Anda di halaman 1dari 6

Didownload dari: http://edukasikristen.blogspot.

com/
Didapat dan Didownload dari:
http://edukasikristen.blogspot.com/
Mempertahankan Iman Anda
Nats : Siap sedialah pada segala waktu untuk memberi pertanggungan jawab kepada tiap-tiap orang
yang meminta pertanggungan jawab dari kamu tentang peng-harapan yang ada padamu (1Petrus
3:15)
Bacaan : 1Petrus 3:13-17
Apakah argumen terbaik yang dapat kita berikan kepada orang-orang yang bertanya mengapa
kita menerima Yesus sebagai Juruselamat? Bagaimana kita dapat memberikan kesaksian tentang
iman kita dengan cara yang paling persuasif?
"Siap sedialah pada segala waktu," desak Petrus, "untuk memberi pertanggungan jawab kepada
tiap-tiap orang yang meminta pertanggungan jawab dari kamu tentang pengharapan yang ada
padamu" (1 Petrus 3:15). Istilah Yunani untuk kata "pertanggungan jawab" adalah permintaan maaf.
Ini bukan berarti alasan yang tidak kuat, melainkan argumen yang meyakinkan.
Filsuf William Alston dari Syracuse University telah menulis buku yang sangat berguna mengenai
pembelaan iman kristiani. Ia mengatakan hal yang dapat mendorong kita semua: "Pengujian
terakhir bagi kebenaran kristiani adalah dengan menerapkannya dalam hidup seseorang, menguji
janji-janji yang menurut kebenaran ini dibuat oleh Allah, mengikutinya sesuai dengan cara yang
ditunjukkan gereja, dan melihat apakah kebenaran ini memimpin kita menuju hidup baru di dalam
Roh."
Jangan berpikir bahwa karena Anda bukan filsuf atau ahli teologi, Anda tidak dapat membela
iman Anda. Anda dapat memberikan kesaksian tentang kebenaran dan kuasa Injil. Hidup Anda dapat
menjadi argumen yang terbaikpembelaan terbaik bagi iman Anda di dalam Yesus Kristusbagi
siapa pun yang bertanya mengapa Anda percaya.
Jadi, praktikkan iman Anda. Biarlah orang-orang melihat perbedaan yang dilakukan Yesus VCG
ORANG-ORANG AKAN MENDENGARKAN ANDA DENGAN SAKSAMA
JIKA MEREKA MELIHAT ANDA MENJALANI HIDUP DENGAN SETIA

Injil Yang Mahal


Nats : Kepada kamu dikaruniakan bukan saja untuk percaya kepada Kristus, melainkan juga untuk
menderita bagi Dia (Filipi 1:29)
Bacaan : Filipi 1:19-30
Pada sebuah perjalanan untuk mengajar ke sebuah institut Alkitab di luar negeri, saya dan rekan
merasa sedih saat mendengar tentang undang-undang di parlemen yang berusaha "mengilegalkan"
gereja injili. Kami membagikan ketakutan kami kepada para mahasiswa di sana, yaitu bahwa
sekalipun kami telah datang untuk melatih sebuah generasi pendeta, kami mungkin sebaliknya akan
menyaksikan sebuah gelombang penganiayaan yang baru. Kami kemudian bersatu di dalam doa dan
penyembahan kepada Allah mengenai hal itu.
Setelah selesai berdoa bersama, salah seorang mahasiswa di situ berkata kepada saya, "Terima
kasih atas perhatian Anda bagi kami, namun Anda tidak perlu khawatir. Kami telah belajar bahwa
kami tidak cukup hanya memberitakan Injil atau hidup bagi Injil, tetapi kami pun perlu menderita
bagi Injil." Ia mengatakan hal itu secara terus terang tanpa bermaksud merendahkan saya. Hidup
bagi Kristus kerap kali memang menuntut harga.
Paulus menulis kata-kata berikut dari dalam penjara, "Kepada kamu dikaruniakan bukan saja
untuk percaya kepada Kristus, melainkan juga untuk menderita bagi Dia" (Filipi 1:29). Hal itu
dialami setiap hari oleh orang-orang percaya di seluruh dunia, yang mengalami kesukaran dan
penganiayaan hanya karena hidup terbuka bagi nama Yesus.

