Anda di halaman 1dari 12

LAPORAN KASUS ILMU KESEHATAN ANAK

Bronkopneumonia
Trainer : dr. Lilia dewiyanti, Sp. A

Disusun Oleh :
1.

Aditiya Yodha A.

H2A008003

2.

Yuli Kusuma W.

H2A008048

3.

Azwar Asyari F.

H2A009005

4.

Dahlia Dwi P.

H2A009009

5.

Dhevana Pradika Y P

H2A009016

6.

Djarum Mareta S

H2A009017

7.

Iin Syafaat

H2A009023

8.

Lailatul Rizki U.

H2A009028

9.

Anada Kaporina

H2A009003

10.

Tegar Muhamad W

H2A009045

11.

Gadang Arso W

H2A008002

12.

Emiliana Ayu A

H2A008017

FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH SEMARANG
2013

I.

IDENTITAS
Nama anak
Umur
Nama bapak
Umur
Pekerjaan
Pendidikan

: An. H
: 3 tahun
: Tn. A
:34 tahun
:Wiraswata
:SMA

Nama ibu
Umur
Pekerjaan
Pendidikan

: Ny. T
:28 tahun
:Ibu rumah tangga
:SMA

Alamat
: Juwering Klaten
No. RM
: 110930
Tanggal masuk RS : 30/11/2014
II.

ANAMNESIS
Anamnesa dilakukan secara Alloanamnesis dari Ibu pada tanggal 31 November 2014
Jam 10.00 WIB
A. Keluhan utama : Sesak nafas
B. Riwayat Penyakit Sekarang :
Pasien datang dengan keluhan sesak napas satu hari. Sesak napas
dirasakan tambah berat saat pasien batuk. Pasien menjadi rewel dan tidak bisa
beraktifitas seperti biasa Keluhan lain, sebelumnya pasien sudah batuk selama
2 hari, batuk berdahak warna putihna putih, pasien juga mengalami demam
selama 2 hari SMRS. Tidak ada pengobatan sebelum pasien dibawa ke RS.
Makan minum pasien menjadi susah saat pasien mulai batuk dan pilek.
Pasien mengalami sesk napas baru pertama kali ini. Pasien sering
terkena batuk pilek tapi sembuh pengobatan.
RPD
Pasien tidak pernah mengalami keluhan seperti ini sebelumnya.
Riwayat mondok
: disangkal
Riwayat batuk
: diakui, sering batuk tapi sembuh dengan pengobatan
Riwayat asma
: disangkal
Riwayat alergi
: disangkal
riwayat batuk lama
: disangkal
RPK
Keluarga ada yang mengalami keluhan serupa : disangkal
Riwayat darah tinggi
: disangkal
Riwayat sakit gula
: disangkal
Riwayat sakit jantung
: disangkal
Riwayat batuk lama
: disangkal

Riwayat asma
: disangkal
Riwayat alergi obat atau makanan : disangkal
RIWAYAT LINGKUNGAN DAN SOSIAL EKONOMI
Biaya pribadi, tinggal dengan 3 orang : ayah ibu dan 1 anak. Dalam keluarga tidak
ada yang merokok
DATA KHUSUS
Riwayat kehamilan
Ibu melalukan pemeriksaan ANC satu bulan sekali di bidan kadang juga di
dokter, Waktu hamil tidak pernah sakit, tidak mengkonsumsi obat-obatan, alkohol,
maupun rokok.
Riwayat persalinan atau natal
Pasien anak tunggal, lahir dengan bantuan dokter, spontan, tidak menggunakan
alat, langsung menangis, dan segera dilakukan inisiasi menyusui dini. Berat badan
saat lahir sekitar 3,1 kg, panjang badan 49 cm.
Riwayat imunisasi
Pasien sudah lengkap melakukan imunisasi.

Riwayat makan dan minum


Umur

Makanan

0-4 bulan

minuman
Minum ASI

5- 12 bulan

dan Jumlah

Frekuensi
6-8 x sehari

Mendapatkan susu 60 ml setiap kali Susu formula : 4-6


formula,

mulai minum
kali sehari
Makannya
satu Makannya : 2-3
makan sejak usai 6
mangkok makan kali sehari
bulan
bayi.
Kesan : Asi eksklusif (-)
Riwayat perkembangan dan pertumbuhan anak
Motorik kasar

Umur
4 bulan
6 bulan
11 bulan
13 bulan

Perkembangan
Miring
Tengkurap,
Berjalan dengan bantuan
Berjalan sendiri

Motorik halus

2 bulan
Tidak ditanya

Bicara
Sosial

6 bulan
4 bulan

Tidak ditanya
Tidak ditanya

Kesan : perkembangan dan pertumbuhan sesuai umur


III.

