Anda di halaman 1dari 123

perpustakaan.uns.ac.

id

digilib.uns.ac.id

EVALUASI PENGANGGARAN KEUANGAN DAERAH


DENGAN ANALISIS STANDAR BELANJA (ASB)
TAHUN ANGGARAN 2010
(Studi Kasus : Badan Perencanaan Pembangunan Daerah Kabupaten Ngawi)

TESIS

Untuk Memenuhi Sebagian Persyaratan Mencapai Derajat Magister


Program Studi Magister Ekonomi dan Studi Pembangunan
Perencanaan Wilayah dan Keuangan Daerah

Oleh :

RAHADIYAN PRASANA PUTRA


S4209076

FAKULTAS EKONOMI UNIVERSITAS SEBELAS MARET


PROGRAM PASCASARJANA
MAGISTER EKONOMI DAN STUDI PEMBANGUNAN
SURAKARTA
commit
to user
2012

perpustakaan.uns.ac.id

digilib.uns.ac.id

EVALUASI PENGANGGARAN KEUANGAN DAERAH


DENGAN ANALISIS STANDAR BELANJA (ASB)
TAHUN ANGGARAN 2010
(Studi Kasus : Badan Perencanaan Pembangunan Daerah Kabupaten Ngawi)

Disusun oleh :
RAHADIYAH PRASANA PUTRA
S4209076

Telah disetujui oleh Pembimbing


Pembimbing I

Pembimbing II

Dr. Evi Gravitiani, SE, M.Si


NIP.19730605 200912 2 001

Drs. Mulyanto, ME
NIP.19680623 199302 1 001

Ketua Program Studi


Megister Ekonomi dan Studi Pembangunan

Dr. AM. SUSILO, M.Sc


NIP. 19590328 198803 1 001
commit to user

ii

perpustakaan.uns.ac.id

digilib.uns.ac.id

EVALUASI PENGANGGARAN KEUANGAN DAERAH


DENGAN ANALISIS STANDAR BELANJA (ASB)
TAHUN ANGGARAN 2010
(Studi Kasus : Badan Perencanaan Pembangunan Daerah Kabupaten Ngawi)

Disusun oleh :
RAHADIYAH PRASANA PUTRA
S4209076

Telah disetujui oleh Tim Penguji


Pada tanggal :

Jabatan

Nama

Tanda Tangan

Ketua Tim Penguji

Dr. Yunastiti Purwaningsih, MP

Pembimbing Utama

Dr. Evi Gravitiani, SE, M.Si

Pembimbing Pendamping

Drs. Mulyanto, ME

Mengetahui
Direktur PPs UNS

Ketua Program Studi


Magister Ekonomi dan Studi
Pembangunan

Prof. Dr. Ir. Ahmad Yunus, M.S


NIP. 19610717 198601 1 001

Dr. AM. Susilo, M.Sc


NIP. 19590328 198803 1 001

commit to user

iii

perpustakaan.uns.ac.id

digilib.uns.ac.id

HALAMAN PERYATAAN

Yang bertandatangan di bawah ini :


Nama

: RAHADIYAN PRASANA PUTRA

NIM

: S4209076

Program Studi

: Magister Ekonomi dan Studi Pembangunan

Konsentrasi

: Perencanaan Wilayah dan Keuangan Daerah

Menyatakan bahwa tesis ini adalah hasil karya sendiri dan bukan merupakan
jiplakan dari hasil karya orang lain.
Demikian surat pernyataan ini saya buat sebenar-benarnya.

Ngawi, April 2012


Tertanda,

RAHADIYAN PRASANA PUTRA

commit to user

iv

perpustakaan.uns.ac.id

digilib.uns.ac.id

MOTTO
Mendapat kepercayaan itu mudah, yang lebih mudah lagi
menghancurkan,tapi yang sulit adl membina dan menjaga
kepercayaan itu.

Berbuat kesalahan adl hal yang biasa.Tetapi memperbaiki


semua kesalahan adl hal yang sangat luar biasa.

Hidup ini akan menjadi penuh arti, apabila mempunyai arti


/ manfaat untuk orang lain.

Usaha tanpa doa itu SOMBONG, doa tanpa usaha itu


SIA-SIA

commit to user

perpustakaan.uns.ac.id

digilib.uns.ac.id

HALAMAN PERSEMBAHAN
Seiring rasa syukurku, karya ini Kupersembahkan untuk :

PAPA RACHMAD SUPRASONO & MAMA SUBIYATI TERCINTA


Sebagai ungkapan trimakasih & tanda baktiku
kepada kedua orang tuaku..

Mas Agus, Mbak Nilam serta Kel.Besarku di bidang


Prasarana Wilayah Bappeda Kab. Ngawi
Sebuah tanggung jawab yg besar untukku..thx bt
dispensasi waktu, bantuan, support & doanya
slama ni..(maaf kalau sering ijin meninggalkan
kantor,,karena harus konsul tesis ke solo)

Seseorang yg selalu mengisi ruang hatiku NURUL IZZATI


Istriqu tercinta
Mkch ats cinta & sygmu slama ni..Mkch
tlah mendampingiku dengan sabar saat
suka & duka, karna kamu aku bisa.......

Sahabat & teman2ku tercinta


Yang slalu mendoakanku & membantuku dlm sgala
hal..

Almamater yg kubanggakan Dan untuk waktu


yang telah mengubahku menjadi lebih
baik.....

commit to user

vi

perpustakaan.uns.ac.id

digilib.uns.ac.id

ABSTRAK

Penyusunan Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah Kabupaten Ngawi


selama ini menerapkan sistem pendekatan incremental dan line item. Penerapan
dari pendekatan tersebut mengakibatkan ditemukannya pengalokasian dana yang
tidak efisien dan efektif. Hal ini dapat dilihat dari terjadinya overfinancing dan
underfinancing dalam pelaksanaan suatu kegiatan. Penyusunan APBD berbasis
kinerja menjadi sebuah keharusan di daerah, karena dengan menggunakan
anggaran kinerja tersebut, maka anggaran daerah akan lebih transparan, adil, dan
dapat dipertanggungjawabkan. Salah satu instrumen yang diperlukan untuk
menyusun anggaran daerah dengan pendekatan kinerja adalah Analisis Standar
Belanja (ASB).
Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan belanja rata-rata dengan model
regresi linier sederhana Analisis Standar Belanja (ASB), menghitung nilai
minimum dan maksimum anggaran belanja, serta menghitung prosentase alokasi
belanja pada masing-masing objek belanja.
Berdasarkan analisa data dan pembahasan diperoleh persamaan regresi
linier sederhana dengan ASB untuk anggaran belanja : Y = 9.417.170,19 +
203.298,09 X dimana Y adalah total anggaran, sedangkan X adalah cost driver.
nilai minimum dan maksimum belanja kegiatan forum komunikasi atau
koordinasi pada Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) tahun
anggaran 2010 dari model regresi untuk masing-masing kelompok Analisis
Standar Belanja (ASB) adalah sebagai berikut : belanja rata-rata sebesar
Rp. 70.000.000,00 belanja minimum sebesar 59.371.325,70, dan belanja
maksimum sebesar 80.628.674,30. Berdasarkan prosentase alokasi belanja dapat
diketahui bahwa kegiatan koordinasi di Badan Perencanaan Pembangungan
Kabupaten Ngawi, dapat diketahui 40% pelaksanaan anggaran keuangannya
dalam kondisi underfinance, 20% wajar dan 40% lagi overfinance.
Kata Kunci : Analisis Standar Belanja, Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah

commit to user

vii

perpustakaan.uns.ac.id

digilib.uns.ac.id

ABSTRACT
Preparation of Budget Ngawi District during this incremental approach to
implementing the system and the line item. Implementation of these approaches
lead to the discovery of an inefficient allocation of funds and effective. It can be
seen from the over financing and under financing in the implementation of an
activity. Performance-based budgeting become a necessity in the area, due to the
use of the performance budget, the budget should be more transparent, equitable,
and accountable. One of the instruments required to prepare local budgets with the
performance approach is ASB (Standard Analysis of Expenditure).
This study aims to obtain avarage budget with a simple linear regression
model Standard Analysis of Expenditure (ASB), calculate the minimum and
maximum budget, and calculate the percentage allocation of expenditure in each
expenditure object.
Based on data analysis and discussion of a simple linear regression
equation obtained by ASB for the budget: Y = 9.417.170.19 + 203.298,09X where
Y is the total budget, while X is a cost driver. the minimum and maximum
spending a forum for communication or coordination of activities at the Regional
Planning Board fiscal year 2010 from the regression model for each group of the
Standard Analysis of Expenditure (ASB) is as follows: avarage budget of
70.000.000,00, a minimum budget of 59,371,325.70, and the budget maximum
80,628,674.30. Based on the percentage allocation of expenditure can be seen that
the coordination of activities in the District Development Planning Agency
Ngawi, it can be seen 40% of budgetary finances in underfinanced conditions,
20% fair and 40% more over finance.
Keywords: Analysis of Standard Spending, Revenue and Expenditure Budget

commit to user

viii

perpustakaan.uns.ac.id

digilib.uns.ac.id

KATA PENGANTAR

Puji

syukur

Alhamdulilah

penulis

panjatkan

kehadirat

Allah

Subhanahuwataala, atas limpahan rahmat dan karunia-Nya sehingga penulisan


tesis ini dapat diselesaikan dengan baik. Penulisan tesis ini adalah merupakan
salah satu syarat guna memperoleh derajat sarjana S-2 pada Fakultas Ekonomi
Universitas Sebelas Maret Program Pascasarjana Magister Ekonomi dan Studi
Pembangunan Surakarta yang berjudul Evaluasi Penganggaran Keuangan
Daerah Dengan Analisis Standar Belanja Tahun Anggaran 2010 (Studi
Kasus: Badan Perencanaan Pembangunan Daerah Kabupaten Ngawi).
Berkenaan

dengan

penulisan

penelitian

tesis

ini,

penulis

ingin

menyampaikan ucapan terima kasih dan penghargaan yang setinggi-tingginya


untuk bantuan dan dukungan dari banyak pihak yang telah memungkinkan
selesainya penyusunan maupun penyajian tesis ini, kepada :
1. Dr. AM. Susilo M.Sc, selaku Ketua Program Studi Megister Ekonomi dan
Studi Pembangunan Universitas Sebelas Maret Surakarta beserta staf yang
telah setia mendukung kegiatan perkuliahan sampai dengan proses
penyusunan tesis ini;
2. Ibu Dr. Evi Gravitiani, SE, M.Si, selaku Dosen Pembimbing Pertama dan
Bapak Drs. Mulyanto, ME selaku Dosen Pembimbing Kedua. Terima kasih
banyak atas waktu,

kesabaran, ketelatenan, informasi, arahan, serta

bimbingan yang diberikan kepada penulis dalam menyelesaikan tesis ini;

commit to user

ix

perpustakaan.uns.ac.id

digilib.uns.ac.id

3. Bapak / Ibu dosen Program Studi Megister Ekonomi dan Studi Pembangunan
Universitas Sebelas Maret Surakarta yang telah memberikan tambahan ilmu
dan wawasan serta motivasi kepada penulis;
4. Istriku tercinta Nurul Izzati yang dengan penuh kesabaran telah berkorban
demi keberhasilan penulis dalam mengikuti pendidikan;
5. Kedua orang tuaku, mertuaku dan saudara-saudaraku yang telah memberikan
dorongan moral kepada penulis untuk dapat menyelesaikan studi;
6. Rekan-rekan mahasiswa seangkatan Program Studi Megister Ekonomi dan
Studi Pembangunan Universitas Sebelas Maret Surakarta yang telah
membantu memberikan berbagai informasi, motivasi dan saran-saran kepada
penulis selama menempuh studi;
7. Teman-teman di Kantor Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda)
Kabupaten Ngawi Bidang Prasarana Wilayah Bapak Setu Riyanto, Dodik,
Udin, Mbak Ninik, Nita, Diyah, Yayuk, Putri dan Khususnya kepada Kepala
Sub. Bidang Permukiman dan Prasarana Bappeda Kabupaten Ngawi Ibu
Kusumawati Nilam S.S.Si, Kepala Sub. Bidang Tata Ruang, Sumber Daya
Alam dan Lingkungan

Hidup Bappeda Kabupaten Ngawi Bapak Agus

Sutopo, S.STP, MT. Terima kasih banyak telah membantu penulis dalam
memperoleh data-data penelitian.

commit to user

perpustakaan.uns.ac.id

digilib.uns.ac.id

Akhirnya Penulis menyadari bahwa tesis ini masih jauh dari sempurna,
oleh karena itu kritik dan saran dari berbagai pihak akan diterima dengan senang
hati demi sempurnanya tesis ini. Penulis berharap semoga tesis ini bisa
bermanfaat dan dapat dikembangkan lagi sebagai dasar oleh para peneliti ke
depan.

Ngawi,

April 2012
Peneliti

RAHADIYAN PP

commit to user

xi

perpustakaan.uns.ac.id

digilib.uns.ac.id

DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL ................................................................................

HALAMAN PERSETUJUAN ...............................................................

ii

HALAMAN PENGESAHAN .................................................................

iii

HALAMAN PERNYATAAN KEASLIAN TESIS ..............................

iv

MOTTO ..................................................................................................

HALAMAN PERSEMBAHAN ...............................................................

vi

ABSTRAK ..............................................................................................

vii

ABSTRACT ..............................................................................................

viii

KATA PENGANTAR ............................................................................

ix

DAFTAR ISI ............................................................................................

xii

DAFTAR TABEL ...................................................................................

xv

DAFTAR GAMBAR ................................................................................

xvii

DAFTAR LAMPIRAN ............................................................................

xviii

BAB I PENDAHULUAN ........................................................................

A. Latar Belakang ........................................................................

B. Perumusan Masalah ................................................................

C. Tujuan Penelitian ....................................................................

D. Manfaat Penelitian ..................................................................

10

BAB. II TINJAUAN PUSTAKA ...............................................................

12

A. Landasan Teori ........................................................................

12

1. Pengertian Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah ......

12

commit to user
2. Jenis Sistem Penganggaran
Keuangan Daerah ..................

14

xii

perpustakaan.uns.ac.id

digilib.uns.ac.id

3. Prinsip-prinsip Penganggaran APBD.................................

19

4. Kebijakan Umum APBD (KUA) dan Prioritas dan Plafon


Anggaran (PPA) .................................................................

21

5. Fungsi Anggaran Daerah ...................................................

27

6. Siklus Perencanaan Anggaran Daerah ...............................

29

7. Pengertian Analisis Standar Belanja (ASB).......................

30

8. Landasan Hukum Analisis Standar Belanja (ASB) ...........

31

9. Prinsip Dasar Penyusunan ASB .........................................

35

10. Peranan ASB Dalam Penyusunan Anggaran .....................

35

11. Anggaran Berbasis Kinerja ................................................

38

B. Studi Terdahulu .......................................................................

43

C. Kerangka Pemikiran Penelitian ...............................................

47

BAB. III METODE PENELITIAN ..........................................................

49

A. Ruang Lingkup dan Batasan Penelitian ...................................

49

B. Lokasi Penelitian.

50

C. Jenis dan Sumber Data.

50

D. Metode Pengumpulan Data......................................................

51

E. Definisi Operasional Variabel Penelitan .................................

51

F. Metode Analisis Data ..............................................................

54

1. Belanja rata-rata..................................................................

55

2. Batas Minimum dan Maksimum Belanja............................

56

3. Prosentase Alokasi Belanja................................................ .

57

commit to user

xiii

perpustakaan.uns.ac.id

digilib.uns.ac.id

a. Prosentase Alokasi Belanja rata-rata............................. ..

57

b. Prosentase Alokasi Belanja Minimum.......................... ..

57

c. Prosentase Alokasi Belanja Maksimum........................ ..

58

4. Kewajaran Anggaran...........................................................

58

BAB. IV ANALISIS DATA DAN PEMBAHASAN ................................

56

A. Kondisi Umum Kabupaten Ngawi ...........................................

56

1. Kondisi Geografis ..............................................................

56

2. Pemerintahan Daerah............................................................

62

3. Demografi (Kependudukan) ..............................................

65

4. Pendidikan..........................................................................

67

5. Mata Pencaharian ...............................................................

69

6. Struktur Usia Penduduk .....................................................

72

7. Pendapatan Per Kapita Daerah ...........................................

72

B. Badan Perencanaan Pembangunan Daerah Kabupaten Ngawi

76

1. Kondisi Umum Bappeda Kabupaten Ngawi ......................

76

2. Struktur Organisasi Bappeda Kabupaten Ngawi ...............

77

3. Renstra dan Prioritas Program Renstra Bappeda ...............

80

C. Analisa Data dan Pembahasan. ................................................

81

1. Belanja Rata-rata ................................................................

81

2. Penghitungan Nilai Minimum dan Maksimum Belanja ....

87

3. Penghitungan Prosentase Alokasi Belanja ........................

89

4. Klasifikasi Kewajaran Belanja Dalam Suatu Kegiatan


Dengan Menggunakan Model ASB ...................................
commit to user

xiv

92

perpustakaan.uns.ac.id

digilib.uns.ac.id

D. Pembahasan
1. Belanja Rata-rata ................................................................

94

2. Nilai Minimum dan Maksimum Belanja ...........................

95

3. Prosentase Alokasi Belanja ................................................

96

4. Klasifikasi Kewajaran Belanja Dalam Suatu Kegiatan


Dengan Menggunakan Model ASB. ..

97

BAB. V PENUTUP ....................................................................................

99

A. Kesimpulan .............................................................................

99

B. Saran ......................................................................................

101

DAFTAR PUSTAKA .................................................................................

103

commit to user

xv

perpustakaan.uns.ac.id

digilib.uns.ac.id

DAFTAR TABEL

Tabel 1.1

Ringkasan APBD Kabupaten Ngawi Tahun 2010 ...................

Tabel 4.1

Penduduk Kabupaten Ngawi menurut Hasil Sensus Penduduk

66

Tabel 4.2

Penduduk Akhir Tahun 2010 Menurut Jenis Kelamin.............

67

Tabel 4.3

Jumlah Tenaga Kerja Industri Kecil/Kerajinan Rumah


Tangga Menurut Subsektor Industri ........................................

70

Tabel 4.4

PDRB menurut Lapangan Usaha (2005-2009) (milyar rupiah)

74

Tabel 4.5

Anggaran KUA-PPA................................................................

81

Tabel 4.6

Perincian Anggaran Program Kerjasama Pembangunan antar


Wilayah Tahun 2010 ................................................................

Tabel 4.7

Perincian Anggaran Program Perencanaan Pembangunan


Ekonomi Tahun 2010 ...............................................................

Tabel 4.8

82

Perincian Anggaran Program Perencanaan Sosial Budaya


Tahun 2010 ..............................................................................

Tabel 4.9

82

83

Perincian Anggaran Program Perencanaan Pembangunan


Bidang Prasarana Wilayah Tahun 2010 ...................................

83

Tabel 4.10 Perincian Anggaran Program Perencanaan Pembangunan


Bidang Prasarana Wilayah Tahun 2010 ...................................

84

Tabel 4.11 Perincian Anggaran Kelompok ASB forum komunikasi atau


koordinasi Bappeda Tahun 2010..............................................

84

Tabel 4.12 Cost driver dan Output kegiatan Koordinasi Badan


Perencanaan Pembangunan Daerah Tahun 2010 .....................
commit to user

xvi

85

perpustakaan.uns.ac.id

digilib.uns.ac.id

HALAMAN
Tabel 4.13 Pehitungan persamaan regresi sederhana (Model ASB) ..........

86

Tabel 4.14 Perhitungan Kekeliruan Baku Tafsiran ....................................

88

Tabel 4.15 Prosentase Alokasi Belanja Rata-rata ......................................

89

Tabel 4.16 Prosentase Alokasi Belanja Minimum .....................................

90

Tabel 4.17 Prosentase Alokasi Belanja Maksimum ...................................

91

Tabel 4.18 Prosentase Batas Belanja .........................................................

92

Tabel 4.19 Klasifikasi Kewajaran Belanja .................................................

89

commit to user

xvii

perpustakaan.uns.ac.id

digilib.uns.ac.id

DAFTAR GAMBAR

Gambar 2.1

Kerangka Pemikiran Penelitian ............................................

48

Gambar 4.1

Peta Kabupaten Ngawi ..........................................................

60

Gambar 4.2

Rata-rata Curah Hujan/Bulan di Kabupaten Ngawi ..............

61

Gambar 4.3

Prosentase Luas Lahan Sawah di Kabupaten Ngawi


Menurut Jenis Pengairannya .................................................

Gambar 4.4

Prosentase Luas Lahan Bukan Sawah di Kabupaten Ngawi


Menurut Penggunaannya.......................................................

Gambar 4.5

64

Jumlah Anggota DPRD Kabupaten Ngawi Berdasarkan


Jenis Kelamin tahun 2010......................................................

Gambar 4.8

63

Jumlah Pegawai Negeri Sipil di Lingkungan Pemkab


Menurut Golongan Kepangkatan Tahun 2010................... ...

Gambar 4.7

62

Jumlah Pegawai Negeri Sipil di Lingkungan Pemkab


Menurut Tingkat Pendidikan Tahun 2010........................... .

Gambar 4.6

62

64

Jumlah Anggota DPRD Kabupaten Ngawi Berdasarkan


Tingkat Pendidikan tahun 2010.............................................

65

Perkembangan Jumlah Murid di Kabupaten Ngawi .............

68

Gambar 4.10 Perkembangan Tenaga Kerja Kabupaten Ngawi ..................

71

Gambar 4.11 Penduduk Kabupaten Ngawi Menurut Golongan Umur...... .

72

Gambar 4.9

Gambar 4.12 Distribusi Prosentase PDRB atas Dasar Harga Berlaku


Kabupaten Ngawi ..................................................................
commit to user

xviii

74

perpustakaan.uns.ac.id

digilib.uns.ac.id

HALAMAN
Gambar 4.13 Laju Pertumbuhan Ekonomi Kabupaten Ngawi ...................

75

Gambar 4.14 Struktur Organisasi Bappeda Kabupaten Ngawi ..................

78

commit to user

xix

perpustakaan.uns.ac.id

digilib.uns.ac.id

DAFTAR LAMPIRAN

Lampiran 1.

Dokumen Pelaksanaan Anggaran Satuan Kerja Perangkat Daerah


Bappeda Kabupaten Ngawi Tahun Anggaran 2010

Lampiran 2.

Objek Anggaran Belanja Kelompok ASB Forum Komunikasi atau


Koordinasi Bappeda Kabupaten Ngawi Tahun Anggaran 2010

Lampiran 3.

Cost Driver ASB Forum Komunikasi atau Koordinasi Bappeda


Kabupaten Ngawi Tahun Anggaran 2010

Lampiran 4.

Perhitungan Belanja Rata-rata

Lampiran 5.

Perhitungan Nilai Maksimum dan Minimum Belanja

Lampiran 6.

Perhitungan Prosentase Alokasi Belanja

Lampiran 7.

