Anda di halaman 1dari 10

ANALISA PERBANDINGAN KETELITIAN PENGUKURAN KERANGKA

KONTROL HORISONTAL ORDE-4 MENGGUNAKAN GPS GEODETIK


METODE RAPID STATIC DENGAN TOTAL STATION
SIAM ARIFAL EFFENDI, MUHAMMAD TAUFIK, EKO YULI HANDOKO
Program Studi Teknik Geomatika, Fakultas Teknik Sipil dan Perencanaan, Institut Teknologi Sepuluh Nopember
Kampus ITS Sukolilo, Surabaya, 60111, Indonesia
E-mail : siam@geodesy.its.ac.id

Abstrak
Jaring kontrol horizontal merupakan sekumpulan titik kontrol horizontal yang satu sama lainnya
dikaitkan dengan data ukuran jarak dan/atau sudut, dan koordinatnya ditentukan dengan metode
pengukuran/pengamatan suatu sistem referensi tertentu. Jaring kerangka kontrol horisontal memiliki tingkat
ketelitian yang berbeda-beda tergantung dari orde jaring kontrol horisontal tersebut. Pada survei pemetaan
detail situasi skala lokal digunakan jaring kontrol horisontal orde-4 sebagai kerangka pengukuran. Jaring
kontrol horisontal orde-4, bisa didapatkan melalui dua cara, yaitu melalui pengukuran poligon dan survei
GPS.
Dalam penelitian ini, metode pengamatan/pengukuran yang digunakan adalah statik diferensial
dengan lama pengamatan selama 60 menit sebagai titik yang dianggap benar dan rapid static diferensial
dengan lama pengamatan selama 15 menit serta pengukuran poligon sebagai titik yang diperbandingkan
ketelitiannya. Lokasi yang diambil sebagai tempat penelitian adalah Kampus ITS Surabaya. Data yang
digunakan merupakan data yang diambil menggunakan 2 alat yaitu GPS Geodetik Topcon Hiper Pro untuk
survei GPS dan Total Station Topcon GTS 235N untuk survei terestris poligon.
Adapun analisa dari hasil penelitian adalah perbandingan pergeseran linear titik-titik kerangka
pengukuran terhadap nilai yang dianggap benar. Berdasarkan hasil perhitungan pergeseran linear nilai
jarak diketahui bahwa rata-rata nilai pergeseran linear jarak untuk pengamatan rapid static mempunyai
nilai sebesar 0.022 m dengan nilai standar deviasi sebesar 0.021 m. Sedangkan untuk pengukuran poligon
terbuka terikat sempurna mempunyai nilai rata-rata pergeseran linear jarak sebesar 0.018 m dengan nilai
standar deviasi sebesar 0.007 m.
Kata Kunci : Jaring Kontrol Horisontal, Orde-4, Statik Diferensial, Rapid static Diferensial, Poligon

PENDAHULUAN
Latar Belakang
Surveying is the science, art and
technology of determining the relative
positions of points above, on, or beneath the
earth surface, or of establishing such points
(Wolf dan Ghilani, 2002). Dari definisi
tersebut dapat diketahui tujuan utama
surveying (pemetaan) adalah penentuan lokasi
titik yang terdapat di atas, pada, maupun di
bawah permukaan bumi
Pada proses pemetaan diperlukan
adanya kerangka dasar. Kerangka dasar
adalah sejumlah titik yang diketahui
koordinatnya dalam sistem tertentu yang
mempunyai fungsi sebagai pengikat dan
pengontrol ukuran baru. Dalam pengukuran
untuk pembuatan peta ada dua jenis kerangka
dasar yaitu kerangka dasar horizontal
(X,Y)/( ) dan kerangka dasar vertikal

(Z)/(h). Pada survei pemetaan detail situasi


skala lokal digunakan jaring kontrol
horisontal
orde-4
sebagai
kerangka
pengukuran (Widadi, 2008).
Tentunya
dalam
suatu
proses
pengukuran jaring kontrol horisontal orde-4
untuk titik yang sama namun dengan alat dan
metode yang berbeda, akan menghasilkan
tingkat ketelitian yang berbeda pula.
Perumusan Masalah
Dari latar belakang di atas, maka
permasalahan yang timbul adalah Seberapa
besar tingkat ketelitian koordinat jaring
kontrol horisontal orde-4 bila diukur dengan
alat dan metode yang berbeda.
Batasan Masalah
Batasan permasalahan dari penelitian ini
adalah:

