Anda di halaman 1dari 21

BAB I

PENDAHULUAN
1.1 Latar belakang
Spiritual merupakan bagian yang penting dari pelayanan
keperawatan. Spiritual dan agama merupakan sumber kekuatan pasien
dan keluarga dalam menghadapi krisis (Kloosterhouse & Ames, 2002
dalam Deal, B., 2010). Hasil penelitian kualitatif Lundberg &
Kerdonfag (2010) menunjukan bahwa perawat di ruang intensif perlu
memberikan dukungan mental, memfasilitasi ritual agama dan budaya
sesuai dengan kepercayaannya, berkomunikasi dengan pasien dan
keluarga, mengkaji kebutuhan spiritual klien dan menunjukan hormat
serta memfasilitasi keluarga berperan serta dalam pelayanan medis.
Spiritualitas merujuk pada bagian kehidupan manusia yang
bermakna melalui koneksi atau hubungan intra, inter dan transpersonal
(Reed dalam Kim, 1992). Spiritualitas mencakup kepercayaan pada
hubungan suatu kekuatan yang lebih tinggi, kekuatan pencipta,
keberadaan Tuhan, dan sumber energi yang tidak terbatas (Martsolf
dan Mickley, 1998). Terhubung dengan Tuhan atau kekuatan yang
lebih besar daripada dirinya merupakan salah satu kebutuhan spiritual
(Kozier et al, 2004).
Pada saat sakit, individu menjadi kurang mampu untuk
merawat diri mereka dan lebih bergantung pada orang lain untuk
perawatan dan dukungan. Distress spiritual dapat berkembang sejalan
dengan seseorang mencari makna tentang apa yang sedang terjadi,
yang mungkin dapat mengakibatkan seseorang merasa sendiri dan
terisolasi dari orang lain. Individu mungkin mempertanyakan nilai
spiritual mereka, mengajukan pertanyaan tentang jalan hidup
seluruhnya, tujuan hidup, dan sumber dari makna hidup (Perry &
Potter, 2005).
1.2 Rumusan Masalah
1

1.
2.
3.
4.

Bagaimana definisi spiritual ?


Bagaimana fisiologi spiritual ?
Faktor-faktor apa yang mempengaruhi spiritual ?
Bagaiamana hubungan spiritualitas dengan kompetensi dalam

asuhan spiritual pasien ?


5. Bagaimana proses keperawatan pada pasien distress spiritual ?
6. Masuk dalam domain keberapa masalah keperawatan distress
spiritual menurut NANDA ?
1.3 Tujuan
1. Untuk mengetahui definisi spiritual
2. Untuk mengetahui fisiologi spiritual
3. Untuk mengetahui faktor-faktor yang mempengaruhi spiritual
4. Untuk mengetahui hubungan spiritualitas dengan kompetensi
dalam asuhan spiritual pasien
5. Untuk mengetahui proses keperawatan pada pasien distress
spiritual
6. Untuk mengetahui domain, kelas dan masalah keperawatan distress
spiritual menurut NANDA

BAB II
PEMBAHASAN
2.1 Definisi Spiritual
Spiritualitas adalah keyakinan dalam hubungannya dengan Yang Maha Kuasa
dan Maha Pencipta. Sebagai contoh seseorang yang percaya kepada Allah sebagai
Pencipta atau sebagai Maha Kuasa. Dimensi spiritual berupaya untuk
mempertahankan keharmonisan atau keselarasan dengan dunia luar, berjuang
untuk menjawab atau mendapatkan kekuatan ketika sedang menghadapi stres
emosional, penyakit fisik, atau kematian (Hamid, 2008).

