Anda di halaman 1dari 49

LAPORAN TERBAIK

PRAKTIKUM BIOKIMIA
PERCOBAAN II
ENZIM : PENGARUH PEMANASAN DAN INHIBITOR
TERHADAP AKTIVITAS ENZIM

Disusun Oleh :
24030112130052

Arif Abdul Malik


Daru Seto Bagus A

24030112130040

Desita Triana

24030112130038

Dwi Siswi Anggraeni

24030112130033

Nunik Hadiyati Hamda

24030112140035

Sovi Farnola

24030112140034

Rendy Nurpratama

24030111130044

Riyadini Utari

24030112130041

Zenima Patris

24030112130042

ASISTEN :
Putri Anni Maulida
24030111130072

JURUSAN KIMIA
FAKULTAS SAINS DAN MATEMATIKA
UNIVERSITAS DIPONEGORO
SEMARANG
2014

ABSTRAK
Telah dilakukan percobaan yang berjudul Enzim : Pengaruh Pemanasan
dan Inhibitor terhadap Aktivitas Enzim. Tujuan dari percobaan ini yakni untuk
mengetahui pengaruh pemanasan dan inhibitor terhadap aktivitas enzim. Prinsip
dari percobaan ini adalah pengaruh faktor eksternal (pemanasan dan penambahan
inhibitor) pada aktivitas enzim. Metode dari percobaaan ini adalah penambahan
inhibitor dan Pemanasan. Hasil yang didapatkan adalah temperatur yang tinggi
(pemanasan) ataupun penambahan inhibitor akan mengakibatkan terhambatnya
aktivitas suatu enzim. Hasil percobaan dari uji aktivitas enzim amilase didapat
bahwa pada tabung yang direaksikan dengan iodine pada tabung I tidak terjadi
perubahan warna (bening) artinya enzim bekerja memecah amilum menjadi
glukosa, uji positif. Pada tabung II terbentuk warna larutan menjadi biru
kehitaman yang menandakan enzim tidak bekerja dalam memecah amilum akibat
pemanasan. Pada tabung III warna larutan menjadi ungu muda, menandakan
enzim tidak bekerja dalam memecah amilum akibat pengaruh inhibitor. Pada
tabung IV warna larutan menjadi ungu agak tua karena tidak ada enzim yang
memecah amilum, dan pada tabung V warna larutan menjadi ungu tua, tidak ada
enzim yang memecah amilum. Pada uji aktivitas enzim amilase dengan benedict,
pada tabung I warna larutan bening dan terdapat endapan kuning-kehijauan, uji
negatif. Uji positif jika amilum telah terpecah menjadi glukosa pada penambahan
benedict terbentuk endapan merah bata. Pada tabung II, III, IV, dan V warna
larutan bening kebiruan. Sedangkan untuk uji aktivitas enzim lipase pankreatik
hasil yang didapat setelah inkubasi yaitu pada tabung I warna larutan orange
artinya amilase telah bekera memecah amilum, pada tabung II warna larutan
orange dan terdapat minyak pada bagian atas larutan, artinya enzim tidak bekerja
dalam memecah amilum akibat pemanasan, uji negatif. Pada tabung III warna
larutan terbagi menjadi tiga lapisan, paling atas minyak (merah muda), orange,
dan palin bawah hijau (inhibitor), uji negatif. Pada tabung IV warna larutan merah
muda (minyak) dan bagian bawah biru (inhibitor). Pada tabung V warna larutan
kuning.
Kata Kunci : Pemanasan, Inhibitor, Enzim Amilase dan Lipase Pankreatik

ABSTRACT
Has been done an experiment entitled "Enzymes: Effect of Heating and
inhibitors of the enzyme activity". The purpose of this experiment which is to
determine the effect of heating and inhibitors of the enzyme activity. The principle
in this experiment is the influence of external factors (heating and addition of
inhibitors) on enzyme activity. The method of this experiment was the addition of
inhibitors and Heating. The results obtained are high temperature (heating) or the
addition of inhibitors will lead to inhibition of the activity of an enzyme. The
result activity assay of amylase enzyme shows that the tube is reacted with iodine
in the first tube, no changes in color (clear) means enzymes work break down
starch into glucose, a positive test. In the second tube to form a blue-black color
of the solution indicating the enzyme does not work in breaking down starch due
to heating. In the third tube light purple color of the solution, indicating the
enzyme does not work in breaking down starch due to the influence of inhibitors.
In the IV tube purple color of the solution became a little old because no enzyme
that breaks down starch, and the tube V solution became dark purple color, no
enzyme that breaks down starch. In activity assay of amylase enzyme with
benedict, the first tube form to clear solution colors and there is yellow-greenish
precipitate, a negative test. The positive test shows if the starch has been broken
down into glucose in addition benedict brick red precipitate is formed. On the tube
II, III, IV, and V color bluish clear solution. As for pancreatic lipase activity test
results obtained after incubation is the first tube color orange solution, means
amylase breaks down starch has worked, the second tube color orange solution
and there is oil on the top of the solution, meaning that the enzyme does not work
in breaking down starch due to heating, negative test. In the third tube color of the
solution is divided into three layers, the top was oil (pink), orange, and the bottom
was green (inhibitor), a negative test. In the IV tube color pink solution (oil) and
the bottom of the blue (inhibitors). On the tube V color yellow solution.
Keywords: Heating, inhibitors, enzymes amylase and pancreatic lipase

PERCOBAAN II
ENZIM : PENGARUH PEMANASAN DAN INHIBITOR
TERHADAP AKTIVITAS ENZIM
1.

TUJUAN PERCOBAAN
Mengetahui pengaruh pemanasan dan inhibitor terhadap aktivitas enzim

2. DASAR TEORI
2.1. Enzim
Kata enzim berarti dalam ragi. Manusia telah menggunakan
enzim sejak zaman prasejarah dalam memproduksi anggur, cuka dan keju.
Suatu enzim adalah suatu katalis biologis. Hewan tingkat tinggi
mengandung ribuan enzim. Enzim merupakan katalis yang lebih efisien
dari pada kebanyakan katalis laboratorium atau industri. Enzim juga
memungkinkan suatu selektivitas pereaksi dan suatu pengendalian laju
reaksi yang tidak dimungkinkan oleh kelas katalis lain. Semua enzim
adalah protein. Untuk aktivitas biologis, beberapa enzim memerlukan
gugus-gugus prostetik atau kofaktor (Fessenden, 1986).
Enzim merupakan polimer biologis yang mengkatalisis lebih dari
satu proses dinamik yang memungkinkan kehidupan. Sebagai determinan
yang menentukan kecepatan berlangsungnya berbagai peristiwa fisiologik,
enzim memainkan peran sentral dalam masalah kesehatan dan penyakit.
Pemecahan makanan untuk memasok energy serta unsur-unsur kimia
pembangun tubuh (building blocks); perakitan building blocks tersebut
menjadi protein, membrane sel. Serta DNA yang mengkodekan informasi
genetic; dan akhirnya peeenggunaan energy untuk menghasilkan gerakan
sel, semua ini dimungkinkan dengan adanya kerja enzim-enzim yang
terkoordinasi secara cermat (Murray, 2001).
2.2. Klasifikasi Enzim
International Union of Biochemistry (IUB) membagi enzim menjadi 6
kelas, yaitu:
2.2.1 Oksidoreduktase : mengkatalisis reaksi oksidasi reduksi, dan
biasanya menggunakan koenzim NAD+ dan NADP+.
Yang termasuk enzim ini dengan nama trivial : Dehidrogenase,
Oksidase, dan Hidroksilase.

2.2.2 Transferase : mengkatalisis pemindahan gugus tertentu, seperti gugus


1-karbon, gugus aldehid dan keton, gugus asil, gugus glikosil, gugus
fosfat dan gugus mengandung S.
Yang termasuk enzim ini dengan nama trivial : Amino transferase,
2.2.3

asil karnitin transferase, transkarboksilase dan glukinase.


Hidrolase : meningkatkan pemecahan ikatan antara karbon dengan
atom lainnya dengan penambahan air.
Yang termasuk enzim ini dengan nama trivial : esterase, amidase,

2.2.4

peptidase,fosfatase dan glikosidase.


Liase : mengkatalisis pemecahan karbon-karbon, karbon-sulfur dan
karbon-nitrogen.
Yang termasuk enzim ini dengan nama trivial : dekarboksilase,

2.2.5

aldolase, sintase dan deaminase.


Isomerase : mengkatalisis raseminasi optic atau isomer geometric
dan reaksi oksidasi reduksi intramolekular tertentu.
Yang termasuk enzim ini dengan nama trivial : epimerase, mutase

2.2.6

dan isomerase.
Liase : mengkatalisis pembentukan ikatan antara karbon dengan
karbon, karbon dengan sulfur, karbon dengan nitrogen dan karbon
dengan oksigen.
Untuk pembentukan ikatan tersebut diperlukan energi yang berasal
dari ATP.
Yang termasuk enzim ini dengan nama trivial : Sintetase dan
Karboksilase (Shahib, 1992).

2.3 Komponen Enzim


Enzim terdiri dari dua komponen, yaitu:
1. Protein
2. Gugus Prostetik (Koenzim)
Bagian apoenzim menyebabkan kekhasan pada enzim. Bagian
gugus prostetik dapat

berupa kofaktor. Kofaktor yaitu senyawa

anorganik yang diperlukan oleh enzim untuk aktivitas biologisnya.


Kofaktor dapat berupa ion logam seperti unsur besi, mangan,
magnesium dan natrium. Koenzim yaitu senyawa organik, misalnya
vitamin B1, B2 dan B6 (Fessenden, 1986).
Komponen Enzim meliputi :
a. Apoenzim

Adalah bagian enzim yang terdiri dari protein.


