Anda di halaman 1dari 32

Bab 5.

Investasi pada efek tertentu, investasi pada entitas asosiasi


dan anak, properti investasi

PENDAHULUAN
Jumlah dana di kas dan bank yang berlebihan dan tidak dimanfaatkan secara umum tidak
dibenarkan, sehingga umumnya dana tersebut dimanfaatkan dengan ditanamkan dalam bentuk
surat-surat berharga, atau sebagai investasi sekuritas. Bentuk investasi dalam surat berharga
sangat bermanfaat karena dapat segera dijual. Syarat yang harus dipenuhi untuk digolongkan
sebagai persyaratan sementara, yaitu sebagai berikut :
1
2

Dapat diperjualbelikan dengan segera


Dimaksudkan untuk dijual dalam jangka waktu pendek apabila perusahaan

membutuhkan dana
Dimaksudkan untuk tidak menguasai perusahaan.

Hal yang sangat mendorong investasi sehingga menjadi suatu pilihan yang menari antara lain
yaitu semakin berkembangnya pasar modal seperti di BEI. Pasar modal memiliki peranan
penting di sebuah negara yang bertujuan untuk menciptakan fasilitas bagi kepentingan industri
dalam memenuhi permintaan dan penawaran modal.
Adapun instrumen-instrumen yang diperdagangkan di pasar modal Indonesia berupa
surat berharga pasar modal adalh sebagai berikut :
1

Saham

Saham merupakan penyertaan modal dalam pemilikan suatu perseroan terbatas atau emiten.
Terdapat dua jenis kepemilikan yaitu saham atas nama dan saham atas unjuk. Di indonesia
banyak diperdagangkan saham atas nama yaitu nama pemiliknya tertera dalam saham

Obligasi

Obligasi adalah surat pengakuan utang atas pinjaman yang diberikan kepada perusahaan
penerbit obligasi. Jangka waktu obligasi terbatas yaitu ditetapkan yang disertai imbalan
bunga yang jumlah dan saat pembayarannya telah ditetapkan dalam perjanjian. Obligasi
diterbitkan oleh BUMN, swata, pe,erintah pusat, atau pemerintah daerah.
74

Bab 5. Investasi pada efek tertentu, investasi pada entitas asosiasi


dan anak, properti investasi

Derivatif dari efek

Efek adalah surat berharga pengakuan utang, surat berharga komersial, saham, obligasi, tanda
bukti utang, unit penyertaan kontrak investasi kolektif, kontrak berjangka atas efek, dan
setiap derivatif dari efek.

A. PENGERTIAN INVESTASI PADA EFEK TERTENTU


Berikut ini adalah pengertian istilah yang digunakan dalam pernyataan ini :
Efek (security) adalah surat berharga pengakuan utang, surat berharga komersial, saham,
obligasi, tanda bukti utang, unit penyertaan kontrak investasi kolektif, kontrak berjangka atas
efek, dan setiap derivatif dari efek.
Efek utang (debt security) adalah efek yang menunjukkan hubungan hutang piutang antara
kreditor dengan entitas yang menerbitkan efek.
Efek ekuitas (equity security) adalah efek yang menunjukkan hak kepemilikan atas suatu ekuitas,
atau hak untuk memperoleh (misalnya, waran, opsi beli) atau hak untuk menjual misalnya opsi
jual kepemilikan tersebut dengan harga yang telah ditetapkan.
Nilai wajar (fair value) adalah jumlah yang dapat diperoleh dari pertukaran instrumen keuangan
dalam transaksi antar pihak-pihak yang bebas, bukan karena paksaan.
Menurut IAI (2009 :43) dalam SAK-ETAP efek adalah surat berharga, yaitu surat pengakuan
utang, surat berharga omersial, saham, obligasi, tanda bukti utang, unit penyertaan kontrak
investasi koletif, kontrak berjangka atas efek, dan setiap derivatif dari efek
Tiga klasifikasi dari pengakuan dan pengukuran investasi pada efek utang adalah sebagai
berikut :
a
b
c

Dimiliki harga jatuh hingga tempo (held to maturity)


Diperdagangkan (trading), dan
Tersedia untuk dijual (available for sale)

75

Bab 5. Investasi pada efek tertentu, investasi pada entitas asosiasi


dan anak, properti investasi

Sedangkan pengakuan dan pengukuran investasi pada efek ekuitas dapat diklasifikasikan
menjadi 2 kelompok yaitu sebagai berikut :
a

Aset lancar, terdiri atas kelompok investasi ekuitas yang diperdagangkan, dan

kelompok investasi ekuitas yang tersedia untuk dijual.


Aset tidak lancar.

Berikut penjelasan mengenai klasifikasi dari pengakuan dan pengukuran investasi pada
efek utang :
1

Efek Dimiliki Hingga Jatuh Tempo ( Held to Maturity-HTM )


Jika perusahaan mempunyai maksud untuk memiliki efek hutang hingga jatuh tempo,
maka investasi dalam efek utanng tersebut harus diklasifikasikan dalam kelompok
dimiliki hingga jatuh tempo dan disajikan dalam neraca sebesar biaya perolehan setelah
amortisasi premi atau diskonto. Premi/diskonto diamortisasi dengan effective-interest
method, kecuali straight line method menunjukkan hasil yang sama.

Perusahaan mungkin mengubah maksudnya untuk memiliki efek utang tertentu sampai
dengan saat jatuh tempo dengan menjual atau mentransfer efek utang tersebut. Penjualan atau
transfer efek utang tidak dianggap sebagai perubahan dalam tujuan dimiliki hingga jatuh
tempo, jika perubahan maksud tersebut disebabkan oleh kondisi berikut ini :
a
b

Terdapat bukti mengenai penurunan signifikan risiko kredit perusahaan penerbit efek.
Terjadi perubahan peraturan perpajakan yang menghapuskan atau menaikkan tarif

apajak final yang berlaku atas bunga dari efek utang .


Terjadi penggabungan usaha atau penjualan dalam jumlah bessar yang mengakibatkan
diperlukannya penjualan atau transfer efek dalam kelompok dimiliki hingga jatuh
tempo untuk mempertahankan risiko kredit perusahaan atau entitas dan posisi risiko

suku bunga yang ada saat tersebut.


Terjadi perubahan dalam persyaratan yang secara signifikan mengubah devinisi
investasi yang diizinkan dalam jenis efek tertentu, sehingga perusahaan harus

melepaskan efek dalam kelompok dimiliki hingga jatuh tempo.


Terjadi perubahan peraturan pemerintah mengenai modal minimum industri tertentu
yang mengakibatkan perusahaan mengurangi aktivitas usahanya dan menjual efek
dalam kelompok dimiliki hingga jatuh tempo.
76

Bab 5. Investasi pada efek tertentu, investasi pada entitas asosiasi


dan anak, properti investasi

Terjadi perubahan dalam peraturan pemerintah yang mengakibatkan bertambahnya


bbot risiko atas investasi efek utang dalam perhitungan rasio tertentu, misalnya dalam
perhitungan solvabilitas perusahaan asuransi atau perhitungan rasio kecukupan modal
perbankan.

Selain perubahan yang diuraikana diatas, kejadian lain yang tidak berulang dan bersifat luar
biasa yang tidak dapat diantisipasi, dapat mengakibatkan perusahaan menjual atau mentransfer
efek tertentu dalam kelompok dimiliki hingga jatuh tempo, tanpa harus dipertanyakan tujuan
awal pemilikan efek dalam kelompok dimiliki hingga jatuh tempo harus diungkapkan sesuai
dengan persyaratan tersebut. Perusahaan tidak boleh mengklasifikasikan efek utang ke dalam
kelompok dimiliki hingga jatuh tempo jika perusahaan mempunyai nmaksud untuk memiliki
efek tersebut untuk periode yang tidak ditentukan. Oleh karena itu, efek utang tidak boleh
diklasifikasikan dalam kelompok ini jika perusahaan bermaksud menjual efek tersebut.
Contoh:
Pada tanggal 1 Januari 2013, PT ABC membeli obligasi dengan bunga 8% , 5 tahun, dan nilai
jatuh temponya sebesar Rp. 100.000.000 dengan harga sebesar Rp. 92.278.000. bunga
dibayarkan setiap tanggal 1 Juli dan 1 Januari. PT ABC menggunakan metode bunga efektif
dalam mengalokasikan diskonto/premi yang belum diamortisasi. Obligasi ini dikategorikan
dalam Held to Maturity. Tingkat bunga efektif 10%
Diminta :
a
b
c
d

Buatlah jurnal pada saat tanggal pembelian obligasi.