PEMERIKSAAN FISIK
Pemeriksaan fisik dilakukan tanggal tanggal 31 November 2014 Jam 11.00 WIB
- Keadaan umum
: tampak lemah
- Kesadaran
: compos mentis
- Vital sign
Tekanan darah
: t.d.l
Nadi
: 120 x/menit isi dan tegangan cukup
Respiratory rate
: 54 x/menit tipe napas abdominal
Suhu
: 37,1 C akxiler
- Status interna
Kepala
: mesocepal, UUB sudah tertutup
Mata : konjungtiva anemis (-/-), sklera ikterik (-/-), pupil bulat, central,
reguler dan isokor 3mm
Hidung

: deformitas (-), secret (+) warna putih kental, napas

Telinga

cuping hidung (+/+)


: serumen (-/-), nyeri tekan tragus (-/-), nyeri tekan

Mulut

mastoid (-/-)
: lembab (-),sianosis (-)bibir kering (-),bibir sianosis (-),
lidah kotor (-), gusi berdarah (-), gigi belum tumbuh,

Leher

faring hiperemis (+)


: tiroid (-) , JVP N/N+, pembesaran kelenjar limfe (-),
deviasi trakea (-)

THORAKS
Cor
Inspeksi
Palpasi

: ictus cordis tidak tampak


: ictus cordis teraba pada ICS IV 1-2 cm ke arah medial
midclavikula sinistra, thrill (-), pulsus epigastrium (-),

Perkusi
Auskultasi

pulsus parasternal (-), sternal lift (-)


: tidak dilakukan
: Suara jantung murni: SI,SII (normal) reguler.
Suara jantung tambahan gallop (-), murmur (-)
SIII (-), SIV (-),

Pulmo
Paru depan

Paru belakang

Inspeksi
Normochest, simetris, kelainan Normochest, simetris, kelainan

Statis

kulit (-/-), sudut arcus costa dalam kulit (-/-)


batas normal, ICS dalam batas
normal

Pengembangan pernapasan paru

Dinamis
Pengembangan pernafasan paru

normal

Normal
Simetris (N/N), Nyeri tekan (-/-), Simetris (N/N), Nyeri tekan

Palpasi

ICS dalam batas normal, taktil (-/-), ICS dalam batas normal,
fremitus dalam batas normal, taktil fremitus dalam batas
hantaran (+/+)

normal, hantaran (+/+)

Sonor seluruh lapang paru

Sonor seluruh lapang paru

Sonor seluruh lapang paru.

Sonor seluruh lapang paru.

Perkusi
Kanan
Kiri
Auskultasi

Suara

dasar

vesicular,

Ronki Suara

dasar

vesicular,

Ronki

basah

halus

nyaring

(+/+), basah

halus

nyaring

(+/+),

Wheezing (+/+)

Wheezing (+/+)

Abdomen
Inspeksi : Permukaan datar, warna sama seperti kulit di sekitar, ikterik (-)
Auskultasi : Bising usus (+) normal
Perkusi : tidak dilakukan
Palpasi : Nyeri tekan epigastrum (-), Tidak teraba pembesaran hepar, Lien dan
ginjal tidak teraba
la
Ekstremitas
Akral hangat
Oedem
Sianosis
Gerak
Refleks fisiologis
Refleks patologis

Superior
Normal
t.d.l
t.d.l

Inferior
Normal
t.d.l
t.d.l

- Status lokalis
Dada terasa sesak, ditemukan suara wheezing dan ronki basah halus nyaring
- Pemeriksaan tambahan : t.d.l

IV.

PEMERIKSAAN PENUNJANG
Darah rutin (17 April 2013) :
Hb
: 9,5
Ht
: 28,1
Eritrosit
: 4.020.000
Limfosit
: 38
Monosit
:0
Foto Rontgen thorak
: tampak bercak kesuraman hilus kanan melebar

V.

PEMERIKSAAN ANTROPOMETRI
- Anak laki-laki umur 5 bulan, BB : 5,2 kg, PB : 60 cm
- Z score
:
BB/U
: -2 SD berast badan normal (gizi normal )
TB/U
: - 2,1 SD (normal)
BB/TB
: - 0,7 SD (normal)
- Kesan gizi
: kesan gizi baik

VI.

