Anda di halaman 1dari 173

KAJIAN AKSESIBILITAS DIFABEL PADA RUANG PUBLIK KOTA

STUDI KASUS: LAPANGAN MERDEKA

TESIS

Oleh

HENDRA ARIF K.H LUBIS


057020003/AR

SEKOLAH PASCASARJANA
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
MEDAN
2008

Hendra Arif K.H Lubis : Kajian Aksesibilitas Difabel Pada Ruang Publik Kota Studi Kasus : Lapangan Merdeka, 2008
USU Repository 2008

KAJIAN AKSESIBILITAS DIFABEL PADA RUANG PUBLIK KOTA


STUDI KASUS: LAPANGAN MERDEKA

TESIS

Untuk Memperoleh Gelar Magister Teknik


dalam Program Studi Teknik Arsitektur
Bidang Kekhususan Manajemen Pembangunan Kota
pada Sekolah Pascasarjana Universitas Sumatera Utara

Oleh

HENDRA ARIF K.H LUBIS


057020003/AR

SEKOLAH PASCASARJANA
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
MEDAN
2008

Hendra Arif K.H Lubis : Kajian Aksesibilitas Difabel Pada Ruang Publik Kota Studi Kasus : Lapangan Merdeka, 2008
USU Repository 2008

Judul Tesis

Nama Mahasiswa
Nomor Pokok
Program Studi

: KAJIAN AKSESIBILITAS DIFABEL PADA RUANG


PUBLIK KOTA
STUDI KASUS: LAPANGAN MERDEKA
: Hendra Arif Kurniawan Hamonangan Lubis
: 057020003
: Arsitektur

Menyetujui
Komisi Pembimbing

(A/Prof. Abdul Majid, B.Sc, B.Arch, PhD)


Ketua

(Achmad Delianur Nasution, ST, MT)


Anggota

Ketua Program Studi,

Direktur,

(Ir. Nurlisa Ginting, M.Sc)

(Prof. Dr. Ir. T. Chairun Nisa. B, M.Sc)

Tanggal Lulus: 25 April 2008

Hendra Arif K.H Lubis : Kajian Aksesibilitas Difabel Pada Ruang Publik Kota Studi Kasus : Lapangan Merdeka, 2008
USU Repository 2008

Telah diuji pada


Tanggal 25 April 2008

PANITIA PENGUJI TESIS


Ketua

: A/Prof. Abdul Majid Ismail, B.Sc, B.Arch, PhD

Anggota

: 1. Achmad Delianur Nasution, ST, MT


2. Ir. Rudolf Sitorus, MLA
3. Ir. Sri Gunana, MT
4. Devin Defriza Harisdani, ST, MT

Hendra Arif K.H Lubis : Kajian Aksesibilitas Difabel Pada Ruang Publik Kota Studi Kasus : Lapangan Merdeka, 2008
USU Repository 2008

ABSTRAK

Aksesibilitas adalah kemudahan yang disediakan bagi difabel guna


mewujudkan kesamaan kesempatan dalam segala aspek kehidupan dan penghidupan
sebagai suatu kemudahan bergerak melalui dan menggunakan bangunan gedung dan
lingkungan dengan memperhatikan kelancaran dan kelayakan, yang berkaitan
dengan masalah sirkulasi, visual dan komponen setting. Sehingga aksesibilitas wajib
diterapkan secara optimal, guna mewujudkan kesamaan kesempatan dalam
mencapai segala aspek kehidupan dan penghidupan, menuntut adanya kemudahan
dan keselamatan akses bagi semua pengguna tanpa terkecuali.
Aksesibilitas dalam kajian ini difokuskan kepada aksesibilitas difabel pada
ruang publik kota dengan mengambil kasus sarana aksesibilitas yang terdapat di
kawasan Lapangan Merdeka untuk melihat sejauh mana sarana aksesibilitas di
kawasan Lapangan Merdeka dapat memfasilitasi kebutuhan dari kaum difabel. Yang
menjadi acuan dasar kajian ini adalah prinsip universal design yang
diimplementasikan pada Peraturan Menteri Pekerjaan Umum no. 30/PRT/M/2006
yang menjadi parameter bagi penyediaan sarana aksesibilitas di kawasan Lapangan
Merdeka
Dari kajian ini ditemukan bahwa sarana aksesibilitas yang ada di kawasan
Lapangan Merdeka belum aksesibel untuk diakses oleh kaum difabel yang
dikarenakan sarana aksesibilitas di kawasan Lapangan Merdeka tidak memenuhi
prinsip universal design tentang kemudahan, kegunaan, keselamatan dan
kemandirian.
Kata kunci : Aksesibilitas untuk semua, Difabel, Universal Design

Hendra Arif K.H Lubis : Kajian Aksesibilitas Difabel Pada Ruang Publik Kota Studi Kasus : Lapangan Merdeka, 2008
USU Repository 2008

ABSTRACT

Accessibility is easiness for difabel to realise the same of opportunity in all of


life and living aspect as easiness in movable by and using the buildings and
environment by pay attention to the smoothness and feasibility that related to
circulation, visual and setting component issue. Therefore, accessibility must applied
optimally in order to realice the same of opportunity in acieving the life and living
aspect and requires the easiness and access safety for all of the users.
Accessibility in this study focus to difabel accessibility at the city public
space by take a case of the accessibilities facilities at the area of Independence
Square in order to study how far the accessibilities facilities in the area of
Independence Square facilitates the needs of the difabel group. The basic reference
on this study is a Universal Design principle that implemented on the Regulation of
Public Work Minister No. 30/PRT/M/2006 as parameter for the accessibilities
facilities supplier at the area of Independence Square.
Based on this study, it found that the available accessibilities facilities at the
area of Independence Square has not yet accessible for the difabel group because the
accessibilities facilities at the area of Independence Square did not fulfill the
principle of universal design about the easiness, utility, safety and self-sufficiency.
Keywords : Accessibility for all, Difabel, Universal Design

Hendra Arif K.H Lubis : Kajian Aksesibilitas Difabel Pada Ruang Publik Kota Studi Kasus : Lapangan Merdeka, 2008
USU Repository 2008

DAFTAR ISI
Halaman
ABSTRAK

ABSTRACT..

ii

KATA PENGANTAR..

iii

RIWAYAT HIDUP......

DAFTAR ISI.

vi

DAFTAR TABEL.

xi

DAFTAR GAMBAR

xiii

DAFTAR LAMPIRAN

xvii

BAB I PENDAHULUAN.

1.1 Latar Belakang..

1.2 Justifikasi Pemilihan Lokasi.

1.3 Identifikasi Masalah..

1.4 Perumusan Masalah..

1.5 Tujuan Penelitian..

1.6 Hipotesis

1.7 Kontribusi Penelitian.

1.8 Batasan Penelitian.

1.9 Kerangka Pemikiran..

Hendra Arif K.H Lubis : Kajian Aksesibilitas Difabel Pada Ruang Publik Kota Studi Kasus : Lapangan Merdeka, 2008
USU Repository 2008

1.10 Sistematika Pembahasan...

BAB II TINJAUAN UMUM

10

2.1 Isu Aksesibilitas di Indonesia

10

2.2 Isu Aksesibilitas di Kota Medan

13

2.2.1 Jumlah Populasi Kaum Difabel Kota Medan.

13

2.2.2 Kebijakan Penerapan Aksesibilitas Difabel di Kota


Medan.

14

2.2.3 Implementasi Kebijakan

14

2.3 Isu Aksesibilitas Pada Ruang Publik Kota

15

2.4 Lapangan Merdeka Sebagai Ruang Publik Kota..

17

BAB III LANDASAN TEORI..

20

3.1 Mendefinisikan Difabel.

20

3.2 Universal Design Sebagai Paradigma Baru..

22

3.3 Prinsip-Prinsip Universal Design..

23

3.4 Persyaratan Teknis Fasilitas dan Aksesibilitas.

26

3.4.1 Ukuran Dasar Ruang..

26

3.4.2 Jalur Pemandu

27

3.4.3 Jalur Pedestrian..

28

3.4.4 Ramp..

29

Hendra Arif K.H Lubis : Kajian Aksesibilitas Difabel Pada Ruang Publik Kota Studi Kasus : Lapangan Merdeka, 2008
USU Repository 2008

3.4.5 Tangga

31

3.4.6 Pintu

31

3.4.7 Toilet..

32

3.4.8 Telepon Umum..

34

3.4.9 Area Parkir.

35

3.5 Standar Aksesibilitas Pada Bangunan Fasilitas Pelayanan


Umum....................

36

BAB IV METODOLOGI PENELITIAN...

38

4.1 Pendahuluan..

38

4.2 Tahapan Penelitian

39

BAB V DESKRIPSI DAERAH PENELITIAN.

43

5.1 Gambaran Umum..

43

5.2 Segmentasi Kawasan.

45

5.3 Segmen A (Lapangan Merdeka)...

46

5.3.1 Peruntukan Lahan...

46

5.3.2 Jalur Pedestrian dan Vegetasi.

47

5.3.3 Utilitas

48

5.3.4 Muka Jalan (Streetscape)...

49

5.4 Segmen B (Stasiun Kereta Api)

54

5.4.1 Zoning

55

Hendra Arif K.H Lubis : Kajian Aksesibilitas Difabel Pada Ruang Publik Kota Studi Kasus : Lapangan Merdeka, 2008
USU Repository 2008

5.4.2 Muka Jalan (Streetscape)...

55

5.5 Bangunan Monumental.

56

5.6 Studi Banding (Kawasan Bukit Bintang Kuala Lumpur).

57

5.6.1 Maksud dan Tujuan...

59

5.6.2 Hasil dan Pembahasan...

60

5.6.3 Hasil Penilaian...

65

BAB VI ANALISA DAN PEMBAHASAN

67

6.1 Penilaian Elemen Aksesibilitas Segmen A (Lapangan Merdeka)

67

6.2 Penilaian Elemen Aksesibilitas Segmen B (Stasiun Kereta Api)

97

6.3 Rekapitulasi Penilaian Elemen Aksesibilitas...

109

6.3.1 Penilaian Elemen Aksesibilitas Outdoor..

109

6.3.2 Penilaian Elemen Aksesibilitas Indoor.

114

BAB VII TEMUAN DAN KESIMPULAN

117

7.1 Temuan Dari Hasil Tabulasi Kuesioner...

117

7.2 Temuan Dari Hasil Penilaian Elemen Aksesibilitas

119

7.3 Kesimpulan..

130

Hendra Arif K.H Lubis : Kajian Aksesibilitas Difabel Pada Ruang Publik Kota Studi Kasus : Lapangan Merdeka, 2008
USU Repository 2008

BAB VIII REKOMENDASI DAN SARAN

131

8.1 Rekomendasi.

131

8.2 Saran..

138

BAB IX PENUTUP...

140

DAFTAR PUSTAKA.

142

Hendra Arif K.H Lubis : Kajian Aksesibilitas Difabel Pada Ruang Publik Kota Studi Kasus : Lapangan Merdeka, 2008
USU Repository 2008

DAFTAR GAMBAR

Nomor

Judul

Halaman

1.1

Kerangka Pemikiran..

2.1

Keyplan Bangunan di Lapangan Merdeka

18

5.1

Lokasi Penelitian, Insert : Peta Kota Medan.

43

5.2

Peta Kegiatan di Kawasan Lapangan Merdeka.

44

5.3

Segmentasi Kawasan.

45

5.4

Peruntukan Lahan Segmen A

46

5.5

Jalur Vegetasi dan Pedestrian

47

5.6

Kondisi Jalur Vegetasi dan Pedestrian..

48

5.7

Kondisi Jalur Vegetasi dan Pedestrian..

48

5.8

Skema Jaringan Utilitas Segmen A...

49

5.9

Pembagian Sub Segmen A

49

5.10

Muka Jalan Pada Sub Segmen A1-1.

50

5.11

Muka Jalan Pada Sub Segmen A1-2..

50

5.12

Muka Jalan Pada Sub Segmen A2-1.

51

5.13

Muka Jalan Pada Sub Segmen A2-2.

51

5.14

Muka Jalan Pada Sub Segmen A3

52

Hendra Arif K.H Lubis : Kajian Aksesibilitas Difabel Pada Ruang Publik Kota Studi Kasus : Lapangan Merdeka, 2008
USU Repository 2008

5.15

Muka Jalan Pada Sub Segmen A3.

52

5.16

Muka Jalan Pada Sub Segmen A4-1.

53

5.17

Muka Jalan Pada Sub Segmen A4-2.

53

5.18

Segmen B, Stasiun Kereta Api..

54

5.19

Zoning Ruang Stasiun Kereta Api.

55

5.20

Muka Jalan Pada Segmen B..

55

5.21

Bird Eye View Bangunan Monumental di Kawasan


Lapangan Merdeka

56

5.22

Peta Lokasi Kawasan Bukit Bintang Kuala Lumpur

57

5.23

Sarana Aksesibilitas Untuk Difabel Pada Jalur


Pedestrian..

58

Sarana Aksesibilitas Untuk Difabel Pada Jalur


Pedestrian..

59

Jalur Pemandu di Kawasan Bukit Bintang Kuala


Lumpur.

60

Jalur Pedestrian di Kawasan Bukit Bintang Kuala


Lumpur.

61

Ramp Outdoor di Kawasan Bukit Bintang Kuala


Lumpur.

62

Tangga Outdoor di Kawasan Bukit Bintang


Kuala Lumpur..

63

Toilet Umum Portable di Kawasan Bukit Bintang


Kuala Lumpur..

64

Pembagian Sub Segmen Pada Segmen A...

67

5.24

5.25

5.26

5.27

5.28

5.29

6.1

Hendra Arif K.H Lubis : Kajian Aksesibilitas Difabel Pada Ruang Publik Kota Studi Kasus : Lapangan Merdeka, 2008
USU Repository 2008

6.2

Jalur Pedestrian Pada Sub Segmen A1-1

68

6.3

Jalur Pedestrian Pada Sub Segmen A1-2

70

6.4

Ramp Pada Sub Segmen A1-2

72

6.5

Tangga Pada Sub Segmen A1-2.

73

6.6

Pintu Masuk Pada Sub Segmen A1-2.

74

6.7

Jalur Pedestrian Pada Sub Segmen A2-1

76

6.8

Telepon Umum Pada Sub Segmen A2-1

78

6.9

Jalur Pedestrian Pada Sub Segmen A2-2

80

6.10

Jalur Pedestrian Pada Sub Segmen A3...

82

6.11

Jalur Pedestrian Pada Sub Segmen A3

83

6.12

Gerbang Masuk Pada Sub Segmen A3

85

6.13

Jalur Pedestrian Pada Sub Segmen A4-1

86

6.14

Jalur Pedestrian Pada Sub Segmen A4-2

88

6.15

Jalur Pedestrian Pada Sub Segmen A5...

89

6.16

Ramp Pada Sub Segmen A5...

91

6.17

Tangga Pada Sub Segmen A5....

92

6.18

Gerbang Masuk Pada Sub Segmen A5...

94

6.19

Toilet Umum Pada Sub Segmen A5...

95

6.20

Peta Lokasi Segmen B.

97

6.21

Skematik Denah Segmen B.

98

Hendra Arif K.H Lubis : Kajian Aksesibilitas Difabel Pada Ruang Publik Kota Studi Kasus : Lapangan Merdeka, 2008
USU Repository 2008

6.22

Akses ke Bangunan Pada Segmen B

98

6.23

Area Loket Pada Segmen B.

100

6.24

Tangga Pada Segmen B

103

6.25

Telepon Umum Pada Segmen B...

104

6.26

Toilet Umum Pada Segmen B..

106

8.1

Permukaan Jalur Pedestrian..

132

8.2

Ukuran Jalur Pedestrian

132

8.3

Tepi Pengaman/ Kanstin...

133

8.4

Jalur Pemandu...

133

8.5

Ramp Pada Jalur Pedestrian..

134

8.6

Tangga Pada Jalur Pedestrian

134

8.7

Pintu Masuk Toilet

135

8.8

Jenis Toilet

135

8.9

Kelengkapan Toilet..

136

8.10

Area Parkir

136

8.11

Telepon Umum.

137

8.12

Ramp Pada Akses ke Bangunan

137

8.13

Pintu Masuk ke Bangunan

138

Hendra Arif K.H Lubis : Kajian Aksesibilitas Difabel Pada Ruang Publik Kota Studi Kasus : Lapangan Merdeka, 2008
USU Repository 2008

DAFTAR LAMPIRAN

Nomor

Judul

Halaman

1.1

Surat Rekomendasi Ikatan Arsitek Indonesia

144

1.2

Kuesioner Penelitian.

145

1.3

Formulir Peninjauan Akses

148

Hendra Arif K.H Lubis : Kajian Aksesibilitas Difabel Pada Ruang Publik Kota Studi Kasus : Lapangan Merdeka, 2008
USU Repository 2008

BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Pembangunan Kota Medan sampai saat ini belum mencerminkan keadilan
bagi semua orang, dikarenakan adanya kelompok masyarakat yang memiliki
keterbatasan fisik yang lazim disebut kaum difabel (poeple with different abilities)
belum menikmati hasil dari pembangunan kota terutama di bidang aksesbilitas pada
ruang publik kota.
Fenomena yang terjadi adalah bahwa isu tentang penyedian fasilitas
aksesibilitas kaum difabel di Kota Medan dianggap tidak cukup penting. Dimana
dalam pembangunan fasilitas publik, fasilitas transportasi umum, dan kawasan
perumahan di Kota Medan sebagian besar masih belum memenuhi standar minimal
suatu konsep aksesibilitas. Hal ini tidak sesuai dengan prinsip pembangunan dari
PBB bahwa no part of the built-up environment should be designed in a manner
that excludes certain groups of people on the basis of their ability and frailty (
United Nations, 1995).
Dalam skala Nasional, perumusan kebijakan dan undang-undang tentang
aksesibilitas kaum difabel telah dikumandangkan dalam Undang-undang RI no. 4
tahun 1997 tentang upaya peningkatan sosial penyandang cacat dan Undang-Undang
R.I No. 28 Tahun 2002 tentang bangunan gedung.

Hendra Arif K.H Lubis : Kajian Aksesibilitas Difabel Pada Ruang Publik Kota Studi Kasus : Lapangan Merdeka, 2008
USU Repository 2008

Hal ini menjadi dasar guna menjamin dan melindungi hak-hak kaum difabel
di Kota Medan yang berjumlah 8929 orang (Dinas Kesehatan PROVSU, 2005),
melalui kegiatan semiloka aksesibilitas fisik bagi penyandang cacat yang
berlangsung pada tanggal 29-31 Mei 2006, dengan tema Aksesibilitas Fisik Bagi
Penyandang Cacat pada fasilitas Umum dan Sosial untuk mendapatkan kesempatan
yang setara untuk menikmati lajunya pembangunan guna meningkatkan kehidupan
dan penghidupannya.
Pentingnya sarana aksesibilitas untuk kaum difabel dalam menjalankan
aktifitas sehari-hari menurut pandangan penulis dirasakan cukup menarik untuk
diteliti karena sangat menentukan kemampuan mobilitas kaum difabel dalam
melakukan kegiatan dalam kehidupan mereka (termasuk dalam melaksanakan kegiatan
pendidikan, ekonomi dan kemasyarakatan).
Isu aksesibilitas untuk kaum difabel sangat berkaitan dengan tuntutan
penerapan desain yang universal dimana sesuatu hal yang membatasi seseorang
untuk melakukan suatu aktifitas gerak maupun menghambat keleluasaan ruang gerak
dapat dibebaskan dengan suatu penyediaan fasilitas yang memenuhi prinsip
universal design. Perwujudan sarana aksesibilitas sebagai universal design didasari
oleh :
1. Resolusi PBB No. 48 Th. 1993, tentang Peraturan Aksesibilitas

2. Undang-Undang No.4/1997 tentang Penyandang Cacat.

Hendra Arif K.H Lubis : Kajian Aksesibilitas Difabel Pada Ruang Publik Kota Studi Kasus : Lapangan Merdeka, 2008
USU Repository 2008

3. Keputusan Menteri Pekerjaan Umum No.468/KPTS/1998 tentang Persyaratan


Teknis Aksesibilitas Pada Bangunan Umum dan Lingkungan yang telah direvisi
melalui Peraturan Menteri Pekerjaan Umum No.30/PRT/M/2006.
4. Undang-Undang No. 39 Th. 1999, tentang Hak Azasi Manusia (HAM),
Kesamaan hak dalam kehidupan
5. Peraturan Pemerintah No.43/1999 tentang Upaya Peningkatan Kesejahteraan
Penyandang Cacat.
6. Keputusan Menteri Perhubungan No. 71/1999 tentang Aksesibilitas bagi
Penyandang Cacat dan Orang Sakit pada Sarana dan Prasarana Perhubungan
7. Undang-Undang No. 28 tahun 2002 tentang Bangunan Gedung dan Lingkungan

1.2 Justifikasi Pemilihan Lokasi


Adapun kawasan Lapangan Merdeka dipilih dengan kriteria :
1. Fungsi kawasan sebagai ruang publik kota yang terletak di pusat kota.
2. Terdapat stasiun Kereta Api yang merupakan salah satu pintu masuk kota
Medan.
3. Dikelilingi fasilitas pelayanan publik seperti kantor pos dan pelayanan asuransi
perbankan.
4. Terdapat ruang terbuka yang berfungsi sebagai area sikulasi dan interaksi sosial.

Hendra Arif K.H Lubis : Kajian Aksesibilitas Difabel Pada Ruang Publik Kota Studi Kasus : Lapangan Merdeka, 2008
USU Repository 2008

5. Fungsi ruang terbuka di pusat kota dan dikelilingi fasilitas pelayanan publik yang
berfungsi sebagai generator aktifitas di pusat kota selama 24 jam sehari (Krier,
1979).

1.3 Identifikasi Masalah


Berdasarkan pengamatan awal terdapat beberapa permasalahan yang dapat
diidentifikasi dalam hal keberadaan kawasan Lapangan Merdeka sebagai ruang
publik kota terhadap kaitannya dengan aksesibilitas kaum difabel yaitu :
1. Mendesaknya fasilitas umum, sarana dan prasarana transportasi yang aksesibel
bagi difabel di kawasan Lapangan Merdeka dalam rangka menuju kesamaan
kesempatan dan kesetaraan perlakuan (Tavip Mustafa, 2005).
2. Kawasan Lapangan Merdeka tidak mempunyai fasilitas khusus sarana
aksesbilitas untuk kaum difabel.
3. Belum optimalnya sarana aksesibilitas publik di kawasan Lapangan Merdeka
untuk memfasilitasi kaum difabel sehingga secara umum kaum difabel tidak
dapat mengakses ruang publik kota secara mandiri.

1.4 Perumusan Masalah


1. Bagaimanakah penilaian aksesibilitas di kawasan Lapangan Merdeka dari sudut
pandang kaum difabel ?

Hendra Arif K.H Lubis : Kajian Aksesibilitas Difabel Pada Ruang Publik Kota Studi Kasus : Lapangan Merdeka, 2008
USU Repository 2008

2. Permasalahan aksesibilitas fisik apakah yang menghalangi kaum difabel dalam


mengakses kawasan Lapangan Merdeka sebagai ruang publik kota?

1.5 Tujuan Penelitian


Adapun tujuan dari penelitian tentang aksesibilitas kaum difabel pada ruang
publik kota :
1. Mengidentifikasi dan mengevaluasi keadaan eksisting sarana aksesibilitas di
kawasan Lapangan Merdeka.
2. Sebagai bentuk sosialisasi pentingnya memfasilitasi sarana aksesibilitas kaum
difabel pada ruang publik kota.
3. Sebagai usaha menuju perlindungan hukum (advokasi) yang memungkinkan
adanya aturan yang baku tentang aksesibilitas kaum difabel pada sarana
aksesibilitas umum ruang publik kota.

1.6 Hipotesis
1. Sarana aksesibilitas di Kawasan Lapangan Merdeka belum aksesibel untuk kaum
difabel
2. Sarana aksesibilitas di kawasan Lapangan Merdeka belum memenuhi kriteria
kemudahan, kegunaan, keselamatan dan kemandirian untuk kaum difabel.

Hendra Arif K.H Lubis : Kajian Aksesibilitas Difabel Pada Ruang Publik Kota Studi Kasus : Lapangan Merdeka, 2008
USU Repository 2008

1.7 Kontribusi Penelitian


Penelitian tentang aksesibilitas kaum difabel pada ruang terbuka sebagai
ruang publik kota ini dimaksudkan untuk :
1. Memberikan usulan yang berguna untuk perencanaan aksesibilitas di Kota
Medan terutama di kawasan Lapangan Merdeka dengan menerapkan prinsipprinsip universal design.
2. Memberi masukan bagi pihak-pihak yang berkepentingan dalam pembangunan
suatu lingkungan binaan di daerah perkotaan.
3. Memberikan landasan bagi studi-studi selanjutnya yang berhubungan dengan
aksesibilitas kaum difabel pada ruang terbuka sebagai ruang publik kota.

1.8 Batasan Penelitian


1. Kaum difabel pada penelitian ini dibatasi pada tuna netra, tuna rungu, tuna daksa
pengguna kruk dan tuna daksa pengguna kursi roda.
2. Penelitian ruang luar (outdoor) dibatasi pada kajian aksesibilitas kaum difabel
pada fasilitas umum di ruang terbuka sebagai ruang publik kota.
3. Lingkup pembahasan dalam penelitian ini hanya membahas aspek fisik.
4. Penelitian dalam bangunan (indoor) hanya akan dilakukan pada bangunan stasiun
kereta api sebagai salah satu pintu masuk kota Medan.

