Anda di halaman 1dari 13

MAKALAH BIOLOGI

BIOTEKNOLOGI & MUTASI GEN


IRVAN BUCHORY
1213100083
XII IPA 4

ANTIBODI MONOKLONAL
[ Antibodi Monoklonal merupakan salah satu bioteknologi
pada bidang kedokteran].

KATA PENGANTAR

Puji dan syukur kita panjatkan kepada Tuhan Yang Maha


Esa atas rahmat-Nya yang telah dilimpahkan terhadap saya
sebagai Penulis sehingga saya dapat menyelesaikan makalah
yang berjudul Bioteknologi Pembuatan Antibodi Monoklonal
yang merupakan tugas akhir mata pelajaran Biologi pada kelas
dua belas ini.
Penulis menyadari bahwa penyusunan makalah ini masih
jauh dari kesempurnaan, namun demikian telah memberikan
manfaat bagi Penulis. Akhir kata Penulis berharap makalah ini
dapat bermanfaat bagi kita semua. Saya sebagai Penulis
mengharapkan kritik dan saran yang bersifat membangun agar
Penulis bisa mengevaluasi kekurangan tersebut dan tidak
mengulangi pada makalah selanjutnya.

Bandung, Januari 2015

Penulis

DAFTAR ISI
Kata Pengantar
2

Daftar Isi
BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah


4
B. Rumusan Masalah
4
C. Tujuan Penelitian
4

BAB II LANDASAN TEORI


5

BAB II PEMBAHASAN
A. Pembuatan Bioteknologi Antibodi Monoclonal
6
B. Mekanisme Kerja Terapi
7
C. Rintangan Keberhasilan Antibodi Monoclonal

BAB III PENUTUP


A. Kesimpulan
10

DAFTAR PUSTAKA
11

BAB I
PENDAHULUAN

1.1 LATAR BELAKANG


Dalam perkembangan teknologi didunia, kita harus
mengerti perkembangannya serta cara memanfaatkannya.
Layaknya seperti Bioteknologi yang sekarang sedang popular
namanya. Bioteknologi adalah cabang ilmu yang mempelajari
pemanfaatan makhluk hidup (bakteri, fungi, virus, dan lain-lain)
maupun produk dari makhluk hidup (enzim, alkohol) dalam
proses produksi untuk menghasilkan barang dan jasa. Dewasa
ini, perkembangan bioteknologi tidak hanya didasari pada
biologi semata, tetapi juga pada ilmu-ilmu terapan dan murni
lain, seperti biokimia, komputer, biologi molekular, mikrobiologi,
genetika, kimia, matematika, dan lain sebagainya.
Dengan kata lain, bioteknologi adalah ilmu terapan yang
menggabungkan berbagai cabang ilmu dalam proses produksi
barang dan jasa. Bioteknologi secara sederhana sudah dikenal
oleh manusia sejak ribuan tahun yang lalu. Sebagai contoh, di
bidang teknologi pangan adalah pembuatan bir, roti, maupun
keju yang sudah dikenal sejak abad ke-19, pemuliaan tanaman
untuk menghasilkan varietas-varietas baru di bidang pertanian,
serta pemuliaan dan reproduksi hewan.
Secara umum manfaat bioteknologi bagi manusia ialah,
menghasilkan obat-obatan yang lebih efektif, menghasilkan
antibiotic, mengurangi pencemaran lingkungan serta
meningkatkan hasil produksi pertanian dari tanaman transgenic.

RUMUSAN MASALAH
Bagaimanakah pembuatan bioteknologi antibody monoclonal?
Bagaimanakah mekanisme kerja antibody monoclonal dalam
aplikaki terapinya?
Apakah rintangan keberhasilan terapi antibody monoclonal?

TUJUAN PENULISAN
Pembuatan makalah ini pada umumnya bertujuan untuk
memenuhi tugas ujian praktik Biologi. Dan khususnya bertujan
untuk mengembangkan wawasan tentang bioteknologi modern
terhadap pembuatan antibody monoclonal.

