Anda di halaman 1dari 12

TEHNOLOGI GPS DALAM PEMBANGUNAN KEBUN

A. PENDAHULUAN
Pemanfaatan tehnologi Global Positioning System dalam pembangunan Perkebunan sangat efektif dan effisien,
mengingat tingkat akurasi pengukuran yang dapat di cross dengan peta dan satelit, juga kebutuhan tenaga kerja
untuk pelaksanaan survey apabila dibandingkan dengan pengunaan alat theodolite, pengurangan jumlah tenaga
kerja survey akan mengurangi biaya yang tidak perlu, hal ini disebabkan GPS merupakan alat yang compact,
ringan dan mudah di operasikan.
GPS mampu menampilkan titik-titik koordinat (waypoint) secara akurat pada jarak yang diperlukan misalnya
setiap 1.000 m, secara garis lurus, dengan mengandalkan kekuatan penerimaan satelit, jika dibandingkan
dengan menggunakan compas akan terjadi selisih koreksi sebesar 2. GPS mampu menyimpan data input
sampai 1.000 data input, sehingga dapat menghemat alat tulis
Tingkat akurasi GPS dalam pembangunan kebun sangat diperlukan tipikal GPS adalah GPS MAP, sebab pada
GPS Map mempunyai kemampuan menampilkan waypoint dengan layout peta pada layar monitor sehingga
dapat dikoreksi dengan segera, proses pelaksanaan survey dapat dilakukan dengan cepat, dan tidak harus
melakukan perjalanan dengan garis lurus, tetapi dapat menyesuaikan dengan alam yang penting kunci pada
jalur yang ditentukan dapat ditemukan, dengan memanfaatkan fasilitas heading pada perangkat GPS,
Pada GPS menu utamanya adalah koordinat dan Map atau peta, koordinat adalah suatu besaran untuk
menyatakan letak atau posisi suatu titik dilapangan dalam sistem tertentu, sedangkan Peta

suatu penyajian

dari unsur-unsur pada muka bumi/planet maupun di bawah muka bumi/planet dengan suatu skala tertentu dan
berdasarkan proyeksi peta tertentu diatas bidang datar, atau penyajian matematis dan informasi ruang pada
bumi/planet maupun dibawah bumi/planet secara kartografis dan melalui simbol-simbol serta memenuhi syaratsyarat Geometris dan Kartografis
Persyaratan utama dalam overlay data GPS pada ground chek dengan peta mempunyai beberapa syarat antara
lain :
1.

Persyaratan Geometris

adalah persyaratan yang harus dipenuhi agar kebenaran dan letak orientasi dan dimensi dari
unsur-unsur relatif benar dan dapat dilakukan pengukuran yang dapat dipercaya kebenaran dan

ketelitiannya sesuai dengan skala yang ditunjukan. Umpamanya skala peta yang dipakai, system
referensi peta dan proyeksinya.
2.

Persyaratan Kartografis
adalah persyaratan yang harus dipenuhi agar sistematika dari peta tersebut menjadi baku, baik
system penomoran, ukuran lembar peta dan ketentuan-ketentuan seragam lainnya yang bersifat
umum, agar memungkinkan dimengerti unsur-unsur yang diwakili dan hubungannya dengan
system penyajiannya (simbolisasi, penyederhanaan, prioritas penampilan unsur dan lainnya).

B.

METODE PELAKSANAAN
1. Strategi Pelaksanaan Penataan Batas
a. Mempersiapkan Peta Kerja berikut informasi terkait areal yang akan dilacak batasnya Peta kerja yang
diperlukan adalah peta situasi dan peta RBI (Bakosurtanal) yang lengkap dengan informasi yang
diperlukan dilapangan, seperti koordinat, elevasi, jalan, sungai, anak sungai dll dengan skala 1 : 25.000
(serta peta lain apabila dimungkinkan)
b. Menetapkan langkah - langkah teknis pelacakan batas yang akan dilakukan, setelah melaksanakan
studi terhadap peta yang tersedia dengan menentukan koordinat lintang dan bujur untuk menetapkan
starting point areal yang akan disurvey, utamanya pada bentang dan tanda alam yang tidak mudah
hilang, seperti persimpangan sungai, persimpangan jalan, dan hindari penentuan titik starting point
pada benda yang mudah tergerus seperti batu, atau pohon besar dan sebagainya.
b. Melaksanakan survey makro pelacakan, dengan

mencari titik yang telah ditentukan pada studi

pendahuluan titik starting point, dengan alat Global Positioning system titik koordinat lintang dan bujur
akan mudah di cari, serta menandai dengan patok pada titik starting point.
c.

