Anda di halaman 1dari 29

Bab 2 .

akuntansi kas dan bank, akuntansi piutang, akuntansi


persediaan

PENDAHULUAN
Kas dan Bank, biasanya dilaporkan ke dalam satu akun, menunjukkan informasi
tentang saldo uang kas dan simpanan di bank yang dimiliki oleh suatu perusahaan.
Dilain pihak, akun bank menujukkan saldo perusahaan dibank yang dapat
digunakan untuk kepentingan perusahaan. Dalam kas dan bank ini tidak termasuk
dana disisihkankan untuk kepentingan tujuan tertentu, seperti persedian prangko dan
materai, rekening giro pada bank di luar negeri, cek mundur, atau cek kurang dari
pihak ketiga.
A AKUNTANSI KAS/PENGENDALIAN KAS
Uang kas ini sangat mudah di pindah tangankan dan mngkin juga tidak dapat di
buktikan, sehingga pengendalian kas yang ketat sangatlah penting, terutama sekali
pada pengendalian internalnya. Bentuk-bentuk prosedur pengendaliannya terlihat
antara lain:
Untuk penerimaan uang:
1

Harus di tunjukkan dengan jelas fungsi-fungsi dalam penerimaan kas dan

setiap penerimaan kas itu harus segera di catat dan di setor ke bank;
Diadakan pemisahan fungsi antara penguruan kas dengan fumgsi pencatatan

kas;
Diadakan pengawasan yang ketar terhadap fungsi penerimaan dan pencatatan

kas;
Dibuatnya laporan kas untuk setiap hari sebagai pertanggung jawaban kas;
Untuk pengeluaran uang:
Pengeluaran uang harus menggunakan cek, kecuali pengeluaran-pengeluaran

6
7

yang jumlahnya kecil, yaitu menggunakan kas kecil;


Di bentuk kas kecil;
Diadakan pemisahan diantara pihak yang mengumpulkan bukti pengelaran,

yang menulis cek dan yang mendatangani cek serta yang mencatat
pengeluaran kas;

17

Bab 2 . akuntansi kas dan bank, akuntansi piutang, akuntansi


persediaan

8
9

Pemeriksaan internal pada jangka waktu yang tidak tertentu;


Di buat laporan pengeluaran kas harian sebagai pertanggung jawaban;

Pengelolaan dan Sistem Pencatatan Kas Kecil

Dana kas kecil disediakan untuk membayar pegeluaran-pengeluaran yang


jumlahnya relatif kecil. Pengelola kas kecil adalah kasir yang bertanggung jawab
terhadap pembayaran-pembayaran yang mealui kas kecil. Ada dua metode yang
digunakan untuk mengelola kas kecil ini yaitu:
a

Imprest Menthod

Pada metode atau sistem imprest, jumlah pada akun kas kecil selalu
tetap,yaitu sebesar cek yang di serahkan kepada kasir kecil untuk membentuk dana
kas kecil. Kasir kas kecil selalu menguangkan cek ke bank yang di gunakan untuk
membayar pengeluaran kecil dan setiap melakukan pembayaran, kasir kas kecil
membuat bukti peneluaran pencatatan pngeluaran dilakukan pada saat pengisian
kembali.
Contoh:
PT Maju pada tanggal 1 September 2014 membentuk dana kas kecil sebesar
Rp1.000.000,00. Pengeluaran kas kecil sampai dengan 16 September 2014 sebesar
Rp800.000,00. Dengan perincian berikut.
Beban BBM Motor Operasional

Rp400.00,00

Beban Alat Tulis Kantor

Rp100.000,00

Beban Angkut

Rp200.000,00

Beban Administrasi Kantor

Rp100.000,00

18

Bab 2 . akuntansi kas dan bank, akuntansi piutang, akuntansi


persediaan

Total

Rp800.000,00

Pada tanggal 16 September 2014 dilakukan pengisian kembali.


Ayat jurnal yang di susun atas transaksi di atas adalah sebagai berikut.
a

Saat pengisian kas kecil.


Tgl

Akun

1 Sep 2014

Debit (Rp)

Kas Kecil

1.000.000,00
Bank

b
c

Kredit (Rp)
1.000.000,00

Saat pengeluaran kas.


Tidak perlu jurnal.
Saat pengisian kembali
Tgl

Akun

Debit (Rp)

Kredit
(Rp)

16

Sep Beban

2014

BBM

Motor 400.000,0

Operasional
Beban Alat Tulis Kantor
Beban Angkut
Beban Administrasi
Bank

0
100.000,0
0
200.000,0

800.000,0
0

0
100.000,0
0

b Fluctuation Method
Metode fluctuasi (fluctuation method) tidak berbeda dengan metode imprest
dalam hal pembentukan dana. Namun dalam metode fluktuasi, saldo uang yank di
catat pada akun kas kecil selalu berubah (tidak tetap). Fluktuasi tersebut sesuai
dengan jumlah pengisihan kembali dan pengeluaran-pengeluaran dari kas kecil.
Contoh:
19

Bab 2 . akuntansi kas dan bank, akuntansi piutang, akuntansi


persediaan

PT Andalas membentuk dana kas kecil sebesar Rp500.000,00 pada tanggal 1


Desember2014. Transaksi yang terjai selanjutnya sebagai berikut.
3 Desember 2014

Membayar langganan surat kabar

8 Desember 2014

Membeli

buku-buku

dan

Rp60.000,00
alat-alat

tulis

Rp120.000,00
12 Dwsember 2014

Membayar rekening listrik

15 Desember 2014

Mengisi kembali dana kas kecil

Rp220.000,00

Rp200.000,00
Ayat jurnal yang di buat untuk transaksi-transaksi di atas adalah:
Tgl

Akun

1 Des 2014

Kas Kecil

Debit (Rp)
500.000,00

Bank
3 Des 2014

Beban Langganan Surat Kabar

500.000,00
60.000,00

Kas Kecil
8 Des 2014

Beban Alat Tulis Kantor

60.000,00
120.000,00

Kas Kecil
12 Des 2014

Beban Listrik

120.000,00
220.000,00

Kas Kecil
15 Des 2014

Kas Kecil
Bank

Kredit(Rp)

220.000,00
200.000,00
200.000,00

Pada akhir periode tidak di perlukan lagi penyusunan ayat jurnal penyesuaiaan
karena di setiap pengeluaran kas kecil telah di lakukan pencatatannya.
2

