Anda di halaman 1dari 93

UNIVERSITAS KATOLIK PARAHYANGAN

FAKULTAS HUKUM
Terakreditasi Berdasarkan Keputusan Badan Akreditasi Nasional Perguruan Tinggi
Nomor : 003/BAN-PT/AK-XXI/SI/IV/2009

Judul :
PERLINDUNGAN KONSUMEN DALAM PENGGUNAAN MATA UANG BITCOIN
BERDASARKAN UNDANG-UNDANG NOMOR. 8 TAHUN 1999 TENTANG
PERLINDUNGAN KONSUMEN
Oleh :
Nama : Fakhri Azzumar
NPM : 2010200232

Dosen Pembimbing:
Prof. Dr. Johannes Gunawan, S.H., LL.M

PENULISAN HUKUM
DISUSUN SEBAGAI SALAH SATU KELENGKAPAN UNTUK
MENYELESAIKAN PROGRAM S-1 ILMU HUKUM

BANDUNG
2014

PERNYATAAN INTEGRITAS AKADEMIK

Dalam rangka mewujudkan nilai-nilai ideal dan standar mutu akademik yang setinggitingginya, maka Saya, Mahasiswa Fakultas Hukum Universitas Katolik Parahyangan yang
bertandatangan di bawah ini :
Nama

: Fakhri Azzumar

No. Pokok

: 2010200232

Dengan ini menyatakan dengan penuh kejujuran dan dengan kesungguhan hati dan pikiran,
bahwa karya ilmiah/ karya penulisan hukum yang berjudul :
Perlindungan Konsumen Dalam Penggunaan Mata Uang Bitcoin Berdasarkan
Undang-Undang Nomor. 8 Tahun 1999 Tentang Perlindungan Konsumen
adalah sungguh-sungguh merupakan karya ilmiah/ Karya Penulisan Hukum yang telah Saya
susun dan selesaikan atas dasar upaya, kemampuan dan pengetahuan akademik Saya pribadi,
dan sekurang-kurangnya tidak dibuat melalui dan/atau mengandung hasil dari tindakantindakan yang :
a.
b.

Secara tidak jujur dan secara langsung atau tidak langsung melanggar hak-hak atas
kekayaan intelektual orang lain, dan/atau
Dari segi akademik dapat dianggap tidak jujur dan melanggar nilai-nilai integritas
akademik dan itikad baik;

Seandainya di kemudian hari ternyata bahwa Saya telah menyalahi dan/atau melanggar
pernyataan Saya di atas, maka Saya sanggup untuk menerima akibat-akibat dan/atau sanksisanksi sesuai dengan peraturan yang berlaku di lingkungan Universitas Katolik Parahyangan
dan/atau peraturan perundang-undangan yang berlaku.
Pernyataan ini Saya buat dengan penuh kesadaran dan kesukarelaan, tanpa paksaan dalam
bentuk apapun juga.
Bandung, 12 Desember 2014
Mahasiswa Penyusun Karya Ilmiah/ Karya Penulisan Hukum

(_________________________________)
Nama Jelas : Fakhri Azzumar
No. Pokok : 2010200232

Disetujui Untuk Diajukan Dalam Sidang


Ujian Penulisan Hukum Fakultas Hukum
Universitas Katolik Parahyangan

Pembimbing

Prof. Dr. Johannes Gunawan, S.H., LL.M

Dekan

Dr. Bayu Seto Hardjowahono, S.H., LL.M.

ABSTRAK

Perkembangan mengenai hukum perlindungan konsumen di Indonesia berkembang


sejak dibentuknya Undang-Undang Nomor. 8 Tahun 1999 Tentang Perlindungan Konsumen
pada tahun 1999 dan berlaku pada tahun 2000. Dalam perkembangannya, masyarakat sebagai
pengguna barang dan/atau jasa yang disebut sebagai konsumen pengguna barang dan/atau
jasa, banyak mendapatkan permasalahan dan kerugian dalam penggunaan barang dan/atau
jasa.
Saat ini, berkembang mata uang Bitcoin yang telah beredar di berbagai negara di
dunia. Mata uang Bitcoin saat ini berkembang sebagai salah satu alat pembayaran elektronik
yang berasal dari negara Jepang. Negara-negara di penjuru dunia telah memberikan sikapnya
terhadap keberadaan mata uang Bitcoin terkait perlindungan terhadap pengguna mata uang
Bitcoin di masing-masing negara.
DI Indonesia, telah

terjadi transaksi ekonomi dengan menggunakan mata uang

Bitcoin sebagai alat tukar yang di gunakan di wilayah Seminyak, Bali. Bank Indonesia
melalui Departemen Komunikasi memberikan himbauan kepada masyarakat atas peredaran
mata uang Bitcoin di Indonesia. Melihat kejadian tersebut, masyarakat sebagai konsumen,
wajib mendapatkan perlindungan hukum dalam upaya perlindungan konsumen pengguna
mata uang Bitcoin. Melalui Undang-Undang Nomor. 8 Tahun 1999 Tentang Perlindungan
Konsumen, akan dibahas tentang bagaimana upaya perlindungan hukum terhadap konsume
pengguna mata uang Bitcoin di Indonesia.
Dengan hal tersebut, maka akan dilihat tentang bagaimana upaya serta peran
Pemerintah dan Bank Indonesia atas beredarnya mata Uang Bitcoin di Indonesia dan upaya
perlindungan hukum yang akan diberikan serta pengaturan tentang keberadaan mata uang
Bitcoin di Indonesia.

ABSTRACT

The development of consumer protection laws in Indonesia evolved since the creation
of Act Number. 8 of 1999 on Consumer Protection in 1999 and enacted in 2000. In the
process, the community as a user of the goods and/ or services that are referred to as user
consumer goods and/ or services, many get problems and disadvantages in the use of goods
and/ or services.
Currently, developing Bitcoin currency that has been circulating in various countries
in the world. Bitcoin currency is growing as one of the electronic payment instrument that
originated from Japan. Countries around the world have given his attitude towards the
existence of Bitcoin currency related to protection against currency Bitcoin users in each
country.
In Indonesia, there has been economic transactions using Bitcoin currency as a
medium of exchange that is in use in the area of Seminyak, Bali. Bank Indonesia through the
Ministry of Communications appealed to the public on Bitcoin currency circulation in
Indonesia. Seeing the incident, the public as consumers, shall receive legal protection in
consumer protection efforts currency Bitcoin users. Through Law Number. 8 of 1999 on
Consumer Protection, will discuss how legal safeguards against consumerism currency
Bitcoin users in Indonesia.
This being the case, it will be about how the efforts and the role of Government and
Bank Indonesia on circulating currency Bitcoin Money in Indonesia and efforts will be given
legal protection and regulation of the existence of Bitcoin currency in Indonesia.

KATA PENGANTAR

Puji syukur Penulis panjatkan ke hadirat Allah SWT karena berkat rahmat dan kasih
karunia-Nya sehingga Penulis dapat menyusun dan menyelesaikan Karya Penulisan Hukum
dengan judul PERLINDUNGAN KONSUMEN DALAM PENGGUNAAN MATA
UANG BITCOIN BERDASARKAN UNDANG-UNDANG NOMOR. 8 TAHUN 1999
TENTANG PERLINDUNGAN KONSUMEN. Adapun Karya Penulisan Hukum ini
disusun sebagai salah satu syarat kelengkapan untuk menyelesaikan program S-1 Ilmu
Hukum Universitas Katolik Parahyangan.
Penulis juga menyadari bahwa penyusunan Karya Penulisan Hukum ini tidak akan
terwujud tanpa adanya bantuan dan dukungan dari berbagai pihak. Oleh karena itu Penulis
ingin mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada :
1.

Allah SWT yang telah memberikan hikmat dan kebijaksanaan kepada Penulis
sehingga Karya Penulisan Hukum ini dapat rampung tepat pada waktunya.

2.

Orang tua Penulis, Ayah terhebat Wawan Agus Heryana, S.H, Ibu tersayang Dian
Meidiana dan adik yang Penulis banggakan Revky Herdyana. Berkat kasih sayang,
dukungan, perhatian, doa, kesabaran dan ketulusan yang luar biasa diberikan kepada
Penulis, maka Penulis mengucapkan alhamdulillah dan terima kasih banyak atas apa
yang telah diberikan oleh Allah SWT kepada Penulis telah memberikan orang tua
terbaik bagi Penulis.

3.

Kakek dan nenek Penulis, Alm. H. Hasan Bisri, Alm.Hj. Mimin Uminah, dan H.
Ahmad Durwita, Alm. Hj. Maani Jubaedah yang telah memberikan semangat, doa
dan dukungan kepada Penulis, meskipun Alm. H. Hasan Bisri, Alm. Hj. Mimin

Uminah dan Alm. Hj. Maani Jubaedah tidak sempat melihat Penulis menyelesaikan
Penulisan Hukum dan upacara wisuda.
4.

Bapak Prof. Dr. Johannes Gunawan, S.H., LL.M, sebagai pembimbing dalam
Penulisan Hukum ini yang telah memberikan inspirasi, masukan, arahan, serta
bimbingan dalam menyelesaikan Penulisan Hukum ini, tanpa peran dari beliau
tentunya Penulisan Hukum ini tidak akan dapat diselesaikan dengan baik.

5.

Ibu Prof. Dr. Bernadette M.W, S.H., M.H., C.N, selaku dosen penguji yang telah
memberikan arahan maupun semangat kepada penulis dan telah membantu
penyempurnaan skripsi ini.

6.

Bapak Prof. Dr. Willa Chandrawilla, S.H, selaku dosen wali penulis yang telah
memberikan semangat dan masukan selama kegiatan akademis maupun penyelesaian
penulisan hukum ini.

7.

Seluruh Bapak dan Ibu Guru Besar dan Dosen-Dosen Fakultas Hukum Universitas
Katolik Parahyangan, atas pengajaran dan pelajaran yang diberikan kepada Penulis
selama Penulis menempuh pendidikan di Fakultas Hukum Universitas Katolik
Parahyangan.

8.

Seluruh Bapak dan Ibu Tata Usaha dan Pekarya Fakultas Hukum Universitas Katolik
Parahyangan yang tanpa lelah dan penuh kerja keras membantu Penulis selama
menjadi Mahasiswa di Fakultas Hukum Universitas Katolik Parahyangan.

9.

Orang-orang terbaik Penulis selama Penulisan Hukum ini dimulai hingga selesai,
Jasmine Ariesta Dwi Pratiwi, Olivin S. Graha, Bayu Kresnha. A, Riesta Apriliana,
Parlindungan Pasaribu, Heru Prasetyo, Lucky Sanjaya, Anita Veronica, Lara S. W,
Dolok Yosuadi, Utami S.N, Fredy Munte, dan Rommy Marbun.

10.

Rekan kerja di Lembaga Kepresidenan (LKM) dan Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM)
Universitas Katolik Parahyangan 2011-2013, Fuadi M. Abdullah, Petra Pradipta,Diva

Domela, Dea Prilia, Risfan, Andrew Sinaga, Galih P, Andria, Ibu Ros, tim BAAK,
dan pimpinan Rektorat Universitas Katolik Parahyangan.
11.

Rekan Parahyangan Law Debate Community (PLDC) yang telah banyak merubah
pribadi Penulis untuk selalu menjadi yang lebih baik, Ibu Tety Marsaulina
Simanjuntak, Ibu Wurianalya Maria, Ibu Dewi Suka, Andre K. Sitepu, S.H, Andreas,
S.H, Hendrik Ho, S.H, Oktavianus Wijaya, S.H, Fuadi M. Abdullah, S.H, Wiliam
Sanjaya, S.H, Fernando Lintong, S.H, Linda Novita, S.H, Anggita P. Panjaitan, S.H,
Marin Setiawan, S.H, Mario, S.H, Fikri M. I, dan seluruh rekan terbaik di PLDC.

12.

Rekan seperjuangan Penulis selama menempuh pendidikan di Fakultas Hukum


Universitas Katolik Parahyangan, Santika Merdianti, Kania Hafidziani Rahim , Inkan
Ayu Adika, Dian Ririana, Putri Yulia, Sakti Teguh Alfianto, Okki Islam Pribadi, Giga
Dwi Langit, Reza Ariesta, Redinal Riski, Danny Wandyra, Rivo Fikri, Nurul Prayuda,
Risfan, Joshua Mulia, Beliandri, M. Habi, Annisa Shabrina, serta rekan hebat yang
telah membagi suka duka dan canda tawanya, serta terima kasih karena tidak pernah
bosan memberikan semangat dan dukungan kepada Penulis mulai dari awal Penulis
menyusun proposal penelitian hingga menyelesaiakan Karya Penulisan Hukum ini.

13.

Yayasan Kanker Anak Indonesia di Jakarta Pusat, kepada Ibu Ira Soelistiyo terima
kasih atas kesempatan yang diberikan kepada Penulis untuk dapat berbagi kasih
sayang, pengajaran dan dukungan kepada sahabat-sahabat kecil Penulis yang sedang
di uji oleh Allah SWT yaitu, Dede Alea, Dede cantik Kartika, Si Jagoan Nikolas,
Dede imut Putri Ajeng, dan sahabat-sahabat kecil penulis yang kuat, hebat, tabah dan
penulis sangat sayangi dan penulis cintai. Love you.

14.

Yayasan Panti Asuhan Muhammadiyah Bandung, kepada Ibu Khodijah dan bapak
Syaiful serta staf dan sahabat-sahabat kecil Penulis yang selalu senang dengan
kehadiran Penulis untuk mengerjakan Penulisan Hukum dan selalu memberikan cada

dan tawanya selama Penulis meluangkan waktu di panti asuhan. Kejar terus mimpi
kalian!
15.

Sahabat-sahabat Penulis saat di jenjang Sekolah Menengah Atas Negeri 2 Kota


Cirebon, Sahabat Penulis di jenjang Sekolah Menengah Pertama Negeri 5 Kota
Cirebon, Sahabat Penulis di jenjang Sekolah Menengah Pertama Negeri 2 Kota
Tasikmalaya dan Sahabat Penulis di jenjang Sekolah Dasar Negeri Panglayungan
Kota Tasikmalaya.

16.

Sahabat-sahabat Penulis di Sekolah Bisnis dan Manajemen Institut Teknologi


Bandung (SBM-ITB) yang telah membantu memberikan data dan info mengenai
perkembangan bisnis dan mata uang Bitcoin di Amerika yaitu, Maulana Rozak, S.Mn,
Abdullah, S.Mn, dan Triwahyuni, S.Mn dan seluruh karyawan Perpustakaan SBMITB yang telah membantu memberikan buku-buku yang luar biasa untuk
menyelesaikan Penulisan Hukum ini.

17.

Pihak Bank Indonesia cabang Bandung dan Jakarta, kepada Bapak Edi Muyono
selaku pimpinan pusat informasi Bank Indonesia cabang Bandung dan Bapak
Wurtopo selaku wakil kepala pusat pelaksanaan Informasi cabang Jakarta. Terima
kasih atas informasi dan sarannya. PT. Pelabuhan Indonesia II Tanjung Priok, Jakarta,
PT. Pelabuhan Indonesia II Cabang Banten dan PT. Krakatau Bandar Samudra,
terima kasih atas kesempatan untuk dapat bekerja dan menambah ilmu pada saat
Penulis selesai melakukan sidang skripsi dan belum memperoleh gelar.

18.

Semua pihak yang telah mendukung Penulis dalam menyelesaikan Karya Penulisan
Hukum serta studi di Fakultas Hukum Universitas Katolik Parahyangan yang tidak
dapat disebutkan satu per satu.

Terima kasih banyak juga Penulis ucapkan kepada semua pihak yang tidak dapat
disebutkan satu per satu oleh Penulis karena terlalu banyak tetapi kalian tetap pihak-pihak
yang terbaik yang Penulis kenal. Terima kasih, terima kasih, terima kasih.
Let us rise up and be thankful, for if we didnt learn a lot today, at least we learned a
little, and if we didnt learn a little, at least we didnt get sick, and if we got sick, at
least we didnt die; so let us all be thankful. Buddha.
Penulis menyadari bahwa masih banyak kekurangan dalam Penulisan Hukum ini
mengingat keterbatasan yang dimiliki oleh Penulis. Oleh karena itu, Penulis menerima saran,
kritik, dan masukkan atas kekurangan dari Karya Penulisan Hukum ini untuk menjadi bahan
perbaikan di masa yang akan datang.

Bandung, 12 Desember 2014

Penulis

DAFTAR ISI
ABSTRAK ............................................................................................................................. i
KATA PENGANTAR ..........................................................................................................iii
BAB I PENDAHULUAN ......................................................................................................1
1. Latar Belakang ....................................................................................................................1
2. Identifikasi Masalah ........................................................................................................... 14
3. Tujuan dan Manfaat Penulisan...........................................................................................15
4. Metode Penelitian ..............................................................................................................15
5. Sistematika Penulisan ........................................................................................................16
BAB II GAMBARAN UMUM PERLINDUNGAN KONSUMEN ..................................19
1. Sejarah Perlindungan Konsumen ......................................................................................19
2. Perlindungan Konsumen ....................................................................................................21
2.1 Tujuan Perlindungan Konsumen .................................................................................23
2.2 Pengertian Konsumen .................................................................................................25
2.3 Hak dan Kewajiban Konsumen ...................................................................................28
2.4 Definisi Pelaku Usaha .................................................................................................32
2.5 Hak dan Kewajiban Pelaku Usaha ..............................................................................33
2.6 Perbuatan Yang Dilarang Bagi Pelaku Usaha .............................................................38
3. Bentuk Tanggung Jawab Dalam Hukum Perlindungan Konsumen ..................................40

4. Hubungan Hukum Konsumen dengan Pelaku Usaha ........................................................46


5. Dasar Hukum Dalam Upaya Perlindungan Konsumen di Indonesia .................................49
6. Asas dan Tujuan dalam Hukum Perlindungan Konsumen ................................................50
BAB III PERLINDUNGAN KONSUMEN DALAM PENGGUNAAN MATA UANG
BITCOIN DI INDONESIA ..................................................................................................60
1. Latar Belakang Mata Uang Bitcoin di Indonesia ...............................................................60
1.1 Pengertian dan Status Mata Uang Bitcoin ...................................................................61
1.2 Karakteristik Mata Uang Bitcoin ................................................................................62
1.3 Kegunaan Mata Uang Bitcoin dan Bentuk Perlindungan Terhadap Konsumen .........64
2. Latar Belakang dan Keberadaan Bank Indonesia ..............................................................68
3. Bentuk dan Tugas Bank Indonesia ....................................................................................69
4. Peraturan Bank Indonesia ..................................................................................................71
BAB IV PERLINDUNGAN KONSUMEN DALAM PENGGUNAAN MATA UANG
BITCOIN BERDASARKAN UNDANG-UNDANG NOMOR. 8 TAHUN 1999
TENTANG PERLINDUNGAN KONSUMEN, BENTUK TANGGUNG JAWAB BANK
INDONESIA DAN DASAR HUKUM TENTANG MATA UANG BITCOIN ...............74
1. Perlindungan Konsumen Dalam Penggunaan Mata Uang Bitcoin Berdasarkan UndangUndang Nomor. 8 Tahun 1999 Tentang Perlindungan Konsumen........................................74
2. Tanggung Jawab Bank Indonesia terhadap Perlindungan Konsumen atas Kekosongan
Hukum Mengenai Mata Uang Bitcoin di Indonesia ..............................................................77

3. Dasar Hukum Dalam Pembentukan Upaya Perlindungan terhadap Konsumen mengenai


Mata Uang Bitcoin di Indonesia ............................................................................................79
BAB V PENUTUP................................................................................................................88
1. Kesimpulan ........................................................................................................................88
1.1 Perlindungan Konsumen Dalam Penggunaan Mata Uang Bitcoin Berdasarkan UndangUndang Nomor. 8 Tahun 1999 Tentang Perlindungan Konsumen ...................................88
1.2 Tanggung Jawab Bank Indonesia terhadap Perlindungan Konsumen terkait
Kekosongan Hukum Mengenai Mata Uang Bitcoin di Indonesia .....................................89
1.3 Dasar Hukum Dalam Pembentukan Upaya Perlindungan terhadap Konsumen
mengenai Mata Uang Bitcoin di Indonesia .......................................................................90
2. Saran ..................................................................................................................................91
2.1 Perlindungan Konsumen Dalam Penggunaan Mata Uang Bitcoin Berdasarkan UndangUndang Nomor. 8 Tahun 1999 Tentang Perlindungan Konsumen ...................................91
2.2 Tanggung Jawab Bank Indonesia terhadap Perlindungan Konsumen terkait
Kekosongan Hukum Mengenai Mata Uang Bitcoin di Indonesia .....................................92
2.3 Dasar Hukum Dalam Pembentukan Upaya Perlindungan terhadap Konsumen
mengenai Mata Uang Bitcoin di Indonesia .......................................................................94
DAFTAR PUSTAKA ...........................................................................................................96

BAB I
PENDAHULUAN
1.