Menggali informasi lainnya, seperti tingkat keasaman tanah (dengan Ph meter), tekanan udara
(Barometer), serta ketinggian titik ikat dari permukaan laut (dengan Altimeter)

2. Pengukuran Batas Areal/Lahan


Pada umumnya batas suatu daerah/lahan/areal dapat dibagi dalam 2 (dua) macam kategori yaitu

a.

Batas areal/lahan yang dapat ditegaskan dalam suatu bentuk bangunan (pilar atau gapura), seperti
garis batas yang melintang dan bujur tertentu, prinsip watershed, persil tanah dan lain-lain.

b. Batas areal/lahan yang tidak dapat ditegaskan dalam bentuk bangunan fisik (pilar atau gapura) seperti
melalui laut, danau dan tengah sungai.
Pembuatan Batas areal/lahan dan rancangan blok (bloking areal) utamanya pada bidang perkebunan perlu
dilaksanakan sebagai dasar untuk penyusunan rencana kerja, yaitu meliputi sistem kerja (perencanaan dan
pengorganisasian), menentukan kebutuhan alat/tenaga kerja, dan menentukan kebutuhan biaya. Oleh karena
itu, pembangunan fisik kebun dalam bentuk apapun belum dapat dilaksanakan sebelum pekerjaan bloking
(termasuk survei lahan) diselesaikan kegiatan bloking areal ini juga berguna bagi masyarakat pemilik lahan
yang inclave atau penyerahan dalam menentukan kepemilikan masing-masing lahan sebelum diserahkan ke
perusahaan. Pekerjaan bloking areal kedepannya selain mengukur blok-blok tanaman dalam satuan terkecil
misalnya 25 Ha, 30 Ha maupun penentuan blok yang sesuai dengan kontur, juga dilakukan survei lahan.
Pekerjaan survei lahan bertujuan untuk melihat kondisi lahan sebenarnya, sehingga dari data hasil survei
diharapkan dapat menjadi bahan masukan bagi para pengambil keputusan (pihak managemen) dalam
menentukan langkah-langkah apa yang perlu dibuat demi kesuksesan pembangunan kebun yaitu dalam hal
hemat waktu dan hemat biaya. Pelaksanaan survei lahan dilakukan bersamaan dengan pekerjaan bloking
areal dengan pertimbangan agar trayek survei benar-benar sesuai dengan keadaan lapangan (TB/BT/SU/US),
selain itu team bloking (juru ukur) dapat memberikan informasi yang diperlukan khususnya mengenai
ketinggian tempat dan keadaan lereng/topografi.
C. PELAKSANAAN SURVEY DAN BLOKING

Pelaksanaan pekerjaan bloking dan survei dibagi dalam 3 (tiga) tahap, khusus untuk tahap 2 (dua) dan tahap
3 (tiga) dilaksanakan bersamaan.
1.

BLOKING BORDER
Menentukan batas-batas lahan (batas luar) atau sesuai dengan batas pentahapan penanaman yang
diinginkan disesuaikan rencana awal pelaksanaan pembangunan yang ditandai dengan pemasangan
patok pada interval 50 - 100 m disepanjang batas sesuai dengan peta ijin lokasi (BPN), mencatat (record)
titik titik waypoint koordinat GPS pada setiap pengambilan data, yang akan berguna pada finishing
pembuatan peta.

