Anda di halaman 1dari 7

ANALISIS CEMARAN LOGAM Pb, Cu, Mg, Ca, DAN Cl PADA ALIRAN AIR DARI

TEMPAT PEMBUANGAN SEMENTARA (TPS) DI PASAR GEDE BAGE


A Baist K, Futhri A.K, Nicky Sundawa, Rini Yuliani
ANALISIS CEMARAN LINGKUNGAN, JURUSAN KIMIA FAKULTAS SAINS DAN
TEKNOLOGI UIN BANDUNG

ABSTRAK
Produksi air lindi pada TPS Pasar Gedebage dapat menjadi salah satu sumber pencemaran
lingkungan. Bahan pencemar dalam air lindi mengalir melalui pipa-pipa pembuangan ke aliran air.
Analisis kandungan timbal, magnesium, tembaga, klor dan kalsium dilakukan berdasarkan metode
titrimetri. Penentuan tembaga dan timbal dilakukan dengan menggunakan metode titrasi iodometri.
Penentuan kesadahan dilakukan dengan menggunakan metode titrimetriEDTA.Untuk logam Pb, Cu,
Ca, Mg dan Cl nilai ambang batas pencemaran air oleh pembuangan air lindi dipantau oleh
Peraturan Pemerintah NO 82 tahun 2001 tentang pengolahan kualitas air dan pengendaliaan
pencemaran air dan Peraturan Menteri Kesehatan Nomor : 416/MEN.KES/PER/IX/1990 Tentang
Syarat-syarat Dan Pengawasan Kualitas Air.

Kata kunci: Kompleksometri, Argentometri, Iodometri, Ca, Mg, Pb, Cu, Cl

1. PENDAHULUAN
Pecemaran perairan disekitar Pasar
Gedebage dapat terjadi disebabkan oleh banyak
hal, diantaranya pembuangan limbah sampah
dipasar dan limbah rumah tangga Menurut
Alaerts (1984) air tawar mengandung logam
yang berasal dari buangan air limbah, erosi, dan
dari udara secara langsung. Air tawar
mengandung material anorganik dan organik
yang lebih banyak daripada air laut.
Logam
berat
pada
umumnya
mempunyai sifat toksik dan berbahaya bagi
organisme
hidup,
walaupun
beberapa
diantaranya diperlukan dalam jumlah kecil.
Beberapa logam berat banyak digunakan dalam
berbagai kehidupan sehari-hari. Secara
langsung maupun tidak langsung toksisitas dari
polutan itulah yang kemudian menjadi pemicu
terjadinya pencemaran pada lingkungan

sekitarnya. Apabila kadar logam berat sudah


melebihi ambang batas yang ditentukan dapat
membahayakan bagi kehidupan (Koestoer,
1995).
Diantaranya adalah limbah rumah
tangga, pembuangan limbah pasar, perkotaan
dan proses erosi. Material tersebut mempunyai
kemampuan untuk mengabsorbsi logam,
sehingga pencemaran logam pada air tawar
lebih mudah terjadi.
Logam berat dalam konsentrasi yang
tinggi dapat mengakibatkan kematian beberapa
jenis biota perairan. Disamping itu, dalam
konsentrasi yang rendah logam berat dapat
membunuh organisme hidup dan proses ini
diawali dengan penumpukan logam berat dalam
tubuh biota. Lama kelamaan, penumpukan
yang terjadi pada organ target dari logam berat

