Anda di halaman 1dari 24

Sejarah Perusahaan Pertamina

PERTAMINA adalah perusahaan minyak dan gas bumi yang dimiliki Pemerintah Indonesia

(National Oil Company), yang berdiri sejak tanggal 10 Desember 1957 dengan nama PT.

PERMINA. Pada tahun 1961 perusahaan ini berganti nama menjadi PN. PERMINA dan setelah

merger dengan PN. PERTAMINA di tahun 1968, namanya berubah menjadi PN. PERTAMINA.

Dengan bergulirnya Undang Undang No. 8 Tahun 1971, sebutan perusahaan menjadi

PERTAMINA. Sebutan ini tetap dipakai setelah PERTAMINA berubah status hukumnya menjadi

PT. PERTAMINA (PERSERO) pada tanggal 17 September 2003 berdasarkan Undang-Undang

Republik Indonesia Nomor 22 tahun 2001 pada tanggal 23 November 2001 tentang Minyak dan

Gas Bumi.

PT. PERTAMINA (PERSERO) didirikan berdasarkan akta Notaris Lenny Janis Ishak, SH

No. 20 tanggal 17 September 2003, dan disahkan oleh Menteri Hukum & HAM melalui Surat

Keputusan No. C-24025 HT.01.01 pada tanggal 09 Oktober 2003. Pendirian Perusahaan ini

dilakukan menurut ketentuan-ketentuan yang tercantum dalam Undang-Undang No. 1 tahun 1995

tentang Perseroan Terbatas, Peraturan Pemerintah No. 12 tahun 1998 tentang Perusahaan Perseroan

(Persero), dan Peraturan Pemerintah No. 45 tahun 2001 tentang Perubahan atas Peraturan

Pemerintah No. 12 tahun 1998 dan peralihannya berdasarkan PP No.31 Tahun 2003 "Tentang

pengalihan bentuk perusahaan pertambangan minyak dan gas bumi negara (PERTAMINA) menjadi

perusahaan perseroan (persero)”.

Sesuai akta pendiriannya, maksud dari Perusahaan Perseroan adalah untuk

menyelenggarakan usaha di bidang minyak dan gas bumi, baik di dalam maupun di luar negeri serta

kegiatan usaha lain yang terkait atau menunjang kegiatan usaha di bidang minyak dan gas bumi

tersebut.

Adapun tujuan dari Perusahaan Perseroan ini adalah untuk:

1. Mengusahakan keuntungan berdasarkan prinsip pengelolaan Perseroan secara efektif dan

efisien.
2. Memberikan kontribusi dalam meningkatkan kegiatan ekonomi untuk kesejahteraan dan

kemakmuran rakyat.

Sesuai dengan ketentuan dalam Undang-Undang Migas baru, PERTAMINA tidak lagi

menjadi satu-satunya perusahaan yang memonopoli industri migas di mana kegiatan usaha minyak

dan gas bumi diserahkan kepada mekanisme pasar.

Seiring meningkatnya konsumsi gas elpiji di dalam negeri, juga diikuti dengan

meningkatnya kebutuhan tabung elpiji sebagai sarana kemasan untuk pemasaran, maka PT.

PERTAMINA (PERSERO) membangun Pabrik Tabung Elpiji (PTE) pada tahun 1975 dan mulai

berproduksi tahun 1976. Lokasi pembangunan dipusatkan di Jalan Yos Sudarso – Plumpang,

Jakarta Utara, dengan luas areal sebesar 489,5 m x 100 m, atau sekitar 46.950 m². Kapasitas

produksi rata–rata yaitu sebanyak 1.600 tabung/hari, daya listrik menggunakan daya dari PLN

sebesar 800 KVA, dan pembangkit sendiri sebesar 1.250 KVA. Tenaga kerja mula-mula yaitu

pekerja PERTAMINA sebanyak 50 orang, dan pekerja kontrak sebanyak 160 orang.

Sertifikasi ISO yang telah diperoleh antara lain:

1. ISO 9002 : 1994, Certificate No. Q14179, pada tanggal 04 September 1998

2. ISO 9001 : 2000, Resertification/Up Grade, pada tanggal 12 Maret 2002

Kegiatan Perusahaan

PT. PERTAMINA (PERSERO) Gas Domestik Region II - Pabrik Tabung Elpiji (PTE)

bergerak dalam bidang pembuatan tabung elpiji. Adapun kegiatan produksi PTE sejak awal

berdirinya hingga saat ini adalah sebagai berikut:

a. Awal Berdiri : Tabung Elpiji kapasitas 12 kg (WC. 26,2 liter)

Tabung Elpiji kapasitas 50 kg (WC. 108 liter)

b. Saat Ini : Hanya berproduksi tabung elpiji kapasitas 12 kg.


Sejak tahun 2005 produksi tabung elpiji kapasitas 50 kg dihentikan karena

permintaan tabung dengan kapasitas tersebut relatif kecil sehingga difokuskan

untuk produksi tabung elpiji kapasitas 12 kg.

