Anda di halaman 1dari 72

DAFTAR PUSTAKA

Mulyono, Tri, Ir, MT, Teknologi Beton, penerbit CV.Andi Offset


Ida Bagus Dharma Giri', I Ketut Sudarsana, dan Ni Made Tutarani dalam Tulisan KUAT
TEKAN DAN MODULUS ELASTIS BETON DENGAN PENAMBAHAN
STYROFOAM
Subadja, A, Ir , MT, Modul perencanaan Beton Mutu Tinggi Methode ACI.
Tristanto, Laneke, Ir, Perencanaan dan pengendalian adukan beton,
Anonim. 1990. Tata Cara Pengujian Kuat Tarik Beton (SK SNI M-60-1990-03).
Yayasan Lembaga Penyelidikan Masalah Bangunan: Jakarta.
Tjokrodimulyo, K. 1996. Teknologi Beton. Nafiri: Yogyakarta.
Http://www.wisegeek.com/what-is-expanded-polystyrene.htm
Adi Harso. 2000. Kekedapan dan Kuat Tekan Beton Menggunakan Batu Feldspar dari
Purwanegara Banjarnegara Jawa Tengah Ditinjau dari Variasi Fas (0,4; 0,45;
0,5; 0,55; 0,6) dengan Berat Semen 450 kg/m3. Skripsi Jurusan Teknik Sipil
Fakultas Teknik Universitas Negeri Semarang.
Anonim. 1990. Tata Cara Pengujian Kuat Tarik Beton (SK SNI M-60-1990-03).
Yayasan Lembaga Penyelidikan Masalah Bangunan: Jakarta
Anonim. 1991. Tata Cara Perhitungan Struktur Beton Bertulang Untuk Bangunan Gedung
(SK SNI-T-1991-03). Yayasan Lembaga Penyelidikan Masalah Bangunan: Jakarta.
Dipohusodo, I. 1999. Struktur Beton Bertulang Berdasarkan SK SNI-T-15-1991-03
Departemen Pekerjaan Umum RI. PT Gramedia Pustaka Utama: Jakarta.
Harmulif. 2004. Pemakaian 25 % Abu Batu dari Campuran dengan Jumlah Semen 350
kg/m3 terhadap Sifat-Sifat Beton. Skripsi Jurusan Teknik Sipil Fakultas Teknik
Universitas Negeri Semarang: Semarang.
Mardiyanto, Ferry Eko. 1999. Pengaruh Kosentrasi Serat Kawat Bendrat dan Faktor Air
Semen terhadap Kuat Tekan dan Lentur Pada Beton Non Pasir. Tugas Akhir
Jurusan Teknik Sipil Fakultas Teknik Universitas Janabadra: Yogyakarta.

LAMPIRAN

A. PENGUJIAN BAHAN PEREKAT HIDROLIS.

LA-1

B. PENGUJIAN BAHAN AGREGAT

LA-2

C. PENGUJIAN KADAR ZAT ORGANIK ..

LA-3

D. UJI KADAR BUTIR LOLOS AYAKAN

UNTUK AGREGAT

HALUS DAN KASAR .....................................

LA-4

E. UJI BERAT JENIS BUTIR DAN PENYERAPAN AIR AGREGAT


KASAR DAN HALUS ..
F. PENGUJIAN ABRASI AGREGAT KASAR

LA-5

MENGGUNAKAN

MESIN LOS ANGLES.

LA-6

G. LAMPIRAN GAMBAR PELAKSANAAN

LA-7

H. LAMPIRAN HASIL UJI MODULUS ELASTISITAS BETON ..

LA-8

LAMPIRAN

LAPORAN REKAYASA BETON


JURUSAN TEKNIK SIPIL
POLITEKNIK NEGERI BANDUNG
Jl. Gegerkalong Hilir Ds. Ciwaruga Kotak Pos 6468 BDCD Tlp. (022) 2013789, Ext.266 Bandung

Subjek : Pengujian Bahan Perekat Hidrolis


Topik : Uji Berat Jenis Semen Portland
I.

No. Uji : 1
Halaman : 1/9

Referensi
1. ASTM C. 188-89, Pengujian Density
2. ASTM C. 150, Standard Specification for Portland Cement
3. SNI 03-2531-1991, Metode Pengujian Berat Jenis Semen

II.

Tujuan
Menentukan kemurnian semen Portland berdasarkan berat jenisnya.

III.

Dasar Teori
Semen Portland merupakan salah satu bahan perekat hidrolis yang
dibuat dari campuran bahan yang mengandung oksida utama yaitu
kalsium, silica, alumina dan besi. Umumnya semen Portland dibuat dalam
suatu industri berteknologi modern dengan pengaturan komposisi yang
akurat, sehingga terjamin mutunya. Namun demikian perbedan pengaturan
komposisi

dan

lamanya

semen

Portland

dalam

penyimpanan

memungkinkan terjadinya ketidakmurnian dan pengurangan mutu.


