Anda di halaman 1dari 7

TERAPI ANTIBIOTIK MENINGITIS BAKTERIALIS

Neonatus
Antibiotik harus diberikan segera setelah terdapat akses vena pada pasien dengan
meningitis bakteri. Secara konservatif, pengobatan antimikroba awal atau inisial terdiri dari
ampisilin dan kombinasi aminoglikosida. Jika S pneumoniae dicurigai, vankomisin harus
ditambahkan. Terapi empiris awal untuk penyakit late-onset pada bayi prematur harus
mencakup

agen

antistaphylococcus

dan

seftazidim,

amikasin,

atau

meropenem. 1

Ampisilin memiliki cakupan yang baik untuk coccus gram-positif, termasuk


streptococcus grup B, enterococcus, L monocytogenes, beberapa strain dari E coli, dan jenis
H influenzae B. Ampisilin juga dapat mencapai kadar yang adekuat dalam likuor
cerebrospinal (LCS).1 Ampisilin merupakan prototip golongan aminopenisilin bersprektrum
luas. Semua penisilin golongan ini dirusak oleh betalaktamase yang diproduksi kuman gram
positif maupun gram negatif. Kuman meningokokus, pneumokokus, gonokokus dan L
monocytogenes sensitif terhadap obat ini. Selain itu H. Influenzae, E.coli dan Pr.mirabilis
merupakan kuman gram negatif yang juga sensitif.1,2
Aminoglikosida (misalnya, gentamisin, tobramycin, amikasin) mempunyai aktivitas
yang baik terhadap hampir kebanyakan basil Gram-negatif, termasuk P. aeruginosa dan
Serratia marcescens. Aminoglikosid mempunyai tempat penanggulangan infeksi berat gram
negatif. Aminoglikosid berdifusi lewat kanal air yang dibentuk oleh enzim proteins pada
membran luar bakteri gram negatif termasuk ke ruang periplasmik. Kadar puncak dalam
darah 30 menit samai dengan 2 jam. Distribusi aminoglikoside ke dalam cairan otak pada
meningen normal sangat terbatas, aminoglikosida hanya dapat mencapai kadar marginal pada
cairan LCS dan ventrikel, bahkan ketika meninges meradang. Pemberian aminoglikoside
disertai golongan penisilin dapat memudahkan penetrasi aminoglikoside ke dalam kuman, ini
merupakan

contoh

yang

baik

mengenai

sinergisme

antara

antibiotik. 1,2

Beberapa generasi ketiga sefalosporin mencapai kadar yang baik dalam LCS dan telah
muncul sebagai agen efektif terhadap infeksi gram negatif. Seftriakson berkompetisi dengan
bilirubin untuk pengikatan oleh albumin, dan dosis terapeutik ceftriaxone menurunkan
cadangan albumin dalam serum bayi baru lahir sebesar 39%, dengan demikian, ceftriaxone
dapat meningkatkan risiko ensefalopati bilirubin, terutama pada bayi baru lahir beresiko
tinggi. Seftriakson juga menyebabkan sludging (lumpur) empedu. Tidak satupun dari
sefalosporin memiliki aktivitas terhadap L. monocytogenes dan enterococcus dan, karenanya,
tidak boleh digunakan sebagai agen tunggal untuk pengobatan awal. Kombinasi ampisilin dan

sefalosporin generasi ketiga diperlukan. Cephalosporin generasi ketiga juga efektif untuk
meningitis yang disebabkan oleh E.coli atau spesies Klebsiella, angka kesembuhan 78%94%, dibandingkan regimen dengan mainoglikosid degan atau tanpa klorafenikol 40%
-90%.1,3
Jika patogen terbukti menjadi bakteri yang rentan ampisilin dengan low minimum
inhibitory

concentration

(MIC)

ampisilin,

maka

ampisilin

dapat

dilanjutkan

sendiri. Cefotaxime dan seftriakson juga mempunyai aktivitas yang baik terhadap
kebanyakan S.pneumoniae resisten penisilin. Baik vankomisin dan cefotaxime harus
diberikan pada pasien dengan meningitis S. pneumoniae