Latar Belakang
Perlindungan Konsumen telah berkembang sejak diundangkannya Undang-Undang

Nomor. 8 Tahun 1999 Tentang Perlindungan Konsumen yang berlaku pada tanggal 20 April
2000. Perjalanan mengenai perlindungan konsumen kian hari semakin banyak digunakan
baik dalam kepentingan individu maupun kelompok di Indonesia. Undang-Undang Dasar
1945 dalam Pasal 27 ayat (1)1 dalam ketentuan tersebut menyatakan, bahwa segala warga
negara Indonesia bersamaan kedudukannya dalam hukum dan Pemerintahan, dan wajib
menjunjung hukum dan Pemerintahan itu dengan tidak ada kecualinya. Pasal tersebut pada
dasarnya memberi landasan konstitusional bagi perlindungan konsumen di Indonesia karena
dalam ketentuan itu secara jelas dinyatakan bahwa kedudukan hukum semua warga negara
adalah sama (sederajat) (equality before the law).2 Sebagai warga negara, kedudukan hukum
konsumen tidak boleh lebih rendah daripada pelaku usaha atau pihak distributor dari pelaku
usaha. Mereka memiliki hak-hak yang seimbang satu sama lainnya.
Di dunia Internasional, kepentingan konsumen telah menjadi perhatian yang secara
tegas dikemukakan pada Tahun 1962 oleh Presiden Amerika Serikat John F. Kennedy yang
menyampaikan pesan di depan Kongres tentang pentingnya kedudukan konsumen di dalam
masyarakat.3 Kepentingan-kepentingan konsumen telah lama menjai perhatian, secara tegas
telah ditetapkan dalam putusan Sidang Umum PBB pada sidang ke-106 tanggal 9 April 1985.
Dalam hal ini, mata uang Bitcoin yang berada di Indonesia akan adanya dampak
terhadap Bank Indonesia sebagai Bank sentral yang akan mengatur secara khusus mengenai

Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia 1945 Pasal 27 ayat (1)


Shidarta, Hukum Perlindungan Konsumen Indonesia, Grasindo, Jakarta, 2000, hlm. 74
3
Mariam Darus Badrulzaman, Pembentukan Hukum Nasional dan Permasalahan, Alumni, Bandung, 1981, hlm.
47
2

kelancaran sistem keuangan di Indonesia. Melalui hal tersebut, bank adalah bagian dari
sistem keuangan dan sistem pembayaran suatu negara, bahkan pada era globalisasi sekarang
ini, bank juga telah menjadi bagian dari sistem keuangan dan sistem pembayaran dunia.
Mengingat hal yang demikian, maka begitu suatu bank telah memperoleh izin berdiri dan
beroperasi dari otoritas moneter negara yang bersangkutan, bank tersebut menjadi milik
masyarakat. Oleh karena itu, eksistensinya bukan saja harus djaga oleh para pemilik bank itu
sendiri, tetapi juga oleh masyarakat nasional dan global.4
Menindaklanjuti hal diatas, sistem keuangan negara saat ini dikelola oleh Bank
Indonesia sebagai Bank sentral yang memegang kendali atas keuangan di Indonesia. Mata
uang rupiah dikelola penuh oleh Bank Indonesia sebagai bagian dari fungsi moneter. Rupiah
menjadi mata uang yang diterbitkan oleh Bank Indonesia sebagai satu-satunya mata uang
negara Indonesia yang dapat digunakan dalam berbagai kegiatan perekonomian di Indonesia.
Bank Indonesia sebagai Bank sentral, mempunyai kewenangan penuh terhadap mata uang
Rupiah tersebut.
Di dalam Undang-Undang Nomor. 7 Tahun 2011 Tentang Mata Uang, dalam hal
menimbang pada huruf b yaitu bahwa Mata Uang diperlukan sebagai alat pembayaran yang
sah dalam kegiatan perekonomian nasional dan internasional guna mewujudkan
kesejahteraan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia. Dengan adanya penjelasan tersebut, saat
ini dibutuhkan kejelasan tentang mata uang yang akan digunakan di wilayah Republik
Indonesia sebagai alat pembayaran yang sah sesuai dengan undang-undang sekaligus
memberikan kejelasan akan perlindungan terhadap kerugian terhadap masyarakat dalam
penggunaan mata uang.

Adrian Sutedi, Hukum PerBankan: Suatu tinjauan Pencucian uang, Merger, Likuidasi, Dan Kepailitan, Sinar
Grafika, Jakarta, 2007, hlm. 1.

Saat ini mata uang elektronik Bitcoin akhir-akhir ini sedang ramai diperbincangkan di
dunia internasional, khususnya Indonesia. Saat ini Indonesia masih ragu akan kejelasan mata
uang Bitcoin di Indonesia, sehingga Bank Indonesia sebagai Bank sentral tidak dapat berbuat
banyak tentang keberadaan mata uang Bitcoin tersebut.
Negara Amerika dan Eropa sejak Tahun 2009 telah banyak menggunakan mata uang
Bitcoin sebagai alat pembayaran yang sah. Sebagian dari negara-negara di dunia, seperti
Cina, Rusia dan Thailand mengambil sikap hati-hati dengan tidak mengakui mata uang
Bitcoin sebagai mata uang. Sebagian lagi memberi peluang dengan bersikap wait and see,
seperti Amerika Serikat dan Kanada. Umumnya negara Eropa mengambil jalan tengah sambil
mempelajari implikasinya pada berbagai aspek ekonomi, seperti pajak, transaksi gelap,
pencucian uang dan sebagainya. 5
Adanya kekosongan hukum yang mengatur akan mata uang Bitcoin di Indonesia,
maka dengan dasar tersebut, hal tersebut sewaktu-waktu dapat mengakibatkan dampak
kerugian terhadap masyarakat yang memakai mata uang Bitcoin dalam hal perlindungan
konsumen yang memakai mata uang Bitcoin di Indonesia. Sebab, masyarakat yang memakai
mata uang Bitcoin sebagai alat pembayaran dengan tujuan untuk digunakan dalam transaksi
keuangan harus dapat dijamin perlindungan penggunaan mata uang Bitcoin tersebut di dalam
setiap transaksi keuangan yang dilakukan di Indonesia, karena itu merupakan hak masyarakat
untuk mendapatkan perlindungan sebagai konsumen. Dalam pengertian hukum, umumnya
yang dimaksud dengan hak adalah kepentingan hukum yang dilindungi oleh hukum,
sedangkan kepentingan adalah tuntutan yang diharapkan untuk dipenuhi. Kepentingan pada

http://analisis.news.viva.co.id/news/read/477086-believe-it-or-not--uang-masa-depan-- bitcoin- diunduh pada


tanggal 16 Februari 2014 pukul 17.20 wib

hakikatnya mengandung kekuasaan yang dijamin dan dilindungi oleh hukum dalam
melaksanakannya.6
Dari Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1999 Tentang Perlindungan Konsumen dalam
hal menimbang huruf b menyebutkan bahwa pembangunan perekonomian nasional pada era
globalisasi harus dapat mendukung tumbuhnya dunia usaha sehingga mampu menghasilkan
beraneka barang dan/atau jasa yang memiliki kandungan teknologi yang dapat meningkatkan
kesejahteraan masyakat banyak dan sekaligus mendapatkan kepastian atas barang dan/atau
jasa yang diperoleh dari perdagangan tanpa mengakibatkan kerugian konsumen. Serta Pasal
1 Undang-Undang Nomor. 8 Tahun 1999 Tentang Perlindungan Konsumen tentang definisi
Perlindungan Konsumen adalah segala upaya yang menjamin adanya kepastian hukum
untuk memberi perlindungan kepada konsumen. Dengan dasar tersebut, maka dengan
adanya mata uang Bitcoin yang saat ini sedang diperbincangkan oleh banyak pihak, serta
digunakan oleh banyak pihak khususnya di Indonesia dan melihat sikap dari Bank Indonesia
sebagai bank sentral, maka dibutuhkan kepastian hukum yang mengatur kejelasan terhadap
konsumen yang menggunakan mata uang Bitcoin yang saat ini tengah berkembang di
Indonesia.
Karena pada saat ini, di Indonesia telah terjadi pembelian suatu properti dengan cara
transaksional dilakukan dengan mata uang Bitcoin oleh seseorang yang tidak diketahui
identitasnya telah membeli sebuah vila mewah di wilayah Seminyak, Bali, dengan
menggunakan Bitcoin.7 Dengan adanya bukti tersebut, maka keberadaan mata uang Bitcoin
di Indonesia telah dipastikan bahwa mata uang tersebut memang beredar luas di wilayah
Indonesia dan penggunaannya membuktikan bahwa mata uang Bitcoin telah banyak
digunakan di wilayah Indonesia untuk transaksi pembayaran.
6
7

Sudikno Mertokusumo, Mengenal Hukum: Suatu Pengantar, Liberty, Yogyakarta, 1986, hlm. 40.
http://internasional.kontan.co.id/news/bitcoin-us-500.000-untuk-membayar-vila-di-bali diunduh pada tanggal
22 Maret 2014 pukul 16.20 wib

Dalam Pasal 3 Undang-Undang Nomor. 8 Tahun 1999 Tentang Perlindungan


Konsumen pada huruf d ikut memperkuat dari Pasal 1 Undang-Undang Nomor. 8 Tahun
1999 Tentang Perlindungan Konsumen yaitu menciptakan sistem perlindungan konsumen
yang mengandung unsur kepastian hukum dan keterbukaan informasi serta akses untuk
mendapatkan informasi. Maka, konsumen yang ada di wilayah negara Indonesia berhak
mengetahui dan dapat menggali informasi tentang bagaimana kepastian hukum dari
penggunaan mata uang Bitcoin dan perlindungan terhadap pengguna maupun penerima mata
uang Bitcoin tersebut di Indonesia dan Bank Indonesia sebagai lembaga yang berwenang
memberikan kepastian hukum akan keberadaan mata uang Bitcoin di Indonesia.
Dasar mengapa konsumen adalah hal utama dalam perlindungan mengenai pemakaian
mata uang Bitcoin di Indonesia, karena ada beberapa unsur-unsur dari definisi konsumen
tersebut, konsumen adalah8 :
1. Setiap Orang
Subjek yang disebut sebagai konsumen berarti setiap orang yang berstatus sebagai
pemakai barang dan/atau jasa. Istilah orang sebenarnya menimbulkan keraguan,
apakah hanya orang individual yang lazim disebut natuurlijke persoon atau termasuk
juga badan hukum (rechtpersoon). Hal ini berbeda dengan pengertian yang diberikan
untuk pelaku usaha dalam Pasal 1 Angka (3), yang secara eksplisit membedakan
kedua pengertian persoon di atas, dengan menyebutkan kata-kata: orang
perseorangan atau badan usaha. Tentu yang paling tepat tidak membatasi pengertian
konsumen itu sebatas pada orang perseorangan. Namun, konsumen harus mencakup
juga badan usaha, dengan makna lebih luas daripada badan hukum.
2. Pemakai

Supranote 6, hlm. 4

Sesuai dengan bunyi penjelasan Pasal 2 Angka (2) UUPK, kata pemakai
menekankan, konsumen adalah konsumen akhir (ultimate consumer). Istilah
pemakai dalam hal ini tepat digunakan dalam rumusan ketentuan tersebut, sekaligus
menunjukkan, barang dan/atau jasa yang dipakai tidak serta merta hasil transaksi jual
beli. Artinya, yang diartikan sebagai konsumen tidak selalu harus memberikan
prestasinya dengan cara membayar uang untuk memperoleh barang dan/atau jasa itu.
Dengan kata lain, dasar hubungan hukum antara konsumen dan pelaku usaha tidak
perlu harus kontraktual (the privity of contract).
3. Barang dan/atau jasa
Berkaitan dengan istilah barang dan/atau jasa, sebagai pengganti terminologi tersebut
digunakan kata produk. Saat ini produk sudah berkonotasi barang atau jasa. Semula
kata produk hanya mengacu pada pengertian barang. Dalam dunia perBankan,
misalnya, istilah produk dipakai juga untuk menamakan jenis-jenis layanan
perBankan.
UUPK mengartikan barang sebagai setiap benda, baik berwujud maupun tidak
berwujud, baik bergerak maupun tidak bergerak, baik dapat dihabiskan maupun tidak
dapat dihabiskan, yang dapat untuk diperdagangkan, dipakai, dipergunakan, atau
dimanfaatkan oleh konsumen. UUPK tidak menjelaskan perbedaan istilah-istilah
dipakai, dipergunakan ,atau di manfaatkan.
Sementara itu, jasa diartikan sebagai setiap layanan yang berbentuk pekerjaan atau
prestasi yang disediakan bagi masyarakat untuk dimanfaatkan oleh konsumen.
Pengertian disediakan bagi masyarakat menunjukan, jasa itu harus ditawarkan
kepada masyarakat. Artinya, harus lebih dari satu orang. Jika demikian halnya,
layanan yang bersifat khusus (tertutup) dan individual, tidak tercakup dalam
pengertian tersebut.

Kata-kata ditawarkan kepada masyarakat itu harus ditafsirkan sebagai bagian dari
suatu transaksi konsumen. Artinya, seseorang yang karena kebutuhan mendadak lalu
menjual rumahnya kepada orang lain, tidak dapat dikatakan perbuatannnya itu sebagai
transaksi konsumen. Pembeli tidak dapat dikategorikan sebagai konsumen menurut
UUPK.
4. Yang tersedia dalam masyarakat
Barang dan/atau jasa yang ditawarkan kepada masyakat sudah harus tersedia di
pasaran (lihat juga Pasal 9 Ayat (1) huruf (e) UUPK). Dalam perdagangan yang
makin kompleks dewasa ini, syarat itu tidak mutlak lagi dituntut oleh masyarakat
konsumen. Misalnya, perusahaan pengembang perumahan sudah biasa mengadakan
transaksi terlebih dahulu sebelum bangunannya jadi. Bahkan, untuk jenis-jenis
transaksi konsumen tertentu, seperti futures trading, keberadaan barang yang
diperjualbelikan bukan sesuatu yang diutamakan.
Karena posisi konsumen yang lemah maka ia harus dilindungi oleh hukum. Salah satu
sifat, sekaligus tujuan hukum itu adalah memberikan perlindungan (pengayoman) kepada
masyarakat.
Az. Nasution berpendapat bahwa hukum perlindungan konsumen merupakan bagian
dari hukum konsumen yang memuat asas-asas atau kaidah-kaidah bersifat mengatur, dan juga
mengandung sifat yang melindungi kepentingan konsumen. Adapaun hukum konsumen
diartikan sebagai keseluruhan asas-asas dan kaidah-kaidah hukum yang mengatur hubungan
dan masalah antara berbagai pihak satu sama lain berkaitan dengan barang dan/atau jasa
konsumen, di dalam pergaulan hidup.9
Oleh karena itu, perlindungan konsumen sangat diperlukan dalam berbagai kegiatan
masyarakat Indonesia. Bitcoin sebagai mata uang yang tengah beredar dimasyarakat
9

Az. Nasution, Konsumen dan Hukum : Tinjauan Sosial, Ekonomi dan Hukum pada Perlindungan Konsumen
Indonesia, Pustaka Sinar Harapan, Jakarta, 1995, hlm. 72

Indonesia, sebab kegunaan dan manfaat dari mata uang Bitcoin itu sendiri sama halnya
seperti mata uang Rupiah.
Seperti yang telah ditetapkan dalam hal menimbang pada Undang-Undang Nomor. 8
Tahun 2011 Tentang Mata Uang dalam huruf b bahwa Mata Uang diperlukan sebagai alat
pembayaran yang sah dalam kegiatan perekonomian nasional dan internasional guna
mewujudkan kesejahteraan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia. Karena mata uang
digunakan sebagai alat pembayaran yang sah dalam transaksi di wilayah di Indonesia,
khususnya rupiah sebagai mata uang yang dipergunakan di Indonesia. Maka mata uang asing
yang berada di Indonesia, harus mendapatkan status hukum secara yuridis oleh lembaga yang
berwenang dengan tujuan mata uang yang beredar di Indonesia dapat dipakai oleh
masyarakat serta mendapatkan kejelasan tentang status uang asing tersebut agar tidak
menimbulkan kerugian bagi para pemakai mata uang asing tersebut di Indonesia, dalam hal
ini konsumen.
Dalam perkembangan mutakhir fungsi uang dapat dibedakan dalam 2 (dua) kategori,
yaitu fungsi umum dan fungsi khusus. Menurut Glyn Davies fungsi umum uang adalah
sebagai aset likuid (liquid asset), faktor dalam rangka pembentukan harga pasar (framework
of the market allocative system), faktor penyebab dalam perekonomian (a causative factor in
the economy), dan faktor pengendali kegiatan ekonomi (controller of the economy).
Sedangkan fungsi khusus uang sebagai berikut :10
1. Uang sebagai alat tukar (medium of exchange);
2. Uang sebagai alat penyimpan nilai (store of value);
3. Uang sebagai satuan hitung (unit of account);
4. Uang sebagai ukuran pembayaran yang tertunda (standard for deffered payment);
5. Uang sebagai alat pembayaran (means of exchange);
10

Solikin Suseno, Uang, Pengertian, Penciptaan, dan Peranannya Dalam Perekonomian, Bank Indonesia,
Jakarta, 2005, hlm. 21

6. Uang sebagai alat ukuran umum dalam menilai sesuatu (common measure of value)
Kedudukan sebagai alat pembayaran yang sah (legal tender) ini dinyatakan di dalam
uang kertas yang dikeluarkan oleh Bank sentral setiap negara. Di dalam legal tender terdapat
dua elemen yang esensial yaitu pertama, keberadaannya dinyatakan oleh hukum dan kedua
untuk pembayaran. Ditinjau dari teori Hukum Tata Negara, suatu kewenangan yang diberikan
oleh undang-undang kepada suatu badan atau lembaga bersifat atributif artinya tidak
menimbulkan kewajiban menyampaikan laporan atas pelaksanaan kekuasaan itu. Di dalam
Undang - Undang Nomor 7 Tahun 2011 Tentang Mata Uang dalam Pasal 11 disebutkan
bahwa Bank Indonesia merupakan satu-satunya lembaga yang berwenang melakukan
pengeluaran, pengedaran, dan/atau pencabutan dan penarikan Rupiah untuk mengeluarkan
dan mengedarkan uang rupiah serta mencabut, menarik dan memusnahkan uang dimaksud
dari peredaran.
Melihat hal tersebut, Bank Indonesia sebagai Bank sentral Negara Republik Indonesia
tentang keberadaan mata uang Bitcoin yang saat ini sedang marak diperbincangkan,
memberikan pernyataan bahwa mata uang Bitcoin tersebut tidak disahkan maupun tidak
dilarang peredaraannya di Indonesia.
Hal ini berdampak pada kebingungan bagi para masyrakat Indonesia sebagai
konsumen untuk menggunakan mata uang Bitcoin, karena masyarakat merasa bahwa mereka
perlu diperjelas dengan status hukum dari mata uang Bitcoin tersebut yang sedang beredar di
Indonesia dengan pengaturan oleh Bank Indonesia terhadap kejelasan status mata uang
Bitcoin. Peraturan yang dikeluarkan oleh Bank Indonesia terkait mata uang Bitcoin akan
berdampak terhadap aturan hukum Undang-Undang Nomor. 8 Tahun 1999 Tentang
Perlindungan Konsumen terkait upaya perlindungan konsumen yang akan dikenakan

terhadap masayarakat yang menggunakan mata uang Bitcoin tersebut. Karena secara umum
dikenal ada empat hak dasar konsumen yaitu11 :
1. Hak untuk mendapatkan keamanan (the right to safety)
2. Hak untuk mendapatkan informasi (the right to be informed)
3. Hak untuk memilih (the right to choose)
4. Hak untuk didengar (the right to be heard)
Dari ke empat hal tersebut, maka bentuk keamanan yang diberikan oleh Pemerintah
terhadap beredarnya mata uang Bitcoin ini haruslah dilakukan oleh Pemerintah berkaitan
dengan adanya keberadaan mata uang Bitcoin dan munculnya peraturan dari Bank Indonesia
yang menyatakan mengenai keberadaan mata uang Bitcoin. Serta hak untuk mendapatkan
informasi yang benar atas keberadaan mata uang Bitcoin yang ada. Dengan cara Pemerintah
melalui Bank Indonesia seharusnya dapat memberikan informasi yang dapat dipahami oleh
masyarakat mengenai kejelasan status akan keberadaan mata uang Bitcon yang ada di
Indonesia. Sehingga dapat terhindar dari adanya kerugian terhadap konsumen perihal
penggunaan mata uang Bitcoin di Indonesia.
Berikut pernyataan resmi oleh Bank Indonesia tentang keberadaan mata uang Bitcoin
sebagai berikut :
No: 16/ 6 /DKom12
Memperhatikan Undang-Undang Nomor. 7 Tahun 2011 Tentang Mata Uang serta UU No. 23
Tahun 1999 yang kemudian diubah beberapa kali, terakhir dengan Undang-Undang No. 6

11

Empat hak ini mengacu kepada President Kennedys 1962 Consumers Bill of Right. Dalam perkembangan
memang tidak hanya empat hak itu yang diperjuangakan. Hak-hak tersebut antara lain: (1) the right to safety,
(2) the right to hesty, (3) the right to fair agreements, (4) the right to know, (5) the right to choose, (6) the right
to privacy, the right to correct abuse, ant the right to security of employment ant eace of mind, dan (7) the
right to be heard.
12
http://www.bi.go.id/id/ruang-media/siaran-pers/Pages/sp_160614.aspx dikutip pada tanggal 18 Februari 2014
pukul 19.34

Tahun 2009, Bank Indonesia menyatakan bahwa Bitcoin dan virtual currency lainnya bukan
merupakan mata uang atau alat pembayaran yang sah di Indonesia.
Masyarakat dihimbau untuk berhati-hati terhadap Bitcoin dan virtual currency lainnya.
Segala

risiko

terkait

kepemilikan/penggunaan

Bitcoin

ditanggung

sendiri

oleh

pemilik/pengguna Bitcoin dan virtual currency lainnya.


Jakarta, 6 Februari 2014
Departemen Komunikasi
Peter Jacobs
Direktur
Melihat dari seluruh paparan tersebut, maka perlindungan konsumen terkait dengan
mata uang Bitcoin di Indonesia, Bank Indonesia perlu melakukan suatu tindakan nyata dalam
pembentukan regulasi atau kebijakan hukum mengenai keberadaan mata uang Bitcoin di
Indonesia dengan melihat pada fungsi Bank Indonesia dalam Undang-Undang Bank
Indonesia No. 23 Tahun 1999 dalam Bab V Tugas Mengatur dan Menjaga Kelancaran Sistem
Pembayaran dalam Pasal 15 Ayat (1) huruf (c) yaitu menetapkan penggunaan alat
pembayaran.
Oleh karena itu dari seluruh penjabaran tentang Perlindungan Konsumen dan juga
alasan-alasan mengapa memfokuskan terhadap kajian atas perlindungan konsumen dan
keberadaan mata uang Bitcoin di Indonesia yang belum memiliki status hukum yang jelas
dari Bank Indonesia, penyusun tertarik untuk menyusun sebuah penelitian yang berjudul :
Perlindungan Konsumen Dalam Penggunaan Mata Uang Bitcoin Berdasarkan
Undang-Undang Nomor. 8 Tahun 1999 Tentang Perlindungan Konsumen
2.

Identifikasi Masalah

Pada sub bab sebelumnya telah dijelaskan bagaimana masalah yang timbul, yang akan
dikaji dalam penelitian ini. Adapun inti dari permasalahan yang ingin dikaji oleh
penyusun dan menemukan jawabannya setelah melakukan penelitian ini adalah :
2.1. Apakah Undang-Undang Perlindungan Konsumen Nomor. 8 Tahun 1999 dapat
melindungi masyarakat dari penggunaan mata uang Bitcoin di Indonesia?
2.2. Apakah Bank Indonesia dapat bertanggung jawab apabila terjadi kekosongan
hukum terkait perlindungan konsumen terhadap pengguna mata uang Bitcoin?
2.3. Apakah dasar hukum yang akan dibentuk untuk upaya perlindungan konsumen
terhadap pengguna mata uang Bitcoin seandainya dimungkinkan?
3.

