Anda di halaman 1dari 8

KONSEP DASAR PENYAKIT

A. Definisi
Sarkoma osteogenik ( Osteosarkoma ) merupakan neoplasma tulang primer yang sangat
ganas. Tumor ini tumbuh dibagian metafisis tulang tempat yang paling sering terserang
tumor ini adalah bagian ujung tulang panjang, terutama lutut.
Osteogenik sarkoma atau tumor tulang merupakan kelainan pada sistem muskuloskeletal
yang bersifat neoplastik.

B. Epidemiologi
Osteosarkoma merupakan tumor ganas primer yang paling sering di temukan
denganyang paling sering di temukan denganpresentase 48,8 %. Di Amerika Serikat
setiap tahunnya kira kira kira 400 orang anak dan remaja yang menderita
osteosarkoma. Puncak insiden adalah umur 10-20 tahun yaitu 20 tahun yaitu pada saat
pertumbuhan dan jarang sekali pada saat pertumbuhan dan jarang sekali ditemukan pada
usia <5 tahun ditemukan pada usia < 5 tahun. Osteosarkoma lebih sering ditemukan pada
pria daripada wanita
C. Etiologi
a. Genetik
Beberapa kelainan genetik di kaitkan dengan terjadinya keganasan tulang. Dari data
penelitian, diduga mutasi genetik pada sel induk mesenkim dapat menimbulkan
sarkoma.

b. Radiasi

Keganasan jaringan lunak dapat terjadi pada daerah tubuh yang terpapar radiasi
seperti pada klien karsinoma mamma dan limfoma maligna yang mendapat
radioterapi.
c. Bahan kimia
Bahan kimia seperti Dioxin dan phenoxyherbicide diduga dapat menimbulkan
sarkoma, tetapi belum dapat dibuktikan.
d. Trauma
Sekitar 30% kasus keganasan pada jaringan lunak mempunyai riwayat trauma.
Walaupun sarkoma kadang-kadang timbul pada jaringan sikatriks lama, luka bakar,
dan riwayat trauma,semua ini tidak pernah dapat dibuktikan.
e. Infeksi
Keganasan pada jaringan lunak dan tulang dapat juga disebabkan oleh infeksi parasit,
yaitu filariasis.

D. Patofisiologi
Adanya tumor pada tulang menyebabkan jaringan lunak diinvasi oleh sel tumor. Timbul
reaksi dari tulang normal dengan respon osteolitik yaitu proses destruksi atau
penghancuran tulang dan respon osteoblastik atau proses pembentukan tulang. Terjadi
destruksi tulang lokal. Pada proses osteoblastik, karena adanya sel tumor maka terjadi

penimbunan periosteum tulang yang baru dekat lempat lesi terjadi sehingga terjadi
pertumbuhan tulang yang abortif.
E. Manifestasi Klinis
a. Nyeri dan/ atau pembengkakan ekstremitas yang terkena (biasanya menjadi
semakin parah pada malam hari dan meningkat sesuai dengan progresivitas
penyakit).
b. Fraktur patologik
c. Pembengkakan pada atau di atas tulang atau persendian serta pergerakan yang
terbatas.
d. Teraba massa tulang dan peningkatan suhu kulit di atas massa serta adanya
pelebaran vena.
e. Gejala-gejala penyakit metastatik meliputi nyeri dada, batuk, demam, berat badan
menurun dan malaise.

F. Pemeriksaan Fisik dan Penunjang


Pemeriksaan Fisik
1. Teraba massa tulang dan peningkatan suhu kulit di atas massa serta adanya pelebaran
2.

vena
Pembengkakan pada atau di atas tulang atau persendian serta pergerakan yang

terbatas.
3. Nyeri tekan / nyeri lokal pada sisi yang sakit
4. Kaji status fungsional pada area yang sakit, tanda-tanda inflamasi, nodus limfe
regional