Pelaksanaan ploting dan bloking areal, diawali dari penentuan titik ikat (koordinatnya) sebagai titik rujukan
tanda alam/bentang alam yang tidak mudah berubah karena situasi (misal cabang sungai, persimpangan
jalan dsb), utamakan pada batas luar kebun. Pada sepanjang batas luar/pringgan/border atau batas
penanaman dibuat jalur rintisan selebar 1,5 m lalu diukur dan setiap jarak 50 - 100 m dipasangi patok
yang dicat merah.
Titik titik waypoint atau track yang diambil akan di gabungkan dalam suatu polygon untuk mendapatkan
gambaran baik luas maupun bentuk calon areal perkebunan yang akan dibangun, serta
menginformasikan hasil temuan di lapangan dalam bentuk symbol symbol yang disesuaikan.
Untuk menghindari hal hal yang tidak diinginkan dikemudian hari, sebaiknya penandaan batas areal untuk
pertama kalinya secara simbolis di laksanakan bersama-sama dengan instansi terkait, tokoh masyarakat
serta tim survey dengan mengambil titik digitasi koordinat Geodetic, ketinggian lereng, kondisi lainnya
serta dibuatkan berita acara penentuan titik strating point, kemudian oleh tim surveyor dicatat dan
selanjutnya penanaman patok batas yang dilakukan oleh juru patok, penanggung jawab perusahaan
atau yang mewakilinya, dan tokoh masyarakat atau yang mewakilinya, untuk selanjutnya melaksanakan
bloking area keseluruhan sesuai rencana pembangunan kebun (Peta BPN)
Pada fase ini pelaksanaan pengukuran dan bloking border hanya mengambil titik titik batas luar areal,
dan seluruh titik waypoint di record ke dalam memory GPS,
Setelah pelaksanaan survey makro bloking border (pringgan) batas kebun, seluruh record data yang ada
di perangkat GPS di down load ke komputer
Pelaksanaan Maping tidak bisa memakai sistem Trip & Waypoint Management, tetapi harus memakai
sistem pemetaan GIS , seperti ArcView, Map Info, ataupun Autocad, dan tergantung operator sistem yang
familiar dalam mengoperasikan sistem pemetaan GIS.
Peta yang dibuat haruslah memuat atribut dan legenda pada situasi dan kondisi pada saat pengambilan
data, jalur tracking dan waypoint, pemanfaatan sistem pemetaan GIS sangat efektif dan effisien terutama
pada tingkat akurasi sangat tinggi, menghemat biaya (alat tulis), menghemat waktu apabila ada perbaikan
dapat segera dilakukan perbaikan, penghitungan luas areal dapat diketahui segera secara otomatis,
dengan memasukkan rumus rumus tertentu untuk menghasilkan perhitungan luas areal hasil groundchek.

1.

BLOKING BLOK
Bloking blok pada areal perkebunan adalah suatu tingkatan manajemen terkecil dari system kerja
perkebunan, pelaksanaan bloking blok (cincang blok) untuk mempermudah pembagian dan alur
sistematis agronomi dimana satuan blok dengan luasan yang telah ditetapkan seluas 25 Ha, 30 Ha atau
40 Ha yang disesuaikan dengan kondisi dan bentang alam areal lahan perkebunan, yang pada tingkatan
lebih luas lagi, adalah kumpulan dari beberapa blok-blok pada satu satuan hamparan menjadi afdeling
atau devisi dengan luas bervariasi tergantung pada bentang alam dan kecukupan areal.
Batas antar blok biasanya di tandai dengan patok dan pancang dengan Huruf dan Angka serta di belah
oleh dua jalur jalan yakni main road dan colection road, untuk memudahkan transportasi sirkulasi kerja
antar blok, untuk langkah pekerjaan yang harus dilakukan adalah :
- Adalah pelaksanaan pekerjaan lanjutan setelah melaksanakan pengukuran, pemetaan serta
pemancangan patok batas border/pringgan secara keseluruhan, penentuan titik awal/ikat sama
seperti pelaksanaan pekerjaan Tahap I, sehingga perlu juga dibuatkan batas awal (titik pancang
awal/titik ikat) untuk bloking blok areal, dan sebagai catatan untuk penentuan titik ikat bloking blok
haruslah pada tempat tempat yang tidak mudah berubah (tanda alamiah) seperti persimpangan
sungai, perempatan jalan dan lain sebagainya, tidak tertutup kemungkinan titik ikat border/pringgan
sama dengan titik ikat blok.
- Setting perangkat GPS pada tampilan compas (baca Bab III GPS) tampilkan Heading (menunjukan
kemiringan derajat terhadap mata angin (Utara = 0 atau 360, Timur = 90, Selatan = 180 dan Barat
= 270), Accuracy atau ketepatan (perhatikan angka terkecil dari tingkat accuracy yang ditampilkan,
Elevation adalah titik ketinggian mdpl, serta Distance to Destination (jarak antar titik dalam km, tetapi
jarak disini dihitung pada bidang datar, apabila bidang berbukit akurasi perhitungan jarak tidak dapat
di pakai sebagai acuan.
-

Tentukan titik ikat starting point untuk memulai pekerjaan bloking, penentuan jarak per blok untuk
pembuatan rencana jalan colection (per 1.000 m/jc) atau Main road (per 250 m/mr) perlu diperhatikan
arah matahari terbit, untuk lebih memaksimalkan tanaman dalam menerima sinar matahari, dalam
proses fotosintesis, titik dan pancang yang di ambil adalah tengah-tengah yang membelah kedua
blok

