Anda di halaman 1dari 123

EVALUASI PENGANGGARAN KEUANGAN DAERAH DENGAN ANALISIS STANDAR BELANJA (ASB) TAHUN ANGGARAN 2010

(Studi Kasus : Badan Perencanaan Pembangunan Daerah Kabupaten Ngawi)

TESIS

Badan Perencanaan Pembangunan Daerah Kabupaten Ngawi) TESIS Untuk Memenuhi Sebagian Persyaratan Mencapai Derajat
Badan Perencanaan Pembangunan Daerah Kabupaten Ngawi) TESIS Untuk Memenuhi Sebagian Persyaratan Mencapai Derajat

Untuk Memenuhi Sebagian Persyaratan Mencapai Derajat Magister

Program Studi Magister Ekonomi dan Studi Pembangunan Perencanaan Wilayah dan Keuangan Daerah

Oleh :

RAHADIYAN PRASANA PUTRA

S4209076

FAKULTAS EKONOMI UNIVERSITAS SEBELAS MARET PROGRAM PASCASARJANA MAGISTER EKONOMI DAN STUDI PEMBANGUNAN SURAKARTA

2012

EVALUASI PENGANGGARAN KEUANGAN DAERAH DENGAN ANALISIS STANDAR BELANJA (ASB) TAHUN ANGGARAN 2010

(Studi Kasus : Badan Perencanaan Pembangunan Daerah Kabupaten Ngawi)

Disusun oleh :

RAHADIYAH PRASANA PUTRA S4209076 Telah disetujui oleh Pembimbing Pembimbing II
RAHADIYAH PRASANA PUTRA
S4209076
Telah disetujui oleh Pembimbing
Pembimbing II

Pembimbing I

Dr. Evi Gravitiani, SE, M.Si NIP.19730605 200912 2 001

Drs. Mulyanto, ME NIP.19680623 199302 1 001

Ketua Program Studi Megister Ekonomi dan Studi Pembangunan

Dr. AM. SUSILO, M.Sc NIP. 19590328 198803 1 001

ii

EVALUASI PENGANGGARAN KEUANGAN DAERAH DENGAN ANALISIS STANDAR BELANJA (ASB) TAHUN ANGGARAN 2010

(Studi Kasus : Badan Perencanaan Pembangunan Daerah Kabupaten Ngawi)

Disusun oleh :

RAHADIYAH PRASANA PUTRA S4209076 Telah disetujui oleh Tim Penguji Pada tanggal : Nama Dr. Yunastiti
RAHADIYAH PRASANA PUTRA
S4209076
Telah disetujui oleh Tim Penguji
Pada tanggal :
Nama
Dr. Yunastiti Purwaningsih, MP
Dr. Evi Gravitiani, SE, M.Si

Jabatan

Tanda Tangan

Ketua Tim Penguji

Pembimbing Utama

Pembimbing Pendamping

Drs. Mulyanto, ME

Mengetahui Direktur PPs UNS

Ketua Program Studi Magister Ekonomi dan Studi Pembangunan

Prof. Dr. Ir. Ahmad Yunus, M.S NIP. 19610717 198601 1 001

Dr. AM. Susilo, M.Sc NIP. 19590328 198803 1 001

iii

HALAMAN PERYATAAN

Yang bertandatangan di bawah ini :

Nama

: RAHADIYAN PRASANA PUTRA

NIM

Program Studi

: S4209076

Ngawi, April 2012 Tertanda,
Ngawi,
April 2012
Tertanda,

: Magister Ekonomi dan Studi Pembangunan

Konsentrasi

: Perencanaan Wilayah dan Keuangan Daerah

Menyatakan bahwa tesis ini adalah hasil karya sendiri dan bukan merupakan

jiplakan dari hasil karya orang lain.

Demikian surat pernyataan ini saya buat sebenar-benarnya.

RAHADIYAN PRASANA PUTRA

iv

MOTTO

Mendapat kepercayaan itu mudah, yang lebih mudah lagi menghancurkan,tapi yang sulit adl membina dan menjaga kepercayaan itu.

yang sulit adl membina dan menjaga kepercayaan itu. Berbuat kesalahan adl hal yang biasa.Tetapi memperbaiki

Berbuat kesalahan adl hal yang biasa.Tetapi memperbaiki semua kesalahan adl hal yang sangat luar biasa.

Hidup ini akan menjadi penuh arti, apabila mempunyai arti / manfaat untuk orang lain.

Usaha tanpa do’a itu “SOMBONG”, do’a tanpa usaha itu “SIA-SIA”

v

HALAMAN PERSEMBAHAN

Seiring rasa syukurku, karya ini Kupersembahkan untuk :

PAPA RACHMAD SUPRASONO & MAMA SUBIYATI TERCINTA

Sebagai ungkapan trimakasih & tanda baktiku kepada kedua orang tuaku

slama ni (maaf Istriqu tercinta Sahabat & teman2ku tercinta
slama ni
(maaf
Istriqu tercinta
Sahabat & teman2ku tercinta

Mas Agus, Mbak Nilam serta Kel.Besarku di bidang Prasarana Wilayah Bappeda Kab. Ngawi

Sebuah tanggung jawab yg besar untukku

thx bt

dispensasi waktu, bantuan, support & do’anya

kalau sering ijin meninggalkan

kantor,,karena harus konsul tesis ke solo)

Seseorang yg selalu mengisi ruang hatiku NURUL IZZATI

Mkch ats cinta & sygmu slama ni Mkch tlah mendampingiku dengan sabar saat suka & duka, karna kamu aku bisa

Yang slalu mendo’akanku & membantuku dlm sgala hal

Almamater yg kubanggakan Dan untuk waktu

yang telah mengubahku menjadi lebih

baik

vi

ABSTRAK

Penyusunan Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah Kabupaten Ngawi selama ini menerapkan sistem pendekatan incremental dan line item. Penerapan dari pendekatan tersebut mengakibatkan ditemukannya pengalokasian dana yang tidak efisien dan efektif. Hal ini dapat dilihat dari terjadinya overfinancing dan underfinancing dalam pelaksanaan suatu kegiatan. Penyusunan APBD berbasis kinerja menjadi sebuah keharusan di daerah, karena dengan menggunakan anggaran kinerja tersebut, maka anggaran daerah akan lebih transparan, adil, dan dapat dipertanggungjawabkan. Salah satu instrumen yang diperlukan untuk menyusun anggaran daerah dengan pendekatan kinerja adalah Analisis Standar Belanja (ASB). Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan belanja rata-rata dengan model regresi linier sederhana Analisis Standar Belanja (ASB), menghitung nilai minimum dan maksimum anggaran belanja, serta menghitung prosentase alokasi belanja pada masing-masing objek belanja. Berdasarkan analisa data dan pembahasan diperoleh persamaan regresi linier sederhana dengan ASB untuk anggaran belanja : Y = 9.417.170,19 + 203.298,09 X dimana Y adalah total anggaran, sedangkan X adalah cost driver. nilai minimum dan maksimum belanja kegiatan forum komunikasi atau koordinasi pada Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) tahun anggaran 2010 dari model regresi untuk masing-masing kelompok Analisis Standar Belanja (ASB) adalah sebagai berikut : belanja rata-rata sebesar Rp. 70.000.000,00 belanja minimum sebesar 59.371.325,70, dan belanja maksimum sebesar 80.628.674,30. Berdasarkan prosentase alokasi belanja dapat diketahui bahwa kegiatan koordinasi di Badan Perencanaan Pembangungan Kabupaten Ngawi, dapat diketahui 40% pelaksanaan anggaran keuangannya dalam kondisi underfinance, 20% wajar dan 40% lagi overfinance.

underfinance , 20% wajar dan 40% lagi overfinance . Kata Kunci : Analisis Standar Belanja, Anggaran

Kata Kunci : Analisis Standar Belanja, Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah

vii

ABSTRACT

Preparation of Budget Ngawi District during this incremental approach to implementing the system and the line item. Implementation of these approaches lead to the discovery of an inefficient allocation of funds and effective. It can be seen from the over financing and under financing in the implementation of an activity. Performance-based budgeting become a necessity in the area, due to the use of the performance budget, the budget should be more transparent, equitable, and accountable. One of the instruments required to prepare local budgets with the performance approach is ASB (Standard Analysis of Expenditure).

approach is ASB (Standard Analysis of Expenditure). This study aims to obtain avarage budget with a

This study aims to obtain avarage budget with a simple linear regression model Standard Analysis of Expenditure (ASB), calculate the minimum and maximum budget, and calculate the percentage allocation of expenditure in each expenditure object.

Based on data analysis and discussion of a simple linear regression equation obtained by ASB for the budget: Y = 9.417.170.19 + 203.298,09X where Y is the total budget, while X is a cost driver. the minimum and maximum spending a forum for communication or coordination of activities at the Regional Planning Board fiscal year 2010 from the regression model for each group of the Standard Analysis of Expenditure (ASB) is as follows: avarage budget of 70.000.000,00, a minimum budget of 59,371,325.70, and the budget maximum 80,628,674.30. Based on the percentage allocation of expenditure can be seen that the coordination of activities in the District Development Planning Agency Ngawi, it can be seen 40% of budgetary finances in underfinanced conditions, 20% fair and 40% more over finance.

Keywords: Analysis of Standard Spending, Revenue and Expenditure Budget

viii

Puji

KATA PENGANTAR

syukur

Alhamdulilah

penulis

panjatkan

kehadirat

Allah

Subhanahuwata’ala, atas limpahan rahmat dan karunia-Nya sehingga penulisan

tesis ini dapat diselesaikan dengan baik. Penulisan tesis ini adalah merupakan

salah satu syarat guna memperoleh derajat sarjana S-2 pada Fakultas Ekonomi

dengan penulisan penelitian tesis ini,
dengan
penulisan
penelitian
tesis
ini,

Universitas Sebelas Maret Program Pascasarjana Magister Ekonomi dan Studi

Pembangunan Surakarta yang berjudul “Evaluasi Penganggaran Keuangan

Daerah Dengan Analisis Standar Belanja Tahun Anggaran 2010 (Studi

Kasus: Badan Perencanaan Pembangunan Daerah Kabupaten Ngawi).

Berkenaan

penulis

ingin

menyampaikan ucapan terima kasih dan penghargaan yang setinggi-tingginya

untuk bantuan dan dukungan dari banyak pihak yang telah memungkinkan

selesainya penyusunan maupun penyajian tesis ini, kepada :

1. Dr. AM. Susilo M.Sc, selaku Ketua Program Studi Megister Ekonomi dan

Studi Pembangunan Universitas Sebelas Maret Surakarta beserta staf yang

telah

setia

mendukung

penyusunan tesis ini;

kegiatan

perkuliahan

sampai

dengan

proses

2. Ibu Dr. Evi Gravitiani, SE, M.Si, selaku Dosen Pembimbing Pertama dan

Bapak Drs. Mulyanto, ME selaku Dosen Pembimbing Kedua. Terima kasih

banyak

atas

waktu,

kesabaran,

ketelatenan,

informasi,

arahan,

serta

bimbingan yang diberikan kepada penulis dalam menyelesaikan tesis ini;

ix

3.

