Anda di halaman 1dari 22

BAB I

PENDAHULUAN
Efusi pleura merupakan keadaan di mana cairan menumpuk di dalam rongga pleura.
Dalam keadaan normal, rongga pleura diisi cairan sebanyak 10-20 ml yang berfungsi
mempermudah pergerakan paru di rongga dada selama bernapas. Jumlah cairan melebihi
volum normal dapat disebabkan oleh kecepatan produksi cairan di lapisan pleura parietal
yang melebihi kecepatan penyerapan

cairan oleh pembuluh limfe dan pembuluh darah

mikropleura viseral.
Keadaan ini dapat mengancam jiwa karena cairan yang menumpuk tersebut dapat
menghambat pengembangan paru-paru sehingga pertukaran udara terganggu.1 Banyak
penyakit yang mungkin mendasari terjadinya efusi pleura. Berdasarkan penelitian yang
dilakukan terhadap 119 pasien dengan efusi pleura di Rumah Sakit Persahabatan pada tahun
2010-2011, efusi pleura kebanyakan disebabkan oleh keganasan (42.8%) dan tuberkulosis
(42%).2 Penyakit lain yang mungkin mendasari terjadinya efusi pleura antara lain pneumonia,
empiema toraks, gagal jantung kongestif, sirosis hepatis.
Umumnya pasien datang dengan gejala sesak napas, nyeri dada, batuk, dan demam.
Pada pemeriksaan fisik dapat ditemukan abnormalitas seperti bunyi redup pada perkusi,
penurunan fremitus pada palpasi, dan penurunan bunyi napas pada auskultasi paru bila cairan
efusi sudah melebihi 300 ml. Foto toraks dapat digunakan untuk mengkonfirmasi terjadinya
efusi pleura.
Oleh karena keadaannya yang dapat mengancam jiwa, dan penanganannya yang
segera pada beberapa kasus, kami mengangkat kasus efusi pleura dalam makalah ini. Agar
kami dapat mempelajari bagaimana diagnosis dan penatalaksanaan kasus yang umumnya
merupakan keadaan akut dari penyakit paru seperti tuberkulosis.

BAB II
LAPORAN KASUS
2.1. Identitas Pasien
Nama

: Aq. R

Jenis Kelamin

: Laki-laki

Umur

: 62 tahun

Alamat

: Sakra

Agama

: Islam

Suku

: Sasak

Pekerjaan

Status

: Menikah

No. CM

: 252998

Tanggal Masuk

: 13 Desember 2013

Tanggal Pemeriksaan

: 28 Desember 2013

2.2. Anamnesa
Auto dan alloanamnesa tanggal 13 Desember 2013 pukul 11.00 WITA di bangsal
Interna 2.
2.2.1.
Keluhan Utama
Sesak napas 1 minggu sebelum masuk rumah sakit.
2.2.2.
Riwayat Penyakit Sekarang
Pasien datang dengan keluhan sesak napas yang semakin
memberat sejak 1 minggu SMRS. Sesak terutama dirasakan saat beraktivitas
dan sedikit berkurang bila beristirahat, namun tidak hilang sepenuhnya. PND
dan OP disangkal. Sesak napas seperti ini pernah dirasakan pasien sebelumnya.
Sekitar beberapa bulan yang lalu, pasien dirujuk ke mataram karena sesak
semakin memberat dan menurut pengakuan pasien didignosa dengan
ateletaksis.
Tidak terdapat nyeri dada ataupun riwayat kaki bengkak selama
ini. Pasien juga mengeluhkan batuk berdahak putih yang hilang timbul selama
1 minggu SMRS. Tidak ada riwayat demam dalam 2 minggu terakhir. Akhirakhir ini pasien sering merasa mual dan mengaku memiliki riwayat maag.
Semenjak sakit, terjadi penurunan berat badan. Keringat malam disangkal.
Pasien dahulu adalah seorang perokok aktif namun telah berhenti setahun
terakhir.
2.2.3.
Riwayat Penyakit Dahulu
2