Rekonsiliasi Bank

20

Bab 2 . akuntansi kas dan bank, akuntansi piutang, akuntansi


persediaan

Rekonsiliasi bank adalah suatu prosedur pengendalian teradap kas di bank,


dengan membandingkan catatan akuntansi kas menurut perusahaan. Secara periodik
bank mengirimkan laporan berupa bank statementyang berisi semua transaksi
penyetoran dan pengendalian oleh deposan (depositor) selama periode tertentu.
Rekonsiliasi bank di lakukan untuk menunjukkan dan menjelaskan adanya perbedaan
antara catatan kas menurut bank dan menurut perusahaan. Jika perbedaan di hasilkan
dri transaksi yang belum di catat bank, maka catatan perusahaan di anggap benar. Dan
jika sebaliknya perbedaan di hasilkan dari kesalahan dalam catatan perusahaan dan
catatan bank, maka di perlukan penyesuaian.
Tujuan rekonsiliasi bank di lakukan dengan:
Menentukan saldo kas (bank) yang seharusnya di sajikan dalam laporan
keuangan (neraca)
Mengamankan kekayaan perusahaan dan mendeteksi kemungkinan adanya
penyalahgunaan kas di bank.
Setiap trasaksi harus di catatat, sedagkan uang yang di terima atau di
keluarkan selalu melalui bank, kecuali jumlah yang kecil perlu merekomendasikan
laporan bank. Dan rekonsiliasi ini sangat bermanfaat untuk megecek ketelitian
pencatatan akun kas dan catatan bank untuk mengetahui penerimaan atau pengeluaran
yang telah terjadi di bank tetapi belum di catat oleh perusahaan. Akibat yang di
timbulkannya adalah perbedaan antara saldo menurut catatan kas dengan saldo
menurut laporan bank. Apabila di kelompokkan, yang dapat menimbulkan perbedaan
tersebut adalah sebagai berikut:
1 Elemen-elemen yang oleh perusahaan sudah di catat sebagai penerimaan uang
tetapi belum di catat oleh bank, sebagai contoh:
a Setoran yang di kirimkan ke bank pada akhir bulan tetapi belum di terima
oleh bank sampai bulan berikutnya (setoran dalam perjalanan).

21

Bab 2 . akuntansi kas dan bank, akuntansi piutang, akuntansi


persediaan

Setoran yang di terima oleh bank pada akhir bulan, tetapi di laporkan
sebagai seoran bulan berikutnya, karena laporan bank sudah terlanjur di

buat (setoran dalam perjalanan).


c Uang tnai yang tidak di setorkan ke bank.
2 Elemen-elemen yang sudah di catat sebagai penerimaan oleh bank tetapi
belum di catat oleh perusahaan. Seabagai contoh:
a Bunga yang di perhitungkan oleh bank terhadap simpanan, tetapi belum di
b

catat dalam buku perusahaan (jasa giro).


Penagihan wesel oleh bank, sudah di catat oleh bank sebagai penerimaan

tetapi perusahaan belum mencatatnya


3 Elemen-elemen yang sudah di catat oleh perusahaan sebagai pengeluaran
tetapi belum di catat oleh bank. Sebagai contoh:
a Cek-cek yang beredar (outstanding checks, yaitu cek yang sudah di
keluarkan oleh perusahaan dan di catat sebagai pengeluaran kas, tetapi
oleh yang menerima belum diuangkan ke bank sehingga bank belum
b

mencatatnya sebagai pengeluaran.


Cek yang sudah di tulis dan di catat dalam jurnal pengeluaran uang tetapi
ceknya belum di serahkan keoada yang di bayar, belum merupakan
pengeluaran sehingga jurnal pengeluaran kas harus di koreksi pada akhir

periode.
4 Elemen-elemen yang sudah dicatat oleh bank sebagai pengeluaran tetapi
belum di catat oleh perusahaan. Sebagai contoh:
a Cek dari pelanggan di tolak oleh bank karena ternyata bersaldo kosong,
b

tetapi belum di catat oleh perusahaan.


Bunga yang di perhitungkan atas overdraft (penarikan di bank melebihi

saldo yang di miliki) tetapi belum di catat oleh perusahaan .


Biaya jasa bank yang belum di catat oleh perusahaan.

Penyusunan rekonsiliasi bank dapat di lakukandalam dua macam cara, yaitu sebagai
berikut:
1 Rekonsiliasi saldo akhir yang bisa di buat dalam dua bentuk, yaitu:
a Laporan rekonsiliasi saldo bank dan saldo kas untuk menunjukkan saldo
yang benar.
22

Bab 2 . akuntansi kas dan bank, akuntansi piutang, akuntansi


persediaan

b Laporan rekonsiliasi saldo bank pada saldo kas.


2 Rekonsiliasi saldo awal, penerimaan, pengeluaran, dan saldo akhir bisa di buat
dalam dua bentuk yaitu:
a Laporan rekonsiliasi saldo bank pada saldo kas (4 kolom).
b Laporan rekonsiliasi saldo bank dan saldo kas untuk menunjukkan saldo
yang benar (8 kolom).
3 Akuntansi Perpajakan
Akuntansi perpajakan adalah akuntansi yang di terapkan dengan memakai
tujuan untuk dapat menetapkan besarnya jumlah pajak yang terutang. Maka fungsi
akuntansi perpajakan merupakan sebagai pengolah data secara kuantitatif yang di
pergunakan untuk menyajikan sebuah laporan keuangan dengan memuat jumlah
perhitungan perpajakan.
Dan juga seperti telah di jelaskan dalam akuntansi komersial, kas dan bank
sebagai pos yang paling likuid dalam bentuk uang kertas,uang logam, saldo rekening,
giro dan tabungan. Perlakuan akuntansi kas dan bank ini tidak diatur tersendiri dalam
undang-undang pajak, sehingga dalam pengertian kas juga mengikuti ketentuan
akuntansi komersial seperti yang tidak termasuk katagori kas, yaitu sebagai berikut.
1 Deposito
Bentuk deposito jangka pendek atau jngka panjang tidak termasuk dalam kas.
2 Persedian Prangko dan Materai
Terhadap persediaan prangko dan materai ini sering di temui di perusahaan
dan sewaktu-waktu dapat di gunakan. Jumlah persedian prangko dan materai
kemungkinan cukub besar yang umumnya di masukkan dalam katagori akun
Persediaan Perlengkapan Kantor (office supplies)
3 Uang Muka
Uang muka yang di berikan kepada karyawan, meskipun belum di gunakan
oleh yang bersangkutan, tidak digolongkan sebagai kas.
4 Cek Mundur atau Cek Kosong
Bentuk cek mundur atau cek kosong tidak memenuhi syarat sebagai uang kas.