Menentukan Klasifikasi Kewajaran Belanja Berdasarkan ASB

commit to user

xx

perpustakaan.uns.ac.id

digilib.uns.ac.id

BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah


Otonomi Daerah merupakan proses awal terjadinya reformasi
penganggaran keuangan daerah di Indonesia. Otonomi Daerah sangat
berimplikasi pada perubahan dalam sistem pembuatan keputusan terkait
dengan pengalokasian sumber daya dalam anggaran pemerintah daerah. Pada
dasarnya untuk mewujudkan kemandirian daerah dalam rangka menghadapi
Otonomi Daerah salah satu faktor keuangan yang perlu menjadi perhatian
adalah perencanaan keuangan daerah dan Anggaran Pendapatan dan Belanja
Daerah (APBD).
Pemerintah dalam rangka mengantisipasi adanya reformasi dalam
pengelolaan keuangan daerah, maka meresponnya dengan mengeluarkan
beberapa peraturan perundang-undangan ditandai dengan dikeluarkannya
pengganti Undang-Undang Nomor 22 Tahun 1999 tentang Pemerintahan
Daerah dengan Undang-Undang No. 32 Tahun 2004. Undang-Undang Nomor
25 Tahun 1999 tentang Perimbangan Keuangan antara Pemerintah Pusat dan
Daerah diganti dengan Undang-Undang Nomor 33 Tahun 2004. Setelah itu,
dalam manajemen keuangan daerah dikeluarkan Undang-Undang Nomor 17
Tahun 2003 tentang Keuangan Negara, Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2004
tentang Perbendaharaan Negara dan Undang-Undang Nomor 15 Tahun 2004
tentang Pemeriksaan Pengelolaan dan Tanggung jawab Keuangan Negara.
commit to user

perpustakaan.uns.ac.id

digilib.uns.ac.id
2

Kemudian dikeluarkannya Peraturan Pemerintah Nomor 58 Tahun 2005


tentang Pengelolaan Keuangan Daerah, Peraturan Menteri Dalam Negeri
Nomor 13 Tahun 2006 tentang Pedoman Pengelolaan Keuangan Daerah yang
merupakan uraian penjelasan penyusunan APBD. Permendagri No. 13 Tahun
2006 merupakan pengganti dari Kepmendagri No. 29 Tahun 2002. Beberapa
perubahan dari Permendagri No. 13 Tahun 2006 yaitu :
1. Dikenalkannya

kembali

bendahara

pengeluaran

dan

bendahara

penerimaan;
2. Belanja aparatur dan belanja publik dihilangkan dan lebih menekankan
kepada belanja langsung dan belanja tidak langsung;
3. Penyusunan indikator kinerja mulai dari memasukan (input), keluar
(output), dan menghasilkan hasil, tetapi manfaat dan dampak dihilangkan;
dan
4. Kemudian mulai dikenalkannya Medium Terms Expenditure Framework
(MTEF).
Kemudian juga dikeluarkan Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 59
Tahun 2007 yang memuat perubahan atas atas Peraturan Menteri Dalam
Negeri Nomor 13 Tahun 2006 tentang Pedoman Pengelolaan Keuangan
Daerah.
Peraturan Pemerintah Dalam Negeri Nomor 13 Tahun 2006 Pasal 39
ayat (1) sampai (3) secara jelas menyatakan bahwa penyusunan RKA-SKPD
dengan pendekatan prestasi kerja, memperhatikan keterkaitan antara
pendanaan dengan keluaran dan hasil yang diharapkan dari kegiatan dan
commit to user

perpustakaan.uns.ac.id

digilib.uns.ac.id
3

program termasuk efisiensi dalam pencapaian keluaran dan hasil tersebut.


Pendekatan anggaran prestasi kerja disusun untuk mengatasi kelemahan dalam
anggaran tradisional, khususnya kelemahan tidak adanya tolak ukur yang
jelas, selain itu adanya tuntutan transparan dan akuntabel atas pengelolaan
keuangan daerah semakin meningkat. Untuk dapat memenuhi tuntutan
tersebut, terutama atas tuntutan akuntabel dapat dilakukan dengan cara
pengelolaan keuangan daerah secara ekonomis, efisien, dan efektif. Untuk itu
salah satu cara yang dapat diambil oleh pemerintah daerah dalam pengelolaan
keuangan yang di dasarkan pada prestasi kerja pemerintah daerah perlu
melengkapi diri dengan instrumen lain yaitu dengan menyusun standar biaya
atau dalam bahasa resmi dalam Permendagri No. 13 Tahun 2006 yaitu
Analisis Standar Belanja (ASB). Dengan upaya tersebut diharapkan daerah
didorong untuk lebih tanggap, kreatif, inovatif dan mampu mengambil inisiatif
terutama dalam hal perbaikan sistem dan prosedurnya serta meninjau kembali
sistem tersebut secara terus-menerus, dengan tujuan memaksimalkan efisiensi
dan efektivitas berdasarkan keadaan, kebutuhan dan kemampuan keuangan
daerah.
Pada dasarnya pendekatan kinerja disusun untuk mengatasi berbagai
kelemahan yang terdapat dalam anggaran tradisional, khususnya kelemahan
yang disebabkan oleh tidak adanya tolok ukur yang dapat digunakan untuk
mengukur kinerja dalam pencapaian tujuan dan sasaran pelayanan publik
Mardiasmo (2002: 84). Lebih lanjut dinyatakan bahwa penilaian kinerja
didasarkan pada pelaksanaan value for money dan efektivitas anggaran.
commit to user

perpustakaan.uns.ac.id

digilib.uns.ac.id
4

Pendekatan ini cenderung menolak pandangan anggaran tradisional yang


menganggap bahwa tanpa adanya arahan dan campur tangan, pemerintah akan
menyalahgunakan kedudukan mereka dan cenderung boros (over-spending).
Menurut pendekatan kinerja ini, dominasi pemerintah akan diawasi dan
dikendalikan sehingga pemerintah dipaksa untuk bertindak berdasarkan efisien
dan efektivitas.
Mardiasmo (2002: 231) menyatakan bahwa, salah satu tolok ukur
keberhasilan otonomi daerah adalah apabila lembaga sektor publik dikelola
dengan memperhatikan konsep Value For Money (VFM). Value For Money
merupakan ekpresi dari pelaksanaan lembaga sektor publik yang mendasarkan
pada 3 (tiga) elemen dasar, yaitu adanya ekonomi, efisiensi dan efektivitas.
Anggaran dengan pendekatan kinerja sangat menekankan pada konsep value
for money dan pengawasan dan pembuatan prioritas tujuan serta pendekatan
yang sistematis dan rasional dalam pengambilan keputusan.
Aparat

pemerintah

daerah

harus

memiliki

kemampuan

dan

pengetahuan yang memadai dalam perencanaan dan perumusan kebijakan


strategis daerah, termasuk proses dan pengalokasian anggaran belanja daerah
agar pelaksanaan berbagai kegiatan pelayanan oleh pemerintah daerah dapat
berjalan

secara

ekonomis,

efisien,

dan

efektif.

Pemerintah

daerah

Kabupaten/Kota dituntut untuk mampu menemukan metode baru dalam


meningkatkan

sumber

pembiayaan

di

daerahnya.

Selain

itu

juga

mengharuskan daerah untuk dapat mengalokasikan belanjanya agar hemat,


berdaya guna dan tepat guna. Peran sera masyarakat sebagai pemilik sebagian
commit to user

perpustakaan.uns.ac.id

digilib.uns.ac.id
5

dana sangat diharapkan dalam proses penyusunan Anggaran Pendapatan dan


Belanja Daerah.
Kabupaten Ngawi sebagai bagian dari Provinsi Jawa Timur dengan
luas wilayah administratif 1.298,59 km2 yang dibagi menjadi 19 Kecamatan
sedang merasakan akan pentingnya pengelolaan keuangan daerah. Kondisi di
Kabupaten Ngawi menunjukkan bahwa realisasi Anggaran Pendapatan dan
Belanja Daerah (APBD) dari tahun ke tahun menunjukkan kecenderungan
meningkat, meskipun belum optimal karena sumber-sumber penerimaan
daerah belum seluruhnya dapat digali dan managemen pengelolaan yang
kurang profesional. Kondisi penerimaan ini berpengaruh terhadap alokasi
belanja untuk unit kerja termasuk pada Badan Perencanaan Pembangunan
Daerah (Bappeda) Kabupaten Ngawi
Permasalahan di atas harus diselesaikan, anggaran daerah dalam
konteks otonomi dan desentralisasi menduduki posisi yang sangat penting.
Kondisi yang ada selama ini di Kabupaten Ngawi pada khususnya dan di
Bappeda pada umumnya kualitas perencanaan Anggaran dengan paradigma
lama masih cenderung lemahnya, sehingga masih belum mampu menunjukkan
adanya pertanggungjawaban kinerja yang mengarah pada akuntabilitas.
Selama ini dalam penyusunan Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah
(APBD) juga menerapkan sistem pendekatan incremental dan line item.
Penerapan

dari

pendekatan

tersebut

mengakibatkan

ditemukannya

pengalokasian dana yang tidak efisien dan efektif. Hal ini dapat dilihat dari
terjadinya overfinancing dan underfinancing dalam pelaksanaan suatu
commit to user

perpustakaan.uns.ac.id

digilib.uns.ac.id
6

kegiatan. Selama ini pengukuran keberhasilan maupun kegagalan dari instansi


pemerintah dalam menjalankan tugas pokok dan fungsinya sulit untuk
dilakukan secara obyektif. Pengukuran kinerja suatu instansi hanya lebih
ditekankan pada kemampuan instansi.
Dengan seluruh kondisi awal dan latar belakang secara umum di atas,
maka dapatlah dikatakan bahwa penyusunan APBD berbasis kinerja menjadi
sebuah keharusan di daerah, karena dengan menggunakan anggaran kinerja
tersebut, maka anggaran daerah akan lebih transparan, adil, dan dapat
dipertanggungjawabkan. Salah satu instrumen yang diperlukan untuk
menyusun anggaran daerah dengan pendekatan kinerja adalah Analisis
Standar Belanja (ASB). Dalam regulasi-regulasi yang tersebut di atas selalu
disebutkan bahwa ASB merupakan salah satu instrumen pokok dalam
penganggaran

berbasis

kinerja.

Walaupun

regulasi-regulasi

tersebut

mengamanatkan ASB, tetapi ternyata regulasi-regulasi tersebut belum


menunjukkan secara riil dan operasional tentang ASB dan pada akhirnya
mengakibatkan ASB menjadi sesuatu yg abtrak bagi Pemerintah Daerah di
Indonesia.
APBD Pemerintah Kabupaten Ngawi pada tahun 2010 pada pos
belanja daerah mengalami defisit anggaran sebesar Rp. 58.679.457.100,00.
Hal ini mengindikasikan terjadinya penganggaran yang tidak sehat di
Kabupaten Ngawi. Sebenarnya hal ini bisa dihindari apabila dalam
penyusunan APBD sudah menggunakan regresi linier ASB karena dapat
digunakan sebagai dasar peramalan yang dapat dipertanggungjawabkan secara
commit to user

perpustakaan.uns.ac.id

digilib.uns.ac.id
7

matematis. Untuk lebih jelasnya tentang terjadinya underfinance anggaran


pada APBD Kabupaten Ngawi ini dapat dilihat pada tabel 1.1 sebagai berikut :
Tabel 1.1 Ringkasan APBD Kabupaten Ngawi Tahun 2010
No
A.
1.
a.
b.
c.
d.
2.
a.
b.
c.
3.
a.
b.
c.
d.
e.
B.
1.
a.
b.
c.
d.
e.
f.
2.
a.
b.
c.

Uraian
Realisasi
PENDAPATAN DAERAH
982.336.089.000
PENDAPATAN ASLI DAERAH
35.313.790.550
Hasil Pajak Daerah
10.717.750.000
Hasil Retribusi Daerah
17.099.799.000
Hasil Pengelolaan Kekayaan Daerah yang
1.127.798.050
Dipisahkan
Lain-lain Pendapatan Asli Daerah yang Sah
6.368.443.500
DANA PERIMBANGAN
786.098.768.250
Bagi Hasil Pajak/Bagi Hasil Bukan Pajak
61.608.288.250
Dana Alokasi Umum
654.720.280.000
Dana Alokasi Khusus
69.770.200.000
LAIN-LAIN PENDAPATAN DAERAH
160.923.530.200
YANG SAH
Pendapatan Hibah
1.858.575.000
Bagi Hasil Pajak dari Provinsi dan Pemerintah
39.019.230.000
Daerah Lainnya
Bantuan Keuangan dari Provinsi atau Pemerintah
35.500.000.000
Daerah Lainnya
Tambahan Penghasilan Bagi PNS Guru
14.311.050.000
Tunjangan Profesi Guru PNSD
70.234.675.200
BELANJA DAERAH
1.041.015.546.100
BELANJA TIDAK LANGSUNG
728.460.676.550
Belanja Pegawai
689.575.003.250
Belanja Bunga
56.840.250
Belanja Hibah
11.567.000.000
Belanja Bantuan Sosial
6.399.000.000
Belanja Bantuan Keuangan Kepada Provinsi
20.691.273.150
Kabupaten/Kota dan Pemerintahan Desa
Belanja Tidak Terduga
171.559.900
BELANJA LANGSUNG
312.554.869.550
Belanja Pegawai
22.550.451.700
Belanja Barang dan Jasa
121.967.561.900
Belanja Modal
168.036.855.950
commit to user
Surplus (Defisit)
(58.679.457.100)

perpustakaan.uns.ac.id

digilib.uns.ac.id
8

Lanjutan Tabel 1.1


58.679.457.100
59.396.185.850

C. PEMBIAYAAN
1. Penerimaan Pembiayaan
Sisa Lebih Anggaran Daerah Tahun
a.
51.601.035.850
Sebelumnya
Hasil Penjualan Kekayaan Daerah yang
b.
5.895.150.000
Dipisahkan
c. Penerimaan Piutang Daerah
1.900.000.000
2. Pengeluaran Pembiayaan
716.728.750
Penyertaan Modal (Investasi) Pemerintah
a.
500.000.000
Daerah
b. Pembayaran Pokok Utang
216.728.750
Sumber : Dinas Pendapatan, Pengelola Keuangan dan Aset (DPPKA)
Kabupaten Ngawi
Dalam menyusun APBD Pemerintah Kabupaten Ngawi belum
menggunakan instrumen Analisis Standar Belanja (ASB) dalam pengalokasian
anggaran belanja kepada masing-masing satuan kerja yang ada dalam struktur
organisasi Pemerintah Kabupaten Ngawi sesuai dengan tugas pokok dan
fungsinya. Oleh sebab itu dalam tesis ini di karenakan salah satu tugas pokok
dan fungsi Badan Perencanaan Pembangunan Daerah yaitu melakukan
kegiatan forum komunikasi atau koordinasi. maka peneliti mencoba
melakukan perhitungan Analisis Standar Belanja (ASB) di Badan Perencanaan
Pembangunan Daerah (Bappeda) Kabupaten Ngawi tahun anggaran 2010.
Adapun masalah pada penelitian ini hanya dibatasi pada satu aspek saja yaitu
pada kegiatan forum komunikasi atau koordinasi tahun anggaran 2010.

B. Perumusan Masalah
Kegiatan forum komunisasi atau koordinasi merupakan salah satu dari
tugas pokok dan fungsi dari Badan Perencanaan Pembangunan Daerah
commit to user

perpustakaan.uns.ac.id

digilib.uns.ac.id
9

(Bappeda) Kabupaten Ngawi. Berdasarkan penjelasan di atas, maka yang


menjadi permasalahan dalam penelitian ini adalah :
1. Dengan menggunakan Analisis Standar Belanja (ASB) berapakah belanja
rata-rata Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) tahun
anggaran 2010?
2. Dengan menggunakan Analisis Standar Belanja (ASB) berapakah nilai
minimum dan maksimum belanja Badan Perencanaan Pembangunan
Daerah (Bappeda) tahun anggaran 2010?
3. Dengan menggunakan Analisis Standar Belanja (ASB) bagaimanakah
prosentase alokasi belanja rata-rata, belanja minimum dan belanja
maksimum pada masing-masing objek belanja Badan Perencanaan
Pembangunan Daerah (Bappeda) Kabupaten Ngawi tahun anggaran 2010?
4. Kegiatan forum komunikasi atau koordinasi manakah yang masuk dalam
kategori underfinancing, overfinancing, wajar pada Bappeda Kabupaten
Ngawi tahun anggaran 2010?
C. Tujuan Penelitian
Berdasarkan sebagaimana tersebut pada latar belakang masalah dan
perumusan masalah di atas. maka tujuan penelitian yang ingin dicapai dalam
penelitian menggunakan instrumen ASB secara umum adalah bahwa
penelitian ini diharapkan dapat memperkenalkan atau membumikan ASB
sebagai salah satu pendekatan yang digunakan dalam penyusunan anggaran
berbasis kinerja. sehingga diharapkan ASB tersebut dapat diwujudkan dan
commit to user

perpustakaan.uns.ac.id

digilib.uns.ac.id
10

dilaksanakan secara riil oleh Pemerintah Kabupaten Ngawi. Sedangkan tujuan


khususnya dari penelitian ini adalah sebagai berikut :
1. Menghitung besarnya belanja rata-rata dalam pelaksanaan kegiatan forum
komunikasi atau koordinasi pada Badan Perencanaan Pembangunan
Daerah (Bappeda) tahun anggaran 2010 untuk masing-masing kelompok
Analisis Standar Belanja (ASB);
2. Menghitung nilai minimum dan maksimum belanja kegiatan forum
komunikasi atau koordinasi pada Badan Perencanaan Pembangunan
Daerah (Bappeda) tahun anggaran 2010 dari model regresi untuk masingmasing kelompok Analisis Standar Belanja (ASB);
3. Menghitung prosentase alokasi belanja pada masing-masing objek belanja
pada kegiatan forum komunikasi atau koordinasi. baik alokasi belanja ratarata. alokasi belanja minimum. dan alokasi belanja maksimum pada Badan
Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) Kabupaten Ngawi tahun
anggaran 2010;
4. Menentukan klasifikasi kewajaran belanja dalam kegiatan forum
komunikasi atau koordinasi pada Badan Perencanaan Pembangunan
Daerah (Bappeda) Kabupaten Ngawi tahun anggaran 2010.
D. Manfaat Penelitian
Penelitian ini diharapkan dapat memberikan manfaat. antara lain
sebagai berikut:
1. Dapat memberikan bahan masukan dan informasi untuk Pemerintah
Kabupaten Ngawi dan Badan Perencanaan Pembangunan Daerah
commit to user

perpustakaan.uns.ac.id

digilib.uns.ac.id
11

(Bappeda) Kabupaten Ngawi pada khususnya dalam pelaksanaan anggaran


berbasis kinerja melalui perhitungan kebutuhan belanja yang wajar sesuai
dengan beban unit kerja pada kegiatan forum komunikasi atau koordinasi.
2. Membantu memberikan bantuan pemikiran kepada Tim Anggaran
Pemerintah Daerah (TAPD) Kabupaten Ngawi pada waktu menetapkan
prioritas plafon anggaran sementara (PPAS) yang lebih obyektif (tidak lagi
berdasarkan intuisi) sehingga akhirnya dapat meminimalisir terjadinya
pengeluaran yang kurang jelas yang menyebabkan inefisiensi anggaran;
3. Sebagai bahan informasi dan referensi bagi akademisi atau peneliti
selanjutnya mengenai anggaran berbasis kinerja menggunakan Analisis
Standar Belanja (ASB), khususnya di Kabupaten Ngawi.

commit to user

perpustakaan.uns.ac.id

digilib.uns.ac.id

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

A. Landasan Teori
1. Pengertian Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah
Anggaran Pendapatan

dan Belanja Daerah (APBD) pada

hakekatnya merupakan instrumen kebijakan yang dipakai sebagai alat


untuk meningkatkan pelayanan umum dan meningkatkan kesejahteraan
masyarakat di daerah. Oleh karena itu, Dewan Perwakilan Rakyat Daerah
(DPRD) dan Pemerintah Daerah harus berupaya secara nyata dan
terstruktur guna menghasilkan APBD yang dapat mencerminkan
kebutuhan riil masyarakat sesuai dengan potensi masing-masing daerah
serta dapat memenuhi tuntutan terciptanya anggaran daerah yang
berorientasi pada kepentingan dan akuntabilitas publik. Suatu anggaran
yang telah direncanakan dengan baik hendaknya disertai dengan
pelaksanaan yang tertib dan disiplin sehingga tujuan atau sasarannya dapat
dicapai secara berdayaguna dan berhasilguna.
Berbagai definisi dari para ahli dan Undang-undang mengenai
Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) :
a.

Menurut Wayong (1962: 81) APBD adalah suatu rencana pekerjaan


keuangan (financial worlplan) yang dibuat untuk suatu jangka waktu
tertentu pada waktu badan legislatif memberikan kredit kepada badanbadan eksekutif untuk melakukan pembiayaan guna memenuhi
commit to user
kebutuhan rumah tangga daerah sesuai dengan rancangan yang

12

perpustakaan.uns.ac.id

digilib.uns.ac.id
13

menjadi

dasar

(groundslag)

penetapan

anggaran,

dan

yang

menunjukkan semua penghasilan untuk menutup pengeluaran tadi.


b.

Menurut Mamesah (1995: 19) APBD adalah Rencana operasional


keuangan daerah, dimana satu pihak menggambarkan perkiraan
pengeluaran setinggi-tingginya guna membiayai kegiatan-kegiatan
dan proyek-proyek daerah dalam satu tahun anggaran tertentu, dan
dipihak lain menggambarkan perkiraan penerimaan daerah guna
menutupi pengeluaran-pengeluaran dimaksud.

c.

Menurut Halim (2002: 24) APBD merupakan rencana kegiatan


pemerintah daerah yang dituangkan dalam bentuk angka dan
menunjukkan adanya sumber penerimaan yang merupakan target
minimal dan biaya yang merupakan batas maksimal untuk suatu
periode anggaran.

d.

Menurut Mardiasmo (2002: 9) APBD merupakan instrumen kebijakan


yang utama bagi pemerintah daerah. Sebagai instrumen kebijakan
yang utama bagi pemerintah daerah. Sebagai instrumen kebijakan,
anggaran

daerah

pengembangan

menduduki

kapabilitas

posisi

dan

sentral

efektivitas.

dalam

upaya

Anggaran

daerah

digunakan sebagai alat untuk menentukan besar pendapatan dan


pengeluaran, membantu pengambilan keputusan dan perencanaan
pembangunan, otorisasi pengeluaran dimasa-masa yang akan datang,
sumber pengembangan ukuran-ukuran standar untuk evaluasi kinerja,
commit to user

perpustakaan.uns.ac.id

digilib.uns.ac.id
14

alat untuk memotivasi para pegawai, dan alat koordinasi bagi semua
aktivitas dari berbagai unit kerja.
Dari beberapa definisi di atas dapat disimpulkan bahwa APBD
adalah :
a. Rencana operasional daerah yang menggambarkan bahwa adanya
aktivitas atau kegiatan-kegiatan yang dilaksanakan di mana aktivitas
tersebut telah diuraikan secara rinci;
b. Adanya sumber penerimaan yang merupakan target minimal untuk
menutupi biaya-biaya sehubungan dengan aktivitas-aktivitas tersebut,
sedang biaya-biaya yang ada merupakan batas maksimal pengeluaranpengeluaran yang akan dilaksanakan;
c. Dituangkan dalam bentuk angka, jenis kegiatan dan jenis proyek;
d. Untuk keperluan dalam satu tahun anggaran.
2. Jenis Sistem Penganggaran Keuangan Daerah
Sistem penganggaran sektor publik dalam sejarahnya berkembang
dan berubah sesuai dengan dinamika perkembangan manajemen sektor
publik dan tututan masyarakat. Sektor publik merupakan refleksi dari arah
dan tujuan pelayanan masyarakat yang diharapkan dari pemerintah daerah.
Menurut Ritonga (2009: 21-24) sistem penganggaran sektor publik
terdiri dari anggaran tradisional (konvensional) dan anggaran yang
berorientasi pada kepentingan publik (new public management). Anggaran
tradisional terdiri dari :
commit to user

perpustakaan.uns.ac.id

digilib.uns.ac.id
15

a. Line Item
Pendekatan Line Item didasarkan atas sifat nature dari
penerimaan dan pengeluaran. Metode line item tidak memungkinkan
untuk menghilangkan item-item penerimaan dan pengeluaran yang
telah ada dalam struktur anggaran, walaupun ada beberapa item yang
sudah tidak relevan untuk digunakan pada periode sekarang. Hal ini
mengakibatkan tidak dapat dilaksanakannya penilaian kinerja, karena
tolok ukur kinerjanya adalah ketaatan dalam penggunaan dana yang
diusulan. Pada masa orde baru, contohnya selalu dianggarkan belanja
penyuluhan Keluarga Berencana (KB) atau belanja penataran Pedoman
Penghayatan

Pengamalan

Pancasila

(P4)

dalam

komponen

pengeluaran. Belanja-belanja ini akan muncul terus dalam anggaran,


walaupun sudah tidak dibutuhkan lagi oleh masyarakat tertentu.
b. Incrementalism
Tujuan utama pendekatan tradisional terdapat pada pengawasan
dan pertanggungjawaban yang terpusat. Anggaran ini bersifat
incrementalism yaitu hanya menambahkan atau mengurangi item-item
anggaran yang telah ada sebelumnya. Data yang digunakan sebagai
dasar adalah data tahun sebelumnya tanpa ada kajian apakah
pengeluaran periode sebelumnya tersebut didasarkan atas kebutuhan
yang

wajar

atau

tidak.

