Anda di halaman 1dari 65

51

BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Pada umumnya remaja didefinisikan sebagai masa peralihan atau transisi
dari masa anak-anak menuju masa dewasa yang berjalan antara umur 12 tahun
sampai 21 tahun dan ditandai dengan adanya perubahan aspek fisik, psikis dan
psikososial. Masa remaja merupakan segmen perkembangan individu yang sangat
penting yang diawali dengan matangnya organ-organ fisik secara seksual sehingga
mampu berproduksi (Dewi HE, 2012: 17). Pada masa remaja rasa ingin tahu
terhadap masalah seksual sangat penting dalam pembentukan hubungan baru yang
lebih matang dengan lawan jenis. Fakta menunjukkan bahwa sebagian besar
remaja tidak mengetahui dampak dari perilaku seksual yang mereka lakukan.
Karena meningkatnya minat remaja pada masalah seksual dan sedang berada
dalam potensi seksual yang aktif, maka remaja berusaha mencari berbagai
informasi mengenai hal tersebut. Dari sumber informasi yang berhasil mereka
dapatkan, pada umumnya hanya sedikit remaja yang mendapatkan seluk beluk
seksual dari orang tuanya (Dewi HE, 2012: 72-73). Peran serta orang tua dalam
kesehatan reproduksi pada remaja antara lain mempersiapkan anaknya
menghadapi masa remaja dan memberikan pendidikan seks pada remaja (Gunarsa
Singgih, 2004 : 98). Jika pengetahuan remaja tentang kesehatan reproduksi
bertambah maka remaja bisa mengaplikasikan pengetahuan tersebut kedalam
kehidupan sehari-hari. Kesehatan reproduksi bukan hanya masalah seseorang saja,
tetapi juga menjadi kepedulian keluarga dan masyarakat. Dampak dari masalah
kesehatan reproduksi sangat luas menyangkut berbagai aspek kehidupan dan menjadi

52

parameter kemampuan negara dalam menyelenggarakan pelayanan kesehatan


masyarakat. Kesehatan alat reproduksi sangat erat hubungannya dengan angka
kematian ibu (AKI) dan angka kematian anak (AKA) (Manuaba IBG, 2009: 7).
Kebutuhan akan peningkatan pelayanan kesehatan dan sosial terhadap
remaja semakin menjadi perhatian di seluruh dunia. Setiap tahun rata-rata 15 juta
remaja berusia 15-19 tahun melahirkan, 4 juta melakukan aborsi dan hampir
100 juta terinfeksi Penyakit Menular Seksual (PMS) yang dapat disembuhkan.
Secara global, 40% dari semua kasus infeksi HIV terjadi pada kaum muda yang
berusia 15-24 tahun. Perkiraan terakhir adalah setiap hari ada 7.000 remaja
terinfeksi HIV (http://www.path.org/, 2010). Menurut Boyke Dian mengutip hasil
sebuah penelitian para dokter di Jakarta, bahwa 10-12% remaja di Jakarta
pengetahuan seksnya sangat kurang. Dari data Puskesmas Pungpungan
Kecamatan Kalitidu bulan Februari sampai Oktober tahun 2011 didapatkan 9
remaja putri usia antara 10-19 tahun mengalami anemia, 14 remaja putra usia 1019 tahun merokok, 2 remaja putri usia 15-19 tahun hamil diluar nikah, 2 remaja
putra usia 15-19 tahun melakukan seks pranikah dan 15 remaja putra dan putri
usia 10-19 tahun mengalami gangguan penglihatan. Data di Desa Mojosari
Kecamatan Kalitidu Kabupaten Bojonegoro terdapat 2 remaja putri hamil di luar
nikah pada tahun 2011. Dari survei awal di Dusun Mojoroto Desa Mojosari
tanggal 26 Februari 2013, dari 15 remaja putri didapatkan 8 remaja putri kurang
mendapatkan informasi tentang kesehatan reproduksi dari orang tuanya.
Masalah remaja dengan alat reproduksinya kurang mendapat perhatian
karena umur relatif muda, masih dalam status pendidikan dan seolah-olah remaja
bebas dari kemungkinan menghadapi masalah penyulit dan penyakit yang
berkaitan dengan alat reproduksinya. Remaja yang mencari identitas diri akan

53

sangat mudah menerima informasi berkaitan dengan masalah fungsi alat


reproduksinya yang cenderung menjurus kearah pelaksanaan hubungan seks. Hal
ini dikarenakan kurangnya peran serta orang tua, karena kesibukan mencari
nafkah sehingga kurang memperhatikan anaknya, serta kurangnya pengetahuan
orang tua yang berhubungan dengan pendidikan mereka. Kehamilan telah
menempatkan posisi remaja dalam situasi yang serba salah dan memberikan
tekanan batin (stress) karena kehamilan remaja sulit diterima keluarga,
masyarakat dan cenderung menyalahkan remaja yang dianggap kurang bermoral
dan tidak menjaga diri dalam pergaulan (Manuaba, 2009 : 18).
Sehubungan dengan kejadian diatas maka upaya yang perlu dilakukan
adalah dengan memberikan informasi yang benar tentang kesehatan reproduksi.
Sebagaimana hakikat dari perkembangan yang membutuhkan campur tangan dari
orang-orang yang ada di sekeliling kehidupan anak, yakni yang pertama dan
utama orang tuanya sendiri, demikian pula dalam usaha meningkatkan
pengetahuan anak remaja tentang kesehatan reproduksi. Upaya dalam mengatasi
kurangnya pengetahuan remaja tentang kesehatan reproduksi adalah peran serta
orang tua untuk memberikan pengetahuan tentang reproduksi yang sehat pada
anak remajanya (Gunarsa Singgih, 2004 : 114).
Dari uraian di atas peneliti tertarik sekali untuk meneliti mengenai
Hubungan antara peran serta orang tua dengan pengetahuan remaja putri usia 1519 tahun tentang kesehatan reproduksi di Dusun Mojoroto Desa Mojosari
Kecamatan Kalitidu Kabupaten Bojonegoro Tahun 2013.

54

1.2 Rumusan Masalah


Berdasarkan uraian dalam latar belakang masalah tersebut di atas, dapat
dirumuskan pertanyaan penelitian sebagai berikut :
Bagaimanakah hubungan antara peran serta orang tua dengan pengetahuan
remaja putri usia 15-19 tahun tentang kesehatan reproduksi di Dusun Mojoroto
Desa Mojosari Kecamatan Kalitidu Kabupaten Bojonegoro Tahun 2013?
1.3 Tujuan Penelitian
1.3.1

Tujuan Umum
Mengetahui hubungan antara peran serta orang tua dengan pengetahuan

remaja putri usia 15-19 tahun tentang kesehatan reproduksi di Dusun Mojoroto
Desa Mojosari Kecamatan Kalitidu Kabupaten Bojonegoro Tahun 2013.
1.3.2

Tujuan Khusus

1. Mengidentifikasi peran serta orang tua tentang kesehatan reproduksi di Dusun


Mojoroto Desa Mojosari Kecamatan Kalitidu Kabupaten Bojonegoro.
2. Mengidentifikasi pengetahuan remaja putri usia 15-19 tahun tentang kesehatan
reproduksi di Dusun Mojoroto Desa Mojosari Kecamatan Kalitidu Kabupaten
Bojonegoro.
3. Menganalisis hubungan antara peran serta orang tua dengan pengetahuan
remaja putri usia 15-19 tahun tentang kesehatan reproduksi di Dusun
Mojoroto Desa Mojosari Kecamatan Kalitidu Kabupaten Bojonegoro.

55

1.4 Manfaat Penelitian


1.4.1

Manfaat Teoritis

1. Bagi peneliti
Dapat menambah pengetahuan dan wawasan tentang hubungan antara
peran serta orang tua dengan pengetahuan remaja putri usia 15-19 tahun
tentang kesehatan reproduksi serta dapat menyusun penelitian dengan baik.
2. Bagi institusi pendidikan
Dapat bermanfaat sebagai bahan masukan atau perbandingan bagi
peneliti berikutnya tentang peran serta orang tua dengan pengetahuan remaja
putri usia 15-19 tahun tentang kesehatan reproduksi.
1.4.2

Manfaat Praktis

1. Bagi responden
Dapat memberi informasi kepada responden tentang kesehatan
reproduksi remaja sehingga responden mengetahui dan memahami pengertian
kesehatan reproduksi remaja dan perubahan yang dialami pada masa remaja.
2. Bagi tenaga kesehatan
Hasil penelitian ini dapat memberikan informasi kepada tenaga
kesehatan tentang pentingnya pengetahuan kesehatan reproduksi bagi remaja
dan dapat memberikan bahan konseling bagi orang tua remaja agar lebih
berperan aktif dalam meningkatkan pengetahuan remaja putri usia 15-19 tahun
tentang kesehatan reproduksi.

56

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

Pada bab ini akan diuraikan tentang konsep remaja, konsep orang tua,
konsep peran serta orang tua, konsep pengetahuan, konsep kesehatan reproduksi,
kerangka konseptual dan hipotesis.
2.1 Konsep Remaja
2.1.1

Definisi Remaja
Remaja

atau

adolescence

(Inggris),

berasal

dari

bahasa

latin

adolescenceyang berarti tumbuh ke arah kematangan. Kematangan yang


dimaksud adalah bukan hanya kematangan fisik saja, tetapi juga kematangan
sosial dan psikologis. Batasan usia remaja menurut WHO adalah 12 sampai 24
tahun. Menurut Departemen Kesehatan Republik Indonesia adalah antara 10
sampai 19 tahun dan belum kawin. Menurut BKKBN adalah 10 sampai 19 tahun
(Widyastuti Y, 2009 : 10-11).
Masa remaja merupakan salah satu periode dari perkembangan manusia.
Masa ini merupakan masa perubahan atau peralihan dari masa kanak-kanak ke
masa dewasa yang meliputi perubahan biologik, perubahan psikologik, dan
perubahan sosial. Sedangkan menurut World Health Organization (WHO) remaja
merupakan individu yang sedang mengalami masa peralihan yang secara berangsurangsur mencapai kematangan seksual, mengalami perubahan jiwa dari jiwa kanakkanak menjadi dewasa, dan mengalami perubahan keadaan ekonomi dari
ketergantuungan menjadi relatif mandiri (Notoatmodjo S, 2007: 263).

57

2.1.2

Perkembangan Remaja dan Ciri-cirinya


Berkaitan dengan kesehatan reproduksi remaja kita sangat perlu mengenal

perkembangan

remaja

serta

ciri-cirinya.

Berdasarkan

sifat

atau

ciri

perkembangannya, masa (rentang waktu) remaja ada tiga tahap yaitu:


1. Masa Remaja Awal (10-12 tahun)
a. Tampak dan memang merasa lebih dekat dengan teman sebaya.
b. Tampak dan merasa ingin bebas.
c. Tampak dan memang lebih banyak memperhatikan keadaan tubuhnya dan
mulai berfikir yang khayal (abstrak).
2. Masa Remaja Tengah (13-15 tahun)
a. Tampak dan merasa ingin mencari identitas diri.
b. Ada keinginan untuk berkencan atau ketertarikan pada lawan jenis.
c. Timbul perasaan cinta yang mendalam.
d. Kemampuan berpikir abstrak (berkhayal) makin berkembang.
e. Berkhayal mengenai hal-hal yang berkaitan dengan seksual.
3. Masa Remaja Akhir (16-19 tahun)
a. Menampakkan pengungkapan kebebasan diri.
b. Dalam mencari teman sebaya lebih selektif.
c. Memiliki citra (gambaran, keadaan, peranan) terhadap dirinya.
d. Dapat mewujudkan perasaan cinta.
e. Memiliki kemampuan berpikir khayal atau abstrak
(Widyastuti Y, 2009: 11).

58

Tahap ini adalah masa konsolidasi menuju periode dewasa dan ditandai
dengan pencapaian 5 hal, yaitu:
1) Minat yang makin mantap terhadap fungsi-fungsi intelek
2) Egonya mencari kesempatan untuk bersatu dengan orang-orang lain
dan dalam pengalaman-pengalaman baru
3) Terbentuknya identitas seksual yang tidak akan berubah lagi
4) Egosentrisme (terlalu memusatkan perhatian pada diri sendiri) diganti
dengan keseimbangan antara kepentingan diri sendiri dengan orang
lain.
5) Tumbuh dinding yang memisahkan diri pribadinya (private self) dan
masyarakat umum (the public) (Sarwono SW, 2011 : 30-31).
2.1.3

Perubahan-Perubahan pada Fisik, Psikis, dan Psikososial pada


Remaja

1. Pria
a. Perubahan fisik
1) Seks primer

: Mimpi basah ereksi/ejakulasi.