Sifat: - tidak tahan panas
- tidak mampu melewati membran dialysis.
b. Koenzim
Adalah bagian enzim yang bukan protein.
Sifat: - tahan terhadap panas
- mampu melewati membran dialis.
Holoenzim adalah gabungan antara apoenzim dan koenzim yang
terikat satu sama lain. Koenzim, kofaktor, gugus prostetik merupakan
kokatalis. Gugus prostetik terikat erat pada apoenzim sedangkan
kofaktor tidak begitu erat. Gugus prostetik adalah bagian dari enzim
yang berbentuk molekul organic. Koenzim adalah suatu bagian yang
bertindak sebagai penerima hydrogen atau akseptor hidrogen seperti
NAD/ATP (Winarno, 1986).
Enzim terdiri dari satu atau lebih rantai polipeptida, disamping itu
terdapat pula bagian yang bukan protein yang penting untuk aktivitas
katalitik. Bagian yang bukan protein ini disebut kofaktor. Koenzim
adalah bentuk tertentu dari kofaktor.
Kofaktor dapat dibagi menjadi 3 macam, yaitu : gugus prostetik,
koenzim dan ion metal. Koenzim adalah senyawa organik yang
berasosiasi dengan apoenzim dan bersifat sewaktu (tidak permanen),
biasanya pada saat berlangsung katalisis. Selanjutnya koenzim yang
sama dapat menjadi kofaktor pada enzimyang berbeda. Pada umumnya
koenzim tidak hanya membantu enzim memecah substrat, tetapi juga
bertindak sebagai aseptor sementara untuk produk yang terjadi.
Kebanyakan komponen kimia koenzim adalah vitamin (Shahib, 1992).
a. Inhibitor Enzim
Inhibitor adalah beberapa zat kimia yang dapat menghambat kerja
enzim, misalnya garam-garam dan logam berat seperti air raksa.
Inhibitor dapat dikelompokkanmenjadi tiga macam yaitu inhibitor
kompetitif, inhibitor non-kompetitif dan inhibitor umpan balik
(Poedjiadi, 1994).

Inhibisi kompetitif klasik terjadi pada tapak pengikatan-substrat


(katalitik). Struktur kimia sebuah inhibitor analog-substrat (I) umumnya
menyerupai struktur kimia substrat (S). oleh karena itu, inhibitor
tersebut dapat berikatan secara reversible dengan enzim sehingga yang
seharusnya membentuk kompleks EnzS, justru membentuk kompleks
enzim inhibitor (Enzl).
Pada inhibisi nonkompetitif, tidak terdapat persaingan antara S
dan I. struktur inhibitor biasanya tidak atau hanya sedikit mirip dengan
struktur S dan dapat dianggap berkaitan dengan domain yang berbeda
pada enzim. Inhibitor nonkompetitif reversible menurunkan kecepatan
reaksi maksimal yang diperoleh pada pemberian sejumlah enzim (V maks
yang lebih rendah), tetapi biasanya tidak mempengaruhi nilai K m
(Murray,2001).
b. Sifat-Sifat Enzim
Secara umum, sifat-sifat enzim sebagai berikut:
Sebagai biokatalisator yaitu dapat menggiatkan atau kadang

kadang dapat menyebabkan memuainya proses dalam sel.


Enzim bekarja spesifik artinya untuk merubah atau mereaksikan

suatu zat tertentu memerlukan enzim tertentu pula.


Enzim dapat bekerja bolak-balik artinya suatu reaksi memerlukan
enzim yang sama juga mempengaruhinya adalah jumlah substrat

dan jumlah produksi.


Enzim bekerja sangat cepat.
Enzim tidak ikut bereaksi artinya enzim tidak berubah dan dapat

dipakai kembali setelah reaksi enzimatis berlangsung.


Aktivitas enzim dipengaruhi oleh suhu.
Enzim sensitif terhadap pH (Murray, 2001).

2.4 Kekhasan Enzim


Nama enzim disesuaikan dengan substratnya dengan penambahan
ase di belakangnya. Substrat adalah senyawa yang bereaksi dengan
bantuan enzim. Contoh: enzim menguraikan substrat (urea) disebut urease.
Kelompok enzim yang mempunyai fungsi sejenis diberi nama
menurut fungsinya. Misalnya, hidrolase adalah kelompok enzim yang
mempunyai fungsi sebagai katalis dalam proses hidrolisis. Disamping

nama trival (biasa) maka oleh Commision On Enzimes of The


International Union of Biochemistry telah ditetapkan nama yang
sistematis dan disesuaikan dengan pembagian dan penggolongan enzim
berdasar fungsi.
Kekhasan enzim terhadap suatu reaksi disebut kekhasan reaksi.
Asam amino tertentu sebagai substrat dapat mengalami berbagai reaksi
dengan enzim (Poedjiadi, 1994).
2.5 Dasar Kerja Enzim
Pada umumnya terdapat dua mekanisme kerja enzim yang
mempengaruhi reaksi katalis. Mekanismenya adalah :
a) Enzim meningkatkan kemungkinan molekul molekul yang bereaksi
saling bertemu dengan permukaan yang saling berorientasi. Hal ini
terjadi karena enzim mempunyai suatu afinitas yang tinggi terhadap
substrat dan mempunyai kemampuan mengikatnya walaupun bersifat
sementara. Penyatuan antara substrat dengan enzim tidak seenaknya,
melainkan substrat terikat dengan enzim sedemikian rupa sehingga
setiap substrat terorientasi secara tepat untuk terjadi reaksi.
b) Pembentukan ikatan yang sementara (biasanya ikatan non kovalen)
antara

substrat

dengan

enzim

menimbulkan

penyebaran

ini

menyebabkan suatu regangan pada ikatan kovalen spesifik dalam


molekul substrat sehingga ikatan kovalen tersebut menjadi mudah
pecah. Dapat disimpulkan bahwa enzim mempercepat laju reaksi agar
keseimbangan reaksi tercapai, tetapi tidak mempengaruhi konstanta
keseimbangan.
Banyak faktor yang mempengaruhi laju reaksi suatu enzim
diantaranya yang penting adalah konsentrasi baik substrat maupun enzim.
Faktor utama lainnya antara lain : suhu, pH, kekuatan ikatan ionik dan
adanya inhibitor (penghambat reaksi). Faktor faktor yang mempengaruhi
laju reaksi enzim yaitu
1) Suhu

Laju reaksi meningkat seiiring bertambahnya suhu, namun apabila


suhu terlalu tinggi, maka enzim akan rusak sehingga reaksi berjalan
optimal. Suhu normal untuk aktivitas enzim berkisar antara 25 - 370C.
2) Derajat Keasamam (pH)
Pengaruh pH terhadap suatu reaksi enzim menjadi rumit oleh
beberapa faktor yang dapat saling bersaing apabila aktifitas enzim
mencapai maksimum jika pH mencapai optimum, maka laju reaksi
akan berkurang di kedua sisi pH optimum. Untuk setiap kombinasi
dari 3 aturan yang mungkin :
Protein enzim terdenaturasi akibat pH ekstrem tinggi atau rendah.
Protein enzim dapat memerlukan gugus gugus amino yang
terionisasikan pada rantai samping yang mungkin di titik hanya
pada satu keadaan ionisasi.
Substrat dapat memperoleh protein dalam satu bentuk muatan.
3)

Konsentrasi Enzim
Laju meningkat secara linier dengan bertambahnya konsentrasi enzim
jenuh lebih sedikit dari konsetrasi substrat.

4)

Konsentrasi Substrat
Laju reaksi yang mengkatalisasikan dengan enzim mula mula berada
pada kesetimbangan, namun seiring konsentrasi substrat dinaikkan
lebih lanjut atau berlebih akan tercapai suatu laju limit atau laju
maksimum suatu reaksi hingga pada saat penambahan substrat lebih
lanjut tidak mempengaruhi reaksi (kinetika penjenuhan) ( Petrucci,
1997 ).

2.6 Fungsi dan Cara Kerja Enzim


2.6.1 Fungsi Enzim
Adalah sebagai katalis untuk proses biokimia yang terjadi
didalam maupun di luar sel. Suatu enzim dapat mempercepat reaksi
106 1011 kali lebih cepat dari pada bila reaksi tersebut berlangsung
tanpa katalis (Poedjiadi, 1994).
2.6.2 Cara Kerja Enzim

Enzim diduga menyesuaikan diri di sekitar substrat


( molekul yang akan dikerjakan ) untuk membentuk kompleks enzim
substrat. Ikatan menjadi tegang oleh gaya terik antara substrat dan
enzim. Ikatan tegang mempunyai energi dam mudah terpatahkan
sehingga reaksi berlangsung lebih mudah dan menghasilkan
kompleks enzim substrat.
E+S

Keterangan :