akan melebihi daya toleransi dari biotanya dan


hal ini menjadi penyebab dari kematian biota
terkait (Palar, 1994). Hutagalung (1997)
menyatakan bahwa peningkatan kadar logam
berat dalam air akan mengakibatkan logam
berat yang semula dibutuhkan untuk berbagai
proses metabolisme akan berubah menjadi
racun.Sampah mengandung bahan pencemar
baik organik maupun anorganik. Bahan
pencemar anorganik antara lain seperti Cu,
Pb, Cl dan kesadahan, kebanyakan bahan
pencemar ini berasal dari limbah
rumah
tangga seperti tembaga digunakan sebagai
bahan campuran pada peralatan makanan
(sendok dan garpu). Sampah mengalami
dekomposisi secara alami,
namun
hasil
dekomposisi
tersebut tertahan diantara
timbunan sampah, sehingga perlu media untuk
membawa hasil dekomposisi sampah. Air hujan
berperan sebagai
media
pelarut
yang
membawa bahan pencemar dari hasil
dekomposisi sampah masuk ke dalam kolam
penampungan lindi, apabila tidak dikelola
dengan baik bahan pencemar dalam air lindi
akan meresap ke dalam tanah (infiltrasi) dan
mengakibatkan pencemaran air tanah.
Tujuan dari penelitian ini adalah untuk
mengetahui kadar Cu, Pb, Cl dan kesadahan
dalam air lindi terhadap kualitas air tanah serta
membandingkan dengan PP No.82 tahun
2001 tentang Pengelolaan Kualitas Air dan
Pengendalian Pencemaran Air. Dan Peraturan
Menteri Kesehatan Nomor 416/MEN.KES
/PER/IX/1990 Tanggal : 3 September 1990
Tentang Syarat-syarat dan Pengawasan
Kualitas Air.
2. METODOLOGI PENELITIAN
Alat-alat yang digunakan dalam
penelitian ini adalah botol, pH meter,
termometer, labu ukur 100 mL, gelas kimia,
cawan porselen, oven, kasa dan kaki tiga,
bunsen, erlenmeyer, buret 50 ml, statif dan
klem, pipet volume 25 ml dan 50 ml dan gelas
ukur.Bahan-bahan yang digunakan adalah
sampel air TPS, H2SO4 4N , akuades, AgNO3
0.1N, EDTA 0.1N, KIO3 0.1N, KI 20%,

Amilum 1%, alkohol 70%, indikator EBT,


indikator murexide, indikator K2CrO4, NaOH
0.1N, Na2S2O3 0.1N, CaCO3 0.1N, HCl pekat
8N, buffer pH 4 dan 10 dan NaCl 0.1N.
2.1 Metode Pengambilan Sampel
Sampel yang digunakan pada penelitian
ini adalah sampel air TPS yang diambil pada
aliran air di kawasan Pasar Gedebage. Sampel
diukur pH dan suhunya sebagai parameter
fisiknya. Sampel diambil pada 1 titik sampling
pada aliran air. Pengambilan sampel dilakukan
selama 3 hari sebelum analisis.
2.2 Preparasi Awal Sampel
Sampel dalam botol dimasukan kedalam
freezer selama 3hari pada suhu -40C sampai
membeku. Selanjutnya pada saat analisis,
sampel dipanaskan sampai mencair.
2.3 Analisis Logam Pb Dan Cu Pada
Sampel Air TPS
Penentuan logam Pb dan Cu dilakukan
secara iodometri dimana dilakukan pembakuan
larutan Na2S2O3 dengan larutan baku KIO3.
Dipipet 25 mL KIO3 0,1 N ke dalam
Erlenmeyer, ditambahkan 2mL H2SO4 4 N dan
5 mL KI 20%, ditutup plastik hitam lalu
dititrasi dengan Na2S2O3 hingga kuning gading
dan ditambahkan indikator amilum 1 % lalu
dititrasi kembali dengan Na2S2O3 hingga tak
berwarna.Untuk penentuan logam Pb, 50mL
sampel ke dalam beaker glass dipanaskan
hingga mendidih dan ditambahkan 20mL
H2SO4 4 N secara perlahan diikuti dengan
pengadukan lalu didinginkan. Ditambahkan
5mL alkohol 70% dan didiamkan selama 30
menit kemudian dikeringkan kertas saring
didalam oven pada suhu 105oC (jangan sampai
gosong) lalu ditimbang. Larutan campuran tadi
disaring dengan kertas saring sampai terpisah
filtrat dengan endapannya. Endapan dicuci
dengan 25mL alkohol 70 % (2 kali perulangan)
dan beberapa tetes H2SO4 4 N keringkan di
dalam oven pada suhu 105oC. Ditimbang
kembali kertas saring.Pada penentuan logam
Cu, diambil semua filrat dan encerkan hingga
batas tanda tera labu ukur 100mL. Dipipet
sebanyak 50 ml. Ditambahkan 10mL larutan KI
20% 10mL larutan H2SO4 4 N titrasi dengan