23

Bab 2 . akuntansi kas dan bank, akuntansi piutang, akuntansi


persediaan

Penyajian dalam akun Kas dan Bank ini dalam neraca komersial atau neraca
fiskal di cantumkan sebesar nilai nominal. Apabila terdapat Kas dan Bank dalam
mata uang asing, maka kurs yang digunakan adalah nilai kurs tetap (historis) atau
kurs pada tanggal neraca yang di lakukan secara konsisten (taat asas). Beberapa
contoh transaksi Kas dan Bank yang berkaitan dengan objek pajak yang di kenakan
pihak yang bertransaksi.
Pada tanggal 4 Februari 2014 Tn. Yusuf menerima bunga deposito dari Bank
Mandiri

sebesar

Rp8.000.000,00

dengan

tarif

Pajak

Penghasilan

yang

pemungutannya bersifat final (pasal 4 ayat 2) yang selanjutnya di lanjutjan dengan


Peraturan Pemerintah No. 31 Tahun 2000 besar PPh atas bunga deposito bersifat final
= 20%

Rp8.000.000,00 = Rp1.600.000,00 ayat jurnal yang di perlukan

tergantung Wajib Pajak menggunakan metode pencatatannya, yaitu sebagai berikut:


1 Metode Bruto (Gross Method)
Pada metode tersebut PPh Pasal 4 (2) di perlukan sebagai beban. Tetapi perlu
di perhatikan lagi bahwa undang-undang PPh menyatakan pajak penghasilan
tidak di perkenakan untuk di bebankan (pasal 9 huruf h Undang-Undang
PPh).
Ayat jurnal saat menerima bunga deposito sebagai berikut.
Tgl
4 Feb 2014

Akun

Debit (Rp)

Kas dan Bank

6.400.000,00

PPh Pasal 4 (2)

1.600.000,00

Penghasilan

Kredit (Rp)

8.000.000,00

Bunga

2 Metode Neto (Net Method)

24

Bab 2 . akuntansi kas dan bank, akuntansi piutang, akuntansi


persediaan

Prinsip dasar sama seperti metode bruto, hanya mencatatnya saja berdasarkan
pada jumlah penghasilan setelah dikurangi Pajak Penghasilan Pasal 4 ayat
(2) .
Ayat jurnal dapat disusun sebagai berikut.
Tgl

Akun

Debit (Rp)

4 Feb 2014

Kas dan Bank


Penghasilan Bunga

6.400.000,00

Kredit (Rp)
6.400.000,00

B. AKUNTANSI PIUTANG
Piutang merupakan bagian dari aset lancar. Aset lancar merupakan aset yang
di harapkan akan di realisasi dalam siklus aset operasi berjalan. Apabila ditinjau dari
sumber terjadinya, piutang di golongkan menjadi dua katagori, sebagai berikut.
1

Piutang Usaha

Piutang usaha (account receivables) meliputi piutang yang timbul karena adanya
penjualan produk atau penyerahan jasa dalam rangka kegiatan usaha normal
perusahaan. Piutang ini seluruhnya dapat di masukkan ke dalam aset lancar, dengat
syarat jangka waktu penagihannya kurang dari satu tahun atau satu siklus usaha
normal.
2

Piutang Lain-lain

Piutang lain-lain (other recebvables) timbul dari transaksi di luar kegiatan usaha
normal perusahaan.piutang ini di harapkan akan di realisasikan dalam waktu satu
tahun.
PENYAJIAN DALAM LAPORAN KEUANGAN

25

Bab 2 . akuntansi kas dan bank, akuntansi piutang, akuntansi


persediaan

Penyajian piutang usaha dan piutang lain-lain dalam laporan keuangan harus secara
terpisah dengan menggunakan identifikasi yang jelas. Seperti contoh, disebutkan
piutang penjualan angsuran.
Piutang dalam laporan keuangan tersebut juga dinyatakan sebesar jumlah
kotor tagihan di ikuti dengan jumlah taksiran piutang yang tidak dapat di tagih atau
piutang yang di ragukan. untuk piutang lain-lain seperti piutang yang di jaminkan di
syaratkan harus di ungkapkan dalam catatan laporan keuangan. Dan demikian pula
diperlukan penjelasan untuk penjualan yang di ikuti perjanjian untuk dibeli kembali.
1 Akuntansi Atas Piutang
Perlakuan akuntansi atas piutang tetap mendasarkan pada Standar Akuntansi
Keuangan (SAK). Pada umumnya sering memberikan potongan kepada para
pelanggan karena membayar tunai atau pelanggan membeli barang dalam jumlah
besar. Persyaratan di

maksudkan bahwa potongan tunai 3% diberikan apabila

pembayaran di lakukan dalam jangka waktu 10 (sepuluh) setelah tanggal transaksi,


namun kredit harus di lunasi.
Sebagai contoh, Tuan Budi menjual barang yang bernilai Rp20.000.000,00
secara kredit. Dalam transaksi komersial, penjualan tersebut di catatdengan ayat
jurnal:
Tgl

Akun
Piutang Usaha
Penjualan

Debit (Rp)

Kredit (Rp)

20.000.000,0
0

20.000.000,0
0

(pencatatan berdasarkan faktur penjualan/ sales invoice)


Barang yang di jual mungkin di kembalikan oleh pelanggan, dan karenanya di
berikan potongan harga (sales return dan allowance).
26

Bab 2 . akuntansi kas dan bank, akuntansi piutang, akuntansi


persediaan

Sebagai contoh, pelanggan Tuan Budi mengembalikan barangyang bernilai


Rp15.000.000,00. Maka berdasarkan nota kredit yang di keluarkan, jurnal yang harus
di buat adalah:

Tgl

Akun
Biaya

Piutang

Debit (Rp)

Kredit (Rp)

Tidak 15.000.000,0

Tertagih

15.000.000,0

Piutang Usaha

2 Metode Penghapusan Piutang


Kemungkian tidak semua jumlah piutang dapat ditagih. Jika jumlah piutang
yang tidak dapat ditagih relatif kecil, maka perusahaan tidak membentuk cadangan/
penyisihan. Sebaliknya juga apabila piutang ini jumlahnya cukup besar dan berisiko,
sebaiknya perusahaan membentuk cadangan.
Metode penghapusan piutang yang digunakan adalah sebagai berikut.
a

Metode penghapusan langsung (Direct writ-off Method)


Pada periode dimana terdapat piutang yang tidak dapat di tagih, maka pada
saat itu dilakukan pencatatan. Sebagai contoh, piutang terhadap Tn. Mulya
Rp30.000.000,00 tidak dapat di tagih dan harus di hapus. Ayat jurnal yang di
susun sebagai berikut:
Tgl

