Anda di halaman 1dari 16

KATA PENGANTAR

Puji syukur kehadirat Allah SWT yang telah memberikan rahmat serta
hidayahnya kepada penulis, sehingga penulis dapat menyelesaikan laporan
praktikum. Laporan praktikum ini dibuat berdasarkan praktikum yang telah dilakukan
Sehingga dengan adanya laporan praktikum ini dapat membantu kita untuk
memahami lebih dalam lagi tentang pengukuran kapasitas paru-paru pada manusia.
Penulis mengucapkan terima kasih kepada asisten praktikum yang telah
membimbing penulis dalam melaksanakan praktikum. Dan tidak lupa juga kepada
teman-teman yang telah memberi sumbangan pemikiran dalam penyelesaian laporan
praktikum ini. Penulis menyadari laporan praktikum ini belum sempurna, dan
diharapkan kritik dan saran yang membangun.

BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Respirasi adalah suatu proses pertukaran gas oksigen (O2) dari udara oleh
organisme hidup yang digunakan untuk serangkaian metabolisme yang akan
menghasilkan karbondioksida (CO2) yang harus dikeluarkan karena tidak
dibutuhkan oleh tubuh. Setiap makhluk hidup melakukan pernapasan untuk
memperoleh oksigen O2 yang digunakan untuk pembakaran zat makanan di
dalam sel-sel tubuh. Alat pernapasan setiap makhluk hidup tidaklah sama, pada
hewan invertebrata memilki alat pernapasan dan mekanisme pernapasan yang
berbeda dengan hewan vertebrata. (Waluyo,2010)
Pernafasan adalah kegiatan terpenting dalam kehidupan manusia. Proses
ini dapat berlangsung dalam berbagai macam keadaan dan dalam kondisi apapun.
Dalam banyak keadaan, oksigen dapat diatur menurut keperluan, bergantung pada
aktivitas yang dilakukan. Semua orang sangat tergantung pada oksigen demi
keberlangsungan hidupnya, jika paru-paru tidak memperoleh oksigen selama
lebih dari empat menit maka akan mengakibatkan kerusakan pada otak yang tidak
dapat diperbaiki dan dapat mengakibatkan seseorang meninggal dunia. Bila
oksigen di dalam darah tidak mencukupi maka warna merah pada darah akan
hilang dan menjadi kebiru-biruan, bibir, telinga, lengan, dan kaki seseorang yang
kekurangan oksigen akan menjadi biru pula. Oleh sebab itu, mengukur volume
paru-paru sangat penting untuk mengetahui ada tidaknya gangguan pada system
pernapasan. Volume

paru yang dapat diukur terdiri atas volume tidal yang

besarnya berkisar 500 ml pada laki-laki dewasa, volume cadangan inspirasi,


volume cadangan ekspirasi, dan volume residu. Setiap orang memiliki volume
paru yang berbeda-beda. Hal tersebut diakibatkan oleh beberapa faktor, antara
lain usia, jenis kelamin, berat badan, dan tinggi badan serta aktivitas seseorang
(Wahyu, 2013).

Udara yang keluar masuk melalui paru-paru pada waktu gerakan


pernafasan dapatdiukur dengan menggunakan spirometer. Volume udara yang
dapat diukur secara langsungadalah : volume tidal, volume cadangan inspirasi,
volume cadangan ekspirasi, kapasitasinspirasi dan kapasitas vital. Dan dengan
mengetahui kapasitas vital, dapat diketahui fungsi paru-paru atau keadaan saluran
pernapasan. Besar kapasitas vital tergantung antara lain olehsikap badan sewaktu
diukur, pekerjaan seseorang, umur, jenis kelamin, status kesehatan,tinggi badan,
indeks massa tubuh.
Selain itu sering diukur spirometri dinamis yaitu antara lain timed vital
capacity(TVC), Forced Expiratory Volume (FEV) yaitu volume kapasitas vital
yang dikeluarkansekuat-kuatnya dalam waktu tertentu. Biasanya waktu
pengukuran satu atau setengah detik.Dengan membandingkan besar volume ini
dengan kapasitas vital dapat diketahui adatidaknya gangguan pernafasan. Yang
tidak diukur secara langsung adalah volume residu.Karena untuk mengukurnya
diperlukan gas lain atau alat lain serta dipergunakan perhitungansendiri.
B. Tujuan
1. Untuk mengetahui kapasitas paru pada pekerja.
2. Mengukur volume paru secara statis dan dinamik
3.