Pendekatan

incrementalism

dapat

mengakibatkan kesalahan pada periode selanjutnya ketika akan


menentukan anggaran karena tidak mendasarkan pada kebutuhan riil.
commit to user

perpustakaan.uns.ac.id

digilib.uns.ac.id
16

Masalah utama pendekatan ini adalah tidak adanya perhatian terhadap


konsep value for money, sehingga pada akhir tahun anggaran tersebut
seringkali terjadi kelebihan anggaran dalam pengalokasiannya dan
dipaksakan pada aktivitas-aktivitas yang sebenarnya kurang penting
untuk dilaksanakan. Dapat diambil contoh di sini bahwa jika tahun
sekarang belanja barang dan jasa sebesar Rp. 1.000.000,00 dan
diprediksi tahun depan inflasi sebesar 10%, maka besarnya anggaran
tahun depan adalah Rp. 1.000.000,00 x 110% = Rp. 1.100.000,00.
Anggaran yang berorientasi pada kepentingan publik terdiri
dari (Ritonga, 2009: 157-160) :
a.

Zero Based Budgeting (ZBB)


Penyusunan anggaran dengan menggunakan pendekatan ZBB
dapat mengatasi kelemahan pendekatan incrementalism karena
anggaran diasumsikan mulai dari nol (zero based). Zero Based
Budgeting tidak berpatokan pada anggaran tahun lalu dalam
menyusun anggaran tahun ini. Kebutuhan anggaran didasarkan pada
kebutuhan saat ini. Dengan ZBB proses anggaran dimulai dari hal
yang baru dan item anggaran yang sudah tidah relevan dapat
dihilangkan dari struktur anggaran dan dimungkinkan muncul item
yang baru. Kelebihan dari penggunaan metode ZBB ini adalah dapat
menghasilkan sumber daya secara lebih efisien, lebih fokus pada
value for money, lebih mudah untuk mengidentifikasi terjadinya
inefisiensi dan ketidakefektifan biaya. Adapun kelemahan dalam ZBB
commit to user

perpustakaan.uns.ac.id

digilib.uns.ac.id
17

antara lain proses penyusunan anggaran memakan waktu yang lama


dan terlalu teoritis, serta cenderung menekankan manfaat jangka
pendek.
b.

Planning, Programming, and Budgeting System (PPBS)


Planning, Programming, and Budgeting System (PPBS)
merupakan teknik penganggaran yang didasarkan pada system
perencanaan formal yang berorientasi pada output dan tujuan.
Penekanan utamanya adalah alokasi sumber daya yang berdasarkan
analisis ekonomi. Hal tersebut disebabkan sumber daya yang dimiliki
pemerintah terbatas jumlahnya. Dalam keadaan tersebut pemerintah
dihadapkan pada pilihan alternatif keputusan yang memberikan
manfaat paling besar dalam pencapaian tujuan organisasi secara
keseluruhan. PPBS memberikan kerangka untuk membuat pilihan
tersebut. Sistem anggaran PPBS tidak mendasarkan pada struktur
organisasi tradisional yang terdiri dari divisi-divisi, tetapi berdasarkan
program dengan pengelompokan aktivitas untuk mencapai tujuan
tertentu. Kelebihan PPBS dalam jangka panjang adalah dapat
mengurangi beban kerja, mudah dalam pendelegasian tanggungjawab
dari atasan kepada bawahan, memperbaiki kualitas pelayanan melalui
pendekatan standar biaya dan menghilangkan program yang
overlapping. Kelemahan PPBS adalah dalam penyusunananya
membutuhkan biaya yang tinggi karena membutuhkan teknologi yang
commit to user

perpustakaan.uns.ac.id

digilib.uns.ac.id
18

canggih, membutuhkan system pengukuran, dan staf yang memiliki


kapabilitas yang tinggi.
c.

Perfomance Based Budgeting


Sistem Anggaran Berbasis Kinerja (Perfomance Based
Budgeting) merupakan pendekatan kinerja yang disusun untuk
mengatasi kelemahan anggaran tradisional, yaitu tidak adanya tolok
ukur yang dapat digunakan untuk mengukur kinerja dalam pencapaian
tujuan dan sasaran pelayanan publik. Anggaran berbasis kinerja
sangat menekankan konsep value for money yaitu ekonomis, efisien
dan efektif. Konsep ekonomis terkait dengan perolehan input yang
semurah mungkin. Konsep efisiensi terkait dengan biaya rata-rata
terendah untuk menghasilkan output, sedangkan konsep efektif terkait
dengan pencapaian tujuan yang paling berdaya guna. Secara teknis
pelaksanaan

sistem

anggaran

kinerja

merupakan

subsistem

perencanaan strategis (strategic planning). Penerapan sistem anggaran


kinerja dalam penyusunan anggaran dimulai dengan perumusan isuisu strategis yang direspon dengan program dan kegiatan yang
relevan. Penentuan program dan kegiatan tersebut mencakup pula
penentuan indikator kinerja yang digunakan sebagai tolok ukur dalam
pencapaian tujuan yang telah ditetapkan dalam perencanaan strategis.

commit to user

perpustakaan.uns.ac.id

digilib.uns.ac.id
19

3. Prinsip-prinsip Penganggaran APBD


Berdasarkan Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 22 tahun
2011 tentang Pedoman Penyusunan Anggaran Pendapatan dan Belanja
Daerah tahun 2012, APBD disusun berdasarkan :
a.

Partisipasi masyarakat
Pengambilan keputusan dalam proses penyusunan dan
penetapan APBD sedapat mungkin melibatkan partisipasi masyarakat,
sehingga masyarakat mengetahui akan hak dan kewajibannya dalam
pelaksanaan APBD.

b.

Transparansi dan akuntabilitas anggaran


APBD harus dapat menyajikan informasi secara terbuka dan
jelas mengenai tujuan , sasaran, sumber pendanaan, hasil dan manfaat
yang diperoleh masyarakat dari suatu kegiatan atau proyek yang
dianggarkan. Anggota masyarakat memiliki hak dan akses yang sama
untuk mengetahui proses anggaran karena menyangkut aspirasi dan
kepentingan masyarakat, terutama pemenuhan kebutuhan-kebutuhan
hidup

masyarakat.

Masyarakat

juga berhak

untuk

menuntut

pertanggungjawaban atas rencana ataupun pelaksanaan anggaran


tersebut.
c.

Disiplin anggaran
Pendapatan yang direncanakan merupakan perkiraan yang
terukur secara rasional yang dapat dicapai untuk setiap sumber
pendapatan, sedangkan belanja yang dianggarkan merupakan batas
commit to user

perpustakaan.uns.ac.id

digilib.uns.ac.id
20

tertinggi pengeluaran belanja. Penganggaran pengeluaran harus


didukung dengan adanya kepastian tersedianya penerimaan dalam
jumlah yang cukup dan tidak dibenarkan melaksanakan kegiatan yang
belum tersedia atau tidak mencukupi kredit anggarannya dalam
APBD atau perubahan APBD. Semua penerimaan dan pengeluaran
daerah dalam tahun anggaran yang bersangkutan harus dianggarkan
dalam APBD dan dilakukan melalui rekening kas umum daerah
d.

Keadilan anggaran
Pajak daerah, retribusi daerah, dan pungutan daerah lainnya
yang

dibebankan

kepada

masyarakat

harus

dipertimbangkan

kemampuan untuk membayar. Dalam mengalokasikan belanja daerah,


pemerintah daerah wajib mengalokasikan penggunaan anggarannya
secara adil dan merata agar dapat dinikmati oleh seluruh kelompok
masyarakat tanpa diskriminasi dalam pemberian pelayanan karena
pendapatan daerah pada hakekatnya diperoleh melalui peran serta
masyarakat.
e.

Efisiensi dan efektifitas anggaran


Penyusunana anggaran hendaknya dilakukan berdasarkan azas
efisiensi, tepat guna, tepat waktu pelaksanaan, dan penggunaannya
dapat

dipertanggungjawabkan.

Dana

yang

tersedia

harus

dimanfaatkan dengan sebaik mungkin untuk dapat menghasilkan


peningkatan pelayanan dan kesejahteraan yang maksimal untuk
kepentingan masyarakat.
commit to user

perpustakaan.uns.ac.id

digilib.uns.ac.id
21

f.

Taat azas
Penyusunan APBD tidak boleh bertentangan dengan peraturan
perundang-undangan yang lebih tinggi, kepentingan umum, dan
peraturan daerah lainnya.

g.

Disusun dengan pendekatan kinerja


APBD

disusun

dengan

pendekatan

kinerja,

yaitu

mengupayakan pencapaian hasil kerja (output atau outcome) dari


perencanaan alokasi biaya atau input yang telah ditetapkan. Selain itu
harus mampu menumbuhkan profesionalisme kerja disetiap organisasi
kerja yang terkait.
4. Kebijakan Umum APBD (KUA) dan Prioritas dan Plafon Anggaran
(PPA)
Kebijakan Umum APBD (KUA) dan Prioritas dan Plafon
Anggaran (PPA) merupakan dua dokumen utama dalam penyusunan
APBD. KUA adalah dokumen yang memuat kebijakan bidang pendapatan,
belanja, dan pembiayaan serta asumsi yang mendasari untuk 1 (satu)
tahun. KUA adalah salah satu alat perencanaan dalam penganggaran
berbasis kinerja. Oleh karena penyusunan KUA sedapat mungkin memuat
target pencapaian kinerja yang terukur dari setiap program dan kegiatan
menurut urusan pemerintahan daerah yang disertai dengan proyeksi
pendapatan daerah, alokasi belanja daerah, sumber dan penggunaan
pembiayaan yang disertai dengan asumsi yang mendasarinya, yakni
perkembangan ekonomi.

commit to user

perpustakaan.uns.ac.id

digilib.uns.ac.id
22

a. Pendapatan daerah
Pendapatan daerah meliputi semua penerimaan uang melalui
rekening kas umum daerah, yang menambah ekuitas dana, merupakan
hak daerah dalam satu tahun anggaran dan tidak perlu dibayar kembali
oleh daerah. Pendapatan daerah adalah hak pemerintah daerah yang
diakui sebagai penambah nilai kekayaan bersih. Pendapatan daerah
tersebut merupakan perkiraan yang terukur secara rasional yang dapat
dicapai

untuk

setiap

sumber

pendapatan.

Pendapatan

daerah

dikelompokkan atas:
1) Pendapatan Asli Daerah (PAD), kelompok PAD dibagi menurut
jenis pendapatan yang terdiri atas :
a) Pajak daerah;
b) Retribusi daerah;
c) Hasil pengelolaan kekayaan daerah yang dipisahkan; dan
d) Lain-lain pendapatan asli daerah yang sah
2) Dana perimbangan, kelompok pendapatan dana perimbangan
dibagi menurut jenis pendapatan yang terdiri atas
a) Dana bagi hasil terdiri dari bagi hasil pajak dan bagi hasil
bukan pajak;
b) Dana alokasi umum; dan
c) Dana alokasi khusus.

commit to user

perpustakaan.uns.ac.id

digilib.uns.ac.id
23

3) Lain-lain pendapatan daerah yang sah, kelompok lain-lain


pendapatan daerah yang sah dibagi menurut jenis pendapatan yang
mencakup :
a) Hibah berasal dari pemerintah, pemerintah daerah lainnya,
badan atau lembaga atauorganisasi swasta dalam negeri,
kelompok masyarakat atau perorangan, dan lembaga luar
negeri yang tidak mengikat;
b) Dana darurat dari pemerintah dalam rangka penanggulangan
korban atau kerusakan akibat becana alam;
c) Dana bagi hasil pajak dari provinsi kepada kabupaten atau kota
d) Dana penyesuaian dan dana otonomi khusus yang ditetapkan
oleh pemerintah; dan
e) Bantuan keuangan dari provinsi atau dari pemerintah daerah
lainnya
Pendapatan daerah tidak sama dengan penerimaan daerah.
Penerimaan daerah adalah uang yang masuk ke kas daerah.
Penerimaan daerah terdiri dari pendapatan daerah dan penerimaan
pembiyaan daerah
b. Belanja Daerah
Belanja daerah adalah kewajiban pemerintah daerah yang
diakui sebagai pengurang nilai kekayaan bersih. Belanja daerah
merupakan perkiraan beban pengeluaran daerah yang dialokasikan
secara adil dan merata agar relatif dapat dinikmati oleh seluruh
commit to user

perpustakaan.uns.ac.id

digilib.uns.ac.id
24

kelompok masyarakat tanpa diskriminasi, khususnya dalam pemberian


pelayanan umum. Belanja daerah meliputi semua pengeluaran dari
rekening kas umum daerah yang menggunakan ekuitas dana lancar,
yang merupakan kewajiban daerah dalam satu tahun anggaran yang
tidak akan diperoleh pembayarannya kembali oleh daerah. Belanja
daerah dapat dibedakan menurut urusan pemerintahan daerah,
organisasi, program, kegiatan, kelompok, jenis, obyek, dan rincian
obyek belanja. Belanja menurut urusan pemerintah dibedakan atas
belanja urusan wajib dan belanja urusan pilihan. Menurut organisasi
organisasi, belanja daerah dibedakan berdasarkan susunan organisasi
pemerintahan daerah. Sementara itu, belanja daerah menurut program
dan kegiatan ditetapkan sesuai dengan urusan pemerintahan yang
menjadi kewenangan daerah. Menurut fungsinya, belanja daerah
dibedakan atas :
1) Pelayanan Umum;
2) Ketertiban dan Keamanan;
3) Ekonomi;
4) Lingkungan Hidup;
5) Perumahan dan Fasilitas Umum;
6) Kesehatan;
7) Pariwisata dan Budaya;
8) Agama;
9) Pendidikan, dan

commit to user

perpustakaan.uns.ac.id

digilib.uns.ac.id
25

10) Perlindungan Sosial.


Menurut Pasal 39 Peraturan Pemerintah No. 58 Tahun 2005
tentang Pengelolaan Keuangan Tanggung jawab Keuangan Negara,
setiap jenis belanja yang dianggarkan harus memperhatikan keterkaitan
pendanaan dengan keluaran dan hasil yang diharapkan dari program
dan kegiatan yang dianggarkan, termasuk efisiensi dalam pencapaian
keluaran

dan

hasi

tersebut.

Berdasarkan

ketentuan

tersebut,

Permendagri No. 13 Tahun 2006 juga membedakan Belanja Daerah


menjadi Belanja Tidak Langsung dan Belanja Langsung. Belanja
Tidak Langsung adalah belanja yang dianggarkan tidak terkait
langsung dengan program kegiatan, sementara Belanja Langsung
merupakan belanja yang dianggarkan terkait secara langsung dengan
pelaksanaan program dan kegiatan, sementara. Belanja Daerah tidak
sama dengan Pengeluaran Daerah. Pengeluaran Daerah adalah uang
yang masuk ke kas daerah. Pengeluaran Daerah terdiri dari Belanja
Daerah dan Pengeluaran Pembiayaan Daerah. Belanja Tidak Langsung
diklasifikasikan menjadi :
1) Belanja Pegawai;
2) Bunga;
3) Subsidi;
4) Hibah;
5) Bantuan Sosial;
6) Belanja Bagi Hasil;
commit to user

perpustakaan.uns.ac.id

digilib.uns.ac.id
26

7) Bantuan Keuangan; dan


8) Belanja Tak Terduga.
Sementara itu, Belanja Langsung diklasifikasikan menjadi
1) Belanja Pegawai
2) Belanja Barang dan Jasa
3) Belanja Modal
c. Pembiayaan Daerah
Pembiayaan Daerah adalah semua penerimaan yang perlu
dibayar kembali dan atau pengeluaran yang akan diterima kembali,
baik pada tahun anggaran yang bersangkutan maupun pada tahuntahun anggaran berikutnya. Dengan demikian pembiayaan daerah
terdiri dari penerimaan pembiayaan dan pengeluaran pembiayaan.
Selisih dari penerimaan pembiayaan dan pengeluaran pembiayaan
disebut pembiayaan neto dan jumlahnya harus dapat menutup difisit
anggaran.
1) Penerimaan pembiayaan mencakup :
a) Sisa lebih perhitungan anggaran tahun anggaran sebelumnya
(SiLPA);
b) Pencairan dana cadangan;
c) Hasil penjualan kekayaan daerah yang dipisahkan;
d) Penerimaan pinjaman daerah;
e) Penerimaan kembali pemberian pinjaman; dan
f) Penerimaan piutang daerah.
commit to user

perpustakaan.uns.ac.id

digilib.uns.ac.id
27

2) Pengeluaran pembiayaan :
a) Pembentukan dana cadangan;
b) Penanaman modal pemerintah daerah;
c) Pembayaran pokok utang; dan
d) Pemberian pinjaman daerah
5. Fungsi Anggaran Daerah
Anggaran daerah mempunyai peranan penting dalam sistem
keuangan daerah. Peran anggaran daerah dapat dilihat berdasarkan fungsi
utamanya yaitu, (Ritonga, 2009: 92) :
a. Fungsi otorisasi mengandung pengertian bahwa anggaran daerah
menjadi dasar untuk melaksanakan pendapatan dan belanja pada tahun
yang bersangkutan;
b. Fungsi perencanaan mengandung arti bahwa anggaran daerah menjadi
pedoman bagi manajemen dalam merencanakan kegiatan pada tahun
yang bersangkutan;
c. Fungsi pengawasan mengandung arti bahwa anggaran daerah menjadi
pedoman untuk menilai apakah kegiatan penyelenggaraan pemerintah
daerah sesuai dengan ketentuan yang telah ditetapkan;
d. Fungsi alokasi mengandung arti bahwa anggaran daerah harus
diarahkan untuk menciptakan lapangan kerja atau mengurangi
pengangguran dan pemborosan sumber daya, serta meningkatkan
efisiensi dan efektifitas perekonomian;
commit to user

perpustakaan.uns.ac.id

digilib.uns.ac.id
28

e. Fungsi distribusi mengandung arti bahwa kebijakan anggaran daerah


harus memperhatikan rasa keadilan dan kepatutan;
f. Fungsi stabilisasi mengandung arti bahwa anggaran pemerintah daerah
menjadi alat untuk memelihara dan mengupayakan keseimbangan
fundamental perekonomian daerah.
Secara lebih spesifik, fungsi anggaran daerah dalam proses
pembangunan di daerah menurut Ritonga (2009: 96) adalah :
a. Instrumen kebijakan (policy tools). Anggaran daerah adalah salah satu
instrument formal yang menghubungkan eksekutif daerah dengan
tuntutan dan kebutuhan publik yang diwakili oleh legislative daerah;
b. Intrumen kebijakan fiskal (fiscal tool). Dengan mengubah prioritas dan
besar alokasi dana, anggaran daerah dapat digunakan untuk
mendorong, memberikan fasilitas dan mengkoordinasikan kegiatankegiatan ekonomi masyarakat guna mempercepat pertumbuhan
ekonomi di daerah;
c. Intrumen perencanaan (planning tool). Di dalam anggaran daerah
disebutkan tujuan yang ingin dicapai, biaya dan output atau hasi yang
diharapkan dari setiap kegiatan di masing-masing unit kerja;
d. Instrumen pengendalian (control tool). Anggaran daerah berisi rencana
penerimaan dan pengeluaran secara rinci setiap unit kerja. Hal ini
dilakukan agar unit kerja tidak melakukan overspending dan
underspending atau mangalokasikan anggaran pada bidang lain.
commit to user

perpustakaan.uns.ac.id

digilib.uns.ac.id
29

6. Siklus Perencanaan Anggaran Daerah


Perencanaan anggaran daerah secara keseluruhan yang mencakup
penyusunan Kebijakan Umum APBD sampai dengan disusunnya
Rancangan APBD terdiri dari beberapa tahapan proses perencanaan
anggaran daerah. Berdasarkan Permendagri No. 13 Tahun 2006 adalah :
a. Penyusunan kebijakan umum APBD (KUA) dan dokumen prioritas
dan plafon anggaran sementara (PPAS)
b. Pembahasan KUA dan PPAS antara pemerintah daerah dengan DPRD
c. Penetapan nota kesepahaman KUA dan prioritas dan plafon anggaran
(PPA)
d. Penyusunan dan penyampaian surat edaran kepala daerah tentang
pedoman penyusunan RKA-SKPD kepada seluruh SKPD
e. PPKD melakukan kompilasi RKA-SKPD menjadi Raperda APBD
untuk dibahas dan memperoleh persetujuan bersama dengan DPR
sebelum diajukan dalam proses evaluasi;
f. Pembahasan RKA-SKPD oleh tim anggaran pemerintah daerah
(TAPD) dengan SKPD
g. Penyusunan rancangan peraturan daerah (Raperda) tentang APBD
h. Pembahasan Raperda APBD;
i. Proses penetapan Perda APBD baru dapat dilakukan jika Mendagri
atau Gubernur menyatakan bahwa perda APBD tidak bertentangan
dengan kepentingan umum dan peraturan perundangan yang lebih
tinggi;

commit to user

perpustakaan.uns.ac.id

digilib.uns.ac.id
30

j. Penyusunan rancangan peraturan kepala daerah tentang penjabaran


APBD.
7. Pengertian Analisis Standar Belanja (ASB)
Menurut Pusat Antar Universitas Studi Ekonomi UGM (2000: 24)
menyatakan bahwa Standar Analisis Belanja (SAB) adalah perkiraan
jumlah alokasi dana untuk berbagai jenis pengeluaran di dalam unit kerja.
Alasan menerapkan Standar Analisis Belanja adalah untuk menghasilkan
alokasi dana yang lebih akurat, sehingga setiap dana yang dikeluarkan
didasarkan atas proses perhitungan yang wajar dan rasional. Dengan
demikian mendorong unit kerja untuk melaksanakan prinsip ekonomi,
efektif dan efisien secara berkesinambungan
Menurut Ritonga (2009: 241) Analisis Standar Belanja (ASB) yaitu
pedoman yang digunakan untuk menganalisis kewajaran beban kerja dan
belanja setiap program atau kegiatan yang akan dilaksanakan oleh suatu
Satuan Kerja Perangkat Daerah (SKPD) dalam satu tahun anggaran. ASB
merupakan suatu pendekatan yang digunakan oleh Tim Anggaran
Pemerintah Daerah (TAPD) untuk mengevaluasi usulan program,
kegiatan, dan anggaran setiap SKPD dengan cara menganalisis kewajaran
beban kerja dan belanja dari setiap usulan program atau kegiatan yang
bersangkutan. Penilaian kewajaran beban kerja usulan program atau
kegiatan terkait dengan kebijakan anggaran, komponen dan tingkat
pelayanan yang akan dicapai, jangka waktu pelaksanaan, serta kapasitas
satuan kerja untuk melaksanakannya.
commit to user

perpustakaan.uns.ac.id

digilib.uns.ac.id
31

Beban kerja program atau kegiatan yang diusulkan SKPD dapat


dinilai kewajarannya berdasarkan pertimbangan sebagai berikut :
a. Kaitan logis antara program atau kegiatan yang di usulkan dengan
strategi dan prioritas APBD;
b. Kesesuaian antara program atau kegiatan yang diusulkan dengan tugas
pokok dan fungsi satuan kerja yang bersangkutan;
c. Kapasitas SKPD yang bersangkutan untuk melaksanakan program atau
kegiatan pada tingkat pencapaian yang diinginkan dan dalam jangka
waktu satu tahun anggaran.
Berdasarkan penjelasan Undang-undang No. 32 Tahun 2004
tentang Pemerintahan Daerah, Pasal 167 ayat 3 tentang Analisis Standar
Belanja dan Peraturan Menteri Dalam Negeri No. 13 Tahun 2006 tentang
Pedoman Pengelolaan Keuangan Daerah Pasal 93 adalah sebagai berikut :
Analisis Standar Belanja (ASB) adalah penilaian kewajaran atas beban
kerja dan biaya yang digunakan untuk melaksanakan suatu kegiatan.
8. Landasan Hukum Analisis Standar Belanja (ASB)
Regulasi-regulasi yang mengamanatkan agar Pemerintah Daerah
menerapkan ASB antara lain adalah :
a. Undang-Undang No. 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah,
Pasal 167 ayat (3) : Belanja daerah sebagaimana dimaksud pada ayat
(1) mempertimbangkan Analisis Standar Belanja, Standar Harga,
Tolok Ukur Kinerja, dan Standar Pelayanan Minimal yang ditetapkan
sesuai dengan peraturan perundang-undangan;
commit to user

perpustakaan.uns.ac.id

digilib.uns.ac.id
32

b. Penjelasan Undang-Undang No. 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan


Daerah, Pasal 167 ayat (3):
Yang dimaksud dengan Analisis Standar Belanja (ASB) adalah
penilaian kewajaran atas beban kerja dan biaya yang digunakan untuk
melaksanakan kerja dan biaya yang digunakan untuk melaksanakan
kegiatan;
c. Peraturan Pemerintah No. 58 Tahun 2005 tentang Pengelolaan
Keuangan Daerah Pasal 39 ayat (2) : Penyusunan anggaran
berdasarkan prestasi kerja sebagaimana dimaksud pada ayat (1)
dilakukan berdasarkan capaian kinerja, indikator kinerja, analisis
standar belanja, standar satuan harga, dan standar pelayanan minimal;
d. Peraturan Pemerintah No. 58 Tahun 2005 tentang Pengelolaan
Keuangan Daerah Pasal 41 ayat (3), Pembahasan oleh tim anggaran
pemerintah daerah sebagaimana dimaksud pada ayat (2) dilakukan
untuk menelaah kesesuaian antara RKA-SKPD dengan kebijakan
umum APBD, prioritas dan plafon anggaran sementara, prakiraan maju
yang telah disetujui tahun anggaran sebelumnya, dan dokumen
perencanaan lainnya, serta capaian kinerja, indikator kinerja, analisis
standar belanja, standar satuan harga, dan standar pelayanan minimal;
e. Peraturan Menteri Dalam Negeri No. 13 Tahun 2006 tentang Pedoman
Pengelolaan Keuangan Daerah 89 ayat (2) : Rancangan surat edaran
kepala daerah tentang pedoman penyusunan RKA-SKPD sebagaimana
dimaksud pada ayat (1) mencakup:dokumen sebagai lampiran meliputi
commit to user

perpustakaan.uns.ac.id

digilib.uns.ac.id
33

KUA, PPA, kode rekening APBD, format RKA-SKPD, analisis


standar belanja, dan standar satuan harga;
f. Peraturan Menteri Dalam Negeri No. 13 Tahun 2006 tentang Pedoman
Pengelolaan Keuangan Daerah Pasal 93 yang berbunyi:
1) Penyusunan RKA-SKPD berdasarkan prestasi kerja sebagaimana
dimaksud dalam Pasal 90 ayat (2) berdasarkan pada : Indikator
Kinerja, Capaian atau Target Kinerja, Analisis Standar Belanja
(ASB), standar satuan harga, dan standar pelayanan minimal
(SPM).
2) Analisis Standar Belanja sebagaimana dimaksud pada ayat (1)
merupakan penilaian kewajaran atas beban kerja dan biaya yang
digunakan untuk melaksanakan suatu kegiatan;
g. Peraturan Menteri Dalam Negeri No. 13 Tahun 2006 tentang Pedoman
Pengelolaan Keuangan Daerah Pasal 100 ayat (2) : Pembahasan oleh
TAPD sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilakukan untuk menelaah
kesesuaian antara RKA-SKPD dengan KUA, PPA, prakiraan maju
yang telah disetujui tahun anggaran sebelumnya, dan dokumen
perencanaan lainnya, serta capaian kinerja, indikator kinerja, kelompok
sasaran kegiatan, standar analisis belanja, standar satuan harga, standar
pelayanan minimal, serta sinkronisasi program dan kegiatan antar
SKPD;
h. Peraturan Menteri Dalam Negeri No. 59 Tahun 2007 tentang
Perubahan Atas Peraturan Menteri Dalam Negeri No. 13 Tahun 2006
commit to user

perpustakaan.uns.ac.id

digilib.uns.ac.id
34

Tentang Pedoman Pengelolaan Keuangan Daerah Pasal 89 ayat (2) :


Rancangan surat edaran kepala daerah tentang pedoman penyusunan
RKA-SKPD sebagaiman dimaksud pada ayat (1) mencakup:
Dokumen sebagai lampiran surat edaran meliputi KUA, PPAS, analisis
standar belanja dan standar satuan harga;
i. Peraturan Menteri Dalam Negeri No. 59 Tahun 2007 tentang
Perubahan Atas Peraturan Menteri Dalam Negeri No. 13 Tahun 2006
tentang Pedoman Pengelolaan Keuangan Daerah Pasal 100 ayat (2) :
Pembahasan oleh TAPD sebagaimana dimaksud pada ayat (1)
dilakukan untuk menelaah kesesuaian rencana anggaran dengan
standar analisis belanja, standar satuan harga;
j. Lampiran Peraturan Menteri Dalam Negeri No. 32 Tahun 2008 tentang
Pedoman Penyusunan Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah
Tahun Anggaran 2009, (Romawi III) Teknis Penyusunan APBD No. 4:
Substansi Surat Edaran Kepala Daerah tentang Pedoman Penyusunan
RKA-SKPD kepada seluruh SKPD dan RKA-PPKD kepada SKPKD
lebih disederhanakan, hanya memuat prioritas pembangunan daerah
dan program atau kegiatan yang terkait, alokasi plafon anggaran
sementara untuk setiap program atau kegiatan SKPD kepada PPKD
dan dokumen sebagai lampiran Surat Edaran dimaksud meliputi KUA,
PPAS, Analisis Standar Belanja, dan Standar Satuan Harga.

commit to user

perpustakaan.uns.ac.id

digilib.uns.ac.id
35

9. Prinsip Dasar Penyusunan ASB


Menurut Tanjung (2010: 3) dalam penyusunan ASB, ada beberapa
prinsip dasar yang harus diperhatikan pemerintah daerah yaitu :
a. Penyederhanaan (modeling)
Penyusunan ASB bertujuan membuat model belanja untuk objek-objek
kegiatan yang menghasilkan output yang sama.
b.

Mudah diaplikasikan
Model yang dibuat mudah diaplikasikan, atau tidak membuat susah
yang menggunakan model tersebut.

c.

Mudah diup-date
Model yang dibuat mudah untuk diperbarui, dalam arti jika
ditambahkan data baru tidak merubah formula model tersebut secara
keseluruhan.

d. Fleksibel,
Model yang dibuat menggunakan konsep belanja rata-rata dan
memiliki batas minimum belanja dan batas maksimum belanja.
10. Peranan ASB Dalam Penyusunan Anggaran
Sesuai dengan isi Permendagri No. 13 Tahun 2006 pasal 93 ayat
(1), menyatakan bahwa penyusunan RKA-SKPD berdasarkan ASB (salah
satu dasar), dan pada pasal 4 menyatakan bahwa ASB merupakan
penilaian kewajaran atas beban kerja dan biaya yang digunakan untuk
melaksanakan suatu kegiatan, serta memperhatikan prinsip-prinsip dasar
commit to user

perpustakaan.uns.ac.id

digilib.uns.ac.id
36

penyusunan ASB. Maka dapat dikatakan peranan ASB dalam penyusunan


anggaran pada pemerintah daerah adalah sebagai berikut :
a. Menjamin kewajaran beban kerja dan biaya yang digunakan antar
SKPD dalam melakukan kegiatan sejenis;
b. Mendorong terciptanya anggaran daerah yang semakin efisien dan
efektif;
c. Memudahkan Tim Anggaran Pemerintah Daerah (TAPD) melakukan
verifikasi total belanja yang diajukan dalam RKA-SKPD untuk setiap
kegiatan;
d. Memudahkan SKPD dan TPAD dalam menghitung besarnya anggaran
total belanja untuk setiap jenis kegiatan berdasarkan target output yang
ditetapkan dalam RKA-SKPD.
Menurut Ritonga (2009: 11-12) ASB memiliki peran yang penting
dalam berbagai tahap pengelolaan keuangan daerah. Berikut akan
dijelaskan peran ASB pada berbagai tahapan tersebut :
a. Tahap Perencanaan Keuangan Daerah
ASB dapat digunakan pada saat perencanaan keuangan daerah.
ASB dapat dipergunakan pada saat musrembang, penyusunan rencana
kerja SKPD (renja SKPD), dan penyusunan rencana kerja pemerintah
daerah (RKPD). Pada tahap-tahap tersebut ASB digunakan oleh para
perencana

untuk

mengarahkan

para

pengusul

kegiatan,

baik

masyarakat maupun aparatur pemda, untuk fokus pada kinerja. Apabila


tanpa ASB, maka perencana hanya sekedar mencatat usulan namacommit to user

perpustakaan.uns.ac.id

digilib.uns.ac.id
37

nama kegiatan dari para pengusul. Dengan adanya ASB, maka para
perencana akan bertanya lebih jauh lagi kepada pengusul tentang
pemicu kinerja (cost driver) kegiatan yang diusulkan agar dapat
menentukan plafon anggaran kegiatan yang diusulkannya.
b. Tahap Penganggaran Keuangan Daerah
ASB digunakan pada saat proses penganggaran keuangan
daerah, yaitu pada saat penentuan plafon anggaran sementara dan
penyusunan rencana kerja anggaran. ASB digunakan oleh Tim
Anggaran Pemerintah Daerah (TAPD) untuk mengevaluasi usulan
program, kegiatan dan anggaran setiap satuan kerja dengan cara
menganalisis kewajaran antara beban kerja dan biaya dari usulan
program atau kegiatan yang bersangkutan. ASB digunakan pada saat
mengkuantitatifkan target kinerja program dan kegiatan setiap SKPD
menjadi RKA-SKPD. RKA-SKPD berisi rencana program dan
kegiatan yang akan dilaksanakan beserta usulan anggaran yang akan
digunakan. Untuk mengetahui beban kerja dan beban biaya yang
optimal dari setiap usulan program atau kegiatan yang diusulkan,
langkah yang harus dilakukan adalah dengan menggunakan formula
perhitungan ASB yang terdapat pada masing-masing ASB. Tidak
hanya TAPD, tim anggaran DPRD juga menggunakan ASB untuk
meneliti kewajaran anggaran dan beban kerja dari setiap usulan
kegiatan

yang

diajukan

oleh

pemerintah

daerah

sebelum

mengesahkannya menjadi Dokumen Pelaksanaan Anggaran (DPA).


commit to user

perpustakaan.uns.ac.id

digilib.uns.ac.id
38

c. Tahap Pengawasan atau Pemeriksaan


Pada tahap pengawasan atau pemeriksaan dapat menggunakan
ASB untuk menentukan batasan mengenai pemborosan dari suatu
kegiatan. Penganggaran suatu kegiatan dikatakan efisien jika pagu
anggaran kegiatan tersebut tidak melampaui pagu ASB. Apabila
penganggaran belanja suatu kegiatan melebihi pagu ASB maka inilah
yang disebut dengan pemborosan.
11. Anggaran Berbasis Kinerja
Heinrich (2002: 714) menyatakan bahwa diperlukan sistem
manajemen berbasis outcome agar kinerja manajer publik atau aparat
pemerintah lebih efektif dari pada dengan pendekatan tradisional pada
pengendalian birokrat. Sistem manajemen atau pengukuran kinerja yang
berbasis outcome ini akan menghasilkan informasi. Informasi yang
diperoleh dari pengukuran kinerja bisa digunakan untuk memberikan
informasi kepada pengelola program dalam berbagai tingkat organisasi.
Mardiasmo (2002: 169) menyatakan bahwa kelemahan utama
dalam manajemen pengeluaran rutin daerah adalah tidak adanya ukuran
kinerja yang dapat dijadikan acuan bagi pemerintah daerah dalam proses
perencanaan, ratifikasi, implementasi dan evaluasi pengeluaran rutin
daerah. Hal ini berdampak pada kecenderungan kurangnya perhatian pada
decision maker anggaran daerah terhadap konsep nilai uang (value for
money). Seperti halnya pada pengeluaran rutin, permasalahan yang ada
pada pengeluaran pembangunan pun sama.
commit to user

perpustakaan.uns.ac.id

digilib.uns.ac.id
39

Pada pos pengeluaran rutin, satu-satunya ukuran kinerja yang


dipakai

adalah

aturan

bahwa

jumlah

dana

untuk

pengeluaran

pembangunan yang tertera dalam anggaran daerah adalah jumlah dana


maksimal yang dapat dibelanjakan untuk setiap pos pengeluaran anggaran.
Dengan demikian bila pada pengeluaran rutin pemerintah daerah
cenderung menghabiskan dana maka pada pengeluaran pembangunan hal
yang sama juga akan terjadi. Karena ukuran kinerja lainnya tidak ada,
maka dasar evaluasi pengeluaran pembangunan akan menggunakan rerata
proporsi dana yang dialokasikan untuk setiap sektor yang ada dalam
kelompok pengeluaran pembangunan. Dengan menggunakan alat evaluasi
ini, terlihat bahwa rata-rata alokasi dana aparatur pemerintah masih tinggi.
Dapat diidentifikasikan ada 3 (tiga) hal yang harus dibenahi dalam
perencanaan pengeluaran. Pertama, konsep batas maksimal yang ada pada
pos pengeluaran rutin dan pengeluaran pembangunan sebaiknya diganti,
hal ini karena pada kenyataan di lapangan konsep ini telah menjadi dasar
bagi unit kerja pemerintah di daerah untuk menghabiskan anggaran.
Kedua,

konsep

tradisional

budget

yang

membatasi

jenis-jenis

pengeluaran, baik rutin maupun pembangunan harus sudah diganti untuk


jenis-jenis pengeluaran yang lebih rasional sesuai dengan kebutuhan
daerah. Ketiga, untuk identifikasi kebutuhan dana pada pos pengeluaran
atau belanja rutin daerah, maka ukuran kinerja yang sederhana adalah
dengan melihat beban kerja (workload) dan biaya rutin rata-rata (unit
cost).

Dalam

rangka

identifikasi kebutuhan
commit to user

pos

pengeluaran

perpustakaan.uns.ac.id

digilib.uns.ac.id
40

pembangunan, ukuran kinerja yang harus dibuat oleh daerah menjadi lebih
kompleks atau rumit Mardiasmo (2002: 174)
Mengutip

pendapat

Vazquez

(1997)

menyatakan

bahwa

pengukuran kebutuhan pengeluaran (expenditure needs) dalam kontek


intergovernmental relationship merupakan pekerjaan yang sulit lihat
Asmaldi (2002:10). Beberapa teknik mengestimasi kebutuhan pengeluaran
pemerintah adalah:
1. menghitung biaya penyediaan standar tingkat pelayanan di suatu
daerah;
2. menggunakan Analisis Regresi, metode ini merupakan cara yang
canggih dengan menggunakan data pengeluaran aktual, namun teknis
ni hanya menyajikan pengukuran kebutuhan relatif antar daerah dan
mengabaikan perbedaan-perbedaan tingkat harga, efisiensi penyediaan
pelayanan, aturan, tingkat preferensi dan kualitas pelayanan antar
daerah. Metode ini sulit diterapkan di negara-negara yang dalam masa
transisi atau negara-negara sedang berkembang di mana informasi atau
data sulit diperoleh dan kwalitasnya pun kadang diragukan.
3. menggunakan metode unit cost, cara ini banyak digunakan di beberapa
negara pada masa lalu tetapi sekarang telah banyak ditinggalkan
karena tidak mampu mencakup perbedaan antar daerah.
Berdasarkan Kamus Besar Bahasa Indonesia, kinerja memiliki
beberapa arti, seperti prestasi, tingkat capaian, realisasi, dan pemenuhan.
Kebanyakan terminologi mengacu pada dampak tujuan tindakan publik,
commit to user

perpustakaan.uns.ac.id

digilib.uns.ac.id
41

tetapi beberapa berhubungan secara subyektif dengan tingkat kepuasan


yang dirasakan sebagai suatu hasil dari suatu tindakan. Perlu dipahami
bahwa konsep kinerja harus dianggap sebagai sebuah alat atau instrumen
untuk mencapai tujuan dan bersifat relatif atau dapat diperbandingkan baik
terhadap waktu, terhadap daerah atau SKPD lain. Anggaran dengan
pendekatan prestasi kerja merupakan suatu sistem anggaran yang
mengutamakan hasil kerja dan output dari setiap program dan kegiatan
yang direncanakan. Setiap dana yang dikeluarkan oleh pemerintah daerah
untuk melaksanakan program dan kegiatan harus didasarkan atas hasil dan
output yang jelas dan terukur. Ini merupakan pembeda utama antara
anggaran kinerja dengan anggaran tradisional yang pernah diterapkan
sebelumnya

yang

lebih

mempertanggungjawabkan

input

yang

direncanakan dengan input yang dialokasikan.


Mengacu pada definisi di atas, penyusunan anggaran berdasarkan
prestasi kerja pada dasarnya sudah dilakukan sejak pemerintah daerah
mengajukan Kebijakan Umum APBD (KUA) dan Prioritas dan Plafon
Anggaran Sementara (PPAS) harus ditentukan secara tegas mengenai
besaran hasil dan outputnya. Namun, penyusunan anggaran berdasarkan
prestasi kerja akan terlihat secara operasional pada saat SKPD mengajukan
RKA-SKPD (Rencana Kerja dan Anggaran Satuan Kerja Perangkat
Daerah). Dalam pasal 39 ayat (1) sampai (3) Permendagri No. 13 Tahun
2006 secara jelas menyatakan bahwa Penyusunan RKA-SKPD dengan
pendekatan prestasi kerja dilakukan dengan memperhatikan dengan
commit to user

perpustakaan.uns.ac.id

digilib.uns.ac.id
42

keterkaitan antara pendanaan dan keluaran dan hasil yang diharapkan dari
kegiatan dan program termasuk efisiensi dalam pencapaian keluaran dan
hasil tersebut. Untuk mengimplementasikan anggaran berdasarkan
prestasi kerja, pemerintah daerah perlu melengkapi diri dengan instrumen
lain seperti capaian kinerja, indikator kinerja, analisis standar belanja,
standar satuan harga, dan standar pelayanan minimal. Terdapat beberapa
indikator yang secara umum dijadikan ukuran pencapaian kinerja dalam
pengelolaan anggaran daerah. Dalam Kepmendagri No. 29 Tahun 2002,
indikator kinerja diukur berdasarkan input, output, hasil, manfaat, dan
dampak. Namun berdasarkan Permendagri No. 13 Tahun 2006, indikator
kinerja dibatasi menjadi masukan (input), keluaran (output), dan hasil
(outcome). Input adalah seluruh sumber daya yang digunakan untuk
menghasilkan output. Keluaran (output) adalah barang atau jasa yang
dihasilkan oleh kegiatan yang dilaksanakan untuk mendukung pencapaian
sasaran dan tujuan program dan kebijakan. Hasil (outcome) adalah segala
sesuatu yang mencerminkan berfungsinya keluaran dari kegiatan-kegiatan
dalam suatu program.
Indikator-indikator kinerja di atas, pada dasarnya tidak bisa
memberikan penjelasan yang berarti tentang kinerja melainkan semata
menjelaskan keterkaitan proses yang logis antara input, output dan
outcome atau yang biasa disebut kerangka kerja logis. Indikator yang
digunakan tidak mampu menjelaskan apakah kinerja kita sudah semakin
membaik ataukah semakin memburuk?. Indikator yang digunakan bahkan
commit to user

perpustakaan.uns.ac.id

digilib.uns.ac.id
43

tidak akan mampu menjawab apakah program dan kegiatan tersebut


menyentuh kepentingan publik atau masyarakat atau tujuan jangka
menengah dan jangka panjang lainnya. Indikator tersebut hanya mampu
menjelaskan bahwa untuk setiap input yang digunakan ada sejumlah
output yang dihasilkan dan jumlah outcome pada level program.
Mengingat kinerja bersifat relatif, maka harus ada data pembanding
(bencmark). Dengan adanya data pembanding, memungkinkan untuk
menilai apakah program dan kegiatan yang direncanakan lebih efisien dan
lebih efektif dibandingkan dengan data pembanding tersebut atau program
dan kegiatan yang sama ditahun sebelumnya. Suatu program atau kegiatan
dikatakan semakin efisien jika untuk mencapai output tertentu diperlukan
biaya yang lebih rendah dibandingkan dengan data dasar (bencmark) atau
dengan biaya tertentu akan diperoleh output yang lebih besar dibandingkan
data

dasar

dan

sebaliknya.

Efektivitas

dapat

dilihat

dengan

membandingkan rencana output terhadap rencana hasil. Jika dengan


rencana output tertentu akan mampu dicapai hasil yang lebih besar atau
dengan target hasil tertentu akan dicapai dengan output yang lebih kecil
dibandingkan dengan data dasar, maka program dan kegiatan tersebut
dikatakan semakin efektif.
B. Studi Terdahulu
Mardiasmo

dan

Jaya

(1999)

melakukan

penelitian

tentang

pelaksanaan Undang-Undang Nomor 22 Tahun 1999 dan Undang-Undang


Nomor 25 Tahun 1999. Alat analisis yang digunakan adalah alat analisis
commit to user

perpustakaan.uns.ac.id

digilib.uns.ac.id
44

deskriptif. Hasil penelitiannya menunjukkan bahwa model line-item dan


incrementalism seharusnya diganti dengan model yang lebih bagus dan
anggaran pemerintah daerah seharusnya lebih dekat dengan kebutuhan dan
prioritas

komunitas

lokal

yang

dinamis.