RESUME
Ibu pasien mengeluhkan anaknya sesak nafas, batuk kering, pilek, panas, sejak 2
minggu yang lalu.. Pasien batuk kemudian muntah setiap kali di minumi susu. Pasien
dibawa ke Bidan praktik tetapi tidak ada perubahan. Saat ini pasien pilek, ingus putih
kental. Pasien mulai diberi susu formula sejak umur 0-5 bulan, 2,5 sendok takaran
dalam sehari bisa 6-8x.
Pada pemeriksaan fisik inspeksi dari keadaan umum ditemukan tampak lemah.
Ditemukan faring hiperemis, terdapat sekret berwarna putih kental. Pada pemeriksaan
auskultasi pulmo didapatkan adanya ronki basah halus halus nyaring, hantaran (+/+)

VII. DAFTAR ABNORMALITAS


Anamnesis
1. Sesak nafas
2. Demam tinggi
3. Batuk kering
4. Pilek lendir putih kental
5. Tidak pernah imunisasi
6. Susu formula mulai 0 bulan

Pemeriksaan Fisik
7. Ronki basah halus nyaring
8. Hantaran paru (+/+)
Pemeriksaan penunjang
9. Darah rutin :
Hb
: 9,5
Ht
: 28,1
Eritrosit
: 4.020.000
Limfosit
: 38
Monosit
:0
10. Foto Rontgen thorak : tampak bercak
kesuraman hilus kanan melebar

VIII. PROBLEM
Bronkopneumonia : 1, 2, 3, 4, 5, 6, 7, 8, 9, 10

IX.

X.

DIAGNOSIS BANDING
Asma
Bronkolitis
Bronkopneumoni
DIAGNOSIS
Bronkopneumonia

XI.

Inisial plan
Bronkopneumonia
Ip.Dx
S
:O
: Darah rutin, Foto thorax
Ip.Tx
- Infus RL 21 tetes mikro/menit.
- Ampicilin Injeksi I.M : 100 -150 mg/kg/hari dalam dosis terbagi setiap 6 jam
paracetamol 50 mg,
Ip.Monitoring
o Monitoring keadaan umum dan tanda vital
o Monitoring laboratorium
Ip.Edukasi
o Menjelaskan pasien dan keluarga tentang jenis, penyebab, gejala, pengobatan,
dan prognosis penyakit
o Menjelaskan untuk tidak merokok didekat pasien
o Mengawasai keadaan pasien
o Edukasi tentang imunisasi

PEMBAHASAN
Bronkopneumonia adalah peradangan pada parenkim paru yang melibatkan
bronkus atau bronkiolus yang berupa distribusi berbentuk bercak-bercak (patchy
distribution) (Bennete, 2013). Pneumonia merupakan penyakit peradangan akut pada
paru yang disebabkan oleh infeksi mikroorganisme dan sebagian kecil disebabkan
oleh penyebab non-infeksi yang akan menimbulkan konsolidasi jaringan paru dan
gangguan pertukaran gas setempa
ETIOLOGI
Penyebab bronkopneumonia yang biasa dijumpai adalah :
1. Faktor Infeksi
a. Pada neonatus: Streptokokus group B, Respiratory Sincytial Virus (RSV).
b. Pada bayi :
1) Virus: Virus parainfluensa, virus influenza, Adenovirus, RSV, Cytomegalovirus.
2) Organisme atipikal: Chlamidia trachomatis, Pneumocytis.
3) Bakteri: Streptokokus pneumoni, Haemofilus influenza, Mycobacterium tuberculosa,
Bordetella pertusis.
c. Pada anak-anak :
1) Virus : Parainfluensa, Influensa Virus, Adenovirus, RSV
2) Organisme atipikal : Mycoplasma pneumonia
3) Bakteri: Pneumokokus, Mycobakterium tuberculosis
d. Pada anak besar dewasa muda :
1) Organisme atipikal: Mycoplasma pneumonia, C. trachomatis
2) Bakteri: Pneumokokus, Bordetella pertusis, M. tuberculosis
2.
Faktor
Non

Infeksi.

Terjadi akibat disfungsi menelan atau refluks esophagus meliputi


a. Bronkopneumonia hidrokarbon :
Terjadi oleh karena aspirasi selama penelanan muntah atau sonde lambung (zat
b.

hidrokarbon seperti pelitur, minyak tanah dan bensin).


