Anda di halaman 1dari 24

BAB I

PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Masa pascapersalinan adalah fase khusus dalam kehidupan ibu serta bayi. Bagi
ibu yang mengalami persalinan untuk pertama kalinya, ibu menyadari terjadi perubahan
kehidupan yang sangat bermakna selama hidupnya. Keadaan ini ditandai dengan
perubahan emosional, perubahan fisik secara dramatis, hubungan keluarga dan aturan
serta penyesuaian terhadap aturan yang baru. Termasuk didalamnya perubahan dari
seorang perempuan menjadi seorang ibu disamping masa pascapersalinan mungkin
menjadi masa perubahan dan penyesuaian sosial ataupun perseorangan.
Periode pasca persalinan meliputi masa transisi kritis bagi ibu, bayi dan
keluarganya secara fisiologis, emosional dan sosial. Baik di negara maju maupun
berkembang, perhatian utama bagi ibu dan bayi terlalu banyak tertuju pada kehamilan
dan persalinan, sementara keadaan yang sebenarnya justru merupakan kebalikannya, oleh
karena resiko kesakitan dan kematian ibu serta bayi lebih sering terjadi pada masa
pascapersalinan. Perdarahan pascapersalinan merupakan penyebab utama dari 150.000
kematian ibu setiap tahun di dunia dan hampir 4 dari 5 kematian karena perdarahan
pascapersalinan terjadi dalam waktu 4 jam setelah persalinan, penyebab perdarahan
paling sering adalah atonia uteri serta retensio plasenta, penyebab lain kadang kadang
adalah laserasi serviks atau vagina, rupture uteri atau inversi uteri. Infeksi nifas seperti
sepsis, masih merupakan penyebab utama kematian ibu di negara berkemban. Demam
merupakan salah satu gejala/tanda yang paling mudah dikenali, faktor predisposisi adalah
infeksi genital pada masa nifas yang disebabkan oleh persalinan macet, ketuban pecah
dini, pemeriksaan dalam yang terlalu sering, pemantauan janin intravaginal dan bedah
sesar. Faktor yang ketiga adalah eklampsia, ibu dengan persalinan yang diikuti oleh
eklampsia atau preeklampsia berat, harus di rawat inap. Pengobatan menggunakan
magnesium sulfat ( MgSO4). Kelainan hipertensi dalam kehamilan dimulai setelah usia
kehamilan 20 minggu usia kehamilan, tetapi lebih sering pada akhir kehamilan.

Di negara maju, eklampsia diperkirakan terjadi pada 1 diantara 100-1.700


persalinan. Di eropa dan negara maju di perkirakan terjadi pada 1 diantara 2.000
persalinan. ( Sarwono, 2010 , h: 356-359)
1.2 Tujuan
1.2.1 Tujuan Umum
Mampu memberikan asuhan kebidanan dengan mengunakan manajemen kebidanan yang
tepat pada ibu nifas fisiologis
1.2.2 Tujuan Khusus
a. Mahasiswa mampu melakukan pengkajian pada ibu nifas fisiologis.
b. Mahasiswa mampu melaksanakan analidsa data dari apa yang didapat untuk
menetukan diagnosa.
c. Mahasiswa mampu menyusun askeb sesuai asuhan yang diberikan pada klien.
d. Mahasiswa mampu mengevaluasi hasil askeb yang telah dilakukan.
1.3 Manfaat
Mahasiswa mampu melaksanakan asuhan kebidanan pada ibu nifas fisiologis.

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Pengertian
Masa nifas atau puerperium dimulai sejak 1 jam setelah lahirnya plasenta sampi
dengan 6 minggu (42 hari) setelah itu. (Sarwono, 2010 , h; 356)
Masa nifas (puerperium) didefinisikan sebagai periode 6 minggu segera setelah
lahirnya bayi dan mencerminkan periode saat fisiologi ibu, terutama sisitem reproduksi,
kembali mendekati keadaan sebelum hamil. (Coad, Jane , 2006 , h;304)
2.2 Etiologi
Pengeluaran hasil konsepsi yang mengakibatkan seluruh sistem tubuh seorang ibu
bereaksi secara fisiologis untuk kembali separti keadaan sebelum hamil. (Coad, Jane ,
2006 , h;304)
2.3 Tahap tahap nifas

Puerperium dini (immediate puerperium) :


0-24 jam postpartum. Masa kepulihan, yaitu masa ketika ibu telah diperbolehkan berdiri

dan jalan-jalan.
Puerperium Intermedial (early puerperium) :
1-7 hari postpartum. Masa kepulihan menyeluruh organ genitalia. Waktu yang dibutuhkan

sekitar 6-8 minggu.


