Anda di halaman 1dari 12

Bab 6.

liabilitas

PENDAHULUAN
Hutang perusahaan merupakan kewajiban kepada pihak lain yang timbul dari
kegiatan utama perusahaan. Utang diklasifikasikan sebagai liabilitas jangka pendek
apabila terhadap liabilitas tersebut dilunasinya sewaktu-waktu sesuai permintaan
kreditor. Oleh karena itu, liabilitas jangka pendek ialah kewajiban yang dihbarapkan
akan dilunasi dalam waktu satu tahun atau satu siklus operasi normal perusahaan
dengan memperhatikan mana yang lebih lama.
Entitas menyajikan liabilitas jangka pendek dan jangka panjang sebagai klasifikasi
yang terpisah dalam laporan posisi keuangan, kecuali penyajian berdasarkan
likuiditas memberikan informasi yang lebih relevan dan dapat diandalkan.
A. Kewajiban Jangka Pendek (Lancar)
Kewajiban jangka pendek merupakan kewajiban yang akan diharapkan akan dilunasi
dalam waktu satu tahun atau satu siklus operasi normal perusahaan, mana yang lama
(PSAK 9). Dalam praktik, utang dicatat sebesar nilai nominal yang akan dibayar pada
saat jatuh temponya.
Berdasarkan derajat kepastian jumlahnya, utang meliputi :
a

Utang yang jumlahnya dapat ditentukan secara pasti, termasuk utang


dagang, utang wesel, utang jangka panjang yang segera jatuh tempo,
utang dividen, utang biaya, utang pajak, penghasilan diterima dimuka,

b
c

dan deposito pihak ketiga.


Utang yang jumlahnya ditaksir.
Utang bersyarat.

1.Utang Dagang

107

Bab 6. liabilitas

Utang dagang merupakan utang yang berasal dari transaksi pembelian barang dan
jasa yang diperlukan dalam kegiatan usaha normal perusahaan. Utang itu akan terjadi
berulang tiap waktu secara berkelanjutan. Dalam praktik perdagangan, terdapat
persyaratan potongan tunai, misalnya 2/10, n/30 atau 2/10 Eom, artinya harga harus
dibayar penuh selambatnya dalam jangka waktu 30 hari dan apabila dibayar dalam
waktu sampai 10 hari diberikan potongan 2%. Dalam hal ini, utang dagang dapat
dicatat berdasarkan metode bruto atau neto. Dalam metode bruto, utang dicatat
sejumlah nilai yang harus dibayar tanpa adanya potongan tunai. Sedangkan dalam
metode neto, utang dicatat sejumlah yang harus dibayar seandainya diperoleh
potongan tunai.
Kelambatan pembayaran utang dagang pada umumnya tidak menimbulkan
pembayaran bunga atau denda (pinalti). Jika memang ada, bunga dan denda itu dapat
merupakan biaya pengurang penghasilan kena pajak. Untuk pembelian barang kena
pajak maka dalam jumlah utang termasuk PPN dan juga PPn BM (jika ada).
Contoh
Pada tanggal 1 Januari 2011 PT Rekayasa membeli barang dagangan sebesar Rp.
50.000.000,00 secara kredit sesuai perjanjian kedua belah pihak, utang tersebut
berjangka 90 hari dengan bunga 18% per tahun. Ayat jurnal yang disusun :
a Saat transaksi pembelian
Pembelian
Rp. 50.000.000
Utang Dagang
Rp. 50.000.000

Saat pelunasan sebagian liabilitas

Utang Dagang
Rp. 10.000.000
Kas dan Bank
Rp. 10.000.000

2. Utang Wesel (wesel bayar)

108

Bab 6. liabilitas

Utang wesel dapat terjadi sebagai transformasi utang dagang atau yang dieluarkan
untuk mendapatkan pinjaman. Apabila atas wesel itu harus dibayar bung atau
dipotong bunga (diskonto), bunga (diskonto yang dibayar atas wesel harus dicatat
terpisah.
Utang wesel dapat diklasifikasikan sebagai kewajiban lancar, penglasifikasian lainnya
yaitu dalam wesel dengan bunga atau tanpa bunga.
Contoh
Pada tanggal 1 Desember 2013 PT Abadi menarik wesel tak berbunga berjangka
waktu 60 hari sejumlah Rp. 12.000.000,00. Wesel tersebut ditarik sebagai akibat
adanya pembelian barang dagangan kepada PT Andi.
a Saat pembelian
Pembelian
12.000.000
Wesel bayar
12.000.000
b Saat pembayaran pada tanggal jatuh tempo
Wesel bayar
Rp. 12.000.000
Kas
Rp. 12.000.000
Jika tanggal 3 Desember 2013 juga sebuah wesel berbunga 25% dengan jangka waktu
90 hari sebesar Rp. 20.000.000,00 ditarik untuk PT Jaya untuk menggantikan utang
yang telah jatuh tempo.
Ayat jurnalnya sebagai berikut :
a Saat penggantian utang
Utang dagang
Rp. 20.000.000
Wesel bayar
Rp. 20.000.000
b Saat pembayaran/pelunasan
Wesel bayar
Rp. 20.000.000
Bunga
Rp. 1.125.000
Kas
Rp. 21.125.000