Struktur Organisasi Pabrik Tabung Elpiji (PTE)

Kepala Pabrik
Tabung Elpiji

Pengawas Utama Pengawas Pengawas Pengawas


Produksi Quality Control Pemeliharaan Administrasi

Asisten Forming Asisten Asisten Asisten


& Welding Quality Control Mekanik Administrasi

Penata Finishing Asisten X-Ray & Asisten


& Marking Kalibrasi Listrik

Asisten Asisten
Power House LK3

Security

Gambar 4-2

Struktur Organisasi Pabrik Tabung Elpiji (PTE)


Job Description

1. Kepala PTE

Tugas/Tanggung Jawab:

1. Merencanakan, melaksanakan, mengawasi, mengendalikan dan menganalisa proses

produksi.

2. Melaksanakan pembinaan Sumber Daya Manusia.

2. Bagian Produksi

Tugas/Tanggung Jawab:

1. Melaksanakan permintaan bahan baku/bahan pembantu untuk produksi dari Material Ware

House (MWH)

2. Melaksanakan proses produksi

3. Melaporkan hasil produksi

4. Menyerahkan hasil produksi ke Material Ware House (MWH)

3. Bagian Quality Control

Tugas/Tanggung Jawab:

1. Melaksanakan inspeksi dan pengujian:

- material yang masuk

- proses produksi

2. Pengendalian peralatan inspeksi dan pengujian

3. Melaksanakan analisa data:

- Proses produksi

- Produk

- Pemasok
4. Bagian Pemeliharaan

Tugas/Tanggung Jawab:

1. Melaksanakan pemeliharaan mesin

2. Pemesanan suku cadang mesin/peralatan

3. Membuat rencana anggaran operasional produksi

5. Bagian Administrasi

Tugas/Tanggung Jawab:

1. Merencanakan dan melaksanakan program pelatihan

2. Membuat dan mengendalikan laporan produk, dokumen dan data serta rekaman mutu

3. Membuat rencana Internal Audit dan Management Review

Proses Pengendalian Kualitas dalam Perusahaan

• Penerapan Kebijakan Mutu Perusahaan

Sistem Manajemen Mutu Pabrik Tabung Elpiji (PTE) bertujuan untuk menguraikan

bagaimana organisasi mengendaliakan dokumen dan data serta rekaman mutu dengan cara

mengidentifikasi, memberi indeksi, mengumpulkan, menyimpan dan memelihara sistem

manajemen mutu dan secara berkelanjutan meningkatkan efektivitasnya sesuai dengan persyaratan

standar ISO 9001:2000.

Organisasi menerapkan ikrar kebijakan mutu sebagai berikut:

“Pabrik Tabung Elpiji-Plumpang dalam melaksanakan produksi selalu menerapkan Sistem

Pengendalian Mutu ISO 9001:2000 dengan mengedepankan hasil yang berkualitas sesuai

spesifikasi guna kepuasan pelanggan”.

Agar kebijakan mutu ini dapat diwujudkan secara operasional, maka diterapkan beberapa

sasaran mutu sebagai indikator untuk mengendaliakan proses produksi tabung elpiji. Sasaran mutu

dimaksud adalah batasan toleransi/batas maksimum yang diijinkan untuk beberapa komponen

produk dalam satuan persen (proporsional terhadap jumlah produksi) sebagai berikut:

• Sasaran Mutu tahun 2004:


a. Tabung repair akibat cacat las maksimal 1,15% per bulan

b. Komponen tabung repair maksimal 12,89% per bulan

c. Komponen tabung afkir maksimal 0,00% per bulan

• Sasaran Mutu tahun 2008:

1. Bagian Produksi

a. Tabung repair akibat cacat las maksimal 1,00% per bulan

b. Komponen tabung repair maksimal 10,20% per bulan

c. Komponen tabung afkir maksimal 0,10% per bulan

2. Bagian Quality Control

Tidak ada keluhan pelanggan mengenai pengisian tabung perdana produksi PTE.

3. Bagian Pemeliharaan Peralatan

Down time mesin produksi maksimal 0,90% dari total jam produksi per tahun.

4. Bagian Administrasi

Merencanakan pelatihan eksternal dengan tingkat pencapaian minimal 20% per tahun dan

melaksanakan pelatihan internal minimal 50% per tahun yang berhubungan dengan aktivitas

Pabrik Tabung Elpiji maupun mengacu kepada hasil penelitian eksternal yang diperoleh.

• Cara Pembuatan Tabung Elpiji 12 Kg

Cara pembuatan tabung elpiji oleh Pabrik Tabung Elpiji (PTE) mengacu pada Standar

Nasional Indonesia (SNI), yaitu sebagai berikut:

1. Bahan baja cairan panas dipotong sesuai dengan ukuran dan diberikan pelumas sebelum

masuk ke dalam proses pembentukan.

2. Pembentukan dilakukan dengan cara di-press (deep drawing) dan hasilnya merupakan

komponen dari badan tabung pada bagian atas dan bawah (top and bottom).

3. Komponen badan tabung bagian atas (top) kemudian dilubangi untuk pemasangan cincin

leher.
4. Pemasangan cincin leher (neck ring) dilakukan dengan cara pengelasan menggunakan las

busur logam gas (gas metal arc welding).

