Anda di halaman 1dari 18

1

A. JUDUL
Pelatihan Perawatan Mammae Pada Kader Posyandu dan Ibu Hamil di Desa
Kutasari Kecamatan Kutasari Kabupaten Purbalingga.
B. PENDAHULUAN
Menurut UNICEF (2012), kondisi pemberian ASI eksklusif di Indonesia
cukup memprihatinkan. Menurut Hasil Survey Demografi dan Kesehatan
Indonesia (SDKI) tahun 2007 menyebutkan ada sepertiga (32%) bayi berumur di
bawah enam bulan yang mendapatkan ASI eksklusif. Empat dari sepuluh bayi
yang berumur di bawah empat bulan (41%) dan 48% bayi umur kurang dari dua
bulan mendapatkan ASI eksklusif. Hal tersebut mengakibatkan jumlah bayi yang
di beri susu formula meningkat dari 16,7 % menjadi 27,9 %. Sedangkan data
Susenas tahun 2004 sampai dengan tahun 2008 menunjukkan bahwa cakupan
pemberian ASI eksklusif pada seluruh bayi di bawah 6 bulan meningkat dari
58,9% pada tahun 2004 menjadi 62,2% pada tahun 2007, tetapi kemudian
menetap dan sedikit menurun menjadi 56,2% tahun 2008. Data yang diperoleh
dari Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Tengah menyatakan cakupan pemberian ASI
eksklusif hanya 28,95% pada tahun 2008 (Kemenkes RI, 2010).
Keberhasilan pemberian ASI eksklusif ditunjang oleh cara menyusui yang
baik. Menyusui merupakan proses alamiah dan seni yang harus di pelajari.
Pengetahuan tentang menyusui mempunyai peranan yang penting dalam
mempertahankan kehidupan bayi baru lahir (Roesli, 2005). Menyusui mempunyai
keunggulan dan manfaat yang banyak bagi ibu dan bayi, namun sikap dan
perilaku ibu dalam menyusui bayi sendiri dianggap oleh sebagian masyarakat
sebagai cara tradisional sehingga sedikit demi sedikit ditinggalkan (Astutiningsih,
2008).
Keunggulan ASI bila ditinjau dari segi gizi merupakan makanan yang
paling sempurna. Dimana kandungan gizinya sesuai dengan kebutuhan untuk
pertumbuhan, perkembangan dan kecerdasan bayi ( Depkes, 2005). ASI diberikan
secara eksklusif selama 6 bulan, tanpa tambahan makanan (Kristiyansari, 2009).

Walaupun demikian, masih banyak ibu yang tidak menyadari akan manfaat ASI
dan masih menganggap bahwa susu formula lebih baik dari ASI.
Menteri Negara Pemberdayaan Perempuan Meutia Hatta (2009),
mengatakan bahwa kesadaran masyarakat untuk menyusui masih memprihatinkan
meskipun pemerintah gencar melakukan penyuluhan untuk meningkatkan
pemberian ASI karena kurangnya pengetahuan dan informasi.
Berdasarkan hasil penelitian Praktek Belajar Lapangan (PBL) II di Desa
Kutasari, terdapat 22,8% responden yang memberikan ASI Eksklusif selama 6
bulan. Banyak faktor yang ditetili untuk mengetahui penyebab dari sedikitnya ibu
yang memberikan ASI Eksklusif selama 6 bulan diantaranya adalah pekerjaan
ibu, pengetahuan ibu, sikap ibu, status gizi ibu, pola makan ibu, jumlah balita
dalam keluarga, dukungan suami, dukungan tenaga kesehatan, dan keterpaparan
informasi tentang ASI Eksklusif. Faktor dominan yang menyebabkan pemberian
ASI tidak Eksklusif ini adalah sikap ibu. Hal ini dibuktikan dengan hasil
penelitian yang menunjukan sebanyak 50% responden mempunyai sikap kurang
baik terhadap ASI eksklusif.
Berdasarkan hal tersebut, maka pada kegiatan PBL III dilakukan
intervensi berupa penyuluhan dan pelatihan tentang cara perawatan payudara
yang baik dan benar dengan tujuan untuk meningkatkan sikap masyarakat Desa
Kutasari terhadap pemberian ASI Eksklusif. Salah satu upaya untuk mewujudkan
hal tersebut dapat dilakukan dengan pendidikan kesehatan. Pendidikan kesehatan
dilakukan dalam rangka untuk meningkatkan perilaku hidup sehat agar
masyarakat menyadari atau mengetahui bagaimana cara memelihara kesehatan
mereka, bagaimana menghindari atau mencegah hal-hal yang merugikan
kesehatan mereka dan kesehatan orang lain.
C. PERUMUSAN MASALAH
Berdasarkan uraian dalam latar belakang, dapat dirumuskan masalah yaitu
apakah intervensi melalui pelatihan perawatan mammae pada kader posyandu dan
ibu hamil dapat meningkatkan sikap ibu terhadap ASI Eksklusif di Desa Kutasari?