Remote Puerperium (later puerperium) :
1-6 minggu postpartum. Waktu yang diperlukan untuk pulih dan sehat sempurna,
terutama bila selama hamil atau pada saat persalinan mengalami komplikasi.
(Lockhart, Anita , 2014 , h;14)

2.4 Perubahan - perubahan fisiologis pada nifas


2.4.1 Sistem kardiovaskuler

Penurunan volume darah (sesudah melahirkan)


Pengaktifan faktor pembekuan darah secara ekstensif

Pemulihan volume darah pada tingkat antenatal dalam waktu 3 minggu


Pemulihan tanda vital pada parameter ibu hamil.
(Lockhart, Anita , 2014 , h; 15)

2.4.1 Sistem reproduksi


Walaupun istilah involusi saat ini telah digunakan untuk menunjukkan kemunduran yang
terjadi pada setiap organ dan saluran reproduktif, kadang lebih mengarah ke ukurannya. ( Varney
midwivery)
a. Involusi uterus
Involusi uterus atau pengerutan uterus merupakan suatu proses dimana uteruskembali ke
kondisi sebelum hamil dengan bobot 60 gram. Proses involusi uterus adalah sebagai berikut:
1. Iskemia miometrium
Di sebaban oleh kontraksi dan retraksi yang terus menerus dari uterus setelah
pengeluaran plasenta membuat uterus relative anemi dan menyebabkan serat otot
atrofi.
2. Autolysis
Merupakan proses pengahancuran diri sendiri yang terjadi di dalam otot uterine.
Enzim proteolitik akan memendekkan jaringan otot 10 kali panjang nya dari semula
dan lima kali lebar dari semula selama kehamilan karena penurunan hormon estrogen
dan progesteron.
3. Efek oksitosin
Oksitosin menyebabkan terjadinya kontraksi dan retraksi otot uterine sehingga akan
menekan pembuluh darah sehingga proses ini membantu untuk mengurangi situs atau
tempat implantasi plasenta serta mengurangi perdarahan.
(Sukarni, Icesmi , 2013 , h; 316-318)
Perubahan normal uterus selama post partum
waktu
Pada akhir persalinan
Setelah plasenta lahir
Akhir minggu ke 1
Akhir minggu ke 2
Akhir minggu ke 6
(Lockhart, Anita , 2014 , h;29)
b. Involusi tempat plasenta

TFU
Setinggi pusat
1-2 jari di bawah pusat
pusat simpisis
Tidak teraba
normal

Dengan cepat luka ini mengecil, pada minggu ke 2 hanya sebesar 3-4 cm dan pada akhir
nifas 1-2 cm. Regenerasi endometrium terjadi di tempat implantasi plasenta selama
sekitar 6 minggu. (Sukarni, Icesmi , 2013 , h; 319)
c. Perubahan pada serviks
Serviks mengalami involusi bersama sama dengan uterus, bentuk servik yang akan
menganga seperti corong. Bentuk ini di sebabkan oleh korpus uteri yang kontraksi
sedangakan serviks tidak berkontraksi sehingga seolah olah ada perbatasan antara
korpus dan servik uteri terbentuk semacam cincin ( Sukarni, Icesmi , 2013 , h; 320).
d. Perubahan ligamentum
Ligamen ligamen dan diafragma pelvis serta fasia yang meregang sewaktu kehamilan
dan partus, setelah janin lahir berangsur angsur menciut seperti sediakala. Tidak jarang
ligamentum rotundum menjadi kendor mengakibatkan letak uterus retroflexi. ( Sukarni ,
Icesmi , 2013 , h;320)

e. Lochia
Cairan yang keluar dari vagina sesudah melahirkan akibat dari pelepasan desidua uteri.
(Lockhart, Anita , 2014 , h;30)

lokhia

Rubra

sanginolenta

waktu

1-3 hari

4-7 hari

warna

Merah
kehitaman

Ciri ciri
Terdiri dari darah segar,
jaringan

sisa

sisa

plasenta, dinding rahim,


lemak bayi, lanugo, dan

Merah

sisa mekonium.
Sisa darah bercampur

kecoklatan

lendir

dan
bercampur

Serosa

7-14 hari

lendir
Kuning

Lebih sedikit darah dan

lebih banyak serum, juga


kecoklatan

terdiri dari leukosit dan


robekan/laserasi plasenta.
Mengandung leukosit, sel

>4 hari berlangsung 2- 6

Alba

postpartum

Lokhia
purulenta
lokhiastasis

desidua dan sel epitel,


putih

selaput lendir serviks dan


serabut

jaringan

yang

mati.
Terjadi

infeksi,

keluar

cairan

seperti

nanah

berbau busuk
Lochia
tidak

lancar

keluarnya

(Lockhart, Anita, 2014 , h; 35)


f. Perubahan pada vulva, vagina dan perineum
Setelah 3 minggu vulva dan vagina kembali kepada keadaan tidak hamil dan
rugae dalam vagina secara berangsur angsur akan muncul kembali sementara labia
menjadi lebih menonjol. Pada post natal hari ke 5, perineum sudah mendapatkan kembali
sebagian besar tonusnya sekalipun tetap kendur dari pada keadaan sebelum melahirkan.
( Sukarni, Icesmi , 2013 , h; 373)
g. Kerusakan dan Perbaikan jaringan lunak
Selama persalinan tidak jarang terjadi kerusakan pada jaringan lunak. Trauma pada
saluran genitalia wanita dijelaskan sebagai berikut:
Superfisial : biasanya berupa lecet pada kulit tempat epidermis terpisah akibat

tekanan peregangan. ( Coad, Jane , 2006 , h;307)


Derajat 1 : mengenai mukosa vagina dan jaringan ikat . (Maternal dan neonatal ,
2010 , h; p-47).
Derajat 2 : robekan mengenai otot perineum. ( Coad, Jane , 2006 , h; 307)
Derajat 3 : mengenai sfingter ani
- 3a <50% robekan sfingter ani eksternal
- 3b>50% robekan sfingter ani eksternal
- 3c cedera pada sfingter ani eksternal dan internal

