Anda di halaman 1dari 4

TUGAS PSIKOFARMAKA KEPERAWATAN JIWA I

AKADEMI KESEHATAN KARYA HUSADA YOGYAKARTA


TAHUN 2013/2014
A. Definisi
Psikofarmaka atau obat psikotropik adalah obat yang bekerja secara selektif pada Sistem Saraf Pusat (SSP) dan mempunyai efek utama
terhadap aktivitas mental dan perilaku, digunakan untuk terapi gangguan psikiatrik yang berpengaruh terhadap taraf kualitas hidup pasien.
(Stahl,S.M. 2002)
Psikofarmaka atau obat psikotropik adalah obat yang bekerja secara selektif pada Sistem Saraf Pusat (SSP) dengan mempengaruhi
fungsi-fungsi psikis dan proses mental. ( Schatzberg,A.F., 2001).
Psikofarmaka atau obat psikotropik adalah obat yang bekerja secara selektif pada Sistem Saraf Pusat (SSP) dan mempunyai efek utama
terhadap aktivitas mental dan perilaku, digunakan untuk terapi gangguan psikiatrik yang berpengaruh terhadap taraf kualitas hidup pasien. (Andri,
2009)
B. Klasifikasi
Obat psikotropik dibagi menjadi beberapa golongan, diantaranya: antipsikosis, anti-depresi, anti-mania, anti-ansietas, anti-insomnia, antipanik, dan anti obsesif-kompulsif,. Pembagian lainnya dari obat psikotropik antara lain: transquilizer, neuroleptic, antidepressants dan
psikomimetika. (Andri, 2009)
Golongan obat psikofarmaka yang banyak dipergunakan adalah obat antipsikosis, obat anti mania dan obat antidepresi. Penggunaan jenis
obat ini perlu pengawasan yang ketat karena seringkali menimbulkan efek samping seperti ketergantungan psikologis dan fisik yang dapat
mengakibatkan keracunan obat, depresi dan kehilangan sifat menahan diri, gangguan paru-paru, gangguan psikomotoris dan iritatif (mudah
marah, gelisah dan ansietas bila obat dihentikan). Oleh sebab itu, banyak variable yang melekat pada praktek psikofarmakologi, termasuk
pemilihan obat, peresepan, pemberian, arti psikodinamika bagi pasien dan pengaruh keluarga serta lingkungan.
Obat psikotropik dibagi menjadi beberapa golongan, diantaranya: anti-psikosis, anti-depresi, anti-mania, anti-ansietas, anti-insomnia,
anti-panik, dan anti obsesif-kompulsif,.Dalam tulisan ini khususnya akan dibahas mengenai anti-psikotik, anti-depresan, anti-ansietas dan antimania (mood stabilizer).

NO

PENGERTIAN

INDIKASI

EFEK SAMPING

KONTRA INDIKASI

1.

Anti-psikosis disebut juga neuroleptic,


dahulu dinamakan major transquilizer.
Salah satunya adalah chlorpromazine
(CPZ), yang diperkenalkan pertama kali
tahun 1951 sebagai premedikasi dalam
anastesi akibat efeknya yang membuat
relaksasi tingkat kewaspadaan seseorang.
CPZ segera dicobakan pada penderita
skizofrenia
dan
ternyata
berefek
mengurangi delusi dan halusinasi tanpa
efek sedatif yang berlebihan.(metta 2005)

Obat anti-psikosis merupakan


pilihan pertama dalam menangani
skizofreni,
untuk
memgurangi
delusi, halusinasi, gangguan proses
dan isi pikiran dan juga efektif
dalam mencegah kekambuhan.
Major transquilizer juga efektif
dalam menangani mania, Tourettes
syndrome, perilaku kekerasan dan
agitasi
akibat
bingung
dan
demensia.
Juga
dapat
dikombinasikan
dengan
antidepresan dalam penanganan depresi
delusional.

