Anda di halaman 1dari 15

MUNCULNYA KEPEMIMPINAN PENDIDIKAN

A. Konsep Dasar Kepemimpinan Pendidikan


1. Pengertian Kepemimpinan Pendidikan
Kepemimpinan pendidikan merupakan kemampuan untuk menggerakkan
pelaksanaan pendidikan, sehingga tujuan pendidikan yang telah ditetapkan dapat
tercapai secara efektif dan efisien.
2. Fungsi Pemimpin Pendidikan
Fungsi utama pemimpin pendidikan adalah kelompok untuk belajar
memutuskan dan bekerja, antara lain :
a. Pemimpin

membantu terciptanya suasana persaudaraan, kerjasama, dengan penuh

rasa kebebasan.
b. Pemimpin

membantu kelompok untuk mengorganisir diri yaitu ikut serta dalam

memeberikan rangsangan dan bantuan kepada kelompok dalam menetapkan dan


menjelaskan tujuan.
c.

Pemimpin membantu kelompok dalam menetapkan prosedur kerja, yaitu


membantu kelompok dalam menganalisis situasi untuk kemudian menetapkan
prosedur mana yang paling praktis dan efektif.

d. Pemimpin

bertanggungjawab dalam mengambil keputusan bersama dengan

kelompok. Pemimpin memberi kesempatan kepada kelompok untuk belajar dari


pengalaman. Pemimpin mempunyai tanggungjawab untuk melatih kelompok
menyadari proses dan isi pekerjaan yang dilakukan dan berani menilai hasilnya
secara jujur dan objektif.
e. Pemimpin

bertanggungjawab dalam mengembangkan dan mempertahankan

eksistensi organisasi.
2. Tipe-tipe Kepemimpinan Pendidikan
Berdasarkan konsep, sifat, sikap dan cara-cara pemimpin tersebut
melakukan dan mengembangkan kegiatan kepemimpinan dalam lingkungan

kerja yang dipimpinnya, maka kemimpinan pendidikan dapat diklasifikasikan


kedalam empat tipe, yaitu : tipe otoriter, tipe laissez-faire, tipe demokratis dan tipe
pseudo demokrasi.

Tipe otoriter
Tipe

kepemimpinan

otoriter

disebut

juga

tipe

kepemimpinan

"authoritarian". Dalam kepemimpinan yang otoriter, pemimpin bertindak sebagai


diktator terhadap anggota-anggota kelompoknya. Dominasi yang berlebihan mudah
menghidupkan oposisi atau menimbulkan sifat apatis, atau sifat-sifat pada
anggota-anggota kelompok terhadap pemimpinnya.

Tipe "Laissez-faire"
Dalam

memberikan

tipe

kepemimpinan

kepemimpinannya,

dia

ini

sebenarnya

membiarkan

pemimpin

bawahannya

tidak
berbuat

sekehendaknya. Pemimpin sama sekali tidak memberikan kontrol dan koreksi


terhadap pekerjaan bawahannya. Pembagian tugas dan kerja sama diserahkan
sepenuhnya kepada bawahannya tanpa petunjuk atau saran-saran dari pemirnpin.
Tingkat keberhasilan organisasi atau lembaga semata-mata disebabkan karena
kesadaran dan dedikasi beberapa anggota kelompok, dan bukan karena pengaruh
dari pemimpin. Struktur organisasinya tidak jelas dan kabur, segala kegiatan
dilakukan tanpa rencana dan tanpa pengawasan dari pimpinan.

Tipe Demokratis
Pemimpin yang bertipe demokratis menafsirkan kepemimpinannya bukan

sebagai diktator, melainkan sebagai pemimpin di tengah-tengah anggota


kelompoknya. Pemimpin yang demokratis selalu berusaha mestimulasi
anggota-angotanya agar bekerja secara produktif untuk mencapai tujuan
bersama. Dalam tindakan dan usaha-usahanya ia selalu berpangkal pada
kepentingaan dan kebutuhan kelompoknya, dan memperimbangkan kesanggupan
serta kemampuan kelompoknya.

Tipe Pseudo-demokratis
Tipe ini disebut juga demokratis semu atau manipulasi diplomatik.