Tujuan dan Manfaat Penulisan


Melihat dari uraian permasalahan yang hendak dikaji serta mencari jawaban atas
pertanyaan yang tercantum dalam sub bab diatas, maka manfaat dan tujuan
dilakukannya penelitian ini adalah :
3.1. Untuk mengetahui apakah dimungkinkan untuk melakukan tinjauan kembali
terhadap Status hukum mata uang Bitcon terkait perlindungan konsumen yang
akan dikenakan nantinya.
3.2. Untuk mengetahui seberapa jauh tanggung jawab terhadap perlindungan
konsumen pada mata uang Bitcoin selama status hukum mata uang Bitcoin di
Indonesia belum diperjelas oleh Bank Indonesia.
3.3. Untuk mengetahui apakah dasar hukum yang akan dibentuk untuk upaya
pembentukan

status

dimungkinkan.
4.

Metode Penelitian
4.1.

Metode Pendekatan

hukum

terhadap

mata

uang

Bitcoin

seandainya

Metode penelitian yang akan digunakan oleh penyusun dalam melakukan


penelitian adalah metode yuridis normatif. Dalam artian penelitian yang
mencakup penelitian suatu asas-asas hukum, sistematika hukum, sinkronisasi
hukum vertikal dan horizontal yang telah ditelaah dengan mengkaji peraturan
perundang-undangan suatu bidang kehidupan tertentu, sesuai dengan
pemeringkatan undang-undang, perbandingan hukum, serta sejarah hukum13.
Dalam hal ini penulis akan mengkaji seluruh data-data serta aturan hukum dan
atau hal-hal lain yang terkait dengan topik penelitian dalam rangka
menemukan jawaban atas penelitian.
4.2.

Metode Pengumpulan Data


Teknik pengumpulan data yang digunakan untuk menunjang penelitian adalah
dengan melakukan studi kepustakaan yang dilaksanakan dengan menelusuri
dan melakukan analisis bahan pustaka yang berkaitan dengan obyek penelitian
yang terdiri atas bahan-bahan hukum.14

5.

Sistematika Penulisan
Dalam susunan tulisan ini, penyusun akan membuat sistematika tulisan ini kedalam
bentuk bab dan sub bab, di mana gambaran dari sistematika tulisan ini adalah :
5.1.

BAB I : PENDAHULUAN
Bab ini berisi uraian tentang latar belakang masalah yang mendasari
pentingnya diadakan penelitian, identifikasi, dan Perumusan Masalah
Penelitian, Tujuan Penelitian, Metode dan Teknik Penelitian yang digunakan
serta Sistematika Penulisan.

5.2.

13

BAB II : GAMBARAN UMUM PERLINDUNGAN KONSUMEN

Soerjono Sukanto dan Sri Mamudji, Penelitian Hukum normatif, Cetakan IV, Radja Grafindo Persada, Jakarta,
2001, hlm. 14
14
Soerjono Soekanto, Pengantar Penelitian Hukum, cet III, UI Press, Jakarta, 1986, hlm. 52

Bab ini berisi tentang uraian teori-teori hasil dari studi kepustakaan yang
terkait dengan topik bahasan penelitian yang meliputi sejarah, asas-asas
hukum, hukum positif dan lain-lain yang terkait dengan topik penelitian.
Dengan adanya bab ini diharapkan pembaca tulisan ini akan memahami
keterkaitan konsep sub bab dalam tulisan ini, untuk dikaitkan kedalam
persoalan dalam penelitian ini.
5.3.

BAB III : PERLINDUNGAN KONSUMEN DALAM PENGGUNAAN


MATA UANG BITCOIN DI INDONESIA
Bab ini berisi mengenai pembahasan tentang topik permasalahan yang dikaji
dalam tulisan ini. Bab ini merupakan inti dari penelitian ini, untuk menjawab
apakah dimungkinkan atau tidak untuk melakukan suatu perlindungan
konsumen terhadap status mata uang Bitcoin di Indonesia yang bersifat belum
ada pengaturan hukum tentang Perlindungan Konsumen dan kekosongan
hukum dari Bank Indonesia.

5.4.

BAB IV : PERLINDUNGAN KONSUMEN DALAM PENGGUNAAN


MATA

UANG

BITCOIN

BERDASARKAN

UNDANG-UNDANG

NOMOR. 8 TAHUN 1999, BENTUK TANGGUNG JAWAB BANK


INDONESIA DAN DASAR HUKUM TENTANG MATA UANG
BITCOIN
Bab ini merupakan tambahan literatur yang akan diberikan oleh penyusun
bagaimana seandainya konsep perlindungan konsumen dapat dilakukan atau
tidak. Tujuannya adalah baik bisa ataupun tidak dilakukan perlindungan
konsumen terhadap penggunaan mata uang Bitcoin terkait sikap Bank
Indonesia tidak memberikan status terhadap keberadaan mata uang Bitcoin di
Indonesia, bab ini memberikan beberapa alternatif untuk usaha menjelaskan

status perlindungan konsumen terhadap kekosongan hukum atas status mata


uang Bitcoin di Indonesia oleh Bank Indonesia.
5.5.

BAB V : PENUTUP
Bab ini berisi tentang kesimpulan dari hasil penelitian yang dilakukan oleh
penyusun. Kesimpulan didapatkan dari hasil elaborasi antara fakta-fakta, data
serta analisis dan doktrin dari ahli yang terkait sehingga mendapatkan suatu
opini hukum yang layak untuk dipublikasikan demi kepentingan masyarakat.
Adapun dalam bab ini memuat saran pribadi dari penyusun, yang
dimungkinkan berasal dari pengalaman setelah meneliti ataupun pengaruh dari
doktrin para ahli. Namun yang pasti adanya bab ini merupakan bagian akhir
dari perjalanan penelitian ini.

BAB II
GAMBARAN UMUM PERLINDUNGAN KONSUMEN

1.

Sejarah Gerakan Perlindungan Konsumen


Kepentingan-kepentingan konsumen telah lama menjadi perhatian, secara tegas

dikemukakan pada Tahun 1962 oleh Presiden Amerika Serikat John F. Kennedy yang
menyampaikan pesan di depan Kongres tentang pentingnya kedudukan konsumen di dalam
masyarakat.15 Peristiwa berikutnya yang merupakan perhatian atas kepentingan konsumen,
secara tegas telah ditetapkan dalam putusan Sidang Umum PBB pada sidang ke-106 tanggal
9 April 1985. Resolusi PBB tentang Perlindungan Konsumen (Resolusi 39/248) telah
menegaskan enam kepentingan konsumen, yaitu sebagai berikut.16
1. Perlindungan konsumen dari bahaya terhadap kesehatan dan kemananya.
2. Promosi dan perlindungan pada kepentingan ekonomi konsumen.
3. Tersedianya informasi yang mencukupi sehingga memungkinkan dilakukannya
pilihan sesuai kehendak.
4. Pendidikan konsumen.
5. Tersedianya cara ganti rugi yang efektif.
6. Kebebasan membentuk organisasi konsumen dan diberinya kesempatan kepada
mereka untuk menyatakan pendapat sejak saat proses pengambilan keputusan
yang berkaitan dengan kepentingan konsumen.

15

Mariam Darus Badrulzaman, Pembentukan Hukum Nasional dan Permasalahan, Alumni, Bandung, 1982, hlm.
47
16
A.Z. Nasution, Sekilas Hukum Perlindungan Konsumen, Majalah Hukum dan Pembangunan, Fakultas Hukum
UI, No. 6 Tahun ke XVI, Desember 1986, hlm. 57

Secara umum, sejarah gerakan perlindungan konsumen terbagi dalam 4 (empat)


tahapan yaitu17:
1. Tahapan I (1881-1914)
Kurun waktu ini titik awal munculnya kesdaran masyarakat untuk melakukan
gerakan perlindungan konsumen. Pemicunya, histeria massal akibat novel karya
Upton Sinclair berjudul The Jungle, yang menggambarkan cara kerja pabrik
pengolahan daging di Amerika Serikat yang sangat tidak memenuhi syarat-syarat
kesehatan.
2. Tahapan II (1920-1940)
Pada kurun waktu ini muncul pula buku berjudul Your Moneys Worth karya
Chase dan Schlink. Karya ini mampu menggugah konsumen atas hak-hak mereka
dalam jual beli. Pada kurun waktu ini muncul slogan: fair deal, best buy.
3. Tahapan III (1950-1960)
Pada dekade 1950-an ini muncul keinginan untuk mempersatukan gerakan
perlindungan konsumen dalam lingkup internasional. Dengan diprakarsai oleh
wakil-wakil gerakan konsumen dari Amerika Serika, Inggris, Belanda, Australia,
dan Belgia, pada 1 April 1960 berdirilah International Organization of Consumer
Union. Semula organisasi ini berpusat di Den Haag, Belanda, lalu pindah ke
London, Inggris, pada 1993. Dua tahun kemudian International Organization of
Consumer Union mengubah namanya menjadi Consumers International.
4. Tahapan IV (pasca-1965)
Pasca-1965 sebagai masa pemantapan gerakan perlindungan konsumen, baik di
tingkat regional maupun internasional. Sampai saat ini dibentuk 5 (lima) kantor
regional, yakni di Amerika Latin dan Karibia berpusat di Cile, Asia Pasifik
17

C. Tantri. D & Sularsi, Gerakan Organisasi Konsumen, Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia & The Asia
Foundation, Jakarta, 1995, hlm. 3-4

berpusat di Malaysia, Afrika berpusat di Zimbabwe, Eropa Timur dan Tengah


berpusat di Inggris, dan negara-negara maju berpusat di London, Inggris.
2.

Perlindungan Konsumen
Perlindungan konsumen menurut Undang-Undang Nomor. 8 Tahun 1999 Pasal 1

angka 1 adalah segala upaya yang menjamin adanya kepastian hukum untuk memberikan
perlindungan kepada konsumen. Rumusan pengertian perlindungan konsumen yang terdapat
dalam Pasal 1 angka 1 UUPK telah memberikan cukup kejelasan. Kalimat yang menyatakan
segala upaya yang menjamin adanya kepastian hukum, diharapkan sebagai benteng untuk
meniadakan tindakan sewenang-wenang yang merugikan pelaku usaha hanya demi untuk
kepentingan perlindungan konsumen.18
Oleh karena itu, berbicara tentang Perlindungan Konsumen berarti mempersoalkan
jaminan atau kepastian tentang terpenuhinya hak-hak konsumen terhadap penggunaan barang
dan/atau jasa yang disediakan oleh pelaku usaha, sebab masyarakat sebagai pengguna barang
dan/atau jasa membutuhkan perlindungan terhadap barang dan/atau jasa yang digunakan
karena mempunyai dampak yang dapat merugikan konsumen secara langsung maupun tidak
langsung.
Perlindungan konsumen mempunyai cakupan yang luas meliputi perlindungan
terhadap konsumen barang dan/atau jasa, yang berawal dari tahap kegiatan untuk
mendapatkan barang dan/atau jasa hingga ke dampak dari pemakaian barang dan/atau jasa
itu. Cakupan perlindungan konsumen dalam 2 (dua) aspeknya itu, dapat dijelaskan sebagai
berikut19 :
1. Perlindungan terhadap kemungkinan diserahkan kepada konsumen barang dan/atau
jasa yang tidak sesuai dengan apa yang telah disepakati atau melanggar ketentuan
undang-undang.
18

Dalam

kaitan

ini

termasuk

persoalan-persoalan

mengenai

Ahmadi Miru dan Sutarman Yodo, Hukum Perlindungan Konsumen, Raja Grafindo Persada, Jakarta, 2004,
hlm. 1
19
Supranote 20, hlm. 10

penggunaan bahak baku, proses produksi, proses distribusi, desain produk, dan
sebagainya, apakah telah sesuai dengan standar sehubungan keamanan dan
keselamatan konsumen atau tidak. Juga, persoalan tentang bagaimana konsumen
mendapatkan penggantian jika timbul kerugian karena memakai atau mengkonsumsi
produk yang tidak sesuai.
2. Perlindungan terhadap diberlakukannya kepada konsumen syarat-syarat yang tidak
adil. Dalam kaitan ini termasuk persoalan persoalan promosi dan periklanan, standar
kontrak, harga, layanan purnajual dan sebagainya. Hal ini berkaitan dengan perilaku
produsen dalam memproduksi dan mengedarkan produknya.
2.1.

Tujuan Perlindungan Konsumen


Dibentuknya Undang-Undang Nomor. 8 Tahun 1999 Tentang Perlindungan

Konsumen, dimaksudkan untuk menjadi hukum positif yang dapat digunakan oleh pelaku
usaha dalam mengatur barang dan/atau jasa yang diberikan kepada konsumen dengan maksud
untuk melindungi konsumen dan mengatur pelaku usaha dalam hal distribusi barang dan/atau
jasa kepada pihak konsumen dan tidak ada kerugian yang diderita oleh pihak konsumen
maupun pelaku usaha.
Tujuan dari terbentuknya Undang-Undang Nomor. 8 Tahun 1999 Tentang
Perlindungan Konsumen tertuang dalam Pasal 3, yaitu :
a) meningkatkan kesadaran, kemampuan dan kemandirian konsumen untuk melindungi
diri;
b) mengangkat harkat dan martabat konsumen dengan cara menghindarkannya dari
ekses negatif pemakaian barang dan/atau jasa;
c) meningkatkan pemberdayaan konsumen dalam memilih, menentukan dan menuntut
hak-haknya sebagai konsumen;

d) menciptakan sistem perlindungan konsumen yang mengandung unsur kepastian


hukum dan keterbukaan informasi serta akses untuk mendapatkan informasi;
e) menumbuhkan kesadaran pelaku usaha mengenai pentingnya perlindungan konsumen
sehingga tumbuh sikap yang jujur dan bertanggung jawab dalam berusaha;
f) meningkatkan kualitas barang dan/atau jasa yang menjamin kelangsungan usaha
produksi barang dan/atau jasa, kesehatan, kenyamanan, keamanan, dan keselamatan
konsumen.
Tujuan adanya perlindungan konsumen ini dimaksudkan agar konsumen mampu serta
sadar untuk melindungi pribadi konsumen dari barang dan/atau jasa yang dapat merugikan
konsumen. Aturan ini mengharapkan konsumen untuk dapat menjaga harkat martabat
konsumen dari ekses negatif barang dan/atau jasa yang disediakan oleh pihak pelaku usaha.
Dalam hal ini, konsumen diberikan hak untuk memilih jenis-jenis barang dan/atau jasa yang
akan di gunakan dalam kehidupan sehari-hari. Kepastian hukum, informasi yang jelas serta
keterbukaan akses menjadikan konsumen dapat memilih dan menggunakan barang dan/atau
jasa yang ada untuk menghindari kerugian yang akan dideritanya kelak. Pelaku usaha pun
dituntut untuk menumbuhkan sikap yang jujur dan bertanggung jawab demi terciptanya
perlindungan bagi konsumen dan pelaku usaha dapat meningkatkan kualitas barang dan/atau
jasa yang diproduksi demi keselamatan, kenyamanan dan keamanan dari konsumen.
2.2.

Pengertian Konsumen
Bagi para ahli hukum pada umumnya sepakat bahwa arti konsumen adalah pemakai

terakhir dari benda dan jasa yang diserahkan kepada mereka oleh pengusaha. Menurut A.Z.
Nasution istilah konsumen berasal dari bahasa consumer (Inggris - Amerika) atau consument
(Belanda). Secara harfiah arti kata consumer adalah lawan dari produsen, setiap orang yang
menggunakan barang.20
20

A.Z. Nasution, Hukum Perlindungan Konsumen, C.V Diadit Media, Jakarta, 2002, hlm. 3

Hondius, seorang pakar masalah konsumen di Belanda mengatakan bahwa para ahli
hukum pada umumnya sepakat mengartikan konsumen sebagai pemakai produksi terakhir
dari benda dan jasa (uiteindelijke gebruiker van goederen en dienstein).21 Sedangkan menurut
Susanto Adi Nugroho, pengertian konsumen dapat terdiri atas 3 (tiga) pengertian, yaitu22:
a. Konsumen adalah setiap orang yang mendapatkan barang dan/atau jasa yang
digunakan untuk tujuan tertentu.
b. Konsumen antara adalah setiap orang yang mendapatkan barang dan /atau jasa yang
digunakan untuk diperdagangkan/komersil. Melihat sifat penggunaan barang dan/atau
jasa tersebut, konsumen antara ini sesungguhnya adalah pengusaha, baik pengusaha
perorangan maupun pengusaha yang berbentuk badan hukum atau tidak, baik
pengusaha swasta maupun pengusaha publik (perusahaan milik negara) dan dapat
terdiri dari penyedia dana (investor), pembuat produk akhir yang digunakan oleh
konsumen akhir atau produsen, atau penyedia atau penjual produk akhir seperti
supplier, distributor atau pedagang.
c. Konsumen akhir adalah setiap orang alami (natuurlijke person) yang mendapatkan
barang dan/atau jasa, yang digunakan untuk tujuan memenuhi kebutuhan hidup
pribadinya. Keluarga dan/atau rumah tangganya dan tidak untuk diperdagangkan
kembali.
Dalam Undang-Undang Nomor. 8 Tahun 1999 Tentang Perlindungan Konsumen
menurut Pasal 1 ayat (2) definisi dari konsumen adalah setiap orang pemakai barang dan
jasa yang tersedia dalam masyarakat, baik bagi kepentingan diri sendiri, keluarga, orang lain
maupun makhluk hidup lain dan tidak untuk diperdagangkan.

21

Susanti Adi Nugroho, Proses Penyelesaian Sengketa Konsumen Ditinjau Dari hukum Acara Serta Kendala
Implementasinya, Kencana, Jakarta, 2008, hlm. 61
22
Id, hlm. 62

Dari hal tersebut di atas, pengertian konsumen didefinisikan sebagai pemakai barang
atau jasa. Menurut A.Z. Nasution, orang yang dimaksud di atas adalah orang alami bukan
badan hukum. Sebab yang memakai, menggunakan dan/atau memanfaatkan barang dan atau
jasa untuk kepentingan diri sendiri, keluarga, orang lain maupun makhluk hidup lain dan
tidak untuk diperdagangkan hanyalah orang alami atau manusia.23
Dari pengertian konsumen di atas, maka dapat dikemukakan unsur-unsur definisi
konsumen yaitu24 :
a. Setiap orang
Subjek yang disebut sebagai konsumen berarti setiap orang yang berstatus sebagai
pemakai barang dan/atau jasa. Istilah orang disini tidak dibedakan apakah orang
individual yang lazim disebut natuurlijke persoon atau termasuk juga badan hukum
(rechtspersoon). Oleh karena itu, yang paling tepat adalah tidak membatasi pengertian
konsumen sebatas pada orang perseorangan, tetapi konsumen harus mencakup juga
badan usaha dengan makna lebih luas daripada badan hukum.
b. Pemakai
Kata pemakai dalam bunyi Penjelasan Pasal 1 angka (2) UU Perlindungan
Konsumen diartikan sebagai konsumen akhir (ultimate consumer).
c. Barang dan/atau jasa
Undang-Undang Nomor. 8 Tahun 1999 Tentang Perlindungan Konsumen
mengartikan barang sebagai sebagai benda, baik berwujud maupun tidak berwujud,
bergerak maupun tidak bergerak, benda yang dapat dihabiskan maupun yang tidak
dapat dihabiskan, yang dapat diperdagangkan, dipakai, dipergunakan, atau
dimanfaatkan oleh konsumen. Sementara itu, jasa diartikan sebagai setiap layanan

23
24

Id, hlm. 7
Id, hlm. 13

yang berbentuk pekerjaan atau prestasi yang disediakan bagi masyarakat untuk
dimanfaatkan oleh konsumen.
d. Yang tersedia dalam masyarakat
Barang dan/atau jasa yang ditawarkan kepada masyarakat sudah harus tersedia di
pasaran. Namun, di era perdagangan sekarang ini, syarat mutlak itu tidak lagi dituntut
oleh masyarakat konsumen. Misalnya, perusahaan pengembang (developer)
perumahan telah biasa mengadakan transaksi konsumen tertentu seperti futures
trading dimana keberadaan barang yang diperjualbelikan bukan sesuatu yang
diutamakan.
e. Bagi kepentingan diri sendiri, keluarga, orang lain, makhluk hidup lain. Transaksi
konsumen ditujukan untuk kepentingan diri sendiri, keluarga, orang lain, dan makhluk
hidup lain seperti hewan dan tumbuhan.
2.3.