(Johnson, Ruth , 2012 , h; 303)

Derajat 4 : mengenai mukosa rektum . (maternal dan neonatal , 2010 , h; p-47)

Perbaikan perineum dilakukan dengan penjahitan yang bertujuan mencapai hal berikut :
Hemosstatis : memastikan bahwa setiap perdarahan aktif diikat untuk mengurangi

pengelaran darah dan penyulit hematom pascanatal. (Coad, Jane , 2006 , h; 307)
Aligment : menyatukan jaringan sehingga proses penyembuhan optimal dan luka

mendekati keadaan sebelum robekan. (Coad, Jane , 2006 , h; 307)


Fisiologi penyembuhan luka
Hemostasis : fase vaskular ini terjadi segera setelah terjadi kerusakan jaringan.

Vasokontriksi terjadi untuk meminimalkan perdarahan dan membantu koagulasi.


Inflamasi : pembuluh darah di sekitar luka berdilatasi, menyebabkan terjadi reaksi
color, rubor, dolor, tumor dan fungsiolaesa. Makrofag membersihkan luka debris

sebagai persiapan untuk tumbuhnya jaringan baru. Fase ini berlangsung 1-3 hari.
(Johnson, Ruth, 2012 , h; 457)
Poliferasi : selama granulasi, kapiler dari pembuluh darah sekitar tumbuh ke
bantalan luka, fibroblas memproduksi kolagen untuk pembentukan jaringan ikat
yang baru, setelah itu sekitar tepi luka akan berkontraksi menarik tepi luka secara
bersamaan. Selama proses epitelisasi sel epitel yang baru tumbuh diatas
permukaan luka, tampilan luka ini berwarna pink keputihan. Dalam fase ini

berlangsung selama 2-4 minggu. (Johnson, Ruth , 2012 , h;457)


Maturasi : setelah epitelisasi selesai , jaringan yang baru menjalani waktu
pematangan (maturasi) saat jaringan dibentuk kembali, jaringan parut ini menjadi
lebih pucat, halus dan datar. Fase ini dapat memerlukan waktu selama 2 tahun.
(Coad, Jane , 2012 , h;457)

2.4.2 Laktasi
Inisiasi laktasi berkaitan dengan penurunan hormon estrogen, progesteron dan
mungkin hPL dari sirkulsi ibu saat persalinan. Dua hormon penting yang berperan dalam
laktasi adalah prolaktin yang merangsang produksi air susu, dan oksitosin yang berperan
dalam penyemprotan susu. ( Coad, Jane , 2006 , h;343)
2.4.3 Perubahan pada sistem pencernaan

Gerakan usus yang melambat karena penurunan tonus otot intestinal dan

ketidaknyamanan
Rasa haus yang bertambah karena kehilangan cairan selama persalinan dan

melahirkan
Rasa lapar yang bertambah sesudah bersalin dan melahirkan
Penurunan berat badan akibat diuresis yang cepat dan aliran lokhia.
(Lokhart, Anita , 2014 , h; 16)

2.4.4 Perubahan pada sistem perkemihan

Keluaran urine yang meningkat selama 24 jam pertama post partum akibat

diuresis masa nifas


Kapasitas kandung kemih yang meningkat
Perasaan penuh kandung kemih yang berkurang akibat pembengkakan dan memar

jaringan
Pemulihan ureter dan pelvis renis yang berdilatasi kembali kepada ukuran
antenatal dalam waktu 6 minggu
(Lockhart, Anita , 2014 , h;17)

2.4.5 perubahan pada sistem endokrin


Pada akhir kehamilan kadar estrogen dan progesteron turun ke tingkat sebelum
hamil dalam 72 jam setelah persalinan. Hormon protein plasenta memiliki waktu yang
lebih lama sehingga kadar plasma turun lebih lambat. Selama kehamilan kadar GnRh
tertekan selama kehamilan, FSH pulih dalam waktu 3 minggu setelah persalinan. Kadar
oksitosin dan prolaktin bergantung pada kinerja laktasi. ( Coad, Jane , 2006 , h;309)
2.4.6 perubahan pada sistem integumen

Perubahan yang terjadi meliputi berkurangnya stria gravidarum (stretch marks),


kloasma (pigmen wajah dan leher), dan linea nigra (pigmen pada abdomen).
(Lockhart, Anita , 2014 , h;19)

2.4.7 sistem respirasi

Penurunan hormon progesteron setelah plasenta lahir memulihkan sensitivitas


tubuh terhadap karbondioksida sehingga tekanan parsial kembali kekeadaan sebelum
hamil. Diafragma dapat meningkatkan jarak gerakannya sehingga ventilasi lobus lobus
basal paru dapat penuh. Sistem pernapasan kembali ke normal dalam 1 sampai 3 minggu.
( Coad, Jane , 2006 , h; 310)

2.4.8 Pemulihan fertilitas


Wanita yang tidak menyusui mulai mendapat haid, secara rata rata, sekitar 55
sampai 60 hari setelah melahirkan dan ovulasi sekitar 40 sampai 50 hari setelah
melahirkan. Sementara menyusui menunda ovulasi sampai 30-40 minggusetelah
persalinan, dan haid sampai 8 15 bulan. Amenore laktasi tampaknya memberi
kontrasepsi yang cukup baik selama sekitar 6 bulan. ( Coad, Jane , 2006 , h;312 )
2.4.9 Perubahan psikologi ibu nifas
Reva rubin, seorang peneliti yang meneliti adaptasi ibu terhadap kelahiran anaknya dalam
tahun 1960-an mengidentifikasi tiga fase yang dapat membantu mengenali perilaku maternal
postpartum.

