Anda di halaman 1dari 3

Kebudayaan sebagai Sistem Adaptasi (Prof. Dr.

Mundardjito)

Uraikan secara jelas pengelolaan hutan di Sangeh (Bali) dari sudut pandang
“Systems Ecology” yang menekankan pada “mutual casuality” yang kompleks.

Melalui tulisannya Agricultural Involution (1963), Clifford Geertz menjadi


salah seorang tokoh berpengaruh dalam bidang antropologi ekologis. Pendekatan
yang ia gunakan berasal dari ekologi budaya tetapi cara pandangnya berdasarkan
konsep sistem, yaitu sekumpulan objek dan hubungan yang ada antara objek tersebut
dan atributnya. Sistem yang digunakan oleh Geertz tidak berfokus pada hubungan
resiprokal (‘reciprocal causality”) antara dua objek atau proses, tetapi sistem yang
berfokus pada jaringan kompleks hubungan sebab akibat. Metode dari sistem analisa
yang digunakan adalah mendefinisikan terlebih dahulu batasan dan lingkungan suatu
sistem. Lalu, membuat model kekompleksannya sehingga sistem tingkah laku dapat
dipelajari dan diprediksikan. Selain itu, Geertz menganggap konsep ekosistem
(sistem ekologi) adalah kesimpulan yang masuk akal dari interaksi yang terus
berlangsung antara budaya, biologi dan lingkungan.

Dengan menggunakan sudut pandang “Systems Ecology” yang menekankan


pada “mutual casuality” yang kompleks, kita dapat melihat kalau kelestarian hutan di
Sangeh (Bali) tidak dapat dilepaskan dari peranan masyarakat yang berada di dalam
dan di sekitar hutan yang bersangkutan.

Hutan Sangeh di Bali dikelola oleh suatu komunitas kecil, yaitu Desa Adat,
sejak tiga abad yang lalu. Walaupun dari segi lokasinya hutan Sangeh sebenarnya
sangat rawan perusakan karena menyatu dengan daerah permukiman dan pertanian
penduduk, tetapi hutan itu tetap dapat terus lestari karena masyarakat di sana
menjaga kelestarian hutan itu dengan sungguh- sungguh. Pelestarian hutan bukan
berarti menutup kawasan hutan itu atau mengasingkannya dalam kondisi yang sama
sekali tidak bisa dijamah melainkan mengelolanya dengan cara- cara tertentu
sehingga menjamin pemanfaatan sumber daya alam yang berkelanjutan atau bersifat
lestari.

1
Pelestarian hutan Sangeh tidak bisa dilepaskan dari peranan Desa Adat
Sangeh dalam mengembangkan mekanisme kontrol sosial tertentu yang
mempengaruhi cara berpikir dan perilaku warganya sehingga mereka tidak menjadi
perusak hutan. Faktor terpenting yang melandasi mekanisme kontrol yang dihasilkan
oleh Desa Adat Sangeh adalah seperangkat kepercayaan mengenai keberadaan hutan
Sangeh yang dianut oleh masyarakat setempat.

Pertama, kepercayaan bahwa Hutan Sangeh adalah alas duwe atau hutan
milik dewa. Karena dihuni para dewa serta pangiringnya berupa ular dan harimau
gaib, hutan Sangeh dianggap tenget, angker atau keramat. Masyarakat setempat
yakin bahwa mereka yang mengganggu hutan Sangeh akan dimarahi atau dikenai
sanksi oleh dewa, dengan akibat yang tidak mesti dirasakan seketika. Cepat atau
lambat orang yang merusak hutan Sangeh akan terkena sanksi para dewa.

Keberadaan para dewa menjadi lebih nyata dengan adanya pura- pura dalam
hutan tersebut. Ada empat buah pura, yaitu Pura Bukit Sari (Pura Puncak Sari), Pura
Melanting, Pura Tirtha, dan Pura Anyar (Pura Bata Pule). Pada pura- pura itulah para
dewa beserta pengiringnya bersemayam, membentuk suatu komunitas. Keberadaan
pura- pura sebagai tempat pemukiman dewa mengakibatkan para dewa yang bersifat
niskala atau gaib, menjadi seolah- olah sekala atau nyata. Dewa yang bermukim
pada pura- pura tersebut tidak bisa dikelabui karena mempunyai sistem betel tingal
atau bisa melihat dari segala arah tanpa dibatasi oleh ruang dan waktu. Atau para
dewa bisa hadir di mana saja, kapan saja, dan bisa melakukan banyak hal pada waktu
yang sama tanpa dihalangi manusia. Karena itulah, maka para dewa yang bermukim
pada pura- pura tersebut selalu melakukan pengawasan eksternal secara niskala
terhadap hutan Sangeh sehingga kelestariannya tetap terjaga.

Kedua, kepercayaan bahwa pohon pale hanya boleh dipakai untuk bahan
bangunan suci (pura) atau sebagai bahan ritual untuk memuja para dewa. Kayu pale
termasuk jenis kayu Parhyangan yaitu kayu yang hanya diperuntukkan bagi
bangunan pura. Kepercayaan akan kayu pale sebagai kayu Parhyangan memperoleh
pengukuhan melalui ceritera rakyat bahwa Hutan Sangeh dijatuhkan dari angkasa
oleh dewa. Larangan penggunaan kayu pale untuk bangunan tempat tinggal juga

2
mencegah kemungkinan penebangan liar oleh penduduk. Pengumpulan buah dan
kulit pale pun dibatasi oleh aturan- aturan tertentu. Pemanfaatan hasil hutan non kayu
yang lain berupa kayu bakar untuk asep- asepan yaitu kayu bakar untuk upacara
keagamaan di pura juga dilakukan menurut aturan tertentu.

Selain itu, ada kepercayaan bahwa kera di hutan Sangeh adalah binatang
peliharaan dewa atau bojog duwe yang berarti kera (bojog) milik dewa (duwe).
Kepercayaan ini menyebabkan orang tidak berani mengganggu kera sekalipun satwa
liar itu sering mengganggu tanaman mereka. Sekalipun merugikan mereka,
masyarakat setempat tidak menyakiti atau membunuh kera. Di kalangan warga Desa
Adat Sangeh juga tersebar banyak cerita tentang orang yang ditimpa malapetaka atau
ditakut- takuti makhluk gaib karena melakukan kesalahan terhadap kera. Ceritera-
ceritera gaib yang menyebar dari mulut ke mulut itu berfungsi mengukuhkan
pengawasan internal. Orang tidak berani mengganggu kera karena takut mendapat
sanksi serupa.

Sebagai kesimpulan, pranata- pranata tradisional khususnya sistem


kepercayaan masyarakat setempat menyebabkan hutan di Sangeh dapat tetap lestari.

Daftar Pustaka

Atmadja, Nengah Bawa. 1993. “Pengelolaan Hutan Wisata Kera Sangeh oleh Desa
Adat Sangeh, Bali. Dalam Ekonesia, A Journal of Indonesian Human Ecology.
Vol.1, No. 1, , hal 1-22. Jakarta: Program Studi Antropologi, Program Pascasarjana
Univesitas Indonesia,

Hardesty, Donald. L. 1977. Introduction Dalam Ecological Anthropology. New


York: John Wiley and Sons.

Anda mungkin juga menyukai