Pemimpin yang bertipe pseudo demokratis hanya tampaknya saja bersikap


demokratis padahal sebenarnya dia bersikap otokratis. Misalnya jika ia
mempunyai ide-ide, pikiran, kosep-konsep yang ingin diterapkan di lembaga yang
dipimpinnya, maka hal tersebut dicliskusikan dan dinnusyawarahkan
dengan bawahannya, tetapi situasi diatur dan diciptakan sedemikian rupa
sehingga pada akhirnya bawahan didesak agar menerima ide/pikiran/konsep
tersebut sebagai keputusan bersama.
3. Syarat-syarat Pemimpin Pendidikan
Dalam memangku jabatan pemimpin pendidikan yang dapat melaksanakan
tugas-tugasnya dan memainkan peranannya sebagai pemimpin yang baik dan
sukses, maka dituntut beberapa persyaratan jasmani, rohani dan moralitas yang
baik, bahkan persyaratan sosial ekonomis yang layak. Akan tetapi pada bagian ini
yang akan dikemukakan hanyalah pesyaratan-persyaratan kepribadian dari
seorang pemimpin yang balk. Persyaratan-persyaratan tersebut adalah sebagai
berikut :

Rendah hati dan sederhana

Bersifat suka menolong

Sabar dan memiliki kestabilan emosi

Percaya kepada diri sendiri

Jujur, adil dan. dapat dipercaya

Keahlian dalam jabatan


Adanya

menunjukan

syarat-syarat
bahwa

kepemimpinan

kepemimpinan

seperti

bukan

diuraikan

hanya

di

atas

memerlukan

kesanggupan dan kemampuan saja, tetapi lebih-lebih lagi kemampuan dan


kesediaan pemimpin.

4. Keterampilan yang Harus Dimiliki Pemimpin


Seorang pemimpin harus mempunyai keterampilan. Di bawah ini akan
diuraikan beberapa keterampilan yang perlu dimiliki oleh seorang pemimpin
pendidikan. Keterampilan-keterampilan tersebut adalah :

Keterampilan dalam memimpin


Pemimpin

keterampilan

harus

menguasai

memimpin

supaya

cara-cara
dapat

kepemimpinan,

bertindak

sebagai

memiliki
seorang

pemimpin yang balk. Untuk hal itu antara lain is harus menguasai
bagaimana

caranya:

menyusun

rencana

bersama,

mengajak

anggota

berpartisipasi, memberi bantuan kepada anggota kelompok, memupuk "morale"


kelompok, bersama-sama membuat keputusan, menghindarkan "working on the
group" dan "working for the group" dan mengembangkan "working within the
group", membagi dan menyerahkan tanggungjawab, dan sebagainya. Untuk
memperoleh keterampilan di atas perlu pengalaman, dan karena itu pemimpin
harus benar-benar banyak bergaul, bekerjasama, dan berkomunikasi dengan orang
yang dipimpinnya. Yang penting jangan hanya tahu, tetapi harus dapat
melaksanakan.

Keterampilan dalam hubungan insani


Hubungan insani adalah hubungan antar manusia. Ada dua macam hubungan

yang biasa kita hadapi dalam kehidupan sehari-hari: (1) hubungan fungsional
atau hubungan formal, yaitu hubungan karena tugas resmi atau pekerjaan resmi;
dan (2) hubungan pribadi atau hubungan informal atau hubungan personel, ialah
hubungan yang tidak didasarkan atas tugas resmi atau pekerjaan, tetapi lebih
bersifat kekeluargaan.
Yang menjadi inti dalam hubungan ini, apakah itu hubungan fugsional
atau hubungan personal, adalah sating menghargai. Bawahan menghargai
atasan dan sebaliknya atasanpun harus menghargai bawahan.

Keterampilan dalam proses kelompok


Maksud utama dari proses kelompok ialah bagaimana meningkatkan partisipasi

anggota-anggota kelompok setinggi-tingginya sehingga potensi yang dimiliki


para anggota kelompok itu dapat diefektifkan secara maksimal. Intl dari
proses kelompok adalah hubungan insani dan tanggungjawab bersama.
Pemimpin harus jadi penengah, pendamai, moderator dan bukan menjadi hakim.

