Anda di halaman 1dari 4

Nestapa Liga Arab, Nestapa Palestina

Kamis, 28 Maret 2013 13:23

oleh: Muhammad Ma'ruf

"Andaikan salah satu kesepakatan terakhir KTT Liga Arab ke 24 di Doha, Qatar, Selasa
(26/3) mengesahkan anggotanya untuk membantu persenjataan kepada pejuang Palestina
sejak Liga Arab resmi didirikan pada 22 Maret 1945, mungkin Palestina sudah merdeka sejak
dulu kala, dan orang Yahudi, Muslim dan Kristen bisa bikin negara bareng lewat referendum
yang demokratis"

VOP Online-Sejarah mengatakan untuk melawan Kesultanan Usmaniyah pada abad ke 19,
Inggris sebagai musuh pada Perang Dunia Pertama memprovokasi negara-negara Arab
dengan semangat Pan Arabisme untuk membentuk gerakan Liga Arab. Kemudian tahun 1943,
Mesir sebagai pemrakarsa pertama kali mendorong berdirinya Liga Arab. Liga
Negara-Negara Arab (bahasa Arab: Jmiat ad-Duwal al-Arabiyya) atau
Liga Arab (bahasa Arab: al-Jmia al-Arabiyya), adalah sebuah organisasi
yang terdiri dari negara-negara Arab dan bermakas di Kairo. Organisasi ini secara resmi
didirikan pada 22 Maret 1945 oleh tujuh negara, Mesir, Irak, Yordania, Lebanon, Arab Saudi,
Suriah, Yaman.

Organisasi ini awalnya mempunyai nilai ideal, menyatakan tujuanya dalam Piagam bahwa
Liga Arab bertugas mengkoordinasikan kegiatan ekonomi, termasuk hubungan niaga;
komunikasi; kegiatan kebudayaan; kewarganegaraan, paspor, dan visa; kegiatan sosial; dan
kegiatan kesehatan. Salah satu poin penting adalah Piagam Liga Arab melarang para anggota
untuk menggunakan kekerasan terhadap satu sama lain. Tujuan mulia Liga Arab ini untuk
mempererat persahabatan Bangsa Arab, memerdekakan negara di kawasan Arab yang masih

1/4

Nestapa Liga Arab, Nestapa Palestina


Kamis, 28 Maret 2013 13:23

terjajah, mencegah berdirinya negara Yahudi di daerah Palestina dan membentuk kerjasama
dalam bidang politik, militer, dan ekonomi.

Seiring berjalanya dinamika sejarah terutama negara pendiri Liga Arab dengan plus
minusnya, hanya ada dua piagam yang sulit dan gagal diwujudkan, memerdekaan Palestina
sekaligus mencegah berdirinya negara Yahudi di daerah Palestina dan melarang para
anggota untuk menggunakan kekerasan terhadap satu sama lain. Fakta menunjukkan hingga
saat ini, 2013, Israel sukses menguasai 90% dari seluruh tanah Palestina. Kesuksesan Israel
ini karena jasa Inggris pada awalnya, membantu berdirinya Israel Raya (negara rasis khusus
Yahudi) dan mengeliminir bantuan tujuh pendiri Liga Arab untuk mendukung kemerdekaan
Palestina.

Sebagai pelopor dan tersukses terbesar negara penjajah diseluruh dunia, Inggris dengan
kelicikanya menyerahkan urusan Israel dan aset-aset minyak kepada Amerika Serikat. Dalam
urusan jajah menjajah Amerika pernah di jajah Inggris cukup lama. Akan tetapi bagi Amerika
dan Inggris, keduanya sama-samanya mengganggap Israel sebagai benteng pertahanan
imperialisme di Timur Tengah. Amerika Serikat sukses meciptakan negara boneka minus
demokrasi di Mesir (Hosni Mubarak), Yordania (Raja Abdullah), Arab Saudi (Abdullah bin
Abdul Aziz) dan Yaman ( Ali Abdullah Saleh). Sedangkan Irak ditaklukan dengan invasi,
Lebanon sulit ditaklukan dengan invasi karena ada Hizbullah, dan terakhir Suriah ditaklukan
dengan kekerasaan lewat Liga Arab.

Jadi tidak aneh lagi jika Liga Arab, pada pertemuan terakhir KTT Liga Arab ke 24 di Doha,
Qatar, mengesahkan anggotanya untuk membantu persenjataan sebanyak 3500 ton kepada
pemberontak Suriah. Liga Arab dipakai oleh negara pendirinya terutama (Mesir, Yordania,
Arab Saudi, Yaman (boneka Amerika), untuk mengganti paksa pemerintahan Assad
(Suriah), yang juga pendiri Liga Arab. Dengan kata lain, Amerika Serikat menggunakan Liga
Arab untuk menghabisi sesama anggotanya, sama-sama etnis Arab, sama mazhab Sunni,
sama-sama beragam Islam, dan tak kalah mengerikan sama-sama pendukung kemerdekaan
Palestina dengan level masing-masing. Tanpa melebih-lebihkan ukuran membantu Palestina,
Assad yang katanya kejam sampai detik ini tidak membuka kantor perwakilan negara Israel,
mempersilahkan para aktifis HAMAS untuk membuka kantor di Damaskus, penampung
pengungsi Palestina terbesar di dunia, juga satu-satunya negara Liga Arab yang membantu
persenjatan HAMAS semampunya melawan militer canggih Israel. Tepuk tangan para Jendral
Israel dan miris bagi manusia pro Palestina adalah pembantaian para pengungsi Palestina di
Suriah oleh pemberontak. Tentu saja para korban adalah mereka sama-sama shalat lima
waktu, menyembah Tuhan yang sama, sama-sama di tindas Amerika Serikat dan Israel.