2) Seks sekunder : Tinggi badan, berat badan, suara membesar, testis


membesar, kulit berminyak, tumbuh bulu pada alat
kelamin dan ketiak, tumbuh jerawat.
b. Perubahan psikologi
Tertarik pada lawan jenis, kecemasan, menonjolkan diri, sulit bersepakat,
kurang pertimbangan, ingin mencoba-coba, mudah terpengaruh, susah
dikendalikan.

59

2. Wanita
a. Perubahan fisik
1) Seks primer

: Menstruasi

2) Seks sekunder : Tinggi badan, berat badan, payudara membesar,


panggul membesar, kulit berminyak, tumbuh bulu
pada alat kelamin dan ketiak.
b. Perubahan psikologis
Tertarik pada lawan jenis, cemas, mudah sedih, lebih perasa, menarik diri,
pemalu, pemarah (Romauli S dkk, 2009: 49).
2.1.4

Perkembangan Remaja dan Tugasnya


Tugas perkembangan remaja menurut Robert Y.Havighurst dalam bukunya

Human Development and Education yang dikutip oleh Panut Panuju dan Ida
Umami (1999:23-26) ada sepuluh yaitu :
1. Mencapai hubungan sosial yang matang dengan teman sebaya,baik dengan
teman sejenis maupun dengan beda jenis kelamin.
Artinya para remaja memandang gadis-gadis sebagai wanita dan laki-laki
sebagai pria, menjadi manusia dewasa diantara orang-orang dewasa. Mereka
dapat bekerja sama dengan orang lain dengan tujuan bersama, dapat menahan
dan mengendalikan perasaan-perasaan pribadi, dan belajar memimpin orang
lain dengan atau tanpa dominasi.
2. Dapat menjalankan peranan-peranan sosial menurut jenis kelamin masingmasing.
Artinya mempelajari dan menerima peranan masing-masing sesuai
ketentuan atau norma masyarakat.
a. Menerima kenyataan (realitas) jasmani serta menggunakannya seefektif
mungkin dengan perasaan puas.

60

b. Mencapai kebebasan emosional dari orang tua atau orang dewasa lainnya.
Ia tidak kekanak-kanakan lagi, yang selalu terikat pada orang tuanya. Ia
membebaskan dirinya dari ketergantungan terhadap orang tua atau orang
lain.
3. Mencapai kebebasan ekonomi.
Ia merasa sanggup untuk hidup berdasarkan usaha sendiri. Ini terutama
sangat penting bagi laki-laki. Akan tetapi dewasa ini bagi kaum wanita pun
tugas ini berangsur-angsur menjadi tambah penting.
a. Memilih dan mempersiapkan diri untuk pekerjaan atau jabatan, artinya
belajar memilih satu jenis pekerjaan sesuai dengan bakat dan
mempersiapkan diri untuk pekerjaan tersebut.
b. Mempersiapkan diri untuk melakukan perkawinan dan hidup berumah
tangga. Mengembangkan sikap yang positif terhadap kehidupan keluarga
dan memiliki anak. Bagi wanita hal ini harus dilengkapi dengan
pengetahuan dan ketrampilan bagaimana mengurus rumah tangga dan
mendidik anak.
c. Mengembangkan

kecakapan

intelektual

serta

konsep-konsep

yang

diperlukan untuk kepentingan hidup bermasyarakat, maksudnya ialah


bahwa untuk menjadi warga negara yang baik perlu memiliki pengetahuan
tentang hukum, pemerintah, ekonomi, politik, geografi, tentang hakikat
manusia dan lembaga-lembaga kemasyarakatan.
d. Memperlihatkan tingkah laku yang secara sosial dapat dipertanggung
jawabkan. Artinya ikut serta dalam kegiatan-kegiatan sosial sebagai orang

61

dewasa yang bertanggung jawab, menghormati serta mentaati nilai-nilai


sosial yang berlaku dalam lingkungannya, baik regional maupun nasional.
e. Memperoleh sejumlah norma-norma sebagai pedoman dalam tindakantindakannya dan sebagai pandangan hidup. Norma-norma tersebut secara
sadar dikembangkan dan direalisasikan dalam menetapkan kedudukan
manusia dalam hubungannya dengan sang pencipta, alam semesta dan
dalam hubungannya dengan manusia lain; membentuk suatu gambaran
dunia dan memelihara harmoni antara nilai-nilai pribadi yang lain
(Widyastuti Y dkk, 2009 :13)
2.1.5

Masalah Remaja
Tidak semua remaja dapat memenuhi tugas-tugas tersebut dengan baik.

Menurut Hurlock (1973) ada beberapa masalah yang dialami remaja dalam
memenuhi tugas-tugas tersebut, yaitu :
1. Masalah pribadi, yaitu masalah-masalah yang berhubungan dengan situasi dan
kondisi di rumah, sekolah, kondisi fisik, penampilan, emosi, penyesuaian
sosial, tugas dan nilai-nilai.
2. Masalah khas remaja, yaitu masalah yang timbul akibat status yang tidak jelas
pada remaja, seperti masalah pencapaian kemandirian, kesalahpahaman atau
penilaian berdasarkan stereotip yang keliru, adanya hak-hak yang lebih besar dan
lebih sedikit kewajiban dibebankan oleh orang tua.
(http://sofia-psy.staff.ugm.ac.id/, 2012).

62

2.1.6

Ciri-Ciri Masa Remaja


Ciri-ciri remaja juga menurut Hurlock (1992) antara lain :

1. Periode yang penting, yaitu periode yang berakibat langsung terhadap sikap,
perilaku, dan berakibat jangka panjang.
2. Periode peralihan, yaitu peralihan dari masa kanak-kanak ke masa dewasa.
3. Periode perubahan, yaitu perubahan sikap dan perilaku yang sejajar dengan
perubahan fisik.
4. Mencari identitas diri, yaitu dengan penyesuaian diri dengan kelompok yang
kemudian lambat laun mereka mulai mendambakan identitas diri dan tidak
puas lagi dengan menjadi sama dengan temannya dalam segala hal.
5. Usia yang menimbulkan ketakutan, karena adanya anggapan bahwa remaja
adalah anak-anak yang tidak rapi, tidak dapat dipercaya, dan cenderung
berperilaku merusak.
6. Masa yang tidak realistik, yaitu melihat dirinya sendiri dan orang lain
sebagaimana yang ia inginkan dan bukan sebagaimana adanya.
7. Ambang masa dewasa, yaitu remaja mulai bertindak dan berperilaku seperti
orang dewasa
(http://ayurai.wordpress.com/, 2009).
2.2 Konsep Orang Tua
Mengenai pengertian orang tua dalam kamus besar bahasa Indonesia
disebutkan Orang tua artinya ayah dan ibu. Banyak dari kalangan para ahli yang
mengemukakan pendapatnya tentang pengertian orang tua, yaitu menurut Miami
yang dikutip oleh Kartini Kartono, dikemukakan Orang tua adalah pria dan

63

wanita yang terikat dalam perkawinan dan siap sedia untuk memikul tanggung
jawab sebagai ayah dan ibu dari anak-anak yang dilahirkannya. Seorang ahli
psikologi Ny. Singgih D Gunarsa dalam bukunya psikologi untuk keluarga
mengatakan, Orang tua adalah dua individu yang berbeda memasuki hidup
bersama dengan membawa pandangan, pendapat dan kebiasaan- kebiasaan seharihari (http://zaldym.wordpress.com, 2010).
2.3 Konsep Peran Serta Orang Tua
2.3.1

Pengertian Peran
Peran adalah serangkaian perilaku yang diharapkan sesuai dengan posisi

sosial yang diberikan. Yang dimaksud dengan possi atau status adalah posisi
individu dalam masyarakat, misalnya status sebagai istri, suami atau anak
(Muhlisin A, 2012: 23).
Peranan (role) merupakan dinamis kedudukan (status). Apabila seseorang
melaksanakan hak dan kewajiban sesuai dengan kedudukannya maka dia
menjalankan suatu peranan (Widyastuti Y dkk, 2009:91).
Untuk menekankan hubungannya dengan pandangan masyarakat maka
sering pula dikatakan peran sosial, karena peranan ditentukan oleh masyarakat.
Dari contoh-contoh yang telah dikemukakan dapat disimpulkan apa yang
dimaksud dengan peranan itu.
1. Suatu peran adalah sekelompok norma-norma dan harapan mengenai tingkah
laku seseorang.
2. Norma-norma dan harapan yang dimiliki oleh orang-orang di lingkungan
dekat dengan individu itu.

64

3. Norma-norma dan harapan tersebut memang diketahui dan disadari oleh


individu yang bersangkutan (Gunarsa SD, 2004: 101)
2.3.2

Konsep Dasar Peran


Peran serta adalah pola sikap, perilaku, nilai dan tujuan yang diharapkan dari

seseorang berdasarkan posisinya di masyarakat (Nursalam dan Siti Pariani, 2001 :


128).
2.3.3

Faktor peranan sosial


Peranan sosial tergantung dari beberapa faktor :

1. Masa perkembangan dimana individu itu berada.


Masa perkembangan ini besar artinya dalam menentukan norma-norma
manakah yang harus dipenuhi. Kita mengharapkan hal-hal yang jauh berbeda
daripada harapan kita mengenai orang dewasa.
2. Perubahan peranan sosial erat hubungannya dengan kebudayaan. Normanorma dan harapan orang mengenai kelakuan merupakan suatu pengertian
yang erat berhubungan dengan kebudayaan, karena memang merupakan sifat
daripada hidup bersama dalam suatu masyarakat.
3. Kelompok atau himpunan, dimana si remaja mengembangkan diri. Kelompok
atau himpunan adalah bagian dari lingkungan sosial, dimana mereka bergaul
dan diamati kelakuannya (Gunarsa SD, 2004 : 101-102).
2.3.4

Faktor yang Mempengaruhi Peran Orang Tua

1. Pengetahuan
Dalam bagian lain Allport (1954) menjelaskan sikap sebagai reaksi atau
respon seseorang untuk memberikan respon terhadap stimulus atau obyek.
2. Pendidikan

65

Pada umumnya semakin tinggi tingkat pendidikan seseorang, maka


semakin tinggi pula tingkat pengetahuan. Dan pendidikan itu sendiri adalah
bimbingan yang diberikan oleh seseorang terhadap perkembangan orang lain
menuju ke arah suatu cita-cita tertentu (Nursalam, 2008 : 132-133).
3. Pekerjaan
Pekerjaan adalah kebutuhan yang harus dilakukan untuk menunjang
kehidupan keluarganya (Nursalam, 2008 : 33).
4. Umur
Usia adalah umur individu yang terhitung mulai saat dilahirkan sampai
saat berulang tahun. Semakin cukup umur, tingkat pematangan dan kekuatan
seseorang akan lebih matang dalam berfikir dan bekerja (Nursalam, 2008 :
134).
5. Sosial Ekonomi
Keadaan sosial ekonomi atau pendapatan yang rendah pada umumnya
berkaitan erat dengan berbagai masalah (pendidikan, kesehatan) yang mereka
hadapi disebabkan karena ketidakmampuan dan ketidaktahuan dalam
mengatasi masalah.
6. Pengalaman
Karena dari pengalaman dan penelitian ternyata perilaku yang didasari
oleh pengetahuan akan lebih langgeng daripada perilaku yang tidak didasari
oleh pengetahuan (Notoatmodjo S, 2003 : 128).