Hasil

penelitian

lainnya

mengungkapkan bahwa akuntabilitas bisa diciptakan dengan partisipasi


masyarakat, sehingga partisipasi masyarakat dalam pembuatan anggaran
menjadi penting.
Penelitian dari dalam negeri antara lain dilakukan oleh Pusat Antar
Universitas-Fakultas Ekonomi UGM (2000). Ruang lingkup dari penelitian ini
difokuskan pada pengembangan sistem anggaran kinerja daerah dan model
Standar Analisis Belanja (SAB), dengan lokasi penelitian di Pemerintah Kota
Denpasar dan Kabupaten Sleman. Unit kerja yang dijadikan sampel adalah
Bagian Keuangan, Dinas Pendapatan Daerah, Dinas Kesehatan, Dinas
Pendidikan Nasional dan Dinas Pekerjaan Umum. Adapun alat analisis yang
digunakan adalah perhitungan biaya rata-rata, standar analisa belanja dan
kebutuhan anggaran unit kerja. Hasil penelitian tersebut antara lain yang
berkaitan dengan kinerja pemerintah daerah saat ini belum ada kejelasan
tupoksi dan kewenangan untuk setiap unit kerja. Masih terdapatnya tupoksi
pada beberapa unit kerja yang tidak lagi relevan dengan tujuan pelayanan dan
kepentingan publik serta peraturan-peraturan legal tentang desentralisasi. Oleh
karena itu, sebagian besar unit kerja belum memiliki sistem pengukuran
kinerja yang lengkap dan konprehensif. Hail penelitian ini dituangkan dalam
commit to user

perpustakaan.uns.ac.id

digilib.uns.ac.id
45

bentuk Laporan Akhir Pengembangan Model Standar Analisa Belanja (SAB)


Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD)
Penelitian dari luar dilakukan oleh Martinez (2001) yang meneliti
tentang masalah-masalah dalam alokasi belanja. Alat analisis yang digunakan
adalah analisis deskriptif. Hasil penelitiannya mengungkapkan bahwa
diperlukan kriteria efisiensi dalam hal penentuan bagian belanja. Selain itu
diperlukan juga adanya pencapaian sasaran redistribusi dan stabilitas.
Beberapa masalah yang sering timbul dalam penentuan belanja adalah tidak
adanya penentuan belanja yang efisien, adanya penentuan belanja yang
bersifat mendua dan adanya tanggung jawab yang di bagi bersama. Martines
juga menyatakan bahwa ada dua bentuk umum pendanaan yang tersedia yaitu
akses langsung pada pasar modal oleh pemerintah daerah dengan menerbitkan
obligasi dan peminjaman dari lembaga keuangan.
Penelitian dari luar negeri lainnya dilakukan oleh Heinrich (2002) yang
melakukan penelitian tentang implikasi manajemen kinerja berbasis outcome
pada publik sektor dalam akuntabilitas dan efektivitas pemerintahan.
Penelitian dilakukan di Amerika Serikat. Alat analisis yang digunakan adalah
analisis deskriptif. Hasil penelitiannya menunjukkan bahwa penggunaan data
administratif pada manajemen kinerja tidak menghasilkan perkiraan dampak
program yang benar-benar akurat. Penelitian ini juga menegaskan bahwa datadata administrasi bisa menghasilkan informasi yang berguna bagi manajer
publik yang bisa dimanipulasi untuk memperbaiki kinerja organisasi. Selain
itu disimpulkan pula bahwa hal penting dalam merancang suatu sistem kinerja
commit to user

perpustakaan.uns.ac.id

digilib.uns.ac.id
46

adalah sejauh mana efektivitas sebuah kebijakan sebagai alat untuk


meningkatkan akuntabilitas pemerintah.
Penelitian lainnya dilakukan oleh Asmaldi (2002) yang meneliti
tentang Standar Analisis Belanja (SAB) pengeluaran Pemerintah Kabupaten
Kerinci. Obyek penelitiannya adalah pada Kantor Kebersihan, Pemadam
Kebakaran dan Pertamanan Pemakaman. Penelitian menggunakan data-data
tahun 2001. alat analisis yang digunakan adalah standar analisa belanja, biaya
rata-rata, kebutuhan anggaran unit kerja, serta perhitungan perhitungan target
kinerja dengan menggunakan analisis trend. Hasil penelitiannya menunjukkan
bahwa pada tahun 2001 terjadi overfinancing terhadap belanja pelayanan
kebersihan yang menunjukkan tidak efisiennya pengelolaan anggaran pada
unit kerja, selain itu untuk kegiatan penyapuan sampah terjadi underfinancing.
Keadaan ini mengakibatkan beberapa kegiatan akan tertunda pelaksanaannya,
sehingga

dapat

menurunkan

kualitas

pelayanan

kebersihan

kepada

masyarakat. Untuk kegiatan pengangkutan dan penggusuran sampah terjadi


overfinancing. Bila dibanding dengan tahun 2001, maka kinerja keuangan
2000 lebih baik dari pada kinerja keuangan tahun 2001.
Penelitian tersebut akan menjadi acuan dan bahan referensi bagi
penelitian ini. Penelitian-penelitian yang telah dilakukan sebelumnya seperti
disebutkan, apabila dibandingkan dengan penelitian ini mempunyai beberapa
kesamaan yaitu permasalahan yang akan di bahas mengenai Analisis Standar
Belanja (ASB) serta beberapa alat analisis yang relevan digunakan. Adapun
perbedaan penelitian ini dengan penelitian sebelumnya adalah terletak pada
commit to user

perpustakaan.uns.ac.id

digilib.uns.ac.id
47

lokasi penelitian yang ada di Kabupaten Ngawi dengan fokus pada Badan
Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda). Penelitian yang berkaitan
dengan Analisis Standar Belanja (ASB) secara umum telah banyak dilakukan
oleh peneliti-peneliti sebelumnya, tetapi penelitian terhadap Analisi Standar
Belanja pada Badan Perencanaan Pembangunan Daerah Kabupaten Ngawi
belum pernah dilakukan.
C. Kerangka Pemikiran Penelitian
Kebijakan Umum APBD (KUA) dan Prioritas dan Plafon Anggaran
(PPA) merupakan dua dokumen utama dalam penyusunan APBD. Kedua
dokumen tersebut harus direncanakan secara matang untuk menghasilkan
penganggaran keuangan daerah yang berkualitas. Salah satu instrumen yang
digunakan untuk menganalisis efektifitas dan ketepatan penentuan anggaran
adalah dengan Analisis Standar Belanja (ASB). Analisis Standar Belanja
(ASB) merupakan pedoman yang digunakan untuk menganalisis kewajaran
beban kerja dan belanja setiap program atau kegiatan yang akan dilaksanakan
oleh suatu Satuan Kerja Perangkat Daerah (SKPD) dalam satu tahun
anggaran.
ASB merupakan suatu pendekatan yang digunakan oleh Tim Anggaran
Pemerintah Daerah (TAPD) untuk mengevaluasi usulan program, kegiatan,
dan anggaran setiap SKPD dengan cara menganalisis kewajaran beban kerja
dan belanja dari setiap usulan program atau kegiatan yang bersangkutan.
Penilaian terhadap kewajaran beban kerja usulan program atau kegiatan
terkait dengan kebijakan anggaran, komponen dan tingkat pelayanan yang
commit to user

perpustakaan.uns.ac.id

digilib.uns.ac.id
48

akan dicapai, jangka waktu pelaksanaan, serta kapasitas satuan kerja. Setelah
melakukan analisis standar belanja (ASB) maka dapat diketahui nilai
minimum dan maksimum anggaran untuk masing-masing program dan
kegiatan yang akan dilakukan SKPD. Ketika pelaksanaan penganggaran
keuangan daerah, dana yang terealisasi dapat dibandingkan dengan nilai
minimum dan maksimum yang telah dilakukan analisis standar belanja.
Apakah penganggaran keuangan daerah yang dibuat overfinancing atau
underfinancing dalam pelaksanaannya. Untuk lebih jelas kerangka pemikiran
penelitian ini dapat digambarkan sebagai berikut :
KUA PPA

Analisa Standar Biaya


(ASB)

Standar
Minimum dan Maksimum

Pelaksanaan Penganggaran
Keuangan Daerah

Overfinance / Underfinace
.
Gambar 2.1 Kerangka Pemikiran Penelitian
Catatan :
KUA
: Kebijakan Umum Anggaran
PPA
: Prioritas dan Plafon Anggaran
commit to user

perpustakaan.uns.ac.id

digilib.uns.ac.id

BAB III
METODE PENELITIAN

A. Ruang Lingkup dan Batasan Penelitian


Ruang lingkup penelitian ini adalah anggaran untuk kegiatan forum
komunikasi atau koordinasi yang ada pada Badan Perencanaan Pembangunan
Daerah (Bappeda) Kabupaten Ngawi. Adapun untuk penganggaran keuangan
daerah yang diteliti pada penelitian ini adalah penganggaran keuangan daerah
berbasis kinerja di Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda)
Kabupaten Ngawi tahun 2010 yang terdiri dari Kegiatan Koordinasi
Kerjasama

Pembangunan

Antar

Wilayah,

Koordinasi

Perencanaan

Pembangunan Bidang Ekonomi, Koordinasi Perencanaan Pembangunan


Bidang Sosial Budaya, Koordinasi Perencanaan Pembangunan Bidang
Prasarana Wilayah dan Koordinasi Penanganan Kemiskinan.
B. Lokasi Penelitian
Penelitian ini dilakukan pada Satuan Kerja Perangkat Daerah (SKPD)
Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) Kabupaten Ngawi
Provinsi Jawa Timur yang beralamat di Jl. Teuku Umar, No. 12 Kecamatan
Ngawi, Kabupaten Ngawi. Pertimbangan penelitian dilakukan di SKPD
Bappeda Kabupaten Ngawi, karena terkait dengan mewujudkan visi dari
Bappeda Kabupaten Ngawi yaitu Terwujudnya institusi perencanaan
pembangunan yang akuntabel, partisipatif dan strategis maka dari itu
penyusunan keuangannya harus berbasis kinerja, serta agar hasil penelitian ini
commit to user
berupa Analisis Standar Belanja (ASB) dapat digunakan sebagai informasi ,

49

perpustakaan.uns.ac.id

digilib.uns.ac.id
50

memotivasi, dan referensi SKPD yang lain dalam perencanaan keuangan yang
berbasis kinerja guna mendapatkan APBD yang berkualitas.
C. Jenis dan Sumber Data
Data yang digunakan untuk mendukung penulisan penelitian ini
adalah berupa data sekunder yang diperoleh melalui pengumpulan dokumendokumen resmi serta laporan keuangan Pemerintah Daerah Kabupaten Ngawi
tahun anggaran 2010. Data sekunder yang dikumpulkan adalah sebagai
berikut :
1. Data Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) Kabupaten
Ngawi tahun anggaran 2010;
2. Laporan keuangan Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda)
Kabupaten Ngawi tahun anggaran 2010;
3. Data

Daftar

Pelaksanaan

Anggaran

(DPA)

Badan

Perencanaan

Pembangunan Daerah (Bappeda) Kabupaten Ngawi tahun anggaran 2010;


4. Data Kabupaten Ngawi dalam angka tahun 2011.
Data-data dalam penelitian ini diperoleh dari berbagai sumber
lembaga resmi pemerintah antara lain :
1.

Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) Kabupaten Ngawi;

2.

Dinas Pendapatan Pengelolaan Keuangan dan Aset (DPPKA) Kabupaten


Ngawi;

3.

Badan Keluarga Berencana, Kependudukan dan Catatan Sipil Kabupaten


Ngawi;

4.

Badan Pusat Statistik (BPS) Kabupaten Ngawi.


commit to user

perpustakaan.uns.ac.id

digilib.uns.ac.id
51

D. Metode Pengumpulan Data


Dalam mengumpulkan data untuk bahan analisis dilakukan dengan
berbagai cara. Data dan informasi yang berhubungan dengan penelitian ini,
diperoleh dengan cara:
1. Penelitian Kepustakaan (Library research) dengan cara mempelajari
berbagai literatur serta tulisan-tulisan yang berhubungan sengan masalah
yang diteliti. Penelitian kepustakaan dilakukan untuk memperkuat
landasan teori yang dapat mendukung penelitian yang disarikan dan
diambil dari literatur atau buku-buku, artikel ilmiah maupun hasil
penelitian yang berkaitan dengan penelitian ini;
2. Studi Dokumenter untuk memperoleh data sekunder yang diperlukan
dengan menggali informasi pada Unit Kerja Badan Perencanaan
Pembangunan Daerah (Bappeda) Kabupaten Ngawi yang berhubungan
dengan masalah penelitian.
E. Definisi Operasional Variabel Penelitan
Untuk menghindari terjadinya penafsiran yang keliru, diperlukan
uraian ringkas mengenai istilah-istilah yang digunakan dalam penelitian ini.
1. Analisis Standar Belanja (ASB) adalah standar yang digunakan untuk
menganalisis kewajaran beban kerja atau biaya setiap program atau
kegiatan yang akan dilaksanakan oleh suatu Satuan Kerja dalam satu tahun
anggaran. Dalam penelitian ini Analisis Standar Belanja (ASB) didasarkan
pada masing-masing kegiatan yang ada pada kegiatan forum komunikasi
atau koordinasi.

commit to user

perpustakaan.uns.ac.id

digilib.uns.ac.id
52

2.

Penganggaran keuangan daerah adalah penganggaran keuangan daerah


berbasis kinerja di Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda)
Kabupaten Ngawi tahun 2010 yang terdiri dari Kegiatan Koordinasi
Kerjasama Pembangunan Antar Wilayah, Koordinasi Perencanaan
Pembangunan Bidang Ekonomi, Koordinasi Perencanaan Pembangunan
Bidang Sosial Budaya, Koordinasi Perencanaan Pembangunan Bidang
Prasarana Wilayah dan Koordinasi Penanganan Kemiskinan.

3.

Pengendali belanja (Cost Driver) atau sering juga disebut dengan pemicu
belanja adalah faktor yang mempengaruhi besar kecilnya belanja dari
suatu kegiatan. Dalam penelitian ini yang menjadi cost driver kegiatan
forum komunikasi atau koordinasi adalah jumlah peserta dan jumlah
frekuensi koordinasi.

4.

Belanja Total merupakan penjumlahan dari belanja tetap dan belanja


variabel pada suatu target kinerja tertentu.

5.

Belanja tetap merupakan belanja yang nilainya tetap walaupun target


kinerja suatu kegiatan berubah-ubah. Belanja tetap ini tidak dipengaruhi
oleh adanya perubahan volume atau target kinerja suatu kegiatan.
Besarnya nilai belanja tetap merupakan batas maksimal untuk setiap
kegiatan dimana penyusun anggaran tidak boleh melebihi nilai tersebut,
namun diperbolehkan apabila besaran belanja tetap dibawah nilai yang
ditetapkan.

6.

Belanja Variabel menunjukkan besarnya perubahan belanja untuk


masing-masing kegiatan yang dipengaruhi oleh perubahan atau
commit to user

perpustakaan.uns.ac.id

digilib.uns.ac.id
53

penambahan volume kegiatan. Semakain besar target kinerja, maka akan


semakin besar pula total belanja variabelnya.
7.

Belanja rata-rata adalah biaya rata-rata yang dikeluarkan untuk satu


satuan target kinerja yang hendak dicapai pada suatu kegiatan tertentu
yang meliputi belanja langsung.

8.

Batas Minimum Belanja adalah proporsi belanja terendah yang


diperbolehkan dalam penganggaran keuangan daerah setelah dianalisis
dengan ASB.

9.

Batas Maximum Belanja adalah proporsi belanja maximum yang


diperbolehkan dalam penganggaran keuangan daerah setelah dianalisis
dengan ASB.

10. Alokasi Objek Belanja adalah alokasi obyek belanja berisikan macammacam obyek belanja, proporsi batas bawah, proporsi rata-rata, dan
proporsi batas atas dari total belanja. Obyek belanja disini adalah obyek
belanja yang hanya diperbolehkan dipergunakan dalam ASB yang
bersangkutan. Jumlah macam obyek belanja tidak boleh ditambah
maupun dikurangi karena diyakini bahwa kegiatan tersebut hanya akan
efektif jika obyek-obyek belanja tersebut hadir. Batas bawah adalah
proporsi terendah dari obyek belanja yang bersangkutan. Rata-rata adalah
proporsi rata-rata dari obyek belanja tersebut untuk seluruh SKPD di
Pemerintah Daerah tersebut (dalam penelitian ini adalah seluruh kegiatan
yang ada di Bappeda Kabupaten Ngawi). Batas atas adalah proporsi
tertinggi yang dapat dipergunakan dalam obyek belanja. Maksud akan
commit to user

perpustakaan.uns.ac.id

digilib.uns.ac.id
54

adanya batas atas dan batas bawah adalah untuk memberikan keleluasaan
kepada pengguna anggaran untuk menentukan besaran dari masingmasing obyek belanja. Dengan kata lain, batas atas dan batas bawah ini
untuk mengakomodasi selera pengguna anggaran SKPD.
F. Metode Analisis Data
Penelitian ini bertujuan menghitung besarnya belanja rata-rata,
menghitung nilai minimum dan maksimum belanja, menghitung prosentase
alokasi kepada masing-masing objek belanja, baik alokasi prosentase belanja
rata-rata, minimum dan maksimum serta menentukan klasifikasi kategori
kewajaran belanja pada Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda)
Kabupaten Ngawi tahun anggaran 2010.
Untuk menjawab permasalahan yang telah ditetapkan, menurut
Tanjung (2010: 5-9) penyusunan analisis standar belanja (ASB) menggunakan
3 (tiga) pendekatan utama yaitu : pendekatan Activity Based Costing (ABC),
pendekatan Ordinary least Square (regresi sederhana) dan pendekatan metode
diskusi (focused group discussion). Pada penelitian ini alat yang akan
digunakan untuk analisis kegiatan forum komunikasi atau koordinasi yang ada
pada Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) Kabupaten Ngawi
adalah dengan pendekatan Ordinary least squere. Analisis regresi sederhana
adalah suatu teknik yang digunakan untuk membangun suatu persamaan yang
menghubungkan antara variabel tidak bebas (Y) dengan variabel bebas (X)
sekaligus untuk menentukan nilai ramalan atau dugaannya. Dalam regresi
sederhana ini, variabel tidak bebas merupakan total biaya dari suatu kegiatan,
commit to user

perpustakaan.uns.ac.id

digilib.uns.ac.id
55

sedangkan variabel bebas merupakan cost driver dari kegiatan tersebut. Alat
analisis yang digunakan sebagai berikut :
1. Belanja rata-rata
Belanja rata-rata adalah belanja rata-rata yang dikeluarkan guna kegiatan
forum komunikasi atau koordinasi pada tahun 2010 oleh Badan
Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) Kabupaten Ngawi. Untuk
menghitung belanja rata-rata, maka harus diketahui belanja total kegiatan.
Y = a + bX

.............................................................................

(3.1)

Dimana :
Y = Belanja Total
X = Cost Driver
a = Belanja Tetap Total (Fixed Cost)
b = Belanja Variabel Per unit (Variable Cost)
Nilai X dan Y adalah nilai-nilai yang diperoleh dari nilai Kebijakan
Umum APBD (KUA) dan Prioritas dan Plafon Anggaran (PPA). Yang perlu
ditaksir adalah koefisien a dan b.
Taksiran terbaik untuk koefisien a dan b adalah dengan menggunakan
metode kuadrat terkecil , yaitu :
b =

XY - n XY
X - nX
2

.......................................................................

di mana :
X
X=
n
commit to user

(3.2)

perpustakaan.uns.ac.id

digilib.uns.ac.id
56

Y=

n
Dimana :

X = Jumlah Cost Driver

a = Y - bX

Y = Total anggaran

n = jumlah data

................................................................................

(3.3)

Dimana koefisien a merupakan belanja tetap, dan koefisien b


merupakan koefisien untuk belanja variabel. Jadi rumus untuk belanja ratarata adalah :
= a + bX

..................................................................... (3.4)

Dimana :
= Belanja rata-rata
X = Cost Driver rata-rata
a = Belanja Tetap Total (Fixed Cost)
b = Belanja Variabel Per unit (Variable Cost)
2. Batas Minimum dan Maksimum Belanja
Sebelum menghitung batas minimum dan maksimum belanja, terlebih
dahulu melihat reliabilitas dari persamaan garis yang ditaksir, dengan
menggunakan kekeliruan baku taksiran (standar deviasi). Rumus yang
digunakan adalah :

Se =

(Y - Y )
n-2

.......................................................................

Bentuk (Y- ) 2 disebut pula sebagai jumlah kuadrat kekeliruan.


commit to user

(3.5)

perpustakaan.uns.ac.id

digilib.uns.ac.id
57

Jika prediksi terhadap berdasarkan sebuah nilai X yang ditetapkan


telah dibuat, maka kita dapat menentukan interval taksiran untuk Y ini dengan
menggunakan kekeliruan baku taksiran yang dikemukakan di atas.
Dengan demikian batas bawah (belanja minimum) untuk taksiran
dapat dihitung dengan :

- tp. se

................................................................................

(3.6)

Sedangkan batas atas (belanja maksimum) taksiran Y adalah :

+ tp. se

................................................................................

(3.7)

di mana t diperoleh dari tabel t dengan derajat bebas n 2


3. Prosentase Alokasi Belanja
a. Prosentase Alokasi Belanja Rata-rata
Menghitung prosentase alokasi belanja rata-rata kepada masing-masing
objek belanja (aktivitas) dilakukan dengan cara membagi total belanja
masing-masing objek dengan total belanja suatu kegiatan, lalu dikalikan
dengan 100%
Total belanja masing-masing objek
% Belanja Rata-rata =

x 100%

.........

(3.8)

Total belanja

b. Prosentase Alokasi Belanja Minimum


Menghitung prosentase alokasi belanja minimum kepada masing-masing
objek belanja dilakukan dengan cara mencari terlebih dahulu selisih
prosentase

belanja

rata-rata

dengan

commit to user

belanja

minimum,

hasilnya

perpustakaan.uns.ac.id

digilib.uns.ac.id
58

dialokasikan kepada masing-masing objek belanja, lalu besarnya


prosentase alokasi belanja minimum adalah =
% belanja rata-rata - % alokasi selisih masing-masing objek belanja

.............

(3.9)

c. Prosentase Alokasi Belanja Maksimum


Menghitung prosentase alokasi belanja maksimum kepada masingmasing objek belanja dilakukan dengan cara mencari terlebih dahulu
selisih prosentase belanja rata-rata dengan belanja maksimum, hasilnya
dialokasikan kepada masing-masing objek belanja, lalu besarnya
prosentase alokasi belanja maksimum adalah =
% belanja rata-rata + % alokasi selisih masing-masing objek belanja

............

(3.10)

4. Kewajaran Anggaran
Untuk menentukan klasifikasi kewajaran belanja dilakukan dengan cara
membandingkan anggaran yang ada pada masing-masing kegiatan forum
komunikasi atau koordinasi Bappeda Kabupaten Ngawi dengan batas
belanja minimum dan maksimum. Jika anggaran berada di bawah batas
belanja minimum maka termasuk kategori underfinance dan sebaliknya
jika anggaran berada di atas batas belanja maksimum maka masuk
kategori Overfinance, serta jika anggaran berada diantara batas belanja
minimum dan maksimum berarti anggaran dikategorikan wajar.
.......

(3.11)

Anggaran kegiatan > Batas maksimal belanja = Overfinance

.......

(3.12)

Batas minimal > Anggaran kegiatan < Batas Maksimal = wajar

.......

