Anda di halaman 1dari 9

Oleh : Mohammad Hatta .

Sutomo-Tjokro
Kalau kita bertanya dari mana asal pergerakan nasional kita, maka jawabnya, pergerakan
nasional itu tentu berasal dari kita sendiri. Tetapi kita boleh bertanya lebih lanjut, pengaruh
apakah yang masuk ke dalam pergerakan nasional itu.
Kita hendaknya melihat kembali ke masa Matahari Terbit di Asia yang waktu itu disebut
masa Renaissance Asia. Masa itu bermula dengan kemenangan Jepang terhadap Rusia.
Sebelumnya, dengan bantuan Rusia, Jepang berhasil memperluas daerahnya dengan merebut
wilayah Tiongkok. Tetapi oleh Jerman dan Inggris, Jepang didesak untuk menyerahkan
sebagian wilayah yang direbutnya itu kepada rusia. Rusia memerlukan daerah yang bebas es,
hingga mudah berhubungan dengan negeri-negeri lain. Akhirnya atas bantuan Jerman, Inggris
dan Prancis, Jepang terpaksa menyerahkan Port Arthur kepada Rusia.
Sungguhpu Jepang dengan terpaksa telah menyerahkan daerah perluasannya, ia tetap
mengadakan persahabaan dengan inggris. Bahkan ada perjanjian, kalau sampai terjadi
perang, Inggris tidak akan membantu lawan Jepang.
Karena sudah mendapatkan jaminan, Jepang pun bisa membangun armadanya. Maka pada
tahun 1904, Jepang mulai menghantam Rusia. Pada tahun 1905, Rusia berhasil dikalahkan.
Kemenangan Jepang terhadap Rusia itu disebut sebagai Fajar menyingsing bagi Asia.
Kejadian ini amat berpengaruh di Indonesia.
Ada pula pengaruh lain yang justru merupakan pengaruh langsung, yaitu pengaruh kaum
intelektual. Kaum intelegensia Indonesia, mereka inilah yang merasakan perkembangan dan
suasana baru. Pemimpin Negro di Amerika mengatakan bahwa abad ke-20 ini adalah abad
bangsa kulit berwarna.
Maka timbullah pergerakan di Indonesia, pertama melalui kaum intelegensia, dan kedua
karena kemenangan Jepang terhadap Rusia seperti dikatakan diatas.
Kebangunan di China mempengaruhi pula kaum muda Cina di Indonesia. Sun Yat Sen
berhasil menganjurkan supaya Kerajaan Mansyu dirobohkan dan akhirnya diganti menjadi
Republik Cina. Masyarakat Cina di Indonesia ikut bangga akan kemerdekaan Cina. Maka
banyak adat-istiadat lama yang mereka buang. Misalnya, orang China dulu memakai cacing
(kucir), yang kemudian dipotong dengan paksa. Cacing ini merupakan adat peninggalan
Mansyu, karena itu harus dibuang. Kita mau merdeka, kata mereka.
Sikap dan perbuatan orang-orang China yang pada umumnya hidup berdagang ini
berpengaruh pula terhadap kaum dagang Cina di Indonesia. Karena itu pada tahun 1911
timbullah gerakan yang kedua.
Tetapi sekarang saya mulai dulu dari gerakan yang pertama yaitu Budi Utomo.

Budi Utomo didirikan di Gedung Stovia, yang sekarang disebut Gedung Kebangkitan
Nasional, pada tanggal 20 Mei 1908. Timbul pertanyaan, siapa sebenarnya yang mendirikan
Budi Utomo itu? Ada yang mengatakan dr. Wahidin, ada yang mengatakan dr. Sutomo.
Pemeriksaan lebih lanjut menetapkan dr. Sutomo.
Kalau kita perhatikan, keduanya benar. Tetapi saya anjurkan agar ahli-ahli sejarah, terutama
yang mudah-muda, mencoba menyelidiki materi-materi lama dari surat-surat kabar, surat
kabar Belanda atau apa pun, misalnya dari kenang-kenangan orang-orang tua dulu,
bagaimana kenyataan yang sebenarnya.