Pasien memiliki riwayat hipertensi dan penyakit maag, pasien juga


mengaku pernah batuk darah 2 bulan yang lalu dan belum pernah menjalani
pengobatan 6 bulan.
2.2.4.
Riwayat Penyakit Keluarga
Riwayat hipertensi, DM, asma, alergi, penyakit jantung, ginjal tidak
diketahui. Tidak ada keluarga yang mengalami penyakit seperti ini.
2.3. Pemeriksaan Fisik
Dilakukan tanggal 13 Desember 2013 pukul 11.00 WITA di bangsal Interna 2.
2.3.1.
Status Generalisata
Keadaan umum
: Sedang
Kesadaran
: Compos Mentis
Berat Badan
: 50 kg
Tinggi Badan
: 155 cm
IMT
: 20,8 kg/m2
2.3.2.
Tanda Vital
Tekanan Darah : 160/100 mmHg
Nadi
: 90x/menit
Suhu
: 37,1o C
Pernapasan
: 40x/menit
2.3.3.
Kepala
Normocephal, tidak teraba benjolan, rambut warna hitam. Distribusi rambut
merata, tidak ada kelainan di kulit kepala.
2.3.4.
Mata
Palpebra superior et inferior, dextra et sinistra tidak tampak oedem.
Konjungtiva tidak anemis.
Sklera tidak ikterik.
Pupil bulat, isokor.
Refleks cahaya langsung (+/+) refleks cahaya tidak langsung (+/+).
2.3.5.
Telinga
Normotia, tidak ada nyeri tekan tragus, tidak ada nyeri tarik aurikel.
2.3.6.
Hidung
Bentuk normal, tidak ada secret, tidak ada deviasi septum.
2.3.7.
Mulut
Bibir Tidak sianosis, tampak kering,
gigi geligi tampak putih kekuningan,
lidah bersih, tepi tidak hiperemis
2.3.8.
Leher
Trakea lurus ditengah, teraba struma, difus dengan konsistensi kenyal. JVP :
5+3 cmH2O
2.3.9.
Paru
Inspeksi simetris saat statis dan dinamis
Palpasi vocal fremitus kanan lebih lemah dibandingkan kiri
Perkusi redup / sonor
Auskultasi
vesikuler / (+), rhonki (-)/(-), wheezing (-)/(-)

2.3.10.

Jantung
Inspeksi: pulsasi ictus cordis tidak terlihat
Palpasi : pulsasi ictus cordis teraba pada ICS V linea midclavicularis

sinistra.
Perkusi : batasbatas jantung dalam batas normal
Auskultasi
: S1-S2 reguler, murmur (-), gallop (-)
2.3.11.
Abdomen
Inspeksi
: datar
Auskultasi
: bising usus normal
Perkusi
: timpani, shifting dullness (-)
Palpasi
: supel, turgor kulit baik, nyeri tekan (-). Nyeri ketuk
kostavertebra (-). Lien dan renal tidak teraba.
2.3.12.
Genitalia
Tidak dilakukan pemeriksaan.
2.3.13.
Ekstremitas
Akral hangat (+), tidak sianotik, oedem (-)
2.4. Pemeriksaan Penunjang
Hasil Laboratorium (14 Oktober 2013)
Glukosa sewaktu
Ureum
Creatinin
Leukosit
SGOT
SGPT
Cholesterol Total
Trygliserida
Eritrocyte
HGB
HCT
MCV
MCH
MCHC

Hasil
163
80,2
0,94
22.200
23,9
25,3
127
95
3,75
13
34,9
78,6
27,3
34,7

Unit
mg/dl
mg/dl
mg/dl
/l
U/L
U/L
mg/dl
mg/dl
/l
g/dl
%
fL
Pg
g/dl

Nilai Normal
< 140
20-42
0,50-1,10
4000-11000
0,0-41,0
0,0-40,0
50-200
50-200
4-5,5
11,4-17,7
38-47
80-100
26-32
32-36

Radiologi: R.O Thorax


13 Desember 2013

18 Desember 2013

23 Desember 2013

2.5. Diagnosis Kerja:


- Efusi pleura massive dextra
Dasar Diagnosis :
1. Sesak napas
2. Nyeri dada
3. Keletihan
4. Batuk
5. Suara pernapasan menurun
6. Redup pada paru kanan
-Hipertensi grade II
-Dyspepsia syndrome
2.6. Diagnosa Banding
1. Efusi Pleura Masive Dextra e.c Susp. TB?
2.7. Terapi
Tindakan di IGD
- Oksigen 02 3-5 lpm/NC
- IUFD infus NS 16 tpm
- Injeksi ranitidine 2 x 1A
- Injeksi furosemid 1/2 ampul/IV
- Nebul combivent (jika perlu)
- PO:
o Ambroxol 3x1 tab
o Salbutanol 3x1 tab
Tindakan di ruangan
-