D. TINJAUAN PUSTAKA
1. Menyusui
a. Menyusui dan Laktasi
Menyusui adalah keterampilan yang dipelajari ibu dan bayi, dimana
keduanya membutuhkan waktu dan kesabaran untuk pemenuhan nutrisi
pada bayi.selama enam bulan. Menyusui setiap dua-tiga jam akan menjaga
produksi ASI tetap tinggi. Untuk wanita pada umumnya, menyusui atau
memerah ASI delapan kali dalam 24 jam akan menjaga produksi ASI tetap
tinggi pada masa-masa awal menyusui, khususnya empat bulan pertama.
Bukanlah hal yang aneh apabila bayi yang baru lahir menyusui lebih sering
dari itu, karena rata-ratanya adalah 10-12 kali menyusui tiap 24 jam, atau
bahkan 18 kali. (Gartner, 2005).
Sedangkan laktasi adalah keseluruhan proses menyusui mulai dari ASI
diproduksi sampai proses bayi menghisap dan menelan ASI. Laktasi
merupakan bagian integral dari siklus reproduksi mamalia termasuk
manusia. Setiap ibu menghasilkan air susu yang kita sebut ASI sebagai
makan alami yang disediakan untuk bayi. Pemberian ASI eksklusif serta
proses menyusui yang benar merupakan sarana yang untuk membangun
SDM yang berkualitas. Seperti diketahui ASI adalah makanan satu-satunya
yang paling sempurna untuk menjamin tumbuh kembang bayi pada enam
bulan pertama (IDAI, 2008).
Selain itu, proses menyusui yang benar, bayi akan mendapatkan
perkembangan jasmani, emosi maupun spiritual yang baik dalam
kehidupannya

(Saleha,

2009).

Masa

laktasi

mempunyai

tujuan

meningkatkan pemberian ASI eksklusif dan meneruskan pemberian ASI


sampai anak umur 2 tahun secara baik dan benar serta anak mendapatkan
kekebalan tubuh secara alami (Ambarwati, dkk.2009). Menyusui merupakan
proses yang cukup kompleks. Pada masa ini, ibu dan anak membentuk satu
ikatan yang kuat (IDAI, 2008).

b. ASI Eksklusif
Air Susu Ibu (ASI) adalah suatu emulsi lemak dalam larutan protein,
laktosa dan garam-garam anorganik yang di sekresi oleh kelenjar mamae
ibu, yang berguna sebagai makanan bagi bayinya (WHO, 2004). Sedangkan
Air Susu Ibu (ASI) adalah emulsi lemak dalam larutan protein, laktosa dan
garam-garam anorganik yang disekresi oleh kedua belah kelenjar mamma
dari ibu, yang berguna sebagai makanan bagi bayinya. Air Susu Ibu (ASI)
merupakan makanan yang mudah didapat, selalu tersedia, siap diminum
tanpa adanya persiapan yang khusus dengan temperatur yang sesuai dengan
bayi. Air Susu Ibu (ASI) memiliki kandungan zat gizi yang lengkap dan
sempurna untuk keperluan bayi serta mengandung zat anti infeksi. Oleh
karenanya Air Susu Ibu (ASI) merupakan satu-satunya makanan terbaik dan
paling cocok untuk bayi (Perinasia, 2004).
Banyak keunggulan Air Susu Ibu dibanding dengan susu sapi, antara
lain:
1) Air Susu Ibu mengandung zat makanan yang dibutuhkan bayi dalam
jumlah yang cukup dengan susunan zat gizi yang sesuai untuk bayi.
2) Air Susu Ibu sedikit sekali berhubungan dengan udara luar, sehingga Air
Susu Ibu bersih dan kecil kemungkinan tercemar oleh kuman (bibit
penyakit).
3) Air Susu Ibu selalu segar dan temperatur Air Susu Ibu sesuai dengan
temperatur tubuh bayi.
4) Mengandung zat kekebalan (immunoglobulin). Antibodi dalam Air Susu
Ibu dapat bertahan di dalam saluran pencernaan bayi karena tahan
terhadap asam dan enzim proteolitik saluran pencernaan dan membuat
lapisan pada mukosanya sehingga mencegah bakteri patogen dan
enterovirus masuk ke mukosa usus.
5) Air Susu Ibu tidak menimbulkan alergi. Kolostrum (susu awal) adalah
Air Susu Ibu yang keluar pada hari-hari pertama setelah kelahiran bayi,
berwarna kekuning-kuningan dan