Kenapa nama dua orang itu disebut?
Menurut analisa saya, memang dr.Sutomo, dr.Gunawan dan lain-lain pada masa itu masih
mahasiswa Stovia. Sebenarnya dahulu belum disebut mahasiswa, tetapi pelajar sekolah
Dokter Jawa. Mereka itu rata-rata berumur 20 tahun. Tentu kita dapat mengerti, sebab dahulu,
untuk masuk Stovia harus melalui Sekolah Rakyat (Europeesche Lager Scholl), lamanya 7
tahun. Jadi waktu masuk Stovia, mereka kira-kira berumur 13 atau 14 tahun.
Lama belajar di Stovia mula-mula 8 tahun, kemudian 9 tahun dan akhirnya diperpanjang lagi
menjadi 10 tahun. Jadi mungkin mereka itu mendirikan Budi Utomo di tahun-tahun
penghabisan pelajaran mereka. Jangan pula dilupakan, dr.Sutomo sendiri mengakui bahwa dr.
Wahidin banyak berpengaruh kepada dirinya.
Barangkali setelah di Gedung Stovia ini didirikan Budi Utomo, dr. Wahidin teringat pada
cita-cita lamanya untuk memajukan perkumpulan yang menggerakkan kaum intelektual.
Maka didirikannya cabang di Yogyakarta.
Waktu itu Wahidin yang telah menjadi dokter, berumur 50 tahun. Jadi tidak mungkin dia yang
mendirikan Budi Utomo. Agaknya dia mempegaruhi Budi Utomo, maka didirikannyalah
cabang itu.
Perlu pula kita selidiki, kapan Budi Utomo beralih dari perkumpulan mahhasiswa menjadi
perkumpulan kaum priayi.
Memang, lambat laun mahasiswa diganti oleh kaum priayi. Para mahasiswa yang mendirikan
Budi Utomo kemudian tidak berhenti, tetapi bergerak terus sesudah melihat bermacammacam pergerakan rakyat, seperti Sarekat Islam dan Indische Partij.
Pada tahun 1915 mereka mendirikan Jong Java, yang kemudian diikuti oleh Jong Sumatranen
Bond dan lain-lain. Jadi pemuda Jawa waktu itu mengalih langka, mendirikan pergerakan
mahasiswa baru yaitu Jong Java.
Dari Budi Utomo yang sejak mula bergeraknya telaah tersentuh oleh menyingsingnya Fajar
Asia, maka mulailah gerakan-gerakan untuk menanamkan cita-cita kemajuan. Karena pada
masa itu semuanya masih tidur, maka dengan bangunnya Budi Utomo itu tersentak pulalah

orang-orang Belanda dari tidurnya, sehingga Mr.Van Deventer menulis di majalah De Gids
kata-kata : Het Wonder is geschied, Insulinde de schoone slaapter, is ontwaakt. (Sesuatu
yang ajaib telah terjadi. Insulinde, putri cantik yang tidur sudah terbangun).
Itulah pengaruh timbulnya Budi Utomo di Negeri Belanda sendiri, sehingga De Gids, majalah
kenamaan di Negeri Belanda yang hanya memuat tulisan-tulisan para ahli mengarang
memberika reaksinya.
Tetapi seperti telah saya katakan tadi, Budi Utomo tidak lama menjadi perkumpulan
mahasiswa karena seterusnya menjadi perkumpulan kaum priayi sedang (menengah),
sedangkan priyayi-priyayi tinggi seperti regent, mempunyai regenten bond.
Perjuangan Budi Utomo terbatas pada mereka yang sanggup atau golongan intelektual.
Mereka itu berjuang menuntut kemajuan Jawa.
Tetapi pada masa itu masih berlaku peraturan Belanda, Regeerings Reglement pasal 111,
yang melarang mendirikan perkumpulan politik atau yang serupa dengan perkumpulan
politik, atau perkumpulan yang bisa mengganggu ketentraman umum. Karena itu Budi
Utomo mengutamakan bergerak dalam bidang Sosial dan kultur. Sebab itu saya menganggap
Budi Utomo sebagai pendahuluan timbulnya pergerakan rakyat. Suatu kenyataan bahwa
perasaan kebangsaan sudah bangun, yang pada mulanya merupakan pergerakan sosial. Jadi
Budi Utomo itu mau tak mau talah memasuki bidang politik bagian sosial.