larutan Na2S2O3 hingga warna kuning gading


lalu ditambahkan 1 amilum 1% dan dititrasi
kembali.
2.4 Analisis Kuantitatif Cl Pada Sampel Air
TPS
Pada penentuan Cl
digunakan
Argentometri metode Mohr dimana pada
perlakuan pertama dilakukan standarisasi
terhadap titran AgNO3, dengan cara disiapkan
larutan NaCl 0,1000 N sebanyak 1000 mL
dengan cara melarutkan 5,80 gram NaCl p.a
(telah dikeringkan dalam oven 110oC selama 1
jam) dengan aquades di dalam labu ukur 1000
mL. Kemudian disiapkan larutan AgNO3
0,1000 N sebanyak 500 mL dengan cara
melarutkan 9,00 gram AgNO3 dengan aquades
di labu ukur 500 mL. Lalu 25,00 mL NaCl
diambil dengan pipet volume, dituangkan ke
dalam erlenmeyer 250 mL, ditambah 1,0 mL
larutan K2CrO4 2% sebagai indikator. Ditiitrasi
dengan larutan AgNO3 yang telah disiapkan
sampai pertama kali terbentuk warna merah
bata. Percobaan diulang 2 kali(duplo).
Setelah distandarisasi sampel dianalisis
untuk ditentukan kadar Cl yang terkandung
dalam sampel air. Dengan cara 5,00 mL sampel
air TPS ditambah dengan aquades 25 mL
didalam erlenmeyer 250 mL. Kemudian,
ditambahkan 1,0 mL larutan K2CrO4 2%
sebagai indikator. Titrasi dengan larutan
standar AgNO3 sampai pertama kali terbentuk
warna merah bata. Percobaan diulang 2
kali(duplo).
2.5 Analisis Kuantitatif Kadar Ca dan Mg
Dalam Sampel
Pada penentuan Ca dan Mg dilakukan
titrasi kompleksometri. Pada perlakuan pertama
dilakukan standarisasi EDTA 0,01 N dengan
CaCl2. CaCl2 dibuat dengan melarutkan CaCO3
sebanyak 0,25 gram dengan 25 mL akuades di
dalam beaker glass 250 mL, kemudian
ditambahkan 1 mL HCl 8 M, kemudian
dituangkan ke labu ukur 250 mL dan
diencerkan sampai tanda batas. Setelah itu
larutan EDTA 0,01 N disiapkan dengan cara
melarutkan 0,95 gram Na2EDTA.2H2O dengan
akuades dalam labu ukur 250 mL kemudian

diencerkan sampai tanda batas. Standarisasi


dilakukan dengan memipet 25 mL larutan
standar CaCl2 dengan pipet volume 25 mL,
ditambahkan buffer pH 10, ditambahkan 3 tetes
EBT, dititrasi sampai terjadi perubahan warna
dari merah ke biru. Kemudian dihitung
konsentrasi EDTA.
Untuk penentuan kadar Ca sampel air
dipipet sebanyak 25 mL kemudian dimasukan
ke erlemeyer 250 mL, ditambahkan buffer pH
10, dan 3 tetes indikator EBT, kemudian
dititrasi dengan larutan EDTA sampai terjadi
perubahan warna dari merah muda menjadi
biru, kemudian dihitung kadar Ca.
Untuk penentuan kadar Mg, sampel air
dipipet sebanyak 25 mL, dimasukan ke
erlenmeyer 250 mL , kemudian dibasakn denga
ditambahkan larutan NaOH 0,1 M hingga pH
menjadi 12, kemudian ditambahkan indikator
murexide sebanyak seujung spatula, kemudoan
dititrasi dengan EDTA sampai trjadi perubahan
warna dari merah muda menjadi ungu,
kemudian dihitung kadar Mg dari sampel.
3. Hasil dan Pembahasan
3.1 Pengukuran Paramater Fisik
Pengukuran parameter fisik dilakukan
saat pengambilan sampel. Dimana didapat
seperti tabel 1 :
Parameter
Satuan Kadar
maksimum
yang
diperbolehkan
Temperatur

pH

Suhu udara 3
o
C
6,5 - 9,0

Tabel 1 standar baku parameter fisik menurut


PERMENKES RI No.416 Tahun 1990 tentang
syarat-syarat dan pengawasan kualitas air bersih.