Hak dan Kewajiban Konsumen


Perlindungan konsumen menggunakan aturan dalam Undang-Undang Nomor. 8

Tahun 1999 Tentang Perlindungan Konsumen untuk mengatur bagaimana kegiatan


konsumen dalam menggunakan barang dan/atau jasa. Sebagaimana dalam Undang-Undang
Nomor. 8 Tahun 1999 Tentang Perlindungan Konsumen Pasal 2 mengenai asas dan tujuan
yang hendak dicapai oleh UUPK ini adalah hal yang diatur meliputi fisik hingga hak-hak
dasar yang menginginkan adanya keselamatan konsumen, manfaat, keadilan, keseimbangan,
keamanan dan kepastian hukum.
Secara umum dikenal adanya empat hak dasar konsumen yaitu hak untuk
mendapatkan keamanan (the right to safety), hak untuk mendapatkan informasi (the right to
be informed), hak untuk memilih (the right to choose), dan akhirnya hak untuk didengar (the
right to be heard ).25

25

Supranote 2, hlm. 16

Di dalam Undang-Undang Nomor. 8 Tahun 1999 Perlindungan Konsumen Pasal 4,


hak konsumen adalah :
a. Hak atas kenyamanan, keamanan, dan keselamatan dalam mengkonsumsi barang
dan/atau jasa.
b. Hak untuk memilih barang dan/atau jasa serta mendapatkan barang dan/atau jasa
tersebut sesuai dengan nilai tukar dan kondisi serta jaminan yang dijanjikan.
c. Hak atas informasi yang benar, jelas, dan jujur mengenai kondisi dan jaminan barang
dan/atau jasa.
d. Hak untuk didengar pendapat dan keluhannya atas barang dan/atau jasa yang
digunakan.
e. Hak untuk mendapatkan advokasi, perlindungan, dan upaya penyelesaian sengketa
perlindungan konsumen secara patut.
f. Hak untuk mendapatkan pembinaan dan pendidikan konsumen.
g. Hak untuk diperlakukan atau dilayani secara benar dan jujur serta tidak diskriminatif.
h. Hak untuk mendapatkan kompensasi, ganti rugi dan/atau penggantian, apabila barang
dan/atau jasa yang diterima tidak sesuai dengan perjanjian atau tidak sebagaimana
mestinya.
i. Hak-hak yang diatur dalam ketentuan peraturan perundang-undangan lainnya.
Melalui sembilan hak tersebut yang termuat dalam Undang-Undang Nomor. 8 Tahun
1999 Tentang Perlindungan Konsumen Pasal 4, maka hal-hal yang diinginkan terhadap
konsumen yaitu adanya hal-hal pokok tentang kenyamanan, keamanan dan keselamatan
dalam menggunakan barang dan/atau jasa. Konsumen pun diberikan ruang untuk dapat
memilih barang dan/atau jasa serta mendapatkan barang dan/atau jasa tersebut sesuai dengan
nilai tukar dan kondisi serta jaminan yang dijanjikan. Sehingga tidak adanya kesalahan
maupun kerugian yang didapat oleh konsumen dengan adanya kebebasan untuk memilih

barang dan/atau jasa serta mengikuti nilai tukar yang berlaku. Hal lain yaitu apabila barang
dan/atau jasa yang dimana penggunaannya tidak dapat memberikan kenyamanan, terlebih
lagi yang tidak aman atau dapat membahayakan keselamatan konsumen, konsumen diberikan
hak untuk memilih barang dan/atau jasa yang dikehendakinya berdasarkan atas keterbukaan
informasi yang benar, jelas dan jujur. Jika terdapat penyimpangan yang merugikan terhadap
konsumen, maka konsumen berhak untuk didengar, memperoleh advokasi, pembinaan,
perlakuan yang adil, kompensasi hingga ganti rugi.
Betapa pentingnya hak-hak konsumen, sehingga melahirkan pemikiran yang
berpendapat bahwa hak-hak konsumen merupakan generasi keempat hak asasi manusia, yang
merupakan kata kunci dalam konsepsi hak asasi manusia dalam perkembangan di masa yang
akan datang.26
Sebab apabila setelah mengkonsumsi, konsumen merasa dirugikan atau dikecawakan
karena ternyata barang dan/atau jasa yang dikonsumsinya tidak sesuai dengan informasi yang
diterimanya, pelaku usaha seharusnya mendengar keluhan tersebut dan memberikan
penyelesaian yang baik. Perlu ketulusan hati dari produsen untuk mengakui kelemahannya
dan senantiasa meningkatkan pelayanannya kepada konsumen. Termasuk dalam hal ini
adalah hak konsumen untuk mendapatkan penggantian atas kerugian yang dideritanya setelah
mengonsumsi produk tersebut atau jika produk tidak sesuai dengan perjanjian, atau jika
produk tidak sebagaimana mestinya.27
Dari hal tersebut, maka diperlukan adanya penegasan mengenai hak, kewajiban dan
larangan yang diatur dalam suatu perundang-undangan mengenai permasalahan perlindungan
konsumen dalam mata uang Bitcoin, sehingga baik konsumen, pelaku usaha, hingga
Pemerintah memiliki pemahaman yang sama tentang Perlindungan Konsumen terkait
permasalahan mata uang Bitoin di Indonesia. Terkait permasalahan mata uang Bitcoin di
26
27

Supranote 20, hlm. 180


Supranote 15, hlm. 41

Indonesia, apabila terjadi kerugian yang diderita konsumen dan melanggar aturan hukum,
maka hak-hak konsumen tersebut dapat dilakukan pembelaan melalui hukum tertulis dengan
menjalankan prosedur yang ada seperti tercantum di dalam perundang-undangan.
Selanjutnya dalam Pasal 5 Undang-Undang Nomor. 8 Tahun 1999 Tentang
Perlindungan Konsumen mengatur tentang kewajiban konsumen yaitu:
a. Membaca atau mengikuti petunjuk informasi dan prosedur pemakaian atau
pemanfaatan barang dan/atau jasa demi keamanan dan keselamatan.
b. Beritikad baik dalam melakukan transaksi pembelian barang dan/ atau jasa.
c. Membayar sesuai dengan nilai tukar yang disepakati mengikuti upaya penyelesaian
hukum sengketa perlindungan konsumen secara patut.
Penjabaran Pasal tersebut di atas, dimaksudkan agar konsumen sendiri dapat
memperoleh hasil yang optimal atas perlindungan atas barang dan/atau jasa serta adanya
kepastian hukum bagi dirinya. 28 Sehingga konsumen dapat terhindar dari kerugian yang akan
dideritanya akibat kelalaian dari pihak konsumen itu sendiri.
2.4.

Definisi Pelaku Usaha


Produsen sering diartikan sebagai pengusaha yang menghasilkan barang dan/atau jasa.

Dalam pengertian ini termasuk di dalamnya pembuat, grosir, leveransir, dan pengecer
profesional,29 yaitu setiap orang/badan yang ikut serta dalam penyediaan barang dan jasa
hingga sampai ke tangan konsumen.30 Dalam hal ini, konsumen harus dapat memiliki sifat
hati-hati dan kewaspadaan dalam membeli suatu barang dan/atau jasa, karena hal-hal tersebut
yang menjadi hal mutlak dalam menuntut pertanggung jawaban kepada pelaku usaha atau
kerugian yang diderita konsumen.
Dalam Pasal 1 ayat 3 Undang-Undang Nomor. 8 Tahun 1999 Tentang Perlindungan
Konsumen tidak ada pemakaian istilah produsen, pembuat undang-undang menggunakan
28

Id, hlm. 184


Supranote 22, hlm. 16
30
Id
29

pelaku usaha dalam hal menjelaskan mengenai produsen yang dimana isi dari Pasal 1 ayat 3
yaitu Pelaku usaha adalah setiap orang perorangan atau badan usaha, baik yang berbentuk
badan hukum maupun bukan badan hukum yang didirkan dan berkedudukan atau melakukan
kegiatan dalam wilayah hukum negara Republik Indonesia, baik sendiri maupun bersamasama melalui perjanjian menyelenggarakan kegiatan usaha dalam berbagai bidang ekonomi.
Dengan dasar tersebut maka berbagai bentuk bidang usaha yang ada di Indonesia
seperti BUMN, Koperasi, perusahaan swasta dan lain-lain, ini termasuk dalam definisi pelaku
usaha karena sebagai penyelenggara kegiatan usaha. Sebagai penyelenggara kegiatan usaha,
pelaku usaha adalah pihak yang harus bertanggung jawab atas akibat-akibat negatif berupa
kerugian yang ditimbulkan oleh usahanya terhadap pihak ketiga, yaitu konsumen, sama
seperti seorang pelaku usaha.31
2.5.

Hak Dan Kewajiban Pelaku Usaha


Aturan mengenai hubungan pelaku usaha dengan konsumen ini telah diatur dalam

Undang-Undang Nomor.8 Tahun 1999 Tentang Perlindungan Konsumen, dalam Pasal 6 dan
Pasal 7 yang mengatur tentang hak dan kewajiban pelaku usaha.
Seperti telah disebutkan beberapa hak konsumen diatas, pelaku usaha memiliki hakhaknya sebagai pelaku usaha yang akan menjadi penyalur barang dan/atau jasa kepada
konsumen. Hal ini dijadikan sebagai penyeimbang hubungan pelaku usaha dengan konsumen
tanpa mengabaikan tanggung jawab dari pelaku usaha itu sendiri. Hak pelaku usaha dalam
Pasal 6 yaitu :
a. hak untuk menerima pembayaran yang sesuai dengan kesepakatan mengenai kondisi
dan nilai tukar barang dan/atau jasa yang diperdagangkan;
b. hak untuk mendapat perlindungan hukum dari tindakan konsumen yang beritikad
tidak baik;

31

Id

c. hak untuk melakukan pembelaan diri sepatutnya di dalam penyelesaian hukum


sengketa konsumen;
d. hak untuk rehabilitasi nama baik apabila terbukti secara hukum bahwa kerugian
konsumen tidak diakibatkan oleh barang dan/atau jasa yang diperdagangkan;
e. hak-hak yang diatur dalam ketentuan peraturan perundang-undangan lainnya.
Selanjutnya, selain memiliki hak, adapun pelaku usaha juga memiliki beberapa kewajiban
sebagaimana telah ditetapkan dalam Pasal 7 Undang-Undang Nomor. 8 Tahun 1999 Tentang
Perlindungan Konsumen, yaitu:
a. beritikad baik dalam melakukan kegiatan usahanya;
b. memberikan informasi yang benar, jelas dan jujur mengenai kondisi dan jaminan
barang dan/atau jasa serta memberi penjelasan penggunaan, perbaikan dan
pemeliharaan;
c. memperlakukan atau melayani konsumen secara benar dan jujur serta tidak
diskriminatif;
d. menjamin mutu barang dan/atau jasa yang diproduksi dan/atau diperdagangkan
berdasarkan ketentuan standar mutu barang dan/atau jasa yang berlaku;
e. memberi kesempatan kepada konsumen untuk menguji dan/atau mencoba barang
dan/atau jasa tertentu serta memberi jaminan dan/atau garansi atas barang yang dibuat
dan/atau yang diperdagangkan;
f. memberi kompensasi, ganti rugi dan/atau penggantian atas kerugian akibat
penggunaan, pemakaian dan pemanfaatan barang dan/atau jasa yang diperdagangkan;
g. memberi kompensasi, ganti rugi dan/atau penggantian apabila barang dan/atau jasa
yang diterima atau dimanfaatkan tidak sesuai dengan perjanjian.
Kewajiban pelaku usaha sebagaimana dimaksud di atas dilakukan atas dasar bahwa
konsumen dapat pada suatu saat dihadapi pada posisi yang dirugikan akibat adanya kesalahan

dari penggunaan dan pemanfaatan atas barang dan/atau jasa yang disediakan oleh pihak
pelaku usaha. Aturan ini menjadi landasan bagi konsumen atas kerugian yang diderita,
sehingga konsumen dapat menjadikan aturan ini untuk meminta pertanggung jawaban dari
pihak pelaku usaha.
Selanjutnya telah ditetapkan tentang perbuatan yang dilarang dalam Pasal 8 UndangUndang Republik Indonesia Nomor. 8 Tahun 1999 Tentang Perlindungan Konsumen.
Adapun perbuatan yang dilarang terhadap pelaku usaha adalah sebagai berikut :
1) Pelaku usaha dilarang memproduksi dan/atau memperdagangkan barang dan/atau jasa
yang:
a. tidak memenuhi atau tidak sesuai dengan standar yang dipersyaratkan dan
ketentuan peraturan perundang-undangan;
b. tidak sesuai dengan berat bersih, isi bersih atau netto, dan jumlah dalam hitungan
sebagaimana yang dinyatakan dalam label atau etiket barang tersebut;
c. tidak sesuai dengan ukuran, takaran, timbangan dan jumlah dalam hitungan
menurut ukuran yang sebenarnya;
d. tidak sesuai dengan kondisi, jaminan, keistimewaan atau kemanjuran sebagaimana
dinyatakan dalam label, etiket atau keterangan barang dan/atau jasa tersebut;
e. tidak sesuai dengan mutu, tingkatan, komposisi, proses pengolahan, gaya, mode,
atau penggunaan tertentu sebagaimana dinyatakan dalam label atau keterangan
barang dan/atau jasa tersebut;
f. tidak sesuai dengan janji yang dinyatakan dalam label, etiket, keterangan, iklan
atau promosi penjualan barang dan/atau jasa tersebut;
g. tidak mencantumkan tanggal kadaluwarsa atau jangka waktu penggunaan/
pemanfaatan yang paling baik atas barang tertentu;

h. tidak mengikuti ketentuan berproduksi secara halal, sebagaimana pernyataan


"halal" yang dicantumkan dalam label;
i. tidak memasang label atau membuat penjelasan barang yang memuat nama
barang, ukuran, berat/isi bersih atau netto, komposisi, aturan pakai, tanggal
pembuatan, akibat sampingan, nama dan alamat pelaku usaha serta keterangan
lain untuk penggunaan yang menurut ketentuan harus dipasang/ dibuat;
j. tidak mencantumkan informasi dan/atau petunjuk penggunaan barang dalam
bahasa Indonesia sesuai dengan ketentuan perundang-undangan yang berlaku.
2) Pelaku usaha dilarang memperdagangkan barang yang rusak, cacat atau bekas, dan
tercemar tanpa memberikan informasi secara lengkap dan benar atas barang
dimaksud.
3) Pelaku usaha dilarang memperdagangkan persediaan farmasi dan pangan yang rusak,
cacat atau bekas dan tercemar, dengan atau tanpa memberikan informasi secara
lengkap dan benar.
4) Pelaku usaha yang melakukan pelanggaran pada ayat (1) dan ayat (2) dilarang
memperdagangkan barang dan/atau jasa tersebut serta wajib menariknya dari
peredaran.
Pada aturan ini, pelaku usaha memiliki hak, kewajiban serta larangan yang dimaksudkan
guna adanya perlindungan bagi konsumen seiring dengan fungsi negara sebagai
penyelenggara kesejahteraan terhadap masyarakat, maka dalam upaya mewujudkan
perlindungan konsumen, Pemerintah memegang peranan sentral, yaitu bahwa Pemerintah
harus dapat mengusahakan terwujudnya perlindungan terhadap kepentingan konsumen
dengan baik melalui penciptaan iklim yang kondusif bagi terpenuhinya hak-hak konsumen

dengan baik melalui pembuatan peraturan yang baik (fungsi regulasi) dan melaksanakan
(mengawasi pelaksanaan) peraturan tersebut sebaik-baiknya (fungsi penegakan hukum).32
2.6.

Perbuatan Yang Dilarang Bagi Pelaku Usaha


Dalam Undang-Undang Nomor. 8 Tahun 1999 Tentang Perlindungan Konsumen,

telah diatur mengenai definisi pelaku usaha serta hak dan kewajiban yang harus dilaksanakan
menurut Undang-Undang Nomor. 8 Tahun 1999 Tentang Perlindungan Konsumen.
Untuk melindungi kepentingan dari konsumen atas kerugian yang akan dideritanya,
maka dalam Pasal 8 Undang-Undang Nomor. 8 Tahun 1999 Tentang Perlindungan
Konsumen, diatur mengenai perbuatan yang dilarang bagi pelaku usaha, yaitu :
(1) Pelaku usaha dilarang memproduksi dan/atau meperdagangkan barang

dan/atau

jasa yang :
a. Tidak memenuhi atau tidak sesuai dengan standar yang

dipersyaratkan dan

ketentuan peraturan-perundang- undangan;


b. Tidak sesuai dengan berat bersih, isi bersih atau netto, dan jumlah

dalam

hitungan sebagaimana yang dinyatakan dalam label atau etiket barang tersebut;
c. Tidak sesuai dengan ukuran, takaran, timbangan dan jumlah

dalam

hitungan menurut ukuran yang sebenarnya;


d. Tidak sesuai dengan kondisi, jaminan, keistimewaan atau
sebagaimana dinyatakan dalam label, etiket atau

kemanjuran

keterangan

barang

dan/atau jasa tersebut;


e. Tidak sesuai dengan mutu, tingkatan, komposisi, proses
mode, atau penggunaan tertentu sebagaimana
keterangan barang

32

pengolahan, gaya,

dinyatakan dalam

label atau

dan/atau jasa tersebut;

Janus Sidabalok, Hukum Perlindungan Konsumen di Indonesia, PT. Citra Aditya Bakti, Bandung, 2010, hlm.
57

f. Tidak sesuai dengan janji yang dinyatakan dalam label,


iklan atau promosi penjualan barang
g. Tidak

mencantumkan

tanggal

etiket, keterangan,

dan/atau jasa tersebut;


kadaluwarsa

atau

penggunaan/pemanfaatan yang paling baik atas barang


h. Tidak mengikuti ketentuan berproduksi secara halal,
pernyataan "halal" yang dicantumkan dalam

jangka
tertentu;

sebagaimana

label;

i. Tidak memasang label atau membuat penjelasan barang yang


nama barang, ukuran, berat/isi bersih atau netto,
tanggal pembuatan, akibat
keterangan

waktu

memuat

komposisi, aturan pakai,

sampingan, nama dan alamat pelaku usaha serta

lain untuk penggunaan yang menurut ketentuan harus

dipasang/ dibuat;
j. Tidak mencantumkan informasi dan/atau petunjuk penggunaan barang dalam
bahasa Indonesia sesuai dengan ketentuan perundangundangan yang berlaku.
(2) Pelaku usaha dilarang memperdagangkan barang yang rusak, cacat atau bekas, dan
tercemar tanpa memberikan informasi secara lengkap dan benar atas barang
dimaksud.
(3) Pelaku usaha dilarang memperdagangkan sediaan farmasi dan pangan yang rusak,
cacat atau bekas dan tercemar, dengan atau tanpa memberikan informasi secara
lengkap dan benar.
(4) Pelaku usaha yang melakukan pelanggaran pada ayat (1) dan ayat (2) dilarang
memperdagangkan barang dan/atau jasa tersebut serta wajib menariknya dari
peredaran.
3.

Bentuk Tanggung Jawab Dalam Hukum Perlindungan Konsumen

Dalam hal ini, pertanggung jawaban sangat diperlukan dalam hal keberlangsungan
segala jenis transaksi yang melibatkan konsumen dan pelaku usaha dalam hal konsumsi
barang maupun jasa.
Dalam pemaparan mengenai tanggung jawab ini, akan dijelaskan mengenai bentuk
dari tanggung jawab dalam hukum perlindungan konsumen, dimana hal ini merupakan suatu
titik penting bahwa pelaku usaha dapat memberikan pertanggung jawaban atas segala akibat
yang terjadi terhadap konsumen. Karena hal ini menjadi faktor penting perlindungan hukum
terhadap konsumen yang dirugikan oleh akibat dari pelaku usaha serta mengetahui siapa
pihak yang bertanggung jawab, bentuk perjanjian yang dilarang dan hal-hal lain yang dapat
mengakibatkan timbulnya kerugian terhadap konsumen.
Berikut adalah jenis-jenis pertanggung jawaban dalam hukum perlindungan konsumen,
yaitu33 :
A. Tanggung Jawab Kontraktual (Contract Liability)
Tanggung jawab kontraktual adalah pertanggung jawaban yang didasarkan
pada kontrak atau perjanjian yang didasari oleh asas kebebesasan berkontrak, dibuat
oleh pelaku usaha dan konsumen atas jual beli barang dan/atau jasa.
Perkembangan saat ini pelaku usaha di Indonesia cenderung menuangkan
kebebasan berkontrak dalam sebuah kontrak standar atau kontrak baku yang dibuat
oleh pihak produsen untuk dikenakan terhadap pihak konsumen tanpa melihat akibatakibat yang terjadi dikemudian hari terhadap konsumen dan lebih cenderung kontrak
tersebut menguntungkan pihak produsen.
Pada hal ini, yang dimaksud dengan kontrak standar atau kontrak baku adalah
kontrak tertulis yang dimana setiap isi dari kontrak tersebut telah dipersiapkan dan
ditetapkan secara satu pihak oleh pelaku usaha untuk dikenakan terhadap konsumen.

33

Johannes Gunawan, Handout Perlindungan Konsumen, Fakultas Hukum UNPAR Bandung, 2012.

Dari hal tersebut, maka konsumen memiliki keterbatasan dalam pilihan untuk setuju
terikat atau tidak setuju untuk terikat tanpa dapat mengeosiasikan isi dari kontrak
tersebut (take-it or leave-it contract).34
Tetapi, pada saat tataran praktik yang dilakukan oleh pihak pelaku usaha maupun
konsumen, ada hal-hal yang memaksa konsumen menyetujui untuk terikat pada suatu
kontrak standar atau kontrak baku yang dibuat secara sepihak oleh pelaku usaha,
yaitu35 :
1. Doktrin Keseketikaan (Contemporaneous Doctrine)
Adalah para pihak di dalam suatu kontrak harus telah memahami dan mengerti
isi atau ketentuan di dalam kontrak yang akan ditutupnya, sebelum mereka
menutup kontrak tersebut atau paling tidak pada saat kontrak ditutup. Hal
tersebut berbanding terbalik dengan yang terjadi pada kenyataannya yaitu
konsumen tidak memiliki kebebasan untuk mempelajari, memahami dan
mengerti isi dari kontrak baku yang diberikan oleh pelaku usaha.
2. Klausa Eksonerasi (Exoneration Clause)
Ini merupakan kontrak yang didalamnya terdapat pengurangan, pembatasan,
penghapusan kewajiban atau tanggung jawab pelaku usaha, serta penciptaan
kewajiban atau tanggung jawab yang dibebaskan kepada konsumen. Klausula
eksonerasi dibagi menjadi 3 (tiga), yaitu36 :

Pengurangan atau penghapusan tanggung jawab terhadap akibat-akibat


hukum.

34

Id
Id
36
Id
35

Pembatasan atau penghapusan kewajiban-kewajiban sendiri.

Penciptaan kewajiban-kewajiban yang kemudian dibebankan kepada


salah satu pihak.

3. Penyalahgunaan Keadaan (Undue Influence)


Konsep ini adalah penyalahgunaan keadaan yang diakibatkan adanya
kelemahan, keraguan atau keadaan tertekan yang dialami konsumen, sehingga
perilaku atau keputusan konsumen tersebut berubah secara tidak bebas. Dalam
hal ini pelaku usaha memanfaatkan lemahnya kondisi dari konsumen untuk
mencari keuntungan. Adapun hal-hal dari undue influence yaitu37 :

Perjanjian tersebut tidak masuk akal, tidak patut, serta bertentangan


dengan kemanusiaan;

Konsumen tidak memiliki pilihan selain menerima isi perjanjian


walaupun dirasakan memberatkan;

Konsumen dalam kondisi dan keadaan tertekan;

Hak dan kewajiban para pihak tidak seimbang.