Terima Kasih Kepada Semua Sumber Yang Sudah Membagikan Artikel Ini Secara Gratis.
Ingat! tidak untuk dijual belikan, silakan menghubungi pengarang.

Didownload dari: http://edukasikristen.blogspot.com/


Marilah kita berdoa agar berkat dan pemeliharaan Allah menyertai saudara-saudara kita di dalam
Kristus, yang membayar harga yang mahal karena telah menerima keselamatan yang cuma-cuma
--WEC
MEREKA YANG HIDUP BAGI ALLAH
AKAN MENGHADAPI KESULITAN DI DALAM DUNIA

Kucing dan Anjing


Nats : Lalu sangat takutlah Yakub dan merasa sesak hati; maka dibaginyalah orang-orangnya yang
bersama-sama dengan dia, kambing dombanya, lembu sapi dan untanya menjadi dua pasukan
(Kejadian 32:7)
Bacaan : Kejadian 32:1-12
Ada sebuah dongeng yang menceritakan mengapa kucing bermusuhan dengan anjing. Dikisahkan
bahwa kucing dan anjing dulu berteman akrab. Namun suatu hari kucing menipu anjing dan
membuat anjing marah. Sejak itu, anjing membenci kucing. Kucing pun menjadi takut kepada
anjing. Selanjutnya, untuk mencegah agar anjing tidak dapat mengendus jejak kucing dengan
penciumannya yang tajam, sejak itu kucing selalu mengubur kotorannya.
Hubungan Esau dan Yakub mirip dengan anjing dan kucing di atas. Yakub pernah melakukan
sesuatu yang membuat Esau marah besar (Kejadian 27). Itu sebabnya Yakub melarikan diri. Namun
dalam perjalanannya kembali ke Kanaan, Yakub akhirnya terpaksa harus bertemu lagi dengan Esau.
Hal ini membuatnya takut karena ia ingat apa yang telah diperbuatnya dahulu dan juga kemarahan
kakaknya. Sebab itu ia ketakutan kalau-kalau kakaknya akan membalas dendam.
Secara umum, ada dua cara yang dipilih orang untuk menyikapi suatu masalah. Pertama, seperti
yang dilakukan oleh Yakub dan oleh kucing dalam dongeng di atas, yaitu melarikan diri. Cara ini
memang lebih mudah, tetapi dampak ke depannya masih bisa panjang. Kita bisa terus digelayuti
oleh perasaan tidak tenang, dan suatu hari masalah tersebut dapat muncul kembali dengan dampak
yang lebih parah. Kedua adalah dengan menghadapi masalah tersebut dan berusaha
menyelesaikannya. Cara ini pada awalnya mungkin akan tampak lebih repot dan menakutkan.
Namun setidaknya masalah itu tidak akan menjadi berkepanjangan. Cara mana yang Anda pilih?
-ALS
JANGAN LARI DARI MASALAH
HADAPI DAN SELESAIKANLAH SAMPAI TUNTAS!

Bukan Aib
Nats : Ada orang yang tidak dapat kawin karena ia memang lahir demikian dari rahim ibunya, dan
ada orang yang dijadikan demikian oleh orang lain, dan ada orang yang membuat dirinya demikian
karena kemauan (Matius 19:12)
Bacaan : 1Korintus 7:25-40
Sebuah cerita humor. Seorang gadis lajang berdoa begini: "Ya Tuhan, kalau memang ia jodohku,
dekatkanlah. Kalau bukan jodohku, jodohkanlah. Kalau ia bukan jodohku, jangan sampai ia dapat
jodoh yang lain, selain aku. Amin."
Status melajang kerap kali dianggap menyusahkan atau bahkan dirasa sebagai aib bagi yang
menyandangnya. Perasaan itu muncul biasanya karena si lajang mendengarkan perkataan orang
lain. Padahal sebetulnya yang penting bukan statusnya, tetapi sikap dalam menghadapinya. Jika
disikapi secara positif, maka sisi-sisi positifnya akan tampak. Bukankah orang yang melajang punya
waktu luang dan konsentrasi lebih besar untuk berkarya? Melajang juga bukan berarti hidup sendiri,
karena orang yang melajang justru punya kesempatan lebih banyak untuk membangun relasi dengan
orang lain.
Mempunyai pasangan hidup atau menikah, tak serta merta membuat segalanya menjadi lebih
baik. Paulus malah mengingatkan akan "harga" yang harus dibayar dalam hidup berpasangan
(ayat 33-34). Intinya kalaupun berpasangan, janganlah sampai kita terbelenggu perkara duniawi.
Jangan sampai riak-riak pernikahan malah menjadi batu sandungan bagi orang lain.
Jadi baik sendiri ataupun berpasangan, tanggung jawab kita di hadapan Tuhan tetap sama;
berkarya memuliakan nama-Nya. Bila menikah, bijaklah membina keluarga. Bila hidup lajang,
bajiklah membawa diri. Bagi lajang yang sangat ingin menikah, ingatlah bahwa hidup kita ada di