lebih

kental,

karena banyak

mengandung vitamin A, protein dan zat kekebalan yang penting untuk


melindungi bayi dari penyakit infeksi. Kolostrum juga mengandung
vitamin E dan K serta beberapa mineral seperti natrium dan seng
(Depkes, 2005).
ASI eksklusif adalah pemberian hanya ASI saja tanpa makanan dan
minuman lain. Pemberian ASI eksklusif dianjurkan sampai enam bulan
pertama kehidupan bayi (Depkes RI, 2005). Pemberian ASI secara eksklusif
adalah bayi hanya diberi ASI saja, tanpa tambahan cairan lain seperti susu
formula, air jeruk, air teh, air putih. Pada pemberian ASI eksklusif pada bayi
juga tidak diberikan makanan tambahan seperti pisang, papaya, bubur susu,
biskuit, bubur nasi, tim, dan sebagainya (Roesli, 2009).
Pemberian ASI secara eksklusif ini dianjurkan untuk jangka waktu
setidaknya selama 6 bulan. Setelah bayi berumur 6 bulan, ia harus mulai
diperkenalkan dengan makanan padat, sedangkan ASI dapat diberikan
sampai bayi berusia 2 tahun atau bahkan lebih dari 2 tahun. Para ahli
menemukan bahwa manfaat ASI akan sangat meningkat bila bayi hanya
diberi ASI saja selama 6 bulan pertama kehidupannya. Peingkatan ini sesuai
dengan lamanya pemberian ASI eksklusif serta lamanya pemberian ASI
bersama-sama dengan makanan padat setelah bayi berumur 6 bulan.
Berdasarkan hal-hal di atas, WHO/UNICEF membuat deklarasi yang
dikenal dengan Deklarasi Innocenti (Innocenti Declaration). Deklarasi yang
dilahirkan di Innocenti, Italia tahun 1990 ini bertujuan untuk melindungi,
mempromosikan, dan memberi dukungan pada pemberian ASI. Deklarasi
yang juga ditandatangani Indonesia ini memuat hal-hal berikut: Sebagai
tujuan global untuk meningkatkan kesehatan dan mutu makanan bayi secara
optimal maka semua ibu dapat memberikan ASI eksklusif dan semua bayi
diberi ASI eksklusif sejak lahir sampai berusia 4-6 bulan. Setelah berumur
4-6 bulan, bayi diberi makanan pendamping/padat yang benar dan tepat,
sedangkan ASI tetap diteruskan sampai usia 2 tahun atau lebih. Pemberian
makanan untuk bayi yang ideal seperti ini dapat dicapai dengan cara

menciptakan pengertian serta dukungan dan lingkungan sehingga ibu-ibu


dapat menyusui secara eksklusif (USAID, 2004).
Adapun alasan pemberian ASI eksklusif adalah:
1) ASI mengandung zat gizi yang ideal dan mencukupi untuk menjamin
tumbuh kembang sampai umur 6 bulan. Bayi yang mendapat makanan
lain, misalnya nasi lumat atau pisang hanya akan mendapat karbohidrat,
sehingga zat gizi yang masuk tidak seimbang.
2) Bayi dibawah usia 6 bulan belum mempunyai enzim pencernaan yang
sempurna, sehingga belum mampu mencerna makanan dengan baik. ASI
mengandung beberapa enzim yang memudahkan pemecahan makanan
selanjutnya.
3) Ginjal bayi yang masih muda belum mampu bekerja dengan baik.
Makanan tambahan termasuk susu sapi biasanya mengandung banyak
mineral yang dapat memberatkan fungsi ginjal yang belum sempurna
pada bayi.
4) Makanan tambahan mungkin mengandung zat tambahan yang berbahaya
bagi bayi misalnya zat warna dan zat pengawet.
5) Makanan tambahan bagi bayi yang mudah menimbulkan alergi
(Perinasia, 2004).
Menurut Irawati (2005), bayi yang tidak mendapat ASI eksklusif akan
mudah terkena infeksi. Jika sekarang banyak balita mengalami gizi buruk
atau busung lapar, karena anak itu tidak mendapat ASI eksklusif. Kalau bayi
tidak mendapat ASI eksklusif tetapi sudah mendapatkan makanan lain maka
kemampuan dia mengisap ASI pun menurun. Kalau kemampuan
mengisapnya menurun maka si ibu pun tidak menghasilkan ASI yang
banyak.
c. Manfaat ASI Eksklusif
Manfaat pemberian ASI eksklusif bagi bayi sangat banyak antara lain
adalah:

1) ASI sebagai nutrisi yang terbaik ASI merupakan sumber gizi yang
sangat ideal dengan komposisi yang seimbang karena disesuaikan
dengan kebutuhan bayi pada masa pertumbuhannya. ASI adalah
makanan yang paling sempurna, baik kualitas maupun kuantitasnya.
Dengan melaksanakan tata laksana menyusui yang tepat dan benar,
produksi ASI seorang ibu akan cukup sebagai makanan tunggal bagi
bayi normal sampai dengan usia enam bulan. Setelah usia enam bulan,
bayi harus mulai diberi makanan padat tambahan, tetapi ASI masih
dapat diteruskan sampai dua tahun atau lebih (Danuatmaja, 2004).
2) ASI meningkatkan daya tahan tubuh bayi
Bayi baru lahir secara alamiah mendapat immunoglobulin (zat
kekebalan tubuh) dari ibunya melalui ari-ari. Namun, kadar zat ini akan
cepat sekali menurun segera setelah bayi lahir. Pada saat kadar zat
kekebalan menurun, sedangkan yang dibentuk oleh badan bayi belum
mencukupi maka akan terjadi kesenjangan zat kekebalan pada bayi.
Kesenjangan akan hilang apabila bayi diberi ASI, karena ASI adalah
cairan hidup yang mengandung zat kekebalan yang akan melindungi
bayi dari berbagai penyakit infeksi bakteri, virus, parasit, dan jamur.
Bagi bayi pemberian ASI eksklusif ternyata akan lebih sehat dan lebih
jarang sakit dibandingkan dengan bayi yang tidak mendapat ASI
eksklusif. Anak yang sehat tentu akan lebih berkembang kepandaiannya
dibanding anak yang sering sakit terutama bila sakitnya berat (Arifeen,
2001).
3) ASI eksklusif meningkatkan kecerdasan
Perkembangan

kecerdasan

anak

sangat

berkaitan

erat

dengan

pertumbuhan otak. Faktor utama yang memengaruhi pertumbuhan otak


anak adalah nutrisi yang diterima saat pertumbuhan otak, terutama saat
pertumbuhan otak cepat. Air susu ibu selain merupakan nutrien ideal,
dengan komposisi tepat, dan sangat sesuai kebutuhan bayi, juga

mengandung nutrien-nutrien khususnya yang sangat diperlukan bagi


pertumbuhan optimal otak bayi (Danuatmaja, 2004).
4) ASI eksklusif meningkatkan jalinan kasih sayang
Bayi yang sering berada dalam dekapan ibu karena menyusui akan
merasakan kasih sayang ibunya. Ia juga akan merasa aman dan tentram,
terutama karena masih dapat mendengar detak jantung ibunya yang telah
ia kenal sejak dalam kandungan. Perasaan terlindung dan disayangi
inilah yang akan menjadi dasar perkembangan emosi bayi dan
membentuk kepribadian yang percaya diri dan dasar spritual yang baik
(Roesli, 2009).
2. Manajemen Laktasi
a. Pengertian
Manajemen laktasi merupakan segala daya upaya yang dilakukan
untuk membantu ibu mencapai keberhasilan dalam menyusui bayinya.
Usaha ini dilakukan terhadap ibu dalam 3 tahap,yaitu pada masa
kehamilan(antenatal), sewaktu ibu dalam persalinan sampai keluar rumah
sakit (perinatal), dan pada masa menyusui selanjutnya sampai anak berumur
2 tahun(postnatal) (Perinasia, 2007).
Manajemen laktasi adalah suatu upaya yang dilakukan oleh ibu, ayah
dan keluarga untuk menunjang keberhasilan menyusui (Prasetyono, 2009) .
Dan ruang lingkup manajemen laktasi dimulai pada masa kehamilan,setelah
persalinan,dan masa menyusui bayi.
b. Periode Manajemen laktasi
1) Masa kehamilan (Antenatal)
Hal yang perlu diperhatikan dalam menejemen laktasi sebelum kelahiran
adalah:
a) Ibu mencari informasi tentang keunggulan ASi, manfaat menyusui
bagi ibu dan bayi, serta dampak negative pemberian susu formula.
b) Ibu memeriksakan kesehatan tubuh pada saat kehamilan kondisi
puting payudara,dan memantau kenaikan berat badan saat hamil.

