Anda di halaman 1dari 25

Hipertensi Krisis

ERLINDA KRIDA RISTANTI

Definisi
Krisis hipertensi yang ditandai dengan peningkatan

akut tekanan darah sistolik > 180/120 mmHg.

Klasifikasi Hipertensi Krisis


1. Hipertensi emergensi (darurat) ditandai dengan

TD Diastolik > 120 mmHg, kerusakan berat dari


organ sasaran yang disebabkan oleh satu atau lebih
penyakit/kondisi akut . Keterlambatan pengobatan
menyebabkan timbulnya sequele atau kematian. TD
harus diturunkan sampai batas tertentu dalam satu
sampai beberapa jam. Penderita perlu dirawat di
ruangan (ICU).

2. Hipertensi urgensi (mendesak), TD diastolik >

120 mmHg dan dengan tanpa kerusakan/komplikasi


minimum dari organ sasaran. TD harus diturunkan
dalam 24 jam sampai batas yang aman memerlukan
terapi parenteral.

Epidemiologi
Secara global, angka kejadian hipertensi

primer yang mengalami progresi menjadi krisis


hipertensi hanya kurang dari 1%. Rendahnya
angka yang tampaknya disebabkan oleh
makin terjangkaunya terapi hipertensi
sebaiknya tidak membuat kita puas sebab
semua hipertensi memiliki potensi untuk
berkembang menjadi krisis hipertensi .

Patofisiologi
Ada 2 teori yang dianggap dapat menerangkan

timbulnya hipertensi ensefalopati yaitu :


1. Teori Over Autoregulation
Dengan kenaikan TD menyebabkan spasme yang
berat pada arteriole mengurangi aliran darah ke otak
dan iskemi. Meningginya permeabilitas kapiler akan
menyebabkan pecahnya dinding kapiler, edema di
otak, petekhie, pendarahan dan mikro infark.

2. Teori Breakthrough of Cerebral Autoregulation

bila TD mencapai threshold tertentu dapat


mengakibtakan transudasi, mikoinfark dan oedema
otak, petekhie, hemorhages, fibrinoid dari arteriole.

Diagnosis
Harus ditegakkan sedini mungkin karena hasil

terapi tergantung kepada tindakan yang cepat dan


tepat. Tidak perlu menunggu hasil pemeriksaan yang
menyeluruh walaupun dengan data-data yang
minimal kita sudah dapat mendiagnosa suatu krisis
hipertensi.

Anamnesa

Riwayat hipertensi : lama dan beratnya.


Obat anti hipertensi yang digunakan dan

kepatuhannya.
Usia : sering pada usia 40 60 tahun.
Gejala sistem syaraf ( sakit kepala, hoyong,
perubahan mental, ansietas ).

Gejala sistem ginjal ( gross hematuri, jumlah urine

berkurang ).
Gejala sistem kardiovascular ( adanya payah
jantung, kongestif dan oedem paru, nyeri dada ).
Riwayat penyakit : glomerulonefrosis, pyelonefritis.
Riwayat kehamilan : tanda eklampsi.

Pemeriksaan Fisik

1.pengukuran TD ( baring dan berdiri )


2. mencari kerusakan organ sasaran ( retinopati,
gangguan neurologi, payah jantung kongestif,
altadiseksi ).
3. Perlu dibedakan komplikasi krisis hipertensi dengan
kegawatan neurologi ataupun payah jantung,
kongestif dan edemaparu.
4.Perlu dicari penyakit penyerta lain seperti penyakit
jantung koroner.

Pemeriksaan Penunjang
Melalui 2 cara :

1. Pemeriksaan yang segera seperti :


a. darah : rutin, BUN, creatirine, elektrolik, KGD.
b. urine : Urinelisa dan kultur urine.
c. EKG : 12 Lead, melihat tanda iskemi.
d. Foto dada : apakah ada oedema paru ( dapat
ditunggu setelah pengobatan terlaksana ).

2. Pemeriksaan lanjutan ( tergantung dari keadaan


klinis dan hasil pemeriksaan yang pertama ) :
a. sangkaan kelainan renal : IVP, Renald
angiography ( kasus tertentu ), biopsi renald ( kasus
tertentu ).
b. menyingkirkan kemungkinan tindakan bedah
neurologi : Spinal tab, CAT Scan.
c. Bila disangsikan Feokhromositoma : urine 24 jam
untuk Katekholamine, metamefrin, venumandelic
Acid ( VMA ).

Diagnosis Banding
Hipertensi berat
Emergensi neurologi yang dapat dikoreksi dengan

pembedahan.
Ansietas dengan hipertensi labil.
Edema paru dengan payah jantung kiri.

