Anda di halaman 1dari 13

CONTROVERSY OVER BITCOIN IN

INDONESIA: BITCOIN AS CURRENCY OR


COMODITY
KONTROVERSI BITCOIN DI INDONESIA: BITCOIN SEBAGAI MATA
UANG ATAU KOMODITAS
Praditya Dewi Arumsari (12030113410093)
Universitas Diponegoro Semarang Program Pascasarjana
Fakultas Ekonomi Magister Akuntansi
ABSTRAK
Bitcoin sebagai mata uang digital yang diperkenalkan oleh Satoshi
Nakamoto pada tahun 2009. Dengan menawarkan banyak keuntungan, para
investor di Indonesia mulai menjadikan Bitcoin sebagai alat transaksi di dunia
virtual. Tetapi, antusiasme dari pemilik Bitcoin di Indonesia direspon negatif oleh
Pemerintah Indonesia yang menyatakan Bitcoin bukan alat pembayaran yang sah.
Sehingga, pemilik Bitcoin menyarankan untuk menjadikan Bitcoin sebagai
komoditas digital.
Keyword: Bitcoin, mata uang digital, komoditas

PENDAHULUAN
Dalam sejarah perekonomian, pertama kali manusia melakukan transaksi
jual-beli dengan menukar barang dengan barang yang disebut barter. Seiring
dengan perkembangan jaman, manusia menggunakan emas dan perak untuk
melakukan kegiatan jual-beli (Angel dan McCabe, 2014). Karena alasan
keamanan dan fleksibilitas, emas tersebut dititipkan ke bank, sebagai ganti atas
kepemilikan emas tersebut bank mengeluarkan kuitansi. Kuitansi tersebut yang

menginspirasi penciptaan uang fiat. Uang fiat terdiri atas dua jenis, yaitu uang
kertas dan uang logam.
Uang fiat sekarang digunakan selain sebagai alat pembayaran juga sebagai
alat investasi. Mata uang yang paling sering digunakan sebagai alat investasi
adalah Dolar Amerika, karena mata uang ini di klaim sebagai mata uang yang
paling stabil. Tetapi ternyata, sejak kemunculan mata uang Uni Eropa yang
disebut dengan mata uang Euro, nilai Dolar Amerika semakin fluktuatif setiap
tahunnya. Fluktuasi Dolar Amerika yang signifikan ini juga dipengaruhi oleh
beberapa faktor lain dan berdampak pada fluktuasi harga emas dunia.
Fluktuasi nilai emas sejak tahun 2008 yang tidak stabil, membuat sebagian
investor berfikir ulang untuk menjadikan emas sebagai alat investasi. Hal ini dapat
dibuktikan dengan turunnya harga emas batangan bersertifikat di Logam Mulia
milik PT Aneka Tambang (Antam) Tbk pada hari Jumat (31/10). Data riset
KONTAN menunjukkan, harga acuan emas Antam berada di level Rp 483.000
per gram, turun Rp 1.000 dari posisi hari sebelumnya (Prayogo, KONTAN
Online, Oktober 2014). Menurut M. Iqbal, pemicu utama terjadinya penurunan
emas yaitu Quantitative Easing yang dilakukan oleh the Fed. Quantitative Easing
adalah kebijakan moneter non-konvensional yang dipakai bank sentral untuk
mencegah penurunan suplai uang ketika kebijakan moneter standar mulai tidak
efektif.
Dengan alasan tersebut, seorang pakar informasi teknologi yang bernama
Satoshi Nakamura menciptakan cryptocurrency. Cryptocurrency merupakan mata