Hendra Arif K.H Lubis : Kajian Aksesibilitas Difabel Pada Ruang Publik Kota Studi Kasus : Lapangan Merdeka, 2008
USU Repository 2008

1.9 Kerangka Pemikiran


Adapun kerangka pemikiran secara skematik dapat dilihat pada gambar 1.1

Hendra Arif K.H Lubis : Kajian Aksesibilitas Difabel Pada Ruang Publik Kota Studi Kasus : Lapangan Merdeka, 2008
USU Repository 2008

Gambar 1.1 Kerangka Pemikiran

1.10 Sistematika Pembahasan


Adapun setiap bab pembahasan dalam penelitian Kajian Aksesibilitas
Difabel Pada Ruang Publik Kota adalah :
1. BAB I Pendahuluan
Berisi latar belakang, permasalahan, tujuan, sasaran, lingkup pembahasan,
tahapan penelitian, serta sistematika pembahasan.
2. BAB II Tinjauan Umum
Mengemukakan isu-isu umum yang berhubungan dengan aksesibilitas
difabel pada ruang publik kota.
3. BAB III Landasan Teori
Mendefinisikan tentang difabel serta menjelaskan teori universal design
yang menjadi acuan bagi difabel untuk mendapatkan kesetaraan aksesibilitas
pada ruang publik kota.
4. BAB IV Metodologi Penelitian
Menjelaskan tentang tahapan penelitian dan metoda yang digunakan untuk
membuat analisis data yang didapat dari penelitian lapangan.
Bintang Kuala Lumpur yang sudah menyediakan sarana aksesibilitas untuk
difabel.

Hendra Arif K.H Lubis : Kajian Aksesibilitas Difabel Pada Ruang Publik Kota Studi Kasus : Lapangan Merdeka, 2008
USU Repository 2008

5. BAB V Deskripsi Daerah Penelitian


Medeskripsikan Kawasan Lapangan Merdeka serta melakukan identifikasi
tentang kondisi eksisting sarana aksesibilitas di Kawasan Lapangan Merdeka.
6. BAB VI Analisa dan Pembahasan
Membuat analisis sarana aksesibilitas yang ada di Kawasan Lapangan
Merdeka dengan menggunakan metoda penelitian yang telah dijabarkan pada
BAB IV.
7. BAB VII Temuan dan Kesimpulan
Mengemukakan hasil rangkuman dari analisa data untuk menjawab
permasalahan yang dikemukakan pada BAB I.
8. BAB VIII

Rekomendasi dan Saran

Merumuskan kondisi ideal penyediaan sarana aksesibilitas bagi difabel.


9. BAB IX

Penutup

Berisi tentang rangkuman dari Kajian Aksesibilitas Difabel Pada Ruang


Publik Kota.

Hendra Arif K.H Lubis : Kajian Aksesibilitas Difabel Pada Ruang Publik Kota Studi Kasus : Lapangan Merdeka, 2008
USU Repository 2008

BAB II
TINJAUAN UMUM

2.1 Isu Aksesibilitas di Indonesia


Dalam era globalisasi, menuntut terwujudkan bangunan gedung dan
lingkungan yang aksesibel, selaras dengan Undang-Undang No. 28/2002 tentang
Bangunan Gedung (UUBG) yang telah disahkan sebagai pedoman umum pada
tanggal 16 Desember 2002 terdiri dari 10 bab dan 49 pasal. Setiap bangunan gedung
harus memenuhi persyaratan administratif dan teknis, diantaranya pemenuhan
persyaratan elemen aksesibilitas. Berdasarkan Surat Edaran Menteri Sosial No.
A/A164/VIII/2002/MS dinyatakan agar penyediaan elemen aksesibilitas mengacu
pada Keputusan Menteri Pekerjaan Umum No. 468/KPTS/1998 yang telah direvisi
melalui Peraturan Menteri Pekerjaan Umum No.30/PRT/M/2006 tentang Persyaratan
Teknis Fasilitas dan Aksesibilitas pada Bangunan Umum dan Lingkungan.
Asas aksesibilitas di Indonesia menurut Peraturan Menteri Pekerjaan Umum
No.30/PRT/M/2006 adalah :
1. KEMUDAHAN, semua orang dapat mencapai semua tempat
2. KEGUNAAN, setiap orang dapat mempergunakan semua tempat
3. KESELAMATAN, setiap bangunan dan lingkungan harus memperhatikan
keselamatan bagi semua orang.

Hendra Arif K.H Lubis : Kajian Aksesibilitas Difabel Pada Ruang Publik Kota Studi Kasus : Lapangan Merdeka, 2008
USU Repository 2008

4. KEMANDIRIAN, setiap orang harus dapat mencapai, masuk dan


mempergunakan semua tempat tanpa bantuan orang lain.
Sebagai pedoman umum, undang-undang tersebut mengatur tentang
ketentuan bangunan gedung yang meliputi fungsi, persyaratan, penyelenggaraan dan
pembinaan serta sanksi yang dilandasi oleh asas kemanfaatan, keselamatan,
keseimbangan, dan keserasian dengan lingkungannya bagi kepentingan masyarakat
yang berperi kemanusiaan dan berkeadilan. Kehadirannya melahirkan berbagai
konsekuensi yang harus dilaksanakan lebih lanjut oleh Pemerintah/ daerah. Hal
tersebut

perlu

ditindaklanjuti

dengan

mengembangkan

program

ke

daerah/wilayah/kota lain (Departemen Kimpraswil, 2004).


Dalam Undang-Undang Dasar 1945 tertera persamaan hak bagi setiap warga
negara tanpa membedakan kondisi fisik, serta memberikan perlindungan dan
persamaan hak kepada kaum difabel dengan menerbitkan berbagai peraturan
pengadaan sarana dan prasarana yang berkaitan dengan difabel. Dalam UndangUndang No. 4/1997 tentang Penyandang Cacat

dan Peraturan Pemerintah No.

43/1998 tentang Upaya Peningkatan Kesejahteraan Sosial Penyandang Cacat


dinyatakan bahwa: kesamaan kesempatan kaum difabel pada aspek kehidupan dan
penghidupan, dilaksanakan melalui penyediaan elemen aksesibilitas untuk
menunjang kaum difabel agar dapat hidup bermasyarakat secara wajar dan mandiri.
Titik tolak dari perwujudan bangunan gedung dan lingkungan yang berwawasan adil

Hendra Arif K.H Lubis : Kajian Aksesibilitas Difabel Pada Ruang Publik Kota Studi Kasus : Lapangan Merdeka, 2008
USU Repository 2008

bagi semua kelompok masyarakat (development for all) berarti memiliki asas
kebersamaan bagi semua warga negara, tidak dibedakan kemampuan dan
kepentingan individu atau kelompok. Semua mendapatkan kesempatan yang sama
berperan dalam pembangunan sekaligus dapat menikmati hasil pembangunan
(Wiwik Setyaningsih,2005). Hal ini senada dengan pengertian equity (persamaan
atau keadilan) yang menekankan equity in access atau access for all (Kevin Lynch,
1987).
Pada 4 Juni 2000 Pemerintah Pusat telah mengawali dengan pencanangan
Gerakan Aksesibilitas Umum Nasional (GAUN) berupa penyediaan elemen
aksesibilitas di Stasiun Gambir dan berlangsung hingga saat ini. Tahun 1987 sampai
1996 Center for Universal Design and Disabilities (CUDD) Jurusan Teknik
Arsitektur Universitas Gajah Mada (UGM) mengembangkan Malioboros pilot
project sebagai kawasan yang aksesibel bagi semua dengan model prototype guiding
block (ubin pengarah untuk tuna netra), tetapi mengkristal pada penyusunan
pedoman teknis. Tahun 2002 Himpunan Wanita Penyandang Cacat Indonesia
(HWPCI) dengan Universitas Trisakti dan Ikatan Arsitek Indonesia (IAI) telah
melakukan pendataan 30 bangunan gedung di DKI Jakarta, hasilnya kurang
terpublikasi (Wiwik Setyaningsih, 2005).

Hendra Arif K.H Lubis : Kajian Aksesibilitas Difabel Pada Ruang Publik Kota Studi Kasus : Lapangan Merdeka, 2008
USU Repository 2008

2.2 Isu Aksesibilitas di Kota Medan


2.2.1 Jumlah Populasi Kaum Difabel Kota Medan
Tabel 2.1 Data Jumlah Populasi Difabel Sumatera Utara

No
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12

Jumlah Populasi Difabel Sumatera Utara 2005


Klasifikasi
Kota
Tubuh Netra Rungu Mental Kusta
Medan
2364 2166
940
1791 1668
P.Siantar
356
451
269
195
22
Binjai
280
183
125
187
11
T.Balai
236
261
127
172
507
T.Tinggi
254
128
75
37
85
Sibolga
109
190
73
85
89
D. Serdang
2795 1986
818
596
2023
Karo
383
377
154
386
508
Langkat
838
912
595
463
625
Asahan
717
602
312
381
13
Simalungun
1410 1209
602
601
295
L.Batu
1008
792
320
241
412

Jumlah
8929
1293
786
1303
579
526
8218
1808
3433
2025
4081
2773

Sumber : Dinas Kesehatan (2005)

2.2.2 Kebijakan Penerapan


Dari tabel di atas populasi kaum difabel di kota Medan berjumlah 8929 orang
dengan distribusi pembagian 2364 orang difabel dalam hal fisik, 2166 orang difabel
dalam hal penglihatan, 940 orang difabel dalam hal pendengaran, 1791 orang difabel
dalam hal mental dan 1668 orang penderita kusta. Dalam penelitian ini sebutan kaum
difabel dibatasi menjadi kelompok difabel dalam hal fisik, penglihatan dan
pendengaran saja. Karena bagi difabel dalam hal fisik, penglihatan dan pendengaran
keberadaan ruang publik kota menjadi sesuatu yang bersifat rehabilitatif.

Hendra Arif K.H Lubis : Kajian Aksesibilitas Difabel Pada Ruang Publik Kota Studi Kasus : Lapangan Merdeka, 2008
USU Repository 2008

2.2.2 Kebijakan Penerapan Aksesibilitas Difabel di Kota Medan


Dengan

dikeluarkannya

Keputusan

Menteri

Pekerjaan

Umum

No.468/KPTS/1998 yang telah direvisi melalui Peraturan Menteri Pekerjaan Umum


No.30/PRT/M/2006 tentang Persyaratan Teknis Fasilitas dan Aksesibilitas Pada
Bangunan Umum dan Lingkungan dan kemudian terbitnya Undang-Undang no.28
tahun 2002 sudah seharusnya dijadikan sebagai pedoman dalam penyelenggaraan
pembangunan gedung dan lingkungan di Kota Medan.
Penyediaan aksesibilitas fasilitas umum dan fasilitas sosial di Propinsi Sumatera
Utara sesuai dengan otonomi daerah adalah menjadi tanggung jawab pemerintah
kabupaten/ pemerintah kota, sedangkan propinsi hanya sebagai fasilitator, pengarah
pembinaan (Departemen Tarukim, 2006).

2.2.3 Implementasi Kebijakan


Melalui wawancara dengan ketua daerah Himpunan Wanita Penyandang
Cacat Indonesia (HWPCI) daerah Sumatera Utara bahwa dalam Peraturan Menteri
Pekerjaan Umum no. 30 tersebut terdapat dua objek sebagai sasaran yaitu
bangunan dan lingkungan. Untuk pengaturan bangunan otoritas dipegang oleh
Dinas Tata Kota dan Tata Bangunan. Tetapi untuk penataan lingkunagan (di luar
bangunan dan tapak bangunan), otoritas tersebut tidak jelas. Penataan aksesibilitas
pada lingkungan umumnya adalah meliputi pedestrian, penyebrangan, parkir,

Hendra Arif K.H Lubis : Kajian Aksesibilitas Difabel Pada Ruang Publik Kota Studi Kasus : Lapangan Merdeka, 2008
USU Repository 2008

fasilitas umum (telepon umum, halte, tempat sampah, dsb), dimana banyak pihak
terlibat yaitu : Dinas Pertamanan, Dinas Pekerjaan Umum, Dinas Perhubungan ,
Dinas Kebersihan, Perusahaan Telekomunikasi dan Badan Pengelola Parkir. Masingmasing pihak mempunyai fungsi dan target kerja yang tidak sama. , sehingga terjadi
tumpang tindih pembangunan di lokasi yang sama tanpa ada koordinasi. Sehingga
sudah saatnya kota Medan mempunyai Rencana Tata Bangunan dan Lingkungan
(RTBL) untuk kawasan-kawasan tertentu dimana di dalamnya sudah tercantum
pengaturan tentang aksesibilitas.
Di samping itu, dalam rangka pelaksanaan pembinaan dalam pelaksanaan
fisik maupun sosialisasi kepada Pemerintah Kabupaten/ Pemerintah Kota dengan
cara mensosialisasikan aturan/ pedoman tentang aksesibilitas pada bangunan umum
dan lingkungan, Pemerintah Kabupaten/ Pemerintah Kota berkewajiban membuat
sarana percontohan aksesibilitas untuk penyandang cacat. Saat ini yang menjadi
percontohan adalah bangunan Pekan Raya Sumatera Utara (PRSU) dan Rumah Sakit
Pringadi. Kemudian kawasan- kawasan yang mendesak untuk ditata adalah kawasan
Kesawan, kawasan Lapangan Merdeka, koridor jalan Sisingmangaraja, kawasan
Polonia, kawasan Perbelanjaan Petisah, kampus USU, kampus Unimed dan Rumah
Sakit Adam Malik berikut lingkungannya.

Hendra Arif K.H Lubis : Kajian Aksesibilitas Difabel Pada Ruang Publik Kota Studi Kasus : Lapangan Merdeka, 2008
USU Repository 2008

2.3 Isu Aksesibilitas pada Ruang Publik Kota


Pembangunan perkotaan sebagai salah satu engine of growth pengembangan
wilayah melalui berbagai kebijakan penataan ruang dan pengembangan prasarana
dan sarana wilayahnya, dimana ruang publik menjadi salah satu komponen penting
dalam pembangunan kota. Menurut Departemen Kimpraswil ruang publik kota dapat
dipahami sebagai bagian dari ruang kota yang dapat dimanfaatkan oleh warga kota
secara tidak terkecuali (inclusive) untuk menyalurkan hasrat dasarnya sebagai
mahluk sosial yang membutuhkan interaksi.
Salah satu fungsi utama ruang publik adalah sebagai wahana interaksi antar
komunitas untuk berbagai tujuan, baik individu maupun kelompok. Dalam hal ini
ruang publik merupakan bagian dari sistem sosial masyarakat yang keberadaannya
tidak dapat dilepaskan dari dinamika sosial. Disamping itu, ruang publik juga
berfungsi memberikan nilai tambah bagi lingkungan, misalnya segi estetika kota,
pengendalian pencemaran udara, pengendalian iklim mikro,

serta memberikan

image dari suatu kota.


Beranjak dari pemahaman tentang ruang publik dan fungsinya, ada banyak
aspek yang harus dapat dipenuhi oleh suatu ruang publik. Salah satunya adalah aspek
aksesibel tanpa terkecuali (accessible for all) dimaksudkan bahwa ruang publik
sudah seharusnya dapat dimanfaatkan oleh seluruh warga kota yang membutuhkan.

Hendra Arif K.H Lubis : Kajian Aksesibilitas Difabel Pada Ruang Publik Kota Studi Kasus : Lapangan Merdeka, 2008
USU Repository 2008

Isu accessibility atau aksesibilitas sangat berkaitan dengan tuntutan perlunya


desain yang universal dimana sesuatu hal yang membatasi seseorang untuk
melakukan suatu aktifitas gerak maupun menghambat keleluasaan ruang gerak dapat
dibebaskan dengan suatu penyediaan fasilitas yang memenuhi prinsip universal
design. Dengan kata lain bahwa guna membantu mobilitas kaum difabel perlu
diciptakannya fasilitas aksesibilitas yang memenuhi standar universal yang dalam hal
ini diperlukan suatu logika sosial dan arsitektural untuk mendesain.
Pentingnya fasiltas aksesibilitas tidak hanya mencakup pentingnya mobilitas
dalam arti umum saja, tetapi juga dapat berarti membantu berbagai golongan
masyarakat yang membutuhkan dengan memperlakukan mereka secara adil dan
sejajar dalam wujud penyediaan fasilitas aksesbilitas yang memenuhi standar di
lingkungan binaan. Pemikiran dan informasi tentang pentingnya aksesibilitas sangat
penting dikembangkan, disebarluaskan, langsung diterapkan dan diperjuangkan di
kota Medan untuk mewujudkan suatu pemahaman konsep perencanaan dan
pelaksanaan pembangunan kota (Bimo Hernowo, 2005).

2.4 Lapangan Merdeka sebagai Ruang Publik Kota


Lapangan Merdeka merupakan ruang publik terbesar di Kota Medan,
berukuran 175x275 m, yang merupakan titik pertemuan warga dari berbagai etnis.
Lapangan Merdeka dibentuk sejak tahun 1880

Hendra Arif K.H Lubis : Kajian Aksesibilitas Difabel Pada Ruang Publik Kota Studi Kasus : Lapangan Merdeka, 2008
USU Repository 2008

dengan nama Esplanade (Lapangan Trebuka) dan merupakan pusat kota , di bagian
periferi ditanami pohon Ki Hujan (Samanea Saman), sebagai ciri ruang terbuka di
daerah tropis. Awalnya adalah bagian dari perkebunan tembakau berupa rawa-rawa.
Pada tahun 1927, bagian tengah dari sisi utara Lapangan Merdeka telah digunakan
sebagai lapangan olahraga. Setelah tahun 1927, bagian tengah (inti) dari Lapangan
Merdeka secara keseluruhan digunakan sebagai taman. Setelah kemerdekaan,
namanya berubah menjadi Lapangan Merdeka (Independence Square).
Hingga sekarang beberapa bangunan bersejarah yang mengelilinginya mesih
mencerminkan karakter Kota Medan Lama. Bangunan-bangunan ini antara lain
adalah Post Office, Hotel de Boer, The Javasche Bank, The City Hall, The Office of
the Netherlands Trading Company, Lloyds of Rotterdam dan the Juliana Building,
yang mana juga ditempati perusahaan Inggris, Harrison & Crossfield, dan sekarang
digunakan oleh perusahaan the London-Sumatera Plantations. Deli Maatscappij
mendirikan sebuah perusahaan kereta api Deli Sporweg Maatscappij pada tahun
1883 dan pada tahun 1885 jalur kereta api Medan Labuhan Deli resmi dijalankan.
Stasiun kereta api ini terletak di sebelah timur dari Lapangan Merdeka (A.D.
Nasution, 2003).

Hendra Arif K.H Lubis : Kajian Aksesibilitas Difabel Pada Ruang Publik Kota Studi Kasus : Lapangan Merdeka, 2008
USU Repository 2008

Keterangan Perubahan Fungsi Bangunan :


1. Grand Hotel menjadi Bank Mandiri
2. Stasiun Kereta Api
3. Titi Gantung
4. Club de Witte menjadi BCA
5. Kantor Pos
6. Hotel de Boer menjadi Hotel Dharma Deli
7. Javasvhe Bank menjadi Bank Indonesia
8. Balai Kota (City Hall)
9. Nederlandshe Handel Maatschappiij
menjadi Bank Mandiri
10. Netherlands Trading Company menjadi
Bank Mandiri
11. Harrison&Crossfield menjadi PT. Lonsum
12. Netherlands Shipping Company &
Rotterdam Lloyd menjadi Asuransi Jasindo

Pada saat sekarang terjadi perubahan fungsi sebagian lahan dari Lapangan
Gambar 2.1 Keyplan Bangunan di Lapangan Merdeka

Merdeka menjadi pusat jajanan makanan, hiburan dan promosi yang dikenal dengan
Merdeka Walk. Dibangun oleh PT. Orange Indonesia yang didukung oleh
Pemerintah Kota Medan yang berada di sebelah barat Lapangan Merdeka dengan
menggunakan lahan 6600 m.
Keberadaan Merdeka Walk membawa arti positif bagi kawasan Lapangan
Merdeka. Karena sebelum dibangunnya Merdeka Walk, intensitas penggunaan
lapangan Merdeka sifatnya berkala. Umumnya Lapangan Merdeka digunakan untuk
kegiatan upacara dan olahraga yang kesemuanya berakhir setelah pukul 18.30 WIB
yaitu setelah orang selesai berolah raga (.A.D. Nasution, 2003). Setelah dibangunnya
Merdeka Walk, warga yang hendak berinteraksi hingga dini hari menjadi

Hendra Arif K.H Lubis : Kajian Aksesibilitas Difabel Pada Ruang Publik Kota Studi Kasus : Lapangan Merdeka, 2008
USU Repository 2008

terfasilitasi. Sudah seharusnya kawasan Lapangan Merdeka dapat berfungsi sebagai


generator aktifitas di pusat kota selama 24 jam sehari (Rob Krier, 1979).

Hendra Arif K.H Lubis : Kajian Aksesibilitas Difabel Pada Ruang Publik Kota Studi Kasus : Lapangan Merdeka, 2008
USU Repository 2008

BAB III
LANDASAN TEORI

3.1 Mendefinisikan Difabel


Konsep difabel berakar dari suatu pendekatan medis dan individual. Menurut
pendekatan ini, keberfungsian secara fisik dan mental seseorang merupakan
prasyarat bagi kaum difabel untuk dapat menentukan kehendaknya dan berpartisipasi
dalam berbagai aktivitas.
Dunia barat mengelompokkan difabel berdasarkan usia dan kemampuan.
Untuk mereka pada usia tertentu atau mereka yang memiliki tingkat kemampuan
yang berbeda, menunjukkan hasil yang mengecewakan apabila dinilai dari kondisi
fisik mereka. Hal ini dibuktikan melalui penelitian yang dilakukan pada 1000 orang
anak-anak dan remaja di New York tahun 1989.
Dalam penelitian tersebut anak-anak diminta untuk menjelaskan apa yang
mereka lihat. Tanpa terkecuali, anak-anak tersebut melaporkan bahwa mereka
melihat pria dan wanita melakukan pekerjaan, seperti memasak makanan, merawat
peliharaan dan melakukan pekerjaan rutin mereka. Selanjutnya mereka melaporkan
hal yang sama ketika para remaja melakukan pekerjaan tersebut. Tetapi selanjutnya,
mereka melihat orang cacat fisik mencoba untuk menyelesaikan pekerjaan yang
sama dengan sebelumnya. Dalam waktu singkat, dalam pemikiran anak-anak
tersebut.

Hendra Arif K.H Lubis : Kajian Aksesibilitas Difabel Pada Ruang Publik Kota Studi Kasus : Lapangan Merdeka, 2008
USU Repository 2008

Kritikan terhadap penanganan masalah difabel tersebut sesungguhnya sudah


direspon World Health Organization (WHO) dan para profesional yang
bekerja di bidang rehabilitasi. WHO, misalnya, sejak tahun 2001 sudah merevisi
definisi difabel. Pedoman dari WHO menjadi acuan di banyak negara termasuk di
Indonesia disebut International Classification of Impairment,

Disability and

Handicap. Dari pedoman ini ada 3 konsep yang dibedakan, yaitu :

1. Impairment , adalah hilangnya atau ketidaknormalan struktur atau fungsi


psikologis, fisik atau anatomi.
2. Disability, mengacu kepada keterbatasan kemampuan untuk melakukan aktivitas
secara normal yang disebabkan oleh impairment .
3. Handicap, merupakan ketidakberuntungan sesorang yang diakibatkan oleh
impairment dan disability yang menyebabkan ia tidak dapat melakukan perannya
secara sosial maupun ekonomi

WHO merevisi konsep ini menjadi International Classification of


Functioning Disability and Health (ICF). Pada konsep ini, impairment bukanlah
satu-satunya faktor yang menjadi fokus dalam menilai keberfungsian kemampuan
seseorang. Ada dua komponen utama yang perlu dipelajari dalam memahami
masalah difabel, yaitu:

Hendra Arif K.H Lubis : Kajian Aksesibilitas Difabel Pada Ruang Publik Kota Studi Kasus : Lapangan Merdeka, 2008
USU Repository 2008

1. Functioning (keberfungsian), meliputi keberfungsian badan/anatomi dan struktur


serta aktivitas dan partisipasi.
2. Disability

(ketidakmampuan),

bagian

pertama

meliputi

keberfungsian

badan/anatomi dan struktur serta aktivitas dan partisipasi, sedangkan bagian


kedua terdiri dari faktor-faktor kontekstual, seperti faktor lingkungan dan faktor
faktor yang sifatnya personal.

Menurut konsep ini, masalah difabel timbul sebagai interaksi dari berbagai
komponen-komponen tersebut. Keberfungsian secara fisik dan mental seseorang
merupakan prasyarat baginya untuk dapat berpartisipasi dalam berbagai aktivitas.
Namun cara ini juga direfleksikan dalam kehidupan sosial yang menyebabkan
terhambatnya kaum difabel mendapatkan kesempatan berpartisipasi secara sama
dalam berbagai aktivitas dalam kehidupan masyarakat (Eva Kasim, 2004).