66

2.3.5

Peranan Orang Tua


Orang tua harus menjadi orang yang terdekat dengan anak. Apabila orang

tua dekat dengan anak, maka otomatis mereka dapat melihat kemungkinan
kesulitan yang dialami anak. Dalam hal ini orang tua harus mampu menjadi
konsultan bagi anak. Apabila anak mendapat kesulitan orang tua dapat membantu
dengan mencarikan alternatif jalan keluar, tapi jalan keluar itu tidak harus mutlak
diikuti anak. Anak harus dapat memilih jalan keluar yang sesuai atau yang
dianggapnya terbaik baginya. Orang tua tidak boleh memaksakan jalan keluar
yang disodorkannya. Berilah kebebasan pada anak itu untuk memilih yang dinilai
baik dan cocok bagi dirinya. Jadi peran orang tua disini hanya memberi saran
bukan yang menentukan keputusan. Namun harus tahu batas haknya sebagai
penanggung jawab (Ronald, 2006: 17-18).
2.3.6

Fungsi dan Peran Serta Orang Tua

1. Fungsi religius. Artinya orang tua mempunyai kewajiban memperkenalkan


dan mengajak anak dan anggota lainnya kepada kehidupan beragama. Untuk
melaksanakan fungsi dan peran ini, orang tua sebagai tokoh inti dalam
keluarga itu harus terlebih dahulu menciptakan iklim yang religius dalam
keluarga itu, yang dapat dihayati oleh seluruh anggotanya.
2. Fungsi edukatif. Pelaksanaan fungsi edukatif keluarga merupakan salah satu
tanggung jawab yang dipikul oleh orang tua. Sebagai salah satu unsur
pendidikan keluarga merupakan lingkungan pendidikan yang pertama bagi
anak. Orang tua harus mengetahui tentang pentingnya pertumbuhan,
perkembangan dan masa depan seorang anak secara keseluruhan. Ditangan

67

orang tuanyalah masalah-masalah yang menyangkut anak, apakah dia akan


tumbuh menjadi orang yang suka merusak dan menyeleweng atau ia akan
tumbuh menjadi orang baik.
3. Fungsi protektif. Gambaran pelaksanaan fungsi lingkungan yaitu dengan cara
melarang atau menghindarkan anak dari perbuatan-perbuatan yang tidak
diharapkan, mengawasi atau membatasi perbuatan anak dalam hal-hal tertentu
menganjurkan atau menyuruh mereka untuk melakukan perbuatan-perbuatan
yang diharapkan mengajak bekerja sama dan saling membantu, memberikan
contoh dan tauladan dalam hal-hal yang diharapkan.
4. Fungsi sosialisasi. Fungsi dan peran orang tua dalam mendidik anaknya tidak
saja mencakup pengembangan pribadi, agar menjadi pribadi yang mantap
tetapi meliputi pula mempersiapkannya menjadi anggota masyarakat yang
baik. Sehubungan dengan itu perlu dilaksanakan fungsi sosialisasi anak.
Melaksanakan fungsi sosialisasi itu berarti orang tua memiliki kedudukan
sebagai penghubung anak dengan kehidupan sosial dan norma-norma sosial,
dan membutuhkan fasilitas yang memadai.
5. Fungsi

ekonomis.

Meliputi:

pencarian

nafkah,

perencanaan

serta

pembelajarannya. Keadaan ekonomi sekeluarga mempengaruhi pula harapan


orang tua akan masa depan anaknya serta harapan anak itu sendiri. Orang tua
harus dapat mendidik anaknya agar dapat memberikan penghargaan yang tepat
terhadap uang dan pencariannya, disertai pula pengertian kedudukan ekonomi
keluarga secara nyata, bila tahap perkembangan anak telah memungkinkan
(http://zie2108.blogspot.com, 2013).

68

2.3.7

Peran Orang Tua Terhadap Berbagai Sifat Anak

1. Anak sering takut dan segan


Pada anak-anak pra-sekolah kondisi ini adalah normal, akan tetapi jika
perasaan itu terus saja berlangsung sampai anak itu duduk di sekolah lanjutan,
maka ia perlu pertolongan. bahaya disini disebabkan orang tua terlalu banyak
mengizinkan kegiatan sosial. Jangan paksakan seorang anak ke dalam situasi
yang demikian sampai ia sudah cukup saip. Kalau hubungan lainnya dalam
keluarga itu baik, anak itu pada masanya akan siap menghadapi kegiatankegiatan sosial (Ronald, 2006: 109).
2. Anak suka marah dan membual
Seorang anak remaja yang suka marah dan membual memiliki apa yang
disebut sebagai titik pusat yang lemah dan empuk dalam hal ketidaktentuan
yang dikelilingi oleh lapisan yang lebih liat, yakni penyamaran. Biasanya,
anak ini menghendaki perhatian. Seorang ayah melaporkan, saya membenci
anak yang suka marah, dan setiap kali anak saya menunjukkan sifat itu, saya
menghukum dia. Tapi tidak berhasil (Ronald, 2006: 109).
3. Tidak ada kemampuan membuat keputusan
Orang tua yang sering ragu-ragu dan tidak menentu adalah contoh yang buruk
bagi anak-anaknya. Dan bila seorang anak membuat keputusan yang salah dan
ditegur keras, maka dia akan mengambil kesimpulan lebih baik tidak membuat
keputusan supaya aman dan orang tua senang (Ronald, 2006: 109).
4. Anak yang gagal

69

Anak-anak yang cepat membuat keputusan, tapi tidak realistik. Mereka


membuat cita-cita diluar jangkauan kemampuannya, dan ini biasanya karena
dorongan orang tuanya (Ronald, 2006: 109).
5. Tidak berkeinginan mengungkapkan pendapat
Ada anak yang menampilkan kepribadian yang pasif. Mereka seolah menarik
diri dan tidak menaruh perhatian pada dunia sekelilingnya. Mereka dapati
opini yang diungkapkan sering membawa perdebatan, amarah, sakit hati, yang
semuanya itu sering dihindarinya. Dan justru ini yang menipiskan perasaan
harga diri (Ronald, 2006: 110).
6. Pengaruh lingkungan dan peran orang tua
Besarnya pengaruh lingkungan dan peran orang tua sebagai lingkungan
terdekat anak terhadap terjadinya kelainan tingkah laku, bisa dilihat dari
konsep risiko. Mengapa dalam satu keluarga kadang terdapat anak yang
baik tetapi juga ada yang nakal? hal ini bisa terjadi karena adanya suatu
prakondisi yang telah ada sejak lahir, ditambah dengan risiko pengaruh
lingkungan yang memungkinkan terjadinya kelainan. Kaitan dan peran orang
tua sebagai faktor lingkungan dengan kelainan tingkah laku anak timbul
karena kehangatan, kemesraan, dan hubungan yang erat dari tokoh ibu sejak
dia dilahirkan. Anak yang tinggal di lembaga yang terpisah dari orang tuanya,
sering menderita kekurangan rangsangan sensoris, isolasi sosial, dan budaya
(Ronald, 2006: 110).

70

2.3.8

Peran Orang Tua terhadap Moral Anak


Moral merupakan bagian yang cukup penting dalam jiwa anak-anak, karena

moral dapat mengendalikan tingkah laku anak-anak yang beranjak dewasa,


sehingga mereka tidak melakukan hal-hal yang merugikan atau bertentangan
dengan kehendak atau norma-norma dalam masyarakat. Demikian pentingnya
moral, maka anak-anak perlu dibimbing untuk menumbuhkan kesadaran
moralnya, yaitu suatu kesadaran bahwa mereka memiliki kewajiban untuk
melakukan sesuatu yang menyangkut hak dan kepentingan orang lain.
1. Sumber Pendidikan
Dalam bidang pendidikan moral, keluarga merupakan sumber pendidikan
utama. Peraturan-peraturan yang ada dalam keluarga berfungsi menumbuhkan
dan mengembangkan kesadaran moral anak-anak. Namun demikian,
hubungan antara orang tua dan anak bukan satu-satunya saran pembentuk
moral. Masyarakat juga memiliki peranan penting dalam pembentukan moral.
Tingkah laku manusia terkendali disebabkan oleh adanya kontrol dari
masyarakat itu sendiri yang mempunyai sanksi terhadap pelanggarnya.
2. Kesadaran Moral yang Dewasa
Tujuan dari perkembangan anak-anak adalah agar dia menjadi manusia
dewasa yang sanggup bertanggung jawab sendiri dan berdiri sendiri. Maka
tugas utama dari setiap orang tua adalah memberikan fasilitas, membantu bagi
perkembangan anak-anaknya, termasuk perkembangan moralnya, sebab
dewasa berarti pula bisa memahami norma-norma susila dan nilai-nilai etis,

71

dan berusaha hidup sesuai dengan norma-norma yang berlaku (Ronald, 2006 :
171-172).
2.4 Konsep Pengetahuan
2.4.1

Definisi Pengetahuan
Pengetahuan (knowledge) merupakan hasil dari tahu dan ini terjadi setelah

orang melakukan penginderaan terhadap suatu obyek tertentu. Penginderaan


terjadi melalui panca indra manusia, yakni indra penglihatan, pendengaran,
penciuman, rasa dan raba, sebagian besar pengetahuan manusia diperoleh melalui
mata dan telinga (Notoatmodjo, 2010 : 121).
Pengetahuan adalah hasil penginderaan manusia atau hasil tahu seseorang
terhadap obyek melalui indera yang dimilikinya (mata, hidung, telinga dan
sebagainya). Sebagian besar pengetahuan seseorang diperoleh melalui indera dan
pendengaran (telinga) dan indera penglihatan (mata). Pengetahuan seseorang
terhadap obyek

mempunyai

intensitas atau tingkat yang berbeda-beda

(Notoatmodjo, 2010 : 50).


2.4.2

Tingkat Pengetahuan
Pengetahuan yang tercakup dalam domain kognitif mempunyai 6 tingkat

(Notoatmodjo, 2010 : 148-150).


1. Tahu (know)
Tahu diartikan sebagai mengingat suatu materi yang telah dipelajari
sebelumnya. Termasuk ke dalam pengetahuan tingkat ini adalah mengingat
kembali (recall) terhadap suatu yang spesifik dari seluruh bahan yang
dipelajari dan rangsangan yang telah diterima. Oleh sebab itu, tahu ini

72

adalah merupakan tingkat pengetahuan yang paling rendah. Kata kerja untuk
mengukur bahwa orang tahu tentang apa yang dipelajari antara lain,
menyebutkan, menguraikan, mendefinisikan, menyatakan dan sebagainya.
2. Memahami (comprehension)
Memahami diartikan sebagai suatu kemampuan untuk menjelaskan
secara benar tentang obyek yang diketahui dan dapat menginterpretasikan
materi tersebut dengan benar. Orang yang telah paham terhadap obyek atau
materi harus dapat menjelaskan menyebutkan contoh, menyimpulkan,
meramalkan dan sebagainya terhadap obyek yang dipelajari.
3. Aplikasi (application)
Aplikasi diartikan sebagai kemampuan untuk menggunakan materi
yang telah dipelajari pada situasi atau kondisi riil (sebenarnya). Aplikasi disini
dapat diartikan aplikasi atau penggunaan hukum-hukum, rumus, metode,
prinsip dan sebagainya dalam konteks atau situasi yang lain.
4. Analisis (analysis)
Analisis adalah suatu kemampuan untuk menjabarkan materi atau
suatu obyek ke dalam komponen-komponen, tetapi masih di dalam suatu
struktur organisasi tersebut, dan masih ada kaitannya satu sama lain.
5. Sintesis (synthesis)
Sintesis menunjukkan kepada suatu kemampuan untuk meletakkan
atau menghubungkan bagian-bagian di dalam suatu bentuk keseluruhan yang
baru. Dengan kata lain sintesis itu suatu kemampuan untuk menyusun
formulasi baru dari formulasi-formulasi yang ada.
6. Evaluasi (evaluation)

73

Evaluasi ini berkaitan dengan kemampuan untuk melakukan justifikasi


atau penilaian terhadap suatu materi atau obyek. Penilaian-penilaian itu
berdasarkan suatu kriteria yang ditentukan sendiri atau menggunakan kriteriakriteria yang telah ada.
2.4.3

Cara Memperoleh Pengetahuan

1. Cara tradisional atau non alamiah


Cara tradisional ini dipakai orang untuk memperoleh kebenaran
pengetahuan, sebelumnya diketemukannya metode alamiah yang sistematik
dan logis. Cara-cara penemuan pengetahuan pada periode ini antara lain,
meliputi :
a. Cara coba salah (trial and error)
Cara ini dilakukan dengan menggunakan kemungkinan dalam
memecahkan masalah dan apabila kemungkinan tersebut tidak berhasil,
dicoba kemungkinan yang lain. Apabila kemungkinan kedua ini gagal pula,
maka dicoba kembali dengan kemungkinan ketiga dan apabila kemungkinan
ketiga gagal dicoba kemungkinan keempat dan seterusnya, sampai masalah
tersebut dapat terpecahkan (Notoatmodjo, 2010 : 11).
b. Cara kekuasaan atau otoritas
Prinsip ini adalah orang lain menerima pendapat yang dikemukakan
oleh orang yang mempunyai otoritas, tanpa terlebih dahulu menguji atau
membuktikan kebenarannya, baik berdasarkan fakta empiris ataupun
berdasarkan penalaran sendiri (Notoatmodjo, 2010: 12-13).
c. Berdasarkan pengalaman pribadi

74

Hal ini dilakukan dengan cara mengulang kembali pengalaman yang


diperoleh dalam memecahkan permasalahan yang dihadapi pada masa
yang lalu (Notoatmodjo, 2010 : 13-14).
d. Melalui jalan pikiran
Induksi dan deduksi pada dasarnya merupakan cara melahirkan
pemikiran secara tidak langsung melalui pernyataan-pernyataan yang
dikemukakan, kemudian dicari hubungannya sehingga dapat dibuat suatu
kesimpulan (Notoatmodjo, 2010 : 15).
2. Cara modern
Cara baru atau modern dalam memperoleh pengetahuan pada dewasa ini
lebih sistematis, logis dan ilmiah. Cara ini disebut metode penelitian,atau lebih
populer disebut metodologi penelitian (Notoatmodjo, 2010 : 18).
2.4.4

Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Pengetahuan.