Buatlah daftar amortisasi obligasi
Buatlah jurnal untuk mencatat bunga yang diterima, amortisasi dan penyesuaiannya.
Buatlah penyajian dalam laporan keuangan per 31 Desember 2013.

Penyelesaian :
a

Jurnal pembelian obligasi

01/01/2013
Investasi pada efek tertentu

Rp. 92.278.000

77

Bab 5. Investasi pada efek tertentu, investasi pada entitas asosiasi


dan anak, properti investasi

Kas/Bank

RP. 92.278.000

Daftar tabel amortisasi obligasi ( dalam ribuan rupiah)

Tanggal

Obligasi 10% dibeli tingkat bunga 12%


Penerimaan
Pendapatan
Amortisasi
kas/bank

01-01-13
01-07-12
01-01-13
01-07-13
01-01-14
01-07-14
01-01-15
01-07-15
01-01-16
01-07-16
01-01-17

4.000
4.000
4.000
4.000
4.000
4.000
4.000
4.000
4.000
4.000
40.000

bunga
4.614
4.645
4.677
4.711
4.746
4.783
4.823
4.864
4.907
4.952
47.722

diskonto
614
645
677
711
746
783
823
864
907
952
7.722

Nilai tercatat
obligasi
92.278
92.892
93.537
94.214
94.925
95.671
96.454
97.277
98.141
99.048
100.000

Jurnal untuk mencatat bunga yang diterima dan penyesuaian ( bunga dan amortisasi
diskonto)

01/07/12
Kas/Bank

Rp. 4.000.000

Investasi pada efek tertentu

Rp. 614.000

Pendapatan Bunga

Rp. 4.614.000

31/12/12
Piutang Bunga

Rp. 4.000.000

Investasi pada efek tertentu

Rp. 645.000

78

Bab 5. Investasi pada efek tertentu, investasi pada entitas asosiasi


dan anak, properti investasi

Pendapatan Bunga

Rp. 4.645.000

PT ABC melaporkan investasi obligasi per Desember 2012 dalam laporan keuangan
sebagai berikut :

Neraca
Aset Lancar

Rp. 4.000.000

Piutang Bunga
Aset Tidak Lancar

Rp. 93.537.000

Investasi pada efek tertentu


Laporan Laba Rugi
Pendapatan/Beban Lain-lain
Pendapatan Bunga

Rp. 9.259.000

Apabila PT ABC menjual investasi obligasinya pada tanggal 1 November 2016 dengan kurs
99 ditambah bunga akrual maka :
Nilai tercatat pada 1 Juli 2016
+ amortisasi diskonto (1 Juli- 1 November 2016 = 4 bulan )

99.048.000
635.000
99.683.000

Harga jual
Laba penjualan atas investasi obligasi

99.750.000
67.000

*4/6 x Rp. 952.000


Atas transaksi penjualan investasi obligasi tersebut, jurnalnya adalah sebagai berikut :
01/11/16
79

Bab 5. Investasi pada efek tertentu, investasi pada entitas asosiasi


dan anak, properti investasi

Investasi pada efek tertentu

Rp. 635.000

Pendapatan bunga

Rp. 635.000

Kas/Bank

Rp. 102.417.000

Pendapatan bunga

Rp. 2.667.000

Investasi pada efek tertentu

Rp. 99.683.000

Laba penjualan investasi obligasi

Rp. 67.000

Efek Diperdagangkan (Trading)

Efek yang dibeli dan memiliki untuk dijual kembali dalam waktu dekat harus diklasifikasikan
dalam

kelompok

diperdagangkan.

Efek

dalam

kelompok

diperdagngkan

biasanya

menunjukkan frekuensi pembelian dan penjualan yang sangat sering dilakukan. Efek ini dimiliki
dengan tujuan utuk menghasilkan laba dari perbedaan harga jangka pendek.
Menurut Kiseo, Weygand, dan Warfield (2007 : 846, 850) surat berharga dalam bentuk utang
ataupun saham yang dibeli dan dimiliki untuk dijual kembali dalam periode singkat atau kurang
dari tiga bulan atau mugkin diukur dalam hitungan hari. Perusahaan melaporkan efek
diperdagangkan pada fair value, dengan unrealized holding gain or losses sebagai bagian dari
laba neto.
Holding gain or losses merupakan perubahan neto antara nilai wajar dari satu periode e pperiode
lainnya, tidak termasuk dividen maupun bunga yang telah diakui tetapi belum diterima. Sama
seperti kedua jenis kedua jenis investasi utang lainnya, premi/diskonto juga akan diamortisasi.
Contoh :
Pada tanggal 1 Januari 2013, investasi pada efek utang PT Raya (dalam ribuan rupiah) adalah
sebagai berikut :
Nilai tercatat

Nilai wajar

Laba/Rugi yang
belum direalisasi

80

Bab 5. Investasi pada efek tertentu, investasi pada entitas asosiasi


dan anak, properti investasi

Obligasi PT A, 8%

43.860

51.500

7.640

Obligasi PT B, 10%

184.230

175.200

(9.030)

Obligasi PT C, 8%

86.360

91.500

5.140

Total

314.450

318.200

3.750

Saldo awal surplus yang ditransfer ke laba-rugi tahun berjalan

Surplus yang ditransfer ke laba rugi tahun berjalamnDr

3.750

Jurnal penyesuaian untuk mencatat investasi utang dalam trading sebesar nilai wajar adalah
sebagai berikut :
31/12/11
Saldo awal surplus yang ditransfer ke laba-rugi tahun berjalan
Laba/Rugi yang belum direalisasi

Rp. 3.750.000
Rp. 3.750.000

Laba atau rugi yang belum direalisasi atas efek dalam kelompok diperdagangkan harus diakui
sebagain penghasilan. Efek yang dibeli dan dimiliki untuk dijual kembali dalam waktu dekat,
harus diklasifikasikan dalam kelompok trading. Pengelompokkan ini biasanya ditunjukkan
dengan frekuensi pembelian dan penjualan yang sangat sering dilakukan. Tinjauan dari investasi
utang ini dimiliki adalah untuk menghasilkan laba dari perbedaan harga jangka pendek.

Efek Tersedia untuk Dijual (Available for Sale---AFS)

Efek yang tidak diklasifikasikan dalam kelompok diperdagangkan dan dalam kelompok
dimiliki hingga jatuh tempo, harus diklasifikasikan ke dalam kelompok tersedia untuk dijual.
Laba atau rugi yang belum direalisasi atas efek dalam kelompok tersedia untuk dijual (termasuk
efek yang diklasifikasikan sebagai aktiva lancar) harus dimasukkan sebagai komponen ekuitas
yang disajikan secara terpisah, dan tidak boleh diakui sebagai penghasilan sampai saat laba atau
rugi tersebut dapat direalisasi.