Keterampilan dalam administrasi personil


Administrasi personil mencakup segala usaha untuk menggunakan keahlian

dan kesanggupan yang dimiliki oleh petugas-petugas secara efektif dan efisien.
Kegiatan

dalam

penempatan,

administrasi

penugasan,

personil

ialah

orientasi,

seleksi,

pengawasan,

pengangkatan,
bimbingan

dan

pengembangan serta kesejahteraan. Menemukan yang paling penting dari


kegiatan di atas ialah kegiatan seleksi dalam memilih orang yang paling sesuai
dengan tugas dan pekerjaannya yang berpedoman pada "the right man in the
right place".

Keterampilan dalam menilai


Penilaian atau evaluasi ialah suatu usaha untuk mengetahui sampai di mana

suatu kegiatan sudah dapat dilaksanakan atau sampai di mana suatu tujuan sudah
dicapai. Yang dinilai biasanya ialah ; hasil kerja, cara kerja dan orang yang
mengerjakannya.
Adapun teknik dan prosedur evaluasi ialah ; menentukan tujuan penilaian,
menetapkan norma/ukuran yang akan dinilai, mengumpulkan data-data yang
dapat diolah menurut kriteria yang ditentukan, pengolahan data, dan
menyimpulkan hasil penilaian.
Melalui evaluasi, guru dapat dibantu dalam menilai pekerjaannya sendiri,
mengetahui kekurangan dan kelebihannya. Selain guru, personil lainnyapun perlu
dievaluasi seperti petugas (karyawan) tata usaha, petugas BK, dan sebagainya,
untuk mengetahui kemajuan/ kekurangannya.

5. Munculnya Pemimpin Pendidikan


Pemimpin pendidikan adalah orang yang memilki kelebihan untuk
mempengaruhi,

mengajak,

mendorong,

membimbing,

menggerakkan

dan

mengkoordinasikan staf pendidikan lainnya ke arah peningkatan mutu pendidikan.


Munculnya pemimpin pendidikan ini dapat mengadobsi teori-teori munculnya
pendidikan, diantaranya teori genesis, teori sosial, teori ekologis dan teori situasi.
Berikut akan dijelaskan mengenai teori-teori tersebut:
1. Teori genesis.
Teori ini berpendapat bahwa seseorang akan menjadi pemimpin karena ia
memang dilahirkan untuk menjadi pemimpin. Dengan kata lain ia mempunyai
bakat dan pembawaan untuk menjadi pemimpin. Menurut teori ini tidak setiap
orang bisa menjadi pemimpin, hanya orang-orang yang mempunyai bakat dan
pembawaan saja yang bisa menjadi pemimpin. Maka muncullah istilah leaders
are borned not built.
Seseorang bisa menjadi pemimpin karena kelahirannya. Sejak ia lahir, bahkan
dalam kandungan, ia telah ditakdirkan untuk menjadi pemimpin. Berbagai
pengalaman dalam hidupnya akan semakin melengkapinya untuk menjadi
pemimpin di kemudian hari. Teori ini mengatakan bahwa seseorang dapat menjadi
pemimpin karena keturunan. Karena orang tuanya menjadi pemimpin, maka
anaknya juga menjadi pemimpin. Kalau orang tuanya dulu tidak menjadi
pemimpin, maka dipandangnya orang tidak cakap menjadi pemimpin. Teori ini
biasanya dianut dan hidup di kalangan kaum bangsawan. Misalnya di Yogyakarta
yang dapat menjadi Sultan (Kepala Daerah Istimewa Yogyakarta) hanyalah
keturunan Sultan Yogya saja. Seseorang bisa menjadi pemimpin karena mewarisi
posisi atau jabatan kepemimpinan dari orang tuanya. Teori ini biasanya berlaku
pada zaman dinasti kekaisaran atau kerajaan. Kadang-kadang yang bersangkutan
tidak memenuhi syarat untuk bisa menjadi pemimpin, tetapi karena ketentuan
dinasti itulah, maka ia tetap bisa menjadi pemimpin. Tidak heran jika kemudian
timbul berbagai masalah akibat ketidak-mampuan tersebut.
Kalau menurut teori genesis ini munculnya kepemimpinan pendidikan bisa
terjadi pada pemimpin resmi/status leader atau tidak resmi. Kepemimpinan resmi
ini dimiliki oleh mereka yang menduduki posisi dalam struktur organisasi
pendidikan baik secara resmi oleh pihak atasan atau yang berwenang maupun

yang dipilih secara resmi menjadi pemimpin oleh anggota dimana dia bekerja.
Sedangkan kepemimpinan

tidak resmi bisa dimili oleh meraka

yang

mempengaruhi orang lain meskipun tidak memiliki posisi sebagai pemimpin.


