Anda di halaman 1dari 44

APA ITU LTE ( 4G )

Apa itu LTE?


Berdasarkan sejarahnya LTE dikembangkan oleh 3GPP (Third Generation Partnership
Project atau 3G berbasis GSM). Disisi lain 3GPP2 mengembangkan 3G berbasis
CDMA. LTE akan menjadi evolusi dari jaringan GSM dan juga bagian dari roadmap
standar 3GPP2, bukan evolusi dari CDMA. Sesuai dengan sifatnya sebagai 4G, LTE
akan menjadi all IP-based network. LTE (Long Term Evolution) atau biasa juga
disebut SAE (System Architecture Evolution) disebut-sebut sebagai generasi
keempat (4G) yang akan menggeser kemampuan 3G. Dalam akses data, LTE jauh
melebihi generasi-generasi sebelumnya, bahkan standar spesifikasi kecepatan
datanya sampai 100 Mbps pada arah downlink. Diperkirakan siap digelar sekitar
2010-an, LTE akan mampu membawa aplikasi-aplikasi yang menarik seperti TV
interaktif dan game tingkat advance. Karena LTE mendukung kemampuan handover
dan roaming ke jaringan bergerak eksisting maka cakupan yang melayani
perangkat pelanggan menjadi ubiquitous. Banyak keunggulan yang ditawarkan oleh
teknologi LTE ini, diantaranya penggunaan spektrum yang fleksibel, peningkatan
kapasitas, latensi yang rendah, biaya operasional yang lebih rendah, dan memiliki
performansi yang tinggi.
LTE merupakan standar terbaru di mobile network technology GSM / EDGE and
UMTS / HSDPA, dimana jaringan teknologi mobile teknologi yang sekarang bekerja
dengan lebih dari 85% dari seluruh pelanggan selular akan memastikan dari 3GPP
akan terjadi kompetisi dengan berbagai teknologi selular lainnya. Para pencetus LTE
mulai memikirkan perubahan besar dengan melihat teknologi baru pada air
interface dan arsitektur sistem tanpa melihat sistem yang ada saat ini. Hal ini
menyebabkan adanya banyak perubahan, misalnya seperti penggunaan teknologi
OFDM (Orthogonal Frequency Division Multiplexing) sebagai basis air interface pada
lapisan akses radio (radio access layer), arsitektur system flat IP (All-IP), level
modulasi yang lebih tinggi dan lain-lain.
Jaringan LTE mampu mentransformasi pengalaman pengguna telekomunikasi,
memperbarui layanan mobile broadband ke tingkatan baru sehingga kegiatan
mobile seperti browsing internet, mengirim email, video sharing, download musik,
serta aplikasi-aplikasi lain akan sangat mudah diakses tanpa ada intervensi atau
keterlambatan. LTE disiapkan untuk format jaringan seluler yang kekuatannya jauh
melebihi dari pada yang sudah ada sekarang baik 3G, HSDPA (high speed downlink
packet access) maupun HSUPA (high speed uplink packet access), LTE mampu
memberikan downlink puncak harga minimal 100Mbit / s, 50 Mbit / s [1] di uplink
dan RAN (Radio Access Network) sepanjang perjalanan waktu kurang dari 10ms. LTE
fleksibel mendukung operator bandwidths, dari 20MHz hingga 1.4MHz serta kedua
FDD (Frequency Division duplex) dan TDD (Time Division duplex). karena mampu
mengalirkan data hingga 100 Mbps untuk downlink dan 50 Mbps untuk
uplink.Dengan kecepatan fantastis itu, beragam aplikasi bisa dinikmati lebih cepat

dan real-time misalnya untuk game online.


Sementara itu NSN akan meluncurkan sistem LTE yang lengkap, terdiri dari Stasiun
Basin Multimode Flexi dengan software definable (BTS). Flexi Mobile Network
Gateway dan MME. Dengan BTS ini terjadi penghematan energi, dengan pengiriman
biaya lebih murah dan manfaat jauh lebih besar, khususnya bagi BTS-BTS Flexi.
BTS Multimode Flexi software-definable merupakan jalur upgrade ke LTE yang lebih
sempurna. Para penyedia layanan bisa mengkompres BTS dengan menggunakan
perangkat lunak WCDMA/HSPA, hal ini untuk mendukung konsumen dengan
kekuatan sinyal, juga untuk transfer data yang oke, karena BTS nya telah menjadi
BTS super canggih. Setelah LTE hadir,maka kualitas kecepatan dan bandwith makin
lebih oke dan cepat, pengaplikasian juga cukup mudah, hanya dengan mengupgrade softwarenya saja.
http://wicaksana.net/blog/2009/04/15/migrasi-cdma-ke-lte
LTE vs WIMAX
Dua teknologi nirkabel yang baru naik daun ini tampak bersaing. WiMAX (Worldwide
Interoperability for Microwave Access) lebih dulu lahir daripada LTE (Long Term
Evolution). Secara perangkat dan dukungan vendor handset WiMAX lebih siap
dibandingkan LTE pada tahun 2009. Sedangkan LTE akan berkembang setelah tahun
2010. Masing-masing teknologi ini oleh International Telecommunications Union
(ITU) akan dijadikan kandidat standar jaringan 4G (at least 100 Mbps untuk transfer
data) paling tidak pada tahun 2009.
Secara kecepatan LTE unggul diatas WiMAX generasi yang sekarang (IEEE.802.16e).
LTE mampu menghadirkan kecepatan downlink hingga 100 Mbps dan uplink 50
Mbps dan dapat dikembangkan hingga 250 Mbps untuk downstream. Akan tetapi
kecepatan ini nantinya akan bersaing dengan generasi WiMAX II (IEEE.802.16m)
yang akan diperbarui pada tahun 2009. WiMAX II akan berjalan pada mode Mobile
dengan speed 100 Mbps dan Fixed hingga 1 Gbps (sesuatu yang luar biasa untuk
pertukaran data secara nirkabel). Selain LTE dan WiMAX, ada satu lagi teknologi
yang hampir mirip dengan LTE yaitu UMB (Ultra Mobile Broadband) tetapi dasar
pengembangannya adalah CDMA. Bahkan UMB ini downstream-nya lebih besar
dibandingkan LTE yaitu mencapai 288 Mbps (dengan band 20 Hz).
LTE dikembangkan oleh 3GPP (grup GSM, terutama Ericsson), sedangkan UMB
diusulkan oleh 3GPP (grup CDMA 2000, terutama Qualcomm), dan WiMAX II oleh
WiMAX Forum (terutama Intel). Untuk lebih jelas nya roadmap evolusi teknologi
nirkabel di dunia seperti di bawah ini.
(1) GSM (2G) - GPRS (2.5G) - EDGE - WCDMA (3G) - HSDPA (3.5G) - LTE (4G)
(2) CDMA (2G) - CDMA 2000 - EV-DO (3G) - UMB (4G)
(3) Wi-Fi - Fixed WiMAX - Mobile WiMAX - WiMAX II (4G)
Teknologi 4G seperti LTE dan WiMAX didesain lebih kepada transfer data bukan
suara, berbasis jaringan IP dan berdiri di atas teknologi OFDM. Kecepatan yang

tinggi pada 4G memungkinkan suara, video, dan data dapat diakses dalam satu
perangkat yang praktis. Di masa mendatang, konsumen dijanjikan akan dapat
melakukan download dan upload High Definition Video, layanan data berkapasitas
besar dan Value Added Service (VAS) seperti interactive gaming, mengakses e-mail
dengan attachment besar serta bergabung dalam video conference dimanapun dan
kapanpun.
LTE yang merupakan pengembangan dari GSM dan CDMA diprediksi akan mudah
melakukan penetrasi ke pasar. Teknologi GSM sudah dipakai secara dominan (80 %)
di seluruh belahan dunia. Jaringan GSM dan CDMA sudah sangat luas terutama di
kota-kota dunia. Oleh karena itu tidak heran LTE akan memiliki pasar yang lebih
besar di banding dengan WiMAX. Akan tetapi teknologi WiMAX lebih ekonomis untuk
pengembangan jaringan baru di wilayah-wilayah pedesaan. WiMAX memiliki biaya
investasi yang jauh lebih murah dibanding BTS GSM. Jika satu BTS GSM
membutuhkan biaya invetasi hingga Rp1 miliar maka jumlah unit yang sama untuk
BTS Wimax hanya membutuhkan biaya kira-kira Rp 60 juta saja. Segmentasi pasar
pemakaian WiMAX dan LTE sudah jelas. WiMAX akan berjaya di daerah-daerah
pedesaan yang sulit dan jarang terdapat BTS. Sedangkan LTE akan berkembang
pesat di daerah perkotaan, memanfaatkan jaringan-jaringan BTS yang sudah
tersedia.

LTE (LONG TERM EVOLUTION)


LTE, Layanan Baru Berkemampuan Tinggi.

SEJARAH LTE
LTE (Long Term Evolution) adalah sebuah nama baru dari layanan yang
mempunyai kemampuan tinggi dalam sistem komunikasi bergerak (mobile).LTE
sendiri merupakan standar komunikasi dasar nirkabel tingkat tinggi yang
didasarkan pada jaringan GSM/EDGE dan UMTS (Universal Mobile
Telecommunications System)/HSDPA yang diperkenalkan pada 3rdGeneration
Partnership Project (3GPP) Release 8. LTE merupakan langkah evolusi lanjutan dari
3G menuju generasi 4G dari teknologi radio yang dirancang untuk meningkatkan
kapasitas dan kecepatan jaringan telepon mobile. Format LTE pertama kali
diusulkan oleh operator NTT CoOMo dari Jepang dan telah diadopsi sebagai standar

Internasional. Layanan LTE pertama di dunia dibuka oleh TeliaSonera di dua kota di
Skandinavia yaitu Stockholm dan Oslo pada 14 Desember 2009. Yang kemudian
diikuti oleh Amerika Serikat dan Jepang pada tahun 2010.
LTE memberikan tingkat kapasitas downlink sedikitnya 100 Mbps, dan uplink
paling sedikit 50 Mbps dan RAN round-trip kurang dari 10 ms. LTE mendukung
operator bandwidthdari 20 MHz turun menjadi 1,4 MHz dan mendukung pembagian
duplex (FDD) dan waktu pembagian duplexing (TDD).
Roadmap evolusi teknologi nirkabel di dunia:

KELEBIHAN LTE

Bila koneksi ke LTE lambat, maka sinyal dapat dialihkan ke jaringan teknologi
lain seperti GSM, LTE mempunyai spektrum antara 1,4 MHz sampai 20 MHz.