Bapak / Ibu dosen Program Studi Megister Ekonomi dan Studi Pembangunan

Universitas Sebelas Maret Surakarta yang telah memberikan tambahan ilmu

dan wawasan serta motivasi kepada penulis;

4. Istriku tercinta Nurul Izzati yang dengan penuh kesabaran telah berkorban

demi keberhasilan penulis dalam mengikuti pendidikan;

Pembangunan Universitas Sebelas Maret
Pembangunan
Universitas
Sebelas
Maret

Surakarta

5. Kedua orang tuaku, mertuaku dan saudara-saudaraku yang telah memberikan

dorongan moral kepada penulis untuk dapat menyelesaikan studi;

6. Rekan-rekan mahasiswa seangkatan Program Studi Megister Ekonomi dan

Studi

yang

telah

membantu memberikan berbagai informasi, motivasi dan saran-saran kepada

penulis selama menempuh studi;

7. Teman-teman di Kantor Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda)

Kabupaten Ngawi Bidang Prasarana Wilayah Bapak Setu Riyanto, Dodik,

Udin, Mbak Ninik, Nita, Diyah, Yayuk, Putri dan Khususnya kepada Kepala

Sub. Bidang Permukiman dan Prasarana Bappeda Kabupaten Ngawi Ibu

Kusumawati Nilam S.S.Si, Kepala Sub. Bidang Tata Ruang, Sumber Daya

Alam dan Lingkungan

Hidup Bappeda Kabupaten Ngawi Bapak Agus

Sutopo, S.STP, MT. Terima kasih banyak telah membantu penulis dalam

memperoleh data-data penelitian.

x

Akhirnya Penulis menyadari bahwa tesis ini masih jauh dari sempurna,

oleh karena itu kritik dan saran dari berbagai pihak akan diterima dengan senang

hati

demi

bermanfaat

sempurnanya

tesis

ini.

Penulis

berharap

semoga

tesis

ini

bisa

dan dapat dikembangkan lagi sebagai dasar oleh para peneliti ke

depan.

ini bisa dan dapat dikembangkan lagi sebagai dasar oleh para peneliti ke depan. Ngawi, April 2012

Ngawi,

April 2012

Peneliti

RAHADIYAN PP

xi

DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL

HALAMAN PERSETUJUAN

HALAMAN PENGESAHAN

HALAMAN PERNYATAAN KEASLIAN TESIS

MOTTO

HALAMAN PENGESAHAN HALAMAN PERNYATAAN KEASLIAN TESIS MOTTO HALAMAN PERSEMBAHAN ABSTRAK ABSTRACT KATA PENGANTAR DAFTAR

HALAMAN PERSEMBAHAN

ABSTRAK

ABSTRACT

KATA PENGANTAR

DAFTAR ISI

DAFTAR TABEL

DAFTAR GAMBAR

DAFTAR LAMPIRAN

i

ii

iii

iv

v

vi

vii

viii

ix

xii

xv

xvii

xviii

BAB I PENDAHULUAN

1

A. Latar Belakang

1

B. Perumusan Masalah

8

C. Tujuan Penelitian

9

D. Manfaat Penelitian

10

BAB. II TINJAUAN PUSTAKA

12

A.

Landasan Teori

12

1. Pengertian Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah

12

2. Jenis Sistem Penganggaran Keuangan Daerah

14

xii

3.

Prinsip-prinsip Penganggaran APBD

19

4. Kebijakan Umum APBD (KUA) dan Prioritas dan Plafon

Anggaran (PPA)

5. Fungsi Anggaran Daerah

6. Siklus Perencanaan Anggaran Daerah

7. Pengertian Analisis Standar Belanja (ASB) 8. Landasan Hukum Analisis Standar Belanja (ASB) 9. Prinsip
7. Pengertian Analisis Standar Belanja (ASB)
8. Landasan Hukum Analisis Standar Belanja (ASB)
9. Prinsip Dasar Penyusunan ASB
10. Peranan ASB Dalam Penyusunan Anggaran
11. Anggaran Berbasis Kinerja
Studi Terdahulu
Kerangka Pemikiran Penelitian
Ruang Lingkup dan Batasan Penelitian

B.

C.

BAB. III METODE PENELITIAN

A.

B. Lokasi Penelitian…………………………………………….

C. Jenis dan Sumber Data……………………………………….

D. Metode Pengumpulan Data

E. Definisi Operasional Variabel Penelitan

F. Metode Analisis Data

1. Belanja rata-rata

2. Batas Minimum dan Maksimum Belanja

3. Prosentase Alokasi Belanja

xiii

21

27

29

30

31

35

35

38

43

47

49

49

50

50

51

51

54

55

56

57

a.

Prosentase Alokasi Belanja rata-rata

57

b. Prosentase Alokasi Belanja Minimum

c. Prosentase Alokasi Belanja Maksimum

4. Kewajaran Anggaran

BAB. IV ANALISIS DATA DAN PEMBAHASAN

Kondisi Umum Kabupaten Ngawi 1. Kondisi Geografis 2. Pemerintahan Daerah 3. Demografi (Kependudukan) 4. Pendidikan
Kondisi Umum Kabupaten Ngawi
1. Kondisi Geografis
2. Pemerintahan Daerah
3. Demografi (Kependudukan)
4. Pendidikan
5. Mata Pencaharian
6. Struktur Usia Penduduk
7. Pendapatan Per Kapita Daerah

A.

B.

Badan Perencanaan Pembangunan Daerah Kabupaten Ngawi

1. Kondisi Umum Bappeda Kabupaten Ngawi

2. Struktur Organisasi Bappeda Kabupaten Ngawi

3. Renstra dan Prioritas Program Renstra Bappeda

C. Analisa Data dan Pembahasan

1. Belanja Rata-rata

2. Penghitungan Nilai Minimum dan Maksimum Belanja

3. Penghitungan Prosentase Alokasi Belanja

57

58

58

56

56

56

62

65

67

69

72

72

76

76

77

80

81

81

87

89

4. Klasifikasi Kewajaran Belanja Dalam Suatu Kegiatan

Dengan Menggunakan Model ASB

xiv

92

D.

Pembahasan

1. Belanja Rata-rata

2. Nilai Minimum dan Maksimum Belanja

3. Prosentase Alokasi Belanja

4. Klasifikasi Kewajaran Belanja Dalam Suatu Kegiatan

Dengan Menggunakan Model Kesimpulan Saran
Dengan Menggunakan Model
Kesimpulan
Saran

A.

B.

BAB. V PENUTUP

DAFTAR PUSTAKA

xv

94

95

96

97

99

99

101

103

DAFTAR TABEL

Tabel 1.1 Ringkasan APBD Kabupaten Ngawi Tahun 2010 7 Tabel 4.1 Penduduk Kabupaten Ngawi menurut
Tabel 1.1
Ringkasan APBD Kabupaten Ngawi Tahun 2010
7
Tabel 4.1
Penduduk Kabupaten Ngawi menurut Hasil Sensus Penduduk
66
Tabel 4.2
Penduduk Akhir Tahun 2010 Menurut Jenis Kelamin
67
Tabel 4.3
Jumlah
Tenaga
Kerja
Industri
Kecil/Kerajinan
Rumah
Tangga Menurut Subsektor Industri
70
Tabel 4.4
PDRB menurut Lapangan Usaha (2005-2009) (milyar rupiah)
74
Tabel 4.5
Anggaran KUA-PPA
81
Tabel 4.6
Perincian Anggaran Program Kerjasama Pembangunan antar
Wilayah Tahun 2010
82
Tabel 4.7
Perincian
Anggaran
Program
Perencanaan
Pembangunan
Ekonomi Tahun 2010
82
Tabel 4.8
Perincian Anggaran Program Perencanaan Sosial Budaya
Tahun 2010
83
Tabel 4.9
Perincian
Anggaran
Program
Perencanaan
Pembangunan
Bidang Prasarana Wilayah Tahun 2010
83
Tabel 4.10
Perincian
Anggaran
Program
Perencanaan
Pembangunan
Bidang Prasarana Wilayah Tahun 2010
84
Tabel 4.11
Perincian Anggaran Kelompok ASB forum komunikasi atau
koordinasi Bappeda Tahun 2010
84
Tabel 4.12
Cost
driver
dan
Output
kegiatan
Koordinasi
Badan
Perencanaan Pembangunan Daerah Tahun 2010
85

xvi

Tabel 4.13

Tabel 4.14

Tabel 4.15

Tabel 4.16

Tabel 4.17

Tabel 4.18

Tabel 4.19

Pehitungan persamaan regresi sederhana (Model ASB)

Perhitungan Kekeliruan Baku Tafsiran

Prosentase Alokasi Belanja Rata-rata

Prosentase Alokasi Belanja Minimum

Prosentase Alokasi Belanja Maksimum Prosentase Batas Belanja Klasifikasi Kewajaran Belanja
Prosentase Alokasi Belanja Maksimum
Prosentase Batas Belanja
Klasifikasi Kewajaran Belanja

xvii

HALAMAN

86

88

89

90

91

92

89

DAFTAR GAMBAR

Gambar 2.1 Kerangka Pemikiran Penelitian 48 Gambar 4.1 Peta Kabupaten Ngawi 60 Gambar 4.2 Rata-rata
Gambar 2.1
Kerangka Pemikiran Penelitian
48
Gambar 4.1
Peta Kabupaten Ngawi
60
Gambar 4.2
Rata-rata Curah Hujan/Bulan di Kabupaten Ngawi
61
Gambar 4.3
Prosentase
Luas
Lahan
Sawah
di
Kabupaten
Ngawi
Menurut Jenis Pengairannya
62
Gambar 4.4
Prosentase Luas Lahan Bukan Sawah di Kabupaten Ngawi
Menurut Penggunaannya
62
Gambar 4.5
Jumlah
Pegawai
Negeri
Sipil
di
Lingkungan
Pemkab
Menurut Tingkat Pendidikan Tahun 2010
.
63
Gambar 4.6
Jumlah
Pegawai
Negeri
Sipil
di
Lingkungan
Pemkab
Menurut Golongan Kepangkatan Tahun 2010
64
Gambar 4.7
Jumlah Anggota DPRD Kabupaten Ngawi Berdasarkan
Jenis Kelamin tahun 2010
64
Gambar 4.8
Jumlah Anggota DPRD Kabupaten Ngawi Berdasarkan
Tingkat Pendidikan tahun 2010
65
Gambar 4.9
Perkembangan Jumlah Murid di Kabupaten Ngawi
68
Gambar 4.10
Perkembangan Tenaga Kerja Kabupaten Ngawi
71
Gambar 4.11
Penduduk Kabupaten Ngawi Menurut Golongan Umur
72
Gambar 4.12
Distribusi Prosentase PDRB atas Dasar Harga Berlaku
Kabupaten Ngawi
74

xviii

 

HALAMAN

Gambar 4.13

Laju Pertumbuhan Ekonomi Kabupaten Ngawi

75

Gambar 4.14

Struktur Organisasi Bappeda Kabupaten Ngawi

78

Laju Pertumbuhan Ekonomi Kabupaten Ngawi 75 Gambar 4.14 Struktur Organisasi Bappeda Kabupaten Ngawi 78 xix

xix

Lampiran 1.

DAFTAR LAMPIRAN

Dokumen Pelaksanaan Anggaran Satuan Kerja Perangkat Daerah

Bappeda Kabupaten Ngawi Tahun Anggaran 2010

Lampiran 2.

Objek Anggaran Belanja Kelompok ASB Forum Komunikasi atau

Koordinasi Bappeda Kabupaten Ngawi Tahun Anggaran 2010

Cost Driver ASB Forum Komunikasi atau Koordinasi Bappeda

Kabupaten Ngawi Tahun Anggaran 2010 Perhitungan Belanja Rata-rata Perhitungan Prosentase Alokasi Belanja
Kabupaten Ngawi Tahun Anggaran 2010
Perhitungan Belanja Rata-rata
Perhitungan Prosentase Alokasi Belanja

Perhitungan Nilai Maksimum dan Minimum Belanja

Lampiran 3.

Lampiran 4.

Lampiran 5.

Lampiran 6.

Lampiran 7.