3. Utang Dividen
Utang dividen dapat terjadi apabila perusahaan melakukan pembagian laba atas
pembayaran. Pembagian dividen akan didahului dengan pengumuman dividen (tunai)
oleh perusahaan menyebaban terutangnya dividen. Sesuai dengan ketentuan pasal 23

109

Bab 6. liabilitas

ayat (1) UU PPh, terutangnya dividen itu menimbulkan kewajiban pemotongan PPh
(pasal 23) sebesar 15% apabila dividen itu dibagikan kepada persero wajib pajak
orang pribadi. Sebaliknya, apabila dibagikan kepada badan WPDN, tidak terutang
pemotongan PPh, sedangkan alau dibagikan kepada Wajib Pajak Luar Negeri
(WPLN) akan terutang potongan pajak sebesar 20% atau sesuai dengan ketentuan
pada tax treaty yang berlaku.
Contoh
Pada tanggal 20 Desember 2013 PT ABC mengumumkan akan membayar dividen
tunai sebesar Rp. 10.000.000,00 pada 10 Januari 2014. Pencatatannya sebagai berikut
:
a Saat pengumuman
Laba ditahan
Rp. 10.000.000
Utang dividen
Rp. 8.500.000
PPh pasal 23 harus dibayar
Rp. 1.500.000
b Saat pembayaran dividen
Utang dividen
Rp. 8.500.000
Kas
Rp. 8.500.000
c Saat pelunasan PPh pasal 23
PPh pasal 23 harus dibayar
Rp. 1.500.000
Kas
Rp. 1.500.000

4. Utang Pajak
Utang pajak merupakan pembayaran pajak yang dilakukan dengan mekanisme
pemotongan dan atau pemungutan memiliki makna yang berbeda
Selain harus menyetor pajak untuk diri sendiri, kebanyaan pengusaha mempunyai
kewajiban untuk memotong pajak penghasilan pasal 21 (penghasilan gaji, upah dan
honorarium). Pasal 23 (dividen, bunga, sewa dan imbalan atas jasa). Pasal 22 (atas
beberapa transaksi), pasal 4 (2) atas transaksi saham dan obligasi di bursa efek, dan
pasal 26 (pembayaran penghasilan kepada wajib pajak luar negeri). Selain itu
pengusaha dapat dikukuhkan sebagai pengusaha kena pajak untuk memungut PPN
dan PPh BM.

110

Bab 6. liabilitas

Pemungutan pajak yang belum disetorkan ke kas negara atau bank persepsi
merupakan utang perusahaan. Utang itu lunas apabila telah dilakukan penyetoran.
Utang pajak terdiri atas PPh 2, PPh 23, PPh 26 dan pajak keluaran.

5. Utang Bank
Dalam perpajakan utang bank tidak dibedakan antara utang bank maupun utang bank
jangka panjang. Peminjaman uang di bank dapat dilakukan dengan membua tabungan
atau deposito atau jasa giro dalam bank tersebut dengan nilai yang sudah ditentukan
sebelumnya oleh pihak bank. Di satu pihak, bank akan memberikan bunga atas
tabungan atau deposito yang ada, tetapi di lain pihak bank akan memungut biaya
bunga atas pinjaman yang telah diberikan kepada nasabah. Utang bank dapat berupa
kredit investasi, modal kerja, atau pinjaman yang lain.
Sehubungan dengan hal-hal tersebut, dengan ini diberikan penegasan sebagai beriut :
a Apabila jumlah rata-rata pinjaman sama besarnya dengan atau lebih kecil dari
jumlah rata-rata dan yang ditempatkan sebagai deposito berjanga atau
tabungan lainnya, maka bunga yang dibayar atau terhutang atas pinjaman
b

tersebut seluruhnya tidak dapatdibebankan sebagai biaya.