1 Data pembanding diperoleh melalui survei


GPS menggunakan metode differensial
static.
2 Pengukuran jaring kontrol horisontal
orde-4 melalui survei GPS, dilakukan
menggunakan
GPS
Geodetic
menggunakan metode differensial rapid
static.
3 Pengukuran jaring kontrol horisontal
orde-4 melalui pengukuran terestris,
dilakukan menggunakan alat Total Station
metode poligon terbuka terikat sempurna.
4 Membandingkan ketelitian posisi linear
hasil pengukuran survei GPS dan
pengukuran Total Station.
5 Metode yang digunakan dalam survei
GPS adalah metode radial.
6

Metode yang digunakan pada pengolahan


poligon adalah metode bowditch.

Tujuan
Tujuan dari penelitian ini adalah untuk
membandingkan tingkat ketelitian koordinat
jaring kontrol horizontal orde-4 hasil
pengukuran survei GPS menggunakan metode
rapid static dan pengukuran survei terestris
menggunakan alat total station metode
poligon.
Manfaat Penelitian
Manfaat yang ingin diperoleh dari
penelitian ini adalah:
1 Mengetahui sejauh mana perbedaan hasil
pengukuran kerangka kontrol horisontal
orde-4 melalui survei GPS dan survei
terestris menggunakan alat Total Station.
2. Dapat memberikan rekomendasi kepada
surveyor dalam menentukan alternatif alat
dan metode survei pada pengukuran
kerangka kontrol horisontal orde-4.
METODOLOGI PENELITIAN
Lokasi Penelitian
Lokasi penelitian mengambil daerah
studi di Kampus Institut Teknologi Sepuluh
Nopember, Sukolilo, Surabaya, Jawa Timur.
Peralatan

Peralatan yang digunakan dalam


penelitian ini antara lain:
1. Perangkat keras (Hardware)
a. Laptop Sony Vaio VGN-B66GP
b. Printer Canon Pixma IP1000
2. Perangkat Lunak (Software)
a. Sistem
Operasi
Windows
XP
Professional
b. Sistem Operasi Windows 98
c. Microsoft Office Word 2003
d. Microsoft Office Excel 2003
e. Autodesk Land Desktop 2004
f. Microsoft Active Sync
g. PCCDU
h. Topcon Tools
i. SKI Pro 2.1
3. Dua set GPS Geodetic Topcon Hiper Pro
4. Satu set Total Station Topcon GTS 235N
Metodologi Penelitian
Tahapan yang akan dilaksanakan dalam
kegiatan penelitian ini adalah sebagai berikut
(gambar terlampir):
1. Tahap Persiapan
Tahapan ini terdiri dari identifikasi
dan perumusan masalah beserta penetapan
tujuan penelitian, studi literatur yang
berhubungan dengan kerangka kontrol
horisontal orde-4, dan orientasi lapangan
serta penentuan lokasi titik penyusun
jaring.
a. Lokasi yang digunakan sebagai
penelitian adalah Kampus ITS
Sukolilo, Surabaya.
b. Jumlah titik yang digunakan 12 buah
dengan rincian sebagai berikut:
1 buah titik berfungsi sebagai base
station pengamatan GPS.
4 buah titik berfungsi sebagai titik
ikat pada pengukuran poligon
terbuka terikat sempurna.
7 buah titik berfungsi sebagai titik
yang dibandingkan ketelitiannya.
Ketujuh titik yang dibandingkan
ketelitiannya yang disimbolkan dengan
huruf A-G tersebut mempunyai kriteria
titik sebagai berikut (gambar terlampir):
Titik A : berada di antara pepohonan
Titik B : berada di antara bangunan