Faktor-faktor yang mempengaruhi tingkat pengetahuan diantaranya adalah

:
1. Faktor internal
a. Pendidikan
Pendidikan berarti bimbingan yang diberikan seseorang terhadap
perkembangan orang lain menuju ke arah cita-cita tertentu yang
menentukan manusia untuk berbuat dan mengisi kehidupan untuk
mencapai keselamatan dan kebahagiaan. Pendidikan diperlukan untuk
mendapat informasi misalnya hal-hal yang menunjang kesehatan sehingga
dapat meningkatkan kualitas hidup. Menurut YB Mantra yang dikutip

75

Notoatmodjo (2003), pendidikan dapat mempengaruhi seseorang termasuk


juga perilaku seseorang akan pola hidup terutama dalam memotivasi untuk
sikap berperan serta dalam pembangunan pada umumnya makin tinggi
pendidikan seseorang makin mudah menerima informasi. Jika pendidikan
rendah, maka pengetahuan tentang hidup sehat, kebersihan pribadi,
kebersihan lingkungan, makanan yang bergizi, cenderung kurang terutama
kemampuan hidup sehat untuk dirinya sendiri. Berdasarkan pernyataan
tersebut dapat disimpulkan bahwa pendidikan yang rendah cenderung
mempunyai pengetahuan yang rendah pula. Bentuk pendidikan dapat
berupa: penyuluhan, ceramah, seminar, diskusi, pameran, iklan-iklan yang
bersifat mendidik, spanduk, billboard.
b. Pekerjaan
Manusia adalah makhluk sosial dimana dalam kehidupan saling
berinteraksi satu dengan yang lainnya. Individu yang dapat berinteraksi
lebih banyak dan baik, maka akan lebih besar ia terpapar informasi.
c. Pengalaman
Pengetahuan dapat diperoleh dari pengalaman baik pengalaman
pribadi maupun diri pengalaman orang lain. Pengalaman ini merupakan
suatu cara untuk memperoleh kebenaran suatu pengetahuan. Pengetahuan
dapat terbentuk dari pengalaman dan ingatan yang didapat sebelumnya.
Pengetahuan diperoleh dari pengalaman sendiri atau pengalaman orang
lain. Seorang anak memperoleh pengetahuan bahwa apa itu panas adalah
setelah memperoleh pengalaman tangan atau kakinya kena panas. Seorang

76

ibu akan mengimunisasikan anaknya setelah melihat anak tetangganya


kena penyakit polio sehingga cacat, karena anak tersebut belum pernah
memperoleh imunisasi polio.
d. Ekonomi (pendapatan)
Dalam memenuhi kebutuhan pokok (primer) maupun kebutuhan
sekunder, keluarga dengan status ekonomi baik akan lebih tercukupi bila
dibandingkan keluarga dengan status ekonomi rendah. Hal ini akan
mempengaruhi pemenuhan kebutuhan akan informasi pendidikan yang
termasuk dalam kebutuhan sekunder.
e. Paparan media
Melalui berbagai media, baik cetak maupun elektronik berbagai
informasi dapat diterima oleh masyarakat sehingga seseorang yang lebih
sering terpapar media massa (TV, radio, majalah dan lain-lain) akan
memperoleh informasi yang lebih banyak dibandingkan dengan orang
yang tidak pernah terpapar informasi media massa. Sumber informasi
berhubungan dengan pengetahuan, baik dari orang maupun media. Sumber
informasi dari orang itu mempengaruhi pengetahuan seseorang, yang
dipengaruhi antara lain: masyarakat, baik teman bergaul maupun tenaga
kesahatan. Dalam proses peningkatan pengetahuan agar diperoleh hasil
yang efektif diperlukan alat bantu. Fungsi media dalam pembentukan
pengetahuan seseorang menyampaikan informasi atau pesan-pesan.
f. Akses layanan kesehatan atau fasilitas kesehatan

77

Mudah atau sulitnya dalam mengakses kesehatan tentunya akan


berpengaruh terhadap pengetahuan khususnya dalam hal kesehatan.
(Wawan dan Dewi, 2011: 17-18)
2. Faktor eksternal
a. Faktor lingkungan
Menurut Ann

Mariner

yang

dikutip

Nursalam,

lingkungan

merupakan seluruh kondisi yang ada di sekitar manusia dan pengaruhnya


yang dapat mempengaruhi perkembangan dan perilaku orang atau
kelompok (Wawan dan Dewi, 2011: 18).
b. Sosial budaya
Sistem sosial budaya yang ada pada masyarakat dapat mempengaruhi
dari sikap dalam menerima informasi
(Wawan dan Dewi, 2011: 18).
2.5 Konsep Kesehatan Reproduksi
2.5.1

Pengertian

Menurut ICPD Cairo (1994), kesehatan reproduksi adalah keadaan


kesejahteraan fisik, mental, dan sosial yang utuh dan bukan hanya tidak adanya
penyakit dan kelemahan, dalam segala hal yang berhubungan dengan system
reproduksi dan fungsi-fungsi serta proses-prosesnya (Romauli S, 2009: 1).
Menurut WHO, kesehatan reproduksi adalah keadaan kesejahteraan fisik,
mental, dan sosual yang utuh, bukan hanya bebas dari penyakit atau kecacatan
dalam segala aspek yang berhubungan dengan system reproduksi, fungsi, serta
prosesnya (Romauli S, 2009: 1).

78

Menurut Manuaba IAC, dkk (2009 : 7) sebagai ketetapan yang dimaksudkan


dengan kesehatan reproduksi adalah kemampuan seorang wanita untuk
memanfaatkan alat reproduksi dan mengatur kesuburannya (fertilitas) dapat
menjalani kehamilan dan persalinan secara aman serta mendapatkan bayi tanpa
risiko apapun atau well health mother dan well born baby dan selanjutnya
mengembalikan kesehatan dalam batas normal.
2.5.2

Tujuan Kesehatan Reproduksi

1. Tujuan Umum
Meningkatkan kemandirian dalam mengatur fungsi dan proses
reproduksinya,

termasuk

kehidupan

seksualitasnya

sehingga

hak-hak

reproduksi dapat terpenuhi.


2. Tujuan Khusus
a. Meningkatkan kemandirian wanita dalam memutuskan peran dan fungsi
reproduksinya.
b. Meningkatkan hak dan tanggung jawab sosial wanita dalam menentukan
kapan hamil, jumlah dan jarak antara kelahiran.
c. Meningkatkan peran dan tanggung jawab sosial laki-laki terhadap akibat
dari perilaku seksnya.
d. Dukungan yang menunjang wanita untuk membuat keputusan yang
berkaitan dengan proses reproduksinya (Romauli S, 2009 : 1-2).
2.5.3

Sasaran Kesehatan Reproduksi

1. Remaja (Pubertas)
a. Diberi penjelasan tentang masalah kesehatan reproduksi yang diawali
dengan pemberian pendidikan seks.

79

b. Membantu remaja dalam menghadapi menarche secara fisik, psikis, sosial


dan hygiene sanitasinya.
c. Penurunan 33% angka prevalensi anemia pada wanita (usia 15-49 tahun)
2. Wanita
a. WUS (Wanita Usia Subur)
1) Penurunan 33% angka prevalensi anemia pada wanita (usia 15-45
tahun).
2) Peningkatan jumlah yang bebas dari kecacatan sebesar 15%.
b. PUS (Pasangan Usia Subur)
1) Terpenuhinya kebutuhan nutrisi dengan baik.
2) Terpenuhinya kebutuhan ber-KB.
3) Penurunan angka kematian ibu hingga 50%.
4) Penurunan proporsi BBLR menjadi <10%
5) Pemberantasan tetanus neonatorum.
6) Semua individu dan pasangan mendapatkan akses informasi dan
penyuluhan pencegahan kehamilan yang terlalu dini, terlalu dekat
jaraknya, terlalu tua dan terlalu banyak anak.

80

3. Lansia
a. Proporsi yang memanfaatkan pelayanan kesehatan untuk pemeriksaan dan
pengobatan penyakit menular seksual minimal 70%.
b. Pemberian makanan yang banyak megandung zat kalsium untuk mencegah
osteoporosis.
c. Memberi persiapan secara benar dan pemikiran yang positif dalam
menyongsong masa menopause
(Romauli S, 2009: 2-3).
2.5.4

Ruang Lingkup Kesehatan Reproduksi


Menurut Depkes RI (2001) ruang lingkup kesehatan repdroduksi sebenarnya

sangat luas sesuai dengan definisi yang tertera diatas, karena mencakup
keseluruhan kehidupan manusia sejak lahir hingga mati.
Secara luas, ruang lingkup kesehatan reproduksi meliputi :
1. Kesehatan ibu dan bayi baru lahir
2. Pencegahan dan penanggulangan Infeksi Saluran Reproduksi (ISR) termasuk
PMS-HIV/HIV
3. Pencegahan dan penanggulangan komplikasi aborsi
4. Kesehatan reproduksi remaja
5. Pencegahan dan penanganan infertilitas
6. Kanker pada usia lanjut dan osteoporosis
7. Berbagai aspek kesehatan reproduksi lain, misalnya kanker serviks, mutilasi
genital, fistula, dll (Widyastuti Y, dkk, 2009:1-2).

81

2.5.5

Usia Reproduksi Sehat


Umur optimal untuk mempunyai anak berkisar antara 20-30 tahun dengan

maksimal 35 tahun (Manuaba IBG, 2007: 907).


2.5.6

Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Kesehatan Reproduksi


Secara garis besar dapat dikelompokkan empat golongan faktor yang dapat

berdampak buruk bagi kesehatan reproduksi :


1. Faktor sosial ekonomi dan demografi (terutama kemiskinan, tingkat
pendidikan yang rendah dan ketidaktahuan tentang perkembangan seksual dan
proses reproduksi serta lokasi tempat tinggal yang terpencil)
2. Faktor budaya dan lingkungan (misalnya praktik tradisional yang berdampak
buruk pada kesehatan reproduksi, kepercayaan banyak anak banyak rejeki,
informasi tentang fungsi reproduksi yang membingungkan anak dan remaja
karena saling berlawanan satu dengan yang lain)
3. Faktor psikologis (dampak pada keretakan orang tua pada remaja, depresi
karena ketidakseimbangan hormonal, rasa tidak berharga wanita terhadap pria
yang membeli kebebasannya secara materi)
4. Faktor biologis (cacat sejak lahir, cacat pada saluran reproduksi, pasca
penyakit menular seksual) (Yanti, 2011 : 14).
2.5.7

Hak-Hak Reproduksi
Hak adalah kekuasaan untuk berbuat sesuai dengan aturan, Undang-undang

dan ketentuan hukum.