Apabila jumlah rata-rata pinjaman lebih besar dari jumlah rata-rta dana yang
ditempatkan dalam bentuk deposito atau tabungan lainnya, maka bunga atas
pinjaman yang boleh dibebankan sebagai biaya adalah bunga yang dibayar
atau terhutang atas rata-rata pinjaman yang melebihi jumlah rata-rata dana

yang ditempatkan sebagai deposito berjangka atau lainnya.


Contoh :
Pada tahun 2006, PT Jaya Abadi mendapat pinjamnan dari Bank Ako dengan batas
maksimum sebesar Rp. 200.000.000,00 dan tingkat bunga pinjaman 20%. Jumlah
tersebut telah di ambil pada bulan Februari sebesar Rp. 125.000.000, pada bulan Juni
diambil lagi sebesar Rp. 25.000.000, dan sisanya Rp. 50.000.000 di ambil pada bulan
Agustus.
Selain itu, WP mempunyai dana yang ditempatkan dalam bentuk deposito dengan
perincian sebagai berikut :

111

Bab 6. liabilitas

Bulan Februari s.d. Maret sebesar


Bulan Februari s.d. Agustus sebesar
Bulan September s.d. Desember sebesar

Bulan

Rp. 25.000.000
Rp. 46.000.000
Rp. 50.000.000

Jumlah

Jangka Waktu Rata-rata Deposito (RP)

Deposito

(bulan)

Januari

Februari s.d. Maret

25.000.000

50.000.000

April s.d. Agustus

46.000.000

230.000.000

September s.d. Desember

50.000.000

200.000.000

Jumlah

480.000.000

Rata rata deposito perbulan adalah Rp. 480.000.000 : 12 = Rp. 40.000.000


Dengan demikian, bunga yang dibebankan sebagai biaya yaitu :
Bulan

Jumlah

Jangka Waktu Rata-rata Deposito (RP)

Deposito

(bulan)

Januari

Februari s.d. Mei

125.000.000

500.000.000

Junil s.d. Juli

150.000.000

300.000.000

Agustus s.d. Desember

200.000.000

1.000.000.000

Jumlah

1.800.000.000

Rata-rata pinjaman perbulan adalah : Rp. 1.800.000.000 : 12 = Rp. 150.000.000


Jadi, bunga yang dapat dibebankan sebagai biaya adalah 20% x (Rp. 150.000.000
Rp. 40.000.000) = Rp. 22.000.000.

112

Bab 6. liabilitas

6. Biaya yang Masih Harus Dibayar


Aplikasi basis akrual dalam penyelenggaran pembukaan sehubungan dengan
pengakuan biaya menimbulkan adanya utang biaya. Walaupun belum dibayar, karena
masa manfaat biaya sudah lewat maka harus ada pengakuan biaya. Utang biaya itu
seperti utang gaji/upah, utang sewa atau bunga.
Contoh :
PT Andi pada tahun 2010 menerbitkan pinjaman 15% obligasi dengan nilai nominal
Rp. 15.000.000,00 dengan pembayaran bunga tiap 1 April dan 1 Oktober. Pada akhir
2010 data penyesuaian menunjukkan bunga harus dibayar Rp. 562.500 ( Rp.
5.000.000 x 15/100 x 3/12).
Sesuai dengan sirkuler perpajakan, bunga harus dibayar merupakan objek PPh pasal
23 (WPDN) atau pasal 26 (WPLN). Tampaknya istilah bunga yang terutang dalam
ketentuan perpajakan itu mengikuti konsep akrual dalam paktik akuntansi. Walaupun
belum tersedia dana untuk pembayaran sebab secara legal sesuai dengan perjanjian
memang belum terutang, karena telah dikurangkan dari penghasilan kena pajak
debitor maa harus dianggap merupakan penghasilan kena pajak bagi kreditor.

7. Pendapatan Diterima di Muka


Penghasilan dari penjualan barang atau penyerahan jasa, yang diterima sebelum
terjadi transaksi penyerahan barang atau jasa dilaporkan dalam kelompok kewajiban.
Hal itu disebabkan oleh adanya kewajiban penerima pembayaran untuk menyerahkan
barang atau jasa kepada pihak yang bersangkutan di kemudian hari. Sesuai dengan
ketentuan pasal 11 ayat (2) UU PPN maka penerimaan itu terutang PPN. Dengan
demikian, sudah diakui sebagai penyerahan (penjualan) untuk PPN.
Misalnya ,jika seorang pengusaha kena pajak penerima pembayaran di muka,
misalnya Rp. 2.000.000 dari kontrak pembelian barang seharga Rp. 10.000.000 pada
saat penerimaan uang muka itu sesuai dengan ketentuan PPN dianggap merupakan

113

Bab 6. liabilitas

penyerahan yang terutang pajak 10% dan dilaporkan dalam SPT masa PPN. Untuk
penghitungan penghasilan kena pajak, pembayaran di muka itu diperlakukan
sebgaimana yang terjadi dalam praktik auntansi komersial. Dengan demikian, untuk
keperluan pembukuan perpajakan terdapat dua pendekatan sesuai dengan ketentuan
masing-masing yang tampaknya berbeda, namun dapat direkonsiliasikan.