3.2 Universal Design Sebagai Paradigma Baru


Universal design pertama kali diperkenalkan di Amerika Serikat oleh Ron
Mace pada tahun 1985. Sebelumnya pada tahun 1950 dikenal terminologi barrierfree design (desain bebas hambatan) yang dalam perkembangannya barrier- free
design memiliki persepsi yang negatif di antara orang Amerika. Karena barrier-free
design hanya dapat digunakan oleh kaum difabel. Sehingga kedudukan antara difabel
dan non difabel di ruang publik menjadi terpisah. Hal ini tidak sesuai dengan prinsip
equity yang mengharuskan adanya persamaan hak bagi setiap orang di ruang publik.

Hendra Arif K.H Lubis : Kajian Aksesibilitas Difabel Pada Ruang Publik Kota Studi Kasus : Lapangan Merdeka, 2008
USU Repository 2008

Selanjutnya pada tahun 1970 berkembang terminologi yang lebih populer yang
dikenal dengan accessible design (desain yang aksesibel) yang mengatakan bahwa
sarana aksesibilitas sebagai parameter yang mempengaruhi pergerakan masyarakat di
lingkungan publik. Tetapi accessible design dalam penerapannya dirasakan masih
kurang praktis karena cakupannya terlalu luas.
Oleh karena itu Ron Mace mengatakan perlu adanya suatu standar minimum
untuk mengatur fasilitas umum kaum difabel dan non difabel dalam ruang publik
secara bersamaan yang dikenal dengan universal design. Dalam artiannya Universal
design adalah produk dan lingkungan yang dihasilkan

dalam perancangan

lingkungan binaan, yang memungkinkan semua orang dapat dengan mudah untuk
mengakses setiap elemen di dalamnya. Dalam penerapannya universal design bisa
tidak sama di setiap tempat tergantung dari berbagai pendekatan desain dan undangundang yang berlaku (Ron Mace dalam Elaine Ostroff, 2001).

3.3 Prinsip-Prinsip Universal Design


Menurut Molly Folente Story (Universal Design Handbook, 2001) prinsipprinsip utama universal design, yaitu :
1. Dapat digunakan semua jenis pengguna
Definisi : Produk desain dapat digunakan dan dipasarkan untuk semua
jenis pengguna

Hendra Arif K.H Lubis : Kajian Aksesibilitas Difabel Pada Ruang Publik Kota Studi Kasus : Lapangan Merdeka, 2008
USU Repository 2008

Implikasi dalam perencanaan :


a. Mempertimbangkan

aturan

kekerabatan

dalam

memfasilitasi

aksesibilitas pejalan kaki


b. Mengembangkan pendekatan strategis dalam membuat kebijakan
transportasi yang memprioritaskan transportasi non kendaraan
bermotor
c. Jalan dapat diakses semua jenis pengguna tanpa ada batasan
2. Fleksibel dalam penggunaan
Definisi : Produk desain mengakomodasi semua jenis pengguna dan tidak
dibedakan berdasarkan kemampuannya
Implikasi dalam perencanaan :
a. Mengadaptasi proposal pengembangan sebagai aturan detail untuk
perencanaan
b. Produk aksesibilitas harus dapat memfasilitasi setiap pengguna
3. Sederhana dan mudah untuk digunakan
Definisi : Penggunaan desain mudah dimengerti ditinjau dari segi
pengalaman dan kemampuan pengguna
Implikasi dalam perencanaan :

Hendra Arif K.H Lubis : Kajian Aksesibilitas Difabel Pada Ruang Publik Kota Studi Kasus : Lapangan Merdeka, 2008
USU Repository 2008

a. Proposal pengembangan mudah diterapkan dalam setiap lokasi,


bangunan dan jalan
b. Rute langsung bagi pedestrian tanpa kendaraan bermotor
4. Informasi yang memadai
Definisi : Produk desain dilengkapi informasi pendukung yang penting untuk
pengguna dimana informasi yang diberikan disesuaikan dengan kemampuan
pengguna
Implikasi dalam perencanaan :
a. Sebagai masukan dalam proses perencanaan yang berguna untuk
mengurangi jarakdi antara setiap pengguna
b. Mempertimbangkan cara untuk membuat setiap perencanaan tepat
sasaran
5. Toleransi kesalahan
Definisi : Meminimalkan resiko kecelakaan akibat dari kejadian yang tidak
terduga
Implikasi dalam perencanaan :
a. Faktor keselamatan sebagai prioritas utama dalam perencanaan.
Termasuk

di

dalamnya

keselamatan

di

jalan,

menghindari

kriminalitas, mengutamakan kesehatan dan semua yang membuat


hidup lebih baik

Hendra Arif K.H Lubis : Kajian Aksesibilitas Difabel Pada Ruang Publik Kota Studi Kasus : Lapangan Merdeka, 2008
USU Repository 2008

6. Mengurangi usaha fisik


Definisi : Produk desain dapat digunakan secara efisien dan aman dengan
mengurangi resiko cedera
Implikasi dalam perencanaan :
a. Diprioritaskan untuk

desain pedestrian dan jalan yaitu dengan

meminimalkan gangguan dalam perjalanan


7. Ukuran ruang untuk penggunaan yang tepat
Definisi : Penggunaan ukuran ruang dalam desain yaitu dengan melakukan
pendekatan melalui postur, ukuran dan pergerakan pengguna
Implikasi dalam perencanaan :
a. Memperhatikan kebutuhan minimum standar ruang
b. Mempertimbangkan aspek kepadatan dan hubungan antar ruang
dalam merancang bentuk
8. Memasukkan unsur kesenangan
Definisi : Dengan adanya penambahan unsur kesenangan dalam perencanaan
maka lingkungan yang dihasilkan akan memberikan pengalaman yang
menyenangkan
Implikasi dalam perencanaan :
a. Memperkenalkan pentingnya urban desain dalam proses perencanan

Hendra Arif K.H Lubis : Kajian Aksesibilitas Difabel Pada Ruang Publik Kota Studi Kasus : Lapangan Merdeka, 2008
USU Repository 2008

3.4 Persyaratan Teknis Fasilitas dan Aksesibilitas


3.4.1 Ukuran Dasar Ruang
Esensi : Ukuran dasar ruang tiga dimensi (panjang, lebar, tinggi) mengacu kepada
ukuran tubuh manusia dewasa, peralatan yang digunakan, dan ruang yang
dibutuhkan untuk mewadahi pergerakan penggunanya.
Persyaratan :
1. Ukuran dasar ruang diterapkan dengan mempertimbangkan fungsi
2. Ukuran dasar minimum dan maksimum yang digunakan dalam pedoman ini
dapat ditambah atau dikurangi sepanjang asas-asas aksesibilitas dapat tercapai.

3.4.2 Jalur Pemandu


Esensi : Jalur yang memandu penyandang cacat untuk berjalan dengan
memanfaatkan tekstur ubin pengarah dan ubin peringatan.
Persyaratan :
1. Tekstur ubin pengarah bermotif garis-garis menunjukkan arah perjalanan.
2. Tekstur ubin peringatan (bulat) memberi peringatan terhadap adanya perubahan
situasi di sekitarnya/warning.
3. Daerah-daerah yang harus menggunakan ubin tekstur pemandu (guiding blocks):
a. Di depan jalur lalu-lintas kendaraan.

Hendra Arif K.H Lubis : Kajian Aksesibilitas Difabel Pada Ruang Publik Kota Studi Kasus : Lapangan Merdeka, 2008
USU Repository 2008

b. Di depan pintu masuk/keluar dari dan ke tangga atau fasilitas


persilangan dengan perbedaan ketinggian lantai.
c. Di pintu masuk/keluar pada terminal transportasi umum atau area
penumpang.
d. Pada pedestrian yang menghubungkan antara jalan dan bangunan.
e. Pada pemandu arah dari fasilitas umum ke stasiun transportasi umum
terdekat.
4. Pemasangan ubin tekstur untuk jalur pemandu pada pedestrian yang telah ada
perlu memperhatikan tekstur dari ubin eksisting, sedemikian sehingga tidak
terjadi kebingungan dalam membedakan tekstur ubin pengarah dan tekstur ubin
peringatan. Untuk memberikan perbedaan warna antara ubin pemandu dengan
ubin lainnya, maka pada ubin pemandu dapat diberi warna kuning atau jingga.

3.4.3 Jalur Pedestrian


Esensi : Jalur yang digunakan untuk berjalan kaki atau berkursi roda bagi difabel
secara mandiri yang dirancang berdasarkan kebutuhan orang untuk bergerak aman,
mudah, nyaman dan tanpa hambatan.
Persyaratan :

Hendra Arif K.H Lubis : Kajian Aksesibilitas Difabel Pada Ruang Publik Kota Studi Kasus : Lapangan Merdeka, 2008
USU Repository 2008

1. Permukaan jalan harus stabil, kuat, tahan cuaca, bertekstur halus tetapi tidak
licin. Hindari sambungan atau gundukan pada permukaan, kalaupun terpaksa
ada, tingginya harus tidak lebih dari 1,25 cm.
2. Kemiringan maksimum 2 dan pada setiap jarak 900 cm diharuskan terdapat
bagian yang datar minimal 120 cm.
3. Area istirahat digunakan untuk membantu pengguna jalan difabel dengan
menyediakan tempat duduk santai di bagian tepi
4. Pencahayaan berkisar antara 50 -150 lux tergantung pada intensitas pemakaian,
tingkat bahaya dan kebutuhan keamanan.
5. Drainase dibuat tegak lurus dengan arah jalur dengan kedalaman maksimal 1,5
cm, mudah dibersihkan dan perletakan lubang dijauhkan dari tepi jalur
pedestrian.
6. Lebar minimum jalur pedestrian adalah 120 cm untuk jalur searah dan 160 cm
untuk dua arah. Jalur pedestrian harus bebas dari pohon, tiang rambu-rambu,
lubang drainase/gorong-gorong dan benda-benda lainnya yang menghalangi.

7. Tepi pengaman dibuat setinggi maksimal 10 cm dan lebar 15 cm sepanjang jalur


pedestrian.

Hendra Arif K.H Lubis : Kajian Aksesibilitas Difabel Pada Ruang Publik Kota Studi Kasus : Lapangan Merdeka, 2008
USU Repository 2008

3.4.4 Ramp
Esesnsi : Ramp adalah jalur sirkulasi yang memiliki bidang dengan
kemiringan tertentu, sebagai alternatif bagi orang yang tidak dapat menggunakan
tangga.
Persyaratan:
1. Kemiringan suatu ramp di dalam bangunan tidak boleh melebihi 7, perhitungan
kemiringan tersebut tidak termasuk awalan atau akhiran ramp (curb
ramps/landing) Sedangkan kemiringan suatu ramp yang ada di luar bangunan
maksimum 6.
2. Panjang mendatar dari satu ramp (dengan kemiringan 7) tidak boleh lebih dari
900 cm. Panjang ramp dengan kemiringan yang lebih rendah dapat lebih
panjang.
3. Lebar minimum dari ramp adalah 95 cm tanpa tepi pengaman, dan 120 cm
dengan tepi pengaman. Untuk ramp yang juga digunakan sekaligus untuk pejalan
kaki dan pelayanan angkutan barang harus dipertimbangkan secara seksama
lebarnya, sedemikian sehingga bisa dipakai untuk kedua fungsi tersebut, atau
dilakukan pemisahan ramp dengan fungsi sendiri-sendiri.
4. Muka datar (bordes) pada awalan atau akhiran dari suatu ramp harus bebas dan
datar sehingga memungkinkan sekurang-kurangnya untuk memutar kursi roda
dengan ukuran minimum 160 cm.

Hendra Arif K.H Lubis : Kajian Aksesibilitas Difabel Pada Ruang Publik Kota Studi Kasus : Lapangan Merdeka, 2008
USU Repository 2008

5. Permukaan datar awalan atau akhiran suatu ramp harus memiliki tekstur
sehingga tidak licin baik diwaktu hujan.
6. Lebar tepi pengaman ramp/kanstin/low curb 10 cm, dirancang untuk
menghalangi roda kursi roda agar tidak terperosok atau keluar dari jalur ramp.
Apabila berbatasan langsung dengan lalu-lintas jalan umum atau persimpangan
harus dibuat sedemikian rupa agar tidak mengganggu jalan umum.
7. Ramp harus diterangi dengan pencahayaan yang cukup sehingga membantu
penggunaan ramp saat malam hari. Pencahayaan disediakan pada bagian-bagian
ramp yang memiliki ketinggian terhadap muka tanah sekitarnya dan bagianbagian yang membahayakan.

8. Ramp harus dilengkapi dengan pegangan rambatan (handrail) yang dijamin


kekuatannya dengan ketinggian yang sesuai. Pegangan rambat harus mudah
dipegang dengan ketinggian 65 80 cm.
3.4.5 Tangga
Esensi : Fasilitas bagi pergerakan vertikal yang dirancang dengan
mempertimbangkan ukuran dan kemiringan pijakan dan tanjakan dengan lebar yang
memadai.

Hendra Arif K.H Lubis : Kajian Aksesibilitas Difabel Pada Ruang Publik Kota Studi Kasus : Lapangan Merdeka, 2008
USU Repository 2008

Persyaratan :
1. Harus memiliki dimensi pijakan dan tanjakan yang berukuran seragam.
2. Harus memiliki kemiringan tangga kurang dari 60
3. Tidak terdapat tanjakan yang berlubang yang dapat membahayakan pengguna
tangga.
4. Harus dilengkapi dengan pegangan rambat (handrail) minimum pada salah satu
sisi tangga.
5. Pegangan rambat harus mudah dipegang dengan ketinggian 65 80 cm dari
lantai, bebas dari elemen konstruksi yang mengganggu, dan bagian ujungnya
harus bulat atau dibelokkan dengan baik ke arah lantai, dinding atau tiang.
6. Pegangan rambat harus ditambah panjangnya pada bagian ujungnya (puncak dan
bagian bawah) dengan 30 cm.
7. Untuk tangga yang terletak di luar bangunan, harus dirancang sehingga tidak ada
air hujan yang menggenang pada lantainya.

3.4.6 Pintu
Esensi : Pintu adalah bagian dari suatu tapak, bangunan atau ruang yang
merupakan tempat untuk masuk dan keluar dan pada umumnya dilengkapi dengan
penutup (daun pintu).

Hendra Arif K.H Lubis : Kajian Aksesibilitas Difabel Pada Ruang Publik Kota Studi Kasus : Lapangan Merdeka, 2008
USU Repository 2008

Persyaratan :
1. Pintu pagar ke tapak harus mudah dibuka dan ditutup oleh difabel.
2. Pintu keluar/masuk utama memiliki lebar bukaan minimal 90 cm, dan pintu-pintu
yang kurang penting memiliki lebar bukaan minimal 80 cm.
3. Di daaerah sekitar pintu masuk sedapat mungkin dihindari adanya ramp atau
perbedaan ketinggian lantai.
4. Hindari penggunan bahan lantai yang licin di sekitar pintu
5. Plat tendang yang diletakkan di bagian bawah pintu diperlukan bagi pengguna
kursi roda dan tongkat tuna netra.

3.4.7 Toilet
Esensi : Fasilitas sanitasi yang aksesibel untuk semua orang (tanpa
terkecuali penyandang cacat, orang tua dan ibu-ibu hamil) pada bangunan atau
fasilitas umum lainnya.
Persyaratan :
1. Toilet atau kamar kecil umum yang aksesibel harus dilengkapi dengan tampilan
rambu/simbol dengan sistem cetak timbul penyandang cacat pada bagian
luarnya.
2. Toilet atau kamar kecil umum harus memiliki ruang gerak yang cukup untuk
masuk dan keluar pengguna kursi roda.

Hendra Arif K.H Lubis : Kajian Aksesibilitas Difabel Pada Ruang Publik Kota Studi Kasus : Lapangan Merdeka, 2008
USU Repository 2008

3. Ketinggian tempat duduk kloset harus sesuai dengan ketinggian pengguna kursi
roda sekitar (45-50 cm)
4. Toilet atau kamar kecil umum harus dilengkapi dengan pegangan rambat
(handrail) yang memiliki posisi dan ketinggian disesuaikan dengan pengguna
kursi roda dan penyandang cacat yang lain. Pegangan disarankan memiliki
bentuk siku-siku mengarah ke atas untuk membantu pergerakan pengguna kursi
roda.
5. Letak kertas tissu, air, kran air atau pancuran (shower) dan perlengkapanperlengkapan seperti tempat sabun dan pengering tangan harus dipasang
sedemikian

hingga

mudah

digunakan

oleh

orang

yang

memiliki

keterbatasanketerbatasan fisik dan bisa dijangkau pengguna kursi roda.


6. Semua kran sebaiknya dengan menggunakan sistem pengungkit dipasang pada
wastafel, dll.
7. Bahan dan penyelesaian lantai harus tidak licin.
8. Pintu harus mudah dibuka dan ditutup untuk memudahkan pengguna kursi roda.
3.48 Telepon Umum
Esensi : Peralatan komunikasi yang disediakan untuk semua orang yang
sedang mengunjungi suatu bangunan atau fasilitas umum.

Hendra Arif K.H Lubis : Kajian Aksesibilitas Difabel Pada Ruang Publik Kota Studi Kasus : Lapangan Merdeka, 2008
USU Repository 2008

Persyaratan :
1. Telepon umum disarankan yang menggunakan tombol tekan, harus terletak pada
lantai yang aksesibel bagi semua orang termasuk penyandang cacat, orang tua,
orang sakit, balita dan ibu-ibu hamil.
2. Ruang gerak yang cukup harus disediakan di depan telpon umum sehingga
memudahkan penyandang cacat untuk mendekati dan menggunakan telpon.
3. Ketinggian telpon dipertimbangkan terhadap keterjangkauan gagang telpon
terhadap pengguna kursi roda 80-100 cm
4. Bagi pengguna yang memiliki pendengaran kurang, perlu disediakan alat kontrol
volume suara yang terlihat dan mudah terjangkau.
5. Bagi tuna netra sebaiknya disediakan petunjuk telpon dalam huruf Braille dan
dilengkapi juga dengan isyarat bersuara (talking sign) yang terpasang di dekat
telpon umum.
6. Panjang kabel gagang telpon harus memungkinkan pengguna kursi roda untuk
menggunakan telpon dengan posisi yang nyaman. ( 75 cm).
7. Bilik telepon dapat dilengkapi dengan kursi yang disesuaikan dengan gerak
pengguna dan site yang tersedia.

Hendra Arif K.H Lubis : Kajian Aksesibilitas Difabel Pada Ruang Publik Kota Studi Kasus : Lapangan Merdeka, 2008
USU Repository 2008

3.4.9 Area Parkir


Esensi : Area parkir adalah tempat parkir kendaraan yang dikendarai oleh
penyandang cacat, sehingga diperlukan tempat yang lebih luas untuk naik turun kursi
roda, daripada tempat parkir yang biasa. Sedangkan daerah untuk menaik-turunkan
penumpang (Passenger Loading Zones) adalah tempat bagi semua penumpang,
termasuk penyandang cacat, untuk naik atau turun dari kendaraan.
Persyaratan :
1. Tempat parkir penyandang cacat terletak pada rute terdekat menuju bangunan/
fasilitas yang dituju, dengan jarak maksimum 60 meter
2. Area parkir harus cukup mempunyai ruang bebas di sekitarnya sehingga
pengguna berkursi roda dapat dengan mudah masuk dan keluar dari
kendaraannya;
3. Area parkir khusus penyandang cacat ditandai dengan simbol tanda parkir
penyandang cacat yang berlaku;
4. Pada lot parkir penyandang cacat disediakan ram trotoir di kedua sisi kendaraan
5. Ruang parkir mempunyai lebar 370 cm untuk parkir tunggal atau 620 cm untuk
parkir ganda dan sudah dihubungkan dengan ram dan jalan menuju fasilitasfasilitas lainnya.
6. Kedalaman minimal dari daerah naik turun penumpang dari jalan atau jalur lalulintas sibuk adalah 360 cm dan dengan panjang minimal 600 cm

Hendra Arif K.H Lubis : Kajian Aksesibilitas Difabel Pada Ruang Publik Kota Studi Kasus : Lapangan Merdeka, 2008
USU Repository 2008

7. Diberi rambu penyandang cacat yang biasa digunakan untuk mempermudah dan
membedakan dengan fasilitas serupa bagi umum.

3.5 Standar Aksesibilitas Pada Bangunan Fasilitas Pelayanan Umum

Tabel 3.1 Standar aksesibilitas pada bangunan fasilitas pelayanan umum


Elemen
Standar Minimal
Pintu o Pintu masuk dan keluar
Masuk/
bangunan harus cukup
Keluar
lebar minimal 90 cm dan
hendaknya dikonstruksi
sedemikian rupa sehingga
dapat dilalui oleh
pengguna kursi roda
o Dari pintu masuk/keluar
menuju ke meja penerima
tamu perlu dilengkapi
dengan jalur pemandu

Koridor o Lebar koridor minimal 120 o


cm sehingga pengguna
kursi roda dapat
melaluinya dan perlu
disediakan ruang yang
longgar agar pengguna
kursi roda dapat berputar
o Apabila dalam suatu
bangunan terdapat
perbedaan ketinggian
o
lantai , perlu dipasang
ramp yang dapat
menghilangkan perbedaan
ketinggian tersebut

Standar yang direkomendasikan


Pintu bangunan hendaknya
dikonstuksi sedemikian rupa
sehingga para pengguna kursi roda
dapat melaluinya dengan mudah
dan lebar pintu minimal 120 cm
Pintu masuk/keluar utama
sebaiknya pintu otomatis, lebar
minimal 120 cm, sedangkan pintu
masuk/keluar lainnya hendaknya
memiliki lebar minimal 90 cm
Pada dasarnya diperlukan jalur
pemandu dari pintu masuk/keluar
menuju ke meja penerima tamu
Lebar koridor sebaiknya 180 cm
atau lebih sehingga dua pengguna
kursi roda dapat berpapasan dan
merubah arah dengan mudah dan
perlu disediakan ruang yang
longgar agar pengguna kursi roda
dapat berputar. Jika fasilitas ini
disediakan, lebar koridor dan
lainnya minimal 140 cm
Apabila dalam suatu bangunan
terdapat perbedaan ketinggian
lantai, perlu dipasang alat/sarana
seperti
ramp
yang
dapat
menghilangkan
perbedaan
ketinggian lantai

Hendra Arif K.H Lubis : Kajian Aksesibilitas Difabel Pada Ruang Publik Kota Studi Kasus : Lapangan Merdeka, 2008
USU Repository 2008

Tangga

o Apabila
dalam
suatu
bangunan terdapat tangga,
perlu dipasang pegangan
tangan
o Ubin peringatan dan ubin
pengarah perlu dipasang
pada bagian atas tangga

Ramp

o Pada ramp perlu dipasang


pegangan tangan
o Lebar ramp minimal 120
cm dengan kemiringan 78
o Ubin peringatan perlu
dipasang pada ramp
o Pada
kamar
mandi
minimal disediakan satu
kloset
duduk
untuk
digunakan pengguna kursi
roda
o Pada area parkir, perlu
disediakan minimal satu
tempat
parkir
untuk
pengguna
kursi
roda
dengan lebar minimal 350
cm

Kamar
mandi

Area
parkir

o Apabila dalam suatu bangunan


terdapat tangga, perlu dipasang
pegangan tangan pada kedua
sisinya
o Tinggi setiap anak tangga maksimal
16 cm dan lebar tapak anak tangga
minimal 30 cm
o Pada bagian atas tangga perlu
dipasang peringatan
o Perlu dipasang pegangan tangan
pada kedua sisi ramp
o Lebar ramp sebaiknya 150 cm atau
lebih dengan kemiringan 7-8 atau
kurang
o Ubin peringatan perlu dipasang
pada ramp
o Pada prinsipnya 2% atau lebih dari
jumlah kloset yang tersedia pada
setiap lantai bangunan sebaiknya
berupa kloset duduk yang dapat
dipergunakan pengguna kursi roda
o Pada prinsipnya minimal 2% dari
tempat pakir dalam suatu area
sebaiknya
diperuntukkan
bagi
pengguna kursi roda. Lebar tempat
parkir adalah 350 cm.