Di sisi transmisi, LTE menggunakan SC-FDMA untuk uplink dan OFDMA untuk
downlink yang dapat lebih efisiensi dalam penggunaan energi.

Dari sisi antena, menggunakan antena MIMO yang dapat memungkinkan


antena untuk melewatkan data berukuran besar yang sebelumnya dipecah
dan dikirim secara terpisah.

Tingkat download sampai dengan 299.6 Mbis/s dan tingkat upload hingga
75.5 Mbis/s tergantung pada kategori perangkat yang digunakan.

Peningkatan dukungan untuk mobilitas, sebagai contoh dukungan untuk


terminal bergerak hingga 350km/jam atau 500 km/jam tergantung pita
frekuensi.

Dukungan untuk semua gelombang frekuensi yang saat ini digunakan oleh
sistem IMT dan ITU-R.

KEKURANGAN LTE

LTE bukanlah teknologi yang kebal terhadap cuaca buruk. Performa


terbaiknya akan segera hilang ketika cuaca buruk datang menyerang.

Jika jaringan tidak sepi trafiknya maka belum tentu koneksi video streaming
bisa tanpa putus. Namun masih cukup memuaskan ketika digunakan banyak
orang.

ARSITEKTUR LTE
Jaringan LTE dibagi menjadi dua jaringan dasar, yaitu E-UTRAN (Evolved
Universal Terrestrial Radio Access Network) dan EPC (Evolved Packet Core).
Gambar dibawah ini mendeskripsikan arsitektur jaringan LTE, dimana terdapat
empat level utama yaitu : User Equipment (UE), Evolved UTRAN (E-UTRAN), Evolved
Packet Core Network (EPC), dan Service domain.

Dibawah ini merupakan arsitektur umum LTE :


1.

eNodeB

Jaringan akses pada LTE terdiri dari satu elemen, yaitu eNodeB.
Fungsi eNodeB adalah untuk mengontrol dan mengawasi pengiriman sinyal yang
dibawa oleh sinyal radio, berperan dalam autentikasi atau mengontrol kelayakan
data yang akan melewati eNodeB, dan untuk mengatur scheduling.

2.

Mobility Management Entity (MME)

MME dapat dianalogikan sebagai MSC pada jaringan GSM. MME


adalah node-kontrol utama pada jaringan akses LTE. MME berfungsi untuk
mengatur handover, yaitu memilih MME lain untuk handover dengan MME lain, atau
memilih SGSN untuk handover dengan jaringan akses 2G/3G.

3.

Serving Gateway (SGW)

SGW terdiri dari dua bagian, yaitu 3GPP Anchor dan SAE Anchor.
3GPP Anchor berfungsi sebagai gateway paket data yang berasal dari jaringan
3GPP, sedangkan SAE Anchor berfungsi sebagai gateway jaringan non-3GPP.

4.

Packet Data Network Gateway (P-GW)

Packet Data Network Gateway (P-GW atau PDN-GW) adalah edge router
antara EPS dan external packet data network. Ia memiliki level tertinggi pada
system, dan biasanya bertindak sebagai pelengkap IP point pada UE. Secara khusus
P-GW mengalokasikan IP address ke UE, dan UE dapat melakukan komunikasi
dengan IP host lain pada external network, seperti internet. Ia juga mempunyai
external PDN yang mana UE dihubungkan menggunakan alokasi address UE
tersebut, dan semua trafik P-GW tunnel ke jaringan.

5.

Home Subscriber Server (HSS)

HSS adalah database utama yang adapadajaringan LTE. HSS adalah


sebuah super HLR yang mengkombinasikan fungsi HLR sebagai database dan
AuC sebagai autentikasi.

6.

User Equipment (UE)

UE adalah device yang terdapat pada end user digunakan untuk


berkomunikasi. UE juga terdiri dari Universal Subscriber Identity Module (USIM) yang
memisahkan module dari UE saat off. USIM merupakan tempat aplikasi smart card
yang dapat dibuka disebut Universal Integrated Circuit Card (UICC). USIM digunakan
sebagai identifikasi dan authentikasi end user dan sebagai kunci keamanan yang
dapat bergerak untuk melindungi interface transmisi radio. UE berfungsi sebagai
platform aplikasi komunikasi, dimana sinyal dan jaringan dapat disetting,
maintenanance, dan remove link komunikasi yang diperlukan oleh end user.
7.

Service Domain

Service Domain merupakan variasi sub-system, yang termasuk dalam


pelayanan node logic.
TEKNOLOGI LTE

OFDM (Orthogonal Frequency Division Multiple Access)

OFDM adalah sebuah teknik transmisi yang menggunakan beberapa


buah frekuensi (multicarrier) yang saling tegak lurus (orthogonal).

SC-FDMA (Single Carrier Frequency Division Multiple Access)

Single carrier FDMA hampir sama dengan OFDM, hanya saja tidak terjadi
pembagian kanal menjadi beberapa subcarrier. Keuntungan SC-FDMA
merupakan perbaikan dari kekurangan OFDM, yaitu memberikan performa daya
yang lebih efisien, PAPR rendah, dan mengurangi frekuensi offset.

Antena MIMO (Multiple Input Multiple Output)

MIMO adalah penggunaan antena penerima dan pengirim yang jumlahnya


lebih dari satu. Dengan penggunaan antena MIMO ini didapat banyak keuntungan,
misalnya peningkatan throughput data dan
link range tanpa tambahan bandwidth atau daya transmisi. Dan memungkinkan
antena untuk melewatkan data berkuran besar setelah sebelumnya dipecah dan
dikirim secara terpisah.
MEKANISME LTE
Secara umum mekanisme LTE dapat digambarkan seperti gambar dibawah ini:

Dimana jaringan Jaringan LTE ini menggunakn Evolved Packet System (EPS)
murni berbasis IP. Baik layanan real-time maupun datacom dapat dibawa oleh
protokol IP. IP address (IPv4 atau IPv6) dialokasikan pada satu mobile handset dan
akan dilepas ketika handset dimatikan.
IMPLEMENTASI LTE DI INDONESIA
LTE adalah pintu masuk untuk beragam layanan menarik. Sebut saja Voice
Over IP, Multi-User Gaming Over IP, High Definition Video On Demand dan Live TV.
Diyakini LTE mampu menghadirkan seluruh layanan yang ada di internet ke dalam
sebuah perangkat mobile. Terlebih, LTE menjanjikan low latency yang sangat
penting untuk layanan-layanan real time yang memang alergi terhadap delay.

LTE akan sangat meningkatkan pengalaman konsumen untuk aplikasi-aplikasi


data layanan bergerak dengan waktu respon yang lebih cepat dan throughput yang

lebih baik, latency turun menjadi 10-20 ms dan kecepatan puncak mencapai 173/58
Mbps (downlink/uplink). LTE mendukung akses layanan mobile broadband untuk
berbagai aplikasi seperti browsing, email, tukar menukar video, download music
dan banyak aplikasi lainnya untuk merespon dengan cepat tanpa penundaan.
Sedikitnya ada lima raksasa operator yang berencana mengimplementasikan LTE.
Mereka adalah China Mobile, Vodafone, T-Mobile, dan AT&T, dan Verizone Wireless.
Di Indonesia, salah satu operator yang mulai menerapkan teknologi LTE
adalah telkomsel. Ada beberapa alasan mengapa operator terbesar di Indonesia ini
memilih LTE dibandingkan pesaingnya WiMax. Implementasi Wimax membutuhkan
perubahan besar-besaran pada infrastruktur operator GSM. Disamping itu, perfoma
WiMaX ternyata menipu. Dalam trialnya performa Wimax memang mencapai 50
Mbps namun dalam prakteknya akan berubah drastis hingga 9 Mbps saja. Dari
investasi, LTE akan tiga kali lebih murah dari pada WiMax.
Berikut ini adalah beberapa device yang mendukung teknologi LTE seperti:
1. Samsung Galaxy S II LTE i727R
2. Samsung Galaxy Nexus
3. BlackBerry 4G PlayBook LTE
4. Samsung Galaxy Tab 8.9 LTE
5. Samsung Galaxy Tab 4G LTE

ANALISIS PENERAPAN TEKNOLOGI JARINGAN LTE 4G DI INDONESIA


Analisis Penerapan Teknologi Jaringan Lte 4G Di Indonesia
Kebutuhan perangkat telekomunikasi dewasa ini tidak hanya untuk komunikasi
suara, tetapi sudah merupakan tuntutan untuk komunikasi data, gambar dan video
membentuk komunikasi multimedia. Komunikasi multimedia sudah menjadi
keharusan dan ini dimungkinkan karena telah terjadinya konvergensi beberapa
layanan seperti voice, data, gambar dan video. Telah banyak aplikasi layanan
telekomunikasi yang banyak dinikmati user akibat dari konvergensi layanan yang
terjadi. Aplikasi layanan telekomunikasi yang pada awalnya hanya layanan fixed
sekarang ini telah dituntut untuk dapat dinikmati menggunakan perangkat bergerak
seperti PDA atau Laptop. Beberapa aplikasi layanan multimedia yang sekarang
banyak dinikamati antara lain adalah m-learning, m-banking, m-shopping dan lainlain. kemajuan teknologi telekomunikasi dan informatika biasa disebut Informatics,

Communication Technology (ICT) telah banyak membantu pengguna dalam


kehidupan sehari-hari. (Gunawan Wibisono dan Gunadi Dwi Hutomo, 2010; 3)

Dengan melihat perkembangan teknologi informasi pada saat ini dan


perkembangan teknologi dibidang telekomunikasi yang berkembang pesat serta
layanan komunikasi yang bergerak di dunia mobile evolutions memungkinkan
penggunanya dapat saling berinteraksi satu sama lain. Perkembngan teknologi ini
sendiri berkembang secara cepat dari generasi ke generasi. Dimulai dari generasi
Fixed Wireline sampai kepada generasi Broadband, ini bisa dilihat dari pertumbuhan
pengguna teknologi Wireless di Indonesia.