Akun
Biaya

Piutang

Debit (Rp)

Kredit (Rp)

Tidak 30.000.000,0

Tertagih
Piutang Dagang

30.000.000,0
0

27

Bab 2 . akuntansi kas dan bank, akuntansi piutang, akuntansi


persediaan

Metode penghapusan langsung piutang tak tertagih dalam Pajak Penghasilan


di atur dalam Pasal 6 Ayat (1) huruf h Undang-undang pajak penghasilann. Dalam
ketentuan tersebut dinyatakan bahwa besarnya Penghasilan Kena Pajak bagi Wajib
Pajak dalam negeri dan usaha tetap, ditentukan berdasarkan penghasilan bruto
dikurangi biaya untuk mendapatkan ,menagih, dan memelihara penghasilan, termasuk
diantaranya adalah piutang yang nyata-nyata tidak dapat ditagih dengan syarat:
Telah dibebankan sebagai biaya dalam laporan laba rugi komersial.
Wajib Pajak harus meyerahkan daftar piutang yang tidak dapat di tagih kepada
Diektorat Jenderal Pajak.
Telah diserahkan perkara penagihannya kepada Pengadilan Negeri atau
instansi pemerintah yang menangani pitang negara atau adanya perjanjian
tertulis mengenai penghapusan piutang/ pembebasan utang antara kreditur dan
debitur yang bersangkutan, atau telah dipublikasikan dalam penerbitan umum
atau khusus, atau adanya pengakuan dari debitur bahwa utangnya telah
dihapuskan untuk jumlah utang tertentu.
Syaryat sebagaimana dimaksud pada angka 3 tidak berlaku untuk
penghapusan piutang tak tertagih debitur kecil sebagai mana di maksud dalam
Pasal 4 ayat (1) huruf k UU PPh.
Sebagai ketentuan pelaksanaan dari Pasal 6 ayat (1) huruf h ini adalah Peraturan
Menteri Keuangan Nomor 105/ PMK. 03/ 2009 Tentang Piutang Yang Nyata-Nyata
Tidak Dapat Ditagih Yang Dapat Dikurangkan Dari Penghasilan Bruto sebagaimana
telah di ubah dengan Peraturan Menteri Keuangan Nomor 57/ PMK. 03/2010.
b Metode Penyisihan/ Pencadangan (Allowance Method)
Dengan metode ini, piutang yang diperkirakan tidak dapat ditagih dicatat
melalui ayat jurnal. Sebagai contoh, piutang usaha Rp50.000.000,00
diperkirakan 3% tidak dapat ditagih dan saldo Penyisihan Piutang Tidak
Tertagih Rp6.000.000,00. Ayat jurnal yang di susun sebagai berikut.

28

Bab 2 . akuntansi kas dan bank, akuntansi piutang, akuntansi


persediaan

Tgl

Akun
Biaya Piutang Tidak Tertagih
Penyisihan
Piutang

Debit (Rp)

Kredit (Rp)

49.600.000,00
Tidak

Tertagih

49.600.000,0
0

Dalam menentukan besaran pencadangan piutang, manajemen memiliki, beberapa


cara antara lain:
Persentase penjualan, dari pengalaman yang dimiliki perusahaan biasanya
mereka memiliki persentase atas piutang usaha yang tidaj tertagih.
Alinalisa umur, cara ini dilakukan dengan menganalisa umur dari masingmasing piutang. Manajemen biasanya membuat batasan untuk umur piutang.
Misal, perusahaan akan mencadangkan piutang yang berumur lebih dari 2
tahun.

PENYISIHAN PIUTANG TIDAK TERTAGIH


Akuntansi komersial mengatur bahwa jumlah kotor piutang tetap disajikan di
neraca yang diikuti dengan penyisihan untuk piutang yang diragukan atau taksiran
piutang yang tidak dapat ditagih. Pada prinsipnya, terdapat 2 (dua) cara dalam
menetapkan jumlah penyisihan piutang tidak tertagih.
1 Atas Dasar Saldo Piutang
Cara ini dilakukan dengan menetapkan suatu persentase terhadap saldo piutang ratarata atau golongan unsur piutang pada akhir periode.
Contoh:

29

Bab 2 . akuntansi kas dan bank, akuntansi piutang, akuntansi


persediaan

Saldo piutang per 1 Januari 2014 sebesar Rp10.000.000,00 dan saldo piutang per 31
Desember 2014 Rp20.000.000,00 diasumsikan penyisihannya 2%. Besarnya
penyisihan piutang tidak tertagih dihitung sebagai berikut.
Saldo piutang rata-rata

Rp10.000.000,00

Rp20.000.000,00
2
= Rp15.000.000,00
Penyisihan Piutang Tidak Tertagih

=2% Rp15.000.000,00
=Rp7.500.000,00

Apabila dasar yang digunakan adalah golongan umur piutang pada akhir
periode, maka pada akhir periode perusahaan harus membuat daftar umur piutang
(aging schedule receivable).

2 Atas Dasar Saldo Pajak


Seperti cara sebelumnya, cara ini juga dilakukan dengan menetapkan persentase
tertentu terhadap penjualan. Dasar yang digunakan dapat menggunakan penjualan
kredit atau total penjualan. Sebagai contoh, total penjualan kredit tahun 2011
Rp1.400.000,00. Persentase penyisihan yang ditetapkan perusahaan 2% dari
penjualan. Besarnya saldo penyisihan piutang tidak tertagih (2% Rp1.400.000,00).
=Rp2.800.000,00, sedangkan biaya piutang tidak tertagih juga sama, yaitu (2%
Rp1.400.000,00) = Rp2.800.000,00. Apabila cara ini yang digunakan, maka jumlah
penyisihan sama dengan yang dibebankan sebagai biaya.