B. Tanggung Jawab Produk (Product Liability)


Tanggung jawab produk (product liability) sebenarnya mengacu sebagai tanggung
jawab produsen, yang dalam istilah bahasa Jerman disebut produzenten-haftung.38
Agnes M. Toar mengartikan tanggung jawab produk sebagai tanggung jawab para
produsen untuk produk yang dibawanya ke dalam peredaran, yang menimbulkan atau
menyebabkan kerugian karena cacat yang melekat pada produk tersebut.39 Kata
produk oleh Agnes M. Toar diartikan sebagai barang, baik yang bergerak maupun

37

Id
Supranote 2, hlm. 65
39
Agnes M. Toar, Tanggung Jawab Produk dan Sejarah Perkembangannya di Beberapa Negara, Makalah
dibawakan dalam Penataran Hukum Perikatan II, Ujung Pandang, 17-29 Juli 1989, hlm. 1
38

tidak bergerak (tetap). Dari definisi tersebut dapat dijarbarkan atas bagian-bagian
sebagai berikut40 :

Tanggung jawab meliputi baik tanggung jawab kontraktual atau berdasarkan


suatu perjanjian, maupun tanggung jawab perundang-undangan berdasarkan
perbuatan melawan hukum;

Para produsen, termasuk ini adalah produsen atau pembuat, grosser (wholesaler), leveransir dan pengecer (detailer) profesional;

Produk, semua benda bergerak atau tidak bergerak atau tetap;

Yang telah dibawa produsen ke dalam peredaran, yang telah ada dalam
peredaran karena tindakan produsen;

Menimbulkan kerugian, segala kerugian yang ditimbulkan atau disebabkan


oleh produk dan kerusakan atau musnahnya produk;

Cacat yang melekat pada produk, kekurangan pada produk yang menjadi
penyebab timbulnya kerugian.
Selanjutnya tanggung jawab produk dibagi menjadi dua beradasarkan ada atau
tidaknya kesalahan :
a. Tortious Liability
Cara ini dimana pelaku usaha dapat digugat apabila konsumen dapat
membuktikan 4 (empat) hal yaitu41 :
1. Pelaku usaha melakukan perbuatan melawan hukum, baik tertulis
maupun tidak tertulis;
2. Pelaku usaha melakukan kesalahan, baik secara objektif maupun
subjektif;
3. Konsumen mengalami kerugian;

40
41

Supranote 22, hlm. 28


Id, hlm. 30

4. Kerugian yang dialami oleh konsumen adalah akibat pelaku usaha


melakukan perbuatan melawan hukum.
b. Strict Liability
Pelaku usaha langsung (stirct) dinyatakan bersalah, sehingga pelaku usaha
harus membuktikan bahwa ia tidak bersalah (pembuktian terbalik).
Konsumen harus membuktikan bahwa42 :
1. Perbuatan pelaku usaha melawan hukum
2. Konsumen mengalami kerugian, dan
3. Kerugian tersebut adalah akibat pelaku usaha melakukan perbuatan
hukum.
Product Liability memiliki 5 unsur, yaitu :
a. Produsen, yaitu subjek hukum (orang atau badan hukum), dari
produsen - distributor - subdistributor - grosis - pengecer.
b. Konsumen, yaitu consumer - custemer, konsumen akhir konsumen antara.
c. Produk, yaitu berupa barang bergerak, listrik, senyawa kimia, hasil
panen yang telah mengalami proses awal, alat transportasi, kecuali
jasa, hasil pertanian asli, produk tanaman, hasil peternakan, hasil
perburuan dan perikanan.
d. Kerusakan, yang berupa intended use high end clause design
defect manufacturing defect warning defect.
e. Kerugian, dapat berupa kerugian material dan imaterial.
C. Tanggung Jawab Pemberi Jasa (Professional Liability)

42

Id

Tanggung jawab itu dapat bersifat kontraktual (perjanjian) atau berdasarkan undangundang (gugatannya atas dasar perbuatan melawan hukum), namun dalam tanggung
jawab produk, penekanannya ada pada yang terakhir (tortious liability).43
4.

Hubungan Hukum Konsumen dengan Pelaku Usaha


Menurut Ahmadi Miru, sebaiknya ditentukan urutan-urutan yang seharusnya digugat

oleh konsumen apabila konsumen merasa dirugikan oleh pelaku usaha tersebut.44
Urutan-urutan tersebut disusun sebagai berikut :
1) Yang pertama digugat adalah pelaku usaha yang membuat produk tersebut jika
berdomisili di dalam negeri dan domisilinya diketahui oleh konsumen yang dirugikan;
2) Apabila produk yang merugikan konsumen tersebut diproduksi di luar negeri, maka
yang digugat adalah importirnya, karena UU PK tidak mencakup pelaku usaha di luar
negeri;
3) Apabila produsen maupun importir dari suatu produk tidak diketahui, maka yang
digugat adalah penjual dari siapa konsumen membeli barang tersebut.
Dalam dunia bisnis, pelaku usaha dalam menjalankan usahanya pasti berhubungan dengan
konsumen. Lebih lanjut hubungan antara pelaku usaha dengan konsumen tersebut berupa
hubungan hukum yang menimbulkan suatu akibat hukum tertentu.
Hubungan hukum yang terjadi antara pelaku usaha dengan konsumen terbagi menjadi dua,
yaitu45 :
1) Hubungan Langsung

43

Supranote 2, hlm. 65
Ahmad Miru, Prinsip-prinsip Perlindungan Hukum Bagi Konsumen di Indonesia, PT. Raja Grafindo Persada,
Jakarta, 2011, hlm. 33
45
Id, hlm. 34-36
44

Dalam hal ini, yang dimaksud dengan hubungan langsung adalah hubungan
antara pelaku usaha dengan konsumen yang terikat secara langsung dengan
perjanjian.
Pada umumnya perjanjian yang dilakukan untuk mengalihkan barang dari
pelaku usaha kepada konsumen adalah perjanjian jual-beli, baik yang dilakukan
secara lisan maupun tertulis. Perjanjian standar atau baku merupakan salah satu
perjanjian yang banyak dikenal. Biasanya perjanjian baku ini banyak digunakan
apabila salah satu pihak berhadapan dengan pihak lain dalam jumlah yang banyak dan
dengan kepentingan yang sama.
2) Hubungan tidak langsung
Hubungan tidak langsung adalah hubungan antara pelaku usaha dengan
konsumen yang tidak terikat secara langsung dengan suatu perjanjian karena adanya
pihak yang menjadi perantara.
Meskipun tidak ada hubungan langsung dalam bentuk perjanjian antara pelaku
usaha dengan konsumen, pihak konsumen yang dirugikan tetap dapat menuntut ganti
rugi kepada pelaku usaha yang dimana dalam hal ini konsumen tidak memiliki
perjanjian. Hal itu dapat terjadi karena berdasarkan hukum perikatan, perikatan tidak
hanya lahir dari perjanjian saja tetapi perikatan lahir dari hukum. Dalam hal ini
perikatan yang lahir dari hukum karena perbuatan manusia yang terkait dengan
perlindungan konsumen.
Konsumen yang berada pada hubungan yang tidak langsung dengan pelaku
usaha dapat menuntut ganti rugi yang didasarkan pada perbuatan melawan hukum
(PMH).
5.

Dasar Hukum Dalam Upaya Perlindungan Konsumen di Indonesia

Aturan mengenai perlindungan konsumen telah banyak dikeluarkan peraturan


perundang-undangan mengenai perlindungan konsumen, mulai dari tingkat undang-undang
sampai pada peraturan tingkat menteri dan peraturan instansi dibawahnya. 46
Pembuatan peraturan perundang-undangan mengenai perlindungan konsumen
terealisasi pada Tahun 1999, bentuk aturannya yaitu Undang-Undang Nomor. 8 Tahun 1999
Tentang Perlindungan Konsumen yang diundangkan pada tanggal 20 April 1999 melalui
Lembaran Negara Tahun 1999 Nomor. 42 dan berlaku efektif satu Tahun setelah
diundangkan, yaitu sejak tanggal 20 April 2000.47
Perlindungan terhadap konsumen tidak hanya Undang-Undang Nomor. 8 Tahun 1999
Tentang Perlindungan Konsumen, tetapi terdapat sejumlah peraturan perundang-undangan
lainnya yang bisa dijadikan sebagai sumber atau dasar hukum yaitu sebagai berikut48 :
a. PP No. 57 Tahun 2001 tanggal 21 Juli 2001 Tentang Badan Perlindungan Konsumen
Nasional.
b. PP No. 58 Tahun 2001 tanggal 21 Juli 2001 Tentang Pembinaan dan Pengawasan
Penyelenggaraan Perlindungan Konsumen.
c. PP No. 59 Tahun 2001 tanggal 21 Juli 2001 Tentang Lembaga Perlindungan
Konsumen Swadaya Masyarakat.
d. Keppres No. 90 Tahun 2001 tanggal 21 Juli 2001 Tentang Pembentukan Badan
Penyelesaian Sengketa Konsumen Pemerintah Kota Medan, Kota Palembang, Kota
Jakarta Pusat, Kota Jakarta Barat, Kota Bandung, Kota Semarang. Kota Yogyakarta,
Kota Surabaya, Kota Malang, dan Kota Makassar.
e. Kepmenperindag No. 301/MPP/KEP/10/2001 Tentang Pengangkatan, Pemberhentian
Anggota dan Sekretariat Badan Penyelesaian Sengketa Konsumen.

46

Supranote 22, hlm. 47


Id
48
Happy Susanto, Hak-Hak Konsumen Jika Dirugikan, Visimedia, Jakarta, 2008, hlm. 4
47

f. Kepmenperindag No. 302/MPP/KEP/10/2001

Tentang Pendaftaran

Lembaga

Perlindungan Konsumen Swadaya Masyarakat.


g. Kepmenperindag No. 605/MPP/Kep/8/2002 Tentang Pengangkatan Anggota Badan
Penyelesaian Sengketa Konsumen pada Pemerintah Kota Makassar, Kota Palembang,
Kota Surabaya, Kota Bandung, Kota Semarang, Kota Yogyakarta dan Kota Medan.
h. Kepmenperindag No. 480/MPP/Kep/6/2002 tanggal 13 Juni 2002 Tentang Perubahan
Atas Kepmenperindag No. 302/MPP/KEP/10/2001 Tentang pendaftaran Lembaga
Perlindungan Konsumen Swadaya Masyarakat.
i. Kepmenperindag No. 418/MPP/Kep/4/2002 tanggal 30 April 2002 Tentang
Pembentukan Tim Penyeleksi Calon Anggota Badan Perlindungan Konsumen.
6.

Asas dan Tujuan dalam Hukum Perlindungan Konsumen


Dalam suatu peraturan, terdapat hal-hal penting dalam terbentuknya suatu peraturan

adalah asas. Menurut R.M. Sudikno Mertokusumo, asas hukum adalah dasar-dasar atau
petunjuk arah dalam pembentukan hukum positif.49 Asas dapat berarti dasar, landasan,
fundamen, prinsip dan jiwa atau cita-cita. Asas adalah suatu dalil umum yang dinyatakan
dalam istilah umum dengan tidak menyebutkan secara khusus cara pelaksanaannya.
Asas hukum atau prinsip hukum bukanlah peraturan hukum konkrit melainkan pikiran
dasar yang umum sifatnya atau merupakan latar belakang dari peraturan yang konkrit yang
terdapat dalam dan di belakang setiap sistem hukum yang terjelma dalam peraturan
perundang-undangan dan putusan hakim yang merupakan hukum positif dan dapat
diketemukan dengan mencari sifat-sifat umum dalam peraturan konkrit tersebut.50
Upaya perlindungan konsumen di Indonesia didasarkan pada asas yang diyakini
memberikan arahan dan implementasinya di tingkatan praktis. Berdasarkan Undang-Undang
49
50

RM. Sudikno Mertokusumo, Mengenal Hukum Suatu Pengantar, Liberty, Yogyakarta 1988 , hlm. 97
Id

Nomor 8 Tahun 1999 Tentang Perlindungan Konsumen Pasal 2, terdapat 5 (lima) asas
perlindungan konsumen yaitu:
1. Asas manfaat
Asas

ini

dimaksud

untuk

mengamanatkan

bahwa

segala

upaya

dalam

penyelenggaraan perlindungan konsumen harus memberikan manfaat sebesarbesarnya bagi kepentingan konsumen dan pelaku usaha secara keseluruhan. Asas ini
menghendaki bahwa pengaturan dan penegakan hukum perlindungan konsumen tidak
dimaksudkan untuk menempatkan salah satu pihak di atas pihak lain atau sebaliknya,
tetapi adalah untuk memberikan kepada masing-masing pihak, pelaku usaha dan
konsumen, apa yang menjadi haknya. Dengan demikian, diharapkan bahwa
pengaturan dan penegakan hukum perlindungan konsumen bermanfaat bagi seluruh
lapisan masyarakat dan pada gilirannya bermanfaat bagi kehidupan berbangsa.
2. Asas keadilan
Hal ini dimaksudkan agar partisipasi seluruh masyarakat dapat diwujudkan secara
maksimal dan memberikan kesempatan pada konsumen dan pelaku usaha untuk
memperoleh haknya dan melaksanakan kewajiban-kewajibannya secara adil. Asas ini
menghendaki bahwa melalui pengaturan dan penegakan hukum perlindungan
konsumen ini, konsumen dan pelaku usaha dapat berlaku adil melalui perolehan hak
dan penunaian kewajiban secara seimbang. Karena itu, undang-undang ini mengatur
sejumlah hak dan kewajiban konsumen dan pelaku usaha.
3. Asas keseimbangan
Hal ini dimaksudkan untuk memberikan keseimbangan antara kepentingan konsumen,
pelaku usaha, dan Pemerintah dalam arti materiil dan spiritual. Asas ini menghendaki
agar konsumen, pelaku usaha, dan Pemerintah memperoleh manfaat yang seimbang
dari pengaturan dan penegakan hukum perlindungan konsumen. Kepentingan antara

konsumen, pelaku usaha, dan Pemerintah diatur dan harus diwujudkan secara
seimbang sesuai dengan hak dan kewajibannya masing-masing dalam kehidupan
berbangsa dan bernegara. Tidak ada salah satu pihak yang mendapat perlindungan
atas kepentingannya yang lebih besar dari pihak lain sebagai komponen bangsa dan
negara.
4. Asas keamanan dan keselamatan konsumen
Hal ini dimaksudkan untuk memberikan jaminan atas keamanan dan keselamatan
kepada konsumen dalam penggunaan, pemakaian, dan pemanfaatan barang dan/atau
jasa yang digunakan. Asas ini menghendaki adanya jaminan hukum bahwa konsumen
akan memperoleh manfaat dari produk yang dikonsumsi atau dipakainya, dan
sebaliknya bahwa barang dan/atau jasa itu tidak akan mengancam ketentraman dan
keselamatan jiwa dan harta bendanya. Karena itu, undang-undang ini membebankan
sejumlah kewajiban yang harus dipenuhi dan menetapkan sejumlah larangan yang
harus dipatuhi oleh pelaku usaha dalam memproduksi dan mengedarkan produknya.
5. Asas kepastian hukum
Hal ini dimaksudkan agar baik pelaku maupun konsumen menaati hukum dan
memperoleh keadilan dalam penyelenggaraan perlindungan konsumen, serta negara
menjamin kepastian hukum. Artinya, undang-undang ini mengharapkan bahwa
aturan-aturan tentang hak dan kewajiban yang terkandung di dalam undang-undang
ini harus diwujudlan dalam kehidupan sehari-hari sehingga masing-masing pihak
memperoleh keadilan. Oleh karena itu, negara bertugas dan menjamin terlaksananya
undang-undang ini sesuai dengan bunyinya.
Dengan adanya asas-asas tersebut di dalam Undang-Undang Nomor. 8 Tahun 1999 Tentang
Perlindungan Konsumen, perlindungan konsumen terhadap pengguna mata uang Bitcoin
dapat dikaitkan dengan asas keamanan dan keselamatan konsumen. Dalam hal ini,

membicarakan keamanan merupakan hal penting bagi seluruh pihak khususnya konsumen,
dimana konsumen yang memiliki mata uang Bitcoin dan berkedudukan di wilayah Indonesia
dan dimana konsumen menginginkan adanya keamanan terhadap kepemilikan serta
penggunaan mata uang Bitcoin yang dimilikinya tersebut.
Lebih lanjut, mengenai kepastian hukum yang berada di Indonesia. Hal ini
dimaksudkan agar baik pelaku usaha maupun konsumen dapat menaati aturan hukum yang
berlaku dan memperoleh keadilan dalam penyelenggaraan perlindungan konsumen, serta
negara menjamin kepastian hukum. Artinya, adanya harapan dari undang-undang ini bahwa
aturan-aturan tentang hak dan kewajiban yang terkandung di dalam undang-undang ini harus
diwujudkan dalam kehidupan sehari-hari sehingga masing-masing pihak memperoleh
keadilan. Oleh karena itu, negara bertugas dan menjamin terlaksananya undang-undang ini
sesuai dengan isi dari aturan yang berada di dalam undang-undang terkait perlindungan
konsumen.
Menariknya, Bank Indonesia belum mengambil sikap atas kebijakan mata uang
Bitcoin yang peredarannya berada di Indonesia. Ini dapat dilihat dalam surat No:
16/6/DKom51 tentang Pernyataan Bank Indonesia Terkait Bitcoin dan Virtual Currency
lainnya yang dikeluarkan oleh Departemen Komunikasi Bank Indonesia, surat ini
menyatakan bahwa Bank Indonesia tidak memberikan sikap menerima maupun menolak
keberadaan serta peredaran mata uang Bitcoin di Indonesia. Asas-asas mengenai
perlindungan konsumen ini menjadi dasar, bahwa harus adanya kepastian hukum atas sebuah
barang dan/atau jasa yang berada di Indonesia, karena apabila terjadi kerugian diakibatkan
oleh mata uang Bitcoin terhadap masyarakat Indonesia, dapat berakibat keresahan yang
dialami oleh masyarakat, karena Bank Indonesia tidak memberikan status yang jelas

51

http://www.bi.go.id/id/ruang-media/siaran-pers/Pages/sp_160614.aspx dikutip pada tanggal 24 September


2014, pukul 13.51 WIB

mengenai mata uang Bitcoin, sehingga UUPK sebagai aturan hukum yang dapat melindungi
konsumen dari kerugian akan menghadapi kendala dalam melindungi konsumen mengenai
kerugian yang diakibatkan oleh mata uang Bitcoin. Sebab, menurut Undang-Undang Nomor.
12 Tahun 2011 Tentang Peraturan Perundang-Undangan, bahwa yang dapat mengikat kepada
masyarakat adalah hierarki peraturan perundang-undangan yang tercantum dalam peraturan
tersebut. Maka, surat atas pernyataan Bank Indonesia tersebut tidak dapat mengikat secara
hukum terhadap masyarakat Indonesia sebagai pemilik dan pengguna mata uang Bitcoin di
Indonesia.
Teori Keberlakuan Hukum oleh Sudikno Mertokusumo bahwa kekuatan berlakunya
undang-undang52 ada 3 (tiga) macam, antara lain:
a. Kekuatan berlaku yuridis (Juristiche Geltung);
Undang-undang mempunyai kekuatan berlaku yuridis apabila persyaratan material
dan formal terbentuknya undang-undang itu telah terpenuhi.
b. Kekuatan berlaku sosiologis (Soziologische Geltung);
Hukum merupakan kenyatan di masyarakat. Kekuatan berlakunya hukum di dalam
masyarakat ada dua macam yakni:
1. Menurut teori Kekuatan (Machtstheorie) hukum mempunyai kekuatan berlaku
secara sosiologis apabila dipaksakan berlakunya oleh penguasa, terlepas dari
diterima atau pun tidak oleh warga masyarakat.
2. Menurut teori Pengakuan (Anerkenungstheorie) hukum mempunyai kekuatan
berlaku sosiologis apabila diterima dan diakui oleh warga masyarakat.53
c. Kekuatan berlaku filosofis (Filosofische Geltung);

52
53

Supranote 49, hlm. 94.


Satjipto Rahardjo, Ilmu Hukum, Alumni, Bandung, 1986, hlm. 18.

Hukum mempunyai kekuatan berlaku filosofis apabila kaedah hukum tersebut sesuai
dengan cita-cita hukum (Rechtside) sebagai nilai positf yang tertinggi. Untuk
memenuhi tuntutan berlaku filosofis maka harus memasukan unsur ideal.54
Keberlakuan Undang-Undang Nomor. 8 Tahun 1999 Tentang Perlindungan
Konsumen di Indonesia telah 14 (empat belas) tahun ini digunakan begitupun dengan aturan
mengenai perlindungan konsumen yang lainnya. Aturan mengenai perlindungan konsumen
telah dijadikan dasar oleh masyarakat Indonesia yang merasa hak-hak konsumennya
terlanggar yang mengakibatkan kerugian. Keberadaan mata uang Bitcoin menurut teori
keberlakuan hukum menurut Sudikno Mertokusumo, dalam hal ini Undang-Undang Nomor 8
Tahun 1999 Tentang Perlindungan Konsumen telah dapat mencakup dari 3 (tiga) hal yaitu
keberlakuan yuridis, keberlakuan sosiologis serta keberlakuan filosofis.
Menurut Ali Mansyur salah satu kepentingan konsumen dapat yaitu kepentingan
perlindungan hukum.55 Kepentingan hukum konsumen adalah akses konsumen terhadap
keadilan (acces to justice), konsumen berhak untuk dilindungi dari perlakuan-perlakuan
pelaku usaha yang merugikan.
Prinsip-prinsip kedudukan konsumen dalam hubungan hukum antara konsumen dan
pelaku usaha berangkat dari doktirn atau teori yang dikenal dalam sejarah hukum
perlindungan konsumen, yaitu teori let the buyer beware (caveat emptor), teori the due care
theory, teori the privity of contract, dan teori prinsip kontrak bukan merupakan syarat.56
Janus Sidabalok mengemukakan ada 4 (empat) alasan pokok mengapa konsumen
perlu dilindungi, yaitu sebagai berikut57 :

54

Id, hlm. 40
M. Ali Mansyur, Penegakan Hukum Tentang Tanggung Gugat Produsen Dalam Perwujudan Perlindungan
Konsumen, GentaPress, Yogyakarta, 2007, hlm. 81
56
Supranote 2, hlm. 61-63
57
Supranote 34, hlm. 6
55

1. melindungi konsumen sama artinya dengan melindungi seluruh bangsa sebagaimana


diamanatkan oleh tujuan pembangunan nasional menurut UUD 1945;
2. melindungi konsumen perlu untuk menghindarkan konsumen dari dampak negatif
penggunaan teknologi;
3. melindungi konsumen perlu untuk melahirkan manusia-manusia yang sehat rohani
dan jasmani sebagai pelaku-pelaku pembangunan, yang berarti juga untuk menjaga
kesinambungan pambangunan nasional;
4. melindungi konsumen perlu untuk menjamin sumber dana pembangunan yang
bersumber dari masyarakat konsumen.
Dengan ada 4 (empat) alasan pokok tersebut, maka jelas bahwa mengapa konsumen perlu
dilindungi di Indonesia. Amanat Undang-Undang Dasar Republik Indonesia 1945
menginginkan adanya perlindungan terhadap seluruh masyarakat Indonesia terkait
pembangunan nasional. Konsumen juga dilindungi dalam rangka upaya menghindarkan
konsumen dari kerugian yang akan dideritanya akibat penggunaan teknologi saat ini, sebab
perkembangan dan kemajuan teknologi saat ini cenderung lebih cepat dibandingkan dengan
aturan hukum yang ada saat ini. Selanjutnya melindungi konsumen perlu untuk menjamin
sumber dana pembangunan yang bersumber dari masyarakat konsumen, ini dikarenakan
masyarakat sebagai konsumen merupakan sumber dana bagi negara untuk menyelenggarakan
pembangunan negara dalam rangka mensejahterakan masyarakatnya, maka negara perlu
mengeluarkan instrumen perlindungan bagi masyarakat sebagai konsumen.