Menentukan Klasifikasi Kewajaran Belanja Berdasarkan ASB

xx

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah

Otonomi

Daerah

merupakan

proses

awal

terjadinya

reformasi

sangat

terkait

keuangan daerah di Indonesia. Otonomi pada perubahan dalam sistem pembuatan keuangan daerah, maka meresponnya
keuangan
daerah
di
Indonesia.
Otonomi
pada
perubahan
dalam
sistem
pembuatan
keuangan
daerah,
maka
meresponnya
dengan

penganggaran

Daerah

berimplikasi

keputusan

dengan pengalokasian sumber daya dalam anggaran pemerintah daerah. Pada

dasarnya untuk mewujudkan kemandirian daerah dalam rangka menghadapi

Otonomi Daerah salah satu faktor keuangan yang perlu menjadi perhatian

adalah perencanaan keuangan daerah dan Anggaran Pendapatan dan Belanja

Daerah (APBD).

Pemerintah dalam rangka mengantisipasi adanya reformasi dalam

mengeluarkan

pengelolaan

beberapa

peraturan

perundang-undangan

ditandai

dengan

dikeluarkannya

pengganti Undang-Undang Nomor 22 Tahun 1999 tentang Pemerintahan

Daerah dengan Undang-Undang No. 32 Tahun 2004. Undang-Undang Nomor

25 Tahun 1999 tentang Perimbangan Keuangan antara Pemerintah Pusat dan

Daerah diganti dengan Undang-Undang Nomor 33 Tahun 2004. Setelah itu,

dalam manajemen keuangan daerah dikeluarkan Undang-Undang Nomor 17

Tahun 2003 tentang Keuangan Negara, Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2004

tentang Perbendaharaan Negara dan Undang-Undang Nomor 15 Tahun 2004

tentang Pemeriksaan Pengelolaan dan Tanggung jawab Keuangan Negara.

1

2

Kemudian

dikeluarkannya

Peraturan

Pemerintah

Nomor 58

Tahun

2005

tentang Pengelolaan Keuangan Daerah, Peraturan Menteri Dalam Negeri

Nomor 13 Tahun 2006 tentang Pedoman Pengelolaan Keuangan Daerah yang

merupakan uraian penjelasan penyusunan APBD. Permendagri No. 13 Tahun

2006 merupakan pengganti dari Kepmendagri No. 29 Tahun 2002. Beberapa

kembali bendahara pengeluaran indikator kinerja mulai dari memasukan
kembali
bendahara
pengeluaran
indikator
kinerja
mulai
dari
memasukan

perubahan dari Permendagri No. 13 Tahun 2006 yaitu :

1.

Dikenalkannya

dan

bendahara

penerimaan;

2.

Belanja aparatur dan belanja publik dihilangkan dan lebih menekankan

kepada belanja langsung dan belanja tidak langsung;

3.

Penyusunan

(input),

keluar

(output), dan menghasilkan hasil, tetapi manfaat dan dampak dihilangkan;

dan

4.

Kemudian mulai dikenalkannya Medium Terms Expenditure Framework

(MTEF).

Kemudian juga dikeluarkan Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 59

Tahun 2007 yang memuat perubahan atas atas Peraturan Menteri Dalam

Negeri Nomor 13 Tahun 2006 tentang Pedoman Pengelolaan Keuangan

Daerah.

Peraturan Pemerintah Dalam Negeri Nomor 13 Tahun 2006 Pasal 39

ayat (1) sampai (3) secara jelas menyatakan bahwa penyusunan RKA-SKPD

dengan

pendekatan

prestasi

kerja,

memperhatikan

keterkaitan

antara

pendanaan dengan keluaran dan hasil yang diharapkan dari kegiatan dan

3

program termasuk efisiensi dalam pencapaian keluaran dan hasil tersebut.

Pendekatan anggaran prestasi kerja disusun untuk mengatasi kelemahan dalam

anggaran tradisional, khususnya kelemahan tidak adanya tolak ukur yang

jelas, selain itu adanya tuntutan transparan dan akuntabel atas pengelolaan

keuangan

tersebut,

daerah

semakin

meningkat.

Untuk

dapat

memenuhi

tuntutan

cara

terutama atas tuntutan akuntabel dapat
terutama
atas
tuntutan
akuntabel
dapat

dilakukan

dengan

pengelolaan keuangan daerah secara ekonomis, efisien, dan efektif. Untuk itu

salah satu cara yang dapat diambil oleh pemerintah daerah dalam pengelolaan

keuangan yang di dasarkan pada prestasi kerja pemerintah daerah perlu

melengkapi diri dengan instrumen lain yaitu dengan menyusun standar biaya

atau dalam bahasa resmi dalam Permendagri No. 13 Tahun 2006 yaitu

Analisis Standar Belanja (ASB). Dengan upaya tersebut diharapkan daerah

didorong untuk lebih tanggap, kreatif, inovatif dan mampu mengambil inisiatif

terutama dalam hal perbaikan sistem dan prosedurnya serta meninjau kembali

sistem tersebut secara terus-menerus, dengan tujuan memaksimalkan efisiensi

dan efektivitas berdasarkan keadaan, kebutuhan dan kemampuan keuangan

daerah.

Pada dasarnya pendekatan kinerja disusun untuk mengatasi berbagai

kelemahan yang terdapat dalam anggaran tradisional, khususnya kelemahan

yang disebabkan oleh tidak adanya tolok ukur yang dapat digunakan untuk

mengukur kinerja dalam pencapaian tujuan dan sasaran pelayanan publik

Mardiasmo (2002: 84). Lebih lanjut dinyatakan bahwa penilaian kinerja

didasarkan pada pelaksanaan value for money dan efektivitas anggaran.

4

Pendekatan ini cenderung menolak pandangan anggaran tradisional yang

menganggap bahwa tanpa adanya arahan dan campur tangan, pemerintah akan

menyalahgunakan kedudukan mereka dan cenderung boros (over-spending).

Menurut pendekatan kinerja ini, dominasi pemerintah akan diawasi dan

dikendalikan sehingga pemerintah dipaksa untuk bertindak berdasarkan efisien

pemerintah dipaksa untuk bertindak berdasarkan efisien dan efektivitas. Mardiasmo (2002: 231) menyatakan bahwa,

dan efektivitas.

Mardiasmo (2002: 231) menyatakan bahwa, salah satu tolok ukur

keberhasilan otonomi daerah adalah apabila lembaga sektor publik dikelola

dengan memperhatikan konsep Value For Money (VFM). Value For Money

merupakan ekpresi dari pelaksanaan lembaga sektor publik yang mendasarkan

pada 3 (tiga) elemen dasar, yaitu adanya ekonomi, efisiensi dan efektivitas.

Anggaran dengan pendekatan kinerja sangat menekankan pada konsep value

for money dan pengawasan dan pembuatan prioritas tujuan serta pendekatan

yang sistematis dan rasional dalam pengambilan keputusan.

Aparat

pemerintah

daerah

harus

memiliki

kemampuan

dan

pengetahuan yang memadai dalam perencanaan dan perumusan kebijakan

strategis daerah, termasuk proses dan pengalokasian anggaran belanja daerah

agar pelaksanaan berbagai kegiatan pelayanan oleh pemerintah daerah dapat

berjalan

secara

ekonomis,

efisien,

dan

efektif.

Pemerintah

daerah

Kabupaten/Kota

dituntut

untuk

mampu

menemukan

metode

baru

dalam

meningkatkan

sumber

pembiayaan

di

daerahnya.

Selain

itu

juga

mengharuskan daerah untuk dapat mengalokasikan belanjanya agar hemat,

berdaya guna dan tepat guna. Peran sera masyarakat sebagai pemilik sebagian

5

dana sangat diharapkan dalam proses penyusunan Anggaran Pendapatan dan

Belanja Daerah.

Kabupaten Ngawi sebagai bagian dari Provinsi Jawa Timur dengan

luas wilayah administratif 1.298,59 km 2 yang dibagi menjadi 19 Kecamatan

sedang merasakan akan pentingnya pengelolaan keuangan daerah. Kondisi di

meskipun belum optimal karena Permasalahan di atas harus diselesaikan, anggaran
meskipun
belum
optimal
karena
Permasalahan
di
atas
harus
diselesaikan,
anggaran

Kabupaten Ngawi menunjukkan bahwa realisasi Anggaran Pendapatan dan

Belanja Daerah (APBD) dari tahun ke tahun menunjukkan kecenderungan

penerimaan

meningkat,

sumber-sumber

daerah belum seluruhnya dapat digali dan managemen pengelolaan yang

kurang profesional. Kondisi penerimaan ini berpengaruh terhadap alokasi

belanja untuk unit kerja termasuk pada Badan Perencanaan Pembangunan

Daerah (Bappeda) Kabupaten Ngawi

daerah

dalam

konteks otonomi dan desentralisasi menduduki posisi yang sangat penting.

Kondisi yang ada selama ini di Kabupaten Ngawi pada khususnya dan di

Bappeda pada umumnya kualitas perencanaan Anggaran

dengan paradigma

lama masih cenderung lemahnya, sehingga masih belum mampu menunjukkan

adanya

pertanggungjawaban

kinerja

yang

mengarah

pada

akuntabilitas.

Selama ini dalam penyusunan Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah

(APBD) juga menerapkan sistem pendekatan incremental dan line item.

Penerapan

dari

pendekatan

tersebut

mengakibatkan

ditemukannya

pengalokasian dana yang tidak efisien dan efektif. Hal ini dapat dilihat dari

terjadinya

overfinancing

dan

underfinancing

dalam

pelaksanaan

suatu

6

kegiatan. Selama ini pengukuran keberhasilan maupun kegagalan dari instansi

pemerintah

dalam

menjalankan

tugas

pokok

dan

fungsinya

sulit

untuk

dilakukan secara obyektif. Pengukuran kinerja suatu instansi hanya lebih

ditekankan pada kemampuan instansi.

Dengan seluruh kondisi awal dan latar belakang secara umum di atas,

maka dapatlah dikatakan bahwa penyusunan APBD berbasis kinerja menjadi sebuah keharusan di daerah, karena dengan
maka dapatlah dikatakan bahwa penyusunan APBD berbasis kinerja menjadi
sebuah keharusan di daerah, karena dengan menggunakan anggaran kinerja
tersebut,
maka
anggaran
daerah
akan
lebih
transparan,
adil,
dan
dapat
dipertanggungjawabkan.
Salah
satu
instrumen
yang
diperlukan
untuk
menyusun
anggaran
daerah
dengan
pendekatan
kinerja
adalah
Analisis
Standar Belanja (ASB). Dalam regulasi-regulasi yang tersebut di atas selalu
disebutkan
bahwa
ASB
merupakan
salah
satu
instrumen
pokok
dalam
penganggaran
berbasis
kinerja.
Walaupun
regulasi-regulasi
tersebut
mengamanatkan
ASB,
tetapi
ternyata
regulasi-regulasi
tersebut
belum

menunjukkan secara riil dan operasional tentang ASB dan pada akhirnya

mengakibatkan ASB menjadi sesuatu yg abtrak bagi Pemerintah Daerah di

Indonesia.

APBD Pemerintah Kabupaten Ngawi pada tahun 2010 pada pos

belanja daerah mengalami defisit anggaran sebesar Rp. 58.679.457.100,00.

Hal

ini

mengindikasikan

terjadinya

Kabupaten

Ngawi.