Fase taking-in ( perilaku maternal 1 hingga 2 hari postpartum)


- Fase ini berlangsung secara pasif dan dependen
- Mengarahkan energi kepada diri sendiri dan bukan kepada bayi yang baru
dilahirkan
- Dapat mengalami kesulitan dalam proses pengambilan keputusan
Fase taking-hold ( perilaku maternal 2 hingga 7 hari postpartum)
- Memiliki lebih banyak energi
- Memiliki inisiatif untuk memulai aktivitas perawatan diri
- Mengambil tanggung jawab yang bertambah pada bayinya
- Mengambil tugas merawat bayi dan edukasi perawatan diri sendiri
Fase letting-go ( perilaku maternal sekitar 7 hari postpartum)
- Menyesuaikan kembali hubungan dengan anggota keluarga seperti menerima
-

peranan sebagai ibu


Menerima tanggung jawab atas bayinya yang tergantung pada dirinya

Mengakui bayinya sebagai individu yang terpisah dengan dirinya dan


melepaskan gambaran bayi yang menjadi khayalannya.
(Lockhart, Anita, 2014 , h;21-22)

2.5 Tanda tanda bahaya nifas

Perdarahan berlebihan
Sekret vagina berbau
Demam
Nyeri perut berat
Kelelahan atau sesak
Bengkak di tangan , wajah , tungkai, sakit kepala atau pandangan kabur
Nyeri punggung , pembengkakan payudara, luka atau perdarahan puting

2.6 Asuhan masa nifas


Kebijakan program pemerintah dalam asuhan masa nifas paling sedikit 4 kali kunjungan
masa nifas untuk menilai status ibu dan bayi baru lahir; untuk mencegah, mendeteksi dan
menangani masalah yang terjadi.
Kunjungan
1

waktu
6-8 jam setelah
persalinan

Tujuan
Mencegah perdarahan akibat atonia uteri
Mendeteksi dan merawat penyebab

perdarahan; rujuk jika perdarahan berlanjut


Memberikan konseling pada ibu atau salah satu

lain

anggota keluarga bagaimana mencegah perdarahan

masa nifas karena atonia uteri


Pemberian ASI awal
Melakukan hubungan antara ibu dan bayi baru lahir
Menjaga bayi tetap sehat dengan cara mencegah

hipotermi
Jika petugas kesehatan menolong persalinan, ia
harus tinggal dengan ibu dan bayi baru lahir
minimal 2 jam pertama kelahiran, atau sampai ibu

dan bayi dalam keadaan stabil


Memastikan involusi uterus berjalan normal :
uterus berkontraksi, fundus dibawah umbilikus,

6 hari setelah
persalinan

tidak ada perdarahan abnormal, tidak ada bau


Menilai adanya tanda tanda demam, infeksi, atau

perdarahan abnormal
Memastikan ibu mendapatkan cukup makanan,

cairan, dan istirahat


Memastikan ibu menyusui dengan baik dan tak

memperlihatkan tanda-tanda penyulit


Memberikan konseling pada ibu mengenai asuhan
pada bayi, tali pusat, menjaga bayi tetap hangat dan
merawat bayi sehari hari

3
4

2 minggu setelah

Sama seperti di atas ( 6 hari setelah persalinan)

persalinan
6 minggu setelah
persalinan

Menanyakan pada ibu tentang penyulit penyulit

yang ia atau bayi alami


Memberikan konseling untuk KB secara dini

2.7 Konsep dasar asuhan kebidanan pada nifas fisiologis

2.7.1 Pengumpulan Data Dasar


Mengumpulkan data adalah menghimpun informasi tentang klien/orang yang
meminta asuhan. Teknik pengumpulan data ada tiga, yaitu: 1) obserfasi, 2) wawancara, 3)
pemeriksaan. Obserfasi adalah pengumpulan data melalui indera : penglihatan, pendengaran,
penciuman dan perabaan. Wawancara adalah pembicaraan terarah yang umumnya di lakukan
pada pertemuan tatap muka, sedangkan Pemeriksaan di lakukan dengan menggunakan
instrument atau alat-alat. Secara besar pengumpulan data diklasifikasikan kedalam data
subjektif dan data objektif, data subjektif itu di peroleh dari wawancara dan keluhan pasien,
sedangkan data objektif mengamati ekspresi dan perilaku pasien, keluhan fisik dan melakukan
pemeriksaan yang berkaitan dengan masalah pasien. (Mufdlillah dkk, 2012 , h;112 )
2.7.1.1 Data Subyektif
1

Biodata
a

Nama klien dan suami: untuk mengetahui identitas klien

Umur klien dan suami: untuk mengetahui resiko tinggi/ rendahnya risiko kehamilan pada
ibu serta mengkaji fertilitas pasangan.
c

Suku/ Bangsa: untuk mengetahui kemungkinan perbedaan rhesus antara


pasangan.