Misalnya anak dari ketua yayasan biasanya akan melanjutkan kepemimpinan
ayahnya dalam konteks pemimpin resmi. Atau seorang guru mampu mengarahkan
perubahan pada suatu sekolah dengan ide-ide kreatifnya.
2. Teori sosial.
Teori ini mengatakan bahwa seseorang akan menjadi pemimpin kalau
lingkungan, waktu atau keadaan memungkinkan ia menjadi pemimpin. Setiap
orang bisa menjadi pemimpin asal diberi kesempatan dan diberi pembinaan untuk
menjadi pemimpin walaupun ia tidak mempunyai bakat atau pembawaan. Maka
muncullah istilah leaders are built not borned.
Seseorang bisa menjadi pemimpin karena pembentukan. Jika ia memiliki
keinginan yang kuat, sekalipun ia tidak dilahirkan sebagai seorang pemimpin, ia
bisa

menjadi

seorang

pemimpin

yang

efektif.

Pemimpin

yang

baik

mengembangkan dirinya melalui proses tiada henti baik dalam belajar mandiri,
pendidikan, pelatihan, dan pengalaman. Pada hakikatnya semua orang sama dan
dapat menjadi pemimpin. Tiap-tiap orang mempunyai bakat untuk menjadi
pemimpin, hanya saja memiliki kesempatan atau tidak. Seperti yang ditulis
Hughes (2012:26) bahwa Bill Gates menjadi pemimpin karena merupakan orang
yang tepat, pada tempat yang tepat dan waktu yang tepat.
Kalau menurut teori sosial ini munculnya kepemimpinan pendidikan bisa
terjadi pada pemimpin resmi/status leader atau tidak resmi. Pemimpin resmi
misalnya seseorang dipilih sebagai pemimpin oleh atas atau kepala sekolah
ditunjuk oleh kepala dinas. Sedangkan pemimpin tidak resmi dengan teori sosial
ini misalnya seorang guru menghasilkan suatu karya yang dapat digunakan oleh
guru lain baik pada mata pelajaran yang sama ataupun brbeda.
3. Teori ekologis.
Ini merupakan gabungan teori genesis dan sosial untuk membentuk seorang
pemimpin diperlukan bakat dan bakat tersebut perlu dibina supaya berkembang.
Kemungkinan untuk mengembangkan bakat ini tergantung pada lingkungan,
waktu dan keadaan.
Teori ini timbul sebagai reaksi terhadap teori genetis dan teori kejiwaan/ sosial
yang pada intinya berarti bahwa seseorang hanya akan berhasil menjadi seorang
pemimpin yang baik apabila pada waktu lahir telah memiliki bakat

kepemimpinan, dan bakat tersebut kemudian dikembangkan melalui proses


pendidikan yang teratur dan pengalaman-pengalaman yang memungkinkan untuk
mengembangkan lebih lanjut bakat-bakat yang memang telah dimilikinya itu.
Kalau teori genetis berpendapat, bahwa orang menjadi pemimpin karena memang
sudah