Menilai perubahan atau gangguan pada faal paru

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
A. Pengertian Bernapas
Bernapas yaitu proses memasukkan oksigen (O2) dan mengeluarkan
karbondioksida (CO2), atau dapat dikatakan proses inspirasi dan ekspirasi secara
bergantian dan teratur. Oksigen tersebut digunakan dalam proses perombakan zatzat makanan sehingga menghasilkan energy. Energi yang dihasilkan akan
digunakan untuk melakukan kegiatan sehari-hari. (Windarsih,2010)
Sistem pernapasan manusia mencakup dua hal, yakni saluran pernapasan
dan mekanisme pernapasan. Urutan saluran pernapasan adalah sebagai berikut:
1. Rongga Hidung (Cavum Nasalis)
Udara dari luar akan masuk lewat rongga hidung (cavum nasalis). Rongga
hidung

berlapis selaput lendir, di dalamnya terdapat kelenjar minyak

(kelenjar sebasea) dan kelenjar keringat (kelenjar sudorifera). Selaput lendir


berfungsi menangkap benda asing yang masuk lewat saluran pernapasan.
Selain itu, terdapat juga rambut pendek dan tebal yang berfungsi menyaring
partikel kotoran yang masuk bersama udara. Juga terdapat konka yang
mempunyai banyak kapiler darah yang berfungsi menghangatkan udara yang
masuk.
2. Faring
Udara dari rongga hidung masuk ke faring. Faring merupakan
percabangan 2 saluran, yaitu saluran pernapasan (nasofarings) pada bagian
depan dan saluran pencernaan (orofarings) pada bagian belakang. Pada bagian
belakang faring (posterior) terdapat tekak (laring) tempat terletaknya pita
suara (pita vocalis).
Masuknya udara melalui faring akan menyebabkan pita suara bergetar dan
terdengar sebagai suara. Makan sambil berbicara dapat mengakibatkan
makanan masuk ke saluran pernapasan karena saluran pernapasan pada saat
tersebut sedang terbuka. Walaupun demikian, saraf kita akan mengatur agar

peristiwa menelan, bernapas, dan berbicara tidak terjadi bersamaan sehingga


mengakibatkan gangguan kesehatan.
3. Trakea
Trakea berupa pipa yang panjangnya 10 cm, terletak sebagian di leher
dan sebagian di rongga dada (torak). Dinding tenggorokan tipis dan kaku,
dikelilingi oleh cincin tulang rawan, dan pada bagian dalam rongga
bersilia.Silia-silia ini berfungsi menyaring benda-benda asing yang masuk ke
saluran pernapasan.
4. Bronkus
Tenggorokan (trakea) bercabang menjadi dua bagian, yaitu bronkus kanan
dan bronkus kiri. Struktur lapisan mukosa bronkus sama dengan trakea, hanya
tulang rawan bronkus bentuknya tidak teratur dan pada bagian bronkus yang
lebih besar cincin tulang rawannya melingkari lumen dengan sempurna.
Bronkus bercabang-cabang lagi menjadi bronkiolus.
5. Bronkiolus
Bronkiolus tidak mempunyai tulang rawan, tetapi rongganya masih
mempunyai silia dan di bagian ujung mempunyai epitelium berbentuk kubus
bersilia.Pada bagian distal kemungkinan tidak bersilia. Bronkiolus berakhir
pada gugus kantung udara (alveolus)
6. Paru-paru (pulmo)
Paru-paru terletak di dalam rongga dada bagian atas, di bagian samping
dibatasi oleh otot dan rusuk dan di bagian bawah dibatasi oleh diafragma yang
berotot kuat. Paru-paru ada dua bagian yaitu paru-paru kanan (pulmo dekster)
yang terdiri atas 3 lobus dan paru-paru kiri (pulmo sinister) yang terdiri atas 2
lobus. Paru-paru dibungkus oleh dua selaput yang tipis, disebut

pleura.