Pada tahun 1908, kira-kira tanggal 28 Desember, Budi Utomo memperoleh rechtspersoon
dari pemerintah Hindia Belanda. Tujuan Budi Utomo ialah membantu mencapai kemajuan
tanah air dan bangsa yang harmonis di Jawa dan Madura, dengan jalan yang sah dan
membantu pula usaha golongan lain yang tujuannya sama.
Itulah tujuan umum yang hendak dicapainya. Selain itu ada pula tujuan khusus, seperti yang
tercantum dalam beberapa pasal:
1. Memperhatikan kepentingan pelajaran umumnya (jadi umumnya pendidikan
2.
Memajukan
pertanian,
peternakan
dan
perdagangan.
3. Menghidupkan kembali seni dan kepandaian lama serta ilmu pusaka sendiri.
4.
Menjunjung
tinggi
dasar-dasar
perikemanusiaan.
5. Lain-lain yang dapatt menjamin penghidupan bangsa yang pantas.
Maka kalau kita perhatikan rencana tujuan di atas, terasa bahwa bukan saja kemajuan yang
hendak dicapaiya, melainkan juga hubungan rasa dengan bangsa Belanda diinginkan agar
terwujud. Sebab itu dikatakan dalam Pasal 4 : Menjunjung tinggi dasar-dasar
perikemanusiaan.
Kita tahu, hubungan antara orang Indonesia dengan orang Belanda pada masa itu jelek sekali.
Orang Indonesia dipandang hanya sebagai kuli-kuli semata, masih hina dimata orang
Belanda. Malahan mahasiswa yang berasal dari Jawa, kalau datang ke Stovia, tidak

dibolehkan memakai sepatu. Jadi begitulah, pakaian pun diubah. Maka terasa juga pada kita
adanya sedikit dasar perubahan keadaan. Hal itu sebenarnya sudah memasuki medan politik,
tetapi tidak disebut-sebut.
Maka kita lihat, kebangsaan Budi Utomo pada waktu itu terbatas pada bangsa Jawa, Madura
dan Bali saja. Itulah salah satu sebab maka dr. Tjipto Mangunkusumo mengundurkan diri dari
Budi Utomo, yang kemudian diikuti oleh Soewadi Soerjaningrat.
Telah disebutkan diatas bahwa isi Regerings Reglement pasal 111 ialah melarang
perkumpulan politik atau yang bersifat politik. Rapat-rapat pun tidak boleh membicarakan
soal-soal politik atau yang bakal merusak ketentraman umum. Semuanya itu terlarang di
Hindia Belanda. Terhadap pelanggaran larangan ini akan diambil tindakan yang sesuai
dengan keadaan. Demikianlah isi Regering Reglement Pasal 111.
Oleh karena itu, dalam praktek kita lihat Budi Utomo terlalu banyak menitikberatkan kepada
pendidikan dan pengajaran. Sekolah-sekolah didirikan, dan ini menarik perhatian kaum
intelegensia untuk mulai memperhatikan kemajuan kebudayaan sendiri.
Pada masa permulaan, Bud Utomo boleh dikatakan merupakan gerakan kultur nassionalisme.
Di bidang politik mereka tidak bergerak karena dilarang oleh Undang-undang.
Selain Budi Utomo, yang telah kena sentuh oleh pengaruh seperti yang dikatakan diatas,
muncul pula pergerakan rakyat yang lain pada tahun 1912. Pergerakan rakyat ini lahir sebagai
rentetan peristiwa dalam kesadaran sosial dan politi. Corak politiknya pun tidak nyata keluar,
tetapi diselimuti, sedangkan corak sosialnya lebih dimajukan. Pergerakan ini kelihatan
sebagai reaksi terhadap sikap orang Cina dan peranakan Cina yang merasa diri mereka
sebagai putra dari suatu negara besar yang telah menjadi Republik dengan revolusinya yang
berhasil. Mereka dengan sendirinya bangga karena mencapai derajat yang demikian itu.