Sebenarnya

hal

penganggaran

yang

ini

bisa

dihindari

tidak

sehat

di

apabila

dalam

penyusunan APBD sudah menggunakan regresi linier ASB karena dapat

digunakan sebagai dasar peramalan yang dapat dipertanggungjawabkan secara

7

matematis. Untuk lebih jelasnya tentang terjadinya underfinance anggaran

pada APBD Kabupaten Ngawi ini dapat dilihat pada tabel 1.1 sebagai berikut :

Tabel 1.1

Ringkasan APBD Kabupaten Ngawi Tahun 2010

No Uraian Realisasi A. PENDAPATAN DAERAH 982.336.089.000 1. PENDAPATAN ASLI DAERAH 35.313.790.550 a. Hasil Pajak
No
Uraian
Realisasi
A.
PENDAPATAN DAERAH
982.336.089.000
1.
PENDAPATAN ASLI DAERAH
35.313.790.550
a.
Hasil Pajak Daerah
10.717.750.000
b.
Hasil Retribusi Daerah
17.099.799.000
c.
Hasil Pengelolaan Kekayaan Daerah yang
Dipisahkan
1.127.798.050
d.
Lain-lain Pendapatan Asli Daerah yang Sah
6.368.443.500
2.
DANA PERIMBANGAN
786.098.768.250
a.
Bagi Hasil Pajak/Bagi Hasil Bukan Pajak
61.608.288.250
b.
Dana Alokasi Umum
654.720.280.000
c.
Dana Alokasi Khusus
69.770.200.000
3.
LAIN-LAIN PENDAPATAN DAERAH
YANG SAH
160.923.530.200
a.
Pendapatan Hibah
1.858.575.000
b.
Bagi Hasil Pajak dari Provinsi dan Pemerintah
Daerah Lainnya
39.019.230.000
c.
Bantuan Keuangan dari Provinsi atau Pemerintah
Daerah Lainnya
35.500.000.000
d.
Tambahan Penghasilan Bagi PNS Guru
14.311.050.000
e.
Tunjangan Profesi Guru PNSD
70.234.675.200
B.
BELANJA DAERAH
1.041.015.546.100
1.
BELANJA TIDAK LANGSUNG
728.460.676.550
a.
Belanja Pegawai
689.575.003.250
b.
Belanja Bunga
56.840.250
c.
Belanja Hibah
11.567.000.000
d.
Belanja Bantuan Sosial
6.399.000.000
e.
Belanja Bantuan Keuangan Kepada Provinsi
Kabupaten/Kota dan Pemerintahan Desa
20.691.273.150
f.
Belanja Tidak Terduga
171.559.900
2.
BELANJA LANGSUNG
312.554.869.550
a.
Belanja Pegawai
22.550.451.700
b.
Belanja Barang dan Jasa
121.967.561.900
c.
Belanja Modal
168.036.855.950
Surplus (Defisit)
(58.679.457.100)

8

.

Lanjutan Tabel 1.1

C. PEMBIAYAAN 58.679.457.100 1. Penerimaan Pembiayaan 59.396.185.850 a. Sisa Lebih Anggaran Daerah Tahun
C.
PEMBIAYAAN
58.679.457.100
1.
Penerimaan Pembiayaan
59.396.185.850
a.
Sisa Lebih Anggaran Daerah Tahun
Sebelumnya
51.601.035.850
b.
Hasil Penjualan Kekayaan Daerah yang
Dipisahkan
5.895.150.000
c.
Penerimaan Piutang Daerah
1.900.000.000
2.
Pengeluaran Pembiayaan
716.728.750
a.
Penyertaan Modal (Investasi) Pemerintah
Daerah
500.000.000
b.
Pembayaran Pokok Utang
216.728.750
Sumber :
Dinas
Pendapatan,
Pengelola
Keuangan
dan
Aset
(DPPKA)
Kabupaten Ngawi
Dalam
menyusun
APBD
Pemerintah
Kabupaten
Ngawi
belum
menggunakan instrumen Analisis Standar Belanja (ASB) dalam pengalokasian
anggaran belanja kepada masing-masing satuan kerja yang ada dalam struktur
organisasi Pemerintah Kabupaten Ngawi sesuai dengan tugas pokok dan
fungsinya. Oleh sebab itu dalam tesis ini di karenakan salah satu tugas pokok
dan
fungsi
Badan
Perencanaan
Pembangunan
Daerah
yaitu
melakukan
kegiatan
forum
komunikasi
atau
koordinasi.
maka
peneliti
mencoba

melakukan perhitungan Analisis Standar Belanja (ASB) di Badan Perencanaan

Pembangunan Daerah (Bappeda) Kabupaten Ngawi tahun anggaran 2010.

Adapun masalah pada penelitian ini hanya dibatasi pada satu aspek saja yaitu

pada kegiatan forum komunikasi atau koordinasi tahun anggaran 2010.

B. Perumusan Masalah

Kegiatan forum komunisasi atau koordinasi merupakan salah satu dari

tugas

pokok

dan

fungsi

dari

Badan

Perencanaan

Pembangunan

Daerah

9

(Bappeda) Kabupaten Ngawi. Berdasarkan penjelasan di atas, maka yang

menjadi permasalahan dalam penelitian ini adalah :

1. Dengan menggunakan Analisis Standar Belanja (ASB) berapakah belanja

rata-rata

Badan

Perencanaan

Pembangunan

Daerah

(Bappeda)

tahun

anggaran 2010?

dan maksimum belanja Badan Perencanaan alokasi belanja rata-rata, belanja minimum pada masing-masing objek
dan
maksimum
belanja
Badan
Perencanaan
alokasi
belanja
rata-rata,
belanja
minimum
pada
masing-masing
objek
belanja
Badan

2. Dengan menggunakan Analisis Standar Belanja (ASB) berapakah nilai

Pembangunan

minimum

Daerah (Bappeda) tahun anggaran 2010?

3. Dengan menggunakan Analisis Standar Belanja (ASB) bagaimanakah

dan

belanja

Perencanaan

prosentase

maksimum

Pembangunan Daerah (Bappeda) Kabupaten Ngawi tahun anggaran 2010?

4. Kegiatan forum komunikasi atau koordinasi manakah yang masuk dalam

kategori underfinancing, overfinancing, wajar pada Bappeda Kabupaten

Ngawi tahun anggaran 2010?

C. Tujuan Penelitian

Berdasarkan sebagaimana tersebut pada latar belakang masalah dan

perumusan masalah di atas. maka tujuan penelitian yang ingin dicapai dalam

penelitian

menggunakan

instrumen

”ASB”

secara

umum

adalah

bahwa

penelitian ini diharapkan dapat memperkenalkan atau membumikan ”ASB”

sebagai salah satu pendekatan yang digunakan dalam penyusunan anggaran

berbasis kinerja. sehingga diharapkan ASB tersebut dapat diwujudkan dan

10

dilaksanakan secara riil oleh Pemerintah Kabupaten Ngawi. Sedangkan tujuan

khususnya dari penelitian ini adalah sebagai berikut :

1. Menghitung besarnya belanja rata-rata dalam pelaksanaan kegiatan forum

komunikasi

atau

koordinasi

pada

Badan

Perencanaan

Pembangunan

Daerah (Bappeda) tahun anggaran 2010 untuk masing-masing kelompok

nilai minimum dan maksimum belanja kegiatan forum atau koordinasi pada Badan Perencanaan Pembangunan
nilai
minimum
dan
maksimum
belanja
kegiatan
forum
atau
koordinasi
pada
Badan
Perencanaan
Pembangunan

Analisis Standar Belanja (ASB);

2. Menghitung

komunikasi

Daerah (Bappeda) tahun anggaran 2010 dari model regresi untuk masing-

masing kelompok Analisis Standar Belanja (ASB);

3. Menghitung prosentase alokasi belanja pada masing-masing objek belanja

pada kegiatan forum komunikasi atau koordinasi. baik alokasi belanja rata-

rata. alokasi belanja minimum. dan alokasi belanja maksimum pada Badan

Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) Kabupaten Ngawi tahun

anggaran 2010;

4. Menentukan

klasifikasi

kewajaran

belanja

dalam

kegiatan

forum

komunikasi

atau

koordinasi

pada

Badan

Perencanaan

Pembangunan

Daerah (Bappeda) Kabupaten Ngawi tahun anggaran 2010.

D. Manfaat Penelitian

 

Penelitian

ini

diharapkan

dapat

memberikan

manfaat.

antara lain

sebagai berikut:

1.

Dapat

memberikan

bahan

masukan

dan

informasi

untuk

Pemerintah

Kabupaten

Ngawi

dan

Badan

Perencanaan

Pembangunan

Daerah

11

(Bappeda) Kabupaten Ngawi pada khususnya dalam pelaksanaan anggaran

berbasis kinerja melalui perhitungan kebutuhan belanja yang wajar sesuai

dengan beban unit kerja pada kegiatan forum komunikasi atau koordinasi.

2.

3.

Membantu

memberikan

bantuan

pemikiran

kepada

Tim

Anggaran

Pemerintah Daerah (TAPD) Kabupaten Ngawi pada waktu menetapkan

bahan informasi dan referensi bagi akademisi
bahan
informasi
dan
referensi
bagi
akademisi

prioritas plafon anggaran sementara (PPAS) yang lebih obyektif (tidak lagi

berdasarkan ”intuisi”) sehingga akhirnya dapat meminimalisir terjadinya

pengeluaran yang kurang jelas yang menyebabkan inefisiensi anggaran;

atau

Sebagai

peneliti

selanjutnya mengenai anggaran berbasis kinerja menggunakan Analisis

Standar Belanja (ASB), khususnya di Kabupaten Ngawi.

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

A. Landasan Teori

1. Pengertian Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah

Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah dan Pemerintah Daerah harus berupaya guna menghasilkan APBD yang
Anggaran
Pendapatan
dan
Belanja
Daerah
dan
Pemerintah
Daerah
harus
berupaya
guna
menghasilkan
APBD
yang
dapat
dapat
memenuhi
tuntutan
terciptanya
anggaran
telah
direncanakan
dengan
baik
hendaknya

(APBD)

pada

hakekatnya merupakan instrumen kebijakan yang dipakai sebagai alat

untuk meningkatkan pelayanan umum dan meningkatkan kesejahteraan

masyarakat di daerah. Oleh karena itu, Dewan Perwakilan Rakyat Daerah

nyata

dan

(DPRD)

secara

terstruktur

mencerminkan

kebutuhan riil masyarakat sesuai dengan potensi masing-masing daerah

daerah

yang

serta

berorientasi pada kepentingan dan akuntabilitas publik. Suatu anggaran

dengan

yang

disertai

pelaksanaan yang tertib dan disiplin sehingga tujuan atau sasarannya dapat

dicapai secara berdayaguna dan berhasilguna.

Berbagai definisi dari para ahli dan Undang-undang mengenai

Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) :

a. Menurut Wayong (1962: 81) APBD adalah suatu rencana pekerjaan

keuangan (financial worlplan) yang dibuat untuk suatu jangka waktu

tertentu pada waktu badan legislatif memberikan kredit kepada badan-

badan

eksekutif

untuk

melakukan

pembiayaan

guna

memenuhi

kebutuhan

rumah

tangga

daerah

sesuai

dengan

rancangan

yang

 

12

13

menjadi

dasar

(groundslag)

penetapan

anggaran,

dan

yang

menunjukkan semua penghasilan untuk menutup pengeluaran tadi.

b.

c.

d.