Bronkopneumonia lipoid :
Terjadi akibat pemasukan obat yang mengandung minyak secara intranasal, termasuk jeli
petroleum. Setiap keadaan yang mengganggu mekanisme menelan seperti palatoskizis,
pemberian makanan dengan posisi horizontal, atau pemaksaan pemberian makanan seperti
minyak ikan pada anak yang sedang menangis. Keparahan penyakit tergantung pada jenis

minyak yang terinhalasi. Jenis minyak binatang yang mengandung asam lemak tinggi bersifat
paling merusak contohnya seperti susu dan minyak ikan.
Selain faktor di atas, daya tahan tubuh sangat berpengaruh untuk terjadinya
bronkopneumonia. Menurut sistem imun pada penderita-penderita penyakit yang berat seperti
AIDS dan respon imunitas yang belum berkembang pada bayi dan anak merupakan faktor
predisposisi terjadinya penyakit ini.

KLASIFIKASI
Pembagian pneumonia sendiri pada dasarnya tidak ada yang memuaskan, dan pada
umumnya pembagian berdasarkan anatomi dan etiologi. Beberapa ahli telah membuktikan
bahwa pembagian pneumonia berdasarkan etiologi terbukti secara klinis dan memberikan
terapi yang lebih relevan (Bradley et.al., 2011).
1.

Berdasarkan lokasi lesi di paru

a.
b.
c.

Pneumonia lobaris
Pneumonia interstitialis
Bronkopneumonia
2. Berdasarkan asal infeksi
a. Pneumonia yang didapat dari masyarkat (community acquired pneumonia = CAP)
b. Pneumonia yang didapat dari rumah sakit (hospital-based pneumonia)
3. Berdasarkan mikroorganisme penyebab
a. Pneumonia bakteri
b. Pneumonia virus
c. Pneumonia mikoplasma
d. Pneumonia jamur
4. Berdasarkan karakteristik penyakit
a. Pneumonia tipikal
b. Pneumonia atipikal
5.

Berdasarkan lama penyakit


a. Pneumonia akut
b. Pneumonia persisten

MANIFESTASI KLINIK
Pneumonia khususnya bronkopneumonia biasanya didahului oleh infeksi saluran
nafas bagian atas selama beberapa hari. Suhu dapat naik secara mendadak sampai 39-400C
dan mungkin disertai kejang karena demam yang tinggi. Anak sangat gelisah, dispnu,
pernafasan cepat dan dangkal disertai pernafasan cuping hidung dan sianosis di sekitar
hidung dan mulut. Batuk biasanya tidak dijumpai pada awal penyakit,anak akan mendapat

batuk setelah beberapa hari, di mana pada awalnya berupa batuk kering kemudian menjadi
produktif (Bennete, 2013).
Dalam pemeriksaan fisik penderita pneumonia khususnya bronkopneumonia
ditemukan hal-hal sebagai berikut (Bennete, 2013):
1.

Pada inspeksi terlihat setiap nafas terdapat retraksi otot epigastrik, interkostal, suprasternal,
dan pernapasan cuping hidung.
Tanda objektif yang merefleksikan adanya distres pernapasan adalah retraksi dinding
dada; penggunaan otot tambahan yang terlihat dan cuping hidung; orthopnea; dan pergerakan
pernafasan yang berlawanan. Tekanan intrapleura yang bertambah negatif selama inspirasi
melawan resistensi tinggi jalan nafas menyebabkan retraksi bagian-bagian yang mudah
terpengaruh pada dinding dada, yaitu jaringan ikat inter dan sub kostal, dan fossae
supraklavikula dan suprasternal. Kebalikannya, ruang interkostal yang melenting dapat
terlihat apabila tekanan intrapleura yang semakin positif. Retraksi lebih mudah terlihat pada
bayi baru lahir dimana jaringan ikat interkostal lebih tipis dan lebih lemah dibandingkan anak
yang lebih tua.
Kontraksi yang terlihat dari otot sternokleidomastoideus dan pergerakan fossae
supraklavikular selama inspirasi merupakan tanda yang paling dapat dipercaya akan adanya
sumbatan jalan nafas. Pada infant, kontraksi otot ini terjadi akibat head bobbing, yang
dapat diamati dengan jelas ketika anak beristirahat dengan kepala disangga tegal lurus dengan
area suboksipital. Apabila tidak ada tanda distres pernapasan yang lain pada head bobbing,
adanya kerusakan sistem saraf pusat dapat dicurigai.
Pengembangan cuping hidung adalah tanda yang sensitif akan adanya distress
pernapasan dan dapat terjadi apabila inspirasi memendek secara abnormal (contohnya pada
kondisi nyeri dada). Pengembangan hidung memperbesar pasase hidung anterior dan
menurunkan resistensi jalan napas atas dan keseluruhan. Selain itu dapat juga menstabilkan
jalan napas atas dengan mencegah tekanan negatif faring selama inspirasi.
2.