Dari hasil pengukuran didapat seperti


tabel berikut :
Parameter

Satuan

Hasil
pengukuran

Temperatur

27 oC

pH

8,2

Tabel 2 hasil pengukuran

Hasil ini menunjukan bahwa aliran air


yang menjadi tempat pembuangan lindi tidak
melebihi batas yang ditentukan.
3.2 Analisis Logam Pb Dan Cu Pada
Sampel Air TPS
Pada percobaan ini dilakukan analisa
kuantitatif campuran Pb dan Cu. Percobaan ini
didasarkan atas metode gravimetri dan
volumetri. Dimana untuk menentukan kadar Pb
digunakan metode gravimetri (pengendapan).
Kemudian untuk menentukan kadar Cu
digunakan metode volumetri yaitu dengan
titrasi Iodometri. Untuk menentukan kadar Pb
digunakan metode gravimetri(pengendapan)
dimana dalam cuplikan yang mengandung Pb
akan diendapkan sebagai PbSO4. Pada
gravimetri dihitung berat akhir dari endapan
PbSO4 yang dikurang berat kertas saring awal
yang digunakan. Dan untuk menentukan kadar
Cu digunakan metode volumetri yaitu titrasi
iodometri dimana dalam cuplikan yang
mengandung Cu akan dititrasi dengan Na2S2O3
dengan bantuan KI sebagai pemberi I2 bebas
dan indikator amilum. Pada volumetri dihitung
kadar Cu dalam cuplikan dari seberapa banyak
Na2S2O3 yang terpakai.Larutan KIO3 0.1 N ini
bertindak sebagai larutan standar primer dan
penambahan H2SO4 4N ini berfungsi sebagai
autokatalisator, pemberi suasana asam dan juga
agar reaksi redoks pada KIO3 dan Na2S2O3
dapat berlangsung. Larutan KI 20% bertindak
sebagai pemberi I2 pada larutan. Dilakukan
penambah-an amilum sebelum mencapai TAT
dikarenakan, apabila diberikan di awal maka I2
bebas akan bereaksi terhadap indikator amilum
dan menyebabkan pada saat titrasi, Na2S2O3
tidak bereaksi dengan I2 karena indikator
amilum telah mengikat I2 dengan kuat dari KI
sehingga kadar Na2S2O3 sulit untuk ditentukan.
Didapatkan kadar Cu dalam cuplikan adalah
494.838 mg/L.
Pada tahap selanjutnya dilakukan
penentuan kadar Pb dalam cuplikan. Dimana
penentuan kadar Pb ini dilakukan secara
gravimetri yaitu dengan menghitung berat

endapan ion Pb. Untuk mendapatkan ion Pb,


larutan cuplikan yang mengandung campuran
Pb dan Cu dipanaskan. Hal ini dilakukan untuk
memekatkan larutan, sehingga konsentrasi
larutan menjadi besar dan juga untuk
menghilangkan sedikit hidrat yang terkandung
dalam cuplikan. Reaksi pembentukan Pb :
+ 2H+

Cuplikan + H2SO4xSO4

Ketika direaksikan antara cuplikan


dengan H2SO4 kemungkinan cuplikan tersebut
mengandung Pb karena ketika direaksikan
dengan pereaksi selektifnya (H2SO4) terbentuk
endapan putih.
Pb2+ + H2SO4 PbSO4

+ 2H+

Kemudian setelah disaring, endapan


kemudian ditimbang endapannya dan dilakukan
perhitungan kadar Pb. Didapatkan kadar Pb
dalam cuplikan adalah 270 mg/L.
Parameter

Satuan

Kadar
maksimum
yang
diperbolehkan

Timbal

Ppm

0,03

Tembaga

Ppm

0,2

Tabel 3 baku mutu air berdasarkan PP NO 82


tahun 2001 tentang pengolahan kualitas air dan
pengendaliaan pencemaran air untuk perairan

Parameter

Satuan

Hasil
pengukuran

Timbal

Ppm

270

Tembaga

Ppm

494.838

Tabel 4 kadar Cu dan Pb hasil pengukuran

3.3 Analisis Logam Mg Dan Ca Pada


Sampel Air TPS
Penentuan ion-ion Ca dan Mg dalam air
sadah atau dengan kata lain adalah percobaan
untuk menentukan kesadahan air. Penentuan ini
dilakukan dengan menambahkan larutan buffer
pH 10 dan dititrasi langsung menggunakan
larutan baku EDTA. Indikator yang digunakan
pada titrasi ini adalah Erichom Black T (EBT).

p
u
t
i
h

Larutan langsung dititrasi dengan EDTA


sampai warna merah menjadi berwarna biru.
Penambahan buffer pH 10 ini dilakukan
agar pH larutan tetap pada pH sekitar 10 pada
saat reaksi pembentukan kompleks, karena
pada reaksi ini akan dibebaskan ion H+ yang
menyebabkan penurunan pH, maka untuk
mencegah penurunan pH ini ditambahkan suatu
larutan buffer yang dapat mempertahankan pH
pada keadaan tertentu. Persamaan reaksi dari
penentuan ini adalah
MgIn2- (aq) + H2Y2- (aq)MgY2- (aq) + HIn2- (aq) + 2H+ (aq)

MgY2- (aq) : tidak berwarna


HIn2- (aq) : berwarna biru

Didapat kadar Ca dalam sampel sebesar


8.016 mg/L dan Mg sebesar 43.7616 mg/L.