BAB III
PERLINDUNGAN KONSUMEN DALAM PENGGUNAAN MATA UANG BITCOIN
DI INDONESIA
1.

Latar Belakang Mata Uang Bitcoin di Indonesia


Pada Januari Tahun 200958 hadir suatu mata uang baru di dunia, yang peredarannya

semakin luas dan masyarakat dunia semakin mengetahui mengenai mata uang Bitcoin
tersebut. Bitcoin sebagai mata uang, diimpikan sebagai mata uang masa depan yang dimana
transaksinya memiliki kemudahan dan kecepatan dibandingkan dengan mata uang
konvensional.59
Transaksi dengan menggunakan mata uang Bitcoin di Indonesia telah terjadi pada
bulan Maret 2014 ini dengan adanya pembelian sebuah Villa di wilayah Seminyak, Bali,
Indonesia.60 Hal ini menjadi dasar bahwa penggunaan mata uang Bitcoin di Indonesia telah
digunakan oleh masyarakat dalam transaksi ekonomi dan menjadi bukti transaksi pertama di
Indonesia menggunakan mata uang Bitcoin. Adanya kejadian tersebut, membuktikan bahwa
keberadaan mata uang Bitcoin di Indonesia dan dengan adanya penggunaan dalam hal
transaksi jual beli tersebut menjadikan masyarakat dapat menggunakan mata uang tersebut
sebagai alat tukar pada suatu saat nanti. Maka dari hal tersebut Pemerintah harus lebih
waspada dan memberi perhatian terhadap para pengguna maupun pemilik mata uang Bitcoin
di Indonesia dari hal-hal yang dapat merugikan masyarakat Indonesia dikemudian hari.
1.1.

58

Pengertian dan Status Mata Uang Bitcoin

http://tekno.kompas.com/read/2014/01/11/2149541/Bitcoin.Mata.Uang.Masa.Depan. diunduh pada tanggal 25


September 2014, pukul 21.12 WIB
59
https://bitcoin.org/id/cara-kerja diunduh pada tanggal 25 September 2014, pukul 21.15
60
http://tekno.kompas.com/read/2014/03/20/1608466/pertama.bitcoin.dipakai.beli.vila.di.bali diunduh pada
tanggal 25 September 2014, pukul 21.25 WIB

Mata uang Bitcoin adalah sebuah uang elektronik yang diciptakan pada Tahun 2009
oleh Satoshi Nakamoto. Nama tersebut juga dikaitkan dengan perangkat lunak sumber
terbuka yang

dia

rancang,

dan

juga

menggunakan

jaringan

peer-ke-peer

yang

menghubungkan semuanya. 61
Dengan pengertian tersebut, bentuk dari mata uang Bitcoin menjadi mata uang
elektronik yang penggunaannya melalui perangkat lunak (software) yang dapat digunakan
melalui berbagai media elektronik manapun.
Setelah mata uang Bitcoin pada Tahun 2009 tersebut dikenal oleh masyarakat dunia,
kini perkembangan mata uang Bitcoin semakin luas dan kini telah berkembang di Indonesia.
Bank Indonesia sebagai lembaga independen yang mengatur kebijakan moneter di Indonesia,
belum menerapkan kebijakan perihal keberadaan, peredaran dan penggunaan mata uang
Bitcoin di Indonesia. Oleh karena itu, maka perlindungan terhadap konsumen berdasarkan
Undang-Undang Nomor. 8 Tahun 1999 Tentang Perlindungan Konsumen dipandang perlu
adanya pengaturan kebijakan lebih lanjut oleh Bank Indonesia mengenai mata uang Bitcoin di
Indonesia dan peredarannya. Sebab, melihat kasus yang terjadi di dunia internasional tentang
transaksi mata uang Bitcoin dan hilangnya mata uang Bitcoin yang terjadi di Amerika Serikat,
menyebabkan Pemerintah dan Bank Indonesia perlu membentuk suatu regulasi tentang
pengaturan, keberadaan, penyebarluasan dan pemakaian mata uang Bitcoin di Indonesia.
Dengan dasar tersebut apabila ada kerugian yang terjadi terhadap masyarakat, maka melalui
reguluasi tersebut masyarakat dapat menggunakan aturan tersebut untuk melindungi
pengguna mata uang Bitcoin tersebut.
1.2.

61

Karakteristik Mata Uang Bitcoin

Kerem Kakalolu, Jurnal : Near Zero Bitcoin Transaction Fees Cannot Last Forever, 2014, hlm. 2

Mata uang Bitcoin menurut Chief Executive Officer Bitcoin Indonesia Oscar
menjelaskan bahwa pada dasarnya Bitcoin merupakan e-money seperti halnya perfect
money dan paypal. Namun kedua mata uang tersebut beredar dengan server yang
mengaturnya. Sedangkan dalam peredaran mata uang Bitcoin, seluruh komputer pengguna
merupakan server mata uang Bitcoin.62 Melihat bentuk tersebut, maka mata uang Bitcoin
sebagai mata uang asing yang berada di Indonesia secara tidak langsung dapat dikatakan
sebagai e-money yang penggunaannya menggunakan jaringan server dimana pengguna mata
uang Bitcoin dapat dengan bebas melakukan transaksi melalui alat elektronik yang berbasis
pada server mata uang Bitcoin tersebut. Bila mata uang Bitcoin dikatakan sejajar dengan emoney, maka keberadaan mata uang Bitcoin di Indonesia masuk dalam Peraturan Bank
Indonesia Nomor. 11/12/PBI/ Tentang Uang Elektronik (Electronik Money).
Mengenai keberadaan e-money di Indonesia telah memiliki dasar hukum di dalam
Pasal 1 angka 3 Peraturan Bank Indonesia Nomor 16/ 8/ PBI/ 2014 Tentang Uang Elektronik
(Electronic Money). Uang elektronik (e-money) merupakan alat pembayaran yang memenuhi
unsur-unsur yaitu :
1. Diterbitkan atas dasar nilai uang yang disetor terlebih dahulu oleh pemegang kepada
penerbit;
2. Nilai uang disimpan secara elektronik dalam suatu media seperti server atau chip;
3. Digunakan sebagai alat pembayaran kepada pedagang (merchant) yang bukan
merupakan penerbit uang elektronik tersebut;
4. Nilai uang elektronik yang disetor oleh pemegang dan dikelola oleh penerbit bukan
merupakan simpanan sebagaimana dimaksud dalam undang-undang yang mengatur
mengenai perBankan.

62

http://www.tempo.co/read/news/2014/02/20/090555883/Ramai-ramai-Uang-Bitcoin-Begini-Cara-Kerjanya
diunduh pada tanggal 14 Oktober 2014 pukul 19.20 WIB.

Apabila dilihat Peraturan Bank Indonesia mengenai mata uang elektronik (Electronic Money,
maka terdapat perbedaan dengan mata uang Bitcoin yang beredar saat ini. Karena mata uang
Bitcoin yang berada di Indonesia tidak melakukan tahap-tahap seperti uang elektronik yang
diatur di dalam Peraturan Bank Indonesia Nomor 11/12/PBI/2009 Tentang Uang Elektronik
(Electronic Money). Selanjutnya bila dilihat media uang elektronik yang digunakan di
Indonesia, ada 2 (dua) tipe produk e-money yaitu63 :
1. Prepaid card/ kartu prabayar/ electronic purses, dengan karakteristik :
a. Nilai uang dikonversi menjadi nilai elektronis dan disimpan dalam suatu chip
(integrated circuit) yang tertanam pada kartu;
b. Mekanisme pemindahan dana dilakukan dengan cara memasukkan kartu ke
suatu alat card reader.
2. Prepaid software (disebut juga digital cash), dengan karakteristik :
a. Nilai uang dikonversi menjadi nilai elektronis dan disimpan dalam suatu hard
disk komputer yang terdapat dalam Personal Computer (PC);
b. Mekanisme pemindahan dana dilakukan secara online melalui suatu jaringan
komunikasi seperti internet, pada saat melakukan pembayaran.
Bentuk media uang elektronik tersebut dapat ditemukan pada bank-bank konvensional yang
menyediakan media mata uang elektronik sebagai suatu alat pembayaran yang dapat
digunakan oleh pengguna jasa layanan perbankan tersebut dalam bertransaksi. Sedangkan
mata uang Bitcoin hingga saat ini belum jelas tentang media serta bagaimana unsur-unsur
dalam penggunaan dan penerbitan mata uang tersebut di Indonesia.
1.3.

Kegunaan Mata Uang Bitcoin dan Bentuk Perlindungan Terhadap Konsumen


Apabila melihat kegunaan sebuah mata uang pada umumnya, mata uang digunakan

untuk melakukan suatu transaksi ekonomi yang keberadaan suatu alat tukar tersebut untuk
63

R. Serfianto, dkk, Untung Dengan Kartu Kredit, Kartu ATM-Debit, & Uang Elektronik, Visi Media, Jakarta,
2012, hlm. 98.

dilakukannya transaksi ekonomi nasional maupun internasional demi memenuhi kehidupan


dari masyarakat di wilayah tertentu.
Mengaitkan bentuk perlindungan terhadap konsumen dengan keberadaan mata uang
Bitcoin di Indonesia, maka menurut rumusan dalam Pasal 1 angka 1 Undang-Undang Nomor.
8 Tahun 1999 Tentang Perlindungan Konsumen yang isinya yaitu Perlindungan konsumen
adalah segala upaya yang menjamin adanya kepastian hukum untuk memberi perlindungan
kepada konsumen. Selanjutnya perlindungan hukum terhadap konsumen dapat dibedakan
menjadi :
a. No Conflict (pre-purchase)
1) Legislation (legislative area)
Legislation yaitu perlindungan hukum terhadap konsumen melalui legislation,
dilakukan dengan merancang dan menetapkan berbagai peraturan perundangundangan.
2) Voluntary self-regulation
Perancangan dan penetapan peraturan oleh pelaku usaha sendiri secara sukarela
(voluntary) di dalam perusahaannya (baik barang maupun jasa) adalah suatu
upaya perlindungan terhadap konsumen.
b. Conflict (post-purchase) secara litigation
Perlindungan hukum kepada konsumen dengan pengajuan perkara yang terjadi antara
pelaku usaha dan konsumen ke pengadilan.64
Perlindungan konsumen memiliki asas-asas yang tercantum di dalam Pasal 2 UndangUndang Nomor. 8 Tahun 1999 Tentang Perlindungan Konsumen yaitu Perlindungan

64

Supranote 33

konsumen berasaskan manfaat, keadilan, keseimbangan, keamanan, dan keselamatan


konsumen, serta kepastian hukum, dengan penjelasan sebagai berikut :
1. Asas manfaat
Hal dimaksudkan untuk mengamanatkan bahwa segala upaya dalam penyelenggaraan
perlindungan

konsumen

harus

memberikan

manfaat

sebesar-besarnya

bagi

kepentingan konsumen dan pelaku usaha secara keseluruhan.


2. Asas keadilan
Hal dimaksudkan agar partisipasi seluruh rakyat dapat diwujudkan secara maksimal
dan memberikan kesempatan kepada konsumen dan pelaku usaha untuk memperoleh
haknya dan melaksanakan kewajibannya secara adil.
3. Asas keseimbangan
Hal ini dimaksudkan untuk memberikan keseimbangan antara kepentingan konsumen,
pelaku usaha dan Pemerintah dalam arti materiil ataupun spiritual.
4. Asas keamanan dan keselamatan
Dalam hal ini, konsumen dimaksudkan untuk memberikan jaminan atas keamanan
dan keselamatan kepada konsumen dalam penggunaan, pemakaian dan pemanfaatan
barang dan/atau jasa yang dikonsumsi atau digunakan.
5. Asas kepastian hukum
Hal ini dimaksudkan agar baik pelaku usaha maupun konsumen menaati hukum dan
memperoleh keadilan dalam penyelenggaraan perlindungan konsumen, serta negara
menjamin kepastian hukum.
Dari penjabaran asas-asas tersebut, ternyata asas kepastian hukum dan asas keamanan dan
keselamatan konsumen merupakan asas yang tepat digunakan dalam perlindungan hukum
bagi pengguna mata uang Bitcoin di Indonesia. Disebutkan bahwa asas ini memberikan
jaminan dan keselamatan kepada konsumen pengguna, pemakai dan pemanfaatan barang

dan/atau jasa yang digunakan oleh konsumen. Asas ini dapat digunakan sebagai dasar
perlindungan bagi para pengguna mata uang Bitcoin. Pemerintah dalam hal ini dituntut untuk
dapat memberikan jaminan bahwa penggunaan mata uang Bitcoin ini aman digunakan dan
dimiliki oleh konsumen.
Adapun dalam Pasal 26 Undang-Undang Nomor. 8 Tahun 1999 Tentang
Perlindungan Konsumen adanya pengaturan terhadap pelaku usaha yang memperdagangkan
barang dan/atau jasa, berkewajiban memenuhi jaminan dan/atau garansi yang disepakati
dan/atau yang diperjanjikan. Dengan aturan tersebut, diharapkan para pengguna mata uang
Bitcoin merasa aman dengan kepemilikan atas mata uang Bitcoin serta pada saat penggunaan
mata uang Bitcoin di Indonesia.
2.

Latar Belakang dan Keberadaan Bank Indonesia


Di dalam Undang-Undang Dasar 1945 Negara Republik Indonesia Pasal 23 D

menyebutkan bahwa negara memiliki suatu Bank sentral yang susunan, kedudukan,
kewenangan, tanggung jawab dan independensinya diatur dengan undang-undang dalam hal
ini tidak dinyatakan secara tegas bahwa Bank sentral yang dimaksud dalam Undang-Undang
Dasar 1945 Negara Republik Indonesia ini yaitu Bank Indonesia. Tetapi dalam aturan
Undang-Undang Nomor. 10 Tahun 1998 Tentang Perubahan Atas Undang-Undang Nomor. 7
Tahun 1992 Tentang PerBankan dalam Pasal 1 ayat (20) yang menyatakan, Bank Indonesia
adalah Bank Sentral Republik Indonesia sebagaimana dimaksud dalam Undang-undang yang
berlaku dan menurut Pasal 4 ayat (1) UU No. 23 Tahun 1999 juncto UU No. 3 Tahun 2004
Tentang Bank Indonesia yaitu Bank Indonesia adalah Bank Sentral Republik Indonesia.
Dengan hal tersebut, maka penafsiran bahwa Bank sentral yang dimiliki oleh negara
sebagaimana dimaksud oleh Pasal 23 D UUD 1945 ini adalah Bank Indonesia.

Pada

Undang-Undang

Nomor.

23

Tahun

1999

Tentang Bank

Indonesia

mengamanatkan bahwa Bank Indonesia berkedudukan sebagai lembaga independen. Amanat


tersebut terlihat pada bagian konsideran huruf d yaitu bahwa untuk menjamin keberhasilan
tujuan memelihara stabilitas nilai rupiah diperlukan Bank sentral yang memiliki kedudukan
yang independen, lembaga Bank Sentral yang independen dalam konsideran tersebut
bertujuan untuk menjamin keberhasilan dalam memelihara stabilitas nilai rupiah. Dalam hal
ini Bank Indonesia memiliki tugas, fungsi, peraturan serta kebijakan yang memungkinkan
pengaturan dalam sektor keuangan nasional yang guna mendukung terwujudnya
perekonomian nasional sebagaimana tersebut di atas dan sejalan dengan tantangan
perkembangan dan pembangunan ekonomi yang semakin kompleks, sistem keuangan yang
semakin maju serta perekonomian internasional yang semakin kompetitif dan terintegrasi.
3.

Bentuk dan Tugas Bank Indonesia


Bank Indonesia yang berkedudukan di Ibukota Negara Republik Indonesia, memiliki

bentuk sebagai lembaga independen sebagaimana diatur dalam Pasal Pasal 4 ayat (2)
Undang-Undang Nomor. 23 Tahun 1999 jo Pasal 4 ayat (2) Undang-Undang Nomor. 3 Tahun
2004 Tentang Bank Indonesia dan berbentuk badan hukum menurut Pasal 4 ayat (3) UndangUndang Nomor. 23 Tahun 1999 jo Pasal 4 ayat (3) Undang-Undang Nomor. 3 Tahun 2004
Tentang Bank Indonesia kedudukan Bank Indonesia sebagai badan hukum oleh undangundang diakui secara tegas. Independen sesungguhnya bukan menunjukkan status maupun
kedudukan tetapi independen sesungguhnya lebih mengarah pada pengertian sifat. Tetapi,
dengan sifat independen tersebut menurut Bismar Nasution mengatakan, Independensi tidak
berarti Bank sentral bebas menjalankan kebijakan moneter yang mereka inginkan 65

65

Bismar Nasution, Implementasi Pasal 34 Undang-Undang Tentang Bank Indonesia dan Dampaknya Pada
Peranan dan Fungsi Bank Indonesia Di Bidang Moneter, Sistem Pembayaran dan Stabilitas Keuangan,
Artikel yang ditulis di dalam Buletin Hukum PerBankan dan KeBanksentralan, Volume 8, Nomor 3,
September 2010, hlm. 12.

Melihat lembaga independen ini, maka Bank Indoensia memiliki tugas sebagaimana
di atur di dalam Pasal 8 Undang-Undang Nomor. 23 Tahun 1999 Tentang Bank Indonesia
yaitu :
a. menetapkan dan melaksanakan kebijakan moneter;
b. mengatur dan menjaga kelancaran sistem pembayaran;
c. mengatur dan mengawasi Bank.
Selanjutnya berkaitan dengan Pasal 8 tersebut, Pasal 15 mengatur mengenai Tugas Mengatur
dan Menjaga Kelancaran Sistem Pembayaran dalam rangka mengatur dan menjaga
kelancaran sistem pembayaran sebagaimana dimaksud dalam Pasal 8 huruf b, Bank Indonesia
berwenang untuk :
a. melaksanakan dan memberikan persetujuan dan izin atas penyelenggaraan jasa sistem
pembayaran;
b. mewajibkan penyelenggara jasa sistem pembayaran untuk menyampaikan laporan
tentang kegiatannya;
c. menetapkan penggunaan alat pembayaran.
Selanjutnya di dalam Pasal 15 ayat 2 dinyatakan bahwa Pelaksanaan kewenangan
sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diatas ditetapkan dengan Peraturan Bank Indonesia.
Dengan dasar tersebut, maka Bank Indonesia memiliki kewenangan untuk mengatur
mengenai jasa sistem pembayaran, menetapkan atas penggunaan alat pembayaran dan
memberikan kewajiban kepada penyelenggara jasa sistem pembayaran untuk menyampaikan
laporan tentang kegiatannnya melalui Peraturan Bank Indonesia sebagai landasan hukum
Bank Indonesia dalam hal tugas yang diembannya dalam Undang-Undang Nomor. 23 Tahun
1999 Tentang Bank Indonesia.
4.