Spiritualitas (spirituality) merupakan sesuatu yang dipercayai oleh seseorang


dalam hubungannya dengan kekuatan yang lebih tinggi (Tuhan), yang
menimbulkan suatu kebutuhan serta kecintaan terhadap adanya Tuhan, dan
permohonan maaf atas segala kesalahan yang pernah diperbuat (Asmadi, 2008).
Stoll (1989; dalam Hamid, 2008) menguraikan bahwa spiritualitas sebagai konsep
dua dimensi, yaitu dimensi vertikal dan dimensi horizontal. Dimensi vertikal
adalah hubungan dengan Tuhan atau Yang Maha Tinggi yang menuntun
kehidupan seseorang.
Dimensi horizontal adalah hubungan seseorang dengan diri sendiri, dengan
orang lain, dan dengan lingkungan.
Spiritualitas mencakup esensi keberadaan individu dan keyakinannya tentang
makna hidup dan tujuan hidup. Spiritualitas dapat mencakup keyakinan kepada
Tuhan atau kekuatan yang lebih tinggi, praktik keagamaan, keyakinan dan praktik
budaya, dan hubungan dengan lingkungan (Videback, 2008).
2.2 Fisiologi Spiritual
Patofisiologi distress spiritual tidak bisa dilepaskan dari stress dan struktur
serta fungsi otak.
Stress adalah realitas kehidupan manusia sehari-hari. Setiap orang tidak dapat
dapat menghindari stres, namun setiap orang diharpakan melakukan penyesuaian
terhadap perubahan akibat stres. Ketika kita mengalami stres, otak kita akan
berespon untuk terjadi. Konsep ini sesuai dengan yang disampikan oleh Cannon,
W.B. dalam Davis M, dan kawan-kawan (1988) yang menguraikan respon
melawan atau melarikan diri sebagai suatu rangkaian perubahan biokimia
didalam otak yang menyiapkan seseorang menghadapi ancaman yaitu stres.
Stres akan menyebabkan korteks serebri mengirimkan tanda bahaya ke
hipotalamus. Hipotalamus kemudian akan menstimuli saraf simpatis untuk
melakukan perubahan. Sinyal dari hipotalamus ini kemudian ditangkap oleh
sistem limbik dimana salah satu bagian pentingnya adalah amigdala yang
bertangung jawab terhadap status emosional seseorang. Gangguan pada sistem
limbik menyebabkan perubahan emosional, perilaku dan kepribadian. Gejalanya
adalah perubahan status mental, masalah ingatan, kecemasan dan perubahan

kepribadian termasuk halusinasi (Kaplan et all, 1996), depresi, nyeri dan lama
gagguan (Blesch et al, 1991).
Kegagalan otak untuk melakukan fungsi kompensasi terhadap stresor akan
menyebabkan seseorang mengalami perilaku maladaptif dan sering dihubungkan
dengan munculnya gangguan jiwa. Kegagalan fungsi kompensasi dapat ditandai
dengan munculnya gangguan pada perilaku sehari-hari baik secara fisik,
psikologis, sosial termasuk spiritual.
Gangguan pada dimensi spritual atau distres spritual dapat dihubungkan
dengan timbulnya depresi.Tidak diketahui secara pasti bagaimana mekanisme
patofisiologi terjadinya depresi. Namun ada beberapa faktor yang berperan
terhadap terjadinya depresi antara lain faktor genetik, lingkungan dan
neurobiologi.
Perilaku ini yang diperkirakan dapat mempengaruhi kemampuan seseorang
dalam memenuhi kebutuhan spiritualnya sehingga terjadi distres spritiual karena
pada kasus depresi seseorang telah kehilangan motivasi dalam memenuhi
kebutuhannya termasuk kebutuhan spritual.

2.3 Faktor yang Mempengaruhi Spiritual


Faktor-faktor yang dapat mempengaruhi spiritualitas seseorang adalah tahap
perkembangan, keluarga, latar belakang etnik dan budaya, pengalaman hidup
sebelumnya, krisis dan perubahan, terpisah dari ikatan spiritual, isu moral terkait
dengan terapi, dan asuhan keperawatan yang kurang sesuai (Hamid, 2008).
1). Tahap Perkembangan
Tahap perkembangan spiritual manusia dapat dilihat dari tahap perkembangan
mulai dari bayi, anak-anak, pra sekolah, usia sekolah, remaja, dewasa awal,
dewasa pertengahan, dewasa akhir, dan lanjut usia. Asmadi (2008) menyatakan,
usia perkembangan dapat menentukan proses pemenuhan kebutuhan spiritual,
karena setiap tahap perkembangan memiliki cara meyakini kepercayaan terhadap
Tuhan.
2). Keluarga
4

