Anda di halaman 1dari 28

Hand Out Pertemuan ke-5 dan 6

PLATYHELMINTHES

Forcep Rio Indaryanto, S.Pi

JURUSAN PERIKANAN
FAKULTAS PERTANIAN
UNIVERSITAS SULTAN AGENG TIRTAYASA
1 Klasifikasi

2 Anatomi

3 Fisiologi

4 Reproduksi

5 Nilai Ekonomis dan Peran


Filum platyhelminthes berasal dari bahasa Yunani
Platy = pipih, helminthes = cacing
Platyhelminthes = cacing yang pipih

 Filum platyhelminthes merupakan filum yang paling


primitif di antara semua fila dalam grada bilateria
 Tubuhnya simetri bilateral
 Pipih dorsoventral
 Tidak beruas-ruas
 Sistem pencernaan tidak lengkap
 Tidak ada anus
 Tidak mempunyai rangka, sistem pernapasan dan sistem
peredaran darah
 Sistem ekskresi protonephridia
 Reproduksi aseksual dan ada beberapa jenis seksual
KLASIFIKASI

11 22 33 44

Kelas Kelas Kelas Kelas


Turbelaria Monogenea Trematoda Cestoda
KELAS TURBELARIA
 ANATOMI
 Bentuk tubuh pada umumnya lonjong sampai
panjang, pipih dorsoventral dan tidak mempunyai
ruas sejati
 Adakalanya pada bagian kepala terdapat tonjolan
berbentuk tentakel atau pelebaran sisi kepala
disebut aurikel
 Warna tubuh biasanya hitam coklat atau kelabu
tapi beberapa jenis berwarna merah atau hijau
disebabkan bersimbiosis dengan ganggang
 Berukuran 0,5 mm – 60 cm, umumnya 10 mm
KELAS TURBELARIA
 ANATOMI
 Tubuh tertutup epidermis dan pada bagian ventral
mengandung cilia yang berfungsi untuk merayap
 Pada lapisan epidermis terdapat banyak sel
kelenjar yang disebut rhabdoid yang berfungsi
untuk melekat, membungkus mangsa, dan sebagai
jejak lendir pada waktu merayap
 Di bawah epidermis terdapat serabut-serabut otot
melingkar, longitudinal, diagonal, dan dorsoventral
sehingga Turbelaria mudah memutar dan meliuk-
liuk
KELAS TURBELARIA
 LINGKUNGAN HIDUP
 Sebagian besar Turbelaria hidup di dasar laut, di
bawah batu karang dan ganggang, ada juga
spesies yang pelagis
 Lingkungan hidup turbelaria air tawar biasanya
terbatas dan terdapat di tempat lembab
 Umumnya bersifat fotonegatif (= tidak menyukai
cahaya) sehingga pada siang hari bersembunyi di
bawah batu atau sampah dan mencari makan
pada malam hari
 Kebanyakan hidup di daerah tropis
KELAS TURBELARIA
 SISTEM PENCERNAAN
 Sistem pencernaan Turbelaria (kecuali
ordo Acoela) terdiri dari mulut, pharinx dan
rongga gastrovascular disebut enteron
atau usus, anus tidak ada
 Dinding
usus hanya terdiri dari 1 lapisan
sel yang terdiri atas beberapa sel
phagocyte dan sel kelenjar
 Semua jenis Turbelaria adalah karnivor
dan memakan berbagai macam
avertebrata kecil dan bangkai
KELAS TURBELARIA
 SISTEM PENCERNAAN
 Umumnya mangsa di tangkap dengan cara
melilitnya dan menyelubunginya dengan lendir,
kemudian melekatkannya ke substrat. Mangsa
ditelan seluruhnya, sedikit-sedikit atau ditusuk
pharinx
 Sel kelenjar pada dinding usus menghasilkan
enzim proteolitik untuk menghancurkan makanan,
kamudian ditelan oleh sel phagocyte dan
diselesaikan secara intraceluler
 Lemak merupakan cadangan makanan utama.
Turbelaria air tawar dapat menahan lapar untuk
jangka waktu yang lama
KELAS TURBELARIA
 SISTEM SARAF DAN ALAT INDERA
 Sistem saraf berbentuk jala saraf, bervariasi,
yang primitif mempunyai 5 pasang benang
saraf, yang lebih tinggi tingkatannya 4
pasang dan yang tertinggi 1 pasang
 Turbelaria umumnya memiliki sepasang
bintik mata tapi adakalanya lebih. Mata
berfungsi hanya untuk mendeteksi sinar
 Alat indera yang lain adalah sel peraba dan
sel chemoreseptor
KELAS TURBELARIA
 REPRODUKSI
 Terjadi secara aseksual, seksual dan keduanya
tergantung jenis
 Perkembangbiakan secara aseksual dengan
pertunasan atau fission, misalnya pada catenula,
stenostomum, dan mikrostomum
 Masing-masing individu melakukan sekatan
melintang dan setiap potongan melakukan
regenerasi membentuk zooid. Bila zooid telah
mencapai kelengkapan tertentu masing-masing
akan melepaskan dari induknya dan hidup
sebagai individu baru
KELAS TURBELARIA
 REPRODUKSI
 Pada beberapa Turbelaria air tawar seperti Dugesia
tidak menghasilkan rangkaian zooid. Seekor cacing
meletakkan bagian posteriornya ke substrat dan bagian
anterior terus merayap hingga akhirnya putus dan
setiap bagian membentuk individu baru
 Jenis Turbelaria air tawar lainnya seperti phagocata
pada lingkungan yang buruk (kemarau, panas, dingin,
atau kering) membagi diri menjadi beberapa potongan
kecil dan membungkus dirinya membentuk cyste.
Setelah kondisi lingkungan membaik cyste menetas
dan menjadi cacing
Seksual

