Anda di halaman 1dari 4

1

BAB I
PENDAHULUAN
1.1

Latar Belakang
Padang lamun merupakan ekosistem pesisir yang
ditumbuhi oleh lamun sebagai vegetasi yang dominan
(Wimbaningrum, 2003). Padang lamun dapat berbentuk vegetasi
tunggal yang disusun oleh satu jenis lamun saja atau vegetasi
campuran yang disusun mulai dari 2 sampai 12 jenis lamun yang
tumbuh bersama pada suatu substrat (Kirkman, 1985 dalam
Kiswara dan Winardi, 1997). Pengertian lamun sendiri menurut
Den Hartog (1970) dalam Kiswara (1997) yaitu tumbuhan
berbunga (Angiospermae) yang tumbuh dan berkembang baik
pada dasar perairan laut dangkal, mulai daerah pasang surut (zona
intertidal) sampai dengan daerah sublitoral. Peranan padang
lamun secara fisik di perairan laut dangkal adalah membantu
mengurangi tenaga gelombang dan arus, menyaring sedimen yang
terlarut dalam air, dan menstabilkan dasar perairan (Fonseca et
al., 1982 dalam Kiswara dan Winardi, 1997). Selain itu, padang
lamun diketahui mendukung berbagai jaring rantai makanan, baik
yang didasari oleh rantai herbivora maupun detrivor (McRoy dan
Helferich, 1997 dalam Kiswara dan Winardi, 1997).
Helaian daun dan cabang-cabang rimpang tegak lamun
menyediakan habitat dan tempat perlindungan bagi fauna
penempel (epifit) karena daun lamun mengandung sejumlah besar
detritus, bakteri, alga, fungi, dan protozoa yang merupakan
makanan fauna penempel tersebut (Kiswara, 1997; Bogut, 2009).
Salah satu fauna epifit yang mampu beradaptasi dengan baik dan
menjadikan daun lamun sebagai salah satu mikrohabitatnya yaitu
meiofauna epifit (Kiswara, 1997). Meiofauna epifit merupakan
meiofauna yang ditemukan hidup menempel pada permukaan atas
maupun bawah daun (Azkab, 2000; Raes dan Vanreusel, 2005).
Meiofauna menurut Giere (1993) dan Funch dan Kristensen
(2002) adalah kelompok hewan berukuran antara 631000 m
dan merupakan organisme yang melimpah pada komunitas dasar
1

2
yang bersubstrat lunak atau pada sedimen pada zona litoral atas
sampai zona abisal. Meiofauna memiliki peran ekologis yang
berperan dalam keberadaan biota laut lain. Peranan penting dari
meiofauna antara lain: (1) sumber makanan bagi meiofauna
lainnya; (2) berperan aktif dalam penguraian bahan organik,
terutama dalam proses biodegradasi sisa-sisa tumbuhan yang
berlanjut ke proses mineralisasi oleh mikroorganisme (Metcalfe,
2005); (3) sebagai makanan bagi tingkat trofik yang lebih tinggi
(Raes dan Vanreusel, 2005).
Padang lamun di Pantai Bama, Taman Nasional Baluran
merupakan salah satu padang lamun yang bervegetasi campuran,
disusun sedikitnya oleh tujuh spesies yaitu Enhalus acoroides,
Thalassia hemprichii, Cymodocoea routndata, Halodule
uninervis, Halophila ovalis, Halophila ovata, dan Syringodium
isoetifolium (Wimbaningrum, 2003).
Pada umumnya, meiofauna yang habitatnya berasosiasi
dengan lamun memiliki kelimpahan lebih banyak dibanding di
daerah yang tidak bervegetasi (Connolly, 1995; Armenteros et al.,
2008; Bogut, 2009). Selain itu, faktor lingkungan lamun seperti
suhu, salinitas, arus, kedalaman, dan tipe sedimen akan
mempengaruhi pula keanekaragaman meiofauna di lamun (De
Troch et al., 2001). Berdasarkan hal itu, maka dilakukan
penelitian kelimpahan dan komposisi meiofauna epifit di
ekosistem padang lamun Pantai Bama, Taman Nasional Baluran,
dengan jenis lamun yang dipilih adalah Enhalus acoroides,
Cymodocea rotundata, dan Thalassia hemprichi sebagai jenis
yang dominan berdasarkan luas area (Wimbaningrum, 2003).
1.2

Permasalahan
Berdasarkan latar belakang di atas, permasalahan yang
ingin dikaji pada penelitian ini yaitu bagaimana kelimpahan dan
komposisi meiofauna epifit pada lamun Enhalus acoroides,
Cymodocea rotundata, dan Thalassia hemprichi di Pantai Bama,
Taman Nasional Baluran dengan padang lamun yang ada
bervegetasi campuran. Serta mengkaji keterkaitan antara

3
parameter fisikokimia dan hidro-oseanografi terhadap kelimpahan
dan komposisi meiofauna yang ditemukan di ketiga jenis lamun
Enhalus acoroides, Cymodocea rotundata, dan Thalassia
hemprichi.
1.3

Batasan Masalah
Meiofauna di padang lamun dikelompokkan menjadi
meiofauna mesopsammon, meiofauna escaper, meiofauna yang
hidup dalam serasah, meiofauna epifitik, meiofauna bermigrasi
horizontal, dan meiofauna yang kembali ke sedimen (Susetiono,
1999). Dalam penelitian ini yang diambil dan diteliti adalah
meiofauna epifit di daun lamun Enhalus acoroides, Thalassia
hemprichii, dan Cymodocea rotundata yang memiliki beberapa
ciri morfologi daun sama yaitu dari bentuk helaian, serta
merupakan vegetasi yang dominan berdasar luas area. Parameter
fisikokimia dan hidro-oseanogafi yang diukur yaitu suhu,
salinitas, pH, DO, dan tipe sedimen.
1.4

Tujuan Penelitian
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kelimpahan
dan komposisi meiofauna epifit pada lamun Enhalus acoroides,
Cymodocea rotundata, dan Thalassia hemprichi di Pantai Bama,
Taman Nasional Baluran. Serta mengkaji keterkaitan antara
parameter fisikokimia dan hidro-oseanografi terhadap kelimpahan
dan komposisi meiofauna yang ditemukan di ketiga jenis lamun
Enhalus acoroides, Cymodocea rotundata, dan Thalassia
hemprichi.
1.5

Manfaat Penelitian
Hasil penelitian ini dapat digunakan sebagai informasi
dasar untuk keanekaragaman hayati meiofauna epifit di padang
lamun pantai Bama, Taman Nasional Baluran, serta mendorong
penelitian selanjutnya untuk lebih mengeksplorasi peran penting
meiofauna di dalam dinamika trofik di lingkungan ekosistem
padang lamun tropika.

4
halaman ini sengaja dikosongkan