5. Sambungan las antara top dan bottom terhadap badan silinder berbentuk sambungan las

tumpang.

6. Penyambungan pegangan tangan dan cincin kaki dengan badan tabung dilakukan dengan

cara pengelasan busur listrik (shielded metal arc welding). Dengan bentuk las sudut (fillet)

7. Pengelasan pada butir 4, 5, dan 6 harus dilakukan oleh juru las atau operator las yang

memenuhi standar kompetensi juru las.

8. Setiap tabung harus mendapatkan perlakuan panas untuk pembebasan tegangan sisa

(annealing), yaitu pada suhu 6300C sekurang-kurangnya 20 menit.

9. Untuk mencegah timbulnya karat pada permukaan luar tabung harus dilakukan

perlindungan dengan menggunakan pelapisan cat. Sebelum dilakukan pengecatan harus

didahului dengan proses pembersihan dengan cara shot blasting di seluruh permukaan

tabung. Pengecatan pertama menggunakan cat dasar (primer coat) dengan tebal 25 mikron

sampai 30 mikron, selanjutnya menggunakan cat akhir (top coat) dengan tebal 25 mikron

sampai 30 mikron.

• Standar Teknis Tabung

Standar teknis tabung elpiji adalah sebagai berikut:

• Bentuk : Cylindris

• Diameter luar badan tabung (OD) : 300 mm ± 2 mm

• Tebal plat : 2,9 mm (+ 0,08; -0,04)

• Tinggi tanpa Hand Guard dan Foot Ring (kapsul): 461 mm ± 4 mm

• Tinggi seluruhnya : 589 mm ± 5 mm

• Volume (isi air) : 26,2 liter ± 3%

• Berat tabung kosong berikut valve : 15,10 kg ± 0,5 kg


• Tekanan pecah : minimal 110 kg/cm2

• Syarat Kualitas Tabung

Pabrik Tabung Elpiji (PTE) mengacu pada Standar Nasional Indonesia (SNI) sebagai standat

mutu dalam pembuatan tabung elpiji ukuran 12 kg. Standar tersebut adalah sebagai berikut:

1. Sifat tampak

Setiap permukaan tabung baja elpiji tidak boleh ada cacat atau kurang sempurna dalam

pengerjaannya yang dapat mengurangi kekuatan dan keamanan dalam penggunaannya, seperti

luka gores, penyok, dan perubahan bentuk.

2. Dimensi

a. Lingkaran tabung

Perbedaan diameter yang terjadi pada bagian bentuk silindris tabung antara diameter

maksimal dan minimal adalah 1% untuk tabung 2 bagian, dan 1,5% untuk tabung 3 bagian.

b. Kelurusan

Deviasi vertikal tabung tidak boleh melebihi 25 mm/m.

3. Ketahanan Hidrostatik

Setiap tabung harus tahan terhadap tekanan hidrostatik dengan tekanan sebesar 31 kg/cm2, dan

pada tekanan tersebut tidak boleh ada rembesan air atau kebocoran dan tidak boleh terjadi

perubahan bentuk.

4. Sifat kedap udara

Tabung yang telah dilengkapi dengan katup harus kedap udara atau tidak boleh bocor pada

tekanan udara sebesar 18,6 kg/cm2.

5. Ketahanan pecah (uji bursting)

Tabung ditekan secara hidrostatik sampai pecah. Tekanan saat pecah tidak boleh lebih kecil dari

110 kg/cm2 untuk tipe 3 kg, dan tidak boleh lebih kecil dari 80 kg/cm2 untuk tipe di atas 15 kg

sampai 50 kg. Tabung tidak boleh pecah dengan inisiasi pecahan berawal dari sambungan las.
6. Ketahanan ekspansi volume tetap

Tabung ditekan secara hidrostatik dengan tekanan sebesar 31 kg/cm2 selama 30 detik. Ekspansi

volume tetap yang terjadi tidak boleh lebih besar dari 1/5000 volume awal. Tidak boleh terjadi

kebocoran dan tampak perubahan bentuk.

7. Sambungan las

Sambungan las harus mulus, rigi-rigi las harus rata, tidak boleh terjadi cacat pengelasan yang

dapat mengurangi kekuatan dalam pemakaian. Pengujian mekanis berupa sifat-sifat tarik dari

sambungan las nilainya harus sama atau lebih besar dengan kekuatan tarik bahan yang

disambung dan patahan tidak boleh terjadi pada sambungan las.

8. Pengecatan

Lapisan cat harus mampu memenuhi pengujian lapisan cat.

• Prosedur Pengendalian Kualitas

Tujuan prosedur pengendalian kualitas adalah untuk menguraikan cara-cara organisasi

menginspeksi dan/atau menguji bahan baku, bahan pembantu, suku cadang mesin, material

pemeliharaan, BBM dan pelumas, komponen tabung serta tabung jadi dengan cara mengendalikan

dan mengurangi penyebab ketidaksesuaian nyata atau potensial dengan upaya tindakan koreksi dan

pencegahan terhadap proses maupun karakteristik produk secara konsisten terhadap sistem mutu

yang telah disetujui dan ditentukan melalui upaya peningkatan audit mutu internal dan dibahas

dalam tinjauan manajemen.

