Anda di halaman 1dari 5

Biopsi Kulit Dalam Konteks Diagnosis Dermatologis; Sebuah Penelitian Kohort

Retrospektif
Latar belakang: biopsi kulit adalah metode yang dilakukan untuk membantu dermatologis
dalam menentukan dilema diagnostik yang terjadi selama konsultasi. Tetapi, tidak semua biopsi
kulit dapat menghasilkan diagnosis konklusif dan dermatologis tidak secara rutin mengerjakan
prosedur tersebut pada setiap pasien yang melakukan konsultasi. Tujuan dari penelitian ini
adalah untuk meneliti alat diagnosis klinis yang dapat dipilih oleh dermatologis saat melakukan
biopsi kulit, diagnosis yang dapat dicapai oleh dermatologis saat melakukan pemeriksaan
mikroskopis, dan hubungan diantaranya dan terakhir untuk memberikan komentar pada instansi
dimana biopsi kulit gagal memenuhi tugas diagnosis.
Metode: 6816 biopsi dan 60 spesimen biopsi ditinjau dan dilakukan analisis deskriptif.
Hasil : usia rata - rata pasien adalah 54.58 0.26 tahun. Lokasi biopsi yang paling umum adalah
kepala dan leher (38.3%), diagnosis klinis yang paling sering diajukan adalah keganasan
(19,28%) dan diagnosis patologis yang paling sering adalah epitelioma (21,9%). Setelah
pemeriksaan mikroskopis, diagnosis histologis spesifik diajukan pada 83,29 kasus dan konsensus
diantara diagnosis klinis dan histologis diobservasi.
Kesimpulan. Walaupun ada kasus dimana biopsi kulit membatasi ketidakefisien diagnosis,
biopsi masih merupakan alat yang membantu praktek klinis dermatologi.
Introduksi
Manajemen penyakit kulit membutuhkan diagnosis yang relevan, yang mana pada banyak
kejadian merupakan proses yang rumit. Biopsi kulit merupakan prosedur diagnostik yang
dilakukan yang menghubungkan metodologi diagnostik klinis dengan pemeriksaan lapang
mikroskopis tanpa peralatan bantuan pada mata dari patologi kulit. Dengan
mempertimbangkan potensial dan keterbatasan mikroskopi optik dan indikasi teknik invasif,
dermatologis sering bergantung pada biopsi kulit untuk meningkatkan kemampuan diagnosisnya.
Tujuan dari penelitian ini adalah untuk meneliti alat diagnosis klinis yang dapat dipilih oleh
dermatologis saat melakukan biopsi kulit, diagnosis yang dapat dicapai oleh dermatologis saat
melakukan pemeriksaan mikroskopis, dan hubungan diantaranya dan terakhir untuk memberikan
komentar pada instansi dimana biopsi kulit gagal memenuhi tugas diagnosis.
Metode
6816 biopsi ditinjau yang mana termasuk dalam 5941 formulir laporan histologi dan di proses
di RS Andreas Sygros selama tahun 2004 - 2006. Lebih lanjut lagi, sistem pengkodean anatomi
topografik untuk penyakit kulit dikembangkan bersamaan dengan sistem pengkodean ad hoc
dalam rangka memenuhi kebutuhan penelitian (data tidak ditunjukkan). Tiap 5941 pasien
menjalani paling tidak satu dan paling banyak 7 biopsi kulit pada sesi kapanpun. frekuensi
keberagaman lokasi biopsi, prosentase semua diagnosis klinis yang diajukan oleh dermatologis
dan prosentase alat diagnosis histologis oleh dermatopatologis dihitung dan signifikansi statistik
dievaluasi.
Data dianalisis menggunakan PASW versi 18. Statistik deskriptif dilakukan mencakup
frekuensi dan prosentasi juga uji chi square, tabel kontingensi dan table satu arah. Tingkat
signifikansi diatur kurang dari 0.05

