Anda di halaman 1dari 58

:: CATATAN KECIL ::

:: KOAS EMERGENSI ::

Jiwa-jiwa yang ulet adalah jiwa-jiwa yang selalu mampu menembus


ketidakmungkinan, jiwa yang selalu sanggup melawan kebosanan,
jiwa yang selalu bisa memecah kebekuan dan kemalasan,
yang selalu bisa mengalahkan kelelahan dan kelemahannya sendiri

KELOMPOK I
RUMAH SAKIT KARTIKA HUSADA

2013

Disusun Oleh:
Trifonia Steffi O
Peni
Asa Rairisti
Abang Anton
Ernywaty
Agus Darmanto
Siti Fatimah

(I11108042)
(I11108046)
(I11108052)
(I11108061)
(I11108063)
(I11108067)
(I11108072)

Dibimbing oleh:
dr. Eldy Jimmy Saragih
dr. Erwin Wijatmiko

(NIP. 197706152008121001)
(NIP. 11100003690883)

Pontianak,

Februari 2013

Tim Penyusun

:: DAFTAR ISI ::
Hipertensi pada kehamilan
Luka bakar
Diagnosis banding demam
Perbedaan Demam dengue dan Demam berdarah dengue
Derajat Demam berdarah dengue
Komplikasi Demam berdarah dengue
Indikasi transfusi pada DBD
Derajat dehidrasi pada dewasa (Skor Daldiyono)
Rehidrasi
Dehidrasi anak dan tatalaksana
Foto serial pada trauma
Indikasi CT Scan pada cedera kepala
FAST
Burr Hole
Floating Prostat
Beda epistaksis karena perdarahan lokal dan intrakranial
Prosedur washout
Prosedur Rectal Toucher
Perbedaan Ileus obstruktif dan Paralitik
Terapi cairan pada ileus tanpa dehidrasi
Traube space
PPOK
CKD (Chronic Kidney Diseases)
Terapi Antibiotik pada ISK
3

4
5
8
9
10
11
12
13
14
15
18
19
21
26
28
29
30
33
35
36
37
38
44
45

Hipoglikemia dan tatalaksana


Appendisitis
Asma 51
Terapi Oksigen

46
49

54

Perbedaan gagal jantung kanan dan gagal jantung kiri

56

:: HIPERTENSI PADA KEHAMILAN ::

1. Hipertensi kronis adalah hipertensi yang didapatkan sebelum timbulnya kehamilan.


Apabla tidak diketahui adanya hipertensi sebelum kehamilan, maka ia didefinisikan bila
didapatkan TD sistolik 140 mmHg atau diastolic > 90 mmHg sebelum usia kehamilan 20
minggu.
2. Pre-eklamsia adalah hipertensi yang terjadi setelah usia gestasi 20 minggu, disertai
proteinuria.
3. Eklamsia adalah pre-eklamsia yang disertai kejang dan/ koma.
4. Hiperteni kronik dengan superimposed pre-eklamsia adalah merupakan hipertensi kronik
ditandai dengan tanda-tanda pre-eklamsia atau hipertensi kronik disertai proteinuria.
5. Hipertensi gestasional adalah hipertensi yang timbul pada kehamilan tanpa disertai
dengan proteinuria dan hipertensi menghilang setelah 3 bulan pasca persalinan.

meliputimeliputi
epidermis
seluruh
dan sebagian
tebal kulit
dermis,
dan lapisan yang lebih dalam me
Terbatas pada lapisan epidermis (surperficial),
inflamasi(+),
bua(-),eksudasi(+),
nyeri (-)
bula(+)
kulit hipermik
nyeri(+)
penyembuhan
lama
bulla(-), vesikel (-)
nyeri(-)
penyembuhan spontan
mengenai
hampir
seluruh
dermis
dan sisa-sisa jaringanepitel tinggal se
mengenai bagian
epidermis
dan
lapisanbagian
atas dari
corium/dermis.
folikel rambut, kelenjarkeringat, kelenjar sebacea tinggal sedikit.
folikel rambut,
sembuh>satu
bulan.
kelenjar sebecea
masih banyak.
sembuhspontan10-14hr

:: LUKA BAKAR ::

KRITERIA BERAT LUKA BAKAR

Ringan
Luka bakar derajat II <15 %
Luka bakar derajat II < 10 % pada anak an
Luka bakar derajat III < 2 %

Sedang
Luka bakar derajat II 15-25 %
Luka bakar derajat II 10-20 % pada anak a
Luka bakar derajat III < %10 %

Kepala dan leher=9 %


Lengan=18 %
Badan Depan=18 %
Badan Belakang=18 %
Tungkai=36 %
Genitalia/perineum=1%
Total=100 %

Berat
Luka bakar derajat II >25 %
Luka bakar derajat II >20 % pada anak ana
Luka bakar derajat III > %10
Luka bakar mengenai tangan, wajah, telinga, mata, kaki dan
- Luka bakar dengan cedera inhalasi, listrik, disertai t

Penatalaksanaan:
1. Diwajibkan memakai sarung tagan steril bila melakukan pemeriksaan penderita.
2. Bebaskan pakaian yang terbakar.
3. Dilakukan pemeriksaan yang teliti dan menyeluruh untuk memastikan adanya trauma lain
yang menyertai.
4. Bebaskan jalan napas. Pada luka bakar dengan distress jalan napas dapat dipasang
endotracheal tube. Traheostomy hanya bila ada indikasi.
5. Pemasangan intraveneous kateter yang cukup besar dan tidak dianjurkan pemasanga scalp
vein. Diberikan cairan ringer Laktat dengan jumlah 30-50 cc/jam untuk dewasa dan 20-30
cc/jam untuk anak anak di atas 2 tahun dan 1 cc/kg/jam untuk anak dibawah 2 tahun.
6. Dilakukan pemasangan Foley kateter untuk monitor jumlah urine produksi. Dicatat jumlah
urine/jam.
7. Di lakukan pemasangan nosogastrik tube untuk gastric dekompresi dengan intermitten
pengisapan.
8. Untuk menghilangkan nyeri hebat dapat diberikan morfin intravena dan jangan secara
intramuskuler.
9. Diberikan tetanus toksoid bila diperlukan. Pemberian tetanus toksoid booster bila penderita
tidak mendapatkannya dalam 5 tahun terakhir.
10. Pencucian Luka di kamar operasi dalam keadaan pembiusan umum. Luka dicuci debridement
dan di disinfektsi dengan salvon 1 : 30. Setelah bersih tutup dengan tulle kemudian olesi
dengan Silver Sulfa Diazine (SSD) sampai tebal. Rawat tertutup dengan kasa steril yang
tebal. Pada hari ke 5 kasa di buka dan penderita dimandikan dengan air dicampur Salvon 1 :
30

11. Eskarotomi adalah suatu prosedur atau membuang jaringan yang mati (eskar)dengan teknik
eksisi tangensial berupa eksisi lapis demi lapis jaringan nekrotik sampai di dapatkan
permukaan yang berdarah.
12. Fasiotomi dilakukan pada luka bakar yang mengenai kaki dan tangan melingkar, agar bagian
distal tidak nekrose karena stewing.
13. Penutupan luka dapat terjadi atau dapat dilakukan bila preparasi bed luka telah dilakukan
dimana didapatkan kondisi luka yang relative lebih bersih dan tidak infeksi. Luka dapat
menutup tanpa prosedur operasi. Secara persekundam terjadi proses epitelisasi pada luka
bakar yang relative superficial.
14. Untuk luka bakar yang dalam pilihan yang tersering yaitu split tickness skin grafting. Split
tickness skin grafting merupakan tindakan definitive penutup luka yang luas. Tandur alih
kulit dilakukan bila luka tersebut tidak sembuh - sembuh dalam waktu 2 minggu dengan
diameter > 3 cm.