Oksigen 02 3-5 lpm/NC


IUFD infus NS 16 tpm
Injeksi ranitidine 2 x 1A
6

Injeksi Ceftriaxone 2 x 1gr


Injeksi Ketorolac 3x1
Nebul combivent
PO:
a. Ambroxol 3x1 tab
b. Salbutamol 3x1 tab
c. Allopurinol 3x1 tab
d. Captopril 3x1 tab
e. Codein 3x1 tab
2.8. Follow Up
Tanggal
13 Desember 2013

Perjalanan penyakit
S/
Pasien mengeluh sesak, sesak dirasakan saat istrahat, batuk (+).
Dahak (+) berwarna putih, sakit kepala (-), nyeri dan terasa pahit
apabila menelan, nyeri dan terasa panas pada daerah ulu hati,
nyeri perut (-), mual (+), muntah (-), nafsu makan menurun,
BAK dan BAB normal
O/
TD : 150/90 mmHg
S : 36,7o C
N : 100x/menit
RR : 40x/menit
Mata : CA (-/-) SI (-/-)
Leher : pembesaran KGB (-), struma (-)
Paru-paru : ves (+/+) Rh (+/+) Wh (-/-) pernapasan menurun
pada paru kanan, pada perkusi redup pada paru kanan
Jantung : S1S2 Reguler, Murmur (-) Gallop (-)
Abdomen : supel, BU normal, nyeri tekan (-). Lien dan renal

14 Desember 2013

tidak teraba. Nyeri ketuk di costovertebra (-)


Ekstremitas : akral hangat, edema (-)
P/
R.O thorax
Cek lab darah lengkap
Pemeriksaan sputum/BTA
EKG
A/
Efusi Pleura Massive dextra
S/
Pasien mengeluh sesak, sesak dirasakan saat istrahat, batuk (+).
Dahak (+) berwarna putih, sakit kepala (-), nyeri dan terasa pahit
apabila menelan, nyeri dan terasa panas pada daerah ulu hati,
nyeri perut (-), mual (+), muntah (-), nafsu makan menurun,
BAK dan BAB normal
O/
7

TD : 140/90 mmHg
S : 37o C
N : 90x/menit
RR : 36x/menit
Mata : CA (-/-) SI (-/-)
Leher : pembesaran KGB (-), struma (-)
Paru-paru : ves (+/+) Rh (+/+) Wh (-/-) pernapasan menurun
pada paru kanan, pada perkusi redup pada paru kanan
Jantung : S1S2 Reguler, Murmur (-) Gallop (-)
Abdomen : supel, BU normal, nyeri tekan (-). Lien dan renal

16 Desember 2013

tidak teraba. Nyeri ketuk di costovertebra (-)


Ekstremitas : akral hangat, edema (-)
A/
Efusi Pleura Massive dextra
S/
Pasien mengeluh sesak, sesak dirasakan saat istrahat, batuk (+).
Dahak (+) berwarna putih, sakit kepala (-), nyeri dan terasa pahit
apabila menelan, nyeri dan terasa panas pada daerah ulu hati,
nyeri perut (-), mual (+), muntah (-), nafsu makan menurun,
BAK dan BAB normal (pasien masih mengeluhkan keluhan yang
sama)
O/
TD : 140/80 mmHg
S : 36,7o C
N : 100x/menit
RR : 40x/menit
Mata : CA (-/-) SI (-/-)
Leher : pembesaran KGB (-), struma (-)
Paru-paru : ves (+/+) Rh (+/+) Wh (-/-) pernapasan menurun
pada paru kanan, pada perkusi redup pada paru kanan
Jantung : S1S2 Reguler, Murmur (-) Gallop (-)
Abdomen : supel, BU normal, nyeri tekan (-). Lien dan renal

17 Desember 2013

tidak teraba. Nyeri ketuk di costovertebra (-)


Ekstremitas : akral hangat, edema (-)
P/
WSD
A/
Efusi Pleura Massive dextra
S/ post WSD
Pasien mengeluh masih sesak, batuk (+). Dahak (+) berwarna
putih, sakit kepala (-), nyeri dan terasa pahit apabila menelan,
nyeri pada daerah luka post WSD (+) demam (-) nyeri dan terasa
panas pada daerah ulu hati, nyeri perut (-), mual (+), muntah (-),

nafsu makan menurun, BAK dan BAB normal


O/
TD : 120/80 mmHg
S : 36,8o C
N : 80x/menit
RR : 32x/menit
Mata : CA (-/-) SI (-/-)
Leher : pembesaran KGB (-), struma (-)
Paru-paru : ves (+/+) Rh (+/+) Wh (-/-) pernapasan menurun
pada paru kanan, pada perkusi redup pada paru kanan
Jantung : S1S2 Reguler, Murmur (-) Gallop (-)
Abdomen : supel, BU normal, nyeri tekan (-). Lien dan renal