A. KEWAJIBAN JANGKA PANJANG (TIDAK LANCAR)


Kewajiban jangka panjang merupakan utang yang tidak akan jatuh tempo dalam
waktu satu tahunatau yang pengeluarannya tidak menggunakan sumber aktiva lancar.
Kewajiban itu termasuk obligasi, hipotik.

1. Utang Obligasi
Obligasi merupakan surat pengakuan utang (dengan bunga) jangka panjang yang
akan dibayar pada tanggaln tertentu. Terdapat bermacam-macam jenis obligasi.
Menurut emitennya, obligasi meliputi obligasi pemerintah dan badan swasta.
Selanjutnya, menurut spesifikkasi dan sifat dari kewajiban yang melekat pada
emitennya terdapat tujuh obligasi, yaitu :
a Obligasi hipotik
b Obligasi dengan jaminan surat berharga
c Obligasi dengan jaminan pihak ketiga
d Obligasi tanpa jaminan
e Obligasi dengan bunga yang bergantung pada penghasilan penerbit
f Obligasi dengan hak atas laba
g Obligasi konversi
Pada obligasi dapat terjadi adanya agio dan juga disagio. Agoio terjadi apabila surat
obligasi dijual dengan harga di atas nominal. Disagio terjadi apabila surat obligasi
dijual dengan harga dibawah nilai nominal. Agio dan disagio ini merupaka
penyesuaian terhadap tarif bunga nominal, yaitu agio mengurangi biaya bung,
sedangkan disagio menambah biaya bunga. Untu menghitung rugi laba, penyesuaian

114

Bab 6. liabilitas

itu dilakukan dengan amortisasi tahunan terhadap jumlah agio atau disagio. Dalam
praktiknya terdapat dua alternatif amortisasi yaitu dengan garis lurus dan bunga
efektif.
Surat Utang Negara (SUN) yaitu surat berharga yang berupa surat pengakuan
utang dalam mata uang rupiah maupun valuta asing yang dijamin pembayaran bunga
dan pokoknya oleh Negara RI, sesuai dengan masa berlakunya. Bentuk dari Surat
Utang Negara adalah sebagai beriut :
a Warkat yang diperdagangkan atau tidak diperdagankan di pasar sekunder.
b Tanpa warat yang diperdagangkan atau tidak diperdagangan di pasar
sekunder.
Jenis Surat Utang Negara ialah sebagai berikut :
a Surat Perbendaharaan Negara (SPN) yang berjangka waktu paling lama 1
b

tahun dengan pembayaran bunga secara diskonto.


Obligasi negara yang berjangka waktu di atas 1 tahun dengan pembayaran

bunga secara diskonto.


Untuk perpajakan, bunga obligasi diatur dalam PP 16 tahun 2009 jo. PMK85/PMK.03/201. Menurut peraturan tersebut, yang dimaksud dengan obligasi
yaitu surat utang dan SUN yang berjangka waktu lebih dari 1 tahun. Dan bunga
obligasi ialah imbalan yang diterima dan diperoleh pemegang obligasi dalam
bentuk bunga atau disonto. Atas penghasilan yangb diterima atau diperoleh WP
berupa bunga obligasi dikenai pemotongan PPh yang bersifat final, kecuali
apabila diterima oleh WP dana pensiun yang pendiriannya telah disahkan oleh
Menteri Keuangan dan WP bank yang didirikan di Indonesia atau cabang bank
luar negeri di Indonesia.
Besarnya PPh adalah sebagai beriut :
1 Bunga dari obligasi dengan kupon sebesar :
a 15% bagi WPDN dan BUT.
b 20% atau sesuai dengan tarif berdasarkan Persetujuan Penghindaran
Pajak Berganda yang berlaku, bagi WP luar negeri selain BUT
Dari jumlah bruto bunga sesuai dengan masa kepemilian obligasi
2 Diskonto dari obligasi dengan kupon sebesar :
a 15% bagi WPDN dan BUT.