sebelum hasil uji resistensi


tersedia.1,3

antibiotic

Di antara aminoglikosida, gentamisin dan tobramycin telah digunakan secara


ekstensif dalam kombinasi dengan ampisilin. Meskipun kekhawatiran kadarnya pada LCS,
agen ini telah terbukti efektif bila dikombinasikan dengan antibiotik beta laktam-untuk
pengobatan meningitis yang disebabkan oleh organisme seperti streptococcus grup B dan
enterococcus

sensitif. 1

yang

Infeksi yang melibatkan Staphylococcus S, anaerob, atau P. aeruginosa mungkin


memerlukan antimikroba lainnya, seperti oksasilin, methicillin, vankomisin, atau kombinasi
dari seftazidim dengan aminoglikosida. Penetrasi LCS dan keamanan agen antimikroba harus
penggunaan.1

menentukan

Agen etiologi dan penemuan klinis menjadi dasar dari lama pengobatan, namun
pengobatan selama

10 hari - 21-hari biasanya cukup untuk infeksi Streptococcus grup

B. Waktu yang lebih lama dibutuhkan untuk mensterilkan LCS dengan meningitis oleh bacil
gram

negatif,

dan

biasanya

diperlukan

pengobatan

selama

3-4

minggu

.1

Lumbal pungsi ulangan diindikasi pada keadaan tidak adanya perbaikan klinis atau
meningitis yang disebabkan oleh strain S pneumonia yang resisten atau dengan basil enterik
gram negatif. Pada neonatus dengan meningitis basil gram negatif, pemeriksaan CSS selama
pengobatan diperlukan untuk memverifikasi kultur steril.Pemeriksaan ulang terhadap CSS
untukpemeriksaan kimia dan kultur harus dilakukan 41-72 jam setelah memulai pengobatan;
specimen lebih lanjut diperlukan bila tidak didapatkan sterilitas ataupun perbaikan klinis.1

Menurut Standar Pelayanan Medis Kesehatan Anak tahun 2004, terapi empirik untuk
neonatus dengan meningitis bakterial sebagai berikut 4

Umur 0-7 hari


-

Ampisilin 150 mg/kgBB/hari setiap 1 jam IV + Sefotaksim 100 mg/kgBB/hari


setiap 12 jam IV atau

Seftriakson 50 mg/kgBB/hari setiap 24 jam IV atau

Ampisilin 150 mg/kgBB/hari setiap 1 jam IV + Gentamisin 5 mg/kgBB/hari


setiap 12 ajm IV.

Umur >7 hari


-

Ampisilin 200 mg/kgBB/hari setiap 6 jam IV + Gentamisin 7,5 mg/kgBB/hari


setiap 12 jam IV atau

Ampisilin 200 mg/kgBB/hari setiap 1 jam IV atau

Seftriakson 75 mg/kgBB/hari setiap 24 jam IV.

Bayi dan anak


Pemberian antibiotik yang cepat pasien yang dicurigai meningitis adalah penting. Pemilihan
antibiotik inisial harus memiliki kemampuan melawan 3 patogen umum: S pneumoniae, N
meningitidis

dan

H.

influenzae.1

Menurut Infectious Diseases Society of America (IDSA) practice guidelines for


bacterial meningitis tahun 2004, kombinasi dari vankomisin dan ceftriaxone atau cefotaxime
dianjurkan bagi mereka yang dicurigai meningitis bakteri, dengan terapi ditargetkan
berdasarkan pada kepekaan patogen terisolasi. Kombinasi ini memberikan respon yang
adekuat terhadap pneumococcus yang resisten penisilin dan H. Influenza tipe B yang resisten
beta-laktam. Perlu diketahui, Ceftazidime mempunyai aktivitas yang buruk terhadap
penumococcus dan tidak dapat digunakan sebagai substitusi untuk cefotaxime atau
ceftriaxone.1
Oleh karena buruknya penetrasi vankomisin pada susunan saraf pusat, dosis yang
lebih tinggi 60 mg/kg/hari dianjurkan untuk mengatasi infeksi susunan saraf pusat.
Cefotaxime atau ceftriaxone cukup adekuat untuk pneumococcus yang peka. Namun, bila
S.pneumonia terisolasi mempunya MIC yang lebih tinggi untuk cefotaxime, dosis tinggi
cefotaxime (300 mg/kg/hari) dengan vankomisisn (60 mg/kg/hari) bisa menjadi pilihan.1