Efek samping obat anti-psikosis


dapat berupa :
Sedasi dan Inhibisi Psikomotor (rasa
mengantuk, kewaspadaan berkurang,
kinerja
psikomotor
menurun,
kemampuan kognitif menurun)
Gangguan
Otonomik
(hipotensi,
antikolinergik/parasimpatolitik
:mulut
kering, kesulitan miksi dan defekasi,
hidung tersumbat, mata kabur, tekanan
intreokuler yang tinggi, gangguan irama
jantung)
Gangguan ekstrapiramidal (distonia akut,
akathisia, sindrom parkinson : tremor,
bradikinesia, rigiditas)
Gangguan
Endokrin
(amenorrhoe,
gynaecomastia) metabolik (jaundice),
hematologik (agranulositosis), biasanya
pada pemakaian panjang.
Efek samping lain terdapat juga yang
"irreversible" : tardive dyskinesia
(gerakan berulang involunter pada :
lidah, wajah, mulut/rahang, anggota
gerak, dimana pada waktu tidur gejala
tersebut menghilang). biasanya terjadi
pada pemakaian jangka panjang (terapi
pemeliharaan) dan pada pasien usia
lanjut. Efek samping ini tidak berkaitan
dengan dosis obat anti-psikosis (non dose
related)

Obat anti-psikosis
Berkontraindikasi dengan : penyakit hati,
penyakt darah, kelainan jantung,
epilepsy, febris yang tinggi, penyakit
SSP, ketergantungan alcohol, dan
gangguan kesadaran.

2.

Obat Anti-depresan
Sinonim
antidepresan
adalah
thimoleptika atau psikik energizer.
Umumnya yang digunakan sekarang
adalah dalam golongan trisiklik (misalnya
imipramin, amitriptilin, dothiepin dan
lofepramin). Antidepresan adalah obat

Obat anti-depresan ditujukan Sedasi (Rasa mengantuk, efek aditif


kepada penderita depresi dan
dengan sedatif lain)
kadang berguna juga pada penderita Simpatomimetik (Gemetar, insomnia)
ansietas fobia, obsesif-kompulsif, Antimuskarinik (Penglihatan kabur,
dan mencegah kekambuhan depresi.
konstipasi, susah
buang air kecil,
kebingungan)
Kardiovaskular (Hipotensi ortostatik,

Obat Anti-depresan
Berkontraindikasi pada penyakit jantung
koroner, Glaucoma, retensi urin,
hipertensi prostat, gangguan fungsi hati,
epilepsy.

yang mampu memperbaiki suasana jiwa


dengan menghilangkan atau meringankan
gejala keadaan murung, yang idak
disebabkan
oleh
kesulitan
social
ekonomi, obat-obatan, atau penyakit.

3.

Obat Antimania disebut juga sebagai


Mood Modullators, Mood Stabilizers,
Antimanics. Obat Antimania adalah obat
yang digunakan untuk mengendalikan
kecenderungan patologis untuk suatu
aktivitas tertentu, yang tidak dapat
dikendalikan,
misalnya
mengutil
(kleptomania).

4.

Anti Ansietas Sering juga disebut:


Psycholeptics,
Minortranqulizers,
Anxyolitics, Ansiolitika. Obat Anti
Ansietas adalah suatu kelompok zat yang
digunakan untuk pengobatan ansietas
berlebihan

5.

Anti-Insomnia sinonimnya adalah


hipnotik, somnifacient, atau hipnotika.
Obat acuannya adalah fenobarbital.

6.

Obat Anti panik

defek konduksi, aritmia)


Efek Antikolinergik
(mulut kering,
penghilatan kabur, konstipasi, sinus
takikardi)
Efek Anti Adrenergik Alfa (perubahan
EKG, hipotensi)
MAOI (Gangguan tidur, berat badan
meningkat, hipotensi postural)
Mania dan hipomania, lebih efektif
pada kondisi ringan. Pada mania
dengan kondisi berat pemberian
obat anti mania dikombinasi dengan
obat antipsikotik.