Hak reproduksi perorangan adalah hak yang dimiliki oleh setiap orang baik
laki-laki maupu perempuan (tanpa memandang perbedaan kelas sosial, suku,
umur, agama dan lain-lain) untuk memutuskan secara bebas dan bertanggung

82

jawab (kepada diri, keluarga dan masyarakat) mengenai jumlah anak, jarak antar
anak, serta penentuan waktu kelahiran anak dan akan melahirkan (Yanti, 2011 :
22).
1. Menurut ICPD (Yanti, 2011 : 24) hak-hak reproduksi tersebut antara lain:
a. Hak mendapatkan informasi dan pendidikan kesehatan reproduksi.
b. Hak mendapatkan pelayanan kesehatan seksual dan kesehatan reproduksi
yang berkualitas.
c. Hak untuk bebas membuat keputusan tentang hal yang berkaitan dengan
kesehatan reproduksi tanpa paksaan diskriminasi serta kekerasan.
d. Hak kebebasan dan tanggung jawab dalam menentukan jumlah dan jarak
waktu memiliki anak.
e. Hak untuk hidup (hak untuk dilindungi dari kematian karena kehamilan
dan proses melahirkan).
f. Hak atas kebebasan dan keamanan berkaitan dengan kehidupan
reproduksi.
g. Hak untuk bebas dari penganiayaan dan perlakuan buruk termasuk
perlindungan dari perkosaan, kekerasan, penyiksaan dan pelecehan
seksual.
h. Hak mendapatkan manfaat dari kemajuan ilmu pengetahuan yang terkait
dengan kesehatan reproduksi.
i. Hak atas kerahasiaan pribadi dengan kehidupan reproduksinya.
j. Hak membangun dan merencanakan keluarga.
k. Hak kebebasan berkumpul dan berpartisipasi dalam politik yang berkaitan
dengan kesehatan reproduksi.

83

l. Hak untuk bebas dari segala bentuk diskriminasi dalam kehidupan


berkeluarga dan kehidupan reproduksi.
2. Menurut BKKBN 2000, kebijakan teknis operasional di Indonesia,untuk
mewujudkan pemenuhan hak-hak reproduksi:
a. Promosi hak-hak reproduksi
Dilaksanakan dengan menganalisis perundang-undangan, peraturan
dan kebijakan yang saat ini berlaku apakah sudah seiring dan mendukung
hak-hak reproduksi dan tidak melupakan kondisi lokal sosial budaya
masyarakat. Pelaksanaan upaya pemenuhan hak reproduksi memerlukan
dukungan secara politik dan legislatif sehingga bisa tercipta undangundang hak reproduksi yang memuat aspek pelanggaran hak-hak
reproduksi.
b. Advokasi hak-hak reproduksi
Advokasi dimaksudkan agar mendapatkan dukungan komitmen dari
para tokoh politik,tokoh agama,tokoh masyarakat, LSM/LSOM dan
swasta. Dukungan swasta dan LSM sangat dibutuhkan karena ruang gerak
pemerintah lebih terbatas. Dukungan para tokoh sangat membantu
memperlancar terciptanya pemenuhan hak-hak reproduksi. LSM yang
memperjuangkan hak-hak reproduksi sangat penting artinya untuk
terwujudnya pemenuhan hak-hak reproduksi.
c. KIE hak-hak reproduksi
Dengan KIE diharapkan masyarakat semakin mengerti hak-hak
reproduksi sehingga dapat bersama-sama mewujudkannya.
d. Sistem pelayanan hak-hak reproduksi (Widyastuti Y, dkk, 2009:3-4).

84

2.5.8

Indikator Kesehatan Reproduksi di Indonesia


Terpenuhi atau tidaknya hak reproduksi digambarkan dalam derajat

kesehatan reproduksi masyarakat yang ditunjukkan oleh tujuh indikator :


1. Angka Kematian Ibu (AKI), makin tinggi AKI makin rendah derajat kesehatan
reproduksi.
2. Angka Kematian Bayi (AKB), makin tinggi AKB makin rendah derajat
kesehatan reproduksi.
3. Angka cakupan pelayanan keluarga berencana (KB) dan partisipasi laki-laki
dalam KB, makin rendah angka cakupan pelayanan KB (makin rendah derajat
kesehatan reproduksi).
4. Jumlah ibu hamil dengan 4 terlalu atau terlalu muda, terlalu tua, terlalu
banyak anak, dan terlalu dekat jarak antar kelahiran (makin tinggi jumlah ibu
hamil dengan 4 terlalu, makin rendah derajat kesehatan reproduksi)
5. Jumlah perempuan dan atau ibu hamil dengan masalah kesehatan, terutama
anemia dan kurang energi kronis (KEK) (makin tinggi jumlah anemia dan
KEK, makin rendah derajat kesehatan reproduksi)
6. Perlindungan bagi perempuan terhadap penularan penyakit menular seksual
(PMS) (makin rendah perlindungan bagi perempuan, makin rendah derajat
kesehatan reproduksi)
7. Pemahaman laki-laki terhadap upaya pencegahan dan penularan PMS (makin
rendah pemahaman PMS pada laki-laki, makin rendah derajat kesehatan
reproduksi)
(Yanti, 2011 : 24-25).

85

2.5.9

Komponen Kesehatan Reproduksi


Untuk menjalankan fungsi sehat reproduksi, diperlukan kesehatan yang

prima yang meliputi tiga aspek penting yaitu kemampuan (ability), keberhasilan
(success) dan keamanan proses (safety of processes). Ketiga komponen tersebut
dapat dijabarkan sebagai berikut:
1. Kemampuan (ability) alat reproduksi artinya dapat berfungsi baik untuk
hubungan seksual normal dan berproduksi artinya menjalani proses untuk
menjadi hamil.
2. Keberhasilan (successfulness) alat reproduksi artinya bahwa alat reproduksi itu
berhasil memberikan kesempatan tumbuh kembang hasil konsepsi, sampai
aterm.
3. Keamanan (safety) alat reproduksi artinya bahwa semua proses dari
kemampuan, keberhasilan dan diikuti kehamilan, persalinan, kala nifas, laktasi
dan kembalinya kekondisi normal dapat berlangsung dengan aman dan baik.
(Manuaba IBG, 2007: 85)
2.5.10 Masalah Kesehatan Reproduksi
1. Praktek tradisional yang berakibat buruk semasa anak-anak (seperti mutilasi,
genital, deskriminasi nilai anak, dsb).
2. Masalah kesehatan reproduksi remaja (kemungkinan besar dimulai sejak masa
kanak-kanak yang seringkali muncul dalam bentuk kehamilan remaja,
kekerasan/pelecehan seksual dan tindakan seksual yang tidak aman).
3. Tidak terpenuhinya kebutuhan ber-KB, biasanya terkait dengan isu aborsi
tidak aman.

86

4. Mortalitas dan morbiditas ibu dan anak (sebagai kesatuan) selama kehamilan,
persalinan dan masa nifas, yang diikuti dengan malnutrisi, anemia, berat bayi
lahir rendah.
5. Infeksi saluran reproduksi, yang berkaitan dengan penyakit menular seksual.
6. Kemandulan, yang berkaitan erat dengan infeksi saluran reproduksi dan
penyakit menular seksual.
7. Sindrom pre dan post menopause dan peningkatan resiko kanker organ
reproduksi.
8. Kekurangan hormon yang menyebabkan osteoporosis dan masalah ketuaan
lainnya (Yanti, 2011 : 11).
2.5.11 Dampak dari Masalah Kesehatan Reproduksi
Dampak dari masalah kesehatan reproduksi sangat luas menyangkut
berbagai aspek kehidupan dan menjadi parameter kemampuan negara dalam
menyelenggarakan pelayanan kesehatan masyarakat. Kesehatan alat reproduksi
sangat erat hubungannya dengan angka kematian ibu (AKI) dan angka kematian
anak (AKA) (Manuaba IBG, 2009: 7).
2.5.12 Upaya yang Dilakukan Untuk Mengatasi Masalah Kesehatan
Reproduksi
1. Menetapkan usia perkawinan yang baik diatas 20 tahun dan melarang
perkawinan pada umur < 20 tahun agar wanita terhindar dari resiko tingginya
angka kesakitan dan kematian saat hamil dan melahirkan.
2. Meningkatkan pendidikan pada wanita dengan sekolah yang tinggi.

87

3. Tidak terlalu memaksakan kehendak kepada anak. Orang tua diharapkan dapat
menjadi panutan yang baik bagi anaknya oleh karena itu orang tua diharapkan
tidak memaksakan kehendak pada anaknya, dimana akibat pemaksaan
kehendak dapat memperburuk kehidupan anaknya dimasa yang akan datang.
4. Memberi penyuluhan tentang resiko perkawinan usia muda.
5. Didirikannya pusat-pusat kesehatan untuk mendekatkan pelayanan terhadap
masyarakat.
6. Penyebaran Bidan di Desa untuk menggantikan peran dukun yang masih
dominan ditengah masyarakat, sehingga mendapatkan pelayanan yang
bermutu dan menyeluruh.
(Manuaba IBG, 2009: 7)

88

2.6 Kerangka Konseptual


Kerangka konseptual merupakan bagian penelitian yang menyajikan konsep
atau teori dalam bentuk kerangka konsep penelitian. Pembuatan kerangka konsep
ini mengacu pada masalah-masalah (bagian-bagian) yang akan diteliti atau
berhubungan dengan penelitian dan dibuat dalam bentuk diagram (Hidayat AAA,
2007 : 53).
Faktor yang mempengaruhi
peran orang tua:
1. Pengetahuan
2. Pendidikan
3. Pekerjaan
4. Umur
5. Sosial Ekonomi
6. Pengalaman
7.
Fungsi dan peran serta orang
tua:
1. Fungsi religius
2. Fungsi edukatif
3. Fungsi protektif
4. Fungsi sosialisasi
5. Fungsi ekonomis
Berperan

Keterangan

Faktor-faktor yang mempengaruhi pengetahuan:


1. Faktor internal
2. Faktor eksternal

Pengetahuan remaja putri usia 15-19 tahun


tentang kesehatan reproduksi:
1. Pengertian
2. Tujuan Kesehatan Reproduksi
3. Sasaran Kesehatan Reproduksi
4. Ruang Lingkup Kesehatan Reproduksi
5. Usia Reproduksi Sehat
6. Faktor-Faktor yang Mempengaruhi
Kesehatan Reproduksi
7. Hak-Hak Reproduksi
8. Indikator Kesehatan Reproduksi di Indonesia
9. Komponen Kesehatan Reproduksi
10. Masalah Kesehatan Reproduksi
Tidak
11. Dampak dari Masalah Kesehatan Reproduksi
berperan
12. Upaya yang Dilakukan Untuk Mengatasi
Masalah Kesehatan Reproduksi
13.
Baik
Cukup
Kurang
: Variabel yang diteliti
: Variabel yang tidak diteliti
: Berhubungan

Gambar 2.1 Kerangka konseptual hubungan antara peran serta orang tua dengan
pengetahuan remaja putri usia 15-19 tahun tentang kesehatan
reproduksi di Dusun Mojoroto Desa Mojosari Kecamatan Kalitidu
Kabupaten Bojonegoro 2013.

89

2.7 Hipotesis
Hipotesis merupakan jawaban sementara atas pertanyaan penelitian yang
telah dirumuskan (Hidayat AAA, 2007: 53).
Hipotesis didalam suatu penelitian berarti jawaban sementara penelitian,
patokan duga, atau dalil sementara, yang kebenarannya akan dibuktikan dalam
penelitian tersebut (Notoatmodjo S, 2005: 72).
H0:

Tidak ada hubungan antara peran serta orang tua dengan pengetahuan
remaja putri usia 15-19 tahun tentang kesehatan reproduksi di Dusun
Mojoroto Desa Mojosari Kecamatan Kalitidu Kabupaten Bojonegoro 2013.

90

BAB III
METODE PENELITIAN

Metode penelitian adalah suatu cara untuk memperoleh kebenaran ilmu


pengetahuan atau pemecahan suatu masalah, yang pada dasarnya menggunakan
metode ilmiah (Notoadmodjo S, 2010:19). Pada bab ini akan disajikan desain
penelitian, kerangka kerja (frame work), populasi, subyek penelitian, kriteria
sampel, identifikasi variabel, definisi operasional, prosedur pengumpulan data,
etika penelitian dan keterbatasan penelitian.
3.1

Desain Penelitian

Desain penelitian merupakan bentuk rancangan yang digunakan dalam


melakukan prosedur penelitian (Hidayat AAA, 2007:25)
Desain penelitian yang digunakan pada penelitian ini adalah desain penelitian
analitik yaitu penelitian yang mencoba menggali bagaimana dan mengapa
fenomena kesehatan itu terjadi. Kemudian melakukan analisis dinamika korelasi
antara fenomena, baik antara faktor resiko dengan faktor efek (Notoatmodjo S,
2005 : 145).
Pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah cross sectional
merupakan rancangan penelitian yang pengukuran atau pengamatannya dilakukan
secara simultan pada satu saat (sekali waktu) (Hidayat AAA, 2007: 26).
3.2

Lokasi dan Waktu Penelitian

Peneliti melakukan penelitian di Dusun Mojoroto Desa Mojosari Kecamatan


Kalitidu Kabupaten Bojonegoro pada bulan Mei-Juli 2013.