Menurut Mamesah (1995: 19) APBD adalah ”Rencana operasional

keuangan

daerah,

dimana

satu

pihak

menggambarkan

perkiraan

pengeluaran

setinggi-tingginya

guna

membiayai

kegiatan-kegiatan

dipihak lain menggambarkan perkiraan penerimaan menutupi pengeluaran-pengeluaran dimaksud”. Menurut Halim (2002:
dipihak
lain
menggambarkan
perkiraan
penerimaan
menutupi pengeluaran-pengeluaran dimaksud”.
Menurut
Halim
(2002:
24)
APBD
merupakan
pemerintah
daerah
yang
dituangkan
dalam
menunjukkan adanya sumber penerimaan
periode anggaran.

bentuk

dan proyek-proyek daerah dalam satu tahun anggaran tertentu, dan

daerah

guna

kegiatan

kegiatan

dan

rencana

angka

yang merupakan target

minimal dan biaya yang merupakan batas maksimal untuk suatu

Menurut Mardiasmo (2002: 9) APBD merupakan instrumen kebijakan

yang utama bagi pemerintah daerah. Sebagai instrumen kebijakan

yang utama bagi pemerintah daerah. Sebagai instrumen kebijakan,

anggaran

daerah

menduduki

posisi

sentral

dalam

upaya

pengembangan

kapabilitas

dan

efektivitas.

Anggaran

daerah

digunakan sebagai alat

pengeluaran,

membantu

untuk menentukan besar pendapatan dan

pengambilan

keputusan

dan

perencanaan

pembangunan, otorisasi pengeluaran dimasa-masa yang akan datang,

sumber pengembangan ukuran-ukuran standar untuk evaluasi kinerja,

14

alat untuk memotivasi para pegawai, dan alat koordinasi bagi semua

aktivitas dari berbagai unit kerja.

Dari beberapa definisi di atas dapat disimpulkan bahwa APBD

2.

adalah :

a.

Rencana operasional daerah

yang menggambarkan

bahwa adanya

tersebut telah diuraikan secara rinci; pengeluaran yang akan dilaksanakan; Untuk keperluan dalam satu tahun anggaran.
tersebut telah diuraikan secara rinci;
pengeluaran yang akan dilaksanakan;
Untuk keperluan dalam satu tahun anggaran.

aktivitas atau kegiatan-kegiatan yang dilaksanakan di mana aktivitas

b.

Adanya sumber penerimaan yang merupakan target minimal untuk

menutupi biaya-biaya sehubungan dengan aktivitas-aktivitas tersebut,

sedang biaya-biaya yang ada merupakan batas maksimal pengeluaran-

c.

d.

Dituangkan dalam bentuk angka, jenis kegiatan dan jenis proyek;

Jenis Sistem Penganggaran Keuangan Daerah

Sistem penganggaran sektor publik dalam sejarahnya berkembang

dan berubah sesuai dengan dinamika perkembangan manajemen sektor

publik dan tututan masyarakat. Sektor publik merupakan refleksi dari arah

dan tujuan pelayanan masyarakat yang diharapkan dari pemerintah daerah.

Menurut Ritonga (2009: 21-24) sistem penganggaran sektor publik

terdiri

dari

anggaran

tradisional

(konvensional)

dan

anggaran

yang

berorientasi pada kepentingan publik (new public management). Anggaran

tradisional terdiri dari :

15

a.

Line Item

Pendekatan

Line

Item

didasarkan

atas

sifat

nature

dari

penerimaan dan pengeluaran. Metode line item tidak memungkinkan

untuk menghilangkan item-item penerimaan dan pengeluaran yang

b.

telah ada dalam struktur anggaran, walaupun ada beberapa item yang

Penghayatan Pengamalan Pancasila (P4) Incrementalism
Penghayatan
Pengamalan
Pancasila
(P4)
Incrementalism

dalam

sudah tidak relevan untuk digunakan pada periode sekarang. Hal ini

mengakibatkan tidak dapat dilaksanakannya penilaian kinerja, karena

tolok ukur kinerjanya adalah ketaatan dalam penggunaan dana yang

diusulan. Pada masa orde baru, contohnya selalu dianggarkan belanja

penyuluhan Keluarga Berencana (KB) atau belanja penataran Pedoman

komponen

pengeluaran. Belanja-belanja ini akan muncul terus dalam anggaran,

walaupun sudah tidak dibutuhkan lagi oleh masyarakat tertentu.

Tujuan utama pendekatan tradisional terdapat pada pengawasan

dan

pertanggungjawaban

yang

terpusat.

Anggaran

ini

bersifat

incrementalism yaitu hanya menambahkan atau mengurangi item-item

anggaran yang telah ada sebelumnya. Data yang digunakan sebagai

dasar

adalah

data

tahun

sebelumnya

tanpa

ada

kajian

apakah

pengeluaran periode sebelumnya tersebut didasarkan atas kebutuhan

yang

wajar

atau

tidak.

Pendekatan

incrementalism

dapat

mengakibatkan

kesalahan

pada

periode

selanjutnya

ketika

akan

menentukan anggaran karena tidak mendasarkan pada kebutuhan riil.

16

Masalah utama pendekatan ini adalah tidak adanya perhatian terhadap

konsep value for money, sehingga pada akhir tahun anggaran tersebut

seringkali terjadi kelebihan anggaran dalam pengalokasiannya dan

dipaksakan pada aktivitas-aktivitas yang sebenarnya kurang penting

a.

untuk dilaksanakan. Dapat diambil contoh di sini bahwa jika tahun

sekarang belanja barang dan jasa sebesar Rp. dari (Ritonga, 2009: 157-160) : Zero Based Budgeting
sekarang
belanja
barang
dan
jasa
sebesar
Rp.
dari (Ritonga, 2009: 157-160) :
Zero Based Budgeting (ZBB)
dapat
mengatasi
kelemahan
pendekatan
anggaran
diasumsikan
mulai
dari
nol
(zero

based).

1.000.000,00

dan

diprediksi tahun depan inflasi sebesar 10%, maka besarnya anggaran

tahun depan adalah Rp. 1.000.000,00 x 110% = Rp. 1.100.000,00.

Anggaran yang berorientasi pada kepentingan publik terdiri

Penyusunan anggaran dengan menggunakan pendekatan ZBB

karena

Based

incrementalism

Zero

Budgeting

tidak

berpatokan

pada

anggaran

tahun

lalu

dalam

menyusun anggaran tahun ini. Kebutuhan anggaran didasarkan pada

kebutuhan saat ini. Dengan ZBB proses anggaran dimulai dari hal

yang

baru

dan

item

anggaran

yang

sudah

tidah

relevan

dapat

dihilangkan dari struktur anggaran dan dimungkinkan muncul item

yang baru. Kelebihan dari penggunaan metode ZBB ini adalah dapat

menghasilkan sumber daya secara lebih efisien, lebih fokus pada

value for money, lebih mudah untuk mengidentifikasi terjadinya

inefisiensi dan ketidakefektifan biaya. Adapun kelemahan dalam ZBB

17

antara lain proses penyusunan anggaran memakan waktu yang lama

dan terlalu teoritis, serta cenderung menekankan manfaat jangka

pendek.

b. Planning, Programming, and Budgeting System (PPBS)

Planning,

Programming,

and

Budgeting

System

pada

dan

(PPBS)

system

tujuan.

merupakan teknik penganggaran yang didasarkan perencanaan formal yang berorientasi pada output dihadapkan pada
merupakan
teknik
penganggaran
yang
didasarkan
perencanaan
formal
yang
berorientasi
pada
output
dihadapkan
pada
pilihan
alternatif
keputusan
yang
manfaat paling besar dalam pencapaian tujuan

Penekanan utamanya adalah alokasi sumber daya yang berdasarkan

analisis ekonomi. Hal tersebut disebabkan sumber daya yang dimiliki

pemerintah terbatas jumlahnya. Dalam keadaan tersebut pemerintah

memberikan

organisasi secara

keseluruhan. PPBS memberikan kerangka untuk membuat pilihan

tersebut. Sistem anggaran PPBS tidak mendasarkan pada struktur

organisasi tradisional yang terdiri dari divisi-divisi, tetapi berdasarkan

program dengan pengelompokan aktivitas untuk mencapai tujuan

tertentu.

Kelebihan

PPBS

dalam

jangka

panjang

adalah

dapat

mengurangi beban kerja, mudah dalam pendelegasian tanggungjawab

dari atasan kepada bawahan, memperbaiki kualitas pelayanan melalui

pendekatan

standar

biaya

dan

menghilangkan

program

yang

overlapping.

Kelemahan

PPBS

adalah

dalam

penyusunananya

membutuhkan biaya yang tinggi karena membutuhkan teknologi yang

18

canggih, membutuhkan system pengukuran, dan staf yang memiliki

kapabilitas yang tinggi.

c. Perfomance Based Budgeting

Sistem Anggaran Berbasis Kinerja (Perfomance Based Budgeting) merupakan pendekatan kinerja yang disusun untuk
Sistem
Anggaran
Berbasis
Kinerja
(Perfomance
Based
Budgeting)
merupakan
pendekatan
kinerja
yang
disusun
untuk
mengatasi kelemahan anggaran tradisional, yaitu tidak adanya tolok
ukur yang dapat digunakan untuk mengukur kinerja dalam pencapaian
tujuan
dan
sasaran
pelayanan
publik.
Anggaran
berbasis
kinerja
sangat menekankan konsep value for money yaitu ekonomis, efisien
dan efektif. Konsep ekonomis terkait dengan perolehan input yang
semurah mungkin. Konsep efisiensi terkait dengan biaya rata-rata
terendah untuk menghasilkan output, sedangkan konsep efektif terkait
dengan pencapaian tujuan yang paling berdaya guna. Secara teknis
pelaksanaan
sistem
anggaran
kinerja
merupakan
subsistem

perencanaan strategis (strategic planning). Penerapan sistem anggaran

kinerja dalam penyusunan anggaran dimulai dengan perumusan isu-

isu

strategis

yang

direspon

dengan

program

dan

kegiatan

yang

relevan. Penentuan program dan kegiatan tersebut mencakup pula

penentuan indikator kinerja yang digunakan sebagai tolok ukur dalam

pencapaian tujuan yang telah ditetapkan dalam perencanaan strategis.

19

3. Prinsip-prinsip Penganggaran APBD

Berdasarkan Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 22 tahun

2011 tentang Pedoman Penyusunan Anggaran Pendapatan dan Belanja

Daerah tahun 2012, APBD disusun berdasarkan :

a. Partisipasi masyarakat Pengambilan keputusan dalam proses penyusunan dan penetapan APBD sedapat mungkin
a.
Partisipasi masyarakat
Pengambilan
keputusan
dalam
proses
penyusunan
dan
penetapan APBD sedapat mungkin melibatkan partisipasi masyarakat,
sehingga masyarakat mengetahui akan hak dan kewajibannya dalam
pelaksanaan APBD.
b.
Transparansi dan akuntabilitas anggaran
APBD harus dapat menyajikan informasi secara terbuka dan
jelas mengenai tujuan , sasaran, sumber pendanaan, hasil dan manfaat
yang diperoleh masyarakat dari suatu kegiatan atau proyek yang
dianggarkan. Anggota masyarakat memiliki hak dan akses yang sama
untuk mengetahui proses anggaran karena menyangkut aspirasi dan
kepentingan masyarakat, terutama pemenuhan kebutuhan-kebutuhan
hidup
masyarakat.
Masyarakat
juga
berhak
untuk
menuntut
pertanggungjawaban
atas
rencana
ataupun
pelaksanaan
anggaran
tersebut.
c.
Disiplin anggaran

Pendapatan

yang direncanakan

merupakan

perkiraan

yang

terukur

secara

rasional

yang

dapat

dicapai

untuk

setiap

sumber

pendapatan, sedangkan belanja yang dianggarkan

merupakan batas

20

tertinggi

pengeluaran

belanja.