Pemeriksaan Penunjang
1. Laboratorium

Kebanyakan pemeriksaan laboratorium yang digunakan berhubungan dengan


penggunaan kemoterapi. Sangat penting untuk mengetahui fungsi organ sebelum
pemberian kemoterapi dan untuk memonitor fungsi organ setelah kemoterapi.
Pemeriksaan darah untuk kepentingan prognosa adalah lactic dehydrogenase (LDH)
danalkaline phosphatase (ALP). Pasien dengan peningkatan nilai ALP pada saat
diagnosis mempunyai kemungkinan lebih besar untuk mempunyai metastase pada
paru. Pada pasien tanpa metastase, yang mempunyai peningkatan nilai LDH kurang
dapat menyembuh bila dibandingkan dengan pasien yang mempunyai nilai LDH
normal.
2. X-ray
Foto polos merupakan hal yang esensial dalam evaluasi pertama dari lesi tulang
karena hasilnya dapat memprediksi diagnosis dan penentuan pemeriksaan lebih jauh
yang tepat.
3. CT Scan
CT dapat berguna secara lokal ketika gambaran foto polos membingungkan, terutama
pada area dengan anatomi yang kompleks (contohnya pada perubahan di mandibula
dan maksila pada osteosarkoma gnathic dan pada pelvis yang berhubungan dengan
osteosarkoma sekunder).
4. MRI
MRI merupakan modalitas untuk mengevaluasi penyebaran lokal dari tumor karena
kemampuan yang baik dalam interpretasi sumsum tulang dan jaringan lunak.
5. Biopsi terbuka
Biopsi bedah dilakukan untuk identifikasi histologik. Biopsi harus dilakukan untuk
mencegah terjadinya penyebaran dan kekambuhan yang terjadi setelah eksesi tumor.
G. Penatalaksanaan
a.
Manajemen nyeri
Teknik manajemen nyeri secara psikologik (teknik relaksasi napas dalam,
visualisasi, dan bimbingan imajinasi ) dan farmakologi ( pemberian analgetika ).

b.

Mengajarkan mekanisme koping yang efektif


Motivasi klien dan keluarga untuk mengungkapkan perasaan mereka, dan berikan
dukungan secara moril serta anjurkan keluarga untuk berkonsultasi ke ahli psikologi
atau rohaniawan.

c.

Memberikan nutrisi yang adekuat


Berkurangnya nafsu makan, mual, muntah sering terjadi sebagai efek samping
kemoterapi dan radiasi, sehingga perlu diberikan nutrisi yang adekuat. Antiemetika
dan teknik relaksasi dapat mengurangi reaksi gastrointestinal. Pemberian nutrisi

parenteral dapat dilakukan sesuai dengan indikasi dokter.


d.
Pendidikan kesehatan
Pasien dan keluarga diberikan pendidikan kesehatan tentang kemungkinan terjadinya
komplikasi, program terapi, dan teknik perawatan luka di rumah (Smeltzer. 2001).
Tujuan penatalaksanaan secara umum meliputi pembuangan tumor, penghindaran
amputasi kalau memungkinkan, pemeliharaan fungsi secara maksimal dari anggota
tubuh atau ekstremitas yang sakit. Pemberian anlgesik, tranquelizer, diet, imobilisasi
anggota tubuh yang sakit.
e.
Kemoterapi
Kemoterapi merupakan pengobatan yang sangat vital pada osteosarkoma, terbukti
dalam 30 tahun belakangan ini dengan kemoterapi dapat mempermudah melakuan
prosedur operasi penyelamatan ekstremitas (limb salvage procedure) dan
meningkatkan survival rate dari penderita. Kemoterapi juga mengurangi metastase
ke paru-paru dan sekalipun ada, mempermudah melakukan eksisi pada metastase.
Kemoterapi preoperatif merangsang terjadinya nekrosis pada tumor primernya,
sehingga tumor akan mengecil. Selain itu akan memberikan pengobatan secara dini
terhadap terjadinya mikro-metastase. Keadaan ini akan membantu mempermudah
melakukan operasi reseksi secara luas dari tumor dan sekaligus masih dapat
mempertahankan ekstremitasnya. Pemberian kemoterapi postoperatif paling baik
dilakukan secepat mungkin sebelum 3 minggu setelah operasi. Obat-obat kemoterapi
yang mempunyai hasil cukup efektif untuk osteosarkoma adalah: doxorubicin
(Adriamycin), cisplatin (Platinol), ifosfamide (Ifex), mesna (Mesnex), dan
methotrexate dosis tinggi (Rheumatrex). Protokol standar yang digunakan adalah
doxorubicin dan cisplatin dengan atau tanpa methotrexate dosis tinggi, baik sebagai
terapi induksi (neoadjuvant) atau terapi adjuvant. Kadang-kadang dapat ditambah
dengan ifosfamide. Dengan menggunakan pengobatan multi-agent ini, dengan dosis
yang intensif, terbukti memberikan perbaikan terhadap survival rate sampai 60 80%.
f.

Operasi
Saat ini prosedur operasi merupakan tujuan yang diharapkan dalam operasi pada
osteosarkoma.

Maka

dari

itu

melakukan

reseksi

tumor

dan melakukan

rekonstrusinya kembali dan mendapatkan fungsi yang memuaskan dari ektermitas


merupakan salah satu keberhasilan dalam melakukan operasi.

