Anda di halaman 1dari 23

BAB 1

PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Luka bakar atau combusio adalah suatu bentuk kerusakan dan kehilangan jaringan
disebabkan kontak dengan sumber suhu yang sangat tinggi seperti kobaran api di tubuh
(flame), jilitan api ke tubuh (flash), terkena air panas (scald), tersentuh benda panas
(kontak panas), akibat serangan listrik, akibat bahan-bahan kimia, serta sengatan matahari
(sunburn) dan suhu yang sangat rendah. Luka bakar berat menyebabkan morbiditas dan
derajat cacat yang relatif tinggi dibandingkan dengan cedera oleh sebab lain.1,2,
Luka listrik adalah luka yang disebabkan oleh trauma listrik, merupakan jenis
trauma yang disebabkan oleh adanya persentuhan dengan benda yang memiliki arus
listrik, sehingga dapat menimbulkan luka bakar sebagai akibat berubahnya energi listrik
menjadi energi panas. Pada umumnya tanda utama trauma listrik adalah luka bakar pada
kulit. Gambaran makroskopis kerusakan kulit yang kontak langsung dengan sumber
listrik bertegangan rendah disebut electrical mark. Luka listrik biasanya dapat diamati di
titik masuk (entry point) maupun titik keluar (exit point).2
Luka Listrik adalah kerusakan yang terjadi jika arus listrik mengalir ke dalam tubuh
manusia dan membakar jaringan ataupun menyebabkan terganggunya fungsi suatu organ
dalam. Tubuh manusia adalah penghantar listrik yang baik. Kontak langsung dengan arus
listrik bisa berakibat fatal. Arus listrik yang mengalir ke dalam tubuh manusia akan
menghasilkan panas yang dapat membakar dan menghancurkan jaringan tubuh.
Meskipun luka bakar listrik tampak ringan, tetapi mungkin saja telah terjadi kerusakan
organ dalam yang serius, terutama pada jantung, otot atau otak.1,2
BAB 2
TINJAUAN PUSTAKA
2.1. ANATOMI DAN FISIOLOGI KULIT
Kulit merupakan organ terbesar tubuh yang terdiri dari lapisan sel dipermukaan.
Kulit terdiri dari dua lapisan yaitu epidermis dan dermis. Luas kulit orang dewasa 1.5 m2
dengan berat kira-kira 15% berat badan. Kulit merupakan organ yang esensial dan vital
serta merupakan cermin dari kesehatan dan kehidupan. Kulit juga sangat sangat
kompleks, elastis, dan sensitif, bervariasi pada keadaan iklim, umur, seks, ras, dan juga
bergantung pada lokasi tubuh.3,4

Epidermis merupakan lapisan luar kulit yang utamanya disusun oleh sel-sel epitel.
Sel sel yang terdapat dalam epidermis antara lain: keratinosit (sel terbanyak pada
lapisan epidermis), melanosit, sel merkel dan sel Langerhans. Epidermis terdiri dari lima
lapisan yang paling dalam yaitu stratum basale, stratum spinosum, stratum granulosum,
stratum lucidum dan stratum corneum. 3,4
Dermis merupakan lapisan yang kaya akan serabut saraf, pembuluh darah dan
pembuluh darah limfe. Selain itu, dermis juga tersusun atas kelenjar keringat, kelenjar
sebasea, dan folikel rambut. Dermis terdiri dari dua lapisan yaitu lapisan papillaris dan
lapisan retikularis, sekitar 80% dari dermis adalah lapisan retikularis. 3,4

Gambar 1. Anatomi kulit3

Secara fisiologis, kulit mempunyai fungsi sebagai berikut:


1) Fungsi proteksi, kulit menjaga bagian dalam terhadap gangguan fisis atau mekanis,
misalnya tekanan, gesekan, tarikan; gangguan kimiawi, misalnya zat-zat kimiawi
terutama yang bersifat iritan, misalnya lisol, karbol, asam, dan alkali. Gangguan
yang bersifat panas, misalnya radiasi, sengatan sinar ultra violet; gangguan infeksi
luar terutama kuman/bakteri maupun jamur.
2) Fungsi absorpsi, kulit yang sehat tidak mudah menyerap air, larutan dan benda
padat, tetapi cairan yang mudah menguap lebih mudah diserap, begitupun yang
larut lemak. Permeabilitas kulit terhadap O2, CO2, dan uap air memungkinkan kulit
ikut mengambil bagian pada fungsi respirasi. Penyerapan dapat berlangsung melalui
celah antar sel menembus sel-sel epidermis atau melalui muara saluran kelenjar.
3) Fungsi ekskresi, kelenjar kulit mengeluarkan zat yang tidak berguna lagi atau sisa
metabolisme dalam tubuh berupa NaCl, Urea, asam urat, dan amonia. Sebum yang
diproduksi melindungi kulit karena lapisan ini selalu meminyaki kulit jua menahan
evaporasi air yang berlebihan sehingga kulit tidak menjadi kering.
4) Fungsi persepsi, kulit mengandung ujung-ujung saraf sensorik di dermis dan
subkutis. Terhadap rangsangan panas diperankan oleh badan-badan ruffinidermis
dan sukutis.
5) Fungsi termoregulasi (pengaturan suhu tubuh), kulit melakukan peranan ini dengan
cara mengeluarkan keringat dan mengerutkan pembuluh darah kulit.
6) Fungsi pembentukan pigmen, sel pembentuk pigmen (melanosit) terletak di lapisan
basal dan sel ini berasal dari rigi saraf. Pigmen disebar ke epidermis melalui tangantangan dendrit. Sedangkan ke lapisan kulit di bawahnya dibawa oleh sel melanofag.
7) Fungsi keratinisasi, lapisan epidermis dewasa mempunyai sel utama yaitu
keratinosit, sel langerhans, melanosis.
8) Fungsi pembentukan vitamin D, dimungkinkan dengan mengubah 7 dihidroksi
kolesterol dengan pertolongan sinar matahari.2,3