18 Desember 2013

tidak teraba. Nyeri ketuk di costovertebra (-)


Ekstremitas : akral hangat, edema (-)
A/
Efusi Pleura Massive dextra
S/
Pasien mengeluh sesak, sesak dirasakan sedikit berkurang, batuk
(+). Dahak (+) berwarna putih, sakit kepala (-), nyeri dan terasa
pahit apabila menelan, nyeri pada daerah luka post WSD, demam
(+) nyeri perut (-), mual (+), muntah (-), nafsu makan menurun,
BAK dan BAB normal
O/
TD : 150/90 mmHg
S : 37o C
N : 80x/menit
RR : 24x/menit
Mata : CA (-/-) SI (-/-)
Leher : pembesaran KGB (-), struma (-)
Paru-paru : ves (+/+) Rh (+/+) Wh (-/-) pernapasan menurun
pada paru kanan, pada perkusi redup pada paru kanan
Jantung : S1S2 Reguler, Murmur (-) Gallop (-)
Abdomen : supel, BU normal, nyeri tekan (-). Lien dan renal

19 Desember 2013

tidak teraba. Nyeri ketuk di costovertebra (-)


Ekstremitas : akral hangat, edema (-)
P/
R.O thorax
A/
Efusi Pleura Massive dextra
S/
Pasien mengeluh nyeri dan bengkak disekitar luka post wsd,
demam (+) sesak sedikit berkurang, batuk (+). Dahak (+)
berwarna putih, sakit kepala (-), nyeri dan terasa pahit apabila
menelan, nyeri perut (-), mual (+), muntah (-), nafsu makan
9

menurun, BAK dan BAB normal


O/
TD : 150/90 mmHg
S : 37,9o C
N : 80x/menit
RR : 24x/menit
Mata : CA (-/-) SI (-/-)
Leher : pembesaran KGB (-), struma (-)
Paru-paru : ves (+/+) Rh (+/+) Wh (-/-) pernapasan mulai
meningkat pada paru kanan, pada perkusi redup pada paru kanan
Jantung : S1S2 Reguler, Murmur (-) Gallop (-)
Abdomen : supel, BU normal, nyeri tekan (-). Lien dan renal

20 Desember 2013

tidak teraba. Nyeri ketuk di costovertebra (-)


Ekstremitas : akral hangat, edema (-)
A/
Efusi Pleura Massive dextra
S/
Pasien mengeluh nyeri dan bengkak di sekitar luka post wsd,
sesak dirasakan berkurang, batuk (+) mulai berkurang. Dahak (+)
berwarna putih, sakit kepala (-), demam (-), nyeri perut (-), mual
(+), muntah (-), nafsu makan menurun, BAK dan BAB normal
O/
TD : 150/90 mmHg
S : 36,3o C
N : 82x/menit
RR : 24x/menit
Mata : CA (-/-) SI (-/-)
Leher : pembesaran KGB (-), struma (-)
Paru-paru : ves (+/+) Rh (+/+) Wh (-/-) pernapasan menurun
pada paru kanan, pada perkusi redup pada paru kanan
Jantung : S1S2 Reguler, Murmur (-) Gallop (-)
Abdomen : supel, BU normal, nyeri tekan (-). Lien dan renal

21 Desember 2013

tidak teraba. Nyeri ketuk di costovertebra (-)


Ekstremitas : akral hangat, edema (-)
A/
Efusi Pleura Massive dextra
S/
Pasien mengeluh nyeri di sekitar luka post wsd, bengkak (+)
demam (+)sesak dirasakan berkurang, batuk (+) mulai berkurang.
Dahak (+) berwarna putih, sakit kepala (-), demam (-), nyeri
perut (-), mual (-), muntah (-), nafsu makan menurun, BAK dan
BAB normal
O/
TD : 110/70 mmHg
10

S : 38o C
N : 84x/menit
RR : 24x/menit
Mata : CA (-/-) SI (-/-)
Leher : pembesaran KGB (-), struma (-)
Paru-paru : ves (+/+) Rh (+/+) Wh (-/-) pernapasan pada paru
kanan dan kiri sama, pada perkusi sonor pada paru kanan
Jantung : S1S2 Reguler, Murmur (-) Gallop (-)
Abdomen : supel, BU normal, nyeri tekan (-). Lien dan renal

23 Desember 2013

tidak teraba. Nyeri ketuk di costovertebra (-)


