Aeshnidae-capung loreng

Superfamili : Cordulegastroidea
Cordulegastroidea-capung loreng kuning
Superfamili : Libelluloidea
Macomiidae-capung penyaring berpita dan capung penyaring sungai
Corduliidae-capung mata hijau
Libellulidae-capung biasa 13
Superordo : Zygoptera-capung jarum
Calopterygidae-capung jarum bersayap lebar
Lestidae-capung jarum bersayap merentang
Protoneuridae-capung jarum bersayap sempit (Borror, 1992).
Capung mempunyai beberapa bagian tubuh, diantaranya adalah kepala,
thorax, abdomen dan ekstremitas.
1. Kepala
Kepala

capung

relatif

besar

dibandingkan

tubuhnya,

bentuknya

membulat/memanjang ke samping dengan bagian belakang berlekuk ke dalam.


Bagian yang sangat mencolok pada kepala capunga adalah sepasang mata
majemuk yang besar yang terdiri dari banyak mata kecil yang disebut
ommatidium. Mata majemuk yang besar pada capung memiliki lansa (faset) dua
macam : yang terdapat pada permukaan paling atas berukuran kecil dan sangat
tanggap terhadap gerakan, sedangkan yang bawah lebih dan dipergunakan untuk
menangkap bayangan. Mata memiliki fungsi utama jika serangga dewasa makan
atau berhubungan dengan capung yang lain pada saat diudara (Patty, 2006).
Capung mempunyai kepala yang dilengkapi dengan mulut pengunyah, mata
majemuk yang besar, tiga oselli, antena kecil, prothorax kecil, segmen mesothorax
dan methathorax berfusi menjadi pterothorax yang besar (Resh & Carde, 2003).
Struktur dasar antena (Gambar 1) pada segmen 1 disebut scape dan
segmen 2 disebut pedicel. Segmen selanjutnya saling bersambungan disebut
flagellum. Tipe antena pada capung adalah filiformis.

Gambar 1. Struktur Antena Serangga


Struktur mulut capung terdiri dari maxila, mandibula, dan labrum (Gambar 2).
Tipe mulutnya pengunyah. Mulut capung berkembang sesuai dengan fungsinya
sebagai pemangsa, bagian depan terdapat labrum (bibir depan), di belakang
labrum terdapat sepasang mandibula (rahang) yang kuat untuk merobek badan
mangsanya. Di belakang mandibula terdapat sepasang maksila yang berguna
untuk membantu kerja mandibula, dan bagian mulut yang paling belakang adalah
labium yang menjadi bibir belakang (Patty, 2006).

Gambar 2. Struktur Umum Mulut Serangga


2. Thorax
Thorax pada capung terdiri dari bagian prothorax (pro = pertama),
mesothorax (meso = tengah) dan metathorax (meta = terakhir), masing-masing
mendukung satu pasang kaki. Pada thorax terjadi perlekatan kaki dan sayap.
Masing-masing bagian thorax menjadi perlekatan sepasang kaki. Pada mesothorax
dan methatorax masing-masing menjadi perlekatan sepasang sayap (Hickmann et.
al., 2001). Prothorax kecil, segmen mesothorax dan methathorax berfusi menjadi
pterothorax yang besar (Resh & Carde, 2003).

Gambar 4. Bagian thorax Serangga


3. Abdomen
Abdomen pada capung terdiri dari beberapa ruas, ramping dan memanjang
seperti ekor atau agak melebar. Ujung abdomen dilengkapi tambahan seperti
umbai yang dapat digerakkan dengan variasi bentuk tergantung jenisnya,
abdomen capung memanjang dan satu segmen circus. Tubuh capung tidak berbulu
dan biasanya berwarna-warni. Beberapa jenis capung ada yang mempunyai warna
tubuh mengkilap (metalik) Capung memiliki warna tubuh yang dihasilkan oleh
pigmen di bawah kutikula dan karena difraksi cahaya oleh kutikula. Capung
jantan umumnya mempunyai warna lebih mencolok daripada betina (Resh &
Carde, 2003). Abdomen capung mempunyai sepuluh ruas yang bersifat fleksibel.
Ruas pertama sampai kedelapan terdapat spirakel sebagai alat bantu pernafasan
bagi capung. Ukuran abdomen pada ruas pertama, kedua, kedelapan, dan
kesepuluh lebih pendek daripada ruas lain (Hidayah, 2008).

