Anda di halaman 1dari 18

PROBLEM SET I – STRUKTUR BETON BERTULANG I

1. Beton dapat dikombinasikan dengan tulangan baja karena:


a. Lekatan yang kuat antara baja tulangan dengan beton yang menyelimutinya
mencegah terjadinya “slip”.
b. Beton memiliki impermeabilitas tinggi melindungi baja tulangan dari karat.
c. Koefisien muai akibat temperatur hampir sama antara beton & baja, sehingga
perbedaan tegangan akibat temperatur dapat diabaikan ≈ 1,2 × 10–5 /oC.

Beton memerlukan tulangan baja sebagai tulangan tarik karena:


a. Beton memiliki kuat tekan tinggi, tetapi kuat tariknya rendah.
b. Tulangan baja memiliki kuat tarik tinggi, yang mampu menggantikan fungsi
beton di daerah tarik.
c. Kombinasi keduanya (beton & tulangan baja), mampu mendukung struktur
berat.

2. Perbedaan kuat tekan karakteristik Kubus dan kuat tekan karakteristik Silinder:

BENDA UJI KUAT TEKAN BETON

Silinder
15 × 30 cm fc’ = 15, 20, 25, 30, 35, … (MPa)
(0,83)

Kubus
15 × 15 × 15 cm K 175, 225, 300, … σbk’ (Kg/cm2)
(1,0)

MAWARDI (H1A108414) 1
PROBLEM SET I – STRUKTUR BETON BERTULANG I

3. Diketahui : σbk’ = 350 Kg/cm2.


Ditanya : f c’ =?
Penyelesaian :

 σ ' 
f c ' = 0,75 + 0,2 ⋅10 log bk   ⋅ σ bk '
  15  

  350  
f c ' = 0,75 + 0,2 ⋅10 log   ⋅ 350
  15  

f c ' = 262,500 Kg/cm 2 = 26,786 MPa.

4. Konsep dasar penempatan tulangan balok lentur:


a. Tulangan tarik dipasang pada daerah tarik, sedangkan tulangan tekan
dipasang pada daerah tekan untuk memudahkan pemasangan sengkang.
b. Jika momennya positif (M +), serat bawah mengalami tarik dan perlu diberi
tulangan tarik.
c. Jika momennya negatif (M -), serat atas mengalami tarik dan perlu diberi
tulangan tarik.
d. Penempatan tulangan tarik tidak boleh keliru. Jika keliru, fatal akibatnya!

5. Asumsi diagram tegangan-regangan beton yang digunakan SNI:


a. Modulus elastisitas beton selalu berubah, tergantung pada kuat tekannya.
b. Nilainya juga tergantung pada umur beton.
c. Biasanya yang dianggap cukup mewakili adalah secant modulus untuk 25 s/d
50% × fc’.
d. SNI1991 dan SNI2002 menentukan untuk beton normal: Ec = 4700√ fc’ (MPa).
e. SNI1991 dan SNI2002 menetapkan regangan berguna maksimum atau
regangan beton pada serat tekan (εcu) = 0,003 → 0,03 s/d 0,004.

MAWARDI (H1A108414) 2
PROBLEM SET I – STRUKTUR BETON BERTULANG I

6. Asumsi diagram tegangan-regangan baja yang digunakan SNI:

a. Regangan baja (εs) dan regangan beton (εc) dianggap berbanding lurus
dengan jarak terhadap garis netral (c).
b. Penambahan akibat strain hardenning baja diabaikan.
c. εs < εy → fs = Es . εs

d. εs < εy → T = As . fs = As . Es . εs

e. εs ≥ εy → fs = fy

f. εs ≥ εy → T = As . fy
g. Modulus Elastisitas Baja (Es) = 2,0.105 MPa.
h. Kekuatan tarik beton diabaikan.

7. Kuat Desain (Design strength) ≥ Kuat Perlu (Required strength ).


Atau: φ.R ≥ λ.Q

Dimana:
“Required Strength” diperoleh dari perkalian beban kerja (Q) dengan faktor beban
(λ) yang memperhitungkan kelebihan beban (λ > 1,0).