Mineral-mineral dalam semen porland, secara individu masingmasing mempunyai sifat-sifat tersendiri mengenai waktu hidrasi,
perkembangan kekuatan tekan, perkembangan panas hidrasi dan
sebagainya. Dengan menetapkan batas-batas tertentu pada kombinasi
kimianya, terbuka kemungkinan untuk mengubah sifat-sifat semen
Portland, sehingga menjadi lebih cocok bagi penggunaannya dalam
keadaan-keadaan khusus.
Kita mengenal 5 tipe semen Portland, yaitu tipe I, II, III IV, V,
sesuai dengan klasifikasi yang ditentukan oleh ASTM. Apabila semen
bereaksi dengan air, maka timbulah panas hidrasi yang cukup banyak.
Komponen C3S dan C3A menghidrasi cukup cepat, sedangkan C2S dan
C4AF menghydrasi lebih lambat serta mengeluarkan panas hidrasi dengan
kecepatan yang lebih rendah.

LAPORAN REKAYASA BETON


JURUSAN TEKNIK SIPIL
POLITEKNIK NEGERI BANDUNG
Jl. Gegerkalong Hilir Ds. Ciwaruga Kotak Pos 6468 BDCD Tlp. (022) 2013789, Ext.266 Bandung

Subjek : Pengujian Bahan Perekat Hidrolis


Topik : Uji Berat Jenis Semen Portland

No. Uji : 1
Halaman : 2/9

Banyaknya panas untuk 1 gram bahan dalam kalori per gram pada
saat terjadi hidrasi adalah :
136(C3S) + 62(C2S) + 200(C3A) + 30(C4AF)
Tipe I
Semen portland standar digunakan untuk semua bangunan beton yang
tidak akan mengalami perubahan cuaca yang dahsyat atau dibangun dalam
lingkungan yang sangat koresif.
Tipe II
Untuk bangunan yang menggunakan pembetonan secara masal, seperti
dam, panas hidrasi tertahan dalam bangunan untuk jangka waktu lama.
Pada saat terjadi pendinginan timbul tegangan-tegangan akibat perubahan
panas yang akan menyebabkan retak-retak pada bangunan. Untuk
mencegah terjadinya hal-hal yang tidak diinginkan itu, dibuatlah jenis
semen yang mengeluarkan panas hidrasi lebih rendah serta dengan
kecepatan penyebaran panas yang rendah pula. Dengan memperhatikan
rumus untuk menghitung panas hidrasi jelaslah bahwa C3S dan C4AF
menghidrasi lambat, dengan menimbulkan panas hidrasi lebih rendah.
Dengan menambah prosentase C2S dari semen portland tipe I dan
mengurangi prosentase C3A dan C3S disamping itu semen tipe II ini lebih
tahan terhadap serangan sulfat daripada tipe I. Semen tipe II disebut juga
modified portland cement dan penggunaannya sama seperti untuk tipe I
ditambah dua keuntungan yang disebut diatas itu.
Tipe III
Semen portland tipe III adalah jenis semen cepat mengeras, yang cocok
untuk pengecoran beton pada suhu rendah. Kadar C3S dan C3A adalah
tinggi, tanpa pembatasan batas atas pada prosentase C3S, sedangkan
prosentase C3A cukup tinggi, sehingga tidak akan dicapai oleh semen tipe
I. Butiran-butiran semennya digiling lebih halus daripada butiran-butiran
semen tipe I untuk mempercepat proses hidrasi, yang diikuti dengan
percepatan pengerasan serta percepatan pengembangan kekuatan.

LAPORAN REKAYASA BETON


JURUSAN TEKNIK SIPIL
POLITEKNIK NEGERI BANDUNG
Jl. Gegerkalong Hilir Ds. Ciwaruga Kotak Pos 6468 BDCD Tlp. (022) 2013789, Ext.266 Bandung

Subjek : Pengujian Bahan Perekat Hidrolis


Topik : Uji Berat Jenis Semen Portland

No. Uji : 1
Halaman : 3/9

Kekuatan tekan 3 hari semen tipe III adalah sama dengan kekuatan tekan
semen tipe I umur 7 hari. Semen tipe III disebut juga semen dengan
kekuatan awal tinggi. Jenis ini digunakan bilamana kekuatan harus
dicapai dalam waktu sangat singkat, walaupun harganya sedikit lebih
mahal. Biasanya dipakai pada pembuatan jalan yang harus cepat dibuka
untuk lalu-lintas; juga apabila acuan itu harus bisa dibuka dalam waktu
singkat. Panas hidrasi 50% lebih tinggi dari pada yang ditimbulkan semen
tipe I.
Tipe IV
Semen portland tipe IV ini menimbulkan panas hidrasi rendah dengan
prosentase max. untuk C3S sebesar 35%, untuk C3A sebesar 7% dan untuk
C2S prosentrase minimum sebesar 40%. Tipe IV ini tidak lagi diproduksi
dalam jumlah besar seperti pada waktu pembuatan Hoover Dam, akan
tetapi telah diganti dengan tipe II yang disebut modified portland
cement.
Tipe V
Semen Portland tipe V ini tahan terhadap serangan sulfat serta
mengeluarkan panas. Reaksi antara C3A dan gips CaSO4, menyebabkan
terjadinya Calsium sulfoalminat. Dengan cara yang sama, dalam semen
yang telah mengeras, hidrat dari C3A dapat bereaksi dengan garam-garam
sulphat dari luar. Kemudian membentuk Calsium sulfoalminat di dalam
struktur semen pasta yang telah terhidrasi itu.