Peran orang tua sangat menentukan perkembangan spiritualitas anak, yang


penting bukan apa yang diajarkan oleh orang tua kepada anaknya tentang Tuhan,
tetapi apa yang anak pelajari mengenai Tuhan, kehidupan, dan diri sendiri dari
perilaku orang tua mereka. Oleh karena itu keluarga merupakan lingkungan
terdekat dan pengalaman pertama anak dalam mempersepsikan kehidupan di
dunia, pandangan anak pada umumnya diwarnai oleh pengalaman mereka dalam
berhubungan dengan orang tua dan saudaranya.
3). Latar belakang etnik dan budaya
Sikap, keyakinan, dan nilai dipengaruhi oleh latar belakang etnik dan sosial
budaya. Pada umumnya, seseorang akan mengikuti tradisi agama dan spiritual
keluarga. Anak belajar pentingnya menjalankan kegiatan agama, termasuk nilai
moral dari hubungan keluarga dan peran serta dalam berbagai bentuk kegiatan
keagamaan.
4). Pengalaman hidup sebelumnya
Pengalaman hidup, baik yang positif maupun pengalaman negatif dapat
mempengaruhi spiritualitas seseorang. Sebaliknya, juga dipengaruhi oleh
bagaimana seseorang mengartikan secara spiritual kejadian atau pengalaman
tersebut. Pengalaman hidup yang menyenangkan sekalipun dapat menimbulkan
perasaan bersyukur kepada Tuhan, tetapi ada juga yang merasa tidak perlu
mensyukurinya. Peristiwa dalam kehidupan sering dianggap sebagai suatu cobaan
yang diberikan Tuhan kepada manusia untuk menguji kekuatan imannya.
5). Krisis dan perubahan
Krisis dan perubahan dapat menguatkan spiritual seseorang. Krisis sering dialami
ketika seseorang menghadapi penyakit, penderitaan, proses penuaan, kehilangan,
dan bahkan kematian. Perubahan dalam kehidupan dan krisis yang dihadapi
tersebut merupakan pengalaman spiritual selain juga pengalaman yang bersifat
fisik dan emosional. Krisis dapat berhubungan dengan perubahan patofisiologi,
terapi/pengobatan yang diperlukan, atau situasi yang mempengaruhi seseorang.
6). Terpisah dari ikatan spiritual
Penyakit akut sering kali membuat individu merasa terisolasi dan kehilangan
kebebasan pribadi dan sistem dukungan sosial.
7). Isu moral terkait dengan terapi
5

Konflik antara jenis terapi denngan keyakinan agama sering dialami oleh pasien
dan tenaga kesehatan.
8). Asuhan keperawatan yang kurang sesuai
Berbagai alasan ada kemungkinan perawat justru menghindar untuk memberi
asuhan spiritual.
2.4 Hubungan Spiritualitas dengan Kompetensi dalam Asuhan Spiritual Pasien
Kebutuhan Spiritual
Hamid (2008) menyatakan bahwa kebutuhan spiritual merupakan kebutuhan
untuk mencari arti dan tujuan hidup, kebutuhan untuk mencintai dan dicintai serta
rasa keterikatan, dan kebutuhan untuk memberikan dan mendapatkan maaf.
Sumiati, et al (2007) menyatakan, kebutuhan spiritual sebagai bagian dari
kebutuhan manusia secara utuh hanya dapat dipenuhi apabila perawat dibekali
dengan kemampuan memberikan asuhan keperawatan dengan memperhatikan
aspek spiritual pasien sebagai bagian dari kebutuhan holistik pasien sebagai
mahluk yang utuh dan unik.
Dalam pelayanan kesehatan, perawat sebagai petugas kesehatan memiliki
peran utama dalam memenuhi kebutuhan spiritual. Perawat dituntut mampu
memberikan pemenuhan yang lebih pada saat pasien akan dioperasi, pasien kritis
atau menjelang ajal. Dengan demikian, terdapat keterkaitan antara keyakinan
dengan pelayanan kesehatan dimana kebutuhan dasar manusia yang diberikan
melalui pelayanan kesehatan tidak hanya berupa aspek biologis, tetapi juga aspek
spiritual. Aspek spiritual dapat membantu membangkitkan semangat pasien dalam
proses penyembuhan (Asmadi, 2008).
Hasil penelitian Nabolsi & Carson (2011) menyatakan bahwa keimanan
membantu memfasilitasi penerimaan individu terhadap penyakit mereka dan
mendorong dalam meningkatkan strategi koping. Spiritualitas meningkatkan
kekuatan, harapan, dan penerimaan diri dan membantu mereka untuk menemukan
makna dan tujuan dalam hidup.
Ketika penyakit, kehilangan atau nyeri menyerang seseorang, kekuatan
spiritual dapat membantu seseorang ke arah penyembuhan atau pada
perkembangan kebutuhan dan perhatian spiritual. Selama penyakit atau
kehilangan, misalnya saja, individu sering menjadi kurang mampu untuk merawat