Kebijakan dan prosedur yang ditetapkan dalam rangka pengendalian kualitas antara lain:

1. Inspeksi dan Pengujian Saat Penerimaan


a. Setiap bahan baku dan bahan pembantu, suku cadang mesin, material pemeliharaan, BBM dan

pelumas yang masuk atau diterima, diinspeksi, diuji dan/atau diverifikasi terlebih dahulu

sesuai Tata Kerja Organisasi.

b. Petunjuk kerja inspeksi dan pengujian berisi rincian baik metode maupun mengenai kriteria

keberterimaannya sesuai spesifikasi pelanggan.

c. Rekaman inspeksi dan pengujian yang merupakan bukti kesesuaian dan ketidaksesuaian

bahan baku dan bahan pembantu dipelihara.

d. Bahan baku dan bahan pembantu yang tidak sesuai, dipisahkan dan diidentifikasi.

e. Dalam kondisi mendesak bila bahan baku/bahan pembantu tidak sempat diverifikasi dan

dilepas untuk keperluan produksi, maka identifikasi bahan baku direkam untuk

memungkinkan penarikan secepatnya apabila hasil verifikasi tidak sesuai.

2. Inspeksi dan Pengujian dalam Proses

a. Komponen tabung diinspeksi dan/atau diuji pada setiap tahapan proses.

b. Produksi yang dilakukan sesuai dengan Tata Kerja Organisasi.

c. Lembar pemeriksaan (check list) serta Tata Kerja Individual Inspeksi dan pengujian berisi

rincian baik metode maupun mengenai kriteria keberterimaannya sesuai spesifikasi

pelanggan.

d. Rekaman inspeksi dan pengujian berupa bukti kesesuaian atau ketidaksesuaian komponen

tabung dipelihara.

e. Komponen tabung yang tidak sesuai dipisahkan, diidentifikasi sebagai tidak sesuai, organisasi

harus merencanakan dan menerapkan pemantauan, pengukuran, analisis serta proses yang

diperlukan untuk memperagakan kesesuaian produk, memastikan kesesuaian sistem

manajemen mutu dan secara berkelanjutan meningkatkan keefektifannya.

3. Inspeksi dan Pengujian Akhir

a. Semua tabung jadi diinspeksi dan/atau diuji yang dilakukan sesuai Tata Kerja Organisasi.
b. Tata Kerja Individual Inspeksi dan Pengujian akhir tabung jadi berisi rincian baik metode

maupun kriteria keberterinaannya sesuai spesifikasi pelanggan.

c. Verifikasi dari inspeksi dan pengujian sebelumnya merupakan bagian dari kegiatan inspeksi

dan pengujian akhir.

d. Hasi kegiatan inspeksi dan pengujian akhir direkam untuk memberikan bukti kesesuaian atau

ketidaksesuaian tabung jadi dan menunjukkan bahwa tabung jadi telah dilepas oleh personil

yang mempunyai wewenang untuk itu.

4. Pengendalian Ketidaksesuaian Produk

a. Semua bahan baku, bahan pembantu, komponen tabung dan tabung jadi yang tidak sesuai

diidentifikasi dan dipisahkan untuk mencegah penggunaan yang tidak sengaja.

b. Organisasi menetapkan petugas yang berwenang untuk menindaklanjuti ketidaksesuaian yang

terjadi terhadap bahan baku, bahan pembantu, komponen tabung dan tabung jadi.

c. Rincian ketidaksesuaian diteruskan kepada petugas terkait untuk dilakukan pekerjaan ulang

atau afkir.

d. Semua komponen tabung dan tabung jadi yang diperbaiki dan dikerjakan ulang, hasilnya

diinspeksi kembali.

5. Tindakan Koreksi dan Pencegahan

a. Organisasi menetapkan petugas yang berwenang untuk memprakarsai tindakan koreksi dan

pencegahan.

b. Penanganan terhadap keluhan pelanggan sebatas produk tabung elpiji yang ditolak/reject pada

saat dilakukan pengisian awal/perdana di Depot pengisian elpiji.

c. Organisasi mempertimbangkan perlu tidaknya tindakan koreksi untuk menghilangkan

penyebab ketidaksesuaian yang nyata atau potensial sehubungan dengan pertimbangan antara

masalah dengan biaya koreksinya.

d. Organisasi menerapkan dan merekam setiap perubahan pada sistem mutu sebagai hasil

tindakan koreksi dan pencegahan.


• Tindakan Pencegahan

Tujuannya adalah untuk menentukan langkah-langkah bagi tindakan pencegahan dan

koreksi yang diperlukan. Prosedur yang dilakukan adalah sebagai berikut :

1. Apabila ditemukan indikasi ketidaksesuaian, pengawas/penata/asisten terkait membuat

permintaan tindakan pencegahan terhadap deteksi ketidaksesuaian.