Titik C : berada di samping bangunan


Titik D : berada di bawah pohon
Titik E : berada di tepi kolam/perairan
Titik F : berada di bawah jalur kabel
listrik PLN
Titik G : berada di ruang terbuka
Kriteria tersebut ditetapkan mengacu
pada kesalahan yang bisa timbul pada
survei GPS terhadap tempat-tempat
pengukuran
yang
memungkinkan
terjadinya bias dan kesalahan pada survei
GPS.
c. Konfigurasi
jaringan
berbentuk
poligon terbuka terikat sempurna pada
pengukuran poligon dan radial pada
survei GPS.
2. Tahap Uji Alat Pengukuran
Pada tahap ini dilakukan uji alat
yang dilakukan untuk mengetahui sejauh
mana alat tersebut berfungsi secara baik
dan benar sehingga hasil ukuran yang
didapatkan
bisa
diketahui
tingkat
akurasinya.
Nilai koreksi alat digunakan untuk
mengoreksi nilai hasil pengukuran apabila
terjadi kesalahan yang disebabkan karena
tidak berfungsinya alat secara optimal
pada pengukuran.
Koreksi alat tersebut meliputi
pengamatan zero baseline, short baseline
test, dan pengukuran kolimasi.
3. Tahap Pengumpulan Data
Data merupakan data yang langsung
diambil di lokasi penelitian yaitu koordinat
jaring kontrol horisontal dari titik-titik
pembentuk jaring. Pengukuran koordinat
jaring dilakukan menggunakan alat GPS
Geodetik Topcon Hiper Pro dan alat Total
Station Topcon GTS 235N.
Metode yang digunakan pada proses
pengukuran pengambilan data ini adalah
sebagai berikut:
a. Koordinat yang Dibandingkan
Melalui
pengukuran
terestris
menggunakan alat total station
metode poligon terbuka terikat
sempurna.
Melalui survei GPS metode rapid
static dengan lama pengamatan

selama 15 menit.
b. Koordinat Pembanding
Untuk koordinat pembanding, titiktitik pembentuk jaring diukur melalui
survei GPS metode statik dengan lama
pengamatan selama 1 jam..
4. Tahap Pengolahan data
Pada tahapan ini dilakukan pengolahan
dari data-data yang ada untuk selanjutnya
dilakukan analisa hasil. Tahapan pengolahan
data dijelaskan pada diagram alir di bawah ini
(gambar terlampir):
Proses dari tahapan ini adalah
pengolahan hasil ukuran survei GPS dan
survei terestris (poligon). Pada proses
pengolahan data survei GPS digunakan
Software SKI Pro 2.1, maka didapat titik
kordinat hasil pengukuran. Hasil pengamatan
statik dianggap sebagai titik fix dan hasil
pengamatan rapid static berupa titik
koordinat yang akan diperbandingkan.
Kemudian langkah selanjutnya adalah
melakukan pengolahan data survei terestris.
Untuk perhitungan pengukuran terestris ini
menggunakan prinsip model poligon terbuka
terikat
sempurna
metode
bowditch
menggunakan software Microsoft Office
Excel. Hasil pengolahan data survei terestris
juga berupa titik koordinat yang akan
diperbandingkan.
5. Tahap Analisa Data dan Kesimpulan
a. Analisa
Untuk tahap ini yang dilakukan
adalah menganalisa hasil pengolahan data
ukuran. Yang dilakukan analisa adalah
analisa tentang pergeseran linear, yaitu
membandingkan
koordinat
hasil
pengolahan data antara hasil pengukuran
survei GPS metode rapid static dan survei
pengukuran terestris metode poligon
terhadap koordinat hasil survei GPS
metode statik.
b. Kesimpulan
Dalam tahap ini merupakan hasil
yang diperoleh dari penelitian ini serta
kekurangan dan kendala yang dihadapi.
Kemudian
saran
perbaikan
dan
rekomendasi untuk penelitian sejenis
selanjutnya.

6. Tahap Pelaporan
Pada tahapan ini dapat diambil suatu
kesimpulan dari penelitian ini serta
dilakukannya dokumentasi secara tertulis
terhadap segala kegiatan yang telah
dilakukan mulai dari awal hingga dapat
memberikan
informasi
mengenai
ketelitian pengukuran jaring kontrol
horisontal orde-4 melalui pengukuran
survei GPS dan survei terestris
menggunakan alat total station.
HASIL DAN ANALISA
Hasil
1. Hasil Pengolahan Data Survei GPS
Pengolahan data survei GPS dari tiap
titik pengamatan dilakukan menggunakan
software SKI-PRO 2.1. Metode pengolahan
baseline yang dilakukan adalah metode radial.
Tabel 1 Hasil Pengamatan Metode Statik
Selama 60 Menit.
Nama
Titik
ITS01
A
B
C
D
E
F
G

Easting
(m)
697685.143
698018.337
698114.136
698228.050
698316.526
698418.127
698483.027
698485.895

Northing
(m)
9194971.103
9194696.606
9194788.451
9194845.759
9194794.062
9194828.224
9194895.879
9195061.303

