Anda di halaman 1dari 3

BAB I

PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang
Indonesia memiliki kekayaan alam bahan tambang yang sangat beragam
salah satunya berupa bijih limonit. Bijih tersebut merupakan sumber dari logam
nikel (Ni). Selain nikel (Ni), di dalam bijih tersebut terdapat logam-logam
lainnya seperti besi (Fe), mangan (Mn), kobalt (Co) dan magnesium (Mg) yang
memiliki nilai ekonomis. Bijih ini bersumber dari jenis tanah laterit. Perkirakan
jenis tanah laterit yang mengandung bijih limonit ini sebesar 16% dari cadangan
dunia terdapat di Indonesia (Edi, 2008).
Menurut peraturan pemerintah No. 27 tahun 1980 logam Ni, Fe, Mn, Co
dan Mg itu sendiri merupakan bahan galian strategis (golongan A) dan bahan
galian vital (golongan B). Selain itu UU Minerba yang telah disetujui dalam
Sidang Paripurna DPR tanggal 16 Desember 2008 menyatakann bahwa
perusahaan tambang diwajibkan untuk mengolah hasil tambang di dalam negeri
sekaligus melarang ekspor raw material (bahan mentah). Hal ini menuntut
perusahaan tambang untuk mengolah bahan mentah.
Pengolahan bijih limonit menggunakan jalur hidrometalurgi. Reagen
seperti asam sulfat (H2SO4) dan asam klorida (HCl) masih menjadi bahan pelindi
utama (Frank K. Crundwell dkk, 2011). Kedua reagen tersebut dapat melindih
bijih limonit dan mengekstrak kandungan Ni dan Co dari bijih limonit.
Kandungan logam lain seperti Fe, Mn dan Mg pada umumnya masih terdapat
pada bagian residu dan menjadi limbah.
Asam nitrat memiliki daya tarik tersendiri karena selektif dalam pelindian.
Bijih nikel yang tercampur dengan 10% kokas dan dibakar pada suhu 650 C

selama 1 jam. Pembakaran bijih didinginkan dengan nitrogen untuk mengatasi


oksidasi kembali dari nikel. Pendinginan bijih lalu dilakukan pelindian dengan
0,7 N nitrat pada 800 C untuk 2 jam. lebih dari 70% nikel dapat diapatkan
kembali. Asam nitrat dengan selektif melindi ikel tanpa menghilangkan oksida
besi, alumunium dan krom dalam jumlah besar (Sarojini, dkk. 1972).
Percobaan pelindian nitrat dari bijih laterit nikel ini sangat mendukung
dalam mendapatkan paten. Bijh laterit dibakar pada suhu 6500 C selama 30
menit dan didinginkan. Bijh yang telah didinginkan lalu di lakukan pelindian
dengan mengencerkan asam nitart pada 80 C sampai pH dari larutan sekitar 2.
larutan lalu dipisahkan dari yang terlarut. Endapan yang telah digunakan untuk
menghasilkan nikel dan kobal dan didapatkan elemen yang bersih dari
kontaminasi. Nikel dan kobal yang ter recovery mencapai 80 %. dan asam 96%.
(Nossen 1959).
Penelitian terbaru yang dilakukan oleh Tevfik Agacayak dan Veysel
Zedef tahun 2014 menggunakan asam nitran sebagai reagen pelindian didapat
bahwa kondisi optimum pengekstrakan optimum nikel dengan komposisi bijih
yang mengandung 1,80% Ni, 23,90% Fe, 1,58% Mg dan 0,034% menggunakan
asam nitrat dengan konsentrasi 2,0 M, suhu pelindian sebesar 80C, dengan rasio
solid/liquid sebesar 10/500 g/mL.
Berdasarkan atas paparan mengenai nikel tersebut, maka peneliti mengambil
sebuah judul penelitian Ekstraksi Logam Ni, Fe, Co, Mn, Mg dari Bijih Limonit
melalui Pelindian Menggunakan Media Nitrat.

1.2. Perumusan Masalah


1. Bagaimana pengaruh variasi konsentrasi asam nitrat, suhu dan waktu
pelindian terhadap perolehan logam Ni, Fe, Co, Mn, Mg terlarut dari
bijih nikel limonit?
2. Bagaimana pengaruh keberadaan Fe, Co, Mn dan Mg dalam bijih nikel
limonit terhadap perolehan Ni terlarut?
1.3. Hipotesa Penelitian
1. Konsentrasi asam nitrat, suhu dan waktu pelindian mempengaruhi
perolehan logam Ni, Fe, Co, Mn, Mg yang terlarut.
2. Keberadaan Fe, Co, Mn dan Mg dalam bijih nikel limonit mempengaruhi
perolehan Ni terlarut.
1.4. Tujuan Penelitian
1. Mengetahui pengaruh konsentrasi asam nitrat, suhu dan waktu pelindian
terhadap perolehan nikel terlarut.
2. Mengetahui pengaruh keberadaan Fe, Co, Mn dan Mg pada bijih nikel
limonit terhadap perolehan Ni terlarut.
3. Mencari kondisi optimum perolehan Ni terlarut bijih nikel limonit.
1.5. Manfaat Penelitian
Berdasarkan penelitian ini diharapkan dapat memberikan informasi dasar
dalam proses pelindian bijih nikel limonit menggunakan asam nitrat khususnya
bagi industri pengolahan nikel kadar rendah di Indonesia.