Sekalipun rakyat jajahan, rakyat Cina dahulu menganggap dirinya seperti rakyat negeri Cina
juga.
Maka timbullah Sarekat Dagang Islam yang merasakan pertentangan yang timbul antara
kaum dagang kita dengan kaum dagang Cina, dalam berebut rezeki.
Sarekat dagang Islam tersebut ada di bawah pimpinan Haji Samanhudi. Tetapi Haji
Samanhudi sebenarnya bukanlah orang pertama yang memikirkan perkumpulan serupa itu.
Sebelum Haji Samanhudi sudah ada orang lain yang mengemukakan cita-cita Sarekat Dagang
Islam, yaitu Raden Mas Tirto Adisurjo yang mula-mula tinggal di Bogor.
Tirto Adisurjo ialah bekas murid Stovia, seperti juga Soewardi Soerjaningrat. Ia kemudian
menjadi pemimpin redaksi majalah Medan Priyayi. Melihat majalah yang dipimpinnya itu
jelas dia condong kepada gerakan priyayi. Berturut-turut didirikannya pada tahun 1909
Sarekat dagang Islam di Batavia (Jakarta), dan tahun 1911 Sarekat Dagang Islam di Bogor.
Seperti dikatakan olehnya, maksud mendirikan perkumpulan ini ialah untuk menentang
perbuatan curang saudagar Cina yang menual bahan batik dengan berpedoman : Menjual

barang yang busuk dengan harga yang mahal. Ini ucapannya untuk berpropaganda. Tetapi
dengan berpropaganda semacam itu tidak akan mendapat banyak pengikut.
Maka Raden Mas Tirto Adisurjo pun berkeliling ke seluruh Jawa, meskipun yang dikunjungi
hanya kota-kota besar saja. Di kota-kota besar itu, masing-masing dianjurkannya mendirikan
Sarekat Dagang Islam. Akhirnya dia sampai Sala dan di sana dicobanya pula mendirikan
Sarekat Dagang Islam dengan semboyan : Kebebasan ekonomi rakyat menjadi tujuan, Islam
jiwanya, guna kekuatan dan persatuan. Perkumpulan yang didirikan di Sala itu diketuai oleh
Haji Samanhudi, merupakan cabang dari Sarekat Dagang Islam yang ada di Bogor dan diberi
nama pergerakan. Sifat perkumpulan itu disebutnya nasional demokratis. Ini berbau politik,
tetapi dikemukakan sebagai kata berselimut.
Nama Sarekat Dagang Islam itu tidak lama, karena kemudian dijadikan Sarekat Islam,
sebagaimana direncanakan oleh Raden Mas Tirto Adisurjo. Peraturan Dasarnya disusun pada
tanggal 9 November 1911, antara lain :
Pasal 1 : Perkumpulan Sarekat Islam akan didirikan pada tiap-tiap tempat di mana terdapat
anggota sekurang-kurangnya 50 orang. (Jadi rencananya untuk menyebarkan sarekat Islam di
seluruh Jawa, tetapi di tiap-tiap tempat harus ada 50 orang anggota. Kalau anggotanya kurang
dari 50 orang, tidak diadakan.)
Pasal 2 : Tujuannya :
1. Mencapai supaya anggota satu sama lain bergaul sebagai saudara. Dasarnya ialah: Agama
Islam,
menurut
perseorangan,
satu
sama
lain
sebagai
saudara.
2. Memperkuat semangat persatuan dan bahu-membahu antara umat Islam. (Masih
didasarkan
pada
Islam.)
3. Yang lain-lain dengan jalan yang sah yang tidak bertentangan dengan Undang-undang
negeri dan pendirian pemerintah. (Jadi tidak boleh bertentangan dengan peraturan negerii dan
pemerintah, meninggikan derajat bangsa untuk mencapai perkembangan kemajuan dan
kebesaran negeri.)