2. Pengawas terkait menerima permintaan tindakan pencegahan untuk dilakukan analisa dan

rekomendasi terhadap tindakan pencegahan.

3. Dalam upaya tindakan pencegahan, di PTE dibentuk Gugus Kendali Mutu (GKM) yang akan

melakukan evaluasi/analisa untuk menghilangkan penyebab potensial dari ketidaksesuaian yang

terjadi.

4. Kepala PTE/Pengawas/Penata/Asisten lainnya bertanggung jawab terhadap konsistensi aktivitas

GKM yang ada di PTE.

5. Hasil pembahasan dari GKM berupa laporan ketidaksesuaian ataupun bentuk makalah

merupakan salah satu agenda yang akan dibahas pada rapat tinjauan manajemen.

• Pengendalian Terhadap Produk yang Tidak Sesuai

Tujuan pengendalian ini adalah untuk memastikan bahan baku, bahan pembantu, komponen

tabung dan tabung jadi yang tidak sesuai dengan persyaratan dicegah dari proses selanjutnya.

Prosedur yang dilakukan adalah sebagai berikut :

1. Pengawas/Penata/Asisten Produksi terkait memisahkan dan mencatat jenis serta jumlah bahan

baku/bahan pembantu yang tidak sesuai saat diterima dari MWH dan selama proses produksi

dilaksanakan.

2. Pengawas/Penata/Asisten Produksi terkait bertanggung jawab menginformasikan bahan

baku/bahan pembantu yang tidak sesuai kepada petugas MWH untuk ditukar/diganti serta

mencatatnya pada kolom keterangan di dalam formulir tanda permintaan.


3. Penata/Asisten Produksi terkait menentukan langkah lanjutan atas komponen tabung/tabung

yang tidak sesuai yaitu dikerjakan ulang atau diafkir.

4. Penata/Asisten Produksi terkait melaksanakan pengerjaan ulang serta hasilnya diinspeksi

kembali.

5. Penata/Asisten Repair terkait mencatat ketidaksesuaian yang terjadi pada papan catatan

yang tersedia.

6. Pengawas/Penata/Asisten Produksi terkait mencatat seluruh ketidaksesuaian yang terjadi di

kelompoknya pada laporan kegiatan produksi untuk dilaporkan oleh Pengawas Produksi kepada

Kepala PTE.

7. Pengawas/Penata/Asisten Produksi terkait menginformasikan komponen tabung dan tabung

jadi yang rusak (afkir) melalui Asisten Administrasi Produk, untuk diserahkan kepada MWH.

8. Kepala PTE melaporkan secara periodik ketidaksesuaian produk yang terjadi kepada Kepala

Operasi Gas Domestik Region II berikut tindakan koreksi/pencegahan yang dilakukan. Untuk itu

apabila tabung jadi ditemukan rusak pada saat pengisian perdana, maka Kepala PTE menugaskan

tim dari PTE untuk melakukan perbaikan di tempat pengisian perdana tersebut. Kemudian hasil

inspeksi dari lot tabung yang rusak tersebut diperiksa oleh bagian Quality Control.

• Hal – Hal yang Menpengaruhi Kualitas Tabung Elpiji pada PTE

a. Bahan Baku/Material/Jasa

Tujuan pengendalian terhadap bahan baku/material/jasa yaitu untuk memastikan bahwa

material/jasa yang dipesan oleh Pabrik Tabung Elpiji memenuhi persyaratan yang

ditentukan. Dengan demikian, diharapkan dapat memperkecil potensi

ketidaksesuaian/kecacatan produk jadi.

b. Pemasok
Pemasok PTE merupakan badan/lembaga di luar PTE yang melaksanakan jasa pengadaan

bahan baku/bahan pembantu, tabung jadi, suku cadang mesin/material pemeliharaan, jasa

perbaikan fasilitas peralatan, dan jasa lainnya.

Adapun ukuran baik atau tidaknya rekanan/pemasok bagi PTE adalah sebagai berikut:

Tabel 4-1
Kriteria Rekanan Borongan

Kriteria Tepat/ Baik Kurang


Disiplin Sesuai permintaan Tidak sesuai permintaan
pelaksanaan pelaksanaan
Waktu Perbaikan Sesuai jadwal Tidak sesuai jadwal
permintaan permintaan
Hasil Rapi/ bisa digunakan Tidak rapi/ tidak bisa
dengan baik digunakan dengan baik

Tabel 4-2
Kriteria Rekanan Pemasok Spare Part Mesin

Kriteria Tepat/ Baik Kurang


Waktu pasok Sesuai jadwal Lebih lama dari jadwal
penyerahan penyerahan
Ukuran Sesuai spesifikasi Tidak sesuai spesifikasi
Ketahanan Sesuai empiris spare Labih cepat dari pada
part mesin empiris spare part mesin

Apabila hasil evaluasi terhadap penerimaan 2 kali berturut-turut kurang baik/reject > 0.2%

(untuk penerimaan bahan baku/bahan pembantu), maka Kepala PTE membuat konsep surat

teguran kepada rekanan/pemasok yang dikirimkan melalui Kepala Operasi Gas Domestik

Region II.