Ekstremitas : akral hangat, edema (-)
P/
R.O thorax
A/
Efusi Pleura Massive dextra
S/
Pasien mengeluh batuk berdahak masih dirasakan (+) demam
berkurang (+) sesak dirasakan semakin berkurang, nyeri mulai
berkurang. Dahak (+) berwarna putih, sakit kepala (-), demam
(-), nyeri perut (-), mual (-), muntah (-), nafsu makan menurun,
BAK dan BAB normal
O/
TD : 170/130 mmHg
S : 36.2o C
N : 70x/menit
RR : 24x/menit
Mata : CA (-/-) SI (-/-)
Leher : pembesaran KGB (-), struma (-)
Paru-paru : ves (+/+) Rh (+/+) Wh (-/-) pernapasan pada paru
kanan dan kiri sama, pada perkusi sonor pada paru kanan
Jantung : S1S2 Reguler, Murmur (-) Gallop (-)
Abdomen : supel, BU normal, nyeri tekan (-). Lien dan renal

24 Desember 2013

tidak teraba. Nyeri ketuk di costovertebra (-)


Ekstremitas : akral hangat, edema (-)
A/
Efusi Pleura Massive dextra
S/
Pasien mengeluh sesak dirasakan jauh berkurang, nyeri mulai
berkurang. Batuk jauh berkurang, dahak (+) berwarna putih, sakit
kepala (-), demam (-), nyeri perut (-), mual (-), muntah (-), nafsu
makan menurun, BAK dan BAB normal
O/
TD : 170/100 mmHg
S : 36.5o C
11

N : 75x/menit
RR : 25x/menit
Mata : CA (-/-) SI (-/-)
Leher : pembesaran KGB (-), struma (-)
Paru-paru : ves (+/+) Rh (+/+) Wh (-/-) pernapasan pada paru
kanan dan kiri sama, pada perkusi sonor pada paru kanan
Jantung : S1S2 Reguler, Murmur (-) Gallop (-)
Abdomen : supel, BU normal, nyeri tekan (-). Lien dan renal

27 Desember 2013

tidak teraba. Nyeri ketuk di costovertebra (-)


Ekstremitas : akral hangat, edema (-)
A/
Efusi Pleura Massive dextra
S/
Pasien mengeluh sesak dirasakan jauh berkurang/ hampir tidak
ada, nyeri post wsd mulai berkurang. Batuk jauh berkurang,
dahak (-) sakit tenggorokan (+), sakit kepala (-), demam (-), nyeri
perut (-), mual (-), muntah (-), nafsu makan menurun, BAK dan
BAB normal
O/
TD : 140/100 mmHg
S : 37o C
N : 82x/menit
RR : 22x/menit
Mata : CA (-/-) SI (-/-)
Leher : pembesaran KGB (-), struma (-)
Paru-paru : ves (+/+) Rh (+/+) Wh (-/-) pernapasan pada paru
kanan dan kiri sama, pada perkusi sonor pada paru kanan
Jantung : S1S2 Reguler, Murmur (-) Gallop (-)
Abdomen : supel, BU normal, nyeri tekan (-). Lien dan renal

28 Desember 2012

tidak teraba. Nyeri ketuk di costovertebra (-)


Ekstremitas : akral hangat, edema (-)
P/
Latihan tanpa oksigen
A/
Efusi Pleura Massive dextra
S/
Pasien mengeluh sesak dirasakan jauh berkurang/ hampir tidak
ada, nyeri post wsd mulai berkurang. Batuk jauh berkurang,
dahak (-) sakit tenggorokan (+), sakit kepala (-), demam (-), nyeri
perut (-), mual (-), muntah (-), nafsu makan menurun, BAK dan
BAB normal
O/
TD : 140/100 mmHg
S : 37o C
12

N : 90x/menit
RR : 22x/menit
Mata : CA (-/-) SI (-/-)
Leher : pembesaran KGB (-), struma (-)
Paru-paru : ves (+/+) Rh (+/+) Wh (-/-) pernapasan pada paru
kanan dan kiri sama, pada perkusi sonor pada paru kanan
Jantung : S1S2 Reguler, Murmur (-) Gallop (-)
Abdomen : supel, BU normal, nyeri tekan (-). Lien dan renal
tidak teraba. Nyeri ketuk di costovertebra (-)
Ekstremitas : akral hangat, edema (-)
P/
BPL

13

BAB III
TINJAUAN PUSTAKA
3.1.
A.