Peraturan Bank Indonesia

Sebagaimana telah dijelaskan dalam sub bab sebelumnya, Bank Indonesia sebagai
Bank sentral yang memiliki bentuk lembaga yang independen, mempunyai beberapa tugastugas yang diamanatkan antara lain untuk menetapkan dan melaksanakan kebijakan moneter
serta tugas mengatur dan menjaga kelancaran sistem pembayaran.
Peraturan Bank Indonesia sebagai aturan yang dapat dikeluarkan oleh Bank Indonesia
dalam mengatur beberapa tugas-tugas yang berada di dalam Pasal 15 ayat (2) UndangUndang Nomor. 23 Tahun 1999 Tentang Bank Indonesia. Peraturan Bank Indonesia
dikeluarkan melalui berbagai departemen yang berada di dalam lingkup Bank Indonesia
untuk mengatur beragam permasalahan yang termasuk dalam ruang lingkup Bank Indonesia
seabgai Bank sentral di Indonesia. Dalam hal ini, salah satu contohnya yaitu mengenai
informasi kepada masyarakat mengenai mata uang Bitcoin yang berada di Indonesia. Bank
Indonesia mengeluarkan Peraturan Bank Indonesia melalui Departemen Komunikasi No : 16/
6/ Dkom mengenai himbauan atas penggunaan mata uang Bitcoin di Indonesia.
Dalam hal ini, fungsi Bank Indonesia adalah menjalankan kebijakan moneter,
mengingat Bank Indonesia lebih berpengalaman dan keahlian dalam masalah moneter. Hal
ini sejalan dengan pemikiran seperti yang dikemukakan oleh Lastra dan Miller, bahwa dalam
menjalankan kebijakan moneter ini Bank sentral secara teknis dianggap lebih mempunyai
pengalaman dan keahlian dibandingkan dengan Pemerintah, sebagaimana pengadilan
dianggap lebih mempunyai keahlian dan pengalaman dalam memberikan interpretasi
terhadap hukum.66 Peraturan Bank Indonesia menjadi bukti bahwa lembaga Bank sentral ini
mempunyai keahlian yang sangat mendalam menganai permasalahan keuangan yang timbul
di Indonesia. Diharapkan melalui Peraturan Bank Indonesia ini dapat memberikan kejelasan
mengenai keberlangsungan sistem keuangan, bentuk transaksi keuangan, serta yang berkaitan
dengan valuta asing dengan Rupiah. Karena ini berkaitan dengan penggunaan yang akan
66

Rosa Maria Lastra and Geoffrey P. Miller, Central Bank Independence in Ordinary and Extraordinary Times
dalam Jan Kleinman (ed), Central Bank Independence, The Economic Foundations, the Constitutional
Implications and Democratic Accountability, Kluwer International, 2001, hlm. 40.

sangat berdampak terhadap perlindungan hukum dan perlindungan konsumen bagi


masyarakat yang menggunakan jasa keuangan sebagai media transaksi ekonomi maupun halhal lainnya.
Tindakan Bank Indonesia mengenai kebijakannya mengeluarkan peraturan, ini
didasarkan pada pengetahuan dan kemampuan Bank Indonesia dalam mengatur sistem
keuangan di Indonesia. Artinya Bank Indonesia akan membuat keputusan-keputusan secara
independen sesuai dengan wewenang yang diberikan oleh undang-undang. Dengan demikian,
keputusan Bank Indonesia yang dianggap tidak populer tidak dapat dijadikan alasan oleh
Pemerintah untuk menyatakan Bank Indonesia telah keliru dalam mengambil keputusan,
sebagaimana Pemerintah tidak dapat mempersalahkan lembaga peradilan yang membuat
keputusan yang tidak populer.67 Karena dalam hal ini, Peraturan Bank Indonesia dikatakan
sebagai produk hukum yang berfungsi sebagai peraturan pelaksana dari undang undang maka
kedudukan Peraturan Bank Indonesia tidak dapat dikesampingkan oleh peraturan pelaksana
lainnya.68
Dalam Undang-Undang Nomor. 12 Tahun 2011 Tentang Peraturan PerundangUndangan, dalam Pasal 8 disebutkan bahwa selain jenis peraturan perundang-undangan yang
ada dalam Pasal 7 yaitu, Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945,
Ketetapan Majelis Permusyawaratan Rakyat, Undang-Undang/Peraturan

Pemerintah

Pengganti Undang-Undang, Peraturan Pemerintah, Peraturan Presiden, Peraturan Daerah


Provinsi dan Peraturan Daerah Kabupaten/Kota. Adapun peraturan lainnya yang diakui
keberadaannya dan mempunyai kekuatan hukum mengikat sepanjang diperintahkan oleh
Peraturan Perundang-Undangan yang lebih tinggi atau dibentuk berdasarkan berdasarkan
kewenangan menurut Pasal 8 yaitu salah satunya adalah Bank Indonesia.

67

Robert Sparve, Supervisory Boards in Some Central Banks, paper contribution to the IMF Seminar on Current
Developments in Monetary and Financial Law, Washington, D.C., May 7-17, 2002, hlm. 9.
68
Ali Masyhud, Restrukturisasi PerBankan & Dunia Usaha, Elex Media Komputindo, Jakarta, 2002, hlm. 17.

Maka, demi melindungi pengguna mata uang Bitcoin di Indonesia, Bank Indonesia
dapat menggunakan kewenangannya untuk mengeluarkan Peraturan Bank Indonesia ini
dengan tujuan dan harapan memberikan kepastian yang jelas mengenai status mata uang
Bitcoin di Indonesia. Dengan dikeluarkannya kebijakan tersebut, maka segala resiko yang
akan diterima oleh masyarakat sebagai konsumen pengguna mata uang Bitcoin akan
terlindungi dengan adanya aturan hukum yang dikeluarkan oleh Bank Indonesia melalui
Peraturan Bank Indonesia nantinya.

BAB IV
PERLINDUNGAN KONSUMEN DALAM PENGGUNAAN MATA UANG BITCOIN
BERDASARKAN UNDANG-UNDANG NOMOR. 8 TAHUN 1999 TENTANG
PERLINDUNGAN KONSUMEN, BENTUK TANGGUNG JAWAB BANK
INDONESIA DAN DASAR HUKUM TENTANG MATA UANG BITCOIN

1.

Perlindungan Konsumen Dalam Penggunaan Mata Uang Bitcoin Berdasarkan


Undang-Undang Nomor. 8 Tahun 1999 Tentang Perlindungan Konsumen
Penggunaan mata uang Bitcoin di Indonesia melibatkan masyarakat Indonesia sebagai

pihak konsumen dalam hal penggunaan mata uang Bitcoin yang dimana keberadaan mata
uang Bitcoin di Indonesia telah dijadikan sebagai salah satu alat transaksi ekonomi selain
mata uang Rupiah serta valuta asing yang berlaku di Indonesia.
Konsumen dalam perlindungan konsumen adalah pihak yang membutuhkan
perlindungan guna menghindari dari adanya kerugian yang akan diderita konsumen dari
pihak pelaku usaha. Pengertian konsumen pada Pasal 1 angka 2 Undang-Undang Nomor. 8
Tahun 1999 Tentang Perlindungan Konsumen adalah setiap orang pemakai barang dan/atau
jasa yang tersedia dalam masyarakat baik bagi kepentingan diri sendiri, keluarga, orang lain
maupun makhluk hidup lain dan tidak diperdagangkan. Penjelasan mengenai Pasal 1 angka
2 Undang-Undang Nomor. 8 Tahun 1999 Tentang Perlindungan Konsumen tersebut
menyatakan bahwa pengertian konsumen yang dimaksud dalam Undang-Undang Nomor. 8
Tahun 1999 Tentang Perlindungan Konsumen tersebut adalah konsumen akhir yaitu
pengguna atau pemanfaat akhir dari suatu produk. Bagi para ahli hukum pada umumnya
sepakat bahwa arti konsumen adalah pemakai terakhir dari benda dan jasa yang diserahkan

kepada mereka oleh pelaku usaha. Menurut A.Z. Nasution dalam buku yang berjudul AspekAspek Hukum Masalah Perlindungan Konsumen, istilah konsumen berasal dari bahasa
consumer (Inggris - Amerika) atau consument (Belanda). Secara harfiah arti kata consumer
adalah lawan dari produsen, setiap orang yang menggunakan barang. 69 Selain itu, Hondius,
seorang pakar masalah konsumen di Belanda mengatakan bahwa para ahli hukum pada
umumnya sepakat mengartikan konsumen sebagai pemakai produksi terakhir dari benda dan
jasa (uiteindelijke gebruiker van goederen en dienstein).70 Lalu menurut Susanto Adi
Nugroho, bahwa Konsumen akhir adalah setiap orang alami (natuurlijke person) yang
mendapatkan barang dan/atau jasa, yang digunakan untuk tujuan memenuhi kebutuhan hidup
pribadinya. Keluarga dan/atau rumah tangganya dan tidak untuk diperdagangkan kembali.71
Bila melihat mengenai definisi konsumen dalam Undang-Undang Nomor. 8 Tahun
1999 Tentang Perlindungan Konsumen, maka definisi tersebut dimaksudkan sebagai
konsumen yang membutuhkan perlindungan hukum sebagai konsumen berdasarkan UndangUndang Nomor. 8 Tahun 1999 Tentang Perlindungan Konsumen. Dalam hal ini, konsumen
mendapatkan barang dan/atau jasa untuk keperluan hidupnya melalui pembelian secara
transaksional melalui pelaku usaha yang menawarkan barang dan/atau jasa. Maka dapat
disimpulkan bahwa konsumen dalam penggunaan mata uang Bitcoin tercakup dalam
pengaturan yang terdapat dalam Undang-Undang Nomor. 8 Tahun 1999 Tentang
Perlindungan Konsumen adalah konsumen yang tidak menggunakan barang dan/atau jasa
tersebut untuk usaha.
Bila melihat kedudukan konsumen, maka dapat dikatakan bahwa konsumen yang
menggunakan mata uang Bitcoin di Indonesia, maka sudah seharusnya memperoleh

69

Supranote 24, hlm. 3


Supranote 25, hlm. 61
71
Id, hlm. 62
70

perlindungan, berdasarkan Undang-Undang Nomor. 8 Tahun 1999 Tentang Perlindungan


Konsumen.
Pasal 19 Undang-Undang Nomor. 8 Tahun 1999 Tentang Perlindungan Konsumen,
mengatur mengenai tanggung jawab oleh pihak pelaku usaha. Dalam Pasal ini, diatur
mengenai kerugian atas kerusakan, pencemaran atau kerugian yang diakibatkan
mengkonsumsi barang dan/atau jasa yang dihasilkan dan/atau diperdagangkan. Konsumen
dapat mengajukan pertanggung jawaban seperti tercantum dalam Pasal 19 ini karena dalam
Pasal 23 Undang-Undang Nomor. 8 Tahun 1999 Tentang Perlindungan Konsumen diatur
mengenai pelaku usaha yang menolak dan/atau tidak memberikan tanggapan dari konsumen
yang mendapatkan kerugian atas barang dan/atau jasa yang dikonsumsinya, serta tidak
dipenuhinya ganti rugi atas tuntutan konsumen sebagaimana dimaksud dalam Pasal 19 ayat 1,
ayat 2, ayat 3, dan ayat 4. Dari tindakan pelaku usaha yang tidak memberikan tanggung
jawab atas kerugian yang diderita oleh konsumen, maka konsumen dapat mengajukan
gugatan melalui Badan Penyelesaian Sengketa Konsumen atau mengajukan ke badan
peradilan di tempat kedudukan konsumen.
Maka apabila dilihat dari pihak dalam perlindungan konsumen di Indonesia mengacu
terhadap Undang-Undang Nomor. 8 Tahun 1999 Tentang Perlindungan Konsumen, menurut
hemat penulis maka masyarakat penggunan mata uang Bitcoin di Indonesia dapat digunakan
dalam perlindungan konsumen terkait kerugian yang diderita oleh masyarakat Indonesia
dalam penggunaan mata uang Bitcoin di Indonesia.
2.

Tanggung Jawab Bank Indonesia terhadap Perlindungan Konsumen atas


Kekosongan Hukum Mengenai Mata Uang Bitcoin di Indonesia

Berbicara mengenai tanggung jawab, maka bentuk dari tanggung jawab hukum yaitu
kesadaran akan tingkah laku atau perbuatan yang disengaja maupun yang tidak disengaja.
Tanggung jawab juga berarti berbuat sebagai perwujudan kesadaran akan kewajibannya.
Dalam hal ini, Purbacaraka berpendapat bahwa tanggung jawab hukum bersumber
atau lahir atas penggunaan fasilitas dalam penerapan kemampuan tiap orang untuk
menggunakan hak dan/atau melaksanakan kewajibannya. Lebih lanjut ditegaskan, setiap
pelaksanaan kewajiban dan setiap penggunaan hak baik yang dilakukan secara tidak memadai
maupun yang dilakukan secara memadai pada dasarnya tetap harus disertai dengan
pertanggung jawaban, demikian pula dengan pelaksanaan kekuasaan.72
Apabila melihat Pasal 15 Undang-Undang Nomor. 23 Tahun 1999 Tentang Bank
Indonesia, Bank Indonesia memiliki wewenang untuk melaksanakan dan memberikan
persetujuan dan izin atas penyelenggaraan jasa sistem pembayaran, mewajibkan
penyelenggara jasa sistem pembayaran melaporkan kegiatannya serta menetapkan
penggunaan alat pembayaran.
Mengenai kewajiban dalam pengaturan Pasal 15 tersebut, maka makna kewajiban
yaitu menyampaikan laporan secara berkala dimaksudkan agar Bank Indonesia dapat
memantau penyelenggaraan sistem pembayaran. Sedangkan, penetapan alat pembayaran
dimaksudkan agar alat pembayaran yang digunakan dalam masyarakat memenuhi persyaratan
keamanan bagi pengguna, termasuk membatasi penggunaan alat pembayaran tertentu dalam
rangka prinsip kehati-hatian.
Melihat pengaturan dalam Pasal 15 tersebut, Bank Indonesia sebagai Bank sentral
wajib memberikan perlindungan dan tanggung jawab terhadap penyelenggaraan jasa sistem
pembayaran di Indonesia. Bila dikaitkan dengan keberadaan mata uang Bitcoin di Indonesia,
72

Purbacaraka, Perihal Kaedah Hukum, Citra Aditya Bakti, Bandung, 2010, hlm. 37

melalui Pasal ini Bank Indonesia dapat melakukan prinsip kehati-hatian sebagai bentuk
pertanggung jawaban kepada masyarakat pengguna mata uang Bitcoin di Indonesia.
Apabila melihat konsideran huruf b Undang-Undang Nomor. 8 Tahun 1999 Tentang
Perlindungan Konsumen, disebutkan bahwa pembangunan perekonomian nasional pada era
globalisasi harus dapat mendukung tumbuhnya dunia usaha sehingga mampu menghasilkan
beraneka barang dan/atau jasa yang memiliki kandungan teknologi yang dapat meningkatkan
kesejahteraan masyarakat banyak dan sekaligus mendapatkan kepastian atas barang dan/atau
jasa yang diperoleh dari perdagangan tanpa mengakibatkan kerugian konsumen. Melalui
konsideran huruf b Undang-Undang Nomor. 8 Tahun 1999 Tentang Perlindungan Konsumen,
hal ini berkaitan dengan Pasal 15 Undang-Undang Nomor. 23 Tahun 1999 Tentang Bank
Indonesia, bahwa Bank Indonesia sebagai bank sentral memiliki kewenangan untuk
melaksanakan dan memberikan persetujuan dan izin atas penyelenggaraan atas jasa sistem
pembayaran, mewajibkan penyelenggara jasa sistem pembayaran melaporkan kegiatannya
serta menetapkan penggunaan alat pembayaran. Melalui hal tersebut, Bank Indonesia
bertanggung jawab atas dampak yang akan timbul akibat penggunaan mata uang Bitcoin di
Indonesia dengan memberikan persetujuan dan izin atas penyelenggaraan atas jasa sistem
pembayaran, mewajibkan penyelenggara jasa sistem pembayaran melaporkan kegiatannya
serta menetapkan penggunaan alat pembayaran yang diatur di dalam Pasal 15 UndangUndang Nomor. 23 Tahun 1999 Tentang Bank Indonesia.
3.

Dasar Hukum Dalam Pembentukan Upaya Perlindungan terhadap Konsumen


mengenai Mata Uang Bitcoin di Indonesia
Permasalahan mengenai kekosongan hukum tentang mata uang Bitcoin di Indonesia

berdampak terhadap keresahan dan timbulnya ketidak pastian hukum mengenai penggunaan
mata uang Bitcoin hingga pada tataran tingkat keamanan dalam pengunaan mata uang Bitcoin
tersebut.

Perlu adanya aturan yang dapat mengikat mengenai keberadaan mata uang Bitcoin di
Indonesia. Dalam hal ini masyarakat sebagai konsumen yang menggunakan mata uang
tersebut perlu diberikan informasi yang jelas mengenai aturan pemakaian hingga tingkat
keamanan, kepastian hukum hingga perlindungan hukum terhadap masyarakat sebagai
pengguna mata uang Bitcoin di Indonesia atas dampak kerugian berupa kehilangan, penipuan
maupun kerusakan sistem terhadap sistem mata uang Bitcoin di Indonesia.
Melalui Peraturan Bank Indonesia sebagai aturan yang dapat mengatur secara khusus
mengenai permasalahan keuangan yang di hadapi oleh Bank Indonesia, maka peraturan
tersebut adalah penetapan yang dapat dikeluarkan oleh Bank Indonesia dalam mengatur
beberapa tugas-tugas yang berada di dalam Pasal 15 ayat (2) Undang-Undang Nomor. 23
Tahun 1999 Tentang Bank Indonesia yaitu melaksanakan dan memberikan persetujuan dan
izin atas penyelenggaraan jasa sistem pembayaran, mewajibkan penyelenggara jasa sistem
pembayaran untuk menyampaikan laporan tentang kegiatannya dan menetapkan penggunaan
alat pembayaran.
Perlu adanya pertimbangan yang dijadikan acuan dalam pembentukan Peraturan Bank
Indonesia yang akan ditetapkan oleh Bank Indonesia dengan kewenangan yang dimilikinya
tersebut. Dalam hal ini, penulis menggunakan 4 (empat) peraturan yang dijadikan
pertimbangan penetapan Peraturan Bank Indonesia mengenai mata uang Bitcoin di Indonesia.
1. Undang-Undang Nomor. 8 Tahun 1999 Tentang Perlindungan Konsumen (Lembaran
Negara Republik Indonesia Tahun 1999 Nomor. 42, Tambahan Lembaran Negara
Republik Indonesia Nomor. 3821)
Pada peraturan hukum ini, Undang-Undang Nomor. 8 Tahun 1999 Tentang
Perlindungan Konsumen menjadi pertimbangan dan dasar mengapa perlunya
pengaturan mata uang Bitcoin diatur lebih seksama guna adanya perlindungan hukum
bagi masyarakat mengenai perlindungan konsumen.

Dalam Undang-Undang Nomor. 8 Tahun 1999 Tentang Perlindungan Konsumen ini,


ada 3 Pasal yang menjadi dasar pembentukan Peraturan Bank Indonesia mengenai
keberadaan mata uang Bitcoin di Indonesia, yaitu :
a. Pasal 1 ayat 1 menjadi dasar pertimbangan pembentukan Peraturan Bank
Indonesia tersebut. Dalam Pasal 1 ayat 1 ini, dijelaskan bahwa Perlindungan
Konsumen adalah segala upaya yang menjamin adanya kepastian hukum
untuk memberi perlindungan kepada konsumen. Pasal ini menjelaskan bahwa
konsumen memerlukan kepastian hukum atas barang dan/atau jasa yang
dikonsumsinya. Kepastian hukum yang dibutuhkan berupa aturan hukum yang
mengatur dan mengikat secara menyeluruh terhadap konsumen maupun
pelaku usaha. Melihat hal tersebut, maka konsumen sebagai pengguna mata
uang Bitcoin memerlukan adanya kepastian hukum dalam rangka penggunaan
mata uang Bitcoin yang berada di Indonesia dengan segala dampak yang akan
terjadi pada konsumen. Konsumen dalam hal ini merasakan kekosongan
hukum yang terdapat dalam pengaturan mata uang

Bitcoin dapat

mengakibatkan kecemasan yang akan menimbulkan sikap tidak nyaman yang


akan dirasakan oleh masyarakat Indonesia sebagai konsumen.
b. Pasal 3 huruf b dan d menjadi dasar kedua dalam Undang-Undang Nomor. 8
Tahun 1999 Tentang Perlindungan Konsumen. Pada Pasal 3 huruf b, ini
berisikan Tentang mengangkat harkat dan martabat konsumen dengan cara
menghindarkannya dari ekses negatif pemakaian barang dan/atau jasa. Isi
Pasal 3 huruf b dan d tersebut bertujuan adanya upaya menghindarkan
konsumendari ekses negatif pemakaian barang dan/atau jasa serta mengangkat
harkat dan martabat konsumen. Ini diperlukan dengan alasan bahwa konsumen
perlu bentuk perlindungan dari para pelaku usaha yang akan mengakibatkan

kerugian yang didapat oleh konsumen melalui barang dan/atau jasa yang
dikonsumsi.
Selanjutnya pada huruf d yaitu menciptakan sistem perlindungan konsumen
yang mengandung unsur kepastian hukum dan keterbukaan informasi serta
akses untuk mendapatkan informasi. Hal ini menciptakan adanya konsumen
yang nyaman, aman dan memperoleh keselamatan dalam mengkonsumsi
barang dan/atau jasa dikarenakan adanya sistem perlindungan konsumen yang
memiliki unsur kepastian hukum dan adanya keterbukaan informasi mengenai
barang dan/atau jasa yang berkaitan dengan mata uang Bitcoin di Indonesia.
Dasar ini menjadikan bahwa konsumen begitu penting kedudukannya dalam
hal perlindungan hukum atas penggunaan barang dan/atau jasa yang
diproduksi dan dipasarkan oleh pelaku usaha.
c. Pasal 4 huruf a berisikan mengenai hak konsumen yaitu hak atas
kenyamanan, keamanan, dan keselamatan dalam mengkonsumsi barang
dan/atau jasa. Konsumen memiliki hak atas kenyamanan, keamanan dan
keselamatan, yang dimana 3 (tiga) hak tersebut ditaruh sebagai hak konsumen
dalam rangka upaya perlindungan bagi konsumen. Pengaturan hukum
mengenai mata uang Bitcoin, perlu melihat 3 (tiga) hak konsumen tersebut
dengan tujuan adanya keyakinan dalam diri masyarakat Indonesia sebagai
konsumen yang memiliki kemananan, keselamatan dan kenyamanan dalam
penggunaan mata uang Bitcoin.
2. Undang-Undang Nomor. 23 Tahun 1999 Tentang Bank Indonesia (Lembaran Negara
Republik Indonesia Tahun 1999 Nomor 66, Tambahan Lembaran Negara Republik
Indonesia Nomor 3843) sebagaimana telah diubah beberapa kali terakhir dengan
Undang-Undang Nomor. 6 Tahun 2009 Tentang Penetapan Peraturan Pemerintah

Pengganti Undang-Undang Nomor. 2 Tahun 2008 Tentang Perubahan Kedua atas


Undang-Undang Nomor 23 Tahun 1999 Tentang Bank Indonesia menjadi UndangUndang (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2009 Nomor 7, Tambahan
Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4962)
Dalam Undang-Undang Nomor. 23 Tahun 1999 Tentang Bank Indonesia, terdapat 2
(dua) isi peraturan ini yang menjadi pertimbangan terkait dasar hukum yang akan
membentuk aturan mengenai perlindungan konsumen melalui Peraturan Bank
Indonesia mengenai penggunaan mata uang Bitcoin di Indonesia. Pasal yang akan
menjadi pertimbangan dalam pembentukan aturan tersebut yaitu :
Pasal 8 huruf b yaitu mengatur dan menjaga kelancaran sistem pembayaran. Pada
Pasal 8 huruf b ini, Bank Indonesia mempunyai tugas untuk mengatur dan menjaga
kelancara sistem pembayaran yang berlangsung di Indonesia. Ketentuan Pasal 8 ini
diperjelas dalam Pasal 15 dimana Bank Indonesia mempunyai wewenang untuk
melaksanakan dan memberikan persetujuan dan izin atas penyelenggaraan jasa sistem
pembayaran. Jasa sistem pembayaran ini termasuk pembayaran yang bersifat
elektronik selain sistem pembayaran mata uang Rupiah. Lalu adanya kewajiban
penyelenggara jasa sistem pembayaran untuk menyampaikan laporan Tentang
kegiatannya dan menetapkan penggunaan alat pembayaran. Melalui aturan ini, penulis
menjadikan Pasal ini untuk dijadikan pertimbangan dalam pembentukan aturan
hukum mengenai pengaturan mata uang Bitcoin terkait perlindungan konsumen.
Karena, dalam aturan ini memiliki kelengkapan dasar pertimbangan dimana
sebelumnya Undang-Undang Nomor. 8 Tahun 1999 Tentang Perlindungan Konsumen
telah mengatur mengenai kedudukan konsumen, hak konsumen, melalui UndangUndang Nomor. 23 Tentang Bank Indonesia ini, aturan ini memiliki acuan
pertimbangan yang akan menentukan isi serta bentuk pengaturan mengenai

keberadaan mata uang Bitcoin sebagai barang dan/atau jasa yang digunakan oleh
masyarakat Indonesia.
3. Undang-Undang Nomor. 7 Tahun 2011 Tentang Mata Uang (Lembaran Negara
Republik Indonesia Tahun 2011 Nomor. 64, Tambahan Lembaran negara Republik
Indonesia Nomor. 5223).
Pada hal menimbang huruf b, disebutkan bahwa Mata Uang diperlukan sebagai alat
pembayaran yang sah dalam kegiatan perekonomian nasional dan internasional guna
mewujudkan kesejahteraan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia. Ini menjadikan
pertimbangan bahwa pengaturan mata uang Bitcoin di Indonesia perlu adanya
pengaturan lebih lanjut dengan harapan terwujudnya kesejahteraan sosial serta dalam
rangka pengembangan kegiatan perekonomian nasional.
4. Peraturan Bank Indonesia Nomor. 16/8/PBI/2014 Tentang Perubahan Atas Peraturan
Bank Indonesia Nomor. 11/12/PBI/2009 Tentang Uang Elektronik (Electronic
Money), Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2014 Nomor 69 DKSP.
Pertimbangan yang akan dimasukan dalam pembentukan aturan hukum mengenai
penggunaan mata uang Bitcoin terkait perlindungan terhadap konsumen di Indonesia
terdapat pada hal menimbang huruf b.
Pada huruf b disebutkan bahwa untuk mendukung pertumbuhan industri uang
elektronik yang sehat perlu adanya peningkatan kemanan teknologi dan efisiensi
penyelenggaraan uang elektronik. Hal menimbang ini menggambarkan bahwa mata
uang elektronik yang berada di Indonesia telah berkembang menjadi salah satu alat
transaksi yang digunakan oleh masyarakat Indonesia dan adanya maksud untuk
memberikan perlindungan terkait keamanan teknologi serta efisiensi penyelenggaraan
uang elektronik. Dalam hal ini, hal menimbang ini terkait dengan keberadaan mata
uang Bitcoin di Indonesia yang menjadi salah satu mata uang elektronik yang ada di

Indonesia tetapi belum terdapat pengaturan lebih lanjut mengenai mata uang Bitcoin
ini. Dengan hal ini, maka perlulah digunakan pertimbangan dalam Peraturan Bank
Indonesia ini untuk membentuk aturan hukum mengenai pengaturan mata uang
Bitcoin terkait dengan perlindungan terhadap konsumen dalam hal penggunaan mata
uang Bitcoin ini.

