Anda di halaman 1dari 4

Kerokan / Scraping

Hingga dewasa ini siapa yang tak mengenal istilah kerokan? Orang Indonesia terutama yang
berada di pulau jawa, pastilah mengenal istilah ini. Ya kegiatan yang memerlukan uang koin atau pun
sejenis batu yang tumpul ini sangatlah populer bagi mereka yang sedang merasakan kurang enak badan
(seringnya dengan istilah masuk angin.red). apakah benar secara medis kerokan itu berguna?

Tak lengkap rasanya jika kita ingin mengetahui sesuatu tidak dimulai dari akarnya, ya
sejarah kerokan sangatlah panjang. Kerokan sendiri bukanlah berasal asli dari Indonesia karena
Negara-negara lain juga mengenal istilah kerokan (istilah Indonesia.red) yang merupakan
peninggalan nenek moyang mereka. Diyakini Negara China juga sudah menggunakan teknik
kerokan ini sejak jaman dahulu, Negara yang mempunyai sejarah peradaban yang sangat panjang
dan masih terjaga ini mempunyai banyak teknik dalam hal kerokan, sepertihalnya bahan yang
dipakai. Biasanya alat yang digunakan untuk kerokan seperti batu giok, karena kandungan dari
batu giok sangatlah baik (bahkan ada penelitian yang menyatakan bahwa giok lebih kuat dari
berlian.red). adapun alat seperti batu alam lainnya, kayu yang di bentuk sedemikian rupanya dan
masih bayak lagi. Kemungkinan besar teknik ini sampai di Indonesia karena pengaruh jalur
perdagangan dan pelayaran orang china yang melewati Indonesia, sehingga beberapa dari
mereka ada yang menetap di Indonesia. Kerokan tidak hanya populer di Indonesia dan China,
tetapi juga banyak disukai oleh orang-orang di negara-negara asia lainnya, seperti di Vietnam
menyebut kerokan sebagai cao giodi, sedangkan di Kamboja menyebutnya goh kyol
Bagaimana teknik kerokan di Indonesia?
Di Indonesia umumnya orang-orang menggunakan koin pecahan untuk mengerok, gundu,
potongan jahe, potongan bawang. Bagian yang di kerok umumnya adalah bagian punggung, dan
sebagian di leher, dada dan lengan. Untuk media pelicin atau lubricant nya di gunakan minyak
goreng sampai balsam (kadang yang super hot.red). bagian yang di kerok biasanya mengikuti
bentukan tulang rusuk/costae (walaupun tak sama dengan aslinya.red) dan bagian tulang
belakang atau veterbrae.
Alasan melakukan kerokan di Indonesia?
Alasan yang umum Aduh badan ku lagi masuk angin nih, tolong kerokin dong.
Ataupun hem habis kerja di kantor hari ini capek banget badan ini, manalagi Ac nya super
dingin, kerokin dong. Diatas adalah alasan-alasan yang umum di dengar oleh kuping kita ini.
Namun apakah betul alasan keluhan tersebut dapat diselasikan dengan cara kerokan?
Pandagan medis terhadap kerokan?
1. Kerokan menggunaka uang koin lebih berbahaya dari pada menggunakan benda
seperti giok atupun lainnya.
Seperti yang kita ketahui semakin kecil permukaan benda maka tekanan
yang dihasilkan lebih besar (coba saja di injak dengan sepatu bersol datar

dibandingkan dengan sepatu hak tinggi.) koin memiliki permukaan yang lebih
kecil sehingga memiliki tekanan yang lebih besar. Lalu bukannya lebih efektif?
Jawaban saya adalah tidak di bandingkan batu giok ataupun benda yang
lainnya,koin memiliki sisi yang lebih tajam pada bagian pinggirnya. Karena
ketajaman pinggir uang koin ini menyebabkan kulit akan merah. Tingkat
kemerahan ini yang di anggap bahwa kerokan berhasil. Pada pasien tertentu
dengan gangguan kulit maka kerokan dengan uang koin di bandingkan dengan
menggunakan batu giok, maka hasilnya lebih parah pada media koin.
2. Lalu mengapa kerokan menyebabkan garis-garis merah?
Secara medis kulit kita terdiri dari berbagai lapisan (ada salah satu lapisan
yang mempunyai pembuluh darah/vascular yang banyak), sedangkan otot yang
ada di bawah kulit kita memiliki pembuluh darah/vascular yang banyak. Ketika
kita mengerok terutama menggunakan uang koin maka kita akan menyebabkan
lapisan kulit yang banyak vaskularnya akan pecah dan timbulah kemerahan pada
permukaan kulit. Sedangkan ketika kita menerok menggunakan batu atau benda
lainnya maka kita akan membuat pembuluh darah yang ada di otot juga ikut pecah
sehingga kadang menyebabkan rasa sakit ketika bergerak.
3. Masuknya mikroorganisme ke dalam tubuh kita
Saat kita mengerok atau mengerik tubuh kita, pori-pori kulit akan terbuka
lebar oleh karena efek gesekan kulit dengan benda tumpul maupun karena panas
tubuh yang meningkat. Saat pori-pori kita membesar maka akan memudahkan
angin masuk kembali ketubuh dengan membawa bakteri dan virus dari udah
kedalam tubuh. Memang efeknya tidak akan langsung terasa oleh tubuh kita tapi
akan muncul efek dikemudian hari. Sebagian besar orang akan merasa ketagihan
saat dikerok dan pasti akan melakukannya lagi saat dia terserang masuk angin.
Nah semakin sering kita dikerok dan semakin sering pula pori-pori kita melebar,
maka akan semakin banyak juga virus dan bakteri yang masuk kedalam tubuh
kita.
4. Masuk Angin Itu Bukan Karena Terlalu Banyak Angin yang Masuk dalam Tubuh,
Jadi Kerokan Juga Sebenarnya Gak Bisa Mengusir Angin
Salah kaprah masalah metode penyembuhan kerokan ini bisa jadi berasal
gara-gara penyakit yang kita sebut masuk angin itu juga masih ambigu.
Kehujanan, terlalu sering kena angin malam yang dingin, atau menggigil di ruang
ber-AC, memang biang kerok yang sering menyebabkanmu masuk angin. Tapi