Pada bahasan ini dimisalkan arah Main road utara selatan dengan interval 300 m dan setelah
ditentukannya titik ikat starting point, pada titik kedua dan selanjutnya diambil titik koordinatnya, dari
titik ikat dibuat jalur rintisan lebar 1,5 arah Utara dan Selatan pada setiap interval 300 m dipasang
patok/pancang, pada monitor GPS perhatikan arah heading harus menunjukan derajat tegak lurus
pada 0 Utara atau 180 Selatan, serta jarak antar titik-titiknya.
Agar pengambilan titik koordinat waypoint lebih mudah, letakkan GPS pada bidang datar, sesuaikan
heading dengan mengeser/memutar GPS secara perlahan sampai menunjukkan angka 0 Utara atau
180 Selatan, kemudian pancang tepat di depan arah yang ditunjuk oleh GPS, dan begitu selanjutnya
untuk titik titik lainnya.
Kelebihan pembuatan bloking blok dengan GPS, mempunyai kemampuan melewati bukit, sungai
atau benda besar, yang paling utama perhatikan heading agar tetap tegak lurus.

Dalam membuat jalur rintis untuk Colectiion road dengan lebar 1,5 m arah Timur dan Barat pada
setiap interval 1.000 m. pemakaian tehnologi GPS sama dengan pembuatan jalur rintis untuk Main
Road, jalur rintisan ini dibuat dalam garis lurus, dimana pada heading GPS untuk Timur = 90 dan
arah Barat = 270

- Sebagai catatan pembuatan jalur rintis untuk Main road dan Colection road kondisi areal ada pada
lahan datar dan bergelombang (0 8%, sementara untuk lahan berbukit dan pegunungan
pelaksanaan bloking mengikuti kontur alam.
- Pada setiap perpotongan jalur Utara-Selatan dan Timur-Barat dipasang patok yang dicat oleh juru
patok yang ditandai dengan sistem kode titik yaitu sistem huruf dan angka, yang selanjutnya sebagai
dasar untuk pembuatan jalan (Main road dan Collection road). Data-data dari setiap titik (patok putih)
dicatat dengan lengkap dan akurat pada buku catatan oleh surveyor atau di record dalam memory
GPS
D. PENGAWASAN DAN PEMERIKSAAN
Pengawasan dan Pemeriksaan dilaksanakan oleh perusahaan atau yang mewakilinya, hal-hal pokok yang
menjadi perhatian dalam pengawasan pekerjaan ini adalah :
1.

Memastikan bahwa rencana kerja dan biaya sesuai dengan standar.

2.

Proses pelaksanaan pekerjaan sesuai dengan prosedur terutama :


a. Setiap titik (interval 250 m US x 1.000 m TB di cat

warna putih, patok rencana jalan setiap interval 50 100 m di cat warna merah, patok persimpangan dan bentang
alam cat biru) dipatok dengan baik dan benar.
b. Data yang didapat setiap titik dicatat atau direcord dengan baik dan lengkap.
3.

Kelancaran kerja diupayakan terealisasi sesuai dengan rencana sehingga kebutuhan kerja seperti
ketersediaan alat, bahan, tenaga kerja, kendaraan dan sebagainya dapat dipenuhi sesuai kebutuhan.

4.

Kuantitas dan kualitas kerja harus sesuai dengan standar, terutama dipastikan :
a. Jalur US atau TB benar-benar tepat dan lurus angin (Utara = 0 atau 360, Timur = 90, Selatan =
180 dan Barat = 270),
b. Prestasi kerja mendekati norma teknis, yaitu :

5.

Juru Ukur 25 Ha/Hk untuk areal datar dan 20 Ha/Hk untuk areal berbukit.

Juru Rintis 50 Ha/Hk untuk areal datar dan 33 Ha/Hk untuk areal berbukit.

Juru Patok 100 Ha/Hk untuk areal datar dan 50 Ha/Hk untuk areal berbukit.

Laporan harian kerja harus dipastikan sesuai dengan fakta yang sebenarnya.