91

3.3

Kerangka Kerja

Kerangka kerja ini merupakan bagan kerja rancangan kegiatan penelitian yang
akan dilakukan. Kerangka kerja meliputi populasi, sampel, dan teknik sampling
penelitian, teknis pengumpulan data, dan analisis data (Hidayat AAA, 2007: 31).
Populasi : Seluruh remaja putri usia 15-19 tahun di Dusun Mojoroto Desa Mojosari
Kecamatan Kalitidu Kabupaten yaitu 54 orang.
Sampel : Remaja putri usia 15-19 tahun di Dusun Mojoroto Desa Mojosari
Kecamatan Kalitidu Kabupaten Bojonegoro yaitu 54 orang.
Sampling : teknik non-probability sampling yaitu total sampling

Variabel independent:
Peran serta orang tua

Variabel dependent:
Pengetahuan remaja putri usia 15-19
tahun tentang kesehatan reproduksi

Pengumpulan data dengan kuesioner


Pengolahan data dengan editing, coding, skoring dan tabulating
Analisa data dengan uji cross table
Penyajian hasil
Ada hubungan

Tidak ada hubungan

Gambar 3.1 Kerangka kerja hubungan antara peran serta orang tua dengan
pengetahuan remaja putri usia 15-19 tahun tentang kesehatan
reproduksi di Dusun Mojoroto Desa Mojosari Kecamatan Kalitidu
Kabupaten Bojonegoro tahun 2013.

92

3.4

Populasi, Sampel dan Sampling

3.4.1 Populasi

Populasi adalah seluruh subyek atau objek dengan karakteristik tertentu


yang akan diteliti. Bukan hanya objek atau subyek yang dipelajari saja tetapi
seluruh karakteristik atau sifat yang dimiliki subyek atau objek tertentu (Hidayat
AAA, 2007 : 32).
Pada penelitian ini populasinya adalah seluruh remaja putri usia 15-19 tahun
di Dusun Mojoroto Desa Mojosari Kecamatan Kalitidu Kabupaten Bojonegoro
tahun 2013 yaitu 54 orang.
3.4.2 Sampel

Sampel merupakan bagian populasi yang akan diteliti atau sebagian jumlah
dari karakteristik yang dimiliki oleh populasi (Hidayat AAA, 2007: 32).
Pada penelitian ini sampelnya adalah sebagian remaja putri usia 15-19 tahun
di Dusun Mojoroto Desa Mojosari Kecamatan Kalitidu Kabupaten Bojonegoro
tahun 2013 yaitu 54 orang.
3.4.3 Sampling

Sampling adalah proses menyeleksi porsi dari populasi untuk dapat


mewakili populasi. Teknik sampling merupakan suatu proses seleksi sampel yang
digunakan dalam penelitian dari populasi yang ada, sehingga jumlah sampel akan
mewakili keseluruhan populasi yang ada (Hidayat AAA, 2007:32).
Pada penelitian ini sampling yang digunakan adalah non-probability
sampling dengan total sampling, yaitu apabila populasi kurang dari 100, maka
ancer-ancer sampel diambil semua sehingga penelitianya merupakan penelitian
populasi (Arikunto S, 2006 : 134).

93

3.5

Identifikasi Variabel

Identifikasi variabel berisi penjelasan tentang variabel-variabel penelitian


yang diuraikan secara terperinci (Hidayat AAA, 2007: 56). Variabel dalam
penelitian ini ada dua yaitu variabel bebas (independent) dan variabel terikat
(dependent).
3.5.1 Variabel independent atau variabel bebas.

Variabel independent merupakan variabel yang mempengaruhi atau yang


menjadi sebab perubahannya atau timbulnya variabel dependen (terikat)
(Sugiyono, 2010: 4). Dalam penelitian ini variabel independentnya adalah peran
serta orang tua.
3.5.2 Variabel dependent atau variabel terikat.

Variabel dependent adalah merupakan variabel yang dipengaruhi atau


menjadi akibat karena variabel bebas (Hidayat AAA, 2007 : 86). Dalam penelitian
ini variabel dependentnya adalah pengetahuan remaja putri usia 15-19 tahun
tentang kesehatan reproduksi.

94

3.6

Definisi Operasional

Definisi operasional adalah mendefinisikan variabel secara operasional


berdasarkan karakteristik yang diamati, sehingga memungkinkan peneliti untuk
melakukan observasi atau pengukuran secara cermat terhadap suatu objek atau
fenomena (Hidayat AAA, 2007: 35).
Table 3.1 Definisi operasional hubungan antara peran serta orang tua dengan
pengetahuan remaja putri usia 15-19 tahun tentang kesehatan
reproduksi di Dusun Mojoroto Desa Mojosari Kecamatan Kalitidu
Kabupaten Bojonegoro tahun 2013.
Definisi
Operasional
Variabel
Hasil
independent: jawaban
responden
Peran serta
dari
orang tua
pertanyaan
tentang peran
serta orang
tua
Variabel

Indikator

Alat ukur

Fungsi dan peran serta


orang tua :
1. Fungsi religius
2. Fungsi edukatif
3. Fungsi protektif
4. Fungsi sosialisasi
5. Fungsi ekonomis

Kuesioner

Skala

Skor

Nominal Ya = 1
Tidak = 0
Dengan kategori :
1. Berperan, jika
dapat
menjawab ya
75-100%.
2. Tidak berperan,
jika dapat
menjawab ya
< 75%
Kode :
2 : Berperan
1 : Tidak berperan

Variabel
dependent:
Pengetahuan
remaja putri
usia 15-19
tahun
tentang
kesehatan
reproduksi

Hasil
jawaban
responden
dari
pertanyaan
tentang
pengetahuan
remaja putri
usia 15-19
tahun tentang
kesehatan
reproduksi

Pengetahuan remaja
putri usia 15-19 tahun
tentang kesehatan
reproduksi:
1. Pengertian
2. Tujuan kesehatan
reproduksi
3. Sasaran kesehatan
reproduksi
4. Ruang lingkup
kesehatan
reproduksi
5. Usia reproduksi
sehat

Kuesioner

Ordinal

Benar = 1
Salah = 0
Dengan kategori :
1. Pengetahuan
baik,jika dapat
menjawab
benar 76-100%
pertanyaan.
2. Pengetahuan
cukup,jika
dapat
menjawab
benar 56-75%
pertanyaan.

95

Variabel

Definisi
Operasional

Indikator

Alat ukur

6. Faktor-faktor yang
mempengaruhi
kesehatan
reproduksi
7. Hak-hak
reproduksi
8. Indikator
kesehatan
reproduksi di
indonesia
9. Komponen
kesehatan
reproduksi
10. Masalah kesehatan
reproduksi
11. Dampak dari
masalah kesehatan
reproduksi
12. Upaya yang
dilakukan untuk
mengatasi masalah
kesehatan
reproduksi

3.7

Skala

Skor
3. Pengetahuan
kurang,jika
dapat
menjawab
benar <55%
pertanyaan.
Kode :
3 : Baik
2 : Cukup
1 : Kurang

Pengumpulan Data dan Teknik Analisa Data

3.7.1 Pengumpulan Data

Pengumpulan data berisi penjelasan cara pengumpulan data terutama tentang


alat pengumpulan data, apakah menggunakan angket atau kuesioner, observasi,
wawancara, atau yang lain (Hidayat AAA, 2007: 57).
1. Proses Pengumpulan Data

Setelah mendapatkan izin dari Kepala BAKESBANGPOL dan LINMAS


Kabupaten Bojonegoro, Kepala Desa Mojosari, setelah mendapatkan izin dari
Kepala Desa kemudian proses pengumpulan data dimulai yaitu dengan

96

menyebarkan angket atau kuesioner dengan metode terpimpin kepada


responden yang sebelumnya peneliti telah mengadakan pendekatan dengan
mengedepankan masalah etika. Jika ada kesulitan dalam pengumpulan data,
peneliti memberikan penjelasan pada responden tentang tujuan dan manfaat
penelitian.
2. Instrumen Penelitian

Instrumen penelitian adalah alat-alat yang akan digunakan untuk


pengumpulan data (Notoadmodjo S, 2010:87). Dalam penelitian ini tehnik
pengumpulan data menggunakan variabel ganda yaitu peran serta orang tua
dan pengetahuan remaja dengan menggunakan kuesioner.
Kuesioner adalah suatu cara pengumpulan data atau suatu penelitian
mengenai suatu masalah yang umumnya banyak menyangkut kepentingan
umum (orang banyak). Angket ini dilakukan dengan mengedarkan suatu daftar
pertanyaan yang berupa formulir-formulir, diajukan secara tertulis kepada
sejumlah subyek untuk mendapatkan tanggapan, informasi, jawaban dan
sebagainya (Notoadmodjo S, 2010:147-148).
Lembar kuesioner yang disebarkan oleh peneliti menggunakan
pertanyaan tertutup (closed ended question) kepada responden yang mana
responden menjawab pertanyaan dengan memberi tanda () pada kolom yang
telah disediakan. Setelah selesai menjawab lembar kuesioner dikumpulkan
untuk dianalisa oleh peneliti.

97

3.7.2 Teknik Analisa Data


1. Editing

Tahapan ini dilakukan pada saat mengumpulkan data kuesioner dari


responden atau ketika memeriksa lembar observasi.
2. Coding

Setiap responden diberi kode sesuai dengan nomor urut. Pada variabel
independent peran serta orang tua, jika berperan diberi kode 2 dan jika tidak
berperan diberi kode 1. Untuk variabel dependent pengetahuan remaja putri
usia 15-19 tahun tentang kesehatan reproduksi, jika pengetahuan baik diberi
kode 3, jika pengetahuan cukup diberi kode 2, dan jika pengetahuan kurang
diberi kode 1.
3. Skoring

Setelah

data

kuesioner

terkumpul

dan

sudah

diisi

oleh

responden,kemudian diberi skor dan dikumpulkan sesuai dengan variabel


yang diteliti. Untuk variabel independent diberikan skor 1 jika jawaban ya,
diberikan skor 0 jika jawaban tidak. Untuk variabel dependent diberikan
skor 1 jika jawaban benar dan diberi skor 0 jika jawaban salah. Setelah
diperoleh data kemudian dilakukan penghitungan dengan menggunakan
rumus:
p

f
x 100%
n

Dimana : p : Prosentase
n : Jumlah seluruh observasi.
f : Frekeunsi
(Budiarto E, 2002 : 37).
Interpretasi data peran serta orang tua adalah sebagai berikut :

98

a. 75-100 % : Berperan
b. <75%

: Tidak berperan

Interpretasi data pengetahuan adalah sebagai berikut :


c. 76-100 % : Pengetahuan baik
d. 56-75 %

: Pengetahuan cukup

e. <56%

: Pengetahuan kurang

(Nursalam, 2011: 120)

Dari pengolahan data hasil penelitian yang telah dilaksanakan, data


kemudian dimasukkan dalam tabel distribusi yang dikonfirmasi dalam bentuk
prosentase dan narasi, kemudian dilakukan tabulasi silang untuk mengetahui
hubungan variabel independent dengan variabel dependent.
4. Tabulating

Teknik pengolahan dan analisa data pada penelitian ini adalah data yang
sudah terkumpul ditabulasi dan diprosentasekan dalam tabel distribusi
frekuensi. Dari pengolahan data hasil penelitian yang telah dilaksanakan, data
kemudian dimasukkan dalam tabel distribusi yang dikonfirmasi dalam bentuk
prosentase dan narasi, kemudian dilakukan tabulasi silang untuk mengetahui
hubungan variabel independent dengan variabel dependent.
Intepretasi data sebagai berikut (Nursalam, 2011 : 130) :
a. 90%-100%

: Mayoritas

b. 70%-89%

: Sebagian besar

c. 51%-69%

: Lebih dari sebagian

d. 50%

: Sebagian

e. < 50%

: Kurang dari sebagian

99

Data yang telah terkumpul diperiksa ulang dengan tujuan untuk


mengetahui kelengkapan dan kebenarannya, kemudian ditabulasi dan
diprosentasekan dalam tabel distribusi frekuensi. Dari pengolahan data
kemudian dilakukan analisa data. Analisa data merupakan bagian yang sangat
penting untuk mencapai tujuan dimana tujuan pokok penelitian adalah
menjawab pertanyaan-pertanyaan penelitian dalam mengungkapkan fenomena
(Nursalam, 2008 : 119). Untuk mengetahui hubungan antara dua variabel
didalam penerapan analisa deskriptif digunakan tabel silang (crosstable) antara
variabel peran serta orang tua (variabel x) dan variabel pengetahuan remaja putri
usia 15-19 tahun tentang kesehatan reproduksi (variabel y). Analisis dengan
menggunakan tabel silang merupakan metode analisis yang paling sederhana
tetapi memiliki kemampuan yang kuat untuk menjelaskan hubungan antar
variabel (Suyanto, 2008: 102).
3.8

Etika Penelitian

Dalam pelaksanaan penelitian harus mendapatkan persetujuan kemudian


peneliti melakukan penelitian dengan menekankan pada masalah etika yang
meliputi:
3.8.1 Lembar Persetujuan (Informed Consent)

Lembar persetujuan diberikan pada responden, tujuan adalah subyek


mengetahui maksud dan tujuan peneliti serta dampak yang diteliti selama
pengumpulan data, jika responden tidak bersedia diteliti tidak akan memaksa dan
tetap menghormati haknya.