Penatalaksanaan
a. Pasien dgn HT >180/110 mmHg, keputusan operasi
harus mempertimbangkan keuntungan
dari optimalisasi efek obat antihipertensi.
Obat antihipertensi intravena
dapat mengendalikan tekanan darah dalam
kurun waktu beberapa jam.

b. tekanan darah sistolik 110-130 mmHg, dapat


menjalani operasi walaupun mengalami peningkatan
tekanan darah pada hari pembedahan.
c. Hipertensi emergensi penggunaan obat
parenteral (mengatasi dampak HT thd kerusakan
organ sasaran).
d. HT yang berkaitan dgn gagal jantung, hipertensi
esensial, dan pencegahan perburukan fungsi ginjal
pada pasien dengan nefropati Enalaprilat (ACE
inhibitor) injeksi IV.

e. HT pasca operasi berat, pasien yang memiliki curah


jantung, denyut jantung dan TD meningkat
Esmolol (reseptor -adrenergik kardioselektif) IV.
f. Pasien HT kehamilan Labetalol (kombinasi
senyawa penghambat reseptor 1-adrenergik secara
selektif dan reseptor -adrenergik secara
nonselektif.)bolus IV.
g. Pasien risiko disfungsi ginjal Fenoldopam (agonis
reseptor dopamin-1 IV

Penanggulanagn HT Emergensi
TD segera diturunkan.
Rawat di ICU pasang femoral intraarterial line dan

pulmonari arterial catether (bila ada indikasi ). Untuk


menentukan fungsi kordiopulmonair dan status
volume intravaskuler.
Anamnese singkat dan pemeriksaan fisik.
- tentukan penyebab krisis hipertensi
- singkirkan penyakit lain yang menyerupai krisis HT
- tentukan adanya kerusakan organ sasaran

Tentukan TD yang didasari dari lamanya tingginya

TD sebelumnya, cepatnya kenaikan dan keparahan


hipertensi, masalah klinis yang menyertai dan usia
pasien.
Penurunan TD diastolik tidak kurang 100 mmHg,

TD sistolik tidak kurang 160 mmHg, ataupun MAP


tidak kurang 120 mmHg selama 48 jam pertama,
kecuali pada krisis hipertensi tertentu ( misal :
disecting aortic aneurysm ). Penurunan TD tidak
lebih dari 25% dari MAP ataupun TD yang didapat.

Penurunan TD secara akut ke TD normal /

subnormal pada awal pengobatan dapat


menyebabkan berkurangnya perfusi ke otak, jantung
dan ginjal dan hal ini harus dihindari pada beberapa
hari permulaan, kecuali pada keadaan tertentu,
misal : dissecting anneurysma aorta.
TD secara bertahap diusahakan mencapai normal

dalam satu atau dua minggu.

Obat :

1. Hipertensi ensenpalopati : Anjuran : Sodium


nitroprusside, Labetalol, diazoxide.
Hindarkan : B-antagonist, Methyidopa, Clonidine.
2. Cerebral infark : Anjuran : Sodium nitropsside, Labetalol,
Hindarkan : B-antagonist, Methydopa, Clonidine.
3. Perdarahan intacerebral, perdarahan subarakhnoid :
Anjuran : Sodiun nitroprusside Labetalol,.
Hindarkan : B-antagonist, Methydopa, Clonodine.
4. Miokard iskemi, miokrad infark :
Anjuran : Nitroglycerine, Labetalol, Caantagonist, Sodium
Nitroprusside dan loopdiuretuk.

5. Dedem paru akut : Anjuran : Sodium


nitroroprusside dan loopdiuretik.
Hindarkan : Hydralacine, Diazoxide, B-antagonist,
Labetalol.
6. Eklampsi : anjuran : Hydralazine, Diazoxxide,
labetalol,cantagonist, sodium nitroprusside.
Hindarkan: Trimethaphan, Diuretik, B-antagonist
7.Renal insufisiensi akut : anjuran : Sodium
nitroprusside, labetalol, Ca-antagonist
Hindarkan : B- antagonist, Trimethaphan.

Nicardipine suatu calsium channel antagonist

merupakan obat baru yang diperukan secara


intravena, telah diteliti untuk kasus hipertensi
emergensi (dalam jumlah kecil) dan tampaknya
memberikan harapan yang baik.
Obat oral : Nifedipin dan Captopril.

Penanggulangan Hipertensi Urgensi


Tidak perlu MRS
TD diukur kembali 30 menit.
Bila TD tetap sangat meningkat dapat diberikan

obat.
Obat :
1. Nifedipine sublingual, buccal, oral.
2. Clondineoral
3. Captopriloral/sublingual.
4. Prazosinoral

Prognosis
Sebelum ditemukannya obat anti hipertensi yang

efektif survival penderita hanyalah 20% dalam 1


tahun.Kematian sebabkan oleh uremia (19%), payah
jantung kongestif (13%), cerebro vascular accident
(20%),payah jantung kongestif disertai uremia
(48%), infrak Mio Card (1%), diseksi aorta (1%).
Prognoseis menjadi lebih baik berkat ditemukannya
obat yang efektif dan penaggulangan penderita gagal
ginjal dengan analysis dan transplanta ginjal.