MAWARDI (H1A108414) 3
PROBLEM SET I – STRUKTUR BETON BERTULANG I

“Design Strength” merupakan produk perkalian Nominal Strength (R) dan faktor
reduksi kekuatan (φ) yang memperhitungkan kekurangsempurnaan dalam
pelaksanaan. Makin jelek mutu pelaksanaan di lapangan akan makin kecil nilai φ
ini.

Mu = φ.Mn --- Kapasitas ultimit momen Penampang

Md = λ.Q -- Kapasitas momen akibat beban berfaktor

Faktor reduksi kekuatan (φ) diakibatkan oleh adanya variasi material, variasi
dimensi, variasi beban, dan asumsi analisis perhitungan. Faktor reduksi kekuatan
(φ) yang berlaku dalam PB-89 tercantum dikolom ketiga pada tabel, sedangkan
ACI 318M-83 pada kolom keempat dan faktor reduksi kekuatan (φ) yang
dianjurkan oleh Mac. Gregor untuk ACI yang baru pada kolom kelima (kolom
terakhir).

φ)
FAKTOR REDUKSI KEKUATAN (φ
No. JENIS KEKUATAN
Usul
PB-89 ACI 318M-83
Mac. Gregor

1 Lentur murni 0,80 0,90 0,85

2 Aksial tarik,
0,80 0,09 0,70
aksial tarik dan lentur

3 Aksial tekan,
aksial tekan dan lentur

a. dengan tul. spiral 0,70 0,75 0,70

b. dengan tul. sengkang 0,65 0,70 0,65

4 Geser dan torsi 0,60 0,85 0,70

5 Tumpuan pada beton 0,70 0,70 0,60

MAWARDI (H1A108414) 4
PROBLEM SET I – STRUKTUR BETON BERTULANG I

ALASAN PERLUNYA FAKTOR KEAMANAN:


a. Variabilitas Ketahanan/Kekuatan
;Variabilitas kekuatan beton & baja tulangan.
;Dimensi aktual tidak sama dengan dimensi rencana.
;Simplifikasi asumsi.

b. Variabilitas Pembebanan

c. Konsekuensi Keruntuhan
;Korban jiwa.
;Kerugian material, waktu, …
;Biaya pembongkaran dan pembangunan kembali.

8. Perbedaan Koefisien Blok Stress (β1) antara SK. SNI T-15-1991-03 dengan SK.
SNI 03-2847-2002:

a. KONSEP PERHITUNGAN BETON DENGAN SK. SNI T-15-1991-03:

; Menurut SK. SNI T-15-1991-03 Pasal 3.3.2 butir 7.(3), nilai reduksi (β1) =
0,08 untuk setiap kenaikan 10 MPa dari fc’ = 30 MPa.

; Ketentuan ini dirumuskan sebagai:

Mutu Beton (fc’)


Koefisien Blok Stress (β1)
MPa

β1 = 0,85 0 ≤ fc’ ≤ 30

β1 = 0,85 – 0,008.(fc’ – 30) 30 < fc’ < 55

β1 = 0,65 fc’ ≥ 55

MAWARDI (H1A108414) 5
PROBLEM SET I – STRUKTUR BETON BERTULANG I

b. KONSEP PERHITUNGAN BETON DENGAN SNI 03-2847-2002:

; Menurut pasal 12.2 butir 7.(3) faktor 1 harus diambil sebesar 0,85 untuk
beton dengan nilai kuat tekan (fc’ ) lebih kecil dari pada atau sama
dengan 30 MPa. Untuk beton dengan nilai kuat tekan di atas 30 MPa, 1
harus direduksi sebesar 0,05 untuk setiap kelebihan 7 MPa di atas 30
MPa, tetapi 1 tidak boleh diambil kurang dari 0,65.