Selaput bagian dalam yang langsung menyelaputi paru-paru disebut pleura


dalam (pleura visceralis) dan selaput yang menyelaputi rongga dada yang
bersebelahan dengan tulang rusuk disebut pleura luar (pleura parietalis).
Antara selaput luar dan selaput dalam terdapat rongga berisi cairan pleura
yang berfungsi sebagai pelumas paru-paru. Cairan pleura berasal dari plasma

darah yang masuk secara eksudasi. Dinding rongga pleura bersifat permeabel
terhadap air dan zat-zat lain. Paru-paru tersusun oleh bronkiolus, alveolus,
jaringan elastik, dan pembuluh darah. Paru-paru berstruktur seperti spon yang
elastis dengan daerah permukaan dalam yang sangat lebar untuk pertukaran
gas.
7. Alveolus
Cabang bronkiolus yang paling kecil masuk ke dalam gelembung paruparu yang disebut alveolus. Dinding alveolus mengandung banyak kapiler
darah.melalui kapiler darah oksigen yang berada dalam alveolus berdifusi
masuk ke dalam darah (Kurnia, 2008 dalam Wahyu, 2010).
B. Fungsi Paru
Fungsi paru yang utama adalah proses respirasi yaitu pengambilan oksigen
dari udara luar yang masuk ke dalam saluran napas dan terus ke dalam darah.
Oksigen digunakan untuk proses metabolisme dan karbondioksida yang terbentuk
pada proses tersebut dikeluarkan dari dalam darah ke udara luar.
Proses respirasi dibagi menjadi tiga tahap, yaitu :
1. Ventilasi yaitu proses keluar dan masuknya udara ke dalam paru, serta
keluarnya karbondioksida dari alveoli ke udara luar.
2. Difusi yaitu proses berpindahnya oksigen dari alveoli ke dalam darah, serta
keluarnya karbondioksida dari darah ke alveoli.
3. Perfusi yaitu distribusi darah yang telah teroksigenasi di dalam paru untuk
dialirkan ke seluruh tubuh (Siregar, 2004).
Semua volume paru dapat diukur secara langsung dengan spirometer,
kecuali volume residu. Untuk mengetahui fungsi paru, parameter yang digunakan
ialah VC, FVC, dan FEV. Adapun gangguan/kelainan fungsi paru biasanya adalah
(Depnakertrans, 2005) :
1. Gangguan fungsi paru Restriktif
2. Gangguan fungsi paru Obstruktif
3. Gangguan fungsi paru Campuran (Obstruktif-Restriktif)

Pemeriksaan yang berguna untuk fungsi paru adalah mengukur volume


maksimum udara yang dapat diekspirasikan oleh seseorang dalam suatu rentang
waktu tertentu yang disebut volume ekspirasi paksa (Forced Expiratory
Volume/FEV). Volume udara pada 1 detik pertama ekspirasi (FEV1) sangat perlu
dievaluasi. Pada penyakit paru obstruktif tertentu misalnya asma dan emfisema,
ekspirasi mengalami gangguan dan jumlah udara yang dapat dihembuskan secara
paksa oleh individu, terutama secara cepat akan berkurang (Depnakertrans, 2005).
C. Volume Paru
Terdapat empat volume paru yang berbeda, jika dijumlahkan sama dengan
volume maksimal paru yang mengembang. Pengertian dari setiap volume tersebut
menurut Depnakertrans (2005), yaitu :
1. Tidal Volume (TV)
Adalah volume udara yang secara normal dihirup (inspirasi) atau
dihembuskan (ekspirasi) pada setiap tarikan napas. Volume ini akan
meningkat bila ada aktivitas fisik. Nilai rata-ratanya adalah 500 ml pada saat
istirahat.
2. Volume Cadangan Inspirasi (Inspiratory Reserve Volume/IRV)
Adalah volume udara di atas inspirasi tidal volume yang dapat secara
maksimum dihirup pada setiap tarikan napas. Nilai rata-ratanya adalah sekitar
300 ml.
3. Volume Cadangan Ekspirasi (Expiratory Reserve Volume/ERV)
Adalah jumlah udara maksimum yang dapat dihembuskan melebihi ekspirasi
normal. Nilai rata-ratanya adalah sekitar 1000 ml.
4. Volume Residu (Residual Volume/RV)
Adalah udara yang tetap berada di dalam paru setelah ekspirasi maksimum.
Nilai normalnya adalah sekitar 1200 ml.