Baxter Formula:
Hari
I

Dewasa
RL 4cc x BB x Luas luka bakar/
24 jam

II

i/2 hari I

Anak
Ringer Laktat: Dextran = 17 : 3
2 cc x berat badan x % luas luka ditambah
kebutuhan faal.
Beri sesuai kebutuhan faal
(Sumber: Buku Ajar Ilmu Bedah edisi 2, FKUI)

:: DIAGNOSIS BANDING DEMAM ::


Definisi: demam adalah keadaan suhu tubuh di atas normal sebagai akibat peningkatan pusat
pengatur suhu di hipotalamus yang dipengaruhi oleh IL-1.
Zat yang dapat menyebabkan demam pirogen
No Pirogen mikrobial
Pirogen non-mikrobial
1
Bakteri gram (-) endotoksin
Fagositosis
2
Kompleks antigen-antibodi
Bakteri gram (+)peptidoglikan
Steroid
dinding sel
3
Sistem monosit-makrofag
Virus pembentukan antibody,
induksi oleh interferon, nekrosis sel Interleukin-1 (IL-1)
Tumor necrosis factor (TNF)
akibat virus
4
Limfosit yang teraktivasi
Jamur baik hidup/ mati
Interferon(INF)
Interleukin-2(IL-2)
GM-CSF
Menurut protocol Kaiser Permanente Appoinment and Advice Call Center 2000:
Demam pada anak jika:
1. Suhu rektal > 38 C
2. Suhu aksila > 37,5 C
3. Suhu membrane timpani 38,2 C
Disebut demam tinggi bila suhu >39,5 C dan disebut hiperpireksia bila suhu > 41,1 C
8

demam

akut (< 2 mggu)


kronik (> 2 mggu)
infeksi sistemik

infeksi organ focal

Pneumonia
1 minggu: infeksi virus, malaria, demam dengue,Pielonefritis
leptospirosis
2 minggu: demam tifoid
Cholecystitis
Liver abses
UTI
Infeksi pelvis
dll

Sistemik TB
Keganasan: limfoma, leukemia, myel
Autoimun: RA, SLE
Drug induce
Metabolik
HIV
Psikologis

:: PERBEDAAN DEMAM DENGUE DAN DEMAM BERDARAH DENGUE ::


Demam dengue

Demam berdarah dengue

1. demam akut selama 2-7 hari,


2. ditandai dengan 2 atau lebih manifestasi
klinis (nyeri kepala, nyeri retroorbital,
mialgia/ atralgia, ruam kulit, manifestasi
perdarahan [petekie atau uji bendung
positif, leukopenia) dan pemeriksaan
serologi dengue positif atau ditemukan
pasien yang sudah dikonfirmasi menderita
demam dengue/ DBD pada lokasi dan
waktu yang sama.
3. Dapat terjadi trombositopenia, namun
tidak ditemukan bukti kebocoran plasma.

1. Demam atau riwayat demam akut, antara 2-7


hari biasanya bifasik.
2. Terdapat minimal 1 manifestasi perdarahan
berikut: uji bending positif; petekie, ekimosis,
atau purpura; perdarahan mukosa; hematemesis
dan melena.
3. Trombositopenia (jumlah trombosit <100.000/
ml).
4. Terdapat minimal 1 tanda kebocoran plasma
sbb:
Peningkatan hematokrit >20% dibandingkan
standar sesuai umur dan jenis kelamin.
Penurunan hematokrit >20% setelah
mendapat terapi cairan, dibandingkan
dengan nilai hematokrit sebelumnya.
Tanda kebocoran plasma seperti: efusi
9

pleura,
asites,
hiponatremia.

hipoproteinemia,

( Sumber: Ilmu Penyakit Dalam, FKUI)

:: DERAJAT PENYAKIT DBD ::


Derajat penyakit DBD diklasifikasikan dalam 4 derajat, yaitu :
1. Derajat I Demam disertai dengan gejala umum nonspesifik, satu-satunya manifestasi
perdarahan ditunjukkan melalui uji tourniquet yang positif.
2. Derajat II Selain manifestasi yang dialami pasien derajat I, perdarahan spontan juga terjadi,
biasanya dalam bentuk perdarahan kulit dan atau perdarahan lainnya.
3. Derajat III Demam, perdarahan spontan, disertai atau tidak disertai hepatomegali dan
ditemukan gejala-gejala kegagalan sirkulasi meliputi nadi yang cepat dan lemah, tekanan nadi
menurun (< 20 mmHg) atau hipotensi disertai kulit lembab dan dingin serta gelisah.

10

4. Derajat IV Demam, perdarahan spontan, disertai atau tidak disertai hepatomegali dan
ditemukan gejala syok (renjatan) yang sangat berat dengan tekanan darah dan denyut nadi
yang tidak terdeteksi.
(Sumber: Ilmu Penyakit dalam FKUI)

:: KOMPLIKASI DEMAM DENGUE ::


1. Syok (dengue Shock Syndrome)
Peningkatan permeabilitas diding pembulug darah yang mendadak sehingga terjadi
perembesan plasma dan elektrolit melalui endotel vaskuler dan masuk ke dalam ruang
interstitial. Menyebabkan hipotensi, hemokonsentrasi, hipoproteinemia dan efusi cairan
ke rongga serosa.
2. Perdarahan
- Trombositopenia hebat yang disebabkan oleh infeksi.
11

Gangguan fungsi trombosit


Kelainan sistem koagulasi, masa tromboplastin parsial, masa protrombin memanjang,
sedangkan sebagian besar penderita didapatkan masa thrombin normal. Beberapa
factor pembekuan menurun, termasuk factor II, V, VII, IX, X dan fibrinogen.
- Pembekuan intravascular yang meluas(Disseminated Intravascular Coagulation,
DIC)
3. Komplikasi DIC (Disseminated Intravascular Coagulation)
Terjadi aktivasi koagulasi intravascular yang tidak terlokalisir (menyebar). Manifestasi
berupa:
- Perdarahan
- Disfungi ginjal
- Disfungsi hati
- Disfungsi pernapasan
- syok
- Disfungsi SSP ensefalopati
- Trombosis pada pembuluh darah besar
4. Gagal jantung & edema paru
Pemberian cairan yang berlebihan
(Sumber: Guideline DBD, Emergency medicine)

:: INDIKASI TRANSFUSI DARAH PADA DBD ::


1. Bila terdapat perdarahan massif (perdarahan dengan jumlah darah 4-5 ml/ kgB/ jam)
misalnya perdarahan hidung, perdarahan saluran cerna (hematemesis, melena,
hematosekia), perdarahan saluran kencing, perdarahan otak dengan jumlah trombosit
<100.000/ l dengan atau tanpa koagulasi intravascular diseminata (KID) dapat diberikan
transfusi trombosit (Trombocyte concentrate (TC)).
2. Bila secara klinis dan laboratoris ditemukan tanda-tanda KID ( proses aktivasi sistem
koagulasi, terjadi pembentukan fibrin di vascular, terjadi oklusi trombotik yang
12

menyebabkan kerusakan banyak organ, terjadi pemakaian trombosit & protein dari factor
pembekuan yang bermanifestasi perdarahan dengan gejala kinis petekie, ekimosis,
hematuria, melena, epistaksis, hemoptisis, perdarahan gusi, perdarahan otak, gagal ginjal
akut, iskemik fokal dan gangren dapat diberikan transfuse heparin.
3. Bila terjadi factor-faktor pembekuan (PT, PTT memanjang), berikan transfuse FFP
(Frozen Fresh Plasma)
4. Bila hemoglobin < 10 g %, diberi transfuse PRC (Packed Red Cell)
(*Petunjuk tatalaksana DBD Dinkes)

:: DERAJAT DEHIDRASI PADA DEWASA ::


MINIMAL
Status mental

CM

RINGAN-SEDANG
CM, lemas, gelisah

Rasa haus
Nadi

Normal
Normal
(teraba penuh)

Sangat haus
Normal-meningkat
(penuh-lemah)
13

BERAT
Apatis, tidak sadar,
letargi
Tidak dapat minum
Takikardi
(lemah/tdk teraba)

Mata
Turgor kulit
Urine output

Normal
Baik
Normal-menurun

TATALAKSANA DEHIDRASI
1. Dehidrasi minimal (<5%)
2. Dehidrasi ringan-sedang (5-10%)
3. Dehidrasi berat (>10%)

Sedikit cekung
< 2 detik
Menurun

Sangat cekung
>2 detik
Minimal

: 103% dari kebutuhan cairan normal


: 109 % dari kebutuhan cairan normal
: 112% dari kebutuhan cairan normal
(Sumber : Konsensus penatalaksanaan diare
akut pada dewasa di Indonesia.
Jakarta: Perkumpulan
Gastroenterologi Indonesia;2009)

:: REHIDRASI ::

14

Kebutuhan cairan yang akan diberikan dalam 2 jam(ml):