81

Bab 5. Investasi pada efek tertentu, investasi pada entitas asosiasi


dan anak, properti investasi

Untuk ketiga kelompok efek tersebut, dividen dan pendapatan bunga termasuk amortisasi
premi/diskonto yang timbul saat perolehan diakui sebagai penghasilan sampai. Sedangkan untuk
laba/rugi yang telah direalisasi dalam efek trading dan HTM, juga tetap harus dilaporkan
sebagai penghasilan.
Investasi dalam bentuk utang maupun ekuitas yang termasuk dalam kategori AFS dilaporkan
sebesar fair value dalam neraca. Keuntungan/kerugian yang belum direalisasi terkait dengan
perubahan fair value akan dicatat dalam akun unrealized gain or losses. Perubahan fair value
tidak akan dilaporkan sebagai bagian dari net income sampai investasi tersebut dijual. ( Kieso,
Weygand, dan Warfield, 2007 : 842-845.,848-850)
Contoh :
PT Andi membeli obligasi selama 5 tahun sebesar 10%, Rp. 100.000.000 pada tanggal 1 Januari
2013. Bunga diterima setiap tanggal 1 Januari dan 1 Juli. Obligasi dibeli dengan harga Rp.
108.111.000. Kurs pasar 8%. Amortisasi premi/diskonto menggunakan bunga efektif dan dicatat
bersamaan dengan tanggal bunga.
Diminta :
a
b
c

Buatlah jurnal pada tanggal pembelian obligasi


Buatlah daftar amortisasi obligasi
Buatlah jurnal untuk mencatat bunga yang

penyesuainnya
Buatlah penyajian dalam Laporan Keuangan per 31 Desember 2013

diterima,

amortisasi

dan

Penyelesaian :
a

Jurnal pada saat pembelian obligasi

01/01/12
Investasi pada efek tertentu
Kas/Bank
b

Rp. 108.111.000
Rp. 108.111.000

Daftar tabel amortisasi obligasi (dalam ribuan rupiah)

82

Bab 5. Investasi pada efek tertentu, investasi pada entitas asosiasi


dan anak, properti investasi

Tanggal

Obligasi 10% dibeli tingkat bunga 8%


Penerimaan
Pendapatan
Amortisasi
kas/bank

01-01-13
01-07-13
01-01-14
01-07-14
01-01-15
01-07-15
01-01-16
01-07-16
01-01-17
01-07-17
01-01-18

5.000
5.000
5.000
5.000
5.000
5.000
5.000
5.000
5.000
5.000
50.000

bunga

diskonto

4.324
4.297
4.269
4.240
4.210
4.178
4.145
4.111
4.075
4.040
41.889

676
703
731
760
790
822
855
889
925
960
8.111

Nilai tercatat
obligasi
108.111
107.435
106.432
106.001
105.241
104.451
103.629
102.774
101.885
100.960
100.000

Jurnal untuk mencatat bunga yang diterima dan penyesuaian (bunga dan amortisasi
premi)

01/07/13
Kas/Bank

Rp. 5.000.000

Investasi pada efek tertentu

Rp. 676.000

Pendapatan bunga

Rp. 4.324.000

31/12/13
Piutang bunga

Rp. 5.000.000

Investasi pada efek tertentu

Rp. 703.000

Pendapatan bunga

Rp. 4.297.000

Apabila pada tanggal 31 Desember 203 nilai wajar obligasi tersebut adalah sebesar Rp.
105.000.000 dan nilai tercatat sebesar Rp. 106.732.000 maka PT ABC akan mengakui laba/rugi
yang belum direalisasi, dengan jurnal sebagai berikut :
83

Bab 5. Investasi pada efek tertentu, investasi pada entitas asosiasi


dan anak, properti investasi

31/12/13
Laba/rugi yang belum direalisasi

Rp. 1.732.000

Surplus yang ditransfer ke ekuitas


4

Rp. 1.732.000

Perubahan Kelompok Investasi

Pemindahan efek antar kelompok dicatat sebesar nilai wajarnya. Pada tanggal perubahan
kelompok, laba atau rugi yang belum direalisasi harus dicatat sebagai berikut :
a

Untuk efek yang dipindahkan dari kelompok trading, maka laba/rugi yang belum
direalisasi pada tanggal transfer telah tercatat sebagai penghasilan dan oleh karena itu

tidak boleh dihapus.


Untuk efek yang dipindahkan ke kelompok trading , maka laba/rugi yang belum

direalisasi pada tanggal pemindahan diakui sebagai penghasilan pada saat tersebut.
Untuk efek utang yang dipindahkan ke kelompok AFS dari kelompo HTM, maka
laba/rugi yang belum direalisasi diakui dalam kelompok ekuitas secara terpisah pada

tanggal pemindahan kelompok.


Untuk efek utang yang ditransfer dari kelompok AFS e kelompok HTM, maka
laba/rugi yang belum direalisasi pada tanggal transfer harus tetap dilaporkan dalam
komponen ekuitas secara terpisah, namun harus diamortisasi selama masa manfaat
efek dengan cara yang konsisten dengan aamortisasi premi/diskonto. Amortisasi
laba/rugi yang belum direalisasi tersebut akan sepadan dengan pengaruh amortisasi
premi/diskonto terhadap pendapatan bunga dari efek dalam elompok HTM.

Dasar pengukuran Dampak perpindahan pada Dampak


akun ekuitas

perpindahan

Sekuritas ditransfer

Laba/rugi

atau sebaliknya

sebesar nilai wajar

direalisasi pada tanggal

belum

pada

transfer

pada

HTMAFS

tanggal

yang

laba
belum Laba/rugi

TradingAFS

akan

pada
yang

direalisasi
tanggal

transfer

meningkatan/menurukan

transfer akan diakui

Sekuritas ditransfer

ekuitas
Sebagian komponen dari

dalam pendapatan
Tidak ada
84

Bab 5. Investasi pada efek tertentu, investasi pada entitas asosiasi


dan anak, properti investasi
sebesar nilai wajar

ekuitas

pada

meningkatkan/menurunan

tanggal

transfer

AFSHTM

akan

sebesar

laba/rugi

yang

belum

direalisasi

pada

Sekuritas ditransfer

tanggal transfer
Laba/rugi yang

sebesar nilai wajar

direalisasi pada tanggal

pada

transfer

transfer

tanggal

sebagai

yang

belum Tida ada


dicatat

komponen

dari

euitas akan diamortisasi


selama sisa umur seuritas

Untuk pengungkapan setiap penjualan/transfer efek dalam kelompok HTM harus diungkapkan
sebagai berikut :
a

Jumlah akumulasi amortisasi diskonto/premium untuk efek yang dijual atau dipindahkan

b
c

ke kelompok lain
Laba/rugi penjualan efek, yang telah direalisasi maupun yang belum direalisasi
Kondisi yang mengakibatkan diambilnya keputusan menjual atau memindahkan elompok
efek tersebut.

B PENYAJIAN DAN PENGUNGKAPAN INVESTASI PADA EFEK TERTENTU


1. Penyajian
Perusahaan dengan neraca yang aktiva dikelompokan menjadi aktiva lancar, aktiva tetap,
dan aktiva lain-lain kewajibannya dikelompokan menjadi kewajiban jangka pendek dan
jangka panjang, harus melaporkan semua efek yang diperdagangkan sebagai aktiva
lancar. Efek dalam kelompok dimiliki hingga jatuh tempo dan efek dalam kelompok
tersedia untuk dijual disajikan sebagai aktiva lancar atau aktiva tidak lancar berdasarkan
keputusan manajemen. Khusus untuk efek utang dalam kelompok dimiliki hingga jatuh
tempo dan elompok tersedia untuk dijual yang jatuh tempo pada tahun berikutnya harus
bdikelompokkan sebagai aktiva lancar.
Dalam laporan arus kas , arus kas yang digunakan untuk untuk atau berasal dari
pembelian, penjualan, dan jatuh tempo efek dalam kelompok tersedia untuk dijual dan
85

Bab 5. Investasi pada efek tertentu, investasi pada entitas asosiasi


dan anak, properti investasi

dimiliki hingga jatuh tempo, harus diklasifikasikan sebagai arus kas aktiva investasi, dan
dilaporkan sebesar nilai bruto untuk setiap kelompok efek di dalam laporan kas. Arus kas
untuk atau dari pembelian, penjualan, dan jatuh tempo efek dalam kelompok
diperdagangkan harus diklasifikasikan sebagai arus kas aktiva operasi.
2. Pengungkapan
Untuk efek dalam kelompok tersedia untuk dijual dan kelompok dimiliki hingga jatuh tempo,
informasi berikut ini harus diungkapkan dalam catatan atas laporan keuangan untuk setiap
kelompok utama efek, yaitu sebagai berikut :
a
b
c
d

Nilai waja agregat


Laba yang belum direalisasi dari pemilikan efek
Rugi belum direalisasi dari pemilikan efek
Biaya perolehan, termasuk jumlah premi dan diskonto yang belum diamortisasi

Lembaga keuangan (bank, koperasi kredit, lembaga pembiayaan dan asuransi) perusahaan
harus mengungkapkan setiap jenis efek utama yang dimilikinya sebagai berikut :
a
b
c
d
e

Efek ekuitsas
Efek utang yang dikeluarkan oleh pemerintah
Efek utang perusahaan
Efek utang yang dijamin hipotik, dan
Efekn utang lainnya.