(3.13)

Anggaran kegiatan < Batas minimal belanja = Underfinance

commit to user

perpustakaan.uns.ac.id

digilib.uns.ac.id
59

commit to user

perpustakaan.uns.ac.id

digilib.uns.ac.id

BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN
A. Kondisi Umum Kabupaten Ngawi
1. Kondisi Geografis
Kabupaten Ngawi terletak di wilayah barat Provinsi Jawa Timur
yang berbatasan langsung dengan Provinsi Jawa Tengah. Luas wilayah
Kabupaten Ngawi adalah 1.298,58 km2, di mana sekitar 39 persen atau
sekitar 504,8 km2 berupa lahan sawah. Sesuai dengan Peraturan Daerah
(Perda) Kabupaten Ngawi tahun 2004, secara administrasi wilayah ini
terbagi ke dalam 19 kecamatan dan 217 desa, dimana 4 dari 217 desa
tersebut adalah kelurahan.
Secara geografis Kabupaten Ngawi terletak pada posisi 7o 21
7o 31 Lintang Selatan dan 110o 10 111o 40 Bujur Timur. Topografi
wilayah ini adalah berupa dataran tinggi dan tanah datar. Tercatat 4
kecamatan terletak pada dataran tinggi yaitu Sine, Ngrambe, Jogorogo
dan Kendal yang terletak di kaki Gunung Lawu.
Batas wilayah Kabupaten Ngawi adalah sebagai berikut:
-

Sebelah Utara

: Kabupaten Grobogan, Kabupaten Blora (Provinsi


Jawa Tengah) dan Kabupaten Bojonegoro.

Sebelah Timur : Kabupaten Madiun.

Sebelah Selatan : Kabupaten Madiun dan Kabupaten Magetan.

Sebelah Barat

: Kabupaten Karanganyar dan Kabupaten Sragen


commit to user
(Provinsi Jawa Tengah).

59

perpustakaan.uns.ac.id

digilib.uns.ac.id
60

Gambar 4.1 Peta Kabupaten Ngawi


Sumber : Arsip Badan Perencanaan Pembangunan Daerah Kabupaten
Ngawi
Topografi Kabupaten Ngawi adalah berupa dataran tinggi dan
tanah datar. 4 kecamatan dari 19 kecamatan terletak pada dataran tinggi
yaitu Sine, Ngrambe, Jogorogo dan Kendal yang terletak di kaki Gunung
Lawu.
Kabupaten Ngawi termasuk daerah yang beriklim tropis, dan
hanya mengenal dua musim yaitu, musim kemarau dan musim
penghujan. Dari 21 lokasi penakar hujan yang masih berfungsi di
Kabupaten Ngawi (3 lokasi lainnya rusak) dapat diketahui bahwa ratarata curah hujan di kabupaten ini. Pada tahun 2010, Kabupaten Ngawi
sepanjang tahun diguyur hujan. Curah hujan tertinggi terjadi pada bulan
Januari hingga Mei. Curah hujan berkisar pada 21,00-28,00 mm. Ratarata hari hujan tiap bulannya 15-16 hari. Curah hujan terendah terjadi
commit to user
pada bulan Juni hingga Agustus. Curah hujan berkisar 12,00-15,00 mm.

perpustakaan.uns.ac.id

digilib.uns.ac.id
61

Rata-rata hari hujan tiap bulan hanya 2-7 hari. Secara umum dalam 5
tahun terakhir (2006, 2007, 2008, 2009, 2010) rata-rata curah hujan
tertinggi adalah pada bulan Desember, Januari dan Februari dan yang
terendah adalah pada bulan Juli, Agustus dan September.

Gambar 4.2 : Gambar Rata-rata Curah Hujan Tiap Bulan


Sumber
: Ngawi Dalam Angka 2011
Dari total luas wilayah Kabupaten Ngawi, luas lahan sawah dan
bukan lahan sawah selama 5 tahun terakhir relatif tidak berubah hingga
tahun 2010 sebesar 50.476 Ha (71,39%) dan bukan lahan sawah sebesar
20.231 Ha (28,61%).
Dari luas lahan sawah tersebut menurut jenis pengairannya tahun
2010 terdiri dari sawah teknis 37.923 Ha (75,13%), setengah teknis 5.774
Ha (11,44%), sederhana 2.496 Ha (4,94%), tadah hujan 3.787 Ha (7,5%),
lainnya 496 Ha (0,98%).
Sedangkan
commit
to user lahan bukan sawah menurut

perpustakaan.uns.ac.id

digilib.uns.ac.id
62

penggunaannya pada tahun 2010 terdiri dari tegal/ kebon 13.903 Ha


(68,72%), ladang/huma 269 Ha (1,32%), Perkebunan 2.284 Ha (11,29%),
hutan rakyat 1.990 Ha (9,82%), kolam/tebat/empang 25 Ha (0,12%),
penggembala/padang rumput 6 Ha (0,029%), sementara/tidak diusahakan
4 Ha (0,019%), lainnya 1.750 Ha (8,65%).

Gambar 4.3 Prosentase Luas Lahan Sawah Menurut Jenis Pengairannya


Sumber : Kabupaten Ngawi Dalam Angka 2011

Gambar

4.4

Prosentase Luas Lahan Bukan


Penggunaannya
Sumber : Kabupaten Ngawi Dalam Angka 2011

Sawah

Menurut

2. Pemerintahan Daerah
Kabupaten Ngawi terbagi dalam 19 Kecamatan dan 217 Desa atau
Kelurahan. Kecamatan Karangjati merupakan Kecamatan dengan
jumlah Desa atau Kelurahan terbanyak yaitu berjumlah 17 Desa atau
commit to user

perpustakaan.uns.ac.id

digilib.uns.ac.id
63

Kelurahan. Pemerintahan Daerah Kabupaten Ngawi memiliki 64 Kantor


atau Instansi atau Bagian yang tersebar dilingkungan Pemerintah
Kabupaten Ngawi, Kecamatan dan Desa atau Kelurahan. Menurut data
pada tahun 2011 menyebutkan jumlah sumber daya manusia aparatur
Pegawai Negeri Sipil di Kabupaten Ngawi tahun 2010 adalah 14.363
orang, naik 3,88 persen dibanding dengan tahun 2009. Kualifikasi
pendidikan Pegawai Negeri Sipil Pemerintah Kabupaten Ngawi pada
tahun 2010 sebagai berikut

Gambar 4.5 Jumlah Pegawai Negeri Sipil di Lingkungan Pemkab


Menurut Tingkat Pendidikan Tahun 2010
Sumber : Kabupaten Ngawi Dalam Angka 2011
SLTP atau kurang sejumlah 8% atau 1.137 orang, SLTA sejumlah
36% atau 5.090 orang, Sarjana Muda sejumlah 23% atau 3.350 orang,
Sarjana sejumlah 32% atau 4.587 orang, dan untuk Pasca Sarjana
jumlahnya paling sedikit yaitu 1% atau 199 orang.
commit to user

perpustakaan.uns.ac.id

digilib.uns.ac.id
64

Berdasarkan golongan kepangkatannya pada tahun 2010, pegawai


yang termasuk golongan IV sejumlah 3.600

orang, golongan III

sejumlah 5.696 orang, golongan II sejumlah 4.335 orang dan golongan I


sejumlah 732 orang.

Gambar 4.6 Jumlah Pegawai Negeri Sipil di Lingkungan Pemkab


Menurut Golongan Kepangkatan tahun 2010
Sumber : Kabupaten Ngawi Dalam Angka 2011
Anggota Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kabupaten
Ngawi pada tahun 2010 sejumlah 45 orang yang berasal dari 11 partai
politik. Jumlah anggota DPRD laki-laki sebesar 36 orang sedangkan
untuk anggota DPRD perempuan berjumlah 9 orang.

Gambar 4.7 Jumlah Anggota DPRD Kabupaten Ngawi Berdasarkan


Jenis Kelamin tahun 2010
commit
to user
Sumber : Kabupaten Ngawi
Dalam
Angka 2011

perpustakaan.uns.ac.id

digilib.uns.ac.id
65

Anggota DPRD Kabupaten Ngawi pada tahun 2010 terbanyak


dari Partai Demokrasi Indonesia (PDI) dan Golongan Karya (Golkar)
sebanyak 8 orang. Tingkat pendidikan anggota DPRD Kabupaten Ngawi
tahun 2010 terbanyak yaitu

tingkat SLTA sebanyak 21 orang dan

tingkat Sarjana Strata 1 sebanyak 19 orang.

Gambar 4.8 Jumlah Anggota DPRD Kabupaten Ngawi Berdasarkan


Tingkat Pendidikan tahun 2010
Sumber : Kabupaten Ngawi Dalam Angka 2011

3. Demografi (Kependudukan)
Data dari Badan Keluarga Berencana, Kependudukan dan
Catatan Sipil Kabupaten Ngawi (dalam Kabupaten Ngawi dalam Angka
2011) pada akhir tahun 2010 tercatat sebanyak 894.675 jiwa yang terdiri
dari 439.536 laki-laki dan 455.139 perempuan dengan sex rasio sebesar
96 artinya bahwa setiap 100 penduduk wanita terdapat sekitar 96
penduduk laki-laki.
Dibandingkan dengan tahun 2009 jumlah penduduk Kabupaten
Ngawi setiap tahun terus bertambah sebesar 2.624 jiwa atau meningkat
commit to user

perpustakaan.uns.ac.id

digilib.uns.ac.id
66

sebesar 0,29%. prosentase kenaikannya pun terus meningkat; dari 0,34%


pada tahun 2007, naik 0,78% pada tahun 2008. Namun pada tahun 2009
prosentase kenaikannya menurun menjadi 0,31%. Nampaknya mulai
tahun 2009 pemerintah dan masyarakat Kabupaten Ngawi ada upaya
untuk menekan laju pertumbuhan penduduk setelah disadari adanya
peningkatan selama 2 tahun ber-turut-turut yang salah satunya melalui
program Keluarga Berencana.
Tabel. 4.1.
No.

Penduduk Kabupaten Ngawi menurut Hasil Sensus


Penduduk
2006

2007

2008

2009

2010

Penduduk

879.193

882.221

889.224

892.051

894.675

a.

Laki-laki

429.921

431.354

437.808

438.223

439.536

b.

Perempuan

449.272

450.867

451.416

453.828

455.139

Komposisi Penduduk L:P (%)

48:52

48:52

49:51

49:51

49:51

Sex Ratio

95,69

95,67

96,99

96,99

96,57

Prosentase Kenaikan (%)

0,34

0,78

0,31

0,29

Kepadatan Penduduk
(jiwa/km2)

681

686

688

690

Uraian

678

Sumber : Badan Keluarga Berencana, Kependudukan dan Catatan Sipil


Kab. Ngawi (Kabupaten Ngawi Dalam Angka 2011)
Dengan melihat Tabel 4.1 di atas diketahui bahwa komposisi
penduduk antara laki-laki dan perempuan di Kabupaten Ngawi adalah
49:51. Rasio jenis kelamin (sex ratio) sejak tahun 2006 sampai dengan
tahun 2010 berkisar antara 95,69 hingga 96,57 (di bawah 100) yang
berarti jumlah perempuan lebih banyak daripada laki-laki. Dengan fakta
ini maka dalam pelaksanaan kegiatan yang ada di Kabupaten Ngawi
prinsip kesetaraan gender menjadi sangat penting demi keadilan dan
pemerataan kesempatan dalam membangun dan mengaktualisasikan diri
commit to user
setiap warga negara. Namun bila ditinjau per kecamatan, ternyata ada 2

perpustakaan.uns.ac.id

digilib.uns.ac.id
67

kecamatan yang sex rationya di atas 100 yaitu, Kecamatan Kasreman


dan Karanganyar.
Tabel 4.2. Penduduk Akhir Tahun 2010 Menurut Jenis Kelamin
No.

Kecamatan

1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12
13
14
15
16
17
18
19

Sine
Ngrambe
Jogorogo
Kendal
Geneng
Gerih
Kwadungan
Pangkur
Karangjati
Bringin
Padas
Kasreman
Ngawi
Paron
Kedunggalar
Pitu
Widodaren
Mantingan
Karanganyar
JUMLAH

Laki2
(jiwa)
22.953
21.308
20.106
24.552
27.810
18.196
14.200
14.202
23.257
15.922
17.031
12.147
42.038
44.075
36.804
14.089
35.008
19.841
15.997
439.536

Perempuan
(jiwa)
25.980
21.540
21.150
26.509
28.213
19.294
14.543
14.624
24.850
16.419
17.136
12.145
42.498
45.328
37.062
14.195
35.742
22.002
15.909
455.139

Jumlah
(jiwa)
48.933
42.848
41.256
51.061
56.023
37.490
28.743
28.826
48.107
32.341
34.167
24.292
84.536
89.403
73.866
28.284
70.750
41.843
31.906
894.675

Sex Ratio
88,35
98,92
95,06
92,62
98,57
94,31
97,64
97,11
93,59
96,97
99.39
100,02
98,92
97,24
99,30
99,25
97,95
90,18
100,55
96.57

Sumber : Badan Keluarga Berencana, Kependudukan dan Catatan Sipil


Kab. Ngawi (Kabupaten Ngawi Dalam Angka 2011)
4. Pendidikan
Sumber daya manusia adalah salah satu faktor penentu
keberhasilan pembangunan. Komitmen Pemerintah Kabupaten Ngawi
dalam upaya meningkatkan sumber daya manusia ini tercermin dari
perkembangan sekolah (negeri dan swasta), murid/ mahasiswa dan guru/
dosen dari Taman Kanak-Kanak
commit to (TK)/
user Raudhatul Athfal (RA) hingga

perpustakaan.uns.ac.id

digilib.uns.ac.id
68

Perguruan Tinggi (PT) di kabupaten ini pada 5 tahun terakhir (2006


2010) yang terus meningkat.
Adapun

perbandingan

jumlah

murid

menurut

tingkat

pendidikannya di kabupaten ini dari tahun 2006 sampai dengan 2010


dapat dilihat pada gambar 4.9 di bawah ini.

Gambar 4.9 Perkembangan Jumlah Murid di Kabupaten Ngawi


Sumber : Kabupaten Ngawi Dalam Angka 2011

Data dari Kabupaten Ngawi dalam angka tahun 2011 untuk


tahun 2010 jumlah Taman Kanak-kanak (TK) sebanyak 550 lembaga
dengan jumlah murid 14.081 siswa, dengan rasio murid-sekolah 25.
Jumlah Sekolah Dasar (SD) dan sederajat ada 664 lembaga, mempunyai
murid 79.219 siswa dengan rasio murid-sekolah 119. Jumlah murid
Sekolah Menengah Pertama (SMP) dan sederajat sebanyak 38.837
siswa, yang tersebar di 111 sekolah dengan rasio murid-sekolah 349.
Jumlah murid Sekolah Menengah Umum (SMU)/Sekolah Menengah
commit to user

perpustakaan.uns.ac.id

digilib.uns.ac.id
69

Kejuruan 24.971 siswa yang tersebar di 68 sekolah, dengan rasio muridsekolah 367.
Dari data perkembangan jumlah murid menarik untuk diketahui
adalah seberapa besar rasio antara jumlah penduduk Kabupaten Ngawi
yang menempuh jenjang pendidikan (formal) dengan jumlah penduduk
secara keseluruhan. Perubahan nilai rasio bisa disebabkan oleh beberapa
kemungkinan, yaitu: laju pertumbuhan angkatan penduduk prasekolah
atau balita, atau banyaknya angka penduduk putus sekolah atau lulus
sekolah tetapi tidak melanjutkan ke jenjang yang lebih tinggi. Semakin
besar nilai rasio menunjukkan dua kemungkinan, yang pertama adalah
semakin berkurangnya angka putus sekolah, sementara itu laju
pertumbuhan angkatan penduduk prasekolah dapat ditekan atau karena
jumlah penduduk yang baru mulai sekolah lebih besar daripada jumlah
penduduk yang putus sekolah dan atau yang selesai/ lulus sekolah.
Sebaliknya, jika nilai rasio semakin kecil mungkin disebabkan semakin
banyak angka putus sekolah, sementara itu laju pertumbuhan angkatan
penduduk prasekolah meningkat.
5. Mata Pencaharian
Sumber pendapatan penduduk Kabupaten Ngawi berasal dari
berbagai sektor lapangan usaha, meliputi bidang pertanian, perkebunan,
peter-nakan, kehutanan, perikanan, pertambangan dan penggalian,
industri pengolahan, listrik, gas dan air bersih, bangunan, perdagangan
eceran, rumah tangga, perhotelan, rumah makan, pengangkutan,
commit to user

perpustakaan.uns.ac.id

digilib.uns.ac.id
70

penimbunan, perhubungan, keuangan, asuransi, usaha persewaan


bangunan, jasa penunjang informasi dan komunikasi, jasa-jasa
kemasyarakatan, sosial dan perseorangan (rumah tangga), pemerintahan
umum, hiburan dan kebudayaan.
Sektor industri di Kabupaten Ngawi berjalan lambat namun
terus meningkat. Jumlah industri kecil/kerajinan rumah tangga naik dari
15.346 pada tahun 2009 menjadi 15.643 pada tahun 2010. Nilai
produksi dari usaha di atas juga meningkat dari 109.962 milyar rupiah
pada tahun 2009 menjadi 121.824 milyar rupiah pada tahun 2010.
Sektor industri kecil/kerajinan rumah tangga menyerap tenaga
kerja 39.281 pada tahun 2010 meningkat 1,35 persen disbanding tahun
2009. Industri barang dari kayu dan sejenisnya sebagai sub sector yang
paling banyak menyerap tenaga kerja yaitu sebesar 20.419 pekerja.
Tabel 4.3 Jumlah Tenaga Kerja Industri Kecil/Kerajinan Rumah
Tangga Menurut Subsektor Industri
No.
1.
2.

3.
4.
5.
6.
7.
8.
9.

Sektor Usaha
Industri Makanan, Minuman dan
Tembakau
Tekstil, Pakaian Jadi dan Barang dari
Kulit

2007

2008

2009

2010

4.929

5.004

5.019

5.042

680

680

680

680

20.259

20.279

20.419

78

78

78

52

52

57

8.453

8.453

8.468

722

722

722

3.164
38.412

3.465
38.748

3.815
39.281

Industri Barang dari Kayu dan


20.259
sejenisnya
Industri Kertas dan Barang cetakan
78
Industri Kimia dan Barang dari
52
Karet/Plasti
Industri Semen dan Barang Galian
8.453
bukan Logam
Logam Dasar Besi dan Baja
722
Industri Barang dari Logam, Mesin
dan alat angkut
Industri Pengolahan lainnya
commit to user 2.764
Jumlah Total
37.937

perpustakaan.uns.ac.id

digilib.uns.ac.id
71

Sumber : Kabupaten Ngawi Dalam Angka Tahun 2011


Dari 894.675 orang penduduk Kabupaten Ngawi pada tahun
2010, jumlah penduduk yang masuk dalam Angkatan Kerja atau dari
kelompok umur produktif (20-60 tahun) adalah sebesar 456.678. Angka
ini lebih besar daripada jumlah Angkatan Kerja pada tahun 2009 yaitu
sebesar 455.957 orang.
Dari penduduk Angkatan Kerja sebanyak 456.678 orang pada
tahun 2010 ini, yang tertampung dalam suatu bidang pekerjaan atau
yang produktif adalah 428.761 orang (93,8%). Jumlah penduduk
produktif tahun ini meningkat daripada tahun sebelumnya hal ini
menunjukkan adanya pengurangan angka pengangguran meskipun
jumlah angkatan kerja terus bertambah. Dan hal ini merupakan iklim
yang baik bagi kehidupan sosial-ekonomi di kabupaten ini.

Gambar 4.10 Perkembangan Tenaga Kerja Kabupaten Ngawi


Sumber : Kabupaten Ngawi
Dalam
Angka 2011
commit
to user

perpustakaan.uns.ac.id

digilib.uns.ac.id
72

6. Struktur Usia Penduduk


Struktur Usia penduduk Kabupaten Ngawi pada tahun 2010 dan
2011 secara umum cenderung meningkat prosentasenya pada usia 1
sampai 40 tahun dan cenderung menurun prosentasenya pada usia di
atas 40 tahun. Hal ini menunjukkan Kabupaten Ngawi termasuk
kategori Angkatan Penduduk Muda. Dengan adanya fakta bahwa
penduduk di kabupaten ini lebih banyak pada usia produktif maka,
kegiatan ekonomi dan pembangunan di kabupaten ini diharapkan dapat
bergerak lebih dinamis, dengan ditunjang adanya program-program
pembangunan yang ada di kabupaten ini.

2009

2010

Gambar 4.11 Penduduk Menurut Kelompok Umur


Sumber : Kabupaten Ngawi Dalam Angka 2010, 2011
7. Pendapatan Per Kapita Daerah
Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) adalah alat untuk
mengukur laju perekonomian suatu daerah sebagai indikator tingkat
commit to user

perpustakaan.uns.ac.id

digilib.uns.ac.id
73

keberhasilan pembangunan daerah tersebut dengan menghitung semua


jenis produk barang dan jasa yang dihasilkan oleh daerah tersebut dalam
kurun waktu tertentu (biasanya 1 tahun). PDRB juga dapat sebagai alat
ukur tingkat kesejahteraan masyarakat secara umum. PDRB per kapita
merupakan nilai rata-rata dari pembagian antara PDRB dengan jumlah
penduduk pada pertengahan tahun. Perkembangan PDRB dari tahun ke
tahun berdasarkan harga konstan merupakan indikator pertumbuhan
ekonomi suatu daerah.
Angka PDBRB Ngawi atas dasar harga berlaku tahun 2009
mencapai 6.444 milyar rupiah naik sekitar 11,69% dari tahun 2008 yang
mencapai 5.770 milyar rupiah. Sedangkan PDRB atas dasar harga
konstan (2000) mencapai 2.942 milyar, naik sekitar 5,65% dari tahun
sebelumnya yang mencapai 2.785 milyar rupiah.
Sampai dengan tahun 2009 perekonomian Kabupaten Ngawi
masih didominasi sektor pertanian. Sumbangan sektor ini terhadap total
PDRB sampai dengan 2009 sekitar 36,91%. Tidaklah aneh bila sektor
ini menjadi sektor unggulan bagi Kabupaten Ngawi. Namun demikian
sumbangan sektor ini dari tahun ke tahun terus menunjukkan penurunan
walaupun sebenarnya secara produksi mengalami pertumbuhan. Sektor
lainnya yang memberi sumbangan cukup besar terhadap perekonomian
Kabupaten Ngawi adalah sektor perdagangan. Dalam kurun waktu 5
tahun terakhir sumbangan sektor ini selalu di atas 25 persen dari total
PDRB yaitu sebesar 28,05%.
commit to user

perpustakaan.uns.ac.id

digilib.uns.ac.id
74

Gambar 4.12 Distribusi Prosentase PDRB atas Dasar Harga Berlaku


Sumber : Kabupaten Ngawi Dalam Angka Tahun 2011
Tabel 4.4 PDRB menurut Lapangan Usaha (2005-2009) (milyar
rupiah)
No

Lapangan
Usaha

Pertanian

Pertambangan
dan Penggalian

Industri
Pengolahan

Listrik, gas dan


air bersih

Bangunan

Perdagangan,
Hotel dan
Restoran

Angkutan dan
Komunikasi

Keuangan,
Persewaan dan
Jasa Perusahan

Jasa-jasa

Jumlah

Harga

2005

2006

2007

2008*)

2009**)

Berlaku

1.422.944,9

1.629.981,8

1.843.370,5

2.129.128,28

2.378.578,04

Konstan

905.474,59

941.025,88

985.007,46

1.039.356,65

1.092.374,15

Berlaku

20.444,39

23.924,26

27.821,13

31.159,67

34.743,03

Konstan

13.864,37

14.403,57

15.442,31

16.286,80

16.983,88

Berlaku

243.982,92

275.496,96

306.568,98

354.275,13

399.597,31

Konstan

149.370,19

155.405,22

162.859,61

173.860,51

184.792,71

Berlaku

27.322,24

31.946,84

36.199,99

44.111,18

53.443,97

Konstan

13.032,72

13.730,36

14.673,00

16.013,48

17.819,46

Berlaku

172.033,04

202.821,88

243.130,70

276.908,89

304.976,38

Konstan

104.902,34

110.420,20

116.758,32

120.634,70

127.066,94

Berlaku

1.049.123,88

1.241.254,87

1.412.591,98

1.610.680,64

1.807.677,16

Konstan

651.328,99

697.427,05

745,925,20

793.681,83

848.170,35

Berlaku

146.204,02

181.477,29

205.072,67

233.711,75

259.515,53

Konstan

82.364,00

87.412,59

92.497,17

98.137,08

104,975,22

Berlaku

188.861,99

218.291,53

243.939,08

273.336,32

302.413,64

Konstan

129.690,39

137.199,62

142.016,95

148.281,52

154.159,75

Berlaku

150.671,16

170.865,69

189.248,26

211.831,58

236.984,91

Konstan

98.804,34

103.749,61

109.328,00

116.516,30

124.737,33

Berlaku

3.831.351,83

3.831.351,83

5.031.428,99

5.770.273,06

6.444.782,83

Konstan

2.385.681,99

2.510.075,52

2.639.717,89

2.785.335,43

2.942.602,51

Catatan: *) Angka Diperbaiki


**) Angka Sementara

Sumber: BPS Kab. commit


Ngawi (Kabupaten
Ngawi dalam Angka 2011)
to user

perpustakaan.uns.ac.id

digilib.uns.ac.id
75

Menurut perhitungan atas dasar harga berlaku, pendapatan


regional per kapita penduduk Kabupaten Ngawi tahun 2009 sebesar Rp.
7.033.529,80 meningkat sekitar 11,07% dari tahun 2008 yang hanya
mencapai Rp. 6.332.350,61. Dapat diartikan penghasilan penduduk
Ngawi tahun 2009 sebesar Rp. 586.127,48. Sedangkan pendapatan
regional per kapita atas dasar harga konstan (2000) mencapai Rp.
3.211.416,58 meningkat sekitar 5,06% dari tahun 2008 yang mencapai
Rp. 3.056.652,66.
Kenaikan ini merupakan gambaran dari laju pertumbuhan
ekonomi kabupaten.