APA ITU ARC VIEW


Perangkat lunak Arcview GIS merupakan salah satu perangkat lunak Sistem Informasi Geografis (SIG) yang terkemuka
hingga saat ini dengan kehandalan ESRI. Dengan perangkat lunak ini, pengguna dapat melakukan proses-proses seperti
visualisasi, meng-explore, membuat query, dan menganalisa data geografis beserta atributnya.
Perkembangan kebutuhan manusia beserta kemajuan di bidang computer dan teknologi informasi telah memicu
perluasan fungsionalitas di bidang perangkat lunak desktop tak terkecuali Arcview. Fungsionalitas Arcview telah ditingkatkan dari
sekedar perangkat lunak SIG desktop dan mapping biasa (standar) yang diimplementasikan sebagai ekstension.
Sejak tahun 1996, ESRI telah merilis Arcview GIS versi 3.0 yang mulai memperkenalkan konsep extension. Dengan
extension, para pengembang beserta pengguna dapat menambahkan aplikasi-aplikasi ke dalam Arcview. Selain itu dengan
extension pula, para pengembang dapat memodularkan fungsionalitas perangkat lunak Arcview. Dengan demikian Arcview
kemudian dikenal sebagai sebuah tool yang bersifat unversal karena mampu mengakses semua tipe data geografis (baik format
raster
maupun
vektor).
Extension pada Arcview secara garis besar dapat dibagi menjadi dua kelompok besar. Pertama yaitu core extension yang terikat
atau hadir secara otomatis bersama dengan modul standar perangkat lunak Arcview versi yang bersangkutan.
Extension ini dikembangkan oleh pihak yang sama dengan pengembang perangkat lunak Arcview (modul standar).
Sedangkan yang kedua adalah optional yaitu extension yang hadir jika terlebih dahulu di-instal pada saat diperlukan oleh
pengguna. Extension ini dikembangkan oleh pihak yang sama dengan kelompok pertama, pengguna atau pihak ketiga yang
menyediakan extension-nya untuk kepentingan komersil ataupun non-profit (gratis). Oleh karena itu Arcview dapat memberikan

lingkungan operasi dan pengembangan yang sangat fleksibel sehingga mendorong perluasan penggunaan perangkat lunak
Arcview GIS di berbagai bidang. Pustaka ESRI mencatat tidak kurang dari 57 bidang aplikasi dimana Arcview GIS berperan aktif
di dalamnya, diantaranya advertising, agriculture, banking, bisnis, crime analysis, forestry, military dan sebagainya. Dengan
demikian tidak heran jika kemudian banyak artikel yang menyebutkan Arcview sebagai GIS for Everyone.
ArcView dalam operasinya menggunakan, membaca dan mengolah data dalam format Shapefile, selain itu ArcView jaga
dapat memanggil data-data dengan format BSQ, BIL, BIP, JPEG, TIFF, BMP, GeoTIFF atau data grid yang berasal dari
ARC/INFO serta banyak lagi data-data lainnya. Setiap data spasial yang dipanggil akan tampak sebagai sebuah Theme dan
gabungan dari theme-theme ini akan tampil dalam sebuah view. ArcView mengorganisasikan komponen-komponen programnya
(view, theme, table, chart, layout dan script) dalam sebuah project. Project merupakan suatu unit organisasi tertinggi di dalam
ArcView.
Salah satu kelebihan dari ArcView adalah kemampaunnya berhubungan dan berkerja dengan bantuan extensions.
Extensions (dalam konteks perangkat lunak SIG ArcView) merupakan suatu perangkat lunak yang bersifat plug-in dan dapat
diaktifkan ketika penggunanya memerlukan kemampuan fungsionalitas tambahan (Prahasta). Extensions bekerja atau berperan
sebagai perangkat lunak yang dapat dibuat sendiri, telah ada atau
dimasukkan (di-instal) ke dalam perangkat lunak ArcView untuk memperluas kemampuan-kemampuan kerja dari
ArcView itu sendiri. Contoh-contoh extensions ini seperti Spasial Analyst, Edit Tools v3.1, Geoprocessing, JPGE (JFIF) Image
Support, Legend Tool, Projection Utility Wizard, Register and Transform Tool dan XTools Extensions.