E
(m)
0.001
0.001
0.001
0.002
0.001
0.001
0.000

N
(m)
0.001
0.002
0.001
0.001
0.000
0.001
0.000

EN
(m)
0.002
0.002
0.001
0.002
0.001
0.001
0.001

Tabel 2 Hasil Pengamatan Metode Rapid


static Selama 15 Menit.
Nama
Titik
ITS01
A
B
C
D
E
F
G

Easting
(m)
697685.143
698018.319
698114.093
698228.040
698316.535
698418.119
698483.026
698485.899

Northing
(m)
9194971.103
9194696.623
9194788.484
9194845.804
9194794.046
9194828.221
9194895.878
9195061.301

E
(m)
0.003
0.003
0.005
0.003
0.001
0.001
0.001

N
(m)
0.002
0.004
0.004
0.002
0.001
0.001
0.001

EN
(m)
0.003
0.005
0.006
0.004
0.001
0.001
0.001

Tabel 3 Hasil Pengamatan Untuk Titik Ikat


Selama 60 Menit
Nama
Titik
ITS01
GD-02
GD-04
GPS-03
TI1

Easting
(m)
697685.143
697757.475
697904.243
698378.883
698297.605

Northing
(m)
9194971.103
9194906.211
9194745.124
9195152.621
9195266.284

E
(m)

N
(m)

EN
(m)

0.002
0.002
0.001
0.001

0.001
0.001
0.000
0.001

0.002
0.002
0.001
0.001

2. Hasil Pengolahan Data Survei Terestris


Pengolahan data survei terestris dari tiap
titik pengukuran dilakukan menggunakan
software Microsoft Office Excel. Metode
pengolahan data titik kerangka pengukuran
adalah metode bowditch untuk poligon
terbuka terikat sempurna.
Tabel 4 Hasil Pengolahan Data Pengukuran
Poligon Terbuka Terikat Sempurna
Nama

Easting

Northing

Keterangan

Titik
GD-02

(m)

(m)

Posisi

697757.475

9194906.211

GD-04

697904.243

9194745.124

698018.333

9194696.618

698114.130

9194788.480

di antara bangunan

698228.048

9194845.769

di samping bangunan

di antara pepohonan

698316.524

9194794.076

di bawah pohon

698418.105

9194828.219

di tepi kolam/perairan

698483.006

9194895.873

di bawah jalur kabel


listrik PLN yang
kabelnya terbungkus
di ruang terbuka

698485.885

9195061.293

GPS-03

698378.883

9195152.621

TI1

698297.605

9195266.284

Toleransi pengukuran poligon terbuka


terikat sempurna orde-4:
1. Sudut
i n
i = 5 maka toleransinya adalah
5 7 = 13,229
= 9 (masih masuk toleransi)
2. Jarak
( x2 y2 )1/2 d 1/10000
(0,0062 m+0,0692 m)1/2/993,688 m 1/10000
7,065.10-5 1.10-4 (masih masuk toleransi)
atau 1:14154 1:10000

Analisa
Analisa Pergeseran Linear Horisontal
Dari hasil pengolahan data untuk
pengamatan survei GPS metode rapid static
dan pengolahan data untuk pengukuran
terestris menggunakan total station metode
poligon terbuka terikat sempurna, didapatkan
koordinat posisi tiap titik penelitian.
Berdasarkan koordinat posisi tersebut
kemudian dihitung pergeseran linear tiap titik.
Sebagai titik acuan adalah titik yang
didapatkan dari pengamatan survei GPS
metode static selama 60 menit.
1. Analisa Pergeseran Linear Nilai Absis
Analisa pergeseran nilai absis (x)
disini adalah membandingkan masingmasing nilai absis koordinat titik
penelitian terhadap nilai absis koordinat
yang dianggap benar, yaitu koordinat
absis hasil pengamatan rapid static
selama 15 menit dan koordinat absis hasil
pengukuran poligon terbuka terikat
sempurna terhadap koordinat absis hasil
pengamatan statik selama 60 menit.
Tabel 5 Pergeseran Linear Nilai Absis
Point
RS
TS
X(m)
X(m)
A
-0.018
-0.004
B
-0.043
-0.006
C
-0.010
-0.002
D
0.009
-0.002
E
-0.008
-0.022
F
-0.001
-0.021
G
0.004
-0.010
Jumlah
-0.067
-0.067
Rata-rata
-0.010
-0.010
Deviasi
0.017
0.009
Grafik Pergeseran Linier Nilai Absis
0.02