Laju pertumbuhan ekonomi Kabupaten Ngawi

sebagai berikut: dari 5,1% pada tahun 2007, naik menjadi 5,50% pada
tahun 2008, dan 5,60% pada tahun 2009.

Gambar 4.13 Laju Pertumbuhan Ekonomi Kabupaten Ngawi


Sumber : Kabupaten Ngawi
Dalam
Angka 2011
commit
to user

perpustakaan.uns.ac.id

digilib.uns.ac.id
76

B. Badan Perencanaan Pembangunan Daerah Kabupaten Ngawi


1. Kondisi Umum Bappeda Kabupaten Ngawi
Visi dan Misi Badan Perencanaan Pembangunan Kabupaten
Ngawi sebagaimana dituangkan dalam Rencana Strategis (RENSTRA)
Tahun 2006-2010 sebagai berikut :
Visi :
Terwujudnya institusi perencanaan pembangunan yang akuntabel,
partisipatif dan strategis
Misi :
a. Meningkatkan

partisipasi

masyarakat

dalam

perencanaan

pembangunan
b. Menjalankan sistem perencanaan sesuai peraturan perundangundangan yang berlaku.
c. Meningkatkan kualitas sumber daya perencana
d. Melaksanakan tugas pokok dan fungsi instirusi secara optimal.
Bappeda Kabupaten Ngawi yang terbentuk berdasarkan
Peraturan Daerah Kabupaten Ngawi Nomor 9 Tahun 2008 tentang
Organisasi

dan

Tata

Kerja

Inspektorat,

Badan

Perencanaan

Pembangunan Daerah dan Lembaga Teknis Daerah, juncto Peraturan


Bupati Ngawi Nomor 26 Tahun 2008 tentang Tugas, Fungsi dan
Kewenangan Badan Perencanaan Pembangunan Daerah.
Kedudukan, tugas dan fungsi Bappeda Kabupaten Ngawi
diuraikan sebagai berikut :
commit to user

perpustakaan.uns.ac.id

digilib.uns.ac.id
77

Kedudukan Bappeda Kabupaten Ngawi adalah sebagai unsur


perencana penyelenggaraan pemerintahan daerah yang dipimpin oleh
seorang Kepala yang berkedudukan di bawah dan bertanggungjawab
kepada Bupati melalui Sekretaris Daerah. Sedangkan tugas dari
Bappeda Kabupaten Ngawi adalah melaksanakan penyusunan dan
pelaksanaan kebijakan daerah di bidang perencanaan pembangunan
daerah.
Adapun fungsi dari Bappeda Kabupaten Ngawi adalah
perumusan kebijakan teknis daerah yang meliputi :
a. Pengkoordinasian penyusunan perencanaan pembangunan
b. Pembinaan dan pelaksanaan tugas di bidang perencanaan
c. Pelaksanaan tugas lain yang diberikan oleh Bupati sesuai dengan
tugas dan fungsinya.
2. Struktur Organisasi Bappeda Kabupaten Ngawi
Susunan organisasi Bappeda terdiri dari :
a. Kepala
b. Sekretariat
c. Bidang Ekonomi
d. Bidang Pemerintahan dan Kemasyarakatan
e. Bidang Prasarana Wilayah
f. Bidang Pengendalian dan Evaluasi
g. Kelompok Jabatan Fungsional
commit to user

perpustakaan.uns.ac.id

digilib.uns.ac.id
78

Untuk lebih jelasnya struktur organisasi badan perencanaan


pembangunan daerah kabupaten ngawi dapat dilihat pada gambar di
bawah ini :

Gambar 4.14 Struktur Organisasi Bappeda Kabupaten Ngawi


Sumber : Arsip Bappeda Kabupaten Ngawi
Sekretariat dipimpin oleh seorang sekretaris, sedangkan bidang
dipimpin oleh Kepala Bidang yang dalam melaksanakan tugasnya
bertanggungjawab langsung kepada Kepala Badan Perencanaan
Pembangunan Daerah. Uraian tugas dari masing-masing struktur adalah
sebagai berikut :
a. Sekretaris, mempunyai tugas melaksanakan urusan perencanaan,
keuangan dan umum serta tugas-tugas lain yang diberikan oleh
kepala Badan sesuai dengan bidang tugasnya.
b. Bidang ekonomi mempunyai tugas melaksanakan sebagian tugas
Badan Perencanaan Pembangungan Daerah di bidang pertanian,
industri dan pariwisata, perdagangan, koperasi, pengusaha kecil dan
commit to user

perpustakaan.uns.ac.id

digilib.uns.ac.id
79

menengah dan pengembangan dunia usaha serta tugas-tugas lain


yang diberikan oleh Kepala Badan sesuai dengan bidang tugasnya.
c. Bidang pemerintahan dan Kemasyarakatan mempunyai tugas
melaksanakan sebagian tugas Badan Perencanaan Pembangungan
Daerah di bidang pemerintahan dan aparatur, kesejahteraan rakyat,
pendidikan,

kesehatan,

kebudayaan,

mental

spiritual,

kependudukan dan tenaga kerja serta tugas- tugas lain yang


diberikan oleh Kepala Badan sesuai dengan bidang tugasnya.
d. Bidang prasarana wilayan mempunyai tugas melaksanakan
sebagian tugas Badan Perencanaan Pembangungan Daerah di
bidang

prasarana

sumber

daya

air,

perhubungan

dan

telekomunikasi, tata ruang dan pengembangan wilayah, sumber


daya alam, lingkungan hidup, pertambangan dan energi serta tugastugas lain yang diberikan oleh Kepala Badan sesuai dengan bidang
tugasnya.
e. Bidang pengendalian dan evaluasi mempunyai tugas melaksanakan
sebagian tugas Badan Perencanaan Pembangungan Daerah di
bidang pengendalian dan evaluasi pembangunan bidang ekonomi,
pemerintahan, kemasyarakatan serta prasarana wilayah serta tugastugas lain yang diberikan oleh Kepala Badan sesuai dengan bidang
tugasnya.

commit to user

perpustakaan.uns.ac.id

digilib.uns.ac.id
80

3. Renstra dan Prioritas Program Renstra Bappeda


Menurut Undang-Undang Nomor 25 Tahun 2004 tentang Sistem
Perencanaan

Pembangunan

Nasional

dokumen

Perencanaan

Pembangunan Daerah yang harus disusun oleh Bappeda Kabupaten


Ngawi adalah:
a. Rencana Pembangunan Jangka Panjang Daerah (RPJPD) yang
memiliki jangka waktu perencanaan 20 tahun dan ditetapkan
dengan Perda.
b. Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) yang
memiliki jangka waktu perencanan 5 tahun dan ditetapkan dengan
Perda.
c. Rencana Pembangunan Tahunan Daerah atau Rencana Kerja
Pemerintah Daerah (RKPD), yang memiliki jangka waktu
perencanaan 1 tahun dan ditetapkan dengan Peraturan Bupati.
Berkaitan dengan dokumen perencanaan pembangunan daerah
tersebut di atas, disusun dokumen perencanaan pembangunan sebagai
berikut :
a. Rencana Strategis Satuan Kerja Perangkat Daerah (Renstra SKPD)
yang memiliki jangka waktu perencanaan 5 tahun sebagai
penjabaran dari RPJMD.
b. Rencana Kerja Satuan Kerja Perangkat Daerah (Renja SKPD) yang
memiliki jangka waktu perencanaan 1 tahun sebagai penjabaran
dari Renstra SKPD dan RKPD.
commit to user

perpustakaan.uns.ac.id

digilib.uns.ac.id
81

C. Analisis Data dan Pembahasan


Data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data perencanaan
anggaran berdasarkan kebijakan umum APBD (KUA) dan Prioritas dan
Plafon Anggaran (PPA) tahun 2010, dan data Daftar Pelaksanaan Anggaran
(DPA) pada masing-masing kegiatan di Badan Perencanaan Pembangunan
Daerah

(Bappeda)

Kabupaten

Ngawi.

Adapun

pengolahan

data

menggunakan Analisis Standar Belanja (ASB) dengan metode regresi linier


sederhana.
1. Belanja Rata-rata
Untuk menghitung belanja rata-rata terlebih dahulu di hitung
belanja total melalui model regresi sederhana. Dalam pelaksanaan
kegiatan forum komunikasi atau koordinasi pada Badan Perencanaan
Pembangunan Daerah (Bappeda) tahun anggaran 2010 untuk masingmasing kelompok Analisis Standar Belanja (ASB) diperoleh dengan
menggunakan data berdasarkan Kebijakan Umum APBD (KUA) dan
Prioritas dan Plafon Anggaran (PPA) tahun 2010 adalah berikut:
Tabel 4.5 Anggaran KUA-PPA
No

Program

Kerjasama Pembangunan

Perencanaan Pembangunan
Ekonomi
Perencanaan Sosial Budaya

Perencanaan Prasarana Wilayah


dan Sumber Daya Alam

Perencanaan Penanggulangan
Kemiskinan

Kegiatan
Koordinasi Kerjasama
Pembangunan antar Wilayah
Koordinasi Perencanaan
Pembangunan Bidang Ekonomi
Koordinasi Perencanaan
Pembangunan Bidang Sosial
Budaya
Koordinasi Perencanaan
Pembangunan Bidang Prasarana
Wilayah
Koordinasi Penanganan
Kemiskinan

Sumber : Arsip Bappeda commit


Kabupaten
Ngawi
to user

Anggaran
(Rupiah)
70,000,000
50,000,000
50,000,000

40,000,000

140,000,000

perpustakaan.uns.ac.id

digilib.uns.ac.id
82

Adapun perincian objek belanja berdasarkan kegiatan yang


dilakukan pada masing-masing kegiatan adalah sebagai berikut :
Tabel 4.6 Perincian Anggaran Program Kerjasama Pembangunan
antar Wilayah Tahun 2010
No

Objek Anggaran Belanja

1
2
3
4
5

Hr. PNS
Hr. Non PNS
Uang Lembur PNS
Belanja ATK
Blj. Perangko, Materai dan Benda Pos
Lainnya
Belanja Penggandaan
Belanja Sewa
Belanja Makanan dan Minuman Rapat
Belanja Perjalanan Dinas Dalam Daerah
Belanja Perjalanan Dinas Luar Daerah

6
7
8
9
10
11

Belanja Modal
JUMLAH
Sumber : Arsip Bappeda Kabupaten Ngawi

Anggaran
(Rupiah)
13,500,000.00
600,000.00
3,616,000.00
1,264,850.00
900,000.00
1,971,650.00
10,125,000.00
3,832,500.00
34,190,000.00
70,000,000.00

Tabel 4.7 Perincian Anggaran Program Perencanaan Pembangunan


Ekonomi Tahun 2010
Anggaran
No
Objek Anggaran Belanja
(Rupiah)
1 Hr. PNS
3,150,000.00
2 Uang Lembur PNS
676,000.00
3 Belanja ATK
1,677,500.00
4 Blj. Perangko, Materai dan Benda Pos
900,000.00
5 Belanja Penggandaan
5,671,500.00
6 Belanja Sewa
1,650,000.00
7 Belanja Makanan dan Minuman Rapat
22,860,000.00
8 Belanja Perjalanan Dinas Dalam Daerah
4,015,000.00
9 Belanja Perjalanan Dinas Luar Daerah
9,400,000.00
50,000,000.00
JUMLAH
Sumber : Arsip Bappeda Kabupaten Ngawi
commit to user

perpustakaan.uns.ac.id

digilib.uns.ac.id
83

Tabel 4.8 Perincian Anggaran


Budaya Tahun 2010
No

Program

Objek Anggaran Belanja

1
2
3
4
5
6
7
8

Hr. PNS
Uang Lembur PNS
Belanja ATK
Blj. Perangko, Materai dan Benda Pos
Belanja Penggandaan
Belanja Makanan dan Minuman Rapat
Belanja Perjalanan Dinas Dalam Daerah
Belanja Perjalanan Dinas Luar Daerah
JUMLAH
Sumber : Arsip Bappeda Kabupaten Ngawi

Perencanaan

Sosial

Anggaran
(Rupiah)
8,100,000.00
3,616,000.00
417,600.00
660,000.00
1,451,400.00
9,375,000.00
5,780,000.00
20,600,000.00
50,000,000.00

Tabel 4.9 Perincian Anggaran Program Perencanaan Pembangunan


Bidang Prasarana Wilayah Tahun 2010
No

Objek Anggaran Belanja

1
2
3
4
5
6
7
8
9

Hr. PNS
Uang Lembur PNS
Belanja ATK
Blj. Perangko, Materai dan Benda Pos
Belanja Penggandaan
Belanja Makanan dan Minuman Rapat
Belanja Perjalanan Dinas Dalam Daerah
Belanja Perjalanan Dinas Luar Daerah
Belanja Modal
JUMLAH
Sumber : Arsip Bappeda Kabupaten Ngawi

commit to user

Anggaran
(Rupiah)
5,800,000
9,324,000
2,163,500
450,000
900,000
2,812,500
3,800,000
4,750,000
10,000,000
40,000,000

perpustakaan.uns.ac.id

digilib.uns.ac.id
84

Tabel 4.10 Perincian Anggaran Program Perencanaan Pembangunan


Bidang Prasarana Wilayah Tahun 2010
Anggaran
No
Objek Anggaran Belanja
(Rupiah)
1 Hr. PNS
65,050,000
2 Uang Lembur PNS
4,068,000
3 Belanja ATK
1,624,100
4 Blj. Perangko, Materai dan Benda Pos
870,000
5 Belanja Penggandaan
4,970,400
6 Belanja Makanan dan Minuman Rapat
13,612,500
7 Belanja Perjalanan Dinas Dalam Daerah
11,430,000
8 Belanja Perjalanan Dinas Luar Daerah
38,375,000
140,000,000
JUMLAH
Sumber : Arsip Bappeda Kabupaten Ngawi
Dari data sekunder objek belanja masing-masing DPA-SKPD
Bappeda Kabupaten Ngawi dapat dikelompokan dalam satu Kelompok
ASB forum komunikasi atau koordinasi sebagai berikut :
Tabel 4.11 Perincian Anggaran Kelompok ASB forum komunikasi
atau koordinasi Bappeda Tahun 2010
No

Objek
Anggaran
Belanja

Hr. PNS

Hr. Non PNS

Uang Lembur
PNS

4
5

6
7
8

Koordinasi
Kerjasama
Pembangunan
antar Wilayah

Koordinasi
Perencanaan
Pembangunan
Bidang Ekonomi

13,500,000.00
600,000

3,150,000.00
-

Koordinasi
Perencanaan
Pembangunan
Bidang
Prasarana
Wilayah

Koordinasi
Perencanaan
Pembangunan
Bidang Sosial
Budaya

8,100,000.00

5,800,000

Koordinasi
Penanganan
Kemiskinan

65,050,000

Jumlah

95,600,000.00
600,000.00

3,616,000.00

676,000.00

3,616,000.00

9,324,000

4,068,000

21,300,000.00

Belanja ATK
Blj.
Perangko,
Materai dan
Benda Pos
Lainnya
Belanja
Penggandaan

1,264,850.00

1,677,500.00

417,600.00

2,163,500

1,624,100

7,147,550.00

900,000.00

900,000.00

660,000.00

450,000

870,000

3,780,000.00

1,971,650.00

5,671,500.00

1,451,400.00

900,000

4,970,400

14,964,950.00

Belanja Sewa
Belanja
Makanan dan
Minuman
Rapat
Belanja
Perjalanan
Dinas Dalam
Daerah

1,650,000.00

10,125,000.00

22,860,000.00

9,375,000.00

2,812,500

13,612,500

58,785,000.00

3,832,500.00

4,015,000.00

5,780,000.00

3,800,000

11,430,000

28,857,500.00

commit to user

1,650,000.00

perpustakaan.uns.ac.id

digilib.uns.ac.id
85

Lanjutan Tabel 4.11


10

11

Belanja
Perjalanan
Dinas Luar
Daerah
Belanja
Modal

JUMLAH

34,190,000.00

9,400,000.00

20,600,000.00

4,750,000

38,375,000

10,000,000

70,000,000.00

50,000,000.00

50,000,000.00

40,000,000

10,000,000.00

140,000,000

Sumber : Arsip Bappeda Kabupaten Ngawi


Pengolahan data dengan analisis standar belanja (ASB)
dilakukan dengan menentukan terlebih dahulu output dan cost drivernya.
Pada penelitian ini yang yang menjadi output dari kegiatan koordinasi
adalah Orang Kali (OK), sedangkan yang menjadi cost driver dari
kegiatan koordinasi adalah jumlah peserta dan frekwensi koordinasi,
seperti yang dijelaskan pada tabel 4.12 berikut ini :
Tabel. 4.12 Cost Driver dan Output kegiatan Koordinasi Badan
Perencanaan Pembangunan Daerah Tahun 2010
No
1
2
3
4
5

Kegiatan

Anggaran

Koordinasi Kerjasama
Pembangunan antar Wilayah
Koordinasi Perencanaan
Pembangunan Bidang Ekonomi
Koordinasi Perencanaan
Pembangunan Bidang Sosial
Budaya
Koordinasi Perencanaan
Pembangunan Bidang
Prasarana Wilayah
Koordinasi Penanganan
Kemiskinan
JUMLAH

Cost Driver
Jumlah
Frekuensi
Peserta
Koordinasi

Output
OK

70,000,000

30

10

300

50,000,000

20

11

220

50,000,000

15

12

180

40,000,000

15

10

150

140,000,000

40

16

640

350,000,000

120

59

1,490

Catatan. (OK) : Orang Kali


Analisis Standar Belanja (ASB) pada penelitian ini menggunakan
metode regresi linier sederhana. Untuk membuat persamaan regresi linier
commit to user

107.315.000,00

350.000.000,00

perpustakaan.uns.ac.id

digilib.uns.ac.id
86

sederhana maka digunakan perhitungan seperti pada tabel 4.13 berikut


ini:
Tabel. 4.13 Pehitungan persamaan regresi sederhana (Model ASB)
No
1
2
3
4
5

Anggaran (Y)
70,000,000
50,000,000
50,000,000
40,000,000
140,000,000

Output (X)
300
220
180
150
640

Jumlah

350,000,000

1,490

XY
X2
21,000,000,000 90,000
11,000,000,000 48,400
9,000,000,000 32,400
6,000,000,000 22,500
89,600,000,000 409,600
136,600,000,000

602,900

Sumber : Data diolah


X=

Y=

1490
= 298
5

350.000.000
= 70.000.000
5

Kemudian ditentukan nilai a dan b sebagai berikut :


b =

b=

XY - n XY
X - nX
2

350.000.000 - 5 (298 x 70.000.000)


602.900 - 5 (88.804)

32.300.000.000
= 203.298,09
158.880

a = Y - b X = 70.000.000 - 203.298,09 ( 298) = 9.417.170,19

Sehingga persamaan regresi yang diperoleh adalah sebagai berikut :


Y = 9.417.170,19 + 203.298,09 X
Atau dengan kata lain, Belanja total kegiatan frum komunikasi
atau koordinasi pada badan perencanaan pembangunan Kabupaten
Ngawi adalah :
commit to user

perpustakaan.uns.ac.id

digilib.uns.ac.id
87

Belanja Total =

9.417.170,19 + 203.298,09 x

(jumlah peserta) x

(frekuensi koordinasi)
Dari persamaan regresi lnear tersebut, besarnya belanja rata-rata untuk
ASB forum komunikasi atau koordinasi dapat dihitung sebagai berikut :
Y = 9.417.170,19 + 203.298,09X
= 9.417.170,19 + 203.298,09 x (298)
= 70.000.000
2. Penghitungan Nilai Minimum dan Maksimum Belanja
Untuk mengetahui pelaksanaan pengangaran keuangan daerah
yang dilakukan oleh Badan Perencanaan Pembangunan Daerah
Kabupaten Ngawi masih dalam taraf wajar atau tidak, maka perlu
ditentukan nilai minimum dan maksimum total anggaran. Adapun untuk
batas minimum dan maksimum total anggaran, terlebih dahulu dicari
nilai kekeliruan baku tafsiran dengan menggunakan rumus sebagai
berikut :
Se =

(Y - Y)

n-2

Untuk mempermudah perhitungan mencari nilai kekeliruan baku


tafsiran tersebut digunakan perhitungan seperti pada tabel 4.14 sebagai
berikut :

commit to user

perpustakaan.uns.ac.id

digilib.uns.ac.id
88

Tabel. 4.14 Perhitungan Kekeliruan Baku Tafsiran


No

300

70,000,000

Y = 9.417.170,19
+ 203.298,09X
70,406,596

220

50,000,000

180

4
5

e=Y-Y

(Y-Y)2

406,596

165,320,448,071

54,142,749

4,142,749

17,162,371,304,570

50,000,000

46,010,826

(3,989,174)

15,913,510,953,817

150

40,000,000

39,911,883

(88,117)

7,764,573,566

640

140,000,000

139,527,946

(472,054)

222,835,338,305

JUMLAH

33,471,802,618,328

Sumber : Data diolah model ASB


Dari tabel di atas, maka diperoleh :
Se =

33.471.802.618.328
= 3.340.249,62
5-2
Setelah diperoleh kekeliruan baku taksiran, selanjutnya dapat

dihitung besarnya belanja minimum dan belanja maksimum dengan


menggunakan model ASB sebagai berikut
- t .S
Belanja miminum = Y
p e

Berdasarkan tabel t, maka diperoleh nilai tp = 3,182.