Semen type V ini,

mengandung kurang dari 5 % C3A dan sejumlah terbatas C4AF dan


Magnesium. Kadar C3S dibatasi sampai dengan 50 % oleh karena C3S
melepaskan sejumlah banyak Ca(OH)2 selama berlangsungnya hidrasi,
sehingga akan mengurangi ketahanan semen terhadap serangan kimia.
Salah satu pengujian yang dapat mengindikasikan kepada hal tersebut
adalah dengan pengujian berat jenisnya. Berat jenis semen Portland pada
umumnya berkisar antara 3.00 sampai 3.20 dengan angka rata-rata 3.15.
Jika berat jenis semen Portland kurang dari 3.00 maka semen dianggap

LAPORAN REKAYASA BETON


JURUSAN TEKNIK SIPIL
POLITEKNIK NEGERI BANDUNG
Jl. Gegerkalong Hilir Ds. Ciwaruga Kotak Pos 6468 BDCD Tlp. (022) 2013789, Ext.266 Bandung

Subjek : Pengujian Bahan Perekat Hidrolis


Topik : Uji Berat Jenis Semen Portland

No. Uji : 1
Halaman : 4/9

tidak murni lagi atau tercampur bahan lain, dan jika digunakan dalam
pembuatan beton, maka beton yang dihasilkan bermutu rendah dan mudah
rusak, begitu pula terhadap ikatan-ikatan tidak akan sempurna. Berat jenis
semen Portland dapat dihitung dengan rumus :
BJ = W / ((V2 V1) x d)

IV.

BJ

Berat jenis semen Portland (gram/ml)

Berat semen Portland (gram)

V1

Volume awal (ml)

V2

Volume akhir (ml)

Massa jenis air pada suhu ruang yang tetap 4C (1 gram/ml)

Peralatan dan Bahan


1. Peralatan
No

Nama

Gambar

Peralatan

Peralatan

Keterangan

Lee

Terbuat dari gelas

Chatelier

berbentuk labu sesuai

Flask

ASTM C. 188

Corong

Terbuat dari gelas / kaca

Kaca

2 buah

Timbangan

Ketelitian 0,001 gram

LAPORAN REKAYASA BETON


JURUSAN TEKNIK SIPIL
POLITEKNIK NEGERI BANDUNG
Jl. Gegerkalong Hilir Ds. Ciwaruga Kotak Pos 6468 BDCD Tlp. (022) 2013789, Ext.266 Bandung

Subjek : Pengujian Bahan Perekat Hidrolis


Topik : Uji Berat Jenis Semen Portland

No. Uji : 1
Halaman : 5/9

Kuas

Penusuk

Terbuat dari kawat baja

Bejana

Breaker plastik / gelas

2. Bahan
No

V.

Nama Bahan

Keterangan

Semen Portland

Type PCC Merk Tiga Roda

Kerozen / Naptha

Berat jenis 62 API (Amarican Petroleum Institute)

Kertas tisue

Prosedur Pengujian
1. Siapkan alat dan bahan yang akan dipakai.
2. Masukkan kerozen kedalam botol Le Chatelier dengan bantuan corong
antara skala 0 1.

3. Kemudian bagian dalam botol di atas permukaan cairan (kerozen)


dikeringkan dengan bantuan kawat yang bagian ujungnya telah dililiti
kertas tissue dengan maksud agar semen yang nanti akan dimasukkan

LAPORAN REKAYASA BETON


JURUSAN TEKNIK SIPIL
POLITEKNIK NEGERI BANDUNG
Jl. Gegerkalong Hilir Ds. Ciwaruga Kotak Pos 6468 BDCD Tlp. (022) 2013789, Ext.266 Bandung

Subjek : Pengujian Bahan Perekat Hidrolis


Topik : Uji Berat Jenis Semen Portland

No. Uji : 1
Halaman : 6/9

tidak menempel pada dinding botol. Usahakan tidak terendam dalam


kerozen.