diri mereka dan lebih bergantung pada orang lain untuk perawatan dan dukungan.
Distres spiritual dapat berkembang sejalan dengan seseorang mencari makna
tentang apa yang sedang terjadi, yang mungkin dapat mengakibatkan seseorang
merasa sendiri dan terisolasi dari orang lain. Bukan jenis dukungan spiritual apa
yang dapat diberikan tetapi secara sadar perawat mengintegrasikan perawatan
spiritual kedalam proses keperawatan. Perawat tidak perlu menggunakan alasan
tidak cukup waktu untuk menghindari pengenalan nilai spiritualitas yang dianut
untuk kesehatan kilen (Potter & Perry, 2005).
Asuhan keperawatan holistik mengintegrasikan intervensi yang mendukung
spiritualitas pasien. Untuk memberikan perawatan spiritual, perawat harus
memahami dimensi kesehatan spiritual dan mampu mengenali kebutuhan spiritual
seseorang (Potter & Perry, 2005).
2.5 Asuhan Keperawatan
a. Pengkajian
Keadaan di lingkungan klinik sekarang ini merupakan tantangan bagi
perawat, dengan jumlah pasien yang banyak dan waktu yang sedikit untuk mampu
mengidentifikasi kebutuhan spiritual pasien. Oleh karena itu, perawat
memerlukan kemampuan untuk melakukan pengkajian spiritual secara singkat
dengan menanyakan beberapa pertanyaan. Pasien memerlukan kesediaan perawat
untuk hadir secara fisik dan psikis dan berespon terhadap kebutuhan spiritual
pasien, baik yang dinyatakan secara verbal maupun nonverbal (Rieg, 2006).
Perawat tidak hanya harus memiliki apresiasi mengenai pentingnya
kebutuhan

spiritual

pasien

tetapi

juga

komponen

pengkajian

untuk

mengidentifikasi masalah spiritual. Beberapa alasan keengganan dalam mengkaji


kebutuhan spiritual pasien mungkin dikarenakan perawat sendiri memiliki
pandangan yang sempit terhadap spiritualitas mereka sendiri (Govier, 2000).
Pengkajian aspek spiritual memerlukan hubungan interpersonal yang baik
dengan pasien.
1.

Pengkajian data subjektif.

Meliputi konsep Tuhan atau Ketuhanan, sumber harapan dan kekuatan, praktik
agama dan ritual, hubungan antara keyakinan spiritual dan kondisi kesehatan.
2. Pengkajian data objektif.
Pengkajian data objektif dilakukan melalui pengkajian klinis yang meliputi
pengkajian afek dan sikap, perilaku, verbalisasi, hubungan interpersonal, dan
lingkungan. Pengkajian data objektif terutama dilakukan melalui observasi
(Hamid, 2008).
b. Diagnosis
Ketika meninjau pengkajian spiritual dan mengintegrasikan informasi
tersebut

ke

dalam

diagnosa

keperawatan

yang

sesuai,

perawat

mempertimbangkan status kesehatan pasien terakhir dari perspektif holistik.


Hampir semua diagnosa keperawatan mempunyai implikasi terhadap
spiritualitas pasien. Nyeri, ansietas, ketakutan, hambatan mobilitas, dan
kurang perawatan diri adalah contoh diagnosa keperawatan yang cukup umum
yang akan mengharuskan perawat untuk memadukan prinsip perawatan
spiritual (Potter&Perry, 2005).
Dalam North America Nursing Diagnosis Association (NANDA)
(2009), diagnosis keperawatan yang berhubungan dengan spiritual, antara lain
distres spiritual, resiko distres spiritual. Distres spiritual yaitu gangguan
kemampuan untuk mengalami dan mengintegrasikan makna dan tujuan hidup
melalui hubungan dengan diri sendiri, orang lain, seni, musik, literatur, alam,
dan atau kekuatan yang lebih besar daripada diri sendiri. Sedangkan resiko
distres spiritual yaitu resiko mengalami gangguan/hambatan kemampuan
untuk mengalami dan mengintegrasikan makna dan tujuan hidup.
Dalam North America Nursing Diagnosis Association (NANDA)
(2009), disebutkan bahwa karakteristik pasien yang mengalami distres
spiritual antara lain pasien yang mengungkapkan kurang dapat menerima
(kurang pasrah), mengungkapkan kurangnya motivasi, pasien yang marah,
mengungkapkan kurangnya ketenangan, merasa bersalah, koping yang buruk,

mengungkapkan rasa terasing, menolak interaksi, mengungkapkan telah


diabaikan,

mengungkapkan

marah

kepada

Tuhan,

mengungkapkan

ketidakberdayaan, mengungkapkan penderitaan.