D. Kapasitas Paru
Dalam menguraikan peristiwa-peristiwa dalam siklus paru, kadang-kadang
diperlukan untuk menyatukan dua atau lebih volume di atas. Menurut
Depnakertrans (2005), kombinasi seperti itu antara lain :
1. Kapasitas Paru Total (Total Lung Capacity/TLC)
Adalah jumlah total udara yang berada dalam paru pada akhir inspirasi
maksimum. Besarnya sama dengan jumlah kapasitas vital dengan volume
residu.
2. Kapasitas Vital (Vital Capacity/VC)
Adalah volume udara yang dapat dikeluarkan dengan ekspirasi maksimum
setelah inspirasi maksimum. Atau jumlah udara maksimum pada seseorang
yang berpindah pada satu tarikan napas. Kapasitas ini mencakup VT, IRV,dan
ERV. Nilainya diukur dengan menyuruh individu melakukan inspirasi
maksimum kemudian menghembuskan sebanyak mungkin udara di dalam
parunya ke alat pengukur.
3. Kapasitas Inspirasi (Inspiratory Capacity/IC)
Adalah volume udara yang dapat diinspirasi setelah akhir ekspirasi normal.
Besarnya sama dengan jumlah VT dengan IRV.
4. Kapasitas Residu Fungsional (Functional Residual Capacity/FRC)
Adalah jumlah udara yang masih tetap berada dalam paru setelah ekspirasi
normal. Besar FRC sama dengan jumlah dari RV dengan ERV.
5. Kapasitas Vital Paksa (Forced Vital Capacity/FVC)
Adalah VC yang diukur persatuan waktu.
6. Forced Expiratory Volume 1(FEV1)
Adalah volume udara yang dapat dikeluarkan dengan ekspirasi maksimum per
satuan detik.
E. Pemeriksaan Fungsi Paru
Kelainan fungsi paru yang terjadi dapat diketahui dengan melakukan
pemeriksaan fungsi paru. Fungsi paru dapat diukur dengan menggunakan

spirometri. Yang dimaksud dengan spirometri adalah suatu teknik pemeriksaan


untuk mengetahui fungsi/faal paru, di mana pasien diminta untuk meniup
sekuatkuatnya melalui suatu alat yang dihubungkan dengan mesin spirometer
yang secara otomatis akan menghitung kekuatan, kecepatan dan volume udara
yang dikeluarkan, sehingga dengan demikian dapat diketahui kondisi faal paru
pasien. Pada saat ini hampir disemua rumah sakit dan praktik dokter paru di
Bandung

sudah

tersedia

alat

pemeriksaan

ini

(http://www.glorianet.org/arsip/b4401.html -14k -).


F. Spirometer
Pemeriksaan ventilasi paru umumnya dilakukan dengan menggunakan
suatu alat yang disebut spirometer dan melalui prosedur yang sudah ditentukan
akan dapat memberikan gambaran mengenai keadaan fungsi paru tenaga kerja
yang diperiksa. Data hasil pemeriksaan tersebut dipertemukan dengan data
kondisi lingkungan kerjanya untuk mengetahui hubungan antara kondisi
lingkungan kerja dengan kondisi kesehatan kerja (Charles, 1993 dalam Rahmah,
2008).
Selama ini telah diketahui bahwa terdapat hubungan antara nilai kapasitas
vital paru dengan umur, tinggi badan, dan jenis kelamin (Guyton, 1997 dalam
Siregar, 2004). Nilai kapasitas vital ini penting diketahui antara lain untuk
menentukan kondisi ventilasi paru seseorang. Suatu metode sederhana yang dapat
digunakan untuk mengukur volume dan kapasitas paru-paru adalah spirometri
dengan penghitungan hasil pemeriksaan menggunakan nomogram Baldwin atau
menggunakan model Spiro Analyzer ST-250 yang berguna untuk mengetahui
(Aurorina, 2003) :
1. Kapasitas Vital/Vital Capacity (VC).
2. Kapasitas Vital Paksa/Force Vital Capacity (FVC)
3. Volume Ekspirasi Paksa dalam satu detik/Forced Expiratory Volume in one
second (FEV1) adalah volume yang diekspirasikan pada detik pertama
4. Maximum Expiratory Flow Rate (MEFR).