Bbatas kerozen

4. Simpan botol Lee Chatelier yang berisi kerozen tadi kedalam ruangan
terkondisi selama 15 menit untuk menyamakan suhu cairan dalam botol
dengan suhu yang ditetapkan pada botol. Catat suhu ruangan dan
kelembaban ruangan tersebut.
5. Setelah suhu cairan dalam botol sama dengan suhu yang ditetapkan pada
botol, baca skala pada botol (V1).
6. Timbang semen portland 56,6 gram, kemudian masukkan semen tersebut
kedalam botol sedikit demi sedikit dengan menggunakan corong yang
belum digunakan, hindarkan penempelan semen pada dinding botol.

7. Apabila ada semen yang menempel pada dinding botol, bersihkan dengan
kawat yang sebelumnya telah dilapisi kerozen (agar volume kerozen tidak
berkurang) sehingga semen terendam dalam kerozen.

8. Setelah semua semen Portland (benda uji) dimasukkan dan pastikan tidak
ada semen yang tidak terendam kerozen karena akan mempengaruhi hasil

LAPORAN REKAYASA BETON


JURUSAN TEKNIK SIPIL
POLITEKNIK NEGERI BANDUNG
Jl. Gegerkalong Hilir Ds. Ciwaruga Kotak Pos 6468 BDCD Tlp. (022) 2013789, Ext.266 Bandung

Subjek : Pengujian Bahan Perekat Hidrolis


Topik : Uji Berat Jenis Semen Portland

No. Uji : 1
Halaman : 7/9

uji, putar botol dengan posisi agak miring secara perlahan dengan
menggunakan kedua telapak tangan sampai gelembung udara tidak timbul
lagi pada permukaan cairan.

9. Ulangi pekerjaan pada langkah 2 dan 3 di atas, kemudian baca skala pada
botol (V2).

LAPORAN REKAYASA BETON


JURUSAN TEKNIK SIPIL
POLITEKNIK NEGERI BANDUNG
Jl. Gegerkalong Hilir Ds. Ciwaruga Kotak Pos 6468 BDCD Tlp. (022) 2013789, Ext.266 Bandung

Subjek : Pengujian Bahan Perekat Hidrolis


Topik : Uji Berat Jenis Semen Portland
VI.

No. Uji : 1
Halaman : 8/9

Hasil dan Contoh Perhitungan


BERAT JENIS SEMEN PORTLAND
(ASTM C. 188 92)
Contoh benda uji

Dikerjakan

Tanggal uji

Suhu :

24 C

RH

85 %

Semen Portland Tipe 1 Merk Gresik

1 Maret 2010

Semen Portland
Nomor Contoh

II

Berat Benda Uji (gram)

61,00

59,55

Volume Awal (ml)

V1

0,8

0,5

Volume Akhir (ml)

V2

20,8

19, 9

Berat Jenis Semen

B / ((V2 V1) x d)

3,05

3,07

BJ Rata-rata

BJ= 61,00

3,06

= 3,05

(1)

= 3,07

( II )

(20,8 0,8) x 1
BJ= 59,55
(19,9 0,5) x 1
BJ rata-rata

(3,05+3,07) / 2 =

3,06

III

LAPORAN REKAYASA BETON


JURUSAN TEKNIK SIPIL
POLITEKNIK NEGERI BANDUNG
Jl. Gegerkalong Hilir Ds. Ciwaruga Kotak Pos 6468 BDCD Tlp. (022) 2013789, Ext.266 Bandung

Subjek : Pengujian Bahan Perekat Hidrolis


Topik : Uji Berat Jenis Semen Portland
VII.

No. Uji : 1
Halaman : 9/9

Kesimpulan
Berdasarkan hasil pengujian, BJ semen yang diuji memenuhi syarat
karena BJ semen Portland pada umumnya berkisar antara 3,00 3,20,
hasil pengujian didapat BJ semen Portland 3,06.

LABORATORIUM REKAYASA BETON


JURUSAN TEKNIK SIPIL
POLITEKNIK NEGERI BANDUNG
Jl. Gegerkalong Hilir Ds. Ciwaruga Kotak Pos 6468 BDCD Tlp. (022) 2013789, Ext. 266 Bandung

Subjek

: Pengujian Bahan Agregat

Topik

: Uji Kadar Zat Organik Agregat dengan


Perbandingan Warna (Standard Color Test)

I.

No. Uji

: 04

Halaman

: 1/7

REFERENSI
1. SNI 03-2816-1992, Metode Pengujian Kotoran Organik dalam Pasir
untuk Campuran Mortar atau Beton
2. ASTM C-117-95, Material Finer than 75 mm Siere in Mineral Aggregates
by Washing
3. ASTM C-40-92, Test Method for Organic Impurities in Fine Aggregates
for Concrete

II.

TUJUAN
Untuk mengetahui kadar zat organik yang terkandung di dalam agregat
halus dengan memperhatikan warna cairan di atas permukaan agregat halus
dalam botol susu bayi dan membandingkannya dengan warna standar dari
larutan pembanding.

III.