c. Intervensi
Setelah diagnosis keperawatan dan faktor yang berhubungan
teridentifikasi, selanjutnya perawat dan pasien menyusun kriteria hasil dan
rencana intervensi. Tujuan asuhan keperawatan pada pasien yang mengalami
distres spiritual difokuskan dengan menciptakan lingkungan yang mendukung
praktik keagamaan dan keyakinan yang biasanya dilakukan (Hamid, 2008).
Rencana perawatan harus mencerminkan kebutuhan yang
teridentifikasi dan termasuk dukungan, mendengarkan aktif dan tidak
menghakimi, memberikan kenyamanan, bersikap empati. Pemenuhan
kebutuhan spiritual pasien merupakan tantangan untuk perawat untuk
menyediakan waktunya dari kesibukan rutin memberikan pelayanan kepada
pasien yang ada di rumah sakit (Govier, 2000).
Perencanaan pada pasien dengan distres spiritual dibuat untuk
memenuhi kebutuhan spiritual pasien dengan membantu pasien memenuhi
kewajiban agamanya, membantu pasien menggunakan sumber dari dalam
dirinya dengan cara lebih efektif untuk mengatasi situasi yang sedang
dialaminya, membantu pasien mempertahankan atau membina hubungan
personal yang dinamik dengan Maha Pencipta ketika sedang menghadapi
peristiwa yang kurang menyenangkan, membantu pasien mencari arti
keberadaannya dan situasi yang sedang dihadapinya, meningkatkan perasaan
penuh harapan (Hamid, 2008).
Salah satu intervensi keperawatan dari diagnosa distres spiritual adalah
support spiritual. Definisi support spiritual yaitu membantu pasien untuk
merasa seimbang dan berhubungan dengan kekuatan yang lebih besar.
Aktivitas support spiritual antara lain, bersikap terbuka denngan ekspresi
pasien yang merasa sendiri dan lemah, mendukung pasien untuk
menggunakan sumber-sumber spiritual, merujuk pada pembimbing rohani,

mampu untuk mendengar perasaan pasien, berekspresi empati dengan


perasaan pasien, memfasilitasi pasien dalam beribadah dan berdoa,
mendengarkan baik-baik komunikasi pasien, meyakinkan kepada pasien
bahwa perawat dapat memberikan support kepada pasien, membantu pasien
untuk berekspresi yang sesuai dan mengungkapkan rasa marah dengan cara
yang tepat (McCloskey & Bulechek, 2006).
d. Implementasi
Bagi perawat yang berpendapat bahwa mereka tidak mempunyai peran
dalam memberikan asuhan spiritual dan menganggap sudah ada pemuka
agama yang ada di rumah sakit, mereka dapat diingatkan bahwa jika
pelayanan keperawatan menjadi benar-benar pelayanan yang holistik, perawat
seharusnya dapat memberikan pemenuhan kebutuhan spiritual pasien melalui
asuhan spiritual yang diberikan. Namun, perawat juga harus mengenali
keterbatasan pada diri sendiri dan harus bekerja sama dengan disiplin ilmu
lain seperti pembimbing rohani yang ada di rumah sakit, sehingga dapat
berperan penting dalam memberikan dukungan terhadap kebutuhan spiritual
pasien (Govier, 2000).
Pada tahap implementasi, perawat menerapkan rencana intervensi
dengan melakukan prinsip-prinsip kegiatan asuhan keperawatan diantaranya,
tidak

mengasumsi

pasien

tidak

mempunyai

kebutuhan

spiritual,

mendengarkan secara aktif, menerapkan teknik komunikasi terapeutik,


menggali perasaan dan kekuatan yang dimiliki pasien, meningkatkan
kesadaran dengan kepekaan pada ucapan atau pesan verbal pasien, bersikap
empati yang berarti memahami perasaan pasien, memahami masalah pasien,
menentukan bagaimana pasien berespon terhadap penyakit, apakah pasien
menganggap penyakit yang dideritanya merupakan hukuman, cobaan, atau
anugerah dari Tuhan, membantu memfasilitasi pasien agar dapat memenuhi
kewajiban agama, menginformasikan pelayanan spiritual yang tersedia di
rumah sakit (Hamid, 2008).