Hasil
3.1 Jenis Kelamin Dan Usia.
Dari 5941 pasien yang menjalani biopsi kulit, 48.2% (n=2862) adalah pria dan 51,8%
(n=3075) adalah wanita dengan jumlah data yang hilang adalah 4. Rata - rata usia adalah
54.580.26 dan median 57 tahun. Rata - rata usia untuk pria adalah ( median 60 tahun) dan untuk
wanita ( median 54 tahun)
3.2 Lokasi Biopsi
Tempat tiap biopsi di pelajari berdasarkan regio anatomi dan lokasi spesifik berdasarkan regio
anatomi, frekuensi respektif yang ditemukan adalah kepala dan leher 38.3% ( = 2515), kulit
anterior dan lateral 14.3% ( = 941), kulit posterior 12.3% ( = 810), pelvis 6.9% ( = 454),
extremitas atas 11.1% ( = 729), extremities bawah 17.1% ( = 1124). Dari 6573 lokasi biopsi
yang sah ( = 243missing) lokasi yang paling sering adalah punggung 8.8% ( = 579), kulit
kepala 5.9% ( = 387), hidung 3.3% ( = 218), abdomen 3.3% ( = 217). Setelah melakukan uji
chi square, ditemukan frekuensi berbeda secara signifikan (2= 2434.521, < 0.001)
3.3 Diagnosis Klinis
Dalam rangka mempelajari diagnosis klinis yang diajukan oleh dermatologis, 6733 dari 6816
biopsi dinilai. Ada 11194 diagnosis sah., dibagi menjadi 367 berdasarkan penyakit kulit (12579
totalnya, 13 merujuk ke jaringan lain selain kulit), menghasilkan rasio 1,66 diagnosis tiap biopsi
kulit. Tidak ada diagnosis sama sekali terdapat pada 158 kasus (2.4%). Klasifikasi 14 kategori
dari semua diagnosis klinis disajikan di gambar 1.Frekuensinya adalah tumor malignan n=
2158(19.28%), dermatosis papulosqua-mous = 1358(12.13%), dan nevi =1176(10.51%)
termasuk melanocytic nevi, congenital nevi,Spitz nevi, blue nevi, dysplastic nevi, junctionalcompound-intradermal nevi, nonmelanocytic nevi, dan epidermal nevi, semua bentuk
dermatitis = 941(8.4%) termasukdermatitis, contact dermatitis, acute or chronic
dermatitis,dyshidrotic eczema, nummular eczema, atopic dermatitis,and seborrheic dermatitis;
juga, penyakit jaringan ikat = 803(7.17%), granulomas tidak infeksius dan penyakit
granulomatosa = 389(3.48%), penyakit immunobullosa diseases = 376(3.36%), infeksi
cutan = 351 (3.14%), tumors benigna = 344(3.07%), erupsi obat = 314(2.8%),
vasculitis = 230(2.06%), jerawat dan erupsi akneiformis = 119(1.06%), hemangiomas dan
malformasi vaskular = 118(1.05%), dan dermatosis lainnya = 2517(22.49 Setelah
melakukan uji chi square, ditemukan frekuensi berbeda secara signifikan (2= 9396.640, <
0.001)
Dari 367 penampakan klinis yang berbeda, diagnosis spesifik yang paling sering adalah
karsinoma sel basal (n=1037), nevus melanositik (n=880), dermatitis (n=685), psoriasis plak
(n=515) dan karsinoma sel skuamosa (n=436)
3.4 Diagnosis Histologis
Penelitian dari diagnosis histologis dihasilkan oleh dermatopatologis termasuk 6720 biopsi
kulit (6733 totalnya, tidak termasuk 13 selain kulit) dan patologi berbeda yang sebelumnya
didiagnosis secara klinis oleh dermatologis. 5597 diagnosis histologi spesifik diajukan
( 83.29%), dibagi dalam 259 penyakit kulit. Klasifikasi dari 16 kategori dari semua diagnosis
histologis disajikan dalam gambar 2. Frekuensi dan prosentase paling banyak adalah epitelioma

n =1224 (21,9%) comprising karsinoma sel basal, karsinoma sel skuamosa, karsinoma
basosquamos, tumor gabungan dengan epitelioma apapun sebagai komponen ( contoh : keratosis
seboroik), keratoakantoma, fibroepitelioma, limfoepitelioma-like carcinoma, melanocytic nevi
n=965 (17.2%), kista dan tumor benigna n=700 (12,5%), dermatitis n=484 (8.6%),
papulosquamous dermatoses n=425 (7.6%) lesi kulit premalignan n= 244 (4.4%) kondisi dari
kulit dan erupsi akneiformis n=205 (3.7%), cutaneous vasculitides = 135(2.4%), Erupsi obat
dan urticaria = 106(1.9%), penyakit imunobulosa = 101(1.8%), penyait granulomatosa
=99(1.7%), malignant melanomas=84(1.5%), keganasan lain disamping mela-nomas dan
epitheliomas=70(1.3%), infeksi kutan =61(1.1%), and dermatoses lain =441(7.9%).
Dengan menggunakan uji chi square, perbedaaan frekuensi ditemukan berbeda secara signifika
(2=5150.109, < 0.001. Juga, menggunakan test tabel kontingensi, lokasi biopsi dan diagnosis
histologis ditemukan dependen (x2= 2917.638, p< 0.001) dengan asosiasi paling penting diantara
epitelioma diikuti oleh kondisi kulit di kepala dan leher, vaskulitis kutan dari ekstrimitas bawah,
nevi melanisitik pada kulit posterior dan dermatitis dari kulit anterolateral.