Gambar Pertumbuhan pelanggan broadband dan PSTN

Dari gambar tersebut dapat dilihat bahwa layanan PSTN terus meningkat atau terus
mengalami pertumbuhan (Growth) hingga pada akhirnya tahun 2005 mengalami
penurunan pertumbuhan pengguna. Berbeda dengan layanan broadband yang
penggunanya masih lebih kecil dari pengguna layanan PSTN namun terus
meningkat dari tahun ke tahun.

Teknologi dari layanan broadband sendiri terus berkembang, dimulai dari generasi
pertama atau biasa disebut dengan istilah 1G, dimana pada generasi ini memiliki
standar teknologi Nordic Mobile Telephone (NMT) yang digunakan berbasis analog,
kemudian masuk ke generasi 2G teknologi sudah berbasis digital dilanjutkan ke
generasi 2.5G dengan peningkatan dalam kapasitas Bandwitdh dari generasi

sebelumnya sampai pada tahun 2000 an perkembangan teknologi telekomnikasi di


dunia tersebut telah mencapai generasi 4G.

Untuk saat ini sendiri terdapat 3 kandidat pengusung teknologi 4G , yaitu Longterm
Evolution (LTE) ultra mobile broadband (UMB) dan Wimax (Worldwide
Interoperability for microwive access II. Namun dari ketiganya LTE adalah kandidate
terkuat yang dipercaya akan memberikan keuntungan baik bagi operator maupun
kepada pengguna.

Beberapa kelebihan diusung oleh teknologi 4G dengan jaringan LTE. Dibandingkan


dengan teknologi 3.5G yang hanya memiliki kecepatan akses data 7.2 Mbps, maka
4G dapat memiliki kecepatan akses hingga 10 kalinya. Secara teori teknologi ini
dapat menghasilkan kecepatan download hingga 100 Mbps. Kelebihan lain yang
dimiliki oleh teknologi 4G yang menggunakan jaringan LTE ini adalah dapat
menghemat biaya pengeluaran bagi operator yang sudah memiliki jaringan 3G dan
HSDPA, memiliki jaringan yang cukup luas dan layanan data broadband dalam skala
besar Namun untuk di Indonesia sendiri teknologi 4G khususnya untuk teknologi
Long Term Evolution (LTE) sendiri masih belum dapat dinikmati oleh seluruh
masyarakat Indonesia. Generasi 3.5G merupakan teknologi terakhir yang dapat
digunakan oleh masyarakat Indonesia. Sementara spesifikasi peralatan (device)
yang digunakan telah memenuhi standar kualitas yang dibutuhkan untuk dapat
menikmati layanan yang diberikan dari teknologi generasi 4G.

Maka dari itu di dalam tulisan ini akan disajikan mengapa teknologi LTE tersebut
belum bisa dinikmati oleh masyarakat Indonesia, apakah penyebab belum bisa
disajikannya layanan jaringan LTE di Indonesia. Maka dari itu penulis ingin
mengangkat judul yaitu Analisis Penerapan Teknologi Jaringan LTE 4G di
Indonesia.

Rumusan Masalah
1. Apakah kelebihan teknologi LTE 4G di bandingkan dengan generasi
sebelumnya ?
2. Mengapa layanan 4G belum dapat dinikmati oleh masyarakat di Indonesia ?
3. Apa yang menjadi faktor utama yang menyebabkan tidak adanya layanan 4G LTE
di Indonesia ?

Tujuan Penulisan
1. Mengetahui kelebihan dari LTE 4G
2. Mengetahui kenapa layanan LTE 4G belum dapat dinikmati oleh masyarakat di
Indonesia.
3. Mengetahui faktor utama penyebab layanan LTE 4G di Indonesia belum dapat
digunakan.

Sistem Telekomunikasi
Menurut Saydam (2006: 7) telekomunikasi terdiri dari dua suku kata, yaitu tele =
jarak jauh, dan komunikasi = kegiatan untuk menyampaikan berita atau informasi.
Jadi telekomunikasi secara sederhana dapat diartikan sebagai suatu upaya
penyampian berita dari satu tempat ke tempat lainnya (jarak jauh) yang
menggunakan alat atau media elektronik.

Telekomunikasi adalah setiap pemancaran, pengiriman, dan atau penerimaan dari


setiap informasi dalam bentuk tanda-tanda, isyarat, tulisan, gambar, suara, dan
bunyi melalui sistem kawat, optik, radio atau sistem elektromagnetik lainnya
(Undang-undang RI no.36 tahun 1999 tentang Telekomunikasi).

Sistem telekomunikasi adalah seluruh unsur/elemen baik infrastruktur


telekomunikasi, perangkat telekomunikasi, sarana dan prasarana telekomunikasi,
maupun peyelenggara telekomunikasi, sehingga komunikasi jarak jauh dapat
dilakukan Agar dapat melakukan hubungan telekomunikasi, terdapat beberapa
komponen pembangun system telekomunikasi yaitu :
a. Informasi : merupakan data yang dikirim/diterima seperti suara, gambar, file,
tulisan.
b. Pengirim : merubah informasi menjadi sinyal listrik yang siap dikirim.
c. Media transmisi : alat yang berfungsi mengirimkan dari pengirim kepada
penerima. Karena dalam jarak jauh, maka sinyal pengirim diubah lagi / dimodulasi
agar dapat terkirim jarak jauh.

Prinsip Kerja Sistem Telekomunikasi sendiri ialah sebagai berikut

a. Proses komunikasi diawali dengan sebuah pesan atau informasi yang harus
dikirimkan dari individu/perangkat satu ke perangkat lain.
b. Pesan/informasi tersebut selanjutnya dikonfersi kedalam bentuk biner atau bit
yang selanjutnya bit tersebut di encode menjadi sinyal. Proses ini terjadi pada
perangkat encoder.
c. Sinyal tersebut kemudian oleh transmitter dikirimkan/dipancarkan melalui media
yang telah dipilih.
d. Dibutuhkan media transmisi (radio, optik, coaxial, tembaga) yang baik agar
gangguan selama disaluran dapat dikurangi.
e. Selanjutnya sinyal tersebut diterima oleh stasiun penerima.
f. Sinyal tersebut didecode kedalam format biner atau bit yang selanjutnya diubah
kedalam pesan/informasi asli agar dapat dibaca/didengar oleh perangkat penerima

Bisnis Jasa Telekomunikasi


Bisnis adalah suatu kelompok atau organisasi yang menyediakan barang atau jasa
yang kemudian dijual untuk mendapatkan keuntungan. Jasa ialah perbuatan, proses
dan kinerja yang diberikan atau turut dihasilkan oleh suatu entitas atau orang untuk
entitas lain atau orang. Sedangkan Telekomunikasi ialah pemancaran, pengiriman,
dan atau penerimaan dari setiap informasi dalam bentuk tanda-tanda, isyarat,
tulisan, gambar, suara, dan bunyi melalui sistem kawat, optik, radio atau sistem
elektromagnetik lainnya.

Jadi, Bisnis jasa Telekomunikasi ialah layanan Telekomunikasi untuk memenuhi


kebutuhan bertelekomunikasi dengan menggunakan jaringan Telekomunikasi.
Penyelenggaraan jasa Telekomunikasi sendiri terdiri dari ;
a. Penyelenggaraan jasa telepon dasar
b. Penyelenggaraan jasa nilai tambah telepon
c. Penyeleggaraan jasa multimedia

Contoh dari layanan Telekomunikasi sendiri dapat berupa Fixed Lines, selular,
interkoneksi, network, data internernet dan layanan IT lainnya.

Perkembangan Generasi Jaringan

a. 1G
Generasi pertama atau 1G merupakan teknologi handphone pertama
yangdiperkenalkan pada era 80-an dan masih menggunakan sistem analog.
Generasi pertama ini menggunakan teknik komunikasi yang disebut Frequency
Division Multiple Access (FDMA).

b. 2G
Teknologi generasi kedua muncul karena tuntutan pasar dan kebutuhan akan
kualitas yang semakin baik. Generasi 2G sudah menggunakan teknologi digital.
Generasi ini menggunakan mekanisme Time Division Multiple Access (TDMA) dan
Code Division Multiple Access ( CDMA) dalam teknik komunikasinya.

c. 2.5G
Teknologi 2.5G merupakan peningkatan dari teknologi 2G terutama dalam platform
dasar GSM telah mengalami penyempurnaan, khususnya untuk aplikasi data. Untuk
yang berbasis GSM teknologi 2.5G di implementasikan dalam GPRS (General Packet
Radio Services) dan WiDEN, sedangkan yang berbasis CDMA diimplementasikan
dalam CDMA2000 1x.

d. 3G
ITU (Intenational Telecomunication Union) mendefisikan 3G (Third Generation)
sebagai teknologi yang dapat unjuk kerja sebagai berikut

Mempunyai kecepatan transfer data sebesar 144 kbps pada kecepatan user
100 km/jam.