BAB V
PENUTUP
1.

Kesimpulan

1.1.

Perlindungan Konsumen Dalam Penggunaan Mata Uang Bitcoin Berdasarkan


Undang-Undang Nomor. 8 Tahun 1999 Tentang Perlindungan Konsumen
Demi melindungi masyarakat Indonesia sebagai pengguna mata uang Bitcoin di

Indonesia, diperlukannya perlindungan hukum kepada masyarakat Indonesia terkait


penggunaan mata uang Bitcoin di Indonesia. Melalui keberadaan Undang-Undang Nomor. 8
Tahun 1999 Tentang Perlindungan Konsumen, aturan hukum ini berkaitan dengan
penggunaan mata uang Bitcoin di Indonesia karena peraturan ini mengatur bagaimana
konsumen mengetahui hak dan kewajiban dan tindakan hukum pada saat dirugikan atas
barang dan/atau jasa yang digunakan serta sangat diperlukan guna menjamin adanya
keamanan yang diperoleh masyarakat Indonesia dalam penggunaan mata uang Bitcoin
tersebut.
Pada Undang-Undang Nomor. 8 Tahun 1999 Tentang Perlindungan Konsumen, telah
diatur mengenai pengaturan mengenai subyek hukum baik konsumen sebagai pengguna
barang dan/atau jasa maupun pelaku usaha sebagai penyedia barang dan/atau jasa. Pengaturan
ini guna mewujudkan perlindungan secara hukum terhadap konsumen secara menyeluruh.
Secara garis besar berdasarkan pemaparan sebelumnya, dapat disimpulkan bahwa
UUPK memiliki pengaturan secara menyeluruh untuk memberikan perlindungan konsumen
terhadap penggunaan mata uang Bitcoin di Indonesia. Peraturan dalam UUPK dalam
memberikan perlindungan konsumen terhadap penggunaan mata uang Bitcoin tersebut
berlaku untuk mengatur perlindungan hukum terhadap konsumen. Dengan hal tersebut maka

pelaku usaha yang memberikan kerugian terhadap kerugian terhadap penggunaan mata uang
Bitcoin di Indonesia dapat dikenakan terhadap Undang-Undang Nomor. 8 Tahun 1999
Tentang Perlindungan Konsumen.
1.2.

Tanggung Jawab Bank Indonesia terhadap Perlindungan Konsumen terkait


Kekosongan Hukum Mengenai Mata Uang Bitcoin di Indonesia
Dalam rangka bentuk tanggung jawab, maka setelah aspek hukum melalui Undang-

Undang Nomor. 8 Tahun 1999 Tentang Perlindungan Konsumen, selanjutnya yaitu mengenai
Bank Indonesia dalam bentuk tanggung jawab terhadap sikap perlindungan konsumen terkait
kekosongan hukum terhadap mata uang Bitcoin yang berada di Indonesia.
Menyangkut hal ini, maka melalui Undang-Undang Nomor. 23 Tahun 1999 Tentang
Bank Indonesia, melalui Pasal 8 dan 15 ini mengatur mengenai sistem kelancaran
pembayaran keuangan di Indonesia. Dalam hal ini Bank Indonesia melalui pengaturan
tersebut adalah sebagai salah satu bentuk tanggung jawab yang diberikan oleh Bank sentral di
Indonesia yaitu Bank Indsonesia.
Tanggung jawab oleh Bank Indonesia dengan maksud sebagai mendukung
terwujudnya perekonomial nasional dengan adanya tantangan perkembangan dan
pembangunan ekonomi yang semakin kompleks, sistem keuangan yang semakin maju serta
perekonomian internasional yang semakin kompetitif dan terintegrasi. Maka dengan hal
tersebut, bentuk pertanggung jawaban terhadap pengguna mata uang Bitcoin yang berada di
Indonesia, melalui serangkaian peraturan yang tercantum dalam Undang-Undang Nomor. 23
Tahun 1999 Tentang Bank Indonesia, maka secara langsung dan bertanggung jawab sesuai
fungsi Bank sentral, maka Bank Indonesia membuktikan bentuk pertanggung jawaban
dengan dapat mengatur mengenai keberadaan serta penggunaan mata uang Bitcoin di
Indonesia oleh masyarakat.

1.3.

Dasar Hukum Dalam Pembentukan Upaya Perlindungan terhadap Konsumen


mengenai Mata Uang Bitcoin di Indonesia
Pengaturan perlindungan terhadap konsumen dalam hal penggunaan mata uang

Bitcoin di Indonesia tidak hanya bertumpu terhadap Undang-Undang Nomor. 8 Tahun 1999
Tentang Perlindungan Konsumen, tetapi melihat kondisi di Indonesia dengan adanya sikap
dari Bank Indonesia mengenai keberadaaan mata uang Bitcoin di Indonesia, maka diperlukan
dan dibentuk suatu aturan mengenai keberadaan dan perlindungan konsumen terhadap
pengguna mata uang Bitcoin dengan dasar kewenangan yang dimiliki oleh Bank Indonesia
dalam membentuk Peraturan Bank Indonesia untuk mengatur lebih khusus mengenai mata
uang Bitcoin dan perlindungan terhadap masyarakat yang menggunakannya.
Diperlukan dasar-dasar pembentukan peraturan mengenai mata uang Bitcoin dan dari
hal tersebut, penulis menggunakan 4 (empat) dasar hukum yang terdapat di dalam UndangUndang Nomor. 12 Tahun 2011 mengenai Peraturan Perundang-Undangan yaitu UndangUndang Nomor. 8 Tahun 1999 Tentang Perlindungan Konsumen, Undang-Undang Nomor.
23 Tahun 1999 Tentang Bank Indonesia, Undang-Undang Nomor. 7 Tahun 2011 Tentang
Mata Uang dan Peraturan Bank Indonesia Nomor. 16/8/PBI/2014 Tentang Perubahan Atas
Peraturan Bank Indonesia Nomor. 11/12/PBI/2009 Tentang Uang Elektronik (Electronic
Money), Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2014 Nomor 69 DKSP. Menurut
hemat penulis, peraturan-peraturan tersebut dapat digunakan sebagai dasar atas pembentukan
aturan Peraturan Bank Indonesia mengenai keberadaan mata uang Bitcoin dan perlindungan
terhadap masyarakat terhadap penggunaan mata uang Bitcoin karena kekosongan hukum
yang ada saat ini dan dalam hal ini dibutuhkan kepastian hukum mengenai mata uang Bitcoin
tersebut.
2.

Saran

2.1.

Perlindungan Konsumen Dalam Penggunaan Mata Uang Bitcoin Berdasarkan


Undang-Undang Nomor. 8 Tahun 1999 Tentang Perlindungan Konsumen.
Sehubungan dengan perlindungan konsumen yang tercantum di dalam
Undang-Undang Nomor. 8 Tahun 1999 Tentang Perlindungan Konsumen, penulis
memiliki pandangan bahwa UUPK ini perlu penyebarluasan informasi lebih lanjut
mengenai keberadaan aturan ini mengingat saat ini masyarakat selalu terlihat kesulitan
dalam penerapan maupun penggunaan aturan mengenai kerugian yang terjadi
terhadap konsumen. Pemerintah perlu memberikan penyuluhan dan pemberian
informasi secara menyeluruh terkait aturan UUPK ini agar masyarakat dapat
menggunakan aturan ini secara lebih bermanfaat dan lebih baik lagi. Sebab pada saat
ini, masyarakat dihadapkan dengan perkembangan pada barang maupun jasa yang
dikeluarkan oleh pelaku usaha dan dalam hal ini tidak semua barang maupun jasa
tersebut menguntungkan dan bermanfaat bagi konsumen. Maka dengan hal tersebut,
penting bagi Pemerintah untuk mensosialisasikan kembali aturan mengenai konsumen
melalui UUPK ini agar masyarakat sebagai konsumen dapat terhindar dari kerugian
yang akan terjadi diakibatkan oleh adanya kesalahan dari pihak pelaku usaha melalui
barng dan/atau jasa yang dipasarkannya dan dari pihak konsumen sendiri yang tidak
memahami bagaimana kewajiban konsumen sebelum menggunakan barang dan/atau
jasa yang diperoleh melalui transaksi ekonomi yang dilakukannya.

2.2.

Tanggung Jawab Bank Indonesia terhadap Perlindungan Konsumen atas


Kekosongan Hukum Mengenai Mata Uang Bitcoin di Indonesia.
Berkaitan dengan aturan Undang-Undang Nomor. 8 Tentang Perlindungan
Konsumen, dalam hal ini penulis menjabarkan mengenai bentuk pertanggung jawaban
Bank sentral di Indonesia yaitu Bank Indonesia dalam hal pertanggung jawaban
terhadap masyarakat terkait keberadaan dan penggunaan mata uang Bitcoin di

Indonesia. Dalam hal ini penulis menjabarkan mengenai bagaimana upaya Bank
Indonesia dalam hal pertanggung jawaban terhadap hal tersebut, karena kewenangan
Bank Indonesia adalah untuk memberikan kebijakan mengenai kegiatan ekonomi,
pengaturan kebijakan moneter dan bagaimana mengatur keberadaan mata uang asing
di Indonesia. Dalam hal ini penulis memiliki keinginan terhadap Bank Indonesia
untuk memberikan dan mengeluarkan kebijakan terkait kelancaran sistem pembayaran
dalam hal menetapkan alat pembayaran di Indonesia melalui Pasal 8 dan 15 UndangUndang Nomor. 23 Tahun 1999 Tentang Bank Indonesia.

Melalui

pengaturan Pasal 8 dan 15 tersebut, Bank Indonesia memiliki tanggung jawab


mengenai penetapan alat pembayaran dalam upaya menjadikan adanya kelancaran
sistem pembayaran di Indonesia. Mengenai hal tersebut, perlu adanya ketegasan
dalam penerapan lebih lanjut mengenai aturan-aturan tersebut karena masyarkaat
membutuhkan penerapan terkait aturan tersebut dalam hal keberadaan dan
penggunaan mata uang Bitcoin di Indonesia yang dimiliki dan digunakan oleh
masyarakat Indonesia.
Diharapkan melalui aturan tersebut, keberadaan mata uang Bitcoin di
Indonesia dapat diatur secara khusus mengingat keberadaan mata uang Bitcoin yang
telah digunakan oleh masyarakat di Indonesia dan perlunya perlindungan terhadap
konsumen terkait hal tersebut melalui Bank Indonesia yang bertanggung jawab
mengatur mengenai bidang moneter di Indonesia. Bank Indonesia melalui peraturan
tersebut, dapat meningkatkan bentuk tanggung jawab kepada masyarakat pengguna
mata uang Bitcoin untuk mengurangi resiko kerugian yang akan diterima oleh
masyarakat sebagai konsumen pengguna mata uang Bitcoin di Indonesia.
2.3.

Dasar Hukum Dalam Pembentukan Upaya Perlindungan terhadap Konsumen


mengenai Mata Uang Bitcoin di Indonesia.

Mengingat perlu adanya pengaturan lebih khusus mengenai keberadaan mata uang
Bitcoin di Indonesia, maka penulis memberikan dasar-dasar untuk mengatur lebih
lanjut melalui Peraturan Bank Indonesia dalam pengaturan mengenai keberadaan mata
uang Bitcoin di Indonesia.
Dengan terbentuknya peraturan yang akan mengatur secara khusus tersebut,
diharapkan keberadaan mata uang Bitcoin dapat diatur lebih lanjut dan lebih khusus
dikarenakan adanya kewenangan yang dimiliki oleh Bank Indonesia untuk
mengeluarkan Peraturan Bank Indonesia terkait kelancaran pembayaran di Indonesia.
Penulis berharap bahwa Bank Indonesia sadar akan kebutuhan masyarakat
dalam hal pembentukan aturan secara khusus terhadap keberadaan mata uang Bitcoin
di Indonesia yang dimana aturan tersebut dapat mengatur lebih lanjut mengenai
keberadaan, penggunaan hingga perlindungan hukum terhadap masyarakat sebagai
konsumen pengguna mata uang Bitcoin di Indonesia terhadap kerugian yang akan
ditimbulkan oleh mata uang Bitcoin pada suatu saat nanti.
Melalui Peraturan Bank Indonesia tersebut, diharapkan bahwa aturan khusus
ini dapat memberikan informasi yang jelas kepada pengguna mata uang Bitcoin di
Indonesia dalam penggunaannya. Sehingga masyarakat dalam penggunaan mata uang
Bitcoin tersebut dapat terhindar dari kerugian yang akan diderita oleh masyarakat
Indonesia.

DAFTAR PUSTAKA
1. Buku
Adrian Sutedi, Hukum PerBankan: Suatu tinjauan Pencucian uang, Merger, Likuidasi, Dan
Kepailitan, Sinar Grafika, Jakarta, 2007.
Agnes M. Toar, Tanggung Jawab Produk dan Sejarah Perkembangannya di Beberapa Negara,
Makalah dibawakan dalam Penataran Hukum Perikatan II, Ujung Pandang, 17-29 Juli 1989.
Ahmad Miru, Prinsip-prinsip Perlindungan Hukum Bagi Konsumen di Indonesia, PT. Raja
Grafindo Persada, Jakarta, 2011.
Ahmadi Miru dan Sutarman Yodo, Hukum Perlindungan Konsumen, Raja Grafindo Persada,
Jakarta, 2004.
Ali Masyhud, Restrukturisasi PerBankan & Dunia Usaha, Elex Media Komputindo, Jakarta,
2002.
Az. Nasution, Konsumen dan Hukum : Tinjauan Sosial, Ekonomi dan Hukum pada
Perlindungan Konsumen Indonesia, Pustaka Sinar Harapan, Jakarta, 1995.
A.Z. Nasution, Sekilas Hukum Perlindungan Konsumen, Majalah Hukum dan Pembangunan,
Fakultas Hukum UI, No. 6 Tahun ke XVI, Desember 1986.
A.Z. Nasution, Hukum Perlindungan Konsumen, C.V Diadit Media, Jakarta, 2002.
Bismar Nasution, Implementasi Pasal 34 Undang-Undang Tentang Bank Indonesia dan
Dampaknya Pada Peranan dan Fungsi Bank Indonesia Di Bidang Moneter, Sistem
Pembayaran dan Stabilitas Keuangan, Artikel yang ditulis di dalam Buletin Hukum
PerBankan dan KeBanksentralan, Volume 8, Nomor 3, September 2010.
C. Tantri. D & Sularsi, Gerakan Organisasi Konsumen, Yayasan Lembaga Konsumen
Indonesia & The Asia Foundation, Jakarta, 1995.
Happy Susanto, Hak-Hak Konsumen Jika Dirugikan, Visimedia, Jakarta, 2008.
Indra Darmawan, Pengantar Uang dan PerBankan, Penerbit Rineka Cipta, Jakarta, 1992.

Janus Sidabalok, Hukum Perlindungan Konsumen di Indonesia, PT. Citra Aditya Bakti,
Bandung, 2010.
Johannes Gunawan, Handout Perlindungan Konsumen, Fakultas Hukum UNPAR Bandung,
2012.
Kerem Kakalolu, Jurnal : Near Zero Bitcoin Transaction Fees Cannot Last Forever, 2014.
M. Ali Mansyur, Penegakan Hukum Tentang Tanggung Gugat Produsen Dalam Perwujudan
Perlindungan Konsumen, GentaPress, Yogyakarta, 2007.
Mariam Darus Badrulzaman, Pembentukan Hukum Nasional dan Permasalahan, Alumni,
Bandung, 1981.
Purbacaraka, Perihal Kaedah Hukum, Citra Aditya Bakti, Bandung, 2010.
R. Serfianto, dkk, Untung Dengan Kartu Kredit, Kartu ATM-Debit, & Uang Elektronik, Visi
Media, Jakarta, 2012.
RM. Sudikno Mertokusumo, Mengenal Hukum Suatu Pengantar, Liberty, Yogyakarta, 1988.
Robert Sparve, Supervisory Boards in Some Central Banks, paper contribution to the IMF
Seminar on Current Developments in Monetary and Financial Law, Washington, D.C., May
7-17, 2002.
Rosa Maria Lastra and Geoffrey P. Miller, Central Bank Independence in Ordinary and
Extraordinary Times dalam Jan Kleinman (ed), Central Bank Independence, The Economic
Foundations, the Constitutional Implications and Democratic Accountability, Kluwer
International, 2001.
Satjipto Rahardjo, Ilmu Hukum, Alumni, Bandung, 1986.
Shidarta, Hukum Perlindungan Konsumen Indonesia, Grasindo, Jakarta, 2000.
Soerjono Soekanto, Pengantar Penelitian Hukum, cet III, UI Press, Jakarta, 1986.
Soerjono Sukanto dan Sri Mamudji, Penelitian Hukum Normatif, Cetakan IV, Radja Grafindo
Persada, Jakarta, 2001.

Solikin Suseno, Uang, Pengertian, Penciptaan, dan Peranannya dalam Perekonomian, Bank
Indonesia, Jakarta, 2005.
Sudikno Mertokusumo, Mengenal Hukum: Suatu Pengantar, Liberty, Yogyakarta, 1986.
Susanti Adi Nugroho, Proses Penyelesaian Sengketa Konsumen Ditinjau Dari Hukum Acara
Serta Kendala Implementasinya, Kencana, Jakarta, 2008.
Yuliadi, Ekonomi Moneter, PT. Indeks, Jakarta, 2004.
2. Media Internet
http://analisis.news.viva.co.id/news/read/477086-believe-it-or-not--uang-masa-depan-bitcoin- diunduh pada tanggal 16 Februari 2014 pukul 17.20 wib
http://internasional.kontan.co.id/news/bitcoin-us-500.000-untuk-membayar-vila-di-bali
diunduh pada tanggal 22 Maret 2014 pukul 16.20 wib
http://www.bi.go.id/id/ruang-media/siaran-pers/Pages/sp_160614.aspx diunduh pada tanggal
24 September 2014, pukul 13.51 WIB
http://tekno.kompas.com/read/2014/01/11/2149541/Bitcoin.Mata.Uang.Masa.Depan. diunduh
pada tanggal 25 September 2014, pukul 21.12 WIB
https://bitcoin.org/id/cara-kerja diunduh pada tanggal 25 September 2014, pukul 21.15
http://tekno.kompas.com/read/2014/03/20/1608466/pertama.bitcoin.dipakai.beli.vila.di.bali
diunduh pada tanggal 25 September 2014, pukul 21.25 WIB
http://www.tempo.co/read/news/2014/02/20/090555883/Ramai-ramai-Uang-Bitcoin-BeginiCara-Kerjanya diunduh pada tanggal 14 Oktober 2014 pukul 19.20 WIB.
3. Peraturan Perundang-Undangan
Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia 1945
Undang-Undang Nomor. 8 Tahun 1999 Tentang Perlindungan Konsumen
Undang-Undang Nomor. 23 Tahun 1999 Tentang Bank Indonesia
Undang-Undang Nomor. 7 Tahun 2011 Tentang Mata Uang

Undang-Undang Nomor. 12 Tahun 2011 Tentang Peraturan Perundang-Undangan.


Peraturan Bank Indonesia Nomor. 16/8/PBI/2014 Tentang Tentang Uang Elektronik
(Electronic Money).