c) Ibu melakukan perawatan payudara sejak kehamilan berumur 6 bulan


hingga ibu siap untuk menyusui, ini bermaksut agar ibu mampu
memproduksi dan memberikan ASI yang mencukupi kebutuhan bayi.
d) Ibu senantiasa mencari informasi tentang gisi dan makanan tambahan
sejak kehamilan trimester ke-2.makanan tambahan saat hamil
sebanyak 1 1/3 kali dari makanan yang dikonsumsi sebelum hamil
(Prasetyono, 2009).
2) Masa Persalinan (Perinatal)
a) Hal yang perlu diperhatikan dalam manajemen laktasi saat kelahiran
adalah : Masa persalinan merupakan masa yang paling penting dalam
kehidupan bayi selanjutnya,bayi harus menyusui yang baik dan benar
baik posisi maupun cara melekatkan bayi pada payudara ibu.
b) Membantu ibu kontak langsung dengan bayi selama 24 jam agar
menyusui dapat dilakukan tanpa jadwal.
c) Ibu nifas diberi kapsul vitamin A dosis tinggi (200.000 IU) dalam
waktu 2 minggu setelah melahirkan (Prasetyono, 2009).
3) Masa Menyusui (Postnatal)
Hal yang perlu diperhatikan dalam manajemen laktasi setelah kelahiran
adalah:
a) Setelah bayi mendapatkan ASI pada minggu pertama kelahiran,ibu
harus menyusui bayi secara eksklusif selama 4 bulan pertama setelah
bayi lahir dan saat itu bayi hanya di beri ASI tanpa makanan
tambahan.
b) Ibu mencari informasi yang tentang gisi makanan ketika masa
menyusui agar bayi tumbuh sehat.
c) Ibu harus cukup istirahat untuk menjaga kesehatannya dan
menenangkan pikiran serta menghindarkan diri dari kelelahan yang
berlebihan agar produksi ASI tidak terhambat.
d) Ibu selalu mengikuti petunjuk petugas kesehatan(merujuk posyandu
atau puskesmas). Bila ada masalah dalam proses menyusui.

10

e) Ibu tetap memperhatikan gisi/makanan anak,terutama pada bayi usia


4 bulan (Prasetyono, 2009).
c. Manfaat menyusui
Jika seorang ibu memberikan air susu ibu(ASI) kepada bayinya,hal ini
dapat menguntungkan baik bagi bayinya maupun ibu,antara lain:
1) Manfaat ASI bagi bayi:
a) Sebagai makanan tunggal untuk memenuhi semua kebutuhan
pertumbuhan bayi sampai usia 6 bulan.
b) Meningkatkan daya tahan tubuh karena mengandung berbagai zat anti
kekebalan sehingga akan lebih jarang sakit.
c) Melindungi anak dari serangan alergi.
d) Mengandung asam lemak yang diperlukan untuk pertumbuhan otak
sehingga bayi lebih pandai.
e) Meningkatkan daya penglihatan dan kepandaian berbicara.
f) Membantu pembentukan rahang yang bagus.
g) Menunjang perkembangan motorik sehiingga bayi akan cepat bias
berjalan(Roesli, 2005).
2) Manfaat ASI bagi ibu:
a) Mengurangi perdarahan setelah melahirkan.
b) Mengurangi terjadinya anemia
c) Menjarangkan kehamilan
d) Mengecilkan rahim
e) Ibu lebih cepat mengalami penurunan berat badan
f) Mengurangi kemungkinan menderita kanker
g) Lebih ekonomis dan murah
h) Tidak merepotkan dan hemat waktu
i) Lebih praktis dan portable
j) Memberi kepuasan bagi ibu tersendiri (Roesli, 2005).
3) Manfaat ASI bagi Lingkungan:
a) Mengurangi bertambahnya sampah dan polusi di dunia

11

b) Tidak

menambah

polusi

udara

karena

pabrik-pabrik

yang

mengeluarkan asap.
4) Manfaat ASI bagi Negara:
a) Penghemat devisa untuk membeli susu formula dan perlengkapan
menyusui
b) Penghematan untuk biaya sakit terutama sakit muntah muntah,
mencret dan sakit saluran nafas
c) Penghematan obat-obatan,tenaga dan sarana kesehatan.
d) Menciptakan generasi penerus bangsa yang tangguh dan berkualitas
untuk membangun Negara.
5) Manfaat ASI bagi keluarga
a) Aspek ekonomi: ASi tidak perlu dibeli dan membuat bayi jarang sakit
sehingga dapat mengurangi biaya berobat
b) Aspek

psikologis:

menjarangkan

kelahiran,dan

mendekatkan

hubungan bayi dengan keluarga.