2.2. Definisi

Cedera Akibat Listrik adalah kerusakan yang terjadi jika arus listrik mengalir ke
dalam tubuh manusia dan membakar jaringan ataupun menyebabkan terganggunya
fungsi suatu organ dalam,3
Tubuh manusia adalah penghantar listrik yang baik. Kontak langsung dengan arus
listrik bisa berakibat fatal. Arus listrik yang mengalir ke dalam tubuh manusia akan
menghasilkan panas yang dapat membakar dan menghancurkan jaringan tubuh.
Meskipun luka bakar listrik tampak ringan, tetapi mungkin saja telah terjadi
kerusakan organ dalam yang serius, terutama pada jantung, otot atau otak.
Arus listrik bisa menyebabkan terjadinya cedera melalui 3 cara:
1. Henti jantung (cardiac arrest) akibat efek listrik terhadap jantung.
2. Perusakan otot, saraf dan jaringan oleh arus listrik yang melewati tubuh.
3. Luka bakar termal akibat kontak dengan sumber listrik.
2.3. ETIOLOGI
Luka bakar pada kulit bisa disebabkan karena panas, dingin, ataupun zat kimia.
Ketika kulit terkena panas, maka kedalaman luka dipengaruhi oleh derajat panas, durasi
kontak panas pada kulit dan ketebalan kulit.1,3,5
1) Luka Bakar Termal (Thermal Burns)
Luka bakar termal disebabkan oleh air panas (scald), jilitan api ke tubuh (flash),
koboran api ke tubuh (flame) dan akibat terpapar atau kontak dengan objek-objek
panas lainnya (misalnya plastik logam panas dan lain-lain).1,3, 5
2) Luka Bakar Zat Kimia (Chemical Burns)
Luka bakar kimia biasanya disebabaka oleh asam kuat atau alkali yang biasa
digunakan bidang industri, militer, ataupun bahan pembersih yang sering digunakan
untuk keperluan rumah tangga.1,3, 5
3) Luka Bakar Listrik (Electrical Burns)
Listrik menyebabkan kerusakan yang dibedakan karena arus, api, dan ledakan.
Aliran listrik menjalar disepanjang bagian tubuh yang memiliki resistensi paling
rendah; dalam hal ini cairan. Kerusakan terutama pada pembuluh darah, khususnya
tunika intima, sehingga menyebabkan gangguan sirkulasi ke distal. Seringkali
kerusakan berada jauh dari lokasi kontak, baik kontak dengan sumber arus maupun
ground.1,3,5
Trauma listrik terjadi saat seseorang menjadi bagian dari sebuah perputaran aliran
listrik atau bisa disebabkan pada saat berada dekat dengan sumber listrik. Secara
umum ada 2 jenis tenaga listrik, yaitu6

1.Tenaga listrik alam, seperti petir


2.Tenaga listrik buatan, seperti arus listrik searah (DC) contohnya baterai dan arus
listrik bolak balik (AC) contohnya listrik PLN di rumah atau pabrik
4) Luka Bakar Radiasi (Radiation Exposure)
Luka bakar radiasi disebabkan karena terpapar dengan sumber radioaktif. Tipe luka
bakar ini sering disebabkan oleh penggunaaan radioaktif untuk keperluan terapeutik
dalam kedokteran dan industri. Akibat terpapar sinar matahari yang terlalu lama
juga dapat menyebabkan luka bakar radiasi.1,3, 5
Gambar 2. Tipe luka bakar 1,3,7,8

2.4. PATOFISIOLOGI
Respon Lokal
Terdapat 3 zona luka bakar menurut Jackson 1947 yaitu: 1
1. Zona Koagulasi
Merupakan daerah yang langsung mengalami kontak dengan sumber panas dan
terjadi nekrosis dan kerusakan jaringan yang irevisibel disebabkan oleh koagulasi
constituent proteins.1
2. Zona Stasis

Zona stasis berada sekitar zona koagulasi, di mana zona ini mengalami kerusakan
endotel pembuluh darah, trombosit, leukosit sehingga penurunan perfusi jaringan
diikuti perubahan permeabilitas kapiler(kebocoran vaskuler) dan respon inflamasi
lokal. Proses ini berlangsung selam 12-24 jam pasca cedera, dan mungkin
berkakhir dengan nekrosis jaringan.1
3. Zona Hiperemia
Pada zona hiperemia terjadi vasodilatasi karena inflamasi, jaringannya masih
viable. Proses penyembuhan berawal dari zona inikecuali jika terjadi sepsi berat
dan hipoperfusi yang berkepanjangan.1

Gambar 3. Zona luka bakar Jackson 1947 dan efeknya terhadap resusitasi
adekuat dan inadekuat. 1
Elektron mengalir dalam tubuh secara abnormal sehingga menghasilkan cedera atau
kematian melalui depolarisasi otot dan saraf, inisiasi abnormal irama elektrik pada
jantung dan otak atau menghasilkan luka bakar elektrik internal maupun eksternal melalui
panas dan pembentukan pori di membran sel.2,6
Arus yang melalui otak, baik voltase rendah maupun tinggi mengakibatkan
penurunan kesadaran segera karena depolarisasi saraf otak. Arus bolak balik (AC) dapat
menyebabkan fibrilasi ventrikel jika jalurnya melalui dada.7 Aliran listrik yang lama
mengakibatkan kerusakan iskemik otak yang diikuti dengan gangguan nafas.3,8
Cedera bisa berupa luka bakar ringan sampai kematian, tergantung kepada:

1. Jenis dan kekuatan arus listrik.


Secara umum, arus searah (DC) tidak terlalu berbahaya jika dibandingkan dengan arus
bolak-balik (AC). Efek AC pada tubuh manusia sangat tergantung kepada kecepatan
berubahnya arus (frekuensi), yang diukur dalam satuan siklus/detik (hertz). Arus
frekuensi rendah (50-60 hertz) lebih berbahaya dari arus frekuensi tinggi dan 3-5 kali
lebih berbahaya dari DC pada tegangan (voltase) dan kekuatan (ampere) yang sama.
DC cenderung menyebabkan kontraksi otot yang kuat, yang seringkali mendorong
jauh/melempar korbannya dari sumber arus. AC sebesar 60 hertz menyebabkan otot
terpaku pada posisinya, sehingga korban tidak dapat melepaskan genggamannya pada
sumber listrik. Akibatnya korban terkena sengatan listrik lebih lama sehingga terjadi luka
bakar yang berat.
Biasanya semakin tinggi tegangan dan kekuatannya, maka semakin besar kerusakan
yang ditimbulkan oleh kedua jenis arus listrik tersebut. Kekuatan arus listrik diukur
dalam ampere. 1 miliampere (mA) sama dengan 1/1,000 ampere. Pada arus serendah 60100 mA dengan tegangan rendah (110-220 volt), AC 60 hertz yang mengalir melalui dada
dalam waktu sepersekian detik bisa menyebabkan irama jantung yang tidak beraturan,
yang bisa berakibat fatal. Arus bolak-balik lebih dapat menyebabkan aritmia jantung
dibanding arus searah. Arus dari AC pada 100 mA dalam seperlima detik dapat
menyebabkan fibrilasi ventrikel dan henti jantung.
Efek yang sama ditimbulkan oleh DC sebesar 300-500 mA. Jika arus langsung
mengalir ke jantung, misalnya melalui sebuah pacemaker, maka bisa terjadi gangguan
irama jantung meskipun arus listriknya jauh lebih rendah (kurang dari 1 mA).
2. Ketahanan tubuh terhadap arus listrik
Resistensi adalah kemampuan tubuh untuk menghentikan atau memperlambat
aliran arus listrik.
Resistensi jaringan, adalah sebagai berikut:
a. Resistensi rendah: Saraf, Darah, Membran mukosa, Otot
b. Resistensi sedang: Kulit kering, Tendon, Jaringan lemak
c. Resistensi tinggi: Tulang

Kebanyakan resistensi tubuh terpusat pada kulit dan secara langsung tergantung
kepada keadaan kulit. Resistensi kulit yang kering dan sehat rata-rata adalah 40 kali
lebih besar dari resistensi kulit yang tipis dan lembab. 2 Resistensi kulit yang tertusuk
atau tergores atau resistensi selaput lendir yang lembab (misalnya mulut, rektum atau
vagina), hanya separuh dari resistensi kulit utuh yang lembab. Resistensi dari kulit
telapak tangan atau telapak kaki yang tebal adalah 100 kali lebih besar dari kulit yang
lebih tipis. Arus listrik banyak yang melewati kulit, karena itu energinya banyak yang
dilepaskan di permukaan. Jika resistensi kulit tinggi, maka permukaan luka bakar yang
luas dapat terjadi pada titik masuk dan keluarnya arus, disertai dengan hangusnya
jaringan diantara titik masuk dan titik keluarnya arus listrik.7
3. Adanya hubungan dengan bumi
Sehubungan dengan faktor tahanan, maka orang yang berdiri pada tanah yang
basah tanpa alas kaki, akan lebih berbahaya daripada orang yang berdiri dengan
mengggunakan alas sepatu yang kering, karena pada keadaan pertama tahanannya
rendah.1,2
4. Lamanya waktu kontak dengan konduktor
Makin lama korban kontak dengan konduktor maka makin banyak jumlah harus
yang melalui tubuh sehingga kerusakan tubuh akan bertambah besar dan luas. Dengan
tegangan yang rendah akan terjadi spasme otot-otot sehingga korban malah
menggenggam konduktor. Akibatnya arus listrik akan mengalir lebih lama sehingga
korban jatuh dalam keadaan syok yang mematikan Sedangkan pada tegangan tinggi,
korban segera terlempar atau melepaskan konduktor atau sumberlistrik yang tersentuh,
karena akibat arus listrik dengan tegangan tinggi tersebut dapat menyebabkan
timbulnya kontraksi otot, termasuk otot yang tersentuh aliran listrik tersebut.1,2,7
5. Aliran arus listrik
Adalah tempat-tempat pada tubuh yang dilalui oleh arus listrik sejak masuk sampai
meninggalkan tubuh. Arus listrik paling sering masuk melalui tangan, kemudian
kepala; dan paling sering keluar dari kaki.
Arus listrik yang mengalir dari lengan ke lengan atau dari lengan ke tungkai bisa
melewati jantung, karena itu lebih berbahaya daripada arus listrik yang mengalir dari

tungkai ke tanah. Letak titik masuk arus listrik (point of entry) dan letak titik keluar
bervariasi sehingga efek dari arus listrik tersebut bervariasi dari ringan sampai berat.
Arus listrik masuk dari sebelah kiri bagian tubuh lebih berbahaya daripada jika masuk
dari sebelah kanan. Bahaya terbesar bisa timbul jika jantung atau otak berada dalam
posisi aliran listrik tersebut. Bumi dianggap sebagai kutub negatif. Orang yang tanpa
alas kaki lebih berbahaya kalau terkena aliran listrik,alas kaki dapat berfungsi sebagai
isolator, terutama yang terbuat dari karet.
2.5. KLASIFIKASI
Cedera listrik utama adalah luka bakar, cedera sekunder akibat trauma tumpul dari
jatuh atau terlempar dari sumber listrik oleh kontraksi otot intens. Luka bakar listrik dapat
diklasifikasikan menjadi: 8
a. Kontak langsung
i.

pemanasan elektrothermal

b. Kontak tidak langsung


i.

bunga api listrik (arc)

ii.

nyala api listrik (flame)

iii.

kilatan listrik (flash)

Pemanasan jaringan sekunder untuk menyebabkan arus luka bakar electrothermal.


