Anda di halaman 1dari 6

Obat

Rute

Dosis

Indikasi Obat
Pada Pasien

Pemantauan Komentar dan Alasan


Kefarmasian

Nabikarbonat

iv

100 ml/ 6 Koreksi asidosis BGA, K+


jm
metabolik dan
hiperkalemi

Pemberian Na-bikarbonat pada kasus


hiperkalemi dan asidosis berat dengan pH
7,2 sudah tepat.

Caglukonas

iv

10 ml

Koreksi asidosis BGA, K+


metabolik dan
hiperkalemi

Pemberian Ca-glukonas untuk mengatasi


asidosis metabolik dan hiperkalemi sudah
tepat.

D40:insulin iv
2U

25 cc

Koreksi asidosis BGA, K+


metabolik dan
hiperkalemi

Pemberian D40:insulin 2 U dalam


mengatasi asidosis dan hiperkalemi sudah
tepat, melalui mekanisme peningkatan
masukan K+ intra sel dalam metabolisme
glukosa menjadi ATP sehingga kadar
K+dalam plasma menjadi berkurang (Rose,
1989).

CaCO3

po

3 x 500mg Mencegah
Fosfat
hiperfosfat,
melalui
pengikatan
dengan fosfat
dalam intake
makanan,
sehingga absorbsi
fosfat berkurang.

Pemberian CaCO3 untuk mengatasi


hiperfosfat sudah tepat.

Transfusi
PRC

iv

1 bag

Sebenarnya manajemen terapi anemia


pada CKD adalah dengan penyuntikan
erythropoietin (epoetin alfa 21,6 mg iv tiap
minggu) (Chisholm-burns dan Wells,
2008), akan tetapi tetapi terapi tersebut
tidak dapat terlaksana karena harga yang
mahal dan tidak tercover oleh jamkesmas.
Sehingga tranfusi PRC menjadi pilihan
yang tepat untuk mengatasi anemia berat
pasien.

Mengatasi anemia Hb, RBC,


hematokrit

Asam folat

po

1 x 1 mg

Mengatasi
MCV
anemia, terkait
defisiensi asam
folat yang penting
dalam sintesis
DNA sel-sel
eritroblast, yang
ditandai dengan
anemia
makrositik (nilai
MCV)

Pemberian asam folat sebagai terapi


anemia kurang tepat, dikarenakan anemia
pasien tidak disebabkan oleh defisiensi
asam folat yang ditunjukkan dengan nilai
MCV yang normal (Tgl 15/3=87;
tgl17/3=85,7; normal=80-90).

Amlodipin

po

5mg-0-0

Mengontrol
tekanan darah

Pemberian amlodipin sebagai antihipertensi


pada pasien CKD perlu dievaluasi
efektivitasnya. Bila outcomekurang
memuaskan dapat dipertimbangkan
mengganti dengan ARB seperti Losartan
(tidak membutuhkan adjustment dose) yang
dapat menghambat progresivitas CKD
(Chisholm-burns dan Wells, 2008).
Alternatif ACEi kurang direkomendasikan
pada kasus asidosis metabolik karena efek
samping batuk kering yang dapat
memperburuk kondisi pernapasan.

Furosemid

iv

4 x 20 mg Mengontrol
TD, udem,
tekanan darah,
K+.
mengatasi udem,
meningkatkan
ekskresi K+.

Pemberian furosemid pada tgl 18/3 sudah


tepat dalam mengurangi udem,
meningkatkan sekresi kalium (K+ tgl 17/3
5,59; tgl 18/3 3,86), dan mengontrol
tekanan darah (tgl 18/3 TD 150/100, tgl
19/3 TD 120/80).

Albumin
20%

iv

100 cc

Mengatasi
hipoalbumin

Pemberian albumin 20% sudah tepat dalam


mengatasi hipoalbumin pasien. Akan tetapi
frekuensi pemberian albumin untuk pasien
Jamkesmas terkendala oleh batas
maksimum pemakaian albumin 2x100cc
per minggu.