Mempunyai kecepatan transfer data sebesar 384 kbps pada kecepatan


berjalan kaki.

Mempunyai kecepatan transfer data sebesar 2 Mbps pada untuk user diam
(stasioner).

e. 3,5G

Teknologi 3.5 G atau disebut juga super 3G merupakan peningkatan dari teknologi
3G, terutama dalam peningkatan kecepatan transfer data yang lebih dari teknologi
3G (>2Mbps) sehingga dapat melayani komunikasi multimedia seperti akses
internet dan video sharing. Yang termasuk dalam teknologi ini adalah:

High Speed Downlink Packet Access (HSDPA)

Wireless Broadband (WiBro)

f. 4G
4G yang 500 kali lebih cepat daripada CDMA2000 dapat memberikan kecepatan
hingga 1Gbps jika anda di rumah atau 100Mbps ketika anda bepergian. Bayangkan
dengan kecepatan super itu anda dapat dengan mudah mendowload film dengan
kualitas HD dalam waktu yang singkat tentu saja. 4G adalah singkatan dari istilah
dalam bahasa Inggris: fourth generation technology. Istilah ini umumnya digunakan
mengacu kepada pengembangan teknologi telepon seluler. 4G merupakan
pengembangan dari teknologi 3G. Nama resmi dari teknologi 4G ini menurut IEEE
(Institute of Electrical and Electronics Engineers) adalah 3G and beyond.
(www.ilmukomputer.org, diakses pada tanggal 29 mei 2012).

Generasi 4G
4G merupakan pengembangan dari teknologi 3G. Nama resmi dari teknologi 4G ini
menurut IEEE (Institute of Electrical and Electronics Engineers) adalah 3G and
beyond. Sebelum 4G, High-Speed Downlink Packet Access (HSDPA) yang
kadangkala disebut sebagai teknologi 3,5G telah dikembangkan oleh WCDMA sama
seperti EV-DO mengembangkan CDMA2000. HSDPA adalah sebuah protokol telepon
genggam yang memberikan jalur evolusi untuk jaringan Universal Mobile
Telecommunications System (UMTS) yang akan dapat memberikan kapasitas data
yang lebih besar (sampai 14,4 Mbit/detik arah turun).

Sistem 4G akan dapat menyediakan solusi IP yang komprehensif dimana suara,


data, dan arus multimedia dapat sampai kepada pengguna kapan saja dan dimana
saja, pada rata-rata data lebih tinggi dari generasi sebelumnya. Belum ada definisi
formal untuk 4G. Bagaimanapun, terdapat beberapa pendapat yang ditujukan untuk
4G, yakni: 4G akan merupakan sistem berbasis IP terintegrasi penuh.

Teknologi Generasi 4G
a. Long Term Evolution (LTE)

LTE dibangun dengan tujuan untuk peningkatan efisiensi, penigkatan layanan,


pemanfaatan spectrum lain dan integrasi yang lebih baik. Hasil LTE ini adalah
berupa evolusi release 8 dari UMTS standard termasuk modifikasi dari sistem UMTS.
LTE ini menjadi evolusi lanjutan dari 3G dan akan dikenal sebagai 4G yang nanti
akan jauh lebih efisien dan simpel. LTE mampu melakukan Download dan Upload
dari telelpon selular dengan kecepatan ratusan Mbps. LTE dipersiapkan untuk
format jaringan selular masa depan. Kekuatannya jauh melebihi yang sudah ada
baik 3G HSDPA maupun HSUPA karena mampu mengalirkan data hingga 100Mbps
untuk Downlink dan 50 Mbps untuk Uplink sehingga dapat mendukung jaringan
yang berbasis IP.

b. Ultra Mobile Broadband (UMB)


UMB adalah nama lain untuk CDMA 2000 1x EV-DO revisi C yang dapat mendukung
kecepatan data hingga 280Mbps pada kondisi puncak sehingga dapat dikategorikan
kedalam generasi 4G. UMB didesain untuk dapat melayani layanan IP Based Voice
(VOIP), Multimedia, Broadband, Entertainmnent dan jasa elektronik komersial juga
mendukung penuh jaringan jasa wireless pada lingkungan mobile.

UMB mengkombinasikan aspek-asppek terbaik dari CDMA, TMD, LS-OFDM, dan


OFDMA kedalam suatu Inteface tunggal menggunakan mekasnisme signaling dan
Control optimasi yang lebih tinggi dan maju.

c. Mobile WiMax II (IEEE 802.16m)


Mobile WiMax disebut juga WiMax revisi E, yang standardnya dibuat oleh IEEE,
menggunakan teknologi OFDM dan teknologi antenna. Mobile WiMax ini nantinya
akan menjadi semacam personal broadband atau DSL on the move. Untuk teknologi
ini, layanan yang dapat dinikmati adalah Broadband mobile data yang juga nonmobile operator. Beberapa content yang akan meramaikan WiMax kedepannya
adalah VoIP, Game, Audio/Video Live.

Mobile WiMax akan mengarah ke layanan dimana pengguna tidak lagi bergantung
pada jaringan akses dimana ia berada. Mobile WiMax menawarkan latency rendah,
advanced security, QoS, dan appropriate spectrum harmonization serta worldwide
roaming capability. Mobile WiMax dioptimalkan untuk Dynamic Mobile Radio
Channel, menyediakan support untuk hand of dan roaming.

(Gunawan Wibisono dan Gunadi Dwi Hutomo, 2010; 12).

Kelebihan teknologi LTE 4G


LTE adalah sebuah standar komunikasi akses data nirkabel tingkat tinggi yang
berbasis pada jaringan GSM/EDGE dan UMTS/HSPA. Jaringan antarmuka-nya tidak
cocok dengan jaringan 2G dan 3G, sehingga harus dioperasikan melalui spektrum
nirkabel yang terpisah. LTE 4G juga diyakini mampu meningkatkan utililisasi
teknologi yang telah ada sehingga dapat menekan biaya yang dibutuhkan untuk
penerapannya.

Perubahan siginifikan dibandingkan standar sebelumnya meliputi 3 hal utama, yaitu


air interface, jaringan radio serta jaringan core. Di masa mendatang, pengguna
dijanjikan akan dapat melakukan download dan upload video high definition dan
konten-konten media lainnya, mengakses e-mail dengan attachment besar serta
bergabung dalam video conference dimanapun dan kapanpun.

LTE juga secara dramatis menambah kemampuan jaringan untuk mengoperasikan


fitur Multimedia Broadcast Multicast Service (MBMS), bagian dari 3GPP Release 6,
dimana kemampuan yang ditawarkan dapat sebanding dengan DVB-H dan WiMAX
.LTE dapat beroperasi pada salah satu pita spektrum seluler yang telah
dialokasikan yang termasuk dalam standar IMT-2000 (450, 850, 900, 1800, 1900,
2100 MHz) maupun pada pita spektrum yang baru seperti 700 MHz dan 2,5 GHz.

Beberapa kelebihannya lainnya dari LTE 4G ialah ;


a. Tingkat download sampai dengan 299.6 Mbis/s dan tingkat upload gingga 75.5
Mbis/s tergantung pada katrgori perangkat yang digunakan.
b. Peningkatan dukungan untuk mobilitas, sebagai contoh dukungan untuk terminal
bergerak hingga 350km/jam atau 500 km/jam tergantung pita frekuensi
c. Dukungan untuk semua gelombang frekuensi yang saat ini digunakan oleh sistem
IMT dan ITU-R
d. Di daerah kota dan perkotaan, frekuensi band yang lebih tinggi (seperti 2.6 GHz
di Uni Eropa) digunakan untuk mendukung kecepatan tinggi mobile broadband.

e. Dukungan untuk MBSFN (Multicast Broadcast Single Frequency Network). Fitur ini
dapat memberikan layanan seperti Mobile TV menggunakan infrastruktur LTE, dan
merupakan pesaing untuk layanan DVB-H berbasis siaran TV.

Penyebab-penyebab Layanan 4G belumdapat digunakan di Indonesia


Seperti kita ketahui bersama bahwa generasi teknologi Telekomunikasi terakihr
yang dapat kita gunakan atau rasakan sebagai warga di Indonesia baru hanya
sebatas pada generasi 3.5G dan belum dapat menggunakan secara maksimal dari
layanan generasi 4G khususnya untuk teknologi Long Term Evolution (LTE).
Berdasarkan tinjauan pustaka menyebutkan ada beberapa penyebab layanan dari
generasi 4G tersebut belum dapat kita gunakan, penyebab-penyebab yang paling
sering dibahas oleh media maupun oleh para ahli di bidang ini ialah dalam aspek
Regulasi, dan Hardware serta Software pendukung.

Regulasi
Regulasi memegang peranan yang paling dalam bisnis telekomunikasi. Ada banyak
aspek regulasi yang mempengaruhi pertumbuhan bisnis telekomunikasi bergerak
pita lebar seperti ketersedian spektrum frekuensi, tarif, interkoneksi, konten, dan
penomoran. (Gunawan Wibisono dan Gunadi Dwi Hutomo, 2010; 196)

Regulasi yang berkaitan dengan masalah pengadaan jaringan LTE ini ialah berkaitan
dengan regulasi frekuensi. Frekuensi merupakan sumber daya yang terbatas, oleh
karena itu pemanfaatannya harus untuk sebesar-besarnya kemakmuran rakyat.
Berikut ini daftar regulasi telekomunikasi di Indonesia. Referensi diambil dari
website Ditjen Postel (sekarang Ditjen Pos dan Penyelenggaraan Informatika)
Kementerian Kominfo. UNDANG-UNDANG DAN PERATURAN PEMERINTAH UU
a. No.36 Tahun 1999 tentang Telekomunikasi
b. PP No.52 Tahun 2000 tentang Penyelenggaraan Telekomunikasi Jaringan
Telekomunikasi.
c. Kepmenhub No. 20 Tahun 2001 Penyelenggaraan Jaringan Telekomunikasi.