Sekalipun tidak berpolitik, hal itu sudah merupakan politik. Meninggikan derajat bangsa
untuk mencapai perkembangan , kemajuan dan kebesaran negeri hanya bisa dicapai dengan
gerakan politik.
Tetapi, di luar dari itu semua, belum didapat keterangan, apa sebabnya waktu itu tidak ada
hubungannya dengan Tjokroaminoto.
Sarekat Islam kemudian hari didirikan kembali oleh Raden Oemar Said Tjokroaminoto. Dulu
ia bekerja pada salah satu onderneming.
Sarekat Islam ini didirikan kembali atas nama Haji Samanhudi, tetapi dia kemudian menjadi
pembantunya. Selain Haji Samanhudi, yang ikut menjadi pendiri ialah beberapa orang
saudagar di Sala dan 4 orang pegawai Kasunanan. Perkumpulan ini didirikan berdasarkan

Akte Notaris 10 September 1912, jadi setahun sesudah Tirto Adisurjo membuat Sarekat
Islam.
Peraturan Sarekat Islam disusun lagi berdasarkan Akte Notaris tersebut di atas. Jadi sampai
waktu itu sudah ada dua Sarekat Islam. Yang ppertama ialah yang didirikan Tirto Adisurjo,
yang peraturannya tidak dibuat berdasarkan Akte Notaris, melainkan dibuatnya sendiri.
Tujuan Sarekat Islam Kedua:
1.
Memajukan
semangat
dagang.
2. Membantu anggota yang dalam kesusahan. (jadi memperkuat rasa persatuan, kalau ada
anggota
yang
kesusahan
dibantu.)
3. Memperbesar kemajuan pengetahuan dan kepentingan ekonomi rakyat. (Ini sudah menuju
kepada rakyat. TirtoAdisurjo hanya memperhatikan kaum dagang saja. Tetapi yang kedua ini
sudah
menuju
kepada
kepentingan
ekonomi
rakyat.)
4. Menjaga supaya jangan terdapat pengertian yang salah tentang Islam dan memperkuat
penghidupan agama di kalangan rakyat, sesuai dengan undang-undang dari ibadat agama itu
masing-masing.
Semuanya itu ditambahkan secara hati-hati dan melalui jalan yang sah, yang tidak
bertentangan dengan kesejahteraan umum serta adat-istiadat yang baik. Corak politik masih
diselimuti, sebab ada pasal 111 Regerings Reglement yang melarang adanya partai politik.
Secara sah ada tujuan politik dalam Sarekat Islam itu, tetapi diselimuti. Sementara itu
memang sudah dapat dirasakan adanya gerakan yang akan berkembang ke bidang politik.
Bagaimanapun juga pers Belanda Kolonial tidak diam, karena telah mengerti dan dapat
menyelidiki dalam-dalam. Sebab itu gerakan Sarekat Islam dihantam sehebat-hebatnya dalam
pers Belanda, malah dituduh menjadi cabang Gerakan Pan Islamisme yang berpusat di Turki.
Sarekat Islam mengadakan kongres yang pertama di Surabaya pada tanggal 26 Januari 1913.
Beribu-ribu, mungkin bahkan puluhan ribu mengunjungi kongres itu. Ketika itu belum ada
microphone seperti sekarang, sehingga orang yang ingin hadir, mendengar ataupun tidak,
tetap pergi ke Surabaya. Pada waktu itu belum ada larangan bagi orang untuk mengadakan
rapat di tempat umum. Baru kemudian larangan itu datang, dan rapat hanya dibolehkan dalam
gedung tertutup. Jadi waktu itu orang bisa mengadakan rapat di kebun binatang atau di
tempat terbuka. Orang datang ke tempat itu sekalipun tidak mendengar, karena tujuannya
untuk menunjukkan simpatinya kepada gerakan. Berpuluh ribu orang datang sebagai
simpatisan gerakan Sarekat Islam. Karena umat Islam Surabaya banyak sekali yang datang ke
kongres, maka diadakanlah rapat umum. Dalam rapat itu haji Samanhudi diakui sebagai
pembantu Sarekat Islam, sedangkan ketuanya ialah Tjokroaminoto. Dengan demikian yang
diakui di sini ialah Haji Samanhudi, sungguhpun dia sudah didahului oleh Tirto Adisurjo.