115

Bab 6. liabilitas

20% atau sesuai dengan tarif berdasarkan Persetujuan Penghindaran Pajak

Berganda yang berlaku, bagi WP luar negeri selain BUT


Dari selisih lebih harga jual atau nilai nominal di atas harga perolehan obligasi tida
termasu bunga berjalan.
3 Diskonto dari obligasi tanpa bunga sebesar :
a 15% bagi WPDN dan BUT.
b 20% atau sesuai dengan tarif berdasarkan Persetujuan Penghindaran Pajak
Berganda yang berlaku, bagi WP luar negeri selain BUT
Dari selisih lebih harga jual atau nilai nominal di atas harga perolehan obligasi.
4 Bunga atau diskonto dari obligasi yang diterima atau diperoleh WP reksadana
yang terdaftra pada Bapepam dan Lembaga Keuangan sebesar :
a 0% untuk tahun 2009 s.d. tahun 2010
b 5% untuk tahun 2001 s.d. tahun 2013
c 15% untuk tahun 2014 dan seterusnya.

Contoh :
PT Budi menjual obligasi nilai nominal Rp. 300.000.000 dengan bunga 20% per
tahun kepada PT Andi seharga Rp. 320.000.000. PPh atas premium obligasi sebesar
Rp. 20.000.000 terutang PPh pasal 4 ayat (2) sebesar 5% x Rp. 20.000.000= Rp.
3.000.000. PPh dipotong oleh PT Andi pada saat penerbitan obligasi. Atas jurnal PT
Budi adalah sebagai beriut :
a Saat obligasi diterbitkan
Kas/Bank
Rp. 317.000.000
PPh pasal 4 ayat (2)
Rp. 3.000.000
Utang Obligasi
Rp. 300.000.000
Premium Obligasi
Rp. 20.000.000
b Saat pembayaran bunga
Biaya bunga obligasi
Rp. 60.000.000
Utang PPh 23
Rp. 9.000.000
Kas/bank
Rp. 54.000.000
c Saat obligasi lunas
Utang Obligasi
Kas/Bank

Rp. 300.000.000
Rp. 300.000.000

116

Bab 6. liabilitas

Jurnal bagi PT Andi adalah sebagai berikut :


a Saat obligasi diterbitkan
Investasi obligasi
Rp. 300.000.000
Bunga dibayar di muka
Rp. 20.000.000
Utang PPh pasal 4 ayat (2)
Rp. 3.000.000
Kas/Bank
Rp. 317.000.000
b Saat pembayaran bunga
Kas/Bank
Rp. 54.000.000
PPh 23 dibayar di muka
Rp. 9.000.000
Pendapatan bunga obligasi
Rp. 60.000.000
c Saat obligasi lunas
Kas/Bank
Investasi Obligasi

Rp. 300.000.000
Rp. 300.000.000

2. Utang Hipotek
Utang hipotek hampir sama dengan pinjaman obligasi, namun tanpa agio dan disagio.
Pinjaman hipotek terutama untuk pembelia tanah dan bangunan umumnya merupakan
pinjaman dengan beban bunga tetap dan ditutup untuk waktu yang lama. Biaya
penutupan hipotek pada umumnya langsung merupaan beban pada periode itu.
Namun, adakalanya biaya itu di amortisasi sepanjang masa kontrak hipotek.

LATIHAN
1 Apakah yang dimaksud dengan kewajiban lancar ?
2 Sebutkan dan jelaskan jenis-jenis kewajiban lancar !
3 Pada tanggal 5 Mei 2010 PT Indo meminjam uang dari bank dengan
menyerahkan promes dengan nominal Rp.10.000.000, bunga diskonto 15%
dan jangka waktu 12 bulan. Buatlah ayat jurnalnya!
Jelaskan apa yang dimaksud dengan kewajiban jangka panjang !
Sebutkan dan jelaskan jenis-jenis kewajiban jangka panjang !
6 PT ABC menjual obligasi nilai nominal Rp. 200.000.000 dengan bunga per
4
5

tahun 20% per tahun kepada PT XYZ seharga Rp. 220.000.000. PPh atas
premium obligasi sebesar Rp. 10.000.000 terutang PPh pasal 4 ayat (2)

117

Bab 6. liabilitas

sebesar 15% x Rp. 10.000.000 = Rp. 1.500.000. PPh dipotong oleh PT XYZ
pada saat penerbitan obligasi. Buatlah ayat jurnal yang diperlukan oleh PT
ABC!

118

Beri Nilai