c) Aspek kemudahan : Sangat praktis sehingga dapat di berikan dimana
saja dan kapan saja dan tidak merepotkan orang lain.
d. Keterampilan menyusui
Agar proses menyusui dapat berjalan lancar, maka seorang ibu harus
mempunyai keterampilan menyusui agar ASI dapat mengalir dari payudara
ibu ke bayi secara efektif. Keterampilan menyusui yang baik meliputi posisi
menyusui dan perlekatan bayi pada payudara yang tepat.
Posisi menyusui harus senyaman mungkin, dapat dengan posisi
berbaring atau duduk. Posisi yang kurang tepat akan menghasilkan
perlekatan yang tidak baik. Posisi dasar menyusui terdiri dari posisi badan
ibu, posisi badan bayi, serta posisi mulut bayi dan payudara ibu (perlekatan/
attachment). Posisi badan ibu saat menyusui dapat posisi duduk, posisi tidur
terlentang, atau posisi tidur miring.
Saat menyusui, bayi harus disanggah sehingga kepala lurus
menghadap payudara dengan hidung menghadap ke puting dan badan bayi

12

menempel dengan badan ibu (sanggahan bukan hanya pada bahu dan leher).
Sentuh bibir bawah bayi dengan puting, tunggu sampai mulut bayi terbuka
lebar dan secepatnya dekatkan bayi ke payudara dengan cara menekan
punggung dan bahu bayi (bukan kepala bayi).
Arahkan puting susu ke atas, lalu masukkan ke mulut bayi dengan cara
menyusuri langit-langitnya. Masukkan payudara ibu sebanyak mungkin ke
mulut bayi sehingga hanya sedikit bagian areola bawah yang terlihat
dibanding aerola bagian atas. Bibir bayi akan memutar keluar, dagu bayi
menempel pada payudara dan puting susu terlipat di bawah bibir atas bayi.
1) Posisi tubuh yang baik dapat dilihat sebagai berikut:
a) Posisi muka bayi menghadap ke payudara (chin to breast)
b) Perut/dada bayi menempel pada perut/dada ibu (chest to chest)
c) Seluruh badan bayi menghadap ke badan ibu hingga telinga bayi
membentuk garis lurus dengan lengan bayi dan leher bayi
d) Seluruh punggung bayi tersanggah dengan baik
e) Ada kontak mata antara ibu dengan bayi
f) Pegang belakang bahu jangan kepala bayi
g) Kepala terletak dilengan bukan didaerah siku
2) Posisi menyusui yang tidak benar dapat dilihat sebagai berikut :
a) Leher bayi terputar dan cenderung kedepan
b) Badan bayi menjauh badan ibu
c) Badan bayi tidak menghadap ke badan ibu
d) Hanya leher dan kepala tersanggah
e) Tidak ada kontak mata antara ibu dan bayi
f) C-hold tetap dipertahankan (Roesli dan Yohmi, 2013).
3. Penyuluhan
Penyuluhan merupakan upaya perubahan perilaku manusia yang
dilakukan melalui pendekatan edukatif. Pendekatan edukatif diartikan sebagai
rangkaian kegiatan yang dilakukan secara sistematik, terencana, dan terarah
dengan peran serta aktif individu, kelompok, atau masyarakat untuk

13

memecahkan masalah dengan memperhitungkan faktor sosial, ekonomi, dan


budaya setempat. Selanjutnya, penyuluhan gizi dapat diartikan sebagai suatu
pendekatan edukatif untuk menghasilkan perilaku individu atau masyarakat
yang diperlukan dalam peningkatan derajat kesehatan dan mempertahankan
gizi baik (Suhardjo, 2003).
Berbicara tentang penyuluhan tidak terlepas dari bagaimana agar
sasaran penyuluhan dapat mengerti, memahami, tertarik, dan mengikuti apa
yang kita suluhkan dengan baik, benar, dan atas kesadarannya sendiri berusaha
untuk menerapkan ide-ide baru dalam kehidupannya. Oleh karena itu
penyuluhan membutuhkan suatu perencanaan yang matang, terarah, dan
berkesinambungan.
Penyuluhan sebagai proses perubahan perilaku tidak mudah. Titik
berat penyuluhan sebagai proses perubahan perilaku adalah penyuluhan yang
berkelanjutan. Dalam proses perubahan perilaku dituntut agar sasaran berubah
tidak semata-mata karena penambahan pengetahuan saja namun, diharapkan
juga adanya perubahan pada keterampilan sekaligus sikap mantap yang
menjurus kepada tindakan atau kerja yang lebih baik, produktif, dan
menguntungkan (Lucie, 2005).
E. TUJUAN
1. Tujuan Umum
Melaksanakan intervensi kesehatan masyarakat sebagai upaya pemecahan
prioritas permasalahan kesehatan yaitu ASI tidak eksklusif dengan upaya
peningkatan sikap ibu melalui pelatihan perawatan mammae pada kader
posyandu dan ibu hamil.
2. Tujuan Khusus
a. Meningkatkan sikap ibu terhadap ASI Eksklusif melalui program
pelatihan perawatan mammae pada kader posyandu dan ibu hamil
b. Meningkatkan keterampilan kader posyandu dan ibu hamil dalam
perawatan mammae