Dari 259 penampakan yang berbeda yang digunakan oleh dermatopatologis, yang paling
sering adalah junctional, compound, dan nevi intradermal n=903 (16,1%), karsinoma sel basal
n=858 (15.3%) dan karsinoma sel skuamosa n=304 (5.4%).
3.5 Hubungan Antara Diagnosis Histologis Dan Klinis.
Seperti yang disebutkan sebelumnya, 5597 diagnosis histologis spesifik diajukan berdasarkan
patologi yang mendasari dari 6720 biopsi kulit. Pada sisa kasus, tidak ada diagnosis banding
yang diajukan atau saran yang dibuat. Dalam rangka menilai hubungan antara diagnosis klinis
dan histologis, klasifikasi 10 kasus yang terjadi dikerjakan dan untuk tujuan tersebut penilaian
terpisah dibuat. Frekuensi dan prosentase yang diobservasi bersamaan dengan deskripsi 10 kasus
disajikan di tabel 1. Diagnosis histologi spesifik disediakan di n=5997 instansi (83.3%), tidak
ada diagnosis histologis spesifik pada n=754 (11,2%), sedangkan 2 atau lebih diajukan pada
n=369 kasus. Orientasi data yang berguna pada dermatologis dalam menentukan diagnosis klinis
akhir ( kasus 1-4 dan 7 -10 pada tabel 1) diseddiakan pada n=6533 (97.2%) dari semua biopsi.
Diagnosis histologis dan klinis ditemukan konsisten secara substansial (kasus 2, 3, 8, dan 10
pada Table 1) pada n = 4571 (68%) instansi. Dermatologis tidak menyediakan diagnosis klinis
spesifik (kasus 1 dan 6( pada n= 232 (3,5%) instansi. Lebih lanjut lagi, kurangnya diagnosis
klnis spesifik digabungkan dengan tidak adanya data histologis yang dapat digunakan (pada
kasus 6 saja) terjadi pada n= 25 (0.4%) dari semua kasus. Dengan uji chi square perbedaan
frekuensi diantara kasus ditemukan signifikan cesara statistik (2= 10212.560, < 0.001). ada
juga keterkaitan hubungan antara diagnosis klinis dan histologis dengan lokasi biopsi (2=
378.979, < 0.001) . dengan menginterpretasikan residual yang telah diatur, ditemukan bahwa
terdapat korelasi paling banyak pada kasus 3 (seperti dijelaskan pada tabel 1) dan lokasi biopsi
merupakan kulit posterior. Juga antara kasus 2 dan regio kepala dan leher, juga kasus 7 dan bipsi
diambil dari pelvis. Juga biopsi dari kepala dan leher dan kulit anterior dan posterior
menunjukkan konsistensi yang lebih tinggi diantara diagnosis klinis dan histologis.
Pada tabel 1, kasus 5 sampai 7 meringkas n=754 biopsi kulit tanpa diagnosis histologis
spesifik. Alasan yang mungkin yang dihasilkan dalam kesulitan ini adalah extrapolated setelah
meninjau kembali laporan histopatologis dan mengklasifikasikan pendapat dermatopatologis.
Dari sejumlah 754 bipsi, n=91 (12,1%) spesimen dianggap sebagai pemeriksaan mikroskopik

yang telah rusak atau tidak layak, dan =39 (5.2%) ditemukan dengan kuantitas tidak adekuat
dimana =27 (3.6%) lokasi biopsi tidak mewakili lesi yang diperiksa, pada n = 24 (3.2%) ciri
patologis berubah karena perawatan sebelumnya, pada n = 23(3,1%) mikroskopik optik dengan
pengecatan standar dianggap tidak layak untuk diagnosis spesifik dan pada =16(2.1%) lesi yang
diperiksa diidentifikasi sebagai lesi yang tidak berkembang secara penuh atau telah sembuh. Sisa
534 (70.8%) kasus didokumentasikan sebagai ciri non patognomonik dan tanpa ciri yang
membedakan dengan yang lain.