Untuk efek utang dalam kelompok tersedia untuk dijual dan kelompok dimiliki hingga jatuh
tempo, informasi mengenai tanggal jatuh tempo efek utang tersebut harus diungkapkan
dalam catatan atas laporan keuangan tahun terahir yang disajikan. Informasi tentang tanggal
jatuh tempo dapat dikelompokkan menurut jangka waktunya sejak tanggal neraca. Lembaga
keuangan harus mengungkapkan nilai wajar dan biaya perolehan efek utang, termasuk
diskonto dan premium yang belum diamortisasi berdasarkan, sedikitnya 4 kelompok tanggal
jatuh tempo berikut ini :
a
b
c
d

Jatuh tempo dalam waktu kurang dari 1 tahun


Jatuh tempo dalam waktu antara sampai 5 tahun
Jatuh tempo dalam waktu antara 5 sampai 10 tahun
Jatuh tempo dalam waktu lebih dari 10 tahun

86

Bab 5. Investasi pada efek tertentu, investasi pada entitas asosiasi


dan anak, properti investasi

Efek yang tidak jatuh tempo pada tanggal tertentu, seperti efek yang pembayarannya dijamin
hipotik, dapat diungkapkan secara terpisah ( tidak dialokasikan ke dalam beberapa kelompok
jatuh tempo tersebut). Jika penggolongan jatuh temponya dialokasikan, dasar alokasinya
harus diungkapkan.
Untuk setiap periode akuntansi, perusahaan harus mengungkapkan :
a

Penerimaan dari penjualan efek dalam kelompok tersedia untuk dijual, laba dan rugi

yang direalisasi dari penjualan tersebut.


Dasar penentuan biaya perolehan dalam menghitung laba atau rugi yang direalisasi

( misalnya identifikasi khusus, rata-rata, atau metode lain.)


Laba dan rugi yang dimasukkan sebagai penghasilan

dari

pemindahan

pengelompokkan efek dari kelompok tersedia untuk dijual ke kelompok yang


d

diperdagangkan.
Perubahan laba atau rugi pemilikan yang belum direalisasi untuk efek dalam
kelompok tersedia untu dijual yang telah dimasukkan ke dalalm komponen ekuitas

secara terpisah selama periode yang bersangkutan, dan


Perubahan laba dan rugi pemilikan efek yang belum direalisasi dari efek untuuk
tujuan diperdagangkan yang telah diakui sebagai penghasilan dalam periode
pelaporan.

Untuk setiap penjualan atau transfer efek dalam kelompok dimiliki hingga jatuh tempo harus
diungkapkan :
a

Jumlah akumulasin amortisasi diskonto atau preminya untuk efek yang dijual atau

dipindahkan ke kelompok lain.


Laba atau rugi penjualan efek, baik yang telah direalisasi maupun yang belum

direalisasi, dan
Kondisi yang mengakibatkan diambilnya keputusan menjual atau memindahkan
kelompok efek tersebut

Penilaian investasi pada efek tertentu menurut perpajakan didasarkan pada nilai perolehannya
UU PPh Nomor 36 Tahun 2008 pasal 10 ayat (6) ditentukan bahwa penilaian sekuritas hanya
boleh menggunakan harga perolehan. Sedangkan keuntungan dan kerugian karena penjualan
atau pengalihan saham hendaknya berpegang kepada ketentuan UU PPh Nomor 36 Tahun
2008 pasal 4 ayat (1), yaitu sebesar selisih antara harga jual dengan harga perolehan.
87

Bab 5. Investasi pada efek tertentu, investasi pada entitas asosiasi


dan anak, properti investasi

Investasi surat berharga dalam valuta asing, sesuai dengan ketentuan perpajakan, harus
dijabarkan ke dalam mata uang rupiah. Penjabarannya dilakukan dengan menggunakan kurs
tanggal neraca atau kurs tetap yang dilakukan secara taat asas.

C PERPAJAKAN
Obligasi merupakan surat peminjaman uang yang akan dilunasi setelah jangka waktu tertentu.
Pada umumnya obligasi memberikan penghasilan bunga dengan jumlah tetap kepada investor.
Obligasi juga mempunyai hak atas pembagian keuntungan penjelasan pasal 4 ayat (1) bagian (g)
UU PPh menganggap bagian keuntungan tersebut sebagai penghasilan.
UU PPh Nomor 36 Tahun 2008 pasal 4 ayat (1) menyebutkan bahwa yang menjadi objek
pajak adalah penghasilan, yaitu setiap tambahan kemampuan ekonomis yang diterima atau
diperoleh Wajib Pajak, baik yang berasal dari Indonesia maupun dari luar Indonesia, yang dapat
dipakai untuk konsumsi atau menambah kekayaan Wajib Pajak yang bersangutan, dengan nama
dan dalam bentuk apa pun. Hal ini juga mencakup penghasilan yang diterima atau diperoleh
dari transaksi investasi utang.
Jika pada pembelian obligasi termasuk unsur bunga berjalan, maka bunga tersebut harus
diperhitungkan sebagai penghasilan. PPh yang dipungut atas bunga obligasi yang tidak dijual di
bursa efek tidak bole dikapitalisasi, tetapi harus dicatat sebagai pajak yang dibayar di muka (PPh
23 dengan tarif 15% x penghasilan bruto). Sementara itu, bunga obligasi di bursa efek dikenakan
PPh final (PPh pasal 4 ayat 2) sesuai dengan peraturan pemerintah. Selain bunga tetap,
penghasilan obligasi dapat berupa capital gain dan realisasi diskonto (selisih antara nilai nominal
dengan nilai perolehan) pada saat pelunasan obligasi. Hanya bunga obligasi yang
diperdagangkan di Bursa Efek yang diterima oleh wajib pajak orang pribadi dimana tidak
melebihi jumlah Penghasilan Tidak Kena Pajak setahun dibebaskan dari pajak.

Surat Utang Negara (SUN)


88

Bab 5. Investasi pada efek tertentu, investasi pada entitas asosiasi


dan anak, properti investasi

Surat Utang Negara merupakan surat berharga yang berupa surat pengakuan utang baik
dalam mata uang rupiah maupun dalam bentuk valuta asing yang dijamin pembayran bunga
bdan pokoknya oleh Negara RI sesuai dengan masa berlakunya, yang terdiri dari Surat
Perbendaharaan Negara (SPN) dan Obligasi Negara.
1

Penghasilan berupa diskonto SPN sesuai dengan PP 27 Tahun 2008 jo. PMK63/PMK.03/2008 yang mulai berlaku 4 April 2008. SPN berjangka waktu paling lama 1
tahun dengan pembayaran bunga secara diskonto. Diskonto SPN merupakan selisih lebih
antara :
a Nilai nominal pada saat jatuh tempo dengan harga perolehan di Pasar Perdana
b

atau di Pasar Sekunder, atau


Harga jual di Pasar Sekunder dengan harga perolehan di Pasar Perdana atau Pasar
Sekunder.

Besarnya PPh adalah 20% dari diskonto SPN bagi WPDN dan BUT, atau sesuai tarif ketentuan
P3B yang berlaku bagi WP luar negeri. Pemotongan tersebut dilakukan oleh :

Penerbit SPN atau kustodian yang ditunjuk selaku agen pembayar, atau diskonto

SPN yang diterima pemegang SPN saat jatuh tempo, atau


Perusahaan efek atau bank selaku pedagang perantara maupun selaku pembeli,
atas diskonto SPN yang diterima di Pasar Sekunder.