ES

E+P

E + S = enzim + substrat
ES

= kompleks enzim substrat

E + P = enzim + produk
Bentuk yang diubah dari produk menyebabkan kompleks
itu berdisosiasi dan permukaan enzim siap menerima substrat lain.
Teori aktivitas enzim ini disebut Teori Kesesuaian Terimbas
(Induced-Fit Theory) ( Fessenden, 1983 ).
Aktivitas enzim dapat dipengaruhi oleh beberapa jenis
molekul. Molekul-molekul yang menurunkan aktivitas katalitik
enzim disebut inhibitor. Beberapa inhibitor enzim adalah metabolit
seluler untuk mengendalikan jalur metabolit. Inhibitor lain mungkin
berupa zat asing, seperti obat dan toksin, dimana pengaruhnya pada
inhibisi enzim dapat berupa pengobatan dan pengaruh berbahaya
yang

dapat

mematikan. Pada

praktikum

ini

dilakukan

percobaan untuk mengetahui pengaruh inhibitor terhadap aktivitas


enzim dilihat dari harga Vmaks dan KM reaksi dengan inhibitor dan
tanpa inhibitor (Poedjiadi, 1994).
Inhibitor merupakan suatu senyawa yang dapat menghambat
atau menurunkan laju reaksi yang dikatalisis oleh enzim. Terdapat
dua jenis inhibitor utama, yaitu inhibitor yang bekerja secara tidak
balik (irreversible) dan inhibitor yang bekerja secara dapat balik
(reversible) (Poedjiadi, 1994).
Inhibitor tidak dapat balik bekerja dengan mengikat sisi aktif
enzim melalui reaksi irreversible, E + I EI, sehingga inhibitor

mengikat enzim, inhibitor tidak dapat dipisahkan dari sisi aktif


enzim. Keadaan ini menyebabkan enzim tidak dapat mengikat
substrat terhadap atau inhibitor merusak beberapa komponen (gugus
fungsi) pada sisi katalitik molekul enzim.
Inhibitor dapat balik mengikat sisi aktif enzim melalui
reaksi reversible dan inhibitor ini dapat dipisahkan atau dilepaskan
kembali dari ikatannya, misalnya dengan dialisis. Inhibitor dapat
balik terdiri dari dua jenis, yaitu inhibitor yang bekerja secara
kompetitif, dan non-kompetitif (Poedjiadi, 1994).
2.6.2.1. Inhibitor Kompetitif
Inhibitor yang bekerja secara kompetitif umumnya
mempunyai struktur tiga dimensi yang mirirp dengan
substrat yang reaksinya dikatalisis oleh inhibitor tersebut.
Oleh karena itu, dalam suatu campuran reaksi inhibitor akan
bereaksi dengan substrat untuk terikat pada sisi aktif enzim.
Enzim yang telah mengikat inhibitor tidak dapat bereaksi
dengan substrat untuk menghasilkan produk, sedangkan
enzim yang telah mengikat substrat dapat menghasilkan
produk, tetapi tidak dapat berikatan dengan inhibitor.
Contoh

inhibitor

kompetitif

adalah

malonat

yang

menginhibisi reaksi yang dikatalisis oleh enzim suksinat


dehidrogenase. Enzim suksinat dehidrogenase mengkatalisis
pembebasan dua atom hidrogen dari suksinat, yaitu satu dari
masing-masing

kedua

gugus

metilenya

(-CH2-).

Dehidrogenasi suksinat ini dihambat oleh malonat yang


menyerupai suksinat karena sama-sama memiliki gugus
karboksil bermuatan negatif yang berjarak tepat sehingga
dapat menempati sisi aktif enzim. Akan tetapi, malonat
tidak terhidrogenasi oleh enzim suksinat hidrogenase,
malonat hanya menempati sisi aktif enzim tersebut dan
menguncinya sehingga enzim tidak dapat bekerja pada
substrat (Poedjiadi, 1994).

2.6.2.2. Inhibisi Non-Kompetitif


Inhibitor kompetitif mengikat enzim pada sisi
pengikatan yang berbeda dari substrat. Dengan terikatnya
inhibitor, aktivitas katalitik enzim menjadi rusak. Hal ini
mungkin disebabkan oleh inhibitor terikat pada sisi katalitik
enzim atau pada sisi yang lain (bukan sisi katalitik). Tetapi
pengikatannya menyebabkan perubahan komformasi enzim
yang mempengaruhi keadaan sisi katalitik walaupun tidak
mempengaruhi sisi pengikatan substrat. Inhibitor yang
bekerja secara non-kompetitif dapat berikatan dengan
molekul enzim bebas

dan kompleks

enzim-substrat

menghasilkan kompleks inhibitor yang tidak aktif (tidak


menghasilkan produk) (Poedjiadi, 1994).
2.7 Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Kerja Enzim
Ada beberapa faktor yang mempengaruhi aktivitas enzim. Faktorfaktor tersebut dapat bersifat fisik atau bersifat kimia yaitu :
2.7.1. Suhu atau Temperatur
Laju reaksi yang dikatalis oleh enzim akan meningkat dengan
adanya penurunan suhu. Pada suhu transisi aktivitas enzim menurun
tajam. Kenaikan kecepatan dibawah temperatur optimal disebabkan
oleh kenaikan energi kinetika molekul yang bereaksi. Bila suhunya
dinaikkan terus, energi kinetika menjadi besar sehingga melampaui
penghitung energi untuk memecahkan ikatan sekunder yang
mempertahankan enzim dalam bentuk aslinya. Akibatnya struktur
sekunder dan tersier hilang disertai hilangnya aktivitas biologis
(Mayes, 1992).

Aktivitas
Enzim

37o C Temperatur
( suhu optimum )
Gambar Grafik
Hubungan temperatur dengan aktivitas enzim
(Underwood, 1994)

2.7.2 Konsentrasi Substrat


Bila konsentrasi substrat (s) naik sedangkan semua keadaan
lainya dipertahankan tetap, kecepatan tetap, keceepatan awal yang
diukur v naik sampai nilai maksimum v berhenti. Efek konsentrasi
substrat pada kecepatan reaksi yang dikatalis enzim.
Kecepatan akan naik bila konsentrasi substrat dinaikkan
sampai konsentrasi enzim dikatakan telah jenuh dengan substrat.
Jumlah substrat masih melebihi jumlah enzim dengan persamaan
molar yang besar. Apabila titik A dan B, Kenaikkan atau penurunan
jumlah enzim tergabung dengan substrat dan v akan tergantung pada
(s). Pada C, semua enzim tergabung dengan substrat sehingga
kenaikkan selanjutya dari S. Walau ini menaikkan konsentrasi
benturan anatar enzim dan substrat tidak dapat menaikkan kecepatan
reaksi karena tidak ada enzim yang terdapat unsur bereaksi.

(Poedjiadi, 1994)
2.7.3 Pengaruh pH
Enzim menunjukkan aktivitas maksimum pada suatu kisaran
pH yang disebut pH optimum, yang umumnya antara pH 4,5 8,0.
suatu enzim tertentu

mempunyai pH optimum sangat ekstrim ,

misalnya pepsin pada pH 1,8 dan organisme pada pH 10,0.


Kisaran pH yang ekstrim, baik asam maupun basa terjadi
aktivasi, yang irreversible. Pada kisaran pH selebihnya masih dapat
terjadi inaktivasi, tetapi bersifat reversible. Perlu diketahui pada
enzim yang sama, sering pH umumnya berbeda, tergantung asal
enzim tersebut. Misalnya metal esterase yang diperoleh dari kapan
mempunyai pH optimum sekitar 5,0 sedang enzim yang sama yang
diperoleh dari kacang merah mempunyai pH sekitar 8,5.

Aktivitas
Enzim

7pH
( suhu optimum )
Gambar Grafik
Hubungan pH dengan aktivitas enzim
(Poedjiadi, 1994)

.2.7.4Pengaruh Ion Logam


Lebih dari 25% dari keseluruhan enzim mengandung ion
logam yang terikat erat atau membutuhkan ion logam bagi
aktivitasnya. Metal enzim mengandung ion logam fungsional dalam
jumlah pasti yang dipertahankan selama proses pemurnian. Enzim
yang diaktifkan oleh logam memperlihatkan ikatan dengan logam
yang kurang erat, namun memerlukan logam tambahan. Dengan
demikian perbedaan metaloenzim dan enzim yag diaktifkan oleh

logam terletak pada afinitas enzim terhadap ion logam. Mekanisme


yang diinginkan ion logam untuk melaksanakan fungsinya tampak
serupa dengan metaloenzim dan enzim yang diaktifkan oleh logam
(Murray, 1997).
2.8. Katalis
Katalis merupakan suatu zat yang mempengaruhi laju reaksi tanpa
adanya perubahan permanen pada zat tersebut. Katalis berfungsi untuk
meningkatkan kecepatan reaksi.
Katalis dibedakan menjadi:
a) Katalis Homogen
Katalis homogen adalah jenis katalis yang berfase sama dengan
pereaksi.
b) Katalis Heterogen
Katalis heterogen adalah jenis katalis yang tidak berfase sama dengan
pereaksi (Keenan, 1984).
2.9. Katalis Enzimatis
Banyak reaksi dalam kimia sistem organik dilakukan dengan enzim
sebagai katalis. Enzim merupakan protein yang terdiri dari berbagai asam
amino sama seperti molekul lain. Katalis enzimatik melibatkan ikatanikatan kimia yang digunakan dengan ikatan-ikatan pada reaksi kimia
organik biasa. Dalam pelaksanaannya, katalis enzimatik menggunakan
struktur yang dibentuk oleh berbagai gugus asam amino dan prostestik.
Sejumlah protein bertindak cepat sebagai katalis yang sangat reaktif, lebih
reaktif dari senyawa lsin yang dapat mempercepat sejumlah reaksi karena
protein mampu dirakit menjadi beberapa bentuk.
Dasar fungsi enzim adalah keefektifan katalis asam amino, gugus
karboksil dan gugus pengikat lain dinaikkan beberapa puluh kaki lipat
dengan menempatkannya dalam ruang tertentu sehingga dapat mengunci
senyawa yang dipengaruhi.

