Anda di halaman 1dari 4

Penyakit Ginjal Kronis (PGK) atau sering disebut End Stage Renal Disease (ESRD)

adalah stadium akhir dari gangguan fungsi ginjal yang bersifat permanen dan tidak bisa
berfungsi dengan baik (Agency for Healthcare Research and Quality / AHRQ, 2012). Gagal
ginjal kronis atau penyakit renal tahap akhir (GGK) merupakan gangguan fungsi renal yang
progresif dan ireversibel dimana kemampuan tubuh gagal untuk mempertahankan metabolisme
dan keseimbangan cairan dan elektrolit, yang dapat menyebabkan terjadinya uremia (retensi urea
dan sampah nitrogen lain dalam darah) (Smeltzer & Bare, 2002). GGK adalah bila ginjal
mengalami penurunan fungsi laju filtrasi glomerulus dibawah 60 mL/min/1.73m2 dengan atau
tanpa kerusakan ginjal (NKF DOQI, 2002).
Seiring dengan pertambahan penduduk di Amerika diperkirakan kasus penderita dengan
PGK naik di atas 570.000 pada tahun 2011. Tingkat kasus PGK lazim mencapai 1.738 per juta
penduduk, meningkat 2,1% dari 2008, dan konsisten dengan kenaikan serupa per tahun sejak
tahun 2002 (United States Renal Data System / USRDS, 2011). Data dari USRDS berdasarkan
laporan tahun 2011, pada 31 Desember 2009 jumlah populasi pasien dengan PGK adalah
570.349. Disisi lain angka kejadian penderita PGK di Indonesia tahun 2002 sebesar 2149
meningkat menjadi 4656 pada tahun 2006. Adapun tingkat prevalensi perjuta populasi tahun
2002 adalah 10,2%, tahun 2003 sebesar 11,7%, tahun 2004 sebesar 13,8%, tahun 2005 sebesar
18,4%, tahun 2006 sebesar 23,4% dan dari data PT Askes, dilaporkan 481 kasus gagal ginjal
terjadi pada tahun 1989 di Indonesia. Dalam waktu lima tahun, kasus gagal ginjal meningkat
sekitar 3,8 kali dengan 1833 kasus,(bali post 9 januari 2013) . Salah satu tindakan terapi
pengganti ginjal adalah dengan hemodialisis. Walaupun masih ada alternatif terapi pengganti
ginjal yang lain seperti peritoneal dialisis dan transplantasi ginjal tetapi penderita PGK lebih
banyak yang memilih hemodialisis. Jumlah penderita PGK di Indonesia yang menjalani

hemodialisis pada tahun 2002 adalah sebesar 2077 meningkat menjadi 4344 pada tahun 2006,
(Prodjosudjadi & Suhardjono, 2009). Sementara itu data dari Unit Hemodialisis RSUD
Karangasem pada bulan Januari 2014 terdapat 40 pasien PGK yang menjalani Hemodialisis.
Hemodialisa merupakan suatu cara untuk mengeluarkan produk sisa metabolisme berupa
larutan dan air yang ada pada darah melalui membrane semipermeabel aatau yang disebut
dengan dialyzer (Thomas, 2002). Prinsip kerja perpindahan cairan pada hemodialisa adalah
difusi, osmosis, ultrailtrasi dan konvensi (Thomas, 2002 ; Kallenbach Gutch, Stoner, dan Corc,
2005).

Melalui proses difusi molekul dalam darah dapat berpindah ke dialisat. Proses

perpidahan ini terjadi karena adanya perbedaan konsentrasi larutan, dimana konsentrasi darah
lebih tinggi daripada konsentrasi dialisat. Osmosis adalah perpindahan air dari tekanan tinggi ke
tekanan yang lebih rendah. Ultrailtrasi merupakan perpindahan cairan dari kompartmen darah ke
kompartmen dialisat melalui membrane semipermeabel karana adanya perbedaan tekanan
hidrostatik. Perpindahan cairan pada proses ultrailtrasi, larutan atau molekul yang terlarut dalam
cairan tersebut ikut berpindah kedalam cairan dialisat disebut konvensi.
Hemoglobin adalah protein yang kaya akan zat besi. Ia memiliki afinitas (daya gabung)
terhadap oksigen dan dengan oksigen itu membentuk oxihemoglobin di dalam sel darah merah.
Dengan melalui fungsi ini maka oksigen di bawa dari paru-paru ke jaringan-jaringan.
Kekurangan Hemoglobin menyebabkan terjadinya anemia, yang ditandai dengan gejala
kelelahan, sesak napas, pucat dan pusing. Kelebihan Hemoglobin akan menyebabkan terjadinya
kekentalan darah jika kadarnya sekitar 18-19 gr/ml. (Evelyn,2000).
Anemia pada penyakit ginjal kronik dipengaruhi oleh uremia sehingga produksi
eritropoetin (EPO) berkurang, usia eritrosit yang memendek, kehilangan darah selama proses
dialysis, defisiensi besi,. Bila tidak diatasi anemia akan menyebabkan gangguan fisiologis

berkurangnya suplai oksigen ke jaringan, peningkatan curah jantung, hipertrofi ventrikel kiri,
payah jantung kongestif, penurunan kemampuan kognitif dan mental, gangguan menstruasi,
impotensi dan gangguan respon imun.(repository.usu.ac.id)
Pedoman

Kidney Disease Outcome Quality Initiative (KDOQI) pada tahun 2007

menganjurkan target hemoglobin (Hb) pada pasien dialisis antara 11-12 gr/dl. Selain transfusi
darah, koreksi anemia dapat dilakukan dengan pemberian eritropoetin (EPO). Di Indonesia,
transfusi darah merupakan pilihan terapi bagi sebagian besar pasien hemodialisis yang
mengalami anemia.
Eritropoetin merupakan molekul glikoprotein yang terdiri dari 165 asam amino dan 4
gugus karbohidrat dengan berat molekul sekitar 34 k dalton. Peran eritropoetin dalam produksi
sel darah merah melalui meningkatkan survival, proliferasi dan diferensiasi dari progenitor
eritroid pada sumsum tulang. (Sari Pediatri 2008;9(6):375-80). Produksi eritropoitin dalam tubuh
bergantung pada tekanan oksigen jaringan dan dimodulasi oleh suatu mekanisme umpan balik
positif maupun negatif. Pada tekanan oksigen yang rendah, produksi meningkat yang akan
menimbulkan peningkatan produksi eritrosit di sumsum tulang. Peningkatan suplai oksigen
menuju jaringan akan menyebabkan penurunan produksi EPO. (http://journal.unair.ac.id)
Berdasarkan hal tersebut peneliti tertarik untuk melakukan penelitian yang berjudul
Pengaruh pemberian terapi EPO terhadap kadar HB pasien Hemodialisa.
Desain Penelitian
Penelitian ini merupakan penelitian pra eksperimental dengan rancangan "one group pre test post test design". Tes yang dilakukan berusaha untuk mengungkap keluhan yang dirasakan oleh

penderita serta dan mengukur tekanan darahnya. Rancangan Penelitian dapat digambarkan
sebagai berikut:
O1 ------------------_ T -----------------_ O2
O1 adalah Pre tes
O2 adalah Pos tes
T adalah Treatment dalam hal ini terapi EPO.