EFUSI PLEURA

Definisi
Efusi pleural adalah penumpukan cairan di dalam ruang pleural, proses penyakit
primer jarang terjadi namun biasanya terjadi sekunder akibat penyakit lain. Efusi dapat
berupa cairan jernih, yang mungkin merupakan transudat, eksudat, atau dapat berupa
darah atau pus (Baughman C Diane, 2000)
Efusi pleural adalah pengumpulan cairan dalam ruang pleura yang terletak
diantara permukaan visceral dan parietal, proses penyakit primer jarang terjadi tetapi
biasanya merupakan penyakit sekunder terhadap penyakit lain. Secara normal, ruang
pleural mengandung sejumlah kecil cairan (5 sampai 15ml) berfungsi sebagai pelumas
yang memungkinkan permukaan pleural bergerak tanpa adanya friksi (Smeltzer C
Suzanne, 2002).
Efusi pleura adalah istilah yang digunakan bagi penimbunan cairan dalam rongga
pleura. (Price C Sylvia, 1995)

B.

Etiologi
1. Hambatan resorbsi cairan dari rongga pleura, karena adanya bendungan seperti pada
dekompensasi kordis, penyakit ginjal, tumor mediatinum, sindroma meig (tumor
ovarium) dan sindroma vena kava superior.
2. Pembentukan cairan yang berlebihan, karena radang (tuberculosis, pneumonia, virus),
bronkiektasis, abses amuba subfrenik yang menembus ke rongga pleura, karena tumor
dimana masuk cairan berdarah dan karena trauma. Di Indonesia 80% karena
tuberculosis.
Kelebihan cairan rongga pleura dapat terkumpul pada proses penyakit neoplastik,
tromboembolik, kardiovaskuler, dan infeksi. Ini disebabkan oleh sedikitnya satu dari
empat mekanisme dasar :

Peningkatan tekanan kapiler subpleural atau limfatik

Penurunan tekanan osmotic koloid darah


14

Peningkatan tekanan negative intrapleural

Adanya inflamasi atau neoplastik pleura


C.

Tanda dan Gejala

Adanya timbunan cairan mengakibatkan perasaan sakit karena pergesekan, setelah


cairan cukup banyak rasa sakit hilang. Bila cairan banyak, penderita akan sesak napas.

Adanya gejala-gejala penyakit penyebab seperti demam, menggigil, dan nyeri dada
pleuritis (pneumonia), panas tinggi (kokus), subfebril (tuberkulosisi), banyak keringat,
batuk, banyak riak.

Deviasi trachea menjauhi tempat yang sakit dapat terjadi jika terjadi penumpukan
cairan pleural yang signifikan.

Pemeriksaan fisik dalam keadaan berbaring dan duduk akan berlainan, karena cairan
akan berpindah tempat. Bagian yang sakit akan kurang bergerak dalam pernapasan,
fremitus melemah (raba dan vocal), pada perkusi didapati daerah pekak, dalam
keadaan duduk permukaan cairan membentuk garis melengkung (garis Ellis
Damoiseu).

Didapati segitiga Garland, yaitu daerah yang pada perkusi redup timpani dibagian atas
garis Ellis Domiseu. Segitiga Grocco-Rochfusz, yaitu daerah pekak karena cairan
mendorong mediastinum kesisi lain, pada auskultasi daerah ini didapati vesikuler
melemah dengan ronki.

D.

Pada permulaan dan akhir penyakit terdengar krepitasi pleura.

Patofisiologi
Didalam rongga pleura terdapat + 5ml cairan yang cukup untuk membasahi
seluruh permukaan pleura parietalis dan pleura viseralis. Cairan ini dihasilkan oleh
kapiler pleura parietalis karena adanya tekanan hodrostatik, tekanan koloid dan daya tarik
elastis. Sebagian cairan ini diserap kembali oleh kapiler paru dan pleura viseralis,
sebagian kecil lainnya (10-20%) mengalir kedalam pembuluh limfe sehingga pasase
cairan disini mencapai 1 liter seharinya.
Terkumpulnya cairan di rongga pleura disebut efusi pleura, ini terjadi bila
keseimbangan antara produksi dan absorbsi terganggu misalnya pada hyperemia akibat
inflamasi, perubahan tekanan osmotic (hipoalbuminemia), peningkatan tekanan vena
(gagal jantung). Atas dasar kejadiannya efusi dapat dibedakan atas transudat dan eksudat
15

pleura. Transudat misalnya terjadi pada gagal jantung karena bendungan vena disertai
peningkatan tekanan hidrostatik, dan sirosis hepatic karena tekanan osmotic koloid yang
menurun. Eksudat dapat disebabkan antara lain oleh keganasan dan infeksi. Cairan keluar
langsung dari kapiler sehingga kaya akan protein dan berat jenisnya tinggi. Cairan ini
juga mengandung banyak sel darah putih. Sebaliknya transudat kadar proteinnya rendah
sekali atau nihil sehingga berat jenisnya rendah.