Suatu senyawanya dapat mengkatalis reaksi dari beberapa substrat


yang berbeda. Falam reaksi enzimatik gugus pengikat dan gugus-gugus
katalistik dan enzim bergabung dengan substrat membentuk kompleks
enzim substrat/ kemampuan enzim prostate ( Poedjiadi, 1994 ).
2.10.Kinetika Katalis Enzim
Salah satu reaksi kimia yang paling sederhana adalah pengubahan
suatu molekul zat S, menjadi suatu molekul hasilnya P, dengan laju reaksi
k. Reaksi ini dapat dituliskan sebagai berikut :
S

Dalam reaksi yang dikatalis enzim semacam S, disebut substrat atau


senyawa yang transformasinya dikatalis oleh enzim. Pada reaksi ini panah
baliknya dihapuskan karena kesetimbangan reaksinya jauh cenderung
menuju ke hasilnya atau sebab beranjak dari konsentrasi hasil nol (hanya
meninjau tahap awal reaksi sebelum hasil yang memadai terkumpul). Hal
ini berarti bahwa jumlah dari bentuk hasilnya tidak penting. Jadi dengan
model ini dapat pula dicakup peningkatan banyaknya reaksi enzim. Dan
dengan hasil ini dapat di tuliskan :
S+A

Jika terdapat sejumlah besar A dibandingkan dengan S sehingga


konsentrasinya dapat dianggap tetap sebelum reaksi. Dalm hal ini
konstanta K sama dengan K kali konsentrasi A yang tak berubah.
Misalnya semua reaksi hidrolisis, termasuk jenis ini dengan A ialah air.
Apabila tidak ada enzim pada kebanyakan reaksi hidrolase, laju
pembentukan hasilnya diabaikan (atau penekanan substrat). Biasanya laju
reaksi semacam itu disebut kecepatan (V) reaksi.
V = -d [S] / dt
= K [S]
Akan tetapi dengan enzim dan konsentrasi substrat pada persamaan
ini tidak berlaku, K tidak lagi konstan tetapi sebanding dengan konsentrasi
enzim.
d [S] / dt = -K [S]

(Poedjiadi, 1994)
2.11. Sisi Aktif Enzim
Yaitu daerah terspesialisasi dari protein dimana enzim berikatan
dengan substrat. Sisi aktif dari suatu enzim merupakan suatu celah yang
terspesialisasi untuk mengenal substrat khusus dan mengkatalisis
transformasi kimia (Poedjiadi, 1994).
2.12 Aktivitas Enzim
Aktivitas juga disebut kinetika enzim. Kinetika enzim adalah
kemampuan enzim dalam membantu reaksi kimia. Kemampuan enzim ini
dapat dihitung dengan mengukur jumlah produk yang terbentuk atau
dengan menghitung kurangnya substrat dalam satuan waktu tertentu.
Selain itu dapat juga dihitung dengan peningkatan atau penurunan
koenzim. Menghitung jumlah substrat, produk atau koenzim di dalam
laboratorium tidak mudah karena jumlahnya yang sangat sedikit. Oleh
karena itu, menghitung aktivitas enzim dilakukan dengan mengukur
perubahan absorbansi dalam satuan waktu, pH dan suhu tertentu sewaktu
reaksi berjalan (Poedjiadi, 1994).
2.13 Substrat Enzim
Yaitu senyawa organik atau anorganik yang dipengaruhi atau
dikatalisis oleh enzim. Struktur kimia substrat dapat berupa sederhana
tetapi dapat juga kompleks. Setiap enzim mempunyai substratnya yang
tertentu ( Poedjiadi, 1994).
2.14 Enzim Lipase
Enzim ini mengkatalisis pemecahan lemak menjadi asam lemak
dan gliserol. Enzim lipase mempunyai sifat khusus dapat memecah
ikatan ester pada lemak dan gliserol. Lipase mempunyai kemampuan
mengkatalisis reaksi organik baik didalam media air maupun non air.
Enzim lipase sangat berperan dalam pemisahan asam lemak dan
pelarutan noda minyak pada alat industri agar minyak dapat dilarutkan

dalam air. Reaksi yang dikatalisis enzim lipase adalah reaksi hidrolisis,
alkoholis, esterifikasi, dan interesterifikasi.
Aktivitas optimum lipase pada pH 8. Pada pH 8 gugus pemberi dan
penerima proton yang penting pada sisi katalitik enzim perada pada keadaan
yang diinginkan sehingga aktivitas katalitiknya tinggi (Winarno, 1983).

2.15 Suhu Optimum Enzim Lipase


Suhu optimum enzim lipase umumnya berkisar antara 30-40 0C.
Meskipun telah ditemukan adanya lipase yang aktif pada suhu -29 0C
terutama pada ikan dan udang yang dibekukan (Winarno, 1983).
2.16 Enzim Amilase
Enzim amilase terdapat dalam saliva atau air liur manusia. Amilase
yang

terdapat

menghidrolisis

dalam

saliva

adalam

-Amilase

yang

mampu

polisakarida dan glikogen menjadi maltosa dan

oligosakarida dengan menyerang ikatan -1,4 glikosida. Amilase akan


segera terinaktivase pada pH 4,0 atau kurang sehingga pencernaan
makanan dalam mulut akan terhenti bila lingkungan lambung yang asam
menembus partikel makanan (Winarno, 1983).

2.17 Suhu Optimum Enzim Amilase


Suhu optimum enzim amilase yang terdapat dalam saliva (enzim amilase) adalah 37 0C, sama dengan suhu normal tubuh. Secara umum
enzim amilase bekerja optimal pada pH 6,6 (Winarno, 1983).
2.18 Inkubasi
Inkubasi
pertumbuhan

merupakan

alat

yang digunakan

bakteri yang akan

sebagai

tempat

dibiakkan, yang dapat diatur

termperaturnya sehingga sesuai dengan temparatur yang diperlukan


bakteri agar dapat tumbuh dan berkembangbiak dengan secara optimal.
Pengaturan temperatur pada temperatur optimum tersebut dimaksudkan
agar bakteri mudah berkembang biak dan tumbuh secara optimal.
Penginkubasian dilakukan untuk menumbuhkan bakteri yang akan
dibiakkan sesuai dengan suhu yang diperlukan bakteri untuk tumbuh.
Misalnya

temperatur

optimum

untuk

pertumbuhan

bakteri

Staphylococcus aureus berkisar antara 25 - 75o C sedangkan temperatur


minimum antara (-5) (-45)oC (Winarno, 1983).
2.19Inhibitor
Inhibitor adalah zat yang menghambat atau menurunkan laju reaksi
kimia. Sifat inhibitor berlawanan dengan katalis, yang mempercepat laju
reaksi. Dalam biokimia, inhibitor umumnya terbatas pada enzim. Dalam
hal ini, inhibitor berarti senyawa non-protein yang menghambat kerja
enzim. Berdasarkan kestabilannya, inhibitor dibedakan menjadi inhibitor
reversible dan inhibitor irreversible, Inhibitor reversible adalah inhibitor
yang reaksi kimianya berjalan dua arah atau dapat balik dan bersifat tidak
stabil, di mana ketika inhibitor mengikat sisi aktif enzim, maka inhibitor
ini dapat dipisahkan lagi dari ikatannya. Inhibitor irreversible adalah
inhibitor yang reaksi kimianya berjalan satu arah, di mana setelah
inhibitor mengikat enzim, inhibitor tidak dapat dipisahkan dan bersifat
stabil. Inhibitor reversible dibedakan menjadi inhibitor kompetitif dan
inhibitor

non-kompetitif. Inhibitor

kompetitif adalah

molekul

penghambat yang bersaing dengan substrat untuk mendapatkan sisi aktif


enzim. Namun setelah inhibitor menempati sisi aktif, enzim bebas dan
produk tidak segera terbentuk, sehingga jumlah enzim atau kompleks
enzim substrat berkurang. Inhibitor non-kompetitif adalah penghambat
yang dapat berikatan dengan enzim maupun dengan kompleks enzimsubstrat. Jika inhibitor menempel pada enzim, maka struktur sisi aktif
enzim akan berubah namun substrat masih bisa menempel pada sisi aktif,
tetapi kerja enzim tidak dapat terlaksana.
2.20 Analisa Bahan
2.20.1 Amilum
Sifat Fisik: Merupakan Polisakarida yang dalam bahasa
sehari-hari disebut pati, terdapat pada
umbi, daun, dan biji-bijian. Terdiri atas dua
macam polisakarida yaitu amilosa dan
amilopektin.
Sifat Kimia: Campuran 10 - 20% amilosa dan 80 - 90%
amilopeptin.

Jika

bereaksi

dengan

iodine

membentuk warna hijau (Basri, 1996).


2.20.2 Iodin
Sifat Fisik: Berat atom
berwarna

126,90 gram/mol, nomor atom 53,


hitam kebiruan dengan uap ungu,

digunakan sebagai bahan antiseptic, katalis dan lainlain


Sifat Kimia: Larut dalam alkohol, klorofom, eter, gliserol, dan
karbon disulfida, tidak larut dalam air (Basri, 1996).
2.20.3 Aquades
Sifat Fisik : titik didih 100C, titik beku 0C, memiliki Kb = 0,51
gram/mol
Sifat Kimia : Memiliki rumus molekul H2O, merupakan senyawa
berfasa cair, tidak berwarna (Mulyono, 2005).
2.20.4 Saliva

Saliva adalah cairan yang lebih kental daripada air biasa. Tiap hari
sekitar 1 1,2 liter saliva dikeluarkan oleh kelenjar saliva. Saliva
terdiri dari 99,24% air dan 0,58% terdiri atas ion Ca 2+, Na+, K+,
PO4-, Cl, HCO3, SO42- dan zat zat organic seperti enzim
amilase dan ptyalin (Milller,1993).
2.20.5 Enzim Amilase
Termasuk

kelompok

enzim

hidrolase

yaitu

enzim

yang

mengkatalis hidrolisa substrat dengan molekul air. Enzim amilase


dapat memecah ikatan peptide dalam amilum sehingga terbentuk
maltose. Macam macam enzim amilase, amilase, amilase,
terdapat dalam saliva dari pankreas (Poedjiadi, 1994).
2.20.6 Pereaksi Benedict
Sifat Fisik

: Terdiri atas larutan CuSO4, Na2CO3 dan Na2SO4.

Sifat Kimia

: bila senyawa aldehid dipanaskan dengan benedict


maka akan teroksidasi menjadi asam karboksilat,
benedict akan tereduksi menjadi endapan Cu2O
(Suminar, 1994).