30

Bab 2 . akuntansi kas dan bank, akuntansi piutang, akuntansi


persediaan

PEMBEBANAN BIAYA PIUTANG TIDAK TERTAGIH


Sebagai contoh diketahui bahwa besarnya penisihan yang harus dibentuk pada
tahun 2011 sebesar Rp7.500.000,00. Jumlah tersebut harus tampak dilaporan posisi
keuangan dengan akun Penyisihan Piutang Tidak Tertagih. Selanjutnya buat
mentukan berapa besarnya yang di bebankan sebagai biaya, saldo awal akun
Penysihan Piutang Tidak Tertagih sangat diperhatikan dahulu.
Diasumsikan saldo awalnya kredit sebesar Rp3.000.000,00 selisihnya
(Rp7.500.000,00 - Rp3.000.000,00) = Rp4.500.000,00 menjadi biaya tahun yang
bersangkutan dengan ayat jurnal penyesuaian sebagai berikut.
Tgl

Akun
Biaya Piutang Tidak Tertagih
Penyisihan

Piutang

Debit (Rp)
4.500.000,0
Tidak 0

Tertagih

Kredit (Rp)
4.500.000,0
0

Demikian pula sebaliknya apabila saldo debit akun Penyisihan Piutang Tidak
Tertagih sebesar Rp1.000.000,00 maka ayat jurnal penyesuaian yang di buat adalah.
Tgl

Akun
Biaya Piutang Tidak Tertagih
Penyisihan

Piutang

Debit (Rp)
8.500.000,0
Tidak 0

Tertagih

Kredit (Rp)
8.500.000,0
0

Bila dasar saldo penjualan yang digunakan, maka besarnya piutang tidak
tertagih yang dibebankan sama dengan penyisihan, maka pembebanannya di buat
adalah ayat jurnal seperti berikut ini.
Tgl

Akun
Biaya Piutang Tidak Tertagih
Penyisihan

Piutang

Debit (Rp)
2.800.000,0
Tidak 0

Kredit (Rp)
2.800.000,0
31

Bab 2 . akuntansi kas dan bank, akuntansi piutang, akuntansi


persediaan

Tertagih

PENGHAPUSAN PIUTANG
Pembentukan Penyisihan Piutang Tidak Tertagih dibentuk sebagai cadangan
kemungkinan ruginya akibat piutang tidak dapat ditagih. Kenyataannya dalam
periode tertentu piutang perusahaan nyata-nyata tidak dapat di tagih karena sebab
lain, maka piutang tersebut harus di hapuskan (write-off). Dan untuk lebih jelas dapat
digambarkan sebagai berikut.
Saldo Piutang Usaha per 31 Desember 2014

(Dr) Rp40.000.000,00

Saldo Penyisihan Piutang Tidak Tertagih per 31 Desember 2014


(Cr)Rp7.500.000,00
Pada bulan januari tahun 2015 ternyata piutang kepada Tn. Yuman sebesar
Rp10.000.000,00 tidak dapat di tagih.
Ayat jurnal yang dibuat pada saat penghapusan piutang adalah sebagai berikut.
Tgl

Akun
Penyisihan Piutang Tidak Tertagih
Piutang Usaha

Debit (Rp)
10.000.000,0
0

Kredit (Rp)
10.000.000,0
0

Perlu diperhatikan bahwa penghapusan piutang telah didebit pada akun


Penyisihan Piutang Tidak Tertagih dan tidak pada akun Biaya.
Bagaimana selanjutnya apabila piutang yang telah dihapuskan ternyata debitur
melunasi utangnya, maka dapat dibuat ayat jurnal sebanyak dua kali, yaitu seabagai
berikut.
1 Penyesuaian dengan menimbulkan kembali piutang.
32

Bab 2 . akuntansi kas dan bank, akuntansi piutang, akuntansi


persediaan

Tgl

Akun
Piutang Usaha
Penyisihan Piutang

Debit (Rp)
10.000.000,0
Tidak

Tertagih

Kredit (Rp)
10.000.000,0
0

2 Pada saat penerimaan pelunasan piutang


Tgl

Akun
Kas
Piutang Usaha

Debit (Rp)
10.000.000,0
0

Kredit (Rp)
10.000.000,0
0

AKUNTANSI PAJAK
Dalam pasal 6 ayat (1) huruf h Undang-Undang Pajak Penghasilan telah
mengatur pembebanan sebagai biaya atas piutang yang nyata-nyata tidak dapat
ditagih atau lebih dikenal dengan penghapusan piutang dengan syarat.
1 Telah dibebankan sebagai biaya pada laporan laba rugi komersial.
2 Wajib Pajak harus menyerahkan daftar piutang yang tidak dapat ditagih
kepada Direktorat Jenderal Pajak.
3 Dan telah diserahkan perkara penagihannya kepada Pengadilan Negeri atau
adanya perjannjian tertulis mengenai penghapusan piutang/pembebasan utang
antara kreditur dan debitur yang bersangkutan atau lebih di publikasikan
dalam penerbitan umum atau khusus, atau adanya pengakuan dari debitur
bahwa utangnya telah dihapuskan untuk jumlah utang tertentu.
Masalah yang besanhkutan dengan penghapusan piutang ini sebelumnya telah
diatur dengan Keputusan Menteri Keuangan Nomor 130/KMK.04/1998 tentang
Penghapusan Piutang Tidak Tertartagih yang boleh dikurangkan sebagai biaya. Dalam
keputusan tersebut, yang diperhatikan adalah sebagai berikut.
33

Bab 2 . akuntansi kas dan bank, akuntansi piutang, akuntansi


persediaan

1 Piutang Tidak Tertagih yang dapat dibebankan

sebagai biaya dalam

menhitung Penghasilan Kena Pajak adalah Piutang Tidak Tertagih yang


timbul dibidang usaha bank, lembaga pembiayaan, industri, dagang, dan jasa
lainnya.
2 Piutang Tidak Tertagih yang dapat dihapuskan adalah piutang usaha sesuai
dengan bidang usaha dari Wajib Pajak yang bersangkutan.
3 Terdapat persyaratan dalam mengelompokkan sebagai Piutang Tidak Tertagih
seperti yang telah dimuat dalam Pasal 6 ayat (1) huruf h Undang-Undang
Pajak Penghasilan. Persyaratan yang diatur dalam Keputusan Menteri
Keuangan bersifat kumulatif, namun untuk pelaksanaan tahun 2001 mengaju
pada undang-undang.
Pengertian penerbitan umum atau khusus adalah sebagai berikut.
1 Penerbitan umum yaitu pemuatan pengumuman pada penerbitan surat kabar
atau majalah atau media massa cetak yang lazim lainnya yang berskala
nasional.
2 Penerbitan khusus yaitu pemuatan pengumuman ppada:
a Penerbitan Himpunan Bank-Bank Milik Negara Perhimpunan Bank-Bank
b
c

Umum Nasioanal (PERBANAS).


Penerbitan atau pengumuman khusus Bank Indonesia dan/atau
Penerbitan yang dikeluarkan oleh asosiasi yang telah terdaftar sebagai
Wajib Pajak dan pihak kreditur sebagai anggotanya.