Pemerintah sudah memberikan jatah frekuensi kepada MNC Skyvision (Indovision),


perusahaan televisi berbayar sebesar 2.6Ghz yang baru diberikan 150MHz dan
belum digunakan sepenuhnya. Sedangkan untuk frekuensi rendah yang bisa

digunakan oleh LTE adalah 800Mhz masih digunakan oleh stasiun TV analog.
(www.teknoup.com) diakses pada 30 Mei 2012).

Hardware dan Software


Di Indonesia hardware berupa teknologi dari LTE sendiri yang telah di uji coba
oleh beberapa operator di Indonesia bukanlah merupakan teknologi standard dari
LTE 4G yang sebenarnya. Teknologi yang telah diuji coba di Indonesia merupakan
LTE release 8 yang mana teknologi tersebut hanya masih memenuhi spesifikasi
3GPP (Third Generation Partneurship Project) dan belum memenuhi spesifikasi
standar IMT-andvanced.

Selain itu, menurut Division Head Public Relation Indosat Bapak Djarot Handoko
pada salah satu media cetak mengatakan perluasan teknologi 4G di Indonesia
masih terkendala terbatasnya modem pendukungnya. "Modem untuk 4G masih
sangat terbatas dan infrastruktur yang mendukung 4G belum merata di seluruh
Indonesia. "Seperti 3G, saat awal belum banyak perangkat yang mendukung,
seiring bertambahnya permintaan maka perangkat itu akan muncul dengan
sendirinya, tambahnya.

Faktor Utama yang menyebabkan layanan LTE 4G belum ada di Indonesia


Dari kedua faktor penyebab belum adanya layanan LTE 4G di Indonesia saat ini
yang menjadi faktor utama ialah dari masalah regulasi di Indonesia sendiri yang
belum mengatur masalah ini. Terutama regulasi tentang frekuensi yang dapat
digunakan. Menurut Joko Suryana salah satu pakar Telekomunikasi dalam salah satu
artikel media cetak mengatakan beberapa pita frekuensi yang biasa digunakan oleh
operator LTE di dunia yaitu 700/800 MHz, 1800 MHz, 2100 MHz dan 2600 MHz.

Permasalahannya di Indonesia tambahnya, frekuensi frekuensi yang telah


disebutkan diatas seluruhnya sudah digunakan bai oleh operator selular maupun
perurasahaan penyiaran (Broadcasting) sehingga saat ini tidak ada lagi alokasi
frekuensi yang kosong atau tersedia untuk LTE.

Kemudian menurut Herfini Haryono, Direktur perencanaan dan pengembangan


Telkomsel pada saat itu masih dalam suatu artikel media cetak menegaskan tinggal
menunggu regulasi saja, jika sudah mendapat izin maka akan bisa segera
diimplementasikan,. Untuk mendukung broadband termasuk implementasi LTE,

Telkomsel menambah investasi yang sebesar 50 persen capek (capital expenditure)


dialokasikan untuk jaringan 3G tambahnya.

KESIMPULAN DAN SARAN


Dari hasil analisa dan pembahasan yang dilakukan tentang Analisis Penerapan
Teknologi Jaringan LTE 4G di Indonesia, maka dapat disimpulkan sebagai berikut:

Kesimpulan
a. Ada beberapa kelebihan teknologi LTE 4G yang sangat berbeda dengan teknologi
sebelumnya, antara lain:

Tingkat download sampai dengan 299.6 Mbis/s dan tingkat upload gingga
75.5 Mbis/s tergantung pada katrgori perangkat yang digunakan.

Peningkatan dukungan untuk mobilitas, sebagai contoh dukungan untuk


terminal bergerak hingga 350km/jam atau 500 km/jam tergantung pita
frekuensi

Dukungan untuk semua gelombang frekuensi yang saat ini digunakan oleh
sistem IMT dan ITU-R

Di daerah kota dan perkotaan, frekuensi band yang lebih tinggi (seperti 2.6
GHz di Uni Eropa) digunakan untuk mendukung kecepatan tinggi mobile
broadband.

Dukungan untuk MBSFN (Multicast Broadcast Single Frequency Network).


Fitur ini dapat memberikan layanan seperti Mobile TV menggunakan
infrastruktur LTE, dan merupakan pesaing untuk layanan DVB-H berbasis
siaran TV.

b. Salah satu yang menjadi penyebab kenapa layanan teknologi LTE 4G blom bisa
dinikmati oleh masyarakat Indonesia, itu dikarenakan aspek regulasi. Karena
regulasi memegang peranan yang paling penting dalam bisnis telekomunikasi. Ada
banyak aspek regulasi yang mempengaruhi pertumbuhan bisnis telekomunikasi
bergerak pita lebar seperti ketersedian spektrum frekuensi, tarif, interkoneksi,
konten, dan penomoran. Selain itu dari aspek Hardwere serta Software pendukung,
itu dikarenakan modem untuk 4G masih sangat terbatas dan infrastruktur yang
mendukung 4G belum merata di seluruh Indonesia.

c. Dari kedua factor yang telah dibahas penyebab belum adanya layanan LTE 4G di
Indonesia saat ini yang menjadi faktor utama ialah dari masalah regulasi di
Indonesia sendiri yang belum mengatur masalah ini.

Saran
Dari hasil Analisis yang dilakukan mengenai Analisis Penerapan Teknologi Jaringan
LTE 4G di Indonesia, maka sebaiknya pemerintah segera mengatur regulasi tentang
penetapan jaringan teknologi LTE 4G, agar dapat di implementasikan secepatnya di
Indonesia, dan masyarakat Indonesia pun dapat merasakannya, terutama bagi yang
telah memiliki gadget berbasis 4G.

ANALISA LINK BUDGET PADA TEKNOLOGI LONG TERM EVOLUTION (LTE)


Analisa Link Budget pada Teknologi Long Term Evolution (LTE)
ABSTRAK Untuk menentukan kinerja dan coverage area jaringan, perlu
dibuat program perhitungan link budget. Oleh karena itu untuk
mendapatkan nilai parameter yang optimal dalam sistem komunikasi
maka dibuat sebuah visualisasi perhitungan link budget downlink, uplink,
maupun point to point pada teknologi LTE. Karena LTE belum diterapkan di
Indonesia maka data yang digunakan adalah data teknis LTE yang telah
diterapkan di luar negeri. Kemudian dihitung nilai pathloss dan parameter
lainnya. Untuk menghitung besar pathloss menggunakan model Okumura
Hata dan Walfish Ikegami dan untuk menentukan coverage area
menggunakan Two Ray Model. Sedangkan untuk menghitung redaman
hujan digunakan metode SST (Syntetic Storm Technique) Hasil penelitian
ini berupa web link budget yang menghasilkan parameter output pada
komunikasi downlink, uplink, dan point to point. Pada jarak 1000 meter
nilai pathloss pada model propagasi Okumura Hatta sebesar 140,40dB
sedangkan nilai daya terimanya sebesar -85,35dBm. Dengan jarak yang
sama untuk model propagasi Walfish Ikegami nilai pathloss sebesar
147,35dB dan nilai daya terimanya sebesar -92,30dBm. Untuk nilai
receiver sensitivity sebesar -101,12dBm pada bandwidth 1,4MHz dan tipe
modulasi QPSK dengan code rate 1/8 sehingga didapatkan System
Operating Margin (SOM) pada model propagasi Okumura Hatta sebesar
15,76dB sedangkan pada model propagasi Walfish Ikegami sebesar
8,81dB. Untuk nilai coverage area, pada daerah urban sebesar 2,174km,
pada daerah sub-urban sebesar 2,877km, dan pada daerah rural 4,015km.
Untuk nilai redaman hujan, Pada link 1km dan arah link timur, ketika
frekuensi kerja sebesar 13GHz, maka redaman hujan sebesar 8,78dB.
Ketika frekuensi kerja sebesar 15GHz maka redaman hujan sebesar 11,017

dB. Sedangkan jika frekuensi kerja naik menjadi 22GHz maka redaman
hujan sebesar 20,716dB. Kata kunci : link budget, Okumura Hatta, Walfish
Ikegami, Two Ray Model, Syntetic Storm Technique, redaman hujan

SIGNALING TRANSPORT (SIGTRAN)


Solutions provides on-site telecommunication training courses, customized &
designed to meet and exceed customer expectations. Topics are presented by
instructors rich in technical expertise, industry experience, and outstanding
presentation style.
A 2 day Sigtran Training Course includes Sigtran overview, architecture, signalling,
and usage.
Program Overview
Sigtran training provides good understanding of the Sigtran signaling network,
architecture and protocols. This course is developed utilizing the latest learning and
delivery techniques that offer unrivalled development opportunities.
Upon completion of this course, the participants will have a good understanding of:

IP Overview

SS7 Overview

SIGTRAN overview & architecture

SIGTRAN Functional Model

Signaling Transport Components

SIGTRAN protocols - SCTP, IUA, M2UA, M2PA, M3UA, SUA

Sigtran Signaling Procedures

Sigtran Message format details

Sigtran deployment architecture

Sigtran in Telecom networks

About Sigtran
Sigtran is a set of protocols defined to transport SS7 messages over IP networks.
SIGTRAN allows IP networks to inter-work with the traditional SS7 network and vice
versa. The SIGTRAN protocol stack consists of a common signaling transport
protocol (Stream Control Transmission Protocol (SCTP)) and an adaptation layer

protocol (M2PA, M2UA, M3UA, and SUA).


Intended Audience
Network & Telecom Engineers and Technical Staff involved in development, testing,
and deployment requiring comprehensive details of Sigtran overview, signalling &
operations.
Prerequisite
Although this course requires no previous knowledge or understanding of Sigtran, a
basic understanding of SS7 & IP technology would be beneficial.