ditakdirkan

dan

teori

kejiwaan/

sosial

mengemukakan

bahwa

kepemimpinan itu bukan ditakdirkan, akan tetapi dibentuk oleh pengaruh


lingkungan, maka teori ekologis mengakui kedua-duanya, artinya bahwa
seseorang itu hanya akan bisa menjadi pemimpin yang baik apabila pada waktu
lahir telah memiliki bakat-bakat kepemimpinan dan bakat-bakat itu kemudian
diasah melalui pendidikan. Misalnya Tiga Serangkai pelopor Republik Indonesia:
Soekarno, Mohammad Hatta, Soetan Sjahrir yang merupakan tiga pemimpin
kunci pertama Indonesia setelah proklamasi kemerdekaan Indonesia. Mereka
sudah dilahirkan sebagai pemimpin dan didukung oleh situasi pada saat mereka
menjadi pemimpin.
Kalau menurut teori ekologi ini munculnya kepemimpinan pendidikan bisa
terjadi pada pemimpin resmi/status leader atau tidak resmi. Seseorang dipilih dan
ditunjuk oleh kepala dinas sebagai kepala sekolah karena bakat dan kemampuan
mengelola dan mempengaruhi orang banyak.
4. Teori situasi.
Menurut teori ini setiap orang bisa menjadi pemimpin, tetapi dalam situasi
tertentu saja karena ia memiliki kelebihan-kelebihan yang diperlukan dalam
situasi tersebut. Dalam situasi lain dimana kelebihan-kelebihan itu tidak
diperlukan lagi. Ia tidak akan menjadi pemimpin bahkan mungkin hanya menjadi
pengikut saja.
Keberhasilan seorang pemimpin menurut teori situasional ditentukan oleh ciri
kepemimpinan dengan perilaku tertentu yang disesuaikan dengan tuntutan situasi
kepemimpinan dan situasi organisasional yang dihadapi dengan memperhitungkan
faktor waktu dan ruang. Faktor situasional yang berpengaruh terhadap gaya
kepemimpinan tertentu menurut Sondang P. Siagian (1994:129) adalah
a. Jenis pekerjaan dan kompleksitas tugas
b. Bentuk dan sifat teknologi yang digunakan
c. Persepsi, sikap dan gaya kepemimpinan
d. Norma yang dianut kelompok
e. Rentang kendali
f. Ancaman dari luar organisasi
g. Tingkat stress
h. Iklim yang terdapat dalam organisasi.

Teori ini berasumsi bahwa pemimpin yang efektif tergantung pada taraf
kematangan

pengikut

dan

kemampuan

pemimpin

untuk

menyesuaikan

orientasinya, baik orientasi tugas ataupun hubungan antar manusia. Makin matang
si pengikut, pemimpin harus mengurangi tingkat struktur tugas dan menambah
orientasi hubungannya. Pada saat seseorang atau kelompok/pengikut bergerak dan
mencapai tingkat rata-rata kematangan, pemimpin harus mengurangi baik
hubungannya maupun orientasi tugasnya. Keadaan ini berlangsung sampai
pengikut mencapai kematangan penuh, dimana mereka sudah dapat mandiri baik
dilihat dari kematangan kerjanya ataupun kematangan psikologinya. Jadi teori
situasional ini menekankan pada kesesuaian antara gaya kepemimpinan dengan
tingkat kematangan pengikut.
Efektivitas kepemimpinan seseorang ditentukan oleh situasi yang dihadapi dan
menyesuaikan gaya kepemimpinannya agar cocok dengan dan mampu memenuhi
tuntutan situasi tersebut. Penyesuaian gaya kepemimpinan dimaksud adalah
kemampuan menentukan ciri kepemimpinan dan perilaku tertentu karena tuntutan
situasi tertentu
Misalnya seperti yang dicontohkan oleh Hughes (2012:3) bahwa dalam sebuah
kecelakaan pesawat seorang laki-laki pemalu berinisiatif untuk menyelamatkan
kawan-kawan sesama korban pada kecelakaan itu. Dengan memutuskan mencari
jalan keluar dari pegunungan Andes dengan menelusuri sungai atau mendaki
daratan yang lebih tinggi dan juga memutuskan untuk memakan daging kawankawan yang sudah meninggal. Akhirnya dengan kesabaran, kekuatan dan
keteguhan hari akhirnya beberapa orang dapat diselamatkan.
Kalau menurut teori situasi ini munculnya kepemimpinan pendidikan bisa
terjadi pada pemimpin resmi/status leader atau tidak resmi. Misalnya pada suatu
situasi yang mendesak seorang guru dapat mengambil alih peran kepala sekolah
karena pada situasi itu kepala sekolah dan wakil sedang tidak berada di tempat.
Akhirnya dengan kebijaksaan dan situasi yang mendesak guru ini dapat
memutuskan keputusan yang dibutuhkan pada saat itu.
Semua teori di atas dapat digunakan dalam pemunculan seorang pemimpin,
tergantung pada situasi dan kondisi yang ada. Seseorang yang memang ditakdirkan
sebagai pemimpin pun, jika tidak bersedia mengembangkan diri dalam pelbagai
proses yang melengkapi dirinya, tidak akan bisa memimpin dengan baik. Tetapi
semua bakat pemimpin itu tidak ada gunanya jika ia tidak diberi kesempatan untuk