Sesudah itu Tirto Adisurjo tidak muncul lagi. Walaupun begitu boleh dikatakan dialah yang
membuka atau merintis jalan berdirinya Sarekat Dagang Islam.

Sekarang Tjokroaminoto telah mendirikan Sarekat Islam dengan Akte Notaris yang
peraturan-peraturannya telah ditetapkan sendiri. Dalam Pidato pembukaan pada kongres
tersebut dikatakan oleh Tjokroaminoto bahwa tujuan Sarekat Islam ialah mengangkat derajat
bangsa. Itu nyata-nyata disebut, untuk menghindarkan kesan bahwa Sarekat Islam adalah
partai politik. Sebab, seperti telah disebutkan diatas, gerakan itu dimana-mana dihantam oleh
Pers Putih, dikatakan bahwa Sarekat Islam tidak lain ialah cabang Pan Islamisme yang
berpusat di Konstantinopel (Istambul).
Perlu pula kita perhatikan apa yang dikatakannya dalam kongres berdasarkan Regering
Reglement No. 55. Dia berkata: Apabila kita ditindas, kita akan minta pertolongan
pemerintah. Kita loyal terhadap pemerintah Belanda. Tidak benar yang kita mau menghasut,
tidak benar yang kita mau perang sabil. Siapa yang mengatakan begitu tidak beres otaknya.
Kita tidak mau berbuat begitu, seribu kali tidak.
Ini perkataan di rapat umum, dikatakan oleh Tjokroaminoto. Ia seorang orator yang bukan
main hebatnya. Suaranya seperti gon. Barangkali sampai sekarang belum ada yang bisa
disamakan dengan dia sebagai orator. Sekalipun Sukarno berpidato hebat, dia tidak bisa
mengatasi Tjokroaminoto.
Saya hanya sekali mendengar pidatonya, yaitu tahun 1921 di Deca Park, jakarta, walaupun
tidak sempat mendengarkan seluruhnya. Waktu itu ada rapat umum untuk memprotes
ancaman Gubernur Jenderal. Tjokroaminoto hampir selesai bicara waktu saya datang. Saya
dapat merasakan suaranya yang seperti gong.
Ternyata kongres Sarekat Islam yang pertama di Surabaya itu sangat mempengaruhi
kesadaran kebangsaan. Kemudian Sarekat Islam diakui rechtspersoon, tidak secara
keseluruhan diakui, tetapi satu-satu atau setempat-tempatnya. Anggota beratus ribu, bahkan
pernah mencapai satu juta.
Dengan berdirinya Sarekat Islam di mana-mana, hiduplah perasaan rakyat. Rakyat menjadi
tahu merasa-rasakan, tetapi belum pandai mengeluarkan suara.
Sebelum Sarekat Islam berdiri rakyat hanya mempunyai kewajiban, yaitu kewajiban sebagai
rakyat, tetapi tidak mempunyai hak sebagai rakyat. Dengan diadakannya Kongres Sarekat
Islam pertama, terasalah oleh rakyat bahwa ia mempunyai hak.
Pembicaraan-pembicaraan di dalam kongres dititikberatkan kepada perekonomian rakyat
yang harus dilindungi. Kemudian dikemukakan juga tentang kewajiban membela Islam dari
tuduhan Pers Putih yang tidak benar. Ditambah lagi dengan anjuran-anjuran untuk
memperkuat persatuan Islam. Tetapi diantara baris, terseliplah tujuan politik yang tidak
diumumkan. Ucapan yang mengandung tuntutan sebagai perlindungan dari tindasan golongan
yang kuat, sering dikatakan.
Kalangan sarjana memandang bangkitnya Sarekat Islam itu sebagai pembentukan hukum atau
suatu proses baru tentang pembentukan hukum.

Waktu saya belajar di Negeri Belanda dan mempelajari teori Krabbe, maka terasa bahwa
memang benar rakyat sedang merasakan keadilan akan hukum. Jadi proses baru tentang
hukum tadi diinsafi oleh kaum intelegensia, bukan saja orang Indonesia tetapi juga orang
Belanda.