2.20.7 Minyak Kelapa


Sifat Fisik

: Kental, bening, berbau harum

Sifat Kimia : Berasal dari kelapa, kadar air dan kadar asam
lemak bebas rendah (Basri, 1996).
2.20.8 Alkohol
Sifat Fisik

: Tidak berwarna, mudah menguap

Sifat Kimia : Merupakan senyawa polar, memiliki gugus


hidroksil (-OH) (Basri, 1996).
2.20.9 Detergen
Sifat Fisik

: Berwarna biru, berbentuk cairan kental, berbau


harum

Sifat Kimia : memiliki 2 sifat, ekor bersifat hidrofob dan kepala


bersifat hidrofil
2.20.10 Na2CO3
Sifat Fisik : Larutan bening, tidak berwarna, BM = 105,9778

Sifat Kimia: Larut dalam senyawa polar, dapat menyebabkan


iritasi kulit (Basri, 1996).
2.20.11 Fenol Merah
Sifat fisik

: Berbentuk cairan, tidak berwarna

Sifat kimia : Trayek pH 6,4-8,0, berwarna kuning pada larutan


asam, dan berwarna merah pada larutan basa, larut
dalam air, mudah larut dalam kloroform eter
(Basri, 1996).
2.20.12 Tablet Vitazyme
Sifat fisik

:berbentuk tablet padat berwarna orange

Sifat kimia : Vitazym merupakan kombinasi zat-zat yang


berguna untuk membantu proses pencernaan dan
metabolisme di dalam tubuh, mengandung amylase,
protease,

lipase,

asam

deoksikolat,

dimetilpolisiloksan, vitamin B1, vitamin B2, vitamin


B6, vitamin B12, niasinamida (Vitamin B3),
Kalsium pantotenat (Vitamin B5) (Basri, 1996).

3. METODE PERCOBAAN
3.1 Alat dan Bahan
3.1.1 Alat
- Gelas Beker

- Kertas Saring

- Tabung Reaksi

- Penangas air

- Pipet Tetes

- Penjepit

- Corong

- Rak tabung reaksi

- Gelas ukur

- Mortar

3.1.2. Bahan

Larutan Amilum 1%

Larutan I dalam KI

Aquadest

Larutan benedict

Alkohol

Saliva

Lipase Pankreatik (vitazym tablet)

Deterjen Cair

Minyak kelapa

Na2CO3

Indikator fenol merah

3.2 Gambar Alat

Gelas beker

Tabung Reaksi

Penangas Air

Gelas Ukur

Pipet Tetes

Rak tabung reaksi

Kertas Saring

Corong

Penjepit

mortar
3.3 Skema Kerja
3.3.1 Uji Aktivitas Enzim Amilase
2ml larutan saliva + 5ml larutan amilum 1%
Tabung Reaksi 1

Diinkubasi pada suhu ruang

370C selama 30 menit


Pembagian menjadi

bagian 1 diuji dengan larutan


iodine dan bagian 2 diuji
dengan

larutan

benedict

(perlu pemanasaan)
Pengamatan

Hasil

2ml larutan saliva (sudah dididihkan) + 5ml larutan amilum 1%


Tabung Reaksi 2

Diinkubasi pada suhu ruang

370C selama 30 menit


Pembagian menjadi

bagian 1 diuji dengan larutan


iodine dan bagian 2 diuji
dengan

larutan

(perlu pemanasaan)

benedict

Pengamatan

Hasil

2ml larutan saliva + 1ml larutan inhibitor + 5ml larutan amilum 1%


Tabung Reaksi 3

Diinkubasi pada suhu ruang

370C selama 30 menit


Pembagian menjadi

bagian 1 diuji dengan larutan


iodine dan bagian 2 diuji
dengan

larutan

benedict

(perlu pemanasaan)
Pengamatan

Hasil

1ml larutan inhibitor + 5ml larutan amilum 1%

Tabung Reaksi 4

Diinkubasi pada suhu ruang

370C selama 30 menit


Pembagian menjadi

bagian 1 diuji dengan larutan


iodine dan bagian 2 diuji
dengan

Hasil

larutan

(perlu pemanasaan)
Pengamatan

benedict

2ml akuades + 5ml larutan amilum 1%


Tabung Reaksi 5

Diinkubasi pada suhu ruang

370C selama 30 menit


Pembagian menjadi 2 : bagian
1 diuji dengan larutan iodine
dan bagian 2 diuji dengan
larutan

benedict

pemanasaan)
Pengamatan

Hasil

3.3.2 Uji Aktivitas Enzim Lipase Pankreatik


3.3.2.1 Preparasi Larutan Pankreatik
tablet vitazym
Mortar

Hasil

Penggerusan

Penambahan 15 ml akuades

(perlu

3.3.2.2 Preparasi Emulsi Lemak


2 mL minyak kelapa + 10 ml alkohol
Tabung reaksi

Penambahan 12 mL aquades, kocok dengan


cepat

Penambahan 1 mL indikator fenol merah

Penambahan

Na2CO3

0,1

hingga

campuran emulsi lemak berwarna merah


muda

Penyaringan

Hasil

3.2.2.3 Reaksi Enzim Lipase dengan Emulsi Lemak


3 mL Larutan Pankreatik + 3 ml Emulsi Lemak
Tabung reaksi I

Penginkubasian selama 30 menit pada suhu


370C

Pengamatan

Hasil

3 mL Larutan Pankreatik ( telah didihkan 5 menit) + 3 ml Emulsi Lemak


Tabung reaksi II

Penginkubasian selama 30 menit pada suhu


370C

Pengamatan

Hasil

3 mL Larutan Pankreatik + 3 ml Emulsi Lemak + 1 mL Larutan Inhibitor

Tabung reaksi III

Penginkubasian selama 30 menit pada suhu


370C

Pengamatan

Hasil

3 mL Emulsi Lemak + 1 mL Larutan Inhibitor


Tabung reaksi IV

Penginkubasian selama 30 menit pada suhu


370C

Pengamatan

Hasil

3 mL Larutan Pankreatik + 3 ml Aquades


Tabung reaksi V

Penginkubasian selama 30 menit pada suhu


370C

Hasil

Pengamatan

4. DATA PENGAMATAN
N
O
1.

2.

PERLAKUAN

HASIL

o Uji
Aktivitas
Enzim
Amilase
Tabung I : 2ml larutan
saliva + larutan amilum
1%
Tabung II : 2ml larutan
saliva (sudah dididihkan)
+ 5ml larutan amilum 1%
Tabung III : 2ml larutan
saliva + 1ml larutan
inhibitor + 5ml larutan
amilum 1 %
Tabung IV : 1ml larutan
inhibitor + 5ml larutan
amilum 1%
Tabung V : 2ml akuades
+ 5ml larutan amilum 1%
o Kemudian
masing

masing tabung diinkubasi


pada suhu ruang 370C
selama 30menit
o Pembagian menjadi 2 :
bagian 1 diuji dengan
larutan iodine dan bagian
2 diuji dengan larutan
benedict
(perlu
pemanasan)

o Pada tabung I, II, dan V, larutan


berwarna bening. Pada tabung
III, dan IV larutan berwarna
bening
kebiruan
karena
penambahan larutan inhibitor.
o Sebelum diinkubasi larutan agak
kental
o Setelah diinkubasi larutan agak
encer
o Dibagi menjadi 2 bagian:
Bagian 1 (diuji dengan larutan
iodine)
Tabung I : Bening
Tabung II : Biru Kehitaman
Tabung III : Ungu Muda
Tabung IV : Ungu agak tua
Tabung V : Ungu Tua
Bagian 2 ( diuji dengan larutan
benedict)
Tabung I : Bening, endapan
kuning kehijauan.
Tabung II : Bening
Tabung III : Bening Kebiruan
Tabung IV : Bening Kebiruan
Tabung V : Bening Kebiruan

Uji Aktivitas Enzim Lipase o Minyak kelapa larut dalam


Pankreatik
alcohol.
Preparasi Larutan Pankreatik o Setelah ditambahkan Na2CO3
Setengah
tablet
larutan berwarna merah muda.
Pankreatik,
digerus Reaksi Enzim Lipase dengan
Emulsi Lemak
dalam cawan porselen
Sebelum inkubasi :
Penambahan 15 ml
Tabung I : kuning pekat
aquades
Tabung II : kuning pekat
Preparasi Emulsi Lemak

KET

2ml minyak kelapa +


10ml alcohol
Penambahan
12ml
akuades, kocok dengan
cepat
Penambahan
1ml
indicator fenol merah
Penambahan
Na2CO3
0,1M hingga campuran
emulsi lemak berwarna
merah
muda,
Penyaringan
Reaksi Enzim Lipase dengan
Emulsi Lemak
Tabung I : 2ml larutan
pankreatik + 3ml emulsi
lemak
Tabung II : 2ml larutan
pankreatik
(telah
dididihkan 5 menit ) +
3ml emulsi lemak
Tabung III : 2ml larutan
pankreatik + 3ml emulsi
lemak + larutan inhibitor
1ml
Tabung IV : 2ml larutan
pankreatik + 3ml larutan
inhibitor
Tabung V : 2ml larutan
pankreatik + 3 ml
akuades
o Kemudian
masing

masing tabung diinkubasi


pada suhu ruang 370C
selama 30menit

Tabung III : kuning sedikit


kemerahan
Tabung
IV
:
kuning
kemerahan
Tabung V : hijau muda
Setelah inkubasi :
Tabung I : orange, terdapat
endapan
Tabung II : orange pekat,
bagian atas terdapat minyak
Tabung III : orange lebih
pekat bagian atas minyak,
bagian
bawah
berwarna
kehijauan.
Tabung IV : terdapat 2
lapisan, lapisan atas merah
muda
(minyak),
lapisan
bawah biru
Tabung V : kuning, terdapat
endapan

5. HIPOTESIS
Percobaan yang berjudul Enzim : Pengaruh Pemanasan dan Inhibitor
terhadap Aktivitas Enzim bertujuan untuk mengetahui pengaruh pemanasan
dan inhibitor terhadap aktivitas enzim. Prinsip dari percobaan ini adalah
pengaruh faktor eksternal (pemanasan dan penambahan inhibitor) pada
aktivitas enzim dengan metode pemanasan dan penambahan inhibitor. Hasil
yang didapatkan adalah temperatur yang tinggi (pemanasan) ataupun
penambahan inhibitor akan mengakibatkan terhambatnya aktivitas suatu enzim.