Skor/15 x 10% x KgBB x 1 liter
Kecepatan tetesan:
Jumlah cairan yang dimasukkan(ml)
Tetesan/ menit (puruhito)
lamanya infus ( jam ) x 3

:: KLASIFIKASI TINGKAT DEHIDRASI ANAK::


15

Klasifikasi
Dehidrasi Berat

Dehidrasi Ringan/Sedang

Tanda-Tanda/Gejala
Terdapat dua atau lebih dari tanda di
bawah ini:
Letargis/tidak
Mata cekung
Tidak bisa minum atau malas
minum
Cubitan kulit perut kembali sangat
lambat ( 2 detik)
Terdapat dua atau lebih tanda di
bawah ini:
Rewel, gelisah
Mata cekung
Minum dengan lahap, haus untuk
Cubitan kulit kembali lambat

Tatalaksana
Rencana Terapi C

Rencana Terapi B

Catatan: larutan intravena terbaik adalah larutan Ringer Laktat (disebut pula larutan Hartman
untuk penyuntikan). Tersedia juga larutan Ringer Asetat. Jika larutan Ringer Laktat tidak
tersedia, larutan garam normal (NaCl 0.9%) dapat digunakan. Larutan glukosa 5% (dextrosa)
tunggal tidak efektif dan jangan digunakan.
Beri tablet zinc bila disertai diare:
Ajari ibu berapa banyak zinc yang harus diberikan kepada anaknya:
o Di bawah umur 6 bulan : tablet (10 mg) per hari
o Umur 6 bulan ke atas : 1 tablet (20 mg) per hari
Selama 10 hari
Ajari ibu cara memberi tablet zinc:
o Pada bayi: larutkan tablet zinc pada sendok dengan sedikit air matang, ASI perah
atau larutan oralit.
o Pada anak-anak yang lebih besar: tablet dapat dikunyah atau dilarutkan.
Ingatkan ibu untuk memberi tablet zinc kepada anaknya selama 10 hari penuh.

16

17

Sumber : Buku Saku PelayananKesehatan AnakDi Rumah Sakit. DEPKES RI


18

:: FOTO SERIAL PADA MULTIPLE TRAUMA ::


Pada trauma multiple foto serial yang dilakukan adalah:
1. Lateral
spine

servical Cek kelengkapan: C1-C7, junction C7-T1, junction C1oksipital


Cek alignment: anterior vertebra bodies, posterior vertebra
bodies, facet line, spinolaminar line
Menilai pseudosubluksasi
Periksa vertebral bodies
Periksa joint spaces
Periksa jaringan lunak: edema, hematom
Nilai disc spaces
2. Chest
radiograph Cek kelengkapan
Alignment
(posisi supine AP)
Apparatus
Tulang
Sendi
Mediastinum
Diafragma
Paru
jantung
3. Pelvis radiograph
Alignment
Gambarannya
Tulang

19

:: INDIKASI EMERGENCY CT-SCAN SETELAH CEDERA KEPALA ::


1.
2.
3.
4.
5.
6.

GCS < 13 tanpa adanya intoksikasi alkohol atau fraktur tulang tengkorak.
GCS <14 dengan adanya fraktur tulang tengkorak.
Pupil yang berdilatasi unilateral pada keadaan AMS
Depressed Skull Fraktur
Defisit neurologik fokal
Pasien cedera kepala yang membutuhkan ventilasi
:: KRITERIA MASUK RUMAH SAKIT PADA CEDERA KEPALA RINGAN ::

1. Hilang kesadaran > 10 menit


2. Amnesia
3. Kejang post trauma
4. Tanda klinis fraktur basis kranii
5. Sakit kepala moderat atau severe atau vomiting
6. Intoksikasi alcohol
7. Penetrating injury
8. Fraktur tulang tengkorak
9. Assosiated injurie yang signifikan
10. Tidak adanya pengawas yang dapat diandalkan di rumah
:: INDIKASI RAWAT INAP PADA CEDERA KEPALA::
1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.
8.
9.

Amnesia post traumatik yang jelas (lebihdari 1 jam)


Riwayat kehilangan kesadaran
Nyeri kepala sedang hingga berat
Intoksikasi alkohol atau obat
Fraktur tengkorak
Kebocoran CSS, otorrhea atau Rhinorrhea
Cedera penyerta yang jelas
Tidak punya orang serumah yang dapat dipertanggung jawabkan
Terdapat CT Scan yang abnormal

20

:: INDIKASI CT SCAN::
Resiko tinggi untuk intervensi bedah
1. GCS < 15 setelah 2 jam cedera
2. Curiga adanya fraktur terbuka atau fraktur
depresi tengkorak
3. Usia > 65 tahun
4. Muntah lebih dari 2 episode
5. terdapat tanda fraktur basis cranii
(hemotimpanum, raccoon eyes, otorrhea,
rhinorrhea)

(sumber: Head trauma pada ATLS)

21

Resiko sedang untuk intervensi bedah


1. Amnesia > 30 menit
2. Mekanisme cedera yang berbahaya
(pejalan kaki yang tertabrak truk, jatuh
dari ketinggian >3 kaki)

:: FAST (FOCUSED ABDOMINAL SONOGRAPHY IN TRAUMA)::


Penggunaan USG pada trauma tumpul abdomen terutama untuk mendeteksi adanya
hemoperitoneum dan ini dilakukan berkairan dengan didapatkannya hasil sensitifitas yang tinggi
pada berbagai penelitian. FAST telah dikembangan sebagai protocol di berbagai senter trauma,
pemeriksaan USG bergerak (driven ultrasound) bertujuan untuk mendeteksi dini adanya
hemoperitoneum dan hemopericardium dan manfaatnya telah banyak dilaporkan.1,2
Di ruang gawat darurat, USG selalu diperlukan untuk penilaian yang cepat kemungkinan
adanya hemoperitoneum. Tujuan utama USG Emergency pada trauma abdomen adalah menilai
adanya cairan abnormal (cairan bebas) serta menetapkan indikasi untuk dilakukan operasi. 3,4
Saat ini penggunaan Ultrasonografi sebagai sarana diagnostic pada trauma lebih diperluas
dengan mengarah kepada penegakan diagnosis dengan cepat dan akurat dengan istilah FAST
(Focused Abdominal Sonography for Trauma).
Pemeriksaan Ultrasonografi (FAST) diindikasikan pada pasien dengan trauma tumpul
abdomen baik dengan hemodinamik stabil maupun tidak stabil. Ultrasonografi kurang peka
untuk identifikasi dan menentukan gradasi cedera organ solid, cedera usus, cedera
retroperitoneal. Pemeriksaan USG (FAST) dapat langsung dengan jelas mendeteksi adanya
cairan bebas intraperitoneal atau adanya Cardiac Tamponade 5
Alogaritma pemeriksaan USG (FAST) pada trauma tumpul abdomen sebagai berikut. 5
Alogaritma Ultrasonografi (FAST) pada trauma tumpul abdomen dengan hemodinamik
tidak stabil (Sistolik < 90 mmHg)

22

Alogaritma Ultrasonografi (FAST) pada trauma tumpul abdomen dengan hemodinamik stabil.
(Sistolik 90 mmHg)

Keunggulan dan Kekurangan Pemeriksaan USG (FAST)


Keunggulan :
- Pemeriksaan USG bisa dikerjakan oleh dokter emergency maupun residen bedah.
- Tidak mahal, tidak invasive dan portable
- Menghindari resiko akibat penggunaan media kontras
- Dapat menilai toraks dan rongga retroperitoneal disamping rongga peritoneum.
- Pemeriksaan serial dapat mendeteksi perdarahan yang terus berlangsung dan
meningkatkan ketepatan diagnostic.
- Menurunkan tindakan DPL (Diagnostic Peritoneal Lavage) dan CT-Scan
- Pada wanita hamil yang mengalami trauma dapat menentukan umur kehamilan dan
kondisi janin.
Kekurangan :
- Untuk mendapatkan hasil positif diperlukan cairan intraperitoneal minimal 70 cc
dibandingkan DPL hanya 20 cc.
- Akurasinya tergantung pada kemampuan operator atau pembaca hasil dan turun
akurasinya bila pernah operasi abdomen.
- Secara teknik sulit untuk pasien gemuk dan ileus atau adanya emfisema subkutis.
- Sensitifitasnya rendah untuk usus halus dan cedera pancreas.
23

Tidak dapat menentukan dengan tepat penyebab hemoperitoneum.