Nilai Absis

0.01
0
-0.01

Static
Rapid Static

-0.02

Total Station

-0.03
-0.04
-0.05
Titik

Gambar 1 Grafik Pergeseran Linear Nilai


Absis

Berdasarkan
hasil
perhitungan
pergeseran linear absis di atas (Tabel 5
Pergeseran Linear Nilai Absis) diketahui
bahwa rata-rata nilai pergeseran linear
absis untuk pengamatan rapid static
mempunyai nilai sebesar -0.010 m dengan
nilai standar deviasi sebesar 0.017 m.
Sedangkan untuk pengukuran poligon
terbuka terikat sempurna mempunyai nilai
rata-rata pergeseran absis sebesar -0.010
m dengan nilai standar deviasi sebesar
0.009 m.
Jadi
dari
hasil
perhitungan
pergeseran linear absis ini dapat ditarik
kesimpulan bahwa pengukuran kerangka
kontrol horisontal orde-4 untuk daerahdaerah penelitian di atas lebih baik
menggunakan
pengukuran
terestris
metode poligon.
2. Analisa Pergeseran Linear Nilai
Ordinat
Analisa pergeseran nilai ordinat (y)
disini adalah membandingkan masingmasing nilai ordinat koordinat titik
penelitian terhadap nilai ordinat koordinat
yang dianggap benar, yaitu koordinat
ordinat hasil pengamatan rapid static
selama 15 menit dan koordinat ordinat
hasil pengukuran poligon terbuka terikat
sempurna terhadap koordinat ordinat hasil
pengamatan statik selama 60 menit.
Tabel 6 Pergeseran Linear Nilai Ordinat
Point
RS
TS
Y(m)
Y(m)
A
0.017
0.012
B
0.033
0.029
C
0.045
0.010
D
-0.016
0.014
E
-0.003
-0.005
F
-0.001
-0.006
G
-0.002
-0.009
Jumlah
0.074
0.045
Rata-rata
0.011
0.006
Deviasi
0.022
0.014

Grafik Pergeseran Linier Nilai Ordinat

E
F
G
Jumlah
Rata-rata
Deviasi

0.05

Nilai Ordinat

0.04
0.03
Static

0.02

Rapid Static

0.01

Total Station

0
-0.01

-0.02

0.009
0.001
0.005
0.157
0.022
0.021

0.023
0.022
0.014
0.125
0.018
0.007

Titik

Tabel 7 Pergeseran Linear Nilai Jarak


Point
RS
TS
Linear(m)
Linear(m)
A
0.025
0.013
B
0.054
0.029
C
0.046
0.011
D
0.018
0.014

Grafik Pergeseran Linier Nilai Jarak


0.06

Nilai Pergeseran Linier

Gambar 2 Grafik Pergeseran Linear Nilai


Ordinat
Berdasarkan
hasil
perhitungan
pergeseran linear ordinat di atas (Tabel 6
Pergeseran
Linear
Nilai
Ordinat)
diketahui bahwa rata-rata nilai pergeseran
linear ordinat untuk pengamatan rapid
static mempunyai nilai sebesar 0.011 m
dengan nilai standar deviasi sebesar 0.022
m. Sedangkan untuk pengukuran poligon
terbuka terikat sempurna mempunyai nilai
rata-rata pergeseran ordinat sebesar 0.006
m dengan nilai standar deviasi sebesar
0.014 m.
Jadi
dari
hasil
perhitungan
pergeseran linear ordinat ini dapat ditarik
kesimpulan bahwa pengukuran kerangka
kontrol horisontal orde-4 untuk daerahdaerah penelitian di atas lebih baik
menggunakan
pengukuran
terestris
metode poligon.
3. Analisa Pergeseran Linear Nilai Jarak
Analisa pergeseran nilai linear jarak
disini adalah membandingkan masingmasing nilai linear jarak yang dihasilkan
dari perhitungan koordinat titik penelitian
terhadap koordinat yang dianggap benar,
yaitu koordinat hasil pengamatan rapid
static selama 15 menit dan koordinat hasil
pengukuran poligon terbuka terikat
sempurna terhadap koordinat hasil
pengamatan statik selama 60 menit.