10

e. Evaluasi
Seperti halnya aspek lain dalam keperawatan, asuhan spiritual juga
difokuskan untuk memperoleh tujuan yang diharapkan. Perawat perlu
mengumpulkan data terkait dengan pencapaian tujuan asuhan keperawatan
untuk mengevaluasi apakah pasien telah mencapai kriteria hasil yang
ditetapkan pada fase perencanaan. Tujuan asuhan keperawatan tercapai
apabila secara umum pasien mampu beristirahat dengan tenang, menunjukkan
rasa damai berhubungan dengan Tuhan, menunjukkan hubungan yang hangat
dan terbuka dengan pemuka agama, menunjukkan afek positif, tanpa perasaan
marah, rasa bersalah, dan ansietas, menunjukkan perilaku lebih positif,
mengekspresikan arti positif terhadap situasi dan keberadaannya (Hamid,
2008).
Asuhan spiritual merupakan komponen penting dalam praktek
keperawatan dan sering berhubungan dengan bagaimana respon seseorang
terhadap penyakitnya dan terkait dengan pengalaman hidup. Jika obat
membantu pemulihan tubuh/fisik, asuhan spiritual membantu pemulihan
pribadi/psikis pasien. Dimana tujuannya adalah untuk saling melengkapi dan
mengingatkan bahwa tidak ada keuntungan yang diperoleh ketika
menyembuhkan secara fisik apabila dalam proses pada diri sendiri terganggu
psikisnya (Govier, 2000)
2.6 Domain, kelas dan masalah keperawatan distress spiritual menurut NANDA
Domain 10 : Prinsip Hidup
Kelas 2 : Keyakinan
Definisi : suatu pola mengalami dan mengintegrasikan makna dan tujuan
hidup melalui hubungan dengan diri sendiri, orang lain, seni, music, literature,
alam, dan/atau kekuatan yang lebih besar daripada diri sendiri yang
ditingkatkan/diperkuat
Batasan Karakteristik
Hubungan dengan Diri Sendiri

11

Mengungkapkan keinginan meningkatkan penerimaan diri


Mengungkapakan keinginan meningkatkan koping
Mengungkapkan keinginan meningkatkan motivasi/dorongan
Mengungkapkan keinginan meningkatkan kemampuan memaafkan

diri sendiri
Mengungkapkan keinginan meningkatkan harapan
Mengungkapkan keinginan meningkatkan kesenangan
Mengungkapkan keinginan meningkatkan cinta
Mengungkapkan keinginan meningkatkan makna hidup
Mengungkapkan keinginan meningkatkan tujuan hidup
Mengungkapkan keinginan meningkatkan filosofi hidup

memuaskan
Mengungkapkan keinginan meningkatkan kepasrahan
Mengungkapkan keinginan meningkatkan ketentraman/ketenangan

(mis., kedamaian)
Meditasi

yang

Hubungan dengan Orang Lain


Memberikan layanan kepada orang lain
Meminta interaksi denagn orang terdekat
Meminta maaf pada orang lain

Hubungan dengan Seni, Musik, Literatur, Alam


Menunjukkan energi yang kreatif (miss., menulis, membuat puisi,

menyanyi
Mendengarkan musik
Menghabiskan waktu di luar ruang

Hubungan dengan Kekuatan yang Lebih Besar Daripada Dirinya Sendiri


Mengungkapkan kekaguman
Mengungkapkan penghormatan
Berpartisipasi dalam aktivitas keagamaan
Berdoa/beribadah
Melaporkan pengalaman mistis

12

BAB III
APLIKASI KASUS
Kasus
Ny. S 60 tahun, ibu rumah tangga, sedang dalam pemulihan mastektomi
radikalkanan.

Dokter

mengatakan

bahwa

kanker

sudah

metastatis,

prognosisnya buruk. Pagi ini perawat melihatnya menangis, menyatakan


bahwa ia kurang tidur dantidak nafsu makan. Ia bertanya kepada perawat
Mengapa Tuhan melakukan hal ini pada saya? Mungin hal ini karena saya
berlumur dosa. Saya sudah tidak pergi ke masjid atau berdoa selama beberapa
tahun terakhir. Apakah ada masjid yang dapat saya kunjungi dan saya dapat
berdoa disana ?saya sangat takut mati dan takut terhadap apa yang akan saya
hadapi.