; Menurut SNI. 03-2847-2002 Pasal 12.2 butir 7.(3), nilai reduksi (1) =
0,05 untuk setiap kenaikan 7 MPa dari fc’ = 30 MPa.

; Ketentuan ini dirumuskan sebagai:

Mutu Beton (fc’)


Koefisien Blok Stress (β1)
MPa

β1 = 0,85 0 ≤ fc’ ≤ 30

β1 = 0,85 – 0,007.(fc’ – 30) 30 < fc’ < 58

β1 = 0,65 fc’ ≥ 58

MAWARDI (H1A108414) 6
PROBLEM SET I – STRUKTUR BETON BERTULANG I

9. Yang dimaksud dengan Under Reinforced, Balance Reinforced dan Over


Reinforced:

Under Balance Over


Reinforced Reinforced Reinforced

εs ≥ εy
diambil εs = εy εs < εy
Regangan tulangan baja
εs = εy (leleh) (belum leleh)
(leleh)

fs = fy fs = fy fs = Es .εy
Tegangan tulangan baja
(leleh) (leleh) (belum leleh)

Rasio tulangan ρ < ρb ρ = ρb ρ > ρb

Keruntuhan Seimbang (Balance Failure) Æ Balanced Reinforced


a. Baja tulangan mulai meleleh, sedangkan daerah tekan beton mencapai
regangan tekan maksimum.
b. εs = εy Æ fs = fy dengan εy = fy / Es

c. εc = εcu = 0,003

d. ρ = ρb

Keruntuhan Tarik (Tension Failure) Æ Under Reinforced


Tanda-tanda keruntuhan:
Lelehnya tulangan tarik diikuti lendutan yang besar.

Sifat-sifat keruntuhan tarik:


a. Terjadi secara bertahap.
b. Tidak mendadak/getas.
c. Penampang daktail.

MAWARDI (H1A108414) 7
PROBLEM SET I – STRUKTUR BETON BERTULANG I

Syarat:
a. εs = εy Æ fs = fy

b. εcu = 0,003

c. ρ < ρb

Keruntuhan Tekan (Compression Failure) Æ Over Reinforced


a. Keruntuhan diawali dengan hancurnya beton dan saat itu tegangan baja
belum mencapai tegangan lelehnya.

ρ > ρb dan εc = εcu = 0,003; εs < εy

b. Tidak terlihat tanda-tanda awal seperti terjadinya lendutan.


c. Keruntuhan total terjadi secara mendadak dan dinamakan “keruntuhan getas”
(brittle).

Kesimpulan:
a. Regangan Tekan Beton Ultimit (εcu = 0,003)

b. Regangan Tulangan Baja:


- Under Reinforced : εs ≥ εy diambil εs = εy (leleh)

- Balanced : εs = εy (leleh)

- Over Reinforced : εs < εy (belum leleh)

c. Tegangan Tulangan Baja:


- Under Reinforced : fs = fy (leleh)
- Balanced : fs = fy (leleh)
- Over Reinforced : fs = Es.εy (belum leleh)

d. Dalam desain digunakan Under Reinforced karena keruntuhannya tidak


terjadi sekaligus (masih memungkinkan untuk menyelamatkan diri).

MAWARDI (H1A108414) 8
PROBLEM SET I – STRUKTUR BETON BERTULANG I

POSISI GARIS NETRAL (c) UNTUK BEBERAPA KONDISI PENULANGAN

10. Diketahui:
Balok yang memikul beban merata berfaktor total sebesar qu:

qu = 48 KN/m

A B

L=8m

fc’ = 35 MPa. Diameter sengkang = 8 mm.


fy = 400 MPa. Jarak minimum antar tulangan utama = 20 mm
b = 350 mm. Mu = 1/8 . qu . L2
h = 600 mm. Mu = 1/8 × 48 KN/m × (8 m)2 = 384 KN.m

ds = 50 mm. φ = 0,80 untuk balok yang menahan lentur.