E.

Pemeriksaan Diagnostik

Pemeriksaan radiologik (Rontgen dada), pada permulaan didapati menghilangnya


sudut kostofrenik. Bila cairan lebih 300ml, akan tampak cairan dengan permukaan
melengkung. Mungkin terdapat pergeseran di mediatinum.

Ultrasonografi
Torakosentesis / pungsi pleura untuk mengetahui kejernihan, warna, biakan tampilan,
sitologi, berat jenis. Pungsi pleura diantara linea aksilaris anterior dan posterior, pada
sela iga ke-8. Didapati cairan yang mungkin serosa (serotorak), berdarah
(hemotoraks), pus (piotoraks) atau kilus (kilotoraks). Bila cairan serosa mungkin
berupa transudat (hasil bendungan) atau eksudat (hasil radang).

Cairan pleural dianalisis dengan kultur bakteri, pewarnaan gram, basil tahan asam
(untuk TBC), hitung sel darah merah dan putih, pemeriksaan kimiawi (glukosa,
amylase, laktat dehidrogenase (LDH), protein), analisis sitologi untuk sel-sel
malignan, dan pH.

F.

Biopsi pleura mungkin juga dilakukan

Penatalaksanaan medis
Tujuan pengobatan adalah untuk menemukan penyebab dasar, untuk mencegah
penumpukan kembali cairan, dan untuk menghilangkan ketidaknyamanan serta
dispneu. Pengobatan spesifik ditujukan pada penyebab dasar (co; gagal jantung
kongestif, pneumonia, sirosis).
Torasentesis dilakukan untuk membuang cairan, untuk mendapatkan specimen guna
keperluan analisis dan untuk menghilangkan disneu.

16

Bila penyebab dasar malignansi, efusi dapat terjadi kembali dalam beberapa hari tatau
minggu, torasentesis berulang mengakibatkan nyeri, penipisan protein dan elektrolit,
dan kadang pneumothoraks. Dalam keadaan ini kadang diatasi dengan pemasangan
selang dada dengan drainase yang dihubungkan ke system drainase water-seal atau
pengisapan untuk mengevaluasiruang pleura dan pengembangan paru.
Agen yang secara kimiawi mengiritasi, seperti tetrasiklin dimasukkan kedalam ruang
pleura untuk mengobliterasi ruang pleural dan mencegah akumulasi cairan lebih
lanjut.
Pengobatan lainnya untuk efusi pleura malignan termasuk radiasi dinding dada, bedah
plerektomi, dan terapi diuretic.

G.

Water Seal Drainase (WSD)


1. Pengertian
WSD adalah suatu unit yang bekerja sebagai drain untuk mengeluarkan udara dan
cairan melalui selang dada.

2. Indikasi
Pneumothoraks karena rupture bleb, luka tusuk tembus
b. Hemothoraks karena robekan pleura, kelebihan anti koagulan, pasca bedah toraks
Torakotomi
Efusi pleura
Empiema karena penyakit paru serius dan kondisi inflamasi

3. Tujuan Pemasangan
Untuk mengeluarkan udara, cairan atau darah dari rongga pleura
Untuk mengembalikan tekanan negative pada rongga pleura
Untuk mengembangkan kembali paru yang kolap dan kolap sebagian
Untuk mencegah reflux drainase kembali ke dalam rongga dada.

4. Tempat pemasangan
17

a. Apikal

Letak selang pada interkosta III mid klavikula

Dimasukkan secara antero lateral

Fungsi untuk mengeluarkan udara dari rongga


pleura

b. Basal
Letak selang

pada interkostal V-VI atau

interkostal VIII-IX mid aksiller


Fungsi : untuk mengeluarkan cairan dari rongga

pleura

5. Jenis WSD
Sistem satu botol
Sistem drainase ini paling sederhana dan sering digunakan pada pasien dengan
simple pneumotoraks
Sistem dua botol
Pada system ini, botol pertama mengumpulkan cairan/drainase dan botol kedua
adalah botol water seal.
System tiga botol
Sistem tiga botol, botol penghisap control ditambahkan ke system dua botol.
System tiga botol ini paling aman untuk mengatur jumlah penghisapan.