Terima Kasih Kepada Semua Sumber Yang Sudah Membagikan Artikel Ini Secara Gratis.
Ingat! tidak untuk dijual belikan, silakan menghubungi pengarang.

Didownload dari: http://edukasikristen.blogspot.com/


tangan-Nya. Jalani apa pun hidup Anda dengan rasa syukur. Percayakanlah hidup Anda pada rencana
dan kebijaksanaan-Nya. Tuhan tahu yang terbaik -DYA
MELAJANG MAUPUN MENIKAH
KITA SAMA-SAMA MESTI MEMULIAKAN NAMA-NYA!

Tuhan, Dimanakah Engkau Tinggal?


Dalam bacaan injil hari minggu yang baru lalu kita mendengar bahwa Yohanes pemandi
memperkenalkan Yesus kepada kedua murid yang ada bersamanya. Dengan serentak kedua murid
itu meninggalkan Yohanes dan mengikuti Yesus. Keduanya bertanya kepada Yesus: "Rabbi, where are
you staying?" Dan Yesus menjawab: "Come, and you will see." (Yoh 1:38-39).
Pernahkah anda bermimpi tentang sesuatu yang bersifat religius? Pernahkah anda bermimpi
berjalan-jalan bersama Yesus? Di tahun pertama saya berada di Taiwan saya pernah bermimpi
mendaki bukit bersama Yesus. Ada banyak rasa yang campur aduk dalam berjalanan menuju puncak
bukit. Walau lebih banyak kami berada dalam diam namun ada juga dialog antara saya dengan
Yesus. Dialog tersebut sungguh bagi saya sendiri merupakan sebuah revelasi. Tentang mimpi
mendaki bukit ini akan saya lanjutkan kalau ada yang berminat untuk tahu.
Ternyata mimpi bertemu Yesus tidak hanya menjadi milik saya sendiri. Orang lain juga punya mimpi
seperti itu. Seorang teman saya pernah berkisah tentang mimpinya bertemu Yesus. Baiklah kita
dengarkan bersama bagaimana dia menceritakan mimpinya itu:
"Suatu malam saya bermimpi. Dalam mimpiku aku melihat Yesus membawa aku berjalan keliling.
Karena tidak tahu arah tujuan perjalanan kami maka saya bertanya; 'Guru, di manakah Engkau
tinggal?' Ia cuman berkata; 'Anda ingin melihat tempat di mana aku tinggal? Mari ikutilah aku.'
Ia membawa aku ke kamp refugi di mana ada begitu banyak orang menanti penuh cemas butir-butir
makanan buat mengisi perut mereka. Sambil menunjuk ke arah orang-orang tersebut Yesus berkata;
'Mereka semua mengingatkan saya akan masa pelarian saya dari Betlehem ke Mesir. Maria, ibuku
sering bernostalgia tentang nasib pedih yang harus kami lalui di Mesir, suatu kehidupan di tanah
asing tanpa identitas yang legal dan jelas seperti mereka ini. Ketahuilah, Aku tinggal di sini bersama
mereka.'
Ia juga membawa saya ke Rumah sakit. Sekali lagi Ia berkata; 'Ketika memikul salibku ke Golgotha,
aku mengalami nasib seperti mereka ini, menghadapi hidup yang seakan tanpa harapan. Masih
ingatkah engkau ketika saya berteriak di Taman Zaitun meminta agar piala kepahitan itu beralih
dari padaku? Aku yakin merekapun sering mengulangi lagi teriakanKu itu. Ketahuilah, saya juga ada
di sini bersama mereka. Mereka tidak sendirian.'
Yesus lalu membawa saya ke sebuah pabrik di mana ada banyak karyawan bekerja dan berkata;
'Mereka kadang-kadang diperlakukan secara tidak adil oleh majikan mereka. Mereka kerap kali
harus bekerja lembur tanpa gaji yang serasi. Mereka mengingatkan kehidupanku sendiri yang harus
bekerja sebagai tukang kayu, yang harus bekerja seperti seorang buruh kasar. Ketahuilah, akupun
ada di sini bersama mereka.'
Kami tiba di sebuah gereja yang megah dengan tabernakel yang indah, seindah surga itu sendiri.
(Hahaha... Siapa sih yang pernah melihat surga?). Banyak orang keluar dan masuk gereja ini untuk
memasang lilin dan berdoa di sana. Yesus lalu bergumam; 'Saya juga hidup di sini. Tapi sayangnya,
banyak orang mau agar saya dikandangkan di tabernakel ini hanya untuk dikeluarkan seminggu atau
beberapa minggu sekali.' KataNya dengan wajah sedih.
Namun tiba-tiba air mukaNya berubah cerah dan berkata dengan penuh antusias; 'Tahukah engkau?
Ada satu tempat di mana saya belum pernah pergi.' Ia mengangkat sesuatu seperti selembar foto
dan ditunjukannya ke arahku. Oh...ternyata itu adalah sebuah cermin dan saya melihat bayangan
diriku sendiri di dalamnya. Ia lalu bertanya; 'Apakah engkau memiliki kunci untuk masuk ke ruangan
yang baru saja kamu lihat? Aku ingin masuk dan tinggal di sana walau hanya cuman sebentar saja.'"
Temanku seakan diliputi rasa sedih ketika menyelesaikan kisah mimpinya tersebut.