Penganggaran

pengeluaran

harus

didukung dengan adanya kepastian tersedianya penerimaan dalam

jumlah yang cukup dan tidak dibenarkan melaksanakan kegiatan yang

d.

belum

tersedia

atau

tidak

mencukupi

kredit

anggarannya

dalam

APBD atau perubahan APBD. Semua penerimaan dan pengeluaran

Keadilan anggaran yang dibebankan kepada masyarakat harus
Keadilan anggaran
yang
dibebankan
kepada
masyarakat
harus

daerah dalam tahun anggaran yang bersangkutan harus dianggarkan

dalam APBD dan dilakukan melalui rekening kas umum daerah

Pajak daerah, retribusi daerah, dan pungutan daerah lainnya

dipertimbangkan

kemampuan untuk membayar. Dalam mengalokasikan belanja daerah,

pemerintah daerah wajib mengalokasikan penggunaan anggarannya

secara adil dan merata agar dapat dinikmati oleh seluruh kelompok

masyarakat tanpa diskriminasi dalam pemberian pelayanan karena

pendapatan daerah pada hakekatnya diperoleh melalui peran serta

e.

masyarakat.

Efisiensi dan efektifitas anggaran

Penyusunana anggaran hendaknya dilakukan berdasarkan azas

efisiensi, tepat guna, tepat waktu pelaksanaan, dan penggunaannya

dapat

dipertanggungjawabkan.

Dana

yang

tersedia

harus

dimanfaatkan

dengan

sebaik

mungkin

untuk

dapat

menghasilkan

peningkatan

pelayanan

dan

kesejahteraan

yang

maksimal

untuk

kepentingan masyarakat.

21

f. Taat azas Penyusunan APBD tidak boleh bertentangan dengan peraturan perundang-undangan yang lebih tinggi,
f.
Taat azas
Penyusunan APBD tidak boleh bertentangan dengan peraturan
perundang-undangan
yang
lebih
tinggi,
kepentingan
umum,
dan
peraturan daerah lainnya.
g.
Disusun dengan pendekatan kinerja
APBD
disusun
dengan
pendekatan
kinerja,
yaitu
mengupayakan pencapaian hasil kerja (output atau outcome) dari
perencanaan alokasi biaya atau input yang telah ditetapkan. Selain itu
harus mampu menumbuhkan profesionalisme kerja disetiap organisasi
kerja yang terkait.
4.
Kebijakan Umum APBD (KUA) dan Prioritas dan Plafon Anggaran
(PPA)
Kebijakan
Umum
APBD
(KUA)
dan
Prioritas
dan
Plafon
Anggaran (PPA) merupakan dua dokumen utama dalam penyusunan

APBD. KUA adalah dokumen yang memuat kebijakan bidang pendapatan,

belanja, dan pembiayaan serta asumsi yang mendasari untuk 1 (satu)

tahun. KUA adalah salah satu alat perencanaan dalam penganggaran

berbasis kinerja. Oleh karena penyusunan KUA sedapat mungkin memuat

target pencapaian kinerja yang terukur dari setiap program dan kegiatan

menurut

urusan

pemerintahan

daerah

yang

disertai

dengan

proyeksi

pendapatan

daerah,

alokasi

belanja

daerah,

sumber

dan

penggunaan

pembiayaan

yang

disertai

dengan

asumsi

yang

mendasarinya,

yakni

perkembangan ekonomi.

22

a. Pendapatan daerah

Pendapatan daerah meliputi semua penerimaan uang melalui

rekening kas umum daerah, yang menambah ekuitas dana, merupakan

hak daerah dalam satu tahun anggaran dan tidak perlu dibayar kembali

oleh daerah. Pendapatan daerah adalah hak pemerintah daerah yang

dicapai untuk setiap sumber pendapatan. Pendapatan dikelompokkan atas: 1) jenis pendapatan yang terdiri atas :
dicapai
untuk
setiap
sumber
pendapatan.
Pendapatan
dikelompokkan atas:
1)
jenis pendapatan yang terdiri atas :
a)
Pajak daerah;
b)
Retribusi daerah;
c)
Hasil pengelolaan kekayaan daerah yang dipisahkan; dan

diakui sebagai penambah nilai kekayaan bersih. Pendapatan daerah

tersebut merupakan perkiraan yang terukur secara rasional yang dapat

daerah

Pendapatan Asli Daerah (PAD), kelompok PAD dibagi menurut

d) Lain-lain pendapatan asli daerah yang sah

2)

Dana

perimbangan,

kelompok

pendapatan

dana

perimbangan

dibagi menurut jenis pendapatan yang terdiri atas

a) Dana bagi hasil terdiri dari bagi hasil pajak dan bagi hasil

bukan pajak;

b) Dana alokasi umum; dan

c) Dana alokasi khusus.

23

3)

Lain-lain

pendapatan

daerah

yang

sah,

kelompok

lain-lain

pendapatan daerah yang sah dibagi menurut jenis pendapatan yang

mencakup :

a) Hibah berasal dari pemerintah, pemerintah daerah lainnya,

badan

atau

lembaga

atauorganisasi

swasta

dalam

negeri,

kelompok masyarakat atau perorangan, dan lembaga luar negeri yang tidak mengikat; b) Dana darurat dari
kelompok
masyarakat
atau
perorangan,
dan
lembaga
luar
negeri yang tidak mengikat;
b)
Dana darurat dari pemerintah dalam rangka penanggulangan
korban atau kerusakan akibat becana alam;
c)
Dana bagi hasil pajak dari provinsi kepada kabupaten atau kota
d)
Dana penyesuaian dan dana otonomi khusus yang ditetapkan
oleh pemerintah; dan
e)
Bantuan keuangan dari provinsi atau dari pemerintah daerah
lainnya

Pendapatan daerah tidak sama dengan penerimaan daerah.

Penerimaan

daerah

adalah

uang

yang

masuk

ke

kas

daerah.

Penerimaan daerah terdiri dari pendapatan daerah dan penerimaan

pembiyaan daerah

b. Belanja Daerah

 

Belanja

daerah

adalah

kewajiban

pemerintah

daerah

yang

diakui

sebagai

pengurang

nilai

kekayaan

bersih.

Belanja

daerah

merupakan perkiraan beban pengeluaran daerah yang dialokasikan

secara adil dan merata agar relatif dapat dinikmati oleh seluruh

24

kelompok masyarakat tanpa diskriminasi, khususnya dalam pemberian

pelayanan umum. Belanja daerah meliputi semua pengeluaran dari

rekening kas umum daerah yang menggunakan ekuitas dana lancar,

yang merupakan kewajiban daerah dalam satu tahun anggaran yang

tidak akan diperoleh pembayarannya kembali oleh daerah. Belanja

daerah dapat dibedakan menurut urusan menjadi kewenangan daerah. Menurut fungsinya, dibedakan atas :
daerah
dapat
dibedakan
menurut
urusan
menjadi
kewenangan
daerah.
Menurut
fungsinya,
dibedakan atas :

pemerintahan

daerah,

organisasi, program, kegiatan, kelompok, jenis, obyek, dan rincian

obyek belanja. Belanja menurut urusan pemerintah dibedakan atas

organisasi

belanja urusan wajib dan belanja urusan pilihan. Menurut

organisasi, belanja daerah dibedakan berdasarkan susunan organisasi

pemerintahan daerah. Sementara itu, belanja daerah menurut program

dan kegiatan ditetapkan sesuai dengan urusan pemerintahan yang

belanja

daerah

1)

Pelayanan Umum;

2)

Ketertiban dan Keamanan;

3)

Ekonomi;

4)

Lingkungan Hidup;

5)

Perumahan dan Fasilitas Umum;

6)

Kesehatan;

7)

Pariwisata dan Budaya;

8)

Agama;

25

10) Perlindungan Sosial.

Menurut Pasal 39 Peraturan Pemerintah No. 58 Tahun 2005

tentang Pengelolaan Keuangan Tanggung jawab Keuangan Negara,

setiap jenis belanja yang dianggarkan harus memperhatikan keterkaitan

pendanaan dengan keluaran dan hasil yang diharapkan dari program

keluaran dan hasi tersebut. Berdasarkan Tidak Langsung adalah belanja yang dianggarkan langsung dengan
keluaran
dan
hasi
tersebut.
Berdasarkan
Tidak
Langsung
adalah
belanja
yang
dianggarkan
langsung
dengan
program
kegiatan,
sementara

dan kegiatan yang dianggarkan, termasuk efisiensi dalam pencapaian

tersebut,

ketentuan

Permendagri No. 13 Tahun 2006 juga membedakan Belanja Daerah

menjadi Belanja Tidak Langsung dan Belanja Langsung. Belanja

tidak

terkait

Langsung

Belanja

merupakan belanja yang dianggarkan terkait secara langsung dengan

pelaksanaan program dan kegiatan, sementara. Belanja Daerah tidak

sama dengan Pengeluaran Daerah. Pengeluaran Daerah adalah uang

yang masuk ke kas daerah. Pengeluaran Daerah terdiri dari Belanja

Daerah dan Pengeluaran Pembiayaan Daerah. Belanja Tidak Langsung

diklasifikasikan menjadi :

1)

Belanja Pegawai;

2)

Bunga;

3)

Subsidi;

4)

Hibah;

5)

Bantuan Sosial;

26

7)

Bantuan Keuangan; dan

8)

Belanja Tak Terduga.

Sementara itu, Belanja Langsung diklasifikasikan menjadi

c.

1) Belanja Pegawai

2) Belanja Barang dan Jasa

3) Belanja Modal Pembiayaan Daerah Pembiayaan Daerah adalah semua tahun anggaran berikutnya. Dengan demikian
3) Belanja Modal
Pembiayaan Daerah
Pembiayaan
Daerah
adalah
semua
tahun
anggaran
berikutnya.
Dengan
demikian

penerimaan

yang

perlu

dibayar kembali dan atau pengeluaran yang akan diterima kembali,

baik pada tahun anggaran yang bersangkutan maupun pada tahun-

daerah

pembiayaan

terdiri dari penerimaan pembiayaan dan pengeluaran pembiayaan.

Selisih dari penerimaan pembiayaan dan pengeluaran pembiayaan

disebut pembiayaan neto dan jumlahnya harus dapat menutup difisit

anggaran.

1)

Penerimaan pembiayaan mencakup :

a) Sisa lebih perhitungan anggaran tahun anggaran sebelumnya

(SiLPA);

b) Pencairan dana cadangan;

c) Hasil penjualan kekayaan daerah yang dipisahkan;

d) Penerimaan pinjaman daerah;

e) Penerimaan kembali pemberian pinjaman; dan

f) Penerimaan piutang daerah.

27

5.

2)

Pengeluaran pembiayaan :

a) Pembentukan dana cadangan;

b) Penanaman modal pemerintah daerah;

c) Pembayaran pokok utang; dan

d) Pemberian pinjaman daerah

Anggaran daerah mempunyai peranan penting otorisasi mengandung pengertian bahwa yang bersangkutan;
Anggaran
daerah
mempunyai
peranan
penting
otorisasi
mengandung
pengertian
bahwa
yang bersangkutan;

Fungsi

Fungsi Anggaran Daerah

dalam

sistem

keuangan daerah. Peran anggaran daerah dapat dilihat berdasarkan fungsi

utamanya yaitu, (Ritonga, 2009: 92) :

a.

anggaran

daerah

menjadi dasar untuk melaksanakan pendapatan dan belanja pada tahun

b. Fungsi perencanaan mengandung arti bahwa anggaran daerah menjadi

pedoman bagi manajemen dalam merencanakan kegiatan pada tahun

yang bersangkutan;

c. Fungsi pengawasan mengandung arti bahwa anggaran daerah menjadi

pedoman untuk menilai apakah kegiatan penyelenggaraan pemerintah

daerah sesuai dengan ketentuan yang telah ditetapkan;

d. Fungsi

alokasi

mengandung

arti

bahwa

anggaran

daerah

harus

diarahkan

untuk

menciptakan

lapangan

kerja

atau

mengurangi

pengangguran

dan

pemborosan

sumber

daya,

serta

meningkatkan

efisiensi dan efektifitas perekonomian;

28

e. Fungsi distribusi mengandung arti bahwa kebijakan anggaran daerah

harus memperhatikan rasa keadilan dan kepatutan;

f. Fungsi stabilisasi mengandung arti bahwa anggaran pemerintah daerah

menjadi

alat

untuk

memelihara dan

mengupayakan

keseimbangan

fundamental perekonomian daerah.