H. Komplikasi
a. Amputasi
b. Metastase
c. Gizi Buruk
d. Tromboemboli paru
I. Pendidikan Kesehatan
1. Berikan penjelasan kepada keluarga dan pasien tentang perjalanan penyakit, tenda
dan gejala, penanganan penyakit.
2. Sarankan kepada keluarga dan pasien tentang latihan rentang gerak.
3. Sarankan kepada keluarga untuk memberikan pasien makanan yang kaya

akan

protein dan kalori.


4. Sarankan kepada keluarga untuk memberikan yang kaya akan vitamin C dan mineral.
Dan asupan cairan 1000-1500 mL per hari (5 8 gelas per hari)
J. Prognosis
Pada permulaannya prognosis osteosarkoma adalah buruk, five years survival rate-nya
hanya berkisar antara 10-20%, belakangan ini dengan terapi ajuvan berupa kemoterapi
yang intensif, maka five years survival rate menjadi lebih baik, mencapai 60-70%,
bahkan ada yang mencapai 100%.
Berkat kemoterapi pra bedah maka tindakan amputasi juga sudah jauh berkurang.
Sekarang di pusat-pusat pengobatan kanker tulang yang lengkap, lebih sering dilakukan
tindakan limb salvage.
K. Pathway
Terlampir
KONSEP ASUHAN KEPERAWATAN
1. Pengkajian
a. Identitas
Kajian meliputi nama, inisial, umur, jenis kelamin, agama, suku, pendidikan,
pekerjaan yang terpapar sinar matahari
b. Riwayat penyakit dahulu
Beberapa penyakit dahulu yang pernah di derita yang berhubungan dengan
keluhan sekarang
c. Riwayat penyakit sekarang
Meliputi alasan masuk rumah sakit, kaji keluhan klien, kapan mulai tanda dan
gejala

d. Riwayat kesehatan keluarga


Apakah ada anggota keluarga yang menderita penyakit yang sama
e. Riwayat pemakaian obat-obatan dan bahan kimia
Kajian ini meliputi pemakaian obat-obatan dan bahan kimia yang berbahaya
f. Data biologis
1. Pola nutrisi ; klien mengalami anoreksia dan sering muntah
2. Pola minum : masukan cairan klien adekuat atau tidak
3. Pola eliminasi : Terjadi konstipasi dan berkemih tergantung pemasukan
cairan
4. Pola istirahat dan tidur : tidak dapat tidur nyenyak akibat nyeri post operasi
5. Pola aktivitas :Tidak dapat melakukan aktivitas seperti biasa
g. Data psikologis
1. Status emosi
2. Klien dapat merasa terganggu dengan kondisi yang dialaminya
3. Pola koping : klien cemas, menarik diri
h. Data sosial
1. Pendidikan dan pekerjaan :Tingkat pengetahuan klien minim
2. Hubungan social : hubungan social dengan keluarga dan orang terdekat
berjalan baik atau tidak
3. Gaya hidup : kebiasaan merokok, minum minuman berakohola. Identitas

2. Diagnosa Keperawatan yang mungkin muncul


a. Nyeri akut berhubungan dengan agen cedera mekanik ditandai dengan
melaporkan nyeri secara verbal.
b. Ketidakseimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan
ketidakmampuan menyerap nutrisi ditandai dengan kehilangan berat badan
dengan asupan makanan yang tidak memadai.
c. Hipertermia berhubungan dengan peningkatan laju metabolisme ditandai dengan
peningkatan suhu tubuh di atas kisaran normal.
d. Kerusakan membrane mukosa oral berhubungan dengan kemoterapi ditandai
dengan stomatitis.
e. Hambatan mobilitas

fisik berhubungan

dengan penurunan

pergerakan ditandai dengan klien tidak mampu untuk mobilisasi.

kemampuan

DAFTAR PUSTAKA

Price dan Wilson, editor dr. Huriawati Hartano, dkk. 2006. Patofisiologi Konsep Klinis dan
Proses-proses Penyakit Edisi 6 Vol. Jakarta : EGC
Dochterman, Joanne M. & Bulecheck, Gloria N. 2004. Nursing Interventions Classification :
Fourth Edition. United States of America : Mosby.
Guyton&Hall.2006.Buku Ajar Fisiologi Kedokteran.Jakarta:EGC
Moorhead, Sue et al. 2008. Nursing Outcomes Classification : Fourth Edition. United States
of America : Mosby
NANDA International. 2011. Diagnosis Keperawatan : Definisi dan Klasifikasi 2009-2011.
Jakarta : EGC.