0.05
0.04

Static

0.03

Rapid Static

0.02

Total Station

0.01
0
A

Titik

Gambar 3 Grafik Pergeseran Linear Nilai


Jarak
Tabel 8 Nilai PDOP dan Cycle Slips
Titik

A
B
C
D
E
F
G

PDOP
Terkecil
2.1
3.2
2.5
1.6
2.0
2.2
1.9

Rapid static
PDOP
Terbesar
2.3
9.8
6.5
1.9
2.0
2.3
2.4

Cycle
Slips
7
23
1
11
0
0
0

Berdasarkan
hasil
perhitungan
pergeseran linear nilai jarak di atas (Tabel
7 Analisa Pergeseran Titik) diketahui
bahwa rata-rata nilai pergeseran linear
jarak untuk pengamatan rapid static
mempunyai nilai sebesar 0.022 m dengan
nilai standar deviasi sebesar 0.021 m.
Sedangkan untuk pengukuran poligon
terbuka terikat sempurna mempunyai nilai
rata-rata pergeseran linear jarak sebesar
0.018 m dengan nilai standar deviasi
sebesar 0.007 m.
Jadi dari penelitian ini dapat ditarik
kesimpulan bahwa pengukuran kerangka
kontrol horisontal orde-4 untuk daerahdaerah penelitian di atas lebih baik
menggunakan
pengukuran
terestris
metode poligon.

Berdasarkan standar pergeseran linear


untuk titik kontrol horisontal orde-4 BPN
disebutkan bahwa pergeseran komponen
horizontal tidak boleh lebih dari 0.03 meter.
Maka, data di atas sudah memenuhi
klasifikasi
sebagai
kerangka
kontrol
horisontal orde-4 karena nilai pergeseran
tidak lebih dari 0.03 meter terhadap nilai yang
dianggap benar.
Berdasarkan nilai rata-rata dan standar
deviasi untuk pergeseran nilai linear absis,
nilai linear ordinat, dan nilai linear jarak di
atas, maka dapat ditarik kesimpulan bahwa
pengukuran kerangka kontrol horisontal orde4 untuk daerah-daerah yang reflektif dan
obstruksinya kurang baik (sesuai dengan
kriteria posisi titik kerangka pengukuran di
atas), lebih baik menggunakan pengukuran
terestris metode poligon menggunakan total
station.
KESIMPULAN DAN SARAN
Kesimpulan
Dari penelitian tentang analisa ketelitian
pengukuran kerangka kontrol horisontal orde4 yang telah dilakukan, dapat ditarik
kesimpulan sebagai berikut:
1. Berdasarkan hasil perhitungan pergeseran
linear absis diketahui bahwa rata-rata nilai
pergeseran linear absis untuk pengamatan
rapid static mempunyai nilai sebesar 0.010 m dengan nilai standar deviasi
sebesar 0.017 m. Sedangkan untuk
pengukuran poligon terbuka terikat
sempurna mempunyai nilai rata-rata
pergeseran absis sebesar -0.010 m dengan
nilai standar deviasi sebesar 0.009 m.
2. Berdasarkan hasil perhitungan pergeseran
linear ordinat diketahui bahwa rata-rata
nilai pergeseran linear ordinat untuk
pengamatan rapid static mempunyai nilai
sebesar 0.011 m dengan nilai standar
deviasi sebesar 0.022 m. Sedangkan untuk
pengukuran poligon terbuka terikat
sempurna mempunyai nilai rata-rata
pergeseran ordinat sebesar 0.006 m
dengan nilai standar deviasi sebesar 0.014
m.

3. Berdasarkan hasil perhitungan pergeseran


linear nilai jarak diketahui bahwa rata-rata
nilai pergeseran linear jarak untuk
pengamatan rapid static mempunyai nilai
sebesar 0.022 m dengan nilai standar
deviasi sebesar 0.021 m. Sedangkan untuk
pengukuran poligon terbuka terikat
sempurna mempunyai nilai rata-rata
pergeseran linear jarak sebesar 0.018 m
dengan nilai standar deviasi sebesar 0.007
m.
4. Berdasarkan standard pergeseran linear
untuk titik kontrol horisontal orde-4 BPN
disebutkan bahwa pergeseran komponen
horizontal tidak boleh lebih dari 0.03
meter. Maka, data penelitian sudah
memenuhi klasifikasi sebagai kerangka
kontrol horisontal orde-4 karena nilai
pergeseran tidak lebih dari 0.03 meter
terhadap nilai yang dianggap benar.
5. Berdasarkan nilai rata-rata dan standar
deviasi untuk pergeseran nilai linear absis,
nilai linear ordinat, dan nilai linear jarak,
maka dapat ditarik kesimpulan bahwa
pengukuran kerangka kontrol horisontal
orde-4 untuk daerah-daerah yang reflektif
dan obstruksinya kurang baik, lebih baik
menggunakan
pengukuran
terestris
metode poligon menggunakan total
station.
Saran
Dari penelitian yang telah dilakukan
dapat diambil saran sebagai berikut:
1. Perlu adanya uji ketelitian alat sebelum
proses pengambilan data di lapangan agar
data yang dihasilkan benar-benar valid
dan bila ada kesalahan dapat dilakukan
koreksi melalui nilai koreksi yang
didapatkan dari uji ketelitian alat.
2. Perlu lebih banyak variasi posisi titik
penelitian agar hasil pengolahan data yang
didapatkan bisa menjelaskan metode yang
lebih efektif yang digunakan untuk
pengukuran kerangka kontrol horisontal
orde-4 tersebut.