Secara lebih spesifik, fungsi anggaran daerah instrument formal yang menghubungkan eksekutif besar alokasi
Secara
lebih
spesifik,
fungsi
anggaran
daerah
instrument
formal
yang
menghubungkan
eksekutif
besar
alokasi
dana,
anggaran
daerah
dapat
kegiatan
ekonomi
masyarakat
guna
mempercepat

dalam

proses

pembangunan di daerah menurut Ritonga (2009: 96) adalah :

a. Instrumen kebijakan (policy tools). Anggaran daerah adalah salah satu

daerah

dengan

tuntutan dan kebutuhan publik yang diwakili oleh legislative daerah;

b. Intrumen kebijakan fiskal (fiscal tool). Dengan mengubah prioritas dan

untuk

digunakan

mendorong, memberikan fasilitas dan mengkoordinasikan kegiatan-

pertumbuhan

ekonomi di daerah;

c. Intrumen perencanaan (planning tool). Di dalam anggaran daerah

disebutkan tujuan yang ingin dicapai, biaya dan output atau hasi yang

diharapkan dari setiap kegiatan di masing-masing unit kerja;

d. Instrumen pengendalian (control tool). Anggaran daerah berisi rencana

penerimaan dan pengeluaran secara rinci setiap unit kerja. Hal ini

dilakukan

agar

unit

kerja

tidak

melakukan

overspending

dan

underspending atau mangalokasikan anggaran pada bidang lain.

29

6. Siklus Perencanaan Anggaran Daerah

Perencanaan anggaran daerah secara keseluruhan yang mencakup

penyusunan

Kebijakan

Umum

APBD

sampai

dengan

disusunnya

Rancangan

APBD

terdiri

dari

beberapa

tahapan

proses

perencanaan

anggaran daerah. Berdasarkan Permendagri No. 13 Tahun 2006 adalah :

a.

b.

c.

d.

e.

dan plafon anggaran sementara (PPAS) (PPA)
dan plafon anggaran sementara (PPAS)
(PPA)

Penyusunan kebijakan umum APBD (KUA) dan dokumen prioritas

Pembahasan KUA dan PPAS antara pemerintah daerah dengan DPRD

Penetapan nota kesepahaman KUA dan prioritas dan plafon anggaran

Penyusunan dan penyampaian surat edaran kepala daerah tentang

pedoman penyusunan RKA-SKPD kepada seluruh SKPD

PPKD melakukan kompilasi RKA-SKPD menjadi Raperda APBD

untuk dibahas dan memperoleh persetujuan bersama dengan DPR

sebelum diajukan dalam proses evaluasi;

f.

Pembahasan

RKA-SKPD

oleh

tim

anggaran

pemerintah

daerah

g.

h.

(TAPD) dengan SKPD

Penyusunan rancangan peraturan daerah (Raperda) tentang APBD

Pembahasan Raperda APBD;

i.

Proses penetapan Perda APBD baru dapat dilakukan jika Mendagri

atau Gubernur menyatakan bahwa perda APBD tidak bertentangan

dengan kepentingan umum dan peraturan perundangan yang lebih

tinggi;

30

j.

Penyusunan rancangan peraturan kepala daerah tentang penjabaran

APBD.

7. Pengertian Analisis Standar Belanja (ASB)

Menurut Pusat Antar Universitas Studi Ekonomi UGM (2000: 24)

menyatakan bahwa Standar Analisis Belanja (SAB) adalah perkiraan

bahwa Standar Analisis Belanja (SAB) adalah perkiraan jumlah alokasi dana untuk berbagai jenis pengeluaran di

jumlah alokasi dana untuk berbagai jenis pengeluaran di dalam unit kerja.

Alasan menerapkan Standar Analisis Belanja adalah untuk menghasilkan

alokasi dana yang lebih akurat, sehingga setiap dana yang dikeluarkan

didasarkan atas proses perhitungan yang wajar dan rasional. Dengan

demikian mendorong unit kerja untuk melaksanakan prinsip ekonomi,

efektif dan efisien secara berkesinambungan

Menurut Ritonga (2009: 241) Analisis Standar Belanja (ASB) yaitu

pedoman yang digunakan untuk menganalisis kewajaran beban kerja dan

belanja setiap program atau kegiatan yang akan dilaksanakan oleh suatu

Satuan Kerja Perangkat Daerah (SKPD) dalam satu tahun anggaran. ASB

merupakan

suatu

pendekatan

yang

digunakan

oleh

Tim

Anggaran

Pemerintah

Daerah

(TAPD)

untuk

mengevaluasi

usulan

program,

kegiatan, dan anggaran setiap SKPD dengan cara menganalisis kewajaran

beban kerja dan belanja dari setiap usulan program atau kegiatan yang

bersangkutan.

Penilaian

kewajaran

beban

kerja

usulan

program

atau

kegiatan

terkait

dengan

kebijakan

anggaran,

komponen

dan

tingkat

pelayanan yang akan dicapai, jangka waktu pelaksanaan, serta kapasitas

satuan kerja untuk melaksanakannya.

31

Beban kerja program atau kegiatan yang diusulkan SKPD dapat

dinilai kewajarannya berdasarkan pertimbangan sebagai berikut :

a.

Kaitan logis antara program atau kegiatan yang di usulkan dengan

strategi dan prioritas APBD;

b.

Kesesuaian antara program atau kegiatan yang diusulkan dengan tugas

pokok dan fungsi satuan kerja yang bersangkutan; waktu satu tahun anggaran. Berdasarkan penjelasan Undang-undang No.
pokok dan fungsi satuan kerja yang bersangkutan;
waktu satu tahun anggaran.
Berdasarkan
penjelasan
Undang-undang
No.
32

Kapasitas SKPD yang bersangkutan untuk melaksanakan program atau

kegiatan pada tingkat pencapaian yang diinginkan dan dalam jangka

Tahun

2004

c.

tentang Pemerintahan Daerah, Pasal 167 ayat 3 tentang Analisis Standar

Belanja dan Peraturan Menteri Dalam Negeri No. 13 Tahun 2006 tentang

Pedoman Pengelolaan Keuangan Daerah Pasal 93 adalah sebagai berikut :

” Analisis Standar Belanja (ASB) adalah penilaian kewajaran atas beban

kerja dan biaya yang digunakan untuk melaksanakan suatu kegiatan”.

8. Landasan Hukum Analisis Standar Belanja (ASB)

Regulasi-regulasi yang mengamanatkan agar Pemerintah Daerah

menerapkan ASB antara lain adalah :

a. Undang-Undang No. 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah,

Pasal 167 ayat (3) : ”Belanja daerah sebagaimana dimaksud pada ayat

(1)

mempertimbangkan

Analisis

Standar

Belanja,

Standar

Harga,

Tolok Ukur Kinerja, dan Standar Pelayanan Minimal yang ditetapkan

sesuai dengan peraturan perundang-undangan”;

32

b.

Penjelasan Undang-Undang No. 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan

Daerah, Pasal 167 ayat (3):

”Yang

dimaksud

dengan

Analisis

Standar

Belanja

(ASB)

adalah

penilaian kewajaran atas beban kerja dan biaya yang digunakan untuk

c.

d.

melaksanakan kerja dan biaya yang digunakan untuk melaksanakan

kegiatan”; Peraturan Pemerintah No. 58 Tahun 2005 tentang Pengelolaan Keuangan Daerah Pasal 39 ayat (2)
kegiatan”;
Peraturan
Pemerintah
No.
58
Tahun
2005
tentang
Pengelolaan
Keuangan
Daerah
Pasal
39
ayat
(2)
:
”Penyusunan
anggaran
berdasarkan
prestasi
kerja
sebagaimana
dimaksud
pada
ayat
(1)
dilakukan
berdasarkan
capaian
kinerja,
indikator
kinerja,
analisis
standar belanja, standar satuan harga, dan standar pelayanan minimal”;
Peraturan
Pemerintah
No.
58
Tahun
2005
tentang
Pengelolaan
Keuangan Daerah Pasal 41 ayat (3), ”Pembahasan oleh tim anggaran
pemerintah daerah sebagaimana dimaksud pada ayat (2) dilakukan

untuk

menelaah

kesesuaian

antara

RKA-SKPD

dengan

kebijakan

umum APBD, prioritas dan plafon anggaran sementara, prakiraan maju

yang

telah

disetujui

tahun

anggaran

sebelumnya,

dan

dokumen

perencanaan lainnya, serta capaian kinerja, indikator kinerja, analisis

standar belanja, standar satuan harga, dan standar pelayanan minimal”;

e.

Peraturan Menteri Dalam Negeri No. 13 Tahun 2006 tentang Pedoman

Pengelolaan Keuangan Daerah 89 ayat (2) : “Rancangan surat edaran

kepala daerah tentang pedoman penyusunan RKA-SKPD sebagaimana

dimaksud pada ayat (1) mencakup:dokumen sebagai lampiran meliputi

33

KUA,

PPA,

kode

rekening

APBD,

format

RKA-SKPD,

analisis

standar belanja, dan standar satuan harga”;

f. Peraturan Menteri Dalam Negeri No. 13 Tahun 2006 tentang Pedoman Pengelolaan Keuangan Daerah Pasal
f.
Peraturan Menteri Dalam Negeri No. 13 Tahun 2006 tentang Pedoman
Pengelolaan Keuangan Daerah Pasal 93 yang berbunyi:
1)
“Penyusunan RKA-SKPD berdasarkan prestasi kerja sebagaimana
dimaksud dalam Pasal 90 ayat (2) berdasarkan pada : Indikator
Kinerja, Capaian atau Target Kinerja, Analisis Standar Belanja
(ASB),
standar
satuan
harga,
dan
standar
pelayanan
minimal
(SPM)”.
2)
”Analisis Standar Belanja sebagaimana dimaksud pada ayat (1)
merupakan penilaian kewajaran atas beban kerja dan biaya yang
digunakan untuk melaksanakan suatu kegiatan”;
g.
Peraturan Menteri Dalam Negeri No. 13 Tahun 2006 tentang Pedoman
Pengelolaan Keuangan Daerah Pasal 100 ayat (2) : ”Pembahasan oleh
TAPD sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilakukan untuk menelaah
kesesuaian antara RKA-SKPD dengan KUA, PPA, prakiraan maju
yang
telah
disetujui
tahun
anggaran
sebelumnya,
dan
dokumen
perencanaan lainnya, serta capaian kinerja, indikator kinerja, kelompok
sasaran kegiatan, standar analisis belanja, standar satuan harga, standar
pelayanan minimal, serta sinkronisasi program dan kegiatan antar
SKPD”;
h.
Peraturan
Menteri
Dalam
Negeri
No.
59
Tahun
2007
tentang

Perubahan Atas Peraturan Menteri Dalam Negeri No. 13 Tahun 2006

34

Tentang Pedoman Pengelolaan Keuangan Daerah Pasal 89 ayat (2) :

“Rancangan surat edaran kepala daerah tentang pedoman penyusunan

RKA-SKPD sebagaiman dimaksud pada ayat (1) mencakup:

Dokumen sebagai lampiran surat edaran meliputi KUA, PPAS, analisis

i.

j.

standar belanja dan standar satuan harga”;

Peraturan Menteri Dalam Negeri No. 59 Tahun “Pembahasan oleh TAPD sebagaimana dimaksud dilakukan untuk
Peraturan
Menteri
Dalam
Negeri
No.
59
Tahun
“Pembahasan
oleh
TAPD
sebagaimana
dimaksud
dilakukan
untuk
menelaah
kesesuaian
rencana
standar analisis belanja, standar satuan harga”;
Pedoman
Penyusunan
Anggaran
Pendapatan
dan

2007

tentang

Perubahan Atas Peraturan Menteri Dalam Negeri No. 13 Tahun 2006

tentang Pedoman Pengelolaan Keuangan Daerah Pasal 100 ayat (2) :

pada

ayat

(1)

dengan

anggaran

Lampiran Peraturan Menteri Dalam Negeri No. 32 Tahun 2008 tentang

Daerah

Belanja

Tahun Anggaran 2009, (Romawi III) Teknis Penyusunan APBD No. 4:

”Substansi Surat Edaran Kepala Daerah tentang Pedoman Penyusunan

RKA-SKPD kepada seluruh SKPD dan RKA-PPKD kepada SKPKD

lebih disederhanakan, hanya memuat prioritas pembangunan daerah

dan program atau kegiatan yang terkait, alokasi plafon anggaran

sementara untuk setiap program atau kegiatan SKPD kepada PPKD

dan dokumen sebagai lampiran Surat Edaran dimaksud meliputi KUA,

PPAS, Analisis Standar Belanja, dan Standar Satuan Harga.