Meskipun bekuan darah memberikan gambaran yang khas, ia tidak dapat dengan tepat
menentukan jenis dari cairan bebas intraperitoneal.

Teknik Pemeriksaan 5
Untuk mencari cairan abdominal tranducer ditempatkan pada empat posisi dasar yaitu :
Perihepatik dan pada celah hepatorenal

Perisplenic

Pervis

24

Pericardium

Perbandingan berbagai Metode Diagnostik untuk mengevaluasi Trauma tumpul dan Tajam
Abdomen

25

Sumber:
1. Mackersie RC. Abdominal Trauma, in : Norton AJ, Boliinger B, Chang, Lowry, Mulvihil,
Pass, dll (editor). Surgery Basic Science and Clinical Evidence Vol. 1. New York :
Springer-Verlag inc; 2001. Hal. 825-45.
2. Rozycki GS, Ochner GM, Feliciano, Thomas B, Boulanger BR, Davis FE, dll. Early
Detection of Hemoperitoneum by Ultrasound Examination of the Right Upper Quadrant.
J of Trauma. 1998; 45:878-83.
3. Fabian TC, Croce MA. Abdominal Trauma, Including Indications for Celiotomy in
Trauma. Feliciano DV. Editors. Ed. 3. London : Appleton S Lange Co; 1991. Hal 441459.
4. Fukuda M, Cogrove DO. Abdominal Ultrasound A Basic TextBook. Tokyo : IgakuShoin
Ltd; 1997. Hal. 1-45.
5. Alexander Ng. Trauma Ultrasonography The FAST and Beyond. Trauma.org. 2001; 6:12
URL http//trauma.org./us/html.2001.

26

:: BURR HOLE ::
Pada pasien trauma, adanya trias klinis yaitu penurunan kesadaran, pupil anisokor dengan
reflek cahaya menurun dan kontralateral hemiparesis merupakan tanda adanya penekanan
brainstem oleh herniasi uncal dimana sebagian besar disebabkan oleh adanya massa ektra aksial.
Burr hole merupakan suatu alat diagnostik untuk mengetahui ada tidaknya perdarahan ektra
aksial tersebut, yang bila hasilnya positif dapat dilakukan dengan kompresi awal sebelum
tindakan Craniotomy defenitif dilakukan. Dengan makin berkembang dan meluasnya
penggunaan CT scan kepala, tindakan Burr hole diagnostik jadi jarang dilakukan. Namun untuk
RS daerah dimana fasilitas CT Scan tidak ada, dapat merupakan tindakan live saving yang
dilakukan oleh dokter bedah.
Indikasi :

Penurunan kesadaran tiba-tiba

Adanya tanda herniasi

Adanya cedera sistemik yang memerlukan operasi emergensi, dimana CT scan kepala
tidak bisa dilakukan

Teknik Operasi :

Pasien diposisikan supine dengan kepala dimiringkan sehingga lkasi yang akan dibuka
terletak diatas, dan dibawah bahu diletakan gulungan kain untuk membantu perutaran
kepala.

Kepala dicukur kemudian dilakukan tindakan desinfeksi dengan larutan antiseptik

Burr hole pertama dilakukan dedaerah temporal 2 cm diatas arkus zigoma, 2 cm didepan
tragus. Insisi kulit dilakukan secara tajam sehingga tulang, setelahnya infiltrasi dengan
Pehacain.

Perdarahan dari arteri superfisial temporalis derawat dengan kauter atau ligasi, kemudian
dipasang retraktor secara otomatis.

Dilakukan burr hole menggunakan bor atau drill hingga menembus tulang temporal dan
tampak duramater.

Pemilihan lokasi :
o Ipsilateral dengan pupil yang pertama kali midriasis, atau kontralateral dengan
hemiparesis
o Bila tidak adatanda lateralisasi dilakukan pada daerah dibawah fraktur tulang atau
pada jejas SCALP yang bermakna
o Bila penderita koma tanpa tanda yang jelas, dilakukan pertama pada sisi kiri
sebagai hemisfer dominan.
27

o Gambar lokasi Burr Hole

28

:: FLOATING PROSTAT ::
Adalah terdorongnya prostat kea rah cranial atau caudal yang diakibatkan oleh trauma
maupun suatu penyakit.
Floating prostat dapat ditemukan dengan melakukan pemeriksaan colok dubur (rectal
toucher). Biasanya akan didapatkan perabaan prostat mobile. Floating prostat biasa ditemukan
pada trauma uretra.
Jika terdapat floating prostat pada pemeriksaan colok dubur, maka ini merupakan
kontraindikasi tindakan pemasangan kateter urin karena hal terebut dapat menyebabkan
kerusakan uretra lebih parah / perdarahan massif.

29

:: CARA SEDERHANA MEMBEDAKAN RHINOREA/ORTORHEA PERDARAHAN


LOKAL ATAU PERDARAHAN DARI INTRAKRANIAL ::
Pada perdarahan rhinorea/ortorhea perdarahan lokal, normalnya tidak bercampur dengan CSS,
namun pada keadaan fraktur tulang tengkorak, darah yang keluar bisa bercampur dengan cairan
CSS.
Cara pemeriksaan :
Dengan menggunakan kasa treril atau tisu kering, darah yang keluar ditempelkan/ didep dengan
kasa/tisu.

Hasil positif jika resapan darah pada kasa bercampur dengan CSS, memberikan gambaran
darah yang dikelilingi resapan bening (basah yang menyebar). Kemungkinan darah
bercampur dengan CSS.

Hasil negatif jika resapan pada kain murni hanya darah, tidak dikelilingi cairan resapan
bening.

30

:: PROSEDUR RECTAL WASHOUT::


Pengertian:
Wash out adalah pemberian cairan ke dalam rectum dan kolon sampai ke lambung dengan
menggunakan selang melalui anus. Wash out diberikan untuk merangsang peristaltic dan segera
mengeluarkan feces. Wash Out pembersih digunakan untuk mengeluarkan sisa-sisa pencernaan
yang terutama dilakukan untuk pemeriksaan dengan sinar-x (rontgen) atau bila perut mengeras/
tegang karena tidak dapat platus.
Tujuan:
Prosedur ini bertujuan untuk mengosongkan isi rectum/colon dari gas, peces atau mucus dan
membilas saluran pencernaan bagian bawah untuk radiologi, persiapan operasi atau pemeriksaan
lain.
Indikasi:
irigasi usus pada bayi dan anak-anak pada beberapa keadaan/ penyakit (Hirschsprung disease,
ileus mekonium, kloaka atau stoma distal yang membutuhkan irigasi usus.
Kontra Indikasi:
1. Irigasi kolon regular.
2. Hemoroid yang mudah berdarah
3. Keganasan kolon atau rectum
Peralatan:
1. Natrium klorida hangat 0,9%. Jumlah cairan yang dianjurkan:
a. Dewasa: 700-1000 ml
b. Bayi : 150-250ml
c. Usia bermain (Toddler) : 250-350ml
d. Usia sekolah : 300-500 ml
e. Remaja : 500-700 ml
2.
3.
4.
5.

Gel pelumas (bebas alcohol)


Mangkuk
Kendi ukur
kateter/ selang (ukuran min 12)
a. Dewasa : No.22-30 G Frenceh (fr)
b. Anak-anak : No.12-18 fr
6. Spuit 50ml
7. Celemek
8. Sarung tangan
9. Handuk besar
10. Alas karet
11. Kertas toilet
12. Pispot
Prosedur:
1. Siapkan peralatan dan memastikan lingkungan yang hangat.
2. Cuci tangan, pasang apron dan sarung tangan.
3. Menjelaskan tujuan dan prosedur pemberian wash out
4. Mengatur posisi klien; miring kiri dan kaki kanan fleksi
5. Memasang alas karet di bawah bokong pasien.
31

6.
7.
8.
9.

Memasang selimut mandi dengan hanya memperlihatkan daerah anal.