6. PEMBAHASAN
Pada percobaan yang berjudul Enzim : Pengaruh Pemanasan dan
Inhibitor Terhadap Aktivitas Enzim bertujuan untuk mengetahui pengaruh
pemanasan dan inhibitor terhadap aktivitas enzim. Metode dari percobaaan ini
adalah penambahan inhibitor dan Pemanasan. Inhibitor adalah suatu zat yang
befungsi menghambat kerja enzim dengan mengubah atau menempati sisi aktif
enzim sehingga substrat tak dapat bereaksi sempurna dengan enzim. (reff)
Prinsip dari percobaan ini adalah pengaruh faktor eksternal (pemanasan
dan penambahan inhibitor) pada aktivitas enzim. Untuk mengetahui pengaruh
pemanasan dan inhibitor terhadap aktivitas enzim, dilakukan dua uji yaitu uji
aktivitas enzim amilase dan enzim lipase pankreatik.
6.1 Uji Aktivitas Enzim Amilase
Uji aktivitas enzim amilase bertujuan untuk mengetahui aktivitas
amilase pada larutan saliva dengan di pengaruhi oleh faktor eksternal, yaitu
pemanasan dan penambahan inhibitor.
Pada percobaan ini enzim amilase yang digunakan adalah larutan saliva.
Larutan saliva digunakan karena dalam larutan saliva mengandung enzim
amilase. Enzim amilase dapat memecah ikatan pada amilum hingga terbentuk
glukosa. Ada tiga macam enzim amilase, yaitu amilase, amilase dan
amilase. Yang terdapat dalam saliva (ludah) dan pankreas adalah amilase.
Enzim ini memecahikatan 1-4 yang terdapat dalam amilum dan disebut endo
amilase sebab enzim ini memecah bagian dalam atau bagian tengah molekul
amilum (Poedjiadi, 2004). Percobaan ini dilakukan dengan 5 variasi tabung
dengan perlakuan yang berbeda. Hal ini bertujuan untuk membandingkan
aktivitas enzim amilase. Tabung I direaksikan antara larutan saliva dengan
amilum 1%, Tabung II direaksikan larutan saliva yang sudah dididihkan
dengan amilum 1%. Tujuan dari pemanasan (pendidihan) larutan saliva
adalah untuk mengetahui perbandingan aktivitas enzim amilase terhadap
pengaruh eksternal yaitu pemanasan. Tabung III direaksikan larutan saliva
ditambah dengan larutan inhibitor dan ditambah dengan amilum 1%. Tabung
IV direaksikan larutan inhibitor dengan larutan amilum 1%. Tabung V

direaksikan akuades dengan larutan amilum 1%. Penambahan amilum pada


kelima tabung betujuan untuk memberikan agen substrat untuk dipecah oleh
enzim karena enzim amilase hanya dapat bekerja dengan substrat amilum
dengan cara memecahnya menjadi glukosa-glukosa.

(Poedjiadi, 2004)
Kemudian kelima tabung yang berisi larutan yang berbeda diinkubasi
pada suhu 370C selama 30 menit. Penginkubasian pada suhu 370C bertujuan
untuk mengoptimalkan kerja enzim amilase karena enzim amilase akan
bekerja secara optimal dalam suhu tubuh yaitu sekitar 370C (Winarno, 1993).
Setelah dilakukan penginkubasian, hal selanjutnya adalah membagi
larutan menjadi dua bagian. Bagian pertama dilakukan penambahan larutan
iodine yang bertujuan untuk mengetahui ada atau tidaknya amilum dalam
larutan tersebut. Uji positif dari uji ini adalah warna larutan menjadi biru
kehitaman (Poedjiadi 2004).
Sementara satu bagian lainnya diberikan penambahan larutan benedict
yang bertujuan untuk melihat ada atau tidaknya gula pereduksi atau
monosakarida dalam sampel. Pada perlakuan ini selain diberikan penambahan
reagen benedict, juga diberikan perlakuan pemanasan yang bertujuan untuk
menaikkan kecepatan reaksi, karena bila beberapa molekul dalam populasi
mempunyai cukup energi untuk bereaksi maka kenaikkan temperature akan
meningkatkan tenaga kinetika yang akan menaikkan kecepatan reaksi. Uji
positif dari uji ini adalah terbentuknya endapan merah bata pada dasar tabung
(Poedjiadi 2004).
Pada saat pemanasan dilakukan pada penangas air yang berisikan air,
bukan dilakukan langsung pada api hal ini bertujuan agar kenaikkan
temperature tidak terlalu tinggi karena apabila terlalu tinggi (>40 0C)
kemungkinan enzim akan mengalami denaturasi, sehingga enzim tidak dapat

bekerja secara optimum. Suhu optimum enzim bekerja dengan baik adalah
370C.
Hasil dari pengamatan pada kelima tabung adalah :
a. Tabung I (sampel : larutan saliva + amilum)
Sampel awal berwarna putih keruh dan larutan agak kental, setelah
penginkubasian tetap berwarna putih keruh namun larutan agak encer, hal
tersebut menunjukkan bahwa enzim amilase mulai memecah senyawa
amilum menjadi sakarida sederhana. Kemudian larutan dibagi menjadi dua
bagian. Bagian yang satu di beri reagen iodin dan yang satu diberi reagen
benedict. Pada larutan yang diberi reagen iodin. Setelah penambahan
reagen iodin warna larutan tetap bening dan tidak terjadi perubahan apaapa. Hal ini menunjukkan bahwa dalam larutan tersebut tidak lagi
mengandung amilum. Hal ini di karenakan amilum telah dipecah oleh
enzim amilase (dari saliva) menjadi glukosa. Hasil ini menunjukkan hasil
positif pada reaksi.
Larutan yang diberi reagen benedict tidak mengalami perubahan
warna apapun, larutan tetap berwarna bening. Penambahan larutan
benedict bertujuan untuk mengoksidasi glukosa. Setelah itu dilakukan
pemanasan yang bertujuan untuk mempercepat reaksi karena pada saat
pemanasan partikel-partikel yang terdapat dalam larutan akan saling
bertumbukan satu sama lain sehingga energi aktivasi dapat terlampaui dan
reaksi terjadi. Hasil yang didapat menunjukkan bahwa larutan tetap
berwarna bening dan terdapat endapan berwarna kuning kehijauan pada
dasar tabung. Hal ini menunjukkan uji negatif (-). Hal ini dikarenakan
enzim kurang optimum memecah amilum menjadi glukosa sehingga
glukosa tidak terdeteksi saat dilakukan uji menggunakan benedict. Hasil
positif

enzim berhasil memecah amilum menjadi glukosa ialah

terbentuknya endapan merah bata. Pada prinsipnya, uji benedict ini


digunakan untuk mengaktifkan karbohidrat melalui reaksi gula pereduksi.
Dimana larutan alkali dari tembaga direduksi oleh gula yang mengandung
gugus aldehida atau keton bebas dengan membentuk kupro oksida
berwarna.

Uji

benedict

dilakukan

pada

suasana

basa

dimana

pada suasana basa reduksi ion Cu2+ dari CuSO4 oleh

gula

pereduksi

berlangsung cepat dan membentuk CuO yang berupa endapan berwarna


merah bata. Reaksi yang terjadi merupakan reaksi reduksi, reaksi nya
sebagai berikut

Asam Glukonat

Kuprioksida
(merah bata)

(Poedjiadi, 2004)
b. Tabung II (sampel : larutan saliva {sudah dididihkan} + amilum)
Pada tabung ini larutan saliva mula-mula dididihkan terlebih dahulu
(dibedakan dengan tabung I) yang bertujuan untuk membandingkan
pengaruh

pemanasan terhadap aktivitas enzim dan mengetahui enzim

tersebut terdenaturasi oleh suhu atau tidak. Warna larutan awal putih keruh
agak kental, kemudian diinkubasi warna larutan tetap berwarna putih tetapi
larutan sudah agak encer. Kemudian larutan dibagi menjadi dua bagian.
Bagian yang satu di beri reagen iodin dan yang satu diberi reagen benedict.
Pada larutan yang diberi reagen iodin. Setelah penambahan reagen iodin
warna kondisi larutan berubah menjadi biru kehitaman. Hal ini
menunjukkan bahwa dalam larutan tersebut mengandung amilum, dimana
terjadi reaksi antara amilum dengan iodine membentuk warna biru
kehitaman. Warna biru yang dihasilkan merupakan hasil dari ikatan
kompleks antara amilum dengan iodin. Reaksi hidrolisis amilum dengan
iodine sebagai berikut