Indikator
menyebabkan
terjadinya
reaksi pada titik akhir dengan titran, sehingga
terbentuk endapan yang berwarna merah-bata,
yang menunjukkan titik akhir karena warnanya
berbeda dari warna endapan analit dengan Ag+.
Pada analisa Cl- mula-mula terjadi reaksi :
Ag+(aq) + Cl-(aq) AgCl(s)
Sedang pada titik akhir, titran juga
bereaksi menurut reaksi:
2Ag+(aq) + CrO4- (aq) Ag 2CrO4(s)
Pengaturan pH sangat perlu, agar tidak
terlalu rendah ataupun tinggi. Kadar Cl yang
diperoleh adalah 187.9009 mg/L.
Parameter

Satuan

Kadar
maksimum

Parameter

Satuan

Kadar

yang

maksimum yang
diperbolehkan
Kalsium

Ppm

500

Magnesium

Ppm

500

Tabel 5 standar baku mutu air bersih menurut


PERMENKES RI No.416 Tahun 1990 tentang syaratsyarat dan pengawasan kualitas air bersih.

Parameter

Satuan

Hasil
pengukuran

Kalsium

Ppm

8.016

Magnesium

Ppm

43.7616

Tabel 6 kadar Ca dan Mg hasil pengukuran

3.4 Analisis Logam Cl Pada Sampel Air


TPS
Penentuan ion Cl pada sampel dengan
menggunakan Metode Mohr yang biasanya
digunakan untuk mentirasi ion halida seperti
NaCl, dengan AgNO3 sebagai titran dan
K2CrO4 sebagai indikator. Titik akhir titrasi
ditandai dengan adanya perubahan warna
suspensi dari kuning menjadi kuning coklat.
Perubahan warna tersebut terjadi karena
timbulnya Ag2CrO4, saat hampir mencapai
titik ekivalen, semua ion Cl- hampir berikatan
menjadi AgCl.

diperbolehkan
Klorida

Ppm

600

Tabel 7 standar baku mutu air bersih menurut


PERMENKES RI No.416 Tahun 1990 tentang syaratsyarat dan pengawasan kualitas air bersih.

Parameter

Satuan

Hasil
pengukuran

Klorida

Ppm

187.9009

Tabel 8 kadar Cl hasil pengukuran

4. KESIMPULAN
Dari hasil analisis diperoleh konsentrasi
tembaga dalam air lindi sebesar 494.838 mg/L,
nilai ini melebihi ambang batas berdasarkan
baku mutu dari PP NO 82 tahun 2001 tentang
pengolahan kualitas air dan pengendaliaan
pencemaran air untuk perairan sebesar 0.2
mg/L. Untuk konsentrasi timbal dalam air lindi
sebesar 270 mg/L, nilai ini tidak sesuai dengan
baku mutu dari PP NO 82 tahun 2001 tentang
pengolahan kualitas air dan pengendaliaan
pencemaran air untuk perairan sebesar 0.03
mg/L. Untuk konsentrasi magnesium dalam air
lindi sebesar 43.7616 mg/L, dan konsentrasi
kalsium dalam air limbah sebesar 8.016 mg/L,

nilai ini tidak melebihi ambang batas


berdasarkan dengan baku mutu air bersih dari
Peraturan Menteri Kesehatan RI Nomor
416/MENKES/PER/IX/1990 sebesar 500 mg/L
untuk kesadahan. Untuk konsentrasi klorida

dalam air limbah sebesar 187.9009 mg/L, nilai


ini tidak melebihi ambang batas berdasarkan
Peraturan Menteri Kesehatan RI Nomor
416/MENKES/PER/IX/1990
sebesar
600
mg/mL.

DAFTAR PUSTAKA
A.l. Underwood dan R.A Day, Jr.2002.Analisis Kimia Kuantitatif. Jakarta : Erlangga
Achmad. 2008.Kimia Lingkungan.Yogyakarta: Andi
Alaerts, G.Dr.Ir dan Ir. Sri Simestri Santika.1984. Metode Penelitian Air. Surabaya: Usaha Nasional
Deswati, dkk. Jurnal Optimasi Penentuan Pb dan Cu Secara Serempak Dengan Voltametri Stripping
Adsorptif (AdSV). Universitas Andalas.
Keenan,dkk.1980. Kimia Untuk Universitas. Jakarta : Erlangga
Khopkar, SM. 2008.Konsep Dasar Kimia Analitik. Jakarta: UI-Press
Mulyono, HAM.2005. Cara Membuat Reagen di Laboratorium. Jakarta : Bumi Aksara
Sunardi. 2008.Unsur Kimia. Bandung: Yrama Widya

Anda mungkin juga menyukai