BAB II
LANDASAN TEORI
Antibodi monoklonal adalah antibodi yang identik karena mereka
diproduksi oleh sel-sel khusus yang telah dikloning. Ada sejumlah manfaat
untuk antibodi monoklonal, mulai dari pengujian obat untuk pengobatan
kanker, dan mereka diproduksi di laboratorium di seluruh dunia. Seperti
banyak penemuan medis, antibodi monoklonal juga disertai dengan
beberapa kontroversi, karena mereka diproduksi pada tikus dan tidak ada
cara untuk membuat logistik mereka dari sel manusia.
Antibodi yang dikembangkan oleh tubuh bila terkena zat asing.
Mereka berlama-lama dalam tubuh, memberikan perlawanan kekebalan
setelah paparan panjang berakhir, dan mereka juga sangat halus,
dirancang untuk membedakan antara zat asing sangat mirip. Penargetan
tepat dari antibodi menjadi topik yang menarik di abad ke-20, dan pada
1970-an, antibodi monoklonal pertama dikembangkan, memungkinkan
peneliti untuk menghasilkan sejumlah besar antibodi murni dalam
pengaturan laboratorium.

Antibodi monoklonal adalah antibodi sejenis yang diproduksi


oleh sel plasma klon sel-sel positif sejenis. Antibodi ini dibuat oleh
sel-sel hibridoma (hasil fusi 2 sel berbeda; penghasil sel positif limpa
dan sel mieloma) yang dikultur. Bertindak sebagai antigen yang
akan menghasilkan anti bodi adalah limpa. Fungsi antara lain
diagnosis penyakit dan kehamilan. Antibodi monoklonal adalah zat
yang diproduksi oleh sel gabungan tipe tunggal yang memiliki
kekhususan tambahan. Ini adalah komponen penting dari sistem
kekebalan tubuh.
Pada teknologi antibodi monklonal, sel tumor yang dapat
mereplikasi tanpa henti digabungkan dengan sel mamalia yang
memproduksi antibodi. Hasil penggabungan sel ini adalah
hibridoma, yang akan terus memproduksi antibodi. Antibodi
monoklonal mengenali setiap determinan yang antigen (bagian dari
makromolekul yang dikenali oleh sistem kekepalan tubuh / epitope).

Mereka menyerang molekul targetnya dan mereka bisa


memilahantara epitope yang sama. Selain sangat spesifik, mereka
memberikan landasan untuk perlindungan melawan patogen.
Antibodi monoklonal sekarang telah digunakan untuk
banyak masalah diagnostik seperti mengidentifikasi agen infeksi,
mengidentifikasi tumor, antigen dan antibodi auto, mengukur
protein dan level drug pada serum, mengenali darah dan
jaringan,mengidentifikasi sel spesifik yang terlibat dalam respon
kekebalan dan mengidentifikasi serta mengkuantifikasi hormon.
Kemajuan sekarang telah memungkinkan untuk memproduksi
antibodi monoklonal manusia melalui rekayasa genetika dalam
jumlah yang besar untuk digunakan dalam terapi berbagai penyakit.

BAB III
PEMBAHASAN

1. Cara Pembuatan Bioteknologi Antibodi Monoklonal


Cara pembuatan antibodi monoklonal untuk mendapatkan antibodi yang
homogen pada dasarnya terdiri dari beberapa tahap, yakni;
a.

Imunisasi Mencit
1)

Antigen berupa protein atau polisakarida yang berasal dari


bakteri atau virus, disuntikkan secarasubkutan pada beberapa
tempat atau secara intra peritoneal.

2)

Setelah 23 minggu disusul suntikan antigen secara intravena,


mencit yang tanggap kebal terbaik dipilih.

3)

Pada hari ke-12 hari suntikan terakhir antibodi yang terbentuk


pada mencit diperiksa dan diukurtiter antibodinya.

4)

Mencit dimatikan dan limfanya diambil secara aseptis.Kemudian dibuat suspensi sel limfa untuk memisahkan sel B
yang mengandung antibodi.

Cara imunisasi lain yang sering digunakan adalah imunisasi sekali suntik
intralimfa (Single-Shot Intrasplenic Immunization) Imunisasi cara ini
dianggap lebih baik, karena eliminasi antigen olehtubuh dapat dicegah.
b.