100

3.8.2 Anonimity atau tanpa nama

Untuk menjaga kerahasiaan identitas subyek, peneliti tidak akan


mencantumkan nama subyek lembar pengumpulan data (lembar kuesioner) yang
disi oleh subyek lembar tersebut hanya diberi nomer kode tertentu.
3.8.3 Confidentiatity atau kerahasiaan

Subyek mempunyai hak untuk meminta bahwa data yang diberikan harus
dirahasiakan untuk itu perlu adanya annonimity (tanpa nama) dan confidentiality
(rahasia).

3.9 Keterbatasan (Limitasi)


Limitasi adalah keterbatasan dalam suatu penelitian dan mungkin
mengurangi kesimpulan secara umum (Nursalam, 2003:45). Peneliti menyadari
penelitian ini masih jauh dari sempurna dan masih ada beberapa kekurangan,
ini disebabkan karena :
3.9.1

Keterbatasan desain, karena desain yang digunakan adalah cross sectional


sehingga responden diobservasi hanya sekali saja dan hasilnya kurang
akurat.

3.9.2

Pengumpulan data dengan kuesioner memiliki jawaban lebih dipengaruhi


sikap dan harapan-harapan yang bersifat subjektif, sehingga hasilnya
kurang bisa mewakili secara kualitatif.

3.9.3

Instrumen penelitian data dirancang oleh peneliti sendiri tanpa melakukan


uji coba oleh karena validitas dan reliabilitasnya masih kurang.

101

BAB IV
HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

Pada bab ini akan dibahas hasil penelitian dan pembahasan meliputi
gambaran umum lokasi penelitian, data umum mengenai karakteristik
responden berdasarkan pendidikan dan pengalaman. Data khusus mengenai
hubungan antara peran serta orang tua dengan pengetahuan remaja putri
usia 15-19 tahun tentang kesehatan reproduksi di Dusun Mojoroto Desa
Mojosari Kecamatan Kalitidu Kabupaten Bojonegoro tahun 2013.
4.1 Hasil Penelitian
4.1.1

Gambaran lokasi penelitian


Dusun Mojoroto Desa Mojosari Kecamatan

Kalitidu Kabupaten

Bojonegoro merupakan desa yang mempunyai batas wilayah sebelah Barat


berbatasan dengan Desa Mayangrejo Kecamatan Kalitidu, sebelah Utara Desa
Kandangan Kecamatan Trucuk, sebelah Selatan Desa Wadang Kecamatan
Ngasem, sebelah Timur dengan Desa Pungpungan Kecamatan Kalitidu. Luas
wilayah 2.900 Ha. Jumlah penduduknya 2.807 jiwa dengan laki-laki 1.392 orang
dan perempuan 1.415 orang yang terdiri dari 2 dusun, Dusun Mojoroto dan Dusun
Mojosari, terbagi atas 4 RW dan 22 RT.

102

4.1.2

Data umum

1. Karakteristik pendidikan responden


79.63%

SM P
SM A

20.37%

Pendidikan

Sumber : Data primer pengisian kuesioner bulan Juni 2013.


Gambar 4.1 Diagram

pie

karakteristik

pendidikan

responden di Dusun Mojoroto Desa Mojosari Kecamatan


Kalitidu Kabupaten Bojonegoro tahun 2013.
Pada gambar 4.1 dari 54 responden didapatkan sebagian besar
berpendidikan SMA yaitu sebanyak 43 orang (79,63%).
2. Karakteristik pengalaman
a. Berdasarkan pendidikan tentang kesehatan reproduksi
100%

Pernah

Pendidikan tentang kese hatan re produksi

Sumber : Data primer pengisian kuesioner bulan Juni 2013.


Gambar 4.2

Diagram

pie

karakteristik

pengalaman responden berdasarkan pendidikan tentang

103

kesehatan reproduksi di Dusun Mojoroto Desa Mojosari


Kecamatan Kalitidu Kabupaten Bojonegoro tahun 2013.

Pada gambar 4.3 dari 54 responden didapatkan mayoritas pernah


mendapat pendidikan tentang kesehatan reproduksi yaitu sebanyak 54
orang (100%).
b. Berdasarkan informasi tentang kesehatan reproduksi dari media (internet,
televisi, radio atau koran)

92.59%

Pernah
7.41%

Tidak pernah

Informasi tentang kesehatan reproduksi dari


media (internet, televisi, radio atau koran)

Sumber : Data primer pengisian kuesioner bulan Juni 2013.


Gambar 4.3
pengalaman

Diagram

responden

berdasarkan

pie

karakteristik

informasi

tentang

kesehatan reproduksi dari media (internet, televisi, radio atau


koran) di Dusun Mojoroto Desa Mojosari Kecamatan
Kalitidu Kabupaten Bojonegoro tahun 2013.
Pada gambar 4.3 dari 54 responden didapatkan mayoritas pernah
mendapat informasi tentang kesehatan reproduksi dari media (internet,
televisi, radio atau koran) yaitu sebanyak 50 orang (92,59%).

104

c. Berdasarkan penyuluhan tentang kesehatan reproduksi dari petugas


pelayanan kesehatan

72.22%

Pernah
Tidak pernah
27.78%

Penyuluhan tentang kesehatan reproduksi dari


petugas pelayanan kesehatan

Sumber : Data primer pengisian kuesioner bulan Juni 2013.


Gambar 4.4

Diagram

pie

karakteristik

pengalaman responden berdasarkan penyuluhan tentang


kesehatan reproduksi dari petugas pelayanan kesehatan di
Dusun Mojoroto

Desa

Mojosari Kecamatan

Kalitidu

Kabupaten Bojonegoro tahun 2013.


Pada gambar 4.4 dari 54 responden didapatkan sebagian besar pernah
mendapat penyuluhan tentang kesehatan reproduksi dari petugas
pelayanan kesehatan yaitu sebanyak 39 orang (72,22%).
4.1.3

Data khusus

1. Peran serta orang tua


Tabel 4.1
No
1
2

Peran serta orang tua di Dusun Mojoroto Desa Mojosari


Kecamatan Kalitidu Kabupaten Bojonegoro tahun 2013.

Peran serta orang tua


Jumlah
Prosentase (%)
Berperan
30
55,56
Tidak berperan
24
44,44
Total
54
100,00
Sumber : Data primer pengisian kuesioner bulan Juni 2013.

105

Berdasarkan Tabel 4.1 di atas diketahui bahwa dari 54 responden, lebih


dari sebagian orang tua berperan yaitu sebanyak 30 (55,56%).

106

2. Pengetahuan remaja putri usia 15-19 tahun tentang kesehatan reproduksi


Tabel 4.2

No
1
2
3

Pengetahuan remaja putri usia 15-19 tahun tentang kesehatan


reproduksi di Dusun Mojoroto Desa Mojosari Kecamatan Kalitidu
Kabupaten Bojonegoro tahun 2013.
Pengetahuan

Baik
Cukup
Kurang

Jumlah
20
24
10

Prosentase (%)
37,04
44,44
18,52

Total
54
Sumber : Data primer pengisian kuesioner bulan Juni 2013.

100,00

Berdasarkan Tabel 4.2 diketahui bahwa dari 54 responden, kurang dari


sebagian memiliki pengetahuan cukup yaitu sebanyak 24 responden (44,44%).
3. Tabulasi silang antara peran serta orang tua dengan pengetahuan remaja putri
usia 15-19 tahun tentang kesehatan reproduksi.
Tabel 4.3

Tabulasi silang antara peran serta orang tua dengan pengetahuan


remaja putri usia 15-19 tahun tentang kesehatan reproduksi di
Dusun Mojoroto Desa Mojosari Kecamatan Kalitidu Kabupaten
Bojonegoro

Pengetahuan remaja putri


No
Kurang
Cukup
Baik
f
%
f
%
f
%
1 Tidak berperan
10 41,67
14 58,33
0
0,00
2 Berperan
0
0,00
10 33,33
20 66,67
Jumlah
10 18,52
24 44,44
20 37,04
Sumber : Data primer pengisian kuesioner bulan Juni 2013.
Peran serta
orang tua

Jumlah
f

24 100,00
30 100,00
54 100,00

Dari tabel 4.3 dapat diketahui bahwa lebih dari sebagian responden yang
orang tuanya berperan memiliki pengetahuan baik yaitu 20 orang (66,67%),
sedangkan kurang dari sebagian responden yang orang tuanya tidak berperan
memiliki pengetahuan kurang yaitu 10 orang (41,67%).

107

4.2 Pembahasan
4.2.1

Peran serta orang tua


Berdasarkan Tabel 4.1 dapat diketahui bahwa dari 54 responden, sebagian

besar orang tua berperan yaitu sebanyak 30 (55,56%).


Peranan (role) merupakan dinamis kedudukan (status). Apabila seseorang
melaksanakan hak dan kewajiban sesuai dengan kedudukannya maka dia
menjalankan suatu peranan (Widyastuti Y dkk, 2009:91). Peran serta adalah pola
sikap, perilaku, nilai dan tujuan yang diharapkan dari seseorang berdasarkan
posisinya di masyarakat (Nursalam dan Siti Pariani, 2001: 128). Faktor yang
mempengaruhi peran orang tua antara lain pendidikan, pekerjaan dan umur. Pada
umumnya semakin tinggi tingkat pendidikan seseorang, maka semakin tinggi pula
tingkat pengetahuan. Dan pendidikan itu sendiri adalah bimbingan yang diberikan
oleh seseorang terhadap perkembangan orang lain menuju ke arah suatu cita-cita
tertentu (Nursalam, 2008 : 132-133). Pekerjaan adalah kebutuhan yang harus
dilakukan untuk menunjang kehidupan keluarganya (Nursalam, 2008 : 33). Usia
adalah umur individu yang terhitung mulai saat dilahirkan sampai saat berulang
tahun. Semakin cukup umur, tingkat pematangan dan kekuatan seseorang akan
lebih matang dalam berfikir dan bekerja (Nursalam, 2008 : 134).
Pendapat tersebut diatas sesuai dengan kejadian di Dusun Mojoroto Desa
Mojosari Kecamatan Kalitidu Kabupaten Bojonegoro bahwa sebagian besar orang
tuanya berperan. Hal ini sesuai dengan hasil kuesioner bahwa orang tua
mempunyai peran yang baik dalam berbagai fungsi di antaranya fungsi religius
dimana orang tua melarang responden untuk tidak melakukan seks sebelum nikah,

108

menyuruh untuk mencukur rambut pubis setiap 40 hari sekali, menyuruh untuk
setiap buang air kecil atau buang air besar harus duduk, mengharamkan untuk
shalat dan puasa saat menstruasi. Fungsi edukatif di antaranya memberikan
pendidikan tentang cara buang air kecil yang benar, memberikan pendidikan
tentang cara cebok yang benar, memberikan pendidikan tentang menstruasi,
memberikan pendidikan tentang cara menjaga agar alat genetalia tidak lembab.
Fungsi protektif di antaranya melarang untuk berpacaran. Fungsi sosialisasi di
antaranya melarang untuk bergaul dengan pria yang peroko aktif, melarang untuk
tidak melihat film porno, menyarankan untuk bersosialisasi dengan masyarakat.
Remaja tersebut sudah tahu mana yang perlu mereka lakukan tentang kesehatan
reproduksi. Remaja yang menerima informasi tentang kesehatan reproduksi dari
orang tuanya merupakan hal yang tidak tabu lagi atau tidak porno karena remaja
sudah menginjak masa dewasa dan mereka perlu mendapatkan informasi tersebut
dari orang tuanya. Responden akan melaksanakan apa yang sudah mereka terima
tentang informasi kesehatan reproduksi.
4.2.2

Pengetahuan remaja putri usia 15-19 tahun tentang kesehatan


reproduksi
Berdasarkan Tabel 4.2 diketahui bahwa dari 54 responden, kurang dari

sebagian memiliki pengetahuan cukup yaitu sebanyak 24 responden (44,44%).