DASAR TEORI
Keberadaan zat organik terutama yang terdapat dalam agregat halus,
umumnya berasal dari penghancuran zat-zat tumbuhan, terutama yang
berbentuk asam tanin dan dirivatnya yang berbentuk humus dan lumpur
organik.
Kandungan zat organik di dalam agregat halus sangat berpengaruh
terhadap perkembangan kekuatan beton yang diakibatkan oleh terhambatnya
pengerasan semen. Selain itu, kandungan zat organik ini dapat pula
mempengaruhi kekuatan terhadap serangan karat pada tulangan beton.
Salah satu cara pengujian zat organik di dalam agregat halus ini dapat
dilakukan dengan mengextract / memisahkannya menggunakan larutan NaOH
3 % sehingga akan terjadi perubahan warna yang selanjutnya akan

LABORATORIUM REKAYASA BETON


JURUSAN TEKNIK SIPIL
POLITEKNIK NEGERI BANDUNG
Jl. Gegerkalong Hilir Ds. Ciwaruga Kotak Pos 6468 BDCD Tlp. (022) 2013789, Ext. 266 Bandung

Subjek

: Pengujian Bahan Agregat

Topik

: Uji Kadar Zat Organik Agregat dengan


Perbandingan Warna (Standard Color Test)

No. Uji

: 04

Halaman

: 2/7

dibandingkan dengan larutan pembanding, apakah lebih muda atau lebih tua
dari larutan pembanding tersebut.
Warna yang lebih tua dari larutan pembanding menunjukkan kadar zat
organik dalam agregat halus adalah tinggi, dan sebaliknya. Jika ternyata
warna yang dihasilkan lebih muda dari larutan pembanding, maka kadar zat
organik dalam agregat halus adalah rendah.
IV.

PERALATAN DAN BAHAN


4.1. Peralatan

No

Nama

Gambar

Peralatan

Peralatan

Keterangan

Botol susu
1

bayi

Tempat pengujian sample

berskala

Sekop gula

Untuk mengambil sample


aggregat

Corong
plastik
Untuk memasukan aggregat
dan air ke dalam botol susu

LABORATORIUM REKAYASA BETON


JURUSAN TEKNIK SIPIL
POLITEKNIK NEGERI BANDUNG
Jl. Gegerkalong Hilir Ds. Ciwaruga Kotak Pos 6468 BDCD Tlp. (022) 2013789, Ext. 266 Bandung

Subjek

: Pengujian Bahan Agregat

Topik

: Uji Kadar Zat Organik Agregat dengan


Perbandingan Warna (Standard Color Test)

No. Uji

: 04

Halaman

: 3/7

4.2 Bahan

No

Nama

Gambar

Bahan

Peralatan

Aggregat
halus

Keterangan

Agregat halus lolos ayakan


4.75 mm.

Larutan
NaOH

Kadar 3 %

Larutan
pembanding

Larutan pembanding (warna standar) dapat dibuat dari :


a. Cairan Pembanding Sementara (hanya satu kali pakai), dengan
komposisi :
Buat larutan 2 % Asam Tanin dalam 10 % Alkohol (2 gr dalam
100 cc alcohol 10 %).
Buat larutan 3 % Sodium Hidroksida.
Campur 2.5 ml larutan Asam Tanin dengan 97.5 ml larutan
Sodium Hidroksida 3 %.

LABORATORIUM REKAYASA BETON


JURUSAN TEKNIK SIPIL
POLITEKNIK NEGERI BANDUNG
Jl. Gegerkalong Hilir Ds. Ciwaruga Kotak Pos 6468 BDCD Tlp. (022) 2013789, Ext. 266 Bandung

Subjek

: Pengujian Bahan Agregat

Topik

: Uji Kadar Zat Organik Agregat dengan


Perbandingan Warna (Standard Color Test)

No. Uji

: 04

Halaman

: 4/7

Simpan dalam botol tertutup rapat.


Kocok dan diamkan selama 24 jam.
b. Cairan Pembanding Permanen, dengan komposisi :
Masukkan campuran 9 gr Ferry Chlorida (FeCl3 6H2O) dengan
1 gr Cobalt Chlorida (CoCl2 6H2O) ke dalam 100 ml Air yang
mengandung 1/3 ml Asam HCl.
Simpan larutan itu di dalam botol tertutup rapat dan akan
mempunyai warna yang permanen.
V.

LANGKAH KERJA
1.

Menyiapkan peralatan dan bahan yang akan digunakan serta memastikan


semuanya dalam kondisi yang baik dan dapat digunakan.

Sendok

Larutan NaOH 3%

Pasir

Ayakan 4.75

Botol Susu

Corong

LABORATORIUM REKAYASA BETON


JURUSAN TEKNIK SIPIL
POLITEKNIK NEGERI BANDUNG
Jl. Gegerkalong Hilir Ds. Ciwaruga Kotak Pos 6468 BDCD Tlp. (022) 2013789, Ext. 266 Bandung

Subjek

: Pengujian Bahan Agregat

Topik

: Uji Kadar Zat Organik Agregat dengan


Perbandingan Warna (Standard Color Test)

2.