Fusi sel kebal dan sel mieloma


1)

Pada kondisi biakan jaringan biasa, sel limfa yang membuat


antibodi akan cepat mati, sedangkansel mieloma dapat dibiakkan

terus-menerus. Fusi sel dapat menciptakan sel hibrid yang terdiri


darigabungan sel limfa yang dapat membuat antibodi dan sel
mieloma yang dapat dibiakkan secaraterus menerus dalam
jumlah yang tidak terbatas secara in vitro.
2)

Fusi sel diawali dengan fusi membran plasma sehingga


menghasilkan sel besar dengan dua ataulebih inti sel, yang
berasal dari kedua induk sel yang berbeda jenis yang disebut
heterokarion.

3)

Pada waktu tumbuh dan membelah diri terbentuk satu inti yang
mengandung kromosom kedua induk yang disebut sel hibrid.

Frekuensi fusi dipengaruhi bebrapa faktor antara lain jenis medium,


perbandingan jumlah sel limpa dengan sel mieloma, jenis sel mieloma
yang digunakan, dan bahan yang mendorong timbulnya fusi (fusagon).
Penambahan polietilen glikol (PEG) dan dimetilsulfoksida (DMSO) dapat
menaikan efisiensi fusi sel.
c.

Eliminasi sel induk yang tidak berfusi


Frekuensi terjadinya hibrid sel limfa-sel mieloma biasanya rendah,
karena itu penting untukmematikan sel yang tidak fusi yang
jumlahnyaa lebih banyak agar sel hibrid mempunyaikesempatan
untuk tumbuh dengan cara membiakkan sel hibrid dalam media
selektif yang mengandung hyloxanthine, aminopterin, dan thymidine
(HAT).

d.

Isolasi dan pemilihan klon hibridoma


1)

2)
3)

Sel hibrid dikembangbiakkan sedemikian rupa, sehingga tiap


sel hibrid aka membentuk kolonihomogen yang disebut
hibridoma.
Tiap koloni kemudian dibiakkan terpisah satu sama lain.
Hibridoma yang tumbuh diharapkan mensekresi antibodi ke
dalam medium, sehingga antibodiyang terbentuk bisa diisolasi.
Pemilihan klon hibridoma dilakukan dua kali, pertama adalah
dilakukan untuk memperolehhibridoma yang dapat menghasilkan
antibodi, dan yang kedua adalah memilih sel hibridomapenghasil
antibodi monoklonal yang potensial menghasilkan antibodi
monoklonal yang tinggi dan stabil.

Umumnya untuk menetukan antibodi yang diinginkan dilakukan dengan


cara Enzyme Linked Immunosorbent Assay (ELISA) atau
radioimmunoassay (RIA). Pemilihan klon hibridoma dilakukan dua kali,
pertama adalah dilakukan untuk memperoleh hibridoma yang dapat
menghasilkan antibodi; dan yang kedua adalah memilih sel hibridoma

penghasil antibodi monoklonal yang potensial menghasilkan antibodi


monoklonal yang tinggi dan stabil.

2. Mekanisme Kerja Antibodi Monoklonal


Antibodi monoklonal menggunakan mekanisme kombinasi untuk
meningkatkan efek sitotoksik sel tumor. Mekanisme komponen sistem
imun adalah antibody dependent cellular cytotoxicity (ADCC), complement
dependent cytotoxicity (CDC), mengubah signal transduksi sel tumor atau
menghilangkan sel permukaan antigen. Antibodi dapat digunakan sebagai
target muatan (radioisotop, obat atau toksin) untuk membunuh sel tumor
atau mengaktivasi prodrug di tumor, antibody directed enzyme prodrug
therapy (ADEPT).
a.

Antibody dependent cellular cytotoxicity (ADCC)


Antibody dependent cellular cytotoxicity (ADCC) terjadi jika antibodi
mengikat antigen sel tumor dan Fc antibodi melekat dengan reseptor
Fc pada permukaan sel imun efektor. Interaksi Fc reseptor ini
berdasarkan kemanjuran antitumor dan sangat penting pada
pemilihan suatu antibodi monoklonal. Sel efektor yang berperan masih
belum jelas tapi diasumsikan sel fagosit mononuklear dan atau natural
killer (NK).
Struktur Fc domain dimanipulasi untuk menyesuaikan jarak antibodi
dan interaksi dengan Fc reseptor. Antibody dependent cellular
cytotoxicity (ADCC) dapat meningkatkan respons klinis secara
langsung menginduksi destruksi tumor melalui presentasi antigen dan
menginduksi respons sel T tumor.
Antibodi monoklonal berikatan dengan antigen permukaan sel tumor
melalui Fc reseptor permukaan sel NK. Hal ini memicu penglepasan
perforin dan granzymes untuk menghancurkan sel tumor. Sel - sel
yang hancur ditangkap antigen presenting cell (APC) lalu
dipresentasikan pada sel B sehingga memicu penglepasan antibodi
kemudian antibodi ini akan berikatan dengan target antigen . Sel
cytotoxic T lymphocytes (CTLs) dapat mengenali dan membunuh sel
target antigen.

b.