MAWARDI (H1A108414) 9
PROBLEM SET I – STRUKTUR BETON BERTULANG I

Ditanya:
Luas tulangan tarik (Ast) = ?
Luas tulangan tekan (As’) = ?
dengan kondisi Under Reinforced.

Penyelesaian:
Cara perhitungan di bawah ini berdasarkan MODUL – 5 MANUAL DESAIN
PENULANGAN LENTUR, GESER, DAN AKSIAL, Bahan Ajar STRUKTUR Beton
Bertulang II, Darmansyah Tjitradi, Universitas Lambung Mangkurat Press.

Prosedur desain penulangan lentur balok persegi:


a. Menghitung Tinggi Efektif Balok (d):
Nilai d = h - ds - φs - 0,5.φut (asumsi 1 lapis), atau d = 0,9.h.
d = 0,9.h
d = 0,9 × 600 mm.
d = 540 mm.

b. Menghitung Nilai β1 :

β1 = 0,85 - 0,008.(fc’ - 30) untuk 30 MPa ≤ fc’ ≤ 55 MPa.


β1 = 0,85 - 0,008.(35 - 30)
β1 = 0,81

c. Menentukan Momen Nominal Maksimum (Mn1):


;Menghitung nilai kmaks :

 
k maks = 0,75 ⋅ k b = 0,75 ⋅   1 ⋅
600 
 600 + f y 
 
 600 
k maks = 0,75 ⋅ k b = 0,75 ⋅  0,81 ⋅ 
 600 + 400 
k maks = 0,3645

MAWARDI (H1A108414) 10
PROBLEM SET I – STRUKTUR BETON BERTULANG I

;Menghitung kapasitas momen Mn1 :

 1 
M n1 = 0,85 ⋅ f c '⋅b ⋅ d 2 ⋅ 1 − ⋅ k maks 
 2 
 1 
M n1 = 0,85 ⋅ 35 ⋅ 350 ⋅ 540 2 ⋅ 1 − ⋅ 0,3645  × (10-6)
 2 
Mn1 = 2482,922 KN.m

d. Analisis apakah Balok perlu Tulangan Rangkap:


;Menghitung nilai Momen Nominal (Mn) :
Mn = Mu / φ
Mn = (1/8 . qu . L2) / 0,80.
Mn = (1/8 × 48 × 82) / 0,80.
Mn = 384 / 0,80.
Mn = 480 KN.m

;Menghitung selisih momen: Mn2 = ∆M = Mn – Mn1


Mn2 = ∆M = Mn – Mn1
Mn2 = ∆M = 480 KN.m – 2482,922 KN.m
Mn2 = ∆M = -2002,922 KN.m

Mn2 = -2002,922 KN.m < 0, maka cukup dipakai tulangan tunggal.

e. Jika Diperlukan Tulangan Tunggal:


;Menghitung nilai Momen Nominal (Mn) :

Mn = Mu / φ Dimana:
Mn = (1/8 . qu . L2) / 0,80. Mu = Momen ultimit/desain akibat beban
Mn = (1/8 × 48 × 82) / 0,80. berfaktor, φ = 0,80 (lentur murni).
Mn = (384 KN.m) / 0,80. Mu = (1/8 . qu . L2) / 0,80.
Mn = 480 KN.m Mu = (1/8 × 48 × 82) / 0,80 = 384 KN.m

MAWARDI (H1A108414) 11
PROBLEM SET I – STRUKTUR BETON BERTULANG I

;Menghitung nilai kperlu :

2 ⋅ Mn
k perlu = 1 − 1 −
0,85 ⋅ f c' ⋅ b ⋅ d 2

2 ⋅ 480
k perlu = 1 − 1 − × (106)
0,85 ⋅ 35 ⋅ 350 ⋅ 540 2

kperlu = 1,58088.10-7 × (106) = 0,158.

;Menghitung luas tulangan tarik perlu (As perlu) :

Mn
As perlu =
 k perlu 
f y ⋅ d ⋅ 1 − 
 2 
480
As perlu = × (106)
 0,158 
400 ⋅ 540 ⋅ 1 − 
 2 
As perlu = 2412,836 mm2 ≈ 2413 mm2.