DAFTAR PUSTAKA
Abidin, H. Z. 2000. Penentuan Posisi dengan
GPS dan Aplikasinya. Jakarta: PT
Pradnya Paramita.
Abidin, H. Z. 2001. Geodesi Satelit. Jakarta:
PT Pradnya Paramita.
Abidin, H. Z., Jones, A., Kahar, J. 2002.
Survey Dengan GPS. Jakarta: PT
Pradnya Paramita.
Brinker, Russell C., dan Paul R. Wolf. 1986.
Dasar Dasar Pengukuran Tanah Jilid 1.
Jakarta: Erlangga.
BPN (Badan Pertanahan Nasional). 1997.
Peraturan
Menteri
Negara
Agraria/Kepala Badan Pertanahan
Nasional No. 3 Tahun 1997 tentang
Ketentuan Pelaksanaan Peraturan
Pemerintah No. 24 Tahun 1997 tentang
Pendaftaran Tanah. Jakarta: Badan
Pertanahan Nasional.
BPN (Badan Pertanahan Nasional). 2002.
Peraturan
Menteri
Negara
Agraria/Kepala Badan Pertanahan
Nasional No. 3 Tahun 1997 tentang
Materi Pengukuran dan Pemetaan
Pendaftaran Tanah. Jakarta: Badan
Pertanahan Nasional.
BSN (Badan Standardisasi Nasional). 2002.
Standar Nasional Indonesia Jaring
Kontrol Horisontal. Jakarta: Badan
Standardisasi Nasional.
Djawahir. 1992. Penentuan Posisi dengan
GPS. Yogyakarta: Jurusan Teknik
Geodesi Fakultas Teknik UGM.
ICSM (Inter-Governmental Committee on
Surveying and Mapping). 1996.
Standards and Practices for Control
Surveys (SP1). ICSM Publication No.
1, 22 Nopember.
Kavanagh, Barry F. 2003. Surveying
Principles and Applications Sixth
Edition.
New
Jersey:
Pearson
Education Inc.
Leick, Alfred. 1995. GPS Satellite Surveying
Second Edition. New York: John
Wiley & Sons, Inc.
Mikhail, E. M., dan Gordon Gracie. 1981.
Analysis and Adjustment of Survey

Measurement. New York: Van Nostrand


Reinhold Company, Inc.
Muhamadi, Mansur dan Ira Mutiara. 2002.
Hitung Perataan I. Surabaya: Teknik
Geodesi Institut Teknologi Sepuluh
Nopember.
Nurjati, Chatarina. 2004. Modul Ajar Ilmu
Ukur Tanah I. Surabaya: Teknik
Geodesi Institut Teknologi Sepuluh
Nopember.
Purworahardjo,
Umaryono
U,
1985.
Menghilangkan Kesalahan Sistematik
Pada Pendapatan Ukuran Serta
Penerapan Dalil-Dalil Kesalahan san
Perataan Kuadrat Terkecil. Bandung:
Jurusan Teknik Geodesi Institut
Teknologi Bandung.
Purworahardjo,
Umaryono
U,
1986.
Pengukuran
Horizontal. Bandung:
Jurusan Teknik Geodesi Institut
Teknologi Bandung.
Purworahardjo, Umaryono U, 1994. Ilmu
Hitung Perataan Teori Kesalahan
Untuk Pekerjaan Surveying dan
Geodesi. Bandung: Jurusan Teknik
Geodesi Institut Teknologi Bandung.
Seeber, G. 1993. Satellite Geodesy,
Foundattions,
Methods,
and
Applications. Berlin: Walter de
Gruyter.
Widadi. 2008. Maps Kerangka Dasar
Pemetaan,
<URL:
http://widadiaksoprabu.blogspot.com/20
08/07/kerangka-dasar-pemetaan.html>.
Dikunjungi pada tanggal 15 Desember
2008, jam 22.15.
Wisantono, D. 1994. Total Station. Bandung:
Lab. Pemetaan Darat Jurusan Teknik
Geodesi Institut Teknologi Bandung.
Wolf, Paul R., dan Charles D. Ghilani. 2002.
Elementary Surveying: An Introduction
to Geomatics. New Jersey: Prentice
Hall.
Wongsotjitro, Soetomo. 1980. Ilmu Ukur
Tanah. Yogyakarta: Kanisius.

