Anda di halaman 1dari 3

Political Economy of Accounting

Political Economy of Acounting (PEA)


PEA merupakan salah satu rerangka teori (theoretical framework) dalam ranah studi akuntansi
kritis yang diperkenalkan oleh Tinker pada tahun 1980. PEA didengungkan sebagai kritik atas teori
marjinalisme dari ekonomi neo-klasik (the neo-classical economies of marginalism). Jika teori
marjinalisme fokus pada apa yang disebut tekanan produksi suatu entitas, sedangkan PEA fokus pada
aspek hubungan sosial dari produksi tersebut (Tinker, 1984). Perbedaan juga dapat dilihat dari sudut
pandang kedua teori tersebut, dimana teori marjinalisme mengartikan profit sebagai indikator dari
efisiensi ekonomi, sedangkan PEA memandangnya sebagai pengembalian pada pemilik modal.
Irianto (2006) menyebutkan bahwa PEA yang didasarkan pada basis ekonomi politik
menawarkan alternatif yang mengedepankan aspek distribusi dan keadilan, dan bukan laba sebagai
tujuan utama.
Studi akuntansi dengan rerangka PEA bertujuan untuk memahami dan mengevaluasi peran
akuntansi dalam konteks ekonomi, sosial dan politik, atau mengkaji bagaimana peran akuntansi dalam
konteks tertentu, baik organisasional maupun lingkungan yang lebih luas (Irianto, 2006).

Karakteristik Utama PEA


Menurut Cooper dan Sherer (1984) PEA memilik ciri-ciri dan karakteristik yaitu:
1. Studi akuntansi PEA harus mengakui adanya power dan konflik dalam masyarakat, dan harus fokus
pada dampak laporan keuangan pada distribusi laba, kekayaan dan power, secara konsekuen.
2. Studi PEA menekankan pada aspek historis dan lingkungan institusional dari masyarakat.
3. PEA melibatkan adopsi pandangan yang bebas atas motivasi manusia dan peran akuntansi dalam
masyarakat.
Cooper dan Sherer mengingatkan pada para peneliti dalam melakukan studi yang berbasis PEA untuk:

Be explicitly normative
Peneliti harus eksplisit tentang elemen-elemen normatif dari rerangka PEA yang diadopsi

Be descriptive normative
Peneliti harus menjelaskan dan menginterpretasikan praktik-praktik akuntansi

Be critical

Peneliti harus mampu mengenali problematik akuntansi dan terutama konsep dari kepentingan
publik.

Laba, dari Perspektif PEA


Menurut pandangan teori marjinalisme atau teori ekonomi klasik, laba dipandang sebagai aspek
utama atau tujuan utama dari suatu aktivitas bisnis dan diasosiasikan atau digunakan sebagai dasar
pengukuran efisiensi dari transformasi input ke output. Seringkali laba disebut juga sebagai the bottom
line dari laporan keuangan karena didukung oleh konstruk laporan laba rugi konvensional.
Menurut Tinker dalam Irianto (2006) , perspektif PEA memandang berbeda dari pandangan teori
ekonomi klasik, dimana laba diartikan sebagai refleksi atau pengejawantahan dari power yang dimiliki
oleh pemilik kepentingan utama perusahaan, yaitu pemilik modal. PEA menawarkan pandangan yang
transformatif atas laba, dari laba sebagai bottom line of the income statement menuju a just and fair
distribution. Laba merupakan indikator keberlangsungan hidup perusahaan dalam pasar dan sebagai
alat ukur efisiensi sosial dalam mendapatkan sumber daya pada masyarakat, dan bukan hanya sekedar
sebagai sebuah pengukuran teknis atas efisiensi dalam proses konversi input menjadi output.
Cooper dan Sherer (1984) percaya bahwa dengan menggunakan basis PEA, laporan keuangan
dapat direkonstruksi kembali, baik dalam bentuk, substansi, atau setidak-tidaknya dalam tataran
interpretasi. Hal ini didukung oleh beberapa karakteristik unik yang dimiliki PEA, yaitu pertama, rerangka
PEA mengakui adanya power dan konflik dalam masyarakat. Sehingga isu distribusi menjadi isu yang
penting dan kritis dibandingkan dengan isu bottom line. Kedua, PEA mendorong investigasi akuntansi
pada konteksnya. Studi atau kajian semacam ini mengintegrasikan pemahaman ekonomi politik dan
konteks sosial dimana akuntansi berperan.

Analisis Dalam Bingkai PEA


Dalam studi yang dilakukan oleh Tinker (1980) atas kasus pertambangan di Sierra Leone,
dihasilkan kesimpulan bahwa pihak yang memiliki power yang besar akan menikmati hasil operasi yang
besar pula dan juga mengungkapkan bagaimana hegemoni dari negara kolonial atas negara dan
masyarakat lain.
Shaoul (1997) menginvestigasi privatisasi perusahaan air minum di Inggris dan mengeksaminasi
kembali manfaat privatisasi dan mengungkapkan bagaimana distribusi dari power dan kekayaan.
Sedangkan Arnold dan Cooper (1999), saat menginvestigasi privatisasi pelabuhan, mengungkapkan

bagaimana dalam suatu kebijakan privatisasi, konflik kepentingan dapat terjadi ditengah masyarakat
utamanya terkait dengan distribusi kekayaan dan upaya mencapai keadilan sosial.
Irianto (2004) yang menginvestigasi salah satu kasus privatisasi BUMN di Indonesia,
mengungkapkan bahwa implementasi privatisasi BUMN belum menyentuh aspek distribusi kekayaan
meskipun pada rumusan perencanaan aspek tersebut menjadi salah satu agenda.
Meski studi-studi diatas menggunakan angka-angka akuntansi yang berbeda, namun aspek
fundamental dari PEA, yaitu distribusi kekayaan dan power, merupakan aspek sentral dari masingmasing studi.

DAFTAR PUSTAKA

Cooper, David J. and Sherer, Michael J. 1984. The Value of Corporate Accounting Reports: Arguments for
A Polotical Economy of Accounting. Accounting, Organization and Society Vol. 9 No. 3/4. Pergamon Press
Ltd

Irianto, Gugus. 2006. Dilema Laba dan Rerangka Teori Political Economy of Accounting (PEA). TEMA
Volume 7 Nomor 1, Maret 2006.

Tinker, Anthony M. 1984. Towards A Political Economy of Accounting: An Empirical Illustration of The
Cambridge Controversies. Accounting, Organization and Society Vol. 5 No. 1. Pergamon Press Ltd