Sumber : United Nations (1995 : 27-28)

Hendra Arif K.H Lubis : Kajian Aksesibilitas Difabel Pada Ruang Publik Kota Studi Kasus : Lapangan Merdeka, 2008
USU Repository 2008

BAB IV
METODOLOGI PENELITIAN

4.1 Pendahuluan
Dalam melakukan kajian aksesibilitas difabel pada ruang publik kota, metoda
penelitian yang digunakan yaitu :
1. Metoda kuantitatif dengan metoda survey dan membagikan kuesioner kepada
responden dalam jumlah tertentu. Kuesioner yang dibagikan berupa gabungan
dari kuesioner berstruktur dan tidak berstruktur.
2. Metoda kualitatif yaitu dengan metoda wawancara.
Untuk melakukan penilaian elemen aksesibilitas tehadap sarana aksesibilitas
publik di kawasan Lapangan Merdeka dimana penilaian tersebut diklasifikasikan atas
4 (empat) kelompok difabel yaitu : tuna netra, tuna rungu, tuna daksa pengguna kruk
dan tuna daksa pengguna kursi roda.
Guna menganalisa kajian sarana aksesibilitas publik di kawasan Lapangan
Merdeka ada 2 (dua) standar yang digunakan untuk kriteria penilaian elemen
aksesibilitas :
1. Persyaratan Teknis Fasilitas dan Aksesibilitas (Peraturan Menteri Pekerjaan
Umum No.30/PRT/M/2006 )
2. Rangkuman Standar Aksesibilitas tabel 2.5.1 (United Nations, 1995)

Hendra Arif K.H Lubis : Kajian Aksesibilitas Difabel Pada Ruang Publik Kota Studi Kasus : Lapangan Merdeka, 2008
USU Repository 2008

4.2 Tahapan Penelitian


1. Menentukan Objek dan Batasan Penelitian
a. Penelitian ruang luar (outdoor) dibatasi pada kajian aksesibilitas kaum difabel
pada fasilitas umum di ruang terbuka sebagai ruang publik kota.
b. Lingkup pembahasan dalam penelitian ini hanya membahas aspek fisik.
c. Penelitian dalam bangunan (indoor) hanya akan dilakukan pada bangunan
stasiun kereta api sebagai salah satu pintu masuk kota Medan.
2. Hipotesis
a. Sarana aksesibilitas di Kawasan Lapangan Merdeka belum aksesibel untuk
kaum difabel
b. Sarana aksesibilitas di kawasan Lapangan Merdeka belum memenuhi kriteria
kemudahan, kegunaan, keselamatan dan kemandirian untuk kaum difabel.
3. Studi Banding
a. Dalam penelitian ini yang menjadi studi banding adalah penelitian pada
kawasan Bukit Bintang Kuala Lumpur. Studi banding ini dilakukan atas dasar
kesamaan fungsi kawasan sebagai ruang publik kota .
4. Pengumpulan Data
a. Data Primer, berupa hasil pengamatan langsung di lapangan yaitu dengan
membagikan kuesioner kepada 100 orang kaum difabel ynag pernah
berkunjung ke kawasan Lapangan Merdeka dan melakukan observasi/
pengukuran pada sarana aksesibilitas umum di kawasan Lapangan Merdeka.

Hendra Arif K.H Lubis : Kajian Aksesibilitas Difabel Pada Ruang Publik Kota Studi Kasus : Lapangan Merdeka, 2008
USU Repository 2008

I. Tahap-tahap persiapan kuesioner


II. Jumlah kuesioner

: 100 lembar

III. Jumlah pertanyaan

: 15 pertanyaan

IV. Distribusi kuesioner

V. Kuesioner ditujukan kepada kaum difabel yang sudah pernah berkunjung ke

kawasan Lapangan Merdeka. Perhitungan distribusi kuesioner berdasarkan


jumlah populasi kaum difabel Kota Medan
1) 39 lembar, ditujukan kepada kaum difabel tuna netra
2) 22 lembar, ditujukan kepada kaum difabel tuna daksa pengguna kruk
3) 22 lembar, ditujukan kepada kaum difabel tuna daksa pengguna kursi

roda
4) 17 lembar, ditujukan kepada kaum difabel tuna rungu
VI. Observasi/ pengukuran
1) Segmentasi Kawasan
2) Dokumentasi
3) Pengukuran, diawali dari luar bangunan (outdoor) sampai ke dalam

bangunan (indoor)
4) Elemen

penelitian meliputi pedestrian, ramp, tangga,

pintu masuk,

telepon umum, loket, area informasi, toilet umum, kantin dan tempat
ibadah.

Hendra Arif K.H Lubis : Kajian Aksesibilitas Difabel Pada Ruang Publik Kota Studi Kasus : Lapangan Merdeka, 2008
USU Repository 2008

b. Data sekunder , berupa data yang diperoleh dari studi literatur


5. Analisa Data
Guna menganalisa kajian sarana aksesibilitas publik di kawasan Lapangan
Merdeka ada 2 variabel untuk kriteria penilaian aksesibilitas :
a. Persyaratan Teknis Fasilitas dan Aksesibilitas (Peraturan Menteri
Pekerjaan Umum No.30/PRT/M/2006 ).
b. Rangkuman Standar Aksesibilitas tabel 2.5.1 (United Nations, 1995).
Kemudian dilakukan metoda multi exposed yaitu dengan melakukan pemeriksaan
silang terhadap data standar aksesibilitas dengan data yang ditemui di lapangan.

Tabel 4.1 Penilaian Elemen Aksesibilitas


Nama Elemen Aksesibilitas
No

Variabel

Data

Standar

Penilaian
Netra Rungu Kruk

K.Roda

Komentar
Tuna netra.
Tuna rungu
Tuna daksa pengguna kruk
Tuna daksa pengguna kursi roda..
Kesimpulan
Untuk tuna netra elemen aksesibiltas..
Untuk tuna rungu elemen aksesibilitas
Untuk tuna daksa pengguna kruk elemen aksesibilitas
Untuk tuna daksa pengguna kursi roda elemen aksesibilitas.

Sumber : Himpunan Wanita Penyandang Cacat (HWPCI) Pusat

Hendra Arif K.H Lubis : Kajian Aksesibilitas Difabel Pada Ruang Publik Kota Studi Kasus : Lapangan Merdeka, 2008
USU Repository 2008

Tabel 4.2 Klasifikasi Difabel


No
1
2
3
4

Klasifikasi
Tuna Netra
Tuna rungu
Tuna daksa pengguna kruk
Tuna daksa pengguna kursi roda

Keterangan
Difabel dalam hal penglihatan
Difabel dalam hal pendengaran
Difabel fisik dengan alat bantu kruk
Difabel fisik dengan alat bantu kursi roda

Sumber : Himpunan Wanita Penyandang Cacat (HWPCI) Pusat

Tabel 4.3 Kriteria Penilaian


No
1
2

Kriteria Penilaian
Akses
Akses Tidak Memadai

Skor
1
0.5

Tidak Akses

Keterangan
Kaum difabel dapat akses
Kaum difabel dapat akses tetapi elemen
aksesibiitas tidak memenuhi standar
Kaum difabel memerlukan bantuan untuk akses

Sumber : Himpunan Wanita Penyandang Cacat (HWPCI) Pusat

Tabel 4.4 Kriteria Skor

No
1
2
3
4

Kisaran Skor
A/ (skor =4)
B/3
C/2
D/1

Kriteria Skor
Aksesibilitas Baik
Aksesibilitas Cukup
Aksesibilitas Kurang
Tidak Ada Aksesibilitas

Keterangan
Aksesibel Sempurna Standar
Aksesibel Sebagian Standar
Kurang Aksesibel
Tidak Aksesibel

Sumber : Himpunan Wanita Penyandang Cacat (HWPCI) Pusat

Komentar yang diberikan oleh kaum difabel ketika mengakses kawasan


Lapangan Merdeka digunakan untuk menentukan

permasalahan fisik sarana

aksesibilitas yang menghambat aksesibilitas kaum difabel dalam mengakses kawasan


Lapangan Merdeka sebagai ruang publik kota
5. Temuan dan Kesimpulan
6. Rekomendasi dan Saran

Hendra Arif K.H Lubis : Kajian Aksesibilitas Difabel Pada Ruang Publik Kota Studi Kasus : Lapangan Merdeka, 2008
USU Repository 2008

BAB V
DESKRIPSI DAERAH PENELITIAN

5.1 Gambaran Umum


Kawasan Lapangan Merdeka terletak di pusat kota dengan luas 5 hektar.
Pada kawasan ini, ruang terbuka menggunakan lahan sekitar 60%. Lapangan
Merdeka dan Lapangan Benteng memiliki peranan penting dalam struktur kawasan
dan core kota Medan pada umumnya.

Gambar 5.1 Lokasi Penelitian, insert : Peta Kota Medan

Kawasan Lapangan Merdeka didominasi oleh fungsi perkantoran. Hal-hal


yang paling khusus dari kawasan ini adalah bangunan-bangunan bersejarah dan
ruang terbuka publik. Berdasarkan SK Walikotamadya KDH Tk.II Medan No.

Hendra Arif K.H Lubis : Kajian Aksesibilitas Difabel Pada Ruang Publik Kota Studi Kasus : Lapangan Merdeka, 2008
USU Repository 2008

188.342/789/SK/1991 tentang Pelaksanaan Peraturan Daerah Kotamadya Medan


Nomor 5 tahun 1990, bahwa Lapangan Merdeka tergolong sebagai taman klasifikasi
A, yang memiliki kriteria terletak di pusat wilayah dengan daerah pelayanan radius
2000-10000 m, dan luas area 10000-50000 m. Berdasarkan peraturan tersebut
Lapangan Merdeka harus dapat melayani lebih dari 25000 penduduk kota Medan.

Gambar 5.2 Peta Kegiatan di kawasan Lapangan Merdeka

Keterangan peta aktivitas publik di Kawasan Lapangan Merdeka- Lapangan Benteng :


1. Lapangan Upacara
9. Perbankan
17. Blok Komersial
1. Lapangan Olahraga

10. Hotel

18. Kantor Walikota

2. Pujasera

11. Bank Sentral

19. Pusat Perbelanjaan

3. Pasar Buku

12. Perbankan

20. Gedung DPR

4. Stasiun Kereta Api

13. Kantor Swasta

21. Lapangan Upacara

5. Kantor Pos Pusat

14. Kantor Asuransi

22. Perbankan

6. Perbankan

15. Perbankan

23. Pusat Onderdil

7. Blok Komersial

16. Perbankan

24. Pujasera

Hendra Arif K.H Lubis : Kajian Aksesibilitas Difabel Pada Ruang Publik Kota Studi Kasus : Lapangan Merdeka, 2008
USU Repository 2008

5.2 Segmentasi Kawasan


Untuk mempermudah dalam mendeskripsikan dan menganalisis kawasan
Lapangan Merdeka maka kawasan dibagi atas 2 segmen, yang masing-masing terdiri
dari :

Gambar 5.3 Segmentasi Kawasan

1. Segmen A : Lapangan Merdeka


a. Terdiri dari 5 sub segmen yaitu koridor jalan Balai Kota, koridor jalan
Bukit Barisan, koridor jalan Kereta Api, koridor jalan Pulau Pinang
dan Lapangan Merdeka.
2. Segmen B : Stasiun Kereta Api

Hendra Arif K.H Lubis : Kajian Aksesibilitas Difabel Pada Ruang Publik Kota Studi Kasus : Lapangan Merdeka, 2008
USU Repository 2008

5.3 Segmen A (Lapangan Merdeka)


5.3.1 Peruntukan Lahan
Lokasi Lapangan Merdeka terletak di pusat kota Medan tepatnya di
kecamatan Medan Barat, dengan luas 4,7 ha. Dalam studi kasus ini Lapangan
Merdeka dikelilingi oleh empat koridor jalan satu arah yaitu jalan Balai Kota, jalan
Bukit Barisan, jalan Kereta Api dan jalan Pulau Pinang.
Peruntukan lahan di segmen Lapangan Benteng didominasi oleh ruang
terbuka (66%), selanjutnya perbankan (15%), komersil (6%), hotel (6%),
perkantoran milik swasta (2%), perkantoran milik pemerintah (1.2%), pertokoan
(0,8%), kantor pos (0,1%), kantor polisi (0,07%) dan mushalla (0,03%). Hal-hal
yang paling khusus dari segmen ini adalah bangunan bersejarah dan Lapangan
Merdeka.

Hendra Arif K.H Lubis : Kajian Aksesibilitas Difabel Pada Ruang Publik Kota Studi Kasus : Lapangan Merdeka, 2008
USU Repository 2008

Gambar 5.4 Peruntukan Lahan Segmen A

5.3.2 Jalur Pedestrian dan Vegetasi


Keempat koridor jalan di segmen Lapangan Merdeka memiliki jalur
pedestrian dua arah dan tidak semua koridor jalan memiliki fasilitas penyeberangan.
Selain di keempat koridor jalan juga terdapat jalur pedestrian yang berada di dalam
Lapangan Merdeka.

Gambar 5.5 Jalur Vegetasi dan Pedestrian

Jenis-jenis pohon yang terdapat di dalam Lapangan Merdeka antara lain :


1. Pohon Trambesi, dalam bahasa latin Samanea Saman yang sering disebut pohon
Ki Hujan. Pohon-pohon tersebut rata-rata berumur 110 tahun
2. Pohon Seri, selain pohon Ki Hujan juga terdapat pohon seri yang ditanam
sejajar koridor jalan Balai Kota.

Hendra Arif K.H Lubis : Kajian Aksesibilitas Difabel Pada Ruang Publik Kota Studi Kasus : Lapangan Merdeka, 2008
USU Repository 2008

3. Pohon Palem, ditanam sejajar mengelilingi lintasan dalam.


4. Pohon Cemara, hanya terdapat beberapa batang di dalam Lapangan Merdeka
5. Pohon peneduh, yang terdapat di sepanjang lintasan tengah sebagai pembatas
antara lintasan tengah dan lintasan luar. Selain pohon-pohon peneduh juga
terapat tanaman- tanaman hias.

Gambar 5.6 Kondisi Jalur Vegetasi dan Pedestrian

Pada keempat koridor jalan ditanami pohon yang bersifat visual dan tidak
memberi kontribusi untuk kenyamanan jalur pejalan kaki.

Gambar 5.7 Kondisi Jalur Vegetasi dan Pedestrian

Hendra Arif K.H Lubis : Kajian Aksesibilitas Difabel Pada Ruang Publik Kota Studi Kasus : Lapangan Merdeka, 2008
USU Repository 2008

5.3.3 Utilitas
Sistem utilitas di segmen Lapangan Benteng masih belum menggunakan
sistem jaringan terpadu. Penyediaan prasarana umum seperti air bersih, listrik,
telepon dan drainase terletak menyebar khususnya di bawah jalur utama pejalan kaki

dan badan jalan.

Gambar 5.8 Skema Jaringan Utilitas Segmen A

Hendra Arif K.H Lubis : Kajian Aksesibilitas Difabel Pada Ruang Publik Kota Studi Kasus : Lapangan Merdeka, 2008
USU Repository 2008

5.3.4 Muka Jalan (Streetscape)

Pembagian sub segmen pada masing-masing koridor jalan terbagi menjadi 2 sub
Gambar 5.9 Pembagian Sub Segmen A

segmen kecuali koridor jalan Kereta Api. Pembagian sub segmen pada masingmasing koridor jalan adalah : koridor jalan Balai Kota terbagi menjadi segmen C1-1
dan segmen C1-2 ; koridor jalan Bukit Barisan terbagi menjadi segmen C1-1 dan
segmen C2-2; koridor jalan Kereta Api terbagi menjadi segmen C3-1 dan segmen
C3-2; koridor jalan Pulau Pinang terbagi menjadi segmen C4-1 dan segmen C4-2.

Hendra Arif K.H Lubis : Kajian Aksesibilitas Difabel Pada Ruang Publik Kota Studi Kasus : Lapangan Merdeka, 2008
USU Repository 2008

1. Sub Segmen A1-1

Gambar 5.10 Muka Jalan Pada Sub Segmen A1-1

Muka jalan pada segmen ini memperlihatkan potongan jalan Balai Kota yang
berlatar bangunan publik. Pada satu bagian koridor jalan posisi pedestrian langsung
berbatasan dengan bangunan. Pada bagian lain koridor jalan tampak bangunan
setback ke belakang pedestrian yang tidak terlindungi oleh vegetasi.
2.Sub Segmen A1-2

Gambar 5.11 Muka Jalan Pada Sub Segmen A1-2

Muka jalan pada segmen ini memperlihatkan potongan jalan Balai Kota yang
berlatar Lapangan Merdeka dengan bangunan komersil. Pada segmen ini pedestrian
terlihat teduh karena terlindungi oleh deretan pohon seri yang bertajuk lebar.

Hendra Arif K.H Lubis : Kajian Aksesibilitas Difabel Pada Ruang Publik Kota Studi Kasus : Lapangan Merdeka, 2008
USU Repository 2008

3. Sub Segmen A2-1

Gambar 5.12 Muka Jalan Pada Sub Segmen A2-1

Muka jalan pada segmen ini memperlihatkan potongan jalan Bukit Barisan
dengan latar bangunan publik dan pertokoan. Pada segmen ini bangunan tampak
setback di belakang pedestrian yang tidak terlindungi oleh vegetasi. Jalur pedestrian
pada sub segmen A2-1 dilengkapi dengan fasilitas telepon umum.

4. Sub Segmen A2-2

Gambar 5.13 Muka Jalan Pada Sub Segmen A2-2

Muka jalan pada segmen ini memperlihatkan potongan jalan Bukit Barisan
yang berlatar Lapangan Merdeka dengan bangunan kantor polisi dan gerbang masuk
ke Lapangan Merdeka. Pada segmen ini pedestrian terlihat teduh karena terlindungi
oleh deretan pohon seri yang bertajuk lebar.

Hendra Arif K.H Lubis : Kajian Aksesibilitas Difabel Pada Ruang Publik Kota Studi Kasus : Lapangan Merdeka, 2008
USU Repository 2008

5.Sub Segmen A3

Gambar 5.14 Muka Jalan Pada Sub Segmen A3

Muka jalan pada segmen ini memperlihatkan potongan jalan Kereta Api yang
berlatar Lapangan Merdeka dengan Pasar Buku. Pada segmen ini pedestrian terlihat
teduh karena terlindungi oleh deretan pohon seri yang bertajuk lebar.

6. Sub Segmen A3

Gambar 5.15 Muka Jalan Pada Sub Segmen A3

Muka jalan pada segmen ini memperlihatkan potongan jalan Kereta Api yang
berlatar Lapangan Merdeka dengan Pasar Buku. Pada segmen ini pedestrian terlihat
teduh karena terlindungi oleh deretan pohon seri yang bertajuk lebar.

Hendra Arif K.H Lubis : Kajian Aksesibilitas Difabel Pada Ruang Publik Kota Studi Kasus : Lapangan Merdeka, 2008
USU Repository 2008

7. Sub Segmen A4-1

Gambar 5.16 Muka Jalan Pada Sub Segmen A4-1

Muka jalan pada segmen ini memperlihatkan potongan jalan Pulau Pinang
yang berlatar bangunan publik. Pada satu bagian koridor jalan posisi pedestrian
langsung berbatasan dengan bangunan. Pada bagian lain koridor jalan tampak
bangunan setback ke belakang pedestrian yang tidak terlindungi oleh vegetasi.
8. Sub Segmen A4-2

Gambar 5.17 Muka Jalan Pada Sub Segmen A4-2

Muka jalan pada segmen ini memperlihatkan potongan jalan Pulau Pinang
yang berlatar Lapangan Merdeka dengan bangunan komersil dan gerbang masuk ke
Lapangan Merdeka. Pada segmen ini pedestrian terlihat teduh karena terlindungi
oleh deretan pohon Ki Hujan yang bertajuk lebar.

Hendra Arif K.H Lubis : Kajian Aksesibilitas Difabel Pada Ruang Publik Kota Studi Kasus : Lapangan Merdeka, 2008
USU Repository 2008

5.4 Segmen B (Stasiun Kereta Api)

Gambar 5.18 Segmen B Stasiun Kereta Api

Stasiun Kereta Api Besar Medan terletak di sebelah barat Lapangan Merdeka.
Didirikan pada tahun 1883 oleh perusahaan Deli Maaatschappij dan pada tahun 1885
jalur kereta api Medan- Labuhan Deli resmi dijalankan. Pada masa sekarang Stasiun
Kereta Api Besar dikelola oleh PT. Kereta Api Indonesia (KAI) dengan rute
pelayanan ke berbagai kota di Sumatera Utara.

Hendra Arif K.H Lubis : Kajian Aksesibilitas Difabel Pada Ruang Publik Kota Studi Kasus : Lapangan Merdeka, 2008
USU Repository 2008

Dalam penelitian ini Stasiun Kereta Api Besar Medan menjadi objek
penelitian di dalam bangunan (indoor), karena bangunan Stasiun Kereta Api Besar
Medan merupakan salah satu pintu masuk utama ke Kota Medan dan sudah
selayaknya fasilitas aksesibilitas di Stasiun Kereta Api Besar Medan dapat diakses
oleh semua kalangan masyarakat tanpa terkecuali.

5.4.1 Zoning
Pembagian zoning di Stasiun Kereta Api Besar Medan meliputi : zoning
publik (hall utama, peron), zoning semi publik (retail), zoning private (ruang
pengelola), zoning service (Toilet/WC).

Gambar 5.19 Zoning Ruang Stasiun Kereta Api

Hendra Arif K.H Lubis : Kajian Aksesibilitas Difabel Pada Ruang Publik Kota Studi Kasus : Lapangan Merdeka, 2008
USU Repository 2008

5.4.2 Muka Jalan (Streetscape)

Gambar 5.20 Muka Jalan Pada Segmen B

Muka jalan pada segmen ini memperlihatkan potongan jalan Kereta Api yang
berlatar bangunan Stasiun Kereta Api Besar Medan.

5.5 Bangunan Monumental


Bangunan yang mendominasi Kawasan Lapangan Merdeka adalah bangunan
perkantoran, dimana bangunan-bangunan tersebut merupakan bangunan peninggalan
Belanda yang didominasi bangunan bergaya arsitektur neo-klasik (gedung Balai
Kota, gedung Bank Indonesia, hotel de Boer, kantor Pos Besar, kantor Asuransi
Jasindo dan gedung PT. London Sumatera Plantations) dan art deco (gedung Bank
Mandiri, Stasiun Kereta Api dan kantor Bank Panin). Selain bangunan peninggalan
Belanda terdapat juga bangunan baru yang bergaya arsitektur tropis (kantor Bank
Niaga), dan Modern Style yang didominasi oleh bidang- bidang transparan (hotel
Natour Dharma Deli dan Bank Indonesia).

Hendra Arif K.H Lubis : Kajian Aksesibilitas Difabel Pada Ruang Publik Kota Studi Kasus : Lapangan Merdeka, 2008
USU Repository 2008

Bird EyeBukit
ViewBintang
Bangunan
Monumental
5.6 StudiGambar
Banding5.21
(Kawasan
Kuala
Lumpur) di Kawasan
Lapangan Merdeka

Kawasan Bukit Bintang (Star Hill) adalah sebuah distrik pusat belanja dan hiburan di
Kuala Lumpur. Kawasan Bukit Bintang terdiri dari 3 jalan utama : dimulai dari Jalan
Pudu, Jalan Bukit Bintang dan berakhir dengan berpotongan pada Jalan Sultan
Ismail. Kawasan Bukit Bintang adalah generator aktifitas kawasan yang didominasi
pusat perbelanjaan, kafetaria, klub, dan deretan toko-toko yang beraktifitas selama
24 jam sehari. Kawasan Bukit Bintang adalah kawasan yang didominasi oleh pejalan
kaki.

Hendra Arif K.H Lubis : Kajian Aksesibilitas Difabel Pada Ruang Publik Kota Studi Kasus : Lapangan Merdeka, 2008
USU Repository 2008

Kawasan Bukit Bintang adalah kawasan yang didominasi oleh pejalan kaki.

Sumber : Google Images


Gambar 5.22 Peta Lokasi kawasan Bukit Bintang Kuala Lumpur

Dimana hal ini dapat terlihat dari intensitas jalan yang dipenuhi oleh pejalan
kaki yang difasilitasi dengan jalur pedestrian yang lebar. Pada jalur pejalan kaki juga
dilengkapi dengan sarana aksesibilitas untuk difabel, seperti jalur pemandu, tepi
pengaman low curb untuk pengguna kursi roda, tangga yang dilengkapi pegangan
tangga, ramp dan toilet umum yang aksesibel untuk difabel.
Yang menarik dari kawasan Bukit Bintang adalah kawasan ini awalnya tidak
didesain untuk mengakomodasi aksesibilitas untuk difabel. Tetapi pada kawasan
Bukit Bintang dilakukan penyesuaian pada sarana aksesibilitas agar dapat digunakan
oleh difabel.

Hendra Arif K.H Lubis : Kajian Aksesibilitas Difabel Pada Ruang Publik Kota Studi Kasus : Lapangan Merdeka, 2008
USU Repository 2008

Hal ini dapat terlihat dari tinggi jalur pedestrian yang tidak aksesibel untuk
pengguna kursi roda tetapi pengguna kursi roda dapat menggunakan jalur pedestrian
setelah dibuat bagian yang landai pada bagian awal dan akhir jalur pedestian.

Sumber : Dok. Pribadi


Gambar 5.23 Sarana aksesibilitas untuk difabel pada jalur pedestrian

Selain itu jalur pedestrian menggunakan material aksesibilitas yang sifatnya


knock down. Material aksesiblitas yang sifatnya knock down antara lain :
Penggunaan jalur pemandu semi permanen berupa pelat stainless yang diletakkan di
atas material penutup jalan, pegangan tangga dan ramp semi permanen yang terbuat
dari pipa stainless yang dipasang pada material penutup jalan dan toilet umum
berupa bangunan knock down.

Hendra Arif K.H Lubis : Kajian Aksesibilitas Difabel Pada Ruang Publik Kota Studi Kasus : Lapangan Merdeka, 2008
USU Repository 2008

Sumber : Dok. Pribadi


Gambar 5.24 Sarana aksesibilitas untuk difabel pada jalur pedestrian

5.6.1 Maksud dan Tujuan


1. Penelitian pada kawasan Bukit Bintang dimaksudkan sebagai pembanding untuk
penelitian pada kawasan Lapangan Merdeka. Hal ini dilakukan karena adanya
kesamaan fungsi kawasan yaitu sebagai ruang publik kota dan juga generator
aktifitas di lingkungan perkotaan.
2. Kawasan Lapangan Merdeka tidak didesain untuk mengakomodasi aksesibilitas
kaum difabel dan oleh sebab itu penyesuaian yang dilakukan pada kawasan Bukit
Bintang diharapkan juga dapat diterapkan pada kawasan Lapangan Merdeka.