EXTENSION
Secara Garis besar Extension Arcview terdiri atas dua kelompok besar, yaitu core extension dan optional extension.
Berikut adalah beberapa contoh extension Arcview baik yang tergolong core extension maupun optional extension yang telah
dapat diimplementasikan di dalam system perangkat lunak SIG Arcview hingga versi 3.3, yaitu
A. Core Extention
1.Projection Utility Wizard
Extension ini berguna untuk memproyeksikan shapefiles ke dalam system koordinat yang umum. Utiliti proyeksi ini
mendukung sejumlah system proyeksi dan konversi datum. Bila telah ter-install dan kemudian diaktifkan, fasilitas ini akan
muncul di menu file-Arcview Projection Utility Wizard.
2. Geoprocessing
Extension ini merupakan sebuah tool yang berbasiskan wizard (sekumpulan user interface kotak dialog) yang digunakan
untuk menjalankan fungsi-fungsi analisys spasial yang mencakup : dissolve (menghilangkan batas-batas polygon yang
bersebelahan untuk menggabungkan unsure-unsur yang memiliki nilai atribut tertentu yang sama), merge (menggabungkan
themes), clip (memotong dengan unsure-unsur theme lain), union (menggabungkan atau mengoverlaykan du theme), dan
spasial join (melakukan penggabungan table-tabel atribut theme berdasarkan hubungan spasial unsure - unsurnya).
3.Graticules and Measured Grids.
Merupakan user interface yang berbasiskan wizard (sekumpulan kotak dialog) ini digunakan untuk menambahkan
graticules atau grids ke dalam layout. Graticules memperlihatkan garis-garis, titik-titik, dan labels lintang dan bujur di atas
peta. Sementara itu grid juga merupakan sekumpulan garis-garis, titik-titik (tic marks), dan labels yang merepresentasikan
satuan jarak linier.
4. Image Readers

Kelompok extension ini menyediakan dukungan atau fasilitas-fasilitas pembacaan langsung terhadap citra citra digital
format ADRG, CADRG, CIB, Imagine Nitf dan Tiff.
5. Legend Tool
Dengan extension ini memungkinkan pengguna Arcview untuk membuat legenda grafis yang paling sesuai dengan
kebutuhan pengguna di dalam layout dengan menggunakan sejumlah panel dan kotak dialog

B.Optional Extension
1. Spatial Analyst
Extension ini menyediakn jangkauan yang luas mengenai kemampuan-kemampuan yang powerful dalam pemodelan
spasial dan analisis-analisis unsure-unsur spasial yang bersangkutan. Dengan extension ini pengguna dapat membuat,
melakukan query, memetakan, dan menganalisa data-data citra raster dengan basis piksel/cell dan kemudian melakukan
analisa data-data spasial vector dan raster secara terintegrasi 3D Analyst Extension ini menyediakan fasilitas-fasilitas
kualitas tinggi untuk pembuatan, analisa, dan visualisasi data permukaan tiga dimensi.
3.Image Analyst
Extension ini mempunyai kemampuan pencitraan geografis ke dalam Arcview dengan menghadirkan sejumlah
fungsionalitas analisa citra digital termasuk rektifikasi citra, perbaikan warna, dan deteksi perubahan sederhana.
4.Tracking Analyst
Extension ini memungkinkan pengguna untuk secara langsung menerima data secara realtime atau playback (replay)
sebagai contoh adalah menerima data posisi-posisi dari receiver GPS tipe navigasi di dalam lingkungan penrangkat lunak
Arcview. Selain itu juga dilengkapi dengan fungsionalitas dalam melakukan analisis-analisis spasial data baik temporal
maupun realtime.
5.Business Analyst
Extension ini merupakan sekumpulan tool dan data GIS yang unik dan dirancang secara khusus untuk aplikasi-aplikasi
bisnis. Dengan beberpa estimasi, paling sedikit 80% hingga 85% data-data bisnis memiliki komponen geografis. Dengan
extension ini, pengguna dapat menganalisa kondisi-kondisi pasar dan para pelanggannya, dan kemudian melihat
kecenderungannya diatas peta.
6.Network Analyst
Extension ini memungkinkan pengguna dalam memecahkan berbagai masalah dengan menggunakan ide-ide jaringan
geografis (seperti jalan, sungai, saluran, pipa, kabel dan sebagainya) seperti mencari rute perjalanan yang paling efisien,
membuat arah-arah untuk suatu perjalanan, atau mencari area-area pelayanan berdasarkan waktu perjalanan.

ON SCREEN DIGITATION
Seiring dengan perkembangan fasilitas pada program Sistem Informasi Geografis (SIG), salah satu pekerjaan analisis pada
SIG yang mengalami kemajuan adalah teknik digitasi. Selama ini pekerjaan digitasi peta selalu direpotkan dengan
keharusan adanya meja digitezer. Saat ini SIG khususnya Arcview telah mampu untuk melakukan digitasi terhadap petapeta berformat jpg secara on screen, yaitu langsung pada komputer tanpa harus lagi menggunakan meja digitezer.
Meskipun meja digitezer masih diperlukan untuk mendigitasi peta-peta hardcopy berukuran besar.