Melepaskan penyumbat spuit/ pompa suit kemudian hubungkan dengan kateter.
Meleskan gel pelumas pada kateter dan anus sepanjang 7,5-10 cm.
Membuka bokong klien dengna cermat sampai anus terlihat ; menganjuurkan klien untuk
bernafas dalam dan menghmbuskan nafas melalui mulut.
10. Memasukkan kateter ke dalam rectum.
11. Memasukkan cairan nacl hangat ke dalam mangkuk, pegang kateter dengan satu tangan
kemudian isi corong spuit hingga 20ml.
12. Corong spuit ditinggikan perlahan sampai setinggi 30-45cm diatas anus. Lama waktu
pemasangan infuse terganatung dari jumlah cairan yang dialirkan (1 liter=10 menit).
13. Klem selang kateter bila cairan telah selesai dialirkan.
14. Meletakan kertas toilet sekitar anus dan mencabut selang dengan cermat.
15. Memberi tau klien bahwa perasaan kembung yang timbul,merupakan hal yang
biasa.menganjurkan klien untuk menahan cairan selama mungkin sambil berbaring dengan
tenang di tempa tidur.(untuk anak/bayi,memegang bokong anak selama beberapa menit.
16. Merapikan wadah,mencuci,mengeringkan,dan menyimpan kembali.
17. Membuka sarung tang secara terbalik,dan mambuang kepada tempatnya.
18. Mambawa klien ke toilet atau medudukannya pada pispot ; mengingatkan klien untuk tidak
menyiram toilet sebelum dilihat perawat.
19. Mengamati sifat feces dan cairan yang keluar
20. Membantu klien untuk membersihan daerah anus dengan air dan sabun.
21. Mancuci tangan
(Sumber:Leeds neonatal and paediatric services Guideline for the management of bowel
irrigation (rectal washout) for under one year old infants and children. Published August 2011)

32

:: INDIKASI INTUBASI TRAKEA ::


1. Indikasi bedah dan anestesi
- Keperluan bedah untuk obat-obatan blocking neuromuscular, cth: bedah abdomen
- Akses jalan napas yang berhubungan dengan bedah, termasuk bedah THT
- Posisi pasien yang mana akses jalan napasnya menyulitkan intubasi trakea seperti
lateral, pronasi.
- Curiga sulitnya jalan napas
- Resiko aspirasi asam lambung atau darah seperti obstruksi gastrointestinal bagian
atas atau sepsis, trauma fasial, perdarahan yang masuk ke traktus respiratorius dan
berbagai penyebab lainnya.
- Bedah yang mengganggu pertukaran gas
- Teknik pembebasan jalan napas lainnya tidak efektif
2. Indikasi illness
- Tidak mampu memproteksi jalan napas. cthnya koma karena berbagai penyebab.
- Gangguan fungsi respirasi (hipoksemia atau hiperkapnea), tidak berespon pada
tatalaksana.
- Mencegah hiperkapnea. cth: peningkatan tekanan intracranial
(Sumber: Miller, Ronald D. 2010. Millers Anesthesia Seventh Edition. US:
Elsevier)

33

:: PEMERIKSAAN COLOK DUBUR (RECTAL TOUCHER)::


Pemeriksaan ini sangat penting untuk dapat kita peroleh informasi penting untuk
menegakan diagnosa. Tetapi pemeriksaan ini sering terabaikan. Begitu pentingnya hingga pernah
dicetuskan bahwa tidak ada telunjuk untuk colok dubur, boleh digunakan jari kaki untuk colok
dubur.
Ada beberapa posisi untuk colok dubur :
1. Left lateral (Sims ) position: Rutin digunakan untuk wanita atau prosedue standar laki-laki.
Pasien miring kekiri, dengan tungkai atas kanan fleksi, sedangkan tungkai bawah kiri semi
ekstensi. Panggul harus menungging dan sejajar dengan pinggir tempat tidur.
2. Knee-elbow position :Baik untuk perabaan prostat dan vesikula seminalis.
3. Dorsal position :Pasien tidur dengan posisi setengah duduk posisi lutut ditekukkan(fleksi).
Telunjuk tangan kanan pasien masuk kedubur dengan melintasi dibawah paha kanan pasien.
Untuk bimanual palpasi tangan kiri diatas supra pubis.
4. Lithotomy position :Dilakukan pada meja operasi. Bimanual dengan telunjuk kanan pada
rektum sedang tangan kiri pada supra pubis.
Struktur anatomi yang dapat dinilai dengan colok dubur:
1. Lekukan anus. Juga dapat diraba antara spinkter otot interna dan eksterna. Biasanya dalam
keadaan neurogenik bladder spincter akan teraba melemah.
2. Anorektal ring, pertemuan antara anus dan rectum (dewasa panjangnya 2-3cm). Daerah ini
sangat penting karena lokasi abses anorektal atau fistula ani.
3. Katup Houston terbawah. Makin naik telunjuk nantinya akan teraba lipatan mukous
membran.
4. Promotorium
5. Prostat atau cervix uteri.
Prosedur Kerja Melakukan Colok Dubur:
Waktu melakukan colok dubur ini kurang menyenangkan bagi pasien, tidak jarang terasa nyeri.
Gunakan sarung tangan yang telah diberi pelicin. Untuk itu sebelum melakukan pemeriksaan
harus diberikan pesan bahwa :
1. Pemeriksaan Anus
Keadaan yang akan ditemukan:
Bila ada feses yang keras akan menyusahkan kita untuk merotasikan telunjuk kita.
Bila teraba massa tumor ,apakah lesi tersebut lunak atau keras, dimana posisi tumor
tersebut dan apakah telah memenuhi seluruh permukaan mukosa usus. Coba terus telusuri
apakah telunjuk masih bisa melalui celah tumor dan masih dapat meraba pool atas tumor.
Ukur jarak pool bawah tumor dari anus. Coba gerakan ke sekitarnya apakah tumornya
telah terfiksir pada tulang sakrum atau masih mobil (bisa digerakkan).
Kemudian bila kita keluarkan sarung tangan tersebut lihat apakah ada darahnya atau lendir.
Untuk kasus haemorhoid interna kita tidak bisa nilai dengan colok dubur karena lunak
sekali.
Pada protusio rekti biasanya teraba ujung dari protusio tersebut.
Dalam keadaan obstruksi teraba kita merasakan ampula rekti menyempit sedangkan dalam
keadaan paralisis dilatasi (balooning).
34

2. Palpasi Prostat:
Waktu melakukan palpasi prostat, buli-buli harus kosong.
Dilakukan pada posisi knee-elbow posisi atau left lateral posisi.
Gunakan telunjuk yang telah diberi pelicin dan masukan perlahan ke anus.
Perabaan prostat normalnya kenyal dan elastis. Teraba lobus medial yang dibatasi oleh
sulkus medial. Telusuri sulkus kebawah maka akan teraba bagian yang lunak berarti
kita telah sampai pada pool bawah prostat sampai pada uretra membranous, yang pada
masing-masing sisinya kadang teraba kelenjer bulbouretra (Cowper), sedangkan bila
kita telusuri keatas teraba pool atas prostat dan vesikula seminalis.Keadaan yang akan
ditemukan:
Dalam keadaaan normal vesikula seminalis ini tidak teraba.
Dalam keadaan prostatitis kronis, prostat teraba membesar, agak panas dan nyeri
tekan.
Pada keganasan prostat yang asimptomatik yang lokasinya pada lobus lateral yang
dalam dan lobus medius tidak dapat diraba melalui rectal. Bila terletak pada
permukaan kapsul teraba nodul, konsistensi keras, dalam keadaan lanjut prostat
irreguler, sulkus medianus obliterasi dan kadang ukuran prostat membesar.
(Sumber: Hamilton Bailey : Demonstration of Phisical Signs in Clinical
Surgery Ed 17: 1992 rev.2008 : ELBS: Great Britain)

35

:: PERBEDAAN ILEUS PARALITIK DAN ILEUS OBSTRUKTIF ::


Definisi

Etiologi

Diagnosis
Anamnesis

Ileus Obstruktif
Ileus Paralitik
Keadaan dimana usus
Penyumbatan mekanis pada usus
gagal/tidak mampu melakukan
sehungga menutup dan mengganggu
kontraksi peristaltik
jalanya isi usus.
Adhesi (perlekatan usus
Neurologik:
- Pasca operasi
halus)
- Kerusakan medula spinalis
Hernia inkarserata eksternal
(inguinal, femoral, umbilikal, - Keracunan timbal kolik ureter
- Iritasi persarafan splanknikus
insisional, atau
- Pankreatitis
parastomal)
Metabolik:
Neoplasma
- Gangguan keseimbangan
Intususepsi usus halus
elektrolit (terutama hipokalemia)
Penyakit Crohn
- Uremia
Volvulus
- Komplikasi DM
- Penyakit sistemik seperti SLE,
Batu empedu yang masuk ke
sklerosis multipel
ileus
Benda asing, seperti bezoar. Obat-obatan
- Narkotik
Divertikulum Meckel
- Antikolinergik
Fibrosis kistik
- Katekolamin
- Fenotiasin
- Antihistamin
Infeksi
- Pneumonia
- Empiema
- Urosepsis
- Peritonitis
- Infeksi sistemik berat lainnya
Iskemia usus
Nyeri abdomen, muntah,
distensi, kegagalan BAB
(konstipasi) & buang gas