14

F. MANFAAT
1. Bagi Masyarakat Desa Kutasari
Masyarakat Desa Kutasari memperoleh informasi dari kader posyandu dan
ibu hamil yang mengikuti pelatihan perawatan mammae.
2. Bagi Kader dan Tokoh Masyarakat
Kader dan tokoh masyarakat dapat mengembangkan keterampilannya yaitu
mengenai perawatan payudara agar ASI yang dihasilkan lancar.
3. Bagi Puskesmas Kutasari
Mengetahui intervensi pemecahan masalah ASI tidak eksklusif di Desa
Kutasari yang termasuk dalam wilayah kerja Puskesmas Kutasari, sehingga
dapat dijadikan sebagai acuan dalam pembuatan program kerja yang
disesuaikan dengan tuntutan permasalahan kesehatan yang ada.
4. Bagi Peserta PBL III
Memperoleh pengalaman, memperluas wawasan dan penalaran berfikir
didalam menerapkan ilmu yang sudah dipelajari dalam bentuk intervensi yang
akan dilakukan pada PBL III.
G. KHALAYAK SASARAN
Sasaran dari pelaksanaan intervensi Praktek Belajar Lapangan (PBL) III
adalah masyarakat Desa Kutasari yang berjumlah 25 orang yang terdiri dari
perwakilan Kader Posyandu dan 2 orang perwakilan ibu hamil dari masingmasing posyandu yang berjumlah 8 posyandu di Desa Kutasari Kecamatan
Kutasari Kabupaten Purbalingga. Sasaran tersebut dipilih karena kelompok
tersebut dapat menjadi pengaruh kepada masyarakat dan dapat memberikan
contoh kepada masyarakat setempat untuk melakukan perawatan mammae.

H. METODE PENERAPAN KEGIATAN

15

Metode yang digunakan dalam intervensi masalah tentang kejadian ASI


tidak eksklusif adalah sebagai berikut :
1. Penyuluhan Partisipatif pada Masyarakat Desa Kutasari
Penyuluhan yang dilakukan dengan sasaran kader posyandu dan ibu
hamil, melalui cara partispatif yaitu dengan memberikan informasi mengenai
pentingnya pemberian ASI eksklusif serta perawatan mammae yang baik dan
benar. Penyuluhan dilakukan secara dua arah dimana, peserta dan pemapar
aktif dalam kegiatan diskusi tentang pentingnya pemberian ASI eksklusif serta
perawatan mammae yang baik dan benar, dengan bentuk kegiatan seperti:
a. Kegiatan penyuluhan tentang pemberian ASI Eksklusif
Penyuluhan mengenai pengertian ASI Eksklusif, pentingnya ASI
Eksklusif, makanan yang meningkatkan produksi ASI, dan mitos-mitos
mengenai pemberian ASI Eksklusif.
Kriteria Keberhasilan :
1) Adanya peningkatan nilai/skor pengetahuan pre-test dan post-test.
2) Peserta yang hadir minimal 75% dari jumlah seluruh undangan.
b. Kegiatan pre-test dan post-test
Kegiatan pre-test dan post-test dilakukan dengan tujuan untuk mengukur
keberhasilan dari penyuluhan partisipasi yang telah dilakukan. Pre-test
dilakukan sebelum penyuluhan berlangsung, dan post-test dilakukan
setelah selesai intervensi. Hal ini perlu dilakukan untuk mengetahui ada
atau tidaknya perubahan sikap sebelum dan setelah intervensi.
c. Pembicara
Tim PBL kelompok VIII Desa Kutasari.
d. Media
1) Slide
2) Leaflet, poster dan banner
3) Video Perawatan Mammae
2. Pelatihan Perawatan Mammae