Tetapi jika diskonto SPN diterima atau diperoleh Wajib Pajak :

Bank yang didirikan di Indonesia atau cabang bank luar negeri di Indonesia
Dana pensiun yang pendirian atau pembentukannya telah disahkan oleh Menteri

Keuangan
Reksadana yang telah terdaftar pada Bapepam selama 5 tahun pertama sejak
pendirian perusahaan atau pemberian izin usaha, tidak dilakukan pemotongan

pajak final.
Penghasilan dari transaksi bunga obligasi sesuai dengan PP 16 Tahun 2009 jo. PMK85/PMK.03/2011 tentang PPh atas penghasilan berupa bunga obligasi yang mulai berlaku
pada tanggal 1 januari 2009.
Besarnya PPh adalah berikut ini :
a Bunga dari obligasi dengan kupon sebesar :
15% bagi WPDN dab BUT; dan
89

Bab 5. Investasi pada efek tertentu, investasi pada entitas asosiasi


dan anak, properti investasi

20% atau sesuai dengan tarif P3B bagi WPLN selain BUT;

dari jumlah bruto bunga sesuai dengan masa kepemilikan obligasi.


b

Diskonto dari obligasi dengan kupon sebesar :


15% bagi WPDN dan BUT; dan
20% atau sesuai tarif P3B bagi WPLN selain BUT;
dari selisih lebih harga jual atau nilai nominal di atas harga perolehan obligasi,
tidak termasuk bunga berjalan.

Diskonto obligasi tanpa bunga sebesar :


15% bagi WPDN dan BUT ;
20% atau sesuai P3B bagi WPLN selain BUT;
dari selisih lebih harga jual atau nilai nominal di atas harga perolehan obligasi.

Bunga dan/atau diskonto dari obligasi yang diterima atau diperoleh WP resadana
yang terdaftar pada Bapepam dan Lembaga Keuangan sebesar :
0% untuk tahun 2009 sampai dengan tahun 2010.
5% untuk tahun 2011 sampai dengan tahun 2013, dan
15% untuk tahun 204 dan seterusnya.

Atas penghasilan yang diterima dan diperoleh WP berupa bunga obligasi dikenai pemotongan
PPh yang bersifat final, kecuali bagi WP tertentu yaitu :
i

Dana pensiun yang pendirian atau pembentukannya disahkan oleh Menteri Keuangan;

ii

dan
Bank yang didirikan di Indonesia atau cabang bank luar negeri di Indonesia.

Contoh :
Pada 1 Juli 2013 PT Alex membeli 10 lembar obligasi PT Santi dengan harga nominal Rp.
10.000 dan kurs sebesar 110%. Bunga obligasi 12% per tahun dibayar setiap tanggal 1 April dan
1 Oktober. Komisi pialang sebesar Rp. 8.000. obligasi ini akan dilunasi pada 31 Desember 2017
(4,5 tahun lagi)
Pencatatan investasi oleh PT Alex tahun 2014 adalah sebagai berikut :

90

Bab 5. Investasi pada efek tertentu, investasi pada entitas asosiasi


dan anak, properti investasi

01/07/09
Investasi pada efek tertentu

Rp. 110.000

Pendapatan bunga

Rp. 3.000

Utang PPh Pasal 4 ayat (2)

Rp. 1.500

Kas/bank

Rp. 111.500

Sesuai PP 16 tahun 2009, PT Alex berkewajiban melakukan pemotongan PPh Pasal 4 ayat (2)
atas diskonto yang merupakan penghasilan bagi yang menerbitkan obligasi sebesar 15% x Rp.
10.000 = Rp. 1500 . Paling lambat tanggal 10 bulan berikutnya, PT Alex harus menyetorkan PPh
pasal 4 ayat (2) yang telah dipotongnya ke kas negara :
10/08/13
Utang PPh pasal 4 ayat (2)

Rp. 1.500

Kas/bank

Rp.1 .500

Sesuai pasal 2 UU PPh, PT Alex berkewajiban melakukan pemotongan PPh 2 atas pembayaran
komisi yang merupakan penghasilan bagi yang menerima sebesar 5% x Rp. 8000 = Rp. 400.
01/07/13
Beban komisi

Rp. 8.000

Utang PPh 21

Rp. 400

Kas/bank

Rp. 7.600

Paling lambat tanggal 10 bulan berikutnya, PT Alex harus menyetorkan PPh 21 yang telah
dipotongnya ke kas negara.
10/11/13
Utang PPh 21
Kas/bank

Rp. 400
Rp. 400
91

Bab 5. Investasi pada efek tertentu, investasi pada entitas asosiasi


dan anak, properti investasi

Sesuai PP 16 Tahun 2008, pendapatan bunga yang diterima PT Alex berkewajiban melakukan
pemotongan PPh pasal 4 ayat (2) oleh PT Santi sebagai pemberi penghasilan sebesar 15% x Rp.
6.000= Rp. 900. PPh ini bersifat final sehingga tidak dapat diperhitungkan oleh PT Alex pada
SPT Tahunan PT Alex.

01/10/13
Kas/bank

Rp. 5.100

PPh 23 dibayar di muka

Rp. 900

Pendapatan bunga

Rp. 6.000

Penyesuaian pada akhir tahun 2013 adalah sebagai berikut :


31/12/13
Pendapatan bunga

Rp. 1.111

Investasi pada efek tertentu

Rp. 1.111

Penutup yang dibuat pada ahir tahun 2013 adalah sebagai berikut :
31/12/2013
Pendapatan bunga
Rugi-laba

Rp. 4.889
Rp. 4.889

Penghasilan bunga obligasi merupakan penghasilan yang dikenakan pajak bersifat final,
sehingga pada akhir tahun tidak akan dilakukan penggabungan dengan penghasilan lain dan tidak
dilakukan penghitungan kembali dalam SPT Tahuna PT Alex.
2

Investasi dalam Saham

Pencatatan investasi jangka pendek didasarkan pada nilai perolehannya yaitu harga pembelian
ditambah biaya yang dikeluarkan sehubungan dengan pembelian. Sebagai contoh , perusahaan
92

Bab 5. Investasi pada efek tertentu, investasi pada entitas asosiasi


dan anak, properti investasi

membeli obligasi PT Budi seharga Rp. 100.000.000,00 dengan tingkat bunga 20% per tahun, jasa
perantara Rp. 1.000.000,00. Besarnya nilai investasi jangka pendek dihitung :
Nilai nominal obligasi

Rp. 100.000.000.

Jasa perantara

Rp.

Nilai investasi jangka pendek

Rp. 101.000.000

1.000.000

Saham-saham yang dibeli bersifat investasi sementara dapat dikategorikan menjadi saham biasa
atau saham preferen.
Sebagai contoh, pada tanggalan 1 Februari 2011 dibeli 800 lembar saham preferen 20% dari PT
Noni dengan nominal Rp. 10.000 per lembar kurs 110. Provisi dan materai dibayar Rp. 20.000.
dividen dibayar setiap akhir tahun. Pada tanggal 10 Maret 2011 karena membutuhkan uang
perusahaan menjual kembali sahamnya dengan kurs 112 dan biaya penjualan Rp. 20.000
Perhitungan harga perolehan saham adalah sebagai berikut :
Harga kurs saham 110/100x800xRp. 10.000=

Rp. 8.800.000

Provisi dan materai

Rp. 20.000

Harga perolehan

Rp. 8.780.000

Besarnya dividen per 31 Desember 2011

= 20% x Rp. 10.000.000


= Rp. 2.000.000

Perhitungan penjualan saham adalah sebagai berikut :


Harga kurs saham 112/100 x Rp. 10.000.000

Rp. 11.200.000

Biaya penjualan

Rp. 20.000

Harga penjualan

Rp. 11.180.000

Laba/rugi penjualan

= [ Rp. 11.180.000 Rp. 8.780.000 ]


93

Bab 5. Investasi pada efek tertentu, investasi pada entitas asosiasi


dan anak, properti investasi

= Rp. 2.400.000
Ayat jurnal yang disusun adalah sebagai berikut :
1
2

Saham preferen PT Budi


Kas
Kas
Penghasilan dividen
Kas
Saham ppreferen PT Budi
Keuntungan penjualan saham

Rp. 8.780.000
Rp. 8.780.000
Rp. 2.000.000
Rp.2.000.000
Rp. 11.180.000
Rp. 8.780.000
Rp. 2.400.000