Ukuran keberhasilan dalam penetapan pemasok ini adalah terpenuhinya tingkat kegiatan

pemesanan material/jasa sari pemasok dan proses pelaporan performance record, sehingga

pemantauan terhadap adanya ketidaksesuaian atau penyimpangan dapat dideteksi sejak dini.

c. Sumber Daya Manusia


Tujuan sistem pengendalian terhadap sumber daya manusia adalah untuk menjelaskan cara

organisasi menetapkan dan menyediakan sumber daya yang dibutuhkan untuk pembagian

tanggung jawab dan wewenang, merencanakan/ mengendalikan mutu produk dan peralatan

serta memastikan personil yang kompeten untuk melaksanakan pekerjaan sesuai pendidikan,

pelatihan, keterampilan, dan pengalaman agar dapat memberikan kepuasan pelanggan.

Kebijakan yang dilakukan oleh perusahaan dalam pengendalian sumber daya manusia

adalah sebagai berikut:

1. Organisasi harus menetapkan kompetensi yang dibutuhkan pekerja dengan melaksanakan

pelatihan baik internal maupun eksternal terutama untuk pekerjaan yang sifatnya khusus

harus memiliki sertifikat.

2. Memastikan bahwa personil peduli akan relevansi dan arti penting tugas mereka pada

pencapaian sasaran mutu.

3. Dokumen bukti pelatihan disimpan dan dipelihara sebagai rekaman mutu.

4. Semua proses produksi termasuk peralatan direncanakan dan dipelihara.

5. Tata Kerja Individual dan keterampilan kerja dipantau untuk mengendalikan proses

produksi.

6. Kegiatan produksi dipantau melalui inspeksi dan pengujian.

7. Setiap tahapan proses produksi ditetapkan kegiatan pengendalian terhadap parameter-

parameter tertentu.

d. Teknologi/Peralatan

Mesin-mesin produksi dan fasilitas bantu lainnya umumnya memerlukan perawatan dan

perbaikan (instalasi listrik dan motor-motor dan fasilitas mesin-mesin lainnya). Perawatan

dan perbaikan ini dilakukan untuk mengurangi kemungkinan terjadinya kecelakaan kerja

dan ketidaksesuaian produk jadi.

Prosedur pengendalian terhadap teknologi/peralatan adalah sebagai berikut:


1. Pengawas Pemeliharaan menyusun jadwal pemeliharaan tahunan bagi tiap-tiap

mesin/peralatan.

2. Pengawas Pemeliharaan bertanggung jawab melaksanakan pemeliharaan rutin sesuai

jadwal dan hasil pemeliharaan dicatat dalam lembar pemeriksaan peralatan/mesin.

3. Pengawas Pemeliharaan bertanggung jawab melaksanakan pemeliharaan/perbaikan

peralatan berdasarkan permintaan dari Pengawas/Asisten/Penata tiap-tiap bagian yang

dituangkan dalam formulir Usulan Perbaikan Peralatan/Mesin, dan hasilnya dicatat dalam

catatan pemeliharaan.

e. Kebijakan Manajemen

Salah satu sarana yang digunakan oleh manajemen dalam pengendalian kualitas produk

yaitu melakukan tinjauan manajemen. Adapun kebijakan yang ditetapkan antara lain:

1. Tinjauan manajemen dilaksanakan sekurang-kurangnya dua kali dalam satu tahun.

2. Tujuan dari tinjauan manajemen adalah untuk memestikan kelanjutan kesesuaian,

kecukupan, dan keefektifan.

3. Tinjauan manajemen mencakup evaluasi penilaian kesempatan untuk peningkatan dan

kebutuhan akan perubahan sistem manajemen mutu, termasuk kebijakan dan sasaran

mutu.

4. Rekaman tinjauan manajemen disimpan dan dipelihara.

• Tanggung Jawab Manajemen Terhadap Kualitas Produk

Tujuan kebijakan mengenai tanggung jawab manajemen ini adalah untuk menguraikan

pernyataan manajemen puncak terhadap kebijakan mutu, pembagian tanggung jawab, wewenang

personil, penunjukan wakil manajemen dan pelaksanaan tinjauan manajemen ditetapkan dan

dikomunikasikan dalam organisasi.

Manajemen puncak harus memastikan bahwa tanggung jawab dan wewenangnya ditetapkan

dan dikomunikasikan dalam organisasi, yaitu meliputi:


1. Kebijakan mutu yang sesuai dengan tujuan dan organisasi.

2. Pengelolaan sumber daya termasuk sumber daya manusia sesuai kecakapan dan pekerjaannya.

3. Ditinjau untuk kesesuaian dan kelanjutan serta peningkatannya.

4. Memastikan bahwa komunikasi dalam organisasi sesuai dengan yang ditetapkan terhadap sistem

manajemen mutu dan dapat berlangsung keefektifannya.