;Memilih tulangan dengan syarat: Ast ≥ As perlu


Dipilih tulangan 4 D28 dengan Ast = 2464 mm2.
Ast = 2464 mm2 > As perlu = 2413 mm2 → OK!

;Kontrol kapasitas momen, dengan syarat: Mnt ≥ Mn

k1 = [Ast / (b . d)] . [fy / (0,85 . fc’)] = ρ.[fy / (0,85 . fc’)]


k1 = [2464 / (350 × 540)] × [400 / (0,85 × 35)]
k1 = 0,175

Mnt = Ast . fy . d . (1 – ½.k1)


Mnt = 2464 × 400 × 540 × (1 – ½.0,175) × (10-6)
Mnt = 485,654 KN.m > Mn = 480 KN.m → OK!

MAWARDI (H1A108414) 12
PROBLEM SET I – STRUKTUR BETON BERTULANG I

;Menghitung nilai Rasio Tulangan Maksimum:


Rasio Tulangan Seimbang:
ρb = [(0,85 . fc’) / fy] . β1 . [600 / (600 + fy)]
ρb = [(0,85 × 35) / 400] × 0,81 × [600 / (600 + 400)]
ρb = 0,0362.

Rasio Tulangan Maksimum:


ρmaks = 0,75. ρb
ρmaks = 0,75 × 0,0362
ρmaks = 0,0272.

;Menghitung nilai Rasio Tulangan Minimum:


Untuk beton fc’ > 30 MPa, maka:

f c'
! min =
4⋅fy

! min =
35
4 ⋅ 400
ρmin = 0,0037.

Tetapi tidak boleh kurang dari ρmin = 1,4 / fy = 1,4 / 400 = 0,0035.

ρperlu = 0,0037 > ρmin = 0,0035 → OK!

;Kontrol Syarat Daktilitas:


ρmin = 0,0035
ρ = 0,0037 ρmin ≤ ρ ≤ ρmaks → OK!
ρmaks = 0,0272

Tulangan memenuhi syarat daktilitas.

MAWARDI (H1A108414) 13
PROBLEM SET I – STRUKTUR BETON BERTULANG I

Meski tulangan tunggal, di bagian tekan boleh diberi tulangan dengan diameter
yang sama atau sedikit lebih kecil dibandingkan diameter tulangan utama.
Tujuannya, sekedar untuk memudahkan pemasangan sengkang.

11. Diketahui:
Balok yang memikul beban merata berfaktor total sebesar qu:

MAWARDI (H1A108414) 14
PROBLEM SET I – STRUKTUR BETON BERTULANG I

fc’ = 25 MPa. L = 6 m.
fy = 240 MPa. Es = 2,1 . 105.
b = 300 mm. Mu = 1/8 . qu . L2
h = 550 mm. Mu = 1/8 × qu × (6 m)2 = 4,5 × qu KN.m
ds = 50 mm.

Ditanya:
Besar beban qu = ?

Penyelesaian:
Cara perhitungan di bawah ini berdasarkan MATERI – 2, Lentur pada Balok
Persegi (Tulangan Rangkap), MATERI PEMBEKALAN STRUKTUR BETON
BERTULANG – I, Iskandar, MT, Universitas Lambung Mangkurat.

;Perhitungan Titik Tangkap Tulangan :


Titik Berat Tulangan Tekan Terhadap Serat Tekan :

Lapis n As’ x As’.x

1 2 226,195 64 14476,48

Total 2 226,195 14476,48

d’ = (∑As’.x) / (∑As’)
d’ = 14476,48 / 226,195.
d’ = 64 mm.