Piutang yang nyata-nyata tidak dapat di tagih yang timbul dibidang usaha
bank, lembaga pembiayaan industri, dagang dan jasa lainnya dapat dibebankan
sebagai beban (biaya) dalam menghitung Penghasilan Kena Pajak. Untuk piutang
yang nyata-nyata tidak dapat ditagih tidak termasuk piutang yang berasal dari
transaksi bisnis dengan pihak-pihak memiliki hubunann istimewa. Seperti yang telah
dijelaskan bahwa pembebanannya sebagai pengurang penghasilan bruto harus
teroenuhi syarat sebagai manna tercantum dalam Pasal 6 ayat (1) huruf h angka 3

34

Bab 2 . akuntansi kas dan bank, akuntansi piutang, akuntansi


persediaan

Undang-Undang Pajak Penghasilan tidaak berlaku untuk piutang yang nyata-nyata


tidak dapat ditagihh ke debitur kecil atau debitur kecil lainnya.
Piutang debitur kecil yang dimaksud yaitu yang jumlahnya tidak melebihi
Rp100.000.000,00, yang merupakan gangguan jumlah piutang dari beberapa kredit
yang telah diberikan oleh suatu institusi bank atau lembaga pembiayaan dalam negeri
sebagai akibat adanya pemberian:
1 Kredit Usaha Keluarga Prasejahtera (Kukesra), yaitu kredit lunak untuk usaha
ekonomi produktif yang di berikan kepada keluarga Prasejahtera dan keluarga
Sejahtera 1 yang telah menjadi peserta Takesra dan tergabung dalam kegiatan
kelompok Prokesra-OPPKS
2 Kredit Usaha Tani (KUT), yaitu kredit modal kerja yang diberikan oleh bank
kepada koperasi primer baik sebagai pelaksana (executing) maupun penyalur
(diannelig) atau kepada Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) sebagai
pelaksana pemberi kredit, untuk keperluan petani yang tergabung dalam
kelompok tani gunanya untuk membiayaiusaha taninya dalam rangka
intensufikasi padi, palawija, dan holtikultura.
3 Kredit Pemilikan Rumah Sangat Sederhana (KPRSS), yaitu kredit yanng
diberikan oleh bank kepada masyarakat untuk pemilihan rumah sangat
sederhana (RSS).
4 Kredit Usaha Kecil (KUK), yaitu kredit yang diberikan kepada nasabah usaha
kecil.
5 Kredit Usaha Rakyat (KUR), yaitu kredit yang diberikan untuk keperluan
modal usaha kecil lainnya selain KUK .
6 Kredit kecil lainnya dalam rangka kebijakan perkreditan Bank Indnesia dalam
mengembangkan usaha kecil dan operasi.
Ketentuan Pasal 9 ayat (1) huruf c tentang Pajak Penghasilan menyatakan
bahwa tidak diperkenakan melakukan pembentukan atau pemupukan dana cadangan
untuk dibebankan sebagai biaya. Namun, ada pengecualian yang memperkenakan
pembentukan atau pemupukan dana cadangan pembentukan seperti:
35

Bab 2 . akuntansi kas dan bank, akuntansi piutang, akuntansi


persediaan

1 Cadangan piutang tidak tertagih untuk usaha bank dan badan usaha lain yang
menyalurkan kredit, sewa dengan hak opsi, perubahan pembiayaan konsumen,
dan perusahaan anjak piutang.
2 Cadangan untuk usaha asuransi termasuk cadangan bantuan sosial yang
3
4
5
6

dibentuk oleh badan penyelenggaraan jaminan sosial.


Cadangan penjaminan untuk lembaga pejaminan simpanan.
Cadangan biaya reklamasi untuk usaha pertambangan.
Cadangan biaya penanaman kembali untuk kehutanan.
Cadangan biaya penutupan dan pemeliharaan Tempat Pembangunan Limbah
Industri untuk usaha pembangunan limbah industri.

H PEMBENTUKAN CADANGAN PIUTANG TIDAK TERTAGIH USAHA


BANK
Sesuai Keputusan Menteri Keuangan No. 235/KMK.04/1998. Tanggal 14 April 1998
tentang perusahaan Keputusan Menteri Keuangan No. 80/KMK.04/1995 tentang
Besarnya Dana Cadangan yang Boleh Dikenakan sebagai Biaya yang Menyatakan
bahwa Bank dapat Membentuk Dana Cadangan Piutang Tertagih. Besarnya dana
cadangan piutang tidak tertagih yang diperkenankan untuk di bebankan sebagai biaya
usaha banktersebut adalah:
1
2
3
4

5% dari kredit yang digolongkan perhatian khusus.


15% dari kredit yang digolongkan kurang lancar.
50% dari kredityang digolongkan diragukan.
S100% dari kredit yang digolongkan macet.
Penggolongan tersebut teah sesuai dengan yang digariskan dalam Lampiran

Keputusan Direksi Bank Indonesia No. 31/147/KEP/DIR. Tanggal 12 November


1998. Masing-masing setelah dikurangkan dengan nilai agunan tunai. Agunan tunai
dimaksud adalah agunan berupa giro, deposito, atau tabugan yang di blokiroleh bank.

36

Bab 2 . akuntansi kas dan bank, akuntansi piutang, akuntansi


persediaan

Pembentukan cadangan dan perhitungan harus diaudit dahulu oleh kantor


akuntan publik yang menyatakan perhitungan dana cadangan piutang tidak tertagih
tersebut dilaksakan sesuai ketentuan yang berlaku dan telah diperhitungkan ke laba
rugi komersial.
Kerugian sebenarnya yang disebabkan oleh piutang yang nyata-nyata tidak
dapat ditagih dan dibebankan ke akun Cadangan/Penyisihan Piutang Tidak Tertagih
dengan ayat jurnal sebagai berikut.
Tgl
Penyisihan

Akun
Piutang

Debit (Rp)
Tidak 200.000.000,0

Tertagih

Kredit (Rp)
200.000.000,0

Piutang Usaha

Dalam hal cadangan piutang tidak tertagih tidak tidak atau tidak seluruhnya
di pakai untuk menutup kerugian, maka kelebihan cadangan di perhitungkan sebagai
pengahasilan.
Demikian

sebaliknya

apabila

cadangan

tidak

mencukupi,

maka

kekurangannya diperhitungkan sebagai kerugian.


AKUNTANSI PERSEDIAAN
1 Pengertian Persediaan
Untuk menetapkan persediaan perlu ditetapkan atau dirumuskan perlakuan
akuntansi untuk persedian menurut sistem biaya historis (historical cost)
ataudinyatakan sebagai Harga Pokok atau Perolehannya, sesuai PSAK No.14 (revisi
2008). Selanjutnya yang menjadi masalah dalam persediaan adalah penetapan jumlah
biaya yang harus diakui sebagai aset dan konversi sampai pendapatan yang
bersangkutan diakui.