Ceftriaxon

iv

2x1g

Sebagai antibiotik Tanda-tanda Pemberian Ceftriaxon sebagai antibiotik


empiris,
infeksi =
empiris sudah tepat. Ceftriaxon termasuk

TD

albumin

Diazepam

iv

5 mg

mengatasi infeksi WBC, suhu


pada pasien.
tubuh, RR,
nadi, pCO2

golongan sefalosporin generasi 3 yang


bersifat broad-spectrum akan tetapi lebih
efektif terhadap bakteri gram negatif
(Brooks dan Butel, 1996). Pada pasien
CKD, terjadi kerusakan nefron yang
kemungkinan infeksi disebabkan oleh
bakteri gram negatif (patogen tersering
adalah e.coli pada saluran kemih).
Disamping itu ceftriaxon aman bagi pasien
CKD dan tidak membutuhkan adjustment
dose (Dipiro dan Talbert, 2005).

Mengatasi kejang Kejang


yang timbul post
hemodialisis.

Pemberian diazepam sudah tepat untuk


mengatasi kejang. Dosis diazepam perlu
dimulai dengan dosis terkecil untuk pasien
CKD (Martin dan Jordan, 2008)

CATATAN: Gunakan nama INN (dan atau diikuti nama dagang) !


ASUHAN KEFARMASIAN
Termasuk:
1. Masalah aktual & potensial terkait obat 3. Pemantauan efek obat
samping obat
2. Masalah obat jangka panjang
8.Interaksi obat

5. Pemilihan obat

4. Kepatuhan penderita

7. Efek

6. Penghentian obat

Obat

Problem

Tindakan (Usulan pada klinisi, perawat, pasien)

Na-bikarbonat

Perhitungan Nabikarbonat dengan


memperhitungkan base
excess (BE) dalam
koreksi asidosis
metabolik (Anonim,
2007)

Sesuai perhitungan base excess, dosis Na-bikarbonat yang


dibutuhkan untuk mengkoreksi asidosis adalah 93 ml.

NaHCO3 = BE x 30% x
BB x 50%

= 12,88 x 30% x 48 x
50% = 93 ml
-

Pasien mengeluh mual


saat MRS

Monitoring tingkat mual. Bila sangat diperlukan (pasien


dengan CrCl < 10ml/mnt) dapat diberikan metoklopramid 50%
x 10 mg= 5 mg 3dd1 (Munar dan Singh, 2007)

Amlodipin

Terapi antihipertensi
untuk pasien CKD adalah
ACEi atau ARB yang
dapat menghambat
progresivitas CKD
(Chisholm-burns dan
Wells, 2008)

Evaluasi efektivitas amlodipin pada terapi hipertensi pasien


CKD. Dapat dipertimbangkan untuk mengganti dengan ARB
Losartan 50 mg 1dd1. Penggunaan ACEi seperti captopril tidak
direkomendasikan pada pasien dengan asidosis metabolik,
karena efek samping batuk kering melalui stimulasi bradikinin
yang dapat memperburuk kondisi pernapasan pasien.

CaCO3 dan
Amlodipin

CaCO3 dapat
menurunkan efektivitas
Ca-channel blocker
(Amlodipin) (Lacy dan
Amstrong, 2003).

Diberi tenggang waktu minum obat. Saat pagi, amlodipin


diminum jam 6 dan CaCO3 diminum jam 7 bersama makanan.

Kadar asam urat pasien Dapat diberikan Allopurinol (untuk pasien dengan ClCr <10 =
tinggi (tgl 17/3 14,2;
25% x 300mg = 75mg) (Munar dan Singh, 2007)
rentang normal 4,0-8,5)
dapat meningkatkan
progresivitas CKD pasien
bila terjadi kristalisasi di
saluran kemih.

Furosemid

Efek samping furosemid


diantaranya hipokalemi,
hipokalsemi, dan
hiponatremi (Martin dan
Jordan, 2008).