1. Pengkajian
a. Fokus data
BiodataPasien

13

Nama
Umur
Agama
Pendidikan
Pekerjaan
Status pernikahan
Alamat
Diagnosa medis
Tgl.masuk
Pukul
Penanggungjawab

:Ny.S
: 60 tahun
:islam
: SMA
:Ibu rumah tangga
:Menikah
::Ca Mamae
: 14 Maret 2014
: 09.00 WIB

Nama
Umur
Agama
Pendidikan
Pekerjaan
Status Pernikahan
Alamat

:Tn.M
: 62 tahun
: Islam
: SMA
: Wiraswasta
: Menikah
:-

Status Kesehatan Saat Ini


Keluhan utama
Pasien mengatakan bahwa penyakit yang diderita disebabkan karena tidak
pergi ke masjid atau berdoa selama beberapa tahun terakhir
1. Riwayat Kesehatan
a. Riwayat Kesehatan saat ini
Ny. S dibawa ke Rumah Sakit Respati pada tanggal 14 Maret 2014
oleh suaminya untuk menjalani terapi pemulihan mastektomi
radikal kanan, Dokter mengatakan bahwa kanker sudah metastatis,
prognosisnya buruk.
b. Riwayat penyakit terdahulu
Riwayat kesehatan terdahulu pasien pernah mengalami kanker
payudara sejak 2 tahun yang lalu.
c. Riwayat penyakit keluarga
Keluarga pasien tidak mempunyai riwayat penyakit keturunan.
2. Basic Promoting of Health (Polakesehatansebelumdansesudahsakit)

14

No
1

Polakesehatan
Pola Makan

Sebelumsakit
Makan 3x sehari

Sesudahsakit
Makan 1x sehari (2

2
3
5
6

Tidurdanistirahat
Kenyamanan dan nyeri
Eliminasi urin
Sensori, persepsi dan

sendok makan)
Tidur 8 jam
Tidur 2-3 jam
Tidak ada nyeri
Nyeri pada payudara
??
Tidak
mengalami Tidak
mengalami

kognitif

gangguan

penglihatan, gangguan penglihatan,

pendengaran, penciuman pendengaran,


dan pengecapan

penciuman

dan

pengecapan

3. Pemeriksaan fisik
1. Keadaan umum
Kesadaran pasien penuh, dengan hasil vital sign klien meliputi
frekuensi nadi 80x/menit, respirasi klien 20x/menit, tekanan
darah 110/70 mmHg, dan suhu klien 37C.
2. Kepala
Setelah dilakukan pemeriksaan fisik kulit, muka dan rambut
normal. Kondisi mata konjungtiva anemis, sklera dan lensa
normal. Hidung pasien normal tidak ditemukan septum ataupun
polip, dan tidak ada gangguan dalam hidung pasien. Mulut dan
bibir klien tidak terjadi masalah. Telinga klien simetris, bersih dan
tidak terjadi gangguan pendengaran.
3. Leher
Leher pasien normal tidak terjadi pembesaran pada thyroid
ataupun lesi.
4. Tenggorokan
Tenggoroan pasien normal, tidak ada gangguan pada saat
menelan.
5. Dada
Terdapat benjolan pada payudara
6. Genetalia

15

Genetalia pasien normal, tidak terdapat keputihan ataupun


gangguan genetalia lainnya.
a. Analisa Data
No.Register
Nama klien
Umur
Diagnosa medis
Ruang
NO

: 1235
: Ny. S
: 60 tahun
: Mastektomi radikal kanan
: Raflesia
SYMTOMP

DS
1.Ny. S Merasa

DO

ETIOLOGI

PROBLEM

bahwa
dirinyaberlumur
dosa
2. Ny. S
mengatakan ia
sudah tidak pergi 1.Ny S menangis
ke masjid selama 2.TTV : N=80x/mnt
1

beberapa tahun

RR=20x/mnt

terakhir

TD=110/70 S=37C

3. Ny. S

Ujian
terhadap

Distres

kepercayaan

spiritual

spiritual

mengatakan
sangat takut mati
dan takut
terhadap apa
yang akan dia
hadapi

Domain

: 10 (Prinsip Hidup)

Kelas

: 3 (Nilai/kepercayaan/kongruensi tindakan)

16

Masalah keperawatan

: Distres spiritual

2. Diagnosis keperawatan
Distres spiritual berhubungan dengan ujian terhadap kepercayaan spiritual.
3. Rencana keperawatan / intervensi
No.Register : 1235
Nama klien : Ny. S
Umur
: 60 tahun
Ruang
: Raflesia
No.dx
1

Tujuan dan Kriteria Hasil (NOC)