Belanja minimum

= 70.000.000 - (3,182)( 3.340.249,62)


= 70.000.000 - 10.628.674,30
= 59.371.325,70

Belanja maksimum

+ t .S
Y
p e

= 70.000.000 + (3,182)( 3.340.249,62)


= 70.000.000 + 10.628.674,30
= 80.628.674,30

commit to user

perpustakaan.uns.ac.id

digilib.uns.ac.id
89

3. Penghitungan Prosentase Alokasi Belanja


Setelah belanja rata-rata, belanja minimum dan belanja
maksimum dihitung, lalu dihitung prosentase alokasi belanja kepada
masing-masing objek belanja (aktivitas) pada satu kelompok ASB, baik
alokasi belanja rata-rata, alokasi belanja minimum dan alokasi belanja
maksimum.
Menghitung alokasi belanja rata-rata kepada masing-masing
objek belanja dapat dilakukan dengan cara membagi total belanja
masing-masing objek dengan total anggaran kegiatan lalu dikalikan
100%, sehingga didapatkan hasil seperti pada tabel sebagai berikut :
Tabel 4.15 Prosentase Alokasi Belanja Rata-rata
Objek Belanja

Perhitungan Alokasi

Hr. PNS

95.600.000/350.000.000 X 100%

27,31%

Hr. Non PNS

600.000/350.000.000 X 100%

0,17%

Uang Lembur PNS

21.300.000/350.000.000 X 100%

6,09%

Belanja ATK
Blj. Perangko, Materai dan Benda Pos
Lainnya
Belanja Penggandaan

7.147.550/350.000.000 X 100%

2,04%

3.780.000/350.000.000 X 100%

1,08%

14.964.950/350.000.000 X 100%

4,28%

Belanja Sewa

1.650.000/350.000.000 X 100%

0,47%

Belanja Makanan dan Minuman Rapat


Belanja Perjalanan Dinas Dalam
Daerah

58.785.000/350.000.000 X 100%

16,80%

28.857.500/350.000.000 X 100%

8,25%

Belanja Perjalanan Dinas Luar Daerah


Belanja Dokumentasi

107.315.000/350.000.000 X
100%
10.000.000/350.000.000 X 100%

30,66%
2,86%

Sumber : Data diolah ASB


Menghitung prosentase alokasi belanja minimum kepada masingmasing objek belanja dilakukan dengan cara : mencari terlebih dahulu
selisih prosentase belanja rata-rata dengan belanja minimum, hasilnya
commit to user

perpustakaan.uns.ac.id

digilib.uns.ac.id
90

dialokasikan kepada masing-masing objek belanja, lalu besarnya


prosentase alokasi belanja minumum adalah = % belanja rata-rata - %
alokasi selisih masing-masing objek belanja, sebagai berikut :
Selisih Prosentase =
=

(70.000.000 - 59.371.325,70) = 10.628.674,30


10.628.674,30/70.000.000 *100% = 15,18%

Tabel 4.16 Prosentase Alokasi Belanja Minimum


Selisih % Alokasi
Belanja Minimum
4,15%
0,03%

% Alokasi Belanja
minimum
23,17%
0,15%

0,92%
0,31%

5,16%
1,73%

0,16%

0,92%

0,65%
0,07%

3,63%
0,40%

2,55%

14,25%

Belanja Perjalanan Dinas


Dalam Daerah
Belanja Perjalanan Dinas
Luar Daerah

1,25%

6,99%

4,65%

26,01%

Belanja Dokumentasi
Sumber : Data diolah ASB

0,43%

2,42%

Objek Belanja
Hr. PNS
Hr. Non PNS
Uang Lembur PNS
Belanja ATK
Blj. Perangko, Materai
dan Benda Pos Lainnya
Belanja Penggandaan
Belanja Sewa
Belanja Makanan dan
Minuman Rapat

Menghitung prosentase alokasi belanja maksimum dilakukan


dengan cara mencari terlebih dahulu selisih prosentase belanja rata-rata
dengan belanja maksimum, hasilnya dialokasikan kepada masing-masing
objek belanja, lalu besarnya prosentase alokasi belanja maksimum =
% belanja rata-rata + % alokasi selisih masing-masing objek belanja,
sebagai berikut :

commit to user

perpustakaan.uns.ac.id

digilib.uns.ac.id
91

Selisih Prosentase =
=

(80.628.674,30 70.000.000) = 10.628.674,30


10.628.674,30/70.000.000 *100% = 15,18%

Tabel 4.17 Prosentase Alokasi Belanja Maksimum


Objek Belanja
Hr. PNS
Hr. Non PNS
Uang Lembur PNS
Belanja ATK
Blj. Perangko, Materai
dan Benda Pos Lainnya
Belanja Penggandaan
Belanja Sewa
Belanja Makanan dan
Minuman Rapat
Belanja Perjalanan
Dinas Dalam Daerah
Belanja Perjalanan
Dinas Luar Daerah
Belanja Dokumentasi
Sumber : Data diolah ASB

Selisih % Alokasi
Belanja Maksimum
4,15%
0,03%
0,92%
0,31%

% Alokasi Belanja
Maksimum
31,46%
0,20%
7,01%
2,35%

0,16%
0,65%
0,07%

1,24%
4,92%
0,54%

2,55%

19,35%

1,25%

9,50%

4,65%
0,43%

35,32%
3,29%

Forum komunikasi atau koordinasi merupakan kegiatan untuk


menyelenggarakan komunikasi atau koordinasi dengan lembaga atau
instansi lain yang terkait dengan maksud dan tujuan tertentu. Hasil dari
kegiatan ini berupa kesepakatan dan pemahaman tentang masalah yang
ingin dipecahkan dan tercapainya tujuan yang diharapkan.
Satuan pengendali biaya (cost driver) adalah jumlah peserta
lembaga yang dicakup dalam forum komunikasi atau koordinasi serta
frekuensi koordinasi. Berdasarkan hasil perhitungan dengan Analisis
Standar Belanja maka dapat dirangkum anggaran belanja untuk masingmasing kegiatan adalah seperti pada tabel berikut ini :
commit to user

perpustakaan.uns.ac.id

digilib.uns.ac.id
92

Tabel 4.18 Prosentase Batas Belanja

No

Objek Belanja

1
2
3
4
5

Hr. PNS
Hr. Non PNS
Uang Lembur PNS
Belanja ATK
Blj. Perangko, Materai
dan Benda Pos Lainnya
6 Belanja Penggandaan
7 Belanja Sewa
8 Belanja Makanan dan
Minuman Rapat
9 Belanja Perjalanan
Dinas Dalam Daerah
10 Belanja Perjalanan
Dinas Luar Daerah
11 Belanja Dokumentasi
JUMLAH
Sumber : Data diolah ASB

27,31%
0,17%
6,09%
2,04%

Batas
Belanja
Minimum
23,17%
0,15%
5,16%
1,73%

Batas
Belanja
Maksimum
31,46%
0,20%
7,01%
2,35%

1,08%

0,92%

1,24%

4,28%
0,47%

3,63%
0,40%

4,92%
0,54%

16,80%

14,25%

8,25%

6,99%

30,66%

26,01%

35,32%

2,86%
100,00%

2,42%
84,83%

3,29%
115,18%

Rata-rata

19,35%
9,50%

4. Klasifikasi Kewajaran Belanja Dalam Suatu Kegiatan Dengan


Menggunakan Model ASB
Untuk menggambarkan lebih lanjut penggunaan model Analisis
Standar Belanja (ASB) yang telah dibuat dalam mengevaluasi kewajaran
nilai belanja suatu kegiatan. Berikut ini dihitung besarnya belanja
berdasarkan model Analisis Standar Belanja (ASB), baik secara rata-rata,
mnimum, maupun maksimum dari ASB kegiatan Forum Komunikasi
atau Koordinasi yang ada pada Bappeda Kabupaten Ngawi tahun
anggaran 2010 sebagai berikut :
Belanja rata-rata = 70.000.000,00
Belanja Minimum = 59.371.325,70
commit to user
Belanja Maksimum = 80.628.674,30

perpustakaan.uns.ac.id

digilib.uns.ac.id
93

Tabel 4.19 Tabel Klasifikasi Kewajaran Belanja

Kegiatan

Anggaran
(Rupiah)

Koordinasi
Kerjasama
70,000,000
Pembangunan
antar Wilayah
Koordinasi
Perencanaan
Pembangunan 50,000,000
Bidang
Ekonomi
Koordinasi
Perencanaan
Pembangunan 50,000,000
Bidang Sosial
Budaya
Koordinasi
Perencanaan
Pembangunan
40,000,000
Bidang
Prasarana
Wilayah
Koordinasi
Penanganan
140,000,000
Kemiskinan

Batas
Minimum
Belanja
Berdasarkan
ASB
(Rupiah)

Batas
Minimum
Belanja
Berdasarkan
ASB
(Rupiah)

59,371,325,70 80.628.674,30

Keterangan

Wajar

59,371,325,70 80.628.674,30 Underfinance

59.371.325,70 80.628.674,30 Underfinance

59.371.325,70 80.628.674,30 Underfinance

59.371.325,70 80.628.674,30

Overfinance

Sumber : Arsip Bappeda Ngawi.


Berdasarkan tabel 4.19 di atas, dapat diketahui hanya ada satu
kegiatan koordinasi di Badan Perencanaan Pembangunan Daerah
Kabupaten Ngawi yang nilai pelaksanaan penganggaran keuangannya
wajar yaitu Koordinasi Kerjasama Pembangunan antar Wilayah.
Selebihnya terdapat tiga kegiatan koordinasi yang pelaksanaan
penganggaran keuangannya underfinance karena berada di bawah nilai
minimum Analisis Standar Belanja (ASB), yaitu Koordinasi Perencanaan
commit toKoordinasi
user
Pembangunan Bidang Ekonomi,
Perencanaan Pembangunan

perpustakaan.uns.ac.id

digilib.uns.ac.id
94

Bidang Sosial Budaya, dan Koordinasi Perencanaan Pembangunan


Bidang Prasarana Wilayah karena nilainya dibawah belanja minimum
yaitu sebesar Rp. 59.371.325,70. Kegiatan yang overfinance adalah
Koordinasi Penanganan Kemiskinan, karena nilainya lebih dari belanja
maksimum yaitu sebesar Rp. 80.628.674,30.
D. Pembahasan
1. Belanja Rata-rata
Pendekatan menggunakan analisis regresi dengan membuat model
belanja anggaran merupakan pendekatan yang cukup praktis, analisis
regresi merupakan alat analisis yang dapat dipertanggungjawabkan
secara matematis dan biasa digunakan untuk peramalan, karena tujuan
menggunakan

analisis

regresi

dalam

penyusunan

ASB

adalah

menentukan kewajaran dari nilai belanja dibandingkan dengan beban


kerja dari suatu kegiatan.
Banyak yang mengkhawatirkan, model ASB yang diubat dari
anggaran kegiatan yang kewajaran belanjanya masih dipertanyakan,
apakah akan menghasilkan model ASB yang wajar? Hal ini dapat
dihilangkan dengan cara mengeliminasi kegiatan-kegiaran yang anggaran
belanjanya tidak wajar, dalam arti tidak diikut sertakan dalam analisis
regresi, sehingga tidak merusak model ASB yang dibuat.
Belanja total merupakan penjumlahan dari belanja tetap dan
belanja variabel pada suatu target kinerja tertentu. Belanja rata-rata
adalah belanja total dengan memperhitungkan target kinerja. Belanja
commit to user

perpustakaan.uns.ac.id

digilib.uns.ac.id
95

rata-rata dapat dihitung dengan mencari terlebih dahulu belanja total


melalui persamaan model regresi sederhana dalam pelaksanaan kegiatan
forum

komunikasi

atau

koordinasi

pada

Badan

Perencanaan

Pembangunan Daerah (Bappeda) tahun anggaran 2010 untuk masingmasing kelompok Analisis Standar Belanja (ASB) adalah sebagai berikut
Y = 9.417.170,19 + 203.298,09 X
Atau dengan kata lain, belanja total ASB kegiatan koordinasi
pada badan perencanaan pembangunan Kabupaten Ngawi adalah :
Belanja total =

9.417.170,19 + 203.298,09 x

(jumlah peserta) x

(frekuensi koordinasi)
Dari persamaan belanja total melalui regresi linier tersebut
kemudian dapat digunakan untuk mencari belanja rata-rata untuk forum
komunikasi atau koordinasi Bappeda Kabupaten Ngawi sebagai berikut:
Belanja rata-rata = 9.417.170,19 + 203.298,09X
Dimana cost driver (X) yang digunakan dalam belanja rata-rata adalah
cost driver rata-rata dari ASB forum komunikasi atau koordinasi. Dari
persamaan belanja rata-rata tersebut menunjukan belanja rata-rata untuk
ASB forum komunikasi atau koordinasi yaitu sebesar 70.000.000,00.
Besarnya belanja rata-rata ini karena adanya target kinerja rata-rata (cost
driver) rata-rata yaitu sebesar 298 orang kali.
2. Nilai Minimum dan Maksimum Belanja
Berdasarkan hasil analisis data didapatkan nilai minimum dan
maksimum belanja kegiatan
komunikasi atau koordinasi pada
commitforum
to user

perpustakaan.uns.ac.id

digilib.uns.ac.id
96

Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) tahun anggaran


2010 dari model regresi untuk masing-masing kelompok Analisis
Standar Belanja (ASB) adalah sebagai berikut :
Belanja minimum

= Rp. 59.371.325,70

Belanja maksimum

= Rp. 80.628.674,30

Dengan menggunakan acuan standar belanja minimum dan


maksimum hasil dari Analisis Standar Belanja (ASB) ini diharapkan
akan memberi masukan tentang tingkat kewajaran dari anggaran yang
diajukan SKPD, dan dapat dijadikan acuan untuk penentuan realisasi
anggaran keuangan. Kegiatan koordinasi di Bappeda Kabupaten Ngawi
pada tahun 2010 kurang maksimal pelaksanaannya, karena terbatasnya
anggaran yang disetujui dan dapat diserap oleh Bappeda.
3. Prosentase Alokasi Belanja
Berdasarkan tabel 4.18 dari hasil perhitungan Analisis Standar
Belanja (ASB) untuk kegiatan forum komunikasi dan koordinasi pada
Bappeda Kabupaten Ngawi menunjukkan bahwa prosentase belanja ratarata terbesar alokasi belanja sebesar 30,66%, untuk prosentase alokasi
belanja minimum terbesar 26,01%, sedangkan untuk prosentase alokasi
batas belanja maksimum tertinggi sebesar 35,32%, dari ketiga prosentase
alokasi belanja tersebut ketiganya terletak pada Belanja Perjalanan Dinas
Luar Daerah. Prosentase terendah pada kelompok ASB kegiatan forum
komunikasi atau koordinasi ini untuk alokasi belanja rata-rata yaitu
sebesar 0,17%, belanja minimum 0,15%, untuk belanja maksimum
commit to user

perpustakaan.uns.ac.id

digilib.uns.ac.id
97

sebesar 0,20%, semuanya terletak pada objek belanja Honorarium Non


PNS. Hal ini terjadi disebabkan karena tidak semua kelompok kegiatan
di dalam ASB forum komunikasi atau koordinasi ada honorarium non
PNS nya (nara sumber atau tenaga ahli). Dari 5 (lima) kegiatan hanya
ada 1 (satu) kegiatan ada honorarium PNS nya yaitu pada kegiatan
Koordinasi Kerjasama Pembangunan Antar Wilayah, hal tersebut yang
membuat prosentase alokasi pada objek honorarium non PNS rendah.
4. Klasifikasi Kewajaran Belanja Dalam Suatu Kegiatan Dengan
Menggunakan Model ASB
untuk mengetahui tingkat kewajaran dari nilai anggaran keuangan
pada kegiatan koordinasi di Badan Perencanaan Pembangungan
Kabupaten Ngawi,

dapat diketahui 40% pelaksanaan anggaran

keuangannya dalam kondisi underfinance, 20% wajar dan 40% lagi


overfinance. Kondisi ini kurang baik, karena kurangnya anggaran bisa
berdampak pada hasil koordinasi yang dilakukan menjadi tidak
maksimal. Hal ini terjadi karena pada tahun 2010 terjadi efisiensi
anggaran yang sangat signifikan, sehingga anggaran yang diajukan
SKPD banyak dipangkas. Pada kegiatan yang overfinance berarti terjadi
pemborosan anggaran keuangan untuk itu perlu dikaji penyebab
terjadinya kelebihan anggaran. Kegiatan yang overfinance adalah
koordinasi penanganan kemiskinan. Untuk itu dalam penetapan anggaran
keuangan selanjutnya dapat digunakan metode regresi model ASB ini
sebagai acuannya.

commit to user

perpustakaan.uns.ac.id

digilib.uns.ac.id
98

Penyusunan ASB untuk setiap kegiatan sebenarnya dapat


dilakukan dengan cara menghitung ulang besarnya beban kerja dan
biaya dari setiap kegiatan berdasarkan outputnya, sehingga bila ada
kegiatan yang sama antar SKPD dengan output yang sama dan cost
driver yang sama pula, seharusnya anggaran kegiatan yang memiliki
kesamaan tersebut harus sama besar (unsur keadilan). Namun hal hal ini
akan memerlukan waktu yang sangat lama.
Berdasarkan tabel 4.19 di atas, dapat diketahui hanya ada satu
kegiatan koordinasi di Badan Perencanaan Pembangunan Daerah
Kabupaten Ngawi yang nilai pelaksanaan penganggaran keuangannya
wajar yaitu Koordinasi Kerjasama Pembangunan antar Wilayah.
Selebihnya terdapat tiga kegiatan koordinasi yang pelaksanaan
penganggaran keuangannya underfinance karena berada di bawah nilai
belanja minimum Analisis Standar Belanja (ASB), yaitu Koordinasi
Perencanaan Pembangunan Bidang Ekonomi, Koordinasi Perencanaan
Pembangunan Bidang Sosial Budaya, dan Koordinasi Perencanaan
Pembangunan Bidang Prasarana Wilayah.

commit to user

perpustakaan.uns.ac.id

digilib.uns.ac.id

BAB V
PENUTUP

A. Kesimpulan
Berdasarkan hasil analisis data dan pembahasan yang dilakukan pada
bab sebelumnya, maka dapat disimpulkan hasil evaluasi penganggaran
keuangan daerah dengan Analisis Standar Belanja (ASB) pada Satuan Kerja
Perangkat Daerah (SKPD) Badan Perencanaan Pembangunan Daerah
(Bappeda) Kabupaten Ngawi tahun 2010 sebagai berikut :
1. Dalam kegiatan forum komunikasi atau koordinasi pada Bappeda
Kabupaten Ngawi tahun anggaran 2010, terdapat lima kegiatan yaitu
Koordinasi

Kerjasama

Pembangunan

Antar

Wilayah,

Koordinasi

Perencanaan Pembangunan Bidang Ekonomi, Koordinasi Perencanaan


Pembangunan Bidang Pembangunan Bidang Sosial Budaya, Koordinasi
Perencanaan Pembangunan Bidang Prasarana Wilayah, Koordinasi
Penanganan Kemiskinan. Berdasarkan Analisis Standar Belanja (ASB)
dari kelima kegiatan tersebut didapatkan besarnya belanja rata-rata yaitu
sebesar Rp. 70.000.000,00 dengan target kinerja rata-rata (cost driver ratarata) 298 orang kali. Dimana cost driver untuk kegiatan forum komunikasi
atau koordinasi adalah hasil perkalian dari jumlah peserta dan jumlah
frekuensi koordinasi.
2. Berdasarkan perhitungan Analisis Standar Belanja (ASB) umtuk kegiatan
forum komunikasi atau koordinasi Bappeda Kabupaten Ngawi tahun
commit to user
99

perpustakaan.uns.ac.id

digilib.uns.ac.id
100

anggaran 2010 didapatkan besarnya nilai minimum dan maksimum belanja


dari model regresi sederhana sebagai berikut:
Belanja minimum sebesar Rp. 59.371.325,70
Belanja maksimum sebesar Rp. 80.628.674,30
3. Berdasarkan perhitungan prosentase alokasi kepada masing-masing objek
belanja (aktivitas) pada kelompok Analisis Standar Belanja (ASB) forum
komunikasi atau koordinasi didapatkan prosentase batas minimum total
belanja sebesar 84,83% (dari anggaran total) dimana prosentase tertinggi
terdapat pada belanja perjalanan dinas luar daerah sebesar 26,01% dan
prosentase terendah terdapat objek belanja Honorarium non PNS sebesar
0,15%, sedangkan untuk prosentase alokasi belanja maksimum total
sebesar 115,18% (dari anggaran total) dimana untuk prosentase tertinggi
terletak pada objek belanja perjalanan dinas luar daerah 35,32% dan
terendah pada objek belanja Honorarium non PNS 0,20%.
4. Berdasarkan penilaian beban kewajaran dengan Analisis Standar Belanja
(ASB) dapat diketahui hanya ada satu kegiatan koordinasi di Badan
Perencanaan Pembangunan Daerah Kabupaten Ngawi yang nilai
pelaksanaan

penganggaran

keuangannya

wajar

yaitu

Koordinasi

Kerjasama Pembangunan antar Wilayah. Selebihnya terdapat tiga kegiatan


koordinasi yang pelaksanaan penganggaran keuangannya underfinance
atau mengalami kekurangan pembiayaan karena berada di bawah belanja
minimum Analisis Standar Belanja (ASB), yaitu Koordinasi Perencanaan
Pembangunan Bidang Ekonomi, Koordinasi Perencanaan Pembangunan
commit to user

perpustakaan.uns.ac.id

digilib.uns.ac.id
101

Bidang Sosial Budaya, dan Koordinasi Perencanaan Pembangunan Bidang


Prasarana. Kegiatan yang overfinance atau kelebihan penganggaran adalah
Koordinasi Penanganan Kemiskinan.
B. Saran
Saran-saran yang bisa disampaikan kepada Pemerintah Daerah
Kabupaten Ngawi sebagai berikut :
1.

Setiap program kegiatan pada masing-masing Satuan Kerja Perangkat


Daerah (SKPD) dapat disusun Analisis Standar Belanja (ASB). Hal ini
diperlukan untuk menghindari agar tidak terjadi overfinancing dan
underfinancing dalam penganggaran belanja, sehingga setiap rupiah yang
dibelanjakan betul-betul rasional dan proporsional dan pada akhirnya
dapat mendorong terciptanya anggaran daerah yang semakin efisien dan
efektif.

2.

Hasil-hasil dari perhitungan Analisis Standar Belanja (ASB) ini


menunjukkan bahwa selama tahun anggaran 2010 ternyata kegiatan
Koordinasi Penanganan Kemiskinan mengalami overfinancing. Salah satu
kemungkinan adanya overfinancing adalah karena identifikasi belanjabelanja yang harus dikeluarkan belum optimal. Oleh karena itu, dimasa
mendatang diharapkan bahwa untuk kegiatan forum komunikasi atau
koordinasi pada Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda)
Kabupaten Ngawi lebih mengoptimalkan kembali perhitungan belanjabelanja yang secara langsung terlibat dalam perhitungan standar belanja.
commit to user

perpustakaan.uns.ac.id

digilib.uns.ac.id
102

3.

Karena

terjadinya

kelebihan

anggaran,

maka

seharusnya

dapat

dimanfaatkan oleh Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda)


Kabupaten Ngawi untuk memperbanyak program kegiatan yang
bermanfaat

bagi

masyarakat.

Kelebihan

anggaran

dapat

juga

dimanfaatkan oleh Bappeda Kabupaten Ngawi untuk lebih memperluas


perencanaan pembangunan daerah dengan membuat dokumen-dokumen
perencanaan yang mendukung visi dari Bappeda Kabupaten Ngawi yaitu
Terwujudnya institusi perencanaan yang akuntabel, partisipatif dan
stategis

commit to user