No. Uji

: 04

Halaman

: 5/7

Memasukkan agregat halus yang telah diayak dengan ayakan 4.75 mm


kedalam botol susu bayi berskala setinggi 130 ml.

3.

Menambahkan larutan NaOH 3% sampai setinggi 200 ml setelah itu


menutupnya dengan rapat.

4.

Mengocok botol bayi tersebut dalam keadaan miring selama + 10 menit.

5.

Menyimpan botol susu tersebut selama +


terhindar dari getaran.

24 jam di tempat yang

LABORATORIUM REKAYASA BETON


JURUSAN TEKNIK SIPIL
POLITEKNIK NEGERI BANDUNG
Jl. Gegerkalong Hilir Ds. Ciwaruga Kotak Pos 6468 BDCD Tlp. (022) 2013789, Ext. 266 Bandung

Subjek

: Pengujian Bahan Agregat

Topik

: Uji Kadar Zat Organik Agregat dengan


Perbandingan Warna (Standard Color Test)

6.

No. Uji

: 04

Halaman

: 6/7

Mengamati cairan diatas permukaan agregat halus dalam botol. Lalu


kemudian membandingkan warna cairan tersebut dengan larutan
pembanding.

VI.

DATA DAN ANALISA


Nomor Contoh

II

III

Volume sampel (ml)

130.0

130.0

130.0

Volume sampel + Larutan pengekstrak


NaOH 3% (ml)

200.0

200.0

200.0

Warna Larutan setelah 24 jam


dibandingkan dengan warna standar

Lebih
muda

Lebih
muda

Lebih
muda

Keterangan

Lebih muda (negatif) tidak


berbahaya,kadar organik rendah

ASTM C.33-95 : Lebih muda (negatif), organik rendah sehingga tidak


membahayakan pada saat beton segar dan beton kering.
Lebih tua (positif), organik tinggi sehingga membahayakan
pada saat beton segar dan beton kering (dicuci).

LABORATORIUM REKAYASA BETON


JURUSAN TEKNIK SIPIL
POLITEKNIK NEGERI BANDUNG
Jl. Gegerkalong Hilir Ds. Ciwaruga Kotak Pos 6468 BDCD Tlp. (022) 2013789, Ext. 266 Bandung

Subjek

: Pengujian Bahan Agregat

Topik

: Uji Kadar Zat Organik Agregat dengan


Perbandingan Warna (Standard Color Test)

VII.

No. Uji

: 04

Halaman

: 7/7

KESIMPULAN
Dari hasil percobaan yang telah dilakukan dan setelah dibandingkan dengan
larutan pembanding, ternyata warna cairan diatas permukaan agregat yang
terdapat dalam botol susu bayi lebih muda (negatif) dari larutan pembanding.
Hal ini menunjukkan bahwa kadar zat organik dalam agregat halus rendah dan
memenuhi syarat untuk digunakan sebagai bahan adukan untuk beton.

Bandung, Oktober 2008


Penanggung Jawab

Dosen Pembimbing

Dimas Septian N.
NIM 07101038

Liliana Diasti D. W. , SST., MT


NIP 132 299 757

LABORATORIUM REKAYASA BETON


JURUSAN TEKNIK SIPIL
POLITEKNIK NEGERI BANDUNG
Jl. Gegerkalong Hilir Ds. Ciwaruga Kotak Pos 6468 BDCD Tlp. (022) 2013789, Ext. 266 Bandung

Subjek
Topik

: Pengujian Bahan Agregat


: Uji Kadar Butir Lolos Ayakan No.200 untuk
Agregat Halus dan Kasar

I.

No. Uji

: 03

Halaman

: 1/9

REFERENSI
1. SNI 03-4142-1996, Metoda Uji Kadar Bahan Lolos no. 200 (0,075 mm)
2. ASTM D. 75-2001, Practice for Sampling Aggregate
3. SNI 03-6889-2002, Tata Cara Pengambilan Contoh Agregat
5. ASTM C. 33-2001, Spec for Concrete Aggregate

II.

TUJUAN
Untuk menentukan kadar lumpur berdasarkan besarnya persentase berat
butiran yang lolos mesh 200 pada agregat halus dan kasar setelah dilakukan
pencucian di laboratorium.

III.

DASAR TEORI
Lumpur dalam beton adalah partikel yang lolos ayakan mesh 200 (0,075
mm).Apabila agregat halus dan kasar mengandung kadar lumpur yang tinggi
maka dapat menyebabkan terhambatnya pengerasan semen, bertambahnya Faktor
Air Seman (FAS), mampu mengurangi daya ikatan pasta semen dengan agregat
sehingga dapat mengurangi kekuatan dan ketahanan beton dan lebih lanjut lagi
beton akan menjadi retak ketika kering akibat dari tingginya bagian yang halus.
Oleh Karena itu kadar lumpur pada agregat harus dibatasi,yaitu tidak boleh lebih
besar dari 5 % untuk agregat halus dan tidak boleh lebih dari 1 % untuk agregat
kasar.
Jika kadar lumpur yang dikandungnya melebihi

standard yang telah

ditentukan maka agregat harus dicuci kembali sampai kadar lumpurnya rendah
atau dengan dengan cara mengganti agregatnya.