Agama: mengetahui keyakinan klien.

Pendidikan: dasar dalam memberikan KIE.

Pekerjaan: untuk mengetahui pengaruh aktifitas terhadap kesehatan klien serta untuk
mengetahui taraf hidup dan sosial ekonominya agar nasehat bidan sesuai.

Penghasilan: untuk mengetahui persiapan biaya ibu menghadapi persalinan serta menjadi
dasar KIE.

Alamat: ditanyakan untuk maksud mempermudah hubungan jika diperlukan saat keadaan
mendesak.
i
2

No telp. : untuk memudahkan komunikasi.


Keluhan Utama: keluhan yang membuat ibu datang ke pelayanan kesehatan.

Riwayat Obstetri yang Lalu: menjelaskan riwayat kehamilan, persalinan, nifas, anak, dan
KB

Riwayat Persalinan Sekarang

Bersalin tanggal: mengkaji tanggal persalinan


Cara persalinan: mengkaji apakah ibu bersalin dengan cara spontan, VE, Sectio Caesarea
dll
Perdarahan: mengkaji perdarahan saat ibu bersalin, apakah termasuk kategori HPP
Penyulit Komplikasi: mengkaji adakah komplikasi yang dihadapi ibu selama menjalani
proses persalinan
5

Riwayat Kesehatan/ Penyakit Klien: mengkaji apakah ibu pernah menderita penyakit
jantung, hipertensi, asma, diabetes mellitus, ginjal, hepatitis dan TBC serta apakah
mempunyai riwayat hamil kembar (gemelli)
6 Pola Kehidupan Sehari-Hari
-

Pola nutrisi: mengkaji pola nutrisi ibu, normalnya ibu makan 2-3 kali perhari
dengan menu gizi seimbang, tidak ada pantangan makanan saat hamil (di rumah)
maupun setelah melahirkan.

Pola eliminasi: mengkaji pola eliminasi ibu, normalnya pola eliminasi ibu
meningkat pada TM III dan ibu normalnya harus bisa 2 hari untuk BAB dan BAK
minimal 6-8 jam setelah melahirkan.

Pola istirahat: mengkaji pola istirahat ibu ketika hamil dan nifas.

Personal hygiene: mengkaji ibu dalam melakukan personal hygiene .

Pola aktifitas/ mobilisasi: mengkaji pola aktifitas ibu ketika hamil dan nifas.

Riwayat Sosial Budaya:


a

Perkawinan

: mengkaji ibu kawin berapa kali, pada usia berapa, dan

sudah berapa lama.


b

Kehamilan ini : mengkaji apakah kehamilan ini direncanakan atau tidak.

Tradisi yang mempengaruhi kehamilan: mengkaji apakah tradisi tersebut


menguntungkan atau merugikan bagi ibu hamil.

2.7.1.2 Data Obyektif


1. Pemeriksaan Umum
KU

: baik, cukup, kurang.

Kesadaran

: compos mentis, apatis, somnolent, sopor, koma.

Tanda-tanda vital
-

Tekanan darah: normalnya sistole 100 - <140, diastole 70 - <90.

Suhu Tubuh

Denyut Nadi : normalnya 60-100 x/menit

Pernafasan

: normalnya 36,50C - 37,50C


: normalnya 12-20 x/menit

2. Pemeriksaan fisik
a) Wajah

: normalnya tidak oedema

b) Mata

: normalnya conjunctiva merah muda, sclera putih

c) Payudara

a. Pembesaran

: normalnya ada pembesaran

b. Konsistensi

: normalnya keras

c. Puting susu

: normalnya menonjol

d. Kebersihan

: normalnya bersih

e. Pengeluaran

: normalnya ada colostrum

d) Abdomen/ Uterus
a. Tinggi fundus uteri

: normalnya 3 jari bawah pusat

b. Konsistensi uterus

: keras

c. Kontraksi uterus

: normalnya baik

e) Kandung Kemih

: normalnya kosong

f) Pengeluaran pervaginam/ pengeluaran lochea


Warna

: normalnya 3 hari pertama berwarna merah, 3-4 minggu kemudian

berwarna merah muda/ coklat, kemudian berwarna putih


g) Perineum

: mengkaji apakah perineum utuh atau ada laserasi, jika ada jahitan dikaji

keadaan jahitan dan kebersihannya.