2/4

Nestapa Liga Arab, Nestapa Palestina


Kamis, 28 Maret 2013 13:23

Jika saja para pemberontak Suriah ini sedikit saja menggunakan akal, pasti tidak mudah
ditipu. Tapi karena asik larut dalam kebencian propaganda kekejaam Assad made in USA
dibumbui penghayatan emosi fatwa jihad minus akal sehat yang meledak-ledak, akhirnya lupa
siapa lawan siapa kawan. Ukuranya mudah saja, jika kebencian kepada Assad melebihi
kebencianya pada Netanyahu maka sudah pasti sesama muslim gambang digerakkan untuk
saling bunuh, bahkan kondisi terkini makin parah dengan bantuan makin vulgar dari AS dan
Liga Arab, dan ke depan kalau sudah disumbang berton-ton senjata masih gagal, tinggal
menunggu pasukan neraka dari Israel turun tangan menginvasi Suriah bergandengan dengan
Arab Saudi, Qatar dan Turki. Sudah pasti, tentunya Amerika tidak mau nekat dengan NATO
mengintervensi Suriah karena modalnya makin cekak (tipis).

Bagi jendral-jendral tua Amerika Serikat, negara imperium terbesar di jagat ini, menumpahkan
darah sudah biasa. Mereka sudah berpengalaman menjadi penjahat, hati mereka sudah biasa
gelap, mereka sukses dengan bom atom membunuh sebanyak 140.000 orang di Hiroshima
dan 80.000 di Nagasaki pada akhir tahun 1945 dengan alasan untuk menghentikan perang
dunia II, sukses membunuh 2 juta orang Irak dengan alasan Saddam menyimpan senjata
pemusnah masal, sukses membasmi 1 juta orang Afganistan dengan dalih mencari Ossama
dan masih banyak darah manusia tertumpah sia-sia di muka bumi oleh Amerika. Terakhir
darah tertumpah sebanyak 70.000 warga suriah, tentara Assad dan pemberontak, pertanyaan
darah tertumpah untuk siapa? Dipersembahkan untuk kemuliaan Israel atau Islam?.

Paparan ini mungkin tidak sepenuhnya benar, dan sepenuhnya salah, tapi layak direnungkan.
Suriah bukan peperangan rebutan kapling minyak, setidaknya bukan motif perang ala
imperialis, tapi masalah hidup mati masa depan eksistensi Israel berikut paham zionisnya.
Inilah kepentingan Amerika untuk mengatur pergantian rezim Suriah nantinya agar pro Israel,
setidaknya bisa ditipu dengan model-model perdamaian ala Tel Aviv.

Bagaimana dengan kaum jihadis di Suriah? Benarkah perang Suriah adalah ladang amal,
sesuatu yang bersifat ideal, dan apakah diridhi oleh Allah, benarkah perang ini sesuatu yang
suci?, Bagaimana nantinya jika yang berkuasa pasca Assad pro zionis? Ini membutuhkan
pembahasan tersendiri. Tapi sesuatu yang di depan mata dan pasti adalah, senjatanya dari
pemerintahan negara negara muslim, darahnya sama-sama muslim, sedangkan Amerika
hanya dengan modal kelicikan saja, tidak lebih tidak kurang.

Bagaimana dengan tujuan mulia Liga Arab untuk mempererat persahabatan Bangsa Arab,
melarang para anggota untuk menggunakan kekerasan terhadap satu sama lain,
memerdekakan negara di kawasan Arab yang masih terjajah, Palestina?

3/4

Nestapa Liga Arab, Nestapa Palestina


Kamis, 28 Maret 2013 13:23

Pertanyaan ini pantas di ajukan kepada para pemimpin anggota pendiri Liga Arab sekaligus
anggota boneka Amerika? Andaikan salah satu kesepakatan terakhir KTT Liga Arab ke 24 di
Doha, Qatar, Selasa kemaren mengesahkan anggotanya untuk membantu persenjataan
kepada pejuang Palestina sejak Liga Arab resmi didirikan pada 22 Maret 1945, mungkin
Palestina sudah merdeka sejak dulu kala, dan orang Yahudi, muslim dan Kristen bisa bikin
negara bareng lewat referendum yang demokratis. (IRIB Indonesia)

*) Mahasiswa magister Filsafat Islam ICAS-Paramadina.

4/4