Investasi Bentuk Obligasi

Obligasi ini juga termasuk dalam surat-surat berharga. Entitas dimungkinkan menginvestasikan
dananya ke dalam surat berharga berbentuk obligasi. Keuntungan yangb diperoleh dari obligasi
ini berupa bunga yang diterima 2 kali dalam setahun setiap enam bulan.
Contoh :
Pada tanggal 1 Agustus 2013 membeli 150 lembar obligasi PT Saya dengan nominal Rp. 100.000
per lembar kurs 101. Bunga obligasi 20% setahun yang dibayar setiap 1 Mei dan 1 November.
Provisi dan materai yang diperhitungkan Rp. 20.000 selanjutnya obligasi dijual dengan kurs 105
dan biaya penjualan Rp. 2.000 per tanggal 1 Desember 2013
1

Perhitungan harga perolehan obligasi

Harga kurs 101/100 x 150 x Rp. 100.000

= Rp. 15.150.000

Biaya provisi dan materai

= Rp. 20.000

Harga perolehan

= Rp. 15.130.000

Bunga berjalan ( 1 Mei s.d. 1 Agustus)

= 3/12 x Rp. 10.000.000


= Rp. 500.000

Ayat jurnal yang disusun :


Obligasi PT Saya

Rp. 15.130.000
94

Bab 5. Investasi pada efek tertentu, investasi pada entitas asosiasi


dan anak, properti investasi

Penghasilan bunga

Rp.

500.000

Kas
3

Rp. 15.630.000

Bunga yang diperoleh sejak 1 Mei s.d. 1 November


= 6/2 x 20% x Rp. 10.000.000
= Rp.1.000.000

Ayat jurnal yang disusun :


Kas

Rp. 1.000.0000
Penghasilan bunga

5
6

Rp. 1.000.000

Perhitungan hasil penjualan


Harga kurs 105/100 x Rp. 10.000.000
Biaya penjualan
Hasil penjualan

= Rp.10.500.000
= Rp.
20.000
= Rp. 10.480.000

Rugi penjualan

= [ Rp. 15.630.000 Rp. 10.480.000 ]


= Rp. 5.150.000
Bunga berjalan 1 November s.d. 31 Desember
= 1/6 x Rp. 1.000.000
= Rp. 166.666

Ayat jurnal yang disusun :


Kas

Rp. 10.146.000

Rugi penjualan obligasi

Rp. 5.150.000

Obligasi PT Saya

Rp. 15.130.000

Penghasilan bunga

Rp. 166.666

D INVESTASI PADA ENTITAS ASOSIASI DAN ANAK


Menurut IAI (2009,59) dalam SAK-ETAP menyatakan bahwa investasi pada entitas anak adalah
investasi pada suatu entitas yang dikendalikan oleh entitas induk. Pengendalian adalah
kemampuan untuk mengatur kebijakan keuangan dan operasional dari suatu perusahaan sehingga
mendapatkan manfaat dari aktivitas tersebut. Pengendalian dianggap ada apabila suatu entitas
95

Bab 5. Investasi pada efek tertentu, investasi pada entitas asosiasi


dan anak, properti investasi

induk memiliki baik secara langsung atau tidak langsung melalui entitas anak lebih dari setengah
hak suara dari suatu entitas, kecuali dapat ditunjukkan secar a jelas bahwa kepemilikan tersebut
tidak menunjukkan adanya pengendalian.
Investasi pada entitas asosiasi atau pada entitas anak dimaksudkan untuk meningkatkan
penghasilan dengan menanamkan modal pada perusahaan lain. Dalam investasi suatu entitas
mempunyai masud memiliki kekuasaan untuk berpartisipasi dalam keputusan kebijakan
keuangan dan operasional strategik atas entitas. Selain itu juga, penguasaan saham perusahaanperusahaan lain dapat dimaksudkan pula untuk menguasai pasokan bahan buku dan distribusi.
Dengan maksud ivestasi pada entitas asosiasi atau pada entitas anak maka dapat digolongkan ke
dalam kelompok aktiva tidak lancar. Dalam SAK-ETAP, IAI (2009, 58-59) mengatur perlakuan
akuntansi untuk investor yang melakukan investasi pada entitas asosiasi dan entitas anak. Entitas
asosiasi merupakan suatu entitas, termasuk perusahaan bukan PT seperti persekutuan dimana
investor mempunyai pengaruh signifikan dan bukan merupakan entitas anak ataupun bagian
dalam joint venture. Pengaruh signifikan tersebut adalah keukuasaan untuk berpartisipasi dalam
keputusan kebijakan keuangan dan operasional stratejik atas suatu entitas, tetapi tidak
mengendalikan bersama atas kebijakan tersebut. Apabila investor memiliki secara langsung atau
tidak langsung 20% atau lebih hak suara pada perusahaan investee, maka investor mempunyai
pengaruh signifikan, kecuali dapat ditunjukkan secara jelas bahwa tidak ada pengaruh signifikan.
Jika investor memiliki secara langsung atau tidak langsung kurang dari 20% hak suara investee,
maka investor tidak memiliki pengaruh signifikan kecuali dapat ditunjukan secara jelas bahwa
investor mempunyai pengaruh signifikan.

Investasi Pada Entitas Dalam Neraca

Investor harus mengukur investasi pada entitas asosiasi dengan menggunakan metode biaya (cost
method). Dalam metode biaya, investasi diukur pada biaya perolehan meliputi :
a
b

Harga pembelian
Biaya broer
96

Bab 5. Investasi pada efek tertentu, investasi pada entitas asosiasi


dan anak, properti investasi

c
d

Pajak, dan
Biaya lain-lain sehubungan dengan perolehan.

Investor harus mencatat investasi pada entitas anak dengan menggunakan metode ekutas. Dalam
metode ini, investasi pada entitas ana awalnya diakui pada biaya perolehan termasuk biaya
transaksi. Selanjutanya disesuaikan untuk mencerminkan bagian investor atas laba rugi dan
pendapatan serta beban dari entitas anak. Entitas anak tidak dikonsolidasikan dalam laporan
keuangan ivestor sebagai entitas induk.
Pada umumnya, nilai yang dibukukan untuk investasi dalam saham adalah nilai perolehannya.
Namun, adakalanya nilai saham yang dimiliki akan berkurang. Jika terjadi pengurangan nilai
yang cukup material dan sifatnya permanen, maka selisihnya dapat diperhitungkan sebagai
kerugian yang dibebankan ke laba rugi dan akun cadangan penurunan investasi.
Dalam tujuan perpajakan, tidak terdapat ketentuan yang secara eksplisit menyebut metode
pembukuan investasi jangka panjang saham, selain yang tersebut dalam penjelasan pasal 10 ayat
(6) UU PPh Nomor 36 Tahun 2008. Penjelasan tersebut menyatakan bahwa investasi saham,
sama halnya dengan persediaan, dibukukan berdasarkan harga perolehan tanpa memperhatikan
persentase kepemilikan. Jadi, dalam ketentuan perpajakan tidak memperkenankan pengurangan
nilai tersebut sebagai biaya.