h) Anus

: mengkaji adakah haemorroid

i) Ekstrimitas atas/ bawah


a. Oedema: mengkaji adakah oedema di ekstremitas atas/ bawah
b. Varices: mengkaji adakah varices di ekstrimitas bawah
c. Refleks: mengkaji adakah refleks pada ekstrimitas atas/ bawah
3. Pemeriksaan Penunjang
Pemeriksaan Laboratorium
Haemoglobin : normalnya 12-13 gr %
2.7.2 Interpretasi Data Dasar
Pada langkah ini dilakukan interpretasi data yang benar terhadap diagnosa atau
masalah dan kebutuhan klien berdasarkan interpretasi yang benar atas data-data yang
telah dikumpulkan. Pengertian masalah atau diagnose adalah suatu pernyataan dari
masalah atau potensial dan membutuhkan tindakan.
(Mufdillah, 2012 ,h;112)
2.7.3 Mengidentifikasikan diagnosa atau masalah Potensial
Langkah ini mengidentifikasikan masalah atau diagnosa potensial lain berdasarkan
rangkaian masalah dan diagnosa yang sudah diidentifikasi. Langkah ini membutuhkan
antisipasi, bila memungkinkan dilakukan pencegahan, perencanaan untuk mengatasinya
dan bersiap-siap terhadap kemungkinan-kemungkinan yang tiba-tiba terjadi.
(Mufdillah, 2012 ,h;112)
2.7.4 Menetapkan Kebutuhan Tindakan Segera
- Mandiri : bidan dihadapkan pada beberapa situasi yang memerlukan penanganan
segera (emergensi) dimana bidan harus segera melakukan tindakan untuk
menyelamatkan pasien.
- Kolaborasi : Kolaborasi dengan dokter spesialis obstetri dan ginekologi untuk
melakukan pemeriksaan USG dan kardiotokografi.

- Merujuk : Melakukan rujukan bila terjadi komplikasi

2.7.5

(Mufdillah, 2012 ,h;117)


Menyusun Rencana Asuhan
Perencanan asuhan yang akan dilakukan harus berdasarkan pertimbangan yang tepat,
meliputi pengetahuan, teori yang up to date, perawatan berdasarkan bukti (evidence
based care) serta divalidasikan dengan asumsi mengenai apa yang diinginkan dan tidak
diinginkan oleh pasien.
(Mufdillah, 2012 ,h;117)

2.7.6

Pelaksanaan Asuhan yang sudah direncanakan


Langkah ini pengaplikasian asuhan menyeluruh secara efisien dan aman dari apa yang
telah direncanakan . Pada langkah ini, rencana asuhan yang telah di rencanakan dilakukan
dengan efisien dan aman. Pelaksanaan ini bisa dilakukan seluruhnya oleh bidan. Dalam
situasi ketika bidan berkolaborasi dengan dokter, disini bidan dan dokter mempunyai
tanggung jawab yang sama terhadap terlaksananya asuhan yang diberikan. (Mufdillah,
2012 ,h;118-119

2.7.7 Evaluasi
Evaluasi keefektifan dari asuhan yang sudah di berikan meliuti pemenuhan kebutuhan
akan bantuan apakah benar-benar telah terpenuhi sesuai dengan kebutuhan sebagaimana
yang telah diidentifikasi di dalam masalah dan diagnose. (Mufdillah, 2012 ,h;118-119)

BAB III
TINJAUAN KASUS
ASUHAN KEBIDANAN NY. N G1P0001 6-8 JAM POSTPARTUM
DENGAN NIFAS FISIOLOGIS

Tanggal pengkajian : 09 - 07 - 2014


Tempat
: BPM Hj, Sufiati Rifai
No register
: xxx/xx
Oleh
: Irma Nurma Linda
Pukul
: 07.00 WIB
3.1 Data Subyektif
A. Biodata
Nama Ibu
: Ny. N
Umur
: 19 th
Agama
: Islam
Suku/ Bangsa : Jawa/ Indonesia
Pendidikan
: SMU
Pekerjaan
: Alamat
: Tanah Merah Utara VIII
B. Keluhan Utama : nyeri jahitan.

Nama Suami : Tn. W


Umur
: 21 th
Agama
: Islam
Suku/ Bangsa : Jawa/ Indonesia
Pendidikan
: SMU
Pekerjaan
: Wiraswasta
Alamat Rumah: Tanah Merah Utara VIII

C. Riwayat Obstetri yang Lalu:


D.
N Sua
mi

Kehamilan
UK

Persalinan

Anak

Pen Jen

Tm

Sek BB

ol.

pt

is

Nifas
Hi
dup

Pn

AS

ylt

KB

Ket

An

yl

yl

Ma

ak

ti

ke
N

E. Riwayat Menstruasi
a. HPHT
: 13 Oktober - 2013
b. HPL
: 20 Juli - 2014
c. Siklus dan lamanya : 28 hari, lamanya 7 hari , teratur
d. Warna
: merah segar
e. Disminorhea
:F. Riwayat Persalinan Sekarang
Bersalin Tanggal
: 08 07 2014
Bayi
Pukul
: 22.20 WIB
Lahir Tanggal: 08 Juli - 2014
Cara Persalinan
: spontan
Jam
: 22.20 WIB
Perdarahan
: 200 cc
Jenis Kelamin : Laki - Laki
Penyulit/ Komplikasi : APGAR
: 7-8
Penolong
: Bidan
Berat Badan : 3.000 gr
Panjang Badan: 48 cm
Kelainan
: Tidak ada
G. Riwayat Kesehatan
Riwayat kesehatan klien
: jantung, hipertensi, asma, DM, ginjal, hepatitis, TBC
Riwayat Penyakit Keluarga : hepatitis, TBC, jantung, hipertensi, DM, gemelli
H. Riwayat KB : ibu belum pernah ikut program KB.
I. Pola Kehidupan Sehari-Hari
- Pola nutrisi :
Hamil : ibu makan 3x sehari dengan menu gizi seimbang, minum sekitar 8-10 gelas

perhari.
Nifas : ibu makan sedikit sedikit namun teratur dan sering, minum 10 gelas perhari
Pola eliminasi :
Hamil : kadang ibu BAB 1 x sehari tapi kadang 2-3 hari 1 kali, BAK lancar.
Nifas : belum BAB, BAK sudah sejak jam 06.00 WIB.
Pola istirahat :
Hamil : ibu bisa tidur siang 1 jam dan tidur malam 8 jam
Nifas : ibu sudah bisa tidur sekitar 1 jam.
Personal hygiene :
Hamil : ibu rutin mandi 2x sehari dan membersihan daerah genetalianya.
Nifas : ibu sudah mandi dan terlihat segar. Sudah ganti pembalut 1 x.
Pola aktivitas :
Hamil : ibu sehari hari melakukan kegiatan ibu rumah tangga.
Nifas : untuk melakukan aktifitas masih di bantu keluarganya.