Hendra Arif K.H Lubis : Kajian Aksesibilitas Difabel Pada Ruang Publik Kota Studi Kasus : Lapangan Merdeka, 2008
USU Repository 2008

5.6.2 Hasil dan Pembahasan


1. Jalur Pemandu

Sumber : Dok. Pribadi


Gambar 5.25 Jalur Pemandu di kawasan Bukit Bintang Kuala Lumpur

Data :
Jalur pemandu pada kawasan Bukit Bintang terletak pada jalur pedestrian dan
pada bagian tangga dilengkapi dengan ubin pengarah maupun pelat stainless yang
bermotif garis dan lingkaran. Jalur pemandu dibedakan dengan warna kuning.

Kendala :
a. Tuna netra tidak menemui kendala. Sehingga bagi tuna netra jalur
pemandu aksesibel sempurna
b. Tuna rungu tidak menemui kendala. Sehingga bagi tuna rungu jalur
pemandu aksesibel sempurna
c. Tuna daksa pengguna kruk tidak menemui kendala. Sehingga bagi tuna
daksa pengguna kruk jalur pemandu aksesibel sempurna.

Hendra Arif K.H Lubis : Kajian Aksesibilitas Difabel Pada Ruang Publik Kota Studi Kasus : Lapangan Merdeka, 2008
USU Repository 2008

d. Tuna daksa pengguna kursi roda tidak menemui kendala. Sehingga bagi
tuna daksa pengguna kursi roda jalur pemandu aksesibel sempurna.

2. Jalur Pedestrian

Sumber : Dok. Pribadi


Gambar 5.26 Jalur Pedestrian di kawasan Bukit Bintang Kuala Lumpur

Data :
Jalur pedestrian pada kawasan Bukit Bintang memiliki ukuran lebar 360 cm,
tinggi 20 cm dan kemiringan 1-3. Dilengkapi dengan kanstin selebar 20 cm. Pada
bagian permukaan menggunakan material permukaan yang tidak licin dan dalam
kondisi lengkap.

Hendra Arif K.H Lubis : Kajian Aksesibilitas Difabel Pada Ruang Publik Kota Studi Kasus : Lapangan Merdeka, 2008
USU Repository 2008

Kendala :
a. Tuna netra tidak menemui kendala. Sehingga bagi tuna netra jalur
pedestrian aksesibel sempurna
b. Tuna rungu tidak menemui kendala. Sehingga bagi tuna rungu jalur
pedestrian aksesibel sempurna
c. Tuna daksa pengguna kruk tidak menemui kendala. Sehingga bagi tuna
daksa pengguna kruk jalur pedestrian aksesibel sempurna.
d. Tuna daksa pengguna kursi roda tidak menemui kendala. Sehingga bagi
tuna daksa pengguna kursi roda jalur pedestrian aksesibel sempurna.

3. Ramp

Sumber : Dok. Pribadi


Gambar 5.27 Ramp outdoor di kawasan Bukit Bintang Kuala Lumpur

Hendra Arif K.H Lubis : Kajian Aksesibilitas Difabel Pada Ruang Publik Kota Studi Kasus : Lapangan Merdeka, 2008
USU Repository 2008

Data :
Pada jalur pedestrian di kawasan Bukit Bintang dilenkapi dengan ramp
selebar 150 cm dengan

panjang 180 cm dan sudut kemiringan 5. Material

permukaan yang digunakan pada ramp ridak licin dan dilengkapi pegangan pada
kedua sisinya.

Kendala :
a. Tuna netra tidak menemui kendala. Sehingga bagi tuna netra ramp
aksesibel sempurna
b. Tuna rungu tidak menemui kendala. Sehingga bagi tuna rungu ramp
aksesibel sempurna
c. Tuna daksa pengguna kruk tidak menemui kendala. Sehingga bagi tuna
daksa pengguna kruk ramp aksesibel sempurna.
d. Tuna daksa pengguna kursi roda tidak menemui kendala. Sehingga bagi
tuna daksa pengguna kursi roda ramp aksesibel sempurna.

Hendra Arif K.H Lubis : Kajian Aksesibilitas Difabel Pada Ruang Publik Kota Studi Kasus : Lapangan Merdeka, 2008
USU Repository 2008

4. Tangga

Sumber : Dok. Pribadi


Gambar 5.28 Tangga outdoor di kawasan Bukit Bintang Kuala Lumpur

Data :
Pada jalur pedestrian di kawasan Bukit Bintang dilenkapi dengan tangga
setinggi 60 cm dengan tinggi anak tangga 15 cm dan lebar 30 cm. Pada bagian sisi
tangga dilengkapi dengan pegangan tangga 80 cm dan diameter pegangan 5 cm.
Kendala :
a. Tuna netra tidak menemui kendala. Sehingga bagi tuna netra tangga
aksesibel sempurna
b. Tuna rungu tidak menemui kendala. Sehingga bagi tuna rungu tangga
aksesibel sempurna
c. Tuna daksa pengguna kruk tidak menemui kendala. Sehingga bagi tuna
daksa pengguna kruk tangga aksesibel sempurna.

Hendra Arif K.H Lubis : Kajian Aksesibilitas Difabel Pada Ruang Publik Kota Studi Kasus : Lapangan Merdeka, 2008
USU Repository 2008

d. Tuna daksa pengguna kursi roda tidak dapat mengakses tangga karena
bentuk dasar dari tangga tidak diperuntukkan untuk pengguna kursi roda.
Sehingga bagi tuna daksa pengguna kursi roda tangga tidak aksesibel.

5. Toilet Umum

Sumber : Dok. Pribadi


Gambar 5.29 Toilet umum portable di kawasan Bukit Bintang
Kuala Lumpur

Data :
Toilet umum pada kawasan Bukit Bintang menggunakan pintu otomatis
selebar 100 cm dan terdapat kerb ramp pada bagian landing space. Panjang ruang
dari toilet umum adalah 200 cm , lebar 150 cm dan tidak menggunakan material
lantai yang licin. Kloset yang digunakan adalah kloset duduk yang pada bagian

Hendra Arif K.H Lubis : Kajian Aksesibilitas Difabel Pada Ruang Publik Kota Studi Kasus : Lapangan Merdeka, 2008
USU Repository 2008

sisinya terdapat pegangan. Toilet umum juga dilengkapi dengan wastafel setinggi 60
cm dan juga terdapat urinoir.

Kendala :
a. Tuna netra tidak menemui kendala. Sehingga bagi tuna netra toilet umum
aksesibel sempurna
b. Tuna rungu tidak menemui kendala. Sehingga bagi tuna rungu toilet
umum aksesibel sempurna
c. Tuna daksa pengguna kruk tidak menemui kendala. Sehingga bagi tuna
daksa pengguna kruk toilet umum aksesibel sempurna.
d. Tuna daksa pengguna kursi roda tidak menemui kendala. Sehingga bagi
tuna daksa pengguna kursi roda toilet umum aksesibel sempurna.

5.6.3 Hasil Penilaian


Dari hasil kajian pada 5 (N=5) sarana aksesibilitas difabel pada kawasan
Bukit Bintang Kuala Lumpur kesemuanya sudah memenuhi standar aksesibilitas
untuk difabel, tetapi masih ditemukan kendala yaitu tidak adanya tempat parkir
kendaraan yang aksesibel untuk difabel dan tidak adanya fasilitas telepon umum di
luar bangunan.

Hendra Arif K.H Lubis : Kajian Aksesibilitas Difabel Pada Ruang Publik Kota Studi Kasus : Lapangan Merdeka, 2008
USU Repository 2008

BAB VI
ANALISA DAN PEMBAHASAN
Dalam tahap ini akan dilakukan penilaian elemen aksesibilitas tehadap sarana
aksesibilitas publik di kawasan Lapangan Merdeka dimana penilaian tersebut
diklasifikasikan atas 4 (empat) kelompok difabel yaitu : tuna netra, tuna rungu, tuna
daksa pengguna kruk dan tuna daksa pengguna kursi roda.
Guna menganalisa kajian sarana aksesibilitas publik di kawasan Lapangan Merdeka
ada 2 (dua) standar yang digunakan untuk kriteria penilaian elemen aksesibilitas :
1. Persyaratan Teknis Fasilitas dan Aksesibilitas (Peraturan Menteri Pekerjaan
Umum No.30/PRT/M/2006 )
2. Rangkuman Standar Aksesibilitas tabel 2.5.1 (United Nations, 1995)
6.1 Penilaian Elemen Aksesibilitas Segmen A (Lapangan Merdeka)

Gambar 6.1 Pembagian Sub Segmen Pada Segmen A

Hendra Arif K.H Lubis : Kajian Aksesibilitas Difabel Pada Ruang Publik Kota Studi Kasus : Lapangan Merdeka, 2008
USU Repository 2008

Pembagian sub segmen pada masing-masing koridor jalan terbagi menjadi 2


sub segmen kecuali koridor jalan Kereta Api. Pembagian sub segmen pada masingmasing koridor jalan adalah : koridor jalan Balai Kota terbagi menjadi segmen C1-1
dan segmen C1-2 ; koridor jalan Bukit Barisan terbagi menjadi segmen C1-1 dan
segmen C2-2; koridor jalan Kereta Api terbagi menjadi segmen C3; koridor jalan
Pulau Pinang terbagi menjadi segmen C4-1 dan segmen C4-2. Sedangkan
aksesibilitas yang ada di dalam Lapangan Merdeka termasuk dalam segmen C5.
Analisa penilaian aksesibilitas dilakukan dengan menggunakan form
penilaian aksesibilitas yang dikeluarkan oleh Himpunan Wanita Penyandang Cacat
Indonesia (HWPCI) Pusat. Adapun pembahasan pada tiap-tiap sub segmen :

1. Sub Segmen A1-1


Jalur Pedestrian

Sumber : Dok. Pribadi


Gambar 6.2 Jalur Pedestrian Pada Sub Segmen A1-1

Hendra Arif K.H Lubis : Kajian Aksesibilitas Difabel Pada Ruang Publik Kota Studi Kasus : Lapangan Merdeka, 2008
USU Repository 2008

Data :
Jalur pedestrian pada sub segmen A1-1 memiliki ukuran lebar 180 cm, tinggi
20-22 cm, dilengkapi dengan kanstin selebar 15 cm dengan material penutup
permukaan yang kurang lengkap.

Kendala :
a. Tuna netra menemui kendala dengan ketinggian jalur pedestrian.
Sehingga untuk tuna netra jalur pedestrian aksesibel sebagian.
b. Tuna rungu tidak menemui kendala. Sehingga untuk tuna rungu
jalur pedestrian aksesibel sempurna.
c. Tuna daksa pengguna kruk menemui kendala dengan ketinggian
jalur pedestrian. Sehingga untuk tuna daksa pengguna kruk jalur
pedestrian aksesibel sebagian.
d. Tuna daksa pengguna kursi roda tidak dapat mengakses jalur
pedestrian dikarenakan tinggi jalur pedestrian tidak memenuhi
syarat aksesibilitas. Sehingga untuk tuna daksa pengguna kursi
roda jalur pedestrian tidak aksesibel.

Hendra Arif K.H Lubis : Kajian Aksesibilitas Difabel Pada Ruang Publik Kota Studi Kasus : Lapangan Merdeka, 2008
USU Repository 2008

Potensi :
Lebar jalur pedestrian sudah memenuhi standar aksesibilitas.

Prospek :
Penyesuaian ketinggian jalur pedestrian dengan standar aksesibilitas serta
melengkapi permukaan jalur pedestrian.

2. Sub Segmen A1-2


Jalur Pedestrian

Sumber : Dok. Pribadi


Gambar 6.3 Jalur Pedestrian Pada Sub Segmen A1-2

Data :
Jalur pedestrian pada sub segmen A1-2 memiliki ukuran lebar 120-800 cm,
tinggi 20cm, dilengkapi dengan kanstin selebar 5 cm dengan material
penutup permukaan yang kurang lengkap. Pada bagian permukaan terdapat
gundukan setinggi 3 cm.

Hendra Arif K.H Lubis : Kajian Aksesibilitas Difabel Pada Ruang Publik Kota Studi Kasus : Lapangan Merdeka, 2008
USU Repository 2008

Kendala :
a. Tuna netra tidak menemui kendala. Sehingga untuk tuna netra
jalur pedestrian aksesibel sempurna.
b. Tuna rungu tidak menemui kendala. Sehingga untuk tuna rungu
jalur pedestrian aksesibel sempurna.
c. Tuna daksa pengguna kruk tidak menemui kendala. Sehingga
untuk tuna daksa pengguna kruk jalur pedestrian aksesibel
sempurna.
d. Tuna daksa pengguna kursi roda menemui kendala dengan
material penutup jalur pedestrian yang kurang lengkap. Sehingga
untuk tuna daksa pengguna kursi roda jalur pedestrian aksesibel
sebagian.

Potensi :
Lebar jalur pedestrian sudah memenuhi standar aksesibilitas.

Prospek :
Melengkapi material penutup permukaan jalur pedestrian agar tidak
mengganggu aksesibilitas.

Hendra Arif K.H Lubis : Kajian Aksesibilitas Difabel Pada Ruang Publik Kota Studi Kasus : Lapangan Merdeka, 2008
USU Repository 2008

Ramp

Sumber : Dok. Pribadi


Gambar 6.4 Ramp Pada Sub Segmen A1-2

Data :
Ukuran panjang ramp pada segmen A1-2 adalah 600 cm dengan sudut
kemiringan 3, material penutup yang tidak licin dan dilengkapi landing
space selebar 300 cm.

Kendala :
a. Tuna netra tidak menemui kendala. Sehingga untuk tuna netra
ramp aksesibel sempurna.
b. Tuna rungu tidak menemui kendala. Sehingga untuk tuna rungu
ramp aksesibel sempurna.

Hendra Arif K.H Lubis : Kajian Aksesibilitas Difabel Pada Ruang Publik Kota Studi Kasus : Lapangan Merdeka, 2008
USU Repository 2008

c. Tuna daksa pengguna kruk tidak menemui kendala. Sehingga


untuk tuna daksa pengguna kruk ramp aksesibel sempurna.
d. Tuna daksa pengguna kursi roda tidak menemui kendala.
Sehingga untuk tuna daksa pengguna kursi roda ramp aksesibel
sempurna.

Tangga

Sumber : Dok. Pribadi


Gambar 6.5 Tangga Pada Sub Segmen A1-2

Data :
Anak tangga pada sub segmen A1-2 memiliki lebar 30 cm dan tinggi 10 cm.

Kendala :
a. Tuna netra menemui kendala dengan tidak adanya pegangan
tangga. Sehingga untuk tuna netra tangga aksesibel sebagian.

Hendra Arif K.H Lubis : Kajian Aksesibilitas Difabel Pada Ruang Publik Kota Studi Kasus : Lapangan Merdeka, 2008
USU Repository 2008

b. Tuna rungu tidak menemui kendala. Sehingga untuk tuna rungu


tangga aksesibel sempurna.
c. Tuna daksa pengguna kruk menemui kendala dengan tidak adanya
pegangan tangga. Sehingga untuk tuna daksa pengguna kruk
tangga aksesibel sebagian.
d. Tuna daksa pengguna kursi roda tidak dapat mengakses tangga
dikarenakan bentuk dasar dari tangga tidak sesuai untuk pengguna
kursi roda. Sehingga untuk tuna daksa pengguna kursi roda tangga
tidak aksesibel.

Potensi :
Ukuran lebar dan tinggi anak tangga sudah memenuhi standar aksesibilitas.

Prospek :
Melengkapi tangga dengan pegangan tangga yang memenuhi standar
keamanan dan kenyamanan aksesibilitas.

Hendra Arif K.H Lubis : Kajian Aksesibilitas Difabel Pada Ruang Publik Kota Studi Kasus : Lapangan Merdeka, 2008
USU Repository 2008

Pintu Masuk

Sumber : Dok. Pribadi


Gambar 6.6 Pintu Masuk Pada Sub Segmen A1-2

Data :
Pintu masuk pada sub segmen A1-2 menggunakan jenis pintu geser dengan
ukuran lebar 600 cm. Pada area landing space selebar 300 cm tidak
dilengkapi dengan curb ramp.

Kendala :
a. Tuna netra tidak menemui kendala. Sehingga untuk tuna netra
pintu masuk aksesibel sempurna.
b. Tuna rungu tidak menemui kendala. Sehingga untuk tuna rungu
tangga aksesibel sempurna.
c. Tuna daksa pengguna kruk tidak menemui kendala. Sehingga
untuk tuna daksa pengguna kruk pintu masuk aksesibel sempurna.

Hendra Arif K.H Lubis : Kajian Aksesibilitas Difabel Pada Ruang Publik Kota Studi Kasus : Lapangan Merdeka, 2008
USU Repository 2008

d. Tuna daksa pengguna kursi roda menemui kendala dengan tidak


adanya curb ramp untuk kemudahan mengakses landing space.
Sehingga untuk tuna daksa pengguna kursi roda pintu masuk
aksesibel sebagian.

Potensi :
Ukuran pintu masuk sudah memenuhi standar aksesibilitas.

Prospek :
Melengkapi pintu masuk dengan curb ramp untuk memudahkan pengguna
kursi roda.

Hendra Arif K.H Lubis : Kajian Aksesibilitas Difabel Pada Ruang Publik Kota Studi Kasus : Lapangan Merdeka, 2008
USU Repository 2008

3. Segmen A2-1
Jalur Pedestrian

Sumber : Dok. Pribadi


Gambar 6.7 Jalur Pedestrian Pada Sub Segmen A2-1

Data :
Jalur pedestrian pada sub segmen A2-1 memiliki ukuran lebar 180 cm, tinggi
20cm, dilengkapi dengan kanstin selebar 15 cm dengan material penutu permukaan
yang rusak dan tidak terdefinisi. Pada bagian permukaan terdapat gundukan setinggi
5 cm.

Kendala :
a. Jalur pedestrian tidak terdefinisi karena elemen penutup jalur
pedestrian hampir tidak ada, jalur hijau tidak tertata dan gundukan
permukaan yang tersebar merata pada bagian jalur pedestrian

Hendra Arif K.H Lubis : Kajian Aksesibilitas Difabel Pada Ruang Publik Kota Studi Kasus : Lapangan Merdeka, 2008
USU Repository 2008

yang masih lengkap menjadikan kaum difabel (tuna netra, rungu


dan daksa) memilih tidak menggunakan jalur pedestrian untuk
aksesibilitas.
Potensi :
Lebar jalur pedestrian sudah memenuhi standar aksesibilitas.

Prospek :
a. Mengganti material penutup permukaan jalur pedestrian yang
rusak agar tidak mengganggu aksesibilitas.
b. Penataan jalur hijau pada jalur pedestrian agar tidak terjadi
hambatan pada pengguna jalur pedestrian.

Telepon Umum

Sumber : Dok. Pribadi


Gambar 6.8 Telepon Umum Pada Sub Segmen A2-1

Hendra Arif K.H Lubis : Kajian Aksesibilitas Difabel Pada Ruang Publik Kota Studi Kasus : Lapangan Merdeka, 2008
USU Repository 2008

Data :
Tinggi telepon umum pada segmen A2-1 adalah 120 cm. Pesawat telepon
dilengkapi dengan tanda braille pada angka 5.

Kendala :
a. Tuna netra menemui kendala dalam mengakses telepon umum
dikarenakan akses untuk menuju ke telepon umum harus melewati
bagian jalur pedestrian yang rusak dan saluran drainase yang
terbuka. Sehingga untuk tuna netra telepon umum aksesibel
sebagian standar.
b. Tuna rungu tidak dapat mengakses telepon umum. Sehingga untuk
tuna rungu telepon umum tidak aksesibel.
c.

Tuna daksa pengguna kruk menemui kendala dalam mengakses


telepon umum dikarenakan akses untuk menuju ke telepon umum
harus melewati bagian jalur pedestrian yang rusak dan saluran
drainase yang terbuka. Sehingga untuk tuna daksa pengguna kruk
telepon umum aksesibel sebagian.

d. Tuna daksa pengguna kursi roda tidak dapat mengakses telepon


umum. Sehingga untuk tuna daksa pengguna kursi roda telepon
umum tidak aksesibel.

Hendra Arif K.H Lubis : Kajian Aksesibilitas Difabel Pada Ruang Publik Kota Studi Kasus : Lapangan Merdeka, 2008
USU Repository 2008

Potensi :
Adanya tanda braille yang memudahkan tuna netra dalam menggunakan
telepon umum.

Prospek :
Melengkapi telepon umum dengan telepon text agar dapat digunakan oleh
tuna rungu

4. Segmen A2-2
Jalur Pedestian

Sumber : Dok. Pribadi


Gambar 6.9 Jalur Pedestrian Pada Sub Segmen A2-2

Hendra Arif K.H Lubis : Kajian Aksesibilitas Difabel Pada Ruang Publik Kota Studi Kasus : Lapangan Merdeka, 2008
USU Repository 2008

Data :
Jalur pedestrian pada sub segmen A2-2 memiliki ukuran lebar 150 cm, tinggi
20cm, dengan posisi drainase terbuka tegak lurus jalur pedestrian , dilengkapi
dengan kanstin selebar 15 cm dan material penutup jalur pedestrian yang
kurang lengkap.

Kendala :
a. Tuna netra menemui kendala dengan letak rambu lalu lintas dan
papan informasi yang tidak tertata. Sehingga untuk tuna netra
jalur pedestrian aksesibel sebagian.
b. Tuna rungu tidak menemui kendala. Sehingga untuk tuna rungu
jalur pedestrian aksesibel sempurna.
c. Tuna daksa pengguna kruk menemui kendala dengan tinggi jalur
pedestrian. Sehingga untuk tuna daksa pengguna kruk jalur
pedestrian aksesibel sebagian.
d. Tuna daksa pengguna kursi roda tidak dapat mengakses jalur
pedestrian dikarenakan tinggi jalur pedestrian tidak memenuhi
syarat aksesibilitas. Sehingga untuk tuna daksa pengguna kursi
roda jalur pedestrian tidak aksesibel.

Hendra Arif K.H Lubis : Kajian Aksesibilitas Difabel Pada Ruang Publik Kota Studi Kasus : Lapangan Merdeka, 2008
USU Repository 2008

Potensi :
Lebar jalur pedestrian sudah memenuhi standar aksesibilitas.

Prospek :
a. Mengganti material penutup permukaan jalur pedestrian yang
rusak agar tidak mengganggu aksesibilitas.
b. Penataan rambu-rambu lalu lintas pada jalur pedestrian agar tidak
terjadi hambatan pada pengguna jalur pedestrian.
c. Memberi penutup pada drainase agar toleransi kesalahan pada
aksesibilitas dapat mencapai angka minimal.

5. Segmen A3
Jalur Pedestrian

Sumber : Dok. Pribadi


Gambar 6.10 Jalur Pedestrian Pada Sub Segmen A3

Hendra Arif K.H Lubis : Kajian Aksesibilitas Difabel Pada Ruang Publik Kota Studi Kasus : Lapangan Merdeka, 2008
USU Repository 2008

Data :
Jalur pedestrian pada sub segmen A3 memiliki ukuran lebar 150 cm, tinggi
50 cm, dengan posisi drainase terbuka tegak lurus jalur pedestrian ,
dilengkapi dengan kanstin selebar 15 cm dan material penutup jalur
pedestrian yang kurang lengkap.

Kendala :
a. Jalur pedestrian setinggi 50 cm tidak dapat diakses oleh kaum
difabel (tanpa bantuan orang lain) kecuali untuk tuna rungu.
Sehingga untuk tuna netra, tuna daksa pengguna kruk dan tuna
daksa pengguna kursi roda jalur pedestrian tidak akses sama sekali

Potensi :
Lebar jalur pedestrian sudah memenuhi standar aksesibilitas.

Prospek :
a. Mengganti material penutup permukaan jalur pedestrian yang
rusak agar tidak mengganggu aksesibilitas.
b. Menyesuaikan ketinggian jalur pedestrian agar dapat diakses
kaum difabel

Hendra Arif K.H Lubis : Kajian Aksesibilitas Difabel Pada Ruang Publik Kota Studi Kasus : Lapangan Merdeka, 2008
USU Repository 2008

c. Memberi penutup pada drainase agar toleransi kesalahan pada


aksesibilitas dapat mencapai angka minimal.

Tangga

Sumber : Dok. Pribadi


Gambar 6.11 Jalur Pedestrian Pada Sub Segmen A3

Data :
Anak tangga pada sub segmen A3 memiliki lebar 25 cm dan tinggi 25 cm.
Kendala :
a. Tuna netra menemui kendala dengan tinggi anak tangga dan tidak
adanya pegangan tangga. Sehingga untuk tuna netra tangga tidak
aksesibel.
b. Tuna rungu tidak menemui kendala. Sehingga untuk tuna rungu
tangga aksesibel sempurna.

Hendra Arif K.H Lubis : Kajian Aksesibilitas Difabel Pada Ruang Publik Kota Studi Kasus : Lapangan Merdeka, 2008
USU Repository 2008

c. Tuna daksa pengguna kruk menemui kendala dengan tinggi anak


tangga dan tidak adanya pegangan tangga. Sehingga untuk tuna
daksa pengguna kruk tangga tidak aksesibel.
d. Tuna daksa pengguna kursi roda tidak dapat mengakses tangga
dikarenakan tinggi tangga tidak memenuhi syarat aksesibilitas.
Sehingga untuk tuna daksa pengguna kursi roda tangga tidak
aksesibel.