LAMPIRAN
Metodologi Penelitian
Identifikasi dan
Perumusan Masalah
beserta Tujuannya

Survei GPS

Studi Literatur

Survei Terestris

Data
Pengukuran
Data
Pengukuran

Orientasi Lapangan dan


Penentuan Lokasi Titik
Penyusun Jaring

Statik

Rapid Static

Data TPS
(*.tps;*.jps)

Data TPS
(*.tps;*.jps)

Konversi ke Format Rinex


(*.??0;*.??G;*.??N)

Konversi ke Format Rinex


(*.??0;*.??G;*.??N)

Data Rinex

Data Rinex

Impor Data

Impor Data

SPP
(Single Point Positioning)

SPP
(Single Point Positioning)

Tahap Persiapan
Persiapan Alat
Uji Alat

GPS

Total Station

Zero Baseline

Kolimasi

Short Baseline Test


Analisa Kesalahan
Alat

Tahap Uji Alat


Pengukuran

Penentuan Parameter
Pengolahan Baseline

Pengambilan Data
Lapangan

Parameter Baselines:
- Ambiguitas Fase
- Deteksi Cycle Slips
- Pemilihan Satelit

Pengolahan Baseline
Reference-Rover

GPS Geodetik

GPS Geodetik

Total Station

Metode Static

Metode Rapid Static

Metode Poligon

Post Processing

Post Processing

Post Processing

Titik Fix Sebagai


Referensi

Koordinat Titik

Koordinat Titik

Tahap
Pengumpulan
Data

Tahap
Pengolahan
Data

Analisa
Kesimpulan

Pelaporan

Tidak

Ambiguity Fixed Tidak


(Bilangan Integer)
atau Tidak

Ambiguity Fixed
(Bilangan Integer)
atau Tidak

Ya

Ya

Transformasi
Koordinat

Transformasi
Koordinat

Koordinat Titik
Sebagai Referensi

Koordinat Titik

Analisa

Tahap
Pelaporan

Kesimpulan

Diagram Alir Pengolahan Data

Lokasi Penelitian

Titik A

Titik B

Titik C

Titik D

Titik E

Titik F

Titik G

Data TopSurv
Coordinates (*.txt)

Sudut dan Jarak

Bowditch

Pengolahan Baseline
Reference-Rover

Tahap Analisa Data


dan Kesimpulan

Diagram Alir Penelitian

Penentuan Parameter
Pengolahan Baseline

Poligon

Tidak
1
6000

Ya

Koordinat Titik

Tabel Analisa Pergeseran Titik


Point
A
B
C
D
E
F
G

GPS

Rapid static

Poligon

698018.337
698114.136
698228.050
698316.526
698418.127
698483.027
698485.895

9194696.606
9194788.451
9194845.759
9194794.062
9194828.224
9194895.879
9195061.303

698018.319
698114.093
698228.040
698316.535
698418.119
698483.026
698485.899

9194696.623
9194788.484
9194845.804
9194794.046
9194828.221
9194895.878
9195061.301

X
698018.333
698114.130
698228.048
698316.524
698418.105
698483.006
698485.885

Y
9194696.618
9194788.480
9194845.769
9194794.076
9194828.219
9194895.873
9195061.293
Jumlah
Rata-rata
Deviasi

Rapid static
dX
dY
Linear
-0.018
-0.043
-0.010
0.009
-0.008
-0.001
0.004
-0.067
-0.010
0.017

0.017
0.033
0.045
-0.016
-0.003
-0.001
-0.002
0.074
0.011
0.022

0.025
0.054
0.046
0.018
0.009
0.001
0.005
0.157
0.022
0.021

dX
-0.004
-0.006
-0.002
-0.002
-0.022
-0.021
-0.010
-0.067
-0.010
0.009

Kualitas Data Pengukuran Poligon Menggunakan Metode Least Square


Ellips Error

Jarak Yang Diratakan

Sudut Yang Diratakan

Poligon
dY
Linear
0.012
0.029
0.010
0.014
-0.005
-0.006
-0.009
0.045
0.006
0.014

0.013
0.029
0.011
0.014
0.023
0.022
0.014
0.125
0.018
0.007