Program Overview
SIP training provides good understanding of the SIP signaling, message format and
protocols. This course is developed utilizing the latest learning and delivery
techniques that offer unrivalled development opportunities.
Upon completion of this course, the participants will have a good understanding of:

IP Overview

SIP Overview & architecture

SIP Protocol Description

SIP Call Flows

SIP Security

SIP usage in Telecom Networks

About SIP
The Session Initiation Protocol (SIP) is a signalling protocol, widely used for setting
up and tearing down multimedia communication sessions such as voice and video
calls over the Internet. Other feasible application examples include video
conferencing, streaming multimedia distribution, instant messaging, presence
information and online games. The protocol can be used for creating, modifying and
terminating two-party (unicast) or multiparty (multicast) sessions consisting of one
or several media streams. The modification can involve changing addresses or
ports, inviting more participants, adding or deleting media streams, etc.
Intended Audience
Network & Telecom Engineers and Technical Staff involved in development, testing,
and deployment requiring comprehensive details of SIP overview, signalling &
operations.
Prerequisite

Although this course requires no previous knowledge or understanding of SIP, a


basic understanding of VOIP & IP technology would be beneficial.

Single site verification SSV


Single site verification (SSV) is an audit method, where we need to check the
entire KPI (Key performance indicator), coverage and quality for a single radio base
station site.
For GSM (Global System for Mobile Communications ) network a single site has more
than
twenty KPI (Key
performance
indicator),
on
the
other
hand
for WCDMA(Wideband Code Division Multiple Access ) including HSPA plus a single site
has more than forty five Key performance indicators ( KPI). But all the KPI doesnt
carries the same morals, on the other hand less significant KPI values depends on
the major KPIs. So, we often check major Key performance indicators for single site
verification (SSV). The entire single site verification (SSV) can be categorized into three
subcategory.
These are:

Radio frequency parameter verification (RF verification).


Radio frequency (RF) functionality test.
Drive test and RNO (Radio network optimizer) verification.

Radio frequency parameter audit (RF audit):


RF audit may be classified into parts:
1. General parameter audit.
2. Radio parameter audit.
General parameter audit:
In general parameter audit, we have to check the coordinate(latitude and longitude) of radio
base station, address, BTS/RBS information (BTS/RBS name, model or version, vendor etc.),
Cluster name and type, transceiver configuration (TRX conf), business region name and type,
BSC (Base station controller) name, MSC (Main switching center) name, radio base station
security guard or gate keeper contract or house owner contract details.
An example of general parameter audit is given bellow:

Figure: General radio parameter audit information.

Radio parameter audit:


In a radio parameter audit, we need to check entire RF parameter such as antenna height, cell
azimuth, electrical tilt, mechanical tilt, feeder cable type, feeder cable length, antenna information
(model with vendor information), Base station identity code (BSIC), allocated ARFCN (absolute radio
frequency channel number) in BCCH (broadcasting control channel), Location area code (LAC) etc.
An example of RF (Radio Frequency) parameters audit is given bellow:

Figure: Radio frequency (RF) parameter audit information.

Tools and software for RF parameters audit:

Digital or magnetic compass.


Digital camera.
Tilting meter.
Fifty meter measuring tape.
Safety tools for rigger.
Google Earth (Software)

Drive test and Radio network optimizer (RNO) verification:


Drive test and Radio network optimizer (RNO) verification is the final step for single site verification (SSV).
For SSV drive test we need to unique arrangement for testing terminals.

Tools and Software for single site verification (SSV) drive test (DT):

TEMS Investigation data collection software.

Genex probe

Nemo outdoor.
Mapinfo professional (minimum version 8.5scp)
Microsoft excel (as a SSV template)

Or

Or

Or

Microsoft Power point (As a SSV template)

Mobile Station (MS)

Inverter (as a power source for laptop)

GPS (Global positioning system) receiver.


An example of Drive test equipment arrangement is given bellow:

Figure: Drive Test equipment arrangement.

Drive test (DT) procedure:


Drive test is the most significant event in entire verification process. For single site verification (SSV) drive
test (DT); we use three mobile stations (MS) as a testing terminal. This Mobile station (MS) are
designated as MS1, MS2 and MS3 respectively. Also we use GPS receiver (global positioning system)
as a testing terminal.

SSV Mobile station (MS) configuration:

Mobile station-1 (MS1):


typically MS1 configured in idle mode and locked with the site. For locking Mobile station (MS), actually
we have to lock Broadcasting Control Channel (BCCH) for all cell.

Mobile station-2 (MS2):


Typically MS2 configured in dedicated mode short call and unlocked. Usually short call duration is thirty
seconds. There is no limit of number of test call. Test call will be continued entire test period with ten
seconds as a frequent call interval period. Redial triggers should be Time out, blocked call and dropped
call.

Mobile station-3 (MS3):


Typically MS3 configured in dedicated mode long call and unlocked. Usually, there is no limit for long
call duration. Redial triggers should be Time out, blocked call and dropped call.

Figure: Command sequence for MS2 and MS3.

Drive Test (DT) Log collection method:

Start collecting log files from the site access road of SSV (Single site
verification) radio base site to neighbor site access road, collect the log files
in both way, that means from the SSV (Single site verification) radio base site
to neighbor radio base site and neighbor radio base site to SSV (Single site
verification) radio base site.

Run the command sequence for mobile station-2 (MS2) and mobile
station-3 (MS3), cover the entire car accessible road surrounding (360
degree) of radio base SSV site. Please check the figure in bellow:

Figure: Single site verification (SSV) drive test (DT) route.

Drive Test (DT) data presentation System:


Event Analysis:
All the mobile station is significant to check performance of radio base site through Drive Test
(DT). We have to present major drive test (DT) event in reporting templates. The major Drive
Test (DT) events comprises of number of call attempts, number of call established, call setup
success rate (CSSR), number of handover attempt, number of successful handover, Handover
success rate (HOSR), number of dropped call and dropped call rate (CDR). The presentation of
drive test major event analysis is given bellow:

Figure: Drive Test (DT) event analysis

From Mobile Station-1 (Idle mode) SSV data presentation:

From mobile station-1 (MS1), we collect total coverage area of a radio base site and received
signal strength (RxLevel) , also we check cell mismatch (feeder cable swap). An example of
total coverage area and received signal strength (Rxlevel) of radio base site is given bellow:

Figure: Total coverage area of SSV radio base site.

From Mobile Station-2_MS2 (dedicated mode) SSV data presentation:


Form mobile station (MS2), we check basic functionality test, events, handover sequence
number (HSN), mobile allocation index offset (MAIO) of radio base site. MS2 functionality test
include call setup,call setup time, Inter Site handover, Intra site handover (handover between
radio base sites own cell). We have already discussed about event analysis of Drive Test.

From Mobile Station-3_MS3 (dedicated mode) SSV data presentation:


From mobile station-3, we check received signal quality (RxQual), handover relation status
(inter cell and intra cell), call continuity, serving cell footprint of SSV drive test route,
overshooting of neighbor cell, planning parameter such as ARFCN (Absolute Radio Frequency
Channel
number)
of
BCCH
(broadcasting
control
channel).
An example of serving cell footprint diagram is given bellow:

Figure: Serving cell footprint of SSV DT route.

RNO (Radio network optimizer) and RNP (Radio network planner) Remarks:
RNP remarks: There is no mismatch found within planned and implemented radio frequency
parameter,
radio
base
site
coverage
footprint
is
satisfactory.
RNO Remarks: Site performance is satisfactory, Key performance indicator (KPI) monitoring
will be continued on daily basis.

Abstract:

ARFCN:

"ARFCN means for Absolute Radio Frequency Channel number. There are 124 ARFCN in P-GSM,
175 in E-GSM, 375 in DCS 1800.

BCCH:

BCCH means for broadcasting control channel, it's a down link channel of GSM air interface.
BCCH carries system information of radio base station including available features,
configuration and identity.

Call setup success rate (CSSR):

"Call setup success rate is the ration between the number of handover attempts and number
of successful handover. CSSR is presented in percentage."

Cell ID:

"Every individual cell of mobile network has a unique cell ID for own network, also there is a
cell global identity (CGI). CGI = Mobile country code (MCC) + Mobile network code (MNC) +
Location area code (LAC) + cell Id (CI)."

Drive Test (DT):

"Drive test (DT) is a network log collection procedure in vehicular mode."

Drive test (DT) Logs:

" Drive test log files include network signaling and event information; which is collected in real
time through Drive Test (DT). Also we can collect logs from the BSC (Base station controller)
end through IMEI(International Mobile station Equipment Identity) tracing."

Intra site Handover:

"Intra site handover is the handover between two cell of same radio base site.

Inter site Handover:

"Inter site handover is the handover between two adjacent or neighbor sites cell.

Handover Success rate (HOSR):

"Handover success rate (HOSR) is the radio between number of handover attempts and
number of successful handover. HOSR is presented in percentage."

Radio frequency (RF) functionality test:


Radio frequency functionality test means for checking the various functionality of a single
radio base site such as general call test (both long call and short call), call continuity test (long
call only), network accessibility test (short call), data throughput test, call setup time etc."

Radio frequency parameter verification (RF verification):


Radio frequency parameter verification (RF verification) means for verifications of installed radio
parameter with the previously planned radio parameter.

CELL RESELECTION, WCDMA CODES, SCRAMBLING CODE,


CHANNELIZATION CODE
CELL RESELECTION
UE akan memilih cell yang cocok dan mode radio akses berdasarkan
pengukuranidle mode dan kriteria cell selection. Pada saat UE berada
pada mode UMTS atau GSM, UE melakukan pengukuran pada radio akses teknologi
yang lain tergantung pada parameter yang diset oleh operator. Parameter tersebut
mendefinisikan :
Nilai threshold pada serving cell jika UE harus melakukan pengukuran pada cell
inter radio akses teknologi.
Kualitas minimum yang dibutuhkan untuk pemilihan sebuah cell pada radio akses
teknologi yang lain.