Kompleks
berwarna

Amilu
m

Iodin

(Poedjiadi, 2004)
Hal ini dikarenakan enzim amilase telah terdenaturasi akibat adanya
pemanasan, yang menyebabkan aktifitasnya terhambat sehingga amilum
tidak dapat terurai menjadi glukosa.
Larutan yang diberi reagen benedict larutan berubah menjadi sedikit
keruh. Penambahan larutan benedict bertujuan untuk mengoksidasi
glukosa. Setelah itu dilakukan pemanasan yang bertujuan untuk
mempercepat reaksi karena pada saat pemanasan partikel-partikel yang
terdapat dalam larutan akan saling bertumbukan satu sama lain sehinnga
energi aktivasi dapat terlampaui dan reaksi terjadi. Hasil yang didapat
menunjukkan bahwa larutan tetap keruh tanpa adanya endapan merah bata
pada dasar tabung. Hal ini menunjukkan uji positif (+), yaitu glukosa tidak
terbentuk. Hal ini dikarenakan enzim amilase telah terdenaturasi akibat
adanya pemanasan, yang menyebabkan aktifitasnya terhambat sehingga
amilum tidak dapat terurai menjadi glukosa.
c. Tabung III (sampel : larutan saliva + larutan inhibitor + amilum)
Pada tabung ini diberi inhibitor terlebih dahulu sebelum amilum
dengan maksud supaya amilase pada saliva rusak oleh inhibitor sehingga
amilase tdak dapat bereaksi dengan amilum. Sampel ini berwarna bening
kebiruan kemudian setelah di inkubasi larutan tetap berwarna bening
kebiruan dengan sedikit adanya endapan berwarna putih yang berasal dari
larutan inhibitor, karena yang digunakan adalah detergen. Terdapat
endapan karena didalam detergen terdapat zat polar dan nonpolar, sehingga
zat nonpolar akan terpisah dari zat polar dalam larutan amilum yang

bersifat polar, sehingga terbentuk endapan. Setelah di inkubasi larutan


menjadi agak encer, hal ini menunjukan bahwa enzim amilase mulai
memecah senyawa amilum menjadi sakarida sederhana. Kemudian larutan
dibagi menjadi dua bagian. Bagian yang satu di beri reagen iodin dan yang
satu diberi reagen benedict. Setelah penambahan reagen iodin warna
kondisi larutan berubah menjadi ungu. Hal ini menunjukkan bahwa dalam
larutan tersebut mengandung amilum (uji positif) dikarenakan enzim
amilase telah terdenaturasi akibat adanya inhibitor (deterjen), yang
menyebabkan aktifitasnya terhambat sehingga amilum tidak dapat terurai
menjadi glukosa. Detergen berperan sebagai inhibitor dimana sisi aktif
pada enzim berikatan dengan inhibitor sehingga menghambat kerja enzim
untuk memecah amilum menjadi glukosa. Inhibitor akan berikatan dengan
sisi aktif enzim dan mencegah substrat untuk berikatan dengan enzim
(Winarno, 1983).
Larutan yang diberi reagen benedict larutan berubah menjadi
berwarna biru bening. Penambahan larutan benedict bertujuan untuk
mengoksidasi glukosa. Setelah itu dilakukan pemanasan yang bertujuan
untuk mempercepat reaksi karena pada saat pemanasan partikel-partikel
yang terdapat dalam larutan akan saling bertumbukan satu sama lain
sehinnga energi aktivasi dapat terlampaui dan reaksi terjadi. Hasil yang
didapat menunjukkan bahwa larutan tetap berwarna biru bening tanpa
adanya endapan merah bata pada dasar tabung. Hal ini dikarenakan enzim
amilase telah terdenaturasi akibat adanya inhibitor (deterjen), yang
menyebabkan aktifitasnya terhambat sehingga amilum tidak dapat terurai
menjadi glukosa. Terhambatnya aktivitas enzim amilase ini dikarenakan
sisi aktif pada enzim berikatan dengan inhibitor sehingga menghambat
kerja enzim untuk memecah amilum menjadi glukosa. Inhibitor akan
berikatan dengan sisi aktif enzim dan mencegah substrat untuk berikatan
dengan enzim (Winarno, 1983).
d. Tabung IV (sampel : larutan inhibitor + amilum)
Sampel awal berwarna bening, setelah penginkubasian tetap
berwarna biru bening dan ada sedikit endapan. Warna biru berasal dari
larutan inhibitor (detergen) yang didalam nya terdapat zat polar dan

nonpolar, sehingga zat nonpolar akan terpisah dari zat polar dalam larutan
amilum yang bersifat polar, sehingga terbentuk endapan. Kemudian larutan
dibagi menjadi 2 bagian, bagian pertama diberi penambahan larutan iodin,
maka sampel berubah warna menjadi ungu yang lebih tua, hal tersebut
bukan karena amilum terpecah menjadi sakarida sederhana karena dalam
larutan tidak ditambahkan enzim amilase, melainkan karena amilum
merupakan indikator yang menunjukkan perubahan warna pada reagen
iodin.
Sementara pada bagian dua diberi penambahan larutan benedict dan
pemanasan, pemanasan bertujuan untuk mempercepat reaksi karena pada
saat pemanasan partikel-partikel yang terdapat dalam larutan akan saling
bertumbukan satu sama lain sehinnga energi aktivasi dapat terlampaui dan
reaksi terjadi. Larutan tetap berwarna bening kebiruan, hal tersebut
disebabkan karena amilum dan logam Cu2+ didalam benedict membentuk
kompleks biru (Poedjiadi, 2004) .
e. Tabung V (sampel : akuades + amilum)
Sampel awal larutan berupa larutan bening, setelah penginkubasian
tetap berwarna bening, karena tidak ada enzim amilase yang membantu
proses pemecahan amilum menjadi sakarida yang lebih sederhana. Setelah
penambahan reagen iodin maka sampel berubah menjadi ungu tua (uji
negatif), hal tersebut dikarenakan amilum merupakan indikator yang
menunjukkan perubahan warna pada reagen iodin, yakni iodine dengan
amilum akan membentuk kompleks biru (Poedjiadi, 2004). Sementara
pada bagian dua diberi penambahan larutan benedict dan pemanasan,
pemanasan bertujuan untuk mempercepat reaksi karena pada saat
pemanasan partikel-partikel yang terdapat dalam larutan akan saling
bertumbukan satu sama lain sehinnga energi aktivasi dapat terlampaui dan
reaksi terjadi. Larutan tetap berwarna bening kebiruan, hal tersebut
disebabkan karena amilum dan logam Cu2+ didalam benedict membentuk
kompleks biru (Poedjiadi, 2004).
6.2 Uji Aktifitas Enzim Lipase pankreatik

Tujuan dilakukannya uji ini adalah untuk mengetahui aktivitas enzim


lipase pankreatik dalam memecah lipid menjadi asam lemak dan gliserol
dengan berbagai variasi kondisi larutan sampel. Prinsip dari percobaan ini
yaitu pemecahan lipid oleh enzim lipase pankreatik dengan metode yang
digunakan yaitu pemanasan, penambahan indikator eksternal.
Perlakuan awal pada percobaan ini yaitu penyiapan emulsi lemak
yang dibuat dari pencampuran minyak kelapa dan alkohol ke dalam tabung
reaksi. Kemudian ditambahkan aquades, kocok dengan cepat. Minyak kelapa
dan aquades tidak dapat saling melarutkan karena perbedaan kepolaran
diantara keduanya, dimana minyak kelapa bersifat non polar sedangkan
aquades bersifat polar, oleh karena itu sebelumnya ditambahkan alkohol yang
memiliki sifat semi polar yang dapat mengikat minyak maupun air. Di sini
dilakukan pengocokan dengan cepat agar gaya tumbukan yang dihasilkan
lebih besar sehingga larutan dapat tercampur homogen. Selanjutnya
ditambahkan indikator fenol merah yang berfungsi sebagai indikator, lalu
ditambahkan Na2CO3 hingga campuran emulsi lemak berwarna merah muda.
Fungsi penambahan Na2CO3 yaitu untuk menciptakan suasanabasa pada
larutan, hal ini menyebabkan enzimlipase pankreas menjadi aktif dan
dapatmenjalankan fungsinya yaitu mencerna lipid menjadi asam lemak dan
gliserol. Kemudian dilakukan penyaringan untuk mendapatkan filtrat yang
lebih jernih, nantinya filtrat inilah yang akan digunakan sebagai emulsi lemak
pada perlakuan selanjutnya. Setelah penyiapan emulsi lemak kemudian
siapkan larutan pankreatik yang terbuat dari tablet Vitazym. Tablet vitazym
ini merupakan kombinasi zat-zat yang berguna untuk membantu proses
pencernaan dan metabolisme di dalam tubuh, mengandung amylase, protease,
lipase, asam deoksikolat, dimetilpolisiloksan, vitamin B1, vitamin B2,
vitamin B6, vitamin B12, niasinamida (Vitamin B3), Kalsium pantotenat
(Vitamin B5) (Basri, 1996). Pembuatan larutan pankreatik ini berfungsi
sebagai sumber dari enzim lipase yang nantinya akan memecahkan lipid pada
emulsi lemak menjadi asam lemak dan gliserol.
Selanjutnya dilakukan penyiapan 5 tabung reaksi untuk menguji
aktivitas enzim lipase pada kondisi yang berbeda-beda pada masing- masing

tabung reaksi, dimana tabung I berisi larutan pankreatik dan emulsi lemak;
tabung II berisi larutan pankreatik (yang sudah didihkan selama 5menit) dan
emulsi lemak; tabung III berisi larutan pankreatik, larutan inhibitor, dan
emulsi lemak; tabung IV berisi larutan inhibitor dan emulsi lemak; terakhir
tabung V berisi aquades dan emulsi lemak. Pada perlakuan tersebut masingmasing dilakukan penambahan emulsi lemak yang berfungsi sebagai substrat
lipid yang nantinya akan dipecah menjadi asam lemak dan gliserol dengan
bantuan enzim lipase.
Reaksi pemecahan lipid oleh enzim lipase :
O
H 2C

C
O

HC

H 2C

R1
R2
R3

Trigliserida

Gliserol
(Poedjiadi, 1994)

Kemudian seluruh tabung reaksi tersebut di inkubasi selama 30


menit pada suhu 37oC. Tujuan penginkubasian yaitu untuk mengetahui
aktivitas enzim pada suhu optimumnya yaitu 37 oC (Mayers, 1985). Uji positif
pada aktivitas enzim lipase pankreatik dalam memecah lipid menjadi asam
lemak dan gliserol dengan berbagai variasikondisi larutan sampelyaitu larutan
yang berwarna coklat.
Hasil yang didapat dari kelima tabung sebelum maupun setelah
inkubasi :
1

Tabung I berisi larutan pankreatik dan emulsi lemak


Larutan campuran awal berwarna kuning pekat, hal tersebut
menunjukkan bahwa enzim lipase membantu pemecahan lipid menjadi
asam lemak dan gliserol. Setelah penginkubasian warna larutan tidak
menunjukkan perubahan warna larutan yang terbentuk yaitu berwarna
kuning pekat dengan adanya endapan kuning. Adanya endapan kuning
pada larutan dikarenakan pada saat penggerusan tablet vitazym tidak halus

sehingga pada saat pelarutan dengan aquadest tidak larut sempurna.