sebenarnya gejala masuk angin itu bukan karena anginnya yang masuk dalam
tubuh.
Udara atau angin dingin itu justru membuat pembuluh darah di kulit
menyempit sampai-sampai otot-otot kekurangan oksigen. Otot yang tidak bisa
bernapas ini-lah yang menimbulkan gejala masuk angin seperti rasa nyeri otot
(mialga) dan pegal-pegal. Disamping paparan udara dingin, kekurangan gerak
sehingga pembuluh darah kaku dan tidak luwes juga memiliki dampak yang
sama. Maka dari itu, gerakan mengerok atau menggaruk kulit itu bukannya
mengusir atau mendorong angin keluar tapi memperlebar pembuluh-pembuluh
darah di permukaan kulit yang menyempit karena dingin.
5. Mengapa kerokan umumnya di punggung?
punggung! Walaupun sebagian besar orang juga pasti kerokan di punggung,
pasti masih banyak yang belum tahu kenapa kerokan itu idealnya di punggung.
Untuk mendapatkan manfaat yang optimal untuk memperlebar pembuluh dan
melancarkan aliran darah ke seluruh tubuh, kamu harus memilih pembuluh
darah yang panjang dan terhubung ke semua bagian tubuh. Jadi dengan satu
gesekan koin, manfaatnya bisa dialirkan lebih jauh.
Punggung adalah pusat syaraf terpadu dengan pembuluh darah yang
paling panjang dan menyebar kemana-mana. Pembuluh darah tepi yang pecah di
ujungnya akibat kerokan akan memaksa sekujur pembuluh darah tersebut untuk
melebar. Sebaiknya kerokan juga dilakukan dengan arah miring
mengikuti dermatom yaitu arah syaraf menuju kulit yaitu di kanan-kiri tulang
punggung. Bayangkan jika kamu memilih pembuluh darah di tangan yang
pendek, ya efek kerokan itu cuma di tangan saja.

6. Kerokan Itu Layaknya Ilusi yang Mengelabui Otak Bahwa Tubuh


Sedang Terluka Sehingga Dengan Otomatis Tubuhmu Akan
Mempertahankan Diri dengan Meningkatkan Kekebalan
Sebelumnya sudah dibahas mengapa kerokan bisa menghangatkan,
mengurangi pegal-pegal, menenangkan, dan menyegarkan, tapi apakah kerokan
benar-benar bisa menyembuhkan masuk angin? Lagi-lagi itu tergantung
definisimu atas gejala masuk angin sendiri. Tapi secara umum, kerokan itu
memang bisa meningkatkan kekebalan tubuh lho.
Pelebaran atau pembesaran diameter pembuluh darah sebagai akibat
kerokan secara tidak langsung juga menyediakan ruang lebih untuk pergerakan

sel darah putih yang merupakan agen kekebalan tubuh utama. Nah, sel-sel darah
putih ini jadi semakin reaktif untuk mempertahankan tubuh kita ketika ribuan
ujung pembuluh darah tepi pecah layaknya terbentur atau dipukul. Pecahnya
pembuluh darah tepi yang juga bisa disebut peradangan ini juga memicu reaksi
zat anti-peradangan yang disebutcytokines.
Nah ilusi seakan-akan tubuh kita terserang radang dan terluka dalam
kerokan itu ternyata memicu peningkatan sistem kekebalan tubuh kita sendiri.
7. Lalu mengapa setelah kerokan pegal-pegal saya hilang?
Kerokan yang benar sebetulnya dapat menghilangkan pegal, karena saat
mengerok otot kita akan tertekan dan terurut, karena ada gerakan seperti ini
maka timbunan asam laktat yang menyebakan pegal akan menyebabkan proses
penguraiannya lebih cepat sehingga badan akan lebih terasa segar. Sebetulnya
teknik dasar ini digunakan juga pada penanganan altet yang spasme atau istilah
umunya kram, dengan di lakukannya pengurutan maka aka lebih cepat sembuh.
Kesimpulan:
Walupun sampai saat ini belum ada penelitian lebih lanjut dan hasil ilmiah mengenai
kerokan, warisan leluhur ini masih bisa kita pertahankan. Namun perlu di ingat jangan terlalu
sering kerokan dan terlalu over dalam prakteknya, karena segala sesuatu yang berlebihan
pastilah tidak akan baik. Jika ada keluhan yang belum dapat di selsaikan dengan kerokan ada
baiknya kita berobat kepada yang lebih ahli seperti dokter ataupun fisioterapist dan lainlainnya, karena bagaimanapun kita hanya manusia yang mencari kesembuhan.

gudangilmuandre.blogspot.com