Biasanya luka bakar ini adalah hasil dari aliran listrik bertegangan rendah pada daerah
yang terbatas. Aliran yang terus-menerus saat ini dapat menyebabkan luka bakar yang
signifikan di mana saja di sepanjang jalan saat ini. Biasanya lesi kulit luka bakar
electrothermal yang berbatas tegas, deep- parsial untuk luka bakar full-thickness . 8
Yang paling merusak dari cedera tidak langsung terjadi ketika korban terkena dari
percikan bunga listrik. Bunga api listrik adalah percikan yang terbentuk antara dua benda
bertegangan yang tidak bersentuhan satu sama lain, biasanya merupakan sumber yang
bertegangan tinggi dan tanah. Karena suhu bunga api listrik adalah sekitar 2500 C,
menyebabkan luka bakar yang sangat mendalam pada titik di mana terjadi kontak dengan
kulit. Dalam keadaan lengkung, luka bakar dapat disebabkan oleh panas dari busur itu

sendiri, pemanas electrothermal akibat arus aliran, atau dengan api yang dihasilkan dari
pembakaran pakaian.2
Berdasarkan American Burn Association luka bakar diklasifikasikan berdasarkan
kedalaman, luas permukaan, dan derajat ringan luka bakar.

.(1,5,6,9,).

Berdasarkan luas

permukaan luka bakar.


Luas luka tubuh dinyatakan sebagai persentase terhadap luas permukaan tubuh
atau Total Body Surface Area (TBSA). Untuk menghitung secara cepat dipakai Rules of
Nine atau Rules of Walles dari Walles. Perhitungan cara ini hanya dapat diterapkan pada
orang dewasa, karena anak-anak mempunyai proporsi tubuh yang berbeda. Pada anakanak dipakai modifikasi Rule of Nines menurut Lund and Browder, yaitu ditekankan pada
umur 15 tahun, 5 tahun dan 1 tahun. 1,2, 3,4,6
Gambar 6. Wallence Rule of Nines 1

1.

Bedasarkan derajat ringan luka bakar menurut American Burn Association: 1,3,5,6,
a. Luka Bakar Ringan
i.
Luka bakar derajat II < 5%
ii.
Luka bakar derajat II 10% pada anak

iii.

Luka bakar derajat II < 2%(1,3.8, 10)


b. Luka Bakar Sedang
i.
Luka bakar derajat II 15-25% pada orang dewasa
ii.
Luka bakar derajat II 10-20% pada anak-anak
iii.
Luka bakar derajat III < 10%(1,3,8,10)
c. Luka Bakar Berat
i.
Luka bakar derajat II 25% atau lebih pada orang dewasa
ii.
Luka bakar derajat II 20% atau lebih pada anak-anak
iii.
Luka bakar derajat III 10% atau lebih
iv.
Luka bakar mengenai tangan, telinga, mata, kaki,
v.

dan

genitalia/perineum.
Luka bakar dengan cedera inhalasi, listrik, disertai trauma lain. 1,2,6,9
Gambar 7. Lund and Browder1

2.6. MANIFESTASI KLINIS


Gejalanya tergantung kepada interaksi yang rumit dari semua sifat arus listrik. Suatu
kejutan dari sebuah arus listrik bisa mengejutkan korbannya sehingga dia terjatuh atau
menyebabkan terjadinya kontraksi otot yang kuat. Kedua hal tersebut bisa mengakibatkan
dislokasi, patah tulang dan cedera tumpul. Kesadaran bisa menurun, pernafasan dan

denyut jantung bisa lumpuh. Luka bakar listrik bisa terlihat dengan jelas di kulit dan bisa
meluas ke jaringan yang lebih dalam.10

a. Kepala dan Leher


Kepala adalah titik kontak utama untuk cedera tegangan tinggi, dan pasienmungkin
menunjukkan luka bakar serta kerusakan neurologis. Katarak timbul di sekitar 6 %
kasus cedera tegangan tinggi, terutama bila tersengat listrikdi sekitar kepala. Meskipun
katarak mungkin hadirlebih cepat atau lambat setelah kecelakaan itu, katarak biasanya
muncul beberapa bulansetelah kejadian. Ketajaman visual dan pemeriksaan funduskopi
harus dilakukanpada kemudian hari. Pasien harus segera dirujuk ke dokter mata untuk
mengetahui kemungkinan terjadinya katarak ini.10
b. Sistem kardiovaskular
Serangan jantung, baik dari detak jantung atau fibrilasi ventrikel, adalah kondisi umum
yang akan terjadi dalam kecelakaan listrik. Pada Elektrokardiografi (EKG) ditemukan
sinus takikardi, sementara elevasi segmen ST, QT reversibelsegmen perpanjangan,
kontraksi ventrikel prematur, fibrilasi atrium, danbundel branch block. Infark miokard
akut dilaporkan tetapi relatif jarang. Kerusakan otot rangka dapat menghasilkan
peningkatan fraksi CPK-MB, mengarah pada diagnosis palsu infark miokard dalam
beberapa pengaturan.10
c. Kulit
Selain serangan jantung, luka yang paling dahsyat yang terjadi saat cedera listrik adalah
kulit terbakar, yang paling parah pada luka masuk dan tubuh yang kontak dengan tanah.
Bagian tubuh yang paling sering dari terkena kontak dengan sumber listrik ialah tangan
dan tengkorak. Daerah yang paling sering dari tanah adalah tumit. Seorang pasien
mungkin memiliki beberapa luka masuk dan titik kontak dengan tanah. Luka bakar di
listrik yang parah sering muncul keluhan seperti rasa sakit, depresi, kuning abu-abu,
belang-belang daerah dengan pusat nekrosis, atau daerah yang mengeras seperti mumi.
Arus tegangan tinggi seringmengalir pada internal tubuh dan dapat membuat
kerusakan otot besar. Jika kontak dalam singkat. Namun, arus minimal mungkin terjadi