uang yang diciptakan dengan berbagai rumus matematika rumit dan menghasilkan
Bitcoin. Bitcoin adalah mata uang digital yang dapat digunakan untuk transfer
antar negara tanpa terikat pada nilai Dolar Amerika atau nilai tukar mata uang
asing lain (Bradbury, 2013). Sejak diperkenalkan pada tahun 2009, Bitcoin mulai
menunjukkan peningkatan nilai yang cukup signifikan melebihi nilai emas.
Tentunya, Indonesia tidak luput dari fenomena Bitcoin. Di Indonesia,
Bitcoin masuk melalui investor-investor yang memiliki ketertarikan pada mata
uang digital ini. Salah satu founder dan penggagas peredaran Bitcoin di Indonesia
adalah Oscar Darmawan. Oscar mengungkapkan, Bitcoin akan berkembang
sangat pesat di Indonesia karena sebagian besar warga Indonesia telah beradaptasi
dengan teknologi informasi dan banyak mengambil kemudahan serta keuntungan
dari hal tersebut.
Tetapi, dari lembaga institusional Indonesia, yaitu Bank Indonesia tidak
mengakui Bitcoin sebagai alat pembayaran maupun alat tukar di Indonesia. Peter
Jacob, Direktur Departemen Komunikasi Bank Indonesia menyatakan ketentuan
tersebut mengacu pada Undang-undang No. 7 Tahun 2011 tentang Mata Uang
serta UU No. 23 Tahun 1999 yang kemudian diubah beberapa kali, terakhir
dengan Undang-Undang No. 6 Tahun 2009. Untuk itu, BI mengimbau masyarakat
agar berhati-hati terhadap Bitcoin dan virtual currency lainnya (Jatmiko, Kompas
Online).
CEO Bitcoin Indonesia, Oscar Darmawan tetap mengharapkan pengakuan
dari BI tentang kepastian Bitcoin. Oscar menyatakan Bitcoin di Indonesia perlu

pengakuan dari pemerintah atau otoritas keuangan dan moneter. Hal tersebut
menyangkut transaksi yang dilakukan masyarakat secara massal, selain itu Bitcoin
dapat ditukar dengan rupiah. Transaksi Bitcoin dianggap sama seperti transaksi
terhadap emas, sehingga memungkinkan Bitcoin menjadi komoditas. Satu hal
yang perlu diwaspadai adalah, Bitcoin tidak mempunyai wujud fisik. Sehingga,
kerugian yang terjadi sepenuhnya tanggung jawab pemilik Bitcoin.

SEJARAH BITCOIN
Konsep cryptocurrency atau digital currency pertama kali di publikasikan
oleh Satoshi Nakamoto melalui paper yang mendeskripsikan penerapan sifat
kriptografi tertentu ke buku besar dengan cara yang mencegah apa yang disebut
pengeluaran ganda pada 31 Oktober 2008 (Surda, 2014). Hal tersebut dikarenakan
krisis keuangan yang mengikis kepercayaan terhadap uang pada tahun 2008.
Nakamoto percaya bahwa matematika lebih memiliki nilai yang tetap karena
matematika merupakan hal yang tak terbantahkan. Matematika juga memiliki
utilitas utama: tidak seperti emas, persamaan dan penyelesaiannya pada dasarnya
mudah diputar-balikkan. Nakamoto juga mendeskripsikan sistem matematika
yang dapat digunakan untuk menciptakan dan mengatur sistem moneter yang
disebut Bitcoin (Nakamoto, 2013).
Pada awal tahun 2009, Bitcoin telah ada sebagai benda. Pada waktu
tersebut, Bitcoin tidak memenuhi syarat sebagai goods dikarenakan banyak orang
tidak mengetahui bagaimana menggunakan Bitcoin untuk memenuhi kebutuhan

mereka (Surda, 2014). Tonggak penting lebih lanjut dalam evolusi bitcoin adalah
munculnya penjualan bitcoin terhadap dolar AS.

Banyak orang mulai

menukarkan Bitcoin dengan dolar AS, yang dapat disimpulkan bahwa pada waktu
tersebut, Bitcoin merupakan sebuah goods (dan mempunyai harga atau nilai).
Munculnya pertukaran menciptakan layanan yang mudah diakses dengan
kemampuan untuk secara instan memperdagangan Bitcoin, serta ketersediaan
informasi tentang harga yang sebenarnya dari waktu ke waktu dan order books
beli/jual. Pada tahun 2010, Laszlo Hanyecz menyadari bahwa Bitcoin yang
dimiliki bersifat likuid (mudah dijual dengan harga ekonomi) dan hal tersebut
memberinya pengetahuan untuk menggunakannya sebagai sarana pertukaran
(Surda, 2014).
KEUNTUNGAN DAN KERUGIAN BITCOIN
Bitcoin merupakan mata uang digital pertama yang terdesentralisasi dan
tidak diatur oleh megara manapun. Seperti yang telah dijelaskan, Bitcoin
merupakan mata uang digital yang diciptakan oleh Satoshi Nakamoto dengan
rumus matematika rumit yang diperkenalkan pada awal tahun 2009. Bitcoin
memberikan keuntungan pada pengguna teknologi dikarenakan pemakai Bitcoin
tidak perlu membawa Bitcoin secara fisik. Perkembangan dunia teknologi yang
semakin maju juga memungkinkan pemilik Bitcoin untuk mengakses Bitcoin
dimana saja, untuk bertransaksi ke mana saja, antar negara sekalipun, tanpa
terkena pajak (Woo, Gordon, dan Ialarov, 2013).