Potensi :
Ukuran lebar anak tangga sudah memenuhi standar aksesibilitas.

Prospek :
a. Melengkapi tangga dengan pegangan tangga yang memenuhi
standar keamanan dan kenyamanan aksesibilitas.
b. Menyesuaikan tinggi anak tangga agar dapat diakses oleh kaum
difabel.

Hendra Arif K.H Lubis : Kajian Aksesibilitas Difabel Pada Ruang Publik Kota Studi Kasus : Lapangan Merdeka, 2008
USU Repository 2008

Pintu Masuk

Sumber : Dok. Pribadi


Gambar 6.12 Gerbang Masuk Pada Sub Segmen A3

Data :
Pintu masuk pada sub segmen A1-2 tidak menggunakan pintu. Pada area
landing space selebar 160 cm dan dilengkapi dengan curb ramp.

Kendala :
a. Tuna netra tidak menemui kendala. Sehingga untuk tuna netra
pintu masuk aksesibel sempurna.
b. Tuna rungu tidak menemui kendala. Sehingga untuk tuna rungu
pintu masuk aksesibel sempurna.
c. Tuna daksa pengguna kruk tidak menemui kendala. Sehingga
untuk tuna daksa pengguna kruk pintu masuk aksesibel sempurna.

Hendra Arif K.H Lubis : Kajian Aksesibilitas Difabel Pada Ruang Publik Kota Studi Kasus : Lapangan Merdeka, 2008
USU Repository 2008

d. Tuna daksa pengguna kursi roda menemui kendala dengan curb


ramp yang tidak memadai untuk kemudahan mengakses landing
space. Sehingga untuk tuna daksa pengguna kursi roda pintu
masuk tidak aksesibel.

Potensi :
Ukuran landing space sudah memenuhi standar aksesibilitas.

Prospek :
Melengkapi pintu masuk dengan curb ramp yang memadai untuk
memudahkan pengguna kursi roda.

6. Segmen A4-1

Sumber : Dok. Pribadi


Gambar 6.13 Jalur Pedestrian Pada Sub Segmen A4-1

Hendra Arif K.H Lubis : Kajian Aksesibilitas Difabel Pada Ruang Publik Kota Studi Kasus : Lapangan Merdeka, 2008
USU Repository 2008

Data :
Jalur pedestrian pada sub segmen A4-1 memiliki ukuran lebar 240 cm, tinggi
22 cm, dengan posisi drainase terbuka berada pada jalur pedestrian ,
dilengkapi dengan kanstin selebar 15 cm dan material penutup jalur
pedestrian yang kurang lengkap.

Kendala :
a. Posisi lubang kontrol drainase berukuran 80 cm x 180 cm terletak
beraturan sepanjang jalur pedestrian sehingga jalur pedestrian
tidak dapat diakses oleh kaum difabel.

Potensi :
Lebar jalur pedestrian sudah memenuhi standar aksesibilitas.

Prospek :
a. Mengganti material penutup permukaan jalur pedestrian yang
rusak agar tidak mengganggu aksesibilitas.
b. Menyesuaikan ketinggian jalur pedestrian agar dapat diakses
kaum difabel

Hendra Arif K.H Lubis : Kajian Aksesibilitas Difabel Pada Ruang Publik Kota Studi Kasus : Lapangan Merdeka, 2008
USU Repository 2008

c. Memberi penutup pada drainase agar toleransi kesalahan pada


aksesibilitas dapat mencapai angka minimal.

7. Segmen A4-2

Sumber : Dok. Pribadi


Gambar 6.14 Jalur Pedestrian Pada Sub Segmen A4-2

Data :
Jalur pedestrian pada sub segmen A4-2 memiliki ukuran lebar 150 cm, tinggi
25 cm, dilengkapi dengan kanstin selebar 15 cm dan material penutup jalur
pedestrian.

Kendala :
a. Tuna netra menemui kendala dengan tinggi jalur pedestrian.
Sehingga untuk tuna netra jalur pedestrian aksesibel sebagian.

Hendra Arif K.H Lubis : Kajian Aksesibilitas Difabel Pada Ruang Publik Kota Studi Kasus : Lapangan Merdeka, 2008
USU Repository 2008

b. Tuna rungu tidak menemui kendala. Sehingga untuk tuna rungu


jalur pedestrian aksesibel sempurna.
c. Tuna daksa pengguna kruk menemui kendala dengan tinggi jalur
pedestrian. Sehingga untuk tuna daksa pengguna kruk jalur
pedestrian tidak aksesibel.
d. Tuna daksa pengguna kursi roda tidak dapat mengakses jalur
pedestrian dikarenakan tinggi jalur pedestrian tidak memenuhi
syarat aksesibilitas. Sehingga untuk tuna daksa pengguna kursi
roda jalur pedestrian tidak aksesibel.
Potensi :
Lebar jalur pedestrian sudah memenuhi standar aksesibilitas.
Prospek :
Menyesuaikan ketinggian jalur pedestrian agar dapat diakses kaum difabel

8. Segmen A5
Jalur Pedestrian

Sumber : Dok. Pribadi


Gambar 6.15 Jalur Pedestrian Pada Sub Segmen A5

Hendra Arif K.H Lubis : Kajian Aksesibilitas Difabel Pada Ruang Publik Kota Studi Kasus : Lapangan Merdeka, 2008
USU Repository 2008

Data :
Jalur pedestrian pada sub segmen A5 memiliki ukuran lebar 150 cm, tinggi 2
cm, dilengkapi dengan kanstin selebar 15 cm dan material penutup jalur
pedestrian.

Kendala :
a. Tuna netra tidak menemui kendala. Sehingga untuk tuna netra
jalur pedestrian aksesibel sempurna.
b. Tuna rungu tidak menemui kendala. Sehingga untuk tuna rungu
jalur pedestrian aksesibel sempurna.
c. Tuna daksa pengguna kruk tidak menemui kendala. Sehingga
untuk tuna daksa pengguna kruk jalur pedestrian aksesibel
sempurna.
d. Tuna daksa pengguna kursi roda tidak menemui kendala.
Sehingga untuk tuna daksa pengguna kursi roda jalur pedestrian
aksesibel sempurna.

Hendra Arif K.H Lubis : Kajian Aksesibilitas Difabel Pada Ruang Publik Kota Studi Kasus : Lapangan Merdeka, 2008
USU Repository 2008

Ramp

Sumber : Dok. Pribadi


Gambar 6.16 Ramp Pada Sub Segmen A5

Data :
Ukuran panjang ramp pada segmen A5 adalah 360 cm dengan sudut
kemiringan 12, material penutup yang tidak licin dan dilengkapi landing
space selebar 120 cm.

Kendala :
a. Tuna netra tidak dapat mengakses ramp dikarenakan sudut
kemiringan ramp terlalu curam. Sehingga untuk tuna netra ramp
tidak aksesibel.
b. Tuna rungu tidak menemui kendala. Sehingga untuk tuna rungu
ramp aksesibel sempurna.

Hendra Arif K.H Lubis : Kajian Aksesibilitas Difabel Pada Ruang Publik Kota Studi Kasus : Lapangan Merdeka, 2008
USU Repository 2008

c. Tuna daksa pengguna kruk tidak dapat mengakses ramp


dikarenakan sudut kemiringan ramp terlalu curam. Sehingga
untuk tuna daksa pengguna kruk ramp tidak aksesibel.
d. Tuna daksa pengguna kursi roda tidak dapat mengakses ramp
dengan sudut kemiringan 12 tanpa mendapat bantuan dari orang
lain.
Potensi :
Ukuran dasar panjang dan lebar ramp sudah sesuai dengan standar
aksesibilitas

Prospek :
Ukuran sudut kemiringan ramp agar disesuaikan agar dapat diakses oleh
kaum difabel.

Tangga

Sumber : Dok. Pribadi


Gambar 6.17 Tangga Pada Sub Segmen A5

Hendra Arif K.H Lubis : Kajian Aksesibilitas Difabel Pada Ruang Publik Kota Studi Kasus : Lapangan Merdeka, 2008
USU Repository 2008

Data :
Anak tangga pada sub segmen A5 memiliki lebar 60 cm dan tinggi 15 cm.

Kendala :
a. Tuna netra menemui kendala dengan tidak adanya pegangan
tangga. Sehingga untuk tuna netra tangga aksesibel sebagian.
b. Tuna rungu tidak menemui kendala. Sehingga untuk tuna rungu
tangga aksesibel sempurna.
c. Tuna daksa pengguna kruk menemui kendala dengan tidak adanya
pegangan tangga. Sehingga untuk tuna daksa pengguna kruk
tangga aksesibel sebagian.
d. Tuna daksa pengguna kursi roda tidak dapat mengakses tangga
dikarenakan bentuk dasar dari tangga tidak sesuai untuk pengguna
kursi roda. Sehingga untuk tuna daksa pengguna kursi roda tangga
tidak aksesibel.
Potensi :
Ukuran lebar dan tinggi anak tangga sudah memenuhi standar aksesibilitas.
Prospek :
Melengkapi tangga dengan pegangan tangga yang memenuhi standar
keamanan dan kenyamanan aksesibilitas.

Hendra Arif K.H Lubis : Kajian Aksesibilitas Difabel Pada Ruang Publik Kota Studi Kasus : Lapangan Merdeka, 2008
USU Repository 2008

Pintu Masuk

Sumber : Dok. Pribadi


Gambar 6.18 Gerbang Masuk Pada Sub Segmen A5

Data :
Pintu masuk pada sub segmen A5 menggunakan jenis pintu dorong dengan
ukuran lebar 220 cm. Pada area landing space selebar 120 cm dilengkapi
dengan curb ramp.

Kendala :
a. Tuna netra tidak menemui kendala. Sehingga untuk tuna netra
pintu masuk aksesibel sempurna.
b. Tuna rungu tidak menemui kendala. Sehingga untuk tuna rungu
pintu masuk aksesibel sempurna.

Hendra Arif K.H Lubis : Kajian Aksesibilitas Difabel Pada Ruang Publik Kota Studi Kasus : Lapangan Merdeka, 2008
USU Repository 2008

Toilet Umum

Sumber : Dok. Pribadi


Gambar 6.19 Toilet Umum Pada Sub Segmen A5

Data :
Toilet umum pada sub segmen A5 tidak dilengkapi dengan tanda akses,
menggunakan pintu dorong dengan lebar pintu 75 cm dan pada bagian pintu
tidak dilengkapi dengan curb ramp. Memiliki ukuran panjang 180 cm, lebar
135 cm, menggunakan kloset jongkok dan tidak dilengkapi dengan pegangan
pada bagian dinding kloset. Toilet umum pada sub segmen A5 menggunakan
material lantai yang permukaannya licin.

Kendala :
a. Tuna netra menemui kendala dengan tidak adanya tanda akses
dalam

huruf

braille

sehingga

memungkinkan

terjadinya

disorientasi. Selain itu material lantai yang digunakan bersifat


licin sehingga cukup beresiko ketika bersentuhan dengan ujung

Hendra Arif K.H Lubis : Kajian Aksesibilitas Difabel Pada Ruang Publik Kota Studi Kasus : Lapangan Merdeka, 2008
USU Repository 2008

b. tongkat tuna netra. Sehingga untuk tuna netra toilet umum


aksesibel sebagian.
c. Tuna rungu tidak menemui kendala. Sehingga untuk tuna rungu
toilet umum aksesibel sempurna.
d. Tuna daksa pengguna kruk tidak dapat mengakses toilet umum
karena menemui kendala dengan lebar pintu. Sehingga untuk tuna
daksa pengguna kruk toilet umum tidak aksesibel.
e. Tuna daksa pengguna kruk tidak dapat mengakses toilet umum
karena toilet umum tidak memenuhi syarat untuk dapat diakses
tuna daksa pengguna kursi roda. Sehingga untuk tuna daksa
pengguna kursi roda toilet umum tidak aksesibel.

Prospek :
a. Melengkapi toilet umum dengan tanda akses
b. Membuat curb ramp pada bagian pintu masuk agar dapat
diakses oleh pengguna kursi roda
c. Mengganti material lantai yang licin
d. Menyesuaikan ukuran dasar toilet umum agar sirkulasi
kursi roda tidak terganggu
e. Melengkapi bagian dinding kloset dengan pegangan

Hendra Arif K.H Lubis : Kajian Aksesibilitas Difabel Pada Ruang Publik Kota Studi Kasus : Lapangan Merdeka, 2008
USU Repository 2008

6.2 Penilaian Elemen Aksesibilitas Segmen B (Stasiun Kereta Api)

Sumber : Dok. Pribadi


Gambar 6.20 Peta Lokasi Segmen B

Stasiun Kereta Api Besar Medan terletak di sebelah barat Lapangan Merdeka.
Merupakan salah satu gerbang masuk ke Kota Medan.
Skematik Denah

Sumber : Dok. Pribadi


Gambar 6.21 Skematik Denah Segmen B

Hendra Arif K.H Lubis : Kajian Aksesibilitas Difabel Pada Ruang Publik Kota Studi Kasus : Lapangan Merdeka, 2008
USU Repository 2008

Yang menjadi objek penelitian pada bangunan Stsiun Kereta Api adalah
ruang-ruang pelayanan publik yang merupakan sarana utama seperti : entrance,
loket, dan area informasi. Selain itu juga mencakup sarana pendukung seperti :
tangga, telepon umum, toilet umum dan kantin. Adapun pembahasan pada masingmasing sarana aksesibilitas :

1. Akses ke bangunan (entrance)

Sumber : Dok. Pribadi


Gambar 6.22 Akses ke Bangunan Pada Segmen B

Data :
Akses ke bangunan pada segmen B menggunakan pintu masuk jenis pintu
geser dengan lebar 300 cm, dilengkapi dengan curb ramp 15 cm , koridor
selebar 330 cm dan landing space selebar 330 cm

Hendra Arif K.H Lubis : Kajian Aksesibilitas Difabel Pada Ruang Publik Kota Studi Kasus : Lapangan Merdeka, 2008
USU Repository 2008

Kendala :
a. Tuna netra menemui kendala disorientasi dikarenakan tidak
adanya jalur pemandu dan papan informasi dalam huruf braile.
Sehingga untuk tuna netra akses ke bangunan aksesibel sebagian.
b. Tuna rungu tidak menemui kendala dan merasa terbantu dengan
adanya papan informasi yang menggunakan moving text.
Sehingga untuk tuna rungu akses ke bangunan aksesibel
sempurna.
c. Tuna daksa pengguna kruk menemui kendala dengan tidak adanya
jalur pemandu sehingga tuna daksa pengguna kruk harus melewati
area sirkulasi umum dimana biasanya orang berjalan dengan
tergesa-gesa. Sehingga untuk tuna daksa pengguna kruk akses ke
bangunan aksesibel sebagian.
d. Tuna daksa pengguna kursi roda tidak menemui kendala.
Sehingga untuk tuna daksa pengguna kursi roda akses ke
bangunan aksesibel sempurna.
Potensi :
a. Ukuran dasar akses ke bangunan sudah memenuhi standar
aksesibilitas.
b. Penggunaan moving text sebagai papan informasi keberangkatan.

Hendra Arif K.H Lubis : Kajian Aksesibilitas Difabel Pada Ruang Publik Kota Studi Kasus : Lapangan Merdeka, 2008
USU Repository 2008

Prospek :
Melengkapi akses ke bangunan dengan jalur pemandu dan papan informasi
dengan huruf braile.

2. Loket

Sumber : Dok. Pribadi


Gambar 6.23 Area Loket Pada Segmen B

Data :
Area loket pada segmen B berada pada ruang selebar 750 cm dan dibatasi slot
antrian selebar 70 cm. Sedangkan tinggi kounter loket adalah 110 cm.
Kendala :
a. Tuna netra menemui kendala disorientasi dikarenakan tidak
adanya jalur pemandu. Sehingga untuk tuna netra loket aksesibel
sebagian.

Hendra Arif K.H Lubis : Kajian Aksesibilitas Difabel Pada Ruang Publik Kota Studi Kasus : Lapangan Merdeka, 2008
USU Repository 2008

b. Tuna rungu tidak menemui kendala . Sehingga untuk tuna rungu


loket aksesibel sempurna.
c. Tuna daksa pengguna kruk tidak dapat akses karena lebar slot
antrian loket tidak memenuhi standar minimal ruang untuk dapat
diakses oleh tuna daksa pengguna kruk. Sehingga untuk tuna
daksa pengguna kruk loket tidak aksesibel.
d. Tuna daksa pengguna kursi roda tidak dapat akses karena lebar
slot antrian loket tidak memenuhi standar minimal ruang untuk
dapat diakses oleh tuna daksa pengguna kruk. Sehingga untuk
tuna daksa pengguna kursi roda loket tidak aksesibel.

Prospek :
a. Melengkapi akses ke bangunan dengan jalur pemandu
b. Menyesuaikan lebar dari slot antrian agar dapat diakses oleh tuna
daksa pengguna kruk dan tuna daksa pengguna kursi roda.

3. Area Informasi
Data :
Area informasi pada segmen B berada pada ruang loket yang dilengkapi
dengan meja berukuran tinggi 90 cm.

Hendra Arif K.H Lubis : Kajian Aksesibilitas Difabel Pada Ruang Publik Kota Studi Kasus : Lapangan Merdeka, 2008
USU Repository 2008

Kendala :
a. Tuna netra tidak menemui kendala. Sehingga untuk tuna netra
area informasi aksesibel sempurna.
b. Tuna rungu tidak menemui kendala. Sehingga untuk tuna rungu
area informasi aksesibel sempurna.
c. Tuna daksa pengguna kruk tidak menemui kendala. Sehingga
untuk tuna daksa pengguna kruk area informasi aksesibel
sempurna.
d. Tuna daksa pengguna kursi roda tidak menemui kendala.
Sehingga untuk tuna daksa pengguna kursi roda area informasi
aksesibel sempurna.

4. Tangga

Sumber : Dok. Pribadi


Gambar 6.24 Tangga Pada Segmen B

Hendra Arif K.H Lubis : Kajian Aksesibilitas Difabel Pada Ruang Publik Kota Studi Kasus : Lapangan Merdeka, 2008
USU Repository 2008

Data :
Anak tangga pada segmen B memiliki lebar 30 cm dan tinggi 15 cm,
dilengkapi pegangan setinggi 85 cm dan besar pegangan 7,5 cm.

Kendala :
a. Tuna netra menemui kendala dengan tidak adanya jalur pemandu.
Sehingga untuk tuna netra tangga aksesibel sebagian.
b. Tuna rungu tidak menemui kendala. Sehingga untuk tuna rungu
tangga aksesibel sempurna.
c. Tuna daksa pengguna kruk tidak menemui kendala. Sehingga
untuk tuna daksa pengguna kruk tangga aksesibel sempurna.
d. Tuna daksa pengguna kursi roda tidak dapat mengakses tangga
karena bentuk dasar dari tangga tidak sesuai untuk pengguna kursi
roda. Sehingga untuk tuna daksa pengguna kursi roda tangga tidak
aksesibel.
Potensi :
Ukuran dasar tangga sudah memenuhi standar aksesibilitas.

Prospek :
Melengkapi tangga dengan jalur pemandu.

Hendra Arif K.H Lubis : Kajian Aksesibilitas Difabel Pada Ruang Publik Kota Studi Kasus : Lapangan Merdeka, 2008
USU Repository 2008

5. Telepon Umum

Sumber : Dok. Pribadi


Gambar 6.25 Telepon Umum Pada Segmen B

Data :
Fasilitas telepon umum pada segmen B terletak pada boks kayu setinggi 120
cm dan dilengkapi dengan tombol braile pada angka 5.

Kendala :
a. Tuna netra menemui kendala dengan tidak adanya jalur pemandu.
Sehingga untuk tuna netra telepon umum aksesibel sebagian.
b. Tuna rungu tidak dapat mengakses telepon umum. Sehingga untuk
tuna rungu telepon umum tidak aksesibel.

Hendra Arif K.H Lubis : Kajian Aksesibilitas Difabel Pada Ruang Publik Kota Studi Kasus : Lapangan Merdeka, 2008
USU Repository 2008

c. Tuna daksa pengguna kruk tidak menemui kendala. Sehingga


untuk tuna daksa pengguna kruk tangga aksesibel sempurna.
d. Tuna daksa pengguna kursi roda tidak akses sama sekali karena
telepon umum terletak di luar jangkauan. Untuk tuna daksa
pengguna kursi roda telepon umum tidak aksesibel.

Potensi :
Telepon umum sudah dilengkapi dengan tombol braile.

Prospek :
Menyesuaikan tinggi telepon umum agar dapat diakses oleh tuna daksa
pengguna kursi roda

6. Toilet Umum

Sumber : Dok. Pribadi


Gambar 6.26 Toilet Umum Pada Segmen B

Hendra Arif K.H Lubis : Kajian Aksesibilitas Difabel Pada Ruang Publik Kota Studi Kasus : Lapangan Merdeka, 2008
USU Repository 2008

Data :
Toilet umum pada segmen B tidak dilengkapi dengan tanda akses,
menggunakan pintu dorong dengan lebar pintu utama 75 cm, pintu toilet 65
cm dan pada bagian pintu utama tidak dilengkapi dengan curb ramp.
Ruangan toilet umum memiliki ukuran panjang 120 cm, lebar 80 cm,
menggunakan kloset jongkok dan tidak dilengkapi dengan pegangan pada
bagian dinding kloset.

Kendala :
a. Tuna netra menemui kendala dengan tidak adanya papan tanda
toilet umum dengan huruf braile sehingga tuna netra tidak bisa
membedakan toilet untuk pria maupun untuk wanita. Sehingga
untuk tuna netra toilet umum aksesibel sebagian.
b. Tuna rungu tidak menemui kendala. Sehingga untuk tuna rungu
toilet umum aksesibel sempurna.
c. Tuna daksa pengguna kruk tidak dapat akses karena lebar pintu
utama toilet umum tidak memenuhi standar minimal ruang untuk
dapat diakses oleh tuna daksa pengguna kruk. Sehingga untuk
tuna daksa pengguna kruk toilet umum tidak aksesibel.

Hendra Arif K.H Lubis : Kajian Aksesibilitas Difabel Pada Ruang Publik Kota Studi Kasus : Lapangan Merdeka, 2008
USU Repository 2008

d. Tuna daksa pengguna kursi roda tidak dapat akses karena lebar
pintu utama toilet umum tidak memenuhi standar minimal ruang
untuk dapat diakses oleh tuna daksa pengguna kruk. Sehingga
untuk tuna daksa pengguna kursi roda toilet umum tidak
aksesibel.

Prospek :
a. Melengkapi toilet umum dengan tanda akses
b. Membuat curb ramp pada bagian pintu masuk agar dapat diakses
oleh pengguna kursi roda
c. Mengganti material lantai yang licin
d. Menyesuaikan ukuran dasar toilet umum agar sirkulasi kursi roda
tidak terganggu
e. Melengkapi bagian dinding kloset dengan pegangan

6. Kantin

Data :
Area kantin pada segmen B menggunakan meja berukuran tinggi 70 cm
sebagai pembagi ruangan. Lebar gang antar meja adalah 100 cm dan tidak

Hendra Arif K.H Lubis : Kajian Aksesibilitas Difabel Pada Ruang Publik Kota Studi Kasus : Lapangan Merdeka, 2008
USU Repository 2008

dilengkapi dengan jalur pemandu. Pada bagian kasir terdapat meja kasir
berukuran tinggi 90 cm.

Kendala :
a. Tuna netra menemui kendala dengan tidak adanya jalur pemandu.
Sehingga untuk tuna netra kantin aksesibel sebagian.
b. Tuna rungu tidak menemui kendala. Sehingga untuk tuna rungu
kantin aksesibel sempurna.
c. Tuna daksa pengguna kruk tidak menemui kendala. Sehingga
untuk tuna daksa pengguna kruk kantin aksesibel sempurna.
d. Tuna daksa pengguna kursi roda sulit untuk mengakses meja kasir
karena harus menggunakan meja kasir yang sama tinggi dengan
pengunjung kantin yang lain . Untuk tuna daksa pengguna kursi
roda telepon umum aksesibel sebagian.

Potensi :
Ukuran dasar ruang dari kantin sudah memenuhi standar aksesibilitas.

Prospek :
a. Melengkapi kantin dengan jalur pemandu

Hendra Arif K.H Lubis : Kajian Aksesibilitas Difabel Pada Ruang Publik Kota Studi Kasus : Lapangan Merdeka, 2008
USU Repository 2008

b. Menambah satu meja kasir dengan ukuran yang lebih rendah dari
meja kasir untuk pengunjung umum agar dapat diakses oleh
pengguna kursi roda.

6.3 Rekapitulasi Penilaian Elemen Aksesibilitas


6.3.1 Penilaian Elemen Aksesibilitas Outdoor

1. Tuna Netra

Pada jalur pedestrian tuna netra dapat mengakses dengan sempurna pada
sub segmen A1-2 dan sub segmen A5. Selebihnya tuna netra hanya dapat mengakses
sebagian pada sub segmen A1-1, sub segmen A2-2, sub segmen A4-2 dan tidak
akses sama sekali pada sub segmen A2-1, sub segmen A3 dan sub segmen A4-1
Pada ramp tuna netra dapat mengakses dengan sempurna pada sub segmen A1-2 dan
tidak akses sama sekali pada sub segmen A5.
Pada tangga tuna netra dapat mengakses sebagian pada sub segmen A1-2
dan A5, sedangkan pada sub segmen A3 tidak dapat akses sama sekali.
Untuk pintu masuk tuna netra tidak menemui kendala.
Pada toilet umum di sub segmen A5 tuna netra dapat mengakses sebagian
fasilitas toilet umum. Telepon umum yang ada pada sub segmen A2-1 kurang
aksesibel untuk diakses oleh tuna netra.