Diskusi
Ada banyak kejadian dimana dokter ditantang oleh masalah diagnosis yang berat. Biopsi kulit
merupakan prosedur sederhana dan tidak mahal yang dilakukan di lingkungan dermatologi
sebagai sarana pengambilan keputusan klinis berdasarkan pengobatan dan diagnosis. Juga,
berbagai penelitian mempertimbangkan konfirmasi histolgis sebagai standar dari diagnosis yang
benar di bidang dermatologi dibandingkan dengan evaluasi klinis dan hasil yang dihasilkan
dengan perlakukan yang sama dalam menetukan ciri epidermologis dan pola penyakit kulit. Oleh
karena itu, keakuratan diagnosis yang tinggi diperlukan dimana hal ini bergantung pada
minimalisasi faktor seperti pilihan lesi yang tidak layak, teknik yang dilakukan dengan tidak
benar, diagnosis klinis tidak spesifik, atau kerjasama yang tidak adekuat antara dermatologist dan
dermatopatologist. Lebih lanjut lagi, keakuratan diagnosis dapat ditingkatkan dengan
menggunakan dermoskopi saat memilih lokasi biopsi dan sebagai tambahan menggunakan teknik
pengecatan immunohistokimia dan immunofloresense saat diperlukan
Sedikit penelitian telah dilakukan dalam rangka menilai akurasi diagnostik dari penyakit kulit
oleh dokter dengan membandingkan diagnosis klinis dan histologis. Satu dari penelitian ini
mengukur satuan diagnostik dari penyakit non dermatologis diantara 34% sampai 45% dan
bahwa dermatologis menjadi 71% dan 72% untuk dermatoses peradangan atau neoplasma dan
kista. Penelitian lain menentuukan 76,8% dari diagnosis patologis konsisten dengan diagnosis
yang diberikan oleh dermatologis, dimana diagnosis ketiga mengukur persetujuan klinis dan
patologis lebih dari 92% dengan kesuksesan ini diberikan oleh peneliti ke dermatologis dan
patologis. Pada penelitian sekarang ini, dimana menurut peneliti merupakan yang paling besar,
68% konsistensi diagnosis klinis dan histologis diperiksa dimana diagnosis ini berjumlah lebih
sedikit dari data yang dipublikasi. Lebih lanjut lagi, data lebih jauh dihasilkan dari penelitian ini
terdiri dari diagnosis histologis spesifik yang tersedia pada 83,3% dari semua kasus dan
informasi yang dapat digunakan untuk dermatologis diajukan pada 97,2% dari semua biopsi.
Data yang ditampilkan dalam penelitian ini mendukung pengetahuan yang diterima secara
empiris dari setiap dermatologis bahwa walaupun biopsi kulit dilakukan untuk diagnosis
dermatosis dengan rentang yang luas. Penelitian ini digunakan sebelum penentuan malignansi,
utamanya melanoma dan epitelioma, dan juga untuk dermatoses peradangan seperti dermatitis
dan psoriasis. Akan tetapi, walaupun kegunaan diagnosis biopsi kulit tinggi (97,2% dalam
penelitian ini) dengan akurasi diagnostk 83,3%, telah ada pengurangan sebanyak 11,2%
kurangnya diagnosis histologis pada semua instansi. Alasan yang mungkin dari hal ini tidak
dinilai secara kuantitatif di literatur. Berbicara secara teknik, hal ini dapat dipengaruhi oleh
beberapa faktor seperti spesimen yang inadekuat dan tidak layak, seperti yang sebelumnya
dianalisa. Tetapi, sejumlah 25 (0.4%) dari semua bipsi kulit kekurangan diagnosis klinis dan data
histologis yang dapat digunakan. Juga ada 232 (3,5%) tanpa diagnosis klinis spesifik dan 158
(2,4%) tanpa deskripsi klinis atau diagnosis. Walaupun kasus ini jarang, hal ini dapat

memberikan masalah terapetik. Oleh karena itu, kerjasama yang lebih dekat antara dermatologis
dan dermatopatologis disarankan.
Kesimpulan
Walapun telah ada fakta bawa teknik modern telah dikembangkan dan penggunaan dalam
diagnosis penyakit kulit, dermatologis masih bergantung pada biopsi untuk tujuan diagnostik.
Seperti yang didiskusikan dalam penelitian ini, ada rentang penyakit yang luas yang
mengijinkan dermatologis untuk memilih biopsi kulit dalam rangka mengkonfirmasi diagnosis
mereka, dan dalam perspektif histologis untuk membuktikan bantuan dan kepercayaan dalam
kebanyakan kasus. Tetapi ada juga keterbatasan pada metode ini dan ada kasus bahwa perlakuan
biopsi tidak menghasilkan hasil diagnostik. Sebagai konsekuensi, diagnosis sebelumnya ditunda
dan semua keputusan terapetik sangat bergantung pada keputusan dermatologis. Oleh karena itu
penggunaan optimal dari proses ini sangat disarankan dengan deskripsi yang komprehensif dan
diagnosis yang relevan oleh dermatologis bersamaan dengan kerjasama yang lebih dekat dengan
dermatopatologis dalam melakukan korelasi klinis dan patological kapanpun dimungkinkan.