Disisi lain, karena tidak mempunyai lembaga hukum yang mengatur


tentang Bitcoin, jika pengguna atau pemilik Bitcoin mengalami kehilangan atau
kerugian, tidak ada pihak yang bertanggung jawab. Pemerintah juga tidak dapat
memberikan sanksi kepada pencipta Bitcoin, karena sistem yang tidak terpusat.
Sebagai mata uang fiktif, penyimpanan Bitcoin sangat tergantung pada keamanan
sistem komputer terhadap serangan virus. Bitcoin juga tidak memberikan bunga
kepada pemilik juga berisiko terhadap fluktuasi di dunia maya.
Dari laman resmi Bitcoin Indonesia, harga Bitcoin saat ini (10 Nov 2014)
mencapai harga tertinggi sebesar Rp. 4.247.000,00/BTC dan harga terendah Rp.
4.070.000,00/BTC. Hal ini yang menarik para investor untuk berinvestasi Bitcoin.
Sesuai dengan teori portofolio, semakin tinggi resiko, semakin tinggi pula return
yang didapatkan. Teori tersebut sangat serasi jika diterapkan pada investasi
Bitcoin. Harga yang terdapat pada Bitcoin merefleksikan tingkat permintaan yang
tinggi di pasar terhadap Bitcoin, sehingga Bitcoin memiliki volatilitas yang tinggi.
Transaksi Bitcoin merupakan transaksi tanpa syarat dan tanpa batasan
transfer. Tidak seperti transaksi melalui bank yang mempunyai batasan transaksi,
Bitcoin lebih fleksibel karena hanya menggunakan perantara internet. Hal tersebut
dapat merugikan bank sentral yang berada di setiap negara. Jika Bitcoin benar
akan diterapkan, maka fungsi bank sentral akan tertutup oleh manfaat yang
diberikan Bitcoin kepada penggunanya.
BITCOIN DI INDONESIA
Bitcoin Sebagai Mata Uang

Di Indonesia, Bitcoin mulai populer pada November 2013. Bitcoin


Indonesia, exchanger Bitcoin terbesar di Indonesia, mencatatkan nilai transaksi
sebesar 5 btc atau sekitar Rp 35-50 juta dalam sehari. Founder dan pendiri Bitcoin
Indonesia, menjelaskan awal mula Bitcoin masuk ke pasar Indonesia dikarenakan
adanya perdagangan Bitcoin antar investor dari Indonesia. Dari waktu ke waktu,
transaksi Bitcoin di Indonesia mulai berkembang karena kemudahan yang
ditawarkan oleh Bitcoin.
Kehadiran Bitcoin, direspon kurang baik oleh Bank Indonesia. Sebutan
Bitcoin sebagai mata uang digital, dianggap sebagai ancaman terhadap mata uang
Negara Kesatuan Republik Indonesia, yaitu Rupiah. Terlebih lagi, nilai Rupiah
yang semakin melemah terhadap Dolar AS, memberikan peluang kepada Bitcoin
untuk menggantikan tempat mata uang Rupiah. Untuk itu, mengacu pada UU No.
7 tahun 2011 tentang mata uang serta UU No.23 tahun 1999 yang kemudian
diubah dengan UU No.6 tahun 2009, Bank Indonesia menyatakan bahwa Bitcoin
dan mata uang virtual lainnya bukan merupakan mata uang atau alat pembayaran
yang sah.
Oscar Darmawan lalu menanggapi bahwa Bitcoin di Indonesia tidak akan
menjadi mata uang untuk menggantikan mata uang Rupiah. Bitcoin merupakan
salah satu alternatif transaksi online, maupun investasi yang sifatnya hampir
serupa dengan emas. Bitcoin dinilai dapat menjadi alternatif investasi selain emas
karena Bitcoin mempunyai jumlah yang terbatas, sama seperti emas. Menurut
Bitcoin Indonesia, jumlah maksimal Bitcoin yang akan beredar diseluruh dunia