Pada Arcview dikenal dua fasilitas/extension yang harus dipadukan untuk melakukan pekerjaan digitasi peta secara on
screen. Fasilitas/extension tersebut adalah image analysis dan JPEG image support, dengan mengaktifkan kedua
extension ini, pengguna dapat melakukan digitasi on screen.
1.JPEG (JFIF) Image Support
JPEG (JFIF) Image Support merupakan extension/fasilitas pada Arcview yang termasuk core extension, yaitu extension
yang satu paket dengan program Arcview. Extension ini terinstal secara otomatis bersamaan dengan terinstalnya
program Arcview. Dengan mengaftifkan extension ini maka file-file berformat jpeg maupun jfif akan terbaca pada program
Arcview.
2.Image Analysis.
Image Analysis merupakan extension/fasilitas pada Arcview yang termasuk personal extension, yaitu extension yang
dibuat oleh pihak ketiga baik oleh lembaga maupun perorangan. Tujuannya adalah untuk memperluas fungsi Arcview.
Extension ini tidak terinstal secara ototmatis bersamaan dengan Arcview, tetapi harus dicopy atau diinstal secara
terpisah dengan Arcview. Dengan mengaktifkan extension ini maka file-file berformat jpeg maupun jfif dapat dianalisa
lebih lanjut termasuk untuk melakukan digitasi.
BUFFER
Salah satu kelebihan dari arc view adalah pembuatan buffer dan geoprocessing.Karena pekerjaan pembuatan dan analisaanalisa yang mengasyikkan.
Geoprocessing adalah sekumpulan fungsi yang melakukan operasi dengan didasarkan dari lokasi geografis layer-layer input.
Ada 6 fungsi dalam geoprocessing yaitu Dissolve, Merge, Clip, Intersect, Union, dan Assign Data. Fungsi-fungsi geoprocessing
ini sering juga digunakan sebagai pelengkap dari fungsi Buffer. Karena itu dalam contoh-contoh yang akan diberikan nanti akan
banyak terdapat kaitan dengan fungsi Buffer yang telah dipelajari sebelumnya.
Geoprocessing merupakan tambahan/extensions dari arcview 3.x. Sehingga untuk menggunakannya haruslah dilakukan
penambahan extension ini terlebih dahulu.
ARC VIEW DENGAN GOOGLE EARTH
Hadirnya Google Earth adalah sesuatu yang fenomenal. Tiba-tiba GIS dan Citra Satelit bukan lagi menjadi sesuatu yang ekslusif
bagi GIS / RS Spesialist saja, tapi umum bagi orang (yang punya akses ke Internet). Banyak rumor yang kemudian beredar,
mulai dari yang lucu hingga yang memprihatinkan, tapi kini banyak orang yang mulai bisa menyebutkan koordinat rumahnya
dengan tepat lewat bantuan Google Earth.
Bagi penggiat GIS / RS, Google juga merupakan suatu akses murah (bahkan gratis) dan cepat terhadap citra satelit, bahkan di
banyak kota besar citra resolusi tingginya sudah tersedia. Memang jangan mengharapkan citra yang terkini, tapi cukuplah untuk
kebanyakan pekerjaan yang tidak merupakan "mission critical."
Tips kecil di bawah ini bermaksud berbagi cara sederhana untuk mengintegrasikan citra yang didownload dari Google Earth,
masuk ke dalam program GIS. Dengan asumsi bahwa program Google Earth sudah terinstal di komputer.

1. Jalankan program Google Earth, lalu definisikan wilayah yang ingin ditampilkan dengan bantuan tool zoom dan pan.

Tunggu hingga Google Earth selesai mendownload data (tandanya laporan streaming di tengah bawah sudah
menyebutkan 100%). Lalu simpan citra yang ditampilkan tadi dengan pilihan File / Save Image.
2. Sebelum menutup Google Earth, bawa cursor ke tengah atas citra, se atas-atasnya yang masih dapat di display
koordinatnya oleh Google Earth. Catat nilai lintangnya (N = North). Lalu ke tengah bawah dan lakukan hal yang sama,
dilanjutkan ke tengah kiri dan tengah kanan. Untuk kiri dan kanan ini catat saja nilai bujurnya (E = East). Untuk