Terapi dengan Carbapenem merupakan pilihan yang baik patogen yang resisten
sefalosporin. Meropenem lebih dipilih dibandingkan imipenem oleh karena resiko kejang
lebih rendah. Antibiotik lain seperti oxazolidinon (linezolid), masih dalam penelitian.
Fluorokuinolon dapat menjadi pilihan untuk pasien yang tidak dapat menggunakan antibiotik
jenis lain atau gagal pada terapi sebelumnya.1
Pada pasien yang alergi beta-laktam (penisilin dan sefalospori) dapat dipilih
vankomisin

dan

rifampisin

untuk

kuman

S.pneumoniae.

Kloramfenikol

juga

direkomendasikan pada pasien dengan meningitis meningococcal yang alergi beta-laktam.1


Penilaian LCS pada akhir terapi tidak dapat memprediksi akan terjadinya relaps atau
rekrudesensi dari meningitis. H.influenzae tipe B dapat menetap pada sekret nasofaring
walopun setelah terapi meningitis. Untuk alasan tersebut, pasien harus diberikan Rifampisin
20 mg/kg dosis single selama 4 hari bila anak dengan resiko tinggi tinggal di rumah ataupun
pusat penitipan anak. N.meningitidis dan S.pneumoniae biasanya dapat di eradikasi dari
nasofaring setelah terapi meningitis berhasil.1
Menurut Pedoman Pelayanan Medis IDAI tahun 2010, terapi empirik pada bayi dan anak
dnegan meningitis bakterial sebagai berikut : 4

Usia 1 3 bulan :
-

Ampisilin 200-400 mg/kgBB/hari IV dibagi dalam 4 dosis + Sefotaksim 200300 mg/kgBB/hari IV dibagi dalam 4 dosis, atau

Seftriakson 100 mg/kgBB/hari IV dibagi dalam 2 dosis

Usia > 3 bulan :


-

Sefotaksim 200-300 mg/kgBB/hari IV dibagi dalam 3-4 dosis, atau

Seftriakson 100 mg/kgBB/hari IV dibagi 2 dosis, atau

Ampisilin 200-400 mg/kgBB/hari IV dibagi dalam 4 dosis + Kloramfenikol


100 mg/kgBB/hari dibagi dalam 4 dosis

Jika sudah terdapat hasil kultur, pemberian antibiotik disesuaikan dnegan hasil kultur dan
resistensi.

Durasi pemberian antibiotik menurut

IDSA 2004 guidelines for management of bacterial

meningitis adalah sebagai berikut3

N meningitidis - 7 hari

H influenzae - 7 hari

S pneumoniae - 10-14 hari

S agalactiae - 14-21 hari

Bacil aerob Gram negatif - 21 hari atau or 2 minggu

L monocytogenes - 21 hari atau lebih

Rekomendasi terapi empiris antimikroba meningitis berdasarkan usia pasien dan predisposisi
(AIII)3

Rekomendasi dosis pemberin terapi antimikroba pada meningitis bakterialis (AIII)3

DAFTAR PUSTAKA
1

Muller ML, dkk. Pediatric Bacterial Meningitis. May 11th, 2011. Available from:
http://emedicine.medscape.com/article/961497-overview.

Itiantoro H,dkk. Farmakologi dan Terapi. Edisi ke-4. Jakarta. Bagian Farmakologi
FKUI; 2004: 622-650

Tunkel.R,dkk. Practice Guidlines for the Management of bacterial Meningitis. IDSA


Guidline,CID 2004;39

Pudjiadi AH,dkk. Ed. Pedoman Pelayanan Medis Ikatan Dokter Anak Indonesia. Jilid
1. Jakarta : Pengurus Pusat Ikatan Dokter Anak Indonesia; 2010. h. 189-96.

Pusponegoro HD, dkk. Standar Pelayanan Medis Kesehatan Anak. Edisi ke-1. Jakarta:
Badan Penerbit IDAI; 2004 : 200 208.