Pada palpasi ditemukan vokal fremitus yang simetris.


Konsolidasi yang kecil pada paru yang terkena tidak menghilangkan getaran fremitus

selama jalan napas masih terbuka, namun bila terjadi perluasan infeksi paru (kolaps
paru/atelektasis) maka transmisi energi vibrasi akan berkurang.
3.
4.

Pada perkusi tidak terdapat kelainan


Pada auskultasi ditemukan crackles sedang nyaring.
Crackles adalah bunyi non musikal, tidak kontinyu, interupsi pendek dan berulang

dengan spektrum frekuensi antara 200-2000 Hz. Bisa bernada tinggi ataupun rendah

(tergantung tinggi rendahnya frekuensi yang mendominasi), keras atau lemah (tergantung dari
amplitudo osilasi) jarang atau banyak (tergantung jumlah crackles individual) halus atau
kasar (tergantung dari mekanisme terjadinya).
Crackles dihasilkan oleh gelembung-gelembung udara yang melalui sekret jalan
napas/jalan napas kecil yang tiba-tiba terbuka.

PEMERIKSAAN RADIOLOGI
Gambaran radiologis mempunyai bentuk difus bilateral dengan peningkatan corakan
bronkhovaskular dan infiltrat kecil dan halus yang tersebar di pinggir lapang paru. Bayangan
bercak ini sering terlihat pada lobus bawah (Bennete, 2013).
PEMERIKSAAN LABORATORIUM
Pada pemeriksaan laboratorium terdapat peningkatan jumlah leukosit. Hitung
leukosit dapat membantu membedakan pneumoni viral dan bakterial. Infeksi virus leukosit
normal atau meningkat (tidak melebihi 20.000/mm 3 dengan limfosit predominan) dan bakteri
leukosit meningkat 15.000-40.000 /mm3 dengan neutrofil yang predominan. Pada hitung jenis
leukosit terdapat pergeseran ke kiri serta peningkatan LED. Analisa gas darah menunjukkan
hipoksemia dan hipokarbia, pada stadium lanjut dapat terjadi asidosis respiratorik. Isolasi
mikroorganisme dari paru, cairan pleura atau darah bersifat invasif sehingga tidak rutin
dilakukan (Bennete, 2013).
KRITERIA DIAGNOSIS
Diagnosis ditegakkan bila ditemukan 3 dari 5 gejala berikut (Bradley et.al., 2011):
1.
2.
3.
4.
5.

Sesak napas disertai dengan pernafasan cuping hidung dan tarikan dinding dada
Panas badan
Ronkhi basah halus-sedang nyaring (crackles)
Foto thorax meninjikkan gambaran infiltrat difus
Leukositosis (pada infeksi virus tidak melebihi 20.000/mm 3 dengan limfosit predominan,
dan bakteri 15.000-40.000/mm3 neutrofil yang predominan)
KOMPLIKASI
Komplikasi biasanya sebagai hasil langsung dari penyebaran bakteri dalam rongga
thorax (seperti efusi pleura, empiema dan perikarditis) atau penyebaran bakteremia dan
hematologi. Meningitis, artritis supuratif, dan osteomielitis adalah komplikasi yang jarang
dari penyebaran infeksi hematologi (Bradley et.al., 2011).
PENATALAKSANAAN

Penatalaksanaan pneumonia khususnya bronkopneumonia pada anak terdiri dari 2


macam, yaitu penatalaksanaan umum dan khusus (IDAI, 2012; Bradley et.al., 2011)
1.

Penatalaksaan Umum

a.

Pemberian oksigen lembab 2-4 L/menit sampai sesak nafas hilang atau PaO2 pada
analisis gas darah 60 torr.

b.

Pemasangan infus untuk rehidrasi dan koreksi elektrolit.

c. Asidosis diatasi dengan pemberian bikarbonat intravena.


2.

Penatalaksanaan Khusus

a.

Mukolitik, ekspektoran dan obat penurun panas sebaiknya tidak diberikan pada 72 jam
pertama karena akan mengaburkan interpretasi reaksi antibioti awal.

b.

Obat penurun panas diberikan hanya pada penderita dengan suhu tinggi, takikardi, atau
penderita kelainan jantung

c.

Pemberian antibiotika berdasarkan mikroorganisme penyebab dan manifestasi klinis.


Pneumonia ringan amoksisilin 10-25 mg/kgBB/dosis (di wilayah dengan angka resistensi
penisillin tinggi dosis dapat dinaikkan menjadi 80-90 mg/kgBB/hari).