18

BAB IV
PEMBAHASAN
Aq, R 52 tahun, datang dengan keluhan sesak napas yang semakin memberat sejak 1
minggu sebelum masuk rumah sakit. Sesak terutama dirasakan saat beraktivitas dan sedikit
berkurang bila beristirahat, namun tidak hilang sepenuhnya. Sesak napas seperti ini pernah
dirasakan pasien sebelumnya. Pasien pernah dirujuk ke Mataram beberapa bulan yang lalu
dan didiagnosa ateletaksis. Pasien juga mengeluhkan batuk berdahak putih yang hilang
timbul selama 1 minggu SMRS. Semenjak sakit, terjadi penurunan berat badan. Pasien
dahulu adalah perokok aktif namun setahun terakhir telah berhenti.
Frekuensi napas pasien 44 kali/menit. Saat dipalpasi, vocal fremitus kanan lebih lemah
dibandingkan kiri. Saat di perkusi, terdengar bising ketok redup pada paru kanan dan sonor
pada paru kiri. Pada auskultasi ditemukan penurunan suara napas vesikuler pada paru kanan.
Batuk produktif dan sesak napas selama 1 minggu, penurunan berat badan, serta
riwayat batu darah perlu dicurigai suspek TB, Oleh karena itu pada rencana pemeriksaan
pasien direncanakan untuk periksa sputum BTA. Namun, batuk produktif, sesak napas, dan
penurunan berat badan juga dapat disebabkan oleh keganasan maupun infeksi. Gejala yang
didapatkan dari anamnesis tidak terlalu khas sehingga belum dapat disimpulkan.
Sesak napas, vocal fremitus yang melemah, bising ketok redup, serta penurunan suara
napas vesikuler pada paru kanan dapat disebabkan oleh efusi pleura. Cairan dalam rongga
pleura tersebut menghalangi getaran suara mencapai dinding toraks sehingga vocal fremitus
melemah. Adanya cairan menyebabkan bising ketok redup saat diperkusi. Bunyi pernapasan
yang lemah juga dapat disebabkan efusi pleura, karena cairan merupakan rintangan bagi
bising vesikuler, serta adanya efusi mengakibatkan alveolus tidak dapat mengembang dengan
luas.
Penegakan diagnosis efusi pleura dapat diperkuat dengan hasil radiologi. Penyebab
efusi pleura perlu dianalisis lebih lanjut berdasarkan hasil pemeriksaan penunjang.
Pemeriksaan penunjang yang dapat dilakukan untuk menentukan penyebab dari efusi pleura
adalah analisis cairan pleura.

19

20

DAFTAR PUSTAKA
Amin Z, Bahar A. Pengobatan tuberculosis mutakhir. Dalam buku ajar ilmu penyakit dalam.
Jilid III. Edisi 5. Jakarta: Interna Publishing; 2010, hal.2245.
Bahar A. Penyakit-Penyakit Pleura. Dalam: Soeparman, Sukaton U, Waspadji S, et al. Editor.
Ilmu Penyakit Dalam. Jilid II. Balai Penerbit FKUI. Jakarta 1998; 785-97.
Diagnosis

of

tuberculosis

disease:

radiology.

Diunduh

dari:

www.heartlandntbc.org/training/archives/tbin_20080923_1510.pdf. Diakses pada 27


Des 2013, pk. 09.22 WTA.
Irshad A. Imagin in Small Cell Lung Carcinoma. Diunduh dari:
http://emedicine.medscape.com/article/358274-overview. Diakses pada 27 Des 2013,
pk. 09.32 WITA.
Khairani A, Syahruddin E, Partakusuma LG. Karakteristik Efusi Pleura di Rumah Sakit
Persahabatan. J Respir Indo. 2012; 32:155-60
Light RW. Disorders of the pleura and mediastinum.
Miserocchi G. Physiology and pathophysiology of pleural fulid turnover. Eur Respir J, 1991;
10:219-25
ORahilly R, Muller F, Carpenter S, Swenson R. Basic human anatomy: A regional study of
human strucutre. [Internet]. Cited: 2012 Nov 10. Available from:
http://www.dartmouth.edu/~humananatomy/index.html
Porcel JM, Light RW. Diagnostic approach to pleural effusion. Am Fam Physician. 2006;
73(7):1211-20
Witmer LM. Clinical anatomy of the pleural cavity & mediastinum. [Internet]. Cited: 2012
Nov 10. Available from: http://www.oucom.ohiou.edu/dbmswitmer/Downloads/Witmer-thorax.pdf

21

22