Aseksual
KELAS TURBELARIA
REPRODUKSI
 Sistem reproduksi secara seksual sangat bervariasi dan rumit
KELAS MONOGENEA
 MORFOLOGI
 Cacing dewasa berukuran 0,2 – 0,5 mm
 Memiliki alat penempel posterior yang disebut
opistaptor yang dilengkapi duri, kait, jangkar atau
alat penghisap
 Adakalanya di sekitar mulut juga terdapat alat
penghisap
 Monogenea merupakan ektoparasit yang
menempel pada permukaan tubuh, sirip, rongga
mulut, dan insang
KELAS MONOGENEA

LINGKUNGAN HIDUP
 Kebanyakan Monogenea hidup sebagai
ektoparasit pada ikan laut, ikan air tawar,
amphibi, reptil dan avertebrata lainnya
 Kebanyakan Monogenea memakan lendir
dan sel-sel pada permukaan tubuh inang
KELAS MONOGENEA
 REPRODUKSI
 Umumnya bersifat hermaprodit dan terjadi pertukaran
sperma atau pembuahan sendiri
 Pembuahan menghasilkan semacam kapsul yang berisi
ratusan embrio
 Larva di dalam uterus sudah mempunyai larva kedua
yang di dalamnya juga mengandung larva ketiga dan
mungkin juga keempat
 Karena perkembangbiakan yang sangat cepat maka
Monogenea seperti gyrodactylus seringkali merugikan
di kolam pembenihan ikan
KELAS TREMATODA
 MORFOLOGI
 Kelas Trematoda dibagi menjadi 2 subkelas yaitu
Digenea dan Aspidogastrea
 Berbentuk lonjong sampai memanjang

 Dewasa berukuran 0,2 mm – 6 cm

 Mempunyai alat penghisap oral (anterior) di sekitar

mulut dan biasanya terdapat alat penghisap ventral


di tengah atau posterior. Alat penghisap berfungsi
sebagai alat penempel pada tubuh inang bukan
untuk menghisap makanan
Telur Trematoda
KELAS TREMATODA
 LINGKUNGAN HIDUP
 Hidup sebagai ektoparasit pada ikan, amphibi,

reptil, burung dan mamalia termasuk manusia


 Beberapa jenis Digenea hidup di dalam pembuluh

darah manusia dan menyebabkan penyakit


schistosoniasis. Di Indonesia terdapat di sekitar
danau Lindu (Sulawesi Tengah) dan dinamakan
penyakit demam keong karena inang
perantaranya adalah keong
KELAS TREMATODA
 SISTEM PENCERNAAN
 Lapisan kutikula atau tegumen memberi
perlindungan terhadap pengaruh enzim
pencernaan di dalam usus
 Tegumen pada endoparasit membantu menyerap
glukosa dan asam amino
 Alat penghisap oral membantu memasukkan
makanan ke dalam mulut
 Sebagai parasit, makana Digenea adalah serpihan
sel, lendir, cairan tubuh, atau darah inang
KELAS TREMATODA
 REPRODUKSI
 Reproduksi dan daur hidup Digenea sangat
kompleks karena adanya 2 macam inang atau
lebih
 Satu sebagai inang utama sebagai tempat hidup

parasit dewasa dan yang lainnya sebagai inang


perantara tempat hidup stadia larva parasit
 Biasanya salah satu inang perantaranya adalah

siput air
KELAS CESTODA
MORFOLOGI
 Dikenal dengan sebutan cacing pita dan
merupakan parasit pada vertebrata
 Tubuh cacing dewasa terdiri atas scolex, leher

yang pendek dan strobila


 Scolex dilengkapi alat penghisap (sucker) dan

kait untuk melekat pada dinding usus inang


KELAS CESTODA
 REPRODUKSI
 Proglotid yang paling dekat leher adalah yang termuda,
makin jauh dari leher semakin besar dan dewasa
 Pada setiap proglotid terdapat alat reproduksi jantan dan
betina
 Pembuahan dapat terjadi dalam 1 proglotid, antar
proglotid dari 1 cacing atau antar 2 cacing
 Telur yang telah dibuahi akan memenuhi uterus yang
bercabang-cabang dan telur yang lain mengalami
degenerasi. Proglotid yang penuh telur akan lepas dari
strobila
 Daur hidup cacing pita dibutuhkan 1 atau lebih inang
perantara yaitu umumnya arthropoda dan vertebrata
NILAI EKONOMIS DAN
PERAN
 Peran platyhelminthes dalam lingkungan
perairan adalah sebagai parasit yang
merugikan dan dapat dimanfaatkan untuk
makanan ikan.
 Agar terhindar dari infeksi cacing parasit
(cacing pita) sebaiknya dilakukan beberapa
cara, antara lain:
 memutuskan daur hidupnya
 menghindari infeksi dari larva cacing
 tidak membuang tinja sembarangan (sesuai
dengan syarat-syarat hidup sehat),dan
 tidak memakan daging mentah atau setengah
matang (masak daging sampai matang)