Terima Kasih Kepada Semua Sumber Yang Sudah Membagikan Artikel Ini Secara Gratis.
Ingat! tidak untuk dijual belikan, silakan menghubungi pengarang.

Didownload dari: http://edukasikristen.blogspot.com/

1001 Burung Kertas


Reo dan July adalah sepasang kekasih yang serasi walaupun keduanya berasal dari keluarga yang
jauh berbeda latar belakangnya. Keluarga July berasal dari keluarga kaya raya dan serba
berkecukupan, sedangkan keluarga Reo hanyalah keluarga seorang petani miskin yang
menggantungkan kehidupannya pada tanah sewaan.
Dalam kehidupan mereka berdua, Reo sangat mencintai July. Reo telah melipat 1000 buah burung
kertas untuk July dan July kemudian menggantungkan burung-burung kertas tersebut pada
kamarnya. Dalam tiap burung kertas tersebut Reo telah menuliskan harapannya kepada July. Banyak
sekali harapan yang telah Reo ungkapkan kepada July. Semoga kita selalu saling mengasihi satu
sama lain,Semoga Tuhan melindungi July dari bahaya,Semoga kita mendapatkan kehidupan
yang bahagia,dsb. Semua harapan itu telah disimbolkan dalam burung kertas yang diberikan
kepada July.
Suatu hari Reo melipat burung kertasnya yang ke 1001. Burung itu dilipat dengan kertas transparan
sehingga kelihatan sangat berbeda dengan burung-burung kertas yang lain. Ketika memberikan
burung kertas ini, Reo berkata kepada July: July, ini burung kertasku yang ke 1001. Dalam burung
kertas ini aku mengharapkan adanya kejujuran dan keterbukaan antara aku dan kamu. Aku akan
segera melamarmu dan kita akan segera menikah. Semoga kita dapat mencintai sampai kita
menjadi kakek nenek dan sampai Tuhan memanggil kita berdua !
Saat mendengar Reo berkata demikian, menangislah July. Ia berkata kepada Reo : Reo, senang
sekali aku mendengar semua itu, tetapi aku sekarang telah memutuskan untuk tidak menikah
denganmu karena aku butuh uang dan kekayaan seperti kata orang tuaku! Saat mendengar itu Reo
pun bak disambar geledek. Ia kemudian mulai marah kepada July. Ia mengatai July matre, orang
tak berperasaan, kejam, dan sebagainya. Akhirnya Reo meninggalkan July menangis seorang diri.
Reo mulai terbakar semangatnya. Ia pun bertekad dalam dirinya bahwa ia harus sukses dan hidup
berhasil. Sikap July dijadikannya cambuk untuk maju dan maju. Dalam Sebulan usaha Reo
menunjukkan hasilnya. Ia diangkat menjadi kepala cabang di mana ia bekerja dan dalam setahun ia
telah diangkat menjadi manajer sebuah perusahaan yang bonafide dan tak lama kemudian ia
mempunyai 50% saham dari perusahaan itu. Sekarang tak seorangpun tak kenal Reo, ia adalah
bintang kesuksesan.
Suatu hari Reo pun berkeliling kota dengan mobil barunya. Tiba-tiba dilihatnya sepasang suami-istri