Asam folat

Nilai MCV pasien tidak Asam folat tidak perlu diberikan. Untuk meyakinkan bahwa
diatas normal (jenis
pasien tidak mengalami anemia karena defisiensi besi (nilai
normositik) yang
MCV pasien tidak rendah), dapat dilakukan pemeriksaan TSat
menandakan tidak terjadi (Transferrin saturation) dan serum ferritin. Suplemen Fe dapat
anemia karena defisiensi diberikan bila Tsat <20% dan serum ferritin <100 ng/ml (Dipiro
asam folat (Pagana, 2002) dan Talbert, 2005).

Monitoring ESO berupa data laboratorium elektrolit. Pada tgl


18/3 tampak adanya ESO tersebut (K+ 3,86; Na+ 133,9;
Ca2+ 5,3). Efek samping hipokalemi menguntungkan bagi
kondisi pasien yang hiperkalemi, akan tetapi hipokalsemi dan
hiponatremi dapat memperburuk keseimbangan elektrolit
pasien CKD, sehingga untuk selanjutnya terapi furosemid tidak
diberikan secara rutin.

MONITORING

Parameter

Tujuan Monitoring

Vital sign (TD, RR, nadi, suhu) dan


gejala klinis

Memantau kondisi pasien

TD dan udem

Memantau efektivitas anti-hipertensi dan diuretik furosemid

Suhu, RR, Nadi, WBC, pCO2

Memantau tanda-tanda infeksi yang mungkin timbul

Kultur urin dan atau darah

Mengetahui mikroba penyebab infeksi dan penentuan


antibiotik definitif yang tepat

BGA (pH, pCO2, pO2,HCO3), RR,


dan gejala klinis sesak

Memantau kondisi asidosis metabolik pasien dan efektivitas


terapi koreksi asidosis.

SCr, BUN, urinalisis

Memantau progresivitas CKD pasien

Hb, RBC, Hct, MCV

Memantau kondisi anemia pasien dan efektivitas terapi


anemia

Albumin, gejala ascites

Memantau kondisi hipoalbumin pasien dan penentuan


frekuensi pemberian albumin

Uric acid

Memantau kadar asam urat yang dapat memperparah kondisi


CKD pasien bila terjadi kristalisasi di saluran kemih

KONSELING

Materi Konseling
Obat
Untuk Pasien

Untuk Perawat

Tablet CaCO3

Tablet CaCO3 dikunyah


setelah suapan pertama
makan (bersama dengan
makan), terkait fungsinya
sebagai pengikat phospat
dalam intake makanan.

Amlodipin dan
CaCO3

Pengaturan jadwal minum obat amlodipin dan CaCO3:


Amlodipin diminum pada jam 07.00 dan CaCO3 diminum
pada jam 08.00 bersama makanan

Ceftriaxon inj

Cara rekonstitusi: 1g serbuk injeksi dengan 9,5 ml


SWFI/D5/NS dilarutkan dalam 50-100ml D5/NS, secara
infus intermiten selama 30 menit.
Stabilitas: serbuk injeksi stabil pada suhu ruang (25o C)
terlindung cahaya. Setelah direkonstitusi stabil selama 2 hari
pada suhu ruang dan 10 hari pada suhu 5o C.
(Lacy dan Armstrong, 2003)

Furosemid inj

Cara pemberian: secara continuous dalam NS atau RL


dengan kecepatan pemberian tidak lebih dari 4 mg/menit.
Jangan diberikan bersama dengan larutan yang mengandung
glukosa.
(Martin dan Jordan, 2008)

Ca-glukonas

Cara pemberian: secara continuous dalam D5 atau NS.


Hindari pemberian bersama dengan larutan yang
mengandung bikarbonat, fosfat, atau laktat.
(Martin dan Jordan, 2008)

Diazepam inj

Cara pemberian: secara continuous dalam D5 atau NS. Dapat


diencerkan dengan konsentrasi tidak lebih dari 10 mg dalam
200 ml.
(Martin dan Jordan, 2008)