Kembung, anoreksia, konstipasi,


kadang-kadang muntah

Inspeksi

Tanda dehidrasi, distensi


abdomen, tampak gelisah &
mengeliat saat nyeri kolik

Distensi abdomen

Perkusi

Hipertimpani

Timpani

Nyeri tekan, defance muskular,

Perasaan tidak enak di perut, nyeri

36

Palpasi

masa abdominal

tekan (-), nyeri lepas (-)

Auskultasi

Bunyi rush diantara masa


tenang (metalic sound)

Bising usus lemah atau jarang,


bahkan tidak terdengar sama sekali

Radiologi

Gambaran dilatasi usus + air


fluid level step ladder (pola
anak tangga)

Air fluid level berupa suatu gambaran


line up (segaris)

Baik bila diagnosis dan tindakan


dilakukan dengan cepat

Bail bila penyakit primer dapat


diatasi

Diagnosis

Sumber : IPD jilid 1 dan ileus obtruktif FK Riau

:: TERAPI CAIRAN PADA ILEUS TANPA DEHIDRASI ::


kebutuhan normal cairan dan elektrolit harian orang dewasa rata-rata membutuhkan cairan 3035 ml/kgBB/hari dan elektrolit utama Na+=1-2 mmol/kgBB/hari dan K+=1 mmol/kgBB/hari

37

:: RUANG TRAUBE (TRAUBE SPACE) ::


Ruang Traube adalah ruang dengan bentuk bulan sabit di dalam perut. Penanda ruang Traube
pada permukaan perut adalah costae keenam, garis mid-aksilaris kiri dan margin
costae kiri.Perkusi harus dilakukan pada satu atau lebih tingkat Traube ruang dari medial
kelateral. batas anatominya adalah:1. Kanan: tepi bawah lobus kiri hati.2. Kiri: bagian anterior
dari limpa.3. Superior: tepi bawah paru kiri (paru Resonansi).

38

:: PPOK ::
KLASIFIKASI PPOK(dikutip dari GOLD 2010)

39

Penatalaksanaan menurut derajat PPOK(dikutip dari GOLD 2010)

Derajat dan rekomen-dasi pengobat-an PPOK


DERAJAT
Semua derajat
Derajat I (PPOK
Ringan)

Derajat II(PPOK
sedang)

Derajat III(PPOK
Berat)

KARAKTERISTIK

REKOMENDASI PENGOBATAN
Hindari faktor pencetus
Vaksinasi influenza
VEP1 / KVP < 70
a. Bronkodilator kerja singkat (SABA, antikolinergik
%VEP1 80%
kerja pendek) bila perlu
Prediksi
b. Pemberian antikolinergik kerja lama sebagai terapi
pemeliharaan
VEP1 / KVP < 70
1. Pengobatan reguler dengan
Kortikosteroid
%50% VEP1
bronkodilator:
inhalasi bila
80% Prediksi
a. Antikolinergik kerja lama uji steroid
dengan atau tanpa
sebagai terapi
positif
gejala
pemeliharaan
b. LABA
c. Simptomatik
2. Rehabilitasi
VEP1 / KVP < 70%;
1. Pengobatan reguler dengan 1 atau Kortikosteroid
30% VEP1 50%
lebih bronkodilator:
inhalasi bila
prediksiDengan atau
a. Antikolinergik kerja lama uji steroid
40

tanpa gejala

Derajat IV(PPOK
sangat berat)

VEP1 / KVP < 70%;


VEP1 < 30%
prediksi atau gagal
nafas atau gagal
jantung kanan

sebagai terapi
positif atau
pemeliharaan
eksaserbasi
b. LABA
berulang
c. Simptomatik
2. Rehabilitasi
1. Pengobatan reguler dengan 1 atau lebih
bronkodilator:
a. Antikolinergik kerja lama sebagai terapi
pemeliharaan
b. LABA
c. Pengobatan komplikasi
d. Kortikosteroid inhalasi bila memberikan
respons klinis atau eksaserbasi berulang
2. Rehabilitasi
3. Terapi oksigen jangka panjang bila gagal nafas
4. Pertimbangkan terapi bedah

41

Keterangan:

Kortikosteroid hanya diberikan pada penderita dengan uji steroid positif. Uji steroid
positif apabila dengan pemberian steroid oral selama 10-14 hari menunjukan perbaikan
gejala klinis dan fungsi paru

SABA: short acting beta 2 angonist; LABA: long acting beta 2 angonist

42

43

Terapi medikamentosa PPOK


Obat
Antikolinergik
Ipratropium
Tiotropium
Agonis 2 kerja
singkat
Fenoterol
Salbutamol
Terbutalin
Prokaterol
Agonis 2 kerja lama
Formoterol
Indacaterol
Salmeterol
Terapi kombinasi
Fenoterol +
Ipratropium
Salbutamol +
Ipratropium
Flutikason +
Salmeterol
Budesonid +
Formoterol
Metilxantin
Aminofilin
Teofilin LL

IDT/ISK

Nebulizer
(mg)

Oral (mg)

Vial Injeksi

Lama Kerja
(Jam)

40-80
18

0,25-0,50

6-8
24

100-200
100-200
250-500
10

0,5-2,0
2,5-5,0
5-10
0,03-0,05

2-4
2,5-5
0,25-0,5

4-6
4-6
4-6
6-8

4,5-12
150-300
50-100

12
24
12

200 + 20

4-8

75 + 15
50/125 + 25

2,5 + 0,5

4-8

12

80/160 +
4,5
-

12
-

200
100-400

(Sumber: PPOK di Perhimpunan Dokter Paru Indonesia, 2003)

44

240

4-6
Bervariasi,
bisa sampai
24 jam

:: RIWAYAT ALAMIAH GAGAL GINJAL KRONIK ::


Riwayat alamiah gagal ginjal kronik dapat dibagi menjadi 3 stadium yaitu:
1. Stadium I
Stadium pertama ini dinamakan penurunan cadangan ginjal. Pada stadium ini kreatinin serum
dan kadar BUN normal (10-20 mg per 1000 ml), dan penderita asimtomatik. Gangguan fungsi
ginjal hanya dapat diketahui dengan memberi beban kerja yang berat pada ginjal tersebut, seperti
tes pemekatan urine yang lama atau dengan mengadakan tes LFG yang teliti.
2. Stadium II
Stadium kedua perkembangan ini disebut insufisiensi ginjal, dimana lebih dari 75% jaringan
yang berfungsi telah rusak (LFG besarnya 25% dari normal). Pada tahap ini kadar BUN baru
mulai meningkat di atas batas normal dan kadar kreatinin serum juga mulai meningkat melebihi
kadar normal. Pada stadium ini pula gejala-gejala nokturia dan poliuria mulai timbul. Gejalagejala ini timbul sebagai respon terhadap stress dan perubahan makanan atau minuman yang
tiba-tiba.
3. Stadium III
Stadium ketiga atau stadium akhir gagal ginjal kronik disebut gagal ginjal stadium akhir atau
uremia. Gagal ginjal stadium akhir timbul apabila sekitar 90% dari massa nefron telah hancur,
atau hanya sekitar 200.000 nefron saja yang masih utuh. Nilai LFG hanya 10% dari keadaan
normal, dan bersihan kreatinin mungkin sebesar 5-10 ml per menit atau kurang. Pada keadaan ini
kreatinin serum dan kadar BUN akan meningkat. Pada stadium akhir gagal ginjal, penderita
mulai merasakan gejala-gejala yang cukup parah, penderita biasanya menjadi oligurik
(pengeluaran kemih kurang dari 500 ml/hari) karena kegagalan glomerulus meskipun proses
penyakit mula-mula menyerang tubulus ginjal. Pada stadium akhir gagal ginjal, penderita pasti
akan meninggal kecuali kalau ia mendapat pengobatan dalam bentuk transplantasi ginjal atau
dialisis.