Rencana

Tindakan Rasional

Optimisme yang secara pribadi

(NIC)
Memfasilitasi

Diharapkan pasien

memuaskan serta mendukung

perkembangan sikap

bisa

hidup pasien.
Hasil : 15 menit

positif pada situasi

keadaan

tertentu.
Seperti: memberikan

tenang

menerima
dengan

motivasi,
kesenangan, dan
1

Tingkat persepsi positif pasien


tentang status hidup saat ini
Hasil : 15 menit

semangat
Memfasilitasi

Diharap

pertumbuhan

lebih tenang saat

harapan dalam hidup

mengalami

pasien.
Seperti: Membaca

dan cemas

pasien
stres

litertur keagamaan,
mendengarkan music
religi, dan memberi
hiasan kata-kata
mutiara di ruangan
1

Meningkatkan hubungan pasien


dengan Tuhan YME.
Hasil : 30 menit

pasien.
Membantu pasien

Diharapkan pasien

untuk merasakan

lebih dekat dengan

keseimbangan dan

Tuhan

17

hubungan dengan
Tuhan YME.
Seperti: Sholat,
berdoa, dan berbagi
pengalaman religi.

4. Catatan keperawatan / implemetasi


No.Register : 1235
Nama klien

: Ny. S

Umur

: 60 tahun

Ruang

: Raflesia

Hari/tgl/jam

Jumat,

No.

Tindakan yang

Dx

dilakukan

14

Maret 2014

kesenangan,

dan optimis

semangat hidup

religi,

14
1

Pukul 10.20

Jumat,
Maret

14 1
2014

literatur

&
TTD

Memberikan

Maret 2014

Hasil

Memberikan Motivasi, Pasien

Pukul 10.00

Jumat,

Nama

dapat
terhadap

apa yang terjadi

music

membacakan Pasien

berfikir

keagamaan, positif

terhadap

dan menghiasi ruangan hidupnya dan dapat


dengan

kata-kata sabar

mutiara kepada pasien.


Membantu pasien untuk Pasien
sholat,

dan

dapat

berdoa beribadah lagi, dan

18

merasakan
serta

pukul 12.00

berbagi

pengalaman religi.

kedekatan
hamba

antara
dengan

Tuhan YME

5. Catatan perkembangan / evaluasi


No.Register
: 1235
Nama klien
: Ny. S
Umur
: 60 tahun
Ruang
: Raflesia
Hari / tgl / No.
jam

diagnose

Perkembangan

Nama dan
TTD

S : Pasien mampu untuk mengalami dan


mengintegrasikan makna dan tujuan
hidup melalui hubungan dengandiri
sendiri, buku, music, lingkungan, dan
Tuhan YME
O : TTV : N = 80x/mnt
00066

RR = 20x/mnt
TD = 110/70
S = 37C
A : Masalah teratasi
P : Perencanaan tindakan dihentikan
dan diberikan health education

19

BAB IV
PENUTUP

3.1 Simpulan
1. Spiritualitas adalah keyakinan dalam hubungannya dengan Yang Maha Kuasa
dan Maha Pencipta. Sebagai contoh seseorang yang percaya kepada Allah
sebagai Pencipta atau sebagai Maha Kuasa
2. Patofisiologi distress spiritual tidak bisa dilepaskan dari stress dan struktur
serta fungsi otak
3. Faktor-faktor yang dapat mempengaruhi spiritualitas seseorang adalah tahap
perkembangan, keluarga, latar belakang etnik dan budaya, pengalaman hidup
sebelumnya, krisis dan perubahan, terpisah dari ikatan spiritual, isu moral
terkait dengan terapi, dan asuhan keperawatan yang kurang sesuai (Hamid,
2008).
3.2 Saran
Dalam penulisan makalah ini, memberikan keleluasan pada pembaca yang
hendak melengkapi makalah dari sumber yang berbeda. Dan semoga dengan
selesainya makalah ini dapat bermanfaat bagi penulis dan juga bagi pembaca
pada umumnya.

DAFTAR PUSTAKA
20

Potter&Perry. 2005. Buku Ajar Fundamental Keperawatan. Edisi 4. Jakarta :


Penerbit Buku Kedokteran EGC

Judith&Nancy. 2012. Buku Saku Diagnosis Keperawatan. Edisi 9. Jakarta :


Penerbit Buku Kedokteran EGC

Cynthia&Sheila. 2010. Diagnosis Keperawatan dengan Rencana Asuhan. Edisi


10. Jakarta : Penerbit Buku Kedokteran EGC

Herdman, T. Heater. 2012. Diagnosis Keperawatan : Definisi dan Klasifikasi


2012-2014. Jakarta : Penerbit Buku Kedokteran EGC

21