Analisis Hasil Pengendalian Kualitas Terhadap

Kecacatan Tabung Elpiji

Membandingkan Sasaran Mutu dengan Realisasi

Sasaran Mutu tahun 2008:


1. Bagian Produksi

a. Tabung repair akibat cacat las maksimal1,00% per bulan

b. Komponen tabung repair maksimal 10,20% per bulan

c. Komponen tabung afkir maksimal 0,10% per bulan

2. Bagian Pemeliharaan Peralatan

Down time mesin produksi maksimal 0.90% dari total jam produksi per

tahun.

Tabel 4-3
Data Tabung Repair dan Penyempurnaan
Tahun 2008
No. Jenis Cacat Satuan Repair Penyempurnaan
Jumlah % Jumlah %
Las
1. Neck ring Buah 263 0,18 362 0,23
2. Hand guard Buah 330 0,23 330 0,23
3. Foot ring Buah 165 0,11 192 0,13
4. Circum Buah 415 0,29 920 0,64
5. Lain-lain Buah 0 0,00 0 0,00
Jumlah Buah 1173 0,81 1,768 1,22
Jumlah Buah 144.45 -
produksi 0
Sumber: Data Tahunan Tabung Repair, Penyempurnaan dan Komponen Tabung Afkir PTE,
tertanggal 05 Januari 2009

Keterangan:

Tabung repair akibat cacat las sasaran Mutu SMM ISO 9001:2000 PTE maksimal

= 1,00 %.

Tabung repair akibat cacat las tahun 2008 = 0,81 %.

Dengan demikian, pengendalian kualitas yang dilakukan telah berjalan efektif,

sehingga sasaran mutu perusahaan tercapai.

Tabel 4-4
Data Komponen Tabung Afkir
Tahun 2008
Afkir
No. Komponen
Jumlah %
1. Blank 0 0,00
2. Top 0 0,00
3. Top + NR 0 0,00
4. Top + NR + HG 0 0,00
5. Bottom 0 0,00
6. Bottom + FR 0 0,00
7. Tabung ½ jadi 0 0,00
Jumlah 0 0,00
Jumlah produksi 144.450
Sumber: Data Tahunan Tabung Repair, Penyempurnaan dan Komponen Tabung Afkir PTE,
tertanggal 05 Januari 2009
Keterangan:

Komponen tabung afkir sasaran Mutu SMM ISO 9001:2000 PTE maksimal =

0,10%.

Komponen tabung afkir tahun 2008 = 0,00 %.

Dengan demikian, pengendalian kualitas yang dilakukan telah berjalan efektif,

sehingga sasaran mutu perusahaan tercapai.

Tabel 4-5
Data Down Time
Tahun 2008

Break Jam
Down Down Operas
Bulan % Keterangan
(jam) Time i (jam)
Januari 18 2,03 138,5 0,015
Februari 16 1,70 131 0,013
Maret 4 0,41 125 0,003 Dari tanggal 18 Maret
produksi berhenti
April Tidak produksi (neck
ring habis)
Mei Tidak produksi (neck
ring habis)
Juni Tidak produksi (neck
ring habis)
Juli 14,25 1,76 152 0,012 Dari tanggal 16 Juli
produksi jalan
Agustus 25,33 2,83 137,5 0,021
Septemb 15,75 1,77 138 0,013
er
Oktober 18,19 2,04 138 0,015
Nopembe 28,37 3,18 138 0,023
r
Desembe 21,82 2,33 131,5 0,018
r
1.229,5 0,132
Sumber: Data Tahunan Down Time PTE, tertanggal 05 Januari 2009

Keterangan:

Down Time = Jam Operasi x Break Down

Jam Operasi 1 Tahun

% = Down Time

Jam Operasi 1 Bulan

Down Time sasaran Mutu SMM ISO 9001:2000 PTE maksimal = 0,90%.

Down Time tahun 2008 = 0,132 %.

Dengan demikian, pengendalian kualitas yang dilakukan telah berjalan efektif,

sehingga sasaran mutu perusahaan tercapai.

Mencari Penyebab Terjadinya Ketidaksesuaian

Penyebab terjadinya ketidaksesuaian produk biasanya berasal dari

kerusakan mesin, karena hingga saat ini usia mesin umumnya sudah berada di
atas 25 tahun. Penyebab terjadinya ketidaksesuaian lainnya adalah faktor

tenaga kerja, seperti kelalaian, kurangnya keterampilan, dan kurangnya

pengawasan terhadap tenaga kerja.

Mengambil Tindakan Koreksi

Setelah ditemukan indikasi dan adanya ketidaksesuaian tabung elpiji

terhadap standar kualitas, segera dilakukan evaluasi dan tindakan koreksi agar

ketidaksesuaian tersebut tidak mempengaruhi aktivitas selanjutnya dan tidak

menimbulkan dampak yang buruk bagi pengguna tabung tersebut.