Rumus perhitungan laju filtrasi glomerulus :


LFG (ml/menit/1,73 m2) =
(140-usia) x BB
72 x kreatinin serum
45

:: TERAPI ANTIBIOTIC UNTUK PENGOBATAN ISK ::

46

:: HIPOGLIKEMIA DAN CARA MENGATASINYA ::


47

Defisini
Hipoglikemia ditandai dengan menurunnya kadar glukosa darah < 60 mg/dL. atau kadar glukosa
darah ,<80 mg/dL,dengan gejala klinis. Hipoglikemia pada DM terjadi karena;
- Kelebihan obat / dosis obat ; terutama insulin ,atau obat hipoglikemia oral.
- Kebutuhan tubuh akan insulin yang relatif menurun ; gagal ginjal kronik pasca persalinan.
- Asupan makan tidak adekuat ; jumlah kalori atau waktu makan tidak tepat
- Kegiatan jasmani berlebihan.
Bila terdapat penurunan kesadaran pada penyandang diabetes harus selalu dipikirkan
kemungkinan terjadinya hipoglikemia. Hipoglikemia paling sering disebabkan oleh penggunaan
sulfonilurea dan insulin. Hipoglikemia pada usia lanjut merupakan suatu hal yang harus
dihindari, mengingat dampaknya yang fatal atau terjadinya kemunduran mental bermakna pada
pasien. Perbaikan kesadaran pada DM usia lanjut sering lebih lambat dan memerlukan
pengawasan yang lebih lama.
Gejala dan tanda klnis.
- Stadium parasimpatik ; lapar,mual,tekanan darah turun.
- Stadium gangguan otak ringan ; lemah lesu ,sulit bicara ,kesulitan menghitung sementara.
- Stadium simpatik; keringat dingin pada muka ,bibir atau tangan gemetar.
- Stadium gangguan otak berat ;tidak sadar,dengan atau tanpa kejang
- Pemeriksaan fisik ; pucat,diaphoresis,tekanan darah ,frekuensi denyut jantung ,penurunan
kesadaran ,deficit neurologik fokal transient.
- Trias whipple untuk hipoglikemia secara umum;
1,gejala yang konsisten dengan hipoglikemia
2,kadar glukosa plasma rendah
3,Gejala mereda setelah kadar glukosa plasma meningkat.
Pemeriksaan penunjang
Kadar glukosa darah (GD) ,tes fungsi ginjal ,tes fungsi hati ,C- peptide
Terapi
Stadium permulaan ( sadar )
-

Berikan gula murni 30 gram ( 2 sendok makan ) atau sirop /permen atau gula murni ( bukan
pemanis pengganti gula atau gula diit /gula diabetes ) dan makanan yang mengandung
karbohidrat.
Hentikan obat hipoglikemik sementara
Pantau glukosa darah sewaktu tiap 1-2 jam
Pertahankan GD sekitar 200 mg/dL ( bila sebelumnya tidak sadar)
Cari penyebab

Stadium lanjut (koma hipoglikemia atau tidak sadar dan curiga hipoglikemia );
- Diberikan larutan destrosa 40% sebanyak 2 flakon (=50 mL)bolus intra vena ,
- Diberikan cairan dekstrosa 10 % per infuse ,6 jam perkolf
- Periksa GD sewaktu (GDs) ,kalau memungkinkan dengan glukometer ;
-

Bila GDs < 50 mg /dL-- + bolus dekstrosa 40% 50 ml IV


Bila GDs < 100 mg /dL --+ bolus dekstrosa 40 % 25 mL IV
48

periksa GDs setiap satu jam setelah pemberian dekstrosa 40%


- bila GDs < 50 mg/dL -- + bolus dekstrosa 40 % 50 mL IV
- bila GDs <100 mg/dL -- +bolus dekstrosa 40 % 25 mL IV
- bila GDs 100 200 mg /dL -- tanpa bolus dekstrosa 40 %
- bila GDs > 200 mg/dL pertimbangan menurunkan kecepatam drip dekstrosa 10 %
Bila GDs > 100 mg/dL sebanyak 3 berturut turut ,pemantauan GDs setiap 2 jam ,dengan
protocol sesuai diatas ,bila GDs >200 mg/dL pertimbangkan mengganti infuse dengan
dekstrosa 5 % atau NaCI 0,9 %.
Bila GDs >100 mg/dL sebanyak 3 kali berturut- turut ,pemantauan GDs setiap 4 jam , dengan
protocol sesuai diatas .bila GDs > 200 mg/dL pertimbangkan mengganti infuse dengan
dekstrosa 5 % atau NaCI 0.9 %
Bila GDs > 100 mg/dL sebanyak 3 kali berturut-turut ,slinding scale setiap 6 jam :
Gula darah (mg/ dL)
Insulin(unit, subkutan)
<200
0
200-250
5
250-300
10
300-350
15
>350
20
bila hipoglikemia belum teratasi ,dipertimbangkan pemberian antagonis insulin seperti ;
adrenalin ,kortison dosis tinggi ,atau glikagon 0,5-1 mg IV / IM ( bila penyebabnya insulin ).
bila pasien belum sadar ,GDs sekitar 200 mg / dL .hidrokortison 100 mgper 4 jam selama 12
jam atau deksametason 10 mg IV bolus dilanjutkan 2 mg tiap 6 jam dan manitol 1,5 - 2
g/kgBB IV setiap 6-8 jam ,cari penyebab lain penurunan kesadaran.

(Sumber:
2006)

PERKENI,

49

:: APPENDISITIS ::

50

1. Pengertian

2. Etiologi

3. Patofisiologi

4. Gejala Klinis

5. Pemeriksaan Fisik

Pemeriksaan
Penunjang

Apendisitis merupakan peradangan pada appendix vermiformis.


Obstruksi lumen (disbbn oleh fekalit), hipertrofi
jaringan limfoid, sisa barium dari pemeriksaan roentgen, diet
rendah serat, dan cacing usus termasuk ascaris. Trauma tumpul
atau trauma karena colonoscopy. erosi mukosa apendiks karena
parasit seperti E. Histolytica. kebiasaan makan makanan rendah
serat dan pengaruh konstipasi
Tekanan yang meningkat tersebut akan menyebabkan apendiks
mengalami hipoksia, menghambat aliran limfe, terjadi ulserasi
mukosa dan invasi bakteri.
1. Nyeri abdominal kanan bawah (titik Mc Burney)
2. Mual-muntah biasanya pada fase awal.
3. Nafsu makan menurun.
4. Obstipasi dan diare pada anak-anak.
5. Demam, terjadi bila sudah ada komplikasi, bila belum ada
komplikasi biasanya tubuh belum panas. Suhu biasanya berkisar
37,5-38,5 C, Bila suhu lebih tinggi, mungkin sudah terjadi
perforasi

Inspeksi : penderita berjalan sambil bungkuk dan


memegang perut. Kembung sering terlihat pada
penderita dengan komplikasi perforasi
Palpasi : Dengan palpasi di daerah titik Mc. Burney didapatkan
tanda-tanda
peritonitis lokal yaitu:
Nyeri tekan di Mc. Burney
Nyeri lepas
Defans muscular lokal. Defans muscular menunjukkan adanya
rangsangan peritoneum parietal.
Auskultasi : Peristaltik usus sering normal. Peristaltik dapat
hilang karena ileus paralitik pada peritonitis generalisata akibat
appendisitis perforata.
Psoas sign. Tes Obturator.
Pemeriksaan Laboratorium:
a. Pemeriksaan darah : akan didapatkan leukositosis, Creaktif
protein meningkat. LED akan
meningkat.
b. Pemeriksaan urin : untuk melihat adanya eritrosit, leukosit dan
bakteri di dalam urin
Abdominal X-Ray : Digunakan untuk melihat adanya fecalith
sebagai penyebab appendisitis.
USG : USG dapat 51
dipakai untuk menyingkirkan diagnosis banding seperti
kehamilan ektopik,
adnecitis dan sebagainya.