WCDMA CODES

Dalam sistem WCDMA digunakan dua macam operasi pada physical


channel :channelization dimana mentransformasikan setiap bit ke dalam jumlah
chip SF(Spreading Factor), sedangkan Scrambling Code digunakan untuk menebar
sinyal informasi. Pada operasi channelization, kode OVSF (Orthogonal Variabel
Spreading Factor) digunakan untuk menjaga keorthogonalan antara physical
channel dari sebuah hubungan walaupun dengan menggunakan laju yang berbeda.
Pada arah uplink setiap user memiliki Scrambling Code yang unik dan dapat
menggunakan semua kode yang terdapat pada code tree OVSF. Scrambling
Code sering juga dikaitkan dengan user dan kode channelization dikaitkan dengan
tipe dari layanan sesuai dengan bit rate yang diberikan. Sedangkan pada
arah downlink, Scrambling Code digunakan untuk membedakan sektor yang
berbeda dan kode channelizationdikaitkan dengan tipe layanan yang berbeda
dan user.

SCRAMBLING CODE
Pada arah uplink terdapat dua macam Scrambling Code yaitu long (gold
code) danshort scrambling codes, yang masing-masing berjumlah 224
buah. Scrambling Codeditentukan oleh layer atas. Pada proses scrambling, urutan
kode dari user yang telah di-spreading dikalikan dengan kode pseudorandom. Pada
arah downlink, jumlah maksimum dari Scrambling Code (Gold code dengan deret
sepanjang 38400 chips) adalah 218 1, namun tidak semua kode
digunakan. Scrambling Code dibagi menjadi 512 set Primary Scrambling Code dan
15 Secondary Scrambling Code, sehingga total kode yang digunakan adalah 8192.
Setiap sektor dialokasikan hanya satu primary SC. Sebagai konsekwensinya jumlah
maksimum reuse Scrambling Codeadalah 1 : 512. Kode dibagi ke dalam 64 group
yang berbeda dan jika neighbour dari sektor lain dialokasikan kode dari group kode
yang berbeda maka konsumsi powerdari UE akan berkurang, sehingga pada
kenyataannya reuse kode akan lebih kecil dari 1 : 64. Primary CCPCH selalu
dikirimkan menggunakan Primary Scrambling Code sementara physical
channel yang lain dapat dikirimkan dengan salah
satuprimary ataupun secondary SC digabungkan dengan primary SC dari sebuah
sektor.

CHANNELIZATION CODE
Spreading Code biasa juga disebut kode kanalisasi pada WCDMA. Sesuai standar
3GPP untuk UMTS digunakan kode Orthogonal Variable Spreading Factor (OVSF).
Kode OVSF mengijinkan SF yang berbeda untuk kode kanalisasi yang
berbeda.Spreading Factor adalah perbandingan antara bandwidth sinyal setelah
dan sebelum spreading.Kode OVSF mempunyai karakteristik unik yaitu adanya
orthogonalitas di antara kode, artinya suatu kode tidak akan menginterferensi kode

lainnya selama keduanya tersinkronisasi . Oleh karena itu, kode OVSF biasanya
digunakan untuk sistem yang transmisinya sinkron (downlink). Spreading
Factormulai dari 1 sampai 256 untuk chip rate 3.840 Mcps. Pada
arah downlink jumlah maksimum dari OVSF kode penebar adalah 512.
Semua user pada sebuah sektor harus berbagi kode channelization yang tersedia
pada code tree OVSF, yang merupakan resource yang sangat terbatas. Batasan dari
jumlah kode downlinkditunjukkan dengan layanan bit rate yang tinggi akan
dialokasikan SF yang rendah. Sebagaimana utilisasi dari sebuah kode menyebabkan
tidak tersedianya sub tree dari SF yang tinggi. Selain itu juga, user pada kondisi soft
handover menggunakan kode lebih banyak (satu kode untuk setiap layanan).
Terkadang penggunaan dari satu kode channelization per user berdampak terhadap
orthogonalitas dari penyediaan layanan yang berbeda pada sebuah sektor. Pada
kenyataannya, lingkungan yang berbeda dapat mengganggu orthogonalitas, hal ini
yang menyebabkan bahwa sistem lebih tergantung terhadap interferensi yang
terjadi. Kode OVSF yang sangat terbatas digunakan kembali pada sel lain tetapi
denganScrambling Code yang berbeda. Tiap stage dari struktur kode OVSF
mempunyai SF yang berbeda. Hal ini tidak dapat menaikkan kapasitas hingga 100%
untuk setiap kode yang digunakan karena Scrambling Code memiliki sifat tidak
orthogonal.

Penyebab RSCP jelek:


poor coverage:
-bisa aja karena jarak MS ke node B terdekat cukup jauh (TA tinggi)
-contour berbukit dan gedung-gedung yang tinggi (shadowing)
-overshoot
-cell breathing, di mana coverage dari cell itu tergantung jumlah user yang
menggunakan layanan, semakin besar jumlah user, semakin sempit pula
coveragenya
-bad event seperti: drop call, Handoff Failure, Block call,
-hardware problem and transmission problem (flicker)
Penyebab ECNo jelek
- RSCP jelek
- pillot pollution, di mana terdapat beberapa node B (active Set) yang menghandle
si UE sehingga si UE bingung node mana yang sebenarnya serving
-bad event
-hardware problem and transmission flicker

solusi
-solve hardware problem and transmission flicker
- tilting dan orientasi antenna
-penambahan power di sisi node B

-penambahan new site


-create adjaceny (create relationship neighbour sesuai kebutuhan)

SINYAL PILOT
PILOT POLLUTION
Pilot Pollution merupakan kondisi dimana jumlah dari active set yang menangani
suatu UE lebih dari 3 dan keseluruhan active set tersebut berada pada range 5dB
atau sekitar 3dB dari active set yang terbesar. Active set yang melebihi
batasan Max Active Set (3 active set) dapat mengganggu kualitas dari suatu sinyal
dan bertindak sebagai penginterferen. Dalam hal ini, penginterferen dapat
menurunkan performansi dari suatu sistem.
PILOT SET
Kanal pilot menjadi acuan dalam penentuan hand-off. Pilot diidentifikasi oleh MS
dan dikategorikan menjadi:
a. Active Set, adalah pilot yang dikirimkan oleh BS dimana MS tersebut aktif.
Banyaknya pilot yang termasuk pada kategori ini tergantung pada banyaknya
komponen rake receiver.
b. Candidate Set, terdiri dari pilot yang tidak termasuk dalam active set. Pilot ini
harus diterima dengan baik untuk mengidentifikasi bahwa kanal traffik forward
linkdapat didemodulasi dengan baik.
c. Neighbor Set, terdiri dari pilot yang tidak termasuk pada dua kelompok
sebelumnya, dan dipergunakan untuk proses handover.
d. Remaining Set, terdiri dari keseluruhan pilot dalam sistem kecuali yang
terdapat pada active set, candidate set, dan neighbor set.
Sinyal Pilot
Sinyal pilot adalah sebuah sinyal yang
menandakan tiap- tiap sel atau disebut juga CPICH
(Common Pilot Indicator Channel). Di suatu sel
terdapat banyak CPICH, namun hanya ada satu atau
dua pilot yang bersifat dominan. Jika terdapat banyak
pilot yang dominan maka terjadi pilot pollution.

Namun jika tidak adanya pilot yang bersifat dominan


maka terjadi bad coverage karena terdapat daerah
blankspot. CPICH diukur oleh node B berdasarkan
dua parameter yaitu RSCP dan Ec/No. Nilai RSCP
sinyal pilot minimum yang ditentukan oleh operator
sebesar -95 dBm sedangkan nilai Ec/No minimum

yang ditentukan operator sebesar -12 dB.

IDENTITAS BTS

BTS memiliki identitas yang tercatat dalam database. Identitas dari suatu BTS
1. Site ID
2. Site Name

Contoh :

adalah:

YOG049G Sariharjo Palagan


Site ID = YOG049G dan Site Name = Sariharjo Palagan
YOG049D Sariharjo Palagan DCS
Site ID = YOG049D dan Site Name = Sariharjo Palagan DCS
Huruf G menunjukkan Band frekuensi yang digunakan, yaitu GSM (900)
Huruf D menunjukkan Band frekuensi yang digunakan, yaitu DCS (1800)
Pada contoh di atas, keduanya terletak di tower yang sama, tapi tetap dianggap sebagai dua BTS yang
berbeda.
Satu BTS memiliki minimal memiliki 1 cell. Selebihnya bisa saja 2, 3, atau bahkan 4 cell.

IDENTITAS CELL
Secara Global (International) tiap cell memiliki format identitas yang disebut CGI (Cell Global Identity)
yang terdiri dari MCC + MNC + LAC + CI

MCC Mobile Country Code


510 = Indonesia
MNC Mobile Network Code
10 = Telkomsel
11 = XL
01 = Indosat
89 = Three
LAC Location Area Code
(ditentukan operator)
CI Cell ID
(ditentukan operator)
Untuk Drive Test yang paling sering diperhatikan untuk mengetahui identitas cell adalah CI.
TELKOMSEL JAWA TENGAH menentukan bahwa digit terakhir pada CI juga menunjukkan nomor
urutan SECTOR. Pada contoh di atas, MS (Handset) dilayani oleh SECTOR 2 (dilihat dari CI 5362).
Dalam TEMS, CI yang tertampil merupakan milik cell yang melayani saja.

Apalagi yang bisa dijadikan petunjuk dari suatu cell ?

BCCH ARFCN dan BSIC adalah petunjuk yang melekat dari suatu cell. Maka sebagai tambahan, selain
CI kita juga bisa memperhatikan BCCH ARFCN dan BSIC.
> BCCH ARFCN adalah nomor channel frekuensi. Pada contoh di atas BCCH ARFCN = 51.
> BSIC terdiri dari dua digit. Pada contoh di atas BSIC = 4-6. NOTE: Dalam 1 BTS semua cell-nya memiliki
BSIC yang sama.