tua tengah berjalan di dalam derasnya hujan. Suami istri itu kelihatan lusuh dan tidak terawat. Reo
pun penasaran dan mendekati suami istri itu dengan mobilnya dan ia mendapati bahwa suami istri
itu adalah orang tua July. Reo mulai berpikir untuk memberi pelajaran kepada kedua orang itu,
tetapi hati nuraninya melarangnya sangat kuat. Reo membatalkan niatnya dan ia membuntuti
kemana perginya orang tua July.
Reo sangat terkejut ketika didapati orang tua July memasuki sebuah makam yang dipenuhi dengan
burung kertas. Ia pun semakin terkejut ketika ia mendapati foto July dalam makam itu. Reo pun
bergegas turun dari mobilnya dan berlari ke arah makam July untuk menemui orang tua July.
Orang tua July pun berkata kepada Reo :Reo, sekarang kami jatuh miskin. Harta kami habis untuk
biaya pengobatan July yang terkena kanker rahim ganas. July menitipkan sebuah surat kepada kami
untuk diberikan kepadamu jika kami bertemu denganmu. Orang tua July menyerahkan sepucuk
surat kumal kepada Reo.
Reo membaca surat itu. Reo, maafkan aku. Aku terpaksa membohongimu. Aku terkena kanker
rahim ganas yang tak mungkin disembuhkan. Aku tak mungkin mengatakan hal ini saat itu, karena
jika itu aku lakukan, aku akan membuatmu jatuh dalam kehidupan sentimentil yang penuh

Terima Kasih Kepada Semua Sumber Yang Sudah Membagikan Artikel Ini Secara Gratis.
Ingat! tidak untuk dijual belikan, silakan menghubungi pengarang.

Didownload dari: http://edukasikristen.blogspot.com/


keputusasaan yang akan membawa hidupmu pada kehancuran. Aku tahu semua tabiatmu Reo,
karena itu aku lakukan ini. Aku mencintaimu Reo................................
July Setelah membaca surat itu, menangislah Reo. Ia telah berprasangka terhadap July begitu
kejamnya. Ia pun mulai merasakan betapa hati July teriris-iris ketika ia mencemoohnya,
mengatainya matre, kejam dan tak berperasaan. Ia merasakan betapa July kesepian seorang diri
dalam kesakitannya hingga maut menjemputnya, betapa July mengharapkan kehadirannya di saatsaat penuh penderitaan itu. Tetapi ia lebih memilih untuk menganggap July sebagai orang matre tak
berperasan.July telah berkorban untuknya agar ia tidak jatuh dalam keputusasaan dan kehancuran.
Cinta bukanlah sebuah pelukan atau ciuman tetapi cinta adalah pengorbanan untuk orang yang
sangat berarti bagi kita

Terima Kasih Kepada Semua Sumber Yang Sudah Membagikan Artikel Ini Secara Gratis.
Ingat! tidak untuk dijual belikan, silakan menghubungi pengarang.

Didownload dari: http://edukasikristen.blogspot.com/

Terima Kasih Kepada Semua Sumber Yang Sudah Membagikan Artikel Ini Secara Gratis.
Ingat! tidak untuk dijual belikan, silakan menghubungi pengarang.