dan kerusakan kulit terlihat mungkin mewakili hampir semua kerusakan. Seseorang
sebaiknya tidak mencoba untuk memprediksi jumlah kerusakan jaringan di bawahnya
dari jumlah keterlibatan kulit. Cedera listrik yang paling umum terlihat pada anak-anak
kurang dari 4 tahun adalah mulut luka bakar yang terjadi dari mengisap pada kabel
ekstensi listrik rumah tangga. Luka-luka bakar biasanya merupakan luka bakar busur
lokal, mungkin melibatkan orbicularis oris otot, dan sangat mengkhawatirkan ketika
komisura yang terlibat karena dari kemungkinan deformitas kosmetik. Sebuah risiko
yang signifikan pendarahan tertunda dari arteri labial ada ketika memisahkan escar .
Kerusakan pertumbuhan dilaporkan , dan biasanya dirujuk ke bedah mulut.10
Pada kulit terjadi escar yang bisa menyebabkan timbulnya sindrom kompartemen.
Syndrom kompartemen adalah suatu kondiri dimana terjadi peningkatan tekannan
insterstitial pada kompartemen osteofasial yang tertutup. Sehingga mengakibatkan
berkurangnya perfusi jaringan dan tekanan oksigen pada jaringan.

Gejala klinis yang umumnya ditemukan pada sindroa kompartemen meliputi:


Pain

: nyeri pada saat peregangan pasif pada otot-otot yang terkena

Pallor

: kulit terasa dingin jika dipalpasi, warna kulit biasanya pucat

Parastesia

: biasanya terasa panas dan gatal pada daerah lesi

Paralisis

: diawali dengan ketidak mampuan untuk menggerakkan sendi

Pulselesness : berkurang atau hilangnya denyut nadi akibat adanya gangguan


perfusi arterial.

Dalam cedera tegangan tinggi, nekrosis otot dapat meluas ke tempat yang jauh dari luka
kulit yang terlihat, dan kompartemen sindrom terjadi sebagai akibat dari pembuluh
darahiskemia dan edema otot. Dekompresi fasciotomy atau amputasi sering diperlukan
karena kerusakan jaringan yang luas.
d. Ekstrimitas
Pelepasan mioglobin yang banyak dari otot yang rusak dapat menyebabkan
myoglobinuria. Vascular ginjal dari energi listrik bisa menjadi jelas setiap saat isi ulang

kapiler harus dikaji dan didokumentasikan dalam semua ekstremitas, dan pemeriksaan
neurovaskular harus sering diulang. Karena arteri adalah sistem high-flow, panas dapat
hilang cukup baik dan menyebabkan sedikit kerusakan awal jelas tapi hasilnya dalam
kerusakan berikutnya. Pembuluh darah, di sisi lain, adalah sistem aliran rendah, yang
memungkinkan energi panas untuk menyebabkan pemanasan lebih cepat dari darah,
dengan akibat trombosis . Akibatnya, ekstremitas mungkin muncul pembengkakan pada
awalnya. Dengan luka parah, seluruh ekstremitas mungkin muncul pengerasan ketika
semua elemen jaringan, termasuk arteri, mengalami koagulasi nekrosis. Kerusakan pada
dinding pembuluh pada saat cedera juga dapat mengakibatkan tertundatrombosis dan
perdarahan, terutama dalam arteri kecil pada otot .10
2.6. PENATALAKSANAAN
1. Prehospital
Hal pertama yang harus dilakukan jika menemukan pasien luka bakar di
tempat kejadian adalah menghentikan proses kebakaran. Maksudnya adalah
membebaskan pasien dari pajanan atau sumber dengan memperhatikan keselamatan
diri sendiri. Bahan yang meleleh atau menempel pada kulit tidak bisa dilepaskan. Air
suhu kamar dapat disiriamkan ke atas luka dalam waktu 15 menit sejak kejadian,
namun air dingin tidak dapat diberikan untuk mencegah terjadinya hipotermia dan
vasokonstriksi. 1,2,5,6,9
2. Burn Resusitasi
Burn shock akan berkembang menjadi hypovolemi dan penghancuran jaringan
selular. Karakteristik dari tipe shock ini adalah penurunan cardiac output dan volume
plasma dan terjadi peningkatan cairan ekstraseluler, edema dan oligouria.
3. Resusitasi jalan nafas
Bertujuan untuk mengupayakan suplai oksigen yang adekuat. Pada luka bakar
dengan kecurigaan cedera inhalasi, tindakan intubasi dikerjakan sebelum edema
mukosa menimbulkan manifestasi obstruksi. Sebelum dilakukan intubasi, oksigen
100% diberikan dengan menggunakan face mask. Intubasi bertujuan untuk
mempertahankan patensi jalan napas, fasilitas pemeliharaan jalan napas (penghisapan
sekret) dan broncoalveolar lavage. Krikotiroidotomi masih menjadi perdebatan
karena dianggap terlalu agresif dan morbiditasnya lebih besar dibandingkan intubasi.
Krikotiroidotomi dilakukan pada kasus yang diperkirakan akan lama menggunakan

ETT yaitu lebih dari 2 minggu pada luka bakar luas yang disertai cedera inhalasi.
Kemudian dilakukan pemberian oksigen 2-4 liter/menit melalui pipa endotracheal.
Terapi inhalasi mengupayakan suasana udara yang lebih baik disaluran napas dengan
cara uap air menurunkan suhu yang meningkat pada proses inflamasi dan mencairkan
sekret yang kental sehingga lebih mudah dikeluarkan. Pada cedera inhalasi perlu
dilakukan pemantauan gejala dan distres pernapasan. Gejala dan tanda berupa sesak,
gelisah,takipneu, pernapasan dangkal, bekerjanya otot-otot bantu pernapasan dan
stridor. Pemeriksaan penunjang yang perlu dilakukan adalah analisa gas darah serial
dan foto thorax.1,2,5,6,9
4. Resusitasi cairan
Tujuan resusitasi cairan pada syok luka bakar adalah:
i. Preservasi reperfusi yang adekuat dan seimbang diseluruh pembuluh
vaskuler regional sehingga tidak terjadi iskemia jaringan
ii. Minimalisasi dan eliminasi pemberian cairan bebas yang tidak diperlukan.
iii. Optimalisasi status volume dan komposisi intravaskuler untuk menjamin
survival seluruh sel
iv. Minimalisasi respon inflamasi dan hipermetabolik dan mengupayakan
stabilisasi pasien secepat mungkin kembali ke kondisi fisiologis. 1,5,6,9
a. Jenis cairan
Terdapat tiga jenis cairan secara umum yaitu kristaloid, cairan hipertonik dan koloid:
1,7,8,11