Adapun prosedur tindakan koreksi adalah sebagai berikut:

a. Kepala PTE menerima informasi ketidaksesuaian, meliputi:

- Ketidaksesuaian yang terjadi pada bahan baku, bahan pembantu,

komponen tabung dan tabung jadi, proses produksi maupun sistem mutu.

b. Pengawas Quality Control mendapatkan ketidaksesuaian dari hasil inspeksi

dan pengujian:

- Penerimaan bahan baku/pembantu

- Komponen tabung dan tabung jadi dari Penata Quality Control

- Keluhan pelanggan

c. Pengawas/Penata/Asisten Produksi terkait mendapatkan ketidaksesuaian:

- Penerimaan bahan baku/pembantu dari MWH

- Komponen tabung dan tabung jadi dari hasil produksi

d. Pengawas Pemeliharaan menerima usulan perbaikan peralatan/mesin dari

Kepala PTE, Pengawas Quality Control, Pengawas Produksi, atau Pengawas

Administrasi sebagai dasar tindakan koreksi dan pencegahan terhadap

mesin/peralatan.
e. Pengawas Quality Control, Pengawas Utama Produksi dan/atau Pengawas

Pemeliharaan melakukan penyelidikan untuk mencari penyebab dan

ketidaksesuaian yang terjadi.

f. Pengawas/Penata/Asisten terkait membuat, mencatat laporan

ketidaksesuaian, dan hasil penyelidikannya dalam formulir Log Status

Laporan Ketidaksesuaian.

g. Kepala PTE, atas dasar formulir Log Status Laporan Ketidaksesuaian

menetapkan:

1. Rencana tindakan koreksi yang harus dilakukan

2. Pelaksanaan tindakan koreksi

3. Pelaksanaan verifikasi

h. Pengawas terkait menyimpan copy laporan ketidaksesuaian dan usulan

perbaikan peralatan/mesin.

i. Ketidaksesuaian yang terjadi pada penerimaan bahan baku, bahan

pembantu, proses produksi dan peralatan/mesin, berturut-turut dicatat

dalam laporan kegiatan harian Quality Control, Produksi, dan Pemeliharaan.

j. Melaksanakan tindakan koreksi sesuai prosedur.

Kaitan Pengendalian Kualitas dengan Minimalnya Produk Cacat

Efektifnya pengendalian dan pengawasan terhadap kualitas tabung elpiji

berdampak pada penurunan tingkat kegagalan/ketidaksesuaian tabung elpiji.

Hal ini terbukti dari tercapainya Sasaran Mutu pada beberapa periode, serta

adanya kesanggupan perusahaan untuk menaikkan Sasaran Mutu produknya.

Analisis Dampak Produk Cacat Terhadap Biaya Produksi


Ketidaksesuaian produk/kecacatan produk mempengaruhi biaya produksi

perusahaan. Adapun biaya produksi Pabrik Tabung Elpiji adalah sebagai berikut

Tabel 4-6

Program Realisasi
%
(tabung) (tabung)
- 215.592 -
Jumlah Produksi Tabung Elpiji PTE
Tahun 2005

Sumber: Laporan Aktivitas Pabrik Tabung Elpiji Tahun 2005


Tabel 4-7
Biaya Produksi Tabung Elpiji PTE
Tahun 2005

Realisasi Produksi Realisasi Biaya Biaya per Tabung


(tabung) (Rp) (Rp)
215.592 11.044.312.801 51.228,00
Sumber: Laporan Aktivitas Pabrik Tabung Elpiji Tahun 2005

Tabel 4-8

Program Realisasi
%
(tabung) (tabung)
330.000 253.020 76,57
Jumlah Produksi Tabung Elpiji PTE
Tahun 2006

Sumber: Laporan Aktivitas Pabrik Tabung Elpiji Tahun 2006

Tabel 4-9
Biaya Produksi Tabung Elpiji PTE
Tahun 2006

Realisasi Produksi Realisasi Biaya Biaya per Tabung


(tabung) (Rp) (Rp)
253.020 6.449.340.863 25.489,45
Sumber: Laporan Aktivitas Pabrik Tabung Elpiji Tahun 2006

Tabel 4-10
Jumlah Produksi Tabung Elpiji PTE
Tahun 2008

Program Realisasi
%
(tabung) (tabung)
320.700 149.450 46,60
Sumber: Laporan Aktivitas Pabrik Tabung Elpiji Tahun 2008

Tabel 4-11
Biaya Produksi Tabung Elpiji PTE

Tahun 2008

Realisasi Produksi Realisasi Biaya Biaya per Tabung


(tabung) (Rp) (Rp)
149.450 5.611.587.803 37.548,26
Sumber: Laporan Aktivitas Pabrik Tabung Elpiji Tahun 2008

Perbedaan jumlah biaya produksi per tahun salah satunya diakibatkan

oleh adanya kecacatan produk. Tabung-tabung yang dianggap cacat atau tidak

memenuhi spesifikasi dipisahkan agar tidak diteruskan ke pelanggan. Untuk

memproses lanjut tabung ini dibutuhkan tindakan tambahan, seperti dilas

ulang atau dilakukan penggantian bila hand guard patah, dicat ulang bila

terdapat tabung yang berkarat, atau dipress kembali bila terdapat kebocoran

pada badan tabung. Tindakan ini tentunya membutuhkan biaya tambahan,

seperti menambah pasokan hand guard, cat tabung, dan sebagainya.