memimpin. Adanya kesempatan yang diberikan akan sangat menolong. Menurut


Ordway Tead timbulnya seorang pemimpin itu karena:
1. Membentuk diri sendiri (self constituted leader, self made man, born leader)
2. Dipilih oleh golongan. Ia menjadi pemimpin karena jasa-jasanya, karena
kecakapannya, keberaniannya dan sebagainya terhadap organisasi.
3. Ditunjuk dari atas. Ia menjadi pemimpin karena dipercayai dan disetujui oleh
pihak atasan.
Dengan demikian seseorang pemimpin yang ingin meningkatkan kemampuan
dan kecakapan dalam memimpin perlu mengetahui ruang lingkup gaya kepemimpinan
yang efektif. Para ahli di bidang kepemimpinan telah meneliti dan mengembangkan
gaya kepemimpinan yang berbeda-beda sesuai dengan evolusi teori kepemimpinan.
6. Pendekatan dalam Mempelajari Kepemimpinan Pendidikan
Kazt mengemukakan tiga keterampilan/skills yang harus dikuasai oleh seorang
pemimpin, ialah human relation skill, technical skill, dan conceptual skill.
Human Relatian Skill
Kemampuan berhubungan dengan bawahan. Bekerja sama menciptakan
iklim kerja yang menyenangkan dan kooperatif. Terjalin hubungan yang balk
sehingga bawahan merasa aman dalam rnelaksanakan tugasnya

Technical Skill
Kemampuan menerapkan ilmunya kedalann pelaksanaan (opersional).

Dalam rangka mendayagunakan/memanfaatkan sumber-sumber daya yang


ada.

Melaksanakan

tindakan

yang

bersifat

operasaional.

Memikirkan

pemecahan masalah-masalah yang praktis. Makin tinggi tingkatan manager,


secara relatif Technical Skill makin kurang urgensinya.

Conceptual Skill
Kemampuan di dalam melihat sesuatu secara .keseluruhan yang kemudian

dapat merumuskannya, seperti dalam mengambil keputusan, menentukan kebijakan


dan lain-lain. Dalam hubungan ini perlu ditekankan bahwa seorang pemimpin
yang balk, adalah pemimpin yang tidak melaksanakan sendiri tindakan-tindakan

yang

bersifat

operasional.

Lebih

banyak

merumuskan

konsepkonsep.

Keterampilan ini ada juga yang menyebut dengan managerial skill.


1. Pendekatan Sifat (Traits Approach)

Pendekatan sifat didasari asumsi bahwa kondisi fisik dan karakteristik


pribadi adalah penting bagi kesuksesan pemimpin. Hal tersebut akan menjadi
faktor penentu yang membedakan antara seseorang pemimpin dengan bukan
pemimpin. Sifat-sifat pokok itu biasanya meliputi.

Kondisi fisik : energik, tegap, kuat, dan lain-lain.

Latar belakang sosial : berpendidikan dan berwawasan luas, serta


berasal dari lingkungan sosial yang dinamis.

Kepribadian : adaptif, egresif, emosi stabil, populer dan kooperatif, dan


lain-lain.
Karakteristik yang berhubungan dengan tugas-tugas: terdorong untuk

maju, slap menerima tanggungjawab, berinisiatif, berorientasi pada tugas, dan,


cakap dalam komunikasi interpersonal, dan lain-lain.
2. Pendekatan Keperilakuan (Behavioral Approach)

Pendekatan keperilakuan memandang kepemimpinan dapat dipelajari


dari pola tingkah laku, dan bukan sifat-sifatnya. Studi ini melihat dan
mengidentifikasi perilaku yang khas dari pemimpin dalam kegiatannya untuk
mempengaruhi anggota-anggota kelompok atau pengikutnya. Perilaku pemimpin
ini dapat berorientasi pada tugas keorganisasian ataupun pada hubungan
dengan anggota kelompoknya. Pendekatan ini menitik beratkan pandangannya
pada dua aspek perilaku kepemimpinan yaitu : fungsi-fungsi kepemimpinan dan
gaya-gaya kepemimpinan.
3. Pendekatan Situasional