Skor Alvarado untuk diagnosis Appendisitis akut:


Gejala dan tanda

Skor

Nyeri berpindah

Anoreksia

Mual-muntah

Nyeri fossa iliaka kanan

Nyeri lepas
Peningkatan suhu > 37,3 o C

1
1

Jumlah leukosit > 10 x 103/ L

Jumlah neutrophil > 75%

Keterangan
Total skor: 10
Keterangan Alavarado score :
- Dinyatakan appendicitis akut bila > 7 point
Modified Alvarado score (Kalan et al) tanpa
observasi of Hematogram:
- 1 4 dipertimbangkan appendicitis akut
- 5 6 possible appendicitis tidak perlu
operasi
- 7 9 appendicitis akut perlu pembedahan
Penanganan berdasarkan skor Alvarado :

- 1 4 : observasi
- 5 6 : antibiotic
- 7 10 : operasi dini

:: ASMA::
Klasifikasi derajat asma berdasarkan gambaran klinis secara umum pada orang dewasa:

Klasifikasi derajat asma pada anak:

52

Obat-obat asma:

Tahapan pengobatan asma dibagi menjadi lima tahapan yaitu:


53

Tahap 1

Tahap 2

Gejala asma sangat jarang


Faal paru normal
Bila tidak ada riwayat

kortikosteroid inhalasi, maka pasien diberikan obat pelega.


Obat rekomendasi: agonis beta-2 kerja singkat (SABA) inhalasi.
Alternatif lainnya adalah SABA oral, kombinasi oral SABA dan

teofilin/aminofilin atau antikolinergik kerja singkat inhalasi.


Tahap 2 sampai dengan 5, pengobatan pengontrol teratur jika

perlu
Ditemukan gejala asma dan eksaserbasi atau perburukan yang

pengobatan dengan

pengontrol

periodik, dengan atau tanpa riwayat pengobatan kortikosteroid


inhalasi sebelumnya, maka diberikan pengontrol kortikosteroid
-

inhalasi dosis rendah dan pelega jika perlu.


Alternatif pengontrol lainnya adalah anti-leukotrien bagi pasien
yang tidak tepat menggunakan kortikosteroid inhalasi dan

pasien dengan rhinitis alergika.


Selain itu, dapat pula diberikan teofilin lepas lambat kepada

pasien dengan gangguan asma malam hari.


Kortikosteroid bekerja dengan menghambat metabolisme asam
arakidonat, mencegah migrasi sel inflamasi, dan meningkatkan
sensitivitas reseptor beta. Kortikosteroid yang diberikan secara
inhalasi merupakan antiinflamasi paling poten, tetapi

dapat

menimbulkan efek samping berupa kandidiasis oral dan


disfonia. Uniknya, kombinasi tetap kortikosteroid inhalasi dan
beta agonis dapat meningkatkan sintesis reseptor, menurunkan
Tahap 3

desentisasi reseptor, dan efek sinergi


Tahap ini untuk pasien yang tidak kunjung membaik di tahap 2
selama kurang-lebih 12 minggu dan diyakini tidak ada masalah

lain seperti kepatuhan, pencetus, dan lain-lain.


Pasien diberikan pengontrol kombinasi inhalasi dosis rendah
dan agonis beta-2 kerja lama (LABA) yang disebut LABACS.

Tahap 4

Alternatif lainnya sama dengan tahap 2.


Jika tidak kunjung membaik, maka pasien dirujuk ke spesialis

asma
Tahapan setelah tahap 3 dimana harus dinilai apakah gejala
54

pasien sudah terkontrol sebagian atau belum terkontrol,


-

kepatuhan pasien, komorbiditas, dan pencetus.


Pengobatan yang diberikan adalah LABACS

kortikosteroid inhalasi diberikan dalam dosis sedang-tinggi.


Pemberian kortikosteroid dosis sedang dianjurkan melalui IDT

dimana

(inhalasi dosis terukur) dan spacer untuk meningkatkan


penghantaran obat ke saluran napas
(Sumber: Perhimpunan Dokter Paru Indonesia. Asma Pedoman & Penatalaksanaan di Indonesia,
2004 dan DAI (Dewan Asma Indonesia Tahun 2011)
:: TERAPI OKSIGEN ::
1. Tujuan
:
a. meningkatkan konsentrasi oksigen pada darah arteri sehingga masuk ke
jaringan untuk memfasilitasi metabolisme aerob
b. Mempertahankan PaO2 > 60 mmHg atau SaO2 > 90 % untuk :
Mencegah dan mengatasi hipoksemia/hipoksia serta mempertahankan
oksigenasi jaringan yang adekuat
Menurunkan kerja napas dan miokard
Menilai fungsi pertukaran gas
Oksigen aliran rendah cocok untuk pasien stabil dengan pola napas, frekuensi dan
volume ventilasi normal, misalnya klien dengan volume tidal 500 ml dengan
kecepatan pernapasan 16-20 kali per menit. Contoh sistem aliran rendah :
a. Low flow consentration
Kateter nasal
Kateter nasal/kanul binasal/nasal prong
b. Low flow high consentration
Sungkup muka sederhana
Sungkup muka dengan kantong re-breathing
Sungkup muka dengan kantong non-rebreathing
Tabel 1. Alat suplementasi oksigen, kecepatan aliran dan persentase oksigen yang
dihantarkan

ALat
Kanul nasal

Sungkup muka
sederhana

Kecepatan aliran
1 L/menit
2 L/menit
3 L/menit
4 L/menit
5 L/menit
Max :6 L/menit
6-10 L/menit

55

% oksigen
21-24
25-28
29-32
33-36
37-40
41-44
35-60

Sungkup muka dengan


reservoir oksigen

6 L/menit
7 L/menit
8 L/menit
9 L/menit
10-15 L/menit

60
70
80
90
95-100

Sungkup muka venturi

4-8 L/menit
10-12 L/menit

24-35
40-50

Tabel 2.
Nilai oksimetri
denyut (%)
95 - 100
90 - < 95
85 - < 90

Arti klinis
Dalam batas
normal
Hipoksia ringansedang
Hipoksia sedangberat

Pilihan alat
suplementasi O2
O2 4 L/menit
Sungkup muka
sederhana
Sungkup muka
dengan
reservoir O2
Ventilasi
dibantu

Indikasi
Pasien yang
dicurigai SKA

< 85

Hipoksemia berat
yang mengancam
nyawa

Ventilasi dibantu

56

Sakit kritis,
kesadaran
masih baik,
ventilasi
adekuat tetapi
membutuhkan
O2 konsentrasi
tinggi
Sebelum ada
indikasi
intubasi
endotrakea;
edema paru
akut, asma
akut, PPOK
atau pasien
tidak sadar
tetapi ventilasi
adekuat
dengan refleks
batuk masih
ada

Sumber : Karo, Santoso, dkk. 2012. Buku Panduan Kursus Bantuan Hidup Lanjut
ACLS Indonesia. Jakarta : Perhimpunan Dokter Spesialis Kardiovaskuler Indonesia
(PERKI)

:: PERBEDAAN GAGAL JANTUNG KANAN DAN GAGAL JANTUNG KIRI ::


DETERMINAN
Definsi

Gejala klinis

Foto rontgen

GAGAL JANTUNG
KANAN
Sisi jantung kanan tidak
mampu mengosongkan
volume darah dengan
adekuat sehingga tidak dapat
mengakomodasi darah secara
normal kembali dari sirkulasi
vena
Pitting edema
Hepatomegali
Distensi vena jugularis
Asites
Anoreksia dan mual
Lemah
nokturia

Kardiomegali (pembesaran
57

GAGAL JANTUNG KIRI


Ventrikel kiri tidak mampu
memompa darah dari paru
sehingga terjadi peningkatan
tekanan sirkulasi paru
mengakibatkan cairan
terdorong ke jaringan paru

dispnea d effort (DEO)


orthopnea
paroxsismal nokturnal
dipsnea
batuk
takikardia
ronkhi halus di basal paru
bunyi jantung S3 (gallop)
pernapasan cheyne-stokes
Kardiomegali (pembesaran

atrium kanan)

ventrikel kiri
Kongesti vaskuler paru
Laboratorium
Spesifik gangguan fungsi Spesifik analisis gas darah
hepar : AST/SGOT
: alkalosis respiratori ringan
meningkat, ALT/SGPT, PT
(dini), hipoksemia dengan
memanjang
peningkatan pCO2 (akhir)
EKG
Tidak spesifik tergantung penyebab awal :
Normal pada 10 % kasus
Gelombang Q patologis
Abnormalitas ST T
Hipertrofi ventrikel kiri
Bundle branch block
Fibrilasi atrium
Sumber : Buku Ajar Kardiologi FKUI

58