Titik Berat Tulangan Tarik Terhadap Serat Tekan :

Lapis n As’ x As’.x

1 4 2123,717 433 919569,461

2 4 2123,717 479 1017260,443

Total 8 4247,434 1936829,904

MAWARDI (H1A108414) 15
PROBLEM SET I – STRUKTUR BETON BERTULANG I

d = (∑As’.x) / (∑As’)
d = 1936829,904 / 4247,434.
d = 456 mm.

;Nilai β1untuk fc’ = 25 :

Untuk fc’ ≤ 30, digunakan β1 = 0,85

;Faktor Reduksi Kekuatan untuk Lentur :


φ = 0,80 untuk balok yang menahan lentur.

;Menghitung Rasio Tulangan :


As’ = 2 × (1/4.π.122)
As’ = 226,195 mm2 ⇒ ρ’ = As’ / (b . d)
ρ’ = 226,195 / (300 × 456)
ρ’ = 0,001654

As = 8 × (1/4.π.262)
As = 4247,434 mm2 ⇒ ρ = 4247,434 / (b . d)
ρ = 4247,434 / (300 × 456)
ρ = 0,0311

;Check Batasan Rasio Tulangan :


Asumsi tulangan tekan leleh.
ρb = [(0,85 . fc’) / fy] . β1 . [630 / (630 + fy)]
ρb = [(0,85 × 25) / 240] × 0,85 × [630 / (630 + 240)]
ρb = 0,0545.

ρmaks = (0,75. ρb) + ρ’


ρmaks = (0,75 × 0,0545) + 0,001654
ρmaks = 0,0425.

MAWARDI (H1A108414) 16
PROBLEM SET I – STRUKTUR BETON BERTULANG I

ρ = 0,0311 < ρmaks = 0,0425 ⇒ Keruntuhan tarik.

;Check Kondisi Leleh Tulangan Tekan :


ρ - ρ’ ≥ [(0,85 . fc’) / (fy . d)] . [630 / (630 – fy)] . β1 . d’
0,0311 - 0,001654 ≥ [(0,85 . 25) / (240 . 456)] . [630 / (630 – 240)] . 0,85 . 64
0,029446 ≥ 0,0171 ⇒ OK!

;Menghitung nilai k :
k = [fy / (0,85 . fc’)] × [ρ - ρ’]
k = [240 / (0,85 × 25)] × 0,029446.
k = 0,333.

;Check asumsi εs ≥ εy :

εs’ = εcu . [k - β1. (d’ / d)] / k ≥ εy


εs’ = 0,003 × [0,333 – 0,85 × (64 / 456)] / 0,333 ≥ εy = 240 / 210.000
εs’ = 0,00193 ≥ εy = 0,001143 (leleh).

;Menghitung Momen Nominal :


Momen Nominal Akibat Tulangan Tarik :
Mn1 = 0,85 . fc’ . b . d2 . k . (1 – 1/2. k)
Mn1 = 0,85 × 25 × 300 × 4562 × 0,333 × (1 – 1/2. 0,333) × (10-6)
Mn1 = 367,925 KN.m

Momen Nominal Akibat Tulangan Tekan :


Mn2 = As’ . (d – d’) . fs’ → fs’ = Es . εs’
Mn2 = 226,195 × (456 – 64) × (2,1 × 105 × 0,00193) × (10-6)
Mn2 = 35,937 KN.m

Momen Nominal Total (Mn) :


Mn = Mn1 + Mn2
Mn = 367,925 KN.m + 35,937 KN.m
Mn = 403,862 KN.m

MAWARDI (H1A108414) 17
PROBLEM SET I – STRUKTUR BETON BERTULANG I

Momen Desain / Ultimit (Mu) :


Mu = φ . Mn
Mu = 0,80 × 403,862 KN.m
Mu = 323,0896 KN.m

Beban merata berfaktor yang mampu dipikul balok (qu) :


2
Mu = 1/8 . qu . L
qu = (8 × 323,0896) / 62
qu = 71,798 KN/m

Jadi beban merata berfaktor yang mampu dipikul balok (qu) = 71,798 KN/m.

MAWARDI (H1A108414) 18

Anda mungkin juga menyukai