2. Investasi Pada Entitas Dalam Laporan Laba Rugi


Penghasilan dari investasi dalam saham berupa dividen (tunai, saham atau harta), saham bonus,
dari hak membeli emisi saham perusahaan, dan keuntungan karena pelepasan saham.
Penghasilan lain-lain merupakan penerimaan dividen. Hasil ini dicatat dalam perhitungan laba
rugi dengan jumlah netto. Dividen yang diterima atau diperoleh adalah objek pajak yang
dikenakan PPh karena dividen sebagai penghasilan dari investasi saham, dividen yang diterima
tau diperoleh dipungut oleh PPh si pemberi penghasilan. Pembayaran paja yang dipungut dapat
dikreditkan pada akhir tahun pajak. UU PPh nomor 36 Tahun 2008 pasal 17 ayat (2c) dan PP 19
Tahun 2009, dividen yang dikenakan pajak adalah dividen yang diterima oleh wajib pajak orang
pribadi dalam negeri. Atas penghasilan dividen tersebut dikenakan pajak yang bersifat final
97

Bab 5. Investasi pada efek tertentu, investasi pada entitas asosiasi


dan anak, properti investasi

dengan tarif 10% dari penghasilan bruto. Menurut UU PPh Nomor 36 Tahun 2008 pasal 4 ayat
(3), dividen yang diecualikan dari objek PPh 23 adalah dividen yang diterima oleh PT sebagai
wajib pajak dalam negeri, koperasi, BUMN/BUMD dari penyertaan modal pada badan usaha
yang didirikan dan bertempat kedudukan di Indonesia, dengan syarat dividen yang dibagikan
berasal dari cadangan saldo laba dan untuk PT, BUMN/BUMD kepemilikan saham paling rendah
25% dari jumlah modal saham.
Contoh
WP Aldo adalah pemegang saham PT ABC, pada tahun 2010 memiliki 4500 lembar saham
dengan harga perolehan Rp. 3500 per lembar saham. Pada tahun 2012 PT ABC membagikan
saham bonus yang berasal dari konversi agio saham dengan perbandingan 1:1 yaitu setiap satu
lembar saham memperoleh satu saham bonus. Pada bulan Agustus 2013, WP Aldo menjual 1500
lenbar saham dengan harga Rp. 5500 per lembar saham.
Dengan demikian penghasilan yang dimasukkan dalam SPT Tahunan PPh tahun 2013 dari
keuntungan atas penjualan saham adalah sebagai berikut :
1

2
3
4
5
6

Harga perolehan setiap lembar saham :


4500 lembar yang diperoleh tahun 2010 @3500
4500 lembar yang diperoleh tahun 2012 @0
Jumlah saham 9000 lembar
Harga perolehan rata-rata per lembar saham
Harga penjualan = 1500 lembar x Rp. 5.500
Harga perolehan 1500 lembar saham @ Rp. 1750
Keuntungan

= Rp. 15.750.000
=
0
= Rp. 15.750.000
= Rp.
1.750
= Rp. 8.250.000
= Rp. 2.625.000
= Rp. 5. 625.000

Untuk mempertahankan proporsi pemilikan saham persero atau pemegang saham, pada
umumnya jika perusahaan akan menerbitkan saham baru kepada persero lama diberikan hak
membeli terlebih dahulu. Sementara itu, kalau hak itu dimanfaatkan untuk membeli saham baru
dengan harga yang lebih rendah dari harga pasar maa harga perolehan alokasi rights
ditamabahkan pada pembelian dan diakui sebagai harga perolehan saham baru. Apabila rights
tidak dimanfaatkan, alokasi biaya umumnya dianggap sebagai kerugian. Dalam ketentuan
perpajakan, alokasi tersebut tidak dilakukan sehingga hasil penjualan rights merupakan PhKP
seluruhnya. Laba rugi penjualam investasi pada entitas asosiasi dan pada entitas anak, biasanya

98

Bab 5. Investasi pada efek tertentu, investasi pada entitas asosiasi


dan anak, properti investasi

dilaporkan dalam perhitungan laba rugi. Penghasilan dari penjualan investasi tersebut umumnya
dipisahkan dari penghasilan yang diterima dari kegiatan usaha.
Apabila penjualan saham dilakukan di bursa efek, sama halnya dengan investasi dalam seuritas
saham yang bersifat lancar, penghasilan dan penjualan itu dikenakan PPh. Sementara itu, kalau
penjualan dilakukan tidak melalui bursa efek, maka keuntungan dari penjualan tersebut harus
diakui sebagi penghasilan diluar usaha yang harus digabungkan dengan penghasilan lain untu
dilaporkan dalam SPT Tahunan PPh badan.
Jurnal akuntansi perpajakan untuk transaksi investasi dalam saham pada entitas asosiasi dengan
menggunakan metode biaya adalah sebagai berikut :
Transaksi

Pembelian saham

Metode biaya (Cost Method)

Investasi pada entitas asosiasiPT

xxx

xxx

Kas/bank

xxx

PPh 23 dibayar dimuka

xxx

Pendapatan dividen
Kas/bank

xxx

xxx
-

PPh Pasal 4 ayat (2)

xxx

Rugi/laba penjualan investasi saham

xxx

xxx

Kas/Bank

Pengakuan

Tidak ada jurnal

laba/rugi
Pembagian dividen

Penjualan saham

Investasi pada entitas asosiasi-- PT


xxx
Sedangkan, jurnal akuntansi perpajakan untuk transaksi investasi dalam saham pada entitas anak
dengan menggunakan metode ekuitas adalah sebagai berikut :
Transaksi

Pembelian saham
Pengakuan laba
Pengakuan rugi
Pembagian dividen

Metode Ekuitas (Equity Method)


Apabila kepemilikan saham < 25%

Investasi pada entitas anakPT

xxx

Kas/Bank
Investasi pada entitas anakPT

xxx

Xxx
-

Pendapatan investasi
Pendapatan investasi

xxx

Xxx
-

Investasi pada entitas anakPT


Kas/bank

xxx

Xxx
99

Bab 5. Investasi pada efek tertentu, investasi pada entitas asosiasi


dan anak, properti investasi

Penjualan saham

Transaksi
Pembelian saham
Pengakuan laba/rugi
Pembagian dividen
Penjualan saham

PPh 23 dibayar dimuka

xxx

Investasi pada entitas anakPT


Kas/bank

xxx

Xxx
-

PPh Pasal 4 ayat (2)

xxx

Rugi/laba penjualan investasi saham

xxx

xxx

Investasi pada entitas anak -- PT

xxx

Metode Ekuitas (Equity Method)


apabila kepemilikan saham > = 25%
Sama dengan di atas
Sama dengan di atas
Kas/bank
xxx
Investasi pada entitas anakPT..
Sama dengan di atas

Xxx

E PROPERTI INVESTASI
Dalam SAK-ETAP yang diatur oleh IAI (2009: 66-67), properti investasi adalah properti dalam
bentuk aset berwujud tanah atau bangunan atau bagian dari suatu bangunan atau keduanya yang
dikuasai oleh pemilik untuk menghasilkan sewa atau untuk kenaikan nilai atau keduanya tetapi
tidak untuk digunakan dalam produksi atau penyediaan barang atau jasa atau untuk tujuan
administratif, atau untuk dijual dalam kegiatan usaha sehari-hari.
Properti investasi diperoleh dengan pembelian dicatat sejumlah harga pembelian
ditambah dengan setiap pengeluaran biaya-biaya yang dapat diatribusikan secara langsung
seperti biaya legal dan broker, biaya pajak pengalihan dan biaya transaksi lainnya. Seluruh
properti investasi untuk bangunan harus diukur pada biaya perolehan dikurangi aumulasi
penyusutan dan kerugian penurunan nilai. Entitas harus mencatat suatu aset berwujud tanah dan
bangunan ke dalam akun properti investasi apabila aset berwujud tanah atau bangunan tersebut
100