Larutan kristaloid
Larutan ini terdiri atas cairan dan elektrolit. Contoh larutan ini adalah Ringer Laktat
dan NaCl 0,9%. Komposisi elektrolit mendekati kadarnya

dalam plasma atau

memiliki osmolalitas hampir sama dengan plasma. Pada keadaan normal, cairan ini
tidak hanya dipertahankan di ruang intravaskular karena cairan ini banyak keluar ke
ruang interstisial. Pemberian 1 L Ringer Laktat (RL) akan meningkatkan volume
intravaskuer 300 ml. 1,7,9,11
Larutan hipertonik
Larutan ini dapat meningkatkan volume intravaskuler 2,5 kali dan penggunaannya
dapat mengurangi kebutuhan cairan kristaloid. Larutan garam hiperonik tersedia
dalam beberapa konsentrasi, yaitu NaCl 1,8%, 3%, 5 %, 7,5% dan 10%. Osmolalitas
cairan ini melebihi cairan intraseluler sehingga cairan akan berpindah dari

intraseluler ke ekstraseluler. Larutan garam hipertonik meningkatkan volume


intravaskuler melalui mekanisme penarikan cairan dari intraseluler. 1,7,9,11
Larutan koloid
Contoh larutan koloid adalah Hydroxy-ethyl starch (HES) dan Dextran.
Molekul koloid cukup besar sehingga tidak dapat melintasi membran kapiler, oleh
karena itu sebagian akan tetap dipertahankan didalam ruang intravaskuler. Pada luka
bakar dan sepsis, terjadi peningkatan permeabilitas kapiler sehingga molekul akan
berpindah ke ruang interstisium. Hal ini akan memperburuk edema interstisium yang
ada. 1,3.8, 10
HES merupakan suatu bentuk hydroxy-substitued amilopectin sintetik, HES
berbentuk larutan 6% dan 10% dalam larutan fisiologik. T dalam plasma selama 5
hari, tidak bersifat toksik, memiliki efek samping koagulopati namun umumnya tidak
menyebabkan masalah klinis. HES dapat memperbaiki permeabilitas kapiler dengan
cara menutup celah interseluler pada lapisan endotel sehingga menghentikan
kebocoran cairan, elektrolit dan protein. Penelitian terakhir mengemukakan bahwa
HES memiliki efek antiinflamasi dengan menurunkan lipid protein complex yang
dihasilkan oleh endotel, hal ini diikuti oleh perbaikan permeabilitas kapiler. Efek
antiinflamasi diharapkan dapat mencegah terjadinya SIRS. 1,5,6,9
b. Dasar pemilihan Cairan
Beberapa faktor yang harus diperhatikan dalam pemilihan cairan adalah efek
hemodinamik, distribusi cairan dihubungkan dengan permeabilitas kapiler, oksigen,
PH buffering, efek hemostasis, modulasi respon inflamasi, faktor keamanan,
eliminasi praktis dan efisien. Jenis cairan terbaik untuk resusitasi dalam berbagai
kondisi klinis masih menjadi perdebatan terus diteliti. Sebagian orang berpendapat
bahwa kristaloid adalah cairan yang paling aman digunakan untuk tujuan resusitasi
awal pada kondisi klinis tertentu. Sebagian pendapat koloid bermanfaat untuk entitas
klinik lain. Hal ini dihubungkan dengan karakteristik masing-masing cairan yang
memiliki kelebihan dan kekurangan. Pada kasus luka bakar, terjadi kehilangan ciran
di kompartemen interstisial secara masif dan bermakna sehingga dalam 24 jam
pertama resusitasi dilakukan dengan pemberian cairan kristaloid. 1,4,7,10
c. Penentuan jumlah cairan
Untuk melakukan resusitasi dengan cairan kristaloid dibutuhkan tiga sampai
empat kali jumlah defisit intravaskuler. 1 L cairan kristaloid akan meningkatkan

volume intravaskuler 300 ml. Kristaloid hanya sedikit meningkatkan cardiac output
dan memperbaiki transpor oksigen.1,5,6,9
Penatalaksanaan dalam 24 jam pertama
Resusitasi syok menggunakan Ringer laktat atau ringer asetat, menggunakan
beberapa jalur intravena. Pemberian cairan pada syok atau kasus luka bakar > 2530% atau dijumpai keterlambatan > 2 jam. Dalam <4 jam pertama diberikan cairan
kristaloid sebanyak 3[25%(70%xBBkg)] ml. 70% adalah volume total cairan tubuh,
sedangkan 25% dari jumlah minimal kehilangan cairan tubuh dapat menimbulkan
gejala klinik sidrom syok. 1,5,6,9
Pada resusitasi cairan tanpa adanya syok atau kasus luka bakar luas < 2530%, tanpa atau dijumpai keterlambatan < 2 jam. Kebutuhan dihitung berdasarkan
rumus baxter 3-4 ml/kgBB/% LB. 1,5,6,9
Metode Parkland merupakan metode resusitasi yang paling umum digunakan
pada kasus luka bakar, menggunakan cairan kristaloid. Metode ini mengacu pada
waktu iskemik sel tubulus ginjal < 8 jam sehingga lebih tepat diterapkan pada kasus