16

Pelatihan perawatan mammae dilakukan dengan metode simulasi yang


menggunakan manekin sebagai medianya. Simulasi ini dilakukan setelah
melihat video perawatan mammae.
a. Kriteria Keberhasilan :
Kader Posyandu dan Ibu hamil yang berlaku sebagai sasaran intervensi
dapat mempraktekkan cara perawatan mammae dengan baik dan benar.
b. Trainer
Tim Kelompok VI PBL Desa Kutasari
c. Alat yang digunakan :
1) Manekin
I. RANCANGAN EVALUASI
INPUT
PROSES
OUTPUT
OUTCOME
1. Penyuluhan
a Sasaransebanyak aPenyuluhan tentang a. Peningkatan
a Meningkatnya
25 orang yang
ASI
sikap ibu hamil
pemberian ASI
terdiri
dari bPemutaran film
yang dilihat dari
Eksklusif
oleh
koordinator kader
pre -test dan
ibu.
Posyandu, kader
post-test
yang b Menurunnya
Posyandu,
ibu
diberikan.
kasus gizi buruk
hamil perwakilan
pada balita
dari
tiap
Posyandu.
b Dana
sebesar
Rp1.250.000
yang
diperoleh
dari dana bantuan
Jurusan
Kesehatan
Masyarakat,kas
kelompok
dan
sponsor.
c Metode
yang
digunakan adalah
ceramah.
d

Media
yang
digunakan leaflet

17

dan slide. Alat


yang digunakan
diantaranyaa
dalah LCD, dan
laptop
2. Pelatihan
a. Pelatihan
a. Sasaran sebanyak
perawatan
25orang
yang
payudara
terdiri dari kader
dan ibu hamil
b. Metode
yang
digunakan adalah
simulasi
c. Alat
yang
digunakan
diantaranya
adalah manekin

a. Meningkatnya
a. Ibu hamil dapat
ketrampilan ibu
memiliki
dalam perawatan
keterampilan
payudara
merawat
b. Meningkatnya
payudara
derajat kesehatan
masyarakat.

J. MATRIK RENCANA KEGIATAN


Rencana intervensi yang akan dilakukan adalah penyuluhan partisipatif
dan pelatihan perawatan payudara. Matrik rencana intervensi secara teknis
terlampir pada lampiran 1.
K. JADWAL
Pelaksanaan kegiatan intervensi direncanakan di mulai pada tanggal 37
November 2013. Rencana jadwal kegiatan secara teknis terlampir pada lampiran
2.
L. PERSONALIA KEGIATAN
Intervensi yang akan dilaksanakan pada Praktek Belajar Lapangan (PBL)
III melibatkan:
1. Tim PBL III Desa Kutasari Kecamatan Kutasari.
2. Masyarakat Desa Kutasari Kecamatan Kutasari.
3. Perangkat Desa Kutasari Kecamatan Kutasari.
4. Puskesmas Kutasari.

18

5. Jurusan Kesehatan Masyarakat Fakultas Kedokteran dan Ilmu-Ilmu Kesehatan


Universitas Jenderal Soedirman.
M. DAFTAR PUSTAKA
Departemen Kesehatan RI, Direktorat Bina Gizi Masyarakat, Direktorat Jenderal
Bina Kesehatan Masyarakat 2005. Manajemen Laktasi. Jakarta.
Ghalia, Lucie Setiana,. 2005. Teknik Penyuluhan dan Pemberdayaan Masyarakat.
Pustaka Pelajar. Jakarta.
Kementerian Kesehatan RI. 2010. Pedoman Pekas ASI Sedunia (PAS) 2010.
Jakarta.
Kristiyansari, W., 2009. ASI:Menyusui dan Sadari. Yogyakarta: Nuha Medika.
Oetami Roesli. (2005). Mengenal ASI Eksklusif. Edisi 3. Jakarta : Trubus
Agriwidya.
Perinasia. (2007). Manajemen Laktasi: Menuju Persalinan Aman dan Bayi Lahir
Sehat 2nd,ed. Jakarta.
Prasetyono,D,S. (2009). Buku Pintar ASI Eksklusif, Pengenalan Praktek dan
Kemanfaatan-Kemanfaatannya. Cetakan 1. Yogyakarta : Diva Press.
Roesli, Utami. 2005. Mengenal ASI Eksklusif. Jakarta: Trubus Agriwidya.
Rosli, utami dan elizabeth yohmi. 2013. Buku Bedah ASI IDAI. Jakarta.
Suhardjo.2003. Berbagi Cara Pendidikan Gizi. Bogor: Bumu aksara
SDKI. 2007. http://pdfpath.com/pdf/.html. Aki dan Akb tahun 2007 Menurut
SDKI.
United Nations for Children Fund (UNICEF). 2012. Early Childhood - Parenting
Programs. http://www.unicef.org/earlychildhood/index_40754.html .
Diakses pada tanggal 26 September 2014.