LABORATORIUM REKAYASA BETON


JURUSAN TEKNIK SIPIL
POLITEKNIK NEGERI BANDUNG
Jl. Gegerkalong Hilir Ds. Ciwaruga Kotak Pos 6468 BDCD Tlp. (022) 2013789, Ext. 266 Bandung

Subjek
Topik

: Pengujian Bahan Agregat


: Uji Kadar Butir Lolos Ayakan No.200 untuk
Agregat Halus dan Kasar

No. Uji

: 03

Halaman

: 2/9

Untuk mengetahuai kadar lumpur pada agregat kasar dan agregat halus
dapat dihitung dengan cara :
Kadar Lumpur ( % ) =

W1 - W 2
100 %
W1

Dimana :
W1= Berat benda uji kering oven sebelum dicuci
W2= Berat benda uji kering oven setelah dicuci
IV

PERALATAN DAN BAHAN


1. Peralatan

No

Nama

Gambar

Peralatan

Peralatan

Keterangan

corong berlubang dengan


1

spliter

jumlah lubang genap di


gunakan kertikil dan
pasir

ember

penyimpan agregat

timbangan

ketelitian 0,001 gram

LABORATORIUM REKAYASA BETON


JURUSAN TEKNIK SIPIL
POLITEKNIK NEGERI BANDUNG
Jl. Gegerkalong Hilir Ds. Ciwaruga Kotak Pos 6468 BDCD Tlp. (022) 2013789, Ext. 266 Bandung

Subjek
Topik

: Pengujian Bahan Agregat


: Uji Kadar Butir Lolos Ayakan No.200 untuk
Agregat Halus dan Kasar

pan

No. Uji

: 03

Halaman

: 3/9

penyimpan agregat

alat pengambil benda uji


5

sekop

dari stock-file

sendok

untuk mengambil benda

spesi

uji

digunakan untuk untuk


7

kotak spesi

kerikil dan pasir

LABORATORIUM REKAYASA BETON


JURUSAN TEKNIK SIPIL
POLITEKNIK NEGERI BANDUNG
Jl. Gegerkalong Hilir Ds. Ciwaruga Kotak Pos 6468 BDCD Tlp. (022) 2013789, Ext. 266 Bandung

Subjek
Topik

: Pengujian Bahan Agregat


: Uji Kadar Butir Lolos Ayakan No.200 untuk
Agregat Halus dan Kasar

No. Uji

: 03

Halaman

: 4/9

Ayakan no.

Digunakan untuk

16 dan

mengayak kerikil dan

mesh 200

pasir

Dapat diatur pada suhu


9

Oven

konstan (1105) 0C

2. Bahan
a) Agregat Halus dan Kasar dalam keadaan kering oven
Tabel . 1 : Berat contoh agregat kering minimum
Ukuran Saringan

Berat contoh agregat kering

( mm )

minimum ( gram )

2,36

100

4,80

500

9,60

2000

19,10

2500

38,10

5000

b) Air bersih

LABORATORIUM REKAYASA BETON


JURUSAN TEKNIK SIPIL
POLITEKNIK NEGERI BANDUNG
Jl. Gegerkalong Hilir Ds. Ciwaruga Kotak Pos 6468 BDCD Tlp. (022) 2013789, Ext. 266 Bandung

Subjek
Topik

: Pengujian Bahan Agregat


: Uji Kadar Butir Lolos Ayakan No.200 untuk
Agregat Halus dan Kasar

V.

No. Uji

: 03

Halaman

: 5/9

LANGKAH KERJA
5.1 Persiapan Bahan
1. Memasukan contoh berat agregat 1,25 kali berat benda uji ke dalam cawan
kemudian dikeringkan dalam oven dengan suhu 110 5C sampai kondisi
mencapai berat tetap.
2. Menimbang benda uji dengan berat sesuai table.1 di atas.

5.2 Prosedur Pelaksanan


1. Menyiapkan semua alat dan bahan yang diperlukan dalam pengujian.
2. Melakukan pekerjaan riffler sampler atau quartering.

Quartering

riffler sampler

Agregat halus

Agregat kasar

LABORATORIUM REKAYASA BETON


JURUSAN TEKNIK SIPIL
POLITEKNIK NEGERI BANDUNG
Jl. Gegerkalong Hilir Ds. Ciwaruga Kotak Pos 6468 BDCD Tlp. (022) 2013789, Ext. 266 Bandung

Subjek
Topik

: Pengujian Bahan Agregat


: Uji Kadar Butir Lolos Ayakan No.200 untuk
Agregat Halus dan Kasar

No. Uji

: 03

Halaman

: 6/9

3. Menimbang agregat halus dan kasar yang telah kering oven yang telah melalui
proses quartering atau riffler sampler.

4. Memasukan agregat halus dan kasar pada ember yang berbeda, lalu
memasukan air bersih ke dalam ember yang sudah berisi agregat sampai
agregat tersebut terendam.