CONTOH KASUS:
Kita ditugaskan untuk melakukan Drive Test pada site YOG049G Sariharjo Palagan. Dari database
diketahui bahwa :

Sesampainya di lapangan, bahkan di bawah site, ternyata cell yang terbaca adalah 45362 BCCH 584
BSIC 4-3.

Apakah site yang akan kita kerjakan MATI ???


Apalagi jika dilihat dari CELLNAME-nya yang tidak tampak.
Nanti dulu.
Terkadang site yang akan kita DT tidak serving memang karena kalah dominan dibanding cell dari BTS
lain. Bukan karena mati.
Oleh karena itu perhatikan pula BCCH dan BSIC yang tertampil. Jika tertampil, berarti site yang akan kita
DT sedang ON AIR.
Lihat gambar di samping. Cell yang serving adalah cell dengan BCCH ARFCN 584 BSIC 4-3
Sedangkan dalam list di bawahnya kita juga melihat BSIC 4-6 ARFCN 51, ada
juga BSIC 4-6 ARFCN 53.
Keduanya merupakan milik dari Sariharjo Palagan. Dari sini kita tahu bahwa Sariharjo Palagan tidak
MATI, walaupun tidak serving.

CATATAN:
JANGAN terpaku pada Cellname, karena hanya merupakan alat bantu yang dibuat SENDIRI. Bukan
identitas dari NETWORK.

DATA LAIN YANG PERLU DIPERHATIKAN


Sebelum melakukan DT kita perlu memperhatikan Identitas BTS dan CELL seperti dibahas di atas. Selain
itu perlu juga diperhatikan Data Fisik dari site yang akan dikerjakan.
1. AZIMUTH
Merupakan arah antenna (dalam derajat). Penomoran sector juga tergantung pada AZIMUTH. Sector
yang paling dekat dengan 0 diberikan nomor urut 1, dan seterusnya.
Ini akan menentukan arah coverage dan rute yang akan kita ambil dalam Drive Test.

2.KOORDINAT

Ketika mendapati lokasi BTS sudah sesuai dengan yang tergambar dalam Peta, artinya tidak ada yang
perlu dikoreksi dari data koordinat. Namun adakalanya peta yang tergambar tidak sesuai dengan lokasi
BTS di lapangan. Hal ini akan berpengaruh pada keseluruhan pekerjaan Drive Test.
Sampai disini kita simpulkan hal-hal yang perlu dipastikan sebelum melakukan Drive Test adalah:
1. Kondisi alarm (tanyakan ke OMC)
2. Ketahui dengan pasti Site ID, Cell ID, BCCH ARFCN, dan BSIC
3. Cek lokasi site dan azimuth.

Inisiatif untuk melakukan cross check sangat dianjurkan. Karena tidak selamanya data yang tertera dalam
Database sesuai dengan kondisi lapangan. Misalnya, bisa saja BCCH ARFCN di lapangan tidak sama
dengan yang tertulis di Database, atau bisa juga koordinatnya meleset terlalu jauh, dll.

KONFIGURASI TRX
TRX adalah modul Transmit & Receive. Merupakan modul dalam BTS yang menangani Traffic dari
pelanggan. Banyaknya jumlah TRX pada tiap sector membentuk suatu konfigurasi.
Contoh:
Konfigurasi TRX dari Sariharjo Palagan adalah 3/4/3. Maksudnya adalah:
Sector 1 memiliki 3 TRX, sector 2 memiliki 4 TRX, dan sector 3 memiliki 3 TRX.

Hubungan Jumlah TRX dan Jumlah antenna.


Jika jumlah TRX 4 maka cukup 1 antenna
Jika jumlah TRX > 4 maka 2 antenna

NEW SITE, COLLOCATED, EXPANSION


Biasanya, dilihat dari urutan pembangunannya, GSM diimplementasikan terlebih dulu dan dianggap
sebagai NEW SITE. Setelah dirasa perlu baru kemudian DCS menyusul. Seperti dikatakan di atas, DCS
ini tetap dianggap sebagai BTS tersendiri. Namun karena di-install di tower yang sama dengan GSM
terdahulu, maka site-site DCS baru biasanya di sebut COLLOCATED, yang artinya ditempatkan bersama
dengan GSM-nya.
Pada perkembangan selanjutnya jika kapasitasnya tidak memadai, maka akan
dilakukan penambahan TRX pada sector yang dirasa perlu. Ini berlaku baik untuk site GSM maupun
DCS. Tipe pekerjaannya disebut dengan EXPANSION.
Khusus untuk expansion, ketentuan Drive Test adalah:
Jika dilakukan penambahan antenna
PERLU Drive Test
Jika tidak ada penambahan antenna
TIDAK PERLU Drive Test
CONTOH:
OLD Config
NEW Config
Keterangan
3/4/3
3/5/4
PERLU DT, sector 2 saja
2/2/2
4/3/3
TIDAK PERLU DT, Tidak tambah antenna
4/4/4
6/7/5
PERLU DT, semua sector
5/6/5
8/8/8
TIDAK PERLU DT, Tidak tambah antenna

Lebih dari Indah kata-katamu, Bapak :


0
Posted on December 8, 2012

Tuhan, terima kasih telah Engkau jauhkan musibah kepada Bapak saat ia mencari
rezekiMu dan selamat sampai di rumahMu. Saya yakin.
Kerinduan adalah hal yang lumrah sebagai ungkapan rasa, keinginan untuk
bertemu dengan sosok orang yang memiliki arti hidup. Sosok orang yang telah
kehilangan pasti akan merasakan Kerinduan itu. Yang dirindukan adalah sosok
Bapak bagiku :

Terkadang di masalah tertentu, hanya Bapak yang memahami sesuatu yang tak
dipahami Ibu. Selama dalam hidup, perkataannya selalu selaras dengan
perbuatannya. Masih teringat akan nasihat yang aku rindukan. Hanya dengan
menulis catatan yang berisi nasihat ini , kerinduanku padamu terungkapkan.
Ketika aku menuju dewasa, Hal yang pertama Bapak katakan :
Hidup ini sekali, bahagiakan orang yang kamu cintai. Tanamkan Kejujuran karena
Kejujuran, akan mengajarimu untuk mengenal diri sendiri dan bersabarlah karena
Kesabaran, ialah salah satu sifat lelaki yang menjadikannya lebih bijaksana
Sekarang, sudah saatnya aku menginjakan kaki di dunia ini, umurku sudah bukan
anak-anak lagi dan juga bukan remaja lagi. Sudah saatnya aku memulai untuk
mengenal diriku sendiri.
Dunia ini perlu perjuangan, dibutuhkan tantangan dan jangan sampai terlena akan
dunia. Sungguh, suatu saat Kesenangan Dunia akan membawakanmu ke Neraka
dan Penderitaan Dunia akan membawakanmu ke Surga. Hanya dengan Rahmat
Allah kamu akan selamat.
Beranjak Kuliah, banyak masalah yang aku hadapi. Harus kepada siapa aku
memercayakan kepercayaan ini agar tidak terkhianati. Namun, hanya Bapak yang
mengerti perasaanku saat itu. Begitu indah kata-kata Bapak :
Bekerjalah dengan ikhlas. Jangan mengeluh. Tidak ada orang yang besar jika tak di
mulai dari yang kecil.
Jangan menuntut untuk mendapatkan balas budi, ikhlaslah memberi. Rezeki itu
pasti, dan akan datang pada waktunya
Selagi masih bisa dikerjakan, kerjakanlah sendiri, jangan pernah belajar untuk
menyusahkan orang lain
Mengejar materi memang perlu, tetapi jangan sampai mengabaikan keberadaan
keluarga
Tidak ada yang perlu di takutkan dari kesalahan, karenanya kamu menjadi pintar
memilih; mana yang salah dan mana yang benar

Kesedihan, ialah pelajaran terbaik untuk mengetahui, menyadari, dan melihat mana
yang baik
Pekerjaan, lakukan yang terbaik. Jangan anggap remeh atas usaha orang lain,
karena belum tentu kita bisa melakukan seperti yang mereka lakukan.
Niatkan dengan niat yang baik, karena Satu keburukan, bisa sangat mudah untuk
merusak semua kebaikan.
More than Words , Lebih dari Indah kata-katamu, Bapak :
Ketika itu, disudutkan pada masalah hati akan ketertarikan pada sosok Perempuan.
Penilaian akan memilih pasangan pun terpikirkan.
Nasihat Bapak teringat dan begitu benar adanya
Jangan pernah membenci atau menyukai seseorang hanya karena paras, hati tak
sama dengan wajah, pun sebaliknya.
Penyesalan pun terjadi, penyesalanku terhadap apa yang dikatakan Bapak untuk
memilih pasangan.
Perbaikan pun harus dilakukan mulai dari Sekarang ! Hanya orang yang kurang
memahami arti kesalahan yang jatuh di lubang yang sama.
Bapak :
Pinjami aku hatimu sebentar, agar aku paham bagaimana engkau menghadapi
masalah tanpa mengeluh sedikit pun. Darimu aku belajar untuk paham, bahwa
dunia ini hanya kita yang dapat membantu diri sendiri.
Bapak :
Sosok orang yang paling tidak bisa jika ada orang yang merendahkan
keluarganya. Bapak memang tak memiliki ijazah tinggi, tetapi dia tetap pintar dari
hal-hal yang tak bisa di lakukan oleh anak-anaknya. Bagiku Bahagia itu sederhana,
seperti melihat Bapaku tersenyum.
Terimakasih Bapak, di balik tangan kasarmu, tersimpan cinta atas pengorbanan
untuk kami anak-anakmu.