Gambar 5. Segmentasi Abdomen Serangga (Resh & Carde, 2003)


4. Ekstrimitas

Ekstremitas yang dimiliki oleh capung diantaranya adalah kaki dan sayap.
Kaki jangkrik terdiri dari coxa, trochanter, femur, tibia, tarsus. Pada femur
terdapat otot ekstensor dan otot fleksor. Kaki capung tidak terlalu kuat, oleh
karena itu capung menggunakan kakiknya bukan untuk berjalan, melainkan untuk
berdiri (hinggap) dan menangkap mangsanya. Kaki-kaki capung yang ramping
juga dapat membentuk kurungan untuk membawa mangsanya. Capung memiliki
tungkai relatif pendek yang merupakan bentuk adaptasi untuk hinggap,
menangkap dan menahan mangsa. Tungkai terdiri dari trokanter dan femur kuat;
tibia yang ramping tanpa taji dan tiga ruas tarsi. Capung biasa dapat menangkap
mangsa dan memakannya sambil terbang, sedangkan capung jarum makan
sewaktu hinggap (Sachran, dkk, 2012).
Sayap capung bentuknya khas yaitu lonjong/memanjang dan tembus
pandang, kadang-kadang berwarna menarik seperti coklat kekuningan, hijau, biru
atau merah. Keempat sayap Odonata memanjang dan terdapat banyak venasi.
Ukuran panjang sayap capung dewasa berkisar antara 2 cm sampai 15 cm bahkan
bisa mencapai 17 cm. Lembaran sayap ditopang oleh venasi, dan venasi juga
digunakan untuk mengidentifikasi dan membedakan jenis capung (Patty, 2006).
Capung mempunyai kemampuan terbang mengungguli kelompok insekta
lain. Capung mempunyai dua pasang sayap bisa bergerak secara independen.
Capung bisa melayang-layang dan berbalik 180 ketika terbang dan bisa terbang
mundur. Capung lebih kuat terbang daripada capung jarum dan bisa mencapai
kecepatan 40 km/jam (Andrew et. al., 2008). Kepakan sayapnya relatif lebih pelan
dibandingkan Insekta lain, sekitar 20-40 kepakan/detik, tapi bisa terbang secepat
Insekta lain (Resh & Carde, 2003).
DAFTAR RUJUKAN
Andrew, R. J., Subramanian, K. A. & Tiple, A. D. 2008. Common Odonates of
Central India. The 18th International Symposium of Odonatology. Nagpur,
India 5-9 November 2008.
Ball-Damerow, J. E., MGonigle, L. K & Resh, V. H. 2014. Changes in
Occurence, Richness and Biological Traits of Dragonflies and Damselflies
(Odonata) in California and Nevada Over the Past Century. Biodiversity
Conservation. Vol. 23 : 2107-2126.

Borror, D.J., C.A. Triplehorn dan N.F. Johnson. 1992. Pengenalan Pelajaran
Serangga (Diterjemahkan oleh Soetiyono Partosoedjono). Yogyakarta:
Gadjah Mada University Press.
Hidayah, Siti Nurul Indah. 2008. Keanekaragaman dan Aktivitas Capung (Ordo:
Odonata) di Kebun Raya Bogor.
Patty, Novita. 2006. Keanekaragaman Jenis Capung (Odonata) di Situ Gintung
Ciputat, Tanggerang. Jakarta: Fakultas Sains dan Teknologi Universitas
Islam Negeri Syarif Hidayatullah.
Sachran, Andes, Musdalifah, Pratiwi Widyamurti, Singgih K.D. 2012. Jenis-Jenis
Capung Sekitar Sungai Tadah Angin Cagar Alam dan Taman Wisata
Pangandaran, Jawa Barat. Jakarta: Biologi Universitas Negeri Jakarta.