Bab 5. Investasi pada efek tertentu, investasi pada entitas asosiasi


dan anak, properti investasi

memenuhi definisi properti investasi. Tetapi, entitas harus mengeluarkan dari akun properti
investasi apabila aset berwujud tanah atau bangunan tersebut tidak memenuhi definisi properti
investasis
F PERPAJAKAN
Menurut perpajakan sesuai dengan pasal 1 UU PPh Nomor 36 Tahun 2008, aset tetap adalah
harta berwujud yang dapat disusutkan dan terletak atau berada di Indonesia, dimiliki dan
dipergunakan untuk mendapatkan, menagih, dan memelihara penghasilan yang merupakan objek
pajak serta mempunyai masa manfaat lebih dari tahun. Berdasarkan UU PPh nomor 36 tahun
2008, pengeluaran untu memperoleh harta berwujud yang mempunyai masa manfaat lebih dari
tahun harus dibebankan sebagai pengeluaran untuk mendapatkan, menagih, dan memelihara
penghasilan dengan mengalokasikan pengeluaran tersebut selama masa manfaat harta tersebut
melalui penyusutan.
Menurut peraturan perpajakan, penyusutan aset tetap dimulai pada saat tahun pengeluaran, untuk
tahun 2000 dan sebelumnya (UU PPh Nomor 17 Tahun 1983). Sedangkan untuk tahun 2001 (UU
PPh Nomor 17 Tahun 2000) sampai dengan sekarang (UU PPh Nomor 36 Tahun 2008)
penyusutan dimulai pada saat bulan pengeluaran aset tetap tersebut, kecuali apabila aset yang
masih dalam proses pengerjaa yaitu pada bulan selesainya pengerjaan tersebut. Dengan
persetujuan Ditjen Pajak, wajib pajak diperkenanan melakukan penyusutan mulai pada bulan aset
tersebut digunakan untuk mendapatkan, menagih dan memelihara penghasilan atau pada bulan
aset yang bersangkutan mulai menghasilkan. Baik menurut akuntansi maupun pajak, tanah yang
berstatus hak milik, Hak Guna Bangunan, Hak Guna Usaha dan hak pakai untuk pertama alinya
tidak disusutkan, kecuali nilainya berkurang dalam pemakaian.
Apabila WP baik pribadi maupun badan (PKP atau non-PKP) membangun sebuah banguna yang
dilakukan sendiri dengan luas bangunan 300m2 atau lebih dan tidak dalam kegiatan usaha atau
pekerjaan akan menimbulkan dampak perpajakan yaitu dikenakan PPN membangun sendiri
sesuai dengan pasal 16C UU PPN Nomor 42 Tahun 2009 sebesar 10% x 40% x jumlah biaya
yang dikeluarkan atau dibayarkan, tetapi tidak termasuk harga perolehan tanah. Saat terutang
PPN terseut adalah pada saat setiap bulan sejak saat dimulainya kegiatan membangun sendiri
secara fisik, misalnya saat penggalian fondasi, pemasangan tiang pancang, ataupun kegiatan fisik
101

Bab 5. Investasi pada efek tertentu, investasi pada entitas asosiasi


dan anak, properti investasi

lainnya. WP wajib melakukan penyetoran setiap tanggal 15 bulan berikutnya setelah bulan
terjadinya pengeluaran atau berakhirnya masa pajak. Apabila WP adalah PKP, maka yang
bersangkutan wajib melaporannya dengan menggunakan SPT Masa PPN masa pajak yang sama
dengan bulan pengeluaran, tetapi apabila WP adalah non-PKP maka yang bersangkutan wajib
menggunakan SSP lembar ke-3 paling lambat akhir bulannya setelah berkhir masa pajak. PPN
pasal 16C yang dibayar atas kegiatan membangun sendiri tidak dapat dikreditkan dengan Pajak
Keluaran.

Contoh :
PT Swat (PKP) membeli properti investasi berupa sebidang tanah kaveling di Bogor seluas
600m2. Pembelian dilakukan secara tunai senilai Rp. 600.000.000 dari PT Indo (PKP) dengan
membayar uang muka sebesar Rp. 5.000.000 tanggal 31 Agustus 2012. PPN dipungut oleh PT
Indo sebesar Rp. 500.000.
Pelunasan dihadapan Notaris PPAT Dr Parulian, SH. MH. Pada tanggal 5 September 2012. NJOP
bumi per m2 sebesar Rp. 916.000 (A16) dengan NPOPTKP Rp. 60.000.000 serta NJOPTKP Rp.
5.000.000. BPHTB sebesar 5% dilunasi paling lambat tanggal 5 September 2012 pada bank
persepsi dengan menggunakan Surat Setoran BPHTB PPN dipungut oleh PT Indo sebesar Rp.
59.500.000.
PT Indo juga memungut PPnBM sebesar 20% untuk transaksi penjualan tersebut, dengan
menggunakan faktur pajak. PPnBM yang dipungut tidak dapat dikreditkan sebagai pajak
masukan tetapi termasuk biaya yang boleh dikurangkan oleh pajak.
Pada tanggal 6 January 2013 mulai melakukan kegiatan membangun gedung untuk gudang dan
kantor yang disewakan. Luas seluruh bangunan 650m2. Kegiatan yang dilakukan oleh tukang
batu dan tukang kayu dibayar secara harian dan diawasi sendiri oleh PT Swat
Dalam bulan January 2013, perusahaan telah mengeluarkan sebesar Rp. 40.000.000 untuk
pembelian bahan bangunan dan biaya pekerja. Setiap bulan perusahaan menyetorkan PPN atas
kegiatan membangun sendiri untuk masa pajak Februari sampai dengan Desember 2013.

102

Bab 5. Investasi pada efek tertentu, investasi pada entitas asosiasi


dan anak, properti investasi

Pekerjaan pembangunan selesai pada akhir tahun 2013 dengan total biaya sebesar Rp.
350.000.000.
Pada awal tahun 2014, gedung yang telah selesai dibangun tersebut mulai disewakan kepada PT
Bintang sebesar Rp. 80.000.000. pihak manajemen memutuskan bahwa properti investasi
tersebut memiliki masa manfaat 20 tahun.
Atas transaksi di atas maka PT Swat membuat jurnal sebagai berikut :
31/08/12
Properti investasi

Rp. 6.000.000

Pajak masukan

Rp. 500.000

Bank Arles
Properti investasi

Rp. 6.500.000
uang muka +PPnBM = Rp. 5.000.000 + (20% x Rp. 5.000.000)

05/09/12
Properti investasi

Rp. 741.000.000

Pajak masukan

Rp. 59.500.000

Bank Arles
Properti investasi

Rp. 800.500.000
sisa harga beli tanah kaveling + BPHTB + PPnBM = Rp. 595.000.000 +

{5% x (Rp. 600.000.000- Rp.60.000.000)} + (20% x Rp. 595.000.000)

Pada tahun 2012, perusahaan belum melakukan penyusutan atas properti investasi yang dibeli PT
Swat karena properti investasi yang dimiliki masih berupa tanah kaveling.
31/01/20013
Bangunan dalam pelaksanaan
Bank

Rp. 41.600.000
Rp. 40.000.000
103

Bab 5. Investasi pada efek tertentu, investasi pada entitas asosiasi


dan anak, properti investasi

Utang PPn Pasal 16C

Rp. 1.600.000

Utang PPh 21

Rp. *

PPN Pasal 16C = 10% x 40% x Rp. 40.000.000


*PPh 21

lihat bab 6 kewajiban

15/02/13
Utang PPN pasal 16C

Rp. 1.600.000

Bank

Rp. 1.600.000

Atas pengeluaran untuk pembangunan gedung selama bulan February sampai dengan Desember
2013, PT Swat dikenakan PPN Pasal 16C untuk masa pajak Februari-Desember 203 yang telah
disetorkan setiap tanggal 5 bulan berikutnya setelah bulan pengeluaran. Selain itu juga,
perusahaaan melaporkan pengenaan PPN pasal 16C untuk masa pajak yang sama dengan bulan
pengeluaran
31/12/13
Properti investasi

Rp. 405.600.000

Bangunan dalam pelaksanaan

Rp. 405.600.000

14/01/14
Bank Arles

Rp. 80.000.000

PPh pasal 4 ayat (2)

Rp. 8.000.000

Pajak keluaran

Rp. 8.000.000

Pendapatan sewa

Rp. 80.000.000

31/01/14

104

Bab 5. Investasi pada efek tertentu, investasi pada entitas asosiasi


dan anak, properti investasi

Beban penyusutan properti investasi


Akm.peny properti invesstasi

Rp. 4.802.500
Rp. 4.802.500

Perusahaan melakukan pembayaran pajak bumi dan bangunan untuk tahun 2013 dan 2014.

LATIHAN
1
2

Jelaskan apa yang kalia ketahui tentang investasi pada efek tertentu !
Sebutkan dan jelaskan 3 pengklasifikasian pengakuan dan pengukuran investasi pada

3
4

efek utang !
Apa yang dimaksud dengan investasi pada entitas asosiasi dan anak?
Menurut IAI (2009) dalam SAK-ETAP, investasi dalam saham dicatat dengan menganut

metode cost/equity. Apakah perbedaan dari kedua metode tersebut?


Pada tanggal 22 Desember 2014 PT PQR menjual saham PT Mandiri, yang dibelinya
sebesar Rp. 1.200.000 dengan harga Rp. 2.000.000. buatlah jurnal untuk mencatat
transaksib diatas.

105

Beri Nilai