memudahkan, ada baiknya jika terlebih dahulu kita rubah cara Google Earth menyajika koordinat menjadi "degree."
Pilihan ini ada di bagian menu Tools / Options pada Tab "View" di radio button kedua dari bawah di sebelah kiri.
3. Setelah file tersimpan dalam format jpg, kini panggil ArcView 3.x. Pastikan juga extension "Image Conversion Georeferencing" sudah di simpan pada directory C:\ESRI\AV_GIS30\ARCVIEW\EXT32 Extension ini sendiri bisa di
dapat dengan mendownload dari http://arcscripts.esri.com/details.asp?dbid=10514 aktifkan extension ini. Maka akan
muncul tiga buah tool baru.
4. Panggil citra *.jpg yang sudah disimpan "Add Theme" lalu rubah jenis datanya menjadi Image Data Source. Pilih citra
*.jpg nya. Setelah ditampilkan, citra itu terlihat belum memiliki geografis yang benar. Untuk menuliskan world filenya,
satu tool yang tadinya tidak aktif dengan tulisan "WF" kini sudah aktif. Kliklah tool "WF" = World File Creator, lalu isikan
koordinat yang sudah kita catat tadi ke dalam empat kotak yang ada. Setelah selesai, klik tombol di tengah, "Draw"
dan selesailah sudah. Citra *.jpg tadi kini sudah tergeoreferensi.

METODOLOGI PEMETAAN
A. PENDAHULUAN
Peta merupakan sarana pokok yang harus dimiliki oleh setiap wilayah/daerah, atau dalam hal ini perusahaan perkebunan,
untuk memungkinkan pelaksanaan tertib penyelenggaraan administrasi dengan baik, yang mencakup luas areal, (Blok,
Afdeling, Estate, dan lain sebagainya), disamping peta juga mampu menunjukan posisi dan letak suatu bangunan, juga
kondisinya.
Pada cara pemetaan ini sumber data utama yang digunakan adalah foto udara, Citra Satelit, Ikonos, dengan skala berkisar
pada skala wilayah yang akan dibuat. Peta yang dihasilkan akan berupa peta digital sebagai peta dasar yang akan memuat
berbagai macam informasi yang dibutuhkan dan dapat di upgrade setiap saat oleh pemakai peta pada nantinya. Metode
alternatif ini bersifat sebagai pelengkap sumber data dimana ditujukan untuk pengelolaan database, untuk itu berbagai
macam informasi dalam tema-tema penataan batas areal dapat digunakan metode peta tematik hasil turunan peta dasar
yang dikompilasi dengan sumber data dari citra satelit melalui hasil penafsirannya.
1. Fungsi Pemetaan
Secara umum fungsi peta dapat dikaitkan dengan berbagai macam kepentingan antara lain: bidang pemerintahan,
bidang hankam, politik, ekonomi, sosial, budaya dan lain-lain. Dalam hal pembuatan peta yang standar sesuai dengan
kebutuhan harus memperhatikan sebagai berikut :
a.

Menetapkan kebijakan tekhnis dan langkah langkah pemetaan batas wilayah/areal yang bersebelahan.

b. Melaksanakan pemetaan sesuai metodologi pemetaan yang standar.Menggamba peta sesuai


tekhnis pemetaan
B. METODOLOGI PEMETAAN
1. Penurunan/kompilasi dari Peta yang Telah Ada
Pembuatan peta diperoleh dari peta-peta yang sudah ada, misalnya Peta Topografi dan Peta Rupa Bumi Indonesia
(BAKOSURTANAL), Peta RTRWK, dan lainnya. Secara kartografis hasil yang didapatkan berupa peta turunan. Proses
pemetaannya dilakukan dengan mengkonversi peta menjadi data digital (melalui scanning maupun digitasi). Apabila
skala maupun sumbernya berbeda maka perlu dilakukan georeferensi terlebih dahulu untuk penyamaan format data.

2. Pemetaan Alternatif
Melalui metode pengambilan data citra satelit, terutama untuk aplikasi tertentu dengan spesifikasi khusus maka proses
pemetaan dapat dilakukan dengan metode alternatif.
Dalam pemetaan alternatif ini metode pembuatannya di luar metode yang telah ada dengan memanfaatkan tehnologi
tepat guna dengan tehnik dan metode yang disesuaikan pada cara pemetaan ini sumber data utama yang digunakan
adalah foto udara, Citra Satelit, Ikonos, dengan skala berkisar pada skala wilayah yang akan dibuat. Peta yang
dihasilkan akan berupa peta digital sebagai peta dasar yang akan memuat berbagai macam informasi yang dibutuhkan
dan dapat di upgrade setiap saat oleh pemakai peta pada nantinya. Metode alternatif ini bersifat sebagai pelengkap
sumber data dimana ditujukan untuk pengelolaan database, untuk itu berbagai macam informasi dalam tema-tema
penataan batas areal dapat digunakan metode peta tematik hasil turunan peta dasar yang dikompilasi dengan sumber
data dari citra satelit melalui hasil penafsirannya.