Complement dependent cytotoxicity (CDC)


Pengikatan antibodi monoklonal dengan antigen permukaan sel akan
mengawali kaskade komplement. Complement dependent cytotoxicity
(CDC) merupakan suatu metode pembunuh sel tumor yang lain dari
antibodi. Imunoglobulin G1 dan G3 sangat efektif pada CDC melalui
jalur klasik aktivasi komplemen. Formasi kompleks antigen antibodi
merupakan komplemen C1q berikatan dengan IgG sehingga memicu
komplemen protein lain untuk mengawali penglepasan proteolitik sel
efektor kemotaktik / agen aktivasi C3a dan C5a Kaskade komplemen
ini diakhiri dengan formasi membrane attack complex (MAC) sehingga
terbentuk suatu lubang pada sel membran. Membrane attack complex
(MAC) memfasilitasi keluar masuknya air dan Na++ yang akan

menyababkan sel target lisis.


c.

Antibodi Directed Enzyme Prodrug Therapy (ADEPT)


Antibodi directed enzyme prodrug therapy menggunakan antibodi
monoklonal sebagai penghantar untuk sampai ke sel tumor kemudian
enzim mengaktifkan prodrug pada tumor, hal ini dapat meningkatkan
dosis active drug di dalam tumor. Konjugasi antibodi monoklonal dan
enzim mengikat antigen permukaan sel tumor kemudian zat sitotoksik
dalam bentuk inaktif prodrug akan mengikat konjugasi antibodi
monoklonal dan enzim permukaan sel tumor akhirnya inaktivasi
prodrug terpecah dan melepaskan active drug di dalam tumor.

3. Rintangan Keberhasilan Terapi Antibodi Monoklonal


Distribusi antigen sel ganas sangat heterogen sehingga beberapa
sel dapat mengenali antigen tumor dan sel lainnya tidak. Densiti
antigen bervariasi bila rendah antibodi monoklonal tidak efektif. Aliran
darah tumor tidak selalu optimal bila antibodi monoklonal dihantarkan
melalui darah maka sulit untuk mengandalkan terapi ini.
Tekanan interstisial yang tinggi dalam tumor dapat mencegah
ikatan dengan antibodi monoklonal. Antigen tumor selalu dilepaskan
sehingga antibodi mengikat antigen bebas dan bukan sel tumor.
Antibodi monoklonal diperoleh dari sel tikus kemungkinan masih ada
respons imun antibodinya yang disebut respons human anti mouse
antibodies (HAMA).
Respons ini tidak hanya menurunkan kemanjuran terapi antibodi
monoklonal tapi juga menyisihkan kemungkinan terapi ulangan. Reaksi
silang antibodi monoklonal dengan antigen jaringan normal jarang
sehingga aplikasi antibodi monoklonal memberikan hasil yang baik
pada keganasan hematologi dan tumor soliter walaupun terdapat
beberapa rintangan.

BAB IV
PENUTUP

Kesimpulan

10

Antibodi monoclonal merupakan salah satu bioteknologi bidang


kedokteran yang di gunakan sebagai obat terapi tumor. Dan antibody
monoclonal itu sendiri
adalah antibodi yang identik karena mereka
diproduksi oleh sel-sel khusus yang telah dikloning.

Daftar Pustaka

http://ailemakeceh.blogspot.com/2012/12/bioteknol
ogi-11.html

11

http://www.sridianti.com/apa-itu-antibodimonoklonal.html
http://kampusbiologi.blogspot.com/2014/10/pengertianbioteknologi-bioteknologi.html
http://www.ucl.ac.uk/cancer/oncology/adept
http://www.biotek.com/resources/articles/acellacomplement-dependent-cytotoxicity.html
http://en.wikipedia.org/wiki/Antibodydependent_cell-mediated_cytotoxicity

12

13