Obat anti-insomnia bekerja pada


reseptor BZ1 di susunan saraf pusat
yang berperan dalam memperantara
proses tidur.

Efek samping lithium berhubungan erat


dengan dosis dan kondisi fisik pasein. Efek
samping dini yaitu mulut kering, haus,
gastrointestinal distress, kelemahan otot,
poliuria, tremor halus,. Sedangkan efek
samping lain yaitu : hipotiroidisme,
peningkatan BB, odema, lekositosis,
gangguan daya ingat dan konsentrasi

Obat Antimania
Berkontraindikasi pada ibu hamil dan
menyusui.

Efek samping yang ditimbulkan dari


penggunaan obat antiansietas antara lain :
mengantuk,
kewaspadaan
berkurang,
kinerkaa
psikomotor
menurun,
kemampuan kognitif melemah, relaksasi
otot (rasa lemas, cepat lelah),

Pasien dengan hipersensitif terhadap


benzodiazepin, glaukoma, miastenia
gravis, insufisiensi paru kronik,
penyakit ginjal dan penyakit hati
kronik Pada pasien usia lanjut dan
anak dapat terjadi reaksi yang
berlawanan
(paradoxal
reaction)
berupa
kegelisahan,
iritabilitas,
disinhibisi, spasitas otot meningkat dan
gangguan tidur.
Obat Anti-Insomnia
Berkontraindikasi pada wanita hamil dan
menyusui, gagal jantung, penyakit
pernapasan akut, dan sleep apnoe
syndrome.

Efek samping yang ditimbulkan yaitu


supresi SSP pada saat tidur, rebound
phenomen.
Disinhibiting efect yang menyebabkan
perilaku penyerangan dan ganas pada
penggunaan golongan benzodiazepine
dalam waktu yang lama
Efek samping obat anti panik golongan
trisiklik antaralain sebagai berikut :

Pada penggunaan fluoksatin, kontra


indikasi terhadap pasien yang telah

1.

7.

Farmakodinamik
Sindrom panik berkaitan dengan
hipersensitivitas
dari
serotonic
reseptor di SSP. Mekanisme kerja obat
antipanik
adalah
menghambat
reuptake serotonin pada celah sinaptik
antar neuron.

Obat Anti Obsesif-Kompulsif


Dalam membicarakan obat anti obsesi
kompulsi yang menjadi acuan adalah
klomipramin.
Obat anti obsesi kompulsi dapat
digolongkan menjadi :
1.
Obat anti obsesi kompulsi
trisiklik, contoh klomipramin
2.
Obat anti obsesi kompulsi SSRJ,
contoh
sentralin,
paroksin,
flovokamin, fluoksetin

1.

Efek antihistamin : sedasi, rasa


mengantuk, kewaspadaan berkurang,
kinerja psikomotor menurun, dan
kemampuan kognitif yang menurun.
2.
Efek anti kolinergik : mulut
kering, keluhan lambung, retensi urin
sampai disuria, penglihatan kabur,
konstipasi, gangguan fungsi seksual dan
takikardi.
3.
Efek anti adrenergik alfa :
perubahan EKG dan hipotensi ortostatik.

Menghambat re-uptake
neurotransmitter serotonin sehingga
gejala mereda.

Efek neurotoksik : tremor halus, kejang


epileptik, agitasi dan insomnia.
1. Efek antihistamin : sedasi, rasa
mengantuk, kewaspadaan berkurang,
kinerja psikomotor menurun, dan
kemampuan kognitif yang menurun.
2. Efek anti kolinergik : mulut kering,
keluhan lambung, retensi urin sampai
disuria, penglihatan kabur, konstipasi,
gangguan fungsi seksual dan takikardi.
3. Efek anti adrenergik alfa : perubahan
EKG dan hipotensi ortostatik.
4. Efek neurotoksik : tremor halus,
kejang epileptik, agitasi dan insomnia.

menggunakan MAO selama 2 minggu


terakhir. Tidak dianjurkan pada anakanak dan ibu hamil.