37

Bab 2 . akuntansi kas dan bank, akuntansi piutang, akuntansi


persediaan

Pada umumnya persedian mencakup barang jadi yang telah diproduksi atau
barang dalam penyelesaian, termasuk bahan serta perlengkapan yang akan di gunakan
dalam proses produksi. Dalam perusahaan dagang, persediaan meliputi barang yang
dibei dan di simpan untuk dijual kembali, sedang dalam perusahaan jasa, persediaan
termasuk biaya jasa seperti upah dan biaya personalia lainnya yang berhungan
langsung dengan pemberian jasa.
2 Pengukuran Persediaan
Dalam pengukuran persediaan bahwa persediaan harus diukur berdasarkan
biaya atau nilai realisasi neto, mana yang lebih rendah. Untuk lebih menjelaskan
pengertian biaya persedian perlu dipahami pengertian berikut.
1 Biaya Pembelian
Biaya pembelian meliputi harga beli, bea impor, pajak lainnya (kecuali yang
kemudian dapat ditagih kembali oleh entitas kepada otoritas pajak), biaya
pengangkutan, biaya penanganan dan biaya lainnya yang secara langsung
dapat diatribusikan pada peroleh barang jadi, bahan, dan jasa. Diskon dagang,
rapat, dan hal lain yang serupa di kurangkan dalam menetukan biaya
pembelian.
2 Biaya Konversi
Biaya konversi persediaan meliputi biaya yang secara langsung terkait dengan
unit yang di produksi contoh biaya tenaga kerja langsung termasuk juga
alokasi sistematis overhead produksi tetap dan variabel yang timbul
mengonversi bahan menjadi barang jadi.
3 Biaya-Biaya Lain
Biaya-biaya lain hanyadi bebanka sebagai biaya perediaan sepanjang timbul,
agar persediaan berada dalam kondisi dan alokasi saat ini.
Sedangkan nilai realisasi bersih dapat di ilustrasikan bahwa biaya persediaan
mungkin tidak akan diperoleh kembali bila persediaan rusak, seluruh atau sebagian
persediaan telah usang, atau harga jualnya telah menurun.

38

Bab 2 . akuntansi kas dan bank, akuntansi piutang, akuntansi


persediaan

3. Pengakuan sebagai beban


Nilai tercatat persediaan harus diakui sebagai beban pada saat persediaan di
jual dan pada periode diakui pendapatan atas penjualan tersebut. Demikian pula jika
terjadi penurunan nilai di bawah biaya menjadi nilai realisasi bersih, seluruh kerugian
persediaan tersebut di akui sebagai beban pada periode terjadinya penurunan atau
kerugian tersebut. Pada SAK ETAP menyatakan bila persediaan dijual, maka jumlah
tercatatnya diakui sebagai beban periode saat pendapatan yang terkai diakui. Untuk
beberapa persediaan dapat dialokasikan ke aset lain. Sebagai contoh, persediaan yang
digunakan sebagai komponen aset tetap yang dibagun sendiri. Sedangkan untuk
alokasi persediaan ke aset lain diakuinya sebagai beban selama umur manfaat aset
tersebut.
4 Pencatatan persediaan
Dalam akuntansi terdapat dua sistem pencatatan persediaan, yaitu sebagai
berikut.
1 Sistem Perpetual
Dalam sistem perpetual ini persediaan biasanya dapat diketahui secara terus
menerus tanpa melakukan inventarisasi fisik (stock opname). Oleh karena itu,
setiap jenis barang dibuat kartu, dan setiap mutasi persediaan dicatat dalam
kartu, baik harga maupun jumlah barang (kuantitas), sehingga pengendalian
persediaan menjadi sangat mudah, yaitu dengan melakukan pencocokan
antara kartu persedian dan hasil inventarisasi fisik.
Contoh:
a Pada tanggal 2 Januari 2014 Tuan Mulya membeli 4.000 karung semen
Rp40.000,00 per karung dari PT Semen Cibinong.

39

Bab 2 . akuntansi kas dan bank, akuntansi piutang, akuntansi


persediaan

Pada tanggal 5 Januari 2014 Tuan Mulya menjual 3.000 karung semen Rp
45.000,00 Kepada PT Maju.

Ayat jurnal yang di buat adalah:


a

Pada saat pembelian.


Tgl

Akun
Persediaan

Debit (Rp)
160.000.000,00

Utang Dagang

Kredit (Rp)
160.000.000,00

Pada saat penjualan


Tgl

Akun
Piutang Dagang

Debit (Rp)
135.000.000,00

Penjualan

Tgl

Akun
Harga Pokok Penjualan

Kredi (Rp)
135.000.000,00

Debit (Rp)
120.000.000,00

Persediaan

Kredit (Rp)
120.000.000,00

2 Sistem periodik
Dalam sistem periodik, persediaan dihitung dengan melakukan inventarisasi
pada akhir periode. Pada sistem periodik, setiap mutasi persediaan tidak
dibuatkan pencatatan dan penghitungan persediaannya, seperti telah
disebutkan dan tetap dilakukan pengendalian tersebut.
Contoh tersebut selanjutnya dapat dibuat ayat jurnal sebagai berikut.
a

Pada saat pembeliaan


Tgl

Akun
Pembelian
Utang Dagang

Debit (Rp)
160.000.000,0
0

Kredit (Rp)
160.000.000,00

40

Bab 2 . akuntansi kas dan bank, akuntansi piutang, akuntansi


persediaan

b Pada saat penjualan


Tgl

Akun
Piutang Dagang
Penjualan

Debit (Rp)
135.000.000,0
0

Kredit (Rp)
135.000.000,00

5 Penetapan Persediaan dan Pelaporan Dalam Laporan Keuangan


Harga pokok penjualan terdiri atas seluruh pengeluaran, baik langsung atau tidak
langsung, untuk memperoleh persedian tersebut, dalam hal tertentu sebagai contoh
dalam perusahaan industri persediaan dapat dikatagorikan sebagai persediaan bahan
baku atau persediaan barang jadi.
Persedian neraca/ laporan posisi keuangan menggambarkan nilai persediaan
pada tanggal penyuusnan neraca/ laporan posisi keuangan, sedangkan di laporan laba
rugi persediaan akan muncul dalam perhitungan Harga Pokok Penjualan.
6 Metode Penilaian Persediaan
Penetapan besarnya nilai persedian akhir atau harga pokok penjualan dapat
menggunakan metode berikut ini.
Berdasarkan Harga Pokok Perolehan
a