J. Data sosial dan budaya


- Lama pernikahan : 1 tahun.
- Pernikahan ke
:1
- Kehamilan ini
: direncanakan, ibu dan keluarga sangat menginginkan kelahiran
bayi ini.
- Budaya / Tradisi
- Minum jamu
3.2 Data Obyektif

: tidak ada budaya khusus.


: tidak minum

3.2.1 Pemeriksaan Fisik:


a) Tanda-tanda vital
a. Tekanan darah: 110/70 mmHg
b. Suhu Tubuh

: 36,90C

c. Denyut Nadi : 84x/menit


d. Pernafasan

: 24 x/menit

b) Wajah

: oedema/ tidak odema

c) Mata

: conjunctiva merah muda, sclera putih

d) Payudara

a. Kebersihan

: bersih

b. Konsistensi

: keras/ lembek

c. Puting susu

: menonjol/ datar/ masuk ke dalam

d. Pengeluaran

: colostrum sudah keluar

e) Abdomen/ Uterus
a. Tinggi fundus uteri

: 2 jari bawah pusat

b. Konsistensi uterus

: keras

c. Kontraksi uterus

: baik

f) Kandung Kemih

: kosong

g) Pengeluaran pervaginam/ pengeluaran lochea


a. Warna

: merah

b. Jumlah

: sudah ganti 1 softex

c. Bau

: khas lochea rubra, mirip menstruasi

d. Konsistensi

: cair sedikit mengumpal

h) Perineum

: robekan derajat II/Medial, keadaan jahitan baik dan bersih.

i) Anus

: tidak ada haemorroid

j) Ekstrimitas atas/ bawah


a. Oedema: tidak ada
b. Varices: tidak ada
3.2.2 Data Penunjang : Tidak dilakukan.
3.3 Analisis :
Perumusan diagnosa dan masalah
Diagnosa: P1001 post partum 8 jam
Masalah: nyeri luka jahitan perineum
Kebutuhan : KIE personal hygine yang teratur, nutrisi yang kaya protein untuk
mempercepat penyembuhan luka
Antisipasi diagnosa dan masalah potensial
Diagnosa potensial: hematoma
Antisipasi
: penjahitan ulang.
- Identifikasi kebutuhan tindakan segera : penjahitan ulang.
3.4 Penatalaksanaan ( plane of action)
- Beri tahukan hasil pemeriksaan kepada klien, ibu mengerti akan kondisinya.
- Menjelaskan bahwa nyeri jahitan itu normal dan menganjurkan ibu untuk rajin
membersihkan setiap selesai BAK atau BAB didaerah vulva serta bekas jahitan
dengan air bersih yang mengalir kemudian mengeringkannya, ibu mengerti dan
-

akan melakukannya di rumah.


Memberitahu ibu bahwa 1-3 hari itu wajar jika ASI yang keluar masih sedikit
karena itu masih pengeluaran colostrum, setelah 3 hari ASI akan keluar banyak

dengan sendirinya, ibu memahami


Menganjurkan ibu untuk rajin menyusui bayinya 2-3 jam sekali walaupun ASInya

belum keluar atau masih sedikit, ibu mengerti dan akan melakukannya.
Memberitahu ibu bahwa ASI colostrum itu baik buat bayinya karena mengandung
protein, vitamin A dan K serta zat antibodi buat bayi, ibu mengerti dan akan

menyusui bayinya
Mengajari ibu cara menyusui yang benar yaitu kaki tidak boleh menggantung
harus berpijak pada bumi agar kaki ibu tidak bengkak, kemudian cari posisi yang
nyaman misalnya letakkan bantal di bawah bayi untuk menopang tubuh bayi,
wajah bayi menghadap payudara ibu , sebelum menyusui keluarkan asinya sedikit
lalu oleskan ke daerah aerola itu berguna untuk asepsis bagi ibu jika terjadi lecet,
membuat lembab payudara serta merangsang bayi agar mau menyusu, setelah itu

masukkan seluruh aerola mama dan putting untuk menghindari lecet ketika bayi
-

menyusu, ibu mengerti dan mempraktikkannya.


Menganjurkan ibu untuk mengkonsumsi makan makanan yang bergizi seimbang
dan kaya protein misalnya telur, daging, tahu, tempe karena penting untuk proses

penyembuhan luka jahitan dan laktasi, ibu mengerti dan akan melakukakannya.
Memberitahu ibu untuk masase uterus untuk menghindari perdarahan, ibu

memahami dan mempraktikkannya.