adalah sebesar 21 Juta BTC, jumlah tersebut telah ditentukan oleh sebuah sistem
yang dirancang dengan sangat rumit.
Menurut Surda (2014), jika Bitcoin menjadi mata uang, maka perlu untuk
menggolongkannya. Dalam pandangannya, faktor yang paling penting adalah
kurangnya hubungan kontraktual antara pemilik Bitcoin dengan orang lain.
Pemilik Bitcoins tidak memiliki kewajiban dan diberikan hak. Ahli hukum
menganalisis bagaimana Bitcoin dapat masuk ke dalam sistem hukum pada
masing-masing negara, contohnya Kaplanov (2012), Kharbanda (2013), dan
independen menyimpulkan kurangnya hubungan kontrak antara pemegang bitcoin
dan orang lain (sebagai contoh: tidak adanya emiten). Ekonom seperti Graf
(2013a) mulai memperhatikan aspek ini, dan menggunakannya sebagai faktor
yang relevan untuk mengklasifikasikan Bitcoin.
Bank Indonesia hingga saat ini masih mempertimbangkan Bitcoin akan
digolongkan menjadi suatu produk yang seperti apa. Oscar Darmawan,
mengharapkan Bitcoin akan menjadi suatu komoditas, seperti yang dilakukan oleh
pemerintah Singapura. Menurut Oscar, BI sebagai otoritas keuangan perlu
memperjelas tentang status Bitcoin di Indonesia. Hal tersebut diperlukan untuk
menambah rasa percaya dalam masyarakat untuk menggunakan Bitcoin.
Bitcoin Sebagai Komoditas
Uang dalam arti sempit dibagi oleh Mises (1912) menjadi uang komoditas
(uang yang sekaligus komoditas umum), uang fiat (uang yang terdiri dari hal-hal
dengan kualifikasi hukum khusus), dan uang kredit. Komoditas disini berarti

dapat diperdagangkan dan komoditas tidak harus berwujud benda nyata (Angel
dan McCabe, 2014).
Menurut Oscar, jika Bitcoin diakui sebagai komoditas di Indonesia,
pemerintah dapat menarik pajak dari peredaran Bitcoin. Oscar menambahkan,
Pemerintah Indonesia dapat melihat ke Pemerintah Singapura yang juga
menjadikan Bitcoin sebagai komoditas digital dan menarik pajak dari Bitcoin.
Jika Pemerintah Indonesia dapat menerapkan hal tersebut, manfaat yang didapat
dari pajak Bitcoin dapat berpotensi tinggi.
Transaksi Bitcoin dapat memberikan keuntungan seperti berinvestasi, hal
tersebut yang menyebabkan banyak yang menganggap transaksi Bitcoin sama
dengan emas. Persamaan tersebut dikarenakan Bitcoin dan emas mempunyai nilai,
dan permintaan yang tinggi tetapi barang yang tersedia terbatas. Faktor yang
menentukan nilai Bitcoin naik atau turun adalah masyarakat dan kepercayaan,
sama halnya emas.
Pemerintah dapat mempertimbangkan Bitcoin sebagai komoditas digital
karena berbagai keuntungan yang dapat didapat dari transaksi Bitcoin. Peredaran
Bitcoin di Indonesia relatif rendah dikarenakan belum adanya regulasi yang jelas
terkait pengakuan Bitcoin di Indonesia. Jika dibandingkan dengan Singapura yang
regulasinya lebih jelas, tentunya Bitcoin di Indonesia masih terkendala oleh
regulasi maupun kepercayaan masyarakat terhadap nilai dari Bitcoin.