Penginkubasian pada suhu 37oC seharusnya menyebabkan aktivitas enzim
lipase menjadi optimal sehingga mempercepat reaksi pemecahannya.
Tetapi pada percobaan ini enzim tidak berjalan optimal menunjukkan hasil
negatif, hal tersebut dikarenakan kurangnya jumlah enzim lipase yang
akan memecah lipid menjadi asam lemak dan gliserol.
2

Tabung II berisi larutan pankreatik (sudah didihkan) dan emulsi lemak


Larutan awal berupa larutan berwarna kuning pekat ada endapan
kuning, enzim lipase pada percobaan ini berfungsi untuk membantu
memecah lipid menjadi asam lemak dan gliserol. Namun pada tabung ke 2,
enzim mengalami pemanasan sehingga konformasi enzim berubah (dari
yang sebelumnya melipat menjadi terbuka). Setelah penginkubasian
larutan tidak mengalami perubahan warna yakni tetap kuning pekat dan
ada endapan kuning.Adanya endapan kuning pada larutan dikarenakan
pada saat penggerusan tablet vitazym tidak halus sehingga pada saat
pelarutan dengan aquadest tidak larut sempurna. Hasil percobaan
menunjukkan hasil negatif hal ini menunjukkan bahwa aktivitas enzim
terhambat atau berkurang dalam memecah lipid menjadi asam lemak dan
gliserol karena pengaruh pemanasan sebelumnya.

Tabung III (Larutan Pankreatik, inhibitor dan emulsi lemak)


Larutan pada tabung reaksi III berisi enzim lipase pankreatik,
inhibitor berupa sabun cair berwarna hijau dan emulsi lemak. Hal ini
bertujuan untuk mengetahui pengaruh penambahan inhibitor pada aktivitas
enzim. Larutan awal berwarna kuning sedikit orange. Pada tabung ke 3 ini,
lipid sukar memecah menjadi asam lemak dan gliserol dikarenakan adanya
inhibitor (deterjen) yang ditambahkan sehingga menghambat aktivitas dari
enzim lipase untuk memecah lipid.Terhambatnya aktivitas enzim lipase ini
dikarenakan sisi aktif pada enzim berikatan dengan inhibitor sehingga
menghambat kerja enzim untuk memecah lemak menjadi asam lemak dan
gliserol.Inhibitor akan berikatan dengan sisi aktif enzim dan mencegah
substrat untuk berikatan dengan enzim ( Winarno, 1983).Setelah
penginkubasian selama 30 menit pada suhu optimum enzim yaitu 37 oC

didapatkan warna lapisan bawah berwarna hijau dan adanya sedikit


endapan orange dan lapisan atas berwarna orange. Adanya endapan orange
ini dikarenakan pada saat pembuatan larutan pankreatik tidak larut
sempurna sehingga masih terdapat sedikit endapan. Untuk hasil akhir uji
aktivitas enzim lipase pankreatik ini menunjukkan hasil negatif karna tidak
terbentuk larutan berwarna coklat yang menandakan adanya enzim lipase
pankreatik. Hal ini menunjukkan bahwa tidak ada reaksi antara enzim
lipase dengan lemak sehingga lipase tidak dapat memecah lemak karena
inhibitor berupa sabun cair telah berikatan dengan lipase.
1) Tabung IV berisi larutan inhibitor dan emulsi lemak
Larutan awal lapisan atas berwarna merah muda dan lapisan bawah
berwarna biru kehijauan dan setelah penginkubasian tetap lapisan atas
berwarna merah muda dan lapisan bawah berwarna biru kehijauan. Warna
hijau ini disebabkan oleh warna inhibitordan warna merah muda
disebabkan oleh warna emulsi lemak yang digunakan pada percobaan ini.
Pada percobaan ini terlihat bahwa tidak ada rekasi yang terjadi. Hal
tersebut dikarenakan pada larutan tidak terdapat enzim lipase pankreatik
yang dapat memecah lipid menjadi asam lemak dan gliserol.
2) Tabung V berisi aquades dan emulsi lemak
Larutan awal berwarna kuning keorangean setelah penginkubasian
berwarna kuning keorangean, hal ini dikarenakan tidak adanya substrat
(emulsi lemak) pada larutan tersebut yang dapat dipecah oleh enzim lipase.
Sehingga

hanya

menunjukkan

warna

kuning

keorangean

yang

menunjukkan warna larutan pankreatik yang dilarutkan dalam aquadest.

7. PENUTUP
7.1 Kesimpulan
Aktivitas enzim amilase dalam memecah amilum menjadi glukosa
serta enzim lipase dalam memecah lemak menjadi asam lemak dan gliserol
terhambat dengan adanya faktor eksternal, yaitu pemanasan dan inhibitor.
7.2 Saran
7.2.1

Sebaiknya praktikan teliti dalam mengamati perubahan warna yang

7.2.2
7.2.3

terjadi.
Sebaiknya praktikan mencuci alat sebelum dan sesudah praktikum.
Sebaiknya praktikan berdoa terlebih dahulu sebelum melakukan
praktikum.

DAFTAR PUSTAKA
Bale, Shilpak Dilip., et al., 2014, Isolation and Characterization of Lipase from
Marine Algae, ISSN 0976-044x, Article no 35 Pages 191-195.
Basri, Sarjoni, 1996, Kamus Kimia, Rineka Cipta, Jakarta
Daintith, J. 1994, Kamus Lengkap Kimia, Oxford, edisi baru, Erlangga, Jakarta
Fessenden, R.J. and Fessenden, J.S., 1983, Techniques and Experiments for.
Organic Chemistry, a.b. Pudjaatmaka, Willard Grant Press, Boston
Fessenden, R . J dan Fessenden, J. S , 1986. Kimia Organik. Edisi Ketiga. Jilid 2.
Erlangga
Keenan, 1984, Ilmu Kimia untuk Universitas, Erlangga, Jakarta
Lehninger, 1999, Biokimia Dasar, Erlangga, Jakarta
Mayes, P.A. 1992. Metabolisme asam lemak tak jenuh dan eikosanoid, p.242-259.
In: Murray, R.K., D.K. Granner, P.A. Mayes, V.W. Rodwell. (Eds).
Biokimia Harper. Alih bahasa oleh Andry Hartono, Editor edisi bahasa
Indonesia, Anna P. Bani, Tiara M.N. Sikumbang. Ed. 25 Jakarta. EGC.
Miller, J.C., Miller, J.N, 1993, Statistik untuk Kimia Analitik, ITB Press. Bandung
Mulyono, 2005, Kamus Kimia, Bumi Aksara, Jakarta
Murray et al, 1997, Biokimia Harper. EGC, Jakartata
Murray, R. K., 2001, Biokimia Harper, Penerbit Buku Kedokteran EGC, Jakarta
Petrucci, R., 1997, Kimia Dasar, Erlangga, Jakarta.
Poedjiadi, 1994, Dasar-dasar Biokimia, UI Press, Jakarta.

Rabbani, Mohammed., et al., 2013, Isolation and Characterization o Novel


Thermophilic

Lipase-secreting

Bacteria,

Brazillian

Journal

of

Microbioloy 44, 4, 1113-1119.


Ramadas,V., R. Lavanya Ramadoss., 2012, Production, Purification, and
Characterization of Lipase Isolated from Salt Water Holobacterium sp,
Internasional Journal of Modern Engineering Research (IJMER), Vol.2,
Issue 4: 1464-1472.
Shahib, M. N., 1992, Seluk Beluk Biokimia dan Penerapan Enzim, PT. Citra
Aditya Bakti, Bandung.
Sumardjo, Damin, 1997, Kamus Kimia, Erlangga, Jakarta.
Suminar, 1994, Kimia Universitas Asas dan Struktur, Erlangga, Jakarta.
Tripathi, 2014, Isolation, Purification and Characterization of Lipase from
Microbacterium sp. And Its Application in Biodiesel Production, Energy
Procedia 54 (2014) : 518-529.
Ulker, Serdar., et al., Isolation and Characterization of an Extracellular Lipase
from Trichoderma Harzianum Isolated from Soil, Turki S Biol (2011),
Volume 25, Page 543-550.
Underwood, A.L., Day, R.A., (1994), Analisa Kimia Kuantitatif, edisi ke-4,
Erlangga, Jakarta.
Winarno, F.G., 1986, Pengantar Teknologi Pangan, PT Gramedia Pustaka Utama,
Jakarta.

KURANG DAPUS NUNIK, SOVI, ARIF, MAS RENDI!!!

LEMBAR PENGESAHAN
Praktikan

Semarang, 03 Desember 2014

Arif Abdul Malik


24030112130052

Daru Seto Bagus A


24030112130040

Desita Triana
24030112130038

Dwi SiswiAnggraeni
24030112130033

Nunik Hadiyati Hamda


24030112140035

Rendy Nurpratama
24030111130044

Riyadini Utari
24030112130044

Sovi Farnola
24030112140034

Zenima Patris
24030112130042
Mengetahui,
Asisten

Putri Anni Maulida


24030111130072

LAMPIRAN
a. Aktivitas Enzim Amilase Uji Iodine

b. Aktivitas Enzim Amilase Uji Benedict

c. Aktivitas Enzim Lipase