Anda di halaman 1dari 2

Home

Daftar Urut

Perihal

Buku Tamu

`Umar Ibn al-Khattab


27 Oktober 2009 at 23:00
`Umar Ibn al-Khattab adalah khalifah kedua, dan mungkin terbesar dari semua
khalifah Islam. Dia sejaman namun lebih berusia muda ketimbang Nabi
Muhammad. Dan seperti juga Muhammad, dia kelahiran Mekkah. Tahun
kelahirannya tidak diketahui, tetapi menurut taksiran tahun-586.
Asal-muasalnya `Umar Ibn al-Khattab merupakan musuh yang paling ganas dan beringas,
menentang Muhammad dan Agama Islam habis-habisan. Tetapi, mendadak dia memeluk
agama baru itu dan berbalik menjadi pendukung gigih. (Ini ada persamaannya yang menarik
dengan ihwal St. Paul terhadap Kristen). `Umar Ibn al-Khattab selanjutnya menjadi penasihat
terdekat Nabi Muhammad dan begitulah dilakukannya sepanjang umur Muhammad.
Tahun 632 Muhammad wafat, tanpa menunjuk penggantinya. Umar dengan cepat mendukung
Abu Bakr sebagai pengganti, seorang kawan dekat Nabi dan juga mertua beliau. Langkah ini
mencegah ada kekuatan dan memungkinkan Abu Bakr secara umum diakui sebagai khalifah
pertama, semacam pengganti Nabi Muhammad. Abu Bakar merupakan pemimpin yang
berhasil tetapi beliau wafat sesudah jadi khalifah hanya selama dua tahun. Tetapi, Abu Bakr
menunjuk `Umar jadi khalifah tahun 634 dan memegang kekuasaan hingga tahun 644 tatkala
dia terbunuh di Madinah oleh perbuatan seorang budak Persia. Di atas tempat tidur menjelang
wafatnya, `Umar menunjuk sebuah panita terdiri dari enam orang untuk memilih
penggantinya. Dengan demikian lagi-lagi kesempatan adu kekuatan untuk kekuasaan terjauh.
Panitia enam orang itu menunjuk `Uthman selaku khalifah ke-3 yang memerintah tahun 644656.
Dalam masa kepemimpinan sepuluh tahun `Umar itulah penaklukan-penaklukan penting
dilakukan orang Arab. Tak lama sesudah `Umar pegang tampuk kekuasaan sebagai khalifah,
pasukan Arab menduduki Suriah dan Palestina, yang kala itu menjadi bagian Kekaisaran
Byzantium. Dalam pertempuran Yarmuk (636), pasukan Arab berhasil memukul habis
kekuatan Byzantium. Damaskus jatuh pada tahun itu juga, dan Darussalam menyerah dua
tahun kemudian. Menjelang tahun 641, pasukan Arab telah menguasai seluruh Palestina dan
Suriah, dan terus menerjang maju ke daerah yang kini bernama Turki. Tahun 639, pasukan
Arab menyerbu Mesir yang juga saat itu di bawah kekuasaan Byzantium. Dalam tempo tiga
tahun, penaklukan Mesir diselesaikan dengan sempurna.
Penyerangan Arab terhadap Irak yang saat itu berada di bawah kekuasaan Kekaisaran Persia
telah mulai bahkan sebelum `Umar naik jadi khalifah. Kunci kemenangan Arab terletak pada
pertempuran Qadisiya tahun 637, terjadi di masa kekhalifahan `Umar. Menjelang tahun 641,

seseluruh Irak sudah berada di bawah pengawasan Arab. Dan bukan cuma itu: pasukan Arab
bahkan menyerbu langsung Persia dan dalam pertempuran Nehavend (642) mereka secara
menentukan mengalahkan sisa terakhir kekuatan Persia. Menjelang wafatnya `Umar di tahun
644, sebagian besar daerah barat Iran sudah terkuasai sepenuhnya. Gerakan ini tidak berhenti
tatkala `Umar wafat. Di bagian timur mereka dengan cepat menaklukkan Persia dan bagian
barat mereka mendesak terus dengan pasukan menyeberang Afrika Utara.
Sama pentingnya dengan makna penaklukan-penaklukan yang dilakukan `Umar adalah
kepermanenan dan kemantapan pemerintahannya. Iran, kendati penduduknya masuk Islam,
berbarengan dengan itu mereka memperoleh kemerdekaannya dari pemerintahan Arab. Tetapi
Suriah, Irak dan Mesir tidak pernah peroleh hal serupa. Negeri-negeri itu seluruhnya diArabkan hingga saat kini.
`Umar sudah barangtentu punya rencana apa yang harus dilakukannya terhadap daerahdaerah yang sudah ditaklukkan oleh pasukan Arab. Dia memutuskan, orang Arab punya hakhak istimewa dalam segi militer di daerah-daerah taklukan, mereka harus berdiam di kotakota tertentu yang ditentukan untuk itu, terpisah dari penduduk setempat. Penduduk setempat
harus bayar pajak kepada penakluk Muslimin (umumnya Arab), tetapi mereka dibiarkan
hidup dengan aman dan tenteram. Khususnya, mereka tidak dipaksa memeluk Agama Islam.
Dari hal itu sudahlah jelas bahwa penaklukan Arab lebih bersifat perang penaklukan
nasionalis daripada suatu perang suci meskipun aspek agama bukannya tidak memainkan
peranan.
Keberhasilan `Umar betul-betul mengesankan. Sesudah Nabi Muhammad, dia merupakan
tokoh utama dalam hal penyerbuan oleh Islam. Tanpa penaklukan-penaklukannya yang
secepat kilat, diragukan apakah Islam bisa tersebar luas sebagaimana dapat disaksikan
sekarang ini. Lebih-lebih, kebanyakan daerah yang ditaklukkan dibawah pemerintahannya
tetap menjadi Arab hingga kini. Jelas, tentu saja, Muhammadlah penggerak utamanya jika dia
harus menerima penghargaan terhadap perkembangan ini. Tetapi, akan merupakan kekeliruan
berat apabila kita mengecilkan saham peranan `Umar. Penaklukan-penaklukan yang
dilakukannya bukanlah akibat otomatis dari inspirasi yang diberikan Muhammad. Perluasan
mungkin saja bisa terjadi, tetapi tidaklah akan sampai sebesar itu kalau saja tanpa
kepemimpinan `Umar yang brilian.
Memang akan merupakan kejutan buat orang Barat yang tidak begitu mengenal `Umar
membaca penempatan orang ini lebih tinggi dari pada orang-orang kenamaan seperti
Charlemagne atau Julius Caesar dalam urutan daftar buku ini. Soalnya, penaklukan oleh
bangsa Arab di bawah pimpinan `Umar lebih luas daerahnya dan lebih tahan lama dan lebih
bermakna ketimbang apa yang diperbuat oleh Charlemagne maupun Julius Caesar.