5. Mengaduk aduk agregat agar terpisah dari bagian bagian yang halus
(lumpur), lalu tuangkan suspensi yang kelihatan keruh tersebut secara
perlahan lahan ke dalam susunan ayakan no.16 dan mesh 200.

6. Mengulang langkah 3 dan 4 sampai air dalam ember terlihat jernih


7. Membilas agregat yang tertahan di atas susunan ayakan no.16 dan mesh 200
sampai tidak ada lagi yang lolos dari ayakan tersebut, setelah itu
memasukannya kedalam ember.
8. Memindahkan agregat yang telah dicuci ke dalam

cawan setelah itu

dikeringkan dalam oven dengan suhu 110C selama 24 jam sampai


mencapai kondisi berat tetap.
9. Menimbang berat kering oven agregat yang telah dicuci lalu dilanjutkan
dengan menghitung kadar lumpurnya.

LABORATORIUM REKAYASA BETON


JURUSAN TEKNIK SIPIL
POLITEKNIK NEGERI BANDUNG
Jl. Gegerkalong Hilir Ds. Ciwaruga Kotak Pos 6468 BDCD Tlp. (022) 2013789, Ext. 266 Bandung

Subjek
Topik

: Pengujian Bahan Agregat


: Uji Kadar Butir Lolos Ayakan No.200 untuk
Agregat Halus dan Kasar

No. Uji

: 03

Halaman

: 7/9

VI. DATA DAN PERHITUNGAN


6.1. Agregat kasar

Nomor Contoh

Berat benda
uji kering oven
sebelum dicuci
(gram)

W1

1880.5

Berat benda
uji kering oven
setelah dicuci
(gram)

W2

1829,9

Kadar butir
lolos ayakan
No.200 (%)

W1 - W2
W1

II

III

2,69
X 100%

Keterangan

Catatan :
ASTM C.33-95

: Kadar butir lolos ayakan no 200 maksimum 1 %

LABORATORIUM REKAYASA BETON


JURUSAN TEKNIK SIPIL
POLITEKNIK NEGERI BANDUNG
Jl. Gegerkalong Hilir Ds. Ciwaruga Kotak Pos 6468 BDCD Tlp. (022) 2013789, Ext. 266 Bandung

Subjek
Topik

: Pengujian Bahan Agregat


: Uji Kadar Butir Lolos Ayakan No.200 untuk
Agregat Halus dan Kasar

No. Uji

: 03

Halaman

: 8/9

6.2. Agregat halus

Nomor Contoh

Berat benda uji


kering oven
sebelum dicuci
(gram)

W1

1008.3

Berat benda uji


kering oven
setelah dicuci
(gram)

W2

981,33

Kadar butir lolos


ayakan No.200
(%)

W1 - W2
W1

II

III

2,68
X 100%

Keterangan

Catatan :
ASTM C.33-95

: Kadar butir lolos ayakan no 200 maksimum 5 %

LABORATORIUM REKAYASA BETON


JURUSAN TEKNIK SIPIL
POLITEKNIK NEGERI BANDUNG
Jl. Gegerkalong Hilir Ds. Ciwaruga Kotak Pos 6468 BDCD Tlp. (022) 2013789, Ext. 266 Bandung

Subjek
Topik

: Pengujian Bahan Agregat


: Uji Kadar Butir Lolos Ayakan No.200 untuk
Agregat Halus dan Kasar

No. Uji

: 03

Halaman

: 9/9

VII. KESIMPULAN
1. Kadar lumpur pada agregat halus sebesar 5.53 % tidak sesuai dengan
ketentuan, yaitu lebih dari 5% maka agregat halus harus dicuci.
2. Kadar lumpur pada agregat kasar

sebesar 2.83 % tidak sesuai dengan

ketentuan, yaitu lebih dari 1% maka agregat kasar harus dicuci.

Bandung, November 2008


Penanggung Jawab

Desi Asiah
NIM 07101035

Dosen Pembimbing

Lilian Diasti D. W. , SST., MT


NIP 132 299 757

LABORATORIUM REKAYASA BETON


JURUSAN TEKNIK SIPIL
POLITEKNIK NEGERI BANDUNG
Jl. Gegerkalong Hilir Ds. Ciwaruga Kotak Pos 6468 BDCD Tlp. (022) 2013789, Ext. 266 Bandung

Subjek
Topik

: Pengujian Bahan Agregat


: Uji Kadar Butir Lolos Ayakan No.200 untuk
Agregat Halus dan Kasar

No. Uji

: 03

Halaman

: 10/9

Anda mungkin juga menyukai