Orang-orang Belanda yang disebut golongan etis mengakui hal itu dalam surat-surat kabar
Belanda. Inilah permulaan dari proses keindafan hukum. Terlihatlah bahwa masyarakat telah
membangung alatnya sendiri, yang dulu tidak ada.
Zaman dulu, untuk membicarakan segala rupa persoalan, orang didesa mengadakan rapat
atau musyawarah. Kini rapat atau musyawarah itu telah berpindah ke kota-kota, menjadi alat
untuk membicarakan apa saja yang dianggap menjadi persoalan. Ini merupakan hal baru.
Sebelumnya tidak ada.
Di desa-desa dulu kalau ada apa-apa yang akan dibicarakan, diadakan rapat oleh lurah dan
penduduk Desa. Sekarang terasa, rapat atau musyawarah telah menjadi alat pergerakan diluar
jentra pemerintah.
Dulu, kakalu masuk Gementeraad (Dewan Kota), orang segera mengetahui bahwa rapat itu
diatur oleh pemerintah. Tetapi diluar mekanik jentra pemerintah, kini pengurus perkumpulan
dianggap menyorongkan dirinya di antara rakyat dan pemerintah. Jadi hal itu dianggap juga
sebagai meringankan beban yang ditekankan oleh pemerintah ke bawah. Pengurus merasakan
dirinya sebagai perantara.
Lambat laun timbullah status baru dalam penghidupan yaitu Institut Pemimpin Rakyat yang
diakui. Jadi antara pemerintah dan rakyat ada Institut Pemimpin Rakyat yang menyampaikan
apa saja yang terasa oleh rakyat kepada pemerintah. Maka mulai saat itu Sarekat Islam
menjadi satu masalah sosial. Ini merupakan satu kejadian yang luar biasa.
Saya kira inilah yang menjadi alasan mengapa Gubernur Jenderal Idenburg tidak mau
mengakui Sarekat Islam sebagai satu rechtspersoon. Dia hanya mau mengakui tiap-tiap
cabang Sarekat Islam, jadi hanya mau mengakui rechtspersoon setempat-setempat,sekalipun
statuten-nya dimana-mana sama.
Pada waktu diadakan kongres yang kedua, cabang Sarekat Islam sudah ada 86. Dikatakan
cabang, padahal sebenarnya masing-masing berdiri sendiri-sendiri. Delapan puluh enam
cabang itu hanya yang di Jawa saja. Di Sumatra dan lain-lain pulau ada juga, tetap hanya satu
dua.
Demikianlah seluruh cabang itu semuanya diakui satu-satu sebagai Sarekat Islam setempat.
Alasan Idenburg ialah, kalau diakui seluruhnya sebagai suatu kesatuan, bilaman satu bagian
saja bersalah, maka akan disalahkan semua dan dibubarkan semua. Itu alasan logisnya,
mengapa ia mengakui Sarekat Islam hanya setempat-tempatnya. Dengan alasan tersebut,
Idenburg mengakui satu persatu saja dulu. Alasan itu didasarkan atas Koninklijk Besluit
tanggal 14 Mei tahun 1913 yang dapat melarang berdirinya satu perkumpulan atas dugaan

dapat mengganggu ketentraman umum, sekalipun perkumpulan itu tidak berbuat apa-apa
yang bertentangan dengan statuen.
Apakah benar itu alasan yang dimaksud, saya tidak tahu. Namun umum merasakan bahwa itu
sebagai politik divide et empera. Dihasutnya Sarekat Islam yang satu terhadap yang lain.
Kemudian Sarekat Islam mengadakan Sentral Sarekat Islam, yang tujuannya ialah untuk
menyatukan Sarekat-Sarekat Islam. Anggota terdiri dari Sarekat Islam satu per satu. Tetapi
hal itu baru terjadi kemudian, sesudah tahun 1916.
Demikianlah tentang Budi Utomo sampai Sarekat Islam.
*) Ceramah Bung Hatta di Gedung Kebangkitan Nasional pada tanggal 22 Mei 1974.