Memberitahu ibu cara perawatan tali pusat pada bayi yaitu dibungkus dengan
kasa kering tanpa di tambahi apa apa supaya tali pusat cepat kering, ibu

mengerti dan mempraktikannya


Menganjurkan ibu untuk beristirahat cukup, untuk pemulihan tenaga nya pasca

melahirkan, ibu memahami dan akan beristirahat


Menjelaskan tentang ASI ekskulsif selama 6 bulan dan manfaatnya, ibu bersedia

memberikan ASI ekskulsif.


Menjelaskan tanda bahaya nifas perdarahan berlebihan, sekret vagina berbau,
demam, nyeri perut berat, kelelahan atau sesak, bengkak di tangan , wajah ,
tungkai, sakit kepala atau pandangan kabur, nyeri punggung , pembengkakan
payudara, luka atau perdarahan puting, ibu dapat menyebutkan kembali dengan

kata-kata sendiri.
Menganjurkan ibu untuk 1 minggu lagi periksa ulang atau jika ibu ada keluhan
segera periksa, ibu akan kembali 1 minggu lagi atau jika ada keluhan.

BAB IV
PEMBAHASAN
Masa nifas merupakan peristiwa alami dan fisiologis pada wanita normal. Perubahanperubahan yang terjadi pada masa kehamilan segera berakhir dan berangsur-angsur kembali
ke keadaan semula. Dengan demikian tubuh ibu kembali beradaptasi baik secara fisik
maupun psikologis.
Nifas merupakan kejadian yang sangat rentan infeksi. Tinggi AKI tergantung pada
proses pemantauan pada masa nifasnya. Kehamilan, persalinan dan nifas merupakan
gabungan hal yang tidak bisa di pisahkan. Oleh sebab itu perlu diperhatikan perubahanperubahan fisiologis, anatomis, dan psikologis yang terjadi sehingga dapat segera diketahui
jika terjadi kasus patologis yang muncul pada saat ini.
Dari seluruh data yang dikumpulkan, Ny. N memiliki masalah nyeri jahitan yang mana
setelah diperiksa tidak ada tanda-tanda infeksi atau pun hematom. Sehingga diperlukan
pemberian KIE terhadap ibu dan keluarga bahwa hal itu tidak perlu ditakutkan karena adanya
robekan jaringan yang lama kelamaan akan sembuh kembali jika personal hygine dan
nutrisinya baik. Dari data objektif yang di peroleh tidak ada keadaan patologis pada Ny. N,
itu bisa di lihat dari TFU nya yang 2 jari di bawah pusat dengan konsistensi uterus yang
keras, ibu juga sudah bisa BAK dan kandung kemih ibu kosong.
Pada reaksi psikologis ibu masuk pada fase taking-in dimana Ny. N masih mengambil
peran pasif dan bergantung pada ibu kandung nya untuk perawatannya, mengungkapkan
lewat kata-kata tentang proses persalinan dan melahirkan dan perasaan takjub ketika melihat
bayinya.

BAB V
PENUTUP
5.1 Kesimpulan
Nifas merupakan peristiwa fisiologis yang dialami hampir seluruh wanita normal setelah
melahirkan. Setelah kelahiran bayi dan keluarnya plasenta, ibu memasuki masa pemulihan fisik
dan psikologis, setelah terjadi perubahan-perubahan selama kehamilan. Berbagai komplikasi
mungkin terjadi, oleh karena itu tenaga kesehatan harus memantau keadaan ibu dan memastikan
bahwa seluruh hasil pemeriksaannya dalam ambang normal. karena resiko kesakitan dan
kematian ibu serta bayi lebih sering terjadi pada masa pascapersalinan. Tenaga kesehatan juga
perlu memberikan health education kepada ibu untuk membantu serta membuatnya nyaman
menjalani masa nifas dan mampu merawat bayinya dengan baik.
5.2 Saran
5.2.1 Bagi tenaga kesehatan
Semua masa nifas berpotensi terjadi komplikasi, maka diharapkan bidan dapat memberikan
HE yang tepat dan memberikan intervensi yang tepat kepada klien.
5.2.2 Bagi ibu nifas
Kunjungan untuk ibu nifas minimal 4 kali selama masa nifas

DAFTAR PUSTAKA
Coad, Jane dan Melvyn Dunstall. 2006. Anantomi dan Fisiologi untuk Bidan. Jakarta: EGC
Saifuddin, Abdul Bari. 2010. Buku Panduan Pelayanan Kesehatan Maternal dan Neonatal.
Jakarta: BINA PUSTAKA SARWONO PRAIROHARDJO
Uliyah, Musrifatul dan A. Azis Alimul Hidayat. 2008. Keterampilan Dasar Praktik Klinik untuk
Kebidanan. Jakarta: Salemba Medika
Sukarni, Ischemi dkk, 2013 , Kehamilan, Persalinan dan Nifas , Yogyakarta: Nuha Medika
Tharpe dan Farley , 2012 , Kapita Selekta Praktik Klinik Kebidanan , Jakarta: EGC
Varney, Helen., Jan M. Kriebs., & Carolyn L. Gegor. 2006. Buku-Ajar Asuhan Kebidanan.
Jakarta: EGC
Sarwono, 2010 , Ilmu Kebidanan , Jakarta: PT Bina Pustaka Sarwono Prawirohardjo
Johnson, Ruth, dkk , 2012 , Ketrampilan Praktik Klinik , Jakarta : ECG