Hendra Arif K.H Lubis : Kajian Aksesibilitas Difabel Pada Ruang Publik Kota Studi Kasus : Lapangan Merdeka, 2008
USU Repository 2008

Tabel 6.1 Penilaian Elemen Aksesibilitas Outdoor Untuk Tuna Netra

2. Tuna rungu
Pada jalur pedestrian tuna rungu dapat mengakses dengan sempurna pada
sub segmen A1-1, sub segmen A1-2, sub segmen A2-2, sub segmen A3, sub segmen
A 4-2 dan sub segmen A5. Selebihnya sub segmen A4-1 kurang aksesibel untuk
diakses oleh tuna rungu dan tidak akses sama sekali pada sub segmen A2-1.
Pada ramp tuna rungu tidak menemui kendala. Pada tangga tuna rungu tidak
menemui kendala. Untuk pintu masuk tuna rungu tidak menemui kendala. Pada toilet
umum tuna rungu
tidak
menemui
kendala.Telepon
umum yang
pada
sub segmen
Tabel
6.2 Penilaian
Elemen
Aksesibilitas Outdoor
Untukada
Tuna
Rungu
A2-1 tidak aksesibel untuk diakses oleh tuna rungu.

Hendra Arif K.H Lubis : Kajian Aksesibilitas Difabel Pada Ruang Publik Kota Studi Kasus : Lapangan Merdeka, 2008
USU Repository 2008

3. Tuna daksa pengguna kruk


Pada jalur pedestrian tuna daksa pengguna kruk dapat mengakses dengan sempurna
pada sub segmen A1-2 dan sub segmen A5. Selebihnya tuna daksa pengguna kruk
hanya dapat mengakses sebagian pada sub segmen A1-1, sub segmen A2-2, sub
segmen A4-2 dan tidak akses sama sekali pada sub segmen A2-1, sub segmen A3
dan sub segmen A4-1
Pada ramp tuna daksa pengguna kruk dapat mengakses dengan sempurna pada sub
segmen A1-2 dan tidak akses sama sekali pada sub segmen A5.
Pada tangga tuna daksa pengguna kruk dapat mengakses sebagian pada sub segmen
A1-2 dan A5, sedangkan pada sub segmen A3 tidak dapat akses sama sekali.
Untuk pintu masuk tuna daksa pengguna kruk tidak menemui kendala.
Toilet umum di sub segmen A5 tidak aksesibel untuk diakses oleh tuna daksa
pengguna kruk.
Telepon umum yang ada pada sub segmen A2-1 kurang aksesibel untuk diakses oleh
tuna daksa pengguna kruk.
Tabel 6.3 Penilaian Elemen Aksesibilitas Outdoor Untuk Tuna Daksa Pengguna Kruk

Hendra Arif K.H Lubis : Kajian Aksesibilitas Difabel Pada Ruang Publik Kota Studi Kasus : Lapangan Merdeka, 2008
USU Repository 2008

4. Tuna daksa pengguna kursi roda


Pada jalur pedestrian tuna daksa pengguna kursi roda dapat mengakses dengan
sempurna pada sub segmen A1-2 dan sub segmen A5. Selebihnya tuna daksa
pengguna kursi roda tidak dapat akses sama sekali pada sub segmen A1-1, sub
segmen A2-1, sub segmen A2-2, sub segmen A3, sub segmen A4-1 dan sub segmen
A4-2
Pada ramp tuna daksa pengguna kursi roda dapat mengakses dengan sempurna pada
sub segmen A1-2 dan tidak akses sama sekali pada sub segmen A5.
Untuk tangga tuna daksa pengguna kruk tidak dapat akses sama sekali.
Untuk pintu masuk tuna daksa pengguna kursi roda dapat mengakses dengan
sempurna pada sub segmen A5. Selebihnya tuna daksa pengguna kursi roda dapat
mengakses sebagian pada sub segmen A1-2 dan tidak akses sama sekali pada sub
segmen A3.
Toilet umum di sub segmen A5 tidak aksesibel untuk diakses oleh tuna daksa
pengguna kursi roda.

Hendra Arif K.H Lubis : Kajian Aksesibilitas Difabel Pada Ruang Publik Kota Studi Kasus : Lapangan Merdeka, 2008
USU Repository 2008

Telepon umum yang ada pada sub segmen A2-1 kurang aksesibel untuk diakses oleh
tuna daksa pengguna kursi roda.

Tabel 6.4 Penilaian Elemen Aksesibilitas Outdoor Untuk Tuna Daksa Pengguna Kursi Roda

6.3.2 Penilaian Elemen Aksesibilitas Indoor

1.Tuna Netra
Pada segmen B telepon umum dapat diakses dengan sempurna oleh tuna netra.
Sedangkan pada akses ke bangunan, area loket, area informasi, tangga, toilet umum
dan kantin tuna netra hanya dapat mengakses sebagian.

Tabel 6.5 Penilaian Elemen Aksesibilitas Indoor Untuk Tuna Netra

Hendra Arif K.H Lubis : Kajian Aksesibilitas Difabel Pada Ruang Publik Kota Studi Kasus : Lapangan Merdeka, 2008
USU Repository 2008

2.Tuna Rungu
Pada segmen B tuna rungu dapat mengakses dengan sempurna akses ke bangunan,
area loket, area informasi, tangga, toilet umum dan kantin. Sedangkan telepon umum
tidak aksesibel untuk tuna rungu.

Tabel 6.6 Penilaian Elemen Aksesibilitas Indoor Untuk Tuna Rungu

3.Tuna Daksa Pengguna Kruk

Hendra Arif K.H Lubis : Kajian Aksesibilitas Difabel Pada Ruang Publik Kota Studi Kasus : Lapangan Merdeka, 2008
USU Repository 2008

Pada segmen B tuna daksa pengguna kruk dapat mengakses dengan sempurna area
informasi dan telepon umum. Selebihnya tuna daksa pengguna kruk dapat
mengakses sebagian pada akses ke bangunan, tangga, kantin dan tidak akses sama
sekali pada area loket dan toilet umum.

Tabel 6.7 Penilaian Elemen Aksesibilitas Indoor Untuk Tuna Daksa Pengguna Kruk

4.Tuna Daksa Pengguna Kursi Roda


Pada segmen B tuna daksa pengguna kursi roda dapat mengakses dengan sempurna
akses ke bangunan, area informasi dan kantin. Selebihnya tuna daksa pengguna kursi
roda tidak dapat mengakses sama sekali pada area loket, tangga, telepon umum dan
toilet umum.
Tabel 6.8 Penilaian Elemen Aksesibilitas Indoor Untuk Tuna Daksa Pengguna Kursi Roda

Hendra Arif K.H Lubis : Kajian Aksesibilitas Difabel Pada Ruang Publik Kota Studi Kasus : Lapangan Merdeka, 2008
USU Repository 2008

BAB VII
TEMUAN DAN KESIMPULAN

Hasil dari kajian aksesibilitas difabel pada kawasan Lapangan Merdeka didapat
berdasarkan hasil dari kegiatan tabulasi kuesioner sebanyak 15 pertanyaan yang
dibagikan kepada 100 orang difabel (dengan rincian 39 lembar ditujukan untuk tuna
netra, 22 lembar untuk tuna daksa pengguna kruk, 22 lembar untuk tuna daksa
pengguna kursi roda dan 17 lembar untuk tuna rungu) yang pernah berkunjung ke
kawasan Lapangan Merdeka. Hasil dari tabulasi kuesioner merupakan jawaban

Hendra Arif K.H Lubis : Kajian Aksesibilitas Difabel Pada Ruang Publik Kota Studi Kasus : Lapangan Merdeka, 2008
USU Repository 2008

pertanyaan yang ditanyakan kepada kaum difabel yang pernah mengunjungi kawasan
Lapangan Merdeka seputar perilaku dari kaum difabel ketika berada di kawasan
Lapangan Merdeka dan harapan akan terwujudnya sarana aksesibilitas untuk kaum
difabel.
Selanjutnya juga akan dipaparkan hasil dari analisa data observasi dan
pengukuran elemen aksesibilitas yang didapat di kawasan Lapangan Merdeka.

7.1 Temuan Dari Hasil Tabulasi Kuesioner


1. Tuna Netra
a. 74 % tuna netra memerlukan bantuan dari orang lain dalam menjalankan
aktifitas sehari-hari
b. 81% tuna netra memerlukan bantuan dari orang lain ketika berada di kawasan
Lapangan Merdeka.
c. 69 % tuna netra menemui kendala disorientasi arah ketika berada di kawasan
Lapangan Merdeka.
d. 74 % tuna netra menginginkan penyediaan sarana aksesibilitas untuk difabel
di kawasan Lapangan Merdeka.

2. Tuna Rungu
a. 76 % tuna rungu tidak memerlukan bantuan dari orang lain dalam
menjalankan aktifitas sehari-hari.

Hendra Arif K.H Lubis : Kajian Aksesibilitas Difabel Pada Ruang Publik Kota Studi Kasus : Lapangan Merdeka, 2008
USU Repository 2008

b. 56 % tuna rungu tidak memerlukan bantuan dari orang lain ketika berada di
kawasan Lapangan Merdeka
c. 63 % tuna rungu menemui kendala dengan jalur pedestrian yang rusak
d. 87 % tuna rungu menginginkan penyediaan sarana aksesibilitas untuk difabel
di kawasan Lapangan Merdeka.

3. Tuna Daksa Pengguna Kruk


a. 77 % tuna daksa pengguna kruk tidak memerlukan bantuan dari orang lain
dalam menjalankan aktifitas sehari hari
b. 68 % tuna daksa pengguna kruk memerlukan bantuan dari orang lain ketika
berada di kawasan Lapangan Merdeka
c. 90 % tuna daksa pengguna kruk menemui kendala dengan jalur pedestrian
yang tidak aksesibel.
d. 90 % tuna daksa pengguna kruk menginginkan penyediaan sarana
aksesibilitas untuk difabel di kawasan Lapangan Merdeka.

4. Tuna Daksa Pengguna Kursi Roda


a. 72 % tuna daksa pengguna kursi roda memerlukan bantuan dari orang lain
dalam menjalankan aktifitas sehari-hari.

Hendra Arif K.H Lubis : Kajian Aksesibilitas Difabel Pada Ruang Publik Kota Studi Kasus : Lapangan Merdeka, 2008
USU Repository 2008

b. 90 % tuna daksa pengguna kursi roda memerlukan bantuan dari orang lain
ketika berada di kawasan Lapangan Merdeka.
c. 90 % tuna daksa pengguna kursi roda mengaku tidak dapat mengakses sarana
aksesibilitas umum di kawasan Lapangan Merdeka secara mandiri.
d. 81 % tuna daksa pengguna kursi roda menginginkan penyediaan sarana
aksesibilitas untuk difabel di kawasan Lapangan Merdeka.

7.2 Temuan Dari Hasil Penilaian Elemen Aksesibilitas


1. Tuna Netra
a. Dari hasil kajian pada 8 (N=8) jalur pedestrian, terdapat 2 (2/N=8) jalur
pedestrian yang aksesibel , 3 (3/N=8) jalur pedestrian aksesibel sebagian dan
3 (3/N=25) jalur pedestrian tidak akses sama sekali untuk diakses oleh tuna
netra. Hal-hal yang menjadi permasalahan adalah:
I. Disorientasi,

diakibatkan tidak adanya jalur pemandu. Hal ini

bertentangan dengan prinsip universal design no.1 ( dapat digunakan


oleh semua jenis pengguna) dan prinsip universal design no.2 (fleksibel
dalam penggunaan)
II. Tata letak street furniture yang tidak teratur. Hal ini bertentangan

dengan prinsip universal design no.7 (ukuran ruang untuk penggunaan


yang tepat)

Hendra Arif K.H Lubis : Kajian Aksesibilitas Difabel Pada Ruang Publik Kota Studi Kasus : Lapangan Merdeka, 2008
USU Repository 2008

III. Terdapat jalur pedestrian yang tidak terdefinisi. Hal ini bertentangan

dengan prinsip universal design no.6 (mengurangi usaha fisik)


IV. Perletakan lubang kontrol drainase terbuka pada jalur pedestrian. Hal

ini bertentangan dengan prinsip universal design no.5 (toleransi


kesalahan)
b. Dari hasil kajian pada 2 (N=2) ramp, terdapat 1 (1/N=2) ramp yang aksesibel
dan 1 (1/N=2) ramp tidak aksesibel untuk diakses oleh tuna netra. Hal-hal
yang menjadi permasalahan adalah:
I. Sudut kemiringan ramp yang terlalu curam.

Hal ini bertentangan

dengan prinsip universal design no.7 (ukuran ruang untuk penggunaan


yang tepat)
c. Dari hasil kajian pada 3 (N=3) tangga, terdapat 2 (2/N=3) tangga yang
aksesibel sebagian dan 1 (1/N=3) tangga tidak aksesibel untuk diakses oleh
tuna netra. Hal-hal yang menjadi permasalahan adalah:
I. Tidak adanya pegangan tangga. Hal ini bertentangan dengan prinsip

universal design no.6 (mengurangi usaha fisik)


II. Terdapat anak tangga yang terlalu tinggi. Hal ini bertentangan dengan

prinsip universal design no.6 (mengurangi usaha fisik)


d. Dari hasil kajian pada 3 (N=3) gerbang masuk, ketiganya (N=3) aksesibel
untuk diakses oleh tuna netra.

Hendra Arif K.H Lubis : Kajian Aksesibilitas Difabel Pada Ruang Publik Kota Studi Kasus : Lapangan Merdeka, 2008
USU Repository 2008

e. Dari hasil kajian pada 1 (N=1) toilet umum, adalah aksesibel sebagian untuk
diakses oleh tuna netra. Hal-hal yang menjadi permasalahan adalah:
I.

Disorientasi, diakibatkan tidak adanya jalur pemandu. Hal ini


bertentangan dengan prinsip universal design no.1 ( dapat digunakan
oleh semua jenis pengguna) dan prinsip universal design no.2 (fleksibel
dalam penggunaan)

II. Disorientasi, diakibatkan tidak adanya papan tanda toilet untuk pria dan

toilet untuk wanita dalam huruf braile. Hal ini bertentangan dengan
prinsip universal design no. 4 (informasi yang memadai)
III. Penggunaan material lantai yang licin pada toilet umum. Hal ini

bertentangan dengan prinsip universal design no. 5 (toleransi


kesalahan)
f.

Dari hasil kajian pada 1 telepon umum, terdapat 1 (N=1) telepon umum yang
aksesibel sebagian untuk diakses oleh tuna netra. Hal yang menjadi
permasalahan adalah :
I. Posisi telepon umum yang apabila ingin mengakses harus melewati

jalur pedestrian yang rusak. Hal ini bertentangan dengan prinsip


universal design no. 6 (mengurangi usaha fisik)
g. Dari hasil kajian pada bangunan Stasiun Kereta Api yang terdapat 7 (N=7)
elemen aksesibilitas, terdapat 1 (1/N=7) akses ke bangunan yang aksesibel

Hendra Arif K.H Lubis : Kajian Aksesibilitas Difabel Pada Ruang Publik Kota Studi Kasus : Lapangan Merdeka, 2008
USU Repository 2008

sebagian, 1(1/N=7) loket yang aksesibel sebagian, 1(1/N=7) area informasi yang
aksesibel sebagian, 1(1/N=7) tangga yang aksesibel sebagian, 1 (1/N=2) telepon
umum yang aksesibel, 1(1/N=7) toilet umum yang aksesibel sebagian dan 1(1/N=7)
kantin yang aksesibel sebagian untuk diakses oleh tuna netra. Hal-hal yang menjadi
permasalahan adalah:
I. Pada akses ke bangunan tidak dilengkapi dengan jalur pemandu dan

papan informasi dalam huruf braile. Hal ini bertentangan dengan prinsip
universal design no.1 (dapat digunakan oleh semua jenis pengguna),
prinsip universal design no.2 (fleksibel dalam penggunaan) dan prinsip
universal design no.4 (informasi yang memadai)
II. Pada area loket tidak dilengkapi dengan jalur pemandu. Hal ini

bertentangan dengan prinsip universal design no.1 (dapat digunakan


oleh semua jenis pengguna) dan prinsip universal design no.2 (fleksibel
dalam penggunaan).
III. Pada area informasi tidak dilengkapi dengan papan informasi dalam

huruf braile. Hal ini bertentangan dengan prinsip universal design no.4
(informasi yang memadai)
IV. Pada tangga tidak dilengkapi dengan jalur pemandu dan papan

informasi dalam huruf braile. Hal ini bertentangan dengan prinsip


universal design no.1 (dapat digunakan oleh semua jenis pengguna),

Hendra Arif K.H Lubis : Kajian Aksesibilitas Difabel Pada Ruang Publik Kota Studi Kasus : Lapangan Merdeka, 2008
USU Repository 2008

prinsip universal design no.2 (fleksibel dalam penggunaan) dan prinsip universal
design no.4 (informasi yang memadai)
V. Pada toilet umum tidak dilengkapi dengan papan tanda toilet untuk pria

dan toilet untuk wanita dalam huruf braile. Hal ini bertentangan dengan
prinsip universal design no.4 (informasi yang memadai)
VI. Pada area kantin tidak dilengkapi dengan jalur pemandu dan papan

informasi dalam huruf braile. Hal ini bertentangan dengan prinsip


universal design no.1 (dapat digunakan oleh semua jenis pengguna),
prinsip universal design no.2 (fleksibel dalam penggunaan) dan prinsip
universal design no.4 (informasi yang memadai)

2. Tuna Rungu
a. Dari hasil kajian pada 8 (N=8) jalur pedestrian, terdapat 6 (6/N=8) jalur
pedestrian yang aksesibel, 1 (1/N=8) jalur pedestrian kurang aksesibel dan 1
(1/N=1) jalur pedestrian tidak akses sama sekali untuk diakses oleh tuna
rungu. Hal-hal yang menjadi permasalahan adalah :
I.

Terdapat jalur pedestrian yang tidak terdefinisi. Hal ini bertentangan


dengan prinsip universal design no.6 (mengurangi usaha fisik)

Hendra Arif K.H Lubis : Kajian Aksesibilitas Difabel Pada Ruang Publik Kota Studi Kasus : Lapangan Merdeka, 2008
USU Repository 2008

II.

Perletakan lubang kontrol drainase terbuka pada jalur pedestrian. Hal


ini bertentangan dengan prinsip universal design no.5 (toleransi
kesalahan)

b. Dari hasil kajian pada 2 (N=2) ramp, adalah aksesibel untuk diakses oleh
tuna rungu
c. Dari hasil kajian pada 2 (N=2) tangga, adalah aksesibel untuk diakses oleh
tuna rungu
d. Dari hasil kajian pada 2 (N=2) gerbang masuk, keduanya (N=2) aksesibel
untuk diakses oleh tuna rungu.
e. Dari hasil kajian pada 1(N=1) toilet umum adalah aksesibel untuk diakses
oleh tuna rungu.
f. Dari hasil kajian pada 1 (N=1) telepon umum, adalah tidak aksesibel untuk
diakses oleh tuna rungu. Hal yang menjadi permasalahan adalah :
I.

Fasilitas telepon umum yang ada tidak mengakomodasi telepon dalam


bentuk text. Hal ini bertentangan dengan prinsip universal design no. 1
(dapat digunakan oleh semua jenis pengguna)

g. Dari hasil kajian pada bangunan Stasiun Kereta Api yang terdapat 7 (N=7)
elemen aksesibilitas, terdapat 1 (1/N=7) akses ke bangunan yang aksesibel ,
1(1/N=7) loket yang aksesibel, 1(1/N=7) area informasi yang aksesibel,
1(1/N=7) tangga yang aksesibel, 1 (1/N=2) telepon umum yang tidak

Hendra Arif K.H Lubis : Kajian Aksesibilitas Difabel Pada Ruang Publik Kota Studi Kasus : Lapangan Merdeka, 2008
USU Repository 2008

aksesibel, 1(1/N=7) toilet umum yang aksesibel dan 1(1/N=7) kantin yang
aksesibel untuk diakses oleh tuna rungu. Hal yang menjadi permasalahan
adalah :
I.

Fasilitas telepon umum yang ada tidak mengakomodasi telepon dalam


bentuk text. Hal ini bertentangan dengan prinsip universal design no. 1
(dapat digunakan oleh semua jenis pengguna)

3. Tuna Daksa Pengguna Kruk


a. Dari hasil kajian pada 8 (N=8) jalur pedestrian, terdapat 2 (3/N=8) jalur
pedestrian yang aksesibel, 3 (3/N=8) jalur pedestrian yang aksesibel sebagian
dan 3 (3/N=8) jalur pedestrian tidak akses sama sekali untuk diakses oleh
tuna daksa pengguna kruk. Hal-hal yang menjadi permasalahan adalah :
I.

Terdapat jalur pedestrian yang terlalu tinggi untuk dijangkau. Hal ini
bertentangan dengan prinsip universal design no. 6 (mengurangi usaha
fisik)

II.

Terdapat jalur pedestrian yang tidak terdefinisi. Hal ini bertentangan


dengan prinsip universal design no.6 (mengurangi usaha fisik)

III.

Perletakan lubang kontrol drainase terbuka pada jalur pedestrian. Hal


ini bertentangan dengan prinsip universal design no.5 (toleransi
kesalahan)

Hendra Arif K.H Lubis : Kajian Aksesibilitas Difabel Pada Ruang Publik Kota Studi Kasus : Lapangan Merdeka, 2008
USU Repository 2008

b. Dari hasil kajian pada 2 (N=2) ramp, terdapat 1 (1/N=2) ramp yang aksesibel
dan 1 (1/N=2) ramp tidak aksesibel untuk diakses oleh tuna daksa pengguna
kruk. Hal-hal yang menjadi permasalahan adalah:
I.

Sudut kemiringan ramp yang terlalu curam.

Hal ini bertentangan

dengan prinsip universal design no.7 (ukuran ruang untuk penggunaan


yang tepat)
c. Dari hasil kajian pada 3 (N=3) tangga, terdapat 2 (2/N=3) tangga yang
aksesibel sebagian dan 1 (1/N=3) tangga tidak aksesibel untuk diakses oleh
tuna daksa pengguna kruk. Hal-hal yang menjadi permasalahan adalah:
I.

Tidak adanya pegangan tangga. Hal ini bertentangan dengan prinsip


universal design no.6 (mengurangi usaha fisik)

II.

Terdapat anak tangga yang terlalu tinggi. Hal ini bertentangan dengan
prinsip universal design no.6 (mengurangi usaha fisik)

d. Dari hasil kajian pada 3 (N=3) gerbang masuk, keduanya (N=3) aksesibel
untuk diakses oleh tuna daksa pengguna kruk.
e. Dari hasil kajian pada 1 (N=1) toilet umum, adalah tidak aksesibel untuk
diakses oleh tuna daksa pengguna kruk.
I.

Ukuran pintu toilet yang tidak memadai. Hal ini bertentangan dengan
prinsip universal design no.7 (ukuran ruang untuk penggunaan yang
tepat)

Hendra Arif K.H Lubis : Kajian Aksesibilitas Difabel Pada Ruang Publik Kota Studi Kasus : Lapangan Merdeka, 2008
USU Repository 2008

f. Dari hasil kajian pada 1 telepon umum, adalah kurang aksesibel untuk
diakses oleh tuna daksa pengguna kruk. Hal yang menjadi permasalahan
adalah :
I.

Posisi telepon umum yang apabila ingin mengakses harus melewati


jalur pedestrian yang rusak. Hal ini bertentangan dengan prinsip
universal design no. 6 (mengurangi usaha fisik)

g. Dari hasil kajian pada bangunan Stasiun Kereta Api yang terdapat 7 (N=7)
elemen aksesibilitas, terdapat 1 (1/N=7) akses ke bangunan yang aksesibel
sebagian , 1(1/N=7) loket yang tidak aksesibel, 1(1/N=7) area informasi
yang aksesibel, 1(1/N=7) tangga yang aksesibel sebagian, 1 (1/N=2) telepon
umum yang aksesibel, 1(1/N=7) toilet umum yang tidak aksesibel dan
1(1/N=7) kantin yang aksesibel sebagian untuk diakses oleh tuna daksa
pengguna kruk.

4. Tuna Daksa Pengguna Kursi Roda


a. Dari hasil kajian pada 8 (N=8) jalur pedestrian, terdapat 2 (2/N=8) jalur
pedestrian yang aksesibel dan 6 (6/N=25) jalur pedestrian tidak aksesibel
untuk diakses oleh tuna daksa pengguna kursi roda.

Hendra Arif K.H Lubis : Kajian Aksesibilitas Difabel Pada Ruang Publik Kota Studi Kasus : Lapangan Merdeka, 2008
USU Repository 2008

Hal-hal yang menjadi permasalahan adalah :


I.

Jalur pedestrian yang tidak terjangkau kursi roda. Hal ini bertentangan
dengan prinsip universal design no. 6 (mengurangi usaha fisik) dan
prinsip universal design no. 7 (ukuran ruang untuk penggunaan yang
tepat)

II.