luka bakar yang tidak terlalu luas tanpa keterlambatan. 15,6,9


Pemberian cairan menurut formula Parkland adalah sebagai berikut: 1,5,6,9
Pada 24 jam pertama: separuh jumlah cairan diberikan dalam 8 jampertama, sisanya
diberikan dalam 16 jam berikutnya. Pada bayi, anak dan orang tua, kebutuhan cairan
adalah 4 ml. Bila dijumpai cedera inhalasi maka kebutuhan cairan 4 ml ditambah 1%

dari kebutuhan.
Penggunaan zat vasoaktif (dopamin dan dobutamin) dengan dosis 3 mg/kgBB
dengan titrasi atau dilarutkan dalam 500ml Glukosa 5% jumlah tetesan dibagi rata

dalam 24 jam.
Pemantauan untuk menilai sirkulasi sentral melalui tekanan vena sentral (minimal
6-12cm H20) sirkulasi perifer (sirkulasi renal). Jumlah produksi urin melalui kateter,
saat resusitasi (0,5- 1ml /kg BB/jam maka jumlah cairan ditingkatkan 50% dari jam

sebelumnya.
Pemeriksaan fungsi renal (ureum, kreatinin) dan urinalisis (berat jenis dan sedimen).
Pemantauan sirkulasi splangnikus dengan menilai kualitas dan kuantitas cairan
lambung melaui pipa nasogastrik. Jika , 200ml tidak ada gangguan pasase lambung,
200-400ml ada gangguan ringan, >400 ml gangguan berat. 1,5,6,9

Penatalaksanaan 24 jam kedua

Pemberian cairan yang menggunakan glukosa dan dibagi rata dalam 24 jam. Jenis
cairan yang dapat diberikan adalah glukosa5% atau 10% 1500-2000 ml. Batasan

ringer laktat dapat memperberat edema interstisial.


Pemantauan sirkulasi dengan menilai tekanan vena pusat dan jumlah produksi uin
<1-2 ml/kgBB/jam,berikan vasoaktif samapi 5 mg/kgBB
Pemantauan analisa gas darah, elektrolit1,5.6.9

Penatalaksanaan setelah 48 jam

Cairan diberikan sesuai kebutuhan maintanance

Pemantauan sirkulasi dengan menilai produksi urin (3-4 ml/kgBB), hemoglobin dan
hematokrit. 1,5.6.9
Rumus Baxter:
Pada dewasa:
Hari I: 3-4 ml x kgBB x % luas luka bakar
Hari II:Koloid: 200-2000 cc + glukosa 5%
Pemberian cairan volume pada 8 jam pertama dan volume diberikan
16jamberikutnya.
Pada anak:
Hari I:
RL:dex 5% = 17:3
(2cc x kgBB x % luas luka bakar) + keb. faal
Kebutuhan Faal:
<1 thn = kgBB X 100cc
5-15 thn = kgBB X 75cc
>15 thn = kgBB X 50cc
Hari II: sesuai kebutuhan faal
Formula Parkland: 1,5.6.9
Hari I (24jam pertama):
8 jam pertama: [0,5 x (4 cc x kgBB x % TBSA )] / 8 jam =cc/jam

16 jam kedua: [0,5 X (4 cc x kg BB x % TBSA)] / 16 jam = cc/jam


Penambahan cairan rumatan pada anak :
4 cc/kgBB/jam dalam 10 kg pertama
2 cc/kg BB/jam dalam 10 kg kedua (11-20kg)
1 cc/kgBB/jam untuk tiap >20kg

Bila dijumpai cedera inhalasi maka kebutuhan cairan 4 ml ditambah 1% dari


kebutuhan.Pengawasan kecukupan cairan yang diberikan dapat dilihat dari produksi
urin yaitu pada dewasa 0,5-1,0 cc/kg/jam dan pada anak 1,0-1,5 cc/kg/jam. 1,4,7,10
5. Perawatan luka
Perawatan luka dilakukan setelah tindakan resusitasi jalan napas, mekanisme
bernapas dan resusitasi cairan dilakukan. Tindakan meliputi debridement secara
alami, mekanik (nekrotomi) atau tindakan bedah (eksisi), pencucian luka, wound
dressing dan pemberian antibiotik topikal . Tujuan perawatan luka adalah untuk
menutup luka dengan mengupaya proses reepiteliasasi, mencegah infeksi,
mengurangi jaringan parut dan kontraktur dan untuk menyamankan pasien.
Debridement diusahakan sedini mungkin untuk membuang jaringan mati dengan
jalan eksisi tangensial. Tindakan ini dilakukan setelah keadaan penderita stabil,
karena merupakan tindakan yang cukup berat. Untuk bullae ukuran kecil tindakannya
konservatif sedangkan untuk ukuran besar(>5cm) dipecahkan tanpa membuang
lapisan epidermis diatasnya.
Pengangkatan keropeng (eskar) atau eskarotomi dilakukan juga pada luka
bakar derajat III yang melingkar pada ekstremitas atau tubuh sebab pengerutan
keropeng(eskar) da pembengkakan yang terus berlangsung dapat mengakibatkan
penjepitan (compartment syndrome) yang membahayakan sirkulasi sehingga bahgian
distal iskemik dan nekrosis(mati). Tanda dini penjepitan (compartment syndrome)
berupa nyeri kemudian kehilangan daya rasa (sensibilitas) menjadi kebas pada ujungujung distal. Keaadan ini harus cepat ditolong dengan membuat irisan memanjang
yang membuka keropeng sampai penjepitan bebas. 1,5,6,9
Pencucian luka dilakukan dengan hidroterapi yaitu memandikan pasien atau
dengan air hangat mengalir dan sabun mandi bayi. Lalu luka dibalut dengan kasa
lembab steril dengan atau tanpa krim pelembap. Perawatan luka tertutup dengan
occlusive dressing untuk mencegah penguapan berlebihan. Penggunaan tulle
(antibiotik dalam bentuk sediaan kasa) berfungsi sebagai penutup luka yang
memfasilitasi drainage dan epitelisasi. Sedangkan krim antibiotik diperlukan untuk
mengatasi infeksi pada luka. 1,5,6,9
6. Lain-lain