Teori kepemimpinan situasional dikembangkan oleh Paul Hersey dan Keneth


H. Blanchard. Teori kepemimpinan situasional merupakan perkembangan yang
mutakhir dari teori kepemimpinan dan merupakan hasil baru dari model
kefektifan pemimpin tiga dimensi. Model ini didasarkan pada hubungan garis

lengkung atau "curva linier" diantara perilaku tugas dan perilaku hubungan dan
kematangan. Teori ini mencoba menyiapkan pemimpin dengan beberapa pengertian
mengenai hubungan di antara gaya kepemimpinan yang efetif dan taraf kematangan
pengikutnya.
Meskipun variabel situasional (pemimpin, pengikut, atasan, organisasi,
tuntutan kerja dan waktu) yang terlibat dalam teori

kepemimpinan

situasional, namun penekanan tetap terletak pada hubngan pemimpin dengan


yang dipimpin. Pengikut atau yang dipimpin merupakan faktor yang paling
menentukan dalam suatu peristiwa kepemimpinan.
7. Siapakah Yang Disebut Pemimpin Pendidikan
Guru, wali kelas, kepala sekolah, pengawas, kepala kantor bidang pendidikan
pada semua tingkatan, semua tenaga edukatif pada kantor dinas kepala direktorat
dalam lingkungan direktorat jenderal pendidikan, ketua jurusan, dekan, rektor dan
pembantu-pembantunya pada sekolah tinggi, akademi, institut dan universitas, ahliahli ilmu pendidikan dan masih banyak lagi, merupakan pemimpin-pemimpin
pendidikan. Pada pokoknya setiap orang yang memiliki kelebihan dalama
kemampuan dan pribadinya, dan dengan kelebihannya itu dapat mempengaruhi,
mengajak, membimbing, mendorong, menggerakkan dan mengkoordinasikan staf
pendidikan lainnya ke arah peningkatan atau perbaikan mutu pendidikan dan
pengajaran, maka is telah melaksanakan fungsi kepemimpinan pendidikan, dan is
tergolong sebagai pemimpin pendidikan.
Dengan demikian maka pemimpin pendidikan itu dapat berstatus pemimpin
resmi yang biasa disebut "status leader" atau "formal leader", atau "functional
leader". Kepemimpinan resmi dimiliki oleh mereka yang menduduki posisi dalam
struktur organisasi pendidikan, balk secara resmi oleh pihak atasan atau yang
berwenang maupun karena dipilih secara resmi menjadi pemimpin oleh anggota staf
pelaksana pendidikan di mana is bekerja. Misalnya Kepala Sekolah, Kepala Dinas
Pendidikan adalah termasuk kategori pemimpin resmi dan memiliki kepemimpinan
resmi dilihat dari segi posisi dan sistem pengangkatan.
Kepemimpinan

tidak

resmi

bisa

dimiliki

oleh

mereka

yang

mempengaruhi, memberi tauladan, dan mendorong ke arab perbaikan kualitas kerja


petugas-petugas penyelenggara pendidikan dan pengajaran, meskipun di dalam

hierarki sturktur organisasi pendidikan mungkin is tidak menduduki posisi


pemimpin. Kemampuannya itu semata-mata berasal dari kelebihan tertentu yang
ada pada pribadinya, dan bukan karena is menduduki posisi pemimpin, balk
karena pengangkatan dari pihak yang berwenang maupun karena dipilih secara resmi
oleh kalangan kelompok kerja.
Seorang kepala sekolah atau seorang kepala dinas pendidikan sebagai
"status leader" atau "formal leader", Iebih disegani, lebih ditaati petunjuk-petunjuk
atau perintah-perintahnya oleh murid-muridnya atau anggota staffnya, mungkin
semata-mata karena kedudukannya yang resmi sebagai pemimpin, karena
kekuasaan resmi yang is miliki sebagai pemimpin resmi.
Kepala Sekolah sebagai Pemimpin Pendidikan
Fungsi utama kepala sekolah sebagai pemimpin pendidikan ialah
menciptakan situasi belajar mengajar sehingga guru-guru dapat mengajar dan muridmurid dapat belajar dengan baik. Dalam melaksanakan fungsi tersebut, kepala
skeolah memiliki tanggungjawab ganda yaitu melaksanakan administrasi
sekolah sehingga tercipta situasi belajar mengajar yang balk, dan melaksanakan
supervisi