35

9. Prinsip Dasar Penyusunan ASB

Menurut Tanjung (2010: 3) dalam penyusunan ASB, ada beberapa

prinsip dasar yang harus diperhatikan pemerintah daerah yaitu :

a.

b.

c.

d.

Penyederhanaan (modeling)

Penyusunan ASB bertujuan membuat model belanja untuk objek-objek

kegiatan yang menghasilkan output yang sama. Mudah diaplikasikan yang menggunakan model tersebut. Mudah diup-date
kegiatan yang menghasilkan output yang sama.
Mudah diaplikasikan
yang menggunakan model tersebut.
Mudah diup-date
Model
yang
dibuat
mudah
untuk
diperbarui,
keseluruhan.
Fleksibel,

Model yang dibuat mudah diaplikasikan, atau tidak membuat susah

dalam

arti

jika

ditambahkan data baru tidak merubah formula model tersebut secara

Model

yang

dibuat

menggunakan

konsep

belanja

rata-rata

dan

memiliki batas minimum belanja dan batas maksimum belanja.

10. Peranan ASB Dalam Penyusunan Anggaran

Sesuai dengan isi Permendagri No. 13 Tahun 2006 pasal 93 ayat

(1), menyatakan bahwa penyusunan RKA-SKPD berdasarkan ASB (salah

satu

dasar),

dan

pada

pasal

4

menyatakan

bahwa

ASB

merupakan

penilaian kewajaran atas beban kerja dan biaya yang digunakan untuk

melaksanakan suatu kegiatan, serta memperhatikan prinsip-prinsip dasar

36

penyusunan ASB. Maka dapat dikatakan peranan ASB dalam penyusunan

anggaran pada pemerintah daerah adalah sebagai berikut :

a.

Menjamin kewajaran beban kerja dan biaya yang digunakan antar

SKPD dalam melakukan kegiatan sejenis;

b.

Mendorong terciptanya anggaran daerah yang semakin efisien dan

efektif; kegiatan; ditetapkan dalam RKA-SKPD. berbagai tahap pengelolaan keuangan daerah.
efektif;
kegiatan;
ditetapkan dalam RKA-SKPD.
berbagai
tahap
pengelolaan
keuangan
daerah.

Memudahkan Tim Anggaran Pemerintah Daerah (TAPD) melakukan

verifikasi total belanja yang diajukan dalam RKA-SKPD untuk setiap

Memudahkan SKPD dan TPAD dalam menghitung besarnya anggaran

total belanja untuk setiap jenis kegiatan berdasarkan target output yang

Menurut Ritonga (2009: 11-12) ASB memiliki peran yang penting

Berikut

akan

c.

d.

dalam

dijelaskan peran ASB pada berbagai tahapan tersebut :

a. Tahap Perencanaan Keuangan Daerah

ASB dapat digunakan pada saat perencanaan keuangan daerah.

ASB dapat dipergunakan pada saat musrembang, penyusunan rencana

kerja SKPD (renja SKPD), dan penyusunan rencana kerja pemerintah

daerah (RKPD). Pada tahap-tahap tersebut ASB digunakan oleh para

perencana

untuk

mengarahkan

para

pengusul

kegiatan,

baik

masyarakat maupun aparatur pemda, untuk fokus pada kinerja. Apabila

tanpa ASB, maka perencana hanya sekedar mencatat usulan nama-

37

nama kegiatan dari para pengusul. Dengan adanya ASB, maka para

perencana akan bertanya lebih jauh lagi kepada pengusul tentang

pemicu kinerja (cost driver) kegiatan

yang diusulkan agar dapat

menentukan plafon anggaran kegiatan yang diusulkannya.

b. Tahap Penganggaran Keuangan Daerah

ASB digunakan pada saat proses penyusunan rencana kerja anggaran. ASB program, kegiatan dan menjadi RKA-SKPD.
ASB
digunakan
pada
saat
proses
penyusunan
rencana
kerja
anggaran.
ASB
program, kegiatan dan
menjadi
RKA-SKPD.
RKA-SKPD
berisi
rencana

penganggaran

keuangan

daerah, yaitu pada saat penentuan plafon anggaran sementara dan

oleh

Tim

digunakan

Anggaran Pemerintah Daerah (TAPD) untuk mengevaluasi usulan

anggaran setiap satuan kerja dengan cara

menganalisis kewajaran antara beban kerja dan biaya dari usulan

program atau kegiatan yang bersangkutan. ASB digunakan pada saat

mengkuantitatifkan target kinerja program dan kegiatan setiap SKPD

program

dan

kegiatan yang akan dilaksanakan beserta usulan anggaran yang akan

digunakan. Untuk mengetahui beban kerja dan beban biaya yang

optimal dari setiap usulan program atau kegiatan yang diusulkan,

langkah yang harus dilakukan adalah dengan menggunakan formula

perhitungan ASB yang terdapat pada masing-masing ASB. Tidak

hanya TAPD, tim anggaran DPRD juga menggunakan ASB untuk

meneliti

kewajaran

anggaran

dan

beban

kerja

dari

setiap

usulan

kegiatan

yang

diajukan

oleh

pemerintah

daerah

sebelum

mengesahkannya menjadi Dokumen Pelaksanaan Anggaran (DPA).

38

c. Tahap Pengawasan atau Pemeriksaan

Pada tahap pengawasan atau pemeriksaan dapat menggunakan

ASB untuk menentukan batasan mengenai pemborosan dari suatu

kegiatan. Penganggaran suatu kegiatan dikatakan efisien jika pagu

anggaran

kegiatan

tersebut

tidak

melampaui

pagu

ASB.

Apabila

yang disebut dengan pemborosan. Heinrich (2002: 714) menyatakan bahwa outcome ini akan menghasilkan informasi.
yang disebut dengan pemborosan.
Heinrich
(2002:
714)
menyatakan
bahwa
outcome
ini
akan
menghasilkan
informasi.

penganggaran belanja suatu kegiatan melebihi pagu ASB maka inilah

11. Anggaran Berbasis Kinerja

diperlukan

sistem

manajemen berbasis outcome agar kinerja manajer publik atau aparat

pemerintah lebih efektif dari pada dengan pendekatan tradisional pada

pengendalian birokrat. Sistem manajemen atau pengukuran kinerja yang

yang

berbasis

Informasi

diperoleh dari pengukuran kinerja bisa digunakan untuk memberikan

informasi kepada pengelola program dalam berbagai tingkat organisasi.

Mardiasmo

(2002:

169) menyatakan

bahwa

kelemahan

utama

dalam manajemen pengeluaran rutin daerah adalah tidak adanya ukuran

kinerja yang dapat dijadikan acuan bagi pemerintah daerah dalam proses

perencanaan,

ratifikasi,

implementasi

dan

evaluasi

pengeluaran

rutin

daerah. Hal ini berdampak pada kecenderungan kurangnya perhatian pada

decision maker anggaran daerah terhadap konsep nilai uang (value for

money). Seperti halnya pada pengeluaran rutin, permasalahan yang ada

pada pengeluaran pembangunan pun sama.

39

Pada pos pengeluaran rutin, satu-satunya ukuran kinerja yang

dipakai

adalah

aturan

bahwa

jumlah

dana

untuk

pengeluaran

pembangunan yang tertera dalam anggaran daerah adalah jumlah dana

maksimal yang dapat dibelanjakan untuk setiap pos pengeluaran anggaran.

Dengan

demikian

bila

pada

pengeluaran

rutin

pemerintah

daerah

ada 3 (tiga) hal
ada
3
(tiga) hal

cenderung menghabiskan dana maka pada pengeluaran pembangunan hal

yang sama juga akan terjadi. Karena ukuran kinerja lainnya tidak ada,

maka dasar evaluasi pengeluaran pembangunan akan menggunakan rerata

proporsi dana yang dialokasikan untuk setiap sektor yang ada dalam

kelompok pengeluaran pembangunan. Dengan menggunakan alat evaluasi

ini, terlihat bahwa rata-rata alokasi dana aparatur pemerintah masih tinggi.

Dapat diidentifikasikan

yang harus dibenahi dalam

perencanaan pengeluaran. Pertama, konsep batas maksimal yang ada pada

pos pengeluaran rutin dan pengeluaran pembangunan sebaiknya diganti,

hal ini karena pada kenyataan di lapangan konsep ini telah menjadi dasar

bagi unit kerja pemerintah di daerah untuk menghabiskan anggaran.

Kedua,

konsep

tradisional

budget

yang

membatasi

jenis-jenis

pengeluaran, baik rutin maupun pembangunan harus sudah diganti untuk

jenis-jenis

pengeluaran

yang lebih

rasional

sesuai

dengan

kebutuhan

daerah. Ketiga, untuk identifikasi kebutuhan dana pada pos pengeluaran

atau belanja rutin daerah, maka ukuran kinerja yang sederhana adalah

dengan melihat beban kerja (workload) dan biaya rutin rata-rata (unit

cost).

Dalam

rangka

identifikasi

kebutuhan

pos

pengeluaran

40

pembangunan, ukuran kinerja yang harus dibuat oleh daerah menjadi lebih

kompleks atau rumit Mardiasmo (2002: 174)

Mengutip

pendapat

Vazquez

(1997)

menyatakan

bahwa

pengukuran kebutuhan pengeluaran (expenditure needs) dalam kontek

intergovernmental

relationship

merupakan

pekerjaan

yang

sulit

lihat

menghitung biaya penyediaan standar tingkat daerah;
menghitung biaya penyediaan
standar tingkat
daerah;

Asmaldi (2002:10). Beberapa teknik mengestimasi kebutuhan pengeluaran

pemerintah adalah:

1.

pelayanan

di

suatu

2.

menggunakan Analisis Regresi, metode ini merupakan

cara yang

canggih dengan menggunakan data pengeluaran aktual, namun teknis

ni hanya menyajikan pengukuran kebutuhan relatif antar daerah dan

mengabaikan perbedaan-perbedaan tingkat harga, efisiensi penyediaan

pelayanan, aturan, tingkat preferensi dan kualitas pelayanan antar

daerah. Metode ini sulit diterapkan di negara-negara yang dalam masa

transisi atau negara-negara sedang berkembang di mana informasi atau

data sulit diperoleh dan kwalitasnya pun kadang diragukan.