Pemberian antibiotik pada kasus luka bakar bertujuan sebagai profilaksis


infeksi dan mengatasi infeksi yang sudah terjadi. Dalam3-5 hari pertana populasi
kuman yang sering dijumpai adalah bakteri Gram positif non-patogen.Sedangkan
hari 5-10 adalah bakteri Gram negative patogen. Dalam 1-3 hari pertama pasca
cedera, luka masih dalam keadaan steril sehingga tidak diperlukan antibiotik.
Beberapa antibiotik topikal yang dapat digunakan adalah silver sulfadiazine 1%,
silver nitrate dan mafenide (sulfamylon) dan xerofom/bacitracin. Antasida diberikan
untuk pencegahan tukak beban (tukak stress/stress ulcer), antipiretik bila suhu tinggi
dan analgetik bila nyeri. 1,5,6,9
Nutrisi harus diberikan cukup untuk menutup kebutuhan kalori dan
keseimbnagan nitrogen yang negatif pada fase katabolisme, yaitu sebanyak 25003000 kalori sehari dengan kadar protein tinggi. Kalau perlu makanan diberikan
melalui enteral atau ditambah dengan nutrisi parenteral. Pemberian nutrisi enteral
dini melalui nasaogastik dalam 24 jam pertama pasca cedera bertujuan untuk
mencegah terjadinya atrofi mukosa usus. Pemberian enteral dilakukan dengan aman
bila Gastric Residual Volume (GRV) <150 ml/jam yang menandakan pasase saluran
cerna baik. 1,5,6,9
Penderita yang sudah mulai stabil keadaannya perlu fisioterapi untuk
memperlancarkan peredaran darah dan mencegah kekakuan sendi. Kalau perlu sendi
diistirahatkan dalam posisi fungsional degan bidai.Penderita luka bakar luas harus
dipantau terus menerus. Keberhasilan pemberian cairan dapat dilihat dari diuresis
normal yaitu 1ml/kgBB/jam. Yang penting juga adalah sirkulasi normal atau tidak
dengan menilai produksi urin,analisa gas darah, elektrolit,

hemoglobin dan

hematokrit. 1,5,6,9
I. KOMPLIKASI
Komplikasi pada luka bakar dibagi menjadi dua, yaitu komplikasi saat perawatan
kritis atau akut dan komplikasi yang berhubungan dengan eksisi dan grafting.Kompilkasi
yang dapat terjadi pada masa akut adalah SIRS, sepsis dan MODS.Selain itu komplikasi
pada gastrointestinal juga dapat terjadi,ss yaitu atrofi mukosa, ulserasi dan perdarahan
mukosa, motilitas usus menurun dan ileus. Pada ginjal dapat terjadi acute tubular
necrosis karena perfusi ke renal menurun. Skin graft loss merupakan komplikasi yang
sering terjadi, hal ini disebabkan oleh hematoma, infeksi dan robeknya graft. Pada fase

lanjut suatu luka bakar, dapat terjadi jaringan parut pada kulit berupa jaringan parut
hipertrofik., keloid dan kontraktur.Kontraktur kulit dapat menganggu fungsi dan
menyebabkan kekeauan sendi. Kekakuan sendi memerlukan program fisioterapi yang
intensif dan kontraktur memerlukan tindakan bedah. 1,5,6,11
2.7. PROGNOSIS
Prognosis pada luka bakar tergantung dari derajat luka bakar, luas permukaan badan
yang terkena luka bakar, adanya komplikasi seperti infeksi, dan kecepatan pengobatan
medikamentosa. Luka bakar minor ini dapat sembuh 5-10 hari tanpa adanya jaringan
parut. Luka bakar moderat dapat sembuh dalam 10-14 hari dan mugkin dapat
menimbulkan luka parut. Jaringan parut akan membatasi gerakan dan fungsi. Dalam
beberapa kasus, pembedahan dapat diperlukan untuk membuang jaringan parut. 1,5,6,11

DAFTAR PUSTAKA
1. Wim de Jong. 2005. Bab 3 : Luka, Luka Bakar : Buku Ajar Ilmu Bedah. Edisi 2.
EGC. Jakarta. p 66-88
2. Gerard M Doherty. Current Surgical Diagnosis and Treatment. Edisi 12. McGrawHill Companies. New York. p 245-259
3. Benjamin

C.

Wedro.

Agustus

2008.

First

Aid

for

Burns.

http://www.medicinenet.com.
4. James H. Holmes., David M. heimbach. 2005. Burns, in : Schwartzs Principles of
Surgery. 18th ed. McGraw-Hill. New York. p.189-216
5. Jerome FX Naradzay. November 2006. Burns, Thermal.http: // www. emedicine.
com/ med/
6. Rubangi. S, 1990. Trauma listrik dan Halilintar. Fakultas Kedokteran Universitas
Indonesia. Jakarta.http://eprints.ui.ac.id/13260/1/82850-T6046-Trauma%20listrikTOC.pdf

7. Wim de Jong. 2005. Bab 3 : Luka, Luka Bakar : Buku Ajar Ilmu Bedah. Edisi 2.
EGC. Jakarta. p 66-88
8. Hoediyanto.H,

2008.

Trauma

Listrik.

Universitas

Airlangga.

Surabaya.

http://www.fk.uwks.ac.id/elib/Arsip/Departemen/Forensik/Tr.%20Listrik.pdf
9. James M Becker. Essentials of Surgery. Edisi 1. Saunders Elsevier. Philadelphia. p
118-129
10. Gerard M Doherty. Current Surgical Diagnosis and Treatment. Edisi 12. McGrawHill Companies. New York. p 245-259
11. Klein, MB. 2007. Thermal,chemical,and electrical injuries.In: Thorne CH et all
(editors) Grabb & Smits Plastic surgery. 6th Edition. US: Lippincott Williams &
Wilkins, Wolters Kluwer business.p 146-7.

Anda mungkin juga menyukai