Berdasarkan hasil yang diperoleh dari pengukuran fungsi paru dengan


menggunakan Spiro Analyzer ST-250, maka kesimpulan yang dapat diperoleh
antara lain (Aurorina, 2003) :
1. Normal bila FEV1/FVC 75% dan FVC 80%
2. Gangguan restriksi bila FEV1/FVC 75% dan FVC < 80%
3. Gangguan obstruktif bila FEV1/FVC < 75%, FVC 80% dan FEV1 < 95%
pred.
4. Gangguan campuran (restriksi dan obstruktif) bila FEV1/FVC < 75% dan
FVC < 80%.

BAB III
METODE DAN BAHAN
A. Metode
Metode pengukuran yang digunakan adalah spirometri.
B. Bahan
1. Kertas struk printer
2. Mounpase
C. Alat
1. Spirometer
2. Penjepit hidung
3. Printer
4. Daya listrik
5. Timbangan badan dengan ketelitian 0,1 kg untuk mengukur Berat Badan (BB)
6. Meteran gulung (microtoise) untuk mengukur Tinggi Badan (TB)

D. Prosedur Pengukuran
Mengecek kelengkapan alat
Mencatat Identitas responden (Nama, Usia, Berat Badan,
dan tinggi badan )

Sebelum dimulai pengukuran, latihan bernafas terlebih dahulu, bernafas melalui


mulut sebanyak 3-4 kali, kemudian menarik nafas sampai penuh dan
menghembuskan sekuat tenaga, mengulang sebanyak 3 kali.

Tekan tombol power

Responden melakukan pernafasan


mendapatkan hasil FVC, FEV1

penuh

untuk

Lakukan pengulangan 3x untuk mendapat hasil yang maksimal

Tulis hasil FVC, FEV1


Bandingkan nilai hasilnya dengan tabel prediksi, lakukan perhitungan.

BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN
A. Hasil
1. Identitas Responden :
Nama : Siti Nurul Afiyanti
Usia

: 21 tahun

BB

: 55 kg

TB

: 162 cm

2. FVC

: 3,04 L = 3040 mL

FEV1 : 55 %
PEF

: 182 L/min

FVC=

3040
100 =96,69
3144

B. Pembahasan

BAB V
SIMPULAN SARAN
A. Simpulan
B. Saran

DAFTAR PUSTAKA
Aurorina, Estri. 2003. Hubungan Debu Total Ruang Pengasapan Ikan dengan
Gangguan Fungsi Paru Pengasap Ikan Bandarharjo Kota Semarang Tahun
2003. Tesis FKM UI. Depok.
Modul Pelatihan Pemeriksaan Kesehatan Kerja. 2005. Departemen Tenaga Kerja dan
Transmigrasi Badan Penelitian, Pengembangan dan Informasi Pusat
Pengembangan Keselamatan Kerja dan Hiperkes DIPA.
Rahmah, Laila. 2008. Gambaran Fungsi Paru Pada Pekerja CV. Silkids Garmindo
Tahun 2008. Skripsi FKM UI. Depok.
Siregar, Adelina. 2004. Hubungan Pemajanan Debu terhadap Kelainan Fungsi Paru
Tenaga Kerja di Industri Keramik A Kabupaten Tangerang, Banten Tahun
2004. Tesis FKM UI. Depok.
Wahyu, dkk. 2013. Mengukur Volume Respirasi Dan Kapasitas Paru-Paru Pada
Manusia. Universitas Negeri Yogyakarta. Yogyakarta.
Windarsih, Gut dan Rohana Kusumawati. 2010. PR Biologi. Klaten: Intan Pariwara.
(http://www.glorianet.org/arsip/b4401.html - 14k -)

LAMPIRAN