Metode Identifikasi Khusus


Metode ini berasumsi bahwa arus biaya, sehingga setiap kelompok barang
di beri identifikasi dan dibuat kartu. Dengan demikian, Harga Pokok untuk
setiap barang dapat diketahui, sehingga harga pokok penjualan terdiri atas

Hatga Pokok Barang yang di jual dan sisanya sebagai persediaan akhir.
b Metude Masuk Pertama Keluar Pertama ( first In out FIFO)
Metode ini mendasarkan pada asumsi bahwa barang yang masuk pertama
akan di keluarkan pertama.
c Masuk Terakhir Keluar Pertama (Last in First Out-FiFO)

41

Bab 2 . akuntansi kas dan bank, akuntansi piutang, akuntansi


persediaan

Cara ini digunakan dengan mendasarkan pada asumsi bahwa arus


pembebanan ke Harga Pokok Penjualan berdasarkan pada harga
d

pembelian terakhir.
Metode Rata-Rata (average)
Dengan metode rata-rata pembebanan ke harga pokok untuk barang yang
dijual atau untuk persediaan akhir menggunakan rata-rata. Metode harga
rata-rata terdiri atas:
1 Rata-Rata sederhana (Simple Average)
Harga rata-rata dihitung dengan cara menjumlahkan harga pokok
per unit (tanpa mengalikan Jumlah barang) dibagi dengan
2

banyaknya harga.
Rata-Rata Bergerak (Moving Average)
Seperti pada perhitungan rata-rata tertimbang, pembebanan
keharga pokok penjualan dilakukan setiap terjadi pembelian.
Metode ini digunakan pada perpetual.

Berdasarkan Estimasi
Penetapan besarnya nilai persediaan akhir dapat dilakukan dengan mendasarkan
estimasi pada:
a

Metode Laba Kotor (Laba Bruto)


Pada metode ini nilai persediaan akhir dihitung mundur dan biasanya
digunakan dalam keadaan khusus.
Metode Eceran (Ritel)
Dalam metode eceran, penetapan nilai persediaan akhir berdasarkan pada
harga yang berlaku di pasar (market value). Harga Pokok persediaan di
estimasi atas dasar hubungan antara harga pokok dengan harga jual eceran
untuk persediaan yang sama dengan cara mengakumulasi semua harga

eceran dari persediaan yang dijual.


7 Metode Penilaian Lainnya

42

Bab 2 . akuntansi kas dan bank, akuntansi piutang, akuntansi


persediaan

Menetapkan nilai persediaan akhir atau harga pokok penjualan tidak


didasarkan pada harga perolehan. Oleh karena itu, dala menetapkan persediaan akhir
atau harga pokok penjualan digunakan:
a

Harga Terendah antara Harga Perolehan dan Harga Pasar


Kenyataan yang ada di perusahaan bahwa persediaan barang di gudang secara
fisik mengalami kerusakan sehingga manfaatnya tidak lagi sepadan dengan
harga pokok atau akibat lainnya seperti perubahan tingkat harga. Selisih

penurunan tersebut diakui sebagai kerugian pada saat terjadinya.


b Nilai Jual
Terhadap produk yang harga jual dapat di tentukan secara pasti, tetapi harga
perolehan sulit ditetapkan, maka nilai persediaan ditetapkan sebesar harga jual
dikurangi taksiran biaya-biaya penjualan yang dapat terjadi.
8 Akuntansi Pajak
Dari sisi praktik akuntansi komersial dan akuntansi pajak, tidak ada perbedaan prinsip
dalam metode pencatatannya, sehingga metode pencatatan yang dapat digunakan
adalah sistem perpetual, baik rata-rata maupun FIFO, atau metode pencatatan fisiakal
yang telah dijelaskan dalam penjelasan pasal 10 ayat (6) Undang-Undang pajak
penghasilan.
Perbedaan harga pokok karena dasar penilaian persediaan dan pengukuran
harga pokok barang yang dijual akan mengakibatkan perbedaan nilai persediaan pada
aset lancar dan harga pokok barang yang ditetapkan sebagai pengurang penghasilan.
1 Perhitungan harga pokok barang yang dijual.
a Menggunakan metode LIFO
No

Keterangan

Tahun 2012

Tahun 2013

Tahun 2014

(Rp)
30.000

(Rp)
47.000

34.000

70.000

Persedian Awal

(Rp)
-

Pembelian ke-1

40.000

43

Bab 2 . akuntansi kas dan bank, akuntansi piutang, akuntansi


persediaan

Pembelian ke-2

Barang tersedia untuk dijual

60.000
100.000

60.000
124.000

50.000
167.000

(30.000)
70.000

(47.000)
77.000

(30.000)
137.000

Persedian Akhir
5

Harga Pokok Barang Jual

Perhitungan persediaan akhir:


1 Persedian akhir tahun 2012 = 3.000 Rp10.000,00 = Rp 30.000.000,00
2 Persedian akhir tahun 2013 = 3.000 Rp10.000,00 = Rp 30.000.000,00
1000 Rp17.000,00 = Rp17.000.000,00
=Rp47.000.000,00
3 Persediaan akhir tahun 2014= 3.000 Rp10.000,00 = Rp30.000.000,00

b
No

Menggunakan metode FIFO


Keterangan

Tahun 2012

Tahun 2013

Tahun 2014

(Rp)

(Rp)

(Rp)

45.000

62.000

Persedian Awal

Pembelian

40.000

34.000

70.000

Pembelian

60.000

60.000

50.000

Barang tersedia untuk Dijual

100.000

139.000

182.000

(45.000)

(77.000)

(70.000)

55.000

62.000

112.000

Persedian Akhir
5

Harga Pokok Barang Jual

Perhitungan biaya akhir :


1 Persediaan akhir tahun 2012 = 3.000 Rp15.000 = Rp45.000.000,00
2 Persedian akhir tahun 2013 = 1.000 Rp17.000 = Rp 17.000.000,00

44

Bab 2 . akuntansi kas dan bank, akuntansi piutang, akuntansi


persediaan

3.000 Rp 20.000

= Rp 60.000.000,00
=Rp 77.000.000,00
3 Persediaan akhir tahun 2014 = 1.000 Rp20.000 = Rp20.000.000,00
2.000 Rp25.000

= Rp 50.000.000,00
= Rp 70.000.000,00

LATIHAN
1 Sebutkan apa yang dimaksud untuk penerimaan uang dan untuk pengeluaran
uang dalam akuntansi kas?
2 Apa yang dimaksud dengan piutang usaha dan piutang lain-lain?
3 Metode apa saja yang diginakan dalam penghapusan piutang?

45

Beri Nilai