Kondisi jalur pedestrian yang rusak sebagian. Hal ini bertentangan


dengan prinsip universal design no. 5 (toleransi kesalahan) dan prinsip
universal design no. 6 (mengurangi usaha fisik)

b. Dari hasil kajian pada 2 (N=2) ramp, terdapat 1 (1/N=2) ramp yang aksesibel
dan 1 (1/N=2) ramp tidak aksesibel untuk diakses oleh tuna daksa pengguna
kursi roda. Hal-hal yang menjadi permasalahan adalah:
I.

Sudut kemiringan ramp yang terlalu curam.

Hal ini bertentangan

dengan prinsip universal design no.7 (ukuran ruang untuk penggunaan


yang tepat)
c. Dari hasil kajian pada 2 (N=2) gerbang masuk, terdapat 1 (1/N=2)
gerbang masuk yang aksesibel sebagian dan terdapat 1 (1/N=2) yang
tidak akses sama sekali untuk diakses oleh tuna daksa pengguna kruk.

Hendra Arif K.H Lubis : Kajian Aksesibilitas Difabel Pada Ruang Publik Kota Studi Kasus : Lapangan Merdeka, 2008
USU Repository 2008

Hal-hal yang menjadi permasalahan adalah :


I.

Perbedaan ketinggian landing space dan gerbang masuk tidak


dilengkapi dengan kerb ramp. Hal ini bertentangan dengan prinsip
universal design no. 6 (mengurangi usaha fisik)

d. Dari hasil kajian pada 1 (N=1) toilet umum, adalah tidak aksesibel untuk
diakses olehtuna daksa pengguna kursi roda.
e. Dari hasil kajian pada 1 (N=1) tempat ibadah adalah kurang aksesibel untuk
diakses oleh tuna daksa pengguna kursi roda.
f. Dari hasil kajian pada 1 (N=1) telepon umum, adalah tidak aksesibel untuk
diakses oleh tuna daksa pengguna kursi roda.
g. Dari hasil kajian pada bangunan Stasiun Kereta Api yang terdapat 7 (N=7)
elemen aksesibilitas, terdapat 1 (1/N=7) akses ke bangunan yang aksesibel
sebagian , 1(1/N=7) loket yang tidak aksesibel, 1(1/N=7) area informasi
yang aksesibel, 1(1/N=7) tangga yang tidak aksesibel, 1 (1/N=2) telepon
umum yang tidak aksesibel, 1(1/N=7) toilet umum yang tidak aksesibel dan
1(1/N=7) kantin yang aksesibel sebagian untuk diakses oleh tuna tuna daksa
pengguna kursi roda. Hal yang menjadi permasalahan adalah :
I.

Pada area kantin terdapat meja kasir yang terlalu tinggi untuk dicapai.
Hal ini bertentangan dengan prinsip universal design no. 6
(mengurangi usaha fisik)

Hendra Arif K.H Lubis : Kajian Aksesibilitas Difabel Pada Ruang Publik Kota Studi Kasus : Lapangan Merdeka, 2008
USU Repository 2008

7.3 Kesimpulan
Dari kajian tentang aksesibilitas difabel pada ruang terbuka sebagai ruang publik
kota didapatkan kesimpulan :
1. Dari hasil kajian pada 25 elemen aksesibilitas yang ada di kawasan Lapangan
Merdeka hanya 5 elemen aksesibilitas (20%) yang dapat diakses oleh kaum
difabel. Dapat disimpulkan bahwa kawasan Lapangan Merdeka belum aksesibel
untuk diakses oleh kaum difabel.
2. Permasalahan aksesibilitas fisik yang menghalangi aksesibilitas kaum difabel
dikarenakan elemen aksesibilitas yang ada di kawasan Lapangan Merdeka tidak
memenuhi asas aksesbilitas seperti yang tecantum pada Peraturan Menteri
Pekerjaan Umum no. 30/PRT/M/2006 yang secara detail dijelaskan pada prinsipprinsip universal design tentang kemudahan, kegunaan, keselamatan dan
kemandirian.

Hendra Arif K.H Lubis : Kajian Aksesibilitas Difabel Pada Ruang Publik Kota Studi Kasus : Lapangan Merdeka, 2008
USU Repository 2008

BAB VIII
REKOMENDASI DAN SARAN

8.1 Rekomendasi
Kawasan Lapangan Merdeka sebagai salah satu kawasan ruang terbuka
publik kota yang dapat mewadahi kegiatan masyarakat kota secara lebih optimal,
termasuk kaum difabel yang berkunjung ke kawasan Lapangan Merdeka untuk
melakukan aktifitas untuk berbagai keperluan.
Berdasarkan hasil analisis dan pengamatan serta wawancara, maka skenario
aktifitas dan ruang pada kawasan Lapangan Merdeka adalah menjadikan Lapangan
Merdeka sebagai suatu lingkungan yang menerapkan desain yang universal pada
sarana aksesibilitas di kawasan Lapangan Merdeka dimana sesuatu hal yang
membatasi seseorang untuk melakukan suatu aktifitas gerak maupun menghambat
keleluasaan ruang gerak dapat dibebaskan dengan suatu penyediaan fasilitas yang
memenuhi prinsip desain yang universal.
Dengan demikian kawasan Lapangan Merdeka dapat dikatakan sebagai
kawasan ruang terbuka publik kota yang memperhatikan aspek kesetaraan diantara
masing-masing pengguna kawasan ruang terbuka publik kota. Untuk itu penulis
mencoba memberikan rekomendasi untuk tiap-tiap elemen aksesibilitas pada

Hendra Arif K.H Lubis : Kajian Aksesibilitas Difabel Pada Ruang Publik Kota Studi Kasus : Lapangan Merdeka, 2008
USU Repository 2008

penyediaan sarana aksesibilitas di kawasan Lapangan Merdeka yang memenuhi


prinsip universal design agar dapat diakses oleh kaum difabel, yang terdiri dari :

1. Jalur Pedestrian
Rekomendasi untuk permukaan jalur pedestrian :
a. Material penutup permukaan harus tidak licin
b. Tinggi gundukan pada permukaan maksimal 1,25 cm
c. Tidak ada sambungan yang mengganggu aksesibilitas
Ilustrasi

Gambar 8.1 Permukaan jalur pedestrian

Rekomendasi untuk ukuran jalur pedestrian :


a. Lebar jalur pedestrian minimal 120 cm
b. Jalur pedestrian harus bebas dari pohon, tiang , rambu, drainase dan benda
lain yang menghalangi
Ilustrasi

Gambar 8.2 Ukuran jalur pedestrian


Hendra Arif K.H Lubis : Kajian Aksesibilitas Difabel Pada Ruang Publik Kota Studi Kasus : Lapangan Merdeka, 2008
USU Repository 2008

Rekomendasi untuk penyediaan tepi pengaman/ kanstin :


a. Tepi pengaman dibuat setinggi maksimum 10 cm dan lebar 15 cm
Ilustrasi

Gambar 8.3 Tepi pengaman/kanstin

Rekomendasi untuk penyediaan jalur pemandu :


a. Pemasangan jalur pemandu

perlu memperhatikan pola susunan ubin

eksisting agar tidak terjadi disorientasi


b. Untuk membedakan dengan ubin eksisting perlu diberi warna berbeda
semisal kuning atau jingga
Ilustrasi

Gambar 8.4 Jalur pemandu

Hendra Arif K.H Lubis : Kajian Aksesibilitas Difabel Pada Ruang Publik Kota Studi Kasus : Lapangan Merdeka, 2008
USU Repository 2008

Rekomendasi untuk penyediaan ramp :


a. Pada ramp perlu dipasang pegangan rambat pada kedua sisinya
b. Lebar ramp minimal 120 cm
c. Kemiringan maksimal ramp 7-8
Ilustrasi

Gambar 8.5 Ramp pada jalur pedestrian

Rekomendasi untuk penyediaan tangga :


a. Pada ramp perlu dipasang pegangan rambat pada kedua sisinya
b. Ubin peringatan dan ubin pengarah perlu dipasang pada bagian awal dan
akhir tangga
Ilustrasi

Gambar 8.6 Tangga pada jalur pedestrian

Hendra Arif K.H Lubis : Kajian Aksesibilitas Difabel Pada Ruang Publik Kota Studi Kasus : Lapangan Merdeka, 2008
USU Repository 2008

2. Toilet Umum
Rekomendasi untuk pintu masuk :
a. Pintu masuk dan keluar toilet harus cukup lebar minimal 120 cm
b. Sebaiknya menggunakan pintu otomatis
Ilustrasi

Gambar 8.7 Pintu masuk toilet

Rekomendasi untuk jenis kloset :


a. Pada toilet sebaiknya disediakan minimal 1 kloset duduk untuk pengguna
kursi roda
b. Minimal 2% dari jumlah toilet menggunakan kloset duduk
Ilustrasi

Gambar 8.8 Jenis toilet


Hendra Arif K.H Lubis : Kajian Aksesibilitas Difabel Pada Ruang Publik Kota Studi Kasus : Lapangan Merdeka, 2008
USU Repository 2008

Rekomendasi untuk kelengkapan toilet :


a. Pada sisi kloset harus dilengkapi dengan pegangan
b. Terdapat urinoir yang aksesibel
c. Terdapat wastafel yang aksesibel
Ilustrasi

Gambar 8.9 Kelengkapan toilet

3. Area Parkir
Rekomendasi untuk lot parkir :
a. Perlu disediakan minimal 1 tempat parkir untuk pengguna kursi roda dengan
lebar minimal 350 cm
b. Pada prinsipnya 2% dari area parkir pada satu area diperuntukkan bagi
pengguna kursi roda
Ilustrasi

Gambar 8.10 Area Parkir


Hendra Arif K.H Lubis : Kajian Aksesibilitas Difabel Pada Ruang Publik Kota Studi Kasus : Lapangan Merdeka, 2008
USU Repository 2008

4. Telepon Umum
Rekomendasi untuk ukuran ruang telepon umum :
a. Perlu ruang gerak yang cukup agar dapat dijangkau oleh pengguna kursi roda
b. Ketinggian telepon dipertimbangkan terhadap daya jangkau pengguna kursi
roda yaitu maksimal 80-100 cm
Ilustrasi

Gambar 8.11 Telepon umum

5. Akses ke Bangunan
Rekomendasi untuk penyediaan ramp :
a. Perlu dipasang pegangan rambat pada kedua sisi ramp
b. Lebar minimal ramp 120 cm dengan sudut kemiringan 7 - 8
c. Pada bagian awal dan akhir ramp perlu dipasang ubin pengarah
Ilustrasi

Gambar 8.12 Ramp pada akses ke bangunan

Hendra Arif K.H Lubis : Kajian Aksesibilitas Difabel Pada Ruang Publik Kota Studi Kasus : Lapangan Merdeka, 2008
USU Repository 2008

Rekomendasi untuk penyediaan pintu masuk :


a. Lebar minimal pintu masuk 120 cm
b. Pintu masuk sebaiknya menggunakan pintu otomatis
c. Dari pintu masuk ke meja penerima tamu diperlukan ubin pengarah
Ilustrasi

Gambar 8.13 Pintu masuk ke bangunan

8.2 Saran
Kawasan Lapangan Merdeka dikelola oleh suatu badan yang berkompeten
dan mempunyai otoritas untuk mengatur investasi di kawasan Lapangan Merdeka,
sehingga guna komersial dapat menjadi sumber subsidi bagi berbagai fasilitas publik
di kawasan Lapangan Merdeka. Apabila kawasan Lapangan Merdeka dapat aksesibel
untuk diakses oleh kaum difabel juga akan berdampak kepada sisi komersial
kawasan Lapangan Merdeka itu sendiri.
Untuk mewujudkan kawasan Lapangan Merdeka menjadi kawasan yang
aksesibel untuk kaum difabel memerlukan peran aktif dari kaum difabel itu sendiri.
Yang banyak terjadi sekarang kaum difabel hanya dipandang sebagai objek bukan

Hendra Arif K.H Lubis : Kajian Aksesibilitas Difabel Pada Ruang Publik Kota Studi Kasus : Lapangan Merdeka, 2008
USU Repository 2008

subjek utama. Sehingga yang terjadi penyediaan sarana aksesibilitas untuk kaum
difabel bukan yang sebenarnya mereka butuhkan.
Berikut penulis mencoba memberikan beberapa strategi untuk mewujudkan
kawasan Lapangan Merdeka sebagai kawasan ruang terbuka yang aksesibel bagi
semua :
1. Meningkatkan kesadaran publik terhadap isu-isu aksesibilitas.
2. Meneyediakan fasilitas publik termasuk sarana aksesibilitas umum yang
aksesibel untuk semua.
3. Mengikutsertakan kaum difabel sebagai kontrol pelayanan publik
4. Memberikan penghargaan kepada pengelola bangunan dan lingkungan yang
sudah menerapkan sarana aksesibilitas yang aksesibel untuk difabel.

Hendra Arif K.H Lubis : Kajian Aksesibilitas Difabel Pada Ruang Publik Kota Studi Kasus : Lapangan Merdeka, 2008
USU Repository 2008

BAB IX
PENUTUP

Dalam kehidupan bermasyarakat masih ditemui rendahnya tingkat kesadaran


dalam mengapresiasi masalah difabel. Dalam kehidupan sehari-hari, meski tiap-tiap
komponen masyarakat fasih melafalkan term demokrasi, pada kenyataannya hasrat
untuk menempatkan kaum difabel pada posisi sosial yang adil dan setara masih
rendah. Bahkan, dalam kehidupan sehari-hari masyarakat cenderung enggan
menerima kaum difabel apa adanya dalam lingkungan sosial mereka. Hal ini
tampak pada sulitnya memenuhi keinginan kaum difabel untuk untuk mendapatkan
aksesibilitas ruang publik dalam menjalani kehidupan sehari hari.
Ada pola pandang yang salah terhadap kaum difabel, yakni banyak orang
berpikir bahwa seharusnya kaum difabel tetap menjadi tanggung jawab keluarganya
masing masing, dan tidak membebani dunia luar. Kita lupa bahwa cacat fisik yang
diderita mereka tidak berhubungan dengan intuisi, pemikiran, dan kecerdasan
mereka. Banyak yang ingin tetap sekolah, bekerja dan berinteraksi seperti halnya
orang orang normal disekitarnya. Lalu bagaimana memahami isu- isu kecacatan
dengan perspektif yang masuk akal dan bertanggung jawab?
Pertama yang harus dilakukan adalah mendorong media massa sebagai
pembongkar bentuk-bentuk kekerasan yang selama ini disembunyikan oleh menjadi

Hendra Arif K.H Lubis : Kajian Aksesibilitas Difabel Pada Ruang Publik Kota Studi Kasus : Lapangan Merdeka, 2008
USU Repository 2008

peduli dan menempatkan difabel setara dengan dirinya. Dalam perkembangan


sejarah, media massa terbukti berpengaruh terhadap pembentukan pola pikir
masyarakat. Mulai dari promosi suatu produk, hiburan , propaganda sampai syiar
agama bisa menggunakan media massa. Bagaimanapun media massa adalah cermin
dari budaya bangsa, sehingga pesan pesan atau muatan yang terkandungnya juga
merupakan refleksi budaya dan perilaku yang terjadi di masyarakat.
Kedua yang harus dilakukan adalah merealisasikan terwujudnya bangunan
dan lingkungan yang aksesibel, maka diharapkan dari pihak terkait antara aparat
pemerintah, swasta, pengelola/pemilik, penyedia jasa dan masyarakat pada
umumnya, dapat merealisasikannya secara terpadu, sinergis dan koordinatif agar
tercapai target utama yaitu tersosialisasinya program aksi dalam mewujudkan
bangunan dan lingkungan yang manusiawi, bermartabat dan dapat diakses oleh
semua kelompok masyarakat tanpa terkecuali.
Akhir kata penulis ingin menyampaikan, The most interesting thing I
learned is how the word "disability" becomes a label. There's a great dissonance
between those of us who feel we're normal and those whom we label as disabled.
We're often afraid to make eye contact with people in wheelchairs, who don't look
quite "normal." And that changed me forever, when I realized that the barriers that
divide us are not so much physical as cultural, that they grow out of the way that we
look at people.

Hendra Arif K.H Lubis : Kajian Aksesibilitas Difabel Pada Ruang Publik Kota Studi Kasus : Lapangan Merdeka, 2008
USU Repository 2008

DAFTAR PUSTAKA

Anonim, 1998, Design an Accessible City, Corporation of London


BAPPEDA PROVSU, 2005, Kebijakan Anggaran Daerah Dalam Implementasi
Aksesibilitas Bagi Penyandang Cacat, Semiloka Aksesibilitas Fisik, Paper.
Departemen Penataan Ruang dan Permukiman, 2005, Persyaratan Teknis
Aksesibilitas Pada Bangunan Umum dan Lingkungan, Seminar Manajemen
Ruang Publik Jakarta, Paper
Departemen Permukiman dan Prasarana Wilayah, 2005, Aksesibilitas Pada
Ruang Publik, Seminar Manajemen Ruang Publik Jakarta, Paper.
Dinas Kesehatan PROVSU, 2005, Mendesaknya Fasilitas Yang Akses Bagi
Penyandang Cacat Dalam Rangka Menuju Kesamaan Kesempatan dan
Kesetaraan Perlakuan, Semiloka Aksesibilitas Fisik, Paper .
Dinas Perhubungan PROVSU, 2005, Penyandang Cacat Akan Kebutuhan Darurat
Aksesibilitas, Semiloka Aksesibilitas Fisik, Paper .
Direktorat Transportasi , 2005, Mewujudkan Perencanaan dan Penganggaran
Sektor Transportasi Yang Responsif Terhadap Tantangan Pembangunan
Nasional, Semiloka Aksesibilitas Fisik Bagi Penyandang Cacat, Paper.
Haryadi, dan B. Setiawan, 1995, Arsitektur Lingkungan dan Perilaku, Suatu
Pengantar ke Teori Metodologi dan Aplikasi, PPSL DIRJEN DIKTI
DEPDIKBUD RI.
Hernowo, Bimo, 2005, Aksesibilitas Difabel Sebagai Tuntutan Hak Azasi, Paper
Kasim, Eva, 2004, Tinjau Kembali Rehabilitasi Penyandang Cacat , World
Congress International Rehabilitation, Paper.
Krier, Rob, 1992, Urban Space, Rizolli, New York
Lynch, K, 1987, Good City Form, The MIT Press.

Hendra Arif K.H Lubis : Kajian Aksesibilitas Difabel Pada Ruang Publik Kota Studi Kasus : Lapangan Merdeka, 2008
USU Repository 2008

Macken, Elizabeth, 1998, Prolegomena to A Theory of Disability, Inability and


Handicap, Paper.
Moore, Patricia A, 2001, Experiencing Universal Design, Universal Design
Handbook
Mustafa, Tavip Kurniadi, 2005, Peran Profesi Dalam Implementasi Persyaratan
Teknis Aksesibilitas Pada Bangunan Umum dan Lingkungan, Semiloka
Aksesibilitas Fisik Bagi Penyandang Cacat, Paper.
Nasution, A.D, 2003, Ruang Terbuka Kota Yang Bersahabat Bagi Pegawai dan
Kayawan Kantor, Magister Teknik Arsitektur USU Pemko Medan, Seminar
Internasional Manajemen Pembangunan Kota Yang Bersahabat, Paper
Ostroff, Elaine, 2001, Universal Design : The New Paradigm, Universal Design
Handbook.
Parker, Kenneth J, 2001, Developing Economies : A Reality Check, Universal
Design Handbook.
Setyaningsih, Wiwik , Perwujudan Elemen Aksesibilitas Pada Bangunan Gedung
dan Lingkungan, Unit Kajian Aksesibilitas Arsitektu (UKAA) UNS 2005 :
Policy And Regulation SEMINAR INTERNATIONAL Supporting Inclusion
In Indonesia, Paper
Story, Molly Folente, 2001, Principles of Universal Design, Universal Design
Handbook.
Tim Penyusun Pedoman Persyaratan Teknis Bangunan Gedung, 2002, Undang
Undang Republik Indonesia Nomor 28 Tahun 2002 Tentang Bangunan
Gedung, Departemen Permukiman Dan Prasarana Wilayah, Jakarta.
Trancik, Roger, 1986, Finding Lost Space, Van Nostrand Reinhold, New York
Weisman, Leslie Kanes, 2001, Creating The Universally Designed City : Prospects
for The New Century, Universal Design Handbook.

Hendra Arif K.H Lubis : Kajian Aksesibilitas Difabel Pada Ruang Publik Kota Studi Kasus : Lapangan Merdeka, 2008
USU Repository 2008

1.1 LAMPIRAN

Surat Rekomendasi Ikatan Arsitek Indonesia

Hendra Arif K.H Lubis : Kajian Aksesibilitas Difabel Pada Ruang Publik Kota Studi Kasus : Lapangan Merdeka, 2008
USU Repository 2008

1.2 LAMPIRAN

Kuesioner Aksesibilitas Difabel Pada Ruang Publik Kota

Nama

Alamat

Jenis Kelamin

: Pria/Wanita

Pekerjaan

Klasifikasi

1. Apa yang menjadi penyebab bapak/ibu memiliki perbedaan kemampuan :


a. Perbedaan sedari lahir
b. Kecelakaan
c. Penyakit
d. d.Kekerasan fisik
2. Dalam beraktifitas apakah bapak/ibu memerlukan bantuan dari orang lain
untuk memudahkan bapak/ibu :
a. Ya
b. Tidak
3. Apakah dalam beraktifitas bapak/ibu menggunakan alat bantu aksesibilitas :
a. a.Ya
b. b.Tidak
4. Jenis alat bantu aksesibilitas yang digunakan :
a. a.Tongkat
b. b.Kruk
c. Kursi roda

Hendra Arif K.H Lubis : Kajian Aksesibilitas Difabel Pada Ruang Publik Kota Studi Kasus : Lapangan Merdeka, 2008
USU Repository 2008

d. Alat bantu pendengaran


e. lain-lain
5. Apakah dalam beraktifitas bapak/ibu menggunakan moda transportasi umum
:
a. a.Ya
b. b.Tidak,
alasannya...
6. Apabila ya, moda transportasi umum apakah yang sering dipergunakan
bapak/ibu dalam berkatifitas (jawaban bisa lebih dari satu) :
a. Taksi
b. Sudako
c. Becak
d. Bus
7. Kegiatan publik apakah yang Bapak/Ibu ketahui sering berlangsung di
Lapangan Merdeka?
a.
..
8. Pernahkah bapak/ibu berkunjung ke kawasan Lapangan Merdeka?
a. Pernah
b. Tidak pernah
9. Apabila pernah, dalam mengakses Kawasan Lapangan Merdeka apakah
bapak/ibu memerlukan bantuan dari orang lain untuk memudahkan bapak/ibu
a. Ya
a. b. Tidak
10. Fasilitas pelayanan umum manakah yang sering bapak/ibu kunjungi di
kawasan Lapangan Merdeka?
a. ..
11. Apakah bapak/ibu sering berkunjung ke fasilitas-fasilitas pelayanan umum
tersebut :
a. Sering
b. Tidak sering
12. Permasalahan aksesibilitas apakah yang dijumpai dalam mengakses kawasan
Lapangan Merdeka:
a. ..

Hendra Arif K.H Lubis : Kajian Aksesibilitas Difabel Pada Ruang Publik Kota Studi Kasus : Lapangan Merdeka, 2008
USU Repository 2008

13. Menurut pengalaman bapak/ibu bagaimanakah pengelolaan kawasan


Lapangan Merdeka dalam memfasilitasi sarana aksesibiltas penyandang
cacat?
Sarana
Aksesibilitas
Pedestrian
Ramp
Tangga
Jalur
peyebrangan

Baik

Cukup

Kurang

Tidak
Akses

Tidak
Tahu

14. Menurut pengalaman bapak/ibu bagaimanakah pengelolaan fasilitas umum di


kawasan Lapangan Merdeka?
Fasilitas
Umum
Telepon umum
ATM
Mushalla
Toilet

Baik

Cukup

Kurang

Tidak
Akses

Tidak
Tahu

15. Adakah saran dan masukan dari bapak/ibu untuk pemerintah Kota Medan
sebagai pengelola kawasan Lapangan Merdeka?
..

Hendra Arif K.H Lubis : Kajian Aksesibilitas Difabel Pada Ruang Publik Kota Studi Kasus : Lapangan Merdeka, 2008
USU Repository 2008

1.3 LAMPIRAN
Formulir Peninjauan Akses

Hendra Arif K.H Lubis : Kajian Aksesibilitas Difabel Pada Ruang Publik Kota Studi Kasus : Lapangan Merdeka, 2008
USU Repository 2008

Hendra Arif K.H Lubis : Kajian Aksesibilitas Difabel Pada Ruang Publik Kota Studi Kasus : Lapangan Merdeka, 2008
USU Repository 2008

Hendra Arif K.H Lubis : Kajian Aksesibilitas Difabel Pada Ruang Publik Kota Studi Kasus : Lapangan Merdeka, 2008
USU Repository 2008

Hendra Arif K.H Lubis : Kajian Aksesibilitas Difabel Pada Ruang Publik Kota Studi Kasus : Lapangan Merdeka, 2008
USU Repository 2008

Hendra Arif K.H Lubis : Kajian Aksesibilitas Difabel Pada Ruang Publik Kota Studi Kasus : Lapangan Merdeka, 2008
USU Repository 2008