Pengetahuan (knowledge) merupakan hasil dari tahu dan ini terjadi setelah
orang melakukan penginderaan terhadap suatu obyek tertentu. Penginderaan
terjadi melalui panca indra manusia, yakni indra penglihatan, pendengaran,
penciuman, rasa dan raba, sebagian besar pengetahuan manusia diperoleh melalui

109

mata dan telinga (Notoatmodjo, 2010 : 121). Pengetahuan adalah hasil


penginderaan manusia atau hasil tahu seseorang terhadap obyek melalui indera
yang dimilikinya (mata, hidung, telinga dan sebagainya). Sebagian besar
pengetahuan seseorang diperoleh melalui indera dan pendengaran (telinga) dan
indera penglihatan (mata). Pengetahuan seseorang terhadap obyek mempunyai
intensitas atau tingkat yang berbeda-beda (Notoatmodjo, 2010 : 50). Faktor-faktor
yang mempengaruhi tingkat pengetahuan diantaranya adalah pendidikan dan
pengalaman. Pendidikan diperlukan untuk mendapat informasi misalnya hal-hal
yang menunjang kesehatan sehingga dapat meningkatkan kualitas hidup. Menurut
YB Mantra yang dikutip Notoatmodjo (2003), pendidikan dapat mempengaruhi
seseorang termasuk juga perilaku seseorang akan pola hidup terutama dalam
memotivasi untuk sikap berperan serta dalam pembangunan pada umumnya
makin tinggi pendidikan seseorang makin mudah menerima informasi. Jika
pendidikan rendah, maka pengetahuan tentang hidup sehat, kebersihan pribadi,
kebersihan lingkungan, makanan yang bergizi, cenderung kurang terutama
kemampuan hidup sehat untuk dirinya sendiri. Berdasarkan pernyataan tersebut
dapat disimpulkan bahwa pendidikan yang rendah cenderung mempunyai
pengetahuan yang rendah pula. Selain itu pengalaman merupakan sumber
pengetahuan, atau suatu cara untuk memperoleh kebenaran pengetahuan. Oleh
sebab itu pengalaman pribadi dapat digunakan sebagai upaya memperoleh
pengetahuan. Caranya dengan mengulang kembali pengalaman yang diperoleh
dalam memecahkan permasalahan yang dihadapi pada masa lalu, semakin banyak
pengalaman yang diperoleh semakin banyak pula pengetahuan (Notoatmodjo S,

110

2005 : 13). Pengalaman dapat diperoleh melalui berbagai penyuluhan. Penyuluhan


kesehatan banyak disebarkan melalui poster, media cetak dan media elektronik.
Informasi yang diperoleh dari berbagai sumber akan mempengaruhi tingkat
pengetahuan seseorang. Bila seseorang banyak memperoleh informasi maka ia
cenderung mempunyai pengetahuan yang luas (Effendy N, 200: 232).
Dalam penelitian ini respondennya berpengetahuan cukup tentang kesehatan
reproduksi, hal ini disebabkan responden berpendidikan menengah. Pada
umumnya makin tinggi pendidikan seseorang makin mudah menerima informasi.
Jika pendidikan rendah, maka pengetahuan tentang hidup sehat, kebersihan
pribadi, kebersihan lingkungan, makanan yang bergizi, cenderung kurang
terutama kemampuan hidup sehat untuk dirinya sendiri. Berdasarkan pernyataan
tersebut dapat disimpulkan bahwa pendidikan yang rendah cenderung mempunyai
pengetahuan yang rendah pula. Dengan responden berpendidikan menengah maka
pengetahuannya masih kurang, serta pengetahuan responden tentang kesehatan
reproduksi di sini masih banyak yang mencari informasi dari berbagai media.
Sebagian besar responden pernah mendapat informasi dari media (internet,
televisi, radio atau koran), penyuluhan dari petugas pelayanan kesehatan, dan
pendidikan tentang kesehatan reproduksi. Dengan hal ini responden memiliki
pengalaman yang tidak hanya dari pengalamannya sendiri. Pengalaman yang
banyak menyebabkan responden memahami tentang kesehatan reproduksi.
4.2.3

Hubungan antara peran serta orang tua dengan pengetahuan remaja


putri usia 15-19 tahun tentang kesehatan reproduksi
Bahwa lebih dari sebagian responden yang orang tuanya berperan memiliki

pengetahuan baik yaitu 20 orang (66,67%), sedang kurang dari sebagian

111

responden yang orang tuanya tidak berperan memiliki pengetahuan kurang yaitu
10 orang (41,67%).
Menurut Miami yang dikutip oleh Kartini Kartono, dikemukakan Orang tua
adalah pria dan wanita yang terikat dalam perkawinan dan siap sedia untuk
memikul tanggung jawab sebagai ayah dan ibu dari anak-anak yang
dilahirkannya (http://zaldym.wordpress.com, 2010). Peran serta adalah pola sikap,
perilaku, nilai dan tujuan yang diharapkan dari seseorang berdasarkan posisinya di
masyarakat (Nursalam dan Siti Pariani, 2001 : 128). Orang tua harus menjadi orang
yang terdekat dengan anak. Apabila orang tua dekat dengan anak, maka otomatis
mereka dapat melihat kemungkinan kesulitan yang dialami anak. Dalam hal ini
orang tua harus mampu menjadi konsultan bagi anak. Apabila anak mendapat
kesulitan orang tua dapat membantu dengan mencarikan alternatif jalan keluar,
tapi jalan keluar itu tidak harus mutlak diikuti anak. Anak harus dapat memilih
jalan keluar yang sesuai atau yang dianggapnya terbaik baginya. Orang tua tidak
boleh memaksakan jalan keluar yang disodorkannya. Berilah kebebasan pada
anak itu untuk memilih yang dinilai baik dan cocok bagi dirinya. Jadi peran orang
tua disini hanya memberi saran bukan yang menentukan keputusan. Namun harus
tahu batas haknya sebagai penanggung jawab (Ronald, 2006: 17-18). Menurut
Ann Mariner yang dikutip Nursalam, lingkungan merupakan seluruh kondisi yang
ada disekitar manusia dan pengaruhnya yang dapat mempengaruhi perkembangan
dan perilaku orang atau kelompok (Wawan dan Dewi, 2011: 18).
Hasil penelitian ini sesuai dengan teori diatas dimana orang tua memiliki
peran yang baik untuk memberikan informasi kepada anak remajanya tentang
masalah kesehatan reproduksi sehingga remaja bisa mengaplikasikan informasi

112

tersebut dalam kehidupan sehari-hari. Dengan keadaan seperti ini, orang tua
mempunyai peranan baik kepada responden, sehingga responden memiliki
pengetahuan yang baik pula. Orang tua

mempunyai peran yang baik dalam

berbagai fungsi di antaranya fungsi religius dimana orang tua melarang responden
untuk tidak melakukan seks sebelum nikah, menyuruh untuk mencukur rambut
pubis setiap 40 hari sekali, menyuruh untuk setiap buang air kecil atau buang air
besar harus duduk, mengharamkan untuk shalat dan puasa saat menstruasi. Fungsi
edukatif di antaranya memberikan pendidikan tentang cara buang air kecil yang
benar, memberikan pendidikan tentang cara cebok yang benar, memberikan
pendidikan tentang menstruasi, memberikan pendidikan tentang cara menjaga
agar alat genetalia tidak lembab. Fungsi protektif di antaranya melarang untuk
berpacaran. Fungsi sosialisasi di antaranya melarang untuk bergaul dengan pria
yang peroko aktif, melarang untuk tidak melihat film porno, menyarankan untuk
bersosialisasi dengan masyarakat.
tuanya

untuk

mengikuti

Remaja diberikan kesempatan oleh orang

kegiatan

positif

seperti

mengikuti

kegiatan

kemasyarakatan dalam organisasi kepermudaan seperti karang taruna, pengajian


remaja, dan lain-lain. Remaja yang mendapatkan informasi tentang kesehatan
reproduksi dari orang tuanya maupun dari media lain maka akan memperluas
cakrawala

berpikir.

Dengan

responden

berpendidikan

menengah

maka

pengetahuannya masih kurang, serta pengetahuan responden tentang kesehatan


reproduksi di sini masih banyak yang mencari informasi dari berbagai media.
Sebagian besar responden pernah mendapat informasi dari media (internet,
televisi, radio atau koran), penyuluhan dari petugas pelayanan kesehatan, dan

113

pendidikan tentang kesehatan reproduksi. Dengan hal ini responden memiliki


pengalaman yang tidak hanya dari pengalamannya sendiri. Pengalaman yang
banyak menyebabkan responden memahami tentang kesehatan reproduksi.

BAB V
SIMPULAN DAN SARAN
Pada bab ini akan diuraikan tentang simpulan dan saran dari hasil
penelitian yang telah dilakukan dengan dengan judul Hubungan antara Peran
Serta Orang Tua dengan Pengetahuan Remaja Putri Usia 15-19 Tahun tentang
Kesehatan Reproduksi di Dusun Mojoroto Desa Mojosari Kecamatan Kalitidu
Kabupaten Bojonegoro Tahun 2013.
5.1 Simpulan
Dari hasil penelitian yang didapatkan, maka dapat diambil kesimpulan
penelitian yaitu :
1. Sebagian besar orang tua responden di Dusun Mojoroto Desa
Mojosari Kecamatan Kalitidu Kabupaten Bojonegoro Tahun
2013 berperan.
2. Kurang dari sebagian responden di Dusun Mojoroto Desa
Mojosari Kecamatan Kalitidu Kabupaten Bojonegoro Tahun
2013

memiliki

reproduksi.
3. Ada hubungan
pengetahuan

pengetahuan
antara

remaja

cukup

peran
putri

serta

usia

tentang
orang

15-19

kesehatan

tua

dengan

tahun

tentang

kesehatan reproduksi di Dusun Mojoroto Desa Mojosari


Kecamatan Kalitidu Kabupaten Bojonegoro Tahun 2013.

114

115

5.2 Saran
Berdasarkan dari kesimpulan hasil penelitian di atas maka penulis dapat
memberi saran-saran yang bermanfaat antara lain sebagai berikut :
1. Bagi Peneliti Selanjutnya
Bagi peneliti selanjutnya dapat menjadikan Karya Tulis ini sebagai
bahan

untuk

penelitian

selanjutnya,

terutama

tentang

faktor

yang

mempengaruhi kesehatan remaja putri, sehingga kekurangan yang ada dapat


disempurnakan pada penelitian selanjutnya.
2. Bagi Institusi Pendidikan
Penelitian ini hendaknya dapat digunakan sebagai bahan pertimbangan
untuk penelitian-penelitian yang berikutnya sehingga dapat memperoleh hasil
yang lebih baik.
3. Bagi Responden
Diharapkan bagi responden bisa mengetahui dan memahami tentang kesehatan
reproduksi bagi anak remaja sehingga responden mau berperan serta dalam
meningkatkan pengetahuan anak remajanya tentang kesehatan reproduksi.
4. Bagi Bidan/Tenaga Kesehatan
Bidan

hendaknya

mampu

untuk memotivasi

dan membekali

pengetahuan pada orang tua dalam menanamkan perilaku reproduksi remaja


yang sehat serta hendaknya dapat mengembangkan mutu pelayanan dalam
memberikan asuhan kebidanan yang lebih baik.