KESIMPULAN
Sebagai alat pembayaran virtual, Bitcoin dinilai sangat praktis dan mudah
digunakan karena tanpa lembaga kliring, tanpa pajak, tidak terikat regulasi, dan
nilainya selalu meningkat. Tetapi dibalik itu semua, masih terdapat kerugian jika
pemilik Bitcoin tidak berhati-hati dalam menjaga Bitcoin yang dimiliki. Lembaga
perbankan di tiap negara pun akan mengalami kerugian, dikarenakan transaksi
yang dilakukan tidak perlu menggunakan bank sebagai perantara, hanya
membutuhkan koneksi internet.
Secara jelas, Pemerintah Indonesia melalui Bank Indonesia telah
menyatakan Bitcoin atau digital currency lainnya bukan merupakan alat
pembayaran yang sah di Indonesia. Deputi Gubernur Bank Indonesia,
memberikan peringatan bahwa ada tiga Undang Undang yang perlu diperhatikan
dalam penggunaan Bitcoin sebagai alat pembayaran. Pertama, undang undang
Bank Indonesia; kedua, UU Informasi dan Transaksi Elektronik; dan ketiga adalah
UU tentang Mata Uang (Kontan, 2014).
Di beberapa negara lain, pengguna Bitcoin bukan hanya perseorangan
pribadi, namun telah merambah hingga perusahaan. Tetapi ada juga negara yang
menyatakan Bitcoin ilegal, salah satunya adalah Tiongkok. Hal tersebut
dikarenakan fluktuasi Bitcoin yang sangat signifikan sehingga dapat merugikan
penggunanya. Pemerintah Cina pada awalnya sangat antusias dengan peredaran
Bitcoin di negaranya, hingga Cina menyatakan Bitcoin tidak dapat digunakan
sebagai mata uang legal dan hanya diperbolehkan sebagai alat investasi.

Namun, banyak penelitian tentang Bitcoin yang menyatakan Bitcoin harus


disikapi serius oleh para analis keuangan (Briere, Oosterlinck, dan Szafarz, 2013),
David Woo, Ian Gordon, dan Vadim Ialarof (2013) menemukan bahwa Bitcoin
masih mempunyai kesempatan untuk terus tumbuh tetapi juga harus diawasi dan
diwaspadai perkembangannya. Sedangkan Surda (2014), menyebutkan bahwa
Bitcoin adalah sebuah komoditas yang dapat menjadi alat tukar yang umum
berlaku.
KETERBATASAN
Keterbatasan dari review ini adalah, beberapa artikel jurnal yang dipakai
merupakan artikel asing yang sebagian besar memberi pendapat bahwa Bitcoin
merupakan alat transaksi yang sangat menguntungkan. Perkembangan Bitcoin
yang baru beberapa tahun tidak dapat menggambarkan bagaimana dampak yang
sebenarnya terjadi. Identitas pemilik Bitcoin tidak dapat diidentifikasi karena
transaksi Bitcoin tidak dapat dilacak. Selain itu, penelitian Bitcoin di Indonesia
masih sedikit, sehingga penerapan penggunaan di indonesia tidak dapat dilihat
secara jelas. Sumber data yang diperoleh untuk perkembangan Bitcoin di
Indonesia, hanya diperoleh melalui media online atau berita melalui televisi.
Secara keseluruhan, penerapan Bitcoin di Indonesia hanya dapat
ditentukan oleh pribadi individu masing-masing. Tetapi untuk lebih mendukung
perkembangannya, diperlukan regulasi dari pemerintah untuk melindungi pemilik
Bitcoin.

DAFTAR PUSTAKA
Angel, James J dan Douglas McCabe. 2014. The Ethics of
Payments: Paper, Plastic, or Bitcoin ?

Nakamoto, Satoshi. Bitcoin: A Peer-to-Peer Electronic Cash


System. Bitcoin.org. Juni 2013

Prayogo, Oginawa R. Harga acuan emas Antam turun Rp


1.000/gram http://investasi.kontan.co.id/news/harga-acuan-emasantam-turun-rp-1000gram-2. 31 Oktober 2014

Woo, David, Ian Gordon, dan Vadim Ialarof. Desember 2013. Bitcoin: A
First Assessment (Bank of America Merrill Lynch)

Mises, Ludwig von. 1912. The Theory of Money and Credit. Ludwig
von Mises Institute, Online edition

Iqbal, Muhammad. Harga Emas: Waktunya Untuk Berselancar ?


http://www.dinar-online.com/daftar-artikel/488-harga-emas-waktunyauntuk-berselancar.html. 4 September 2012.

Bradbury, Danny. 2013. The Problem with Bitcoin

Jatmiko, Bambang Priyo. BI: Bitcoin Bukan Alat Pembayaran yang Sah.
http://bisniskeuangan.kompas.com/read/2014/02/06/1751408/BI.Bitco
in.Bukan.Alat.Pembayaran.yang.Sah. 6 Februari 2014.

Briere, Marie, Kim Oosterlinck, dan Ariane Szafarz. September 2013.


Virtual Currency, Tangible Return: Portofolio Diversification with
Bitcoins

Surda, Mag. Peter. 2014. The Origin, Classification and Utility of


Bitcoin