sehingga

kemampuan

guru-guru

meningkat

dalam

membimbing

pertumbuhan murid-muridnya.
Sebagai pemimpin pendidikan, kepala sekolah menghadapi tantangan
yang berat, untuk itu is harus memiliki persiapanyang memadai. Karena
banyaknya tanggungjawab maka kepala sekolah me m e r l u k a n p e mb a n t u .
Ia

h e n d a k n ya

belajar

bagaimana

mendelegasikan

wewenang dan

tanggungjawab sehingga ia dapat memusatkan perhatiannya pada usaha


pembinaan program pengajaran.
Pekerjaan
pertumbuhan
menjalankan

pemimpin
guru-guru
tugasnya

perkembangan situasi. Kepala


harus

mampu

mengelola

pendidikan

ialah

berkesinambungan
dengan

dan

membimbing

sehingga

mereka

mampu

sebaik-baiknya

sesuai

dengan

sekolah
sarana

menstimulir

dan

sebagai
prasarana

pemimpin
pendidikan,

pendidikan,
pelayanan

khusus sekolah dan fasilitas-fasilitas pendidikan Iainnya sedemikian rupa sehingga

guru-guru dan murid-murid memperotah kepuasan dalam

melaksanakan

tugasnya.
Sebagai pemimpin pendidikan, Kepala Sekolah bertanggungjawab atas
pertumbuhan guru-guru secara berkesinambungan, is harus mampu membantu guruguru mengenal kebutuhan masyarakat, membantu guru membina kurikulum sesuai
dengan minat, kebutuhan dan kernampuan peserta didik. Ia harus mampu
menstikulir guru-guru untuk mengembangkan metode dan prosedur pengajaran. Ia
harus mampu membantu guru-guru mengevaluasi program pendidikan dan hasil
belajar murid, is harus mampu juga menilai sifat dan kemampuan guru, sehingga
Kepala Sekolah dapat membantu meningkatkan kemampuan guru. Untuk dapat
melaksanakan tanggungjawab tersebut di atas, kepala sekolah harus memiliki
pendidikan dan pengalaman yang diperlukan bagi seorang pemimpin pendidikan.

Daftar Pustaka
Burns, R.J. (1978). Leadership. New York: Harper & Row.
Gibson, Ivancevich, Donnely. (1984). Organisasi dan Manajemen: Perilaku,
Struktur, Proses. Jakarta: Erlangga.
Lako, Andreas. (2004). Kepemimpinan dan Kinerja Organisasi (Isu, Teori, dan
Solusi). Yogyakarta : Amara Books.
Rumtini Ikhsan . Kepemimpinan Transformasional Kepala Sekolah SLTP dan
Korelasinya dengan Manajemen Instruksional di Beberapa Sekolah di
Yogyakarta
[online].
Tersedia:
http://www.depdiknas.cio.id/
jurna1/38/kepemimpinan%20transformasional.htm.

Suyanto, M.Lies Endarwati, dan All Muhson. (2003). Gaya kepemimpinan


transformasional kepala SD dan kepuasan kerja guru. Jurnal
Kependidikan. 1, (5); 52.
Sondang P. Siagian. (2003). Teori dan Praktik Kepemimpinan (cetakan kelima).
Jakarta: Rineka Cipta.
Sudarwan Danim. (2003). Menjadi Komunitas Pembelajar: Kepemimpinan
Transformasional dalam Komunitas Organisasi Pembelajar. Jakarta: Bumi
Aksara.
Tim Dosen Administrasi Pendidikan UPI. (2012). Manajemen Pendidikan. Bandung :
Alfabeta
Wahyusumidjo. (1999). Kepemimpinan Kepala Sekolah: Tinjauan Teoritik dan
Permasalahannya. Jakarta: Rajawali Pers.
Yukl, Gary. (1994). Leadership In Organization (thirdth edition). New Jersey:
Prentice Hall.
Yukl, Gary. (1998). Leadership In Organization. London: Prentice Hall.